KH Zaini Mun’im Pribadi yang Tawadhu dan Bersahaja

Oleh : KH. Tauhidullah Badri

nuruljadid.net- Dalam acara Haul Masyasyikh Ponpes Nurul Jadid kemarin, Kyai Ramdhan Siroj (mantan Bupati Sumenep) menyebutkan tentang manaqib Hadratus Syekh Kyai Haji Zaini Mun’im pendiri Ponpes Nurul Jadid Paiton. Beliau seorang yg Aalim allamah, bersahaja, sederhana, ramah dan yg paling menonjol adalah sifat tawadhu’nya.

Ketawadhuan beliau bukan hanya terlihat dalam bentuk ungkapan tapi tercermin langsung dari perilakunya. Beliau adalah keteladanan dalam sifat tawadhu’. Diantara ketawadhu’annya terlihat dari ungkapan beliau, diantaranya:

“Saya kesini (ke Paiton) tidak niat untuk jadi kyai, saya kesini cuma ngungsi.” “Bhuleh nikoh kakanthoh bhenih niat dhettih kyaih, bhuleh ngungsi”

Sifat tawadhu’ terlahir  diantaranya karena ada kesadaran akan siapa dirinya dan jg krn betul² mengenal siapa tuhanya, sbgmn dalam ungkapan:

ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Imam Suyuthi mengutip pendapat Imam Nawawi yg menyebutkan kedudukan maqalah ini:

وَقَدْ سُئِلَ عَنْهُ النَّوَوِيُّ فِي فَتَاوِيهِ فَقَالَ : إِنَّهُ لَيْسَ بِثَابِتٍ.

“Imam Nawawi pernah ditanya terkait ungkapan tersebut di dalam kumpulan fatwanya, lantas ia menjawab, “Maqalah trsbt bukan hadits Nabi,’” (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Hawi lil Fatawa, Beirut, Darul Fikr, 2004, juz II, halaman 288).

 

Imam As-Sam’ani mengatakan ini maqalah ulama sufi Syekh Yahya bin Muadz Ar-Razi.

Al-Qur’an banyak menyebut tentang ciri² atau indikator karakter tawadhu’, diantaranya:

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا

“Adapun hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di Bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam (dan menebarkan salam/ kedamaian).”

(QS. Al-Furqan 63)

 

Tawadhu’ adalah akhlak para nabi, sbgmn Imam Jalaluddin al-Suyuthi menyebutkan hadis dalam kitab Lubabul Hadits: 

التَّوَاضُعُ مِنْ أَخْلَاقِ الْأَنْبِيَاءِ وَالتَّكَبُّرُ مِنْ أَخْلَاقِ الْكُفَّارِ وَالْفُرَاعِنَةِ   

“Tawadhu merupakan bagian dari akhlaknya para Nabi, sedangkan sombong adalah akhlaknya orang-orang kafir dan para firaun.”

Rasulullah SAW menganjurkan:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu sehingga kalian tidak merasa bangga diri lagi sombong terhadap orang lain dan tidak pula berlaku aniaya terhadap orang lain.” (HR. Imam Muslim)

Dgn tawadhu’ tidak menjadikan hina, sebaliknya derajatnya semakin ditingikan, sbgmn hadis yang diriwayatkan Imam Muslim:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Dan tidaklah seorang tawadhu’ karena Allah SWT (bukan pencitraan), Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Imam Hasan Al-Basri berkata:

هل تدرون ما التواضع؟ التواضع: أن تخرج من منزلك فلا تلقى مسلماً إلا رأيت له عليك فضلاً .

“Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

Ketawadhuan bukan hanya menjadi karakter Kyai Zaini, tapi jg menjadi karakter yg menular, sehingga bisa kita jumpai jg kerawadu’an ini ada pada putra² atau dzurriyah beliau. Keteladanan beliau ternyata jg menular kepada dzurriyah, santri, masyrakat, dan semoga jg menular kepada kita para pecinta beliau. Aamiin.

Selamat Harlah PP Nurul Jadid. Jayalah Nurul Jadid,  Jayalah Semua Pondok Pesantren, bermanfaat selamanya untuk ummat, agama dan bangsa. Aamiin.

 

Semoga bermanfaat. Aamiin.

 

*Pondok Pesantren Baddridduja, Kraksaan, Probolinggo.

 

“Andaikan, Andaikan, dan Andaikan”

Oleh: Muhammad Alfath

nuruljadid.net – Di sela-sela padatnya kegiatan pondok, tak jarang saya duduk berbincang-bincang bersama para santri lain. Tentu saja mereka—yang berjumlah ribuan dan berasal dari daerah yang berbeda-beda—memiliki latar belakang yang tidak sama. Pandangan hidup merekalah yang kemudian memperkaya pandangan saya akan hidup ini. Atau bahasa kerennya.. yaa, welsthanschaung mereka.

Tak jarang pula saya mendengar pengandaian-pengandaian mereka. Pengandaian yang berasal dari hati dan disalurkan lewat mulut mereka:

Andaikan aku gak mondok, pasti sekarang lagi chatan sama ayang,” ujar salah seorang santri untuk memulai pengandaian.

Yang lain ikutan nimbrung, “uhh, kalau saya pasti lagi mabar Mobile Legends sekarang”

“kalau saya, pasti lagi nonton film “eng ing eng” di pesbuk,” timbrung seorang teman mereka dengan muka mesum.

“Andaikan kita bukan santri, pasti sudah hidup ‘bebas’,” ujar salah seorang santri untuk “menyimpulkan” pengandaian-pengandaian mereka.

Semua ini adalah salah tiga contoh daripada bermacam-macam kesalahan penggunaan media sosial oleh umat manusia. Medsos yang memiliki jutaan manfaat justru disalahgunakan oleh pihak yang tidak profesional dalam menggunakannya.

Penggunaan medsos oleh santri malahan menimbulkan masalah identitas: mereka yang harusnya bangga melihat bagaimana kaumnya sudah go-International, malah menilai hal-hal yang tidak bisa dilakukannya sebagai kekurangan. Mungkin pihak yang berwenang perlu mengadakan “Kursus Bermedsos” untuk menanggulangi masalah ini. Kalau tidak yaa dampaknya akan seperti ini: timbul kalimat “andaikan, andaikan, dan andaikan” dari orang-orang—tanpa terkecuali kaum santri—yang menggunakannya.

Menjawab “Andaikan, Andaikan, dan Andaikan”

Yaa, timbullah perkataan “andaikan, andaikan, dan andaikan”, beserta ribuan pengandaian lainnya. Seolah-olah para santri pengandai itu tidak pernah berpikir bahwasanya terdapat  ratusan bahkan puluhan ribu orang yang mengandaikan dirinya menjadi seorang santri. Terlalu luas dunia ini bagi persepsi mereka yang sempit akannya. Terlalu sibuk melihat apa yang ada pada diri orang lain sampai lupa pada apa yang ada pada diri mereka sendiri. Amerika sudah mengandaikan bagaimana mendaratkan manusia di planet Mars, sedangkan kita masih mengandaikan bagaimana mendaratkan kepala kita pada bahu si dia. Adaahh…

Padahal, Habib Husein Ja’far Al-Hadar, seorang da’i generasi millenial, pernah berkata: “Tidak ada identitas yang lebih mulia, lebih agung, dan lebih baik di dunia ini daripada seorang santri”

Mungkin bagi sebagian orang, perkataan beliau terkesan mengada-ngada. Bagaimana mungkin seorang yang sekedar memakan tahu tempe dengan “wadah” plastik tanpa mencuci tangan dapat dikatakan mulia?

Namun, itulah kenyataannya. Para santri diajarkan merendah serendah tanah untuk meroket menembus bintang-bintang. Memberikan jasa yang tak terhingga bagi bangsa, agama, dan negara. Bagaimana tidak?, bangsa ini dapat terbebas dari belenggu penjajahan asing tidak lain dan tidak bukan adalah karena jasa para santri; visi islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamain — bukan hanya rahmatan lilmuslimin apalagi sekedar rahmatan lil’arabiyyin— dapat terwujudkan di negeri yang kaya ini yaa sebab jasa para santri; Gusdur yang disegani dunia sampai-sampai dijuluki sebagai Guru Bangsa, yaa tidak lain dan tidak bukan adalah bagian dari kaum sarungan.

Lalu alasan apalagi bagi para pembaca yang merasa tersindir dengan tulisan 539 kata ini untuk merasa insecure menjadi seorang santri? Sampai-sampai “meng-qodho’ kemaksiatan” yang belum dilakukan di pondok  ketika pulang ke rumah?

Pertanyaan besarnya bukanlah “untuk apa menjadi santri?. Melainkan, pertanyaan besarnya adalah: “Mengapa aku harus menjadi santri?, Mengapa santri adalah identitas yang harus melekat pada diriku?, dan bagaimana aku dapat mulia karena menjadi seorang santri?”.

 

*) Penulis merupakan santri aktif Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan siswa aktif MTs Nurul Jadid

 

Editor: Ponirin Mika

KH Fahmi AHZ : Libatkan Allah dalam Perjuangan dan Pengabdian, Allah Tidak Pernah Ingkar, Semua Akan Dibayar Tunai

nuruljadid.net – Pada pembukaan diklat pengurus Kamtib Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Fahmi Abdul Haq Zaini hadir memberikan tausyiah kepada seluruh peserta diklat yang bertempat di Aula Mini Pesantren (11/01/2024). Upaya ini guna menambah wawasan, bekal dan keterampilan dalam menjalankan tugas dan amanah sebagai personil Keamanan dan Ketertiban (Kamtib).

