Menjaga Marwah Pesantren di Tengah Krisis Moral

artikel.www.nuruljadid.net-Kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren dalam beberapa tahun terakhir telah mengguncang kesadaran publik. Berbagai peristiwa yang muncul ke permukaan menghadirkan kemarahan, rasa kecewa, sekaligus kegelisahan mendalam terhadap lembaga yang selama ini dipandang sebagai ruang pendidikan moral dan pembentukan akhlak masyarakat. Tidak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan tindakan tersebut. Kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, pengkhianatan terhadap amanah pendidikan, serta pelanggaran serius terhadap hukum dan nilai agama.

Namun di tengah derasnya kemarahan publik, muncul kecenderungan lain yang juga patut diwaspadai yaitu lahirnya generalisasi terhadap pesantren dan tradisi keagamaan itu sendiri. Satu kasus kemudian berkembang menjadi stigma kolektif, seolah-olah akar utama kekerasan seksual bersumber dari sistem pesantren dan tradisi pendidikan Islam. Cara pandang semacam ini berbahaya karena menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.

Kekerasan seksual bukan monopoli lembaga agama. Ia dapat muncul di sekolah umum, kampus, rumah ibadah, panti asuhan, bahkan lingkungan keluarga. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan semata identitas lembaga, melainkan penyalahgunaan kuasa yang dapat tumbuh di mana pun ketika pengawasan melemah, budaya diam dipelihara, dan korban tidak memiliki ruang aman untuk bersuara.

Di titik inilah publik perlu lebih jernih membedakan antara penyimpangan individu, kelemahan sistem pengawasan, dan hakikat pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang selama ratusan tahun justru menjadi benteng moral masyarakat Indonesia. Kita tidak boleh membela pelaku. Tetapi kita juga tidak boleh tergesa-gesa menghukum seluruh tradisi hanya karena tindakan segelintir orang yang mengkhianati amanahnya sendiri.

Dalam perspektif sosiologi hukum, Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa perilaku menyimpang tidak dapat dibaca secara tunggal dari struktur normatif sebuah lembaga. Ada faktor budaya, relasi kekuasaan, pengawasan sosial, hingga kondisi masyarakat yang ikut memengaruhi lahirnya penyimpangan. Karena itu, melihat kasus kekerasan seksual semata-mata sebagai “krisis spiritualitas pesantren” justru berisiko menutup pembacaan yang lebih mendalam terhadap akar persoalan yang sebenarnya.

Pesantren sejak awal berdirinya bukan sekadar tempat belajar ilmu agama. Ia adalah ruang pembentukan karakter, solidaritas sosial, dan pendidikan masyarakat kecil. Dalam sejarah Indonesia, pesantren menjadi basis perjuangan antikolonial, pusat pendidikan rakyat, sekaligus benteng budaya lokal yang menjaga denyut moral masyarakat desa. Dari pesantren lahir banyak ulama, pejuang, dan tokoh bangsa yang membangun etika sosial masyarakat Indonesia.

Karena itu, ketika ada oknum yang menyalahgunakan otoritasnya, yang sesungguhnya rusak bukan nilai pesantrennya, melainkan pengkhianatan terhadap nilai tersebut. Pelaku tidak sedang menjalankan ajaran pesantren, tetapi justru merusak prinsip dasar pendidikan Islam yang dibangun di atas amanah, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Ketika Kuasa Tidak Diawasi

Salah satu problem terbesar dalam banyak kasus kekerasan seksual adalah relasi kuasa yang timpang. Dalam lingkungan pendidikan, guru sering diposisikan sebagai figur yang harus dihormati secara penuh. Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai dan guru bahkan menjadi bagian penting dari pendidikan adab. Namun penghormatan yang kehilangan kontrol dapat berubah menjadi ruang yang rawan disalahgunakan.

Pemikiran Michel Foucault menjadi relevan dalam membaca situasi ini. Foucault menjelaskan bahwa kuasa tidak hanya bekerja melalui negara atau hukum, tetapi juga hadir dalam relasi sehari-hari: pendidikan, keluarga, bahkan agama. Ketika kuasa tidak disertai mekanisme kontrol dan akuntabilitas, maka potensi penyalahgunaan menjadi semakin besar.

Dalam konteks pesantren, budaya pengkultusan yang berlebihan kadang membuat korban takut berbicara. Banyak santri memilih diam karena takut dianggap durhaka kepada guru, takut tidak dipercaya, atau takut dipersalahkan oleh lingkungan. Situasi ini diperparah oleh budaya menjaga nama baik lembaga yang sering kali lebih diutamakan daripada keberanian melindungi korban.

Padahal menjaga marwah pesantren tidak berarti menutupi kejahatan. Sebaliknya, keberanian membongkar penyimpangan justru menjadi bagian penting dalam menjaga kehormatan lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Pesantren tidak akan kehilangan wibawa karena menghukum pelaku. Yang justru menghancurkan wibawa adalah ketika kejahatan dibiarkan tumbuh di balik simbol agama dan budaya diam.

Karena itu, masyarakat perlu berhenti menempatkan tokoh agama sebagai figur yang mustahil salah. Dalam Islam, penghormatan kepada guru tetap penting, tetapi tidak boleh melahirkan kekebalan moral. Guru adalah manusia yang tetap dapat melakukan kesalahan. Maka tradisi hormat kepada ulama harus berjalan beriringan dengan kesadaran etik, keterbukaan terhadap kritik, dan sistem pengawasan yang sehat.

Melindungi Korban, Menguatkan Pesantren

Dalam perspektif hukum positif Indonesia, negara sebenarnya telah memiliki perangkat hukum yang cukup jelas untuk menangani persoalan kekerasan seksual. Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), Undang-Undang Perlindungan Anak, hingga berbagai regulasi pendidikan telah memberikan dasar hukum yang kuat untuk menghukum pelaku dan melindungi korban.

Namun persoalannya tidak berhenti pada ketersediaan hukum. Problem terbesar justru terletak pada implementasi. Banyak korban tidak berani melapor karena takut mendapatkan tekanan sosial. Tidak sedikit pula kasus yang berhenti di tengah jalan karena korban menghadapi intimidasi, stigma, atau bahkan disalahkan oleh lingkungannya sendiri.

Di sinilah negara, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus hadir secara lebih konkret. Pesantren perlu memiliki mekanisme pengaduan yang aman dan mudah diakses santri. Pendampingan psikologis bagi korban harus diperkuat. Sistem pengawasan internal perlu diperjelas agar tidak ada relasi kuasa yang bekerja tanpa kontrol.

Lebih jauh lagi, pendidikan pesantren juga perlu diperluas tidak hanya pada aspek akhlak dan ilmu agama, tetapi juga kesadaran etik, kesehatan mental, pendidikan seksual berbasis moral, serta pemahaman tentang batas relasi sehat antara guru dan murid. Sebab di era modern, tantangan pendidikan semakin kompleks dan tidak cukup hanya diselesaikan dengan pendekatan moral tradisional semata.

Negara juga tidak boleh hadir hanya ketika kasus mencuat ke media sosial. Pengawasan kelembagaan terhadap institusi pendidikan harus diperkuat tanpa mematikan independensi pesantren sebagai bagian penting dari masyarakat sipil. Kementerian Agama, organisasi masyarakat Islam, akademisi, psikolog, dan para kiai perlu duduk bersama membangun standar perlindungan santri yang lebih kuat dan terukur.

Menjaga Tradisi, Menolak Kejahatan

Di tengah berbagai kasus yang terjadi, publik perlu menjaga kejernihan berpikir. Kemarahan terhadap pelaku tidak boleh berubah menjadi kebencian terhadap seluruh tradisi pesantren. Sebab jika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada lembaga pendidikan moralnya sendiri, maka yang runtuh bukan hanya wibawa pesantren, melainkan juga salah satu fondasi etika sosial bangsa Indonesia.

Pesantren tetap memiliki peran besar dalam membangun kehidupan masyarakat Indonesia. Di tengah arus individualisme, materialisme, dan krisis moral modern, pesantren masih menjadi ruang yang mengajarkan kesederhanaan, penghormatan kepada ilmu, solidaritas sosial, dan nilai-nilai spiritual. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan menghancurkan tradisinya, melainkan membersihkan ruang-ruang yang memungkinkan penyimpangan tumbuh.

Kejahatan seksual memang harus dilawan tanpa kompromi. Pelaku harus diproses secara hukum dan moral tanpa perlindungan apa pun. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat juga harus adil membedakan antara nilai Islam, tradisi pesantren, dan perilaku individu yang menyimpang. Menjaga marwah pesantren bukan berarti menutupi luka. Justru dengan keberanian melakukan pembenahan, melindungi korban, memperkuat sistem pengawasan, dan membuka ruang kritik yang sehat, pesantren dapat tetap menjadi tempat pendidikan yang aman dan bermartabat.

Sebab pesantren bukan sekadar institusi pendidikan agama. Ia adalah bagian penting dari sejarah, kebudayaan, dan fondasi moral masyarakat Indonesia. Dan fondasi itu harus dijaga, bukan dengan membiarkan kejahatan bersembunyi di dalamnya, tetapi dengan keberanian membersihkannya secara jujur dan bermartabat.

 

Oleh : Dr. Ainul Yakin, M.H.I., /Dosen Program Studi Islam Pasca Sarjana Universitas Nurul Jadid, Probolinggo.

Editor     : Ponirin Mika

 

 

 

Dari Transmisi Ilahi hingga Refleksi Psikologis

artikel-www.nuruljadid.net-Bagi sebagian besar manusia modern, tidur kerap dianggap sekadar aktivitas biologis untuk melepas lelah, dan mimpi hanyalah bunga tidur yang acak. Namun, jika kita menyelami pemikiran ulama tabiin terkemuka asal Basrah, Muhammad bin Sirin al-Anshari (Ibnu Sirin), tidur dan mimpi memuat dimensi yang jauh lebih dalam. Tidur adalah salah satu tanda kebesaran Allah Swt. (QS. Ar-Rum: 23). Ketika memejamkan mata, kesadaran kita lenyap bagai mayat, berada sepenuhnya dalam genggaman Sang Pencipta (QS. Az-Zumar: 42), sebelum akhirnya dikembalikan saat fajar menyingsing.

Dalam ruang hampa kesadaran itulah, mimpi sering kali menjadi media spiritual yang luar biasa. Rasulullah Saw. sendiri menegaskan bahwa meski kenabian telah berakhir, masih ada yang tersisa, yaitu al-mubasyirat—mimpi-mimpi baik yang membawa kabar gembira atau peringatan dari Allah. Ibnu Sirin memetakan bahwa mimpi bisa bersumber dari tiga hal: dari Allah (berupa kebenaran), dari Setan (berupa ketakutan), dan dari pergolakan diri sendiri.

Bagi para kekasih Allah, mimpi bukan sekadar refleksi bawah sadar, melainkan sebuah instruksi nyata yang menuntut pembuktian di alam realitas. Tengoklah bagaimana Nabi Muhammad Saw. ketika didera rindu yang mendalam terhadap tanah kelahirannya, Mekah, setelah delapan tahun berhijrah. Allah mentransmisikan pesan lewat mimpi simbolis berupa aktivitas mencukur rambut (QS. Al-Fath: 27). Mimpi ini mewujud menjadi kenyataan sejarah yang agung (Fathu Mekah), di mana beliau secara riil melakukan tahallul setelah menuntaskan ibadah.

Namun, ujian mimpi paling dramatis sepanjang sejarah tentu saja dialami oleh Nabi Ibrahim As. Perintah pengurbanan sang putra hadir bukan tanpa alasan. Ada sebuah pesan teologis yang tajam di sana: ketika cinta Nabi Ibrahim sedikit bergeser—dari yang semula murni kepada Allah, menjadi terlalu condong kepada putra kesayangannya—Allah menguji batas loyalitas tersebut melalui mimpi simbolis menyembelih putranya.

Di sinilah letak keindahan narasi Al-Qur’an (QS. As-Saffat: 102). Terjadi dialog yang sangat transparan dan penuh cinta antara ayah dan anak. Nabi Ibrahim tidak egois; ia meminta pendapat Ismail. Dan dengan keteguhan iman, Ismail menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Kepatuhan ini membuktikan bahwa bagi para Nabi, mimpi adalah instruksi ilahi yang melahirkan realitas implementatif yang nyata.

Menarik jika kita menyandingkan peristiwa ini dengan catatan dalam Kitab Kejadian pasal 22 ayat 7 pada tradisi Yudeo-Kristen. Ada perbedaan mendasar yang memicu ruang diskusi menarik. Dalam Kitab Kejadian, perintah itu diterima Abraham langsung (bukan lewat mimpi), dan sang anak (Ishak) digambarkan tidak tahu bahwa dirinya yang akan dikorbankan, terbukti dari pertanyaannya: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

Terlepas dari perbedaan teologis antar-kitab suci tersebut, substansi moral yang bisa kita petik tetaplah sama: perintah pengurbanan adalah ujian cinta ekstrem. Ia menjadi pengingat abadi bagi umat manusia tentang bahaya menduakan cinta Tuhan dengan makhluk-Nya (QS. At-Taubah: 24).

Bagaimana dengan mimpi yang berasal dari “diri sendiri”? Di sinilah titik temu menarik antara hadis yang dikutip Ibnu Sirin dengan sains barat. Aristoteles menganggap mimpi sebagai kelanjutan proses berpikir manusia saat tidur. Namun, teori ini digugat oleh bapak psikoanalisis, Sigmund Freud.

Dalam mahakaryanya, The Interpretation of Dreams, Freud berargumen bahwa jika mimpi hanya kelanjutan pikiran, mestinya mimpi berisi hal-hal yang kita harapkan. Kenyataannya, banyak mimpi yang justru manifes sebagai ketakutan terbesar kita. Freud menceritakan kasus tragis seorang pasiennya: seorang ayah yang bermimpi anaknya yang baru wafat berteriak, “Ayah! lihatlah aku terbakar.” Saat terbangun, sang ayah mendapati lilin penjaga jenazah jatuh dan benar-benar membakar kain serta jari anaknya. Mimpi dalam kategori ini adalah proyeksi dari kecemasan, rasa bersalah, dan pergolakan psikologis yang mendalam.

Secara tidak langsung, sains modern melalui Freud dan Aristoteles sebenarnya sedang mengamini kategori ketiga dari klasifikasi Ibnu Sirin: bahwa jiwa manusia memiliki mekanismenya sendiri dalam melahirkan mimpi.

Pada akhirnya, mimpi memiliki jalurnya masing-masing. Ada mimpi yang bersifat psikologis, ada yang berupa gangguan, dan bagi orang-orang saleh, ada mimpi yang menjadi petunjuk.

Secara alegoris, esensi pengurbanan Nabi Ibrahim harus kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Pengurbanan ego, pengurbanan harta, dan pengurbanan kenyamanan demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta adalah esensi sejati dari kehidupan yang bertauhid. Semoga kita senantiasa dianugerahi kekuatan oleh Allah Swt. untuk merealisasikan “mimpi-mimpi indah” kita: sebuah mimpi untuk menjadi pribadi yang gemar berbagi, memangkas ego, dan menyembelih sifat kebinatangan dalam diri kita demi kemaslahatan sesama. Amin.

 

Oleh : H. Hasyim Syamhudi

Dosen Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo

 

OSKAR Pesantren Nurul Jadid: Melebur Sekat, Menempa Santri Multi-Skilled

www.nuruljadid.net- Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, telah lama dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan Islam institusional yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Di balik dinding-dinding pesantren yang sarat dengan tradisi keilmuan klasik, terdapat sebuah tradisi tahunan bagi para santri yang berada di penghujung masa studinya. Kegiatan tersebut dikenal dengan nama Orientasi Kelas Akhir, atau yang akrab disingkat sebagai Oskar.

Oskar bukan sekadar seremonial pelepasan atau pengisi waktu luang menjelang kelulusan atau kepulangan santri untuk boyong ataupun menunggu pendaftaran ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Agenda ini dirancang secara sistematis sebagai instrumen evaluasi komprehensif. Melalui Oskar, pengurus pesantren dan para asatidz dapat mengukur sejauh mana keberhasilan penyerapan nilai-nilai kepesantrenan dan keilmuan yang telah diserap oleh santri selama bertahun-tahun menetap di pesantren. Evaluasi dalam Oskar tidak berjalan searah atau bersifat interogatif, melainkan dikemas dalam ruang dialog yang sejuk. Salah satu esensi menarik dari kegiatan ini adalah disediakannya panggung khusus bagi santri untuk menyampaikan keluh kesah, unek-unek, serta refleksi mereka selama menjadi bagian dari komunitas pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa Nurul Jadid menerapkan manajemen pendidikan yang demokratis dan humanis, di mana suara santri didengar sebagai bahan evaluasi demi perbaikan mutu pesantren ke depan.

Lebih dari sekadar ruang refleksi internal, Oskar bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan realitas makro di luar pesantren dengan dunia mikro di dalam bilik santri. Kegiatan ini secara sengaja menghadirkan sesi-sesi pembekalan yang bertujuan untuk menambah wawasan terkait pengetahuan luar. Santri tidak dibiarkan menjadi “katak dalam tempurung” yang gagap saat harus berhadapan dengan dinamika global, melainkan dipersiapkan menjadi subjek yang siap bersaing. Dunia di luar pesantren menuntut kesiapan mental dan keterampilan praktis yang adaptif. Sadar akan tantangan tersebut, materi-materi dalam Oskar kerap kali bersentuhan dengan isu-isu kontemporer, mulai dari literasi digital, wawasan kebangsaan, hingga tantangan dunia profesional dan perguruan tinggi. Pengetahuan luar ini menjadi bekal berharga agar prinsip al-muhafadzatu ‘alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah (merawat tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik) dapat terwujud nyata dalam sanubari setiap lulusan. Selain penajaman kognitif melalui wawasan global, Oskar Pondok Pesantren Nurul Jadid juga menyentuh ranah psikomotorik dan kepemimpinan melalui kegiatan kepramukaan. Pramuka di dalam lingkaran Oskar bukan sekadar latihan baris-berbaris atau tali-temali biasa.

Di sini, kepramukaan diejawantahkan sebagai media untuk melatih kedisiplinan, ketahanan fisik, kemampuan bertahan hidup (survival), serta ketangkasan dalam mengambil keputusan di bawah tekanan. Melalui kegiatan kepramukaan yang dinamis, santri diajarkan untuk meruntuhkan ego sektoral demi mencapai tujuan kelompok. Nilai-nilai kepanduan ini berkolaborasi apik dengan doktrin kemandirian pesantren. Santri dilatih untuk terampil mengelola konflik, memimpin jalannya regu, dan peka terhadap kondisi lingkungan sekitar, yang semuanya merupakan modal dasar (soft skills) yang sangat dicari di era modern. Aspek yang paling monumental dan menyentuh dari pelaksanaan Oskar adalah kemampuannya dalam memupuk kebersamaan yang lebih erat di antara sesama santri kelas akhir. Di dalam ruang-ruang kelas reguler, sekat-sekat jurusan, program studi, maupun perbedaan kelas sering kali menciptakan kelompok-kelompok kecil yang eksklusif. Namun, dalam pelaksanaan Oskar, seluruh sekat buatan tersebut dilebur tanpa sisa.

Selama kegiatan Oskar berlangsung, semua peserta membaur menjadi satu kesatuan yang utuh tanpa melihat apakah mereka berasal dari jurusan Ilmu Alam, Ilmu Sosial, Keagamaan, maupun Bahasa. Mereka makan dari talam yang sama, tidur di area yang sama, dan menghadapi tantangan kelompok secara bersama-sama. Peleburan ini menciptakan sebuah katarsis emosional yang memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwah) di antara mereka. Ketika program studi dan latar belakang jurusan tidak lagi menjadi pembeda, yang tersisa hanyalah identitas tunggal: Santri Nurul Jadid yang siap berkhidmat untuk masyarakat. Kebersamaan yang cair dan organik ini melahirkan rasa kepemilikan bersama terhadap pesantren serta menumbuhkan solidaritas yang kuat, yang kelak akan menjadi jaringan alumni yang solid dan saling mendukung di masa depan.

Fenomena Oskar ini membuka mata kita pada sebuah refleksi yang lebih besar mengenai hakikat dan fungsi pondok pesantren itu sendiri. Institusi pesantren masa kini, seperti yang dicontohkan oleh Pesantren Nurul Jadid, telah menegaskan posisinya bahwa fungsi pesantren tidak hanya terbatas pada upaya menyelesaikan pendidikan formal semata. Menganggap pesantren hanya sebagai wadah pemburu ijazah sekolah menengah atau aliyah adalah sebuah penyempitan makna yang keliru. Jika sebuah lembaga pendidikan hanya fokus pada penyelesaian kurikulum formal, maka output yang dihasilkan hanyalah manusia-manusia yang cerdas secara akademis namun gersang secara spiritual dan sosial. Pesantren melangkah jauh melampaui batas-batas kaku kurikulum kementerian. Pesantren bertindak sebagai lembaga tata pamong karakter (character building) yang mengawal manusia sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Pendidikan formal di pesantren hanyalah salah satu instrumen dari sekian banyak subsistem pendidikan yang berjalan secara simultan. Di luar jam sekolah formal, terdapat sistem madrasah diniyah, pengajian kitab kuning, pembiasaan ibadah berjamaah, serta organisasi santri. Semua subsistem ini bermuara pada satu tujuan, yaitu mencetak manusia seutuhnya (insan kamil), bukan sekadar mencetak lulusan yang siap menjadi sekrup dalam mesin industri. Dengan demikian, fungsi pesantren bergeser dari sekadar agen transfer pengetahuan (transfer of knowledge) menjadi agen transformasi nilai (transfer of values). Di sinilah letak distingsi utama pesantren dibanding lembaga pendidikan umum. Nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan ketawadhuan tidak diajarkan lewat papan tulis, melainkan dihirup melalui atmosfer kehidupan sehari-hari di pesantren, yang puncaknya dikristalisasi dalam kegiatan Oskar.

Pesantren juga berfungsi sebagai laboratorium sosial yang miniatur. Di dalam pesantren, santri yang datang dari berbagai suku, budaya, dan latar belakang ekonomi dipaksa untuk hidup berdampingan secara damai. Kegiatan Oskar mengonfirmasi fungsi ini secara mutlak; ia menjadi sebuah simulasi masyarakat multikultural berskala kecil di mana toleransi, tenggang rasa, dan kerja sama tim bukan lagi teori, melainkan praktik hidup sehari-hari.

Lebih jauh lagi, melalui pembekalan pengetahuan luar dan keterampilan praktis, pesantren membuktikan fungsinya sebagai fasilitator mobilitas sosial dan pemberdayaan masyarakat. Lulusan pesantren tidak disiapkan untuk menjadi penonton di pinggiran peradaban, melainkan aktor penggerak. Dengan bekal agama yang kokoh dikombinasikan dengan wawasan luar yang luas, santri diproyeksikan mampu memberi solusi atas problem-problem riil yang dihadapi umat. Oskar pada akhirnya menjadi sebuah titik balik spiritual dan intelektual bagi santri kelas akhir. Kegiatan ini menjadi momen kontemplasi di mana mereka menyadari bahwa masa-masa menuntut ilmu di pesantren akan segera usai, dan gerbang pengabdian yang sesungguhnya di masyarakat telah menanti di depan mata.

Keluh kesah yang tersampaikan dan diselesaikan selama Oskar menjadi penutup lembaran masa lalu yang melegakan. Kita harus mengapresiasi langkah Pondok Pesantren Nurul Jadid yang terus mempertahankan dan mengonseptualisasikan Oskar dengan sangat matang dari tahun ke tahun. Di era disrupsi informasi seperti sekarang, konsistensi dalam menjaga ruang dialog, pelatihan karakter melalui kepanduan, dan peleburan ego kelompok merupakan langkah strategis yang sangat visioner untuk menyelamatkan generasi muda dari krisis identitas. Melalui kaca mata Oskar, kita dapat melihat dengan jelas bahwa masa depan bangsa ini berada di tangan-tangan yang tepat—tangan para santri yang tidak hanya memiliki otak yang cerdas berkat pendidikan formal, tetapi juga memiliki hati yang bening, fisik yang tanggap, serta jiwa sosial yang rekat. Pesantren telah membuktikan diri sebagai benteng pertahanan moral sekaligus laboratorium kemajuan peradaban.

Ikhtitam, Orientasi Kelas Akhir di Pondok Pesantren Nurul Jadid adalah manifestasi dari kesempurnaan pendidikan pesantren yang holistik. Oskar mengajarkan kita bahwa kelulusan bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab besar. Ketika tirai kegiatan Oskar ditutup, para santri melangkah keluar dari gerbang pesantren tidak hanya membawa selembar ijazah formal, melainkan membawa bekal karakter, keterampilan, kebersamaan, dan berkah doa dari para masyayikh untuk menerangi dunia.

 

Penulis    : Ponirin Mika (Kasubbag Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Dari Paiton ke Pinggiran Jogja: Ketika Santri Berhadapan dengan Pemikiran Barat

penasantri.nuruljadid.net – Tahun pertama hidup di Jogja. Setahun sebelumnya di Paiton, saya masih ingat betul momen itu. Di siang terik di pesantren, dalam perjalanan menuju tempat “momen” itu meng-ada, kami sering berlari-lari kecil dengan tangan menggendong tas kamera dan buku catatan kecil melintasi lorong-lorong pesantren—konon, kedua alat itu adalah alat tempur kami untuk memburu “momen”. Tepat di hadapan event besar pesantren, kami yang masih duduk di kursi Aliyah kala itu, menatap euforia acara dengan rasa takjub, sekaligus ngeri. Bagaimana tidak? Kami harus merekam semua momen itu untuk diunggah ke laman nuruljadid.net. Saat itu, pikiran kami hanya bercakap-pasrah: “Yang penting fotonya bagus, kutipan narasumber pas, dan beritanya cepat naik”. Masa itu lepas. Ya, meski cukup berat berpisah, saya masih senang berkesempatan mengabdi bersama teman-teman ke pesantren. Seru!

Masa-masa sebagai Mahasiswa. Tahun pertama hidup di Jogja, ingatan-ingatan soal “berburu momen” itu sering berseliweran. Apa boleh buat, saya selalu menganggapnya sebagai “obat kangen” sekaligus kompas kehidupan yang paling nyata. Di Kota Pelajar ini, saya bertemu dengan dunia yang jauh berbeda. Ruang kelas yang awalnya penuh suara-suara setoran hafalan dan sorogan kitab santri, tetapi saat ini berubah, ruang itu telah dipenuhi oleh diskus-diskusi berbobot mahasiswa soal sosiologi, filsafat, sampai teori-teori kritis yang terkadang bikin kepala saya berdenyut sampai petang. Di momen itulah, saya merasa seperti sedang melakukan pulang kampung epistemologis. Ternyata, pilar karakter (core values) yang dulu saya dan santri-santri lainnya pelajari di pesantren—Trilogi Santri dan Panca Kesadaran Santri—bukan sekadar motto atau jargon, tapi lebih dari itu, nilai-nilai tersebut adalah alat paling sakti untuk bertahan hidup di tengah hiruk-pikuk dunia kampus yang serba cepat dan skeptis seperti sekarang ini.

“Reuni” Konsep di Meja Kuliah

Di kampus, dosen sering bicara soal integrasi-interkoneksi. Sebuah konsep yang mengajak kita untuk tidak menjadi manusia berkacamata kuda—istilah yang dipakai bagi seseorang berpandangan sempit: sekularis, misalnya. Awalnya saya mikir, “Wah, istilahnya keren dan akademis sekali ya?” Tapi setelah saya renungkan pelan-pelan, sambil menatap buku Islamic Studies di Perguruan Tinggi yang saya baca di pojok perpustakaan, saya malah tersenyum sendiri, ternyata konsep itu adalah “teman lama” yang saya temui kembali dalam seragam berbeda.

Di pesantren, kami memiliki pedoman hidup santri: Trilogi dan Panca Kesadaran Santri, salah satu silanya adalah Memperhatikan Kewajiban Fardlu ‘Ain. Dulu, saya sekadar memaknainya secara sederhana, sebatas kewajiban salat dan puasa. Tapi sejak di bangku kuliah, pemahaman saya atas makna itu semakin meluas. Saya mulai menyadari bahwa belajar sungguh-sungguh untuk memahami fenomena sosial, membedah ketidakadilan melalui teori, atau menjaga lingkungan juga merupakan cara kita menjalankan perintah-Nya—fardlu ‘ain—dengan “mengaji” Ayat-Ayat-Nya yang bertebaran di alam semesta. Allah itu Maha Luas, dan ilmu-Nya tidak hanya tersimpan di dalam baris-baris kitab kuning, tapi juga di laboratorium, di tumpukan jurnal, hingga di sela-sela fenomena kemasyarakatan.

Saya jadi teringat salah satu dawuh KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pesantren di tempat saya belajar dulu: “Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang hanya dikaji tanpa diamalkan”. Dawuh Kiai Zuhri ini adalah “jangkar”, saat teori baraat yang tampak canggih dan modern itu mulai menyilaukan pandangan saya. Di saat itu, kutipan inilah yang seolah menarik saya kembali ke rel hidup. Melalui kutipan itu, beliau mengingatkan saya bahwa kepintaran tidak ada harganya apabila hanya berakhir jadi tumpukan ijazah, alias tanpa pernah menyentuh kebutuhan masyarakat. Di sinilah interkoneksi itu terjadi secara alami: ilmu kampus membuat logika semakin tajam, tapi spirit pesantren membuat hati tetap tenang dan punya tujuan.

Panca Kesadaran: Etika di Tengah Arus Kritis

Jogja adalah kota yang sangat cair bagi pemikiran. Di sini, semua hal bisa dibedah, dikritik, bahkan didebatkan sekantuk-kantuknya. Tetapi, di Tengah kondisi itu, ada sedikit rasa khawatir yang berseliweran: Apakah saya akan kehilangan identitas santri di tengah arus pemikiran yang begitu deras ini?  Tidak. Bagi saya, Panca Kesadaran Santri bekerja seperti filter otomatis yang menangkal pemikiran-pemikiran sekuler yang mencoba menyelinap masuk ke alam pikir saya.

Dunia kampus acapkali menggoda kita untuk menjadi kritis hanya demi terlihat cerdas atau progresif, sampai-sampai terkadang kita lupa terhadap adab. Tetapi, sampai saat ini, ada satu ajaran yang saya terima ketika mondok dan tetap saya pegang teguh hingga saat ini, bahwa menjadi kritis itu harus bertanggung jawab. Artinya, kita boleh berargumen dengan dosen sehebat apa pun, atau berdebat dengan kawan setajam apa pun, namun takzim dan kesantunan adalah identitas yang tidak boleh tanggal, apa pun almamaternya.

Apa yang saya peroleh di pesantren soal tingkatan ilmu dan adab sangatlah berbekal manfaat ketika saya di sini. Selama saya melakukan liputan di pesantren, saya belajar bagaimana mendekati narasumber dengan sopan, mendengarkan mereka dengan penuh perhatian sebelum menulis catatan laporannya. Kesabaran, kesadaran, dan kehati-hatian itu adalah adab. Hingga saat ini, ketika saya harus menulis esai atau berdiskusi di forum mahasiswa, saya belajar untuk tidak merasa paling benar. Saya menyadari bahwa nilai-nilai pesantren bukan barang antik yang cukup diendapkan dalam lemari pikiran, tetapi mereka adalah perangkat hidup yang sangat adaptif dan harus kita terapkan dalam keseharian.

Menjadi Santri yang Terus Bertumbuh

Setahun berjalan bergelut dengan dinamika pendidikan di Jogja. Perjalanan itu membawa saya pada satu titik kesimpulan, bahwa seyogyanya pohon pengetahuan pesantren itu dapat dirawat dengan tanpa menutup diri dari dunia luar, seperti pemikiran-pemikiran barat. Apa yang harus dilakukan santri ketika di luar adalah berani berdialog dengan segala macam bentuk perubahan zaman pun yang menyimpang tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Bagi saya, integrasi-interkoneksi bukan lagi tulisan keren di brosur kampus atau spanduk seminar. Konsep itu adalah manifestasi seorang santri modern. Barangkali, dulu saya adalah siswi Aliyah yang sibuk memegang kamera demi konten berita pesantren. Sekarang, saya adalah mahasiswi yang membawa “lensa” pesantren itu untuk memotret dan memahami realitas dunia yang lebih luas.

Menulis opini ini rasanya seperti pulang ke Nurul Jadid, sejenak. Menghirup kembali udara pesantren melalui tulisan, meskipun kaki tetap tidak beranjak dari tanah Jogja. Pada akhirnya, di mana pun raga kita berpijak, baik di bawah terik matahari Paiton, pun di sudut perpustakaan Jogja, tujuan kita tetaplah satu: teguh pada prinsip bahwa ilmu yang kita cari hari ini adalah ilmu yang menuntun kita kembali kepada-Nya, lewat pengabdian kepada sesama.

