Eksistensi Pendidikan Pesantren

Eksistensi Pendidikan Pesantren

Semenjak pelantikan presiden Jokowi sebagai pemegang otoritas tertinggi pemerintahan Indonesia untuk kedua kalinya, kita dapat melihat isu radikalisme, terorisme dan intolerasi menjadi perhatian khusus di periode kali ini. Hal ini ditegaskan dengan terpilihnya Fachrul Razi sebagai menteri Agama (tanpa melihat latar belakang), yang dianggap dapat menjadi ikon kuat untuk memukul mundur problem-problem di atas. Bukan main, di awal tugasnya menteri Agama mulai menunjukkan aksinya dengan pelarangan cadar dan celana cingkrang dalam instansi pemerintahan yang dianggapnya memiliki paham radikal.

Penelitian Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2017 mencatat sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi terpapar radikalisme. Tidak sampai di situ, Menag mengatakan sebagian besar pelajar di Indonesia mendukung aksi radikalisme berbasis agama, beliau mengutip survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip), yang menyatakan 52 persen pelajar setuju aksi radikalisme. Yang mungkin seiring perjalanan waktu angka-angka tersebut terus bertambah. Rakyat Indonesia sepatutnya khawatir melihat hasil penelitian tersebut mengingat potensinya masih berlanjut. Namun, bukan berarti menjadi sebuah ‘kecemasan sosial’, saya katakan demikian selama tidak menghasilkan perbuatan destruktif dan masih dalam koridor aman. Tapi apakah penelitian tersebut dapat mereprentasikan “kelemahan” pendidikan di Indonesia?

Pergerakan islamisme-jihadisme

Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat dibilang variatif dari berbagai persepektif dan tidak terlalu rumit, akan tapi mencukupkan hasil survei sebagai nilai akhir dirasa kurang valid mengingat pergerakan radikalisme juga mengalami kesulitan di berbagai sektor pendidikan. Mungkin benar, saat ini pendidikan di Indonesia sangat rentan terjangkit radikalisme, kita dapat menyaksikan  aksi islamisme-jihadisme yang banyak diikuti oleh pelajar dari berbagai starata, mereka telah terbius oleh “rayuan surgawi” yang termuat komersial Agama.

Pergerakan Islamisme-jihadisme terbilang sangat mengkhawatirkan, bukan sekedar pemahaman  yang mengandung “morfin” yang memabukkan, melainkan pula karena prioritas konsumennya adalah kaum muda. Saya melihat kaum muda saat ini sedang mengalami pubertas beragama, yang sering melakukan aksi frontal dan terlalu fanatik dalam kepercayaannya yang mengakibatkan stagnasi dalam perkembangan dan pembaharuan berfikir. Mengenai hal ini, Grand syaikh Azhar prof. Ahmad at-Tayyib di dalam pembukaan konferensi internasional Tajdid al-Fikr wa al-Ulum al-Islamiyyah menyampaikan “sebab stagnasi ranah ijtihad dan gerakan pembaharuan di era modern ini, diakibatkan keengganan kuam muda dan umat Islam untuk mengemban tanggung jawab, dan membiarkan fanatisme beragama baik di dalam bidang pendidikan atau pendakwahan”. Islamisme-jihadisme juga acap kali membenturkan berbagai struktur sosial, budaya, tradisi, dengan dalil-dalil Agama, alih-alih untuk memuluskan tujuan yang terselubung dibalik itu semua.

Perputaran islamisme-jihadisme ini juga belum ditemukan buntutnya, meskipun setiap tahunnya jumlah pelajar yang mendukung islamisme-jihadisme bertambah, namun hal tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap tolerasi umat Islam Indonesia. Saya beranggapan itu semua terjadi, selama pertahanan pendidikan Pesantren tetap terjaga yang telah menemani berdirinya Negara ini.

Peran Pendidikan Pesantren dalam Toleransi

Saya memaksudkan pesantren di sini adalah pesantren dengan orientasi ideologi Ahlussunnah wal jamaah, jelas bukan pesantren Wahabiyah atau sering juga di sebut pesantren Salafi. Pendidikan pesantren tradisional (salaf) telah membuktikan perannya dalam membentuk generasi yang dibekali pemahaman beragama yang benar dan toleran. Saya juga beranggapan pendidikan pesantren menjadi satu-satunya institusi yang belum terpapar radikalisme. Hal ini dikarenakan pendidikan Pesantren tetap menjaga ke-aslian turats ulama salaf, melestarikan tradisi sanad yang jelas, dan bukan hanya sebatas teoritis melainkan praksis yang terus diajarkan oleh para Kiai.

Pendidikan pesantren juga berupaya melakukan pembaharuan seiring perubahan zaman, kita lihat beberapa pesantren sudah mulai mengembangkan berbagai fan keilmuan, tidak lagi berkutat pada kitab klasik (yang pada umumnya berwarna kuning, sehingga disebut kitab kuning). Namun, dari semua kemapanan pendidikan pesantran ini, saya melihat stagnasi didalamnya karena para santri hanya dituntut mengaji dan mengesampingkan mengkaji. Mungkin hal ini yang mengakibatkan santri sulit mengeksploitasi pengetahuannya di dalam teori atau ide yang lebih segar.

Ketahanan pesantren dalam menghadapi islamisme-jihadisme tidak mungkin bertahan lama kecuali adanya faktor pelindung. Di dalam tulisannya Prof. Azyumardi Azra bahwa ketahanan pesanteran dipengaruhi oleh beberapa faktor pelindung yaitu kiai, kitab kuning, tradisi pendidikan berorientasi kemasyaraktan, relasi baik dan workable dengan ormas Islam, tradisi akomodasi dan penerimaan perbedaan dan keragaman berbagai bidang. Saya juga menambahkan faktor pelindung lainnya adalah solidaritas santri dan kesadaran bermasyarakat meminjam dauh almarhum kiai Zaini Mun’im “ Orang yang hidup di Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan, dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan masalah pendidikannya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan rakyat banyak”. Wallahu A’lam.(*)

*Penulis Zainal Fanini adalah alumni santri PP. Nurul Jadid Asrama Diniyah lulusan MA Nurul Jadid angkatan 17 dan saat ini masih menempuh Pendidikan strata 1 di Universitas Al Azhar Mesir.

Editor : Ponirin

Membaca Ala Gus Dur

Membaca Ala Gus Dur

Satu hal yang patut dicontoh dari Gus Dur bagi pembaca adalah keistiqomahan dalam membaca dan menumbuhkan rasa cinta pada ilmu pengetahuan. Jangan biarkan pikiran berpuasa, beri ia makan dengan membaca dan beri ia minum dengan berdialektika.

Gus Dur, sapaan KH. Abdur Rahman Wahid adalah Presiden ke 4 Republik Indonesia.  Cucu dari Pendiri Nahdlatul Ulama’ ini (KH. Hasyim As’ari ) dan putra dari Kiai Wahid Hasyim mempunyai kegemaran dalam membaca buku. Saat ia masih belia hingga mau wafatpun ia masih membaca dengan mendengarkan Audiobook. Ketika kuliah di Universitas Al Azhar salah satu tempat kebiasaannya adalah perpustakaan. Ia terbiasa membaca di perpustakaan Universitas Amerika, Universitas Kairo, atau di perpustakaan Perancis. Gus Dur terbiasa membaca di mana saja, dan apa saja tanpa memilih tempat. Di rumah maupun di tempat menunggu bus ia membaca. Tak ada buku, potongan koranpun ia baca.  Bacaannya luas, tak sekedar kajian keagamaan, filsafat, sastra, puisi dan lain sebagainya. Ia membaca semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, Pushkin, Karl Marx dan Lenin.  Ia senang berdiskusi dengan mahasiswa dan kaum cendikiawan di kedai-kedai kopi Kota Kairo. Kedai-kedai kopi baginya merupakan sekolah untuk mengasah dan mempertajam intelektualnya (Baca:The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid).

Tidak sampai disitu, Selain menjadi pembaca yang aktif, Gus Dur juga merupakan penulis yang sangat produktif. Semenjak mahasiswa ia menulis esai untuk beragam majalah maupun surat kabar. Karya-karyanya tersebar luas dan dapat dinikmati berbagai kalangan mahasiswa, pemuda dan lain-lain.

Budaya baca yang tinggi telah memberikan efek positif yang sangat besar dalam diri Gus Dur, akan tetapi sangat disayangkan bahwa kebiasaan membaca yang sangat tinggi kurang diimbangi dengan sikap membaca yang baik dan benar. Gus Dur biasa membaca dimana saja, bahkan sejak kecil terbiasa membaca dengan cahaya hanya dari teplok (lampu tempel). Dengan cahaya yang kurang sempurna, hal tersebut membuat efek buruk pada pandangan beliau. Pada usia muda ia sudah berkaca mata minus 15. Keadaan ini diperparah ketika stroke merampas penglihatan Gus Dur. Tetapi dasar Gus Dur, keadaan itu seakan tidak memusnahkan obor semangat untuk tetap membaca dan menambah ilmu.

Menelisik dari kisah diatas, tentu pembaca harus banyak belajar dari Gus Dur. Keteguhannya mencintai bangsa ini, membela mereka yang terpinggirkan tentu tak dapat diragukan lagi. Aspek yang sering dilupakan adalah bagaimana kemampuan Gus Dur dalam membaca dan mengkaji beragam perspektif keilmuan. Membaca berbagai buku yang tentu saja akan membuka kekayaan perspektif dalam memandang persoalan.  Keluwesan berpikirnya didukung oleh tradisi dan budaya kuatnya membaca buku. Ketika mahasiswa ia tak pernah memikirkan berapa uang yang yang ia miliki. Ia selalu memiliki uang yang cukup. Apalagi ia sudah menjadi salah satu kolumnis yang karyanya tersebar di berbagi media.

Tulisan sederhana ini mencoba secara singkat untuk membicarakan minimnya pembaca dan pecinta buku khususnya dikalangan pemuda. Hal ini bisa berkaca pada Negara perancis untuk bisa bangkit dan membudayakan membaca. Pada masa pemerintahan  Raja Louis XV, kondisi sosial politik  Perancis telah memanas akibat kerajaan yang semena-mena. Pada akhirnya terjadi revolusi Perancis yang mampu mengubah sejarah Perancis, bahkan Eropa. Salah satu yang menjadi pemicu revolusi Perancis adalah pemikiran sastrawan bernama Voltaire. Semenjak masyarakat dan kaum pemuda melek membaca, tulisan-tulisan Voltaire ramai diperbincangkan hingga akhirnya memicu gerakan revolusi Perancis pada tahun 1789. Akibatnya, Voltaire dihukum mati oleh pihak pemerintah pada tahun 1778 (Baca:Novel candide).

Negara perancis bisa dijadikan contoh untuk kalangan pemuda masa kini. Bangkit dari keterpurukan melalui peningkatan minat baca. Membudayakan membaca sebagai kebutuhan. Jika kebiasan ini terus digalakkan menjadi kebudayaan bahkan kebutuhan. Bukan tidak mungkin bangsa menjadi negara maju dengan sumber daya manusia yang berkualitas.

Tulisan ini perlu renungkan dan telaah bersama. Apalagi diera milenial ini cenderung  pemuda malas untuk membaca. Sehingga mudah untuk menuduh dan menghakimi mereka yang berbeda ideologi, keyakinan keagamaan, madzhab, kelas sosial, bahkan beda jamaah pengajian. Malas membaca akut menjaringi beragam kalangan masyarakat. lebih gemar membaca status, cuitan, broadcast di media sosial, dibanding membaca Al-Quran, kitab-kita karya ulama, maupun buku-buku karya penulis-penulis besar. Kita gemar menulis pesan-pesan penuh kebencian dibanding menuliskan kisah-kisah inspiratif penuh makna. Juga menyebarkan pesan-pesan penuh hasutan tanpa berpikir dan menakar serta mencari tahu kebenaraan akan pesan tersebut. malas mendiskusikan dan mendialogkan buku-buku tebal karena dianggap tak praktis dan membuang waktu.

