Wilayah Al-Hasyimiyah Asah Kreativitas Santri melalui Lomba Parsel Antar Daerah

www.nuruljadid.net – Dalam rangka memperingati 10 Muharram 1448 H, Himpunan Abdi Santri Wilayah Al-Hasyimiyah (HIMASYI) menggelar Lomba Membuat Parsel Antar Daerah pada Jumat (27/06/2026). Kegiatan yang berlangsung di depan Daerah Al-Masruriyah ini menjadi ajang bagi para santri untuk mengembangkan kreativitas, mempererat kekompakan, sekaligus menyalurkan bakat dan ide-ide inovatif.

Lomba membuat parsel merupakan salah satu program tahunan HIMASYI yang telah menjadi tradisi di Wilayah Al-Hasyimiyah. Meskipun pada tahun sebelumnya kegiatan ini sempat ditiadakan dan digantikan dengan acara nonton bersama akibat beberapa kendala teknis, antusiasme santri pada tahun ini kembali terlihat begitu tinggi.

Kemeriahan lomba tampak dari partisipasi seluruh daerah di Wilayah Al-Hasyimiyah. Setiap daerah mengirimkan enam orang delegasi untuk merancang dan menghias parsel menggunakan berbagai bahan, mulai dari makanan ringan, minuman, hingga dekorasi hasil kreasi mereka sendiri.

Untuk mendukung kelancaran kegiatan, panitia menyediakan sejumlah fasilitas, seperti terpal dan stop kontak yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh peserta selama proses perlombaan berlangsung.

Usai melaksanakan salat Asar, para peserta berkumpul di lokasi lomba dan mulai menyusun strategi bersama tim masing-masing. Panitia memberikan waktu selama 90 menit bagi setiap kelompok untuk menyelesaikan parsel sesuai kreativitas dan konsep yang telah dirancang.

Berbagai bentuk dan desain parsel yang unik pun berhasil ditampilkan. Tidak hanya mengedepankan nilai estetika, para peserta juga berusaha menghadirkan karya yang kreatif dan bernilai guna.

Setelah waktu yang ditentukan berakhir, dewan juri langsung melakukan penilaian di lokasi. Adapun aspek yang menjadi indikator penilaian meliputi kreativitas sebesar 40 persen, keindahan 30 persen, dan kerapian 30 persen.

Selain dituntut menghasilkan karya terbaik, peserta juga diwajibkan menjaga kebersihan area perlombaan. Panitia menegaskan bahwa setiap daerah harus membersihkan kembali lokasi yang telah digunakan. Apabila suatu daerah tidak melaksanakan ketentuan tersebut, maka dianggap tidak menyelesaikan perlombaan sesuai aturan yang berlaku.

Salah satu panitia pelaksana, Nadiya Thaha, berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan menghadirkan karya-karya yang semakin inovatif pada tahun mendatang.

“Saya berharap tahun depan hasil karya parsel para peserta menjadi lebih inovatif, lebih bermanfaat, dan kualitas kegiatannya juga semakin baik,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, HIMASYI berharap dapat terus menumbuhkan kreativitas, sportivitas, serta semangat kebersamaan di kalangan santri Wilayah Al-Hasyimiyah, sehingga mampu melahirkan karya-karya yang lebih menarik dan inspiratif di masa mendatang.

Pewarta: Ainun Nabilah
Editor : Maria Al Faradela

Menghidupkan Syiar Muharram, Wilayah Az-Zainiyah Padukan Ibadah dan Kepedulian Sosial

www.nuruljadid.net – Dalam rangka menyemarakkan bulan Muharram, Pengurus Wilayah Az-Zainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar rangkaian kegiatan keagamaan dan sosial pada Jumat (27/06/2026). Kegiatan tersebut meliputi pembacaan amalan 10 Muharram serta santunan kepada anak yatim yang berasal dari masyarakat sekitar.

Kegiatan diawali dengan Pembacaan Amalan 10 Muharram yang dilaksanakan sejak pukul 06.30 WIB di Mushalla Az-Zainiyah. Seluruh santri wilayah Az-Zainiyah turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Bagi santri yang berhalangan karena haid, kegiatan diikuti dari pendopo wilayah dengan mendengarkan tausiyah yang disambungkan dari kegiatan santri putra.

Pembacaan amalan ini diselenggarakan sebagai ikhtiar spiritual untuk menghidupkan syiar Islam, meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT, serta memanfaatkan momentum bulan Muharram yang penuh keberkahan.

Tidak hanya diisi dengan kegiatan ibadah, pada pukul 10.00 WIB Pengurus Wilayah Az-Zainiyah juga menyelenggarakan Santunan Anak Yatim yang bertempat di depan Pendopo Az-Zainiyah. Kegiatan ini dihadiri oleh tujuh anak yatim yang berasal dari wilayah Grinting, sebelah utara pesantren.

“Awalnya, panitia mengundang delapan anak yatim. Namun, satu anak berhalangan hadir sehingga santunan diberikan kepada tujuh anak. Anak-anak yang hadir berusia beragam, mulai dari usia enam tahun hingga siswa kelas V sekolah dasar.” Ungkap  Nuril Lu’luwatil Jannah Selaku kepala wilayah Az-zainiyah.

Melalui kegiatan tersebut, para santri bersama pengurus berupaya meneladani sunnah Rasulullah SAW dengan memuliakan anak yatim, memperbanyak sedekah, serta menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan pesantren.

Berbagai bentuk santunan diberikan oleh para santri, mulai dari uang tunai, makanan ringan, susu, hingga perlengkapan sekolah berupa buku dan pensil. Bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan kebahagiaan sekaligus memenuhi kebutuhan anak-anak yatim.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial santri Az-Zainiyah sekaligus momentum untuk mempererat hubungan antara pesantren dengan masyarakat sekitar, khususnya dalam memuliakan dan membahagiakan anak yatim di bulan Muharram yang penuh berkah.

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor  : Ponirin Mika

Bijak Mengelola Emosi, Jadi Kunci Pengasuhan yang Efektif di Pesantren

www.nuruljadid.net – Biro Kepesantrenan Puteri bersama Biro Pengembangan Puteri Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) kembali melanjutkan rangkaian Pelatihan Kewaliasuhan pada Jumat (26/06/2026) di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid. Pada sesi kedua, peserta mendapatkan materi bertajuk “Bijak Mengelola Emosi” yang disampaikan oleh Ustazah Windiya Budiyanti.

Dalam pemaparannya, sosok yang akrab disapa Ustazah Windi tersebut menjelaskan bahwa emosi merupakan reaksi perasaan yang muncul secara alami sebagai tanggapan terhadap berbagai peristiwa, pikiran, maupun situasi yang dialami seseorang.

“Emosi adalah respons alami yang muncul sebagai bentuk tanggapan terhadap situasi yang kita hadapi sehari-hari,” jelas Ustazah Windi di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, Ustazah Windi memaparkan bahwa emosi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari perasaan seperti senang, sedih, dan marah, perubahan fisik seperti jantung berdebar dan wajah memerah, hingga perilaku yang tampak, seperti tersenyum, menangis, atau memilih untuk menyendiri.

Menurutnya, memahami bentuk-bentuk emosi menjadi langkah awal bagi seorang wali asuh dalam mengelola diri sekaligus mendampingi santri dengan lebih bijaksana.

Dalam kesempatan tersebut, Ustazah Windi juga menegaskan bahwa kemarahan bukanlah solusi dari setiap persoalan. Sebaliknya, kemampuan mengendalikan amarah justru menjadi indikator kematangan emosional seseorang.

“Marah bukan solusi. Emosi yang stabil lahir dari pribadi yang mampu mengendalikan amarah,” tegas Ustazah Windi.

Ia menambahkan, seorang wali asuh dituntut untuk memiliki kestabilan emosi agar dapat menjalankan tugas pengasuhan secara optimal. Dengan emosi yang terkelola dengan baik, pengasuh akan lebih mudah membangun komunikasi yang sehat, menciptakan suasana yang kondusif, serta menjadi teladan bagi santri.

Melalui materi ini, diharapkan para wali asuh mampu mengembangkan kecerdasan emosional, sehingga dapat menjalankan amanah pengasuhan dengan penuh kesabaran, ketenangan, dan kebijaksanaan.

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

Pesan Neng Din: Keteladanan Menjadi Kunci Utama Pengasuhan Santri

www.nuruljadid.net – Biro Kepesantrenan Puteri bersama Biro Pengembangan Puteri Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) menggelar Pelatihan Kewaliasuhan pada Jumat (26/06/2026) di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid. Kegiatan yang mengusung tema “Disiplin Berwibawa, Teladan Bersahaja” ini bertujuan memperkuat kapasitas wali asuh dalam mendampingi dan membina santri.

Pada sesi materi pertama, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah hadir sebagai pemateri dengan tema “Disiplin: Karakter Utama Pengasuh Teladan.” Dalam pemaparannya, sosok yang akrab disapa Neng Din tersebut menekankan pentingnya keteladanan sebagai ruh utama dalam proses pengasuhan di lingkungan pesantren.

Neng Din mengingatkan para wali asuh untuk senantiasa melakukan introspeksi diri sebelum menilai ataupun menyalahkan orang lain. Menurutnya, evaluasi diri menjadi langkah awal untuk mengetahui kekurangan sekaligus memperbaiki kualitas diri sebagai seorang pengasuh.

“Kita harus selalu berintrospeksi. Jangan hanya menyalahkan orang lain, tetapi kita sendiri juga harus berintrospeksi agar mengetahui kekurangan diri,” dawuh Neng Din sembari mengutip pesan KH. Moh. Zuhri Zaini.

Lebih lanjut, Neng Din menjelaskan bahwa konsep utama dalam membangun kedisiplinan dan keteladanan bukan hanya sebatas memberikan instruksi, melainkan dengan memberikan contoh nyata dan mengajak anak asuh untuk melaksanakannya bersama-sama.

Beliau juga menyoroti pentingnya penggunaan komunikasi yang tepat dalam proses pengasuhan. ketika ingin mengetahui suatu persoalan yang dialami anak asuh, wali asuh dianjurkan menggunakan pertanyaan dengan kata “apa” dibandingkan “mengapa.”

“Jika menggunakan kata apa, maka jawaban yang diberikan anak asuh cenderung sesuai dengan fakta yang terjadi. Sementara jika menggunakan kata mengapa, sering kali anak akan memberikan alasan atau pembelaan,” jelasnya.

Selain itu, Neng Din memaparkan beberapa indikator kedisiplinan yang perlu dimiliki seorang wali asuh, di antaranya menjalankan kesepakatan yang telah dibuat, memulai perubahan dari diri sendiri, tepat waktu, tidak banyak beralasan, serta mampu menghadirkan solusi dalam setiap persoalan.

Melalui pelatihan ini, diharapkan para wali asuh di lingkungan PPNJ mampu menjadi figur teladan yang tidak hanya disiplin, tetapi juga mampu membangun budaya pengasuhan yang humanis, inspiratif, dan penuh keteladanan.

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

Ciptakan Sinergi dan Kolaborasi, BEM UNUJA Gelar Probolinggo Edupreneur Youth Summit 2026

www.nuruljadid.net – Dalam upaya menjawab tantangan tingginya angka pengangguran di Indonesia, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nurul Jadid (UNUJA) menggelar seminar Probolinggo Edupreneur Youth Summit 2026 pada Rabu (24/06/2026) di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ).

Kegiatan yang mengusung tema “Menjawab Krisis Pengangguran Melalui Jiwa Entrepreneur” ini menghadirkan tiga tokoh yang berpengalaman di bidang bisnis dan ketenagakerjaan. Seminar tersebut diharapkan mampu menciptakan sinergi dan kolaborasi sekaligus menjadi ruang belajar dan berdiskusi bagi mahasiswa, mahasiswi, serta pelajar yang hadir.

Acara dipandu oleh dosen UNUJA, Dr. Zakiyah BZ, M.Pd.I., selaku moderator. Adapun tiga narasumber yang hadir, yakni Ning Nur Diana Kholida sebagai Praktisi Bisnis Pesantren sekaligus Inspirator Santripreneur dan Sukses Akar Rumput, Muhammad Danil selaku Badan Koordinasi Daerah (Barkoda) HIPMI Jawa Timur Bidang Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM, serta Saniwar, S.Sos., M.Si., Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Probolinggo yang membahas akses karier global dan fasilitasi pelatihan kerja.

Dalam opening speech-nya, Rektor Universitas Nurul Jadid, KH. Dr. Najiburrahman Wahid, M.Ag., menegaskan pentingnya membangun kemandirian mahasiswa di tengah tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.

“Harapannya, setelah lulus dari universitas nanti mahasiswa dapat mengetahui langkah yang harus diambil. Tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan itu sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua BEM UNUJA dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar ini diselenggarakan sebagai upaya mendorong mahasiswa agar tidak hanya bergantung pada peluang kerja yang tersedia, tetapi juga berani menciptakan peluang melalui potensi dan kreativitas yang dimiliki.

Menurutnya, jutaan lowongan pekerjaan yang dijanjikan pemerintah seharusnya tidak menjadi alasan bagi generasi muda untuk hanya menunggu kesempatan datang. Sebaliknya, mahasiswa perlu memiliki jiwa entrepreneur sehingga mampu menjadi pencipta lapangan kerja bagi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, BEM UNUJA berharap dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda, sekaligus melahirkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi dinamika dunia kerja.

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor : Maria Al Faradela

Rektor UNUJA Paparkan Tiga Kategori Kampus dalam Probolinggo Edupreneur Youth Summit 2026

www.nuruljadid.net – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nurul Jadid (UNUJA) menggelar Probolinggo Edupreneur Youth Summit 2026 pada Rabu (24/06/2026) di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid. Kegiatan ini mengusung tema “Menjawab Krisis Pengangguran Melalui Jiwa Entrepreneur” sebagai upaya menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda.

Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa UNUJA serta perwakilan organisasi sekolah di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Acara diawali dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Mars Universitas Nurul Jadid, kemudian memasuki rangkaian sambutan.

Ketua BEM UNUJA, Hedi Firmansyah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Menurutnya, sinergi tersebut diharapkan mampu membuka wawasan peserta mengenai dunia kewirausahaan dan peluang usaha di masa depan.

Sementara itu, Rektor Universitas Nurul Jadid, Dr. K.H. Najiburrahman Wahid, M.Ag., menegaskan bahwa UNUJA merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di bawah naungan Yayasan Nurul Jadid yang terus berupaya melakukan inovasi dan pengembangan di berbagai bidang.

Dalam pemaparannya, Kiai Najib menjelaskan adanya beberapa kategori perguruan tinggi berdasarkan orientasi pengembangannya.

“Paling bawah ada Learning Campus, yaitu kampus yang hanya berfokus pada proses belajar. Kemudian meningkat menjadi Research Campus, yakni kampus yang tidak hanya belajar, tetapi juga mengembangkan riset karena riset merupakan kunci dari ilmu pengetahuan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Najib menyampaikan bahwa tingkatan tertinggi adalah Entrepreneur Campus, yaitu kampus yang tidak hanya mencetak lulusan berpengetahuan, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan.

