Lepas Penat Usai Lomba, Santri Nurul Jadid Perkuat Keakraban Lewat Gim Edukatif

www.nuruljadid.net – Setelah memeras keringat dalam kompetisi ketangkasan yang cukup menguras energi, ratusan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid mengikuti sesi ice breaking dan gim edukatif di lapangan utama pesantren, Paiton, Probolinggo. Kegiatan ini dirancang untuk melepas penat sekaligus mengembalikan kesegaran fisik dan pikiran para santri.

Sesi penyegaran ini menjadi bagian tak terpisahkan dari manajemen aktivitas luar ruangan (outbound) yang diterapkan oleh pihak pesantren. Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan emosional santri agar tetap ceria, bersemangat, serta terhindar dari kejenuhan setelah melewati rangkaian materi dan perlombaan yang padat.

Perwakilan Panitia Pelaksana menjelaskan bahwa ice breaking bukan sekadar permainan biasa untuk mengisi waktu luang. Kegiatan ini diadakan secara terukur sebagai sarana relaksasi psikologis, melatih kefokusan kembali, serta menyuntikkan energi positif baru ke dalam jiwa setiap santri sebelum mereka kembali ke rutinitas klasikal.

Alasan mendasar di balik pemilihan aktivitas komunal ini adalah untuk meruntuhkan sekat-sekat kecanggungan dan membangun kedekatan emosional antar-santri dari berbagai latar belakang daerah. Melalui interaksi fisik yang seru dan penuh tawa, komunikasi interpersonal di antara mereka dapat mencair secara alami.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, suasana riuh rendah penuh tawa langsung pecah saat instruktur mulai memandu gim berantai. Salah satu momen menarik terlihat ketika para santri yang mengenakan seragam putih-biru dan peci hitam tersebut diminta membentuk barisan melingkar lalu saling memijat bahu rekan di depannya secara bergantian.

Rona bahagia dan ekspresi penuh keakraban tampak jelas di wajah para santri saat mereka saling memberikan pijatan ringan di pundak teman sebaya. Aktivitas sederhana ini terbukti ampuh meredakan ketegangan otot punggung dan leher setelah sebelumnya mereka fokus berjongkok dan membungkuk saat mendirikan struktur pioneering.

Tidak hanya sekadar relaksasi fisik, instruktur juga menyisipkan instruksi-instruksi spontan yang melatih konsentrasi dan kecepatan respons motorik santri. Ketika instruktur meneriakkan kata kunci tertentu, para santri harus dengan sigap mengubah arah gerakan atau melakukan gerakan refleks terencana bersama kelompoknya.

Pihak pengasuh pesantren senantiasa menekankan bahwa persaudaraan (ukhuwah) di dalam lingkungan pesantren harus dirawat dengan berbagai pendekatan yang humanis dan menggembirakan. Melalui media gim kelompok ini, nilai-nilai saling menghargai, tenggang rasa, dan rasa senasib sepenanggungan tertanam secara halus.

Salah seorang santri peserta mengungkapkan rasa senangnya bisa mengikuti sesi penyegaran fisik ini bersama teman-teman satu kamarnya. Menurutnya, rasa lelah akibat terik matahari langsung sirna ketika bisa tertawa lepas bersama dan saling membantu memulihkan stamina melalui pijatan berantai tersebut.

Kegiatan penyegaran ini diakhiri dengan yel-yel penyemangat dan doa bersama sebelum para santri membubarkan diri dengan tertib. Dengan berakhirnya seluruh rangkaian acara, panitia berharap energi kebersamaan yang tercipta di lapangan ini dapat terus terbawa dalam aktivitas belajar dan beribadah sehari-hari di dalam pondok pesantren.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Peserta Kemah Santri Nurul Jadid Unjuk Kebolehan dalam Lomba Pioneering

www.nuruljadid.net – Guna mengasah keterampilan, ketangkasan, dan kerja sama tim, ratusan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid berpartisipasi aktif dalam ajang perlombaan pioneering (tali-temali). Kegiatan luar ruangan yang penuh semangat ini dipusatkan untuk santri kelas akhir putra di Candi Jabung, Paiton, Probolinggo.

Perlombaan ini digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan dan kepanduan santri. Agenda tersebut bertujuan untuk mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan (tafaqquh fiddin), tetapi juga memiliki keterampilan taktis, kemandirian, mental yang tangguh, serta kesiapan fisik di lapangan.

Kepala Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid menegaskan bahwa kegiatan ini diadakan sebagai respons terhadap pentingnya pendidikan karakter berbasis kepanduan di lingkungan pesantren. Melalui kegiatan praktis seperti ini, santri diajak untuk membumikan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan sejak dini.

Alasan mendasar di balik pelaksanaan lomba ini adalah untuk melatih ketajaman berpikir cepat dan tepat dalam memanfaatkan sarana yang terbatas. Dalam dunia kepanduan, kemampuan mendirikan bangunan darurat menggunakan tongkat dan tali merupakan keterampilan krusial yang melatih motorik sekaligus logika berpikir ruang para santri.

Berdasarkan pantauan di lokasi, jalannya perlombaan berlangsung sangat kompetitif namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah islamiyah. Setiap regu yang terdiri dari beberapa santri tampak bahu-membahu, berbagi tugas secara taktis untuk mendirikan struktur bangunan mini, seperti menara pandang dan tiang bendera kreatif.

Dengan mengenakan seragam putih-biru lengkap dengan peci hitam sebagai identitas khas santri Nurul Jadid, mereka terlihat cekatan mengikatkan tali pada tongkat bambu. Kerja sama yang solid ditunjukkan saat beberapa santri memegangi kerangka utama, sementara santri lainnya fokus mengunci simpul-simpul tali agar bangunan berdiri kokoh.

