Biktren Putri Nurul Jadid Tingkatkan Kualitas Pelayanan Pengurus Lewat MPS

www.nuruljadid.net– Biro Kepesantrenan (Biktren) Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menggelar kegiatan Manajemen Pengasuhan Santri (MPS) pada Kamis (21/05/2026). Acara yangdipusatkan di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid ini wajib diikuti oleh seluruh calon pengurus danwali asuh baru. Agenda strategis ini dilaksanakan sebagai langkah konkret pesantren untuk memberikan pembekalan intensif, agar para pengelola siap menjalankan tugas pengasuhan santri secara profesional dan bertanggung jawab.

Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Putri, Ning Mamnuhatur Rohmah, dalam sambutannya menekankan bahwa MPS merupakan sarana krusial bagi para mahasiswi sebelum terjun langsung berinteraksi dalam dunia kepengurusan. Menurut perempuan yang akrab disapa Ning Mam tersebut, pemahaman mendalam terhadap karakter dan dinamika psikologis santri sangat menentukan keberhasilan pola pembinaan di lingkungan pesantren.

“Harapannya, melalui kegiatan ini mahasiswi yang nantinya menjadi pengurus dapat memahami karakter santri dan siap menghadapi berbagai sikap santri yang akan dibina,”tuturnya dihadapan peserta.

Guna mencapai target tersebut, Biktren Putri telah merancang serangkaian materi pokok yang dinilai
esensial bagi kompetensi seorang pengurus. Sepanjang pelaksanaan MPS, para peserta akan digembleng
dengan keahlian manajemen waktu, teknik penyelesaian masalah (problem solving), metode komunikasi
efektif, hingga keterampilan kepemimpinan (leadership). Pelatihan ini didesain secara variatif melalui kombinasi sesi pematerian luar jaringan (luring/offline) serta dalam jaringan (daring/online).

Lebih lanjut, Ning Mam mengingatkan agar momentum ini dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh peserta untuk menyerap ilmu, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif organisasi. Ia menambahkan bahwa program pelatihan kepemimpinan dan manajerial berkualitas seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit jika diikuti di lembaga profesional luar pesantren.

“Niatkan kegiatan ini untuk belajar, jangan hanya sekadar formalitas. Kesempatan seperti ini sangat berharga. Semakin bertambah usia seseorang, seharusnya semakin mampu menahan nafsunya demi mencapai tujuan yang sedang diusahakan,” pesan Ning Mam terkait urgensi pengendalian diri.

Biro Kepesantrenan Putri menegaskan komitmen berkelanjutannya untuk terus mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM) di lini pengasuhan. Output utama yang dibidik dari program ini adalah terciptanya pola asuh pesantren yang tidak hanya efektif dan terukur, melainkan juga humanis serta selaras dengan akar nilai-nilai luhur kepesantrenan
Nurul Jadid.

Pewarta : Maria Al Faradela

Editor    : Ponirin Mika

Pondok Pesantren Nurul Jadid Kukuhkan Pengurus dan Pegawai Tetap Baru; Ini Pesan Gus Madarik

www.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar prosesi Pengukuhan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pegawai/Pengurus Tetap Baru di Aula Mini pesantren pada Kamis (21/05/2026). Momentum ini menjadi langkah strategis pesantren dalam memperkuat komitmen pengabdian, integritas, dan tanggung jawab jajaran strukturalnya.

Acara sakral tersebut diawali dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) Kepala Pesantren Nomor 61 Tahun 2026 tentang Pengangkatan Pengurus atau Pegawai Tetap. Surat keputusan yang ditetapkan pada 2 Mei 2026 tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala Pesantren Nurul Jadid, Dr. KH. Abdul Hamid Wahid.

Prosesi pengambilan sumpah jabatan dipimpin oleh Plt Sekretaris Pesantren, Gus. Ahmad Zaki. Di hadapan saksi dan para hadirin, para pengurus baru mengikrarkan kesiapan untuk menjalankan tugas sesuai regulasi yang berlaku di lingkungan pesantren.

Kepala Biro Kepesantrenan, Gus Ahmad Mudarik, dalam pengarahannya menegaskan bahwa kesempatan berkhidmah di dunia pesantren merupakan sebuah kehormatan yang bernilai tinggi.

“Berkhidmah itu sesuatu yang mahal dan tidak semua orang mempunyai kesempatan tersebut. Berkhidmah berarti melayani dan mengabdi kepada pesantren, agama, pendiri, serta para pengasuh,” ujarnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga soliditas dan bergerak sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) masing-masing tanpa melampaui kewenangan. Menurutnya, performa kolektif pesantren sangat bergantung pada kinerja tiap individu di dalamnya.

Untuk memotivasi para pengurus, Gus Mudarik mengutip dawuh ulama terkemuka, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki:

مَنْ خَدَمَ خُدِمَ

Artinya: “Barangsiapa yang berkhidmah (melayani), maka ia akan dilayani.” Beliau mengajak seluruh pegawai baru untuk melanjutkan estafet perjuangan para pendiri hingga pengasuh generasi keempat dengan merealisasikan cita-cita besar pesantren secara sungguh-sungguh.

Sebagai bentuk komitmen moral dan kelembagaan, acara diakhiri dengan penandatanganan Pakta Integritas oleh para pejabat yang baru dilantik. Langkah ini diharapkan menjadi pengikat tanggung jawab dalam mengamalkan ilmu demi kemajuan pesantren.

Adapun para pengurus dan pegawai tetap baru yang dikukuhkan berasal dari beberapa divisi strategis, antara lain:

  • Biro Kepesantrenan:

    • Achmad Naufal Baidawi, S.Ag., M.Pd.

    • Masharudin, S.Kom., M.Pd.

    • Muhammad Sahlan, S.Sos., M.Pd.

  • Biro PULH:

    • Fadli Zulcahayadi

  • Biro Pengembangan:

    • Alfun Tawandi

  • Sektor Pendidikan (SMA & MA Nurul Jadid):

    • Muhammad Kholilul Hasan

    • Hasanul Fais, SH., M.Hum.

    • Athoillah Dilan Salsabika

Pondok Pesantren Nurul Jadid optimistis formasi baru ini mampu membawa pembaruan yang positif dengan modal loyalitas dan integritas tinggi.

Pewarta      : DPW

Editor         : Ponirin Mika

Pesan Gus Abdurrahman Wafie di Kegiatan OSKAR; Jaga Identitas Santri Hingga Baca Syair

www.nuruljadid.net- Salah satu rangkaian kegiatan OSKAR (Orientasi Kelas Akhir) tingkat SLTP Santri Putri menggelar refleksi bertema “Refleksi Jati Diri Santri” bertempat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Rabu, (20/05/2026). Kegiatan ini dikuti oleh peserta dan sangat membuat suasana menarik karena penyampaian materi yang komunikatif dan diselingi candaan ringan dari pemateri.

Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri, Gus Abdurrahman Wafie untuk memberikan motivasi kepada para santri. Dalam penyampaiannya, beliau berharap agar santri kelas akhir ini nantinya apabila pulang ke masyarakat tetap menjaga identitas dan nilai-nilai kepesantrenan.

Selain itu beliau menegaskan bahwa ilmu tidak akan didapatkan dengan begitu saja. Tapi ada syarat-syarat yang perlu diperhatiakan. Dengan hal itu beliau mengutip sebuah nadzam populer tentang syarat mencari ilmu:

اَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِســــِتَّةٍ
سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ
وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Yang berarti: “Ingatlah, kalian tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Akan aku jelaskan semuanya secara rinci, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya, petunjuk guru, dan waktu yang panjang.”

Melalui nadzam tersebut, Gus Abdur sapaan akrab beliau menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak dapat diraih secara instan, melainkan membutuhkan proses, kesungguhan, serta bimbingan guru.

Selain itu, beliau juga mengutip perkataan dari Umar bin Khattab: “Maa nadamtu ‘alaa sukutii marratan, lakininnii nadamtu ‘alaa al-kalaami miraaran.(Aku tidak pernah menyesali diamku sekali pun, tetapi aku berkali-kali menyesali perkataanku).

Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat bagi para santri agar senantiasa menjaga lisan, terutama di era media sosial yang serba cepat dan terbuka.

Beliau juga menekankan pentingnya menjadikan ilmu yang diperoleh di pesantren sebagai filter utama dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat. Menurutnya, seorang santri harus mampu menjaga nilai, adab, dan prinsip yang telah ditanamkan selama mondok.

Tidak hanya itu, beliau juga mengingatkan para santri untuk mulai bijak dalam mengatur waktu, khususnya dalam penggunaan media sosial.“Jangan lupa atur screen time, belajarlah menghargai waktu, terlebih dalam berselancar di media sosial,” pesannya.

Menjelang akhir kegiatan, Gus Abdur Wafie membacakan doa yang beliau peroleh langsung dari ayahandanya, KH. Hasan Abdul Wafie:

بدَأْتُ بِبِسْمِ الله رُوْحِي بِه اهْتَدتْ
اِلَى كَشْفِ اَسْرَارِ بِبَاطِنِهِ انْطَوَتْ

Beliau kemudian melanjutkannya dengan petuah berbahasa Madura:

Becah sabben mareh sholat sabelles kale,
ben bhileh muthola’ah, bhecah telloo kale.”

Petuah tersebut kemudian dicontohkan langsung dengan lantunan bernada syair sehingga menambah kekhidmatan suasana dan membuat para santri semakin antusias mengikuti kegiatan hingga akhir.

Kegiatan OSKAR ditutup dengan pembacaan qosidah tawassul karya KH. Zaini Mun’im yang berlangsung penuh kekhusyukan dan kebersamaan. Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri akhir mampu memahami kembali jati diri mereka sebagai santri serta siap mengamalkan nilai-nilai pesantren di kehidupan bermasyarakat.

Pewarta : Maria Al Faradela
Editor     : Ponirin Mika

Gus Ama Ungkap Penghafal Al-Qur’an Bisa Jadi Ahli Kimia hingga Antropolog

www.nuruljadaid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menerima kunjungan silaturahmi dan studi tabarrukan dari rombongan Bina Tahfidz MTs Negeri 2 Bondowoso pada Selasa (19/05/2026). Kehadiran rombongan yang terdiri dari 29 peserta didik kelas akhir serta 5 guru pendamping ini disambut langsung oleh Wakil Kepala I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus. Imdad Rabbani, M.Th.I.

Dalam sambutannya, Kepala MTsN 2 Bondowoso, Ibu Siti Muthmainnah, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan hangat dari pihak pesantren. Beliau menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk tabarrukan sekaligus memohon wejangan dan tausiyah langsung dari pengasuh, guna menjaga semangat para siswa penghafal Al-Qur’an yang saat ini rata-rata telah mencapai hafalan hingga 14 Juz.

“Kami hadir membawa anak-anak kelas akhir dari program Bina Tahfidz untuk menimba berkah dan memohon bimbingan serta tausiyah dari Gus. Imdad Rabbani. Harapan kami, motivasi yang diberikan dapat menjadi bekal berharga bagi anak-anak yang rata-rata sudah menuntaskan 14 Juz ini agar konsisten menjaga hafalannya di jenjang pendidikan berikutnya,” ujar Ibu Siti Muthmainnah.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Kepala I PP Nurul Jadid, Gus. Imdad Rabbani, M.Th.I, memberikan apresiasi yang tinggi atas capaian hafalan para siswa. Dalam untaian tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa para penghafal Al-Qur’an tidak harus selalu bermuara menjadi seorang kiai atau tokoh agama formal. Mereka memiliki peluang besar untuk berkarier di berbagai bidang keilmuan modern, asalkan tetap menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar berpijak.

“Seorang penghafal Al-Qur’an tidak harus menjadi kiai. Ia dapat menjadi ahli kimia, ahli biologi, ahli antropologi, maupun profesi lainnya, dengan tetap menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup,” tegas KH. Imdad di hadapan para siswa dan guru pendamping yang hadir bersama Kepala Sekolah, Waka Kesiswaan, dan jajaran guru pendamping MTsN 2 Bondowoso.

Beliau menambahkan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat isyarat dan petunjuk bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan, baik ilmu sosial maupun ilmu eksakta. Oleh karena itu, ke mana pun siswa melanjutkan pendidikan, nilai-nilai Al-Qur’an harus tetap dibawa.

Lebih lanjut, Gus. Imdad mengingatkan para santri dan siswa agar tidak cepat merasa puas dengan capaian hafalan yang ada saat ini. Menyelesaikan hafalan lafaz Al-Qur’an bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal untuk melangkah ke tahapan yang lebih krusialis, yaitu memahami arti, mentadabburi makna, hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Al-Qur’an adalah petunjuk hidup, namun petunjuk tersebut baru akan benar-benar berfungsi apabila dipahami. Ketika seseorang mampu merenungi maknanya, ia akan merasakan sendiri keindahan yang terkandung di dalamnya,” jelas beliau.

Selain berpesan tentang Al-Qur’an, Gus. Imdad Rabbani juga mengajak seluruh hadirin untuk mengasah kepedulian sosial dan memperkuat tali silaturahmi. Menurutnya, kesalehan individu harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial.

 

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

MTsN 2 Bondowoso Gelar Outing Class ke Ponpes Nurul Jadid

www.nuruljadid.net – Sebanyak 29 siswa kelas akhir Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Bondowoso melaksanakan kegiatan outing class ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Selasa (19/05/2026). Didampingi oleh lima orang guru termasuk Kepala Madrasah, kunjungan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memohon arahan dan doa dari para masyayikh.

Acara yang berlangsung tertib di Aula Mini Pesantren ini diawali dengan sambutan Kepala MTsN 2 Bondowoso. Dalam penyampaiannya, beliau memotivasi para siswa agar mampu menyerap pelajaran dan pengalaman berharga selama kegiatan berlangsung.

Hadir memberikan taujihat (arahan), Wakil Kepala I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Imdad Rabbani, M.Th.I. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai amalan yang membawa berkah. Beliau juga mengajak para siswa untuk menjadi pribadi yang peduli pada kemaslahatan umat dan tidak bersikap egois, terutama di era digital saat ini.

Secara khusus, Kiai Imdad memberikan apresiasi dan motivasi kepada para siswa yang sedang menghafalkan Al-Qur’an.

“Berapapun jumlah hafalan yang diperoleh, merupakan anugerah luar biasa dari Allah SWT. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti menghafal, serta syukurilah nikmat tersebut dengan menjaga, melanjutkan, dan menyempurnakan hafalan,” tutur beliau.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa seorang penghafal Al-Qur’an tidak harus selalu menjadi kiai. Seorang hafiz bisa menekuni profesi apa saja sesuai bidang keahliannya, dengan catatan tetap mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari melalui proses tadabur dan pengamalan.

Gus Imdad mengajak seluruh peserta untuk terus berdoa meminta kemudahan dalam menuntut ilmu, karena pada hakikatnya semua ilmu akan mengantarkan manusia pada petunjuk Allah SWT. Kegiatan outing class ini ditutup dengan doa bersama dan sesi dokumentasi.

Pewarta   : Naylah Zakiyatur Rohmah

Editor       : Ponirin Mika

Di PKD, Santri Al-Mawaddah Temukan Makna Menjadi Santri Sejati

berita.nuruljadid.net – Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan oleh Wilayah Al-Mawaddah Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Kamis (14/05/26), menghadirkan dua pemateri: Kiai Muhammad Al-Fayyadl, M.Phil., yang membawakan materi ruhul khidmah, dan Ning Mabruroh Zain, L.c., yang memaparkan Trilogi dan Panca Kesadaran Santri.

Pada sesi pertama, Kiai Al-Fayyadl, yang akrab disapa Lora Fayyadl, membawa peserta pada pertanyaan mendasar tentang arti pengabdian, yakni dusul khidmah. Bagi beliau. Berkhidmah bukan sekadar aktivitas, melainkan penyerahan diri secara sadar.

Khidmah adalah saat di mana seseorang mengeluarkan sebagian tenaganya, waktunya, dan kemampuannya untuk orang lain,” ujar Lora Fayyadl.

Pengabdian, lanjut beliau, juga tak bisa dilepaskan dari proses belajar. Santri sejati bukan hanya yang tekun di kelas, melainkan yang mampu memadukan keduanya (belajar dan mengabdi).

“Dikatakan seorang santri sejati apabila seseorang itu belajar dan mengabdi,” tegasnya.

Sementara itu, Ning Mabruroh melanjutkan di sesi kedua dengan memaparkan Panca Kesadaran Santri, salah satunya kesadaran berilmu. Di hadapan peserta, beliau menegaskan bahwa menuntut ilmu bukan pilihan, melainkan kewajiban yang berlaku seumur hidup, dimulai dari ilmu agama sebagai fondasinya.

“Seorang pencari ilmu harus tahu ilmu dasarnnya, yaitu ilmu agama. Kita juga perlu memahami bahwa mencari, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu adalah sesuatu yang wajib dilakukan sepanjang hayat,” kata Ning Mabruroh.

Di sinilah dapat ditarik benang merah antara dua materi itu. Ruhul Khidmah Lora Fayyadl dan kesadaran berilmu Ning Mabruroh bertemu pada satu muara: keduanya menuntunt dampak. Ilmu yang tidak diamalkan adalah ilmu yang berhenti di tengah jalan; pengabdian yang tidak dilandasi ilmu adalah wujud dari ketidak-tulusan.

“Pada intinya, hidup tidak pernah berhenti untuk belajar,” kata Ning Mabruroh, menutup sesinya.

Pewarta: Nilna Zahrah Afifah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Beri Pembekalan Kelas Akhir LIPS SMPNJ: Gus Fayyadl Ingatkan Sinkronisasi Hati Guru, Murid, dan Orang Tua

www.nuruljadid.net – Rangkaian acara Tasyakuran dan Pengukuhan Kelas Akhir Language Intensive Program of SMP Nurul Jadid (LIPS) ditutup dengan sesi pembekalan rohani oleh Gus Muhammad Al-Fayyadl pada Ahad (17/05/2026).

Bertempat di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pembekalan ini ditujukan sebagai bekal sekaligus pengingat bagi para siswi kelas akhir yang akan menyelesaikan masa studinya bahwa masih banyak pencapaian besar yang menanti di masa depan.

Dalam tausiyahnya, Gus Fayyadl menegaskan bahwa ilmu adalah karunia paling agung yang diturunkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, keputusan para siswi LIPS untuk mendalami ilmu bahasa merupakan sebuah nikmat besar yang harus disyukuri dan terus dikembangkan.

“Semua yang ada di dunia ini ada ilmunya, oleh sebab itu kita harus belajar sampai sukses dunia dan akhirat. Kunci kesuksesan itu cuma satu, yaitu bersyukur. Tanda syukur adalah ketika kita diberi kemudahan untuk mempelajari ilmu tersebut,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Fayyadl memaparkan bahwa proses belajar-mengajar bukan sekadar transfer informasi akademik, melainkan juga transfer doa dan ikatan batin. Menurut beliau, harus ada keselarasan hati antara guru, murid, dan orang tua demi mencapai hasil yang berkah.

Beliau juga mengingatkan bahwa keberhasilan para siswi saat ini merupakan buah dari perjuangan yang tidak mudah.

“Di balik toga itu, tersimpan jerih payah, suka dan duka, kisah tangis dan tawa, serta ada luka-luka besar untuk menggapai yang lebih baik ke depannya. Satu hal ketika melihat perjalanan mempelajari ilmu adalah apa yang telah Allah mudahkan, sebagaimana dalam hadis bahwa Allah telah memudahkan takdir yang telah disiapkan,” paparnya.

Di akhir pembekalan, Gus Fayyadl memotivasi siswi kelas akhir LIPS untuk memasang target pendidikan yang tinggi, bahkan hingga jenjang Doktoral (S3), dengan tetap menjaga keseimbangan ibadah kepada Allah SWT.

Beliau juga menitipkan pesan khusus kepada para wali murid yang hadir agar senantiasa mendukung cita-cita dan keinginan putri mereka, selama hal tersebut tidak keluar dari batasan syariat Islam.

“Kalau mau sukses, minta restu orang tua dulu,” pungkas beliau menekankan pentingnya rida orang tua sebagai jalan utama menuju keberhasilan.

Pewarta      : Janeeta Firyal Achlia

Editor         : Ponirin Mika

LIPS SMP Nurul Jadid Kukuhkan 80 Siswa Kelas Akhir

www.nuruljadid.netLanguage Intensive Program of SMP Nurul Jadid (LIPS) sukses menggelar acara tasyakuran dan pengukuhan untuk kelas akhir pada Ahad (17/05/2026). Bertempat di Auditorium II Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, agenda ini menjadi bentuk apresiasi resmi bagi para peserta didik yang telah menyelesaikan masa pembelajaran selama tiga tahun.

Koordinator LIPS, Bapak Abdur Rosyid, S.Kom., memaparkan bahwa acara tahun ini diikuti oleh 80 peserta didik kelas akhir, yang terdiri dari 31 siswa dan 49 siswi. Demi menjaga kemaslahatan, prosesi pengukuhan bagi siswa dan siswi diselenggarakan secara terpisah.

“Tujuan utama acara ini adalah memberikan apresiasi kepada kelas akhir, menobatkan bintang pelajar, menumbuhkan semangat bagi anggota LIPS lainnya, serta menjadi sarana sosialisasi keunggulan program bagi calon peserta didik baru,” ujarnya.

Ada hal menarik dalam pelaksanaannya tahun ini. Kepala Sekolah SMP Nurul Jadid, Bapak Muhammad Jufri, M.Pd., menjelaskan alasan di balik pemilihan nama “Tasyakuran & Pengukuhan Kelas Akhir” dan bukan menggunakan istilah “Wisuda”.

“Sepaham saya, wisuda itu untuk jenjang perguruan tinggi. Selain itu, kami khawatir istilah tersebut disalahartikan menjadi ‘wis udah’ (bahasa Jawa: sudah selesai), yang bermakna akhir dari proses belajar peserta didik. Maka dari itu, nama acara diganti,” terang Muhammad Jufri.

Ketua Panitia Acara, Ustadzah Vina Ashfiya Kholidah, menyatakan rasa syukurnya karena seluruh rangkaian acara yang dipersiapkan selama kurang lebih satu bulan tersebut dapat berjalan lancar, tepat waktu, dan tanpa hambatan yang berarti.

Di akhir acara, Vina turut menitipkan pesan mendalam bagi para lulusan yang akan melanjutkan langkah ke jenjang berikutnya. “Teruslah kembangkan ilmu yang telah didapat dan semoga mendapat kemudahan dalam menggapai setiap cita-cita,” pungggasnya kepada seluruh siswi kelas akhir LIPS.

Pewarta     : Reva Evelina Nabila

Editor        : Ponirin Mika

Melalui Gamifikasi Pohon Harapan dan Solusi, Santri Nurul Jadid Diajak Berpikir Solutif

www.nuruljadid.net- Dalam rangkaian kegiatan Orientasi Kelas Akhir, Pondok Pesantren Nurul Jadid menyelenggarakan seminar motivasi santri tentang jati diri santri Nurul Jadid yang bertempat di Aula I PP. Nurul Jadid, Ahad (17/05/2026). Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusiasme dari para santri yang menyimak pemaparan materi dari Ny. Hj. Nur Diana Kholidah.

Dalam penyampaiannya, Ning Din panggilan akrabnya menjelaskan pentingnya menjaga jiwa dan karakter seorang santri yang berpegang teguh pada prinsip perjuangan pendiri PP. Nurul Jadid. Beliau menyampaikan dawuh Kiai Zaini Mun’im bahwa seorang santri akan dianggap bermaksiat apabila tidak mampu melebur dan hadir di tengah masyarakat.

“Sebagai santri, kita harus mengedepankan kepentingan orang banyak dan senantiasa meletakkan perjuangan di atas kepentingan pribadi. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui mengajar dan mengabdi,” tutur beliau.

Tak hanya itu, beliau juga mengajak para santri untuk memahami diri sendiri melalui metode “pohon masalah” dan “pohon harapan”. Pohon masalah digunakan untuk mengidentifikasi akar persoalan yang terjadi, sedangkan pohon harapan menjadi gambaran solusi dari masalah tersebut beserta dampak positif yang akan muncul di masa mendatang.

Suasana seminar semakin hidup ketika para santri diminta mempraktikkan langsung konsep tersebut melalui tugas membuat pohon dengan metode gamifikasi. Setiap kelompok ditantang untuk menyusun pohon masalah dan pohon harapan secara kreatif dan interaktif agar lebih mudah dipahami serta menarik untuk dipresentasikan. Metode ini membuat para santri lebih aktif berdiskusi, bekerja sama, dan menuangkan ide-ide mereka secara inovatif.

Para peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menggambar pohon, menuliskan akar masalah yang terjadi di lingkungan sekitar, serta menawarkan solusi melalui pohon harapan. Dengan penuh semangat, mereka menuangkan ide dan kreativitas melalui media kertas dan alat tulis yang telah disediakan panitia.

Beragam isu diangkat dalam presentasi masing-masing kelompok, mulai dari upaya pencegahan perundungan, fenomena LGBT, hingga solusi dalam mencegah banjir. Kegiatan presentasi tersebut berlangsung interaktif dan mendapat apresiasi dari para peserta lainnya.

Sebagai penutup, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah meminta setiap kelompok memaparkan hasil diskusi mereka agar dapat saling belajar dan memahami sudut pandang satu sama lain. Seminar ini diharapkan mampu membentuk santri yang tidak hanya memahami jati dirinya, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan berpikir solutif, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Pewarta : Naylah Zakiyatur Rohmah
Editor     : Maria Al Faradela

Ning Din Ingatkan Pentingnya Panca Kesadaran bagi Santri di Era Modern

www.nuruljadid.net- Kegiatan Orientasi Kelas Akhir (OSKAR) tingkat SLTP Santri Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid berlangsung khidmat dan penuh inspirasi melalui sesi motivasi diri yang digelar di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Ahad (17/05/26). Kegiatan ini menghadirkan Wakil Kepala Pesantren III Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah,S.Q, M.Pd. sebagai pemateri utama dan dimoderatori oleh Maria Al Faradela.

Mengusung tema “Nilai Diri Santri Nurul Jadid: Membentuk Kader Ulama dan Nasionalis,” kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan karakter bagi para santri kelas akhir dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Dalam sesi pemaparannya, Ning Din sapaan akrab beliau menegaskan bahwa pembentukan karakter santri harus berlandaskan pada Panca Kesadaran Santri. Menurut beliau, nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi santri yang unggul dan berintegritas.

“Pembentukan karakter santri dilakukan melalui Panca Kesadaran Santri, yaitu kesadaran beragama, berilmu, berorganisasi, bermasyarakat, serta berbangsa dan bernegara,” ungkap beliau di hadapan para peserta OSKAR.
Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa Trilogi Santri tidak hanya menjadi pedoman hidup, tetapi juga mampu membentuk identitas Islam yang kuat, integritas moral, serta kontribusi sosial di tengah masyarakat.

Dalam suasana yang penuh semangat, beliau turut memaparkan tiga karakter utama yang harus dimiliki seorang pembaharu. Pertama, memiliki kepekaan dan rasa empati terhadap lingkungan sekitar. Kedua, mampu membangun jejaring dan kolaborasi. Ketiga, memiliki kemampuan management leadership sebagai bekal menghadapi dinamika zaman.

“Di zaman yang serba modern ini, Panca Kesadaran Santri bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga harus menjadi tradisi religius sekaligus tradisi modernitas,” tutur beliau.

Menutup sesi motivasi diri tersebut, Ning Din berpesan kepada seluruh santri agar senantiasa memegang teguh pedoman pesantren:“Al-Muhafadzah ‘Ala Al-Qadim Al-Shalih wa Al-Akhdzu bi Al-Jadid Al-Ashlah,”yang berarti menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Melalui kegiatan ini, OSKAR SLTP Santri Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid diharapkan mampu menjadi wadah pembentukan karakter, penguatan nilai kepesantrenan, serta motivasi bagi para santri untuk terus berkembang menjadi kader ulama dan nasionalis yang siap berkontribusi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Pewarta : Ainun Nabilah
Editor     : Maria Al Faradela

Santri BPK Putri Uji Kemampuan Baca Kitab Kuning di Wisuda Keempat

www.nuruljadid.net – Badan Pembinaan Khusus (BPK) Putri Madrasah Tsanawiyah Nurul Jadid (MTsNJ) kembali menggelar agenda tahunan wisuda siswi sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas perjuangan akademis selama tiga tahun di pesantren. Prosesi sakral ini berlangsung khidmat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) dengan dihadiri langsung oleh seluruh wali santri wisudawati, Ahad (17/05/2026).

Untuk dapat mengikuti wisuda BPK ini, para siswi diwajibkan memenuhi kualifikasi ketat, yakni dinyatakan lulus program kelas 3 melalui skema ujian yang telah ditempuh sejak duduk di bangku kelas 2.

Ketua Panitia Acara, Ustazah Khoirun Nisa’, mengungkapkan bahwa pelaksanaan tahun ini menandai tahun keempat berjalannya program wisuda BPK sejak dirintis pertama kali pada tahun 2023. Ia menegaskan adanya evaluasi dan perkembangan positif di setiap tahunnya.

“Wisuda pertama kali dilaksanakan pada tahun 2023, dan tahun ini sudah memasuki tahun keempat. Di setiap tahunnya pasti ada perkembangan,” ujar Ustazah Khoirun Nisa’.

Berbeda dengan pelaksanaan tahun pertama dan kedua yang digelar tanpa kehadiran wali santri, prosesi tahun ketiga dan keempat ini sengaja melibatkan orang tua secara langsung. Selain itu, berdasarkan evaluasi akomodasi tahun lalu, panitia melakukan inovasi dengan menggeser waktu pelaksanaan acara ke siang hari guna memudahkan koordinasi penginapan bagi wali santri yang berasal dari luar daerah.

Inti dari prosesi wisuda ini ditandai dengan uji kompetensi terbuka melalui sesi “Demokrasi Kitab”. Dalam sesi ini, siswi yang dipilih secara acak oleh panitia harus mempertahankan serta mendemonstrasikan pemahaman kitab kuning mereka di hadapan para penguji ahli, di antaranya Ustaz Mahmudi, Ustazah Mala Hayati, perwakilan alumni BPK, serta perwakilan dari wali santri itu sendiri.

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi tinggi, manajemen BPK Putri juga memberikan penganugerahan kepada tiga siswi terbaik yang berhasil memenuhi berbagai kriteria penilaian unggul. Penghargaan tersebut meliputi tiga kategori utama: Munaqhosah Terbaik: Diberikan kepada siswi dengan nilai ujian kompetensi kitab tertinggi. Santri Teladan: Diberikan berdasarkan konsistensi kedisiplinan dan keluhuran akhlak sehari-hari. Santri Terbaik: Kategori akumulatif yang menilai pencapaian akademis dan kepesantrenan secara menyeluruh.

Ketiganya berhak menerima piala, piagam penghargaan, serta prosesi simbolis pemasangan mahkota yang dilakukan bersama kedua orang tua mereka di atas panggung utama.

Pada moment ini pengurus BPK Putri berharap agar ilmu dan nilai-nilai kepesantrenan yang telah diserap selama tiga tahun masa pembelajaran dapat terus dijaga dan diimplementasikan di masyarakat luas.

“Semoga semua wisudawati bisa menjaga apa yang mereka dapat dari pesantren ini, tak lupa pula semoga mereka bisa mengamalkan ilmunya selama tiga tahun belajar di BPK,” pungkas perwakilan pengurus saat menutup acara.

Pewarta: Kharisma NM & Feby AN

Editor   : Ponirin Mika

Kelas Akhir Tingkat SLTP Putri Antusias Ikuti Kegiatan Pramuka OSKAR

www.nuruljadid.net– Santri putri kelas akhir tingkat SLTP Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) mengikuti mengikuti rangkaian Kegiatan Pramuka di Jati Raya (Jatray) pada Sabtu (16/05/2026). Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program Orientasi Kelas Akhir (OSKAR).

Dalam kegiatan tersebut, para siswi menerima materi sandi semaphore sekaligus praktiknya. Untuk menghidupkan suasana, setiap kelompok juga ditantang untuk membuat dan menampilkan yel-yel kreatif. Jalannya kegiatan ini dibimbing langsung oleh delapan kakak pembina dan dipantau oleh Umar Fasal selaku Pembina Pramuka SLTP demi memastikan acara berjalan lancar dan kondusif.

Kegiatan Pramuka OSKAR ini rencananya akan digelar setiap hari dengan variasi materi yang berbeda. Seluruh peserta dibagi ke dalam 11 kelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri dari 20 hingga 25 siswi. Selain praktik di lapangan, para siswi juga dibekali buku kegiatan OSKAR yang wajib diselesaikan hingga akhir program.

Meski sempat diwarnai sedikit kendala dalam menertibkan beberapa peserta, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para pembina untuk menyampaikan materi secara detail. Antusiasme tinggi justru ditunjukkan oleh mayoritas siswi melalui sesi tanya jawab yang aktif, membuat suasana pelatihan menjadi lebih hidup dan interaktif.

Harapan besar pun muncul dari terselenggaranya kegiatan ini. Serly, salah satu kakak pembina pramuka, mengaku optimis dengan potensi yang dimiliki oleh para santriwati.

“Saya harap pramuka di PPNJ bisa berkembang lebih pesat. Melihat dari para siswi yang sangat antusias tadi, tidak menutup kemungkinan Pramuka PPNJ bisa berkembang hingga ke kancah mancanegara,” ujarnya optimistis.

Pewarta       : Jasmine Nayla Al Fawwazah dan Ainun Nabilah

Editor          :  Ponirin Mika

 

Santri Al-Mawaddah Dilatih Pecahkan Masalah Lewat PKD Pengurus Wilayah

berita.nuruljadid.net – Wilayah Al-Mawaddah Pondok Pesantren Nurul Jadid menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Pengurus Wilayah pada Jumat, 15 Mei 2026, di Aula Al-Mawaddah. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan mahasiswi wilayah sebagai sarana pembentukan karakter sekaligus wujud berkhidmah kepada pesantren.

Konsultan II Wilayah Al-Mawaddah, Ning Raudlatul Aniq, S.Psi., menjadi pemateri dalam sesi tersebut. Beliau membawakan materi problem solving sebagai panduan bagi para santri dalam menghadapi persoalan secara sistematis dan menemukan solusi yang tepat sasaran.

“Suatu hal tidak akan menjadi masalah, bila kita tidak beranggapan itu masalah,” ujar Ning Aniq di hadapan peserta.

Dalam paparannya, Ning Aniq menjelaskan bahwa problem solving memiliki tahapan yang terstruktur agar penyelesaian masalah dapat dilakukan secara efektif. Keempat tahapan yang disampaikan meliputi: identifikasi masalah, analisis masalah, brainstorming solusi, serta evaluasi dan pemilihan solusi.

Sebagai latihan praktis, peserta diminta membentuk kelompok dua hingga tiga orang. Satu peserta berperan sebagai pencerita yang memaparkan permasalahannya, sementara yang lain berperan sebagai pendengar aktif sekaligus membantu mencari solusi menggunakan kerangka yang telah diajarkan. Sesi ini dirancang sebagai simulasi sebelum para santri menghadapi tantangan nyata di lingkup yang lebih luas.

“Yang berat bukan menjalaninya, tapi memikirkan hal-hal yang belum dijalani,” pungkas Ning Aniq.

Melalui PKD ini, pengurus dan mahasiswi Al-Mawaddah diharapkan mampu mengubah cara pandang terhadap masalah, yaitu bukan sebagai penghambat potensi, melainkan sebagai sarana untuk bertumbuh dan berkembang dalam peran mereka di pesantren.

 

Pewarta: Rusmia Rahmatul Maulidah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Santri Nurul Jadid Diasah Menjadi Wartawan Profesional Lewat Jalur Pewarta Pesantren

www.nuruljadid.net– Santri yang selama ini dikenal fokus mendalami ilmu agama, ternyata memiliki minat yang besar dalam dunia jurnalistik. Di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, para santri diberikan kesempatan emas untuk belajar menjadi wartawan profesional melalui wadah khusus.

Pihak pesantren secara aktif memfasilitasi minat tersebut agar para santri tidak hanya menguasai khazanah keislaman, tetapi juga terampil dalam dunia kemandirian publikasi dan media. Langkah ini diambil untuk merespons perkembangan teknologi informasi yang semakin masif.

Kepala Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ustadz Ponirin Mika, menyatakan bahwa lembaga pesantren memberikan ruang seluas-luasnya bagi santri yang berminat menjadi pewarta. Komitmen ini diwujudkan melalui program-program pelatihan jurnalistik yang terstruktur.

“Pesantren Nurul Jadid memfasilitasi kepada santrinya untuk mengasah keterampilan yang berkait dengan kejurnalistikan dengan adanya pewarta yang diberi mandat untuk memberikan kegiatan-kegiatan pesantren,” kata Ustadz Ponirin Mika saat mengisi studium general di acara pengukuhan pewarta putri pesantren Nurul Jadid.

ustadz Ponirin menjelaskan bahwa para santri yang tergabung dalam tim pewarta ini mendapatkan mandat resmi untuk meliput dan mempublikasikan berbagai agenda pesantren. Mereka diajarkan cara mencari berita, melakukan wawancara, hingga menulis rilis berita dengan standar media massa.

Melalui penugasan langsung tersebut, santri dapat merasakan atmosfer kerja wartawan yang sesungguhnya. Mereka dilatih untuk peka terhadap peristiwa di lingkungan sekitar dan menyajikannya dalam bentuk informasi yang edukatif serta akurat.

Antusiasme santri untuk mengikuti program kejurnalistikan ini tergolong cukup tinggi. Banyak dari mereka yang menyadari bahwa keterampilan menulis dan mengolah informasi menjadi modal penting setelah lulus dari pesantren nanti.

Selain menulis berita teks, para santri juga dibekali dengan kemampuan pendukung seperti fotografi jurnalistik dan pengelolaan media digital. Hal ini dilakukan agar kemampuan mereka relevan dengan kebutuhan industri media modern saat ini.

Ia juga berharap, lewat wadah pewarta pesantren ini, akan lahir jurnalis-jurnalis Muslim yang berintegritas, beretika santri, dan mampu mewarnai media massa dengan narasi-narasi yang menyejukkan.

Program ini sekaligus membuktikan bahwa kehidupan di dalam pesantren sangat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Santri Nurul Jadid kini tidak hanya siap menjadi pemuka agama, tetapi juga siap berkiprah sebagai pewarta profesional.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Kader Santri Harus Siap Jadi Ksatria Digital dan Penjaga NKRI

www.nuruljadid.net- Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) gelar kajian Keindonesiaan di Aula Mini PPNJ, Jumat (15/05/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Bapak Ahmad Zubaidi, M.Pd., sebagai pemateri dalam kajian sesi ke-2.

Kajian ini menjadi salah satu upaya IPPNU PPNJ dalam memperkuat wawasan kebangsaan kader putri, sekaligus menanamkan nilai persatuan, toleransi, dan semangat kebhinekaan di lingkungan pesantren.

Dalam pemaparannya, Bapak Ahmad Zubaidi menjelaskan bahwa Indonesia bukan sekadar nama negara, melainkan identitas dan ideologi yang mempersatukan masyarakat dengan berbagai latar belakang.

“Indonesia adalah identitas dan ideologi yang mengikat semangat persatuan, toleransi, dan gotong royong,” ungkap beliau di hadapan para peserta.

Beliau yang akrab disapa Bapak Edi juga memaparkan empat pilar konstruksi negara yang menjadi pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, pemahaman terhadap empat pilar tersebut menjadi hal penting bagi generasi muda, khususnya kader IPPNU, agar mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman yang ada di Indonesia.

Tidak hanya itu, beliau turut menjelaskan peran strategis IPPNU dalam menjaga nilai-nilai keindonesiaan di era modern. Kader IPPNU diharapkan mampu menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak, menjadi penengah di tengah masyarakat, aktor sosial, ksatria digital, sekaligus penjaga identitas bangsa.

Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya kajian. Materi yang disampaikan tidak hanya memperkuat wawasan kebangsaan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga harmoni sosial dan nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan tersebut, IPPNU PPNJ berharap kader putri mampu menjadi generasi yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki jiwa nasionalisme yang kuat serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pewarta : Naylah Zakiyatur Rahmah

Editor    : Maria Al Faradela