Oleh karena itu, gus dur harus dijadikan contoh pada kehidupan maupun sosial kita dalam mencari ilmu dan kecintaanya pada buku. Warisan yang Gus Dur tinggalkan tidak hanya buku secara fisik, akan tetapi bukti nyata akan kecintaan dan keistiqomahan dalam mencintai buku dan ilmu. Pun warisan yang ditinggalkan Gus Dur. Tidak hanya untuk keluarganya, akan tetapi untuk anak-anak bangsa dan negara, bahwa kita harus cinta ilmu serta tak kenal lelah terus menambah wawasan dengan membaca dan membaca. Gus Dur telah mewariskan teladan yang nyata, dengan segala keterbatasannya. Dengan sakit jasmaninya tidak lantas meruntuhkan rohaninya dalam mengasah kemampuan intelektualnya dengan membaca dan membaca.

 

Penulis : Faruq Al-Mahbuby (Pengurus Asrama Diniyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Genealogi Kecerdasan Paket Komplit milik Gus Dur

Genealogi Kecerdasan Paket komplit milik Gus Dur

Ada banyak sekali penulis baik dari kalangan dosen, mahasiswa, maupun pegiat literasi lainnya, yang sudah menggali, membedah dan meneliti secara ilmiah hingga melahirkan beberapa tulisan mulai dari buku, tesis, skripsi, jurnal, fragmen, sampai quote di lini masa sosial media, tentang sosok Gus Dur ini, ada yang menyebutnya sebagai bapak pelopor multikulturalisme, pluralisme dan nasionalisme serta banyak lagi gelar setara pahlawan yang disematkan kepada beliau. tetapi, ada satu sisi kehidupan Gus Dur yang belum banyak diketahui masyarakat secara umum, baik dunia nyata maupun dunia maya, yakni Darimanakah kecerdasan Gus Dur berasal? Teori genetika, tentulah bukan jawaban yang melegakan bila itu kita berikan sebagai jawaban. Sebab model kecerdasan Gus Dur, kayaknya tak dimiliki oleh saudaranya yang lain. Bahkan tak sedikit orang tua jenius, justru memiliki anak-anak idiot atau setidaknya bodoh dan bebal.

Penulis kurang begitu faham, apakah para neurolog dan dokter ahli bedah otak pernah meronsen struktur otak Gus Dur? Jika peronsenan itu sekiranya pernah dilakukan, penulis menduga bahwa kapasitas otak Gus Dur seyogyanya tak sama dengan otak kebanyakan orang. Sebab nyatanya, misteri otak Einstein telah mampu dipecahkan. Perbedaan sangat mencolok dari otak fisikawan itu, karena terdapat bagian daerah otak yang disebut dengan Area 39, yang jumlah selnya jauh lebih banyak dari umumnya rata-rata otak manusia. Di area inilah otak Einstein mengalami perkembangan dengan sangat pesat.

Menurut para neurolog, jika bagian dari Area 39 ini mengalami trouble-error, seseorang akan mengalami gangguan dalam hal ingatan, abstraksi, respon dan kesadaran, sehingga terjadi hambatan ketika mengeja kalimat atau menghitung angka. Intinya, apabila Area 39 di tabung otak seseorang tak berkembang, maka dirinya akan mengalami keterlambatan untuk mengembangkan potensi intelektualitasnya.

Namun adakah muasal kejeniusan Gus Dur juga sama persis dengan misteri kecerdasan Einstein? Sebab Gus Dur bukanlah kaum “akademisi modern”, yang sepenuhnya menyandarkan kecerdasannya pada keniscayaan logika rasionalitas. Bahkan Gus Dur nyaris tergolong ke dalam kelompok kaum tradisionalis, yang kerap menumpukan intelektualitas kecerdasannya pada tradisi pemikiran yang intuitif, supra-rasional, bahkan tak jarang pula agak irrasional.

Kaum akademisi modern kerap menyuguhkan gemerlap pemikiran yang mengkilap. Sementara para intelektual tradisional lebih menawarkan kesahajaan pemikiran. Sehingga pemikiran kaum akademikus kerap mendobrak kebekuan otak kita, sedangkan para pemikir tradisional senantiasa mengetuk kebuntuan hati nurani kita. Dengan kalimat yang agak konfrontatif, yang satu menyodorkan kecendekiawanan otak dan yang satunya lagi menghidangkan kecendekiaan hati.

Lantas, kedalam kelompok manakah kecerdasan Gus Dur mesti kita golongkan? Jika kita masukkan ke dalam kelompok kaum cendekiawan tradisional, kiranya itu terlampau dipaksakan. Sebab lompatan pemikiran Gus Dur justru seringkali melampaui tradisi pemikiran zaman. Sedangkan kalau kita golongkan pada kelompok kaum akademisi modern, Gus Dur tak begitu setia dengan landasan berpikir yang mereka gunakan.

Bagi perspektif akademisi modern, seluruh kekuatan intelektualitas manusia sepenuhnya disokong semata-mata oleh potensi otak. Bahkan otak tak hanya menyediakan komponen anatomisnya untuk aspek IQ saja, melainkan juga EQ dan SQ. Dengan kata lain, bahwa seluruh potensi intelektualitas, potensi mentalitas dan potensi spiritualitas, adalah merupakan realitas dari aktivitas otak semata. Seakan-akan tak ada satu pun aktivitas manusia baik yang fisikal maupun non-fisikal -yang digerakkan oleh selain aktivitas otak.

Tapi kecerdasan Gus Dur lebih dari sekadar kecerdasan neurologis tersebut. IQ Gus Dur telah berpadu dengan fuâd (potensi hati yang bertanggung jawab pada masalah-masalah rasionalitas). Berbeda dengan otak kognitif yang terkadang bisa “menipu”, fuâd senantiasa berpikir dengan merujuk pada realitas yang objektif. Meminjam idiom al-Quran, fuâd itu tidak mendustakan apa yang dilihat (QS. an-Najm: 11).

Jika Daniel Goleman melahirkan teori intelegensi emosional (EQ) yang dibangun oleh simpul-simpul saraf emosi yang bersarang di otak, tapi Gus Dur beranjak jauh ke depan. EQ Gus Dur telah bertemu dengan shadr (potensi hati yang mengurusi soal kreativitas). Itulah yang membuat kreativitas pikiran intuitif Gus Dur kerapkali melompati ruang dan waktu kekinian. Begitu juga ketika Danah Zohar dan Ian Marshall melengkapai teorinya Daniel Coleman dengan mencetuskan teori kecerdasan spiritual (SQ)SQ Gus Dur malah telah memperoleh bimbingan dari bashirah (kecermatan mata hati) dan lubb (ketajaman pusat hati atau hati nurani). Itulah yang membuat Gus Dur juga dikenal piawai menembus pintu langit (alam metafisik). Dalam konteks ini, kecerdasan Gus Dur jauh melampaui Einstein. Sebab Gus Dur memiliki kecanggihan berpikir dengan menggunakan akal hati yang kejeniusan semacam itu tak dimiliki oleh Einstein. Dengan kata lain, Gus Dur tak saja memiliki kecerdasan yang bersarang di otak semata, melainkan pula memperoleh anugerah kecerdasan yang diselipkan-Nya di lumbung hatinya. Kecerdasan semacam inilah yang penulis sebut dengan istilah Laduni Quotient (LQ). Dengan memadukan IQ, EQ, SQ dan LQ inilah, yang membuat Gus Dur sanggup mempertemukan beragam bentuk pemikiran yang bertolak belakang sekalipun, dan sanggup memecahkan berbagai persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh orang-orang kebanyakan.

Adanya “kecerdasan Gus Dur” tersebut, hendaknya membuat kita waspada ketika memperbincangkan perihal otak manusia. Sebab para neurolog terlanjur menyimpulkan, bahwa kumparan energi yang menggerakkan triliunan sel-sel saraf yang tertampung dalam tabung otak itu tumbuh secara internal-kodrati. Anggapan mereka kalau otak itu berdiri sendiri dan tak ada energi lain yang menyokong gerakannya tersebut, agaknya merupakan suatu kesimpulan yang sungguh agak gegabah. Sebab Gus Dur telah menunjukkan hal itu. Kecerdasan IQ Bapak Guru Bangsa itu telah mendapatkan bimbingan dari fuad, dan pikiran intuitifnya (EQ) memperoleh pula bimbingan dari shadr. Begitupun dengan SQ Gus Dur, juga telah dibimbing oleh bashirah dan lubb.

Itulah yang membuat Gus Dur berhasil menampung dan sekaligus merangkum dua kutub belahan peradaban besar Timur dan Barat, yang hingga kini tokoh-tokoh dunia belum bisa mempertemukannya secara mesra. Kalau sedikit kita tarik ke ranah sosiologis, keberagamaan Gus Dur itu “laa syarqiyyah walaa gharbiyyah”. Keber-Islam-an yang tak hanya melingkupi Timur dan Barat saja, melainkan merahmati pula Utara-Selatan dan seluruh penjuru alam (rahmatan lilalamin).

Dengan kecerdasan model Gus Dur inilah, pertentangan antara peradaban Barat yang dimotori oleh kecendekiawanan otak dan peradaban Timur yang digerakkan oleh kecendekiaan hati dapat dipertemukan secara mesra. Sebab peradaban Barat yang meyakini bahwa otak sebagai pusat segala-galanya dan telah menyediakan kepastian jawaban bagi semua bentuk persoalan, akan berpeluang untuk menghidupkan dan mendengarkan kecermelangan suara hati. Begitupun dengan peradaban Timur yang telah jauh tertinggal di bidang kecerdasan otak, akan rela pula menengok kepiawaian analisis pikiran.

Maka untuk menyelesaikan beragam persoalan hidup yang kian masif, menurut penulis, perlu kiranya kita mencangkok kecerdasan model Gus Dur ini. Sebab Gus Dur telah sanggup menjahit antara kecerdasan otak dan kecerdasan hati dengan benang al-aql. Sebab akal memiliki pikiran juga sekaligus mempunyai hati. Akal pikiran berfungsi untuk memahamai sesuatu yang bersifat kesemestaan; yang faktual, rasional, dan objektif ilmiah. Sementara akal hati, adalah untuk memahami hal-hal yang intuitif dan yang bersifat ruhaniah. Kinerja otak yang digerakkan oleh energi akal, akan berproses menuju pencerahan ruhaniah; sebuah hati nurani yang berkeilahian.

Barangkali potret kecerdasan model Gus Dur inilah, yang selama ini tengah kita idamkan-idamkan bersama; berpikir rasional-ilmiah, mengerti kebenaran dan berpengetahuan ilahiah, faham tentang kearifan, bersifat universal, otentik dan juga abadi.

Penulis : Hamdan Mufidi (Pengurus Asrama Diniyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Belajar Kepemimpinan dari Teladan Terbaik

Belajar Kepemimpinan dari Teladan Terbaik

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik…”(QS. Al-Ahzab:21)

Dalam bukunya yang berjudul Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager , Dr. M. Syafii Antonio menjelaskan; Salah satu krisis terbesar yang melanda dunia saat ini adalah krisis keteladanan. Akibat yang ditimbulkan oleh krisis ini jauh lebih dahsyat dari krisis energi, kesehatan, pangan, transportasi dan air. Menurutnya krisis itu disebabkan oleh, absennya pemimpin yang visioner, kompeten dan memiliki integritas yang tinggi sehingga mengakibatkan biaya pelayanan kesehatan semakin sulit terjangkau, manajemmen transportasi semakin amburadul, Pendidikan semakin kehilangan Nurani welas asih yang berorientasi kepada akhlak mulia, sungai dan air tanah semakin tercemar dan sampah menumpuk dimana mana.

Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa, bangsa dan umat ini membutuhkan suri tauladan yang layak untuk di tiru dan sanggup untuk membawa setiap insan Indonesia lebih maju dan bermartabat. Indonesia membutuhkan teladan hampir dalam semua spektrum kehidupan, Lantas siapa kemudian sosok yang layak di jadikan suri tauladan dalam menghadapi krisis besar yang menimpa bangsa ini?

 Berbicara sosok tauladan sejati Dalam Islam, Sebagaimana yang telah dijelaskan  di  dalam  Al-Quran, “Sesungguhnya  telah  ada  pada  (diri) Rasulullah  itu  uswatun  hasanah  (suri tauladan  yang  baik)  bagimu  (yaitu)  bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan

(kedatangan) hari  kiamat dan  dia banyak  menyebut  Allah.”  (QS.  Al-Ahzaab:  21). Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan  sosok  teladan yang baik (uswatun khasanah) bagi setiap penganutnya.

Kehidupan  Rasulullah  saw memberikan  kepada  kita  contoh-contoh mulia,  baik  sebagai  pemuda  Islam  yang lurus perilakunya dan terpercaya di antara kaum  dan  juga  kerabatnya,  ataupun sebagai  da’i  kepada Allah  dengan hikmah dan nasehat yang baik, yang mengerahkan segala  kemampuan untuk  menyampaikan risalahnya.  Juga  sebagai  kepala  negara yang  mengatur  segala  urusan  dengan cerdas  dan  bijaksana,  sebagai  suami teladan dan seorang ayah yang penuh kasih sayang,  sebagai  panglima  perang  yang mahir, sebagai negarawan yang pandai dan jujur,  dan  sebagai  Muslim  secara keseluruhan  (kaffah)  yang  dapat melakukan  secara  imbang  antara kewajiban  beribadah  kepada  Allah  dan bergaul  dengan  keluarga  dan  sahabatnya dengan baik

Keteladanan yang  diberikan  oleh  Nabi Muhammad  saw  memiliki  makna  yang sangat  luas.  Bukan  hanya  keteladanan dalam  hal  ibadah  ritual  keagamaan  saja, melainkan  keteladanan  dalam  seluruh sektor  kehidupan.,  termasuk  di  dalamnya keteladanan dalam hal kepemimpinan  dan manajemen

Dalam hal kepemimpinan, Misalnya; Empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of leadership) yang dikembangkan oleh Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yakni sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (emporwering), dan panutan (modeling). semua fungsi ini ditemukan pada diri nabi Muhammad SAW.

Fungsi perintis, mengungkapkan bagaimana upaya sang pemimpin memahami  dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder-nya, misi dan nilai-nilai yang dianutnya, serta yang berkaitan dengan visi dan strateginya, yaitu ke mana institusi dan lembaganya akan dibawa dan bagaimana caranya agar sampai ke sana.

Fungsi ini ditemukan dalam diri nabi Muhammad SAW karena beliau melakukan berbagai langkah  dalam mengajak umat manusia ke jalan yang benar. Nabi Muhammad SAW telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilanilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikulturalisme, rule of law , dan sebagainnya. Sistem sosial yang diakui terlalu modern dibanding zamannya itu dirintis oleh nabi Muhammad SAW dan kemudian dikembangkan oleh para khalifah sesudahnya.

Fungsi penyelaras, bagaimana pemimpin menyelaraskan keseluruhan sistem dalam organisasi agar mampu bekerja dan saling sinergis.

Nabi Muhammad SAW mampu menyelaraskan berbagai strategi untuk mencapai tujuannya dalam menyiarkan agama islam dan membangun tatanan sosial yang baik dan modern. Sebagai contoh dalam perjanjian hudaibiyah yang pada akhirnya menguntungkan kaum muslimin, nabi muhammad juga dapat menjalin hubungan diplomasi dengan suku-suku sekitar Madinah.

Fungsi pemberdayaan, upaya pemimpin untuk menumbuhkan lingkungan agar setiap orang dalam organisasi mampu melakukan yang terbaik dan selalu mempunyai komitmen yang kuat.

Sejarah membuktikan bahwa beliau mampu mensinergikan  berbagai potensi yang dimiliki pengikutnnya untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh; bagaimana mempersaudarakan sahabat anshar dan sahabat muhajirin.

Fungsi panutan, bagaimana pemimpin dapat menjadi panutan bagi karyawan, bagaimana bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya. Sejauh mana dia melakukan apa yang dikatakannya.

Nabi Muhammad merupakan seseorang yang melaksanakan apa yang beliau katakan (walk the talk).  Sebagai contoh: dalam hal dermawan beliau orang yang paling dermawan, pribadi yang bagus, beliau memikul batu, membawa linggis ketika menggali parit (khandak).

Oleh karena itu kita, sebagai umatnya sudah sepantasnya menempatkan dan memposisikan beliau sebagai sosok tauladan yang ideal dalam berbagai spektrum kehidupan. Sebagaimana yang telah di sampaikan weinngan maxim mantan panglima pasukan Prancis  yang pernah juga menjabat duta besar di Syria dan Lebanon dalam sambutannya pada acara maulid nabi di Beirut pada pada tahun 1925, ia menyampaikan; “meskipun umat islam memperingati maulid nabi Muhammad, namun hal itu sangat kecil artinya. Karena dia telah memberi kepada mereka sebuah agama yang lebih tinggi dari seluruh agama yang ada. Dia perwujudan pribadi besar, seorang moralis besar dan dalam syariatnya ia adalah imam para nabi. Maka kepada orang berkeadilan jika diserukan untuk memperingati semua tokoh sejarah, maka di antara mereka yang berada di urutan teratas adalah nabi Muhammad sang penglima tertinggi itu, untuk mewujudkan syariat Allah di muka bumi dan untuk memusatkannya ke dalam dada semua orang”

Rujukan;

Dr. M. Syafii Antonio. (2015). Muhammad SAW The Super Leader Super manager. Jakarta:Tazkia Publishing

Dr. Al-Buty. (2009). THE GREAT EPISODES OF MUHAMMAD SAW. Menghayati Islam dari Fragmen Kehidupan Rasulullah Saw. Jagakarsa :Noura Books.

Khalil Yasin. (1989). Muhammad di Mata cendikiawan barat. Jakarta:Gema Insani Press

Penulis : Imron Sadewo (Pengurus Asrama Diniyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Cara Meneladani Sifat Rasulullah

Cara Meneladani Sifat Rasulullah

Meninjau kepada aspek kehidupan tidak akan terlepas dari suatu pembahasan mengenai peran manusia selaku makhluk sosial dan pelakunya. Manusia diciptakan Allah Swt. dengan keadaan yang paling sempurna dibanding dengan makhluk Allah lainnya. Guna mengatur setiap aspek kehidupan manusia, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk melalui seorang hamba pilihan-Nya, yaitu Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. menjadi patokan tindak tanduk setiap manusia, berbagai macam contoh dan keteladanan sikap dan sifat Beliau sejatinya sudah mampu menjadi patokan perilaku kehidupan manusia di dunia. Akhlak yang dimilikinya, serta seluruh sifat yang muncul dari fitrahnya membuat sebuah konsep kehidupan yang lebih manusiawi dan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan kebersamaan.

Kewajiban bagi umat manusia terutama muslim adalah beriman kepada Rasulullah Saw. dengan sepenuh hati dan keyakinannya. Dalam hal ini, manusia seyogyanya meniru sikap dan perilaku beliau dalam setiap aspek kehidupan di dunia. Mulai dari hal terkecil misalnya makan dan minum sampai pada hal-hal besar yang menyangkut interaksi manusia dengan manusia lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Di samping sebuah kewajiban untuk mencontoh seluruh perilaku baik dari Rasulullah Saw. manusia sudah seharusnya mencintai Rasulullah Saw. dan merindukan pertemuan dengannya. Dengan giat dan gigihnya Beliau membawa ajaran Islam yang benar meski menuai banyak cobaan baik berbentuk fisik maupun non-fisik. Suatu teladan yang sangat baik bagi kehidupan manusia seutuhnya.

Kembali pada proses mencintai Nabi, untuk sampai pada cinta terhadap Nabi, tidak hanya dengan kata-kata semata, melainkan harus selayaknya orang yang benar-benar cinta. Mengikuti segala macam perilaku serta karakteristiknya dan mencontoh segala sikap yang ada dalam teladan yang sempurna tersebut adalah wujud dari mencintai Nabi sebenar-benarnya cinta.

Tidak sampai disana, kewajiban taat dan patuh pada semua sunnah yang diperintahkannya termasuk dalam wujud kasih sayang yang nyata. Karena meski tidak bertemu dengan Beliau, kita merasakan kehadiran Beliau dengan melakukan segala bentuk perbuataan baik ibadah maupun perilaku keseharian sesuai dengan tuntutan dan ajaran Rasulullah Saw.

Proses meneledani Rasulullah memang tidaklah mudah, dibutuhkan perjuangan yang ikhlas dan benar-benar didasari iman yang kokoh didalamnya. Beliau dengan segala sifat sempurnanya dan perilaku mulianya adalah standar yang paling tepat untuk solusi dan contoh bagi kehidupan umat manusia.

Dengan predikat yang diberikan kepada Nabi, seperti Shidiq, Amanah, Fathonah dan tabligh Rasulullah memiliki berbagai macam bentuk perilaku yang sudah sepatutnya kita menjadikan hal tersebut sebagai rujukan dalam bertindak dan berbuat. Tujuan dari ini semua tidaklah sekedar aplikasi dari rasa cinta kepada Rasulullah, namun mengikuti apa yang Beliau ajarkan akan membawa kita pada ketentraman hidup dan derajat yang mulia.

Penulis : Muhammad Lutfi (Pengurus Asrama Diniyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Memorandum Maulid Nabi Muhammad Saw; Pesan Perdamaian Negeri Ibu Pertiwi

Memorandum Maulid Nabi Muhammad Saw; Pesan Perdamaian Negeri Ibu Pertiwi

1441 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah jerit tangis manusia paling mulia di muka bumi pertama kali menggema menyapa bumi. Pada hari itu adalah hari dilahirkannya seorang pionir islam yang nama dan jasanya akan dikenang sampai kapanpun. Manusia itu bernama Muhammad bin Abdillah. Sehingga, sejak saat dan hari itu sampai saat ini ditandai sebagai hari diperingatinya kelahiran Nabi Muhammad SAW atau lebih familiar disebut dengan Maulid Nabi oleh umat Islam diseluruh penjru dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Dalam hal kajian asal usul awal mula peringatan maulid ini, tokoh pengkaji Islam dari Universitas Leiden Belanda, Noco Kptein dalam riset disertasinya mengenai Maulid Nabi dengan mengambil rujukan kitab Tarikh al-Ihtifal bi al-Mauli al-Nabawiy Karya Imam al-sandubi menyimplkan bahwa bahwa peringatan maulid ini pertama kali dilakukan pada masa Dinasti Fatimiyyah di Mesir, tepatnya pada masa pemerintahan al-Mu’izz li Dinillah yang berkuasa pada pertengahan abad X Masehi (953-975 M). sedangkan di kalangan Sunni, berdasrkan catatan pakar sejarah, peringatan maulid pertama kali digelar oleh penguasa Suriah, Sultan Attabiq Nuruddin (w. 575 H). Pada masa itu, Maulid dilaksanakan pada malam hari yang diisi dengan pembacaan syair-syair yang berisi pemujaan terhadap raja (ode) dan sangat kental nuansa politiknya. Peringatan Maulid pernah dilarang pada masa pemerintahan al-Afdhal Amirul Juyusy, karena dianggap sebagai bid’ah yang terlarang. Kemudian pada masa sultan Salahuddin al-Ayyubi, tradisi ini dihidupkan kembali. Bagi sebagian kalangan, Sultan Salahuddin al-Ayyubi adalah orang pertama yang mengadakan perayaan maulid nabi. Hal ini bisa benar jika yang dimaksud adalah yang pertama, yaitu menghidupkan kembali tradisi yang telah mati dan sama sekali bukan untuk kepentingan politik.

Terlepas dari catatan sejarah yang masih abu-abu mengenai peletak pertama kali dirayakannya maulid Nabi, bahwa ada hal yang sebenarnya perlu kita selami dari peringatan tahunan ini yaitu pengejawentahan nilai-nilai Maulid Nabi ini dengan dimaknai dengan spirit aktualisasi visi Islam //rahmatan li al-‘alamin// (agama cinta dan kasih sayang bagi semesta raya). Spirit ini meniscayakan sistem peradaban dan hidup yang disemai dengan perdamaian, harmoni, dan penuh toleransi karena eksistensi dan substansi ajarannya adalah ajaran salam (damai, harmoni), penuh toleransi, dan antikonfrontasi yang akhir-akhir ini mulai tercemar nilai-nilai tersebut dengan hegemoni kontestasi politik dan konfrontasi antar  ras beragama yang mewarnai kusamnya negeri Ibu pertiwi.   Karena itu, pesan damai dan harmoni dalam Maulid Nabi SAW sangat penting dikontekstualisasikan dan diaktualisasikan dengan nalar dan sikap kebangsaan, kebinekaan, persatuan, dan keutuhan NKRI.

Kelahiran Nabi SAW pada Rabiul Awal (musim semi) yang sarat dengan simbol keindahan dan kedamaian. Karena musim semi di banyak negara, khususnya Timur Tengah, merupakan musim yang indah dan sangat dirindukan. Saat kelahiran Nabi SAW, yang dikenal dengan Tahun Gajah, tindak konfrontatif dan agresif terjadi, dilakukan oleh tentara gajah yang dipimpin Raja Abrahah. Namun, dengan nalar harmoni, kakek Nabi, Abdul Mutallib, menghadapinya dengan damai dan secara dialogis. “Jika harta benda yang kalian inginkan, kami tidak memiliki apa-apa. Namun, jika kalian hendak menghancurkan Ka’bah, ketahuilah bahwa ia ada yang menjaganya (Allah),” kata Abdul Mutallib,

Dengan kepongahan dan kesombongannya, tentara gajah itu bersikeras melakukan konfrontasi pada  Ka’bah karena rasa iri sebab ramainya umat yang berkunjung dan melakukan transaksi bisnis di sekitarnya, sementara “Ka’bah palsu” yang dibuatnya sepi pengunjung. Sikap dan tindakan ageresif ini kemudian dihentikan oleh “tentara langit” (burung Ababil) yang membawa batu dan melemparinya yang dapat menghancurkan tentara gajah seperti daun-daun yang dimakan ulat (QS al-Fil [105]: 1-5).

Jadi, peristiwa Maulid Nabi SAW pada Tahun Gajah sangat sarat pesan perdamaian kepada pasukan yang hendak menghancurkan rumah suci, Ka’bah. Nalar damai dan harmoni yang ditawarkan Abdul Mutallib itu sesungguhnya menyediakan ruang kebajikan dan kerendahhatian dengan tidak melampiaskan kedengkian dengan tindak kekerasan. M Bassam Rushdi al-Zayn  dalam The Prophet’s School: Lessons & Lights (2002), mendeklarasikan, bahwa semua rasul yang diutus adalah mengemban misi pendidikan dengan membawa nilai-nilai kasih sayang, perdamaian, dan kebajikan, tak terkecuali nabi akhir zaman. Afirmasi Nabi Muhammad SAW sendiri mendeklarasikan bahwa “Aku diutus oleh Allah sebagai pendidik” (HR Malik); dan “Aku diutus sebagai bukan pelaknat, melainkan penebar rahmat” (HR Muslim).

Kesuksesan Nabi Muhammad SAW mengubah masyarakat jahiliyah yang dikenal keras kepala dan berkultur kekerasan bertransformasi menjadi masyarakat madani yang beradab, antara lain, karena visi dakwah dan pendidikannya damai, tidak berorientasi kekerasan. Islam yang didakwahkan Nabi Muhammad SAW adalah agama perdamaian. Akidah tauhid yang menjadi fondasi ajaran Islam juga mengajarkan keyakinan bahwa Allah itu Maha damai (as-Salam).Ketika bertemu dan berinteraksi dengan sesama Muslim, identitas dan doa utama yang sangat dianjurkan adalah menebar senyum dan salam  “Assalamu’alaikum” (semoga kedamaian dan keselamatan dilimpahkan kepada kalian).

Nabi Muhammad SAW sendiri digelari sebagai nabiyyu ar-rahmah wa Rasul as-Salam (Nabi sang pembawa ajaran kasih sayang, dan utusan Allah penyeru perdamaian). Pesan perdamaian yang dibawa Nabi sejatinya kunci pembuka surga Allah, kampung akhirat yang penuh damai. Beliau bersabda, “Tebarkan perdamaian, berilah makan kepada fakir miskin, sambungkanlah tali silaturahim dan shalatlah (di waktu malam) di saat kebanyakan orang tidur, niscaya kalian dimasukkan ke dalam surga Tuhan kalian, Dar as-Salam (kampung kedamaian) (HR Muslim).

Karena itu, indikator keberislaman seseorang itu diukur dengan sikap damai dan harmoninya terhadap orang lain. Orang Islam itu adalah orang yang membuat orang lain hidup damai dn selamat dari tutur kata dan perbuatan tangannya.” (HR Muslim). Pesan damai Maulid Nabi SAW adalah pesan universal dan aktual yang sangat urgen diimplementasikan kedalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pesan damai, harmoni, dan integrasi dari Maulid Nabi SAW tersebut sangat penting diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan dan keumatan padasaat ini.

Kemerdekaan dan persatuan bangsa ini dapat diraih dengan perjuangan dan pengorbanan jiwa dan raga warga bangsa yang mayoritas Muslim dengan sangat mahal. Karena itu, NKRI sebagai negeri perjanjian dan pembuktian aktualisasi pesan damai, harmoni, dan integrasi harus dijaga dan dipertahankan. Pembuktian pesan damai itu harus dimulai dengan penegakan hukum yang adil dan tegas terhadap siapapun yang bertindak intoleran, kekerasan, teror, dan mengancam ideologi negara dan NKRI. Dengan demikian, momentum Maulid Nabi SAW hendaknya dimaknai dalam rangka peneguhan sikap dan aktualisasi nilai-nilai perdamaian, apresiasi terhadap kebinekaan, perbedaan pendapat dan keyakinan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara tanpa ada pelanggaran HAM, penistaan antar umat beragama, intolerasi antar umat beragama dan penjarahan kekayaan bangsa melalui korupsi berjamaah.

Terakhir, bahwa titik tumpu beberapa paragraf diatasadalah bagimana pesan damai dalam Maulid Nabi Muhammad SAW ini harus diwujudkan melalui cara berfikir, bersikap dan berperilaku keberagamaan yang santun, rukun, toleran, saling menghormati, dan menerima perbedaan keyakinan. Sebab, Tanpa nalar damai, harmoni, integrasi, dan budaya toleransi yang madani, bangsa ini akan mengalami stagnansi atau bahkan dekadensi dan kembali ke era penjajahan, sehingga mengalami disintegrasi yang destruktif dan kontraproduktif.

Melalui pesan damai dalam Maulid Nabi Muhammad SAW, kita perlu mengambil pelajaran penting dari berbagai konfrontasi dan perang berkepanjangan di Irak, Suriah, Yaman, dan sebagainya yang membuat negeri mereka porak-poranda dan hidup sengsara. Perdamaian itu memang tidak murah karena mengharuskan kita memiliki komitmen kuat menjaga hati yang damai dan harmoni yang tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri. Tanpa hati yang damai, maka perdamaian dan harmoni hanya akan menjadi angan belaka.

Penulis : Ilfan Tufail (Pengurus Asrama Diniyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Kaum Santri, Ujung Tombak Harapan Negeri

Sejak tahun 2015 tanggal 22 Oktober resmi ditetapkan sebagai hari santri berdasarkan Keputusan Presiden nomor 22 tahun 2015. Hari untuk kembali mengingat dan mengenang peran besar kaum santri pada negeri.

Seorang santri sudah tidak perlu diragukan lagi menyangkut Imtaq. Apalagi, dengan segala kemajuan dunia pesantren ilmu pengetahuan dan tekhnologi informasi sudah menyeruak secara gamblang. Sudah banyak prestasi yang ditorehkan santri, melanglang buana mulai tingkat nasional hingga manca negera. Tidak berlebihan rasanya, jika mengatakan santri sebagai ujung tombak harapan negeri di tengah kecamuk berbagai permasalah. Mengapa demikian?

Dari segi kepribadiaan, santri telah di didik menjadi pribadi dengan elektabilitas diri dan komitmen yang tinggi. Seorang santri memiliki suatu ciri khas tersendiri yang membedakan dari kelompok lain. Pertama, kemandirian, sejak dilepas secara ikhlas oleh orang tua dengan memasrahkan sepenuhnya pada kiai atau segenap elemen pesantren seorang santri memiliki jiwa kemandirian yang baik. Betapa ia harus mengatur keungan sendiri, makan, minum, cuci pakaian, segenap pekerjaan keseharian diampunya dengan ulet dan penuh ketelatenan.

Faktor kedua kepatuhan, bahkan tanpa disuruh seorang santri akan menundukkan kepala tat kala ada keluarga pengasuh melintas atau lewat didepannya. Tidak heran, jikalau sekembalinya pada masyarakat luas, santri dapat memposisikan diri mematuhi sekaligus mengatur pola kehidupan yang baik untuk lingkungannya.

Ketiga, budaya gotong royong dunia pesantren juga tidak lupa menjadi alasan kuat. Budaya asli bangsa Indonesia yang mulai tergerus dengan hadirnya pola individualisme, hedonisme, dan konsumerisme. Santri dapat mencuat lagi spirit gotong royong ini.

Dunia pesantren sebagai tempat tempaan santri memiliki budaya yang mengharuskan adanya titik berhubung (saling membutuhkan) sehingga membentuk gotong royong kuat. Kesamaan tujuan yaitu menimba ilmu dengan kondisi sama sama jauh dari orang tua telah membentuk untuk saling bahu membahu dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.

Indonesia membutuhkan jiwa-jiwa yang mampu saling membantu, bergotong-royong demi kemajuan bersama, terlebih saat ini masyarakat semakin berfikir bahwa dengan kekayaan sumber daya alam mereka yang banyak bisa menjamin kemajuan negara, padahal tidak. Karena hakikatnya bangsa yang maju di tentukan oleh intelektual yang di milikinya.

Lebih jauh, santri memiliki peluang begitu besar untuk terjun langsung mengabdikan dirinya kepada Negera. Obat mujarab yang dapat meredam segala sakit yang tengah di ampu negeri akan mampu ditawarkan oleh sosok seorang santri. Keterlatihan jiwa dan spiritinya sejak berada di dunia pesantren tidak perlu diragukan lagi.

Banyak hal yang dapat ditawarkan kaum santri yang relevan dengan kebutuhan negara saat ini. Spirit hari santri sebagai bentuk memutar ulang ingatan bahwa zaman penjajah dahulu kiai dan para santri berada pada garda terdepan dalam merengkuh kemerdekaan Indonesia.

Maka kini, melalui kesadaran bersama kaum santri harus mulai bangkit membangun tatanan kenegeraan, budaya, ekonomi, dan Pendidikan demi memunculkan kembali warisan spirit yang telah di contoh kan oleh para pendahulu kaum santri. Santri secara sadar dan beralasan harus terus giat memperbaiki kualitas, kredibilitas dan elektabilitas.

Dengan dilantiknya Presiden Jokowi dan KH Ma’ruf ini, terlihat sudah betapa besar kekuatan kaum santri ini.

Sebagai orang yang masih merasa santri saya merasa ujung tombak harapan negeri ini berada di tangan kaum santri.

Tempaan Pendidikan pesantren yang penuh disiplin “niat mondok untuk mengaji dan membina akhlakuk karimah”, tentu akan senantiasa tertanam dalam diri seorang santri dimanapun bertempat.

Santri ibarat ujung tombak yang terus diasah dalam pesantren, begitu kuat komitmen dan kejujuran saat menancapkan dirinya pada kebutuhan negeri.

Penulis : Muhammad Afnani Alifian, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang, Alumni santri Pondok Pesantren Nurul Jadid,

Ini Cara Mengobati Iri Hati

Iri tanda tak mampu, slogan ini biasa kita temui di media social –facebook/whatsApp kata bijak ini cocok bagi orang yang selalu merasa iri kepada orang lain karena kesenangan yang ia rasakan. Tak jarang kita temui orang yang memiliki sifat iri hati baik dalam keluarga, kantor atau di lingkungan social, dalam keluarga biasa terjadi karena merasa ada ketidakadilan dari pemberian orang tua, anak yang merasa menerima sedikit akan iri kepada saudaranya yang dianggapnya mendapat banyak pemberian dan perhatian, di kantor satu pegawai merasa iri kepada yang lain yang karena promosi kerja yang tidak merata, di lingkungan social biasa terjadi karena tetangga mampu memiliki barang baru rumah, kendaraan, emas dan lain sebagainya, sementara yang iri tidak mampu untuk membeli.

Iri menurut kamus Bahasa Indonesia adalah merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dsb); cemburu; sirik; dengki, sifat iri sangat berbahaya bila dilakukan karena akan mengundang keburukan-keburukan lainnya seperti mencari-cari kejelekan untuk digosipkan kepada yang orang lain sehingga orang lain bisa benci kepada orang yang diirii atau bahkan akan melakukan tindakan yang lebih besar seperti barangnya dicuri, saling berrmusuhan dan lain sebagainya.
Dalam nash agama yakni al-Qur’an dan as-Sunnah telah dahulu melarang seorang memiliki sifat iri kepada orang lain yang dianggap lebih baik daripada dirinya. Allah berfirman:
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)
Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa’ : 32)

Allah sudah melarang manusia untuk tidak saling iri terhadap karunia Allah yang tidak sama kepada setiap hambanya, sebagian dilebihkan sebagian yang lain tidak itu semua sudah karunia Allah yang harus disyukuri dan diterima dengan lapang dada, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya, kita hanya dituntut untuk berusaha dan kerja keras tetapi hasilnya diserahkan kepada Allah.
Lalu bagaimana seharusnya bersikap saat memandang kelebihan orang lain dalam hal dunia agar terhindar dari sifat iri, dalam hadist yang diriwayatkan imam muslim diterangkan.
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ (رواه مسلم(
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”

Dalam hadits diatas kita diperintah oleh Nabi Muhammad saw untuk memandang orang yang lebih rendah dalam hal dunia dari kita supaya tidak timbul rasa iri hati sehingga timbul rasa syukur atas karunia Allah dan tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada diri kita. Jika kita berangkat ke masjid naik motor maka pandanglah orang lain yang naik sepeda ontel, jika hanya naik sepeda ontel maka pandanglah orang yang berjalan kaki, jika kita hanya bisa berjalan kaki pandanglah orang yang sudah berbaring lemas tidak bisa kemana-mana karena penyakit stroke yang dideritanya. Itulah ajaran agama mengajarkan kepada kita, semoga kita senantiasa bersyukur kepada Allah dan dijauhkan dari sifat iri hati.

Agus Hasan Mustofa
Pengajar di STIT. Aqidah Usymuni Sumenep
(Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Mahasiswa Fakultas Syariah IAINJ Angkatan 2013)

KH. Abdul Hamid Wahid

Pendidikan Toleransi Harus Digencarkan

nuruljadid.net-Meningkatnya kasus intoleransi di Indonesia semakin memperihatinkan, pancasila sebagai dasar negara seakan tak lagi memiliki nilai, hal tersebut tentu menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan yang telah ada di negara ini. Berikut hasil wawancara Moch. Fathoni Diya’ Ulhaq R. dan Tri Satria Purnomo dengan KH. Abdul Hamid Wahid Rektor Universitas Nurul Jadid (UNUJA).

  1. Menurut Kiai, apa pengertian intoleransi ?

                Intoleransi itukan berasal dari dua kata yakni In berarti tidak dan Toleransi berarti menghargai. Dalam dunia Islam kita mengenal tasammuh yakni menghargai keyakinan seseorang yang berbeda dari kita, itu dinamakan toleran, jadi intinya iyalah menghargai perbedaan, sedangkan intoleransi sendiri kebalikan dari toleransi.

  1. Dari mana asal pemicu timbulanya sikap intoleransi di Indonesia ?

        Toleran dan tidak toleran itu pada dasarnya pemahaman tentang pengetahuan. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki 3 unsur di dalam jiwanya yakni pertama, keinginan-keinginan dasar seperti ingin tumbuh dan berkembang biak. Yang kedua ialah ego, ego sendiri bermakna bagaimana kebutuhan dirinya itu terpenuhi, kemudian sebagai makhluk sosial. Sebetulanya manusia itu punya bakat dasar tidak toleran dan untuk toleran, bagaimana dia bisa memikirkan posisi dirinya di antara orang lain sebagai makhluk sosial, bermoral dan normal.

  1. Bagaimana cara menangggulangi adanya intoleransi?

                Pendidikan di Indonesia haruslah menjunjung nilai toleransi, seperti pendidikan di negara Barat yang menjadikan toleransi sebagai pendidikan mulai tingkat dasar hingga tinggi, karena akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa seseorang. Dalam agam Islam, ada yang namanya tasammuh (toleransi), tawassuth (tengah-tengah), tawazzun (seimbang), dan ta’adul (tegak lurus). Toleransi sendiri menjadi salah satu seni dasar yang artinya menengahi.

Jika dia merasa sebagai manusia utuh pasti dia akan toleran, karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Pendidikan di Indonesia juga harus megajarkan tentang toleransi seperti pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang telah mengajarkan bagaimana kita bisa hidup bersama.

  1. Bagaimana menyadarkan masyarakat agar bisa saling toleran?

                Kembali kepada toleransi dalam bentuk perpolitikan. Event politik itu adalah sesuatu yang sah. Jadi mendukung atau tidak mendukung presiden adalah hak individual yang dimiliki setiap orang. Orang punya dukungan sendiri, punya keyakinan sendiri itu sah-sah saja, tapi tinggal bagaimana agar konflik yang terjadi ini tidak dijadikan sebagai suatu wacana untuk menuju sebuah perpecahan.

Kalau sudah waktunya berakhir kita tinggal memilih siapa calonnya dan siapapun yang terpilih itu tetap sah, karena proses pemilihan tersebut secara bersamaan. Tinggal bagaimana menyadarkan pada peran dan event tahunan itu penting bagi warga negara jadi. Ya silahkan berjuang, silahkan punya keyakinan tapi  bukan dalam rangka perpecahan.

  1. Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menanggulangi intoleransi ?

Jadi ini bukan hanya problem pemerintah saja melainkan problem kita bersama. Sebagaimana kita semua menyadari bahwa event 5 tahunan ini iyalah proses pembentukan pemimpin yang berbangsa dan bernegara. Dalam artian tidak hanya mementingkan warga yang sosialnya tinggi, namun pemimpin yang mementingkan warga yang sosialnya lebih rendah. Selebihnya setelah terbentuknya pemimpin yang sah, ya kita tinggal tunggu kapan masa jabatannya akan berakhir kalau memang mau mengganti pemimpin tersebut.

  1. Radikalisme di Indonesia merupakan pemicu adanya toleransi, bagaimana menurut kiai ?

                Intoleransi adalah bibit radikalisme. Orang yang bertindak tidak toleran pasti akan menjadi radikal, kemudian akan menjadi teroris. Dengan kata lain, intoleransi adalah bentuk dasar dari radikalisme. Banyak intoleransi yang dilakukan dalam aspek perbedaan, jadi menghargai perbedaan sangatlah penting.

  1. Apakah budaya Barat yang masuk ke Indonesia dapat mempengaruhi budaya kita sehingga menghasilkan intoleransi ?

                Budaya itu bermacam-macam. Orang memliki beragam cara dalam menghadapi intoleransi. Ada yang dengan cara mengikuti, ada yang tidak mengikuti, serta ada juga yang dapat menyeleksi dengan baik. Seharusnya kita bisa menyeleksi budaya tersebut dengan baik. Atau kita bisa meniru bangsa luar. Ketika ada budaya asing yang masuk dalam kehidupannya, mereka mendialogkan tentang budaya tersebut kemudian menerima sisi positifnya dan membuang sisi negatifnya.

  1. Bagaimana menyikapi tahun politik yang sangat sensitif terhadap isu SARA dan intoleransi ?

                Sebetulnya pembicaraan tentang isu SARA itu telah selesai semenjak tahun 1945 setelah merdekanya negara ini. Seharusnya tidak usah diungkit-ungkit lagi, kalau diungkit lagi takutnya akan membawa dampak negatif pada masyarakat, malah kita harus lebih kepada program dimana tawaran kebaikan itu ada. Tinggal bagaimana kesadaran kita kembali kepada posisi pemilu yang sebenarnya.

Kadang-kadang dalam pemilu ada orang yang ingin mencapai tujuannya dengan menggunakan cara apapun, nah inilah yang tidak boleh. Berpemilu sendiri itu positif, bersaing sendiri itu positif. Memilih pemimpin adalah sarana dari berpemilu, tinggal bagaimana kita bisa membawa efek positif dan menjauhi efek negatif yang dapat menghancurkan kebersamaan.

  1. Bagaimana cara menghadapi kelompok yang tidak terima akan hasil pemilu ?

                Sikap dewasa sangatlah penting. Penyadaran akan pentingnya pemilu harus terus dilakukan, apalagi terhadap para pemimpin yang harus membimbing masyarakatnya. Seharusnya masyarakat yang terpelajar seperti pemuda, harus bisa memberikan sumbangsih yang baik, bukan malah ikut-ikutan, dan kita juga harus bisa memilih.

  1. “Yang waras jangan mengalah” bagaimana dengan statemen tersebut di medsos dalam menyikapi intoleransi di tahun politik ini?

                Kita memang harus berbuat, namun perlu diingat juga bahwa kita harus berbuat sesuai kemampuan kita, kemudian sesuai dengan perasaanya. Setidaknya seminimal mungkin kita tidak ikut-ikutan untuk menyebarkan dan menghancurkan bangsa dengan sikap yang tidak benar ini, paling tidak kita mulai dari diri sendiri kemudian mempengaruhi lingkungan jika bisa.

  1. Harapan Kiai untuk pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi kasus intoleransi ?

                Pendidikan dan pemberdayaan terhadap masyarakat harus selalu dilakukan, tinggal bagaimana kita mendorong masyarakat agar bersikap dewasa dalam berpolitik. Memberikan keterwawasan tentang perpolitikan juga harus nampak dilakukan, agar perpolitikan di negara ini aman dan tentram.

Sumber : Majalah Kharisma MANJ

Kh. Moh. Zuhri zaini: Barokah itu Diukur Dari Kebermanfaatan

Peran Santri Dalam Meredam Intoleransi

nuruljadid.net-Toleransi ditinjau dari perspektif islam adalah tasammuh (menerima dan meghargai perbedaan), dalam artian tidak memusuhi dan mengingkari, namun bukan berarti kita juga mengikuti terhadapat perbedaan tersebut, melainkan kita hanya menghargai dan menghormati perbedaan tersebut. Karena, mengikuti dan menghargai itu berbeda makna.

Namun, seiring dengan berkembangnya zaman rasa toleransi sering kali terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama, bagi kaum radikalis yang sering kali menjadi biang kerok dibalik merebaknya kasus-kasus intoleransi di nusantara ini.

Perlu diketahui, radikalisme itu bersumber dari karakter masing-masing orang, namun radikalisme tak pernah diajarkan didalam agama islam. Sebab, dari historisnya (sejarahnya) agama islam merupakan agama yang mengajarkan toleransi, sebagaimana yang telah dipercontohkan oleh nabi Muhammad SAW.

Selain itu, perlu digaris bawahi juga bahwa radikal bukan hanya berbentuk kekerasan, namun juga bisa berbentuk pemikiran seperti filsafat, akan tetapi filsafat bukanlah radikal yang bersifat keras melainkan hanya berupa bentuk pemikiran.

Orang yang bersikap radikal rata-rata tidak bisa diajak kompromi, namun tak semua orang yang radikal tak bisa dikompromi, sebagian dari mereka masih bisa diajak kompromi, yakni orang radikal dalam aspek alur pemikiran bukan dalam sikap dan tindakan.

Berfikir radikal itu tidak dilarang, asalkan tidak melakukan tindakan radikal, karena yang menjadi masalah utama ialah tindakan radikal, jadi radikal masih bisa dibenarkan ialah bila tidak berbentuk tindakan, namun hanya berupa pikiran. Sungguh pun demikian radikal dalam pemikiran bisa saja berubah menjadi radikal dalam bentuk sikap dan tindakan.

Memasuki tahun pemilu, orang orang yang memiliki sifat radikal mulai bermunculan dan melakukan tindakan intoleransi, mereka berdalih bahwa tindakan yang mereka lakukan benar berdasarkan agama maupun faktor lain. Namun, itu hanyalah sebuah alasan belaka sebagai pembenar atas tindakan radikal atau intoleransi yang telah mereka lakukan.

Sejatinya tabi’at politik cenderung kepada perbedaan, masing masing partai politik pastilah memiliki pendapat yang berbeda beda, jadi perpolitikan sangatlah penuh kontroversi. Dalam dunia islam, kita juga mengenal khilafiyah, sebab, perpecahan yang terjadi dalam agam islam itu juga disebabkan oleh politik.

Seyogyanya partai politik, haruslah menjadi wadah untuk menampung aspirasi masyarakat, tentunya partai politik harus bisa menjalankan amanah yang mereka emban dengan sebaik mungkin. Sebab, partai politik juga pilar demokrasi.

Berdasarkan realitanya, banyak politisi tak lagi menjadi uswah (contoh) yang baik bagi masyarakat, melainkan mereka mengadu domba masyarakat, untuk mencari keuntungan bagi diri dan kelompoknya.
Demi terwujudnya kedamaian di indonesia, seharusnya toleransi perlu ditingkatkan. pemerintah seharusnya bersikap adil, karena penguasa jugalah berpolitik. Penguasa juga harus memberikan contoh yang baik dan jangan malah berbuat tindakan intoleransi.

Karena, hal itu dapat berimbas terhadap merebaknya kasus intoleran yang dilawan dengan intoleran, sehingga tindakan tersebut bukan menjadi solusi, melainkan akan menyebabkan situasi intoleran yang ada di Indonesia akan jauh lebih membengkak.

Indonesia juga merupakan negara yang berdasarkan hukum, sehingga segala penyelesaian permasalahan antara individu atau kelompok haruslah melalui jalur hukum. Jadi, ketika kita ingin meminimalisir kasus intoleransi yang terjadi, maka kita harus meredamnya dengan jalur hukum bukan malah membalasnya dengan perbuatan intoleran juga (menghakimi sendiri).

Sebagai kaum sarungan (santri),kita juga harus ikut serta dalam meredam kekerasan para kaum radikalis.Tentunya, sebagai santri yang berpegang teguh pada ajaran nabi Muhammad SAW, kita harus dapat mewujudkan ajaran toleransi yang telah diajarkan oleh beliau. Bukan malah ikut-ikutan dalam aksi-aksi yang berbau radikalis.

Ekstrim dan radikal memang punya keserupaan, keduanya merupakan sifat yang memang telah ada dalam diri manusia. Sifat ekstrim dan radikal bahaya jika saja tidak berbentuk tindakan kekerasan dan tidak melibatkan orang lain sebagai korbannya. Jadi, tindakan ekstrim dan radikal sangatlah bahaya jika dilakukan dengan kekerasan, karena memang mereka meliki perawakan yang keras jika ditinjau dari luar.

Setiap orang yang berpendirian, pastinya, akan mengartikan toleransi sebagai suatau kewajiban dalam bermasayarakat, dan mereka juga akan memaknainya sebagai suatau sifat penghormatan dan menghargai terhadap perbedaan. Bukan malah menjadikan toleransi sebagai tuntutan mengikuti pendapat yang salah.

Kendati demikian pun juga diperuntukkan bagi santri untuk harus tetap berpegang teguh terhadap ajaran ahlus sunnah wal jamaah yang mengajarkan tentang tasammuh (toleransi), dan menjadi solusi dari intoleransi yang terjadi. Sebab, santrilah manifestasi murni ajaran kanjeng nabi.

 

Penulis : Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Sumber : Majalah Kharisma MANJ

MASA DEPAN PESANTREN (Kaum Sarungan Menjawab Revolusi Industri 4.0)

nuruljadid.net- Kemarin malam (Jum’at, 6/9), setelah aktivitas rutin mendampingi santri SMP Nurul Jadid (SMPNJ) belajar, saya diajak makan bersama. Makan bersama sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan siswa SMPNJ menjadi “Duta Siswa Prestasi Nasional 2019’ yang sekaligus menjadi “Brand Ambassador The Platinum Skills” selama 1 tahun atas nama Wahyu Ilahi.

Tradisi makan bersama di Pondok, kadang berupa “tabek” yang dibungkus daun pisang. Satu “tabek” bisa dihidangkan untuk 8 sd 10 santri. Kadang beberapa “tabek” disatukan sehingga cukup untuk 30 sd 40 santri.

Kemarin malam itu bukan berupa tabek. Berupa hidangan (nasi dan lauk pauk) yang langsung digelar di tikar plastik memanjang. Kemudian para santri berkumpul melingkar dan menyantap hidangan secara bersama. Ustadz dan santri berkumpul jadi satu, tidak membedakan status. Tetapi tetap memperhatikan ahklakul karimah (sopan santun). Para ustadz dipersilakan degan sopan untuk bergabung bersama. Setelah doa kemudian sama-sama menikmati hidangan.


Hari sabtu (7/9) pagi saya mengajar di SMA Nurul Jadid (SMANJ). Aktivitas literasi (mencari sumber-sember referensi) masalah-masalah sosial di Perpistakaan SMANJ. Perpustakaan ini cukup luas (ukuran 9 x 12) dengan koleksi buku sekitar 7000 (tidak termasuk buku pelajaran).

Para santri sangat asyik membaca buku. Setelah mengambil buku dari raknya, kemudian berlajar bersama. Duduk melingkar seolah sedang makan. Malam hari menyantap makanan, siang hari menyantap buku-buku referensial. Itulah kebiasaan santri sarungan dalam aktivitas belajar hariannya.
***

Proses pendidikan di pesantren, mayoritas pesantren di Indonesia –tidak pernah usang dan ketinggalan– selalu dapat menjawab perubahan dan tantangan zaman. Terus berevolusi menemukan cara terbaik sesuai dengan tuntutan zamannya.

Kaidah yang menjadi pegangan “memelihara hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik”. Kaidah lain yang terpatri kuat –dalam konteks pendidikan– terkenal quote (kutipan) pendapat yang berasal dari Ali bin Abi Thalib RA “didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan dizamanmu”.

Pendapat Ali Bin Abi Thalib ini –menjadi perhatian dan diterapkan di pondok pesantren– jauh mendahului pendapat seorang fururulog dari Amerika Serikat, Alfin Toffler (1928-2016) yang menyatakan “Education mustsave in the future time” (Pendidikan harus selalu mengacu pada masa depan).

Pesantren terus dapat merespons dan mengadaptasi perkembangan teknologi dan informasi, revolusi industri 4.0 dan rentetan efek dari dinamika perubahan zaman itu sendiri. Di tengah kegagapan budaya (cultural gap) terjadi dalam dunia pendidikan.

Meskipun kemajuan teknologi dan informasi –seolah– semua persoalan dan ilmu pengetahuan dapat dicari (akses) jawabannya melalui internet, namun pesantren –sebagai pengelola pendidikan– tetap dapat tampil meyakinkan –ditengah– disrupsi kemapanan.
Pesantren adalah tempat dan proses menuntut Ilmu. Baik ilmu berkaitan dengan agama maupun ilmu pengetahuan lainnya.

Sabtu (7/9/2019) siangnya (Jam 10.30 sd 11.30) mendapat kunjungan dan sosialisasi “THE IMPORTANCE OF SOFT SKILLS FOR STUDENTS IN INDUSTRIAL REVOLUTION 4.0 dari THE PLATINUM SKILL INDONESIA di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Terdapat dua santri yang berprestasi diajang duta siswa berprestasi tingkat Nasional. Selain Wahyu Ilahi dari SMPNJ ada juga Zeidan Izza Faris dari MTS Nurul Jadid. Sebelumnya terdapat 15 santri Nurul Jadid dari berbagai lembaga pendidikan, masuk 100 besar nominator tingkat Nasional. Menyisikan 972 peserta se Indonesia.

Pesantren secara umum dan khususnya Pondok Pesantren Nurul Jadid siap menghadapi tantangan global dan abad 21. Meskipun kebiasaan (tradisi) dengan pola makan “tabek” dan sarungan (kaum bersarung), tetap dapat menghasilkan prestasi.

Pondok Pesantren siap membekali santri memiliki daya saing yang tinggi dalam percaturan Internasional selain bekal ilmu agama yang menjadi pokok pembelajaran di Pesantren. Anak pesantren tidak ketinggalan zaman. Penguasaan bahasa asing (Inggris, Arab dan Mandarin) di atas rata-rata, kata Tim dari Platinum Skill.

Penulis : Didik Agung P Wicaksono

Editor  : Ponirin Mika

Jadilah Seperti Air

Siapa yang tak butuh air

Manusia, hewan, tanaman bahkan semua

Air memberi kesejukan

Pada setiap mahluk dalam kehidupan

Air mengalir disetiap sendi-sendi kehidupan

 

Begitu seharusnya kau nak,

Kata ibu tua

Sambil menepuk dada anaknya

Berjalanlah kau seperti air

Kau akan dapat kebahagiaan

 

20/08/2019

PUJANGGA PESISIR

 

 

Bagimu Agamamu, Bagiku Kau Saudaraku

“Ketuhanan macam apa yang tengah diajarkan para pemerintah ini! Aku memang sejak awal risau pada kata “Ketuhanan yang Maha Esa”, Ulo Kamba memekikkan kalimat dengan tegap ditengah perkumpulan golongan yang memiliki pandangan serupa dengannya. Sudah sejak lama ia beserta komplotannya hidup terpisah dari orang kampung dengan hitungan beberapa mil saja.

Mereka adalah sebagian kecil orang yang menolak ketika mengisi kolom agama. Anjuran negara saat pendataan kartu identitas dengan berani mereka tolak mentah. Meski kartu identitas sebagai keabsahan seseorang akan dianggap menjadi bagian dari negara, yang katanya penuh dengan toleransi (tapi tiap tahun politik isu agama paling mudah dipermainkan kesana kemari), tetapi mereka memiliki alasan tersendiri atas penolakan tersebut. Ulo Kamba, akrabnya disapa Bang Ulo merupakan seorang terdidik alumnus Fakultas Agama Islam disalah satu Kampus Swasta, dia menjadi motorik utama gerakan tersebut.

Petugas dinas kependudukan yang bersikukuh menyodorkan pertanyaan untuk mengisi kolom agama sudah kesekian kali mereka tolak, jawaban akhirnya pasti “Kami akan mengisi kalau abang Ulo Kamba sudah memberi instruksi” Ulo Kamba sebagai biangkeladi pemikiran, golong itu memiliki prinsip agar pemerintah menghapus kolom agama pada kartu identitas.

****

 “Ini semua jelas, demi menutaskan peta kekuasaan politik, agar lebih mudah memetakan kekuatan. Hahahha. Kalian mengapa iya iya saja ketika diperbudak korporat! Sejauh ini kalian belum sadar jika keyakinan yang diagungkan itu tak lebih dari keju bagi para tikus berdasi. Segalanya lebih nikmat tatkala terjadi kultus mengkultuskan tentang siapa yang paling beragama, siapa yang paling bertuhan, siapa yang paling benar”, Ucap baru Sawo menegaskan pada seorang petugas dinas kependudukan yang memaksanya beserta beberapa orang lain untuk mengisi kolom agama pada kartu identitas pribadi. Tak tanggung, bahkan petugas itu mengancam mereka tidak akan diakui sebagai bagian dari negaranya.

Pada siang menjelang surup petugas dinas kependudukan kembali bersikukuh pada Ulo Kamba agar bersedia mengisi kolom agama. Rino si petugas mendatangi Baro Sawo lantaran dia merupakan penggagas gerekan anti kolom agama, Rino berharap jika Ulo Kamba telah tunduk, warga lain juga turut tunduk.

“Lalu hendak kami tulis apa agamamu bang? Islam kah?, Kristen kan, Hindukah?, Budha? KongHu Cu? Atau Katolik?” ungkap Rino sembari mensilangkan kakinya meyakinkan Ulo Kamba.

“Hanya sebatas itu? Itu saja yang disediakan dinas kependudukan?”

“Lalu bang?”

“Beritahu pada ketuamu yang memahakan diri itu. Untuk disebut Islam aku bimbang memahami apa yang mereka sebut sebagai sahadat, salat, zakat, puasa, haji. Tapi aku sakit hati saat umat kristiani juga beberapa gereja katolik terancam keamannannya, aku tidak mau menciderai saudaraku yang beragama budha, aku juga sayang pada kawan kawan ku yang hindu, dan aku tak rela bila ada yang membuat onar pada agama yang dibawa Kong Fu Tze (Kong Hu Chu)”,

“Jadi Abang tidak bertuhan?” pertanyaan Rino membuat Ulo Kamba semakin geram untuk memperlua penjelasannya.

“Aku bukan tidak bertuhan, sebab tuhan ku menjelma semesta, terkadang menjadi satu kesatuan denganku! Nampaknya maha ketuamu perlu diberi pembelajaran soal Kapitayan, Banten Girang, Suluk dan beberapa kepercayaan lain yang hadir sebelum adanya agama yang ujug ujug menuhankan yang Satu!” Soal landasan golongan, Ulo Kamba memang sejak lama menggagas, tak heran jika para petugas gonta ganti mendatanginya dengan harapan mendapat kepastian kolom agama.

“Hmm Abang, soal omongan warga dari kampung sebelah yang men cap abang beserta beberapa warga yang tinggal disekitar rumah abang sebagai aliran sesat karena masih mempertahankan bau wangi wangian kemenyan, acap menyeruwat keris, hingga menuhakan pohon beringin, apa itu tidak dipertimbangkan?” Ucap pegawai dinas kependudukan kepada Bang Ulo Kamba. Dengan tatapan sinis, Ulo Kamba yang telah berumur lebih setengah abad kurang dua tahun memberikan klarifikasi. Suaranya yang khas, dengan intonasi cukup membuat orang getar getir, dan postur jangkungnya, cukup membuat Rino sedikit merunduk.

“Hah, kau tak usahlah mengurus urusi soal kepercayaan itu pula. A-gama. Berasal dari bahasa Sansekerta, yang dipahami sebagai A = Tidak, Gama = Kacau. Percuma beragamatapi saling baku hantam, sentil sedikit soal isu agama para ormas (organisasi masyarakat)ramai bergandengan. Memangnya mereka siapa? Memangnya mereka pemilik agama? Sejauhpemahaman saya selama ini Tuhan tidak pernah meminta dirinya untuk dibela!”

“Lalu apa yang abang kehendaki?”

“Bagimu agamamu, bagi ku mereka saudaraku. Sejak detik ini aku kembali menegaskan bahwa kami tetap bersikukuh kolom agama dihilangkan dari identitas diri! Sadari lah bahwa urusan beragama, erat kaitannya dengan Tuhan. Urusan tuhan dan manusianya merupakan urusan esensial yang tidak berhak diumbar umbar banyak orang.”

“Aku memang penganut dinamisme, aku bahkan masih percaya pada animisme. Tapi kau tak tahu bukan demi apa, dan untuk apa aku melakukan hal itu?”

Perjamauan menjelang surup itu terpenggal oleh matahari yang mulai kelindungan untuksegera menuntaskan sinarnya.

“Maaf bang, sebentar lagi gelap. Saya masih tidak bisa menuliskan agama abang, barangkaliesok atau lusa, dari dinas kependudukan akan kembali menemui abang!”

“Baiklah barangkali nanti aku sempat berfikir terkait usulanmu, meski jawaban akhirnya sudahbarang kau tahu, coba fikirkan juga pemikiranku”

“Sampai kapan pun, kau tetap akan menemui jawaban yang sama.”

“Kalau kau tidak sekekar itu sudah kugulingkan kau Ulo Kamba”, Rino membatin sembari meninggalkan gubuk Ulo Kamba, sementara surup mulai redup Ulo Kambasegera memandikan kerisnya bertepatan malam itu Jumat Kliwon.

****

Dua hari berselang, sejak perjamuan diambang “surup”. Kali ini Rino tengah bersama seorangkawan dekatnya kembali ke gubuk Ulo Kamba yang letaknya cukup jauh dari pemukimanwarga. Kawan Rino seorang ustad kondang yang namanya tersohor dimana mana lantaran gayaberpidatonya berapi api sehingga mampu menarik sanjungan banyak penonton.”Assalamualaikum” Ucap keduanya serempak

“Masuk saja”

“Astaghfirullah kenapa tidak menjawab salam Kami” ucap Gus Asin dengan legowo.

“Menjawab salam memang wajib bagi Agamamu bukan? Fardlu Ain katanya. Tapi kita lihat dulu siapa yang tengah memberi salam, dan kepada siapa dia memberi salam. Salam berarti mendoakan, Assalamualaikum hanya bahasa arab saja, kebanyakan seseorang memberi salam bukan niat mendoakan saudaranya, hanya dijadikan sapaan saja, jadi jika niatmu itu bukan doa, aku tidak wajib menjawabnya” Penuturan Ulo Kamba membuat kedua terdiam, lantaran memang benar Assalamualaikum tidak lebih dari serapah tanpa ada niatan untuk saling mendoakan sesama manusia.

“Apa lagi kau datang kesini?” sembari menyalakan kretek yang dipilinnya sendiri Ulo Kamba menatap sinis kedunya.

 “Bagaimana soal kolom agama dalam kartu identitas diri abang” ucap ustad Kondang hasilinstruksi dari Rino.

“Ya tetap saya menolak segala macam legitimasi dengan kendaraan agama, camkan!”

“Tapi ini hanya sekedar kolom agama bang, apa susahnya” ketus Rino

“Susah sekali, karena Tuhanku tidak sebatas tulisan “Islam” di KTP saja, lebih dari itu kewajiban yang masyarakat anggap sebagai animisme dinamisme aku kerjakan untuk meruwat alam. Bumi sudah tua kawan, berdoa menghadap pohon, sembari memegang keris, lalu menyeruap bau kemenyan bukan mengharap segala sesuatu darinya sebab segala sesuatu tetap saya nisbatkan kepada Allah, Tuhan saya yang Esa, yang saya ragukan bahwa kamu mengEsakan Nya.” dengan nada yakin, Ulo Kamba kembali menolak ajakan petugas dinas kependudukan.

“Tetapi ini sudah kewajiban seluruh warga negara bang, untuk mengisi kolom agama”

“Sekarang aku tanya, kau paham tujuan kolom agama itu apa”

“Tidak bang” keduanya serempak menjawab.

“Dinas begok, Ustad bodoh!” suara Ulo Kamba terdengar merendah, meski bahasa yang dipakainya sarkas.

“Sampeyan hati hati bang bicaranya” ucap ustad Kondang sembari menaikkan tempo pembicaraan.

“Memang begitu adanya. Kolom agama itu huru hara saja, bertujuan untuk mengkotak kotakan saudara kita. Sehingga jangan heran jika isu agama dengan mudah dimainkan hanya demi kepentingan elektoral, kepentingan golongan, hingga kepentingan politik. Bayangkan saja kolom agama itu hapus, kelinduran semua oknum penjaring agama agama”.

“Abang inikan alumni Fakultas Agama, bukankah sudah jelas dalam Al-Qur’an surah Al-Kafirun lakumdinukum waliyyadin” ungkap ustad membelagak kekuatan spiritualitasnya.

“Hahahah. Kamu melegitimasi ayat al-Qur’an, apakah kamu tidak miris melihat umat islam dengan fanatismenya seolah agama mereka yang paling benar, sama sepertimu, yang acap kali ikut campur itu, iya agama”, Ulo Kamba kembali memperkuat pendapatnya soal penghapusan kolom agama pada identitas kependudukan. Si ustad kondang yang tadinya membelagak, tertunduk lesu diamini Rino yang mulai tidak berkutik dengan penjalasan akhir Ulo Kamba.

“Sudahlah mau apa pun kalian berdua, tetap tidak bisa memaksa saya dan beberapa orangdi desa ini, karena satu hal yang haru kalian tau puncak dari agama adalah toleransi, dankemanusiaan. Sebab kita tidak bisa membenarkan seolah agama kita yang paling benar, dankita yang akan masuk surga. Bagimu agamamu bagi ku mereka saudaraku.”

Waalahua’lam bis showab

penulis : Muhammad Afnani Alifian, mahasiswa Aktif  Universitas Islam Malang (Unisma), jurusan Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia

(Alumni Siswa Madrasah Aliyah Nurul Jadid, Anggkatan 2018)

 

 

 

 

Santri, Tanggung Jawab Ilmiah, Sosial dan Moral

Santri, Tanggung Jawab Ilmiah, Sosial dan Moral

Santri, merupakan identitas yang sangat sakral. Sebab, santri seringkali diyakini dan dipersepsikan sebagai komunitas masyarakat yang memiliki konsen pada ilmu-ilmu agama di pondok pesantren. Dalam pengertian yang lebih subtansial, santri dimaknai sebagai sosok yang memiliki ketaatan pada ajaran dan nilai-nilai agama. Tak jarang pula, santri diyakini sebagai kelompok yang memiliki kemampuan literatur-literatur klasik yang memadai. Sehingga dengan kemampuan ini, santri seringkali disebut sebagai naibul ulama”(pengganti Ulama).

Namun belakangan, santri tidak hanya identik dengan literatur-literatur klasik, tapi sudah banyak santri yang terbuka terhadap ilmu-ilmu modern. Karena sudah banyak santri yang melanjutkan pendidikannya pada jenjang Perguruan Tinggi. Sehingga muncul istilah mahasiswa yang santri dan santri yang mahasiswa. Keduanya memiliki makna yang berbeda pula. Secara sederhana, mahasiswa yang santri dapat dimaknai sebagai sekelompok mahasiswa yang memiliki prilaku dan pola pikir seperti santri dan tidak meninggalkan nilai-nilai kesantrian yang telah ditekuni selama bertahun-tahun di pesantren. Sedangkan mahasiswa yang santri dapat dipahami sebagai santri yang memiliki corak berfikir ala mahasiswa dan setidaknya tetap istiqomah melaksanakan furudlul ainiyah.

Meskipun begitu, keduanya memiliki oreintasi yang sama yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, baik bidang agama, sosial, budaya dan teknologi. Sehingga dengan dasar ini, maka santri dan mahasiswa bisa diharapkan menjadi pioner di masa yang akan datang bangsa ini. Karena mahasiswa dan santri tidak hanya diyakini sebagai komunitas yang memiliki basis keilmuan yang jelas tapi juga memiliki pijakan moral dan tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial disini bisa dimaknai secara universal, yakni adanya kepekaan terhadap realitas sosial yang sedang berkembang untuk kemudian diperbaiki dan diberdayakan melalui ilmu yang telah dipelajari di pesantren dan di kampus.

Problem Santri

Entitas santri yang dipaparkan di atas, saat ini nyaris tidak terlihat. Santri yang identik dengan aktivitas-aktivitas ilmiah saat ini mulai tergerus oleh perubahan zaman yang semakin memanjakan masyarakat. Santri kini “enggan sekali membaca, mutholaah dan diskusi (musyawarah)”. Mereka tak lagi terlihat menenteng kitab dan buku. Justru mereka lebih sering terlihat adalah notebook dan android yang menempel ketat di genggaman mereka. Ironisnya, notebook dan android yang dibawa bukan justru dijadikan sarana untuk mengembangkan potensi dirinya, melainkan digunakan untuk  facebook, twitteran, instagram, youtube dan lain-lain. Mereka seperti sudah terjerumus masuk ke dalam jurang modernisasi secara vulgar. Kecanggihan teknologi telah menyandera eksistensi santri, sehingga membuat mereka terasing dari dunia nyatanya, dunia kampus dan ilmiah.

Akibat dari itu semua, santri tidak lagi memiliki kepekaan terhadap problem-problem sosial yang tengah terjadi di sekelilingnya. Kini, dunia mereka telah menjadi “dunia lain”, jauh dari dunia yang senyatanya sebagai masyarakat santri. Mirisnya, di tengah kesemerawutan kondisi bangsa dewasa ini, tak ada kekhawatiran ataupun kegelisahan yang membuat mereka mau, secara sadar, untuk mengubah keadaan tersebut. Kitab dan buku, dalam pandangan mereka, dianggap suatu yang sakral, yang tak lagi bisa disentuh oleh sembarang orang. Dalam pikiran mereka telah tertanam kuat paradigma hidup yang mengutamakan sikap instan dan serba praktis. Semakin hari semakin kuat saja paradigma itu, membuat santri tak benar-benar mampu melepasnya. Bak akar tumbuhan, semakin dalam ia mencakar bumi, semakin kuat pula akar itu dan tak mudah mencabutnya.

Budaya diskusi dan kajian-kajian seputar isue-isue aktual tentang agama dan problem sosial,  keindonesiaan, kebangsaan atau kenegaraan yang dulu seringkali menghiasi aktivitas santri di waktu-waktu lowong sudah mulai hilang. Di waktu-waktu kosong seperti tidak ada pengajian dan atau waktu istirahat, sangat jarang—untuk mengatakan tidak ada—santri yang berkumpul berdiskusi dan membahas permasalahan bangsa. Mereka lebih sering terlihat cengar-cengir sendiri membalas komentar dari salah satu temannya di facebook. Begitu juga budaya literasi dan mutholaah yang selama ini menjadi karakter santri kian terkikis akibat hegemoni teknologi. Mereka lebih suka mengoperasikan gadjet daripada membuka lembaran-lembaran buku dan kitab yang selama ini menjadi ciri khas santri. Sehingga kita juga mulai kesulitan menemukan bibit unggul dalam komunitas santri.

Tanggung Jawab Ilmiah, Sosial dan Moral

Melihat beberapa fakta di atas, sudah saatnya ada formulasi baru dalam mengembangkan potensi santri, seperti menghidupkan kembali budaya literasi dan diskusi yang mulai tergerus oleh kecanggihan teknologi. Sebab, sebagai komunitas yang diyakini memiliki kapasitas keilmuan agama yang lebih, mereka memiliki banyak tanggung jawab. Adapun tanggung jawab yang pertama adalah keilmuan. Aspek keilmuan merupakan identitas yang tidak bisa ditawar oleh santri. Sebagai komunitas yang belajar belajar di Pesantren, sudah pasti santri berkewajiban untuk mengembangkan basis keilmuannya. Melalui metodologi yang dipelajari, mahasiswa seharusnya sudah cukup cakap dalam berbagai ilmu pengetahuan. Karena itulah maka basis keilmuan harus tetap tersemat dalam diri santri, sehingga sebutan sebagai komunitas intelektual bisa dipertanggung jawabkan dalam ruang-ruang sosial.

Sedangkan apek yang kedua, adalah tanggung jawab sosial. Sebagai komunitas yang memiliki kapasitas keilmuan yang memadai, tentu saja santri dituntut untuk menjadi aktor-aktor perubahan di masyarakat. Eksistensinya harus mengispirasi masyarakat dan memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap problem sosial. Karena, salah satu aktualisasi dari nilai-nilai keilmuan adalah pengamalan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu santri dituntut dapat mengaktualisasikan ilmunya dengan cara melakukan pengabdian masyarakat, pendidikan dan advokasi (suluh agama). Kemudian, aspek tanggung jawab selanjutnya adalah moralitas. Moralitas merupakan kristalisasi dari semua komponen ilmu yang kita miliki. Ilmu tidak akan memiliki nilai di tengah-tengah masyarakat jika tidak seiring dengan moralitas. Karena itu, menjaga moral juga bagian dari tanggu jawab para pemilik ilmu pengetahuan, lebih-lebih jika seseorang berstatus sebagai santri, sehingga sudah cukup piawai dalam mengintegrasikan nilai-nilai santri.

Ala kulli hal, dalam rangka mewujudkan kualitas santri multi talenta sudah pasti membutuhkan instrumen-instrumen yang dapat menunjangnya. Dalam konteks ini, perlu adanya kesadaran komprehensif dari santri atas tantangan zaman yang semakin mengglobal. Dengan banyak belajar (ngaji), mutholaah, dan musyawarah santri dapat meningkatkan kualitas pengetahuan ilmiahnya. Dengan belajar dan membaca yang tekun, santri dapat meningkatkan daya nalar kritis mereka, sehingga tidak mudah terjerumus pada dinamika informasi yang semakin hari semakin semraut. Pihak Pesantren bisa memberikan isntrumen strategis agar budaya literasi dan diskusi terus hidup menjadi atmosfer Pesantren. Wallahu A’lam.

Santri, Tanggung Jawab Ilmiah, Sosial dan Moral

Mushafi Miftah
Santri dan Dosen Universitas Nurul Jadid. Saat ini Aktif sebagai Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri Jember

 

 

Hilangnya Religious Experience

Hilangnya Religious Experience

Ada fenomena keprihatinan yang semestinya menjadi kegelisahan kita semua sebagai umat beragama, khususnya umat Islam yang disebut sebagai mayoritas di negeri ini. Keprihatinan tersebut adalah menghilangnya rasa agama atau religious experience justru pada saat perintah agama tersebut dilaksanakan. Religious experience berupa ketenangan bersama keagungan Allah dalam istighatsah, menghilang, sehingga istighatsah yang dilakukan menjadi tidak bermakna apa-apa. Religious experience berupa kesejukan bersama keindahan Allah dalam haji dan umrah, lenyap, menjadikan haji dan umrah yang ada, tidak menebarkan kesejukan iman. Religious experience berupa kedamaian bersama rahman dan rahim Allah dalam shalat hajat dan tahajud, kabur, sehingga shalat hajat dan tahajud, tidak mampu mengkonstruksi keramahan dan kesetia kawanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai akibatnya, semakin bargairahnya umat Islam dalam melaksanakan perintah agama seperti istighatsah, di Munas -yang selama ini tak pernah ada- dan lain-lainnya, menjadi berbanding lurus dengan banyaknya korupsi yang diperbuat. Semakin digemarinya iabadah haji dan umrah dilaksanakan, menjadi searah dan sebangun dengan semakin merebaknya hoaks dan fitnah lainnya. Demikian juga semaraknya shalat hajat dan tahajud, tak terkecuali di gelora Bung Karno -yang selama ini tak pernah ada- , tidak menjadikan tindak kriminalitas dan abus of power menghilang di negeri ini. Satu dan lain hal, penyebabnya adalah hilangnya religious experience berupa ketenangan, kesejukan dan kedamaian, justru pada saat perintah agama itu dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 s/d 31 Maret 2019, penulis menyaksikan sendiri di jabal Uhud Madinah dan jabal Rahmah di Mekah, beberapa rombongan jamaah umrah meneriakkan takbir -الله اكبر -, disertai acungan tangan dan terikan yang menggambarkan kemenangan salah satu pasangan calon presiden RI. Secara psikologis, sekalipun mereka melakukan ibadah, kebencian terhadap lawan poltik akan mewarnai denyut jantung dan detak nafasnya. Pelaksanakan perintah agama yang demikian, bisa dipastikan akan menghilangkan religious experience yang semestinya mereka terima.

Fenomena hilangnya religious experience seperti ini, tentu bukan sekali jadi, melainkan jauh sejak pasca kemerdekaan republik ini. Diterimanya Pancasila sebagai filosofi dan dasar Negara oleh para ulama di Republik ini, adalah jalan tengah untuk menjadikan religious experience tidak menghilang dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun dalam perkembangannya religious experience tersebut terus menghilang, karena apa yang dikerjakan dari perintah agama, seperti -istighatsah, haji dan umrah serta shalat hajat dan tahajud- dan lain-lainnya, secara vertical tidak diarahkan untuk mendapatkan rdlo Allah, tetapi berhenti di tingkat horizontal, hanya untuk mendapatkan keberhasilan kepentingan sesaat.

Secara kongkrit, keprihatinan tersebut ditunjukkan oleh KH. Zaini Mun’im, dengan menjadikan kesadaran beragama sebagai benteng bagi para santri pondok pesantren Nurul-Jadid. Artinya, sebagai calon pemimpin bangsa, para santri dengan kesadaran beragama,yang merupakan bagian dari pancakesadaran santri, diharapkan tidak akan menjadikan pelaksanaan perintah agama, berhenti ditingkat horizontal sebagai marketing God atau jualan Tuhan, tetapi naik ke tingkat vertical, yaitu, untuk mendapatkan ridlo Allah Swt. Karena itulah yang dikehendaki Allah dalam al-Qur’an surat Al-An’am 162,

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

Artinya, Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Sebagai santri Nurul-Jadid, penulis hanya berdo’a, semuga ma’unah dan hidayah Allah terus memayungi para santri, dan bangsa ini, agar religious experience yang menebarkan kesejukan, ketenangan dan kedamaian Allah Swt, mengantar kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi baldatun thoyibatun warabun ghafur, amin.

Wallahu ‘alam,

M. Hasyim Syamhudi
Dekan Fakultas Hukum dan Humaniora UNUJA, Paiton, Probolinggo