“UNUJA berusaha menerapkan konsep link and match, yaitu menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan dunia luar agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan,” ungkapnya.

Di akhir sambutannya, Kiai Najib menegaskan komitmen UNUJA untuk terus berkembang dengan menerapkan prinsip ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) terhadap berbagai praktik baik yang diterapkan oleh perguruan tinggi lain. “UNUJA terus berusaha melakukan ATM, yakni mengamati, meniru, dan memodifikasi berbagai inovasi dari kampus-kampus lain, serta senantiasa memperbarui kurikulum agar sesuai dengan perkembangan zaman,” pungkasnya.

Melalui kegiatan Probolinggo Edupreneur Youth Summit 2026, BEM UNUJA berharap dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda sehingga mampu menjadi solusi atas persoalan pengangguran sekaligus menciptakan peluang kerja baru di tengah masyarakat.

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

Pelatihan Kewaliasuhan Soroti Pentingnya Kecerdasan Emosional bagi Wali Asuh

www.nuruljadid.net – Pelatihan Kewaliasuhan yang diselenggarakan oleh Biro Kepesantrenan Puteri dan Biro Pengembangan Puteri Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) pada Jumat (26/06/2026) tidak hanya menyoroti pentingnya disiplin, tetapi juga mengupas keterampilan mengelola emosi bagi para wali asuh.

Pada sesi kedua, Ny. Muthmainnah Waqid hadir sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Bijak Mengelola Emosi: Kunci Ketenangan dan Keberhasilan.” Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak para peserta untuk memahami emosi sebagai bagian alami dari kehidupan yang perlu dikenali dan dikelola dengan baik.

Sosok yang akrab disapa Ning Iin itu menjelaskan bahwa emosi bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dipahami sebagai pesan dari dalam diri.

“Emosi itu ibarat alarm tubuh. Emosi juga dapat menjadi sinyal informasi dari diri sendiri atau ekspresi dari apa yang kita rasakan,” dawuh Ning Iin.

Menurut beliau, kemampuan mengenali emosi menjadi langkah awal untuk menciptakan ketenangan diri, terlebih bagi seorang wali asuh yang setiap hari berinteraksi dan mendampingi santri dengan berbagai karakter.

Lebih lanjut, Ning Iin menegaskan bahwa dalam kehidupan terdapat berbagai persoalan yang tidak semuanya dapat dikendalikan. Oleh karena itu, seseorang perlu belajar menerima keadaan sekaligus memfokuskan energi pada hal-hal yang masih berada dalam kendalinya.

“Sabar itu ada batasnya. Namun, ada beberapa hal yang dapat kita kendalikan dan ada pula yang tidak dapat kita kendalikan,” ungkapnya.

Pemaparan yang disampaikan secara hangat dan reflektif tersebut mengajak para peserta untuk lebih bijak dalam menyikapi berbagai situasi, mengelola emosi secara sehat, serta menghadirkan ketenangan dalam menjalankan amanah pengasuhan.

Melalui materi ini, diharapkan para wali asuh mampu menjadi pribadi yang tidak hanya disiplin, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional sehingga dapat mendampingi santri dengan penuh kesabaran, empati, dan keteladanan.

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

Neng Viki Tegaskan : Tarbiyah Terbaik Hadir Melalui Keteladanan, Bukan Sekadar Ocehan

www.nuruljadid.net – Biro Kepesantrenan Puteri bersama Biro Pengembangan Puteri Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) menggelar Pelatihan Kewaliasuhan pada Jumat (26/06/2026) di Aula Mini Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ). Kegiatan ini mengusung tema “Disiplin Beribawa, Teladan Bersahaja” sebagai upaya meningkatkan kualitas pengasuhan di lingkungan pesantren yang diikuti oleh seluruh Pengurus dan Wali Asuh Wilayah Al-Hasyimiyah.

Pada sesi pertama, hadir Ny. Hj. Viki Amalia Romzi sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Disiplin: Karakter Utama Pengasuh Teladan.” Dalam pemaparannya, sosok yang akrab disapa Neng Viki tersebut menegaskan bahwa disiplin merupakan fondasi utama bagi seorang pengasuh dalam mendidik dan membimbing santri.

Neng Viki menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak disiplin, di antaranya kebiasaan menunda pekerjaan, menganggap waktu masih panjang, serta tidak memiliki tujuan atau target yang jelas.

“Sering menunda-nunda, merasa waktu masih banyak, dan tidak memiliki target menjadi penyebab utama seseorang sulit untuk disiplin,” jelasnya.

Lebih lanjut, Beliau menuturkan bahwa disiplin dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjalankan kesepakatan yang telah dibuat, menghargai waktu dengan datang tepat waktu, memulai perubahan dari diri sendiri, serta mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan.

Dalam kesempatan tersebut, Neng Viki juga menyampaikan pesan mendalam mengenai pola pengasuhan di pesantren. Menurutnya, keteladanan merupakan metode pendidikan yang paling efektif dibandingkan sekadar memberikan nasihat.

“Tarbiyah yang baik itu dengan teladan, bukan dengan ocehan,” dawuh Neng Viki di hadapan para peserta.

Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif. Materi yang disampaikan terasa semakin menarik karena Neng Viki turut menyinggung berbagai fenomena yang tengah viral di tengah masyarakat, seperti kicau mania, MBG, dan isu-isu aktual lainnya sebagai contoh dalam membangun kedisiplinan dan karakter pengasuh.

Di akhir sesi, Neng Viki menegaskan bahwa seorang guru maupun pengasuh tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga harus mampu menjadi sumber semangat bagi para santri.

“Guru yang baik adalah guru yang mampu memberikan motivasi dan inspirasi,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, diharapkan para wali asuh di lingkungan PPNJ semakin mampu menghadirkan pola pengasuhan yang disiplin, humanis, dan berorientasi pada keteladanan dalam mendampingi para santri. di lain tempat, tepatnya di Aula I PP Nurul Jadid juga di gelar Pelatihan Kewaliasuhan yang diikuti oleh Seluruh Pengurus dan Wali Asuh Wilayah Az-Zainiyah.

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

Bukan Sekadar Amalan Muharam, Santunan Anak Yatim sebagai Wujud Kepedulian Sosial

www.nuruljadid.net – Agenda Santunan Anak Yatim yang diselenggarakan oleh Wilayah Al-Lathifiyah (Gang J Putri) terlaksana di Mushala Al-Lathifiyah pada Kamis (25/06/2026). Kehadiran anak-anak yatim yang berasal dari masyarakat sekitar Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) menghadirkan suasana haru di tengah para santriwati.

Sebanyak tujuh anak yatim menerima santunan dari santriwati Wilayah Al-Lathifiyah sebagai salah satu bentuk mengamalkan beberapa kesunahan di bulan muharam. Kedatangan mereka disambut dengan hangat dan penuh antusias. Tidak sedikit santriwati yang mengajak mereka berbincang santai sembari menunggu seluruh peserta berkumpul di mushala.

Meskipun telah mempersiapkan diri, para santriwati tak mampu menahan haru saat mengusap dan mencium ubun-ubun anak-anak yatim dalam agenda tahunan tersebut. Bulir-bulir air mata pun tak terbendung, menciptakan suasana yang penuh makna dan kehangatan.

Pemangku Wilayah Al-Lathifiyah, Nyai Hj. Lathifah Wafi, menyampaikan kepada para santriwati tentang keutamaan menyantuni dan menyayangi anak yatim. Beliau juga mengingatkan berbagai amalan yang dianjurkan pada bulan Muharam, khususnya pada hari Asyura.

Sementara itu, Kepala Wilayah Al-Lathifiyah, Ustazah Labuda Fastabiqul Ma’rifah, mengungkapkan bahwa santunan anak yatim tidak boleh dipandang hanya sebagai salah satu amalan di bulan Muharam.

“Pada hari 10 Asyura, santunan anak yatim menjadi sebuah self reminder bagi kita bahwa berbagi bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang rasa syukur dan kepedulian kepada sesama,” ujarnya.

Pelaksanaan santunan ini turut melibatkan Dewan Mahasantri (DEMA) Ma’had Aly Nurul Jadid Putra yang mengoordinasikan kehadiran anak-anak yatim dari masyarakat sekitar. Sebelum menerima santunan di Wilayah Al-Lathifiyah, anak-anak tersebut terlebih dahulu diarahkan ke Wilayah Al-Amiri (Gang J Putra).

Oleh karena itu, selama kegiatan berlangsung di Wilayah Al-Lathifiyah (Gang J Putri), pengurus wilayah inti bertugas mengoordinasikan dan mengumpulkan para santriwati agar dapat mengikuti kegiatan santunan dengan tertib dan khidmat.

Pewarta: Janeeta Firyal Achlia
Editor : Maria Al Faradela

Gus Fahmi Gaungkan Jiwa Nasionalisme Santri melalui Sekolah Kebangsaan UNUJA

www.nuruljadid.net – Dalam upaya menumbuhkan jiwa nasionalisme sekaligus mempersiapkan kader santri yang kompetitif, Universitas Nurul Jadid (UNUJA) menyelenggarakan kegiatan Sekolah Kebangsaan pada Kamis (25/06/2026). Bertempat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, kegiatan ini mengusung tema “Implementasi Trias Politica dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia”.

Kegiatan ini merupakan Gagasan dari Rektor UNUJA yakni Dr. K.H. Najiburrahman Wahid, M.Ag yang diikuti oleh anggota Santri Patriot (SPat) dan Santri Patriot Panji Pelopor (SPThree) sebagai bagian dari ikhtiar membekali santri dengan wawasan kebangsaan, khususnya dalam memahami sistem ketatanegaraan dan peran strategis santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hadir sebagai narasumber, K.H. Fahmi AHZ atau yang akrab disapa Gus Fahmi. Beliau merupakan Dewan Masyayikh PP. Nurul Jadid sekaligus Wakil Bupati Kabupaten Probolinggo. Dalam pemaparannya, Gus Fahmi menjelaskan konsep Trias Politica sebagai sistem pembagian kekuasaan negara yang terdiri atas tiga lembaga utama, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

“Eksekutif bertugas menjalankan program dan kebijakan negara, legislatif berperan dalam membuat serta menetapkan peraturan, sedangkan yudikatif bertugas mengawasi sekaligus menegakkan hukum,” jelasnya.

