Khusyu’ itu Saat Raga Mematung dan Hati Menghadap Ilahi; Berikut Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net – Sholat bukan sekadar gerakan fisik yang menggugurkan kewajiban. Di balik ruku’ dan sujud, terdapat ruh bernama khusyuk yang menjadi penentu kesempurnaan ibadah. Dalam pengajian terbaru pada Ahad (22/02/26), Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, membedah urgensi ketenangan hati dalam shalat.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa khusyuknya anggota badan merupakan buah dari ketenangan hati. Tanpa hati yang hadir, mustahil raga bisa tenang. Beliau mengutip standar khusyuk dari para ulama: Jika seseorang masih menyadari siapa yang berada di samping kanan atau kirinya saat sholat, maka ia belum mencapai hakikat khusyuk. Orang yang benar-benar khusyuk tidak akan menyadari lingkungan sekitarnya karena seluruh kesadarannya terserap dalam dialog dengan Allah SWT.

“Meskipun kita belum mencapai tingkatan tersebut, setidaknya kita harus memiliki kesadaran penuh bahwa kita sedang menghadap Sang Pencipta,” pesan Kiai Zuhri.

Dalam penjelasannya, Kiai Zuhri membagikan beberapa fragmen kisah yang menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh khusyuk bagi seorang hamba. Kiai Zuhri menceritakan ada orang sholeh yang begitu diam dan tenang saat sholat, hingga burung-burung hinggap di atas kepalanya karena mengira ia adalah benda mati. Beliau melanjutkan, dikisahkan pula seorang hamba yang tetap bersujud meski masjid tempatnya sholat roboh. Padahal, hiruk-pikuk keruntuhan itu terdengar hingga ke pasar di dekat masjid, namun ia tetap tak bergeming. Selain itu, Kiai Zuhri bercerita tentang Ujian Juraij dan Panggilan Ibu: Beliau menceritakan kisah ahli ibadah terdahulu yang dilema antara sholat dan panggilan ibunya. Karena tidak menjawab panggilan sang ibu, ia terkena doa buruk hingga difitnah menghamili wanita. Kisah ini menjadi pengingat tentang pentingnya fiqih dalam menyeimbangkan ibadah dan bakti.

Kiai Zuhri memberikan perbandingan yang menyentuh tentang kualitas spiritual. Beliau menjelaskan fenomena “Jadzab”, di mana seseorang kehilangan kesadaran akan dunia (seperti seorang kiai yang mengajar tanpa ingat waktu) karena hatinya terpaku hanya pada Allah.

Namun, tingkat tertinggi adalah Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan kita yang mudah terdistraksi, Rasulullah tetap mampu berinteraksi dengan manusia tanpa sedikit pun memutus sambungan hatinya dengan Allah.

Kiai Zuhri mengutip jawaban ulama salaf saat ditanya apakah mereka memikirkan hal lain saat sholat:

“Apakah ada sesuatu yang lebih saya sukai selain sholat? Pada waktu saya menghadap Allah, saya melupakan segalanya.”

Bagi mereka, sholat bukan beban, melainkan tempat “pelarian” yang paling indah dari hiruk-pikuk dunia.

 

Pewarta : Kadafi Ananda

Editor    : Ahmad Zainul Khofi

Orang Berilmu Tidak Ditentukan oleh Kopiah dan Surban yang Digunakan; Berikut Dawuh Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net-berita – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan penjelasan mengenai hakikat keilmuan dalam pengajian kitab Nashoihud Diniyah. Rabu (18/02/26).

Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa status “Alim” atau orang berilmu tidak ditentukan oleh atribut lahiriah, melainkan pada kedalaman pengetahuan dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Orang alim adalah mereka yang memiliki ilmu. Status ini tidak bisa diukur hanya dari kopiah atau sorban yang dikenakan, melainkan dari sejauh mana pengetahuan itu menetap dalam diri,” ujar KH. Moh. Zuhri Zaini di hadapan para santri. Beliau menambahkan bahwa seorang kuli maupun petani tetap menyandang derajat alim selama mereka memiliki ilmu dan kesadaran spiritual.

Dalam bedah kitab karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad tersebut, Kiai Zuhri juga menyoroti pentingnya motivasi yang berlandaskan iman. Menurut nya, semangat ibadah dan ketaqwaan mustahil terwujud tanpa keyakinan yang kuat. Motivasi inilah yang menjadi motor penggerak bagi seorang hamba untuk setia menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan konsep Ulil Albab, yakni orang-orang yang akalnya senantiasa terhubung kepada Allah, bukan terjebak pada kemewahan duniawi. Kiai Zuhri mengingatkan bahwa sifat tawadhu’ (rendah hati) maupun sombong berakar di dalam hati, namun dampaknya akan sangat nyata terlihat pada amal-amal lahiriah seseorang.

Terkait peran sosial umat Islam, Kiai Zuhri menekankan bahwa kewajiban mengingatkan pada kebaikan (Amar Ma’ruf) dan mencegah keburukan (Nahi Munkar) adalah tanggung jawab bersama. Beliau berpesan agar umat Islam tidak egois dalam mengejar surga.

“Jangan menunggu menjadi kiai untuk melarang keburukan. Surga harus dibagi; jangan membiarkan orang lain terjerumus ke neraka,” tegas beliau.

Kiai Zuhri memberikan tuntunan etika dalam berdakwah dengan berpesan agar para penyampai ilmu senantiasa menggunakan bahasa yang populer dan mudah dimengerti saat berbicara dengan masyarakat awam. Penggunaan istilah-istilah yang terlalu teknis atau tinggi tanpa mempertimbangkan pemahaman pendengar justru akan menjauhkan pesan agama dari tujuannya.

