Biografi KH. Moh. Zuhri Zaini

Biografi KH. Zuhri Zaini

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

KIAI ZUHRI ZAINI merupakan putra kelima dari pasangan Kiai Zaini Mun’im dan Nyai Nafi’ah. Beliau lahir di Probolinggo pada 5 Oktober 1952. Menikah dengan Nyai Bisyaroh Syuhud, beliau dikarunia 5 orang putra, yakni: 1) (alm.) Hikmah Kamiliyah, 2) Nyai Hanunah Nafi’iyah, 3) Gus Muhammad Imdad Robbani, 4) Nyai Wahbatur Rohmaniyah, dan 5) Gus Muhammad Itsbat Syuhudi.

Kelahiran beliau sangat dekat dengan Kiai Abdul Haq Zaini, putra keenam dari pasangan Kiai Zaini Mun’im (lahir 5 Mei 1953). Bahkan, ketika Kiai Zuhri masih dalam masa-masa penyusuhan, Kiai Abdul Haq sudah lahir. Beliau menempuh pendidikan pertama selama 6 tahun di Ma’had al-Nasi’iyah al-Islamiyah Nurul Jadid, sebuah lembaga setara Madrasah Ibtidaiyah saat ini. Sejak belajar di tingkat Madrasah Ibtidaiyah ini, Kiai Zuhri sudah mempelajari berbagai ilmu alat (dalam bahasa Indonesia ilmu gramatika bahasa Arab) melalui berbagai kitab, seperti Jurmiyah, Mutammimah, dan Alfiyah.

Sebelum memasuki tahap pendidikan lanjutan, Kiai Zuhri menempuh sekolah persiapan selama dua tahun. Hingga kemudian beliau memutuskan untuk melanjutkan kembali belajarnya di Madrasah Mu’allimin Nurul Jadid selama 6 tahun (yang kini setara dengan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah). Pada saat itu, memang belum dikenal yang namanya MTs dan MA.

Tidak sampai di situ saja, untuk memperluas keilmuannya di bidang ilmu agama, Kiai Zuhri tetap memilih Pesantren Nurul Jadid sebagai tempat belajarnya di ADIPNU (Akademi Dakwah NU) atau PTID (Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah) Nurul Jadid. Dari studi di ADIPNU/PTID selama 3 tahun inilah, beliau akhirnya menyandang gelar BA (singkatan dari Bachelor of Arts). Gelar ini dulunya dikhususkan untuk para sarjana ilmu-ilmu sosial, termasuk di dalamnya ilmu dakwah.

Tidak puas menyelesaikan studi di perguruan tinggi, Kiai Zuhri akhirnya memilih untuk kembali mendalami ilmu agama di Pesantren Sidogiri Pasuruan selama 3 tahun. Di sinilah, beliau belajar ilmu agama langsung dari Kiai Cholil Nawawie, salah satu pengasuh pesantren tertua tersebut. Dari Sidogiri, beliau sempat melanjutkan studi ke PTIQ Jakarta meski hanya beberapa bulan karena terkendala masalah kesehatan.

Aktivitas Kemasyarakatan

Kiai Zuhri sebenarnya telah aktif terlibat dalam organisasi sejak beliau masih di Madrasah Mu’allimin pertama (setara MTs) dengan menjadi anggota Ikatan Siswa Mu’allimin Pertama (ISMUP). Di periode selanjutnya, beliau juga terlibat dalam Ikatan Siswa Mu’allimin Atas (ISMIA).

Tempaan mentalitas berorganisasi semakin diperkuat saat beliau menjadi mahasiswa di ADIPNU/PTID dengan menjadi bagian dari Pengurus Senat Mahasiswa saat itu. Di luar aktivitasnya di kampus, beliau juga sempat menjadi anggota pada Himpunan Santri Daerah Probolinggo Pesantren Sidogiri.

Di Rabithah Ma’had Islamiyah, beliau berada dalam struktur RMI Cabang Kraksaan. Bahkan, beliau pernah masuk dalam jajaran struktur Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Akan tetapi, kesibukan beliau di tempat lain memaksanya tidak terlalu aktif di PWNU.

Sejak menjadi Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, aktivitas Kiai Zuhri sangatlah padat dan sejak wafatnya Kiai Abdul Haq Zaini (2009) dan Kiai Nur Chotim Zaini (2013), praktis waktu beliau dihabiskan untuk mengurus pesantren dan memenuhi undangan masyarakat.

Riyadhah Kepesantrenan

Bagi Kiai Zuhri, salah satu riyadhah (dalam bahasa Indonesia berarti ‘latihan-diri’) santri adalah taat pada peraturan pesantren. Beliau tidak pernah mengesampingkan peraturan pesantren, karena justru itulah bagian dari tirakat, latihan, riyadhah santri. Tirakat di sini tidak selalu harus bermakna puasa. Bagi mereka yang tidak mampu menjalankannya, berlatih menaati peraturan pesantren, menjaga nama baik pesantren, merupakan bagian dari upaya untuk mengubah diri sendiri.

Jika peraturan pesantren dilanggar, maka aspek latihannya menjadi berkurang atau bahkan sama sekali hilang. Untuk menjalani riyadhah secara maksimal, salah satu kuncinya adalah dengan kesabaran total. Hal ini dicontohkan langsung oleh kepribadian beliau sehari-hari yang konon nyaris tidak pernah menampakkan wajah kusam atau marah.

Beliau dikenal oleh banyak kalangan sebagai pengasuh yang lapang dada, yang hampir tak pernah menunjukkan sikap tidak nrimo atas yang dihadapinya seharihari. Hal ini pula yang membuat beliau seringkali menjaga diri untuk tidak berlebihan, menampilkan diri apa adanya. Kesederhanaan dalam bersikap, berpakaian, dan bertutur kata sangatlah tampak dalam diri Kiai Zuhri.

Karya Tulis

Kiai Zuhri lebih sering menulis tulisan-tulisan ringan di berbagai majalah lembaga pendidikan, utamanya majalah LPM Al-Fikr, atau majalah siswa Misi (SMA Nurul Jadid) dan Kharisma (MA Nurul Jadid). Tulisan-tulisan beliau pernah dibukukan sekitar tahun 2015 dan rencananya akan diperbarui kembali pada tahun 2018 dengan judul Menuju Saleh Sosial. Meski demikian, pendapat Kiai Zuhri mendapat banyak apresiasi dari kalangan akademisi.

Tidak sedikit dari mereka yang menulis pemikiran Kiai Zuhri, misalnya pandangan Fiqih Tawasuth beliau (yang pernah dikaji oleh Moh. Dahlan dari IAIN Bengkulu) dan pemikirannya tentang Pesantren Inklusif (dalam sebuah disertasi karya Dr. Mursyid Romli dari UIN Sunan Ampel Surabaya).

Menjadi Pengasuh Pesantren Nurul Jadid

Sejak meninggalnya “trisula Nurul Jadid”, Kiai Abdul Wahid (w. 2000), Kiai Abdul Haq (w. 2009), dan Kiai Nur Chotim (w. 2013), Kiai Zuhri mengemban amanah sendirian untuk mengatur manajemen kepesantrenan. Meskipun disibukkan dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan, Kiai Zuhri masih sempat ningkatkan kualitas pembelajaran dan pembinaan santri. Beliau masih memimpin pengajian kitab kuning secara reguler, menjadi imam Shalat Jum’at di Masjid Jami, yang terkadang pula dibantu oleh para putra dan ponakannya. Beban kepemimpinan ini terus berlangsung selama kurang lebih 3 tahun sebelum pada akhirnya manajemen kepesantrenan berada di bawah komando Kiai Abdul Hamid Wahid (putra pertama dari Kiai Abdul Wahid Zaini) sebagai Kepala Pesantren.

Sebagaimana yang akan diuraikan sepanjang buku ini, kolaborasi kepemimpinan Kiai Zuhri Zaini sebagai ‘Pemimpin’ dan Kiai Hamid Wahid sebagai ‘Manajer’ tidak hanya meringankan beban kepengasuhan Kiai Zuhri, melainkan juga memberi keseimbangan manajerial (managerial stability) yang efeknya sangat terasa terhadap kondisi terkini Pesantren Nurul Jadid. Berbagai perubahan, inovasi, dan penataan sistem manajemen kepesantrenan telah berhasil dilakukan berkat duet kepemimpinan yang baru ini.

Sumber Tulisan diambil dari Buku Profil Pondok Pesantren Nurul Jadid yang diterbitkan oleh Pustaka Unuja Universitas Nurul Jadid tahun 2018)