Penulis: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

 

Santri Adalah Kelas Kader Islam, Berikut Ulasan Kiai Zuhri Zaini

berita.nuruljadid.net – Pada kegiatan Capacity Building Pengurus dalam Ruhul Jihad yang digelar Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Rabu (3/12/25), Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini menekankan pentingnya tafaqquh fiddin sebagai misi inti pesantren. Beliau memberikan penekanan khusus pada urgensi prioritas kewajiban keagamaan tingkat dasar (al-Furudul ‘Ainiyah (FA)), penguatan kaderisasi santri, dan pengembangan kemampuan baca kitab sebagai bekal dakwah di tengah masyarakat.

Kiai Zuhri mengawali tausiyah dengan menegaskan bahwa pesantren memiliki mandat khusus sebagai pusat pendalaman ilmu agama. “Di antara umat Islam harus ada yang khusus tafaqquh fiddin, dan itu tempatnya di pesantren,” ujarnya. Para pengurus, lanjut beliau, merupakan pelayan dari tugas besar tersebut, dibantu perangkat penunjang seperti ilmu pengetahuan dan teknologi.

Meski berbagai keterampilan hidup dan kejuruan diajarkan di pesantren, Kiai Zuhri menegaskan bahwa tujuan utamanya harus tetap untuk kepentingan dakwah dan pengabdian. Namun demikian, beliau menekankan bahwa fondasi terpenting tetaplah ilmu agama. “Yang utama adalah bekal agama. Ini yang harus kita niatkan dalam berkhidmah.”

Salah satu pesan sentral tausiyah ini adalah pentingnya mengutamakan FA, ilmu dasar agama yang wajib dipahami dan diamalkan oleh setiap individu Muslim. Menurut Kiai Zuhri, inti dari belajar agama bukan semata mengetahui, tetapi mengamalkan.

“Yang terpenting dari belajar agama adalah pengamalan agama. Bagaimana santri bisa menjadikan agama sebagai pedoman hidup,” tegasnya. Jika FA belum tuntas, maka program lain yang bersifat tambahan sebaiknya dikurangi intensitasnya.

Beliau juga menyinggung efektivitas hari-hari FA yang diterapkan di pesantren. Kiai Zuhri mendorong agar seluruh pengurus memastikan FA benar-benar dipahami dan dipraktikkan oleh santri, baik melalui kitab maupun pendekatan yang lebih sederhana, sebagaimana yang digunakan pesantren salaf.

Mengutip ayat “falau lâ nafara ming kulli firqatim min-hum thâ’ifatul liyatafaqqahû fid-dîn”, Kiai Zuhri menyebut santri sebagai kelas kader, bukan kelas umum umat Islam. Karena itu, kemampuan mereka harus melampaui masyarakat biasa. “Memondokkan anak itu sejatinya mengkader. Maka FA saja tidak cukup bagi seorang kader,” ujarnya.

Untuk itu, beliau mendorong agar santri diperkenalkan dengan kitab berbahasa Arab serta mendapatkan bimbingan dasar bahasa Arab. Bila memungkinkan, diberikan pula pelatihan baca kitab dengan metode yang mudah dipahami. “Santri kader harus punya kelebihan. Minimal mampu membaca kitab agar tidak keliru saat membaca ayat atau khutbah di masyarakat.”

Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri memberikan perhatian khusus pada program tahfiz. Beliau mengingatkan bahwa hafalan Alquran memiliki tanggung jawab berat, berbeda dengan hafalan kitab lainnya. “Kalau hafal Alfiyah lalu lupa, hanya kehilangan ilmu. Tapi kalau hafal Alquran lalu lupa, itu dosa.”

Karena itu, beliau meminta agar program tahfiz dilakukan dengan seleksi ketat, memastikan santri siap istiqamah menjaga hafalannya. Beliau juga mengingatkan agar program tahfiz tidak sampai menggeser atau mengabaikan FA. “Hafal Alquran itu baik, tetapi bisa saja seseorang hafal tanpa memahami dan mengamalkan isinya. Maka FA tetap harus diprioritaskan, termasuk bagi santri tahfiz.”

Di akhir tausiyah, Kiai Zuhri menegaskan bahwa para pembina dan guru harus memiliki kemampuan di atas mereka yang dibimbing. Hal ini penting agar proses pendidikan berjalan efektif dan berkualitas. “Kita jangan hanya memberikan apa adanya. Kita harus terus meningkatkan kemampuan.”

Sebagai upaya lanjutan, Kiai Zuhri membuka kemungkinan penyelenggaraan sorogan kitab bagi pengurus atau santri yang berminat, dengan menyediakan waktu khusus.

Tausiyah ini mempertegas arah besar pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid: mencetak kader umat yang kuat dalam ilmu agama, matang dalam praktik, dan mampu membaca literatur Islam secara langsung. Dengan memprioritaskan FA, memperkuat kapasitas bahasa Arab, serta memperketat program tahfiz, diharapkan seluruh santri memiliki landasan keilmuan yang kokoh sebagai kader yang siap berkhidmah di masyarakat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Capacity Building Pengurus, Kiai Zuhri Zaini Utamakan Keikhlasan dalam Pengabdian

berita.nuruljadid.net – Ada dua tema besar yang menjadi fondasi pengabdian di pesantren: peningkatan ruhul jihad (semangat berjuang atau mengabdi) dan peningkatan kapasitas diri. Dua hal ini sangat penting untuk suksesnya dan bermaknanya pengabdian.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, dalam tausiyahnya pada acara Capacity Building dalam Ruhul Jihad pada Rabu, 3 Desember 2025 di Aula I Pesantren. Kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi dan semangat pengabdian pengurus ini dihadiri oleh seluruh pengurus di tingkat satuan kerja hingga satuan pendidikan.

Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa pengabdian di pesantren bukan sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi merupakan upaya meneruskan perjuangan panjang dakwah para masyayikh hingga Nabi Muhammad SAW. Pesantren, menurut beliau, adalah lembaga yang menjalankan misi dakwah dan pendidikan sebagaimana yang dicontohkan Nabi.

“Tujuan dakwah adalah mengadakan perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dan dari yang baik menjadi lebih baik,” dawuhnya. Pesantren, lanjut beliau, lahir untuk melanjutkan misi kenabian dalam dakwah dan pendidikan, untuk membentuk manusia muslim yang salih, muslih, dan bermanfaat.

Selain dakwah dan pendidikan, menurut Kiai Zuhri, tugas pengurus pesantren juga adalah pelayanan kepada santri dan masyarakat. Tetapi dengan tujuan utamanya yaitu membekali santri dengan agama, tafaqquh fiddin.

“Ini bukan berarti menafikkan ilmu-ilmu yang lain, sebab agama tidak bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan dari sektor lain: ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya. Jadi tidak bisa berdiri sendiri, tetap memerlukan ilmu yang lain (IPTEK),” terang beliau.

Beliau mencontohkan bagaimana banyaknya mualaf hari ini tidak lepas dari interaksi mereka dengan media modern.

“Tanpa bertemu langsung, mereka bisa membaca teks-teks Islam dari media. Itu juga bagian dari dakwah,” imbuh beliau. Semua sektor, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki peran penting sebagai penopang dakwah dan pendidikan Islam.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa visi pesantren bukan semata menghasilkan individu yang kuat dalam ritual keagamaan, tetapi juga yang mampu berperan di tengah masyarakat. Beliau menguraikan panca kesadaran santri sebagai fondasi kaderisasi pesantren: beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa–bernegara, serta berorganisasi.

Menurut beliau, kesadaran beragama dan berilmu adalah fondasi utama yang berkaitan dengan Tuhan dan modal dalam beramal dan berkhidmah, sementara dua kesadaran berikutnya adalah ibadah sosial. “Tidak cukup tekun shalat dan dzikir, tetapi harus pula memberi manfaat bagi sesama,” terang beliau.

Kesadaran berorganisasi, lanjut beliau, merupakan bagian integral ajaran Islam. “La islama illa bi jamaah. Islam tidak sempurna bila dijalankan sendiri-sendiri. Kebersamaan adalah syarat keberhasilan perjuangan,” jelasnya.

Pengasuh menekankan bahwa pengabdian harus dijalankan dengan empat prinsip: kerja ikhlas, kerja keras, kerja baik (itqan), dan kerja sama. Keikhlasan menurut beliau bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Beliau juga mengingatkan bahwa tugas utama pengurus dan guru di pesantren adalah mengurus manusia, bukan barang, sehingga tanggung jawab moral dan spiritualnya jauh lebih besar. “Tugas untuk mengurus manusia agar menjadi baik adalah tugas yang sungguh mulia tapi berat. Di sinilah perlu kesungguhan kita di dalam memberikan pelayanan atau berkhidmah. Jika kita berkhidmah dengan ikhlas, pasti ada barokahnya. Barokah bukan hanya materi, tetapi bisa berupa kesehatan, ketenangan, dan kelapangan hidup.”

Kiai Zuhri menguraikan bahwa keberkahan adalah bertambahnya kebaikan, bukan semata-mata bertambahnya materi. Beliau mencontohkan kisah Kiai Abdul Madjid dari Mlandingan yang mampu memberi makan seribu santri setiap hari meski tidak memiliki sawah atau toko. “Itulah barokah, jangan dihitung dengan kalkulator,” ujarnya.

Menurut beliau, selama bekerja dengan niat lillah, Allah akan memfasilitasi dan memudahkan jalan pengabdian. “Kita bekerja karena Allah, atas pertolongan Allah, untuk mencari rida Allah. Lillah billah wailallah, wafillah.”

Maka, dawuh beliau, khidmah kita di pesantren ini adalah untuk mencari bekal masa depan, yaitu ketika kita menghadap pada Allah SWT.

“Tanggungjawab kita bukan hanya pada lembaga, tetapi juga kepada Allah SWT. Kita mengajar, jadi pengurus, dan jadi apa saja (bidang kepengurusan apapun, red.), adalah ibadah kepada Allah dalam bentuk sosial. Melaksanakan perintah itulah yang menjadikan ibadah. Mengajar, termasuk mengabdi, dalam lembaga pendidikan itu adalah perintah Allah,” terangnya.

Kiai Zuhri melanjutkan tausiyahnya dengan mengisahkan keteguhan Nabi Muhammad SAW dalam dakwah, termasuk peristiwa hijrah yang menunjukkan bagaimana pertolongan Allah hadir dalam setiap perjuangan.

“Kita harus bekerja keras dan baik, tetapi jangan mengandalkan kemampuan diri. Andalkan Allah,” pesannya.

Kegiatan Capacity Building ini diharapkan mampu memperkuat integritas, militansi, dan profesionalitas seluruh pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menjalankan amanah dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada santri maupun masyarakat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Mengurus Hati

penasantri.nuruljadid.net – Dalam pengajian Syarh al-Hikam, kami mengikuti bacaan Kiai untuk memahami pengertian kata, kalimat, dan meraih makna. Di halaman 30, kitab anggitan Muhammad bin Ibrahim ini mengulas soal hati. Inilah pusat yang menjadi penerang hidup manusia. Jika rusak, maka seluruh tubuh dan amal perbuatannya pun turut gelap. Uraian di bawah ini adalah pemahaman saya terhadap gagasan yang diterakan dalam kitab.