Selain itu, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa substansi puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan sebuah latihan disiplin untuk mengendalikan hawa nafsu agar hidup lebih tertata sesuai rida Illahi.

 

Pewarta    : Kadapi
Editor       : Ponirin Mika

Empat Ciri Munafik Sejati

tausyiah.www.nuruljadid.net – Sifat munafik bukan sekadar celaan sosial, melainkan ancaman serius yang dapat merusak tatanan kemasyarakatan hingga menghancurkan harga diri pelakunya. Orang yang memelihara sifat ini sering kali tidak disadari menjadi “musuh dalam selimut” yang merusak kepercayaan antar sesama manusia. Sifat munafik yang dibiarkan akan mengeras menjadi karakter “munafik sejati” yang sangat sulit disembuhkan jika tidak segera ditinggalkan. Hal tersebut ditegaskan oleh Gus Imdad Robbani saat mengisi pengajian kitab sore di Masjid Jami’, Senin (26/01/26).

“Ada empat hal yang apabila ada pada seseorang, maka ia adalah munafik sejati. Tapi apabila hanya satu atau dua yang ada, maka ia tetap tergolong munafik sampai dirinya meninggalkan perilaku tersebut,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Gus Imdad merinci empat perilaku utama yang menjadi tolok ukur kemunafikan seseorang: pertama; Khianat terhadap Amanah: Orang tersebut tidak melaksanakan tanggung jawab atau titipan yang diberikan kepadanya. Kedua; Dusta dalam Ucapan: Perkataannya selalu berlawanan dengan fakta, menciptakan ketidakpastian dan fitnah. Ketiga; Ingkar Janji: Kebiasaan melanggar komitmen yang telah disepakati, sehingga merugikan pihak lain. Keempat; Menyimpang saat Berdebat: Ketika berselisih, ia tidak mencari kebenaran, melainkan menggunakan segala cara—termasuk cara yang batil—untuk menjatuhkan lawan bicaranya.

Dalam hal itu, Gus Imdad menekankan bahwa kemunafikan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena pelakunya sering kali merasa dirinya benar. Bahaya utama dari orang munafik adalah hilangnya integritas yang membuat mereka tidak lagi bisa dipercaya dalam urusan dunia maupun agama.

Pewarta : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Ungkap Menjaga Rahasia adalah Amanah dan Adab Tertinggi

tausyiah.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menegaskan kewajiban setiap individu untuk menjaga rahasia pribadi dan keluarga dari konsumsi publik. Dalam penyampaiannya, beliau menyoroti fenomena sosial di mana urusan domestik, termasuk hubungan intim suami-istri, kerap kali bocor kepada teman akrab atau khalayak luas.

Kiai Zuhri menjelaskan bahwa meskipun kejujuran dan sikap terbuka adalah hal yang baik, keduanya harus tetap memiliki batasan. Menurutnya, ada hal-hal yang diibaratkan sebagai “aurat” yang wajib ditutupi meski hal tersebut adalah milik sendiri.

“Rahasia keluarga itu tidak boleh diceritakan kepada teman dekat sekalipun. Urusan pribadi itu ada batasannya. Menyebarkan rahasia sama saja dengan melanggar janji dan termasuk bentuk pengkhianatan,” tegas Kiai Zuhri.

Beliau juga mengingatkan tentang kedudukan buruk manusia di hari kiamat kelak. Mengutip dalil agama, beliau menyebutkan bahwa salah satu golongan manusia dengan kedudukan paling buruk adalah mereka yang melakukan hubungan suami-istri, kemudian menceritakan detail rahasia ranjang tersebut kepada orang lain.

Pentingnya Adab di Atas Segalanya Selain menjaga lisan, Kiai Zuhri menekankan pentingnya adab dalam beribadah dan bersikap. Beliau memberi perumpamaan tentang seseorang yang shalat hanya menggunakan celana pendek yang sekadar menutupi aurat. Meski secara hukum syariat dianggap sah, namun dari sudut pandang adab, hal tersebut dinilai tidak sopan.

“Berhadapan dengan manusia saja kita merasa malu jika hanya memakai celana kolor, apalagi menghadap Tuhan. Di situlah pentingnya menjaga adab,” imbuhnya.

Sebagai teladan terbaik, Kiai Zuhri mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW sangat menjaga kehormatan keluarganya. Beliau mengutip perkataan Sayyidah Siti Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah melihat aurat istrinya secara berlebihan, begitu pula sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun suami-istri memiliki kebebasan secara hukum, Nabi SAW tetap mengedepankan adab dan rasa malu yang tinggi.

Pewarta    : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Taat Pemimpin Sah adalah Perintah Agama, Selama dalam Kebenaran

www.nuruljadid.net. – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya kepatuhan masyarakat terhadap pemimpin yang sah sebagai bagian dari perintah agama. Pesan menyejukkan ini disampaikan beliau saat mengisi pengajian kitab kuning di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Selasa sore (17/12/25).

Dalam pemaparannya, Kiai Zuhri menjelaskan bahwa legitimasi seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari sosok pribadinya, melainkan dari status hukum dan kesepakatan bersama yang menyertainya. Beliau mengutip sebuah hadis yang memerintahkan umat untuk mendengarkan dan menaati penguasa yang telah diangkat secara sah.

“Dengarkan perintah penguasa dan taatilah. Siapapun yang diangkat sebagai pemimpin melalui mekanisme yang berlaku—baik itu musyawarah, pemilu, maupun penunjukan—selama diakui sebagai pemerintah yang sah, maka kita wajib patuh,” tegas Kiai Zuhri.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri memberikan pandangannya mengenai sosok pemimpin. Beliau menyebutkan bahwa latar belakang sosial seseorang tidak menggugurkan kewajiban rakyat untuk taat. Bahkan, jika seorang pemimpin berasal dari kalangan yang dianggap rendah atau “remeh” oleh masyarakat, perintahnya tetap harus dihormati selama ia memegang tampuk kekuasaan yang legal.

Namun, ketaatan tersebut bukanlah tanpa syarat. Kiai Zuhri memberikan catatan kritis mengenai batasan kepatuhan:

  • Wajib Taat: Selama perintah pemerintah sejalan dengan kebenaran dan kemaslahatan.
  • Hak Menolak: Jika pemerintah memberikan instruksi yang bertentangan dengan syariat atau nilai kebenaran, maka rakyat tidak boleh mengikutinya.

“Kita sebagai rakyat harus patuh mendengar dan menaati perintah pemerintah jika itu benar. Namun, kalau salah, jangan diikuti,” pungkas beliau.

Kiai Zuhri menyampiakan pesan ini disampaikan sebagai pengingat bagi para santri dan masyarakat luas akan pentingnya menjaga ketaatan pada pemimpin, tanpa meninggalkan prinsip kebenaran agama.

 

Pewarta : Ponirin Mika

Tiga Golongan Penghuni Surga Menurut KH. Moh. Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net.berita – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memaparkan bahwa sebagian penghuni surga terdiri dari tiga golongan utama. Penjelasan ini disampaikan Kiai Zuhri dalam pengajian kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Jami’ Nurul Jadid pada Sabtu sore (13/12/2025).

Dalam kajian rutin tersebut, Kiai Zuhri merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang termaktub dalam kitab monumental tersebut, menguraikan secara rinci kriteria yang menjadikan seseorang layak mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Pemaparan ini menekankan pentingnya amal saleh dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Golongan pertama yang dijelaskan Kiai Zuhri adalah pemimpin atau orang yang memiliki kekuasaan yang adil dan diberi taufik oleh Allah. Beliau menjelaskan bahwa taufik adalah kemampuan atau pertolongan dari Allah untuk melakukan kebaikan, seperti mampu berbuat adil dan menyejahterakan rakyat.

Kiai Zuhri menekankan perbedaan antara taufik dan khidnan (dibiarkan tersesat). “Banyak orang yang ingin baik tapi tidak bisa karena belum mendapatkan pertolongan dari Allah (taufik). Kalau orang mampu berbuat buruk seperti mencuri, mabuk-mabukan itu bukan berarti mendapat taufik tapi khidnan,” jelasnya.

Golongan kedua adalah orang yang penyayang yang memiliki kelembutan hati kepada setiap kerabat dan kepada sesama muslim. Sifat rahmah atau kasih sayang ini menjadi kunci utama yang menggerakkan seseorang untuk berbuat baik kepada seluruh makhluk.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri merinci bahwa wujud kasih sayang itu bersifat kontekstual. Ia mencontohkan, kasih sayang kepada orang yang lapar diwujudkan dengan memberi makan, kepada yang tidak punya uang diwujudkan dengan memberi bantuan finansial, dan kepada yang tersesat diwujudkan dengan bimbingan.

Adapun golongan ketiga yang disebutkan adalah orang yang terjaga kehormatan dirinya dan punya tanggungan keluarga. Kriteria “terjaga kehormatan diri” berarti individu tersebut berupaya keras untuk tidak melakukan hal-hal yang tercela, bahkan pada perilaku yang secara hukum tidak sampai pada batas haram.

Upaya menjaga kehormatan diri ini, menurut Kiai Zuhri, adalah manifestasi dari kehati-hatian (wara’) seorang muslim. Kriteria ini menjadi penting, terutama bagi mereka yang memiliki tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga atau penanggung nafkah.

Pengajian kitab Riyadhus Sholihin ini rutin diadakan sebagai bagian dari tradisi keilmuan di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Keterangan Kiai Zuhri diharapkan dapat menjadi panduan bagi santri untuk meningkatkan kualitas ibadah dan interaksi sosial mereka.

Pewarta    : Ponirin Mika

Santri Adalah Kelas Kader Islam, Berikut Ulasan Kiai Zuhri Zaini

berita.nuruljadid.net – Pada kegiatan Capacity Building Pengurus dalam Ruhul Jihad yang digelar Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Rabu (3/12/25), Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini menekankan pentingnya tafaqquh fiddin sebagai misi inti pesantren. Beliau memberikan penekanan khusus pada urgensi prioritas kewajiban keagamaan tingkat dasar (al-Furudul ‘Ainiyah (FA)), penguatan kaderisasi santri, dan pengembangan kemampuan baca kitab sebagai bekal dakwah di tengah masyarakat.

Kiai Zuhri mengawali tausiyah dengan menegaskan bahwa pesantren memiliki mandat khusus sebagai pusat pendalaman ilmu agama. “Di antara umat Islam harus ada yang khusus tafaqquh fiddin, dan itu tempatnya di pesantren,” ujarnya. Para pengurus, lanjut beliau, merupakan pelayan dari tugas besar tersebut, dibantu perangkat penunjang seperti ilmu pengetahuan dan teknologi.

Meski berbagai keterampilan hidup dan kejuruan diajarkan di pesantren, Kiai Zuhri menegaskan bahwa tujuan utamanya harus tetap untuk kepentingan dakwah dan pengabdian. Namun demikian, beliau menekankan bahwa fondasi terpenting tetaplah ilmu agama. “Yang utama adalah bekal agama. Ini yang harus kita niatkan dalam berkhidmah.”

Salah satu pesan sentral tausiyah ini adalah pentingnya mengutamakan FA, ilmu dasar agama yang wajib dipahami dan diamalkan oleh setiap individu Muslim. Menurut Kiai Zuhri, inti dari belajar agama bukan semata mengetahui, tetapi mengamalkan.

“Yang terpenting dari belajar agama adalah pengamalan agama. Bagaimana santri bisa menjadikan agama sebagai pedoman hidup,” tegasnya. Jika FA belum tuntas, maka program lain yang bersifat tambahan sebaiknya dikurangi intensitasnya.

Beliau juga menyinggung efektivitas hari-hari FA yang diterapkan di pesantren. Kiai Zuhri mendorong agar seluruh pengurus memastikan FA benar-benar dipahami dan dipraktikkan oleh santri, baik melalui kitab maupun pendekatan yang lebih sederhana, sebagaimana yang digunakan pesantren salaf.

Mengutip ayat “falau lâ nafara ming kulli firqatim min-hum thâ’ifatul liyatafaqqahû fid-dîn”, Kiai Zuhri menyebut santri sebagai kelas kader, bukan kelas umum umat Islam. Karena itu, kemampuan mereka harus melampaui masyarakat biasa. “Memondokkan anak itu sejatinya mengkader. Maka FA saja tidak cukup bagi seorang kader,” ujarnya.

Untuk itu, beliau mendorong agar santri diperkenalkan dengan kitab berbahasa Arab serta mendapatkan bimbingan dasar bahasa Arab. Bila memungkinkan, diberikan pula pelatihan baca kitab dengan metode yang mudah dipahami. “Santri kader harus punya kelebihan. Minimal mampu membaca kitab agar tidak keliru saat membaca ayat atau khutbah di masyarakat.”

Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri memberikan perhatian khusus pada program tahfiz. Beliau mengingatkan bahwa hafalan Alquran memiliki tanggung jawab berat, berbeda dengan hafalan kitab lainnya. “Kalau hafal Alfiyah lalu lupa, hanya kehilangan ilmu. Tapi kalau hafal Alquran lalu lupa, itu dosa.”

Karena itu, beliau meminta agar program tahfiz dilakukan dengan seleksi ketat, memastikan santri siap istiqamah menjaga hafalannya. Beliau juga mengingatkan agar program tahfiz tidak sampai menggeser atau mengabaikan FA. “Hafal Alquran itu baik, tetapi bisa saja seseorang hafal tanpa memahami dan mengamalkan isinya. Maka FA tetap harus diprioritaskan, termasuk bagi santri tahfiz.”

Di akhir tausiyah, Kiai Zuhri menegaskan bahwa para pembina dan guru harus memiliki kemampuan di atas mereka yang dibimbing. Hal ini penting agar proses pendidikan berjalan efektif dan berkualitas. “Kita jangan hanya memberikan apa adanya. Kita harus terus meningkatkan kemampuan.”

Sebagai upaya lanjutan, Kiai Zuhri membuka kemungkinan penyelenggaraan sorogan kitab bagi pengurus atau santri yang berminat, dengan menyediakan waktu khusus.

Tausiyah ini mempertegas arah besar pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid: mencetak kader umat yang kuat dalam ilmu agama, matang dalam praktik, dan mampu membaca literatur Islam secara langsung. Dengan memprioritaskan FA, memperkuat kapasitas bahasa Arab, serta memperketat program tahfiz, diharapkan seluruh santri memiliki landasan keilmuan yang kokoh sebagai kader yang siap berkhidmah di masyarakat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Capacity Building Pengurus, Kiai Zuhri Zaini Utamakan Keikhlasan dalam Pengabdian

berita.nuruljadid.net – Ada dua tema besar yang menjadi fondasi pengabdian di pesantren: peningkatan ruhul jihad (semangat berjuang atau mengabdi) dan peningkatan kapasitas diri. Dua hal ini sangat penting untuk suksesnya dan bermaknanya pengabdian.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, dalam tausiyahnya pada acara Capacity Building dalam Ruhul Jihad pada Rabu, 3 Desember 2025 di Aula I Pesantren. Kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi dan semangat pengabdian pengurus ini dihadiri oleh seluruh pengurus di tingkat satuan kerja hingga satuan pendidikan.

Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa pengabdian di pesantren bukan sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi merupakan upaya meneruskan perjuangan panjang dakwah para masyayikh hingga Nabi Muhammad SAW. Pesantren, menurut beliau, adalah lembaga yang menjalankan misi dakwah dan pendidikan sebagaimana yang dicontohkan Nabi.

“Tujuan dakwah adalah mengadakan perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dan dari yang baik menjadi lebih baik,” dawuhnya. Pesantren, lanjut beliau, lahir untuk melanjutkan misi kenabian dalam dakwah dan pendidikan, untuk membentuk manusia muslim yang salih, muslih, dan bermanfaat.

Selain dakwah dan pendidikan, menurut Kiai Zuhri, tugas pengurus pesantren juga adalah pelayanan kepada santri dan masyarakat. Tetapi dengan tujuan utamanya yaitu membekali santri dengan agama, tafaqquh fiddin.

“Ini bukan berarti menafikkan ilmu-ilmu yang lain, sebab agama tidak bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan dari sektor lain: ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya. Jadi tidak bisa berdiri sendiri, tetap memerlukan ilmu yang lain (IPTEK),” terang beliau.

Beliau mencontohkan bagaimana banyaknya mualaf hari ini tidak lepas dari interaksi mereka dengan media modern.

“Tanpa bertemu langsung, mereka bisa membaca teks-teks Islam dari media. Itu juga bagian dari dakwah,” imbuh beliau. Semua sektor, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki peran penting sebagai penopang dakwah dan pendidikan Islam.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa visi pesantren bukan semata menghasilkan individu yang kuat dalam ritual keagamaan, tetapi juga yang mampu berperan di tengah masyarakat. Beliau menguraikan panca kesadaran santri sebagai fondasi kaderisasi pesantren: beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa–bernegara, serta berorganisasi.

Menurut beliau, kesadaran beragama dan berilmu adalah fondasi utama yang berkaitan dengan Tuhan dan modal dalam beramal dan berkhidmah, sementara dua kesadaran berikutnya adalah ibadah sosial. “Tidak cukup tekun shalat dan dzikir, tetapi harus pula memberi manfaat bagi sesama,” terang beliau.

Kesadaran berorganisasi, lanjut beliau, merupakan bagian integral ajaran Islam. “La islama illa bi jamaah. Islam tidak sempurna bila dijalankan sendiri-sendiri. Kebersamaan adalah syarat keberhasilan perjuangan,” jelasnya.

Pengasuh menekankan bahwa pengabdian harus dijalankan dengan empat prinsip: kerja ikhlas, kerja keras, kerja baik (itqan), dan kerja sama. Keikhlasan menurut beliau bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Beliau juga mengingatkan bahwa tugas utama pengurus dan guru di pesantren adalah mengurus manusia, bukan barang, sehingga tanggung jawab moral dan spiritualnya jauh lebih besar. “Tugas untuk mengurus manusia agar menjadi baik adalah tugas yang sungguh mulia tapi berat. Di sinilah perlu kesungguhan kita di dalam memberikan pelayanan atau berkhidmah. Jika kita berkhidmah dengan ikhlas, pasti ada barokahnya. Barokah bukan hanya materi, tetapi bisa berupa kesehatan, ketenangan, dan kelapangan hidup.”

Kiai Zuhri menguraikan bahwa keberkahan adalah bertambahnya kebaikan, bukan semata-mata bertambahnya materi. Beliau mencontohkan kisah Kiai Abdul Madjid dari Mlandingan yang mampu memberi makan seribu santri setiap hari meski tidak memiliki sawah atau toko. “Itulah barokah, jangan dihitung dengan kalkulator,” ujarnya.

Menurut beliau, selama bekerja dengan niat lillah, Allah akan memfasilitasi dan memudahkan jalan pengabdian. “Kita bekerja karena Allah, atas pertolongan Allah, untuk mencari rida Allah. Lillah billah wailallah, wafillah.”

Maka, dawuh beliau, khidmah kita di pesantren ini adalah untuk mencari bekal masa depan, yaitu ketika kita menghadap pada Allah SWT.

“Tanggungjawab kita bukan hanya pada lembaga, tetapi juga kepada Allah SWT. Kita mengajar, jadi pengurus, dan jadi apa saja (bidang kepengurusan apapun, red.), adalah ibadah kepada Allah dalam bentuk sosial. Melaksanakan perintah itulah yang menjadikan ibadah. Mengajar, termasuk mengabdi, dalam lembaga pendidikan itu adalah perintah Allah,” terangnya.

Kiai Zuhri melanjutkan tausiyahnya dengan mengisahkan keteguhan Nabi Muhammad SAW dalam dakwah, termasuk peristiwa hijrah yang menunjukkan bagaimana pertolongan Allah hadir dalam setiap perjuangan.

“Kita harus bekerja keras dan baik, tetapi jangan mengandalkan kemampuan diri. Andalkan Allah,” pesannya.

Kegiatan Capacity Building ini diharapkan mampu memperkuat integritas, militansi, dan profesionalitas seluruh pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menjalankan amanah dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada santri maupun masyarakat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Di Tahun 2026, Kiai Zuhri Tekankan Pentingnya Manajemen Organisasi bagi Pengurus Pesantren

berita.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan tausiyah kepada para pengurus dalam acara Laporan Pertanggungjawaban Tahunan yang digelar di Aula I Pesantren, Jumat (07/11/2025).

Dalam arahannya, Kiai Zuhri menekankan pentingnya kemampuan manajerial dalam mengelola pesantren agar sejalan dengan visi dan misi lembaga.

“Dalam mengelola pesantren harus memperhatikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi agar tidak lepas dari visi dan misi pesantren,” dawuhnya.

Beliau menjelaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga wadah perjuangan para ulama dalam tafaqquh fiddin—mendalami ajaran agama untuk membekali santri dan umat Islam secara menyeluruh.

“Yang diharapkan adalah terbentuknya masyarakat yang memiliki kesadaran beragama, kader-kader bangsa yang bisa menjadi generasi penerus kita,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri menegaskan dua fungsi utama pesantren, yakni pendidikan dan pengkaderan. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren berperan membekali santri dengan ilmu agama serta wawasan yang menunjang terbentuknya pribadi sholeh dan mushleh—santri yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan masyarakatnya.

Sebagai lembaga dakwah, lanjutnya, pesantren merupakan penerus risalah Nabi Muhammad SAW yang diwariskan melalui para ulama.

“Santri harus bisa menjadi santri yang selamat dan menyelamatkan,” pesan beliau.

Menutup tausiyahnya, Kiai Zuhri berpesan kepada seluruh pengurus agar senantiasa berpegang pada tujuan, visi, dan misi Pondok Pesantren Nurul Jadid, serta tidak menyimpang dari arah perjuangan yang telah digariskan.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi
Editor      : Ponirin Mika

 

Kiai Zuhri Zaini: Surga dan Neraka Ditetapkan Allah Sesuai Tugas dan Kehendak-Nya

www.nuruljadid.net.berita — Dalam pengajian kitab Riyadhus Sholihin yang digelar di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Senin (18/10/2025) sore, KH Moh Zuhri Zaini menyampaikan pesan mendalam tentang perdebatan antara surga dan neraka sebagaimana disebut dalam hadis Rasulullah SAW.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid tersebut menjelaskan bahwa surga dan neraka pernah berdialog mengenai siapa yang akan menjadi penghuni masing-masing. Dalam percakapan itu, kata beliau, keduanya sama-sama menyampaikan pendapat kepada Allah SWT.

“Neraka berkata, ‘Di dalamku ada orang-orang yang sewenang-wenang, orang yang sombong, dan orang yang memaksakan kehendak kepada sesama,’” tutur KH Zuhri Zaini di hadapan para santri..

Sementara itu, lanjut beliau, surga pun berbicara. “Di dalamku adalah orang-orang yang lemah dan miskin, asalkan mereka beribadah dan taat kepada Allah,” ujar Kiai Zuhri mengutip isi hadis tersebut.

Menurut Kiai Zuhri, percakapan antara surga dan neraka ini menunjukkan bahwa keduanya bukan sekadar tempat pembalasan, tetapi juga lambang dari keadilan dan kasih sayang Allah SWT.

“Allah kemudian memutuskan kepada keduanya, bahwa surga adalah bentuk kasih sayang-Nya, sedangkan neraka adalah bentuk siksa-Nya,” jelasnya.

Dalam keputusan itu, Allah menegaskan, “Engkau wahai surga adalah rahmat-Ku yang akan Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki. Dan engkau wahai neraka adalah azab-Ku yang akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki.”

Kiai Zuhri menambahkan bahwa surga dan neraka diciptakan bukan untuk saling menyaingi, melainkan untuk menegakkan keseimbangan antara rahmat dan keadilan Tuhan.

“Surga dan neraka sama-sama punya tugas. Surga menjalankan fungsi kasih sayang, sementara neraka menegakkan keadilan bagi mereka yang melanggar batas,” ujarnya dengan nada tegas.

Ia menekankan, manusia tidak boleh merasa aman dari azab Allah meskipun rajin beribadah, juga tidak boleh putus asa dari rahmat-Nya meskipun pernah berbuat dosa.

“Jalan tengahnya adalah terus beribadah, berbuat baik, dan tidak sombong. Karena yang menentukan tempat kita nanti bukan banyaknya amal semata, tapi rahmat Allah SWT,” terang KH Zuhri.

Dalam kesempatan itu, beliau juga mengingatkan bahaya kesombongan dan kezaliman. Dua sifat inilah yang paling sering menyeret manusia ke dalam neraka.

“Orang sombong menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Sedangkan orang zalim memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan hak sesama,” katanya mengutip makna hadis lain yang senada.

Sebaliknya, kata Kiai Zuhri, orang yang rendah hati, bersabar, dan tetap beribadah dalam keterbatasan justru lebih dekat kepada rahmat Allah dan peluang masuk surga.

“Bukan kekayaan atau kedudukan yang menjadi ukuran, tetapi ketulusan ibadah dan kerendahan hati,” tambahnya.

Pewarta   : Ponirin Mika

Berbuat Baik Itu Wajib, Merasa Baik Itu Sombong

www.nuruljadid.net.berita– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, mengingatkan pentingnya menjaga diri dari perasaan paling suci atau merasa diri paling baik di hadapan Allah. Hal tersebut disampaikan dalam pengajian kitab kuning di sore hari yang bertempat di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Sabtu (04/10/2025).

Menurutnya, setiap manusia harus berhati-hati dalam menilai dirinya sendiri. Perasaan telah menjadi orang baik justru dapat menjadi penghalang dalam meraih ketakwaan yang sesungguhnya. “Jangan pernah merasa diri kalian suci, karena hanya Allah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa,” ujarnya.

KH Zuhri menegaskan, ukuran baik tidaknya seseorang dalam pandangan Islam bukan terletak pada penilaian manusia, melainkan pada ketakwaannya kepada Allah. Ketakwaan itu tercermin dari kepatuhan seseorang dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

“Orang yang bertakwa akan selalu berusaha melaksanakan kewajiban seperti salat, puasa, zakat, dan berbuat baik kepada sesama,” jelasnya. Ia menambahkan, ketakwaan juga tercermin dari sikap menjauhi perbuatan yang dilarang, seperti zina, durhaka kepada orang tua, dan menyakiti sesama.

Lebih lanjut, KH Zuhri mengingatkan bahwa ibadah yang dilakukan dengan tekun tidak serta merta menjadikan seseorang dinilai baik jika tidak disertai akhlak yang mulia. “Kalau ada orang yang rajin salat tetapi tidak baik kepada tetangganya, maka itu bukanlah orang baik,” tegasnya.

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah ritual harus diiringi dengan hubungan sosial yang harmonis. Islam, kata KH Zuhri, tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Ia menggarisbawahi, hanya Allah yang mengetahui sejauh mana kualitas kebaikan seseorang. Manusia tidak memiliki hak untuk mengklaim dirinya sebagai orang baik, karena penilaian sejati hanya milik Sang Pencipta.

“Bisa jadi seseorang rajin beribadah dan berbuat baik kepada orang lain, tetapi ketika dalam hati muncul perasaan bahwa dirinya sudah baik, maka semua itu menjadi tidak berarti,” tambahnya.

Perasaan telah menjadi orang baik, lanjutnya, justru dapat menjerumuskan seseorang ke dalam sifat sombong. Padahal, kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah dan dapat menghapus nilai amal kebaikan.

“Ketika kita mampu berbuat baik, jangan sampai muncul perasaan bahwa kita sudah cukup baik. Teruslah berbuat baik dan hindari keburukan,” pesan KH Zuhri.

Ia menegaskan, berusaha menjadi orang baik tentu diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Namun, merasa diri sudah baik adalah kesalahan besar yang dapat merusak amal itu sendiri.

Sikap rendah hati dan tidak merasa lebih dari orang lain adalah kunci untuk menjaga hati tetap bersih. Dengan begitu, setiap amal kebaikan akan memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah.

“Berbuat baik itu kewajiban, tapi merasa baik itu kesombongan,” pungkas KH Zuhri. Ia berharap santri dan umat Islam senantiasa memperbaiki diri tanpa merasa cukup dan terus berupaya menjadi hamba yang bertakwa.

Pewarta     : Ponirin Mika

Menakar Kemuliaan Manusia: Kiai Zuhri Zaini Terangkan Pentinya Takwa

www.nuruljadid.net.berita–Dalam sebuah pengajian kitab kuning di sore hari, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Moh Zuhri Zaini menerangkan berkait kemuliaan seseorang di hadapan Allah. Senin (28/09/25). Pesan mendalam mengenai hakikat kemuliaan manusia di hadapan Allah SWT itu beliau sampaikan agar seseorang tidak menilai kemuliaan tersebut berdasarkan warna kulit dan harta. Selain itu, Kiai Zuhri menegaskan bahwa perbedaan yang ada di antara manusia—baik agama, suku, ras, bangsa, maupun budaya—bukanlah alasan untuk saling bermusuhan. Sebaliknya, perbedaan itu diciptakan Allah agar manusia saling mengenal dan memahami dengan baik.

Menurutnya, satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah tingkat ketakwaannya. Takwa, jelasnya, berarti sikap tunduk dan patuh sepenuhnya kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

“Status sosial, harta kekayaan, bahkan warna kulit tidak bisa dijadikan tolak ukur kemuliaan. Sekalipun seseorang miskin, berkulit hitam, atau berasal dari bangsa mana pun, jika ia memiliki ketakwaan, maka dialah orang yang paling mulia di sisi Allah,” tegasnya.

Kiai Zuhri pun mengingatkan untuk tidak menilai kemuliaan seseorang hanya dari harta, jabatan, atau penampilan fisik. Hakikat kemuliaan sejati, menurutnya, justru terpancar dari hati yang bersih serta perilaku yang dilandasi iman dan takwa.

Pesan Kiai Zuhri ini menjadi pengingat penting agar masyarakat senantiasa menjunjung tinggi nilai ketakwaan dan tidak terjebak pada perbedaan lahiriah yang seringkali memicu perpecahan.

Pewarta     : Ponirin Mika

Pentingnya Sikap Tawadhu, KH Moh Zuhri Zaini: Jangan Menghargai Hartanya, tapi Hargai Imannya

www.nuruljadid.net.berita – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menyerukan pentingnya umat Islam untuk mempraktikkan sikap tawadhu atau kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa tawadhu harus didasari oleh iman dan ilmu, bukan kekayaan atau harta duniawi.

Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Zuhri dalam pengajian kitab kuning yang dihadiri ribuan santri di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Nurul Jadid, pada Minggu (29/9).

Menurutnya, tawadhu adalah inti dari akhlak mulia, yang diwujudkan dengan merendahkan diri di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.

“Kita berjalan di depan orang harus dengan tawadhu,” ujarnya, menekankan bahwa sikap ini harus terlihat dalam setiap gerak dan tingkah laku.

Kiai Zuhri lantas menjelaskan bahwa motivasi di balik sikap tawadhu sangat menentukan kualitasnya. Ia menegaskan bahwa kerendahan hati yang sejati harus didorong oleh iman yang kokoh, bukan didasari oleh pertimbangan materi seperti harta benda.

“Kalau tawadhu didasari oleh harta, itu bukan tawadhu,” tegasnya. Ia menyayangkan apabila seseorang hanya bersikap rendah hati karena ingin mendapatkan keuntungan dari orang yang lebih kaya, dan mengabaikan orang yang kurang mampu.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri menekankan bahwa dasar utama tawadhu seharusnya adalah ilmu. Seseorang yang memiliki ilmu akan secara alami memiliki sikap rendah hati karena menyadari keterbatasan dirinya.

“Kalau tawadhu didasari oleh ilmu, maka semua orang akan dihargainya, lebih-lebih menghargai kepada orang yang beriman,” jelasnya. Ilmu akan mengajarkan seseorang untuk melihat dan menghargai nilai-nilai kebaikan pada setiap individu.

Ia memberikan contoh nyata dari sikap yang salah. “Jangan menghargai hartanya. Misalnya, kita menghargai pada orang kaya sedangkan pada orang miskin kita tidak menggubris.” Sikap seperti ini, menurut Kiai Zuhri, adalah bentuk kerendahan hati yang palsu dan materialistis.

“Kalau seperti itu, dia tidak menghargai orang, tapi menghargai harta,” lanjutnya. Hal ini menjadi teguran bagi umat agar tidak terjebak dalam jebakan status sosial yang dibangun di atas dasar kekayaan semata.

 

Pewarta   : Ponirin Mika

 

Menjaga Kesucian dari Harta yang Bukan Haknya; Ini Ulasan Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net.berita – KH. Moh. Zuhri Zaini menuturkan sebuah kisah teladan dari Sahabat Anas RA tentang sikap Nabi Muhammad SAW dalam menjaga kesucian diri dari harta yang bukan haknya. Kisah ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam tentang kehati-hatian dalam perkara halal dan haram.

Dalam riwayat tersebut, Nabi Muhammad SAW menemukan sebiji kurma yang terjatuh di jalan. Sebuah peristiwa kecil, namun sarat makna besar bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Ketika melihat kurma tersebut, Nabi SAW bersabda, “Seandainya saya tidak takut terdapat pada kurma itu sedekah, niscaya saya akan memakannya.” Ucapan ini menunjukkan sikap Nabi yang sangat berhati-hati dalam memastikan kehalalan sesuatu yang akan dikonsumsi.

KH. Zuhri menjelaskan, Nabi Muhammad SAW tidak diperbolehkan menerima zakat, meskipun beliau boleh menerima hadiah dari umatnya. Hal ini menjadi pembeda yang sangat jelas dalam aturan syariat Islam.

Menurutnya, kurma yang ditemukan di jalan bisa jadi termasuk bagian dari sedekah atau zakat yang disalurkan kepada fakir miskin. Karena ada kemungkinan itu berasal dari hak orang lain, Nabi SAW memilih untuk tidak memakannya.

Sikap Nabi ini menegaskan betapa pentingnya menjaga diri dari sesuatu yang masih meragukan statusnya. Prinsip kehati-hatian ini menjadi teladan bagi umat Islam untuk tidak gegabah dalam mengambil sesuatu.

KH. Zuhri menambahkan, peristiwa sederhana ini mengajarkan umat agar tidak meremehkan perkara kecil dalam urusan halal dan haram. Sekalipun hanya sebiji kurma, Nabi SAW tetap waspada agar tidak melanggar ketentuan syariat.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sikap Nabi SAW tersebut sejalan dengan sabdanya yang lain: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” Hadis ini mempertegas pentingnya mengutamakan kehati-hatian dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penjelasan ini, KH. Zuhri mengajak umat Islam, khususnya para santri, untuk menjadikan kisah Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup. Kejujuran, kesucian hati, dan kehati-hatian dalam rezeki menjadi fondasi utama dalam membentuk pribadi yang berintegritas.

Dengan demikian, kisah sederhana Nabi menemukan sebiji kurma di jalan menjadi pelajaran besar: seorang muslim sejati harus selalu memastikan bahwa apa yang ia konsumsi dan gunakan benar-benar berasal dari sumber yang halal dan suci.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Ilmu Tanpa Akhlak Tidak Akan Disukai Orang

www.nuruljadid.net.berita– Kebaikan seseorang tidak hanya diukur dari ilmu yang dimilikinya, melainkan juga dari akhlak dan budi pekertinya. Hal itu disampaikan oleh Kiai Zuhri dalam pengajian kitab yang di gelar saban sore di Masjid Jami’ Pondok Pesantrten Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Rabu (17/09/25).

Menurutnya, meskipun seseorang berilmu tinggi, tetapi tidak memiliki akhlak yang baik, maka orang tersebut tidak akan disenangi masyarakat. “Ilmu itu harus dibarengi dengan akhlak. Kalau tidak, akan hilang nilainya,” tegasnya.

Kiai Zuhri juga menegaskan bahwa iman yang tidak diikuti dengan akhlak mulia adalah iman yang belum sempurna. “Iman dan akhlak itu ibarat dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang makna dosa. Menurutnya, dosa adalah segala perbuatan buruk yang dilarang oleh Allah. “Dosa itu bukan hanya sekadar pelanggaran, tetapi juga sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam hati,” ujarnya.

Ia menambahkan, dosa juga membuat hati seseorang tidak tenang. Orang yang berbuat dosa akan merasa gelisah, sekalipun perbuatannya tidak diketahui orang lain.

“Coba saja lihat orang yang melakukan perbuatan buruk, hatinya pasti tidak pernah senang,” kata Kiai Zuhri di hadapan jamaah.

Ia mencontohkan perilaku koruptif yang dilakukan sebagian orang. Menurutnya, meskipun koruptor memiliki banyak harta, tetapi hatinya tidak akan pernah merasa damai.

“Korupsi itu tidak hanya merugikan negara, tapi juga merusak ketenangan batin pelakunya,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Zuhri juga mengisahkan sebuah dialog sahabat dengan Nabi Muhammad SAW tentang makna kebaikan. Sahabat itu bertanya bagaimana cara membedakan antara sesuatu yang baik dan buruk.

Nabi Muhammad menjawab, “Mintalah fatwa kepada hatimu.” Jawaban tersebut, menurut Kiai Zuhri, menegaskan pentingnya peran hati dalam menentukan pilihan moral.

Ia menjelaskan, jika hati merasa tenang ketika melakukan suatu perbuatan, maka perbuatan itu adalah kebaikan. Sebaliknya, jika hati gelisah dan tidak nyaman, maka perbuatan tersebut termasuk keburukan.

“Ukuran hati ini berlaku terutama pada perkara yang belum jelas hukumnya dalam agama,” tambahnya.

Kiai Zuhri menekankan, hati nurani adalah cermin yang paling jujur untuk menilai perbuatan manusia. Karenanya, setiap orang perlu menjaga kebeningan hatinya agar tidak tertutup oleh dosa.

Ia mengingatkan jamaah untuk selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Sebab, setiap perbuatan, baik atau buruk, akan membawa dampak langsung kepada jiwa pelakunya.

“Kalau kita ingin hidup bahagia, maka perbanyaklah kebaikan, jaga akhlak, dan jauhi dosa. Itu kunci ketenangan,” pungkas Kiai Zuhri.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika