Kiai Zuhri Zaini: Semoga Halaqah Tidak Sekedar Berkumpul, Tapi Ajang Silaturrahim Lahirkan Ide Cemerlang

nuruljadid.net – Kemarin (18/02/2023) pada kesempatan acara halaqah internasional alumni 2023 dalam rangka haul masyayikh dan harlah ke 74 Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, pengasuh kiai Zuhri Zaini berharap agar halaqah tidak hanya dijadikan sebagai moment berkumpul, akan tetapi sebagai media silaturrahim melahirkan ide-ide cemerlang.

“Semoga Halaqah tidak hanya sekedar kumpul-kumpul. Tapi menjadi ajang silaturahim untuk melahirkan ide-ide cemerlang” tutur kiai ramah yang akrab dengan busana sederhana serba putih tersebut.

Dalam sambutannya, kiai Zuhri juga mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada seluruh alumni dan simpatisan yang telah meluangkan waktunya untuk menyukseskan pelaksanaan halaqah alumni tahun 2023 bertepatan dengan hari lahir Nurul Jadid yang ke 74.

“saya ucapkan terima kasih kepada alumni yang hadir meluangkan waktu untuk halaqah alumni. Semoga kita tidak hanya berkumpul disini. Tapi kumpul bersama di akhirat nanti. Aamiin ya rabb.” Kiai Zuhri menyampaikan yang disambut amin secara serentak oleh peserta yang hadir di ruangan Aula tersebut.

Pada kesempatan yang sama kiai Zuhri juga menyampaikan permohonan maafnya terkait kondisi kesehatan beliau yang kurang baik sehingga tidak bisa menghadiri undangan dari para alumni dan masyarakat.

“Tiga bulan ini saya kurang sehat. Dan banyak acara yang tidak bisa hadir. Mohon maaf. Hanya ada beberapa acara yang bisa saya hadiri.” Dawuhnya.

Kiai Zuhri mengajak alumni dan peserta yang hadir saat itu baik secara luring maupun virtual untuk senantiasa menjadi pribadi yang maju dan berkembang juga mampu beradaptasi dengan perubahan.

“Kita harus berupaya menjadi orang hidup yang selalu berkembang dan mampu menyesuaikan diri. Namun tetap dalam hal-hal yang baik dan menjadikannya prinsip. Kebaikan harus ditanamkan terus. Jangan sampai kita kehilangan jati diri,” pesan kiai Zuhri kepada para alumni dan simpatisan di forum halaqah tersebut.

 

 

(Humas Infokom)

Santri dan Organisasi

nuruljadid.net – Hati saya bergetar saat menyanyikan dua lagu, yaitu lagu kebangsaan indonesia raya, dan mars Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Selasa (03/01/23).

Pada momen itu, saya menenangkan pikiran untuk lebih konsentrasi menyanyikan dua lagu tersebut. Tapi air mata saya tak terasa sedang berjatuhan. Saya sangat meresapinya dan bergumam dua lagu itu mengajak kita untuk berikrar sepenuh hati bahwa menjadi pejuang yang tangguh harus membangun mental.

Tidak cukup hanya mencerdaskan pikiran. Yang paling dominan adalah mencerdaskan hati agar menjadi pribadi pejuang dan pengabdi yang hebat.

Adalah KH Zaini Mun’im Pendiri dan Pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid telah menanamkan dasar utama organisasi menjadi sebuah kesadaran. Di antara lima kesadaran yang ada di pesantren, kesadaran organisasi adalah salah satunya.

Sebagai seorang santri, meski belajar semua ilmu tidak menjadi kewajiban terutama berkait ilmu fardhu kifayah. Masyarakat berharap agar santri memiliki kecakapan dan kemampuan sebagai bekal ia hidup bermasyarakat dan berbangsa.

Di pesantren Nurul Jadid aktif di organisasi telah maklum. Bahkan bisa dikata seluruh santri aktif di organisasi. Sebab banyak organisasi di pesantren Nurul Jadid. Menurut data kurang lebih dua ratus.

Salah satu organisasi santri adalah Forum Komunikasi Osis (FKO). Organisasi ini tidak hanya perkumpulan santri, sebut saja di FKO ini adalah wadah komunikasi antar organisasi Organisasi siswa sekolah atau madrasah.

Hidayaturrahman pembina FKO dan mantan pengurus FKO 2017 menyampaikan, di FKO bisa belajar banyak tentang banyak hal, salah satunya bisa belajar memanage dan tukar pikiran dengan banyak orang.

Setidaknya, proses menempa diri telah dirasakan oleh Rahman saat aktif di FKO. Itu ia sampaikan saat memberi sambutan pada saat pelantikan FKO. Betul organisasi itu penting. Ada ungkapan “kezaliman yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir”.

Sebagai santri yang ditunggu sepak terjangnya ditengah masyarakat, mengetahui dan memahami organisasi itu sebuah keharusan. Jika ia ingin mengabdi pada masyarakat atau pun terlebih pada bangsa dan negara.

Santri yang hanya mengaji kitab tanpa mengaji berkait organisasi, ia akan kesulitan berhadapan dengan beberapa faktor di tengah kehidupan bermasyarakat. Berbagai macam karakter manusia dengan tipologi berbeda pula menuntut agar ada penyesuaian diri seseorang untuk mencapai tujuan yang baik. Di sinilah paham organisasi itu dibutuhkan.

 

Penulis: Ponirin Mika

(Humas Infokom)

Ngaji Syu’abul Iman bersama Ra Imdad, Bersungguh-Sungguh dalam Bertaubat Termasuk Perhatikan Hak Manusia  

nuruljadid.net – Kiai Mohammad Imdad Robbani, Kepala Biro Pendidikan PP. Nurul Jadid menghadiri acara pengajian Kitab Syu’abul Iman Karya KH. Zaini Abdul Mun’in di Desa Alasmalang Kec. Panarukan pada Jum’at (29/12/22) sore kemarin yang merupakan kegiatan rutin bulanan P4NJ Kabupaten Situbondo.

Ra Imdad sapaan akrab Kiai Mohammad Imdad Robbani membacakan cabang-cabang Iman ke 10 hingga ke 13 dalam kitab yang disusun oleh almarhum kakek beliau tersebut. Setelah pembahasan simbol agama Allah pada bab 10 dan Ikhlas dalam ketaatan pada bab 11, Ra Imdad kemudian melanjutkan penjelasan cabang iman ke 12 dan 13.

Cabang iman ke 12 adalah bersungguh-sungguh dalam bertaubat (nushuhut taubah) dari segala dosa dan kedurhakaan. Taubat itu ditunjukkan dengan penyesalan yang mendalam dan memohon ampunan dengan sepenuh jiwa kepada Allah SWT.

Tidak cukup hanya memohon ampunan, kita juga harus mengembalikan hak-hak orang yang didholimi, segera mengganti (mengqodho’) kewajiban-kewajiban yang ditinggalkan sebelum habis waktunya atau sebelum meninggal dunia, serta berusaha dengan tekad kuat untuk tidak merusak taubat itu dengan kembali mengerjakan dosa.

Cabang iman yang ke 13 yaitu selalu bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita. Syukur atas nikmat itu mengakui atas pemberian Allah SWT dan menggunakan nikmat tersebut dalam taat kepada Allah dengan segenap kemampuan.

Termasuk diantara  syukur nikmat adalah harus bersyukur kepada ‘sebab’ yang menjadi perantara diberikannya nikmat kepada kita tanpa melupakan kepada pemberi sebab yaitu Allah SWT. Semisal, kita wajib berterimakasih kepada orang yang telah membatu kita dari kesulitan, tapi jangan lupa, kita juga wajib berterima kasih Allah.

“Pengajian kitab ini sangat kami rindukan, mengenang masa-masa ketika mondok di Nurul Jadid dulu, Alhamdulillah banyak Ilmu dan pencerahan tentang cabang iman yang harus kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Salim salah satu peserta pengajian kitab.

 

(Humas Infokom)

P4NJ Situbondo Ngaji Syu’abul Iman bersama Ra Imdad, Manusia Harus Ikhlas Taat Kepada Allah

nuruljadid.net – Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Kabupaten Situbondo menggelar ngaji kitab Syu’abul Iman karangan KH. Zaini Mun’im pendiri dan pengasuh pertama Nurul Jadid. Kiai Mohammad Imdad Robbani, Kepala Biro Pendidikan Nurul Jadid juga putra pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini, menghadiri pengajian tersebut di desa Alasmalang Kec. Panarukan pada Jum’at (29/12/22) sore kemarin.

Ngaji Kitab Syu’abul Iman merupakan agenda rutin bulanan P4NJ Kabupaten Situbondo untuk menjalin silaturrahmi dengan ahlul bait atau keluarga besar masyayikh Nurul Jadid dan memperkuat ruhul jihad pengurus serta alumni dalam berkhidmat di tengah masyarakat.

Kiai Mohammad Imdad Robbani yang akrab disapa Ra Imdad tersebut membacakan cabang-cabang Iman ke 10 hingga ke 13 dalam kitab yang disusun dalam bentuk nadhom tersebut.

Beliau menjelaskan cabang Iman ke 10 yaitu mengagungkan simbol-simbol agama Allah (Sya’air al-dini al- ilah), antara lain dengan senang dan bersemangat atas segala urusan-urusan agama.  selain itu, menghiasi mushaf dan masjid dengan perhiasan (atau desain) yang indah adalah termasuk bagian dari mengagungkan syiar agama Allah.

Cabang Iman yang ke 11 yaitu ikhlas dalam taat kepada Allah. Ikhlas itu akan menjauhkan diri kita dari riya’, syirik, dan kemunafikan. Dengan perkuat rasa ikhlas, yang menjadi perhatian kita hanyalah pandangan Allah semata, bukan pandangan makhluk. Kita meyakini bahwa Allah maha mengetahui terhadap segala amal kita, yang kita cari hanyalah keridhoan Allah SWT tanpa mau tertipu oleh pujian makhluk, bahkan kita selalu merasa khawatir atas kemurkaan Allah.

(Pengurus P4NJ Situbondo dan ratusan alumni Nurul Jadid mengikuti pengajian kitab Syu’abul Iman bersama Ra Imdad)

Pengajian rutin yang dihadiri oleh sekitar 200 alumni Nurul Jadid se-Kabupaten Situbondo ini juga dihadiri oleh ketua Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Cabang Situbondo, KH. Agus Salim dan Sekretaris P4NJ Pusat, H. Syamsul Ma’arif, serta didampingi ketua P4NJ Kabupaten Situbondo, H. Nashiruddin Dhofir dan Ketua Bidang Keagamaan, Habib Hasan Luthfi Al Jufri serta jajaran pengurus lainnya.

Pengajian berlangsung khidmat dan akrab, meski langit sedang diselimuti mendung. Kegiatan ini diakhiri sekitar pukul 15.30 WIB dengan doa dan acara ramah tamah.

 

 

(Humas Infokom)

Pesan Kiai Zuhri Zaini Kepada Wisudawan “Belajarlah Dimanapun Kamu Berada, Bahkan di Tempat Kerjamu”

nuruljadid.net –Utlubul ‘Ilma Minal mahdi Ilallahdi bahwa dalam menimba ilmu itu mulai dari usia nol atau dari buaian seorang ibu hingga liang lahat, tidak ada tolak ukur dalam mencari ilmu.” Untaian kalimat mengawali sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini dalam upacara Wisuda Diploma, Sarjana, dan Magister Universitas Nurul Jadid pada hari Sabtu (29/10) pagi.

Dalam momen yang sama, pengasuh berpesan bahwa belajar tidak hanya pada tempat dan waktu tertentu, dalam konteks tersebut beliau memberikan contoh lembaga pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tunggi  yang membuat kita lebih cepat dan efektif mendapatkan ilmu. Akan tetapi, menurut beliau dimanapun berada kita bisa belajar dengan keinginan kita sendiri.

“Apalagi mencari ilmu itu tidak harus di ruang-ruang khusus, misalnya di madrasah, sekolah, sampai perguruan tinggi sekalipun. Itu cara cepat dan efektif untuk kita mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya, tapi kita bisa menimba ilmu dimanapun kalo kita mau,” dawuh beliau.

(KH. Moh Zuhri Zaini Pada Saat Memberikan Sambutan Kepada wisudawan Pada Acara Wisuda Ke V Universitas Nurul Jadid)

Pengasuh ke-4 PonPes Nurul Jadid ini menambahkan, bahwa tempat bekerja itu juga adalah tempat belajar. Tutur beliau, di tempat kerja itu kita bisa mengevaluasi hasil kerja kita sehingga terus meningkat serta bisa menghasilkan tambahan ilmu dari pengalaman bekerja.

“Bahkan ditempat kerja kita, andaikan kita bekerja itu adalah tempat belajar, dengan cara selalu mengevaluasi kerja kita sehingga lebih meningkat dan dari situlah kita akan mendapatkan tambahan ilmu sekalipun malalui pengalaman kerja,” imbuh beliau.

Kemudian Kiai Zuhri juga menyampaikan suatu hadist, “Man Amila Bima ‘Alima Warrotsahullohu ‘Ilma Maa Lam Ya’lam” artinya “orang yang mengamalkan ilmu yang sudah dia dapat, maka Allah akan memberi tambahan kepada orang itu pengetahuan sesuatu yang belum dia ketahui,” dawuh beliau.

 

(Humas Infokom)

KH. Musleh Adnan Bagikan Tips Hidup Berkah dan Cara Santri Mendapat Barokah

nuruljadid.net – KH. Musleh Adnan, penceramah asal Kabupaten Pamekasan yang juga pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatut Ta’limiyah membagikan tips hidup berkah. Menurut Kiai Musleh, ‘mun terro nyaman, jhek dik odik mannyaman makle nyaman’ artinya adalah kalau ingin hidup enak (lempeng), jangan hidup dengan penuh kenyamanan, agar hidupnya nanti bahagia.

Orang yang menjalani kehidupan itu ibarat seperti kaca mobil. Penjelasan ini disampaikan kiai Musleh saat menjadi muballigh pada acara Pengajian Umum dalam rangkat Maulid Nabi Muhammad SAW 1444 H di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Sabtu (22/10) malam.

“Jadi seorang driver yang hebat itu tidak selalu menatap kaca spion, tapi selalu fokus menghadap ke depan, dan sesekali melirik kepada kaca spion. Wal Tandzur Nafsun Maa Qaddamat Lighad – lihatlah masa lalumu untuk menghadapi masa depanmu,” jelas beliau.

Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pamekasan itu juga mengajak santri untuk menjaga adab dan akhlaq kepada guru. Sebab, menurut Kiai Musleh sepintar apapun seseorang jika tidak mendapat barokah guru maka tidak akan bermanfaat ilmunya.

“Manfaatnya ilmu tergantung sejak kapan ridhonya guru, jika tidak mendapatkan ridho dari guru, maka tidak bisa ilmu itu bermanfaat,” tuturnya.

Memperkuat pendapatnya, kemudian Kiai Musleh mengutip dawuh Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky, beliau mengatakan Tsabatul ilmi bil mudzakaroh, wabarokatuhu bil khidmah, wanaf’uhu bi ridho as-syaikh, artinya melekatnya ilmu dengan cara mengulang-ulang pelajaran yang telah didapat, barokahnya ada di khidmah, sedang kemanfaatannya berada di ridha seorang guru.

Menurut alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo itu ‘bhereng se jemolje kak dinto tidak didapat dengan gratis’ artinya barang yang mulia atau dalam hal ini didefinisikan sebagai ilmu itu tidak didapat dengan gratis namun dengan perjuangan dan pengorbanan. Jadi kalau santri ingin mendapatkan ilmu yang banyak, barokah dan bermanfaat maka jangan hidup dengan kenyamanan di pesantren, harus tirakat.

“Kesimpulannya, tholabul roha tarqul roha mun terro nyaman jhek dik odik man nyaman makle nyaman,” artinya adalah “kalau ingin hidup enak (lempeng), maka jangan hidup dengan penuh kenyamanan agar hidupnya bahagia,” tutup beliau dalam ceramahnya topik pertamanya sebelum masuk ke materi Maulid yang lebih spesifik.

 

 

(Humas Infokom)

KH. Musleh Adnan Jabarkan Kiat-Kiat Sukses di Masyarakat

nuruljadid.net – Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ta’limiyah Pegantengan Pamekasan KH. Musleh Adnan menyampaikan kiat-kiat menjadi orang yang sukses dan dapat berbaur di tengah masyarakat yang beragam, saat menjadi muballigh pada acara Pengajian Umum dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1444 H di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Sabtu (22/10) malam.

Dai kondang asal pulau garam yang dikenal jenaka namun wibawa itu mengawali ceramahnya dengan menjelaskan bahwa hadirnya beliau di sini karena mendapat mandat atau tugas kehormatan dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini dan untuk menyampaikan kiat-kiat menjadi orang yang sukses dan bisa berbaur di Masyarakat atas permintaan pengasuh.

Abdhinah mulai gellek sempat berfikir apa yang akan saya sampaikan, ternyata beliau (Pengasuh Kiai Zuhri) apareng tugas ka abdhinah bagaimana kiat-kiat untuk menjadi orang yang bisa berbaur dalam masyarakat walaupun abdhinah kakdintoh alumni asli Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo,” ungkap Kiai Musleh.

(Dari tengah terlihat KH. Musleh Adnan (kiri) bersama Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh Zuhri Zaini (kanan))

Kiai yang pernah mondok selama 10 tahun di Nurul Jadid itu melanjutkan, bahwa hal pertama yang menjadikan kita santri Nurul Jadid sebagai pribadi yang bisa berbaur di tengah kehidupan bermasyarakat adalah doa dari guru, pengasuh dan majelis Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Abdhinah meyakini dan merasakan ternyata pengasuh dan majelis pengasuh tidak mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kami ketika mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid, tetap didoakan. Padahal banyak kesalahan kami di pesantren,” dawuh beliau.

Kiai Musleh lantas mengutip sabda rasul: “Syafa’ati li ahlil kaba’iri min ummati” artinya “Syafa’atku untuk pelaku dosa besar dari umatku.” (HR. Abu Daud no. 4739, Tirmidzi no. 2435 dan Ahmad 3: 213. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

“Mungkin Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid mondhut eka’dintoh, sa jek raje’ennah kesalahan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid tetap didoakan,” terangnya.

Poin kedua, beliau menjelaskan bahwa ngaji itu dasarnya di pesantren dan pengembangannya di masyarakat. Jadi setelah belajar di pesantren, maka jangan pernah berhenti belajar di masyarakat. Sebagai santri Nurul Jadid, di pesantren kita telah ditekankan untuk mengamalkan nilai al ihtimamu bil furudil ainiyah, tidak hanya itu, selain pengajian kitab kita juga belajar dan berlatih segala terapan yang ada di masyarakat.

“Standart se ekocak alem neng e pondhuk tak sami se ekocak alem neng masyarakat. Misalnya, kalau di pondok pesantren yang dibilang alim itu adalah orang yang sering ikut bahtsul masail, keng tape binabi depak ka masyarakat se alim ghenikah se bisa aladhinin kabhutonna masyarakat. Epakona tahlil, bisa tahlil ngereng, keng jek pah nyol manganyol,” imbuhnya.

(Potret susasana malam maulid di halaman Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi oleh ribuan santri dan masyarakat)

Poin ketiga, tidak adanya fanatisme kealumnian di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Kyai Musleh menceritakan bahwa sudah sejak dulu pengasuh dan majelis pengasuh Nurul Jadid tidak menginginkan alumni yang telah terjun ke masyarakat harus beridentitas Santri Nurul Jadid.

“Karena kalau sudah pulang ke masyarakat, sudah milik masyarakat, bukan milik Nurul Jadid. Kakdintoh se bideh ning Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, artinya kakdintoh egeresah ka abek bahwa abek kakdintoh mau bergaul sama siapa saja ngireng,” jelasnya.

Kemudian poin terakhir, adab murid kepada guru. Menguraikan penjelasan tersebut, Kyai Musleh menganalogikan seorang guru seperti talang air, dan murid adalah timba kosong.

Kakdintoh neng ilmu tariqoh bahwa guru itu seperti talang air, deddhi ojen kakdintoh minabi toron kakdintoh masok deri talang air, maka mored kakdintoh koduh narade deri talang air, benni pah langsung ngalak deri langngik, mun bedeh mured kakdintoh langsung ngalak deri langik reken nyareah elmu deri langngik pah nyambi tembeh, bile se possak a?” pungkasnya.

Dalam Ilmu Thoriqoh bahwa guru itu umpama talang air, jadi ketika hujan turun jatuh melalui talang air, maka murid harus menadahi air dari talang, bukan langsung menadah air dari langit. Jika ada murid yang langsung menadah air dari langit atau mencari ilmu langsung dari langit dengan membawa timba, maka akan memakan waktu yang lama untuk penuh. Sehingga dalam menuntut ilmu perlu guru agar jelas sanadnya dan tidak mudah belajar tanpa bimbingan guru karena dapat menyesatkan.

 

 

(Humas Infokom)

Gus Fayyadl Usul Darud Difan sebagai Konstribusi Menyusun Konsep Negara Suaka

nuruljadid.net – Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid K. Muhammad Al-Fayyadl mengusulkan Darud Difan sebagai kontribusi untuk menyusun konsep negara suaka, hal tersebut menjadi perbincangan dalam acara Halaqoh Fikih Peradaban di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Ahad (2/10) siang.

“Mungkin apa bisa darud difan ini dijadikan kontribusi untuk menyusun konsep negara suaka?”, tanya Gus Fayyadl.

Usulan ini berangkat dari fakta geopolitik yang desawa kini sangat rentan pada terjadinya pengusiran umat manusia. Beliau memberikan contoh beberapa tahun lalu saat tragedi rohingya, umat muslim yang ada di daerah bangladesh, india, dan pakistan terusir dari negaranya.

“Hal ini sampai sekarang belum bisa diatasi oleh konsep negara bangsa yang ada, kenapa? Karena negara bangsa yang ada saat ini sangatlah ekslusif, bisa dibilang untuk masuk ke sebuah teritory harus butuh pasport dan visa. Bagaimana dengan warga negara yang tidak punya pasport dan visa, apakah dihukumi sebagai bughat,” dawuh beliau.

(Potret suasana Halaqoh Fikih Peradaban di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Dalam konteks tersebut, Kyai Muhammad Al-Fayyadl mengusulkan agar kita bisa memahami tatanan dunia hari ini sebagai darud da’wah. Lalu beliau menjelaskan bahwa darud da’wah dibagi menjadi dua, yaitu darud to’at dan darul ma’ashih wal fusuk wal dzulmi. Jadi yang ada sekarang bukanlah kekafiran ansih, tetapi sebenarnya ekspresi paling luar dari kekafiran itu adalah al ma’asi, wal fusuk, wal dzulmi, al jaur atau kesewenang-wenangan.

“Sehingga dari konsepsi seperti ini sebenarnya yang ada mungkin sekarang itu semua negara hari ini adalah darud dakwah bagi umat islam,” imbuhnya.

Memperkuat dasar pemikirannya, beliau juga mengangkat cerita sahabat rasul yang menjadi salah satu al-‘asyaratu al-mubasysyaruna bil jannati atau sepuluh sahabat nabi yang dijamin masuk surga, beliau adalah Abdurrahman bin Auf. Dalam sejarah diceritakan, beliau adalah orang pertama yang rumahnya menjadi tempat kedatangan utusan-utusan nabi bahkan tamu-tamu nabi yang berasal dari luar negeri, sehingga rumah beliau disebut sebagai darud difan.

“Bahkan rumah dari Abdurrahman bin Auf ini juga disebut addarul kubro. Karena saking luasnya, karena beliau kaya raya, rumahnya yang besar itu banyak menerima tamu delegasi dari negara-negara lain yang itu insyaallah rata-rata non-muslim atau musyrik. Jadi kami tertarik, mungkin apa bisa darud difan ini dijadikan kontribusi untuk menyusun konsep negara suaka?,” jelas Gus Fayyadl.

Selain itu, beliau juga mengusulkan bahwa tujuan negara sebenarnya yang telah dimukakan oleh KH. Afifudin Muhajir bisa ditingkatkan pada tataran global, artinya bagaimana Fikih Maqosid yang telah menjadi acuan kita di dalam bermuamalah hari ini bisa ditingkatkan ke dalam tataran global.

“Sebagai contoh, kami mengusulkan adanya istilah hifdzul bi’ah atau menjaga lingkungan yang dimaknai disini hifdzul balad atau hifdzul wathon sebagai salah satu maqosid syariah di dalam konteks tatanan dunia baru, kenapa? Karena semua an nafs, ad din, al mal, an nasl itu tidak akan berguna ketika sebuah negara diinvasi dan dikoloni, maka hifdzul balad, meski itu balad yang mayoritasnya ada kafir, karena dia potensi menjadi darud dakwah maka sangat mungkin untuk dimasukkan kedalam kriteria maqosdu syariah yang baru,” pungkas beliau.

 

 

(Humas Infokom)

Gus Fayyadl Jabarkan Enam Sistem Tatanan Dunia Baru Perspektif Geopolitik

nuruljadid.net – Narasi “Fikih Siyasah dan Tatanan Dunia Baru” Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid Kyai Muhammad Al-Fayyadl membahas terkait Fikih Siyasah merupakan hasil dari tatanan dunia yang berkembang pada masanya. Dengan itu, beliau mengatakan bahwa topik pembahasan Halaqah Fikih Peradaban yang diadakan di Pondok Pesantren Nurul Jadid sudah masuk pada perbincangan mengenai maddatul hadorohnya atau materi peradabannya.

Ungkapan itu disampaikan oleh Gus Fayyadl saat menjadi pemateri dalam acara Halaqah Fikih Peradaban menyambut hari lahir 1 Abad Nahdlatul Ulama’ (NU) pada Ahad (2/10) siang.

Lebih lanjut beliau mengkhulasohi atau mereview sub materi Tatanan Dunia Baru yang kompleks dan memiliki cakupan sangat luas. Beliau menyebutkan ada enam segmentasi tatanan dunia baru secara geopolitik yang mencirikan kehidupan peradaban manusia dari waktu ke waktu.

“Secara geopolitik, peradaban dunia itu ada enam sistem. Fase pertama, peradaban suku (Tribal Societies – Mujtama’ Al Qabailiyah) ini yang diisyaratkan dalam kitab suci al-quran ‘inna khalaqnakum syu ubawwaqaba ila’, jadi peradaban suku ini sangat kental jika kita melihat dalam sejarah islam fase awal.”

Kemudian disusul dengan tatanan dunia yang kedua atau fase kedua, yaitu lompatan dari peradaban suku kepada peradaban imperium (Imperial Societies – Mujtama’ Dauliyah). Dalam fase ini, dimana saat itu di zaman Nabi Muhammad SAW ada dua imperium besar, yaitu Romawi dan Persi. Secara umum, terdapat ciri-ciri kehidupan politik dalam kitab-kitab Fikih Siyasah kita, karena di peradaban ini muncul konsep-konsep yang sangat berpengaruh bahkan di dalam praktik, misalnya dalam konsep jihad.

“Yaitu adanya konsep dan praktik futuh (penaklukan) jangan dibayangkan ini penaklukan militer, tapi lebih tepat pada pendirian masyarakat Islami dengan tatanan politik tertentu, yang seringkali juga terkadang melalui proses perdamaian, seperti Fathu Mekkah itu sendiri. Peradaban imperium ini berlangsung sangat lama,” imbuh beliau.

(Potret K. Muhammad Al-Fayyadl sedang memberikan pemaparan materi tentang Fikih Siyasah dan Tatanan Dunia Baru)

Dilanjukan dengan fase ketiga dan keempat, dimana tatanan dunia memasuki Era Kolonialisme dan Imperialisme (Colonial Estates – Isti’mariyah)  termasuk berkembangnya faham-faham wathoniyah. Era kolonialisme ini melahirkan Era Negara Bangsa (Nation State), dan kita sedang berada di dalamnya.

Fase kelima yaitu tatanan Global Order. Istilah ini sangat kental dengan nuansa perang dingin, bisa dibilang pada era ini muncul blok-blok, misalnya blok barat dan blok timur, yang diistilahkan dengan Musyarokah Syiasiah.

Kemudian selanjutnya, fase keenam adalah Global Governance atau Global Transnational Governance. Fase ini merupakan yang terkini dan paling kontemporer berupa pengaturan dunia melalui skema-skema dan desain politik, ekonomi, dan bidang lainnya yang berbasis kepentingan oleh beragam aktor, baik sipil, militer, swasta, dan negara.

“Secara umum, ini yang menjadi awal pentingnya kita berpikir mengenai fikih siyasah ini. Karena secara umum fikih siyasah yang dipakai di kalangan kita itu merupakan produk era keemasan imperium Islam, atau daulah-daulah islamiyah, dan fikih ini terus relevan dipakai sampai di era kolonialisme,” pungkas beliau.

 

 

(Humas Infokom)

Santri Itu Multitalenta

nuruljadid.net- Santri itu multitalente. Begitu kiai Pengasuh pesantren mengatakannya. Santri adalah seorang pelajar yang bermukim di Pesantren menimba ilmu-ilmu agama, bahkan ilmu-ilmu pengetahuan umum pun ia pelajarinya.

Bahkan hampir tidak ada seorang pelajar yang memiliki kesempatan belajar seperti santri. Ia adalah satu-satunya pelajar yang diberi anugerah oleh Tuhan untuk menjadi pribadi yang paripurna.

Begitu saya bermukim di pesantren, saya merasakannya bahwa memang santri itu multitalenta, belajar bertukar pendapat, belajar menghargai orang lain, belajar menempa diri, belajar mandiri, belajar hidup sederhana dan belajar menjadi kader umat yang produktif.

Puluhan tahun saya melihat dan menikmati dunia santri di pesantren. Ada senda gurau yang sangat indah, bumbu-bumbu gurau adalah ilmu dan joke-joke para kiai-kiai sepuh yang memiliki makna.

Semangat santri tidak pernah punah meskipun zaman telah mengalami perubahan. Santri terus mengejar impiannnya menjadi pribadi saleh dan musleh.

Hebatnya, saat saya menjadi santri dan pulang ke rumah saya di Kepulauan Kangean, banyak orang menyambutnya, seakan saya seorang raja yang patut dibanggakan dan dihormati.

Tibalah akhirnya, saya memberanikan diri bertanya pada sesepuh yang ada di kampung halaman saya.

“Pak kiai, orang-orang kampung kok menyambut kedatangan saya bak seorang raja atau pahlawan yang kembali di medan perang,” begitu tanyaku.

Pak kiai itu menjawab.

“Njenengan kan seorang pelajar yang bermukim di pesantren (santri) disana njenengan belajar banyak ilmu, baik ilmu agama, ilmu umum dan bahkan ilmu hikmah, pokoknya semua ilmu. Kedatangan njenengan ke kampung halaman ini sebuah keberuntungan yang sangat besar bagi masyarakat. Njenengan bisa berbagi pengetahuan dengan mereka terkait banyak ilmu. Saya percaya santri itu mengetahui ilmu segala bidang,” begitu jawabnya.

Seyogyanya santri memahami persepsi masyarakat dengan baik. So, yang terpenting asahlah skill santri melalui berbagai hal, untuk menjadi kader bangsa dan ummat yang produktif. Di Pondok Pesantren Nurul Jadid tempat saya mondok dan mengabdi melakukan pembinaan-pembinaan kepada santrinya agar mampu menjadi insan yang memiliki kualitas, menjadi abdi untuk tercapainya kemaslahatan ammah sesuai dengan ridla Allah SWT.

Pewarta   : PM

Harlah PPNJ Ke 72: Teladan Dakwah Kiai Zaini Mun’im, dari Memberdayakan Ekonomi ke Memperkenalkan Nilai-Nilai Agama

nuruljadid.net- “Saya membuat Pondok ini bukan hanya mencetak Kiai saja, tapi sekaligus ingin mencetak manusia yang siap terjun dan diterima masyarakat”. KH. Zaini Mun’imPondok Pesantren (PP) Nurul Jadid telah memasuki usia yang ke 72. Hal ini sesuai dengan akan digelarnya peringatan hari lahir PP. Nurul Jadid yang ke 72 pada tanggal 13-14 Maret 2021. Dalam kurun waktu yang relatif panjang itu, PP. Nurul Jadid hingga saat ini tetap istiqomah mendidik santri menjadi pribadi yang berkarakter, berdedikasi tinggi dalam semangat nilai-nilai agama. Bahkan, sejak awal berdirinya, pesantren yang didirikan oleh Al Magfurlah KH Zaini Abdul Mun’im atau dikenal KH Zaini Mun’im telah menjadi wahana mempersiapkan generasi bangsa yang berkarakter, berwawasan dan berdedikasi tinggi pada bangsa, masyarakat dan agama.

Begitu juga dalam peran sosialnya, PP. Nurul Jadid masih konsisten melakukan pendampingan dan pemberdayaan kepada masyarakat, baik melalui pesantren, alumni dan santri-santri yang masih aktif. Artinya, PP. Nurul Jadid merupakan pesantren yang aktif melakukan pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat. Terbukti dengan banyak berdirinya lembaga sosial seperti Yayasan Bantuan Sosial Nurul Jadid (YBSNJ) dan Balai Pengobatan Az-Zainiyah (BPANJ) dan Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BP2M) Ponpes Nurul Jadid.
Akan tetapi bukan itu yang akan dibahas dalam tulisan ini, namun, yang ingin saya ketengahkan dalam tulisan ini ialah bagaimana teladan dan metode dakwah yang dilakukan oleh Kiai Zaini Mu’im sebagai pendiri PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Dalam momentum Harlah PP. Nurul Jadid yang 72, tentu yang diinginkan oleh khalayak santri, alumni dan masyarakat adalah keteladan Kiai Zaini Mun’im, sehingga menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita para santrinya mengikuti jejak beliau dalam memperjuangkan nilai-nilai agama.
Kiai Zaini Mun’im; Memberdayakan Ekonomi dan Spritualitas Masyarakat
Kiai Zaini Mun’im merupakan sosok Kiai yang punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat. Ini bisa dilihat dari metode dakwah yang beliau terapkan. Dalam berdakwah, Kiai Zaini lebih dahulu memberdayakan masyarakat dari aspek ekonominya dan setelah ekonominya baik, barulah kemudian nilai-nilai agama diperkenalkan. Metode dakwah semacam itu ternyata lebih ampu daripada dakwah melalui panggung kepanggung yang bersifat seremonial.
Dalam buku yang ditulis M Masyhur Amin dan M Nasikh Ridwan tentang KH Zaini Mun’im (Pengabdian dan Karya Tulisnya) dijelaskan bahwa KH Zaini Mun’im adalah seorang ulama yang memiliki kepedulian terhadap kondisi kemiskinan dan keterbelakangan rakyat akibat penjajahan dan kekejaman pemerintah kolonial Belanda. Memang kala itu, beliau sudah dikenal oleh masyarakat luas karena sering memberi bantuan kepada masyarakat, terutama keampuhan doa-doanya.
Dalam berdakwah, Kiai Zaini Mun’im lebih mengutamakan dakwah bilisanil hal. Artinya beliau dalam berdakwah tidak melalui pendidikan terlebih dahulu, akan tetapi dengan melakukan pendekatan kepada masyarakat yaitu membedayakan masyarakat bidang ekonomi dan disertai dengan nilai-nilai agama. Pada awal mula beliau datang ke Tanjung¬¬¬¬¬-sekarang Desa Karanganyar, terlebih dahulu mempelajari situasi dan kondisi ekonomi masyarakat sekitar. Karena Desa Karanganyar dulu merupakan pusatnya Bromocora, penyabung Ayam, Perjudian, Pelacuran dan sebagainya. Sehingga rawan pencurian, perampokan dan lain-lain.
Dalam situasi masyarakat yang demikian itulah, Kiai Zaini Mun’im memperkenalkan cara bercocok tanam yang baik, karena beliau melihat tanah di Desa Tanjung cukup produktif jika digunakan untuk bercocok tanam, hanya saja masyarakatnya tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Tanaman yang pertama kali diperkenalkan oleh Kiai Zaini Mun’im adalah tembakau yang bibitnya diambilkan dari Madura. Awalnya, bibit ini sebagai percobaan di desa Karanganyar.
Walaupun pada awalnya tanaman yang diperkenalkan Kiai Zaini mendapat cemoohan dari masyarakat karena tidak bisa dimakan, tapi beliau jalani dengan sabar. Terbukti, akan seiring berjalannya waktu, tanaman ini memang cocok dengan keadaan tanah di Desa Karanganyar, dan menjadi basis perekonomian masyarakat Paiton.
Dari situlah muncul ungkapan jika ada masyarakat yang akan mengadakan hajatan seperti mantenan, slametan dan lain sebagainya, mereka selalu bilang “tunggulah nanti pada musim tembakau”. Ungkapan ini menunjukkan betapa Kiai Zaini Mu’im telah berhasi merubah paradigma masyarakat, sehingga mereka bisa meninggalkan kebiasan-kebiasaan lama yang kurang baik. Berkat upaya Kiai Zaini Mun’im ini, sekarang tanaman tembakau menjadi andalan dan sandaran hidup masyarakat Paiton, dan saat ini pula banyak berdiri Gudang-Gudang tembakau dan Pabrik Rokok seperti PT. Gudang Garam di Paiton dan PT Sampoerna di Kraksaan.
Langkah selanjutnya yang dilakukan Kiai Zaini Mun’im setelah perekonomian masyarakat mulai membaik dan meningkat melalui pertanian, disnilah mulai dimasukkan dan diperkenalkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama islam dalam kehidupan masyarakat Karanganyar. Pihak-pihak yang pertama kali didekati dan disadarkan ialah Kepala Desa Tanjung. Setelah kepala Desanya berhasil didekati dan disadarkan, selanjutnya beliau mengajak masyarakat setempat untuk shalat Jumat bersama di Pendopo rumah kepala Desa yang kala itu merupakan orang paling kaya se desa Tanjung.
Dalam buku Biografi Kiai Zaini Mun’im dijelaskan bahwa pada awalnya, masyarakat hanya diajak untuk melakukan shalat jumat saja. Setelah berjalan beberapa bulan kegiatan shalat Jumat ini dan masyarakat mulai sadar, selanjutnya mereka diajak bersama-sama membangun Masjid Tanjung (sekarang Masjid Baitis Salam) juga diajak untuk mengikuti pengajian, baik yang dilaksanakan di Masjid maupun di rumah-rumah penduduk. Untuk mewadahi masyarakat dalam belajar agama, selanjutnya mulai dirintis Madrasah di luar pesantren yaitu Madrasah Ibtidaiyah Agama (MIA).
Pola dakwah yang digunakan oleh Kiai Zaini Mun’im cukup efektif dalam merubah prilaku dan paradigma masyarakat. Hal ini terbukti dengan pupusnya kepercayaan animisme dan dinamisme juga terhadap roh ghaib dan semakin rendahnya kasus pencurian, pemerkosaan, perjudian, serta lenyapnya gembong PSK di wilayah Paiton. Seiring itu pula, tumbuhlah semangat yang menyala-nyala dalam mempertahankan kehidupan baik dan beradab, sehingga saat ini, masyarakat Karanganyar khususnya dan Paiton pada umumnya telah menjadi masyarakat yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
Perubahan-perubahan sosial yang telah dilakukan KH Zaini Mun’im bersama santri-santrinya pada masyarakat Karanganyar tersebut, kemudian dibalas dengan sikap simpati masyarakat berupa dukungan terhadap perkembangan pesantren Nurul Jadid. Di antaranya adalah dukungan masyarakat Karanganyar terhadap berdirinya Lembaga Pendidikan mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT). Bahkan, Pesantren yang kini diasuh Kiai Zuhri Zaini ini, nampaknya mendapat pengakuan yang cukup luas di kalangan masyarakat. Terbukti dengan semakin banyaknya jumlah santri yang berdatangan dari segala penjuru tanah air, bahkan dari luar negeri (Singapura dan Malaysia).
Demikianlah, sekulumit dari sekian banyak kiprah, keteladanan dan perjuangan KH Zaini Mun’im dalam berdakwah, dan masih banyak lagi pelajaran yang perlu kita petik dari beliau. Atas jasa-jasa beliau, hingga saat ini pesantren Nurul Jadid telah melahirkan ribuan alumni, dan banyak berkontribusi untuk keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara melalui pendidikan yang dikembangkan oleh PP Nurul Jadid. Akhirnya, semoga diusianya yang ke 72 PP Nurul Jadid tetap menjadi cahaya peradaban ilmu agama, ilmu pengetahuan, akhlak di tengah meredupnya nilai-nilai moralitas di masyarakat dan bangsa Indonesia secara umum. Akhirnya saya ucapkan selamat Harlah PP. Nurul Jadid yang ke 72 semoga tetap istiqomah mendidik generasi bangsa yang berkarakter sesuai nilai-nilai “Trilogi dan Panca Kesadaran Santri”. Wallahu A’lam.
Oleh     : Mushafi Miftah
(Santri PP. Nurul Jadid tahun 2005-2012, Sekarang mengabdikan diri sebagai Dosen Tetap Universitas Nurul Jadid)

Empat Langkah Meraih Zuhud, Menurut Kiai Zuhri Zaini

nuruljadid.net-Zuhud adalah ketidakbergantungan hati seseorang kepada dunia. Tapi bukan berarti menolak kehidupan dunia itu sendiri.
“Zuhud itu ketidak bergantungnya hati kita kepada dunia. Biar kita tidak terjebak dengan ketergantungan atau kecintaan kita pada dunia. Tapi bukan berarti tidak punya dunia itu sendiri,” tutur putra kelima, Pendiri PP. Nurul Jadid KH. Zaini Mun’im.

Dijelaskan lebih lanjut, godaan dunia itukan menyenangkan, sementara kita punya nafsu yang inggin selalu senang. Oleh karena itu, ketika kita menyaksikan hirup-pikuk dunia, akan muncul watak harus selalu menyukainya.
Karena pada dasarnya manusia cenderung untuk memiliki kehidupan dunia. Menurut beliau, ke-inginan untuk memilikinya adalah suatu bentuk ujian yang harus dilalui manusia. Sementara, bentuk perlawanan seseorang terhadap dunia adalah jihad.

“Dunia itu ujian. Kita menyenangi dunia, namun dianjurkan untuk meninggalkannya. Jadi seandainya kita tidak mencintai dunia, kita tidak perlu berjuang. Ketika kita melawan dorongan nafsu dunia kita, disitu adalah jihad asalkan karena allah,” jelasnya.

Hal tersebut diungkapkan Pengasuh PP. Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, KH. Moh. Zuhri Zaini dalam kegiatan kajian kitab Kifayat al-Atqiya dan Wa Minhaj al-Ashfiya karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Matan Universitas Nurul Jadid (UNUJA), belum lama ini.

Kalau kita melawan kecintaan terhadap dunia karena Allah, itu bisa dinamakan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, orang yang melawan nafsunya, sesungguhnya masuk dalam jihad dun nafs (melawan hawa nafsu).

“Kita yang melawan kecintaan dunia karena allah itu namanya jihad fi sabilillah. Misalnya, orang senang mabuk atau ingin berzina seumpamanya, tapi kita tahan atau lawan, itu masuk dalam jihad dun nafs,” terang beliau.

Untuk menghilangkan kecintaan seseorang terhadap dunia, beliau mengatakan ada empat cara agar bisa zuhud:

Pertama,memaafkan perbuatan bodoh orang lain terhadap kita. Maksudnya, perbuatan orang bodoh yang tercela, walaupun pada dasarnya ia berpengetahuan atau pintar.

“Tapi merendahkan orang, memaki-maki kita, dan ghibah. Kemudian, kita memaafkan perbuatan orang bodoh itu. Maka masuk dalam bentuk zuhud,” tandasnya.

Kedua,mencegah atau menahan diri untuk tidak berbuat bodoh kepada orang lain. Karena menurut beliau ini bagian dari jihad.

“Begitu juga ketika kita menahan diri, tidak berbuat bodoh kepada orang lain itu termasuk jihad untuk menuju zuhud,” katanya.

Ketiga,tidak berharap balasan baik dari orang lain.

“Jadi kalau ada orang dermawan, dan suka membantu orang. Baik di balas atau tidak, orang lain itu berterimakasih atau pun tidak. Maka kalau dia ikhlas, akan terus berbuat baik kepada orang lain,” tampalnya.

Keempat,ialah membalas atau memberi kepada orang lain. Baik yang bersifat materi atau pun non-materi. Jika kita memberi karena ingin balasan, biasanya sifat seperti itu tidak akan lama.

Hal itu lebih mendahulukan keikhlasan kita memberi untuk orang lain yang akan membawa kepada bentuk zuhud.
“Karena ikhlas mendahulukan orang lain adalah salah satu ciri orang zuhud. Tapi semua itu, dalam ranah urusan dunia,” sambungnya.

Jika dalam ranah amal ibadah lebih mendahulukan orang lain, itu tidak bisa di katakan zuhud.

“Mendahulukan orang lain dalam hal amal ibadah atau amal akhirat bukan masuk dalam zuhud. Mendahulukan orang lain itu baik, kalau dalam urusan dunia. Misalnya, membagikan uang, kemudian kita mendahulukan orang lain,” tuturnya.

 

Penulis : Riadi

Tulisan ini diambil di www.ngopibareng.id.

Kritik Kiai Zaini Mun’im Atas Tafsir Jalalain

nuruljadid.net-Dalam tulisan sebelumnya, hamba sebut bahwa kitab kesukaan Kiai Zaini Mun’im, pendiri Pesantren Nurul Jadid Paiton, sebagaimana dituturkan putra beliau, Kiai Zuhri Zaini, adalah kitab Tafsir Jalalain Dan Kitab Riyadl al-Shalihin. Nama pertama adalah kitab tafsir yang menjadi banyak bacaan di Pesantren di Indonesia. Sementara nama kedua adalah nama kitab yang berisi hadis-hadis nabi yang ditulis oleh al-Imam al-Nawawi. Dua kitab itulah yang menjadi bacaan kesukaan beliau di hadapan santri Nurul Jadid masa-masa awal.

Kiai Zaini Mun’im ini adalah satu dari beberapa kiai yang diakui kealimannya oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin. Bahkan, dalam sebuah kesempatan, beliau menjadikan Kiai Zaini sebagai protype kiai dalam hal ilmu agamanya, dalam sebuah momen, beliau berdawuh, “Tujuan Ma’had Aly Situbondo bukan politik tetapi ingin cetak ulama seperti Kiai Zaini Mun’im dan Kiai Asnawi Kudus.”  Kiai As’ad mengenal Kiai Zaini dalam waktu yang cukup lama. Keduanya nyantri kepada Syaichona Kholil Bangkalan dalam waktu yang bersamaan. Bedanya; jika Kiai As’ad sering bertugas di dhalem Kiai Kholil, maka Kiai Zaini bertugas di musalla pesantren. Itulah kisah yang penulis sempat dengar dari beberapa sumber.

Sepulang dari Bangkalan, keduanya menjadi kiai terkemuka, Kiai As’ad meneruskan ayahnya, Kiai Syamsul Arifin, mengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, sementara Kiai Zaini Mun’im, mendirikan pesantren Nurul Jadid, di daerah Paiton Probolinggo. Nah, di pesantren yang ia rintis, Kiai Zaini rutin memberikan pengajian Tafsir Jalalain dan Riyadl al-Shalihin.

Kepakaran Kiai Zaini dalam ilmu keagamaan khususnya tafsir dan fikih tidak diragukan. Khusus dalam bidang tafsir, salah seorang kawan saya, Irfan, santri Ma’had Aly Nurul Jadid, bercerita bahwa Kiai Zaini memiliki karya dalam bidang tafsir, hanya saja tidak sampai selesai ditulis beliau sudah menghembuskan nafas terakhir. Keahlian beliau dalam bidang tafsir terbaca juga ketika memberi pengajian di hadapan santri, tak jarang beliau memberikan “keberatan” atas penafsiran dari seorang mufassir. Misal seperti penolakan beliau kepada penafsrian al-Suyuti ketika menafsiri salah satu ayat dalam Surat Yusuf.

Baca juga:  Sabilus Salikin (14): Rabitah (Merabit)

Cerita ini dikisahkan oleh Kiai Zainul Muin Husni, santri Nurul Jadid di masa Kiai Zaini Mun’im, yang saat ini menjadi dosen penulis di Ma’had Aly Situbondo. Dalam sebuah kesempatan, Kiai Zainul bercerita bahwa ketika menafsiri kisah asmara nabi Yusuf dan Zalikha dalam Qs. Yusuf 24, Kiai Zaini tampak tak setuju dengan penafsiran al-Suyuti. Secara lengkap, ayat tersebut berbunyi:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ

“Dan Sungguh, perempuan itu (Imraah aziz) telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf berkehendak kepadanya (Imra’atu Aziz) seandainya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.” (Qs. Yusuf [12]: 24)

Ketika menjelaskan “tanda” itu al-Suyuti mengutip Ibnu Abbas yang menyebut bahwa saat itu Nabi Ya’qub, ayahanda Nabi Yusuf, tiba-tiba tampak di hadapan putranya itu, lalu beliau menepuk dada anaknya dan seketika hasratnya pudar seperti keluar dari jari-jarinya. Yang membuat Kiai Zaini Mun’im memberi kritik keras adalah tatkala al-Suyuti menafsiri jawab laula (لولا) pada ayat di atas dengan kata “Lajama’aha” (لجامعها), seperti yang ditulis al-Suyuti Tafsir al-Jalalain:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ} قَصَدَتْ مِنْهُ الْجِمَاع {وَهَمَّ بِهَا} قَصَدَ ذَلِكَ {لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَان ربه} قال بن عَبَّاس مُثِّلَ لَهُ يَعْقُوب فَضَرَبَ صَدْره فَخَرَجَتْ شَهْوَته مِنْ أَنَامِله وَجَوَاب لَوْلَا لَجَامَعَهَا

Baca juga:  Bagaimana Imam al-Qusyairi Menafsirkan Nahwu dalam Dunia Tasawuf?

“(Dan dia (perempuan) itu berkehendak kepadanya), artinya perempuan itu hendak bersetubuh dengan Yusuf. (Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya), yakni berkehendak seperti itu. (Seandainya Yusuf tidak melihat tanda dari Tuhannya) Ibnu Abbas berkata, “Yakqub menampakkan diri di hadapan Yusuf lalu memukul dadanya, maka keluarlah syahwatnya dari jari-jemarinya. Jawab dari kata “laula” adalah “lajama’aha.”  

sehingga secara utuh pemahaman redaksi ayatnya begini, “Seandainya dia (Yusuf) tidak melihat tanda dari Tuhannya niscaya dia telah menyetubuhi perempuan itu.”

Titik kritik Kiai Zaini adalah penafsiran di atas tidak sesuai dengan posisi kenabian yang digaransi dengan sikap ma’shum, yaitu keterjagaan dari melakukan dosa baik sebelum atau sesudah menjadi nabi. Dalam pandangan Kiai Zaini, untuk keluar dari tudingan tidak baik kepada nabi Yusuf, maka jawab dari “Laula” pada ayat di atas adalah disebutkan sebelumnya, yaitu lafaz “Hamma”, berkehendak (dalam ilmu Nahwu ada keterangan boleh mendahulukan jawab atas syarat). Sehingga redaksi penafsiran yang ditawarkan oleh beliau adalah:

“Seandainya dia (Nabi Yusuf) tidak melihat tanda dari Tuhannya, niscaya dia telah berhasrat pada perempuan itu.” Mafhum dari penafsiran ini adalah, karena tanda itu ada, maka jangankan menyetubuhi, berhasrat saja tidak. Model tafsir ini bisa disebut tafsir yang menghindar dari penafsiran yang agak ngeri-ngeri sedap, yang mengatakan bahwa seandainya tidak ada tanda dari Tuhan, maka nabi Yusuf akan menyetubuhi Zalikha.

Baca juga:  Indonesia: Negara Kesejahteraan

Alur fikir seperti yang diambil Kiai Zaini Mun’im adalah persis seperti sikap penulis Hasyiyah (catatan) pada Tafsir Jalalain, yaitu Syaikh Ahmad al-Shawi dalam Hasyisyah al-Shawi. Beliau menulis ketika menafsiri ayat di atas:

وقيل ان قوله وهم بها هو الجواب والمعنى لولا ان راى برهان ربه لهم بها امتنع همه بها لرؤية برهان ربه فلم يقع  هم اصلا وحينئذ فالوقف على قوله ولقد همت به وهذ هو الاحسن في هذ المقام لخلوه من الكلفة والشبهة.

“Dan dikatakan bahwa firman Allah, “ia (Yusuf) berkehendak adalah jawab. Jadi artinya, sekiranya Yusuf tidak melihat tanda dari Tuhannya, niscaya ia akan bermaksud untuk menyetubuhi perempuan itu. Di sini berkehendak dari selingkuh tercegah, karena Yusuf melihat tanda dari Tuhannya. Maka tak ada kehendak untuk itu sama sekali. Dengan demikian pembacaan ayat ini diwaqafkan (berhenti) pada kalimat pada kalimat “Wahamma biha” Pendapat ini merupakan pendapat yang terbaik dalam konteks pembahasan ini karena terhindar dari pemaksaan dan kerancuan.”

Dalam cerita Kiai Zainul Muin, ketika sampai pada pembahasan ayat di atas itu, biasanya Kiai Zaini dengan tegas mengatakan, “Ini penafsiran yang keliru!”

Beliau tak seperti biasanya yang jika menemukan penafsiran yang menurut beliau salah, berkomentar, “Ini salah cetak, yang benar kira-kira begini”.

 

 

*) Penulis : Ahmad Husain Fahabu (Saktri aktif Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo, Jatim)

*) Tulisan ini diambil dari alif.id

*) Publisher : Ponirin Mika

 

Saya Bangga Menjadi Muridnya

nuruljadid.net- Beliau contoh sempurna tentang ikhtiar, doa dan tawakkal. Ya, beliau adalah KH. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul jadid itu. Kiai yang terkenal sebagai sosok yang sederhana, telaten, penyabar dan alim. Mungkin semua orang yang pernah berinteraksi dengan beliau akan terpana dengan akhlaqnya. Semua kategori baik, hampir melekat semuanya pada beliau. Beliau khusu’, beliau wira’i, beliau tawadlu, beliau khumul, beliau tak kemrungsung dan yang paling keren, beliau mengikuti perkembangan zaman. Untuk yang satu ini, kehebatan beliau diapresiasi khusus oleh Prof. Mahfud MD. Menurutnya, hanya KH. Zuhri Zaini dan KH. Afifuddin Muhajir (PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo) yang memiliki kemampuan setara, alim dalam ilmu-ilmu agama, namun juga lihai memahami dan menjelaskan perkembangan zaman dalam bahasa tulis yang indah dan konprehensif.

Segala pujian pada beliau tentu tak akan ngefek sama sekali, beliau tak akan terbang karena dipuji, dan tak akan tumbang karena dicaci. Hanya Allah yang menjadi tujuan dan konsentrasinya. Karena itu, jikapun beliau membaca tulisan ini, pasti tak akan membekas.

Namun saya penting menulis, bukan karena saya santrinya, bukan, bukan karena itu saja, yang terpenting adalah ibrah dari sosok beliau. Lebih-lebih di saat pandemi Covid 19 sedang brutal memapar siapa saja.

Saya tahu persis bagaimana protokol kesehatan benar-benar dipraktekkan di PP. Nurul Jadid sejak virus ini menyerang. Protokol pencegahan dan penanganan virus Corona benar-benar dipraktekkan. Tamu yang berkunjung, pengurus yang keluar masuk ke pesantren harus melalui proses pemeriksaan kesehatan dan sterilisasi virus san bakteri super ketat.

Apakah itu cukup? Tidak. Beliau tetap memakai masker dan selalu ditemani handsanitizer setiap morok (ngajar). Foto-foto dibawah menunjukkan keseriusan dan pembelajaran langsung oleh beliau. Beliau tak hanya menyarankan para santri untuk selalu mempraktekkan protokol hidup sehat, tapi lebih dari pada itu, beliau memberi contoh. Contoh ikhtiar dan tawakkal yang sempurna.

Dalam satu sesi pengajian, nampak beliau agak terganggu dengan masker yang beliau kenakan. Kemungkinan ukurannya yang terlalu kecil, hingga mengganggu nafas beliau. “Bek tapeggeh”, ujar beliau. Tapi beliau sama sekali  tak berusaha mencopot dan menanggalkan masker yang dipergunakan dan terus morok hingga selesai. Sekitar 1,5 jam beliau bertahan dengan masker yang kekecilan tadi.

Sekali lagi, saya bangga menjadi santri beliau. Semoga beliau senantiasa sehat dan diberi umur panjang sehingga terus menginspirasi kami, santri-santrinya. amin

 

 

*)Penulis: M saeful bahar.

*) Tulisan Opini ini diambil dari timesindonesia.co.id

*) Publisher : Ponirin Mika

KH. Zuhri Zaini; Bapak Habibie itu Pekerja Keras dalam Belajar dan Mengabdi

Sebuah ‘Pelajaran’ dari Nurul Jadid

nuruljadid.net- SUNGGUH, Kiyai Zuhri – pengasuh Pesantren Nurul Jadid ini tidak hanya sedang membaca kitab Adābu Sulūkil Murīd, kitab tentang akhlak yang disusun oleh Al-Habib Abdullah bin Alawy al-Haddad. Pun tidak cuma sekedar menjelaskan isinya secara panjang lebar, disertai dengan contoh-contoh kasus kekinian yang sangat menginspirasi.

Ya. Tidak hanya itu. Coba, perhatikanlah, bagaimana pemandangan dan suasana pengajian khatmil kutub —yaitu tradisi ngaji kitab sampai khatam menjelang dan selama bulan Ramadhan— yang disiarkan secara live streaming melalui facebook dan channel youtube itu. Ya Allah… Kiyai Zuhri mengenakan masker, dan di mejanya terlihat ada hand sanitizer.

Lihatlah, betapa beliau memberikan teladan yang amat menawan, bagaimana seharusnya kita berikhtiar dan meningkatkan kewaspadaan secara maksimal agar bisa terhindar dari risiko penularan virus yang sedang mewabah. Seolah hendak membantah orang yang mengatakan, “Aku hanya takut kepada Allah, tidak takut pada corona!.”

Lihatlah, betapa beliau memberikan contoh yang amat indah tentang disiplin dan kepatuhan dalam melaksanakan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Ngaji dengan memakai alat pelindung diri. Lalu disiarkan secara live streaming agar santri yang sudah ‘dirumahkan’ tetap bisa mengaji. Begitupun masyarakat umum, termasuk saya dan sahabat-sahabat saya —para alumni.

Subhanallah. Kyai Zuhri mendidik para santrinya dengan teladan dan contoh konkrit. Sungguh ini sebuah pelajaran dari Nurul Jadid yang nilainya tiada terperi. Inilah salah satu hikmah dari musibah corona yang wajib kita syukuri.

 

* Penulis H Amin Said Husni, Pemerhati sosial keagamaan yang tinggal di Bondowoso

*)Tulisan Opini ini diambil dari timesindonesia.co.id

*) Publisher : Ponirin Mika