TMAKESTA IPPNU Nurul Jadid Kupas Tuntas Trilogi Aswaja dan Tiga Ukhuwah NU

www.nuruljadid.net- Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) menggelar kajian Keaswajaan dan Ke-NU-an di Aula Mini PPNJ, Jumat (15/05/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Ustaz Mohammad Alief Hidayatullah, M.E., sebagai pemateri utama.

Dalam pemaparannya, Ustaz Mohammad Alief Hidayatullah menjelaskan konsep trilogi dalam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menjadi dasar pemahaman warga Nahdlatul Ulama. Menurut beliau, trilogi tersebut meliputi Islam, Iman, dan Ihsan.

Beliau menjelaskan bahwa dimensi Islam diwujudkan melalui fiqih sebagai kerangka hukum dalam beribadah maupun bermuamalah. Sementara dimensi keimanan diwujudkan melalui tauhid, dan dimensi ihsan diwujudkan melalui tasawuf sebagai bentuk penyucian hati dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, beliau juga memaparkan pilar metodologi berpikir dalam Aswaja, yakni tawassut (moderasi), tawazun (berimbang), ta’adul (keadilan), serta tasamuh (toleransi). Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman penting dalam menjaga sikap moderat dan harmonis di tengah kehidupan bermasyarakat.

Ustaz yang akrab disapa Ustaz Alief itu juga menuturkan bahwa dalam dimensi Nahdlatul Ulama terdapat tiga bentuk ukhuwah atau persaudaraan yang harus dijaga oleh setiap kader NU.

“Dalam dimensi NU terdapat tiga ukhuwah. Pertama, Ukhuwah Islamiyah, yaitu memelihara persaudaraan sesama umat Islam. Kedua, Ukhuwah Wathaniyyah, yakni persaudaraan sesama anak bangsa dengan melampaui perbedaan suku dan agama. Ketiga, Ukhuwah Basyariyyah, yaitu persaudaraan sesama umat manusia,” tutur beliau di hadapan peserta MAKESTA.

Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya pematerian. Materi yang disampaikan tidak hanya memperkuat wawasan keaswajaan dan ke-NU-an, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan toleransi dalam kehidupan santri putri.

Di akhir sesi, Ustaz Alief memberikan pesan inspiratif kepada seluruh peserta agar senantiasa menjadikan kehidupan sebagai bentuk pengabdian dan kebermanfaatan bagi orang lain.

“Hiduplah untuk orang lain, jangan hidup kepada orang lain. Karena sesuatu yang menuju Allah akan abadi dan berlanjut, sedangkan sesuatu yang bukan menuju Allah akan berhenti dan terputus,” pungkas beliau.

Melalui kegiatan tersebut, MAKESTA IPPNU PPNJ diharapkan mampu mencetak kader putri yang tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga memiliki pemahaman Aswaja yang kuat serta mampu menerapkan nilai-nilai NU dalam kehidupan sehari-hari.

Pewarta : Karisma Najwa Magdalena

Editor    : Maria Al Faradela

Melalui MAKESTA, IPPNU NJ Siapkan Kader Santri Putri Berjiwa NU

www.nuruljadid.net – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) Paiton Probolinggo menggelar kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) di Aula Mini PPNJ, Jumat (15/05/2026).

Kegiatan tersebut diawali dengan seremoni pembukaan, dilanjutkan sambutan dari jajaran Pengurus dan Pembina. MAKESTA menjadi langkah awal kaderisasi bagi santri putri untuk mengenal lebih dekat nilai-nilai organisasi IPPNU serta memperkuat komitmen pengabdian di lingkungan pesantren.

Dalam sambutannya, Ustazah Ismia Khilyati Salwa selaku Pembina IPPNU  menyampaikan bahwa kegiatan MAKESTA bertujuan menjadi bekal awal bagi santri putri dalam mengabdikan diri melalui organisasi IPPNU.

“Kegiatan ini menjadi bekal awal bagi santri putri untuk belajar mengabdi di IPPNU. Setelah ini mereka akan dibekali beberapa materi penting yang berkaitan dengan keaswajaan, ke-NU-an, keindonesiaan, dan berbagai hal lain yang berkaitan dengan IPPNU,” ungkap beliau.

Beliau juga berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal yang positif bagi para peserta dalam menjalankan amanah organisasi pada periode dan masa jabatan yang sedang berlangsung.

Selain memperkuat pemahaman organisatoris, MAKESTA juga diharapkan mampu membentuk karakter kader IPPNU yang aktif, berintegritas, serta memiliki semangat pengabdian terhadap pesantren, masyarakat, dan Nahdlatul Ulama.
” melalui kegiatan ini, saya berharap temen-temen santri putri bisa memiki semangat dan daya juang pengabdian bagi Pesantren dan Masyarakat melalui Wadah Organisasi Nahdlatul Ulama.” ungkapnya di akhir sambutan.

Para peserta tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan yang berlangsung. Hal tersebut terlihat dari semangat peserta saat mengikuti sesi pembukaan hingga penyampaian materi yang telah dipersiapkan oleh panitia. Suasana kegiatan berlangsung khidmat sekaligus penuh keakraban antarsesama kader putri.

Melalui kegiatan ini, IPPNU PPNJ berharap para anggota baru mampu menjadi kader yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kaderisasi yang dilakukan tidak hanya membentuk kemampuan organisatoris, namun juga memperkuat karakter dan jiwa kepemimpinan santri putri.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, IPPNU PPNJ berkomitmen untuk terus mencetak kader-kader putri yang berwawasan keislaman, kebangsaan, dan berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Pewarta : Naylah Zakiyatur Rohmah
Editor    : Maria Al Faradela

Ustaz Ponirin Tekankan Jurnalisme Etis bagi Pewarta Putri dalam Studium Generale

www.nuruljadid.net- Sebagai bentuk pengukuhan mental dan fisik anggota Humas dan Infokom (Huminfo) Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ), Ketua Sub bagian (Kasubag) Huminfo, Ustaz Ponirin Mika, memberikan petuah dan arahan kepada seluruh peserta dalam kegiatan Studium Generale dan Pengukuhan Anggota Huminfo yang berlangsung di Ruang Rapat PPNJ, Jumat (15/05/2026).

Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa setiap pergerakan tim khusus di lingkungan PPNJ merupakan bentuk pengabdian sekaligus dakwah. Menurutnya, setiap unit memiliki peran dan sarana yang berbeda dalam menjalankan tugasnya.

“Tak hanya Panji Pelopor, Multimedia Pesantren, dan kelompok lainnya, Huminfo juga merupakan bagian dari pengabdian. Namun, perlu dipahami bahwa setiap wadah memiliki sarana dan tugas yang berbeda,” terang beliau.

Ia menjelaskan bahwa apabila Panji Pelopor mengedepankan fisik dan adab dalam melayani kegiatan serta tamu undangan, maka Huminfo dapat memanfaatkan pena, tangan, pikiran, dan pengalaman serta etika jurnalisme pesantren untuk menghasilkan tulisan yang bernilai positif bagi para pembaca.

“Jika Panji Pelopor mengerahkan fisik dan adabnya untuk melayani acara dan tamu undangan, maka kita dapat memanfaatkan pena, tangan, pikiran, dan pengalaman serta etika jurnalisme pesantren guna menghasilkan tulisan yang mengandung nilai positif bagi para penikmatnya,” lanjut beliau, yang disambut antusias para peserta.

Selain itu, Ustaz Ponirin juga menegaskan sangat pentingnya etika jurnalistik pesantren dalam setiap karya yang diterbitkan. Ia menjelaskan bahwa setiap jenis pewarta memiliki karakteristik dan harus mengetahui budaya pesantren dalam menyajikan informasi.

Menurutnya, meskipun wartawan investigatif berupaya mengungkap berbagai fakta secara menyeluruh, jurnalis Huminfo tetap harus memperhatikan nilai etis pesantren dalam setiap pemberitaan.

“Kita bukanlah penyaji segalanya. Namun, penyaring harus selalu berada di genggaman. Jadi, tujuan utama torehan kita ialah membangun citra positif di tengah khalayak umum. Meski demikian, setiap hal yang ditulis tetap harus berupa informasi faktual yang memiliki sumber jelas,” tutur beliau dengan tegas.

Beliau juga menekankan bahwa setiap karya jurnalistik harus dapat dipertanggungjawabkan.

“Sebab, berita yang baik akan selalu berakhir baik,” jelasnya di hadapan para jurnalis muda.

Tidak hanya membahas teknik penulisan, dalam kesempatan tersebut beliau turut menegaskan pentingnya etika dalam pengambilan dokumentasi, sikap dan tutur kata saat wawancara, serta perilaku ketika terjun langsung di lapangan.

“Saya berharap tulisan kalian dapat memenuhi berbagai kriteria yang baik. Karena dakwah tidak hanya melalui ceramah, tetapi juga dapat dipoles melalui karya yang penuh petuah. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penulis, namun pembaca juga dapat memperoleh ilmu baru darinya,” pungkas beliau menutup sesi tersebut.

Pewarta: Sufiyatun Namiroh Elok Mutiara
Editor : Maria Al Faradela

15 Santriwati Terpilih Resmi Dikukuhkan Sebagai Pewarta Putri

www.nuruljadid.net– Unit Humas dan Infokom Putri sukses menggelar pengukuhan Tim Pewarta Putri sebagai upaya memperkuat syiar pesantren melalui karya jurnalistik. Sebanyak 15 santriwati terpilih resmi menyandang peran sebagai pewarta setelah menyisihkan puluhan pendaftar lainnya. Jum’at (15/05/26).

Pembina Pewarta Putri, Ustadzah Maria Al-Faradela, mengungkapkan bahwa ke-15 orang tersebut merupakan hasil seleksi ketat dari 50 pendaftar. Mereka terpilih sebagai representasi terbaik dari setiap wilayah, daerah, dan asrama di lingkungan pesantren putri.

“Para pewarta ini tidak langsung terjun begitu saja. Setelah pengukuhan, kami akan membekali mereka dengan stadium general dan pelatihan jurnalistik intensif. Materi-materi tersebut menjadi bekal krusial sebelum mereka terjun ke lapangan untuk meliput,” jelas Ustadzah Maria.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi penuh dari Wakil Sekretaris Pesantren, Ny. Hj. Muthmainnah Waqid. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kehadiran pewarta di lingkungan putri adalah kebutuhan mendesak untuk menyuarakan nilai-nilai pesantren kepada publik.

“Menjadi pewarta di pesantren itu bukan sekadar menulis, tapi proses melatih diri agar memiliki tanggung jawab, kejujuran, dan kedisiplinan,” tegas Ny. Hj. Muthmainnah.

Lebih lanjut, beliau berharap agar seluruh kegiatan positif di pesantren dapat terpublikasi secara luas. Menurutnya, pemberitaan yang baik dapat menjadi sarana dakwah yang efektif bagi masyarakat luas.

“Kita ingin kegiatan positif ini disebarluaskan agar menjadi ajakan kebaikan bagi khalayak. Jika kita konsisten menyebarkan kebaikan, insya Allah pahalanya akan terus mengalir,” pungkasnya.

Dengan terbentuknya tim ini, Pesantren Putri diharapkan mampu menghasilkan produk jurnalistik yang kredibel, inspiratif, dan tetap menjaga marwah pesantren di tengah arus informasi digital.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Ning Iin; Jadi Pewarta di Pesantren Adalah Jalan Dakwah dan Latihan Kejujuran

www.nuruljadid.net-Pengurus Pesantren Putri terus berupaya melebarkan sayap dakwah di era digital. Melalui bidang Humas dan Infokom Putri, sebanyak 15 pewarta putri terpilih resmi dikukuhkan sebagai garda terdepan dalam syiar pemberitaan pesantren.

Pembina Pewarta Putri, Ustadzah Maria Al-Faradela, menjelaskan bahwa proses seleksi berjalan cukup ketat. Dari total 50 pendaftar, hanya 15 peserta terbaik yang dinyatakan lolos. Para pewarta ini merupakan representasi dari berbagai wilayah, daerah, dan asrama yang ada di lingkungan pesantren putri.

“Setelah pengukuhan ini, para anggota akan langsung mengikuti stadium general dan pelatihan jurnalistik. Ada beberapa materi krusial yang akan diberikan sebagai bekal sebelum mereka terjun langsung ke lapangan,” ujar Ustadzah Maria.

Kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat dan apresiasi dari pihak pengasuh. Wakil Sekretaris Pesantren, Ny. Hj. Muthmainnah Waqid, menegaskan bahwa keberadaan pewarta putri memiliki peran strategis dalam melakukan dakwah melalui produk berita (news).

Dalam arahannya, Ny. Hj. Muthmainnah menekankan bahwa menjadi seorang jurnalis pesantren bukan sekadar soal menulis, melainkan media untuk menempa karakter santri. Beliau menyebutkan setidaknya tiga poin utama yang akan terasah melalui peran ini:

  1. Tanggung Jawab dalam menyampaikan informasi.

  2. Kejujuran dalam menyajikan fakta.

  3. Kedisiplinan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

“Kita berharap agar setiap kegiatan positif yang ada di pesantren ikut disebarluaskan melalui pemberitaan. Ini adalah bagian dari ajakan atau dakwah bagi khalayak luas. Jika kita melakukan kebaikan melalui tulisan, insya Allah pahalanya akan terus mengalir,” tutur beliau memotivasi para santri.

Pesantren berharap kepada pewarta yang telah dikukuhkan dapat mengisi ruang publik dengan konten-konten yang inspiratif dan edukatif, sekaligus membekali santriwati dengan keterampilan literasi yang mumpuni di masa depan.

Pewarta     : Ahmad Zainul Khofi

Editor        : Ponirin Mika

Perkuat Syiar Pesantren, Humas Nurul Jadid Kukuhkan Puluhan Pewarta Putri

www.nuruljadid.net– Hubungan Masyarakat (Humas) dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid secara resmi menggelar agenda pengukuhan pewarta putri pada Jumat (15/05/26). Langkah strategis ini diambil guna memperkuat lini informasi publik serta memastikan syiar kegiatan pesantren tersampaikan dengan baik kepada masyarakat luas.

Wakil Sekretaris Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ny. Hj. Muthmainnah Waqid, hadir langsung untuk memimpin prosesi pengukuhan tersebut. Dalam sambutannya, sosok yang akrab disapa Ning Iin ini menegaskan bahwa peran pewarta di lingkungan pesantren saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan pokok dalam manajemen informasi.

“Keberadaan pewarta di Pesantren Nurul Jadid sangat dibutuhkan sebagai sarana informasi publik, terutama yang berkaitan dengan pemberitaan atau news mengenai kegiatan santri dan pondok,” ujar Ning Iin di hadapan para peserta yang baru saja dikukuhkan.

Ia menekankan bahwa para pewarta putri memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi wajah pesantren di dunia digital. Melalui tulisan dan konten yang dihasilkan, nilai-nilai positif serta dinamika kehidupan pesantren dapat dipahami secara utuh oleh wali santri maupun masyarakat umum.

Selain aspek informatif, Ning Iin juga memandang peran pewarta sebagai wadah pembentukan karakter. Menurutnya, bergelut di dunia jurnalistik merupakan bagian dari upaya menempa diri bagi para santriwati dalam melatih kedisiplinan serta rasa tanggung jawab yang tinggi.

“Menjadi pewarta itu bagian dari proses khidmah (pengabdian). Di sini kalian belajar disiplin mengatur waktu antara tugas akademik dan tugas peliputan, serta memupuk dedikasi terhadap institusi,” tambahnya dengan penuh semangat.

Lebih lanjut, Ning Iin menyoroti pentingnya nilai kejujuran dalam memproduksi berita. Ia merasa prihatin dengan fenomena media sosial saat ini yang seringkali mengabaikan akurasi dan etika jurnalistik demi mengejar popularitas atau kecepatan semata.

“Dalam membuat berita, kita diajarkan tentang kejujuran. Saat ini banyak media sosial yang kurang memperhatikan aspek tersebut. Oleh karena itu, pewarta Nurul Jadid harus menjadi pembeda dengan mengedepankan fakta dan integritas,” tegasnya.

Pihak pesantren menaruh harapan besar agar para pewarta putri yang dikukuhkan hari ini dapat memberikan kontribusi nyata. Kehadiran mereka diharapkan mampu mengisi ruang-ruang digital dengan narasi yang menyejukkan, edukatif, dan tentunya mencerminkan jati diri santri.

Sebagai langkah tindak lanjut, para pewarta ini tidak akan langsung dilepas begitu saja ke lapangan. Humas dan Infokom telah menyiapkan serangkaian program pembekalan teknis guna mengasah kemampuan literasi dan keterampilan jurnalistik para santriwati.

Ke depannya, mereka akan mendapatkan pelatihan khusus terkait teknik wawancara, penulisan berita sesuai kaidah jurnalistik, hingga manajemen media sosial. Dengan pembekalan tersebut, diharapkan kualitas informasi yang keluar dari Pondok Pesantren Nurul Jadid semakin profesional dan berkualitas.

Pewarta      : Ahmad Zainul Khofi

Editor         : Ponirin Mika

Santri Kalpataru Jadi Motor Penggerak Pelestarian Lingkungan di Pesantren

www.nuruljadid.net– Kehadiran Santri Kalpataru di lingkungan pondok pesantren kini menjadi angin segar bagi upaya pelestarian ekosistem lokal. Program ini dibentuk dengan harapan besar untuk mencetak kader-kader muda yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga memiliki kepekaan tinggi terhadap keberlanjutan alam.

Gerakan Santri Kalpataru difokuskan pada pembentukan karakter individu yang peduli lingkungan. Diharapkan, para santri yang tergabung di dalamnya mampu memberikan dampak positif, dimulai dari perubahan perilaku diri sendiri hingga meluas ke masyarakat di sekitar pesantren.

“Kehadiran Santri Kalpataru diharapkan menjadi promotor perubahan di internal pesantren. Mereka adalah pelopor yang akan mengajak rekan-rekan santri lainnya untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan melalui tindakan nyata,” ujar Ny.Hj. Nurdiana Kholidah saat memberikan sambutan.

Sebagai promotor lingkungan, Santri Kalpataru memiliki tugas strategis untuk menginisiasi berbagai program hijau, mulai dari manajemen pengelolaan sampah mandiri, penghematan sumber daya air, hingga penghijauan di area pesantren. Melalui langkah ini, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat edukasi lingkungan yang mampu membawa perubahan nyata bagi ekosistem di masa depan.

Santri Kalpataru diharapkan mampu membuktikan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kepedulian terhadap lingkungan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Pewarta    : Enik Rahmawati

Editor       : Ponirin Mika

Matangkan Persiapan ke SLTA, Santri Akhir Nurul Jadid “Rela Tunda Pulang” Demi Orientasi Keilmuan

www.nuruljadid.net– Alih-alih langsung berkemas pulang setelah ujian akhir, ratusan santri tingkat menengah pertama (SLTP) di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, justru masih tampak sibuk di bangku kelas. Mereka tengah mengikuti Orientasi Kelas Akhir (Oskar), sebuah program penguatan mental dan intelektual sebelum resmi beralih ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Meski momen penundaan kepulangan ini seringkali dirasa berat bagi santri, pesantren memandangnya sebagai kebutuhan mendesak. Oskar dirancang untuk memastikan bahwa transisi dari SLTP ke SLTA tidak hanya sekadar perpindahan seragam, tapi juga perpindahan pola pikir.

Berdasarkan jadwal resmi kegiatan OSKAR 2026, rangkaian acara telah dimulai sejak Rabu, 13 Mei 2026, yang dibuka dengan Pembukaan Kegiatan dan Tausiah. Selama masa orientasi, santri menjalani rutinitas harian yang padat, meliputi:

  • Kegiatan Pramuka & Kepesantrenan: Dilaksanakan secara konsisten hampir setiap hari mulai pukul 07.30 WIB dan malam hari pukul 20.00 WIB.

  • School Tour & Peminatan: Santri diajak mengenal lebih dekat satuan pendidikan di bawah naungan pesantren, seperti kunjungan ke MANJ (14 & 16 Mei), SMANJ (17 & 18 Mei), serta SMKNJ (19 & 20 Mei).

  • Puncak Kegiatan: Seluruh santri akan mengikuti Kemah Akbar Santri yang berlangsung selama tiga hari, yakni 22-24 Mei 2026.

  • Webinar Motivasi: Sebagai penutup rangkaian daring, dilaksanakan Webinar Motivasi dan Pendidikan bagi santri putra pada 30 Mei dan santri putri pada 31 Mei 2026.

Peserta Oskar baru diperkenankan pulang ke rumah mulai tanggal 25 Mei hingga 1 Juli 2026 setelah mengikuti prosedur perizinan yang ditetapkan. Keputusan menahan kepulangan ini didasari keyakinan bahwa bekal ilmu lebih penting daripada euforia kelulusan sesaat agar santri tidak mengalami “gegar budaya” di jenjang pendidikan selanjutnya.

“Kami ingin lulus dengan arah yang jelas. Menunda pulang beberapa hari adalah harga kecil bagi kami yang harus dibayar demi ikuti pembekalan ini mereka,” ujar salah satu peserta yang enggan disebut namanya .

Pondok Pesantren Nurul Jadid membuktikan bahwa kelulusan bukan akhir dari pendidikan dan pengabdian, melainkan awal dari babak baru yang harus dipersiapkan dengan matang dan terencana.

Pewarta     : Ahmad Zainul Khofi

Editor        : Ponirin Mika

Bekali Kelas Akhir, Ning Din Tekankan Pentingnya Istiqomah dan Khidmah

www.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar pembukaan kegiatan Orientasi Santri Kelas Akhir (OSKAR) pada Rabu (13/05/2026). Acara ini menjadi momentum yang bagus bagi para santri untuk menambah wawasan sebelum menyelesaikan masa pendidikan di pesantren.

Dalam kesempatan tersebut, Ny. Hj. Nurdiana Kholidah yang familiar dipanggil Ning Din ini memberikan tausyiah mengenai filosofi keberhasilan seorang santri. Beliau menegaskan bahwa menjaga konsistensi dalam kebaikan atau istiqomah memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada kemuliaan yang bersifat instan.

“Istiqomah itu lebih besar dan lebih baik dibanding karomah,” tegas Ny. Hj. Nurdiana Kholidah di hadapan para peserta.

Beliau berpesan agar para santri kelas akhir memantapkan niat dan tujuan dalam menuntut ilmu. Kedisiplinan dan kerja keras dalam melawan rasa malas menjadi poin utama yang ditekankan selama mengikuti kegiatan di pesantren. Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Ning Din ini mengutip kaidah penting terkait keberkahan ilmu:

“Tegaknya ilmu adalah dengan belajar (mudzakarah), barokahnya dengan pengabdian (khidmah), dan kemanfaatannya diperoleh melalui ridha guru (tho’at).”

Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala Biro Pendidikan, Ning Fajriyah, dalam sambutannya menyatakan bahwa OSKAR diproyeksikan menjadi agenda rutin tahunan. Jika saat ini fokus pada jenjang SLTP, ke depannya program ini juga akan diwajibkan bagi santri di tingkat SLTA.

Kegiatan OSKAR 2026 dirancang secara komprehensif untuk membekali santri dengan berbagai keahlian, meliputi:

  • Penguatan Kepesantrenan sebagai fondasi karakter.

  • Pelatihan Kepemimpinan dan Pramuka untuk melatih ketangkasan.

  • Touring Edukatif ke berbagai lembaga tingkat SLTA.

  • Puncak Kemah Akbar yang akan menjadi penutup rangkaian acara.

Ning Fajriyah berharap seluruh peserta mengikuti rangkaian agenda dengan disiplin, baik yang dilaksanakan secara daring maupun luring, hingga puncak acara pada 30-31 Mei mendatang. Lulusan Pesantren Nurul Jadid diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh dan berjiwa khidmah.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Oskar 2026; Santri Diharapkan Jadi Teladan di Tengah Masyarakat

www.nuruljadid.net – Kepala Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Ahmad Madarik, menekankan pentingnya integritas dan moral bagi para santri kelas akhir. Hal tersebut disampaikan beliau saat membuka acara Orientasi Kelas Akhir (OSKAR) pada Rabu (13/05/26).

Dalam sambutannya, Gus Madarik menegaskan bahwa fondasi utama seorang santri sebelum terjun ke masyarakat atau melanjutkan pendidikan adalah kemurnian niat. Beliau berpesan agar para santri tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga konsisten dalam menjaga akhlak sebagai identitas utama lulusan pesantren. Beliau juga menyinggung beberapa point penting terkait dengan manfaat Oskar, diantaranya adalah; (1) Santri diharapkan siap menjadi teladan di tengah masyarakat dengan sikap yang bertanggung jawab. (2) Menanamkan jiwa disiplin dan belajar mandiri sebagai persiapan menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (3) Kewajiban menjaga nama baik pesantren dan guru di manapun berada.

Gus Madarik juga menyoroti tantangan zaman terkait pergaulan dan teknologi. Beliau meminta para santri untuk bijak dalam bersosial media, mengingat jejak digital sangat mencerminkan kepribadian seorang santri.

“Menjadi santri adalah tugas sepanjang hayat. Kita harus terus belajar, berjuang, dan memastikan diri kita bermanfaat bagi orang lain,” tutur beliau penuh motivasi.

Gus Madarik mengajak seluruh santri untuk mengikuti rangkaian OSKAR dengan tuntas. Beliau menjanjikan waktu liburan untuk refreshing setelah agenda ini selesai, sebagai penyegaran pikiran sebelum para santri kembali berjuang melanjutkan studi ke jenjang SLTA di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Pada oskar ini diharapkan para santri kelas akhir memiliki kesiapan mental yang matang untuk menyongsong babak baru dalam perjalanan pendidikan mereka.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Ponpes Nurul Jadid Rilis Jadwal OSKAR 2026

www.nuruljadid.net- Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton secara resmi mengumumkan rangkaian jadwal Orientasi Kelas Akhir (OSKAR) tahun 2026. Kegiatan yang dirancang untuk membekali santri baru dengan nilai- nilai kepesantrenan dan motivasi pendidikan ini dijadwalkan berlangsung selama hampir tiga pekan, mulai 13 Mei hingga 31 Mei 2026.

Berdasarkan rilis resmi ketentuan jadwal yang diterbitkan, rangkaian acara diawali pada Rabu
(13/05) dengan agenda Pembukaan Kegiatan dan Tausiah. Selama periode tersebut, para santri akan
mengikuti berbagai program intensif, mulai dari kegiatan kepesantrenan, pramuka, hingga sesi orientasi
khusus ke unit-unit sekolah formal seperti MANJ, SMANJ, dan SMKNJ.

Salah satu agenda utama dalam OSKAR 2026 adalah pelaksanaan Kemah Akbar Santri yang akan
digelar selama tiga hari berturut-turut, yakni pada 22 hingga 24 Mei 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk
mempererat ukhuwah antar-santri sekaligus melatih kemandirian di lingkungan pesantren.

Panitia juga menjadwalkan Webinar Motivasi dan Pendidikan sebagai penutup rangkaian
OSKAR. Webinar ini bersifat wajib bagi seluruh peserta OSKAR SLTP 2026, di mana sesi untuk santri
putra dilaksanakan pada Sabtu (30/05) dan sesi santri putri pada Ahad (31/05). Akses daring akan
diinformasikan oleh wali kelas masing-masing kepada wali santri sehari sebelum pelaksanaan.

Pasca rangkaian kegiatan inti, santri diberikan kesempatan untuk pulang ke rumah mulai tanggal 25
Mei hingga 1 Juli 2026. Namun, pihak pengasuh menekankan bahwa proses kepulangan harus
mengikuti prosedur perizinan resmi yang telah ditetapkan oleh pesantren guna menjaga ketertiban dan
keamanan santri.

Agenda Utama OSKAR 2026:
13 Mei: Pembukaan & Tausiah
22 – 24 Mei: Kemah Akbar Santri
25 Mei – 1 Juli: Masa Kepulangan Santri
30 – 31 Mei: Webinar Motivasi Daring (Wajib)

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Bekali Lulusan SLTP, Pondok Pesantren Nurul Jadid Gelar Orientasi Santri Kelas Akhir (OSKAR) 2026

www.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, resmi menyelenggarakan kegiatan Orientasi Santri Kelas Akhir (OSKAR) bagi seluruh peserta didik tingkat SLTP yang akan segera menyelesaikan masa studinya. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama hampir tiga pekan, mulai dari tanggal 13 hingga 31 Mei 2026.

Berdasarkan Surat Edaran Nomor: NJ-B/0163/A.IX/05.2026 yang ditandatangani oleh Kepala Pesantren, Dr. KH. Abd. Hamid Wahid, M.Ag., kegiatan ini bertujuan untuk membekali santri dalam menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Peserta kegiatan merupakan seluruh siswa kelas 9 yang telah mendapatkan konfirmasi dari wali santri masing-masing.

Rangkaian acara OSKAR 2026 mencakup berbagai agenda komprehensif, mulai dari kegiatan kepesantrenan, Pramuka, hingga program School Tour ke berbagai satuan pendidikan di bawah naungan Nurul Jadid seperti MANJ, SMANJ, dan SMKNJ. Selain itu, santri juga akan mengikuti Kemah Akbar Santri yang dijadwalkan pada tanggal 23-24 Mei 2026.

Ada beberapa ketentuan menarik dalam pelaksanaan OSKAR tahun ini, di antaranya:

  • Insentif Pendidikan: Peserta yang mengikuti kegiatan secara penuh akan mendapatkan sertifikat serta potongan biaya pendaftaran bagi mereka yang melanjutkan pendidikan di jenjang SLTA Nurul Jadid.

  • Webinar Wajib: Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta diwajibkan mengikuti Webinar Motivasi dan Pendidikan secara daring pada 30 Mei (untuk putra) dan 31 Mei (untuk putri).

  • Ketentuan Seragam: Peserta diwajibkan mengenakan seragam sesuai jadwal, mulai dari seragam santri, pakaian muslim rapi, hingga seragam nasional dengan atribut hasduk untuk sesi perkemahan.

    Pihak pesantren juga memberikan kesempatan bagi santri peserta OSKAR untuk pulang ke rumah mulai tanggal 25 Mei hingga 1 Juli 2026, dengan catatan tetap mengikuti prosedur perizinan yang telah ditetapkan oleh Pesantren.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat karakter santri dan memberikan gambaran yang jelas mengenai minat serta pengembangan diri sebelum mereka melangkah ke jenjang pendidikan menengah atas.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Seru dan Dialogis! Talk Show Gus Ama’ Warnai Pembukaan Oskar 2026

www.nuruljadid.net -Pondok Pesantren Nurul Jadid resmi membuka kegiatan Orientasi Kelas Akhir (Oskar) tahun 2026. Dalam seremoni pembukaan tersebut, Wakil Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Mohammad Imdad Robbani, memberikan pengarahan (taujihat wal irsyadat) melalui konsep unik berformat talk show interaktif bersama para santri, Rabu (13/05/2026).

Desain acara yang komunikatif ini sengaja dipilih agar narasumber dapat menyerap aspirasi serta keluh kesah santri secara langsung. Gus Ama’—sapaan akrab beliau—memulai sesi dengan melontarkan pertanyaan reflektif mengenai pengalaman santri selama tiga tahun menimba ilmu di pesantren serta tantangan terberat yang mereka hadapi. Hal ini bertujuan agar kebijakan pesantren ke depan tetap relevan dan kontekstual dengan kebutuhan santri.

Dalam paparannya, Gus Ama’ menekankan tema “Santri Mandiri” sebagai upaya mengurangi ketergantungan kepada orang tua. Beliau menegaskan bahwa setiap individu membutuhkan panduan dalam menjalani kehidupan, yang dalam Islam dikenal dengan konsep tafaqquh fiddin.

“Panduan kita saat menghadapi sedih, senang, dan situasi lainnya itu ada dalam agama. Akidah digunakan untuk menata pikiran, Fikih untuk menata etika bernegara, berdagang, dan bernegosiasi, sedangkan Akhlak bertugas menata hati dan perasaan,” jelasnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya keteguhan mental bagi seorang mukmin. Mengambil komparasi global, beliau menyebutkan bahwa tingginya angka bunuh diri di beberapa negara maju sering kali disebabkan oleh kurangnya ketahanan mental dan absennya pandangan hidup jangka panjang yang berorientasi pada akhirat.

Lebih lanjut, Gus Ama’ menjelaskan bahwa segala dinamika kehidupan di pondok adalah bagian dari latihan kemandirian dan pembentukan kebiasaan baik. Beliau menekankan nilai khidmah atau pengabdian, mulai dari hal terkecil seperti merapikan tempat tidur hingga pengabdian kepada masyarakat luas.

“Kenapa banyak terjadi korupsi? Karena pelakunya tidak pernah berpikir memberikan yang terbaik untuk orang lain. Latihan berkhidmat dimulai dari hal kecil hingga akhirnya kita mampu mengabdi sepenuhnya kepada Allah,” tegas beliau.

Sesi menjadi semakin hangat saat moderator membuka tanya jawab. Salah seorang santri melontarkan pertanyaan mengenai cara menghindari godaan media sosial di era modern. Gus Ama’ mengakui beratnya tantangan remaja saat ini, namun beliau menyebut bahwa “puasa” gawai (gadget) di pesantren adalah sebuah anugerah.

“Bahkan para pendiri perusahaan teknologi dunia melarang anak-anak mereka bermain gadget karena tahu bahayanya. Dengan besarnya godaan ini, jika kalian mampu menanggulanginya, maka pahalanya akan semakin besar. Fokus pada pendidikan agama adalah benteng utama,” tambahnya.

Beliau mengibaratkan keberhasilan santri menjauhi dunia maya yang penuh mudharat sebagai langkah menuju derajat kewalian. Menurutnya, mencapai kedekatan dengan Allah (wushul) sering kali terasa lebih berat saat harus meninggalkan larangan-Nya daripada saat mengerjakan perintah-Nya.

Kegiatan Oskar 2026 ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi santri kelas akhir sebelum mereka terjun ke masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dengan membawa mentalitas yang kuat serta pemahaman agama yang mendalam.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

61 Santri Dikukuhkan, Gus Madarik Minta Istikamah Tababbur al-Qur’an

www.nuruljadid.net – Suasana khidmat menyelimuti acara pengukuhan lulusan Kelompok A Pembinaan Al-Qur’an yang digelar pada Selasa (12/5) malam. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni kelulusan biasa, melainkan momentum penting untuk mempertegas kewajiban setiap santri dalam mempelajari dan mencintai Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, ditekankan bahwa belajar Al-Qur’an memiliki cakupan yang luas, melampaui sekadar kelancaran membaca atau penguasaan hukum tajwid. Santri diharapkan mampu membaca dengan baik dan benar (tartil) serta mulai melangkah untuk memahami isi kandungan ayat-ayat suci tersebut agar tidak merugi selama masa menuntut ilmu.

“Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang sangat mulia. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, ‘Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al-Qur’an,’” ujar perwakilan pengasuh saat memberikan pesan kepada para lulusan.

Lebih lanjut, diingatkan kembali mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an di mana setiap hurufnya bernilai sepuluh kebaikan. Kedekatan dengan Al-Qur’an merupakan ciri khas para ulama besar sepanjang sejarah yang tidak hanya membaca, tetapi juga melakukan tadabbur atau perenungan mendalam.

Untuk mencapai pemahaman yang mumpuni, santri didorong untuk menempuh proses belajar yang berkelanjutan, meliputi pendalaman Bahasa Arab,Penguasaan Ilmu Alat, Kajian Ilmu Tafsir.

Berbeda dengan mukjizat para nabi terdahulu yang bersifat temporer, Al-Qur’an ditegaskan sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang tetap hidup hingga akhir zaman. Keistimewaannya terletak pada aturan membacanya yang terjaga serta cara pengamalannya yang sistematis.

Pihak pesantren memberikan pesan kuat agar jangan sampai santri menghabiskan waktu bertahun-tahun di pondok namun belum mampu mengaji dengan baik. Target utama dari pembinaan ini adalah mencetak santri yang lancar membaca dan, pada puncaknya, mampu mengajarkannya kembali kepada masyarakat.

Acara ditutup dengan kutipan hadis populer yang menjadi motivasi bagi seluruh santri: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Pengukuhan ini, diharapkan lahir generasi qur’ani yang ditengah-tengah kemajuan zaman.

Pewarta     : M.  Alief Hidayatullah

Editor        : Ponirin Mika

LKP Nurul Jadid Perkuat Layanan Konseling dan Satgas Anti-Perundungan

www.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, terus berkomitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan harmonis melalui Lembaga Konseling Pesantren (LKP). Dengan mengusung tagline “Pesantren Ramah Santri”, lembaga ini hadir sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental dan pengembangan karakter santri.

LKP Nurul Jadid menawarkan pendekatan profesional yang humanis untuk membantu santri menghadapi berbagai tantangan selama masa pendidikan. Fokus utama layanan ini adalah menciptakan ekosistem pesantren yang aman, nyaman, dan berakhlak, sesuai dengan nilai-nilai Islami.

Untuk mencakup seluruh aspek kebutuhan santri, LKP menyediakan empat kategori layanan utama:

  1. Konseling Pribadi: Pendampingan masalah emosional, keluarga, dan pribadi.
  2. Konseling Sosial: Membantu santri dalam beradaptasi, berkomunikasi, dan menjalin pertemanan yang sehat.
  3. Konseling Spiritual: Penguatan iman, akhlak, dan peneguhan tujuan hidup.
  4. Konsultasi & Edukasi: Program pencegahan perundungan (bullying) serta edukasi kesehatan mental.

Pihak LKP menegaskan bahwa seluruh proses konseling bersifat rahasia. “Setiap cerita dan informasi yang disampaikan akan di jaga kerahasiaannya,” tulis pernyataan dalam sosialisasi lembaga tersebut.

Untuk memudahkan santri, akses layanan dibuka melalui beberapa pintu, yakni datang langsung ke ruang konseling, melalui perantara Wali Asrama/Ustaz, kotak konseling rahasia, hingga layanan pesan singkat via WhatsApp di nomor +62 857-0499-5264.

Selain layanan konseling, Pesantren Nurul Jadid juga mempertegas posisinya dalam memberantas kekerasan di lingkungan pendidikan melalui Satgas Anti Perundungan Nurul Jadid. Program ini didasarkan pada empat nilai utama: Amanah, Peduli, Profesional, dan Islami.

Dengan adanya layanan ini, diharapkan tidak ada lagi santri yang merasa sendirian dalam menghadapi masalah. Langkah ini menjadi bagian dari visi besar pesantren untuk membangun generasi santri yang sehat secara fisik, kuat secara mental, berakhlak mulia, dan berprestasi di bidang akademik maupun keagamaan.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika