Hilangnya Religious Experience

Hilangnya Religious Experience

Ada fenomena keprihatinan yang semestinya menjadi kegelisahan kita semua sebagai umat beragama, khususnya umat Islam yang disebut sebagai mayoritas di negeri ini. Keprihatinan tersebut adalah menghilangnya rasa agama atau religious experience justru pada saat perintah agama tersebut dilaksanakan. Religious experience berupa ketenangan bersama keagungan Allah dalam istighatsah, menghilang, sehingga istighatsah yang dilakukan menjadi tidak bermakna apa-apa. Religious experience berupa kesejukan bersama keindahan Allah dalam haji dan umrah, lenyap, menjadikan haji dan umrah yang ada, tidak menebarkan kesejukan iman. Religious experience berupa kedamaian bersama rahman dan rahim Allah dalam shalat hajat dan tahajud, kabur, sehingga shalat hajat dan tahajud, tidak mampu mengkonstruksi keramahan dan kesetia kawanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai akibatnya, semakin bargairahnya umat Islam dalam melaksanakan perintah agama seperti istighatsah, di Munas -yang selama ini tak pernah ada- dan lain-lainnya, menjadi berbanding lurus dengan banyaknya korupsi yang diperbuat. Semakin digemarinya iabadah haji dan umrah dilaksanakan, menjadi searah dan sebangun dengan semakin merebaknya hoaks dan fitnah lainnya. Demikian juga semaraknya shalat hajat dan tahajud, tak terkecuali di gelora Bung Karno -yang selama ini tak pernah ada- , tidak menjadikan tindak kriminalitas dan abus of power menghilang di negeri ini. Satu dan lain hal, penyebabnya adalah hilangnya religious experience berupa ketenangan, kesejukan dan kedamaian, justru pada saat perintah agama itu dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 s/d 31 Maret 2019, penulis menyaksikan sendiri di jabal Uhud Madinah dan jabal Rahmah di Mekah, beberapa rombongan jamaah umrah meneriakkan takbir -الله اكبر -, disertai acungan tangan dan terikan yang menggambarkan kemenangan salah satu pasangan calon presiden RI. Secara psikologis, sekalipun mereka melakukan ibadah, kebencian terhadap lawan poltik akan mewarnai denyut jantung dan detak nafasnya. Pelaksanakan perintah agama yang demikian, bisa dipastikan akan menghilangkan religious experience yang semestinya mereka terima.

Fenomena hilangnya religious experience seperti ini, tentu bukan sekali jadi, melainkan jauh sejak pasca kemerdekaan republik ini. Diterimanya Pancasila sebagai filosofi dan dasar Negara oleh para ulama di Republik ini, adalah jalan tengah untuk menjadikan religious experience tidak menghilang dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun dalam perkembangannya religious experience tersebut terus menghilang, karena apa yang dikerjakan dari perintah agama, seperti -istighatsah, haji dan umrah serta shalat hajat dan tahajud- dan lain-lainnya, secara vertical tidak diarahkan untuk mendapatkan rdlo Allah, tetapi berhenti di tingkat horizontal, hanya untuk mendapatkan keberhasilan kepentingan sesaat.

Secara kongkrit, keprihatinan tersebut ditunjukkan oleh KH. Zaini Mun’im, dengan menjadikan kesadaran beragama sebagai benteng bagi para santri pondok pesantren Nurul-Jadid. Artinya, sebagai calon pemimpin bangsa, para santri dengan kesadaran beragama,yang merupakan bagian dari pancakesadaran santri, diharapkan tidak akan menjadikan pelaksanaan perintah agama, berhenti ditingkat horizontal sebagai marketing God atau jualan Tuhan, tetapi naik ke tingkat vertical, yaitu, untuk mendapatkan ridlo Allah Swt. Karena itulah yang dikehendaki Allah dalam al-Qur’an surat Al-An’am 162,

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

Artinya, Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Sebagai santri Nurul-Jadid, penulis hanya berdo’a, semuga ma’unah dan hidayah Allah terus memayungi para santri, dan bangsa ini, agar religious experience yang menebarkan kesejukan, ketenangan dan kedamaian Allah Swt, mengantar kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi baldatun thoyibatun warabun ghafur, amin.

Wallahu ‘alam,

M. Hasyim Syamhudi
Dekan Fakultas Hukum dan Humaniora UNUJA, Paiton, Probolinggo

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 1 =