Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan Menurut Kiai Zuhri Zaini

nurulajdid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, KH Moh Zuhri Zaini menjelaskan bahwa jika ingin keselamatan dan kebahagiaan maka seseorang harus melakukan dua hal yaitu menuntut ilmu dan disertai akhlakul karimah. Hal itu disampaikan pada acara Grand Closing Orientasi Santri Baru (Osabar), Senin (04/07/2022) di Aula Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Lebih lanjut Kiai Zuhri mengungkapkan, agar ilmu berguna bagi masyarakat maka harus berbekal akhlak yang baik. Sebab ilmu mempengaruhi kepada kepribadian dan karakter yang dilakukan sehari-hari.

“Jika ada orang alim dan berilmu namun karakternya jelek maka ilmunya akan dibuat main main. Contohnya para koruptor, mereka berpendidikan tinggi dan mengetahui korupsi itu hal yang buruk, namun tidak disertai akhlakul karimah, akhirnya korupsi,” ungkapnya.

Menurutnya jika orang memiliki kepribadian yang baik maka hidupnya akan bahagia dan selamat bahkan disenangi oleh masyarakat. Oleh karena itu ilmu tidak akan mengantarkan kepada kesuksesan apabila tidak disertai dengan akhlak yang baik.

“Kunci kesuksesan dan kebahagiaan dunia dan akhirat adalah mempunyai ilmu dan akhlak yang baik,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan bahwa Rasulullah diutus oleh Allah SWT di dunia tujuan utamanya adalah untuk membenahi akhlak. Sebab jika akhlaknya baik maka akan bisa membahagiakan orang lain.

“Ilmu, keterampilan dan teknologi harus berada di tangan orang yang berakhlak sebab jika jatuh kepada orang yang buruk maka akan menjadi alat kejahatan bagi para koruptor dan pembobol bank. Oleh karena itu dalam mencari ilmu kita harus membina akhlak yang baik karena itu adalah kunci kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

“Kunci kesuksesan dan kebahagiaan dunia dan akhirat adalah mempunyai ilmu dan akhlak yang baik,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan bahwa Rasulullah diutus oleh Allah SWT di dunia tujuan utamanya adalah untuk membenahi akhlak. Sebab jika akhlaknya baik maka akan bisa membahagiakan orang lain.

“Ilmu, keterampilan dan teknologi harus berada di tangan orang yang berakhlak sebab jika jatuh kepada orang yang buruk maka akan menjadi alat kejahatan bagi para koruptor dan pembobol bank. Oleh karena itu dalam mencari ilmu kita harus membina akhlak yang baik karena itu adalah kunci kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

 

Pewarta   : Ahmada Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Sumber berita : NU online

Catatan Kuliah Tasawuf Ke-9: Mengenal Maqomat dan Ahwal (2)

Macam dan Tingkatan Kesabaran

Ada tiga macam tingkat kesabaran. Ulama tasawuf berpendapat bahwa yang pertama adalah sabar menghadapi musibah. Tingkatan ini adalah tingkat yang paling rendah dari ketiga tingkatan itu. Sebab musibah datang dari luar rencana kita dan dapat menimpa siapa saja tanpa memandang bulu, baik yang kaya atau miskin. Sabar dalam menghadapi musibah ini harus dengan motif yang berdasarkan pada Allah ﷻ, karena ada juga sabar menghadapi musibah atas dasar motif nafsu, yaitu tidak berdaya dalam menghadapi musibah.

Macam kesabaran yang kedua adalah sabar dalam menjalankan tugas, kewajiban, dan perintah Allah ﷻ. Sabar ini memiliki tingkatan yang lebih tinggi ketimbang sabar menghadapi musibah. Karena tidak semua orang mampu melaksanakan perintah itu, bahkan kebanyakan dari kita tidak melaksanakan perintah-perintah Allah ﷻ. Padahal tidak berat, seperti shalat Subuh yang hanya dua rakaat, tapi rasanya seperti memikul beban satu kwintal untuk mengerjakannya. Hal itu disebabkan karena berlawanan dengan keinginan nafsu, sedangkan kita belum bisa melawan atau mengendalikan nafsu itu. Artinya kita masih belum menganggap shalat sebagai kebutuhan apalagi kesenangan, melainkan menganggap sholat sebagai beban.

Kemudian, kesabaran yang ketiga adalah sabar menjauhi larangan Allah ﷻ. Kesabaran ini, menurut Imam al-Ghazali, adalah tingkat yang tertinggi. Sebab, larangan ini adalah kesenangan bagi nafsu, dan orang yang sudah terlanjur senang itu sulit dicegah. Oleh karena itu, sabar yang ketiga ini hanya dapat dilalui oleh orang yang betul bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah ﷻ.

Untuk menghadapi ketiganya, kita harus bersabar. Tentu bersabar itu dengan motif untuk menjalankan perintah Allah ﷻ, bukan karena sesuatu yang bersifat duniawi. Sabar yang dilakukan karena Allah ﷻ pasti disertai oleh dzikir.

Melatih Diri, Mencapai Kesabaran

Kesabaran bisa bernilai ibadah apabila dimotivasi oleh perintah Allah ﷻ. Dengan itu, perlu kuatnya iman dan menancapnya iman menjadi takwa. Sebab, iman sebetulnya bukan hanya percaya. Iman adalah percaya dan patuh. Sebagaimana kata As Sayyid As Syaikh Husain Afandi al Jisr at Torobalisi pengarang kitab Husunul Hamidiyah (tauhid), bahwa iman adalah mempercayai kepada apa yang disampaikan oleh Nabi ﷺ dari Allah ﷻ kepada kita, lalu kita mempercayainya bahwa itu benar yang disertai dengan ketundukan. Jadi kalau hanya percaya namun tidak tunduk, itu belum dikatakan iman.

Untuk mengendalikan nafsu, tidak cukup hanya dengan ilmu dan kesadaran. Tapi juga harus disertai dengan latihan (riyadhoh). Latihan itu berupa pengendalian diri yang dimulai dari hal kecil, seperti makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Hal ini juga dapat dilakukan dengan berpuasa, sebab target puasa bukan hanya tidak makan dan minum, akan tetapi juga tidak melakukan hal yang dilarang oleh Allah ﷻ. Puasa pun harus dilakukan dengan benar, apabila puasa dilakukan dengan cara yang tidak benar malah justru akan semakin meningkatkan nafsu. Seperti balas dendam makan banyak ketika berbuka puasa.

Pahala kesabaran itu tidak ada hitungannya. Sebagaimana yang terdapat dalam Qur’an Surat Az-Zumar ayat 10: إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Kesimpulan

Hakikat sabar adalah kemampuan mengendalikan diri kita. Motif yang benar dalam bersabar adalah mendasarkan sabar untuk menjalankan perintah Allah ﷻ semata. Sabar itu bukan hanya menghadapi musibah, tapi juga sabar dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, terutama sabar dalam menjauhi hal-hal yang disukai nafsu. Untuk mencapai kesabaran itu harus didasari oleh kesadaran tentang makna hikmah kesabaran. Namun hal itu tidak cukup hanya diraih dengan kesadaran dan pengetahuan, akan tetapi juga harus melalui latihan kesabaran yang dimulai dari hal-hal kecil.

Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Ini Peran Seorang Santri Menurut Kiai Zuhri Zaini

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH. Moh, Zuhri Zaini menjelaskan tentang hakikat seorang santri di acara halal bihalal yang dilaksanakan Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Probolinggo barat. Ahad (11/03/24).

Kiai Zuhri mengulas prihal yang harus dimiliki oleh santri. Ia mengungkapkan bahwa santri harus memiliki amaliah, perilaku dan amaliah ahlusunnah waljamaah.

“Sebab santri tidak mengenal tempat dan waktu. Bahkan secara luas, sebagai seorang santri harus memiliki amaliah, perilaku dan aqidah yang berpaham ahlussunnah,” imbuhnya.

Selain itu, pengasuk ke IV Pesantren Nurul Jadid ini menerangkan tentang manfaat dari halal bihalal. Katanya, halal bihalal adalah ajang silaturrahim dan momentum untuk saling meminta maaf.

“Orang yang ingin dilapangkan rizkinya oleh Allah (bukan berarti kaya), salah satunya dengan merutinkan silaturahmi,” tegasnya.

Sebagai makhluk sosial, Kiai Zuhri mengungkapkan sebuah keniscayaan pasti berinteraksi dengan yang orang lain, kecuali orang yang tidak normal. Maka dalam interaksi itu ada ungkapan yang kemungkinan salah.

“Sebagai manusia memiliki fitrah dan tempat salah dan dosa, ini harus di sadari,. Jika berbuat salah segera meminta maaf dan sebaliknya juga memaafkan kepada orang lain pada dirinya,” imbuhnya.

Beliau memberikan contoh seorang panutan umat manusia, yaitu junjungan Nabi Muhammad Saw. Menurutnya, kiata perlu melihat rumah nabi, dengan kamar terbatas, di samping masjid, tapi pemiliknya berhati luas, maka menjadi luas dan tempat bernaung umat.

“Nabi juga senang menyambung silaturahmi. Melalui aktifitas ini, dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya. Umur itu tidak berarti jumlah tahun. Tapi seberapa banyak kebaikan yang dilakukan. Nabi dalam waktu berumur pendek namu sangat panjang kebaikannya,” tegasnya.

Selain itu, kiai Zuhri menyinggung pentingnya kebersamaan. Kebersamaan dibutuhkan untuk melanjutkan kehidupan. Kebersamaan perlu dirawat dan diperbaharui. kebersamaan tidak hanya menunggu takdir, tapi harus dijemput, diikhtiarkan. kita melihat kebersamaan tumbuh manakala ada musibah. kita tidak perlu menunggu musibah untuk memelihara kebersamaan. Mulailah sejak saat ini. kebersamaan dilakukan dalam wadah yang sempit, yaitu perkumpulan alumni, atau lebih luas yakni jam’iyah Nahdlatul Ulama, atau lebih luas lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, kiai menambahkan, hikmah lain dalam kegiatan silaturahmi dan halal bihalal itu adalah terus menambah ilmu pengetahuan. Hidup ini jangan sekedar dijalani tapi juga dipelajari agar setiap hari senantiasa tambah baik. Sebagaimana sabda nabi, orang yang hari ini lebih baik dengan kemarin adalah orang yang untung, orang yang hari ini sama dengan kemarin rugi, orang yang hari ini lebih buruk hari kemarin binasa. Menjadi orang bermanfaat tidak harus menjadi kiai, ustadz, apa yang bermanfaat dilakukan saja.