“Punya kesadaran sebagai pengabdi itu penting. Pengabdi sama seperti pejuang sehingga memberikan semua yang dimiliki bukan mengharap mendapatkan dari apa yang dikerjakan. Pengorbanan dari tenaga, pikiran bahkan materi untuk apa yang diperjuangkan adalah bentuk jihad di jalan Allah SWT,”

“ketika sikap itu ditanamkan maka tugas dan amanah tidak akan menjadi beban melainkan menambahkan semangat pengabdian”

“Sebelum memberikan sanksi yang terus-menerus, Kamtib perlu berpikir untuk perkuat tindakan preventif dan protektif. Untuk itu perlu melahirkan kesadaran yang utuh dalam diri santri. Ibaratnya jangan hanya menangkap maling, tapi perlu berpikir bagaimana caranya agar mereka tidak menjadi maling.”

“Puncak tertinggi perjuangan kita adalah meninggikan kalimat Allah”

“perlu tanamkan dalam hati dan pikiran kita, bahwa yang kita lakukan semata-mata untuk menauladani Rosullullah dalam perjuangan. Niat ngopeni umat Rosulullah dalam pengabdian baik di pesantren maupun di tempat yang lebih luas di masyarakat kelak”

KH. Fahmi AHZ saat memberikan tausyiah dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kamtib Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo

“Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sangat memikirkan umatnya, maka kita perlu dedikasikan diri kita untuk bersama merawat umat Rosulullah.”

“Menindak santri harus niatkan dan bertujuan untuk mengedukasi bukan pelampiasan emosi”

“pola pikir perlu kita rubah bahwa santri adalah aset masa depan sehingga perlu diurus dan dilayani dengan sangat baik”

“Kiai Hasyim Zaini mencontohkan dengan selalu memanggil santri dengan sebutan ananda karena menganggap santri sebagai anak dan tanggung jawab”

“Kiai Hasan Abdul Wafi dulu pernah berpesan bahwa pengurus perlu memunajatkan santri sebagai amanah bahkan dalam waktu kualitas kita bersama Sang Kholiq, doakan kebaikan mereka.”

“Kiai Fadlurrahman Zaini berdawuh kalau ingin hajatnya terkabul maka jangan hanya mendoakan diri sendiri tapi juga mendoakan orang lain. Kalau kita mendoakan orang lain tanpa diketahui orang yang didoakan, maka malaikat akan mengaminkan dan doa tersebut kembali kepada untuk orang yang mendoakan itu sendiri.”

“Dalam pengabdian di pesantren libatkan Allah SWT dalam setiap perjuangan dan pengabdian. Karena janji Allah SWT tidak akan pernah ingkar pasti akan dibayar tunai.”

“dengan kesadaran penuh karena Allah, maka semua lelah dan letih kita akan menjadi lillah, jangan hanya dijadikan status saja namun lebih kepada realisasi dalam kehidupan nyata.”

“Tata dan Kuatkan Niat, jangan jadikan pengabdian sebagai fasilitas, itu namanya kepentingan berbalut pengabdian.”

“Kiai Hasan Abdul Wafi pernah dawuh kamtib memang tidak wajib ikut pengajian, hadiran di masjid dan majelis di kelas-kelas, akan tetapi jika betul-betul niat dan mengawal semua santri agar ikut semua kegiatan yang telah dirancang oleh pesantren, maka insyaallah dapat aliran barokah dan kebermanfaatan dari Masjid dan kegiatan-kegiatan yang juga diikuti oleh santri pada umumnya. Syukur-syukur juga bisa ikut membersamai”

(Humas Infokom)

Resensi Buku: Panduan Shalawat Nahdliyah Karya Kiai Hasan Abdul Wafie

Oleh: Alfin Haidar Ali*

nuruljadid.net – Pada Kamis malam Jum’at, (09/11/2023), di Pondok Pesantren Nurul Jadid diadakan peringatan haul ke-23 Alm. K. H. Hasan Abdul Wafie. Acara ini menyimpan sebuah momentum yang istimewa, yaitu peluncuran Buku Panduan Shalawat Nadhliyah karya Kiai Hasan Abdul Wafie, selanjutnya akan disebut sebagai Kiai Hasan.

Kiai Hasan, sosok yang dikenal sebagai kiai yang tegas, telah dikenal luas oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) berkat kontribusinya mengarang Shalawat Nadhliyah. Meskipun acara tersebut tidak secara khusus mengadakan sesi peluncuran buku, beberapa kiai, keluarga, dan tamu VVIP menerima salinan Buku Panduan Sholawat Nadhliyah.

Salah satu yang menerima buku adalah Kiai Zainul Mu’in Husni, seorang santri yang pernah belajar langsung dari Kiai Hasan dan saat ini mengasuh sebuah pondok pesantren di Besuki – Situbondo serta menjabat sebagai Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Situbondo.

Kiai Zainul Mu’in Husni, yang berperan memberikan mauidhah hasanah di acara itu, menjelaskan betapa pentingnya kita untuk menjaga warisan yang ditinggalkan oleh Kiai Hasan. Salah satu di antaranya adalah Shalawat Nadhliyah.

 

Asal Mula Shalawat Nadliyah

Banyak masyarakat NU mungkin belum mengetahui asal mula atau sejarah pembuatan shalawat ini. Dalam buku “Panduan Shalawat Nadhliyah,” dijelaskan bahwa Shalawat Nahdliyah memiliki latar belakang cerita dari peristiwa-peristiwa yang melibatkan NU, yaitu sejak Muktamar NU ke-29 pada bulan Desember 1994 di Cipasung, yang dikenal dengan sebutan “Muktamar Cipasung.”

Almarhum KH Hasan Abdul Wafie dengan jelas menyatakan tujuan pembuatan shalawat ini:

“Maka alfaqir ad-dha’if mengharap seluruh pengurus cabang NU di Jawa Timur untuk mengumumkan dan menyebarluaskan shalawat dan doa yang tersebut di atas kepada anggota-anggota warga Nahdliyin dan Nahdliyat kita, agar jam’iyyah kita, NU, keluar dari gelapnya beban-beban pikiran dan kesedihan-kesedihan yang melingkupinya sejak Muktamar NU ke-29 di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat.”

Muhammad al-Fayyadl, M.Phil., cucu dari Kiai Hasan yang saat ini aktif sebagai Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid, menjelaskan bahwa Muktamar Cipasung dikenal sebagai muktamar yang paling menegangkan dalam sejarah NU.

Pada muktamar ini, terjadi penindasan oleh pemerintah Orde Baru terhadap NU. Meskipun menghadapi berbagai intimidasi fisik, Presiden Soeharto berupaya menjatuhkan K. H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditengarahi mengakibatkan perpecahan di kalangan tokoh NU dan ulama. Namun, berkat rahmat Allah, NU akhirnya mampu bertahan dari badai perpecahan tersebut, dan Gus Dur memimpin NU hingga jatuhnya rezim Orde Baru dan Masa Reformasi pada tahun 1998.

Shalawat ini diperkirakan disusun dalam suasana Muktamar Cipasung, pada akhir tahun 1994 atau awal tahun 1995. Pengarangnya, almarhum KH Hasan Abdul Wafie, dikenal sebagai tokoh kiai yang sangat berdedikasi dan berperan aktif dalam NU, terutama di Jawa Timur.

Pada haul ke-23, Kiai Zainul Mu’in Husni menambahkan dimensi unik pada sejarah pembuatan Shalawat Nahdliyah. Kisah ini diceritakan berdasarkan penuturan asatidz Ma’had Aly Sukorejo, tempat Kiai Hasan pernah mengajar. Kiai Hasan Abd. Wafie dalam mengarang sholawat nadhliyah ini, terlihat begitu tulus. Ust. Nawawi Thobroni, salah satu asatidz Ma’had Aly Sukorejo, menceritakan, “Saat itu ada saya. Beliau mengambil kertas lalu langsung menulis. ‘Ini sholawat untuk perjuangan,’ kata Kiai Hasan.”

Pada saat itu, shalawat ini belum memiliki nama resmi. Namun, kini Shalawat Nahdliyah telah menjadi viral dan tersebar luas. Mungkin karena ketulusan Kiai Hasan dan ikatan eratnya dengan NU, shalawat ini, tanpa upaya tirakat—sebagaimana istilah yang sering kita pakai—diijabahi oleh Allah dan menjadi amalan di kalangan warga NU, menjadi warisan berharga bagi umat.

“Sholawat Nahdliyah termasuk warisan yang ditinggalkan oleh beliau, yang kini dikenal secara nasional, layak dilaksanakan oleh seluruh nadhliyin, sebagaimana dijelaskan dalam buku panduan ini. Hal ini merupakan upaya dan permohonan kepada Allah SWT agar NU dapat merata sampai ke tingkat bawah, bukan hanya di tingkat cabang NU, tetapi juga di tingkat anak ranting,” ujar Kiai Zainul Mu’in Husni.

Dalam pernyataan penutup maudizhoh hasanah, Kiai Zainul Mu’in Husni menyelipkan pesan kepada seluruh hadirin, “Isi buku ini perlu dipahami, dianalisis, dicerna, dan diaplikasikan. Mungkin ini bisa menjadi pendorong untuk munculnya semangat jihad NU di setiap individu kita.”