Menurutnya, pembagian kekuasaan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menciptakan sistem pemerintahan yang berjalan secara seimbang dan saling mengawasi, meskipun setiap lembaga tetap memiliki tantangan dan kekurangannya masing-masing.

Tak hanya membahas teori politik, Gus Fahmi juga memantik semangat para santri melalui kisah perjuangan pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, K.H. Zaini Mun’im, beserta keturunannya yang turut berkiprah di berbagai bidang, mulai dari organisasi Nahdlatul Ulama hingga pemerintahan.

“Kiai Zaini berdawuh bahwa santrinya tidak harus menjadi kiai atau bu nyai saja, tetapi juga harus ada yang mengabdi kepada masyarakat dan melayani masyarakat,” tutur Gus Fahmi.

Ia menegaskan bahwa santri memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam berbagai sektor, termasuk dunia politik, birokrasi, maupun pelayanan publik, tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan.
Selain itu, Gus Fahmi turut menyampaikan sejumlah pesan kehidupan sebagai bekal bagi para santri ketika terjun ke tengah masyarakat.“Dawuh K.H. Hasyim Zaini, jadilah orang yang bermanfaat tanpa harus menonjolkan diri,” ungkapnya.

Beliau juga mengajak para peserta untuk lebih fokus memperbaiki diri daripada sibuk mengomentari kehidupan orang lain. Menurutnya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan Sekolah Kebangsaan ini, diharapkan para santri tidak hanya memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, tetapi juga mampu menjadi kader-kader bangsa yang berintegritas, kompetitif, serta siap berkontribusi bagi agama, masyarakat, dan negara.

Pewarta: Naylah Zakiyatur Rohmah
Editor : Maria Al Faradela

Pesan Ning Muthmainnah Waqid: Masukkan Al-Qur’an dalam Daftar Kesibukanmu

www.NurulJadid.net – Dalam rangkaian kegiatan Semarak Muharram 1448 H yang diselenggarakan oleh Pengurus Angkatan 23 Wilayah Az-Zainiyah pada Senin malam (23/6/2026), seluruh santri mendapatkan siraman rohani melalui tausiyah yang disampaikan oleh Ny. Muthmainnah Waqid, S.Th.I., di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Dalam kesempatan tersebut, Ning Iin itu mengangkat tema “Muharram: Antara Refleksi dan Resolusi”. Tema tersebut dipilih sebagai ajakan bagi para santri untuk menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum introspeksi diri sekaligus menyusun langkah-langkah perbaikan di masa mendatang.

Menurut Ning Iin, setiap datangnya tahun baru sejatinya merupakan kesempatan baru bagi setiap individu untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik.

“Setiap tahun baru adalah kesempatan baru untuk menjadi seperti yang kita inginkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ning Iin menjelaskan bahwa proses muhasabah atau evaluasi diri bukanlah aktivitas untuk meratapi kesalahan masa lalu. Sebaliknya, muhasabah menjadi sarana untuk mengambil pelajaran dan mempersiapkan bekal dalam menghadapi perjalanan kehidupan berikutnya.

“Muhasabah itu menengok ke belakang bukan untuk menyesal, tetapi untuk mempersiapkan bekal,” tuturnya.

Dalam tausiyahnya, Ning Iin juga memaparkan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam memulai perubahan. Di antaranya adalah memperbaiki niat, memulai perubahan dari hal-hal kecil, serta membangun lingkungan yang mampu memberikan dukungan positif.
Selain itu, beliau mengingatkan para santri agar senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, meskipun di tengah berbagai kesibukan.

“Jika kita merasa sibuk, maka masukkanlah Al-Qur’an dalam daftar kesibukanmu. Karena sejatinya hidup adalah perjalanan, bukan tujuan,” pesannya.

Melalui tausiyah tersebut, Ning Iin berharap para santri mampu memaknai Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik, baik dalam aspek ibadah, akhlak, maupun semangat dalam menuntut ilmu.

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor  : Ponirin Mika

Wilayah Az-Zainiyah Gelar Semarak Tahun Baru Islam 1448 H

www.NurulJadid.net – Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Pengurus Angkatan 23 Wilayah Az-Zainiyah menyelenggarakan kegiatan Semarak Muharram pada Senin malam (23/6/2026). Kegiatan yang bertempat di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid ini diikuti oleh seluruh santri Wilayah Az-Zainiyah dengan penuh antusias.

Acara diawali dengan penampilan Hadrah Banjari yang berhasil membangkitkan semangat para peserta. Selanjutnya, kegiatan resmi dibuka oleh Master of Ceremony (MC), dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta menyanyikan Mars Pondok Pesantren Nurul Jadid. Suasana semakin khidmat saat memasuki sesi sambutan.

Ketua Pengurus Angkatan 23, Ustazah Anisa Bela Sababel, dalam sambutannya mengajak seluruh santri untuk menjadikan pergantian tahun sebagai momentum refleksi diri dan peningkatan kualitas ibadah.

“Semoga dengan adanya momentum Semarak Muharram Tahun Baru Islam 1448 H ini, bukan hanya amal kita yang berubah, tetapi juga ibadah kita semakin bertambah,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Wilayah Az-Zainiyah, Nuril Lukluwatil Jannah, menegaskan pentingnya menjadikan tahun baru Islam sebagai titik awal untuk memperbaiki diri.

“Semoga di tahun baru ini kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, dalam Semarak Muharram tahun ini juga terdapat perlombaan pembuatan ancak sebagai salah satu rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Semarak Muharram 1448 H. Hasil perlombaan tersebut akan diumumkan pada penghujung acara,” tuturnya.

Melalui kegiatan Semarak Muharram ini, Pengurus Angkatan 23 berharap seluruh santri Wilayah Az-Zainiyah dapat memaknai pergantian tahun Hijriah sebagai momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik, baik dalam aspek ibadah, akhlak, maupun semangat dalam menuntut ilmu.

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

Kopassus Awali Pembinaan Personel dengan PBB dan Binsik

www.NurulJadid.net – Korps Pasukan Santri Khusus (Kopassus) menggelar latihan perdana pada Jumat (19/06/2026) di Halaman MTs Nurul Jadid Putra. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB ini menjadi langkah awal pembinaan personel Koppasus yang akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat.

Latihan dipandu oleh Pelda Babun Sugianto, anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang saat ini bertugas sebagai Pembantu Letnan Dua (Peltu) Lentan 2. Kehadiran beliau diharapkan mampu memberikan pembinaan yang terarah dalam membentuk karakter, kedisiplinan, dan ketahanan fisik para anggota Kopassus.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi personel Kopassus sekaligus membangun karakter generasi muda yang tangguh, disiplin, dan bertanggung jawab. Pada pertemuan perdana tersebut, peserta mendapatkan materi Peraturan Baris Berbaris (PBB) dan Pembinaan Fisik (Binsik) sebagai bekal dasar dalam pembentukan sikap dan mental kepemimpinan.

Menurut Pelda Babun Sugianto, latihan PBB bukan sekadar melatih gerakan baris-berbaris, melainkan juga menanamkan nilai kedisiplinan, kekompakan, kepatuhan terhadap aturan, dan kemampuan bekerja sama dalam tim. Sementara pembinaan fisik menjadi sarana untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta membentuk mental yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Hari ini merupakan pertemuan perdana. Ke depan, kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat mulai pukul 14.00 sampai 16.00 WIB sebagai bagian dari pembinaan dan peningkatan kompetensi personel Koppasus,” ungkap Pelda Babun Sugianto.

Ia juga menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi salah satu fokus utama dalam program pembinaan tersebut. Melalui latihan yang berkelanjutan, para anggota diharapkan mampu menjadi pribadi yang disiplin, memiliki jiwa kepemimpinan, serta siap memberikan kontribusi positif bagi lingkungan pesantren dan masyarakat.

Suasana latihan berlangsung penuh semangat. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap arahan dan instruksi yang diberikan. Kekompakan dan kedisiplinan yang mulai terbentuk pada pertemuan perdana ini menjadi modal penting dalam proses pembinaan selanjutnya.

Melalui program latihan rutin Kopassus, pesantren berharap dapat mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga memiliki karakter kuat, ketahanan fisik yang baik, serta semangat pengabdian yang tinggi sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat.

Pewarta : Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

LTDP Putri Perkuat Pemahaman Ibadah Santri Melalui Materi Rukun Shalat

www.nuruljadid.net – Setelah sesi pagi membahas fiqih darah wanita, rangkaian kegiatan Itqon Al Furudh: Daurah Fiqh Ibadah yang diselenggarakan oleh Lembaga Takhassus Diniyah Pesantren (LTDP) Putri berlanjut pada sesi kedua, Jumat (19/06/2026) siang di Aula Mini PP Nurul Jadid. Materi kedua mengangkat tema “Rukun Shalat” yang disampaikan oleh Ustazah Afrida Nurlaili, Lc.

Kegiatan ini diikuti oleh Pengurus Lembaga Tamhidiyah dan I’dadiyah wilayah Az-Zainiyah (Dalbar) dan Al-Hasyimiyah (Daltim). Materi rukun shalat menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat pemahaman santri terhadap tata cara ibadah yang benar sesuai tuntunan fiqih.

Dalam pemaparannya, Ustazah Afrida menjelaskan bahwa shalat bukan hanya sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, tetapi juga memiliki ketentuan-ketentuan yang harus dipahami agar ibadah yang dilakukan sah. Beliau menjelaskan berbagai rukun shalat mulai dari niat, takbiratul ihram, berdiri bagi yang mampu, rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud, hingga salam.

Selain membahas teori, beliau juga memberikan penjelasan praktik yang sering kali luput dari perhatian. Pada pembahasan takbiratul ihram, misalnya, dijelaskan bahwa seseorang yang telah memasuki takbiratul ihram berarti telah masuk ke dalam shalat sehingga hal-hal yang sebelumnya diperbolehkan menjadi terlarang dilakukan selama shalat berlangsung.