“Merawat kebersamaan dilakukan dengan saling menghargai satu sama lain, jangan menuntut dihargai saja, tapi belajar menghargai yang lain,” harapnya.

Kiai Zuhri juga berharap, selain mencari ilmu, tugas lain adalah menyebar ilmu, meski tidak alim, tidak perlu menunggu alim atau kaya untuk berdakwah, kita sebagai santri adalah pewaris nabi. Mewarisi apa? yaitu ilmu untuk diamalkan dan disebarkan. untuk hal ini kita bisa kerjasama dengan alumni pondok pesantren manapun, atau bahkan dengan kelompok yang tidak pernah mondok sekalipun, asalkan memiliki komitmen yang sama.

 

Pewarta: Ponirin Mika

Memahami Konsep Kaya dan Miskin ala Kiai Zuhri

nuruljadid.net – “Kaya itu relatif, miskin juga relatif.” Terang Kiai Zuhri saat mengisi pengajian kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali di Musala Riyadlus Shalihin, Rabu (08/05/24).

Menurut Kiai Zuhri standar penyematan cap kekayaan atau kemiskinan pada seseorang itu berdasarkan pada rasio antara pendapatan dan pengeluaran.

“Orang yang tiap hari memiliki penghasilan 1 juta, tapi kebutuhan hidupnya 2 juta. Maka dia itu miskin, bahkan fakir. Berbeda jika orang yang berpenghasilan 500 ribu, tapi kebutuhannya 200 ribu, maka ia kaya,” paparnya dengan nada halus dan menyentuh hati.

Kemudian, beliau memberi contoh sosok tokoh ulama’ besar dari Sukorejo, Situbondo. Adalah Kiai As’ad Syamsul Arifin, Sang Pahlawan Nasional. Dengan senyum sumringah, Kiai Zuhri menceritakan kisah Kiai As’ad saat bertemu presiden di istana negara.

“Kiai As’ad itu pakaiannya ya begitu terus, sarungan lalu berpakaian sederhana. Bahkan saat ke istana negara untuk bertemu presiden, beliau tetap berpakaian seperti itu. Kalau kita di posisi beliau, pasti risih ya?” tanya beliau membuat kami para peserta tersenyum malu.

Setidaknya, lanjut beliau, kita bisa meneladani Nabi yang hidup sederhana namun mampu melaksanakan kewajiban, bahkan melebihinya.

Antara bermewah-mewah dan sederhana yang berkecukupan, kata beliau, kita harus dapat membedakan. Bermewah-mewah adalah ketika kita melakukan atau mengambil sesuatu yang lebih dari kebutuhan atau keperluan.

“Contoh muslim yang baik adalah ia yang tidak mengambil yang tidak perlu,” imbuhnya.

Jadi, simpulan beliau, dalam berdakwah misalnya, jika dengan sederhana kita sudah bisa melaksanakan dakwah, lantas kenapa harus berlebih alias bermewah-mewah.

Tak berhenti di situ, bak samudera ilmu, beliau memberikan keterangan lebih lanjut tentang urutan “selamat”, “manfaat”, dan “nikmat” dalam mengambil suatu keputusan.

“Ada orang yang berpikir tentang ‘selamat’ dan ‘manfaat’. Ada juga orang yang berpikir ‘nikmat’. Semua itu tidak apa-apa, asalkan ‘selamat’, ‘manfaat’, baru ‘nikmat’. Sebab, jika ‘nikmat’ yang didahulukan tapi tidak ‘selamat’, lantas bagaimana?” jelas beliau.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Zikir Bukan Hanya di Hati dan Lisan, tapi Juga pada Tindakan; Berikut Ulasan Kiai Zuhri Zaini Ketua Majelis Ifta’ JATMAN Kraksaan

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid sekaligus Ketua Majelis Ifta’ Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah Annahdliyah (JATMAN) Kota Kraksaan, KH. Moh. Zuhri Zaini, mengharap hadirnya JATMAN sebagai media silaturahmi merekatkan persatuan di tengah perbedaan thoriqoh.

Menurut Kiai Zuhri, sekalipun thoriqoh kita berbeda, namun salah satu tujuan adanya JATMAN adalah sebagai media untuk melahirkan ketersalingan dalam memahami dan menyatukan.

“Kita memiliki tujuan yang sama, hanya metodenya saja yang berbeda,” imbuhnya saat menyampaikan tausiyah pada acara silaturahmi triwulan JATMAN Kota Kraksaan di Musala Riyadlus Shalihin Pondok Pesantren Nurul Jadid, Selasa (07/05/24).

Menjadi pengurus JATMAN, lanjut Kiai Zuhri, kita harus bersyukur karena telah dipercaya oleh Allah untuk berkhidmat kepada umat melalui JATMAN.

“Ibadah tanpa zikir itu kurang sempurna, begitupun ibadah sosial. Zikir bukan hanya di hati dan lisan saja, tapi juga di dalam tindakan,” terang Kiai Zuhri.

Potret foto pengurus bersama peserta Silaturahmi Triwulan JATMAN Kota Kraksaan.

Pada kesempatan yang sama, Pengasuh Pondok Pesantren Badridduja sekaligus Mudir Jatman Wustho Jawa Timur, KH Musthafa Quthbi Badri sependapat dengan Kiai Zuhri. Harapannya, kita dipilih oleh Allah sebagai pengurus JATMAN untuk mengikuti salah satu thariqoh, dengan bersungguh-sungguh dan menjaga ke-istiqamah-an dalam mengamalkan thoriqoh.

Di samping itu, Kiai Musthafa juga menerangkan tentang keterikatan manusia yang tak bisa lepas dari dua hal, yaitu nilai-nilai agama (religiusitas) dan sebagai makhluk sosial (ijtima’i).

“Oleh sebab itu, sebagai manusia yang akan selalu merindukan Allah, kita harus hidup bersama-sama di dalam perbedaan,” imbuhnya.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi

Editor: Ponirin Mika

Jelang Liburan, Kiai Zuhri Ingatkan Tanggung Jawab Santri di Masyarakat

nuruljadid.net – “Kita adalah duta pesantren di masyarakat, orang akan melihat pesantren dan pondok ini dari perilaku kita saat liburan di kampung halaman nanti.” Petikan taujihat KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, pada acara pengarahan pengasuh menjelang Libur Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1445 H, Senin (25/03).

Ia juga menegaskan bahwa liburan hanya sekadar berganti kegiatan dan suasana. Tanpa harus meninggalkan amaliyah yang istiqomah dilakukan selama di pesantren.

“Ilmu dan pendidikan yang kita dapat di pesantren harus diterapkan di rumah, meskipun tidak sama persis. Misalnya, kalau di sini wiridan dari maghrib sampai isya’. Kalau di rumah misal tidak selama itu. Ga papa. Tapi tolong jangan tinggalkan wiridan itu,” terang beliau.

Sebab, lanjut beliau, kita dipondokkan oleh orang tua, selain untuk menimba ilmu agama, disamping juga ilmu umum. Adalah untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan membina karakter. Sehingga perubahan-perubahan yang lebih baik itu diharapkan oleh orang tua kita.

“Insya Allah kalau kita lebih baik setelah pulang pondok, akan menjadi dakwah tersendiri. Orang-orang akan senang memondokkan putra-putrinya ke pesantren,” imbuhnya.

Dengan demikian, Kiai Zuhri menganjurkan santri untuk disiplin memaksimalkan waktu, selektif dalam laku bergaul, dan menjadi orang cerdas yang dapat mengontrol nafsu.

“Kita harus belajar disiplin menghargai waktu, sebab waktu itu modal kita. Sebagaimana kata Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah: umruka ra’su malika. Umurmu adalah modal hidupmu. Nikmat waktu dan tambahan umur yang barokah ini sangat berharga. Sangat mahal,” terangnya.

Disamping itu, Kiai Zuhri juga menekankan santri agar memanfaatkan waktu untuk belajar bergaul dengan baik terhadap keluarga dan masyarakat. Sebab, dawuh beliau, bergaul itu penting dengan menjaga adab dan tata krama.

“Kita harus bisa mandiri untuk membatasi diri dan memilih lingkungan yang baik. Mungkin kita akan bertemu dengan teman-teman lama, tapi tolong aturan-aturan yang kita dapat di pondok, aturan pesantren dan aturan agama itu terus kita bawa. Tetap jangan melupakan teman-teman kita. Tapi tentu harus ada perubahan setelah kita mondok ini,” jelas beliau.

Pergaulan itu sangat berpengaruh, lanjutnya, telur yang semula tidak asin, kemudian diletakkan di air asin. Sehari saja sudah bisa asin. Itu telur yang tidak punya jiwa seperti kita. Sementara kita, punya jiwa yang mudah terpengaruh.

“Karena itu, jadilah orang cerdas yang bisa mengendalikan nafsunya, bisa membedakan mana baik dan buruk, dan bisa memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk. Sabda nabi, al-kayyisu man daana nafsahu, wa amila limaa badal maut. Jadilah orang cerdas yang bisa mengendalikan nafsu dengan menyadari bahwa dia akan meninggalkan dunia ini dan akan mencari bekal sesudah kita mati di akhirat. Di pondok kita mencari bekal untuk pulang ke rumah. Tapi di rumah itu juga sementara, kita akan pulang lagi ke akhirat,” pungkas beliau.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Ungkap Kiai Zuhri; Agama Itu Pedoman Keyakinan, Hukum dan Akhlak

nuruljadid.net- KH. Moh. Zuhri Zaini memaparkan bahwa, agama adalah bimbingan dan aturan baik tentang keyakinan, hukum dan akhlak. Ini disampaikan beliau pada pengajian khataman kitab Nashaihud Diniyah, Ahad (10/03/24) di Masjid Jami’ Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Menurutnya, ada ajaran pokok dalam agama yaitu keyakinan, hukum dan akhlak. Kita harus mengikuti pedoman yang di sebut agama tersebut.

“Agama yang di ridhoi Allah ialah Islam. Kalau ada orang lain yang beragama selain Islam ya terserah mereka,” katanya.

Apa itu Islam? Kiai Zuhri menjelaskan, Islam itu adalah menyerahkan diri kepada Allah. Artinya; tunduk, patuh serta pasrah.

“Kalau Allah melarang sesuatu tinggalkan, kalau Allah mentakdirkan sesuatu kita harus menerimanya,”imbuhnya.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa, agama islam bersifat universal yang mencakup seluruh manusia. Tidak bersifat lokal yaitu tidak hanya terbatas pada manusia tertentu.

“Agama yang datang dari Allah itu adalah Islam yang berisi tentang ketundukan kepada Allah. Sejak dari nabi Adam, Nabi Isa dan Nabi Ibrahim semua membawa agama Isla. Sedangkan nabi Muhammad menyempurnakan agama islam yang terdahulu untuk disesuaikan dengan kondisi pada saat itu,” tegasnya.

Sebagai umat Islam, Ungkap Kiai Zuhri, kita harus mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Kalau kita mengakui nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah harus dibuktikan dengan mengikuti ajaran-ajarannya.

“Kita sebagai umat Nabi Muhammad harus berman kepada Allah, Malaikat dan rasul-rasul Allah,” pungkasnya.

 

 

Pewarta     : Ahmad Zainul Khofi

Editor        : Ponirin Mika

Di Acara Wisuda Ma’had Aly, Kiai Zuhri Berharap Lahir Keder Ulama dan Bangsa

nuruljadid.net- KH Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid tengah memberikan sambutan di depan wisudawan wisudawati maha santri Ma’had Aly Nurul Jadid Probolinggo dan Al-Majidiyah Pamekasan Program Marhalah Ula sebanyak 98 mahasantri. Acara yang digelar pada hari Selasa (5/3/24) Pagi, dihadiri oleh Dr. KH.Abdul Ghofur Maimoen yang berkenan memberikan orasi ilmiah, sivitas akademika, dan wali maha santri.

Dalam pembukaan sambutan, beliau tidak lupa mencurahkan rasa syukur kepada Allah Swt. atas terlaksananya kegiatan tersebut.

“Wisuda ke-10 Program Ma’had Aly, serta I’dad dan Tahmid yang merupakan kegiatan rutin tiap tahun”.

Tak cukup itu, Kiai Zuhri menambahkan harapannya sembari berucap “Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi pertanda keberhasilan putra-puri kita yang menimba ilmu di Ma’had Aly. Dan mudah-mudahan ilmu yang didapat dijadikan ilmu yang manfaat dan barokah”.

Selain menyampaikan rasa syukur, kiai yang terkenal zuhud ini, dengan kerendahan hatinya menyampaikan rasa terimakasih kepada mudir beserta jajarannya, serta para musrif dan musrifah di lingkungan Ma’had Aly Nurul Jadid.

“Telah kerja keras, tidak kenal lelah. Sehingga bisa mengantarkan para santrinya untuk mencapai satu tahapan pencapaian, yaitu wisuda,” dawuhnya.

Doa juga menghiasi isi sambutannya. Menurutnya, semoga bapak-ibu, mudir, musyrif dan musyrifah bisa istiqamah dalam melanjutkan estafet perjuangan ini dalam membina santriwan santriwati. “Sehingga ke depannya akan banyak melahirkan kader-kader umat, kader-kader bangsa, khususnya (di) dalam bidang agama,” panjatnya.

Apresiasi turut juga disampaikan kepada wali wisudawan wisudawati atas keberhasilannya dalam memotivasi, dan kepada wisudawan-wisudawati sendiri. “Telah bekerja keras, belajar dengan tekun”. Haranya: “Selain bisa mengamalkan dengan berkat ilmunya, juga terus bisa belajar dan belajar”.

Pewarta: Moh. Syafakurrohman
Editor. : Ponirin Mika

Dihadapan Pengurus NU, Kiai Zuhri Ingatkan Pentingnya Merawat Kebersamaan

nuruljadid.net – Menjadi pengurus Nahdhatul Ulama (NU) jangan lupa untuk terus membangun kebersamaan dalam melaksanakan tugas. Kebersamaan itu akan memudahkan setiap tugas bisa dilaksanakan dengan baik.

“Berjamaah atau kebersamaan perintah agama. Ini bukan hanya dalam melaksanakan sholat tapi berjamaah dalam melaksanakan tugas keseharian,” kata Kiai Zuhri saat memberikan tausiyah dihadapan pengurus MWCNU Paiton Probolinggo di Aula Mini Pondok Pesantren Nurul Jadid, Sabtu (02/03/24).

Beliau menambahkan, mengemban amanah harus sebaik-baiknya. Menurut beliau, hal ini bisa didapati jika dikerjakan dengan berjamaah atau kebersamaan. Meskipun hal itu tidak mudah namun bila kita saling memahami dan menghormati sikap dan perbedaan, insya Allah akan bisa tercapai.

“Kalau ada pengurus yang keliru ya minta maaf dan harus dimaafkan,” tegasnya.

Beliau juga menegaskan bahwa, menjadi pengurus NU merupakan orang-orang terpilih dari Allah. Ia berharap agar dalam melaksanakan amanah dari NU semata-mata berharap ridha Allah SWT.

“Kalau kita bekerja untuk Allah maka segala hajat dan kebutuhan kita akan diperhatikan oleh Allah,” imbuhnya.

Selanjutnya, Kiai Zuhri menceritakan perjuangan para pendahulu. Kata beliau, para pendahulu kita mendapatkan pertolongan dari Allah. Hidup mereka tidak mengalami kesulitan karena beliau berjuang untuk Allah dan umatnya.

Tak hanya itu, beliau menjelaskan pentingnya silaturahim. Kata Kiai Zuhri, menyampaikan pentingnya silaturahim adalah untuk memperkokoh ukhuwah diniyah, wathaniyah, insaninyah dan nahdhiyah.

Potret foto bersama pengurus MWCNU Kecamatan Paiton bersama Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini di penghujung acara silaturrahim

Sementara itu, ketua Tanfidziah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Paiton H. Zainul Arifin mengatakan, anjangsana pengurus ke masyayikh pesantren sebagai salah satu upaya di dalam menghadirkan energi positif agar terus mengalir semangat pengabdiannya pada NU.

“NU betul-betul organisasi yang militan butuh semangat dari Masyayikh. Ini dimaksudkan agar semangat pengabdian pengurus MWCNU Paiton sehingga semangatnya terus berkibar,” tegasnya.

Kita datang, ungkap Ustaz Zein, untuk memohon tausyiah atau arahan untuk membangkitkan Ruhul jihad di NU.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi

Editor: Ponirin Mika

Kiai Zuhri Menegaskan Pentingnya Berbakti Kepada Orang Tua

nuruljadid.net – Dalam pengajian kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Jami Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini mengingatkan kita akan besar dan tak terhingga jasanya orang tua terhadap kita. Ibu yang mengandung selama sembilan bulan, menyusui selama 2 tahun, dan menyapihkan anaknya, adalah bukti dari kasih sayang yang tak terbatas.

“Air susu ibu (ASI) melebihi dari susu formula yang diambil dari sapi dan kambing,” ungkap Kiai Zuhri, menyoroti pentingnya peran ibu dalam memberikan nutrisi terbaik kepada anak-anak.

Namun, Kiai Zuhri juga mengingatkan pentingnya menghargai peran ayah, yang meski tidak melahirkan, namun bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarga.

Lebih jauh, Kiai Zuhri menyampaikan pesan agar kita bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan, termasuk nikmat memiliki orang tua yang begitu besar jasanya. “Orang tua memiliki kasih sayang yang Allah titipkan melalui mereka,” tegasnya.

Dengan pengingatan ini, Kiai Zuhri mengajak kita untuk menghargai dan bersyukur kepada orang tua yang telah merawat, mendidik, dan mencintai kita sejak lahir. Semoga kita dapat menghargai dan menyayangi mereka dengan sepenuh hati.

 

Pewarta : Ahmad Zainul Khofi

Editor.    : Ponirin Mika 

 

Dawuh Kiai Zuhri; Tauhid adalah Jalan Keselamatan Hidup

nuruljadid.net- KH. Moh. Zuhri Zaini mengenalkan maqomat dan ahwal dalam dunia tasawuf  pada kuliah yang diselenggarakan Pondok Mahasiswa (Pomas).Kamis (22/03/24). Ia menyampaikan bahwa untuk meraih rahmatnya Allah seorang hamba harus memiliki sifat roja dan khouf. Karena dengan dua sifat ini adalah jalan menuju surganya Allah SWT.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid ini menjelaskan pemahaman mendalam mengenai dua konsep tersebut. Pasalnya, keduanya tak dapat dipisahkan dalam kehidupan, yakni roja’ (harapan) dan khouf (ketakutan). Dengan suara khasnya, Kiai Zuhri mengemukakan secara lugas dan mendalam. Tak hanya itu beliau memberikan analogi yang menggambarkan kedua konsep tersebut dengan jelas.

“Dua hal yang tidak bisa dipisahkan, yakni roja’ dan khouf. Roja’ itu artinya harapan. Sedang khouf itu –kalau arti harfiahnya- ketakutan. Karena kalau roja’ saja dapat mengakibatkatkan optimisme dan kita jadi lengah. Begitupula sebaliknya kalau kita dihantui dengan kekhawatiran, maka kita tidak berani melangkah dalam hidup. Sama dengan orang naik sepeda motor ke Surabaya, kalau dia penakut: Takut kecelakaan, padahal di jalan aman-aman saja. Asal hati-hati insyaallah selamat. Tapi karena takut, akhirnya tidak berangkat,” ungkap KH. Moh. Zuhri Zaini.

Dalam kesempatan tersebut, K.H. Moh. Zuhri Zaini juga berpesan bahwa dalam menjalani kehidupan, kita perlu menyeimbangkan antara khouf dan raja’.

“Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa tauhid merupakan jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan hidup. Namun, meskipun jalannya sudah baik, kita sebagai manusia yang menjalaninya belum tentu aman-aman, sehingga perlu merasa khouf (ada kekhawatiran).

Sebaliknya, jika terperosok dalam dosa-dosa, kita tetap harus memelihara harapan. Dan bagaimana cara untuk memperoleh rahmat dan ampunan Allah SWT? Tentu dengan bertaubat. Bukan hanya berharap ampunan tanpa berusaha meninggalkan dosa-dosa. Itulah yang disebut sebagai harapan yang nyata dan berbuah dalam taubat yang tulus,” Ungkapnya.

 

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Niat dan Amal yang Baik adalah Jalan Menuju Surga; Berikut Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

nuruljadid.net-Sebagian orang beranggapan bahwa amal dapat mengantarkan pada surganya Allah meskipun tidak disertai dengan niat yang baik. Begitupun sebaliknya, ia mengira bahwa dengan niat yang baik tanpa dipraktikkan melalui amal yang baik akan mendapatkan rahmatnya Allah. Dalam hal ini, KH. Moh. Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid memberikan penjelasan berkait salah satu cara jalan menuju surganya Allah SWT.

“Niat dan amal yang baik sebagai jalan menuju surganya Allah,” katanya.

Hal demikian disampaikan Kiai Zuhri saat memberikan kuliah tasawuf ke-8 pada mahasiswa Universitas Nurul Jadid di musalla Riyadhus Sholihin, Kamis (22/02/24).

Selanjutnya, pengasuh ke IV ini menyampaikan bahwa ada dua hal yang harus dilakukan dalam kehidupan ini untuk menuju Allah. Dua hal itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,yaitu roja’ dan khouf. Roja’ artinya secara bahasa harapan sedangkan khouf adalah ketakutan atau kehati-hatian dalam menjalani hidup.

Kiai Zuhri menegaskan, mengapa roja’ dan khouf harus dijadikan sikap dalam menjalani kehidupan. Ia melanjutkan, kalau hanya salah satu diantara maqom itu dilakukan biasanya akan membuat manusia lengah dan sembrono.

“Kalau manusia hanya optimis semata mungkin bisa selamat kalau tidak ada kekhawatiran (khouf) maka ia akan ujub dan sombong,” tegasnya.

Sebab kata Kiai Zuhri, manusia itu tidak bisa menentukan nasibnya sendiri karena itu adalah hal Allah. Namun manusia harus berusaha, beramal karena itu adalah syariat yang harus dilakukan,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa usaha seseorang tidak bisa menentukan nasib secara pasti. Usaha itu menurutnya hanya ikhtiar atau jalan menjemput cita-cita.

Beliau menjelaskan bahwa, takdir itu baru diketahui sesudah terjadi. Kalau belum terjadi manusia tidak akan tau. Pentingnya usaha yang itu adalah sarana untuk mendapatkan takdir yang baik. Karena pertolongan Allah itu akan didapatkan bila dengan amal yang baik.

“Manusia yang berharap mendapatkan rahmat Allah maka ia harus bertaubat (beribadah). Jika ia berharap rahmat-Nya, namun justru melakukan perbuatan maksiat pada-Nya itu hanya omong kosong atau angan-angan,” ungkapnya.

Hal itu, Kiai Zuhri berharap agar kita untuk terus bertauhid, beriman, beramal untuk mendapatkan harapan karena itu jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup serta memelihara sikap khouf kepada Allah.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Ungkap Kiai Zuhri: Pesantren adalah Lembaga Pencetak Kader Bangsa

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini mengungkapkan bahwa adanya pelaksanaan Haul Masyayikh dan Harlah ke-75 adalah sebagai bentuk syukur atas nikmat, ma’unah dan hidayah Allah sehingga Pondok Pesantren Nurul Jadid bisa eksis dan berkembang sampai sekarang. Selain itu, kata Kiai Zuhri, untuk mengenang dan mensyukuri jasa-jasa pendahulu mulai dari pendiri sampai pengasuh-pengasuh yang lain. Karena berkat jasa para almarhumin Pesantren Nurul Jadid bisa berdiri dan eksis sampai sekarang.

“Pesantren bisa eksis dan berkembang untuk mencetak dan melahirkan kader-kader penerus perjuangan bangsa, umat dan masyarakat,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan pada acara Haul Masyayikh, Ahad (11/02/24).

Selain itu, Kiai Zuhri menegaskan bahwa peringatan Haul diharapkan bisa meneladani jejak-jejak perjuangan pendiri dan pengasuh baik melalui pesantren maupun di tengah-tengah masyarakat.

“Haul dan Harlah ini bukan hanya sekedar rutinitas atau seremonial semata, akan tetapi bisa bermakna untuk kita,” imbuhnya.

Melihat perkembangan pesantren, Kiai Zuhri mengungkapkan, telah banyak capaian dari berbagai bidang terutama dalam bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.

“Pesantren Nurul Jadid telah mengirim guru tugas ke beberapa daerah, diantaranya, Sulawesi, Bali dan mancanegara,” imbuhnya.

Bahkan, Ungkap Kiai Zuhri, pesantren adalah lembaga dakwah. Oleh sebabnya, ia berharap santri harus mengajak kepada kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Ia menegaskan bahwa berkembangnya pesantren tidak lepas dari dukungan dan kerja sama semua pihak.

“Kiai Zaini mendirikan pesantren dapat dukungan dari berbagai pihak,” pungkasnya.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Halaqah Fiqih Peradaban II, KH. Zuhri Zaini Ajak Upaya Perdamaian Dari Diri Sendiri Terlebih Dahulu

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini, menyambut hangat seluruh tamu undangan pada acara Halaqah Fiqih Peradaban II pada hari Rabu (20/12/2023) pagi di Aula I Nurul Jadid.

Turut hadir dalam acara, KH. Mitah Faqih ketua PBNU, KH. Zainul Mu’in, KH. Khudri dan 100 peserta tamu undangan lainnya yang berasal dari pengasuh pondok pesantren di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo serta akademisi dari berbagai lembaga pendidikan.

Pada awal sambutannya, Kiai Zuhri, sapaan akrab beliau (Pengasuh PP. Nurul Jadid) mengungkapkan rasa syukur beliau karena telah dipercaya untuk menjadi tuan rumah penyelenggara Halaqah Fiqih Peradaban II.

“Ungkapan syukur sekaligus terimakasih, ahlan wasahlan marhaban bihudurikum, pesantren ini bisa menyelenggarakan halaqah, yang sebetulnya sudah lama kita merindukan adanya halaqoh ini,” tutur beliau.

Lebih lanjut, beliau sedikit menceritakan halaqah masa lalu yang juga pernah bertempat di Nurul Jadid.

“Dulu pada masa kepengurusan RMI masih KH. Wahid, itu sering sekali mengadakan halaqoh yang melibatkan para Masyayikh. Selain silaturrahim, juga untuk menyamakan visi tentang berbagai isu. Ini penting supaya tidak terjadi ikhtilaf, sekalipun Ikhtilaf itu adalah sesuatu yang normal, tapi tidak sampai kepada iftiraq,” imbuh Pengasuh.

Oleh karena itu, KH. Zuhri melanjutkan, sudah selayaknya kita berupaya untuk minimalisir meskipun tidak mampu meniadakan masalah kekerasan dan terorisme tersebut baik dalam kelompok, individu maupun negara.

“Sebab kadang-kadang ada negara yang berdalih, ‘karena mengambil haknya, sehingga menekan bangsa-bangsa lain’. Saya kira perlu adanya pencerahan tentang itu dikalangan kita. Sehingga kita bisa memulai upaya-upaya perdamaian itu dari diri kita sendiri. Dan kita harapkan hal itu bisa terus menyebar ke lingkungan kita, dari yang kecil sampai yang besar (nasional maupun internasional). Sebab kalau kita tidak mulai dari sekarang, kita hanya menunggu, dan harus bersama-sama, itu kapan?,”terang KH. Zuhri.

“Mudah-mudahan melalui halaqoh ini, minimal kita sudah mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap upaya-upaya perdamaian. Dan tidak larut dengan trend-trend dalam menghadapi tahun 2024 mendatang. Dan Mudah-mudahan halqoh kali ini bisa berjalan dengan lancar disertai dengan ridho dan maunah Allah SWT. Aamiin- Aamiin Ya Mujibassailin,” pungkas Pengasuh.

 

(Humas Infokom)

Peringatan Hari Guru Nasional, KH. Moh. Zuhri Zaini: Guru Jadi Penentu Masa Depan Generasi Bangsa

nuruljadid.net – Setiap tanggal 25 November, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Hal itu merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada jasa para guru yang telah mencerdaskan kehidupan bangsa. Genap sudah usianya, selama 78 tahun guru mewarnai “eskalator sosial” di Indonesia sejak disahkan pertamakalinya tahun 1945.

Pada tahun 2023, Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid turut memperingati Hari Guru Nasional dengan menggelar berbagai kegiatan, tidak hanya kegiatan berupa sanjungan, apresiasi dan pujian atas jasa guru, mereka juga menghadirkan Pengasuh Pesantren KH. Moh. Zuhri Zaini untuk menyampaikan nasihat dan renungan guru di pagelaran acara inti pada Sabtu (25/11/23) bertempat di Aula II Pesantren.

Foto bersama Kepala Biro Pendidikan Nurul Jadid K. Moh. Imdad Robbani (kiri) dan Kabid. Kurikulum H. Foni Yusanda (kanan) usai memberikan bingkisan kepada para Guru Teladan

Mengusung tema “Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, acara ini menekankan pentingnya niat guru untuk mengabdi dengan tulus dan ikhlas.

“Menjadi guru merupakan pengabdian yang sangat mulia karena mengajarkan ilmu. Baik dan tidaknya masa depan bangsa atau umat bergantung pada guru dalam mempersiapkan generasi,” dawuh KH. Moh. Zuhri Zaini saat menyampaikan nasihat dalam acara tersebut.

Kiai Zuhri melanjutkan, mendidik itu memang berat. Karena yang dididik itu bukan barang, tapi sama dengan kita yaitu manusia. Apalagi harus menyesuaikan dengan perubahan zaman, media dan teknologi.

“Sebagai seorang guru jangan meninggalkan keimanan dan ketakwaan. Iman, takwa dan perkembangan zaman yang terpadu,” tuturnya.

Menurut beliau, hal terpenting dalam mendidik murid adalah menginternalisasikan prinsip keimanan dan ketakwaan pada diri mereka, sebagaimana kemampuan teknis dan keterampilan adalah hal yang bisa dipelajari.

“Kecerdasan harus diimbangi dengan pendidikan karakter. Koruptor itu bukan orang bodoh, ia pintar tapi tidak bisa mengamalkan ilmunya dengan baik (tidak memiliki karakter baik),” imbuh beliau.

Di samping itu, pada peringatan Hari Guru Nasional ini, Kiai Zuhri berharap agar guru dapat menjadi teladan yang patut dicontoh oleh murid dan tidak melupakan riyadhoh.

“Perilaku riyadhoh itu penting. Perjuangan harus dibarengi dengan permohonan do’a kepada Allah SWT.,” pungkasnya.

 

Reporter: Ahmad Zainul Khofi

(Humas Infokom)