 

Judul Buku: Panduan Shalawat Nahdliyah

Penyusun: K. Muhammad al-Fayyadl, M. Phil.

Penerbit: Bayt el-‘Ulum (Ma’had Aly Nurul Jadid)

Terbit: Rabiul Awal 1445 H. / November 2023 M.

 

*) Mahasiswa Ma’had Aly Nurul Jadid

Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

Mengenang Kiai Hasan Abd. Wafie, Sosok Macan Bahtsul Masail PBNU dan Ahli Fikih yang Wara’

Oleh: Alfin Haidar Ali*

 

nuruljadid.net – Sudah banyak artikel yang membahas sosok Kiai Hasan Abdul Wafie yang dapat ditemukan di internet melalui mesin pencarian Google. Meskipun demikian, pada momentum Haul ke-23 Alm. K.H. Hasan Abdul Wafie yang diadakan pada Kamis (09/11/2023) di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, Jawa Timur, terdapat beberapa poin menarik yang dapat kita petik.

Kiai Zainul Mu’in Husni, yang diamanahkan sebagai pembicara Mauizhatul Hasanah, membagikan kenangan-kenangan terkait Kiai Hasan Abdul Wafie. Salah satu aspek menarik yang mungkin belum banyak diketahui oleh warga NU, termasuk santri Nurul Jadid, adalah reputasi Kiai Hasan sebagai “Macan Bahtsul Masail” di tingkat PBNU.

Meskipun istilah “Macan Bahtsul Masail NU” sudah pernah terdengar sebelumnya, namun sebab penyematan gelar itu belum ada contoh kasus konkret yang dapat dijelaskan. Pada malam tersebut, Kiai Zainul membuka tabir cerita. Salah satu contohnya, sebagaimana diungkap oleh Kiai Zainul, terjadi pada Muktamar NU di Semarang. Saat itu, hampir seluruh peserta muktamar mengalami kebuntuan dalam suatu diskusi, tetapi justru Kiai Hasan yang menemukan solusi.

Perbincangan saat itu membahas pemindahan masjid. Para peserta muktamar tidak menemukan penjelasan yang memungkinkan pemindahan masjid, khususnya dalam pandangan mazhab Syafi’i. Namun, Kiai Hasan memberikan solusi.

“Kita ikut mazhab Hanafi yang membolehkan memindahkan masjid dari satu tempat ke tempat lain karena suatu kemaslahatan,” terang Kiai Hasan.

Meskipun usulan ini mendapat retensi dari sebagian ulama, Kiai Hasan dengan tegas menyatakan, “Loh, NU ini kan tidak hanya syafi’iyah. NU itu mengikuti mazhab empat dan itu jelas dalam AD/ART. Mazhab Hanafi adalah bagian dari mazhab empat.”

Keputusan ini kemudian diterima, dan ternyata terdapat rujukan dalam atsar yang mencatat bahwa Sayyidina Umar bin Khatab pernah memindahkan masjid dari tempat yang padat penduduk ke tempat lain karena kepentingan sosial. Tempat bekas masjid tersebut bahkan dijadikan pasar.

Kiai Zainul Mu’in Husni, yang pernah belajar langsung dari Kiai Hasan, juga membagikan sisi lain dari sosok Kiai Hasan. Beliau seringkali menyampaikan bahwa dirinya bukanlah orang yang cerdas, melainkan orang yang rajin.

“Saya ini bukan orang cerdas, tapi rajin. Biasanya cobaan orang cerdas adalah tidak rajin,” demikian kata Kiai Hasan yang sering diutarakan kepada para para santrinya, termasuk Kiai Zainul.

Namun, prestasi Kiai Hasan tidak hanya sebatas sebagai Macan Bahtsul Masail. Beliau juga dikenal sebagai ahli fikih yang wara’. Meskipun banyak yang pandai dalam bidang fikih, jarang ditemui orang yang wara’. Kiai Hasan membedakan dirinya dengan menyikapi ilmu fikih dengan penuh wara’, yaitu sikap hidup untuk menjauhi perbuatan makruh dan syubhat, terlebih lagi hal-hal yang haram.

 

*) Mahasiswa Ma’had Aly Nurul Jadid

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Habib Jindan : Umat Islam Adalah Rujukan Dunia dalam Moderasi, Hak Kaum Wanita dan HAM

nuruljadid.net – Habib Jindan Bin Novel selain membahas tentang pentingnya sanad dan akhlaq dalam berdakwah, beliau juga menyinggung bahwa umat Islam adalah umat yang moderat menjunjung tinggi HAM dan menghormati kaum wanita sebagaimana ajaran Islam dalam Al-Qur’an dan tauladan dari baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana diajarkan terkait moderat ‘wasathiyah’ yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, bukan moderat versi Barat, Utara, Selatan atau Timur. Karena kebanyakan wasathiyah mereka tidak objektif, sehingga yang harus menjadi rujukan dan standard dalam wasathiyah umat Islam adalah versi Nabi Muhammad SAW.

“  لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا sebagaimana kita umat ini menjadi rujukan dalam kemoderatan. Jadi kita moderat bukan belajar dari Amerika, bukan belajar dari Eropa, moderat bukan belajar dari dunia Barat, sampai sekarang.”

“Di antara mereka itu sampai sekarang bahkan di negara-negara maju, tetap ada intimidasi dan rasis.”

Habib Jindan juga menceritakan kasus penindasan dan diskriminasi yang kerap dilakukan oleh Barat terhadap kaumnya yang seringkali menjadi rujukan dunia.

“Penindasan terhadap sesama, dan menganggap selain dari pada mereka (barat) itu di bawah. Orang kulit hitam, sampai sekarang, belum mendapatkan haknya secara penuh disana, walaupun secara tertulis ada haknya, akan tetapi di dalam pengaplikasiannya dalam bermasyarakat dan perkantoran, belum.”

“Mengklaim hak Wanita, kita tidak belajar dari Barat karena mereka justeru penista wanita. Mereka adalah orang-orang yang melecehkan kaum Wanita dari zaman dulu sampai sekarang.”

“terus kita disuruh belajar hak Wanita dari Barat, tidak! Standard di dalam menjaga, menghormati haknya kaum Wanita adalah nabi Muhammad dan ini umat Islam”

Sebagaimana Nabi menyampaikan kemulian seorang Wanita khususnya Ibu yang masyhur di kalangan umat Islam. “al-jannatu tahta aqdāmil ummahāt disebutkan dalam Kitab Al-Kāmil fi Dhu’afā’ir Rijāl karya Ibnu ‘Adi. Syurga di bawah telapak kakinya para ibu.”

“Suatu ketika Nabi juga pernah ditanya oleh Sahabat, “Siapa orang yang paling berhak untuk saya santun kepadanya?”, Nabi menjawab “paling prioritas untuk kamu berbuat baik kepadanya adalah Ummuk, ibumu!”, “kemudian?”, “Ibumu”, “Kemudian?”, “Ibumu”, baru setelah itu “Tsumma Abak” artinya ayahmu” beliau berkisah.

Menyoal Hak Asasi Manusia Habib Jindan mengutarakan dengan tegas bahwa kita tidak perlu belajar dari negeri Barat, cukup mencontoh Nabi Muhammad SAW.

“Kita mau belajar Hak Asasi Manusia dari orang tukang nembakin orang, dari orang-orang yang punya senjata pemusnah massal.”

“Itu adalah watak preman. Itu adalah watak penyamun, watak tukang palak, wataknya perampok, tukang todong, pencuri, yang hobinya mengancam sana-sini.”

“Negara maju bukan negara yang punya senjata pemusnah massal, tetapi punya alat pemberi makan massal, pemberi manfaat massal, pemersatu massal.”

“Oh, kita negara Indonesia negara maju, punya khitanan massal, nikahan massal, dari zaman dulu, waallah lebih baik dari pemusnah massal. Jauh lebih manfaat 1000 kali dari pada itu semua. Kita jauh lebih maju, akan tetapi suatu kebodohan ketika kita menganggap mereka modern, mereka maju, mereka keren, sama sekali gak ada kerennya.”

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al-Bayyinah: 6)

Dewasa ini kita juga harus waspada akan virus negatif dari seks bebas dan LGBT. “mereka meracuni anak-anak kita dengan racun pelajaran zina, pelajaran liwat, pelajaran homoseksual, pelajaran LGBT yang disusupkan bahkan di dalam film-film kartun, bukan lagi di film-film dewasa saja, bahkan di dalam film-film anak”

“dan mereka adalah شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ seburuk-buruknya manusia.”

“Itu adalah hal yang primitif, yang tidak dilakukan hewan atau binatang. Binatang pun juga enggan untuk melakukan hubungan sesama jenis, sedihnya, manusia melakukannya. Terus dibilang, oh ini professor, oh ini lulusan dari universitas terkemuka, dan dengan bangga mengumumkannya. Naudzubillah Min Dzalik!”

“Dan kita menganggap apa saja yang datang dari mereka hebat. Dan ditanamkan di benak umat Islam, mereka adalah negara-negara yang tak terkalahkan.”

