Tanpa Ilmu, Ibadah Hanya Raga Kosong: Refleksi KH. Zuhri tentang Pengenalan Allah
www.nuruljadid.net.beita– Dalam kajian Syarah Hikam yang digelar pada Jumat (19/07/2024), KH. Moh. Zuhri Zaini mengupas makna mendalam dari hikmah Ibnu Atha’illah As-Sakandari tentang sifat-sifat Allah dan hakikat alam semesta. Kajian tersebut menyoroti pentingnya keseimbangan antara hati, akal, dan ilmu dalam mengenal Allah.
Mengawali penjelasannya, KH. Zuhri menyampaikan bahwa Allah memiliki dua sifat yang tampak berlawanan namun sejatinya saling melengkapi, yakni Al-Bathin (Yang Maha Tersembunyi) dan Adz-Dzahir (Yang Maha Nyata). Sifat Al-Bathin menunjukkan bahwa Allah tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, sementara Adz-Dzahir berarti bahwa Allah dapat dikenal melalui ciptaan-Nya.
“Allah itu tersembunyi dari pancaindera, tetapi nyata bagi hati dan akal yang mau berpikir,” jelasnya.
Beliau menegaskan bahwa kedua sifat tersebut bukan bertentangan, melainkan melengkapi. KH. Zuhri memberi ilustrasi, bahwa dua hal hanya dikatakan bertentangan jika terjadi dalam satu waktu dan pada subjek yang sama. Namun dalam sifat Allah, tidak ada pertentangan karena sifat-sifat tersebut muncul dalam konteks yang saling menguatkan.
Sifat-sifat Allah yang lain, seperti Al-Awwal dan Al-Akhir, atau Al-Qabidh dan Al-Basith, menurut KH. Zuhri, juga harus dipahami dalam semangat kelengkapan, bukan pertentangan.
Dalam pemaparannya, KH. Zuhri juga menyampaikan bahwa alam semesta merupakan tanda keberadaan Allah. Namun, tanda tersebut hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang mau merenung dan belajar. “Untuk bisa merenung dengan benar, manusia memerlukan ilmu,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya ilmu sebagai jalan mengenal Allah, bahkan menyebut bahwa belajar adalah kewajiban yang mendahului ibadah. Tanpa ilmu, ibadah kehilangan arah dan makna.
“Orang yang tidak belajar sehingga ia tidak bisa mengenal Tuhannya, maka ia berdosa,” tegasnya.
Menurut KH. Zuhri, hati yang tidak diberi cahaya ilmu akan menjadi gelap dan mudah dikuasai oleh hawa nafsu. Oleh karena itu, pengetahuan – terutama pengetahuan hati – harus terus diasah melalui dzikir, doa, dan perenungan atas ciptaan Allah.
Kajian ini juga mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada pengenalan intelektual terhadap akidah, tetapi menghidupkannya dalam praktik sehari-hari, mulai dari ibadah hingga amal sosial.
Zuhri mengakhiri kajian dengan penekanan bahwa ilmu adalah cahaya hati. Tanpanya, amal bisa menjadi kosong. Namun dengan ilmu, sekecil apa pun amal dapat menjadi bermakna karena lahir dari pengenalan yang benar terhadap Allah.
Kajian tersebut menjadi pengingat penting bahwa perjalanan spiritual dimulai dari belajar, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan hati dan akal yang jernih.
Pewarta : Reval Mhaulana A.
Editor : Ponirin Mika