Kerusakan akibat kegelapan di sini disebabkan oleh banyak sifat-sifat tercela, yang setidaknya ada banyak perilaku yang menjadikan hati manusia keras, seperti sombong (ٱلْكِبْرُ), bangga diri (ٱلْعُجْبُ), dan pamer (ٱلرِّيَاءُ). Sifat terakhir ini ke belakangan sering muncul di media sosial dan televisi melalui pelbagai acara. Flexing, kata populer asal Inggris, sering didengar terkait kegemaran pesohor memamerkan hobi, rumah, dan mobil. Istilah yang lebih khusus untuk sifat ini dalam kitab tersebut adalah ٱلْمُبَاهَاةُ, pameran kemegahan.

Tentu, di era teknologi informasi, warga terpapar pada banyak godaan, baik material maupun hiburan melalui pelbaga sumber, seperti gawai dan televisi. Kini, ketenangan manusia tampak terlihat dari kegemarannya berselancar di lini masa untuk bertukar kabar dan menonton konten di TikTok, Youtube, dan Snack Video. Mereka memelototi layar selama berjam-jam tanpa tahu apa yang seharusnya dinikmati. Kegemaran ini bisa menyebabkan sifat buruk lain, yakni ٱلْغَفْلَةُ عَنِ ٱللَّهِ, lalai dari Allah. Betapa banyak orang memilih tetap memelototi telepon pintar kala azan berkumandang. Padahal ini adalah panggilan Tuhan.

Selanjutnya, pemenuhan kewajiban itu tidak menjadi satu-satunya tindakan yang dilakukan sebagai cara merawat hati, justru keimanan itu ditunjukkan dengan peduli pada orang lain. Meremehkan orang fakir (ٱسْتِحْقَارُ ٱلْفُقَرَاءِ) termasuk budi pekerti yang buruk. Tak pelak, nabi berdoa agar hidup dalam keadaan miskin, wafat dalam keadaan miskin dan berkumpul di hari kiamat bersama orang miskin.

Sementara, terkait dengan keadaan diri, sifat yang perlu dielakkan adalah cepat marah atau temperamental (ٱلْحِدَّةُ). Ini bertentangan dengan konsep emotional quotient (EQ), yang menekankan kecerdasan emosional. Untuk itu, di tengah tantangan kehidupan yang semakin kompleks, manajemen marah (anger management) mendesak untuk diajarkan pada generasi milenial, malah alpha. Anak-anak kini mudah meluapkah amarah hanya karena koneksi gawainya lambat atau tidak bisa mengakses internet.

Keadaan ini juga terkait dengan sifat lain, tergesa-gesa (ٱلْعُجْلَةُ), yang menyebakan generasi baru enggan melalui jalan panjang untuk meraih tujuan. Pelayanan serba instan, baik jasa maupun produk, turut menyumbang pada keinginan manusia untuk segera memenuhi hasrat dalam waktu yang relatif epat, yang justru menjadikan hati ini keras (ٱلْقَسْوَةُ). Tentu, keadaan ini juga menimpa generasi tua yang juga tergelincir pada pemenuhan tujuan serba kilat.

Dari sekian sifat buruk itu, individu menghalangi dirinya untuk sampai ke maqam ‘ubudiyyah hingga ia membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela di atas. Alangkah absurd, kala ia melakukan ibadah salat, puasa, dan naik haji, tetapi masih menyimpan keburukan dalam batinnya. Betapa sia-sia!

Oleh: Ahmad Sahidah (Dosen Pascasarjana Universitas Nurul Jadid)
Editor: Ponirin Mika

Perjalanan Mencari Pemahaman: Antara Hati, Pikiran, dan Iman

Curahan Hati Seorang Santri

penasantri.nuruljadid.net- Saya memulai perjalanan saya di pesantren tanpa pemahaman yang jelas tentang arti hati dan pikiran. Baru pada saat kelas 3 SLTA, saya mulai menyadari bahwa hati yang baik akan selalu menghasilkan kebaikan, sementara hati yang buruk akan menuntun pada kesalahan. Kesimpulannya, antara hati dan pikiran, hati adalah tempat yang menerima baik dan buruknya pikiran. Sementara itu, pikiran sering memperdebatkan apa yang diterima oleh hati.

Mengapa demikian? Karena jika hati dan pikiran bertentangan, maka permasalahan yang ada akan sulit untuk menemukan solusi. Sebelum memulai kehidupan di pesantren, saya merasa bingung mengenai jurusan yang ingin saya pilih. Saya berkeinginan untuk masuk jurusan RPL SMK yang kemudian dilanjutkan dengan mempelajari Al-Qur’an. Itu adalah niat tulus dari hati saya. Namun, takdir berkata lain, saya justru diterima di program UI MANJ.

Saat memasuki kelas 1, saya sering mendengar sebuah kata motivasi yang berbunyi: “Usaha tanpa doa adalah sombong, sedangkan doa tanpa usaha adalah bohong.” Pada awalnya, saya merasa bingung dan tidak sepenuhnya memahami maksud dari kalimat tersebut, karena tidak dijelaskan secara rinci. Namun, saat memasuki kelas 3, saya mulai bisa menangkap makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut.

Pemahaman saya terhadap kalimat tersebut datang dengan menghubungkan konsep agama dan ilmu pengetahuan. Ketika dilihat dari perspektif agama, kalimat itu terasa lebih mudah dipahami dibandingkan jika dianalisis hanya dengan pendekatan ilmu alam. Sebagai contoh, ketika guru saya menjelaskan kalimat ini, beliau menekankan pentingnya usaha dan doa yang harus dilakukan oleh seorang hamba. Salah satu bukti nyata dari usaha dan doa adalah ketika kita berusaha untuk rutin melaksanakan shalat tahajjud. Pada saat itu, kita akan diuji dengan kesulitan untuk menjaga keistiqomahan, karena iman kita kepada Tuhan mungkin masih belum cukup kuat.

Saya ingin menekankan pada kalimat “Usaha tanpa doa adalah sombong, sedangkan doa tanpa usaha adalah bohong” yang mengandung makna bahwa jika usaha kita tidak disertai dengan doa, maka kita seakan tidak percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, doa tanpa usaha adalah sia-sia, karena doa yang dilakukan tanpa keyakinan pada kekuasaan Tuhan juga tidak akan membuahkan hasil. Ini adalah pandangan saya dalam perspektif agama.

Selanjutnya, saya mencoba melihat kalimat tersebut dari sudut pandang ilmiah. Sebagai seorang murid, akan sulit bagi kita untuk memahami kalimat tersebut tanpa adanya kepercayaan yang kuat. Misalnya, dalam konteks pembelajaran, seorang guru harus terlebih dahulu memastikan bahwa muridnya memiliki pemahaman yang baik mengenai keyakinan agama. Jika tidak, maka penjelasan tentang usaha dan doa hanya akan terasa kosong. Dengan kata lain, guru harus memberikan pemahaman agama yang kuat sebelum membahas konsep-konsep lain yang berhubungan dengan kehidupan, termasuk usaha dan doa.

Jika seorang murid tidak yakin dengan keesaan Tuhan, maka ia akan kesulitan dalam mengamalkan doa dan usaha dengan konsisten. Dalam hal ini, peran guru sangat penting untuk memastikan bahwa pemahaman agama yang benar diterima dengan baik oleh setiap santri. Tanpa itu, murid akan merasa kebingungan dalam mengamalkan apa yang telah diajarkan.

Sekarang, izinkan saya berbagi pengalaman pribadi terkait kalimat “Usaha tanpa doa adalah sombong, sedangkan doa tanpa usaha adalah bohong.” Saat saya memasuki kelas 1 UI MANJ, saya merasa tertekan untuk mengikuti berbagai kegiatan. Namun, saya tetap menjalankan rutinitas tersebut. Saya sempat heran mengapa beberapa teman seangkatan saya tampak tidur saat pelajaran berlangsung. Meski demikian, saya berusaha untuk tidak mengikuti mereka dan terus berusaha untuk tetap fokus. Alhamdulillah, saya berhasil bertahan selama satu tahun.

Saat memasuki kelas 2, saya merasa tidak konsisten dalam melaksanakan shalat tahajjud, meskipun saya telah berniat untuk menjaga istiqomah. Banyak cobaan yang datang, membuat saya merasa kesulitan untuk tetap istiqomah. Hingga pada akhirnya, di kelas 3, saya merasa mulai menyerah untuk melaksanakan tahajjud secara rutin dan ingin merasa bebas. Oleh karena itu, saya berhenti melaksanakan tahajjud. Saya merasa bahwa kebebasan yang saya rasakan justru semakin menguatkan rasa keinginan untuk lepas dari kewajiban tersebut.

Namun, saya segera menyadari bahwa kebebasan yang saya nikmati di akhir masa pondok adalah suatu kesalahan besar. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk kembali kepada niat awal saya, yaitu berusaha menjaga istiqomah dalam menjalankan ibadah. Dalam sebulan terakhir, saya memohon agar diberikan petunjuk oleh Allah, dan Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya. Dengan petunjuk-Nya, saya kembali berada di jalan yang benar.

Setelah berkonsultasi dengan salah satu guru MANJ, beliau menyampaikan pesan yang sangat berarti. Beliau mengatakan bahwa pada akhir tahun, banyak santri yang bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubat nasuhah), tetapi tidak semua orang bisa menyadari kesalahan mereka. Kelas 3 merupakan waktu yang tepat untuk bertaubat dengan sepenuh hati. Taubat ini akan membawa efek positif, yakni mengingatkan kembali niat yang telah diikrarkan saat masih berada di kelas 1.

Kini, saya menyadari kesalahan saya di masa lalu, yaitu tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Namun, dengan bimbingan dan petunjuk Allah, saya kembali ke jalan yang benar. Saya berharap agar pengalaman ini dapat menjadi pembelajaran bagi saya dan orang lain, serta menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri.

Sebagai solusi, saya ingin memberikan saran kepada para guru dan pengurus pesantren untuk lebih menekankan pentingnya kepercayaan terhadap keesaan Allah dan pemahaman yang benar tentang taubat nasuhah. Seperti yang pernah disampaikan oleh Kyai Imdad Rabbani, “Jika kita mengutamakan kehidupan duniawi, maka kita akan kesulitan dalam mencapainya. Namun, jika kita mengutamakan kehidupan akhirat, dunia akan mengikuti dengan sendirinya.”

Semoga pesan ini dapat memberikan motivasi kepada semua santri dan guru untuk lebih giat dalam berusaha dan berdoa, serta menjadikan taubat nasuhah sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang lebih baik di masa depan.

Penulis  : Dimas Fajrul Falaq
Editor    : Ponirin Mika

*) Siswa Unggulan IPA (UI) Madrasah Aliyah Nurul Jadid sekaligus santri asrama daerah Sunan Giri (M) wilayah Syeikh Jumadil Kubro (01) pusat 

Kiai Imdad Ajarkan Logika dalam Pengajian Khataman Kitab

penasantri.nuruljadid.net- menjelang senja, para santri berkumpul di Masjid Jami’ Nurul Jadid untuk mengikuti pengajian khataman kitab bersama Kiai Imdad. Dalam kesempatan itu, beliau mengajarkan logika sebagai dasar dalam memahami ilmu, terutama dalam konteks keimanan.

Dalam pengajiannya, Kiai Imdad menjelaskan dua jenis logika, yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif adalah metode penalaran yang menghasilkan kesimpulan berdasarkan data atau premis spesifik yang diberikan. Metode ini sering digunakan dalam sains dan penelitian untuk menemukan hukum-hukum yang absah secara empiris.

Sedangkan logika deduktif merupakan sistem berpikir yang sistematis dan pasti, di mana kesimpulan diambil tanpa perlu observasi atau eksperimen karena maknanya bersifat mutlak dan bebas dari kontradiksi.

“Tanpa berpikir pun, akal kita tidak akan menyangkal jika separuh dari angka dua adalah satu,” ujar Kiai Imdad, memberikan contoh sederhana dalam pengajian tersebut.

Lebih lanjut, beliau memaparkan tiga jenis hukum dalam kajian logika:

Hukum Syar’i, yaitu hukum yang bersumber dari syariat Islam. Ilmu yang memuat hukum ini mencakup panduan agama seperti Furudhul Ainiyah (FA) dan aturan-aturan syariat lainnya. Hukum Syar’i terbagi menjadi lima: wajib, sunnah, makruh, mubah, dan haram.

Hukum Aqli, yaitu hukum yang berdasarkan akal sehat dan rasionalitas. Ilmu yang masuk dalam kategori ini meliputi akidah, nahwu, ushul fiqh, fisika, dan lainnya. Hukum Aqli terbagi menjadi tiga bentuk: wajib (pasti ada), mustahil (tidak mungkin ada), dan jaiz (bisa ada atau tidak ada).

Hukum Adi, yaitu hukum yang berdasar pada kebiasaan atau pengamatan empiris. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hukum ini meliputi sains, fiqh, dan bahasa. Hukum Adi ditetapkan melalui eksperimen, observasi, dan pengalaman berulang.

Syarat Ilmu dan Keimanan kepada Allah

Dalam pengajian khataman kitab ini, Kiai Imdad juga menjelaskan bahwa suatu ilmu harus memenuhi empat kriteria utama:

1. Berada dalam pikiran (terkonsep dengan jelas).
2. Keyakinan terhadap ilmu harus matang.
3. Sesuai dengan kenyataan atau realita.
4. Didasarkan pada dalil dan bukti.

Menurut beliau, ilmu adalah bentuk keyakinan yang diperoleh melalui argumentasi. Dalam hal ini, ada dua sifat utama dalam logika: sifat niscaya, yaitu kebenaran yang absolut dan tidak perlu pembuktian, serta sifat nadhari, yaitu keyakinan yang berdasarkan argumentasi dan membutuhkan penalaran.

Saat menjawab pertanyaan santri tentang memahami Allah, Kiai Imdad menegaskan bahwa mengenal Allah tidak berarti memahami hakikat-Nya secara langsung, melainkan mengetahui sifat-sifat yang wajib ada pada-Nya (wajib), sifat yang mustahil ada pada-Nya (muhal), dan sifat yang mungkin ada pada-Nya (jaiz).

“Mengenal Allah adalah kewajiban utama. Sebab, semua kewajiban dalam agama bergantung pada keyakinan terhadap-Nya,” jelasnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kualitas iman melalui dua cara: dzikir kepada Allah dan merenungi ciptaan-Nya. Dalam kajian akidah, beliau menekankan bahwa keyakinan harus didasarkan pada hukum aqli atau argumentasi rasional sebelum menerima wahyu.

Sebagai penutup, Kiai Imdad merekomendasikan buku “Logika Keimanan” karya Ahmad Ataka, yang membahas bukti logis kebenaran akidah Islam dalam perspektif sains modern.

Melalui pengajian khataman kitab ini, beliau mengajak santri untuk menguatkan keimanan dengan pemahaman logika yang benar.

Pewarta : Moh. Wildan Dhulfahmi
Editor     : Ponirin Mika

Basmalah dan Keikhlasan: Pelajaran dari Tafsir Surah Al-Fatihah oleh Kiai Najiburrahman Wahid

penasantri.nuruljadid.net- Lafadz Basmalah yang tercantum dalam Surah Al-Fatihah mengajarkan manusia tentang arti keikhlasan. Hal ini disampaikan oleh Wakil Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kiai Najiburrahman Wahid, saat mengampu kitab Tafsirul Fatihah di Masjid Jami’ Nurul Jadid pada Selasa (04/03).

“Basmalah mengajarkan kita tentang keikhlasan. Segala sesuatu yang kita lakukan harus diniatkan untuk mengharap rida Allah, bukan selain-Nya. Lafadz Basmalah juga menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang murni, bukan karangan Nabi Muhammad,” tutur Kiai Najib.

Dalam ayat kedua Surah Al-Fatihah, الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (Ar-Rahmânir-Rahîm), disebutkan bahwa salah satu bukti rahmat Allah kepada seluruh makhluk-Nya adalah pemberian kehidupan dan kesehatan tanpa mereka memintanya.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Najib juga menegaskan bahwa menafsirkan Al-Qur’an tidak boleh sembarangan. Para ulama yang menyusun kitab tafsir memiliki dasar keilmuan yang kuat dan metodologi yang jelas. Oleh karena itu, santri diingatkan agar tidak mengarang tafsir sendiri tanpa ilmu yang cukup.

Selain itu, Nabi Muhammad menganjurkan umatnya untuk mengucapkan Basmalah sebelum memulai pekerjaan baik, agar setiap amal yang dilakukan bernilai ibadah. Kiai Najib juga mengajarkan kepada para santri tentang anjuran dalam shalat Tarawih.

“Karena surah pertama yang diturunkan adalah Al-‘Alaq, dalam Syarah Fathul Mu’in, kita dianjurkan membaca surah tersebut pada rakaat pertama shalat Tarawih,” jelasnya.

Dalam ceramahnya, Kiai Najib juga membahas perbedaan pandangan antara Muslim dan non-Muslim terhadap Al-Qur’an. Umat Islam meyakini bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, sementara sebagian orang kafir menganggapnya sebagai karya Nabi Muhammad. Karena itulah, banyak pemikir Barat mengakui Nabi Muhammad sebagai sosok jenius.

Lebih lanjut, Kiai Najib menjelaskan bahwa makna khalifah bukan sekadar pemimpin dalam arti politik, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan alam semesta. Manusia diberikan akal dan wahyu sebagai pedoman dalam menjalankan tugasnya di bumi.

“Allah memberikan manusia potensi akal dan wahyu agar mereka dapat menjaga harmoni dalam kehidupan. Jika salah satu diabaikan—baik akal tanpa wahyu maupun wahyu tanpa akal—maka keseimbangan akan terganggu,” tegasnya.

Dalam konteks ini, Kiai Najib mengingatkan santri bahwa menjalani hidup dengan ikhlas bukan berarti pasif dan menerima keadaan tanpa usaha. Sebaliknya, keikhlasan yang diajarkan dalam Basmalah adalah motivasi untuk terus berbuat baik tanpa mengharapkan pujian atau balasan duniawi.

Ia juga menekankan pentingnya meneladani Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam cara berdakwah. Menurutnya, salah satu faktor utama keberhasilan dakwah Nabi Muhammad adalah kelembutan dan kasih sayang yang sejalan dengan sifat Ar-Rahmân dan Ar-Rahîm yang terkandung dalam Basmalah.

“Islam tersebar bukan karena paksaan, tetapi karena keteladanan Rasulullah dalam bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang. Ini pelajaran besar bagi kita semua dalam berdakwah dan berinteraksi dengan sesama,” jelasnya.

Di akhir ceramahnya, Kiai Najib kembali mengingatkan para santri bahwa setiap aktivitas yang dimulai dengan Basmalah memiliki dimensi ibadah. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya selalu mengaitkan setiap perbuatannya dengan niat karena Allah.

“Jika kita benar-benar memahami makna Basmalah, maka kita akan selalu merasa diawasi oleh Allah dan berusaha menjalani hidup dengan penuh keikhlasan serta tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi,” pungkasnya.

Pewarta : Moh. Wildan Dhulfahmi
Editor     : Ponirin Mika

Kunjungi ‘Rumahnya’ Sejarah NU di Expo Pendidikan HARLAH NU ke-102

penasantri.nuruljadid.net– Tampilan yang unik memikat perhatian pengunjung stan yang satu ini. Berbeda dengan stan-stan lainnya yang memamerkan produk unggulan atau berbagai jenis street food, stan ini menyuguhkan koleksi foto-foto sejarah para pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Foto-foto para Muassis NU, dari KH. Hasyim Asy’ari yang dikenal sebagai pendiri NU hingga KH. Umar Burhan, sang arsiparis NU, menghiasi dinding stan.

Di tengah stan, terdapat meja dengan deretan arsip yang memamerkan dokumen-dokumen bersejarah NU. Beberapa arsip tersebut tercetak dalam berbagai bahasa, mulai dari Bahasa Indonesia dengan ejaan lama, hingga Bahasa Belanda yang digunakan pada masa penjajahan. Teks-teks arsip ini menunjukkan seberapa jauh perjalanan panjang sejarah NU.

Begitu memasuki stan, tim redaksi disambut ramah oleh dua orang penjaga stan, M. Ali Yusuf dan Gus Yunus. Meski tampak biasa-biasa saja, redaksi segera menyadari bahwa mereka bukan orang sembarangan. M. Ali Yusuf dikenal sebagai pencetus ide stan pameran Muassis NU dan Rumah Arsip, sekaligus penjaga stan.

Meskipun pengunjung stan ini tidak sebanyak stan lain, para pengunjung yang datang terlihat berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pengurus NU hingga masyarakat umum yang tertarik dengan sejarah. Tim Redaksi kemudian melanjutkan liputannya dan mendapati bahwa Rumah Arsip NU yang ada di stan ini merupakan inisiatif dari KH. Hisni, putra KH. Umar Burhan, sang arsiparis NU yang banyak memberikan kontribusi terhadap pelestarian arsip sejarah NU.

“Arsip-arsip ini berasal dari catatan KH. Umar Burhan dan KH. Wahid Hasyim, yang tergabung dalam Tim Arsip NU. Saat ini, arsip-arsip tersebut hampir mencapai tiga lemari dan disimpan di kediaman KH. Umar Burhan di Gresik,” kata M. Ali Yusuf.

Ia melanjutkan, “Rumah Arsip NU ini bertujuan untuk menggali dan menyimpan data primer sebelum dan sesudah berdirinya NU. Tujuannya adalah mengedukasi masyarakat, khususnya nahdliyin dan nahdliyat, untuk mengetahui sejarah NU yang sesungguhnya serta mengembalikan marwah para Muassis NU.”

Selain menampilkan arsip-arsip bersejarah, Rumah Arsip NU juga telah mencetak arsip-arsip tersebut menjadi beberapa buku, seperti H. Umar Burhan Sang Arsiparis NU dan Minal Muktamar Ilal Muktamar (Pidato-Pidato Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari).

Dalam penjelasannya, M. Ali Yusuf yang juga merupakan anggota Banser menambahkan, “NU tidak berdiri begitu saja. Di balik berdirinya NU, terdapat perjuangan besar. NU berdiri untuk kemaslahatan umat dan kemerdekaan Indonesia. Proses berdirinya NU juga melibatkan berbagai elemen, termasuk keluarga besar Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Kudus, serta jaringan pesantren dan saudagar.”

Dijelaskan pula bahwa meskipun NU didirikan pada 1926, organisasi ini baru memperoleh legalitas dari pemerintah Belanda pada tahun 1930. Proses berdirinya NU berawal dari beberapa organisasi dan jaringan, seperti Serikat Dagang Ampel, Ta’mirul Masajid, Jam’iyah Pesantren, dan banyak lagi.

“Proses berdirinya NU memang tidak mudah, namun dengan adanya embrio-embrio tersebut, NU terus berjuang hingga kini,” ujar Ali Yusuf menutup penjelasannya.

Pewarta : Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor     : Ponirin Mika

Revolusi Pembelajaran Sejarah di Era Milenial

penasantri.nuruljadid.net – Kita telah memasuki abad ke-21, di mana generasi yang lahir di era ini sering disebut sebagai kaum milenial. Di era ini, kaum milenial tidak lagi terikat pada satu ideologi tertentu. Sebaliknya, mereka lebih terbuka untuk mengeksplorasi berbagai pemikiran dan gagasan demi menjawab tantangan zaman yang dihadapi.

Kaum milenial juga identik dengan modernisasi, seperti teknologi canggih dan internet cepat yang memudahkan akses informasi serta penyelesaian berbagai persoalan. Tak heran, banyak yang berpendapat bahwa siswa yang fokus pada ilmu sains lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sementara itu, siswa yang mendalami ilmu sejarah sering dianggap kesulitan bersosialisasi dengan modernisasi tersebut.

Hal ini sebagian besar disebabkan oleh metode pengajaran sejarah yang masih konvensional, di mana guru menjelaskan dan siswa mendengarkan. Sering kali, siswa hanya dituntut untuk menghafal peristiwa sejarah, lengkap dengan waktu dan lokasinya, tanpa adanya pendekatan yang lebih praktis. Akibatnya, pembelajaran sejarah terasa membosankan karena minimnya interaksi langsung, seperti sentuhan praktikum dan tinjauan terhadap masa lalu yang mereka pelajari.

Akibat dari metode ini, minat siswa terhadap sejarah kian menurun. Jika kondisi ini dibiarkan, kita akan menghadapi masalah serius: generasi milenial yang kehilangan jejak sejarah bangsanya. Pada akhirnya, mereka bisa saja tidak lagi mengenali identitas bangsa mereka sendiri.

Lebih dari itu, pandangan siswa terhadap pelajaran sejarah bisa berubah drastis. Mereka mungkin menganggap sejarah sebagai sesuatu yang tidak relevan dengan masa depan mereka, bahkan mungkin hanya melihatnya sebagai dongeng untuk anak-anak sebelum tidur.

Padahal, sejarah memegang peranan penting dalam membentuk kesadaran generasi muda. Tanpa pemahaman sejarah, generasi penerus tidak akan tahu asal-usul bangsanya dan bagaimana bangsa ini berkembang dari masa ke masa.

Tak cukup sampai disitu, jika diamati, sejarah mempunyai manfaat yang begitu besar apabila siswa tersebut mampu mengkolaborasikan isi moral yang terkandung didalamnya dengan kehidupan kesehariannya. Dengan melihat serta belajar dari masa lalu, siswa akan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa-masa mendatang. Dengan belajar sejarah, siswa akan mampu mengkaji semua hal yang terjadi di sekitarnya.

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, menekankan pentingnya sejarah dengan semboyannya yang terkenal, “Jasmerah” – jangan sekali-kali melupakan sejarah. Bahkan jauh sebelum era milenial, Cicero (106-43 SM), seorang sejarawan dan filsuf klasik, menyebut sejarah sebagai “guru kehidupan” atau historia magistra vitae.

Melihat fakta-fakta tersebut, sepatutnya guru sejarah harus bertekad kuat untuk mengubah pendekatan pengajaran mereka, dari metode konvensional menjadi lebih konstruktif. Meski bukan hal mudah, perubahan ini diperlukan agar pembelajaran sejarah lebih relevan bagi siswa. Salah satu tantangan terbesar adalah kenyamanan guru dengan metode lama, yang sudah menjadi kebiasaan sejak mereka masih menjadi siswa.

Selain guru, sekolah juga perlu berperan aktif dalam menjaga mempertahankan mata pelajaran yang berada di ambang kepunahan itu. Dengan kolaborasi antara guru dan sekolah, siswa tidak hanya akan mendapat teori, tetapi juga pengalaman langsung. Misalnya, melalui kunjungan studi ke situs-situs bersejarah atau museum. Guru juga bisa memanfaatkan media audiovisual untuk memperkaya pembelajaran, sehingga siswa dapat berimajinasi lebih jauh tentang kehidupan masa lampau.

Dengan pendekatan ini, pelajaran sejarah akan kembali menarik perhatian siswa. Sejarah tidak lagi dianggap sebagai pelajaran yang membosankan atau tidak relevan. Perlahan tapi pasti, siswa akan menyadari pentingnya sejarah sebagai pelajaran yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan identitas bangsa.

 

Penulis: Moh. Wildan Dhulfahmi*
Editor: Ahmad Zainul Khofi

*) Siswa Unggulan IPA (UI) Madrasah Aliyah Nurul Jadid, Wakil Pimred Majalah Kharisma edisi 35 dan Coordinator Religion Devision Intteligent Student Organization (ISO). 

Lantunan Simtudduror di Dinding Nurul Jadid Menguras Rindu Lautan Santri

penasantri.nuruljadid.net – Ada banyak cara meraih berkah, dan santriwati Wilayah Al-Hasyimiyah memilih mengawali rutinitas pesantren dengan lantunan Maulid Simtudduror. Seakan tak cukup hanya mengucap kata, mereka menyerahkan segenap jiwa pada pujian yang mengalir malam itu, seiring selesainya liburan dan kembalinya perjalanan menjadi santri di pesantren.

Suasana pasca-liburan masih menggantung di langit-langit pesantren. Para santriwati yang baru kembali dari rumah, membawa rindu yang terburai di setiap jejak langkah mereka. Meski jiwa seolah masih tertinggal di kampung halaman, mereka tahu bahwa panggilan pesantren harus dijawab. Maka, hari-hari berlalu dengan cerita-cerita singkat tentang rumah, tentang keluarga, tentang segala hal yang tak mereka temui di balik dinding asrama.

Senin, 23 September. Malam itu, Wilayah Al-Hasyimiyah masih riuh dengan tawa para santriwati. Usai salat Isya berjamaah, mereka bercengkrama di pelataran asrama, melepaskan sisa-sisa beban yang mereka bawa dari rumah. Tetapi, keasyikan itu terhenti sejenak ketika suara pengumuman mengalun dari pengeras suara kantor wilayah, memecah malam yang mulai meremang.

“Bagi sahabat-sahabati santri Wilayah Al-Hasyimiyah, bahwasanya pada malam ini akan dilaksanakan pembacaan Simtudduror sebagai pembuka dan awal pengaktifan kegiatan wilayah,” suara itu mengundang mereka untuk berkumpul.

Tanpa aba-aba, para santriwati bergegas. Buku kecil Maulid Simtuddhuror yang biasa tergeletak di atas rak dalam lemari baju, kini digenggam erat. Mereka berjalan keluar kamar, memenuhi halaman daerah masing-masing. Di bawah langit yang pekat, mereka duduk berbaris, bersiap membuka lembaran-lembaran berisi pujian pada Baginda Nabi.

Kala lantunan Simtudduror mulai terdengar dari pengeras suara. Satu per satu bait mereka lantunkan, penuh ritme, seirama dengan nafas dan detak jantung. Kata demi kata mereka lafalkan, bukan sekadar dengan lisan, tapi juga dengan hati. Puji-pujian pada Nabi mengangkasa, meresap ke setiap sudut, membangun suasana yang tak hanya khidmat, tapi juga mendalam.

Sampai tiba pada mahalul qiyam, suasana seketika berubah, semakin khusyuk. Mereka serentak berdiri, menghadap kiblat, mata terpejam, seakan menyambut kehadiran Baginda Nabi yang mereka rindukan. Tak ada suara lain selain lantunan shalawat yang bergema, mengalirkan rasa syukur dan harapan di antara deru malam.

Seusai suasana yang khusyuk itu, Zahiyah Adiba, kepala Wilayah Al-Hasyimiyah, berdiri mengawasi. Di balik sorot matanya, tersimpan harapan besar agar pembacaan Simtudduror ini menjadi pemicu semangat bagi para santri.

“Kita semua berharap, seluruh kegiatan dari awal hingga akhir mendapatkan berkah. Salah satu upayanya adalah dengan menghadiahkan shalawat kepada Nabi di awal setiap langkah,” tuturnya.

Adiba mengakui, mengatur santriwati yang baru kembali dari liburan bukanlah perkara mudah. Rindu yang tersisa masih kuat, dan disiplin pun kadang mengendur. Namun, ia merasa terbantu dengan adanya divisi kepengurusan yang solid.

“Alhamdulillah, pengurus di sini menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan mereka, semuanya terasa lebih ringan,” ujarnya.

Malam itu, Wilayah Al-Hasyimiyah tak hanya memulai kembali aktivitas pesantren, tapi juga menapaki langkah baru dengan semangat yang telah diperbarui. Di antara lantunan shalawat, terajut niat dan harapan untuk terus belajar, bukan hanya tentang ilmu, tapi juga tentang kehidupan yang penuh makna.

 

Penulis: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi

ANTARANEWS: KH Zaini Mun’im, Pejuang dan Pendiri Ponpes Nurul Jadid

Probolinggo (ANTARA) – Mandat ulama adalah pewaris nabi dalam menyebarkan firman-firman Ilahi yang tertulis maupun yang tak tertulis. Sebagai pewaris nabi, ulama tak cukup hanya berjuang melalui mimbar-mimbar khutbah, melainkan pula harus memiliki sikap berani melakukan perubahan dan pembaruan demi mewujudkan cita-cita ideal dari Nabi Muhammad Saw, yaitu menjadikan umat yang paripurna.

KH. Zaini Mun’im, selain dikenal sebagai figur alim, juga kisah perjuangannya dalam sejarah panjang kemerdekaan Indonesia. Ulama ini merupakan sosok yang berani memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak, sehingga mampu mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih sejahtera. Kiai Zaini Mun’im adalah arketipe ulama yang tidak hanya menerjemahkan Islam dalam spektrum ubudiyah, melainkan menjadi realitas di kehidupan.

Kiai Zaini lahir tahun 1906 di Desa Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura, dari pasangan KH Abd Mun’im dan Nyai Hamidah. Dari garis keturunan ayahnya, Zaini merupakan keturunan raja Sumenep yang silsilahnya sampai kepada Sunan Kudus. Sementara dari garis ibu, ia adalah keturunan dari raja-raha Pamekasan. Ia adalah seorang bangsawan yang bergelar Raden yang sangat disegani di Madura.

Jejak Kiai Zaini mendirikan pesantren menunjukkan bahwa spirit juang beliau dalam mendobrak kohesi sosial yang awalnya jauh menyimpang dari ajaran suci (sesat), kemudian mampu menggiring masyarakat menjadi kaum agamis yang dekat dengan nilai-nilai Ilahi.

Namanya perjuangan, tentu tidak mudah. Saat mendirikan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Kiai zaini harus berjuang menghadapi berbagai ancaman dari binatang buas dan orang yang tidak sudi atas kehadirannya. Namun tak ada rasa getir sedikit pun di hatinya. Perjungannya berhadapan dengan sistem sosial yang kala itu masih porak poranda. Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, yang kini menjadi markas Ponpes Nurul Jadid, zaman dulu tidak seperti saat ini.

Pada masa itu, sebelum bernama Karanganyar, desa ini dikenal dengan sebutan Tanjung. Nama yang diambil dari sebuah pohon besar yang berdiri di tengah-tengah desa. Masyarakat setempat menganggap pohon tersebut mempunyai kelebihan dan keistimewaan. Tak sedikit dari masyarakat setempat menjadikan pohon tanjung itu sebagai sesembahan, yang pada akhirnya tanjung diabadikan sebagai nama desa.

Pada mulanya, desa kecil yang terletak di pesisir di Kecamatan Paiton ini, sebagian besar tanahnya tidak dapat dimanfaatkan. Sebab, salah satunya banyak binatang buas yang mendiami desa ini. Di sisi lain, kehidupan penduduk desa juga sangat memperihatinkan. Mereka menganut animisme dan dinamisme yang ditandai dengan keberadaan beberapa pohon besar yang tidak boleh ditebang karena diyakini sebagai pelindung mereka.

Upaca ritual dalam bentuk pemberian sesajen merupakan hal lazim saat itu, utamanya di momen-momen tertentu, seperti hajatan dan ketika musim tanam tiba. Konon, sesajen tersebut dipersembahkan kepada roh yang diyakni berada di sekitar pohon besar dengan memiliki kekuatan yang di luar nalar manusia. Beberapa masyarakat melakukan upacara ritual dengan meletakkan ayam di setiap titik yang dianggap sakral. Selain itu, setiap tahun, mereka mengadakan selamatan laut dengan melarung kepala kerbau.

Dalam pergaulan masyarakatnya, marak sekali terjadi perjudian, perampokan, pencurian dan tempat pekerja seks komersial (PSK). Kehidupannya cenderung hedonis, dalam keyakinan mereka, kesenangan dan kebahagiaan hanya terdapat dalam perbuatan yang penuh dengan kemaksiatan dan kemungkaran. Kepedulian masyarakat terhadap alam sebagai sumber kehidupannya pun sangat memprihatinkan. Dengan demikian, waktu itu Karanganyar dicap sebagai desa mati.

Di tengah situasi dan kondisi sosial masyarakat yang demikian, KH. Zaini Mun’im, setelah mendapatkan restu dan perintah dari KH. Syamsul Arifin, ayah dari KH. As’ad Syamsul Arifin (Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo) memutuskan untuk menetap dan bertempat tinggal bersama keluarga di desa itu.

Dengan berbekal satu batang lidi, beliau berjalan menelusuti tanah yang sudah menjadi miliknya. Binatang buas yang mendiami tanah tersebut lari menuju utara desa, yaitu di daerah Grinting. Kurang lebih satu tahun beliau membabat hutan, mendirikan rumah, membangun surau kecil, dan mengubah hutan menjadi tegalan.

Awalnya, kedatangan Kiai Zaini Mun’im ke Desa Karanganyar bukan bermaksud untuk mendirikan pondok pesantren, melainkan untuk mengisolir diri dari keserakahan dan kekejaman kolonial Belanda. Sejatinya, beliau ingin melanjutkan perjalanan ke pedalaman Yogyakarta bergabung dengan teman-teman seperjuangannya.

Cita-cita Kiai Zaini untuk menyiarkan agama Islam, kala itu melalui Departemen Agama (Depag) tidak tersampaikan, sebab sejak beliau menetap di Karanganyar, ada dua orang santri (Syafi’uddin dan Saifuddin) yang datang kepada beliau untuk belajar ilmu agama.

Kedatangan kedua santri tersebut oleh beliau dianggap sebagai amanat dari Allah yang tidak boleh diabaikan. Dan mulai saat itu beliau menetap bersama kedua santrinya.

Seiring waktu, suarau kecil milik Kiai Zaini terus berkembang. Santri beliau terus bertambah. Pendidikan dan bimbingan yang beliau berikan tidak sebatas di lingkungan pesantren saja, namun berhasil membawa perubahan budaya dan kondisi masyarakat Desa Karanganyar menjadi kawasan dengan tatanan sosial yang tertata lebih baik.

Kini Pondok Pesantren Nurul Jadid sudah memiliki belasan ribu santri dari berbagai segala penjuru negeri, bahkan dari mancanegara. Sang pendobrak kesesatan yang bernama Kiai Zaini Mun’im telah lama berpelukan dengan kekasih-Nya. Kiai Zaini wafat pada 26 Juli 1976, namun semangatnya sebagai mujaddid dan mujahid terus mengalir pada santri-santrinya.

*) Penulis: Ahmad Zainul Khofi merupakan mahasiswa semester VI Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton, Probolinggo, Jatim, dan pegiat literasi

ANTARANEWS: Kiai Zaini Mun’im dan Kesadaran Masa Depan Indonesia

Probolinggo (ANTARA) – Mungkin terlalu berlebihan kalau mengatakan bahwa Madura merupakan pulau keramat yang telah banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa. Banyak ulama-ulama Nusantara yang menimba ilmu di pulau itu, tepatnya ke Kiai Kholil Bangkalan.

Moqsith Gazali pernah menyampaikan bahwa tidak terlalu banyak orang yang belajar pada Kiai Kholil, kecuali hanya sekitar 25 orang. Daari 25 orang itu kemudian menjadi ulama yang mengasuh pondok pesantren besar di Indonesia, salah satunya adalah Kiai Haji Zaini Mun’im.

Kiai Zaini adalah ulama yang memiliki kesadaran masa depan. Tak banyak ulama pesantren yang memiliki pandangan masa depan terhadap keberdaan bangsa Indonesia dan dunia.

Sebagian dari mereka bisa di kata hanya fokus memikirkan berkait masa depan pesantren dan santri-santrinya. Karena itu Kiai Zaini terus mendidik dan menjaga eksistensi pesantrennya dari ancaman-ancaman budaya-budaya yang akan mengikis warisan luhur yang menjadi ciri khas pesantren. Bisa dikatan ia lebih memilih bertahan daripada menyerang.

KH. Zaini Mun’im adalah ulama asal daerah Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura yang juga pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Dalam kisahnya, Kiai Zaini seorang yang tak lelah memikirkan nasib bangsa Indonesia untuk keluar dari cengkeraman kolonialisme yang terus menyerang terhadap anak bangsa.

Kegelisahan kiai Zaini muda terus menghantui perjalanan hidupnya. Diskusi dan perbincangannya berkait perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia menjadi topik obrolannya saban waktu dengan tokoh lainnya.

Meskipun dirinya lahir dari rahim pesantren yang juga dididik oleh pendidikan pesantren, namun semangat nasionalismenya terpatri sangat kuat. Kiai Zaini muda penuh dengan gagasan berkait kemerdekaan Indonesia, dan kebangkitannya melawan penjajah yang “menghegemoni” kekayaan dan kemerdekaan anak bangsa Indonesia.

Perlawanan demi perlawanan ia lakukan hingga pada akhirnya Belanda mencium keberanian Kiai Zaini dan penjajah dari Negeri Kincir Angin itu ingin membumihanguskan Kiai Zaini dengan segala upaya dan kebiadabannya.

Kepergiannya dari Pamekasan menuju Pulau Jawa sebagai bukti bahwa Kiai Zaini dikejar-kejar oleh Belanda untuk dibungkam agar tidak melawan dan supaya dapat memuluskan cita-cita biadab Belanda untuk menguasai Bumi Nusantara ini. Tipikal Kiai Zaini bukan seorang pengecut dan penakut, sehingga semangatnya tidak kendor saat mendengar ancaman demi ancaman dari kaum penjajah.

Kiai Zaini seorang ulama pemberani dan pejuang yang merelakan hidupnya untuk berjuang menegakkan kebenaran meski nyawa menjadi taruhannya. Ada ungkapan yang membakar semangat anak bangsa dan membuktikan bahwa dirinya seorang nasionalis yang hebat, yaitu “Orang yang tinggal di Indonesia dan tidak berjuang ia telah melakukan perbuatan maksiat”.

Pernyataan ini sebagai bukti bahwa Kiai Zaini bukan tipe orang yang berpangku tangan melihat ketidakadilan di masyarakat. Semangat totalitas dalam memperjuangkan tanah kelahiran dari “kebiadaban” penjajah telah menjadi saksi sejarah dalam perjalanan hidupnya.

Sahdan, semangat berjuang yang dimiliki Kiai Zaini bukan tanpa dasar. Dengan kealimannya, semua tindakannya selalu berdasar pada ilmu, yaitu dalam agama Islam mencintai negara itu bagian dari iman. Keimanan ini yang mendorong Kiai Zaini untuk terus bergerak, berjuang demi kesejahteran dan keadilan bagi seluruh rakyat.

Bertauhid yang benar tidak cukup hanya meyakini dalam hati dan mengikrarkan melalui lisan, tapi harus terimplimentasikan melalui perbuatan. Keimanan yang hanya cukup berada dalam kepercayaan tanpa amal, ibarat pohon yang tidak berbuah.

Dorongan tauhid pada pergerakan dan perlawanan Kiai Zaini tergambar melalui perjuangannya, baik melalui politik, pendidikan, sosial, dan aktivitas kemasyarakatan.

Meskipun kini Kiai Zaini telah menghadap Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, jejak juangnya terus berdenyut di Bumi Indonesia bersama dengan melajunya Pondok Pesantren Nurul Jadid yang didirikannya. Pondok yang terus berkarya dan berbakti pada agama, bangsa dan negara. Di sini lahir para pejuang Islam yang melanjutkan cita-cita luhur kiai Zaini.

Pondok Pesantren Nurul Jadid yang menjadi kawah candradimuka generasi muda Muslim, terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa mengorbankan karakternya sebagai lembaga pendidikan, dakwah, kader dan sosial.

Seiring dengan perkembangan zaman, pesantren ini berkontribusi banyak pada penyediaan SDM bekualitas untuk ikut berpartisipasi mewujudkan pesantren dan Indonesia yang lebih unggul dan berkualitas.

Pesantren ini membentuk pondasi yang kuat bagi para santri melalui trilogi dan panca kesadaran sebagai prinsip dasar dalam menciptakan, mendidik dan mengkader agar lahir manusia yang utuh dan paripurna.

 

*) Ponirin Mika adalah Ketua Lakpesdam Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Paiton dan anggota Community of Critical Social Research

Pewarta: Ponirin Mika*)
Editor : Masuki M. Astro