“Persis seperti perkataan kaum ‘Ad, mereka bilang مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً siapa gerangan yang lebih hebat, lebih kuat dari pada kami? Menganggap dirinya paling kuat, punya kekuatan, punya persenjataan, punya segalanya, bukankah Allah yang maha kuat, sudah membinasakan orang-orang tersebut, Kaum Ad dibinasakan, kaum nabi Nuh dibinasakan, gampang membinasakannya,”

“Sebagaimana kita kalau di closet, udah selesai, setelah itu di-flush, cukup dipencet tombolnya, ceeeesss, cuci bersih. Nah Allah Ta’ala lakukan sama persis pada kaumnya Nabi Nuh. Semudah itu bagi Allah SWT. Sesimpel itu bagi Allah SWT”

“Bukankah dulu, ada Kerajaan Romawi yang ribuan tahun berkuasa, mana sekarang? Mereka tidak menyangka kalau kerajaannya akan musnah, habis sudah. Kerjaan Persia, yang ribuan tahun, berkuasa, kerjaan terlama di dunia, mana sekarang? Dicabik-cabik oleh Allah Ta’ala, habis musnah.”

“Dan bukankah dulu, di masa perang dunia pertama dan perang dunia kedua, orang kalau sudah dengar, Negara Jerman dengan NAZI-nya dan Hitler nya, semua ketakutan, semua gentar. Sekarang mereka lenyap, mana NAZI nya, mana Hitlernya.”

“Perancis, dengan fasisnya juga habis. Tidak ada lagi Mussolini-nya, dia digantung terbalik sampai mati oleh rakyatnya sendiri, selesai sudah.”

“Dan untuk orang-orang yang menyimpang dari Allah Ta’ala, akan dapat nasib yang sama. Mereka tanamkan kekacauan, kerusuhan, peperangan di negara-negara Islam, sekarang dibawa oleh Allah SWT kerusuhan, kekacauan dan peperangan di dalam negara mereka sendiri satu sama lain. Disibukkan orang dzalim dengan orang dzalim,”

Sehingga kita patut bersyukur karena Allah SWT karuniai Nabi Muhammad SAW sebagai “nur” cahaya dan pencerahan bagi kita sekalian. Kita cukup merujuk kepada Nabi Muhammad SAW sebagai standarisasi dalam segala hal. Sedangkan golongan mereka adalah golongan yang tidak punya solusi dan gagal. Mereka mengandalkan kekuasaan, mengandalkan pemasukan negeri dari perang, mengandalkan pemasukan negeri mereka dengan membuat antar negara berperang demi keuntungan.

“Indonesia 350 tahun dijajah Belanda, dijajah Jepang, dijajah Portugis dan hampir semua negara-negara jajahan mereka di zaman tersebut seperti di Afrika, masing-masing dibagi-bagi, sebagian diambil Perancis, sebagian yang lain diambil Inggris, Portugis, diambil sama Itali, dibagi-bagi oleh mereka.”

“Mengandalkan kekayaannya dengan menjarah negeri lain pada zaman dulu sampai sekarang. Zaman sekarang negara Timur Tengah dibuat saling rusuh, agar mereka dapat untung, mereka dapat duit, terus mereka kayanya dari mana? Kayanya hasil merampok, hasil menjarah, hasil bikin rusuh di negara orang, sukses apa yang mereka punya?”

“Sejatinya, mereka gagal dalam ekonomi, keamanan, sosial dan masyarakat. Gagal dalam hubungan rumah tangga, gagal dalam hubungan dengan orang tua dan anak. Sedikit sekali rumah yang rukun antar orang tua dan anak. Gagal bahkan antara suami-istri. Kegagalan itu dimana-mana, sehingga mereka tidak mau menikah, karena sudah pasti bercerai.”

Nabi Muhammad SAW memberikan teladan yang terbaik kepada, termasuk dalam hal berperang. Rosulullah berpesan dalam jihad untuk tidak membunuh wanita, anak kecil yang ada di medan perang termasuk musuh yang sudah kabur juga rakyat sipil.

“musuh yang kabur jangan dikejar kata Rosulullah, kasih kesempatan, mungkin mereka mau beriman, mau balik, mau bertaubat. Kemudian dalam peperangan, jangan ganggu rakyat sipil, orang pasar jangan diganggu, orang yang lagi ibadah di kuilnya atau di gerejanya atau di sinagoknya jangan diganggu dan jangan dirusak kata Rosulullah SAW. Nabi mengajari kita demikian.”

“Ini kemodernan yang sudah kita raih yang diajarkan oleh nabi Muhammad sejak 15 abad lalu. Negara modern tau apa? Tentang HAM? Kita mau belajar tentang HAM dari mujrimin, dari pendosa, dari pelaku kejahatan, melakukan kejahatan perang, puluhan tahun, ratusan tahun dalam keadaan yang demikian.”

“Terus kita sekarang mau berguru sama mereka? Belajar HAM dari mereka? Standarisasi HAM bukan mereka. Kita umatnya Nabi Muhammad sebagai rujukan HAM.”

Habib Jindan Bin Novel menceritakan ketika Sholahuddin Al-Ayyubi berperang merebut Baitul Maqdis, terjadi peperangan, kemudian pimpinan atau raja yang memimpin pasukan sakit, sakit keras, maka Sholahuddin berinisiatif untuk tidak melakukan gencatan senjata. Mengapa demikian? Karena pimpinannya sedang sakit, sehingga peperangan dihentikan sambil menunggu dia sembuh.

Tidak hanya sampai di situ, kemudian Sholahuddin juga mengirimkan dokter pribadi terbaik yang dia punya, untuk membantu pengobatan pimpinannya sampai sembuh. Dan di masa itu, kedokteran dikuasai oleh umat Islam. Dokter-dokter terbaik adalah umat Islam.

“dalam peperangan mereka gak ada istilah sebel sama suatu negeri dengan tidak memperbolehkan kiriman makanan, akses listrik, akases minum, dan lain sebagainya. Lihat Sayyidina Sholehuddin Al-Ayyubi, ratusan tahun yang lalu. Beliau kirim dokter terbaik untuk mengobati musuh besarnya.”

“Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan kepada kita ‘jangan memutilasi’. Jenazah di medan perang itu jangan dimutilasi, beliau sendiri yang memerintahkan para sahabat, kubur jenazahnya orang-orang kafir yang sudah terbunuh, digali lobang, dikubur, gak dibiarkan untuk dimakan Binatang buas. Dikubur dan dimakamkan oleh Rosulullah SAW.”

“Kita belajar HAM dari nabi Muhammad. Kita belajar HAM dari khulafaur rasyidin, dari para sabahat, dari pada ulama, dari para pejuang-pejuang Islam. Dari mereka kita belajar Hak Asasi Manusia. Nabi yang bilang perlakukan tawanan dengan baik. Tanyakan tawanan di Guantanamo diperlakukan seperti apa? Tanyakan tawanan yang ada di penjara-penjara mereka diperlakukan seperti apa? Tapi nabi Muhammad memerintahkan perlakukan tawanan perang dengan baik hingga mereka dijamu dengan jamuan terbaik.”

“bahkan tuan rumahnya, makan tidak seenak tawanan, makanan yang paling enak diberikan kepada tawanan. Ditanya kenapa itu tawanan sampai malu? Kalian adalah tamu kami, kalian titipannya Rosulullah SAW.”

Allah berfirman dalam Al-qur’an: وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Artinya: Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (QS. Al-Insan:8)

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا

Artinya: Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan:9)

“Memberikan makan kepada orang lain, yatim, miskin dan tawanan perang, kafir harbi yang ditangkap dan ditawan di Madinah, mereka diberikan jamuan terbaik oleh Rosulullah SAW.”

“Dan inilah Islam, Islam memperlakukan lawan seperti apa. Apalagi memperlakukan kawan sesama umat Islam. Oleh karenanya itu, Alhamdulillah, Allah Ta’ala berikan segala khazanah kekayaan di dalam Sirahnya Nabi Muhammad, dalam Akhlaqnya Nabi Muhammad, dalam Ajarannya Nabi Muhammad.”

“Jangan terkecoh dengan hidangan palsu oleh musuh-musuh Islam, dan sebaik-baiknya yang kita lakukan adalah kita mendoakan umat agar Allah melindungi mereka,”

“kita menuntut ilmu, bentuk pembelaan kita sebagai santri kepada saudara-saudara kita yang ditimpa musibah atau bencana.”

“Bukan saudara kita yang berperang ya! Mereka lebih mirip pembantaian massal, itu bukan perang, itu pembantaian massal. Pemusnah massal! Gak heran emang, karena keahlian Barat memang seperti itu, dari dulu seperti itu, hobinya begitu.”

“Masuk ke Amerika ratusan tahun yang lalu, penduduk asli Amerika mati, habis! Tersisa tinggal sedikit, kena penyakit, yang sakit hanya pribumi saja, yang lain semuanya hidup. Suku Indian disana sudah habis. Baik itu di Amerika, di Australia, dimanapun tempat.”

“Dan perang kita, sibukkan dalam belajar, menuntut Ilmu, bangun malam, menjaga adab dan sunnahnya Rosulullah dan mendoakan saudara-saudara kita, sebaik-baiknya peran yang bisa kita jalankan di saat ini.”

“Pembelaan yang bisa kita lakukan saat ini, menuntut ilmu, hafalkan pelajaran, muraja’ah, kemudian juga berdakwah, mengkaji ilmu agama, mengamalkan ilmu, menjaga adab dan sunnahnya Nabi Muhammad, dhuha, witir, qiyamul lail, tahajjud, sholatul jama’ah, adab kepada guru, birrul walidain, hadir pengajian, tilawatul qur’an, sebaik-baiknya bentuk pertolongan yang bisa kita berikan kepada saudara-saudara kita.”

“Dan ini adalah peran kita untuk membela agama di saat ini dan mendoakan saudara-saudara muslimin kita di dalam sujud dimanapun mereka berada.”

“Dan ketahuilah, musuh-musuh Allah tidak akan berhasil menjajah tanah umat Islam, melainkan setelah sebelumnya mereka berhasil menjajah jiwa dan hati dan pikiran umat Islam. Ketika jiwanya berhasil dijajah, maka tanahnya dengan mudah direbut.”

“Bagaimana menjajah jiwa? Nah itu tadi, dibikin orang tidak lagi mengidolakan nabinya, yang diidolakan yang lain, dibikinin deh tiap hari dibawakan idola yang baru. Dibawakan Idol yang baru tiap hari, baik itu dari olahragawan, atau artis, atau penyanyi tiap hari dibawain hal yang baru.”

(Humas Infokom)

Habib Jindan: Orang Yang Suka Mencaci Maki dan Provokasi dalam Dakwahnya Tidak Mewakili Rosulullah. Contohlah Walisongo!

nuruljadid.net – Dewasa ini, semakin menjadi-jadi penceramah baik di majelis luring maupun daring yang kian melenceng dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Hal ini disoroti oleh Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan dalam ceramah agamanya pada pengajian umum di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW (15/10/2023).

Penceramah yang seringkali berbicara semauanya, bisa dipastikan tidak memiliki sanad “cari pasti gak punya sanad, orang yang suka ngomong semaunya gak punya sanad. Apalagi kalau udah omongannya berisi cacian, makian, atau pun juga menuduh dengan tuduhan yang keji, fitnah, ghibah, namimah, mana ada sanad ghibah dari mana? nabi Muhammad? Gak ada, sanad cari maki dari mana? Bukan dari nabi” dawuh Habib Jindan.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar bukan cacian, fitnah, makian, ghibah, namimah kepada sesama saudara seiman dan kemanusiaan. Jika ada orang yang sering melakukan hal tercela tersebut maka mereka berguru pada syeiton.

“itu bukan dari nabi Muhammad, dari syeikh yang satu lagi, namanya Syeiton, dari syeikh yang itu tuh. Syeiton sudah jadi syeikh, sehingga waktu itu yang memberikan usul untuk membunuh Nabi Muhammad menjelang hijrah adalah syeiton, dia menyamar jadi syeikh, Syeikhun Najidi, syeikh yang berasal dari Najd daerah di wilayah Riyadh. Dan kalau ditelusurin, orang-orang yang ngawur ya sanadnya dari itu ya syeikh yang itu Syeiton”

Habib Jindan menceritakan ketika perang Badar, Syeikh Najidi juga memprovokasi orang-orang musyrikin untuk memerangi Rosulullah. Dia muncul dalam sejarah sebanyak 2 kali, 1 menjelang hijrahnya Nabi, dan yang kedua dia muncul lagi untuk menyulut peristiwa perang Badr.

“Nah nabi bilang, mau dakwah “ballighu” sampaikan tapi ingat, sampaikannya pakai sanad, sampaikannya pakai ilmu, sumbernya pastikan sumbernya dari nabi Muhammad bukan dari syeikh yang satu lagi.”

“yang kedua itu, poin yang penting “‘anni” diartikan itu ‘an rosulillah, menyampaikan mewakili nabi Muhammad, ballagh ‘an rosulillah, menyampaikan, mewakili Rosulullah.”

Jika kita menemukan seseorang atau penceramah yang dalam penyampaian, ucapan, perbuatan tidak mewakili Rosululullah maka dia sebenarnya telah mengikuti jalannya syeitan, oleh karenanya kita harus waspada dan mencerna segala yang terjadi di sekitar kita.

ballighu ‘anni, sampaikan dimana Rosulullah terwakili disitu, kata-katanya terwakili, dakwahnya terwakili.”

Beliau mencontohkan Walisongo yang berhasil menyebarkan dakwah Islam secara massif di bumi Nusantara. “Masanya Walisongo, walaupun 9 orang, tapi hatinya 1, lisannya 1, dan nabi Muhammad terwakili dalam dakwahnya mereka. Orang yang melihat mereka ingat nabi Muhammad, ingat rosulullah SAW.”

“Orang mencari tahu tentang Nabi Muhammad, dengan membaca gerak-gerik Walisongo. Itu dakwahnya walisongo, ballighu ‘anni walau ayah.”

Barang siapa yang ingin menumpang dalam izin bersanad kepada Rosulullah SAW, maka wajib mengikuti syarat dan ketentuannya ad-da’i al-ma’dzun dari Allah SWT. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW, Qul Hadzihi Sabili, katakan, sampaikan kepada umat ini jalanku.

“Jangan tau-tau, ada pembajak, yang membajak jalannya nabi Muhammad. Ada teroris yang menteror umat atas nama nabi Muhammad, ada penipu yang mencatut nama Nabi Muhammad SAW.”

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya: Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

“Ini jalanku, ngajak orang kepada Allah dengan hikmah, dengan mauidzotil hasanah, dengan ilmu. Bagaimana mau jadi da’i ilallah kalau gak punya ilmunya” ulas Habib Jindan

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻷَﺧِﺮَﺓَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَﻫُﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ

Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”

Syekh Al-Habib Jindan juga menyampaikan fenomena pendakwah era kekinian “Kita di zaman penceramahnya banyak tapi ulamanya sedikit. Nabi Muhammad pernah bilang dulu itu kata nabi kepada sahabat, kalian itu di zaman Khutobaul qolil, Katsir Ulamau ulamanya banyak, penceramahnya sedikit. Kita di zaman tukang ngomongnya banyak, ulamanya sedikit.”

Wallahu A’lam Bishawab

 

Link ceramah full klik tautan berikut : https://www.youtube.com/watch?v=SXzYDb1RP84&t=2h51m10s

 

 

(Humas Infokom)

Hadiri Acara Maulid di Nurul Jadid, Habib Jindan Bin Novel Isi Ceramah Tentang Pentingnya Ilmu Yang Bersanad

nuruljadid.net – Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan isi ceramah pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H di Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Minggu (15/10/2023) malam. Acara tersebut dihadiri oleh ribuan santri, ratusan tamu undangan dari kalangan alumni, wali santri dan simpatisan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Dalam awal ceramahnya, Habib Jindan Bin Novel menyampaikan bahwa Nabi Muhammad adalah Nur (cahaya) sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT.

“Wahai Nabi, sesungguhnya kami utus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan. Memberikan kabar gembira kepada mereka yang beriman yang ikut kepada Nabi Muhammad, memberikan peringatan kepada mereka yang menyimpang, yang bermaksiat. Dan Kami utus engkau sebagai Da’i (orang yang mengajak manusia ke jalan Allah, dengan izin Allah).” tutur beliau.

Nabi Muhammad, Habib Novel melanjutkan, berdakwah dengan izin. sepertihalnya kita ketika akan mengendarai alat transportasi yang memiliki izin mengemudi berbeda-beda, mau jadi Dokter, praktek juga harus izin, kalau tidak brati mal praktek namanya. Begitu pula dengan dakwah, harus ada izin. Nabi Muhammad mendapatkan izinnya dari Allah SWT. Sedangkan kita numpang izin kepada izinnya Nabi Muhammad. Namun beliau memberikan izin dakwahnya dengan syarat, yakni harus bersanad atau bersumber dari Nabi Muhammad SAW. mulai dari cara berkomunikasi, metode dakwah, pemahaman nash agama dan lainnya.

“Barang siapa yang berbicara tentang Al-Qur’an memakai pendapatnya, tidak memakai sanad. Pemahamannya sendiri, bukan pemahaman yang bersanad, mengarang sendiri, maka bersiap untuk kursinya di neraka (masuk neraka).

Dalam akhir ceramahnya, Habib Jindan menyampaikan pembelaan yang harus dilakukan oleh para santri kepada saudara muslim yang terkena musibah ialah dengan menyibukkan diri dalam belajar, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, berdakwah, menjaga adab kepada guru, birrul walidain, hadir pengajian, bangun malam, sholat jamaah, sholat duha, menjaga adab dan sunnahnya Rasulullah, dan mendoakan saudara-saudara kita. Itu adalah sebaik-baiknya peran yang bisa kita jalankan disaat ini untuk membela agama.

 

(Humas Infokom)

Habib Jindan: Penghuni Syurga Terdiri dari 120 Barisan, 80 Diantaranya Shaf Umatnya Nabi Muhammad SAW

nuruljadid.net – Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan melanjutkan dalam ceramah agamanya tentang barisan penghuni syurga dari nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad sampai dengan kita ummatnya. Nabi Muhammad SAW menyampaikan sebagaimana disampaikan oleh Habib Jindan bahwasannya “Antum Khaddzim Minal Umam, Ana Khaddukum Minal Anbiya” aku adalah jatah kalian dari sekalian nabi-nabi, dan kalian adalah jatahnya aku. Jadi setiap nabi-nabi itu Allah persiapkan masing-masing dari mereka ada umatnya sendiri-sendiri.

Alhamdulillah, kabar gembiranya untuk umat terakhir yang dikirim kepada kita, Nabi yang paling istimewa, yang paling agung yakni Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Habib Jindan menjelaskan “Sebaik-baiknya bagian, bagiannya kita, nasibnya kita beruntung, nabi kita Nabi Muhammad SAW, yang mana nabi bilang bahwasannya ahlul Jannah, penghuni syurga terdiri dari 120 barisan. Jadi semua yang masuk syurga dari semua umat manusia dibikin berbaris, barisan mereka itu 120 barisan semua penghuni syurga.”

“80 dari 120 shaf umatnya nabi Muhammad, yang 40 barisan dibagi untuk umatnya nabi-nabi sebelumnya. Semoga kita dijadikan dalam barisan-barisan tersebut, dibarisan pertama.”

“Ya Allah jadikan kami bersama nabi Muhammad dan keluarganya di barisan terdepan, senantiasa bersama mereka semua, di dunia dan di akhirat ya Robbal Alamin”.

“Sebab mereka yang berada di sana bareng bersama nabi, keluarganya dan pewarisnya. Kelak besok ketika di hari kiamat yang berada di barisan mereka adalah orang-orang yang di dunia juga berada di barisan mereka. Karenanya itu, jika ingin bersama mereka disana, jadilah bersama mereka disini (red. Dunia), bersama adabnya, bersama akhlaqnya, bersama ilmunya, bersama sunnahnya Rosulullah SAW. Bersama sahabatnya nabi dan keluarganya Nabi dalam kecintaan dan keteladanannya terhadap mereka.”

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 45-46:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Artinya: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,” (QS. Surat Al-Ahzab Ayat 45)

وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذْنِهِۦ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

Artinya: “Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Surat Al-Ahzab Ayat 46)

“Memberikan kabar gembira kepada mereka yang beriman, yang ikut kepada nabi Muhammad, memberikan peringatan kepada mereka yang menyimpang dan berbuat maksiat. Nabi diutus sebagai da’i, orang yang mengajak manusia ke jalan Allah dengan izin Allah.”

“Dakwah, Nabi Muhammad berdakwah punya izin. Kita sekarang nyetir mobil harus punya idzin, punya pewasat harus punya idzin. Nyetir mobil roda 4, 6 dan 12 izinnya beda masyaallah, mau nyetir motor sama nyetir mobil izinnya beda.”

“Apabila dalam hal demikian harus izin, mau jadi dokter praktik, harus ada izin, kalau tidak maka namanya malpraktik. Nah begitu juga dakwah harus ada izin, mana izinnya. Nabi Muhammad disebutkan دَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذْنِهِۦ Ngajak manusia kepada Allah dengan izin dari Allah SWT.”

 وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

“Cahaya, lentera, lampu yang terang benderang SAW.”

 

Wallahu A’lam Bishawab 

Link ceramah full klik tautan berikut : https://www.youtube.com/watch?v=SXzYDb1RP84&t=2h51m10s

 

 

 

(Humas Infokom)

Habib Jindan : Nabi Muhammad adalah Cahaya Terang Benderang, Cahaya yang Nyata, Perantara Hidayah bagi Kita Umatnya

nuruljadid.net – Pengajian Umum dalam rangka memperingati Maulid Nabi Agung Muhammad SAW 1445 H telah sukses dilaksanakan (15/10/2023) yang dihadiri langsung oleh yang mulia Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan dari Tangerang, Banten. Acara ini diletakkan di halaman kantor Biro Kepesantrenan yang diikuti oleh ribuan santri dan masyarakat umum termasuk alumni dan wali santri.

Dalam ceramahnya, Habib Jindan menyampaikan “Beliau Nabi Muhammad adalah cahaya yang nyata, yang terang benderang, dengan berkat beliau kita dapat hidayah dari Allah SWT. Masyaallah!”

“Huwan-nuuru yahdiil haa-iriina dliyaa-uhu, Wa fiil hasyri dhillul mursaliina liwaa-uhu.”

“Beliau nabi Muhammad adalah cahaya, yang mana cahaya beliau memberikan hidayah kepada kita, menyingkap kegelapan dari pikiran, menyingkap kegelapan dari hati, menyingkirkan dari segala kotoran, perangai tercela dari anggota tubuh kita.”

Beliau Rosulullah SAW adalah da’i yang mengajak manusia kepada Allah. sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:

  قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

“…Sungguh telah datang padamu dari Allah, Nuur (cahaya) dan kitab yang jelas dan menjelaskan” (QS. Al-Maidah 5:15).

Habib Jindan menerangkan bahwa Nur adalah nabi Muhammad SAW, dan beliau (Nabi Muhammad) dikatakan oleh Sayyidina Abbas Bin Abdul Mutholib. Di dalam syairnya, Abbas mengucapkan ini di Madinah puluhan tahun setelah lahirnya Rosulullah, tepatnya menjelang wafatnya Nabi Muhammad atau pada akhir umur nabi Muhammad.

Sayyidina Abbas meminta izin kepada Rosulullah, “izinkan aku wahai Rosulullah untuk memuji engkau”, maka nabi Muhammad bukannya melarang, khawatir hal tersebut itu termasuk mengkultuskan, akan tetapi Rosulullah tidak menyampaikan demikian. Sebaliknya, nabi malah mendukung dan bahkan mendoakan Sayyida Abbas dan berkata “katakan, silahkan ucapkan syair yang ingin engkau ucapkan, Allah akan senantiasa menjaga mulutmu” dawuh Rosul kepada sahabat Abbas. Alhasil, sampai sepuh Sayyida Abbas giginya tidak ada satupun yang tanggal, semuanya tetap utuh.

Lisannya Sayyidina Abbas senantiasa dipakai untuk memuji Rosulullah SAW dan membela Rosulullah. “Syairnya panjang menceritakan tentang kronologis kelahiran Nabi, dari sebelum nabi dilahirkan hingga beliau (Abbas) bilang ‘engkau berada di dalam bahteranya nabi Nuh, ketika banjir menenggelamkan sampai berhala pun ditenggelamkan, semua manusia ditenggelamkan, rumah-rumah ditenggelamkan, bumi ditenggelamkan, tinggal engkau berada di dalam sulbinya Nuh, dan perahu itu tidak akan tenggelam.”

“Dan engkau berada di dalam Sulbi-nya nabi Ibrahim, waktu dia dilempar di apinya Namrud, bagaimana Ibrahim akan terbakar sedangkan engkau berada di Sulbinya.” Jelas Habib Jindan menceritakan Syair yang ditulis oleh sahabat Sayyidina Abbas, terkenal dengan istilah syair Maulid.

“Dan tatkala dilahirkan, engkau ketika lahir maka bumi menjadi terang benderang dengan kelahiranmu, dan ufuk menjadi bercahaya dengan kelahiranmu, dan kami senantiasa berada di dalam cahaya tersebut. Dengan cahaya itu, kami menempuh jalan hidayah dari Allah SWT.” Sayyidina Abbas menyampaikan ini 60 tahun setelah Nabi dilahirkan pungkas Habib Jindan di hadapan seluruh hadirin.

“Karenanya itu, ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah sepakat bahwasannya malam yang paling mulia bagi umat nabi Muhammad adalah malam kelahiran Rosulullah dan malam yang paling mulia bagi Rosulullah yaitu malam Isro’ dan Mi’raj ketika beliau menghadap kepada Allah SWT. Tapi untuk umat yang paling mulia adalah saat malam dilahirkannya Rosulullah SAW, sebab dari situ bermula segala kebaikan dan keberuntungan bagi umat ini, Alhamdulillah.”

Link ceramah full klik tautan berikut : https://www.youtube.com/watch?v=SXzYDb1RP84&t=2h51m10s

 

 

(Humas Infokom)

KH. Moh. Zuhri Zaini Bekali Santri Agar Libur Lebih Bermakna

nuruljadid.net – Libur bukan berarti nganggur, isilah masa libur dengan hal yang bermanfaat. Adalah pesan Pengasuh Pesantren KH. Mohammad Zuhri Zaini saat memberikan tausiyah menjelang libur santri Bulan Maulid 1445 H di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Ahad (24/09/23).

Demikian juga, Kiai Zuhri mengingatkan pentingnya menghargai waktu, yaitu mengisi setiap detik, menit, bahkan hari dengan hal bermanfaat, tidak sekali-kali mengisinya dengan hal yang tidak berguna, apalagi membahayakan.

“Dalam pepatah Arab disebutkan al waqtu atsmanu minadz dzahabi, waktu lebih berharga daripada emas. Jadi hargailah waktu kita,” imbuh beliau.

Mengisi waktu dengan hal berguna, lanjut Kiai Zuhri, bukan harus dengan hal-hal yang serius (seperti selalu mengaji), namun bagilah waktu bersama keluarga, untuk olahraga dan refreshing, asalkan tidak meninggalkan amalan-amalan yang dilaksanakan di pondok, utamanya yang wajib.

Sosok kiai kharismatik itu juga menjelaskan, tujuan liburan adalah sebagai batu lompatan untuk mengisi daya semangat santri agar lebih giat lagi saat kembali menimba ilmu di pesantren.

“Jadikan libur ini momen untuk mempraktikkan ilmu kita, sebab mempraktikkan ilmu adalah tanda bahwa kita behasil melakukan perubahan yang lebih baik,” jelasnya.

Potret santri tengah mengamati tausiyah oleh Pengasuh Pesantren KH. Moh. Zuhri Zaini di Masjid Jami’ Nurul Jadid

Kiai Zuhri menghimbau, santri sebagai duta atau perwakilan dari pesantren dan keluarga di lingkungan masyarakat harus memberikan contoh yang baik agar tidak merusak nama keluarga maupun almamater pesantren.

“Libur ini adalah ajang momen untuk praktik ilmu, terutama akhlakul karimah baik kepada Allah, orang tua, masyarakat, sesama dan makhluk hidup. Sebab sealim atau sepintar apapun, dan sekaya apapun seseorang namun tidak beradab, pasti tidak disukai oleh Allah dan orang-orang di sekitarnya,” imbuh beliau.

Menurut beliau, hal itu dilakukan bukan demi mendapatkan pujian, namun dalam rangka membawa diri pada perubahan ke arah yang lebih baik. Oleh karenanya, intropeksi atau muhasabah diri harus sering dilakukan, agar tidak merasa diri telah sempurna.

“Orang yang semakin hari semakin baik itu adalah orang yang beruntung, dan orang yang hari ini sama dengan hari kemarin itu adalah orang yang merugi, dan bahkan orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin itu adalah orang yang celaka,” dawuh beliau mengutip Hadits Rasul Riwayat Al Hakim.

Tak lupa, beliau juga berpesan kepada santri agar melakukan kegiatan pengabdian di lingkungan masyarakat dengan wadah Forum Komunikasi Santri (FKS) untuk tetap menjaga dan mentaati peraturan agama (syariat) dan pesantren.

 

Reporter: Ahmad Zainul Khofi

(Humas Infokom)

KH. Moh. Zuhri Zaini: Kita Harus Meningkatkan Karakter dan Akhlakul Karimah

nuruljadid.net – “Kita harus meningkatkan karakter dan akhlakul karimah. Sebab ilmu tanpa akhlak yang baik, justru tidak akan berguna dan akan membahayakan diri sendiri maupun masyarakat”

Hal ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini saat memberikan sambutan kepada calon mahasiswa baru Universitas Nurul Jadid (Unuja) pada kegiatan Orientasi Pengenalan Kampus dan Pesantren (Ospektren), Sabtu (9/9/2023) Pagi.

Lanjut beliau, para calon mahasiswa baru harus selalu mengedepankan akhlakul karimah dalam mencari ilmu, tujuannya agar ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat. “Kita harus selalu mengedepankan akhlakul karimah. Agar ilmu yang di miliki bermanfaat,” dawuhnya.

Selain itu, Pengasuh juga mendoakan para calon mahasiswa baru agar sukses dalam menempuh studi. Sehingga ilmu yang diperoleh dapat berguna dan bermanfaat. “Ilmu yang bermanfaat merupakan bekal hidup untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,” terangnya kepada para calon mahasiswa.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Kiai Zuhri Zaini saat memberikan tausyiah hasanah kepada calon mahasiswa

Di samping itu, Hambali, Wakil Rektor I mengatakan bahwa tujuan di dirikanya Unuja untuk turut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan agama.

“Tujuan itu akan tercapai ketika kita konsisten dalam memahami, mengerti dan mengimplementasikan Trilogi dan Panca Kesadaran Santri,” katanya dalam sambutan.

Untuk itu beliau menganjurkan kepada calon mahasiswa baru untuk memahami Trilogi dan Panca Kesadaran Santri.

Dalam sambutannya, Hambali menambahkan, Trilogi dan Panca Kesadaran Santri merupakan fondasi dasar yang dicanangkan oleh Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zain Mun’im. Dan ini, menurut Hambali, tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

“Trilogi dan Panca Kesadaran Santri justru menjadi penguat implementasi Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila sebagai falsafah dan fondasi dasar Republik Indonesia,” pungkas Hambali.

Adapun Trilogi santri: Memperhatikan kewajiban-kewajiban fardhu ain, Mawas diri dengan meninggalkan dosa-dosa besar, berbudi luhur kepada Allah SWT dan makhluk.

Sedangkan Panca kesadaran santri: Kesadaran beragama, Kesadaran berilmu, Kesadaran bermasyarakat, Kesadaran berbangsa dan bernegara, dan terakhir  kesadaran berorganisasi.

(Humas Infokom)

Neng Imaz on Women’s Talk: Jangan Insecure, Perempuan Harus Punya Konsep Diri Positif dan Keberhargaan Diri

nuruljadid.net – Perempuan, sama seperti siapapun, seharusnya memiliki konsep diri yang positif dan keberhargaan diri yang kuat. Ini penting karena memiliki dampak besar pada kesejahteraan fisik, emosional, dan sosial mereka. Sebagaimana dipaparkan secara gamblang oleh neng Imaz pada event Women’s Talk yang dimoderatori langsung oleh cucuk Kiai Haji Hasan Abdul Wafi pengarang Sholawat Nahdliyah Neng Viki.

Dengan mengusung tema “problematika muslimah kekinian” dibahas secara menarik dan menggelitik para perempuan yang kerap merasa insecure dan tidak sedikit termakan oleh standar kecantikan di media sosial yang acapkali berseliweran dan meracuni pola pikir perempuan itu sendiri. Neng Imaz dengan santai namun santun menyampaikan urgensitas seorang perempuan memiliki konsep positif dan keberhargaan diri.

“inilah yang bahaya, makanya kenapa perempuan itu harus punya konsep diri positif pertama, harus punya rasa keberhargaan diri yang tinggi, dia tidak boleh insecure,” ungkap beliau di hadapan ribuan santri termasuk para neng dan nyai Nurul Jadid.

Paparan menyoal Perempuan itu juga mengupas tentang bagaimana dua konsep itu dibangun melalui pola pengasuhan yang baik dari kedua orang tua khususnya dari sosok seorang ayah.

“ini kita harus membangun dari rumah, dari bagaimana orang tua kita mendidik kita, terutama peran seorang ayah, maka penting sekali peran pengasuhan untuk membentuk konsep diri yang positif dan keberhargaan diri yang tinggi bagi seorang perempuan,”

“karena ketika seorang perempuan itu tau dirinya berharga dia tidak akan sembarangan mau diajak pergi oleh laki-laki. Mau nikah aja pilih-pilih dulu”

Konsep diri yang positif dan keberhargaan diri ini akan berimbas kepada banyak lini dalam kehidupan seorang Perempuan Muslimah yang tentunya akan mampu meningkatkan kualitas hidup (quality of life) diantaranya:

Kesejahteraan Emosional

Konsep diri positif membantu perempuan merasa lebih bahagia, percaya diri, dan memiliki hubungan yang lebih sehat dengan diri mereka sendiri. Ketika seseorang merasa percaya diri dan menerima diri sendiri apa adanya, mereka cenderung memiliki kecenderungan untuk mengatasi stres dan tekanan dengan lebih baik.

Kesehatan Mental
Konsep diri yang positif dapat membantu mencegah masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Saat seseorang merasa berharga dan memiliki pandangan positif tentang diri mereka sendiri, mereka cenderung lebih optimis dan memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup.

Hubungan yang Sehat

Keberhargaan diri yang kuat membantu perempuan dalam memilih hubungan yang sehat dan bermakna. Mereka cenderung tidak akan mentolerir perilaku yang merendahkan diri atau merugikan dalam hubungan. Ini dapat membantu mencegah terjebak dalam hubungan yang tidak sehat atau beracun.

Pencapaian Pribadi dan Profesional

Konsep diri positif dapat memberikan motivasi bagi perempuan untuk mengejar tujuan pribadi dan profesional. Ketika seseorang merasa yakin dengan kemampuan dan potensinya, mereka lebih cenderung untuk mengambil risiko yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.

Kemajuan Generasi Mendatang

Sikap dan pandangan perempuan tentang diri mereka sendiri akan memberikan pengaruh besar pada anak-anak perempuan yang akan datang. Konsep diri yang positif dan keberhargaan diri yang ditunjukkan oleh perempuan saat ini dapat membentuk pola pikir anak-anak perempuan di masa depan, memberikan contoh tentang pentingnya mencintai dan merawat diri sendiri.

Pemberdayaan

Konsep diri yang positif dapat memberikan perempuan rasa pemberdayaan untuk berbicara dan berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, bisnis, pendidikan, dan budaya. Ketika seseorang merasa memiliki nilai dan suara yang penting, mereka lebih mungkin untuk berkontribusi secara aktif dalam masyarakat.

Singkatnya, memiliki konsep diri positif dan keberhargaan diri bukan hanya menguntungkan perempuan secara pribadi, tetapi juga berdampak pada lingkungan sekitar mereka dan masyarakat secara keseluruhan. Ini adalah langkah penting menuju pemberdayaan dan kesetaraan gender di kalangan pesantren dan Muslimah yang lebih baik.

Tonton full video : https://www.youtube.com/watch?v=Ov2OPUs5mE4&t=203s

(Humas Infokom)

Neng Imaz on Women’s Talk: Dalam Diri Perempuan Banyak Sekali Keindahan, ‘Lisanul Hal’ adalah Kecantikan Sejati

nuruljadid.net – Neng Imaz sapaan akrab Nyai Hj. Imaz Fatimatuz Zahra merupakan putri dari pasangan almaghfurlah KH Abdul Khaliq Ridwan dan Nyai Hj Eeng Sukaenah Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al Ihsan Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Beliau adalah santriwati pejuang dan pemberdaya perempuan masa kini. Neg Imaz hadir pada acara Women’s Talk di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Jawa Timur (11/08/2023)

Kegiatan yang dikemas dalam forum dialog interaktif tersebut mengusung tema “Problematika Muslimah Kekinian” diselenggarakan oleh Biro Kepesantrenan Putri. Kegiatan ini diikuti oleh ribuan santri yang terdiri dari guru, karyawan dan pengurus pesantren putri yang bertempat di Aula 1 untuk sebagian santri yang lain bertempat di Aula 2.

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Ihsan Lirboyo Kediri, Ning Imaz Fatimatuz Zahra mengingatkan kepada perempuan agar selalu berorientasi untuk berkembang. Menurut Ning Imaz, sebagai seorang perempuan, dia harus bisa mengaktualisasi diri dengan cara berinvestasi meningkatkan kualitas diri. Tidak hanya kecantikan luar saja (outer beauty) namun kecantikan dalam (inner beauty).

“dalam diri perempuan itu banyak sekali keindahan-keindahan yang tidak hanya dari luarnya saja, tapi ada yang namanya inner beauty, jadi inner-outer beauty,” tutur Nyai muda tersebut

Istri dari Gus Rifqil tersebut mengingatkan agar perempuan mampu merepresentasikan dengan benar akan eksistensi mereka di depan publik. “Bukan tentang bagaimana kita itu merepresentasikan kecantikan diri kita secara fisik saja dalam artian penampilan kita, muka kita, wajah kita, pakaian kita, bukan hanya itu,”

Neng Imaz juga mendeskripsikan kecantikan sejati seorang perempuan, “tapi juga ada yang namanya lisanul hal, gerak-gerik kita, cara kita berbicara, cara kita mendengarkan, cara kita menghargai orang lain, cara kita makan, cara kita minum itu adalah sesuatu yang ketika kita bersedia untuk mengaturnya, kita bersedia untuk menjadi perempuan yang tidak hanya cantik di luar saja tapi berusaha menjadi perempuan yang cantik di dalam. Maka itulah sesungguhnya kecantikan sejati seorang perempuan akan terpancar keluar.”

“Jadi bukan hanya tentang cream apa yang kita pakai, pakaian apa yang kita kenakan. Tapi bagaimana kita berbicara, apakah pembicaraan kita menyakiti orang lain, apakah kita menghargai orang lain, apakah cara duduk kita ini baik, apakah cara makan kita ini baik. Itu semua akan menunjukkan kecantikan sejati yang disebut inner beauty” lanjutnya.

“Islam harapkan kita mampu mensyukuri apa yang ada pada diri kita, merawatnya sekedarnya, menerimanya dengan lapang dada terhadap apa yang ada dalam diri kita.”

“Ya memang kita harus menyadari bahwa setiap perempuan itu diciptakan cantik, perempuan itu memiliki definisi cantiknya sendiri. Dan setiap Perempuan harus menghargai setiap kecantikan di dalam dirinya” pungkas cucu dari Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampasy pengarang kitab Siraj ath-Thalibin.

 

Full video live : https://www.youtube.com/watch?v=Ov2OPUs5mE4&t=203s

 

(Humas Infokom)

KH Zaini Mun’im, pejuang dan pendiri Ponpes Nurul Jadid

Probolinggo (ANTARA) – Mandat ulama adalah pewaris nabi dalam menyebarkan firman-firman Ilahi yang tertulis maupun yang tak tertulis. Sebagai pewaris nabi, ulama tak cukup hanya berjuang melalui mimbar-mimbar khutbah, melainkan pula harus memiliki sikap berani melakukan perubahan dan pembaruan demi mewujudkan cita-cita ideal dari Nabi Muhammad Saw, yaitu menjadikan umat yang paripurna.

KH. Zaini Mun’im, selain dikenal sebagai figur alim, juga kisah perjuangannya dalam sejarah panjang kemerdekaan Indonesia. Ulama ini merupakan sosok yang berani memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak, sehingga mampu mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih sejahtera. Kiai Zaini Mun’im adalah arketipe ulama yang tidak hanya menerjemahkan Islam dalam spektrum ubudiyah, melainkan menjadi realitas di kehidupan.

Kiai Zaini lahir tahun 1906 di Desa Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura, dari pasangan KH Abd Mun’im dan Nyai Hamidah. Dari garis keturunan ayahnya, Zaini merupakan keturunan raja Sumenep yang silsilahnya sampai kepada Sunan Kudus. Sementara dari garis ibu, ia adalah keturunan dari raja-raha Pamekasan. Ia adalah seorang bangsawan yang bergelar Raden yang sangat disegani di Madura.

Jejak Kiai Zaini mendirikan pesantren menunjukkan bahwa spirit juang beliau dalam mendobrak kohesi sosial yang awalnya jauh menyimpang dari ajaran suci (sesat), kemudian mampu menggiring masyarakat menjadi kaum agamis yang dekat dengan nilai-nilai Ilahi.

Namanya perjuangan, tentu tidak mudah. Saat mendirikan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Kiai zaini harus berjuang menghadapi berbagai ancaman dari binatang buas dan orang yang tidak sudi atas kehadirannya. Namun tak ada rasa getir sedikit pun di hatinya. Perjungannya berhadapan dengan sistem sosial yang kala itu masih porak poranda. Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, yang kini menjadi markas Ponpes Nurul Jadid, zaman dulu tidak seperti saat ini.

Pada masa itu, sebelum bernama Karanganyar, desa ini dikenal dengan sebutan Tanjung. Nama yang diambil dari sebuah pohon besar yang berdiri di tengah-tengah desa. Masyarakat setempat menganggap pohon tersebut mempunyai kelebihan dan keistimewaan. Tak sedikit dari masyarakat setempat menjadikan pohon tanjung itu sebagai sesembahan, yang pada akhirnya tanjung diabadikan sebagai nama desa.

Pada mulanya, desa kecil yang terletak di pesisir di Kecamatan Paiton ini, sebagian besar tanahnya tidak dapat dimanfaatkan. Sebab, salah satunya banyak binatang buas yang mendiami desa ini. Di sisi lain, kehidupan penduduk desa juga sangat memperihatinkan. Mereka menganut animisme dan dinamisme yang ditandai dengan keberadaan beberapa pohon besar yang tidak boleh ditebang karena diyakini sebagai pelindung mereka.

Upaca ritual dalam bentuk pemberian sesajen merupakan hal lazim saat itu, utamanya di momen-momen tertentu, seperti hajatan dan ketika musim tanam tiba. Konon, sesajen tersebut dipersembahkan kepada roh yang diyakni berada di sekitar pohon besar dengan memiliki kekuatan yang di luar nalar manusia. Beberapa masyarakat melakukan upacara ritual dengan meletakkan ayam di setiap titik yang dianggap sakral. Selain itu, setiap tahun, mereka mengadakan selamatan laut dengan melarung kepala kerbau.

Dalam pergaulan masyarakatnya, marak sekali terjadi perjudian, perampokan, pencurian dan tempat pekerja seks komersial (PSK). Kehidupannya cenderung hedonis, dalam keyakinan mereka, kesenangan dan kebahagiaan hanya terdapat dalam perbuatan yang penuh dengan kemaksiatan dan kemungkaran. Kepedulian masyarakat terhadap alam sebagai sumber kehidupannya pun sangat memprihatinkan. Dengan demikian, waktu itu Karanganyar dicap sebagai desa mati.

Di tengah situasi dan kondisi sosial masyarakat yang demikian, KH. Zaini Mun’im, setelah mendapatkan restu dan perintah dari KH. Syamsul Arifin, ayah dari KH. As’ad Syamsul Arifin (Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo) memutuskan untuk menetap dan bertempat tinggal bersama keluarga di desa itu.

Dengan berbekal satu batang lidi, beliau berjalan menelusuti tanah yang sudah menjadi miliknya. Binatang buas yang mendiami tanah tersebut lari menuju utara desa, yaitu di daerah Grinting. Kurang lebih satu tahun beliau membabat hutan, mendirikan rumah, membangun surau kecil, dan mengubah hutan menjadi tegalan.

Awalnya, kedatangan Kiai Zaini Mun’im ke Desa Karanganyar bukan bermaksud untuk mendirikan pondok pesantren, melainkan untuk mengisolir diri dari keserakahan dan kekejaman kolonial Belanda. Sejatinya, beliau ingin melanjutkan perjalanan ke pedalaman Yogyakarta bergabung dengan teman-teman seperjuangannya.

Cita-cita Kiai Zaini untuk menyiarkan agama Islam, kala itu melalui Departemen Agama (Depag) tidak tersampaikan, sebab sejak beliau menetap di Karanganyar, ada dua orang santri (Syafi’uddin dan Saifuddin) yang datang kepada beliau untuk belajar ilmu agama.

Kedatangan kedua santri tersebut oleh beliau dianggap sebagai amanat dari Allah yang tidak boleh diabaikan. Dan mulai saat itu beliau menetap bersama kedua santrinya.

Seiring waktu, suarau kecil milik Kiai Zaini terus berkembang. Santri beliau terus bertambah. Pendidikan dan bimbingan yang beliau berikan tidak sebatas di lingkungan pesantren saja, namun berhasil membawa perubahan budaya dan kondisi masyarakat Desa Karanganyar menjadi kawasan dengan tatanan sosial yang tertata lebih baik.

Kini Pondok Pesantren Nurul Jadid sudah memiliki belasan ribu santri dari berbagai segala penjuru negeri, bahkan dari mancanegara. Sang pendobrak kesesatan yang bernama Kiai Zaini Mun’im telah lama berpelukan dengan kekasih-Nya. Kiai Zaini wafat pada 26 Juli 1976, namun semangatnya sebagai mujaddid dan mujahid terus mengalir pada santri-santrinya.

Penulis: Ahmad Zainul Khofi
*) Artikel sebelumnya telah dimuat di AntaraNews