Penilaian dalam lomba pioneering ini tidak hanya bertumpu pada kecepatan waktu penyelesaian semata. Tim juri yang terdiri dari para instruktur senior kepramukaan pesantren juga memberikan poin besar pada aspek ketepatan simpul, kekuatan ikatan, estetika bangunan, serta kekompakan komunikasi antaranggota dalam satu tim.

Ketua panitia pelaksana menyampaikan bahwa perlombaan ini merupakan agenda berkala yang selalu dinantikan oleh para santri di setiap periodenya. Pihak pesantren berharap, melalui simulasi tali-temali ini, para santri dapat mengimplementasikan filosofi ikatan simpul sebagai simbol kuatnya persaudaraan dan persatuan antar-sesama.

Respons positif juga datang dari para santri peserta lomba yang mengaku sangat antusias mengikuti jalannya acara dari awal hingga akhir. Mereka menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam lomba ini adalah menjaga ketenangan dan fokus agar tali tidak longgar, sekaligus menyatukan persepsi dengan anggota kelompok di tengah keterbatasan waktu.

Dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan potensi santri secara holistik, baik dari aspek intelektual, maupun keterampilan praktis.

 

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor        : Ponirin Mika

Santri Nurul Jadid Kelas Akhir Gelar Kegiatan Pramuka di Situs Sejarah Candi Jabung

www.nuruljadid.net – Ada yang menarik dari rangkaian kegiatan Perkemahan Olahraga dan Seni Pramuka (OSKAR) 2026 yang digelar oleh Gugus Depan Pramuka Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tidak hanya berfokus pada materi kepanduan di dalam bumi perkemahan, ratusan santri tingkat SLTP ini juga diajak melakukan napak tilas sejarah ke Situs Purbakala Candi Jabung, Paiton, Probolinggo.

Kehadiran ratusan santri berseragam putih dengan songkok hitam dan setangan leher merah-putih khas kepanduan Nurul Jadid ini langsung memadati area pelataran candi bata merah peninggalan era Majapahit tersebut. Di sana, mereka menggelar berbagai dinamika kelompok, pembekalan materi luar ruangan (outbound), serta apel kesetiaan terhadap NKRI.

Ketua Panitia Pelaksana Gus Iqbal Alallah menjelaskan bahwa pemilihan Candi Jabung sebagai salah satu lokasi sentral kegiatan luar ruangan ini dilakukan secara sengaja demi membangun kedekatan emosional santri terhadap warisan sejarah bangsa.

“Kami ingin melahirkan kader Pramuka yang tidak hanya cakap secara mental dan spiritual di lingkungan pesantren, tetapi juga memiliki wawasan sejarah yang kokoh. Candi Jabung adalah bukti otentik kejayaan masa lalu di tanah kelahiran mereka saat ini,” ungkapnya.

Selain melakukan kegiatan ketangkasan dan formasi baris-berbaris, para santri juga mendapatkan edukasi singkat mengenai sejarah berdirinya candi yang dibangun pada tahun 1354 Masehi tersebut. Kegiatan edukatif ini diharapkan dapat memicu rasa bangga serta kesadaran generasi muda Nahdliyin untuk ikut menjaga dan melestarikan situs-situs cagar budaya.

Sebagai penutup nantinya pada agenda di lokasi sejarah tersebut, seluruh peserta bersama-sama melakukan aksi pungut sampah di sekitar area wisata candi. Langkah kecil ini menjadi bukti nyata penerapan Dasa Dharma Pramuka, khususnya poin “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia,” sebelum mereka kembali bergeser menuju bumi perkemahan utama.

Pewarta     : Ahmad Zainul Khofi

Editor        : Ponirin Mika)

Lewat Kemah OSKAR, Kiai Imdad Dorong Santri Miliki Mental Pejuang

berita.nuruljadid.net — Gugus Depan Lengkap Pramuka Pondok Pesantren Nurul Jadid resmi membuka Perkemahan Orientasi Santri Kelas Akhir (OSKAR) Tingkat SLTP 2026 di Bumi Perkemahan Candi Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jumat, (22/05/2026). Kegiatan tiga hari yang berlangsung hingga 24 Mei 2026 itu diikuti oleh para santri kelas akhir tingkat SLTP Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai penanda transisi mereka menuju jenjang SLTA.

Pembukaan kemah ditandai dengan upacara resmi yang dihadiri oleh pimpinan pesantren. Wakil Kepala Pesantren I, KH. Moh. Imdad Rabbani, hadir dan menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya menghayati proses kehidupan secara bertahap di tengah arus budaya yang menuntut segalanya instan.

“Di tengah budaya yang mengondisikan kita untuk mengejar sesuatu yang instan, Pramuka ini mengingatkan kita untuk menjalani proses secara bertahap, dengan rasa senang dan rasa gembira,” kata KH. Moh. Imdad Rabbani dalam sambutannya, Jumat, 22 Mei 2026.

Beliau menegaskan bahwa OSKAR bukan sekadar kegiatan rutin kepramukaan, melainkan wahana pembentukan karakter dan mental santri yang berlandaskan nilai perjuangan. Nama Gugus Depan Pramuka Nurul Jadid yang dinisbatkan kepada KH. Zaini Abdul Mun’im dan Ny. Hj. Nafi’ah, pendiri pesantren, disebutnya sebagai pengingat identitas Pramuka yang dikader menjadi pejuang.

“Kalian semua adalah Anggota Pramuka yang dikader untuk menjadi pejuang, orang-orang yang melakukan sesuatu tidak hanya untuk kepentingan sendiri, tetapi untuk kepentingan banyak orang,” ujar Kiai Imdad.

Dalam sambutannya, beliau juga mengaitkan semangat berkemah dengan landasan keimanan. Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, Kiai Imdad menyebut bahwa kondisi apa pun yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan, syukur ketika mendapat kesenangan, dan sabar ketika menghadapi kesulitan.