Beliau juga menjelaskan tata letak tangan ketika takbiratul ihram, posisi tubuh saat rukuk, serta ketentuan sujud yang harus dilakukan dengan sempurna. Pada bagian duduk di antara dua sujud dan tasyahud, peserta diberikan pemahaman mengenai posisi duduk yang sesuai dengan tuntunan fiqih serta perbedaan pelaksanaannya dalam beberapa keadaan.

Tidak hanya itu, Ustazah Afrida turut membahas beberapa hukum praktis yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketentuan shalat jamak dan qashar bagi musafir, syarat-syarat perjalanan yang membolehkan seseorang mendapatkan rukhsah (keringanan) dalam shalat, serta batasan-batasan yang perlu diperhatikan ketika melaksanakan ibadah dalam kondisi tertentu.

Melalui penyampaian yang sistematis dan aplikatif, para peserta diajak untuk lebih teliti dalam melaksanakan shalat, tidak hanya memahami gerakannya, tetapi juga mengetahui landasan hukum di balik setiap praktik ibadah yang dilakukan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi berlangsung. Berbagai pertanyaan diajukan terkait praktik shalat yang sering ditemui sehari-hari, menunjukkan tingginya minat santri dalam memperdalam ilmu fiqih ibadah.

Materi rukun shalat ini melengkapi sesi sebelumnya tentang fiqih darah wanita yang disampaikan oleh Ny. Muthmainnah Waqid, S.Th.I. Kedua materi tersebut menjadi fondasi penting bagi santri dalam memahami keshahihan ibadah, khususnya bagi perempuan yang akan menjadi penggerak dan penyebar ilmu agama di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan Itqon Al Furudh, LTDP Putri berharap para santri tidak hanya mampu menghafal teori-teori fiqih, tetapi juga memahami dan mengamalkannya secara tepat sehingga ibadah yang dilaksanakan benar-benar sesuai dengan tuntunan syariat. Dengan bekal ilmu yang kuat, santri diharapkan mampu menjalankan ibadah dengan lebih yakin, khusyuk, dan penuh kesadaran akan pentingnya ilmu sebagai dasar setiap amal.

Pewarta : Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

LTDP Putri Gelar Kajian Shalat dan Darah Wanita

www.nuruljadid.net – Lembaga Takhassus Diniyah Pesantren (LTDP) Putri kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan bertajuk Itqon Al Furudh: Daurah Fiqh Ibadah dengan tema “Menguatkan Fondasi Keshahihan Amal melalui Kajian Shalat dan Darah Wanita.” Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Mini PP Nurul Jadid pada Jumat (19/06/2026) pagi.

Kegiatan tersebut diikuti oleh Pengurus Tamhidiyah dan I’dadiyah wilayah Dalbar dan Daltim, serta para pengurus. Daurah ini menjadi wadah pembelajaran fiqih praktis yang bertujuan memperkuat pemahaman santri mengenai berbagai persoalan ibadah, khususnya yang berkaitan dengan perempuan.

Ketua panitia kegiatan, Ustazah Rana Riandani, selaku Koordinator FA Wilayah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan program rutin LTDP Putri yang diharapkan mampu meningkatkan pemahaman santri terhadap hukum-hukum ibadah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Hadir sebagai pemateri, Ny. Muthmainnah Waqid, S.Th.I, yang akrab disapa Neng Iin. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan secara rinci mengenai fiqih darah wanita, mulai dari macam-macam darah, rumus perhitungan darah, waktu-waktu yang berkaitan dengan haid, nifas, dan istihadhah, hingga sifat-sifat masing-masing darah beserta implikasinya terhadap pelaksanaan ibadah.

Materi yang disampaikan tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga disertai contoh-contoh kasus yang sering ditemui sehingga memudahkan peserta dalam memahami dan mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Neng Iin menegaskan pentingnya perempuan mempelajari fiqih darah wanita sebagai dasar dalam menjaga keabsahan ibadah.

“Dengan mengetahui dan mempelajari darah wanita, itu juga menjadi salah satu fondasi dalam memahami dan mengetahui keabsahan ibadah kita. Karena semua ada ilmunya, terlebih dalam ibadah. Apalagi kita perempuan, harus lebih mengetahui tentang darah,” dawuh beliau.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para santri aktif menyimak materi dan mengajukan berbagai pertanyaan terkait persoalan fiqih yang sering mereka hadapi. Hal ini menunjukkan tingginya kesadaran akan pentingnya pemahaman hukum-hukum syariat yang berkaitan langsung dengan kehidupan perempuan.

Melalui kegiatan Itqon Al Furudh ini, LTDP Putri berharap para peserta tidak hanya memahami teori fiqih ibadah, tetapi juga mampu mengamalkannya dengan benar sehingga ibadah yang dilakukan semakin sah, berkualitas, dan sesuai dengan tuntunan syariat. Kegiatan ini sekaligus menjadi ikhtiar pesantren dalam mencetak santri yang tidak hanya tekun beribadah, tetapi juga memahami landasan ilmu yang mendasarinya.

Pewarta : Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika