Mengenal Forum Komunikasi Santri, Spirit Kiai Zaini Mun’im Merekatkan Santri dan Masyarakat

“Orang yang hidup di Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan, dia telah berbuat maksiat. Orang yang memikirkan masalah ekonominya sendiri saja dan pendidikannya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita harus memikirkan perjuangan rakyat banyak,” – KH. Zaini Mun’im

nuruljadid.net – Kebiasaan yang ada setiap malam libur kegiatan pesantren (malam Selasa dan Jum’at) di Pondok Pesantren Nurul Jadid, santri beramai-ramai berkerumun di pojok-pojok pesantren, mereka bersua dengan santri dari masing-masing daerah asal dalam wadah Forum Komunikasi Santri (FKS)—momen itu biasanya terjadi menjelang liburan panjang pesantren seperti libur maulid dan libur ramadan. Dalam forum itu, santri membahas giat-giat sosial-keagamaan yang menjadi program perekat antara dirinya dan masyarakat.

FKS menjadi salah satu organisasi yang dinilai memiliki andil sangat besar bagi Pondok Pesantren Nurul Jadid serta memiliki akses terhadap masyarakat. Saya rasa, menjadi hal yang menarik membahas FKS, baik dari asal-muasal, tujuan, hingga tantangan yang dihadapi.

Epistemologi FKS

Berdirinya organisasi bernama Forum Komunikasi Santri (FKS), berangkat dari visi-misi penggerak dan pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Zaini Mun’im, dengan semboyan yang lumrah dikenal dikalangan warga pesantren. Diskursus “saya tidak rela kalau santri saya tidak berjuang di masyarakat” menjadi ruh utama hadirnya FKS sebagai wadah santri untuk menjalankan tugas “berguna bagi masyarakat” melalui kegiatan berbasis sosial-keagamaan.

Kemudian, diskursus itu terinternalisasi pada rumusan Panca Kesadaran Santri Nurul Jadid, tepatnya pada sila ke-3 yang berbunyi “Kesadaran Bermasyarakat” dan sila ke-5 “Kesadaran Berorganisasi”, kedua sila yang menghidupkan makna eksistensi organisasi FKS.

Berangkat dari dua sila inilah motor penggerak organisasi FKS yang menerima cahaya penerang jalan menuju dua arah objektif fungsionalnya, yaitu sebagai fungsi pengkaderan, media mempererat silaturahmi antar santri (sila ke-5); dan fungsi sebagai corong pengabdian santri di lingkungan masyarakat (sila ke-3).

Secara struktural FKS berada di bawah koordinasi Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM), khususnya di Seksi Organisasi Satuan dan Organisasi Daerah (Orsat-Orda) Pondok Pesantren Nurul Jadid. Satuan kerja inilah yang mengorganisir arah haluan organisasi FKS.

Benang Merah FKS

Ihwal berorganisasi, “permasalahan” sebuah niscaya menjadi makanan empuk sehari-hari dalam menempa proses pendewasaan diri dan mematangkan sebuah organisasi. Begitupula yang dihadapi oleh organisasi yang bernama FKS. Saya mencoba menarik benang merah dalam aporia kedua objektif-fungsional FKS tersebut, dalam penemuan praktisnya, sejumlah FKS melewatkan hingga melazimkan (disfungsi) yang seharusnya menjadi tonggak awal terbentuknya forum yang diidamkan ini, yaitu sinergitas organisasi: menyambung dan memperkuat keeratan tali persaudaraan antar santri. Menurut saya, hal ini tak luput dari bias yang berserakan oleh kepentingan yang bersifat seremonial yang ditengarahi lebih penting daripada membangun tubuh organisasi yang ideal.

Merespon hal itu, BPPM mengambil langkah taktis untuk mengembalikan cita-cita dan arah tujuan awal terbentuknya organisasi FKS. Langkah itu sebagai pemutus mata rantai agar FKS tidak disebut sebagai organisasi yang implisit-objektif. Disamping itu, BPPM berupaya memperluas makna kegiatan FKS yang bermula sebagai organisasi pragmatis menjadi organisasi yang dapat memberikan output berdampak universal bagi sendi-sendi kehidupan yang berkamajuan dan berkelanjutan.

Seiring perjalanan forum tersebut, haruslah menjadi wadah santri untuk membangun dan membumikan nilai “Kesadaran Bermasyarakat dan Berorganisasi”; dalam mewujudkan dawuh Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Seyogyanya FKS harus terus diasah dan diolah melalui program evaluasi dan peremajaan Sumber Daya Manusia agar FKS kembali ke habitatnya sebagai organisasi penyambung lidah pesantren dan masyarakat untuk mewujudkan mimpi idealnya, yaitu menjadikan indonesia cakrawala dunia.

 

Oleh: Ahmad Zainul Khofi

Abang Mi’ing dan Abah Qomar Edukasi Santri Lewat Komedi Menjadi Pemimpin Negeri

nuruljadid.net – Kamis, 03 Agustus 2023 anggota komisi X DPR RI periode 2009-2014 bersilaturrahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam program sapa santri di Aula 1 pesantren. Pasalnya, mereka telah mengambil langkah inovatif dalam upaya mendidik dan membentuk calon pemimpin masa depan Indonesia dengan cara unik melalui komedi.

Dua dari tiga belas jumlah rombongan eks komisi X DPR RI, abang Mi’ing nama panggung dari Tubagus Dedi Suwendi Gumelar dan abah Qomar memadukan pendidikan dan hiburan sebagai media edukasi santri. Pendekatan ini bertujuan untuk menginspirasi dan membekali santri dengan keterampilan kepemimpinan melalui cara yang unik dan menarik.

Inspirasi dari Komedi:

Metode ini terinspirasi oleh pengalaman sukses mereka sejak terjun di dunia seni, di mana pendekatan edukasi yang inklusif dan menghibur telah terbukti lebih efektif dalam menyampaikan pesan kepada audiens. Abang Mi’ing dan abah Qomar dari eks Komisi X DPR RI memutuskan menggunakan komedi dalam rangka mendukung perkembangan santri sebagai pemimpin masa depan yang berintegritas, berpikiran terbuka, dan memiliki keterampilan interpersonal yang baik.

Abang Mi’ing dan Abah Qomar Edukasi Santri Lewat Komedi Menjadi Pemimpin Negeri

Komedi sebagai Medium Pendidikan:

Dalam program sapa santri tersebut, para santri mengikuti dan menyimak dengan seksama penyampaian dan pesan moral yang dibawakan menggunakan elemen-elemen komedi layaknya stand-up comedy. Permainan kata-kata yang saling sahut-sahutan berhasil mengundang tawa para santri dan audiens yang hadir. Abang Mi’ing dan abah Qomar menjelaskan konsep kepemimpinan, etika, manajemen waktu, dan berbagai keterampilan sosial lainnya. Bahwa santri hari ini adalah pemimpin negeri di masa yang akan datang.

Penguatan Kreativitas dan Percaya Diri:

Pendekatan edukasi lewat komedi ini bertujuan untuk memperkuat kreativitas dan percaya diri para santri, serta mengajarkan mereka bagaimana berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif. Dengan melibatkan santri dalam kegiatan yang bersifat komikal dan menghibur, diharapkan bahwa mereka akan lebih terbuka terhadap pembelajaran dan lebih siap menghadapi tantangan dunia nyata.

Transformasi Karakter:

Program ini juga memiliki fokus kuat pada pembentukan karakter. Melalui situasi komikal dan cerita lucu, para santri secara tidak langsung diajarkan nilai-nilai kepemimpinan yang mencakup integritas, tanggung jawab, kerja sama, dan empati. Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar keterampilan praktis, tetapi juga membangun fondasi moral yang kuat sebagai calon pemimpin bangsa.

Melalui pendekatan edukasi yang kreatif ini, abang Mi’ing dan abah Qomar memberikan contoh inspiratif tentang bagaimana pendidikan dan penyampaian pesan dapat disajikan dengan cara yang menyenangkan dan berdampak. Diharapkan, generasi santri khususnya santri Pondok Pesantren Nurul Jadid akan mampu mengemban tanggung jawab kepemimpinan dengan visi, integritas, dan semangat yang tinggi.

 

(Humas Infokom)

Antara News : Ponpes Nurul Jadid Kiblat Peradaban Indonesia Tahun 2045

nuruljadid.net – 22 tahun dari sekarang, kita akan menyaksikan momentum bersejarah, sebab Indonesia genap berusia 100 tahun atau satu abad. Berangkat dari hal ini yang menjadi salah satu alasan munculnya ide, wacana, dan gagasan Generasi Emas 2045.

Mewujudkan Indonesia Emas 2045 merupakan langkah permerintah dalam membangun Indonesia agar kelak menjadi megatrend dunia yang semakin syarat akan persaingan super ketat.

Dalam mewujudkan hal tersebut, Pemerintah membangun pilar Visi Indonesia 2045 sebagai bahan acuan untuk memanifestasikan cita-cita bangsa demi Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, sebagai pedoman setiap langkah pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Pencapaian impian dan visi Indonesia 2045 dibangun dengan 4 pilar berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar berbangsa, bernegara dan konstitusi.

Keempat Pilar Visi Indonesia 2045 itu adalah pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola kepemerintahan.

Tujuan dari empat pilar Indonesia itu adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, serta keadilan sosial.

Mimpi besar itu akan berekses pada lembaga pendidikan pesantren. Sebab itu, Pesantren idealnya tak cukup hanya mempertahankan tradisi-tradisi kepesantrenan. Pesantren harus bergerak lebih maju dalam menyambut tantangan arus globalisasi.

Pesantren tidak boleh alergi dengan kemajuan teknologi yang makin hari kian berkembang. Arus perubahan teknologi yang begitu cepat ini, berharap agar pesantren mampu beradaptasi dan merangkulnya.

Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren jika hanya berkutat pada budaya-budaya yang “dipandang” sebagai budaya paten dan menutup diri dengan budaya baru, tidak menutup kemungkinan akan mengalami hambatan-hambatan dalam mewujudkan pendidikan bermutu (quality education) untuk menciptakan sumber daya manusia yang baik.

Salah satu pesantren yang tidak menjadikan arus perkembangan teknologi sebagai momok bagi karakter pesantren adalah Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Pesantren ini memiliki nilai-nilai ideologis yang telah mengakar pada sistem pendidikan, pengaderan, dan aktivitas keseharian santri.

Idiom ini telah terpopulerkan melalui trilogi dan panca kesadaran santri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Ruh ini pun yang menjadi spirit KH. Zaini Mun’im saat mendirikan pesantren. Kiai Zaini tahu bahwa akan ada perkembangan zaman yang kelak harus disambut oleh pesantren.

Penyambutan itu harus dilandasi dengan karakter pesantren yaitu, ilmu. Sebab peradaban ilmu telah mengakar di dunia pesantren. Ilmu adalah satu-satunya sarana untuk melanggengkan visi-misi pesantren dalam berbagai kondisi dan tempat yang berbeda-beda.

(Santri Nurul Jadid pengibar bendera merah putih saat upacara peringatan Hari Santri Nasional)

Internalisasi spirit nilai Kiai Zaini terjewantahkan melalui prinsip pesantren yang dikenal dengan trilogi dan panca kesadaran santri.

Lahirnya prinsip ini tak lepas dari bacaan Kiai Zaini berkait perkembangan dunia, termasuk Indonesia. Menurut pengasuh Ponpes Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini, hakikat santri adalah Islam Nusantara. Santri adalah kiblat keislaman yang damai, ramah, sejuk, dan pemersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan di antara sesama manusia.

Pesan itu menggambarkan betapa progresifnya pemikiran Kiai Zuhri dalam membaca dunia. Berbicara Islam tak hanya berkutat pada wacana keagamaan. Lebih dari itu, agama yang “dinahkodai” oleh Nabi Muhammad ini membincang seluruh aspek pengetahuan. Sebagai ajaran ilahi, Islam terus mentransformasikan nilai-nilai progresivitas menyambut kedatangan arus perubahan yang sangat cepat.

Kiai Zaini sadar, pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tertua di negeri kita merupakan benteng yang tangguh untuk adaptif terhadap kondisi apapun.

Tetobosan-terobosan Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menyambut tahun 2045 telah dibunyikan melalui Program Induk Pesantren (PIP) 20 tahun jauh ke depan sebagai blueprint arah pengembangan pesantren.

Pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia tengah mendapatkan perhatian sangat serius dibuktikan dengan pelatihan dan pengembangan dengan berbagai kursus dan workshop. Pemasaran teknologi pun juga dikenalkan ke kalangan masyarakat pesantren, dengan disediakannya asrama jurusan teknologi yang terintegrasi dengan pendidikan formal.

Pondok Pesantren Nurul Jadid juga berkomitmen membangun ekonomi keummatan melalui alumninya yang terhimpun dalam wadah organisasi Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ). Pengembangan dan peningkatan ekonomi masyarakat merupakan salah satu gerakan yang terus diimpi-impikan, dan menjadi cita-cita luhur pesantren yang lokasinya terletak tidak jauh dari masyarakat nelayan ini.

Tentu spirit untuk mencetak generasi emas telah terbumikan melalui program-program yang ada di satuan kerja pesantren saat ini. Dengan itu, selayaknya Pondok Pesantren Nurul Jadid dinobatkan menjadi kiblat peradaban menyambut Indonesia Emas 2045.

 

Sumber : https://jatim.antaranews.com/berita/719733/ponpes-nurul-jadid-kiblat-peradaban-indonesia-tahun-2045

Lebih 1 Juta Views! eNJe Picture Rilis 2 Video Musik Ceritakan Perjuangan Santri

nuruljadid.net – eNJe Picture membuktikan eksistensinya terus produktif dengan kembali merilis sebuah karya. Kali ini, tim Multimedia Pondok Pesantren Nurul Jadid yang berdiri sejak 2018 itu merilis dua video musik berjudul N.J.O.Y dan Menembus Matahari. Dua lagu ini sendiri merupakan Official Sound Track (OST) pada kegiatan Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2023 bulan lalu. Hadirnya video musik N.J.O.Y dan Menembus Matahari tak lepas dari kerjasama banyak pihak.

Lagu N.J.O.Y ini diadopsi dari Dreamers yang dibawakan oleh Jung Kook sebagai salah satu soundtrack FIFA World Cup Qatar 2022, sedangkan Menembus Matahari terinspirasi dari lagu Anggi Marito Tak Segampang Itu. Dari kedua lagu tersebut tim eNJe Picture menciptakan lirik sendiri menyesuaikan kehidupan santri.

Tim eNJe Picture sebagai tim videografi diketuai oleh Ach. Faqihatus Sholeh, vocal putra diisi oleh Dirga Thama, sedangkan putri diisi oleh tiga santriwati Cindy, Catrin, Lexya. Tak kalah penting, musik pengiringnya diaransemen oleh Dimas Al-Jawad, sedangkan Zukhruf Zidane berperan sebagai DOP dan Adlan Adriansyah sebagai video editor.

Bagian lirik dikarang dan ditulis oleh tim eNJe Picture sendiri yang diilhami dari pengalaman mondok sembari mengaji dan mengabdi di pesantren. Selain itu, ada panitia OSABAR dan santri Nurul Jadid yang didapuk sebagai pemeran dalam video musik N.J.O.Y dan Menembus Matahari.

(Tampilan tangkap layar video musik karya eNJe Picture di kanal YouTube resmi Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton)

Dari infomasi yang terhimpun, dikatakan bahwa music video N.J.O.Y dan Menembus Matahari punya makna yang begitu dalam. Dalam perjalanan hidup di pesantren, santri harus memiliki jiwa pengabdian yang tinggi dan kemauan belajar yang kuat serta terus berupaya untuk memperbaiki akhlak terutama kepada guru yang dewasa ini kian terkikis bahkan hilang karena kecerdasan dan merasa pintar yang keblablasan.

“Video musik N.J.O.Y dan Menembus Matahari adalah sebuah gambaran kecil dari jutaan bahkan miliaran gambar lainnya di dunia pesantren. Gambaran ketika santri tidak selalu bisa memilih untuk bertemu dengan orang tua, bertukar rasa, terikat, terpisah dengan apa dan siapa yang mereka cinta,” tulis tim eNJe Picture.

1. Dapat Dinikmati Lewat YouTube

Video musik N.J.O.Y dan Menembus Matahari merupakan karya video musik terbaru dari eNJe Picture. Karya ini dapat disimak dan dinikmati di kanal YouTube resmi Pondok Pesantren Nurul Jadid. Di YouTube telah ditonton lebih dari 12 ribu kali, kalah banyak dibandingkan penonton TikTok, hal ini disebabkan tidak sedikit oknum yang mengunduh dan membagikannya di pelbagai medsos dan grup yang mereka punya tanpa menyertakan link resmi video musik ini.

Semoga gambaran N.J.O.Y dan Menembus Matahari dari karya yang melibatkan banyak talenta di dalamnya ini dapat berkenan kepada pemirsa khususnya santri Indonesia yang menyimaknya.

2. Dapat Dinikmati Lewat TikTok

Tidak hanya di kanal YouTube, video musik N.J.O.Y dan Menembus Matahari ini juga diunggah di akun resmi TikTok Pondok Pesantren Nurul Jadid yang sudah berhasil tembus lebih dari 1,5 Juta penonton, 150 ribu lebih disukai dan seribu lebih kometar.

Harapannya karya santri yang sederhana ini dapat didukung oleh semua pihak agar santri terus termotivasi untuk berkarya dengan konten yang positif, Islami dan mengilhami kebaikan bagi para pendengarnya. Salah satu cara sedehana yang bisa dilakukan untuk mendukung karya seni santri adalah dengan SUBSCRIBE – LIKE – COMMENT – SHARE. Semoga menjadi kebaikan bagi semua.

Berikut Link Resmi Karya Video Musik eNJe Picture:

  1. N.J.O.Y Putra on YouTube
  2. N.J.O.Y Putri on YouTube
  3. Menembus Matahari on YouTube
  4. N.J.O.Y Putra on TikTok
  5. N.J.O.Y Putri on TikTok
  6. Menembus Matahari on TikTok

(Humas Infokom)

Puji Kepemimpinan Kiai Hamid, Ini Kata Pemerintah Narathiwat Thailand

nuruljadid.net – Spirit melayani adalah kredo hidupnya, dan hal itu sudah pasti adalah gaya kepemimpinan KH. Abdul Hamid Wahid, Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid sekaligus Rektor Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo. Ekspresi lugasnya terungkap pada saat menerima kunjungan tamu dari Pemerintah Provinsi Narathiwat Thailand, yang mengisyaratkan keyakinan kuat Kiai Hamid sebagai sosok mukmin pemimpin yang memanusiakan manusia.

25 Juli 2023, UNUJA bersama Pemerintah Provinsi Narathiwat Thailand menggelar Studium Generale dengan tajuk “Bridging the Gap: Managing the Cross-Cultural Education in Thailand and Indonesia.” Bertempat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, dalam forum ini terdapat empat pembicara dalam sesi sambutan (pidato), yaitu Rekor UNUJA KH. Abdul Hamid Wahid, Sekda Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, Gubernur Provinsi Narathiwat Thailand Sanan Phongaksorn dan Sekretaris Kantor Pendidikan Swasta Thailand Pibyaa Radanawrrachad.

Seperti diketahui, sebagian pembaca tentu sudah sering mendengar gelar “Datuk Guru” yang diberikan kepada Kiai Hamid. Daya kepemimpinannya belakangan ini kembali dipuji oleh Pemerintah Provinsi Narathiwat Thailand untuk menegaskan Kiai Hamid adalah sosok pemimpin yang baik.

Warna kepemimpinan beliau terekspresikan dalam langkah-langkah progresifnya untuk melahirkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkeadaban, hal itu dibuktikan dengan kesuksesannya menjadi pintu pertama penyambung kerja sama Pemerintah Thailand di Indonesia.

Bentuk kerja sama tersebut pada awalnya merujuk pada peningkatan kualitas bidang pendidikan yang secara umum tertuju di Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Probolinggo secara khusus, begitupula di Thailand Selatan. Kerja sama yang semakin luas ini diimpikan sampai pada tingkat nasional, yang sering dikenal sebagai kerja sama bilateral. Pun bidang-bidang dalam kerja samanya diharapkan bisa semakin luas, yang mulanya hanya di bidang pendidikan, diharapkan merambah ke bidang ekonomi, budaya, hingga pariwisata.

Yang menarik digarisbawahi dari kepemimpinan yang melayani ala Kiai Hamid ialah saat menerima kunjungan tamu mancanegaranya itu. Pada momentum tersebut, Gubernur Sanan Pongaksorn mewakili Pemerintah Provinsi, dalam sesi pidatonya menyampaikan rasa bangga terhadap sambutan dan layanan istimewa yang diterima selama di Indonesia.

“Kami mengucapkan terima kasih dan kami merasa terhormat, dengan sambutan, pelayanan dari Kiai Hamid, sehingga kami bisa menjalankan aktivitas di Jawa Timur ini dengan baik dan tenang,” ungkapnya.

Dengan lues, Gubernur Sanan Pongaksorn menceritakan perjalanannya selama di Indonesia. Sejak pertama kali turun dari pesawat, bertemu dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur, sampai tiba di Pondok Pesantren Nurul Jadid, jelasnya, Kiai Hamid selalu mendampingi, mengarahkan dan memberikan pelayanan yang baik.

“Saya sangat yakin bahwa Kiai Hamid orang yang begitu baik,” imbuhnya dengan wajah tersenyum haru.

Dengan begitu, lanjut Gubernur, Pemerintah Provinsi Narathiwat Thailand tak kesusahan saat mengunjungi dan menyambung kerja sama dengan beberapa institusi yang berada di Jawa Timur.

Hal menarik lainnya, Kiai Hamid mengekspresikan sosok pemimpin yang toleran: tanpa memandang suku, ras, budaya dan agama, contohnya saat beliau terbuka menerima tamu non-muslim di pesantrennya dalam kegiatan Studium Generale bersama Pemerintah Thailand itu.

Gaya kepemimpinan yang Kiai Hamid miliki ini patut kita contoh, apa yang telah beliau lakukan sebagai seorang pemimpin sama seperti kriteria True Leaders and Leadership menurut Cak Nun, yaitu kepemimpinan yang memberikan energi berupa rasa percaya dan aman. Kepemimpinan yang mendistribusikan kearifan, pengetahuan, solusi, serta harmoni bagi orang di sekelilingnya.

Oleh: Ahmad Zainul Khofi

(Humas Infokom)

Kiai Najiburrahman Wahid: Santri Jangan Diam Saja Ketika Terjadi Penyimpangan “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”  

nuruljadid.net – Kiai Najiburrahman Wahid dalam sambutannya sebagai Wakil Kepala I pesantren pada penutupan OSABAR 2023 selain menyinggung urgensitas niat dalam menuntut ilmu di Pondok Pesantren Nurul Jadid, juga menekankan kepada para santri untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran.

“Kemudian terkahir, pesan saya kepada adik-adik santri baru. Marilah kita senantiasa sebagaimana dalam surah al-ashr, bahwa manusia itu merugi kecuali manusia yang mau beriman dan beramal sholeh serta mau saling mengingatkan kepada kebenaran dan mau saling mengingatkan untuk bersabar,”

“Mari kita saling mengingatkan terutama sesama santri baru, kalau ada yang dipandang menyimpang atau melanggar aturan pesantren jangan segan-segan untuk saling mengingatkan sesama teman.”

“Misalkan ada bullying, dari santri senior atau santri lama, kemudian santri baru dibully, diplonco, didholimi diperlakukan tidak manusiawi misalkan. Adik-adik diharap jangan diam saja, diharap untuk menegur dan memperbaiki amar ma’ruf nahi munkar”.

(Waka I Pesantren Kiai Najiburrahman Wahid saat memberikan sambutan pada penutupan OSABAR 2023)

Dalam ajaran Islam, jika kita melihat ada kemungkaran atau ada penyimpangan, maka kita wajib mengupayakan merubah dengan tangan kita dengan kekuatan kita. Ketika kita tidak mampu, maka paling tidak dengan kata-kata, jika masih tidak mampu, kita perlu mengingkari dengan hati, akan tetapi jangan hanya ingkar saja melainkan harus dilaporkan ke pengurus.

“perlu saya sampaikan karena pernah terjadi bullying atau perundungan santri baru oleh santri lama, dulu pernah ada, semoga sekarang tidak ada. Jadi jika adik-adik menjumpai hal-hal atau perilaku yang menyimpang sesama santri, maka jangan segan-segan untuk menegur kalau bisa, kalau tidak mampu laporkan ke pengurus. Sebab kadang-kadang kalau ada yang jadi korban perundungan ini dan diam saja, maka lama-lama dia tidak kerasan akhirnya boyong padahal dia masih santri baru.” Ulas kiai Najib sembari bercerita.

“Sebab pesantren Nurul Jadid ini, pesantren secara umum adalah tempat untuk memperbaiki diri, menggembleng diri menjadi lebih baik. Sebagaimana kata semboyan itu, mondok untuk mengaji dan membina akhlaqul karimah.” Beliau menambahkan.

Kiai Najiburrahman menyadari bahwa tidak semua santri pintar, sopan dan memiliki perilaku yang baik karena beliau menyadari bahwa fungsi pesantren selain ibarat pabrik untuk mencetak orang-orang baik, pondok itu juga berfungsi sebagai bengkel memperbaiki yang rusak.

“Maka santri baru, perlu kita itu disamping husnundzon berbaik sangka kepada semua orang termasuk kepada sesama santri, kita juga perlu bertindak waspada, jangan sampai kita menjadi korban dari teman-teman yang mungkin akhlaqnya belum baik.” Imbuh Kiai Najib sembari mengingatkan santri baru.

Mondok di pesantren hakikatnya adalah berlatih bermasyarakat, jika para santri pandai bergaul di pondok, maka niscaya di rumah akan pandai bergaul dan bermasyarakat. Karena, masyarakat itu sangat beragam macam.

“Teriring harapan dan doa semoga kita semua senantiasa mendapat bimbingan Allah dan pertolongan-Nya, sehingga kita dan keluarga kita dan juga semua umat Islam oleh Allah dijadikan sebagai orang-orang yang selamat dunia akhirat dan sukses di dunia dan akhirat.” Harap beliau menutup sambutan.

(Humas Infokom)

Kiai Najiburrahman Wahid: Niat Paling Mulia Seorang Pencari Ilmu adalah Mencari Ridho Allah SWT

nuruljadid.net – Kiai Haji Najiburrahman Wahid selaku Wakil Kepala Pesantren I menyampaikan dalam sambutannya saat closing ceremony (26/06/2023) bahwa Orientasi Santri Baru (OSABAR) Pondok Pesantren Nurul Jadid tahun 2023 ini spesial. Pasalnya, OSABAR kali ini berdekatan dengan peringatan Hari Raya Idul Adha 1444 H, dimana santri akan melakukan takbiran bersama.

“Insyaallah di Nurul Jadid takbirannya tidak putus-putus, dibuat ber-shift sambung menyambung mulai dari hari Arafah malam, sehingga semakin menambah barokah dengan hadirnya santri baru,” Kiai najib menuturkan.

Waka I Pesantren Kiai Najib juga mengucapkan rasa terimakasihnya kepada kepada segenap panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam suksesnya OSABAR ini. Menurut beliau, dari tahun ke tahun OSABAR semakin semarak.

“saya ucapkan kepada seluruh jajaran panitia dan pihak yang membantu suksesnya OSABAR Jaza Kumullah Ahasanal Jaza. Semoga mendapatkan balasan yang terbaik di dunia dan di akhirat,”

Harapannya, OSABAR dapat membawa berkah bagi semua, khususnya para santri baru semakin betah tinggal jauh dari orang tua demi mondok di Nurul Jadid.

“semoga adik-adik santri baru sekalian bisa mengambil hikmah dari sejak awal sampai rangkaian akhir OSABAR ini. Mengenal Nurul Jadid dhohiron wa bathinan.” Imbuhnya.

Kiai Najib juga menekankan dan mengajak kepada seluruh santri baru agar senantiasa menata niat hanya karena mengharap ridho Allah SWT.

“mari kita mulai saat ini menata niat kita bahwa niat yang paling mulia seorang pencari ilmu atau mondok adalah untuk mencari ridho Allah SWT. Mencari ridho allah dengan berbagai alasannya. Berbagai pertimbangannya,”

“Ketika kita mencari ilmu karena untuk menghilkangkan kebodohan, agar kita bisa menjalankan perintah Allah menjauhi larangan-Nya, agar kita mengetahui mana yang baik dan buruk, sehingga kita bisa mengamalakan ajaran Islam dengan baik. Maka dengan begitu, kita akan mendapat ridho Allah,” ajak beliau.

Niat merupakan hal mendasar namun elemen penting dalam ibadah termasuk mencari ilmu. Sehingga, Kiai Najib dalam sambutannya membahas pentingnya menata niat mondok sejak awal.

“Jika kita mencari ilmu dengan niat turut melestarikan ajaran Islam, maka itupun termasuk dalam lingkaran ridho Allah,”

“Jika kita mencari ilmu agar menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama, maka itupun termasuk dalam lingkup ridho Allah,”

“Barangsiapa yang mencari ilmu karena mencari ridho Allah, maka dia pada hakikatnya adalah berjuang di jalan Allah,”

“Jika santri berjuang di jalan Allah, kata para ulama, andaikan ada santri dia niatnya tulus karena mencari ridho Allah, kemudian dia menemui ajal di pondok, maka dia wafatnya mati syahid dianggap sebagai pejuang di jalan Allah,” terang beliau.

“Semoga semua santri dan wali santri dipanjangkan umurnya.”

“Ketika kita semua mencari ilmu ikhlas karena Allah, ingin mencari ridho Allah, maka para makhluk akan mendoakan kita, para malaikat akan mendoakan kita, termasuk ikan-ikan di lautan juga akan mendoakan kita. Insyaallah akan senantiasa barokah,”

Betapa pentingnya menata hati dan niat dalam setiap ibadah dan Tindakan yang kita lakukan, khususnya saat mondok mencari ilmu Allah SWT di pondok pesantren.

 

 

(Humas Infokom)

Santri Baru: Perjalanan Baru Menuju Cakrawala Ilmu

nuruljadid.net – Di tengah maraknya generasi ngetok (Generasi Tik Tok, red.), ribuan santri baru memulai perjalanan baru mereka di Pondok Pesantren Nurul Jadid yang terletak di wilayah pesisir Desa Karanganyar, Paiton, Probolinggo. Seperti tahun-tahun sebelumnya, momen ini merupakan tonggak bersejarah bagi ribuan pemuda dan pemudi yang memilih mengejar cakrawala ilmu di tengah tantangan dunia modern.

Mereka datang dari berbagai penjuru negeri dengan semangat yang membara, membawa harapan dan impian untuk menimba ilmu agama dan pengetahuan umum di bawah bimbingan para kyai dan ustadz yang berpengalaman. Santri baru ini mengikuti jejak generasi-generasi sebelumnya yang telah sukses mencetak kader-kader intelektual, tokoh agama, dan pemimpin masyarakat yang berperan penting dalam kemajuan bangsa.

Mengapa santri baru tetap memilih pondok pesantren sebagai tempat berkembangnya bakat dan karakter mereka? Salah satu alasan utamanya adalah nilai-nilai yang ditanamkan di pondok pesantren. Di sini, mereka belajar tentang kedisiplinan, kejujuran, keikhlasan, dan saling menghormati. Selain itu, pondok pesantren juga memberikan ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi potensi diri dan mengembangkan kepemimpinan.

Pondok pesantren juga menawarkan kurikulum yang komprehensif, yang tidak hanya mencakup pelajaran agama, tetapi juga pelajaran umum seperti matematika, sains, bahasa Inggris, dan keterampilan berkomunikasi. Hal ini mempersiapkan santri baru agar dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin kompleks. Mereka dibekali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat menjadi modal dalam menghadapi tantangan global. Hal tersebut relevan dengan dasar santri Pondok Pesantren Nurul Jadid yang dimuat dalam Trilogi dan Panca Kesadaran Santri.

Namun, perjalanan santri baru di pondok pesantren tidaklah mudah. Mereka harus menghadapi kehidupan yang sederhana, menjalani rutinitas yang ketat, dan belajar dengan tekun. Hal ini merupakan bagian dari proses pembentukan karakter dan mental yang kuat. Mereka dilatih untuk menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan bertanggung jawab.

Perjalanan santri baru di pondok pesantren juga tidak terbatas pada ruang kelas. Mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, seperti pengabdian kepada masyarakat, mengajar anak-anak di sekolah-sekolah desa, dan membantu dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti contohnya: santri sebagai duta daerah asal terjun dalam kegiatan positif di organisasi kemasyarakatan Forum Komunikasi Santri (FKS). Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi individu yang berpengetahuan, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Masyarakat dan pemerintah semakin mengakui peran penting pondok pesantren dalam pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. Upaya kolaboratif antara pemerintah, pondok pesantren, dan masyarakat dalam memperkuat pendidikan di pondok pesantren diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi perkembangan santri.

Perjalanan santri baru di pondok pesantren menjanjikan cakrawala ilmu yang lebih luas, mempertajam pemahaman agama, dan membentuk karakter yang tangguh. Dengan semangat yang membara, mereka melangkah maju dalam meniti jejak para pendahulu, siap memberikan kontribusi berarti bagi kemajuan bangsa dan agama.

 

Humas Infokom

Pondok Pesantren Nurul Jadid Bekali Santrinya Keterampilan Abad 21 Siap Hadapi Tantangan Global

nuruljadid.net – Saat ini, kita telah memasuki abad 21 ditandai dengan perkembangan dunia yang sangat pesat. Perubahan ini dapat memberikan peluang jika dapat dimanfaatkan dengan baik, akan tetapi juga dapat menjadi bencana jika tidak diantisipasi secara sistematis, terstruktur, dan terukur. Itulah sebabnya, Pondok Pesantren Nurul Jadid membekali santrinya dengan keterampilan abad 21 dalam menghadapi tantangan zaman.

Tak dapat dipungkiri bahwa, dibutuhkan sumber daya manusia tangguh yang memiliki sejumlah kompetensi dan keterampilan agar dapat bertahan hidup (survive) di tengah perubahan yang begitu cepat dan unpredictable atau tidak dapat diprediksi. Keterampilan abad 21 merupakan keterampilan penting yang harus dikuasai oleh santri agar berhasil dalam menghadapi tantangan, permasalahan, kehidupan, dan karir di era digital dewasa ini.

National Education Association telah mengidentifikasi keterampilan abad 21 sebagai keterampilan “The 4Cs.” “The 4Cs” meliputi keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking), keterampilan berpikir kreatif (creativity), keterampilan berkomunikasi (communication) dan keterampilan berkolaborasi (collaboration).

Di lain sisi, menurut Lee Crocket (2011) dalam bukunya “Literacy is not enough: 21st Century Fluencies for the Digital Age” memaparkan paling tidak terdapat 6 keterampilan yang harus dikuasai seseorang di era digital diantaranya: keterampilan Problem Solving, Creativity, Collaboration, Analytical Thinking, Communication and Ethic & Accountability.

Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam rangka penyiapan sumber daya manusia yang menguasai kompetensi dan keterampilan tersebut melakukan penguatan mutu pendidikan dan pengasuhan di pesantren. Menghadapi abad 21 yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian dan kualitas pendidikan kita yang belum membanggakan, diperlukan adanya berbagai terobosan dan strategi dalam dunia pendidikan.

Paradigma pendidikan pesantren harus disesuaikan untuk pengembangan kualitas SDM di era global ini. Berbagai strategi dan langkah pembelajaran serta asesmen yang terukur di berbagai bidang studi senantiasa diupayakan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid. Upaya ini tentu tidak dapat dilakukan tanpa adanya langkah terencana dan sistematis. Perubahan fundamental perlu dilakukan untuk membuat proses pendidikan relevan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik.

Melalui penguatan nilai luhur kepesantrenan Trilogi dan Panca Kesadaran Santri, Pondok Pesantren Nurul Jadid melakukan berbagai macam upaya untuk membekali santrinya dengan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan.

  1. Kesadaran Beragama

Penanaman nilai kesadaran dalam beragama, menjadi hal awal yang dilakukan oleh pesantren terhadap santrinya untuk beragama dengan penuh kesadaran. Menjalankan ajaran agama sebagai pilihan dan kebutuhan hidup bukan sebagai tuntutan keluarga apalagi warisan. Sehingga proses kesadaran beragama akan melatih dialektika santri yang mengasah berpikir analitis (Analytical Thinking) dengan tetap mengedepankan etika dan penuh tanggung jawab atas pilihannya (Ethic and Accountability).

  1. Kesadaran Berilmu

Menuntut ilmu dan terus belajar menjadi nilai wajib yang melekat dalam individu santri baik di dalam kelas maupun di lingkungan pesantren dalam konteks kehidupan yang luas. Pendidikan pesantren mengarah ke beberapa aspek pembelajaran; instruction should be student-centered, yakni pengembangan pembelajaran menggunakan pendekatan yang berpusat pada santri. Santri ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Sehingga dapat mengasah analytical thinking, critical thinking and creativity di ruang belajar.

Education should be communicative and collaborativeyakni santri harus dibelajarkan untuk dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain. Elemen komunikasi menargetkan santri dapat menguasai, mengatur (manajemen) dan membuat hubungan komunikasi yang baik dan benar secara tulisan, lisan maupun multimedia. Santri diberi waktu untuk mengelola hal tersebut dan menggunakan kemampuan komunikasi untuk berhubungan seperti menyampaikan gagasan, berdiskusi hingga memecahkan masalah yang ada.

  1. Kesadaran Bermasyarakat

Learning should have context, yakni pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan santri di luar pesantren. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari santri. Pendidik mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan santri terhubung dengan dunia nyata (real world).

Pesantren should be integrated with society, yakni dalam upaya mempersiapkan santri menjadi warga negara yang bertanggung jawab, pesantren memfasilitasi santri untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana santri dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial sehingga mereka bisa belajar mengembangkan keterampilan problem solving, communication and collaboration.

  1. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Peran santri yang utama adalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan menjaga dan mengawal NKRI sebagai warisan leluhur para ulama’. Dalam jiwa santri tentu tertanam panca-jiwa, panca-jangka, panca-bina dan panca-dharma. Selain itu, santri juga berkontribusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh bangsa dengan bentuk kontribusi kecil di lingkungan masyarakatnya.

Melalui pesantren, santri diajarkan menjaga dan membina etika yang baik serta bertanggung jawab terhadap tugas dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia sehingga santri dapat mengasah keterampilan (problem solving, ethic and accountability).

  1. Kesadaran Berorganisasi

Berorgansiasi merupakan salah satu nilai kesantrian yang perlu dimiliki santri sebagai bekal kelas di masyarakat. Tujuan organisasi santri yaitu untuk menyatukan, mengembangkan, membentuk serta memfasilitasi apa yang dibutuhan santri serta membangun jiwa seorang pemimpin yang berkepribadian matang. Dalam organisasi, santri dilatih dan ditempa mengasah keterampilan diri seperti problem solving, communication, collaboration, creativity, ethic and accountability.

 

 

 

(Humas Infokom)

Santri Tidak Betah Mondok? Wali Asuh Nurul Jadid Tangani dengan Psikoedukasi

nuruljadid.net – Eksistensi pesantren di Indonesia sudah bertahan hampir 5 abad lamanya. Sejak fase awal embrio lahirnya pesantren dimulai pada zaman Walisongo, sekitar abad 15-16. Sampai hari ini, pesantren masih menunjukkan eksistensinya sebagai bagian integral dari kekuatan bangsa. Tidak heran apabila pesantren menjadi lembaga pembentukan karakter yang banyak diminati oleh masyarakat.

Namun, untuk mencetak karakter santri yang memiliki kecakapan, kearifan, dan kompetensi ilmu, terutama dalam bidang keagamaan, seorang santri wajib berjuang dan gigih dalam menuntut ilmu di pesantren. Karena tak jarang orang yang baru mondok (santri baru) mengalami keadaan homesickness atau tidak betah di pesantren. Tidak terkecuali santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Faktor Penyebab Santri Tidak Betah

Banyak sekali faktor penyebab kenapa santri tidak betah di pesantren, beberapa faktor internal utama santri tidak betah seperti:

  1. Mondok karena paksaan orang tua
  2. Tidak betah karena rindu rumah
  3. Sering dikunjungi orang tua atau keluarga
  4. Kesulitan dalam bersosialisasi
  5. Korban perundungan (bullying) di pesantren

Selain faktor internal dari santri itu sendiri, juga ada 5 faktor eksternal yaitu dari pondok pesantren yang ditempati. Dari berbagai macam pengamatan yang dilakukan secara empiris selama mengatasi santri yang memang tidak betah berada di pesantren adalah karena beberapa faktor berikut:

  1. Minimnya pengawasan dari guru, ustaz atau wali asuh di pesantren
  2. Penanganan santri yang tidak berimbang
  3. Kurang profesionalnya dalam mendesain kurikulum pesantren
  4. Program atau kegiatan yang monoton
  5. Peraturan yang ketat namun tidak disertai dengan apresiasi yang layak

Solusi Pesantren dan Kewaliasuhan

Wali Asuh memiliki peranan penting sebagai solusi dalam permasalahan ini. Wali Asuh sendiri merupakan front liner atau garda terdepan yang mendampingi, mendidik, dan merawat santri selama 24 jam. Menyikapi masalah tersebut, salah satu Wali Asuh di asrama santri baru Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton (Asrama I’dadiyah, red.) Ustaz Zaki Maulana menjelaskan solusi kreatif dengan metode psikoedukasi yang diberikan oleh Wali Asuh.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa santri yang mengalami homesickness diberikan penanganan dan perhatian secara khusus dibandingkan santri biasa pada umumnya. Metode psikoedukasi yang dia berikan diantaranya; tahap awal berupa pendekatan—hal ini memerlukan kepekaan yang baik—mulai pendekatan behavioral, humanistik, psikoanalisa dan teknik lainnya. Kemudian, melakukan tindakan berupa perhatian ekstra, misalnya santri yang mengalami homesickness cenderung menyendiri dan merenung, menyadari kondisi tersebut, wali asuh kemudian menghampiri, memberikan motivasi dan mengajak untuk bergabung dengan teman lainnya.

“Dalam hal itu, kami memberikan motivasi biasanya melalui deeptalk terhadap santri. Di luar pendekatan dan tindakan tadi, kami juga memberikan kegiatan produktif yang cukup padat kepada santri, terutama ketika mereka baru tiba di pesantren, sehingga ini dapat membiaskan potensi-potensi yang bisa menyebabkan homesickness pada santri,” imbuhnya saat diwawancarai Tim Nurul Jadid Media pada Jumat (12/05) pagi.

Hal ini tentunya tak lepas dari peran pesantren dalam memberikan pembekalan teknik parenting terutama kepada wali asuh yang bersinggungan langsung dengan santri baru. Pesantren biasanya juga mengadakan kegiatan Orientasi Santri Baru (OSABAR) sepekan setelah agenda Penerimaan Santri Baru (PSB) satu atap usai. Kegiatan itu diisi dengan pengetahuan seputar lingkungan pesantren yang disajikan melalui kegiatan edukatif, rekreatif dan entertaining. Selain itu, santri baru juga disediakan asrama khusus, sehingga penanganan dan pendampingan secara khusus dapat diberikan.

Sinergitas antara wali asuh dan Pesantren menjadi tolak ukur utama dalam keberhasilannya memberikan penanganan kepada santri yang tidak betah atau homesickness di pesantren, tentunya ini tidak lepas dari dukungan, motivasi, dan doa orang tua kepada santri dari rumah.

Harapannya dengan psikoedukasi ini, wali santri atau keluarga yang memondokkan putra atau putrinya di pesantren, tidak lagi terlalu khawatir. Karena pesantren juga terus berusaha memaksimalkan ikhtiar dengan memberikan pelayanan yang baik agar santri bisa beradaptasi dan menuntut ilmu dengan nyaman di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

 

 

(Humas Infokom)

Santri Rantau Nurul Jadid Asal Medan, Rela Tak Pulang Kampung Demi Menuntut Ilmu di Pesantren

nuruljadid.net – Hidup jauh dari orang tua dan merantau ke luar pulau demi menuntut ilmu menjadi lumrah bagi kebanyakan santri. Tak hanya dituntut hidup mandiri, santri juga harus memiliki niat dan tekad yang kuat untuk melangkahkan kaki membawa diri berdamai dengan jarak, ruang, dan waktu yang tak lagi sama dengan masa sebelum nyantri. Santri juga harus berupaya untuk bertahan di pesantren dengan ikhlas dan sabar tanpa batas semata untuk mengharap ridho Allah SWT.

Itulah yang dirasakan Bilhakqi Maha (13), santri asal kota Medan provinsi Sumatra Utara yang harus rela tinggal jauh dari orang tuanya di kampung halaman demi cita-cita mulia menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, provinsi Jawa Timur usai tamat sekolah dasar.

Pada awalnya, keinginan mondok sudah ada sejak Bilhak, panggilan akrabnya, masih kecil. Kakeknya yang juga alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi motivasi awal bagi Bilhak untuk nyantri belajar ilmu agama di pulau Jawa. Ibarat dayung bersambut, niat baik Bilhak tersebut didukung penuh oleh kedua orang tuanya sehingga tekadnya semakin bulat untuk melanjutkan studi di tanah Jawa.

Sejak memulai pendidikannya di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Bilhak harus rela berkorban menahan rasa rindu dan tidak kerasannya demi belajar agama nan jauh dari kampung halaman di pulau Sumatra. Tak jarang Bilhak merasa sedih tak kuasa membendung air matanya karena rindu kebersamaan dengan keluarga di kampung. Hari berganti hari, berganti minggu dan bulan, Bilhak harus menguatkan diri untuk menetap dan tidak pulang ke kota Medan karena harus mondok.

“Sudah satu tahun saya mondok, setiap liburan saya hanya bisa pulang ke rumah saudara di Besuki Situbondo (Jawa Timur) dan tak pernah pulang ke Medan. Tapi orang tua menyusul ke Besuki, jujur saya rindu kampung halaman dan teman-teman disana” ungkapnya saat diwawancarai oleh Tim Nurul Jadid Media pada Ahad (07/05) sore.

Motivator bagi Teman

Jarak tidak lantas membuat Bilhak berkecil hati, dengan motivasi kuat dari dalam diri, ia berhasil memberikan pemaknaan yang positif dari setiap perjalanan hidup yang Bilhak lalui. Mengubah suasana yang melankolia menjadi bahagia dengan rasa syukur tak terhingga.

Di lingkungan belajarnya, disadari atau tidak, sebagian temannya termotivasi oleh perjuangan Bilhak, meskipun berasal dari daerah terjauh dibanding temannya yang lain di asramanya, ia tak putus semangat dalam menuntut ilmu, bahkan di saat teman yang lain tidak kerasan, Bilhak menghiburnya agar betah di pesantren.

Saat Tim Nurul Jadid Media mewawancarai beberapa temannya di asrama I’dadiyah, khusus santri tahun pertama, tempat dia bermukim dan belajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Denis Eldiansyah (12) santri asal Jawa Timur mengungkapkan bahwa Bilhaklah yang selalu menghiburnya, saat dirinya mulai merasa tidak betah di pondok.

“Bilhak ini orangnya lucu dan suka menghibur. Dia juga memiliki semangat yang bagus, masak saya yang dekat mau kalah semangat dengan dia yang dari jauh. Dialah salah satunya sebab saya bisa kerasan mondok,” ungkap Denis santri asal kabupaten Jember.

Dari kisah Bilhakqi Maha, kita bisa mempelajari semangat juang yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu tanpa mengenal kata “tapi dan nanti”. Karena baginya pergi untuk menuntut ilmu apalagi agama adalah misi mulia dan termasuk perjuangan, berjuang untuk hari yang lebih baik, berjuang melawan ego, kesabaran dan juga menahan kerinduan, berjuang mengukir kenangan tanpa batas dan mengharap balas kecuali ridho Allah SWT. Perjuangan ini juga untuk kembali kepada orang tersayang, bekal kehidupan.

Semoga kisah ini juga bisa menginspirasi dan memotivasi teman-teman yang memiliki keinginan untuk mondok namun masih risau dengan jarak yang terlalu jauh. Teringat esensi sajak yang terangkum dalam Kitab Diwan Imam Asy-Syafi’i:

“Merantaulah …

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang” 

-Imam Asy-Syafi’i, puisi mahsyur berjudul merantau, diterjemahkan dari Kitab Diwan Imam Asy-Syafi’i-

 

 

(Humas Infokom)

Tips Buat Santri Agar Liburan Ramadhan Tetap Produktif Tidak Sekedar Rekreatif

nuruljadid.net – Fakta umum bahwa liburan merupakan hal yang sangat dinantikan bagi hampir semua kalangan, terutama bagi santri yang jarang pulang karena harus menempuh pendidikan di pesantren. Tidak sedikit dari mereka yang memilih menghabiskan waktu liburan dengan bersantai, berkumpul dengan keluarga, atau rekreasi untuk menghilangkan kejenuhan setelah satu tahun disibukkan kegiatan belajar.

Sama seperti kebanyakan santri di Indonesia, santri Pondok Pesantren Nurul Jadid juga sedang menikmati masa libur di bulan suci Ramadhan bersama keluarga. Seluruh santri telah diliburkan sejak Jum’at (7/4/23) untuk putri dan Sabtu (8/4/23) untuk putra. Sebagaimana nasehat pengasuh, selama masa liburnya santri diharapkan tetap produktif.

Tidak jarang, sebagian besar dari santri yang beranggapan waktu liburan adalah waktu untuk bermalas-malasan sebagai ganti hari-hari yang mereka telah habiskan dengan belajar. Namun, ada juga sebagian dari mereka yang menghabiskan waktu liburan dengan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, baik itu belajar ataupun kegiatan sosial.

Pertanyaannya kemudian lebih baik mana antara mengisi liburan dengan kegiatan produktif atau sekadar rekreatif?

Produktif tidak selalu berarti harus melakukan hal-hal berat yang dianggap membosankan seperti belajar dan bekerja. Namun, produktif bisa dimaknai dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat baik itu hal kecil untuk diri sendiri, lingkungan, dan antar sesama.

Setiap santri harus mempunyai target apa yang ingin dicapai dengan melakukan hal-hal positif. Apa saja yang bisa santri lakukan selama liburan agar tetap produktif dan positif? Berikut tips nya yang akan kami bagikan

  1. Membuat mapping plan dan to-do list

Setiap dari kita kebanyakan menghabiskan waktu liburan hanya untuk bermalas-malasan dan main gadgets atau HP. Maka bagi kaun rebahan, wajib bagi kalian agar tetap produktif dengan membuat peta perencanaan dan daftar target yang akan dikerjakan semisal khataman alqur’an, khataman kitab/buku bacaan yang bermanfaat atau aktif ikut kegiatan social seperti bagi-bagi takjil, berbagi zakat dan sejenisnya.

  1. Konsisten dalam mengerjakanya

Percuma jika kita merencanakan sesuatu namun tidak konsisten mengerjakannya, karena hasilnya akan nihil. Sehingga bagi kalian yang suka menunda-nunda pekerjaan sebaiknya mulai berlatih disiplin dan konsisten denga napa yang direncanakan sampai tuntas.

  1. Menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna dan membuang waktu

Setiap dari kita harus bisa menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna dan membuang waktu seperti nongkrong di café berjam-jam untuk mabar, pacaran atau berkumpul antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom atau sekedar ngobrol tidak jelas bahkan yang berbahaya ngumpul sambil membicarakan keburukan orang lain alias ghibah. Naudzubillahi mindzalik.

  1. Membaca dan menulis

Kegiatan membaca dan menulis adalah bentuk dari penguatan literasi yang penting kita biasakan untuk menambah wawasan dan keterampilan dalam menulis. Dua kebiasaan ini menjadi sangat penting agar kita terus upgrade diri baik di sekolah maupun di dunia kerja.

  1. Mengikuti kegiatan sosial

Sebagaimana disampaikan sebelumnya, kegiatan sosial ini sangat baik dilakukan selama liburan. Selain bisa menambah kenalan atau jaringan, hal ini juga bernilai pahala. Santri Nurul Jadid bisa aktif di kegiatan bersama Forum Komunikasi Santri (FKS) atau P4NJ daerah.

  1. Semangat Beribadah dan mengerjakan hal–hal yang bermanfaat

Di bulan suci Ramadan ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amalan positif lainnya seperti sholat fardhu lima waktu, sholat sunnah, tadarrus al-qur’an, kajian keagamaan, zakat dan shodaqoh serta kegiatan positif lainnya.

  1. Mengekpresikan diri untuk menambah wawasan baru

Mengekspresikan diri bisa dalam bentuk mengeksplorasi hal-hal baru seperti adventuring sambil tadabbur alam, mengunjungi tempat bersejarah dan hal serupa tanpa meninggalkan kewajiban utama yaitu sholat tepat waktu.

  1. Berteman dengan orang yang positif

Yang terakhir adalah berteman dengan orang yang positif (positive vibes). Berteman dengan orang positif akan memberikan energi yang positif pula, sedangkan berteman orang yang toxic (toxic relationship / toxic friendship) akan berdampak negative pada diri kita.

Intinya santri harus tetap produktif walaupun sedang liburan di rumah. Harapannya, agar semua yang telah dipelajari semasa di pesantren tidak hilang percuma atau terlupakan bahkan harusnya momen liburan dijadikan kesempatan untuk mengamalkan.

Stay Positive, Stay Productive!

 

 

(Humas Infokom)

Bukan Hanya Ulama, Kiai Matin Jawahir Tegaskan Kiai Zaini Juga Pejuang Besar Bangsa

nuruljadid.net – “Saya didawuhi oleh Kiai Maimun Zubair untuk membaca Kitab Shahih Bukhari, dawuh beliau bacalah Shahih Bukhari, baca di pondok dengan para santri dan perintahkanlah santrimu membacanya di rumah seperti rutinan membaca Al-Qur’an. InsyaAllah kalau jadi Kiai pondoknya diberi kelancaran dan kemajuan oleh Allah SWT., keluarga diberi ketentraman dan rizki dicukupi oleh Allah SWT. Ini dawuhnya Kiai Maimun Zubair”.

Pesan tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung Tuban Jawa Timur sekaligus Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Matin Jawahir sebagai pengantar dan tujuan untuk membaca Manaqib Masyayikh dalam Haul dan Harlah ke-74 Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Ahad (19/02) pagi.

Kemudian Kiai Matin Jawahir memulai Manaqib Masyayikh dengan membacakan sanad keturunan dan keilmuan KH. Zaini Mun’im. Tutur beliau Kiai Zaini mengaji kepada banyak ulama, diantaranya Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, Kyai Haji Muntaha, Kyai Raden Abdul Hamid, Kyai Haji Abdul Majid dan banyak ulama-ulama nusantara lainnya. Disamping itu beliau juga mengaji ke Mekkah dan Madinah.

“Artinya malang melintang mbah Kiai Zaini Munim ini ngaji kepada para masyayikh dan para ulama baik di Indonesia maupun di Saudi Arabia. Tidak kenal lelah, bahkan setelah itu kembali pulang masih ngaji kepada Hadratussyaikh Kyai Haji Hasyim Asyari,” dawuh beliau.

Kisah menarik dan menjadi sudut pandang para tamu undangan dan peserta waktu itu adalah saat Kiai Matin Jawahir menceritakan kisah penangkapan Kiai Zaini Mun’im oleh kaum penjajah. Beliau menjelaskan bahwa ada yang perlu dikoreksi dan diteliti kembali dalam buku tersebut (buku Kalaidoskop Masyayikh dan Pondok Pesantren Nurul Jadid, red.) khususnya saat Kiai Zaini ditangkap oleh penjajah.

“Karena Kyai Zaini disamping memperhatikan keagamaan masyarakat, ummat, dan pesantren. Juga memikirkan kemerdekaan Bangsa Republik Indonesia. Tertulis dalam buku itu tiga bulan kemudian di lepas oleh Belanda, tolong ini diteliti,” tutur beliau.

Kemudian beliau menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi, cerita tersebut beliau ketahui melalui sanad dari Kyai Alie Wafa Baidlowi dan Ustaz Rifa’i waktu itu, beliau menceritakan bahwa Syaikhona Mbah Kiai Zaini Mun’im ditangkap oleh Belanda, tidak dilepas. Tapi dimasukkan dalam drum, dilas tanpa ada udara, dan dibuang ke laut.

“Sudah secara lahir, mati. Tapi mbah Kiai Zaini alhamdulilllah dengan maunah oleh Allah SWT. diberi karomah oleh Allah SWT. Drum diletakkan di laut, dibanduli batu, tenggelam. Tapi mbah Kiai Zaini Munim ada di pondok dan ngajar ngaji. Saya pikir ini kalau tidak bagian dari al arifillah, sulit. Sudah bukan hanya laa ma’buda ilallah, tapi laa faila ilallah. Dikala itu bahkan sudah laa maujuda ilallah. Tidak ada drum tidak ada air dak ada apa, yang ada hanya Allah, apa kehendak Allah SWT.,” jelas beliau.

Di akhir Manaqib Masyayikh, beliau kembali mengingatkan dan menegaskan dawuh Kiai Zaini yang populer saat ini, karena menurut beliau dawuh tersebut salah satu diantara dawuh-dawuh beliau yang sangat penting bagi kita sebagai masyarakat untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Orang yang hidup di Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan masalah ekonominya saja dan pendidikannya sendiri tanpa kepedulian terhadap masyarakat, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan perjuangan rakyat banyak, bagaimana agar hukum-hukum Allah yang ada dalam Al Quran baik yang tersirat maupun yang tersurat dapat berlaku di bumi Indonesia.” dawuh KH. Zaini Mun’im yang disampaikan kembali oleh KH. Matin Jawahir.

(Humas Infokom)

KH. Zuhri Zaini: Jaga dan Peliharalah Nikmat yang Allah Berikan Jangan Sampai Rusak dan Musnah, Gunakanlah untuk Kebaikan dalam Hidup

nuruljadid.net- Minggu (19/02/2023) pagi 08.30 WIB. Pada kesempatan acara haul masyayikh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo yang dihelat pada pukul 07.30 – selesai. Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini berpesan kepada seluruh tamu undangan santri dan simpatisan agar selalu menjaga dan memelihara nikmat yang allah berikan kepada kita semua jangan sampai rusak dan musnah serta gunakanlah untuk kebaikan dalam hidup.

“Tetapi yang terpenting bagaimana nikmat yang diberikan allah itu dijaga dan dipelihara jangan sampai rusak jangan sampai musnah dan abis” pesan kiai Zuhri kepada seluruh tamu undangan santri dan simpatisan pada acara haul masyayikh Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Sebagaimana yang didawuhkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid kiai Zuhri Zaini bahwa ungkapan rasa syukur tidak hanya melantunkan ucapan Alhamdulillah dan menggelar tasyakuran serta walimah sekalipun itu sesuatu yang baik. Tetapi bagaimana nikmat yang allah berikan kepada kita dimanfaatkan untuk kebaikan dalam kehidupan kita sehari – hari sesuai dengan tujuan allah memberikan nikmat dan fasilitas hidup kepada kita.

(Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Kiai Zuhri Zaini pada saat menyampaikan sambutannya pada acara haul masyayikh yang digelar Minggu, 19 Februari 2023, pagi.)

“Tentu mensyukuri nikmat tidak cukup hanya tasyakuran dan ucapan Alhamdulillah merayakan perayaan seperti ini atau kendurian, sekalipun itu sesuatu yang baik dan itu dicontohkan oleh nabi besar Muhammad saw dengan adanya walimah – walimah. Bagaimana nikmat yang ada itu digunakan dimanfaatkan untuk kebaikan sesuai dengan tujuan Allah memberikan nikmat dan fasilitas hidup kepada kita.” sambung Kiai yang ramah dan akrab dengan penampilan pakaian sederhana serba putih tersebut.

Tak lupa ucapan selamat datang dan terima kasih beliau sampaikan kepada para Kiai, habaih, santri dan simpatisan telah meluangkan waktunya untuk bisa hadir dalam haul masyayikh mengenang jasa para almarhumin Pondok Pesanytren Nurul Jadid.

Ahlan wasahlan marhaban Bihudhurikum terima kasih atas kehadiran para kiai dan para habaib terkhusus kepada Habib Abdullah almasyhur habib Muhammad bin hasan al ba’aly KH. Mutawakkil alallah pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, KH. Mutamakin  wakil Syuriah PWNU Jawa Timur tamu undangan yang tidak bisa saya sebut satu persatu pada acara haul pendiri dan almarhumin.” Tutur beliau saat membuka sambutannya.

Sebelum menutup sambutannya tak lupa pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Kiai Zuhri Zaini beliau memberikan penghargaan kepada seluruh pengurus dan simpatisan yang berjasa baik dari internal Pondok Pesantren Nurul Jadid maupun dari luar pesantren dari  masa lampau hingga sekarang atas partisipasinya dalam mengembangkan Pondok Pesantren Nurul Jadid sampai saat ini. Acara berjalan dengan lancar, seluruh tamu undangan santri dan simpatisan menyaksikan serta menyimak sambutan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid dengan penuh khidmat sampai selesai.

(Humas Infokom)

Kiai Zuhri Zaini: Penguatan Akidah Itu Penting Agar Tidak Bingung di Tengah Perkembangan Zaman

nuruljadid.net – Globalisasi dan digitalisasi merupakan kepastian dewasa ini yang menuntut sebuah perubahan di berbagai bidang, mulai dari teknologi, ekonomi, pendidikan sampai dengan sosial budaya. Perubahan adalah sebuah keniscayaan, karena zaman tidak bergerak stagnan. Perubahan multi sektor itu terjadi dan membawa perubahannya sendiri.

Sebagaimana yang didawuhkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid kiai Zuhri Zaini pada kesempatan halaqah internasional alumni 2023 lalu. Bahwa perubahan saat ini semakin cepat termasuk perubahan dalam etika dan tatakrama manusia.

“perubahan itu terjadi semakin cepat. Bukan hanya dalam hal teknologi. Tapi juga tatakrama, etika dan akhlaqul karimah” tutur pengasuh yang syarat dengan pakaian serba putihnya.

Kiai Zuhri Zaini menyadari bahwa perubahan zaman juga merupakan wujud pola bagaimana manusia berinteraksi satu dengan yang lain. Perubahan tersebut juga membawa bersamanya nilai-nilai baik positif maupun negatif termasuk dalam hal akidah atau keyakinan.

Perihal akidah, kiai Zuhri mengajak kita semua untuk terus memperkuat iman dan keyakinan kita kepada Allah SWT. “Terutama masalah penguatan akidah. Bagaimana kita tidak bingung dalam perkembangan zaman agar kita tidak kehilangan pegangan. Di barat sudah tidak lagi mempedulikan agama. Banyak ateis dan tidak peduli Tuhan” pesan kiai Zuhri kepada alumni pada forum halaqah.

Namun, meskipun banyak tantangan yang ummat hadapi, kiai Zuhri menguatkan agar kita tetap optimis dan bersikap positif. Menurut beliau kondisi carut-marutnya ummat saat ini perlu dilihat sebagai peluang untuk membumikan akidah ahlussunnah wal jamaah (ASWAJA) an-nahdliyah.

“Kondisi begitu, adalah peluang bagi kita untuk berdakwah. Banyak muallaf, bagaimana muallaf itu kita arahkan biar akidahnya sesuai dengan yang kita jalankan. Jangan sampai yang muallaf itu menjadi radikal. Mereka sangat militan. Sekarang banyak muallaf center dan sejenisnya.” Beliau menekankan dalam sambutannya.

“Minimal santri kita dan alumni itu tidak terbawa dengan radikalisme. Harus berakidah aswaja an-nahdliyah. Kita tidak boleh menghilangkan tradisi lama, tapi, perlu juga mengambil tradisi baru yang baik” imbuh kiai Zuhri.

 

 

(Humas Infokom)