“Perjuangan itu tentu tidak harus selalu dilewati dengan kesedihan terus-menerus. Hidup selalu silih berganti antara kegembiraan, kesedihan, dan kebahagiaan, dan dengan kita sekali waktu belajar di luar ruangan semacam ini merupakan sesuatu yang menyenangkan yang harus kita syukuri,” tuturnya.

Ketua Gugus Depan Lengkap Pramuka Nurul Jadid, Umar Falas, menyatakan bahwa kegiatan OSKAR dirancang sebagai ruang penempa mental sebelum para santri memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Ia berharap pengalaman berkemah di alam terbuka dapat melatih kemandirian, ketangguhan, dan rasa tanggung jawab para peserta.

Dalam kegiatan tersebut, Kiai Imdad juga mengusulkan agar pesantren ke depan memiliki program perkemahan rutin, yaitu kemah kamis-jumat yang diselenggarakan secara berkala oleh Gugus Depan Lengkap Pramuka Nurul Jadid.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Intip Materi Matrikulasi Siswa SMK Full Day Bustanul Arifin di Pesantren Nurul Jadid

www.nuruljadid.net- Sebanyak puluhan siswa dari SMK Full Day Bustanul Ulum Bulugading, Jember, secara resmi memulai program Matrikulasi dan Praktik Kerja Industri (Prakerin) di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Sabtu (23/5/2026). Program pembekalan intensif yang memadukan penguatan spiritual dan keahlian digital ini dijadwalkan akan berlangsung selama satu bulan penuh hingga 23 Juni 2026 mendatang.

Pada hari pertama kedatangan, rombongan siswa disambut hangat melalui seremonial penyambutan di Aula 1 Pesantren. Rangkaian kegiatan awal langsung diisi dengan tradisi pesantren, yakni sowan kepada Pengasuh dan Bu Nyai, ziarah ke Maqbaroh pendiri pesantren, pengasramaan, serta penyampaian tata tertib kehidupan santri.

Selama fase matrikulasi (24–31 Mei), para peserta tidak hanya digembleng dengan rutinitas ibadah dan pendalaman kitab suci Al-Qur’an serta Kitab Mabadi’ul ‘Ubudiyyah bersama KH. Najibburrahman Wahid dan KH. Moh. Zuhri Zaini. Lebih dari itu, para siswa juga dibekali dengan kompetensi hard skill teknologi informasi yang relevan dengan kebutuhan industri modern saat ini.

Memasuki akhir Mei, tepatnya pada tanggal 30 dan 31 Mei 2026, para siswa akan mengikuti pelatihan teknologi intensif di Laboratorium Komputer Universitas Nurul Jadid (UNUJA). Pelatihan tersebut mencakup Basic Office Administration, Basic Graphic Design, Basic Coding and Programming, serta Self-Development Training untuk memperkuat mental kerja siswa.

Setelah seluruh bekal spiritual dan teknis dirasa matang, para peserta akan dilepas secara resmi oleh Biro Pendidikan dan Protokol pesantren pada Senin, 1 Juni 2026. Mereka akan diterjunkan langsung untuk melaksanakan praktik kerja nyata (on-the-job training) di berbagai Satuan Kerja tujuan selama tiga minggu, yakni mulai 2 s.d 22 Juni 2026.

Seluruh rangkaian kegiatan satu bulan penuh ini direncanakan ditutup dengan pelaporan evaluasi kerja, pengenalan akademik kampus UNUJA dan Ma’had Aly, serta seremonial pelepasan kepulangan peserta kembali ke Kabupaten Jember pada 23 Juni 2026. Pihak panitia menegaskan bahwa selama kegiatan berlangsung, seluruh peserta diwajibkan mematuhi aturan ketat pesantren demi melahirkan lulusan SMK yang tidak hanya kompeten secara profesi, tetapi juga memiliki budi pekerti yang luhur.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Siswa SMK Full Day School Bulugading Jember Ikuti Prakerin di Ponpes Nurul Jadid

www.nuruljadid.net– Sebanyak 45 siswa dari SMK Full Day School Bulugading, Kabupaten Jember, resmi melaksanakan program Praktik Kerja Industri (Prakerin) di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Acara serah terima peserta prakerin tersebut berlangsung khidmat pada hari ini, Sabtu (23/05/2026). Pihak sekolah menyerahkan langsung puluhan siswa tersebut kepada pengurus pesantren.

Dalam sambutannya, perwakilan dari SMK Full Day School Bulugading, Ustadz Mashuri, mengungkapkan jumlah pasti anak didiknya yang akan menimba ilmu di tempat tersebut. Ia menyebutkan ada 45 peserta yang didelegasikan tahun ini.

Ustadz Mashuri menjelaskan bahwa puluhan siswa tersebut dijadwalkan akan menjalani program Prakerin selama satu bulan penuh. Seluruh rangkaian kegiatan akan dipusatkan di lingkungan Pesantren Nurul Jadid.

Pihak sekolah menaruh harapan besar pada program ini. Ustadz Mashuri berharap, keberadaan para siswa di salah satu pesantren besar di Jawa Timur tersebut dapat menambah wawasan mereka secara signifikan.

Selain wawasan, ia juga menekankan pentingnya pembentukan karakter selama masa prakerin. Melalui program ini, diharapkan para peserta mampu menyerap dan membangun etos kerja yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ustadz Mashuri memuji sistem tata kelola yang diterapkan oleh lembaga tuan rumah. Menurutnya, Pondok Pesantren Nurul Jadid dikenal sangat bagus dalam memanaj berbagai hal, termasuk dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM).

Ia menegaskan bahwa pihak sekolah ingin wawasan serta sistem manajemen yang baik tersebut dapat mengalir dan diserap langsung oleh para peserta. Tujuannya agar mereka memiliki kedisiplinan dan etos kerja yang bagus setelah lulus nanti.

Sementara itu, perwakilan dari Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ustadz Ponirin Mika, menyambut baik kedatangan rombongan dari Jember tersebut. Ia menyampaikan bahwa kehadiran 45 peserta prakerin ini merupakan sebuah amanah yang sangat besar bagi pihak pesantren.

Ustadz Ponirin Mika memberikan imbauan kepada seluruh rombongan yang hadir. Ia berharap agar para pembina, pendamping, serta seluruh peserta dapat mengikuti dan mematuhi rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan dengan matang oleh pihak Pesantren Nurul Jadid.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Santri Peserta Perkemahan OSKAR 2026 Awali Hari Kedua dengan Senam Sehat dan Aksi Bersih Lingkungan

www.nuruljadid.net– Ratusan santri peserta Perkemahan OSKAR 2026 mengawali agenda hari kedua dengan penuh energi di Bumi Perkemahan TNI AL Paiton pada Sabtu (23/05/2026) pagi. Rangkaian kegiatan dimulai dengan senam kebugaran jasmani dan dilanjutkan dengan aksi gotong royong membersihkan area perkemahan.

Kegiatan pagi yang dimulai pasca-Shalat Subuh berjamaah ini diawali dengan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) Pramuka, Senam Maumere, dan ditutup dengan Senam Tabola-Bale yang dinamis. Dipimpin oleh Gugus Depan Pramuka Putri Nurul Jadid, seluruh peserta tampak antusias mengikuti gerakan instruktur di Lapangan Utama TNI AL Paiton.

Ketua Pelaksana Perkemahan OSKAR 2026, Kak Uswatun Hasanah (Kak Aan), menjelaskan bahwa senam pagi ini sengaja dirancang untuk menjaga kondisi fisik para santri agar tetap prima.

“Agar anak-anak melatih kesehatan di pagi hari dan tidak lemas dalam mengikuti kegiatan nantinya,” ujar Kak Aan pada Sabtu (23/05).

Tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, para peserta juga diajak untuk melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan di sekitar tenda masing-masing. Dengan membawa peralatan sederhana, para santri bahu-membahu memungut sampah demi menjaga keasrian bumi perkemahan yang terletak di pesisir pantai tersebut.

Menurut Kak Aan, aksi bersih-bersih ini merupakan bagian dari pendidikan karakter bagi para santri pramuka.

“Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kepekaan siswi terhadap lingkungan sekitar tempat perkemahan,” imbuhnya.

Usai membersihkan area perkemahan dan menikmati panorama fajar di tepi pantai, rangkaian kegiatan pagi ditutup dengan sarapan bersama serta persiapan mandi. Seluruh peserta kini siap melanjutkan berbagai agenda kedisiplinan dan kebersamaan yang telah dijadwalkan sepanjang hari kedua Perkemahan OSKAR 2026.

Pewarta: Maria Al Faradela

Editor: Ponirin Mika

 

Ikhtiar Merawat Sanad di Masjid Pesantren

“Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid menerapkan standardisasi baru dalam pembinaan Al-Qur’an. Mencoba memediasi tradisi kelisanan dengan manajemen berbasis data”

www.nuruljadid.net – Di bawah temaram lampu masjid Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, riuh rendah suara santri mengeja ayat-ayat suci mendadak melunak. Di sudut-sudut ruangan, para muallim (pengajar) menyimak dengan saksama, menginterupsi sesekali ketika ada pelafalan tajwid yang meleset. Rutinitas saban bakda Magrib ini bukan sekadar tadarus biasa, melainkan bagian dari cetak biru besar penataan kurikulum mengaji di pesantren tersebut.

Biro Kepesantrenan Nurul Jadid, khususnya Wilayah Syekh Jumadil Kubro, tengah menguji coba sebuah sistem baru dalam Program Pembinaan Al-Qur’an. Berakar dari dokumen Arah Kebijakan Umum Pesantren (AKUP) , program ini dirancang demi mengejar satu target krusial: memastikan seluruh santri aktif tuntas membaca Al-Qur’an secara tepat, presisi, dan terukur.

Bagi pesantren sebesar Nurul Jadid, mengajarkan Al-Qur’an adalah urusan nadi. Namun, mengelola ribuan kepala dengan latar belakang kemampuan yang timpang jelas membutuhkan formula yang lebih dari sekadar “ngaji seremonial”.

“Formulasi kegiatan pembinaan Al-Qur’an ini ditujukan untuk menghadirkan program yang tidak simbolik maupun seremonial semata, melainkan dengan konsep yang matang, terukur, dan berkelanjutan,” tulis dokumen Term of Reference (TOR) kegiatan tersebut.

Ikhtiar ini mewujud dalam pembagian empat klaster pembelajaran : Kelompok A, B, C, dan D. Pembagian ini didasarkan pada hasil Tes Kualifikasi Al-Qur’an yang diikuti oleh seluruh santri aktif di Wilayah Syekh Jumadil Kubro. Melalui pemetaan ini, beban kognitif santri disesuaikan dengan kapasitas awal mereka.

Di Kelompok A, misalnya, santri didorong untuk menguasai Hukum Mad, Qasr, serta Hukum Waqof Wal Ibtida’. Bergeser ke Kelompok B, materinya merambah pada Hukum Idgham, Hukum Ro’, dan Hukum Ikhfa’ Bi Ma’nal Jadid (IBJ). Sementara Kelompok C menjadi ruang bagi mereka yang mendalami Hukum Nun Sukun, Tanwin, Mim Mati, hingga Qalqalah. Di klaster paling dasar, Kelompok D, fokusnya adalah membenahi organ wicara santri lewat praktik Makhorijul Huruf dan Sifatul Huruf.

Metode pengajaran mengombinasikan talqin (peniruan langsung) dan pendalaman materi menggunakan kitab Ikhtisar Tajwid Praktis. Uniknya, ritme belajar diatur dengan porsi praktik yang lebih dominan ketimbang teori. Kelompok A, B, dan C menghabiskan dua hari untuk materi dan tiga hari untuk praktik. Sedangkan Kelompok D memperbanyak porsi asah lidah dengan skema satu hari teori dan empat hari praktik langsung.

Semua proses ini berdenyut setiap hari—kecuali hari Senin dan Kamis yang diliburkan—selama 30 menit, tepat dari pukul 18.15 hingga 18.45 WIB.

Langkah Nurul Jadid mengotomatisasi tradisi ini bukannya tanpa batu sandungan. Analisis internal pesantren sempat memetakan sejumlah kerawanan klasik : koordinasi yang longgar antara pengurus daerah dengan biro, tingkat kehadiran pengajar yang belum optimal, hingga tidak meratanya kompetensi mengajar para muallim.

Untuk memitigasi risiko tersebut, manajemen berbasis data kini disuntikkan. Setiap bulan, rekapitulasi kehadiran pengajar dan santri dikompilasi secara ketat oleh Koordinator Pembinaan Daerah. Hasil evaluasi ini bukan cuma menjadi rapor bagi santri untuk naik kelas , melainkan juga potret bagi Kasi Pembinaan Al-Qur’an Biro Kepesantrenan untuk mengambil keputusan strategis.

Kerja kolaboratif ini membagi beban secara vertikal. Di lini depan, para muallim bertugas mengabsen dan memperbaiki kualitas bacaan santri. Di atasnya, Koordinator Daerah dan Divisi Pembinaan Wilayah mengawal logistik data. Sementara Biro Kepesantrenan bertindak sebagai pengarah kompas program agar tetap selaras dengan Perencanaan Induk Pesantren (PIP).

Di tengah arus modernisasi pendidikan yang kerap menuntut hasil instan, eksperimen di Wilayah Syekh Jumadil Kubro ini menunjukkan bahwa pesantren memilih jalan setapak yang sunyi namun pasti : merawat tradisi kelisanan Islam yang sakral, sembari meminjam ketepatan sains manajemen modern.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Lewat Metode Talqin dan Evaluasi Terukur, Santri Nurul Jadid Dimantapkan Raih Kemampuan Baca Al-Qur’an yang Benar

www.nuruljadid.net- Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid, khususnya Wilayah Syekh Jumadil Kubro, resmi meluncurkan rancangan strategis Program Pembinaan Al-Qur’an. Program ini dirancang secara terstruktur dan berkelanjutan guna memastikan seluruh santri aktif mencapai ketuntasan membaca Al-Qur’an secara tepat, sekaligus mencetak generasi ahlul Qur’an yang berdaya saing global.

Landasan utama program ini mengacu pada Perencanaan Induk Pesantren (PIP), Rencana Strategis (Renstra), serta Arah Kebijakan Umum Pesantren (AKUP) Pondok Pesantren Nurul Jadid. Penguatan ini ditargetkan mampu memodernisasi sistem manajemen pembinaan tradisional ke arah berbasis data dan evaluasi yang konsisten.

Guna mengoptimalkan proses internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an, mekanisme pembelajaran akan dibagi menjadi empat tingkatan kelompok (A, B, C, dan D) berdasarkan kompetensi dasar santri. Setiap kelompok menerapkan kombinasi metode tatap muka berupa pemberian materi (pematerian) dan praktik menggunakan metode talqin: Kelompok A, B, dan C: Mengikuti skema dua hari pematerian materi dan tiga hari praktik. Kelompok D: Difokuskan pada satu hari pematerian materi dan empat hari praktik.

Proses pembelajaran dijadwalkan berlangsung setiap hari—kecuali hari Senin dan Kamis yang ditetapkan sebagai hari libur—pada pukul 18.15 hingga 18.45 WIB bertempat di Masjid. Setiap pertemuan dialokasikan waktu selama 30 menit. Sumber belajar utama yang digunakan di seluruh kelompok adalah kitab Ikhtisar Tajwid Praktis.

Setiap kelompok memiliki target capaian kompetensi yang spesifik guna memastikan perkembangan kemampuan santri terukur secara bertahap: Kelompok A: Berfokus pada pemahaman Hukum Mad & Qasr serta Hukum Waqof Wal Ibtida’. Kelompok B: Menargetkan pemahaman Hukum Idgham, Hukum Ro’, dan Hukum Ikhfa’ Bi Ma’nal Jadid (IBJ). Kelompok C: Mempelajari Hukum Nun Sukun & Tanwin, Hukum Mim Mati, serta Hukum Qalqalah. Kelompok D: Difokuskan pada penguasaan dasar dan praktik Makhorijul Huruf serta Sifatul Huruf.

Sistem evaluasi hasil pembelajaran dilakukan melalui ujian lisan (praktik membaca) dan tanya jawab berkala sesuai target materi kelompok masing-masing. Hasil dari ujian ini nantinya akan dikompilasi menjadi basis data penentu kebijakan kenaikan kelompok santri. Selain itu, evaluasi kegiatan menyeluruh juga diadakan sebulan sekali untuk meninjau progres kehadiran santri, keaktifan Muallim (pengajar), serta kendala teknis di lapangan.

Program besar ini melibatkan kolaborasi ketat lintas satuan kerja di bawah naungan Biro Kepesantrenan. Kasi Pembinaan Al-Qur’an Biro Kepesantrenan memegang tanggung jawab penuh dalam perencanaan makro, pengawasan, hingga pembentukan tim penguji.

Sementara itu, operasional teknis di lapangan dikawal oleh Divisi Pembinaan dan Pengembangan Santri Wilayah Syekh Jumadil Kubro, yang bersinergi langsung dengan Koordinator Pembinaan Al-Qur’an Daerah untuk mengelola data absensi pengajar dan santri. Di garda terdepan, para Muallim bertugas menyampaikan materi, memperbaiki kualitas bacaan santri, dan melaporkan kendala pembelajaran.

Melalui persiapan kurikulum yang matang, pengelolaan berbasis data, serta komitmen sinergis antar-satuan kerja, Pondok Pesantren Nurul Jadid optimis kegiatan pembinaan ini dapat berjalan profesional dan melahirkan output generasi santri yang unggul secara spiritual dan intelektual.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Santri Putri Nurul Jadid Suguhkan Pentas Seni di Buper TNI AL Paiton

www.nuruljadid.net – Pesantren Nurul Jadid berkomitmen penuh dalam menyeimbangkan penanaman ilmu akademik dan non-akademik bagi para santrinya. Komitmen ini dibuktikan melalui gelaran panggung kreasi seni dalam kegiatan perkemahan OSKAR SLTP Putri 2026 yang berlangsung di Bumi Perkemahan (Buper) Lapangan Tembak TNI AL Paiton, Probolinggo, pada Jumat (22/05/2026) malam.

Acara yang diinisiasi oleh pengurus Gugus Depan Pramuka Putri Nurul Jadid ini diselenggarakan segera setelah Apel Pembukaan Perkemahan usai. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan santri putri kelas akhir tingkat SLTP.

Secara bergantian, masing-masing kelompok Pramuka menampilkan berbagai kreativitas yang edukatif. Pertunjukan yang disuguhkan meliputi bidang seni dan ketangkasan kepramukaan, di antaranya: Khitobah (pidato bahasa Arab) dan speech (pidato bahasa Inggris), Puisi berantai, Nasyeed beatbox acapella, Yel-yel kreatif dan Gema Kreasi Pramuka, Atraksi semaphore

Selain menampilkan kesenian dan ketangkasan, para santri putri juga menunjukkan kemampuan linguistik mereka melalui dialog interaktif menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Penampilan dwibahasa tersebut berhasil memukau penonton serta menuai apresiasi dan tepuk tangan meriah dari seluruh peserta yang hadir.

Pentas seni ini sengaja digelar bukan sekadar sebagai hiburan pelepas penat. Kegiatan ini dirancang sebagai wadah strategis untuk mengasah potensi diri, melatih mental tampil di depan publik, membangun rasa percaya diri santri, serta mempererat tali ukhuwah (persaudaraan) dan kekompakan antarkelompok.

Hingga akhir acara, antusiasme dan sorak-sorai peserta terus menggema, menandai kesuksesan malam kebersamaan yang penuh dengan nilai edukatif tersebut.

Pewarta : Maria Al Faradela

Editor    : Ponirin Mika

Dari Puisi Berantai hingga Beatbox Penuhi Panggung OSKAR 2026

www.nuruljadid.net – Malam itu, suasana di Bumi Perkemahan (Buper) Lapangan Tembak TNI AL Paiton, Probolinggo, benar-benar hidup. Dinginnya angin malam seketika sirna, digantikan oleh kehangatan dan gemuruh tawa dari ratusan pasang mata yang memadati area panggung kreasi OSKAR SLTP Putri 2026.

Begitu apel pembukaan selesai, panggung langsung diambil alih oleh kilau kreativitas santri putri kelas akhir tingkat SLTP Pesantren Nurul Jadid. Sejak menit pertama, penonton sudah dibuat terpukau. Ketika kelompok demi kelompok mulai maju, suasana penonton beruba-ubah menjadi sangat dinamis—terkadang hening karena takjub, lalu pecah oleh gelak tawa dan tepuk tangan riuh.

“Penampilan para santri benar-benar di luar ekspektasi. Kami tidak hanya melihat pertunjukan, tapi benar-benar merasakan hiburan yang berkualitas,” ujar salah satu penonton di barisan depan.

Berikut adalah beberapa momen yang berhasil menghibur dan memukau perhatian penonton malam itu: Komedi dan Keunikan Puisi Berantai: Penonton dibuat tertawa pingkal-pingkal saat penampilan puisi berantai dibawakan. Alur cerita yang kontras dan potongan kalimat yang saling bertubrukan secara tidak sengaja menciptakan humor segar yang mengocok perut. Harmoni Nasyeed Beatbox Acapella: Riuh tepuk tangan langsung menggema saat perpaduan suara acapella dan ketukan beatbox keluar dari mikrofon. Penonton tampak ikut mengangguk-anggukan kepala, menikmati irama modern yang dikemas secara islami. Ketangkasan Gema Kreasi & Semaphore: Decak kagum tak henti-hentinya terdengar saat bendera semaphore dikibarkan dengan kecepatan tinggi dan presisi yang kompak, dipadukan dengan yel-yel yang membakar semangat.

Suasana semakin semarak dan penuh apresiasi ketika para santri unjuk gigi dalam kemampuan linguistik. Dialog percakapan bahasa Arab dan bahasa Inggris yang dibawakan dengan fasih namun tetap jenaka sukses memanen tepuk tangan meriah. Penonton tidak hanya terhibur oleh kelucuan ekspresi para penampil, tetapi juga dibuat kagum dengan kepercayaan diri mereka saat berbicara di depan publik.

Hingga akhir acara, antusiasme tidak berkurang sedikit pun. Sorak-sorai dan yel-yel sahut-menyahut terus menggema, menandai suksesnya malam kebersamaan yang penuh edukasi sekaligus menghibur tersebut. Pentas seni ini berhasil membuktikan bahwa santri Nurul Jadid tidak hanya unggul di meja akademik, tetapi juga mampu menguasai panggung dan memikat hati siapa saja yang menontonnya.

Pewarta    : Maria Alfaradela

Editor       : Ponirin Mika

Buka Perkemahan OSKAR 2026, Wakil Kepala Pesantren III Nurul Jadid Tekankan Kedisiplinan dan Nilai Santri

www.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid resmi membuka kegiatan Perkemahan Orientasi Kelas Akhir (OSKAR) SLTP Putri 2026 di Bumi Perkemahan (Buper) Lapangan Tembak TNI AL Paiton, Probolinggo, pada Jumat (22/05/2026). Kegiatan ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian orientasi bagi santri putri kelas akhir tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama.

Sebelum menempati tenda masing-masing, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti apel pembukaan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat. Wakil Kepala Pesantren III Pondok Pesantren Nurul Jadid, Nyai Hj. Nur Diana Kholidah, hadir langsung sebagai pembina apel dalam upacara tersebut.

Dalam amanatnya, tokoh yang akrab disapa Ning Din ini menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya perkemahan tersebut. Meski sempat terkendala hujan sebelum acara dimulai, ia mengapresiasi semangat para santri yang tidak surut untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Alhamdulillah, kita masih bisa berkumpul dalam apel pembukaan perkemahan ini. Meskipun tadi ada kendala hujan, semoga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar hingga selesai, serta membawa keberkahan dan manfaat. Semoga ilmu dan pengalaman yang didapat selama kegiatan ini bisa diamalkan saat kembali ke rumah masing-masing,” ujar Ning Din.

Ning Din juga berpesan agar seluruh peserta mampu menghayati sekaligus mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Dasa Dharma Pramuka, Trilogi Santri, dan Panca Kesadaran Santri yang telah dibacakan dalam apel. Menurutnya, pemahaman nilai-nilai tersebut penting agar para santri lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kedisiplinan yang dilatih selama masa perkemahan harus membentuk karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pelengkap saat kegiatan berlangsung.

“Semoga kita tidak hanya disiplin di tempat dan waktu ini saja, tetapi juga seterusnya demi meraih kesuksesan di masa depan. Semoga nilai-nilai yang dipelajari mampu mengantarkan kita untuk mengabdi di mana saja, baik untuk agama, nusa, bangsa, maupun terutama kepada kedua orang tua,” imbuhnya.

Di akhir amanat, Ning Din secara resmi membuka Perkemahan OSKAR SLTP Putri 2026. Ia berharap agar kegiatan ini berjalan lancar serta mempererat rasa kasih sayang dan kebersamaan antara kakak Pramuka selaku panitia dan adik-adik peserta perkemahan.

Peresmian tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah dan gemuruh yel-yel Pramuka dari seluruh peserta, menandai dimulainya perkemahan secara resmi. Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan tidak hanya mendapatkan pengalaman berkemah yang menyenangkan, tetapi juga mampu membentuk jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta semangat pengabdian sebagai bekal berharga di masa depan.

Pewarta: Maria Al Faradela

Editor      : Ponirin Mika

Yuk Saksikan; OSKAR 2026 Gelar Enam Perlombaan Pramuka Sengit

www.nuruljadid.net– Memasuki hari pertama Orientasi Kelas Akhir (OSKAR 2026), ratusan santri siap berkompetisi dalam serangkaian perlombaan kepramukaan yang menantang. Mengusung konsep Perkemahan Santri, kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu (22–24 Mei 2026).

Pihak panitia telah merilis petunjuk teknis yang mencakup enam cabang lomba utama untuk menguji ketangkasan, kreativitas, dan kerja sama tim para peserta. Keenam lomba tersebut adalah Pionering, PBB Tongkat, Semaphore, Sandi Morse, Hasta Karya, dan Outbound.

Pada lomba Pionering, setiap regu yang diwakili oleh 4 personel ditantang untuk mendirikan bangunan kaki tiga dengan dua palang bawah dalam waktu 30 menit. Panitia menyediakan 7 tongkat dan 5 tali air untuk menguji ketepatan simpul serta kekuatan ikatan peserta. Bobot penilaian terbesar terletak pada kekuatan bangunan (40%), diikuti ketepatan simpul (30%) dan kreativitas (30%).

Sementara itu, ketegangan diprediksi akan terjadi pada lomba PBB Tongkat. Menggunakan sistem gugur perorangan, lomba ini melibatkan 10 orang dari setiap regu. Peserta harus mengikuti aba-aba langsung dari panitia secara presisi. Regu yang mampu mempertahankan jumlah anggota terbanyak di lapangan akan keluar sebagai pemenang.

“Aba-aba langsung dari panitia. Siapa yang salah gerakan, langsung gugur. Pemenang ditentukan dari sisa pasukan terbanyak,” tulis panitia dalam keterangan resminya.

Untuk adu kecerdasan dan kecepatan, panitia menggelar lomba Semaphore dan Sandi Morse. Pada lomba Semaphore, 3 utusan regu akan dibagi ke dalam dua pos terpisah untuk memperagakan dan menerjemahkan sandi. Sedangkan pada lomba Sandi Morse yang diikuti oleh 5 orang, peserta harus berburu “harta karun” berupa soal sandi di 4 wilayah berbeda secara berurutan tanpa membawa catatan apa pun.

Kreativitas santri juga diuji melalui lomba Hasta Karya berdurasi 50 menit. Lomba ini memisahkan fokus berdasarkan satuan, di mana santri putri diwajibkan membuat hiasan bunga, sedangkan santri putra ditantang membuat 3 pasang sandal ukir. Seluruh alat dan bahan dibawa mandiri oleh peserta dengan larangan keras saling meminjam antar-regu.

Sebagai penutup rangkaian kompetisi, para santri akan dihibur sekaligus ditantang dalam kegiatan Outbound bertema “Squid Game”. Permainan ini akan tersebar di 3 hingga 4 pos dengan aturan khusus yang disesuaikan untuk masing-masing satuan.

Melalui seluruh rangkaian lomba ini, OSKAR 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang perpisahan kelas akhir, tetapi juga momentum pembentukan karakter santri yang disiplin, kreatif, dan tangguh.

 

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Pewarta    : Ponirin Mika

Ratusan Santri Kelas Akhir Akan Unjuk Gigi dalam Perkemahan OSKAR 2026

www.nuruljadid.net – Rangkaian Orientasi Kelas Akhir (OSKAR 2026) resmi dibuka hari ini, Jumat (22/5/2026), melalui gelaran Perkemahan Santri yang kompetitif. Menjelang masa kelulusan, ratusan santri kelas akhir ditantang untuk membuktikan ketangguhan fisik dan mental mereka dalam enam cabang perlombaan kepramukaan yang berlangsung hingga Minggu (24/5/2026).

Berdasarkan petunjuk teknis resmi dari panitia, ajang ini didesain bukan sekadar rekreasi, melainkan ujian kerja sama tim melalui aturan ketat di setiap lini perlombaan. Salah satu daya tarik utama adalah kompetisi Hasta Karya berdurasi 50 menit, yang menuntut kreativitas tinggi dari 6 utusan regu. Dalam lomba ini, terdapat pembagian tugas berbasis gender yang unik, di mana santri putri ditantang merangkai hiasan bunga, sementara santri putra diwajibkan memproduksi 3 pasang sandal ukir secara mandiri tanpa boleh saling meminjam alat antar-regu.

Kemampuan bertahan hidup dan kerja sama taktis juga diuji melalui lomba Pionering dan PBB Tongkat. Pada ruang Pionering, 4 peserta per regu harus berpacu dengan waktu selama 30 menit untuk mendirikan bangunan kaki tiga menggunakan material terbatas dari panitia. Sementara pada PBB Tongkat, formasi 10 orang per regu akan diuji dengan sistem gugur instan—peserta yang melakukan kesalahan gerakan langsung dieliminasi, dan regu dengan sisa anggota terbanyak keluar sebagai pemenang.

“Sistem gugur individu ini diterapkan untuk melihat sejauh mana tingkat konsentrasi dan disiplin tinggi para santri di bawah tekanan,” salah satu yang tertulis dalam ToR kegiatan.

Aspek kecerdasan dan ketangkasan komunikasi lapangan juga tidak luput dari penilaian lewat lomba Semaphore dan Sandi Morse. Pada kompetisi morse, tim yang terdiri dari 5 orang harus melacak “harta karun” berupa pesan rahasia di 4 wilayah berbeda secara berurutan, sepenuhnya mengandalkan hafalan tanpa bantuan catatan.

Sebagai puncak keseruan, seluruh peserta akan dihadapkan pada tantangan Outbound adaptasi format “Squid Game”. Melalui 3 hingga 4 pos yang disediakan, permainan ini diharapkan menjadi ajang pelepasan penat sekaligus pengikat kebersamaan terakhir bagi para santri sebelum mereka resmi menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Mengospek Mental Pengurus, Ning Aniq Beri Tips Kemampuan Pecahkan Masalah

Mengospek Mental Pengurus, Ning Aniq Beri Tips Kemampuan Pecahkan Masalah

Wwww.nuruljadid.net– Biro Kepesantrenan (Biktren) Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menggelar rangkaian kegiatan Manajemen Pengasuhan Santri (MPS). Kali ini, para calon pengurus dan wali asuh dibekali materi Problem Solving (penyelesaian masalah) yang disampaikan secara daring oleh praktisi psikologi, Ning Raudlatul Aniq, S.Psi., CH., CHt.

Pelatihan ini bertujuan untuk membangun kesiapan mental, ketangguhan, serta kemampuan berpikir kritis para calon pengurus dalam menghadapi dinamika pengasuhan santri secara profesional dan humanis.

Dalam pemaparannya, Ning Raudlatul Aniq mengajak para peserta untuk mengubah cara pandang mereka dalam melihat sebuah konflik atau persoalan. Menurutnya, masalah bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan sebuah sarana untuk membentuk kapasitas diri.

“Masalah hadir bukan untuk mematikan potensi, justru melalui masalah potensi kita terbentuk. Jangan takut menghadapi masalah, tetapi pikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut,” ujar Ning Aniq.

Ia menambahkan bahwa dalam sudut pandang psikologis dan spiritual, masalah sering kali muncul ketika harapan atau ekspektasi tidak berjalan sesuai dengan kenyataan. Di titik itulah manusia diuji untuk mengambil pelajaran berharga.

Lebih lanjut, Ning Aniq memperingatkan bahwa masalah yang tidak dikelola dengan baik dapat menumpuk menjadi beban emosional yang mengganggu pikiran, perasaan, hingga produktivitas kerja pengurus.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia membagikan tiga prinsip dasar dalam mereduksi dan menyelesaikan masalah di lingkungan pesantren yaitu dengan mengenali akar permasalahan, berani menghadapi,mencari alternatif solusi: Membuka ruang diskusi untuk menemukan jalan keluar terbaik.

“Masalah akan terurai jika kita mencari akar masalahnya, berani menghadapinya, dan berusaha menemukan solusi. Sebaliknya, masalah akan terasa semakin berat apabila tujuan kita tidak jelas dan terus menunda menghadapinya,” tegasnya.

Biro Kepesantrenan Putri berharap para calon pengurus dan wali asuh tidak hanya cakap secara teknis kepengurusan, tetapi juga memiliki kematangan emosional dalam mendampingi dan membina seluruh santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Pewarta   : Maria Alfaradela

Editor        : Ponirin Mika