Tanpa Ilmu, Ibadah Hanya Raga Kosong: Refleksi KH. Zuhri tentang Pengenalan Allah

www.nuruljadid.net.beita– Dalam kajian Syarah Hikam yang digelar pada Jumat (19/07/2024), KH. Moh. Zuhri Zaini mengupas makna mendalam dari hikmah Ibnu Atha’illah As-Sakandari tentang sifat-sifat Allah dan hakikat alam semesta. Kajian tersebut menyoroti pentingnya keseimbangan antara hati, akal, dan ilmu dalam mengenal Allah.

Mengawali penjelasannya, KH. Zuhri menyampaikan bahwa Allah memiliki dua sifat yang tampak berlawanan namun sejatinya saling melengkapi, yakni Al-Bathin (Yang Maha Tersembunyi) dan Adz-Dzahir (Yang Maha Nyata). Sifat Al-Bathin menunjukkan bahwa Allah tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, sementara Adz-Dzahir berarti bahwa Allah dapat dikenal melalui ciptaan-Nya.

“Allah itu tersembunyi dari pancaindera, tetapi nyata bagi hati dan akal yang mau berpikir,” jelasnya.

Beliau menegaskan bahwa kedua sifat tersebut bukan bertentangan, melainkan melengkapi. KH. Zuhri memberi ilustrasi, bahwa dua hal hanya dikatakan bertentangan jika terjadi dalam satu waktu dan pada subjek yang sama. Namun dalam sifat Allah, tidak ada pertentangan karena sifat-sifat tersebut muncul dalam konteks yang saling menguatkan.

Sifat-sifat Allah yang lain, seperti Al-Awwal dan Al-Akhir, atau Al-Qabidh dan Al-Basith, menurut KH. Zuhri, juga harus dipahami dalam semangat kelengkapan, bukan pertentangan.

Dalam pemaparannya, KH. Zuhri juga menyampaikan bahwa alam semesta merupakan tanda keberadaan Allah. Namun, tanda tersebut hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang mau merenung dan belajar. “Untuk bisa merenung dengan benar, manusia memerlukan ilmu,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya ilmu sebagai jalan mengenal Allah, bahkan menyebut bahwa belajar adalah kewajiban yang mendahului ibadah. Tanpa ilmu, ibadah kehilangan arah dan makna.

“Orang yang tidak belajar sehingga ia tidak bisa mengenal Tuhannya, maka ia berdosa,” tegasnya.

Menurut KH. Zuhri, hati yang tidak diberi cahaya ilmu akan menjadi gelap dan mudah dikuasai oleh hawa nafsu. Oleh karena itu, pengetahuan – terutama pengetahuan hati – harus terus diasah melalui dzikir, doa, dan perenungan atas ciptaan Allah.

Kajian ini juga mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada pengenalan intelektual terhadap akidah, tetapi menghidupkannya dalam praktik sehari-hari, mulai dari ibadah hingga amal sosial.

Zuhri mengakhiri kajian dengan penekanan bahwa ilmu adalah cahaya hati. Tanpanya, amal bisa menjadi kosong. Namun dengan ilmu, sekecil apa pun amal dapat menjadi bermakna karena lahir dari pengenalan yang benar terhadap Allah.

Kajian tersebut menjadi pengingat penting bahwa perjalanan spiritual dimulai dari belajar, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan hati dan akal yang jernih.

 

Pewarta     : Reval Mhaulana A.

Editor        : Ponirin Mika

 

Gus Imdad: Kekayaan dan Kemiskinan Bukan Ukuran Kebaikan

www.nuruljadid.net.berita – Gus Mohammad Imdad Robbani dalam sebuah ceramah agama menyampaikan pelajaran penting dari dua sosok nabi yang memiliki kondisi lahiriah yang sangat berbeda: Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub. Ia menegaskan bahwa kekayaan maupun kemiskinan bukanlah tolok ukur kebaikan seseorang di hadapan Allah SWT.

“Nabi Sulaiman dikenal sebagai nabi yang sangat kaya raya, sementara Nabi Ayyub hidup dalam kondisi miskin dan penuh ujian. Namun, keduanya tetap menjadi hamba Allah yang taat dan dicintai,” ungkap Gus Imdad dalam kajian yang disampaikannya baru-baru ini.

Ia menjelaskan bahwa yang menjadi ukuran kebaikan sejati adalah sejauh mana seseorang tetap kembali kepada Allah, dalam keadaan lapang maupun sempit. “Yang penting bukan kaya atau miskinnya, tapi apakah saat kaya dan miskin itu kita kembali kepada Allah atau tidak,” ujarnya.

Penegasan ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an. Tentang Nabi Sulaiman, Allah berfirman:

“Dan Kami anugerahkan kepada Daud, Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah).”
(QS. Sad: 30)

Sedangkan tentang Nabi Ayyub, Allah juga memujinya dalam kondisi penuh penderitaan:

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah).”
(QS. Sad: 44)

Gus Imdad juga mengingatkan bahwa orang kaya yang bersyukur adalah mereka yang memperoleh harta dari sumber yang halal dan menggunakannya untuk kebaikan, seperti menolong sesama dan menunaikan perintah agama. Sebaliknya, kemiskinan pun bisa menjadi jalan mulia jika dijalani dengan sabar dan tetap bertawakal kepada Allah.

Ia mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa pada hari kiamat, setiap manusia akan ditanya tentang lima hal: umur, ilmu, masa muda, harta – dan untuk harta akan ditanya dua hal, yakni dari mana diperoleh dan untuk apa digunakan.

“Jadi bukan hanya jumlah hartanya, tapi proses mendapatkan dan penggunaannya yang akan dipertanggungjawabkan,” tegas Gus Imdad.

Pesan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk tidak menilai derajat seseorang hanya dari tampilan duniawi seperti kekayaan atau kemiskinan. Yang paling utama adalah ketakwaan dan hubungan seseorang dengan Allah SWT di setiap kondisi hidupnya.

 

Pewarta     : Ahmad Zainul Khofi

Editor         : Ponirin Mika

Dawuh Kiai Zuhri: Kebersamaan Kunci Sukses Pendidikan Pesantren

www.nuruljadid.net.berita-Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda. Melalui pendidikan, tidak hanya pengetahuan yang diperoleh, tetapi juga nilai-nilai moral, kepribadian, serta keterampilan hidup yang menjadi bekal penting bagi setiap individu dalam menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan berkesinambungan menjadi tanggung jawab bersama antara pendidik, orang tua, dan seluruh masyarakat.

Dalam konteks pendidikan pesantren, kebersamaan dan sinergi antara pengasuh, santri, dan wali santri menjadi kunci utama keberhasilan proses pembelajaran. Lingkungan yang kondusif dan dukungan moral dari semua pihak sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang efektif dan bermakna. Dengan semangat kebersamaan, diharapkan pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia serta siap berkontribusi positif bagi masyarakat.

Dalm hal ini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, KH Moh Zuhri Zaini, menegaskan bahwa kesuksesan pendidikan di pesantren sangat bergantung pada kebersamaan antara pengasuh dan wali santri. Sabtu (2/9).

“Tanpa dukungan dari wali santri, kami yang berada di dalam pesantren akan mengalami kesulitan,” ujarnya.

Kiai Zuhri juga mengungkapkan adanya sejumlah perubahan yang akan diterapkan di lingkungan pesantren, mulai dari tata kelola hingga pembinaan santri, demi menciptakan suasana belajar yang kondusif dan efektif. “Perubahan ini penuh dengan kejutan-kejutan yang kami harap membawa kegembiraan, bukan kesedihan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa setiap perubahan membutuhkan pengorbanan, dan penting untuk menyamakan visi dan misi dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Ia juga menekankan pentingnya dukungan doa dan moral dari wali santri. “Doa orang tua sangat mujarab, ibarat doa nabi untuk umatnya. Dengan dukungan tersebut, kami berharap pesantren semakin maju,” tutupnya.

Pewarta      : Ponirin Mika

Beramal Tanpa Ilmu Bagaikan Berjalan dalam Kegelapan, Tegas KH Moh Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net.berita– Dalam kehidupan manusia, akal memegang peranan penting sebagai alat untuk memahami dan menilai segala sesuatu di sekitarnya. Akal tidak hanya sekadar kemampuan berpikir, melainkan juga menjadi cahaya yang menerangi hati agar mampu membedakan mana yang benar dan salah. Namun, seringkali manusia lupa atau mengabaikan fungsi akal tersebut, sehingga hidup berjalan tanpa panduan yang jelas.

Menanggapi hal ini, KH Moh Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menjelaskan bahwa akal sebenarnya adalah cahaya yang menyinari hati manusia.

“Akal adalah cahaya di hati yang dapat membedakan antara haq dan batil. Jadi dalam hati manusia ada perasaan untuk memahami. Akal itu adalah menyinari hati,” ujarnya.

Menurut KH Zuhri, hati nurani merupakan bagian terdalam dari hati yang mampu membedakan antara baik dan salah. Namun, jika akal tidak diikuti atau diasah, seolah-olah cahaya itu padam, sehingga manusia berjalan tanpa cahaya bagaikan di dalam ruangan gelap yang penuh dengan berbagai halangan. Hal itu diungkapkan saat beliau mengisi pengajian kitab Nashoihud Diniyah (04/04/22)

“Ibaratnya seperti di dalam sebuah ruangan ada jagak, ada tembok, karena terang kita berjalan dan bahkan lari pun kita bisa. Tidak terbentur. Tapi kalau gelap atau mata kita dipejamkan tidak menggunakan cahaya maka akan terbentur pada jagak dan tiang tersebut,” jelasnya.

KH Moh Zuhri Zaini juga menekankan pentingnya ilmu dalam beramal. Menurutnya, beramal tanpa ilmu akan berakibat ngawur, baik dalam urusan dunia maupun urusan agama. Ia memberikan contoh sederhana, misalnya seseorang yang ingin sholat tetapi tidak mengetahui tata caranya, maka sholatnya bisa salah.

“Beramal tanpa ilmu itu berbahaya. Paling utamanya amal adalah mengenal Allah. Artinya kalau kita berusaha untuk kebahagiaan hidup, keselamatan dan keberuntungan, maka terlebih dahulu harus tahu ilmunya,” kata beliau.

KH Zuhri menambahkan, ilmu yang paling utama adalah ilmu mengenal Allah, karena dari sana manusia akan tahu arah hidup, asal-usul, dan jalan menuju kebenaran. Dengan begitu, amal yang sedikit tapi disertai ilmu akan bermanfaat, sementara amal tanpa ilmu justru bisa banyak kesalahan bahkan fatal.

Beliau memberikan analogi, “Contoh orang sakit kemudian asal minum obat maka akan berbahaya.”

Pewarta    : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Mengetahui yang Buruk Tapi Melakukannya, Itu Sama Saja Tak Berakal

www.nuruljadid.net.berita – Akal merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal, manusia mampu berpikir, membedakan, dan mengambil keputusan, sehingga menjadikannya makhluk yang istimewa dibandingkan ciptaan Allah yang lain. Namun, di balik keistimewaan itu, tidak semua orang memahami dengan benar bagaimana seharusnya akal digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan-Nya.

Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, KH. M. Zuhri Zaini, memberikan penjelasan yang mendalam tentang salah satu fungsi utama dari akal dalam kehidupan seorang Muslim. Menurut beliau, akal adalah alat yang diberikan oleh Allah untuk membedakan antara yang haq (benar) dan yang batil (salah). Namun demikian, akal tidak akan mampu berfungsi secara maksimal jika tidak disertai dengan sikap wara’, yaitu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang buruk dan meragukan.

Dalam sebuah pengajian kitab nashaihud diniyah di lingkungan pesantren, KH. M. Zuhri menjelaskan bahwa semua larangan Allah pasti mengandung keburukan, dan setiap perintah-Nya sudah pasti membawa kebaikan. Oleh sebab itu, seseorang yang hanya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, namun tetap memilih melakukan keburukan, sama saja dengan orang yang tidak menggunakan akalnya. (04/04/22)

“Apa gunanya kita mengetahui buruk dan buruk, sementara kita tetap melakukan hal yang buruk? Itu sama halnya dengan kita tidak berakal,” ujarnya.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa pelanggaran terhadap syariat oleh orang yang berilmu justru lebih berat hukumnya dibandingkan dengan orang yang tidak tahu. “Orang yang tahu kemudian melanggar syariat Allah itu lebih berat daripada orang yang tidak tahu,” tambahnya.

Penjelasan KH. M. Zuhri ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk tidak hanya berhenti pada pemahaman intelektual semata, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan sikap wara’, sebagai bentuk nyata dari penggunaan akal yang benar.

Pewarta   : Ponirin Mika

Fokus Mengabdi di Pesantren, Allah Cukupkan Kebutuhan Hidup

www.nuruljadid.net.berita – Dalam acara pelantikan pengurus pesantren masa khidmat 2018–2022, Pengasuh Pondok Pesantren, KH. M. Zuhri Zaini, memberikan pengarahan yang menekankan pentingnya keikhlasan dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas kepengurusan. Hal itu disampaikan dihadapan pengurus harian pesantren yang baru dilantik saat itu.

“Pengabdian ini mempunyai nilai ibadah kalau dilakukan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Dan apabila dalam melaksanakan tugas didasarkan pada pengabdian tersebut sudah bernilai ibadah, maka di situ ada keberkahan,” tuturnya.

Beliau juga menyampaikan bahwa pengabdian yang sungguh-sungguh di lingkungan pesantren akan membawa jaminan dari Allah SWT dalam urusan kehidupan.

“Kalau kita fokus dalam mengabdi di pesantren meskipun tidak punya pekerjaan lain selain mengabdi di pesantren, maka Allah akan memberikan fasilitas, yakni memenuhi kebutuhan hidup kita,” lanjutnya.

Pelantikan ini menjadi awal baru bagi para pengurus untuk bekerja dengan niat yang lurus serta komitmen tinggi demi kemajuan pesantren. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran pengurus lama, para ustadz, serta pengurus baru yang bertempat di masjid jami’ Nurul Jadid.

Pewarta    : Ponirin Mika

Tuhan Palsu yang Terlena Kesombongannya: Kajian Tafsir Jalalain oleh Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net.berita – KH M Zuhri Zaini dalam pengajian tafsir kitab Jalalain membaca ayat alqur’an dengan tema kesombongan Fir’aun. Dalam penjelasannya, KH Zuhri menyoroti bagaimana Fir’aun, yang dalam sejarah Al-Qur’an dikenal sebagai penguasa yang angkuh, menganggap dirinya sebagai Tuhan, padahal sebenarnya ia hanyalah manusia biasa.

Kiai Zuhri menjelaskan bahwa Fir’aun tidak hanya menolak keberadaan Tuhan yang Maha Kuasa, tetapi juga secara angkuh mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Sikap ini mencerminkan kesombongan manusia yang menolak kebenaran dan menganggap dirinya setara dengan Sang Pencipta.

Dalam pengajian tersebut, Kiai Zuhri menceritakan kisah Nabi Musa yang semasa kecilnya dirawat oleh istri Fir’aun. Ia menegaskan bahwa Fir’aun adalah sosok kafir yang tidak hanya mengaku sebagai Tuhan, tetapi juga memperbudak Bani Israil agar menyembahnya.

Selain itu, Kiai Zuhri menegaskan bahwa Tuhan sejati bukanlah Fir’aun, melainkan Allah SWT yang Maha Kuasa. Dalam pandangannya, Fir’aun bahkan lebih sombong dibandingkan Iblis karena keangkuhannya yang besar dan ketidakmampuan untuk mengakui keterbatasan dirinya sebagai makhluk.

“Ciri Tuhan sejati adalah Maha Kuasa, Maha Pencipta, pengendali makhluk, pemberi rezeki, serta kuasa menghidupkan dan mematikan. Jika ada yang tidak mampu melakukan hal-hal tersebut, maka sesungguhnya mereka hanyalah Tuhan-tuhanan buatan manusia,” tegasnya.

Beliau menggunakan analogi bangunan megah untuk menjelaskan bahwa setiap ciptaan pasti memiliki pencipta dan pengatur. Ia menyatakan bahwa manusia jauh lebih kompleks dibandingkan bangunan-bangunan megah sekalipun.

“Kalau bangunan punya perancang, pendesain, dan pembuat, masa manusia yang lebih rumit tidak ada yang mengatur? Apalagi alam semesta yang sangat teratur,” ujarnya.

Kiai Zuhri mencontohkan keteraturan alam semesta mulai dari peredaran bulan, matahari, hingga bumi yang tidak pernah bertabrakan. Semua ini menunjukkan adanya Sang Pencipta, yakni Allah SWT.

Fir’aun, menurut KH Zuhri, mempertanyakan keberadaan Tuhan karena kesombongannya yang luar biasa. Ia tidak menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya sebagai makhluk ciptaan.

Dengan penyampaian ini, dapat di petik bahwa Kiai Zuhri menekankan bahwa sikap Fir’aun harus menjadi pelajaran penting bagi manusia agar tidak lupa diri dan mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan Sang Pencipta.

Pewarta  : Ponirin Mika

Ciri Muslim yang Baik adalah Suka Berbagi pada Sesama,” Berikut Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net.berita– KH M Zuhri Zaini menekankan pentingnya sikap berbagi dengan sesama dalam pengajian kitab Riyadhus Sholihin yang digelar di Masjid Jami’ Nurul Jadid pada Sabtu sore (02/08/25).

KH Zuhri mengibaratkan porsi makanan agar selalu disiapkan lebih dari kebutuhan satu orang, yaitu makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang, makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang. Hal ini dimaksudkan agar setiap individu memiliki sikap dermawan dan tidak egois dalam memenuhi kebutuhan diri.

“Kalau kita tidak mau berbagi, itu tidak mencerminkan akhlak sebagai orang Islam,” ujar KH Zuhri. Ia menegaskan agar umat Islam tidak mementingkan diri sendiri, baik saat memiliki sesuatu maupun saat kekurangan. “Jika memiliki kelebihan, jangan enggan berbagi, dan jika tidak memiliki sesuatu, jangan memaksa orang lain,” tambahnya.

KH Zuhri juga menjelaskan praktik hidup sederhana dan kekeluargaan di pondok pesantren, di mana para santri harus memasak sendiri sebelum makan dan biasanya makan bersama-sama secara bergotong royong.

KH M Zuhri Zaini juga menekankan bahwa berbagi bukan hanya sekadar tindakan memberi materi, tetapi lebih kepada menanamkan nilai kedermawanan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kedermawanan merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam dan menjadi cermin keimanan seseorang. Dengan berbagi, seseorang dapat menjaga keharmonisan sosial dan membangun solidaritas antar sesama.

Lebih jauh, KH Zuhri mencontohkan kehidupan para santri di pondok pesantren yang mengedepankan kebersamaan dan tanggung jawab. Proses memasak bersama sebelum makan menjadi momen pembelajaran penting tentang kerja sama dan rasa syukur. Kebiasaan makan bersama ini juga mempererat hubungan sosial antar santri, sekaligus mengajarkan pentingnya rasa saling peduli.

Pengajian yang digelar secara rutin ini merupakan kegiatan rutin saban hari yang bertempat di masjid. Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap melalui pengajian ini, santri dapat terus memperkuat iman dan akhlak, terutama dalam aspek sosial seperti berbagi dan tidak mementingkan diri sendiri. Dengan demikian, nilai-nilai Islam dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, pengajian ini dijadikan sebagai media dakwah untuk masyarakat luas agar KH Zuhri dapat mengingatkan bahwa menuntut ilmu dan belajar dari Nabi Muhammad SAW tidak terbatas pada tempat, karena di manapun bersama Nabi adalah tempat belajar yang berharga.

 

Pewarta    : Ponirin Mika

 

Ingin Rahmat Allah Tapi Tak Beramal? Itu Omong Kosong, Berikut Ulasan Kiai Zuhri Zaini

nuruljadid.net.berita– KH M Zuhri Zaini menegaskan pentingnya tauhid sebagai pondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Dalam pengajian kitab sore di Masjid Jami’ Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa seluruh amal manusia tidak akan berarti tanpa adanya keyakinan kepada Allah sebagai satu-satunya pemberi pertolongan dan rahmat.

“Tauhid itu adalah keyakinan total bahwa yang memberikan pertolongan adalah Allah, Tuhan Yang Maha Esa,” tegasnya.

Menurutnya, manusia tidak bisa mengandalkan amal perbuatannya semata untuk masuk surga.

“Yang memasukkan seseorang ke dalam surga itu bukan amalnya, tapi rahmat dari Allah,” ujarnya.

Namun demikian, Kiai Zuhri menolak anggapan bahwa jika surga hanya bisa dicapai dengan rahmat Allah, maka amal ibadah menjadi tidak penting. Ia menyebut pemikiran semacam itu sebagai logika yang keliru.

“Kalau begitu tidak usah beramal? Nah, ini logika yang salah,” katanya sambil menegaskan pentingnya memahami hubungan antara amal dan rahmat Ilahi.

Amal ibadah, kata beliau, adalah wujud kepatuhan kepada Allah yang dapat mengundang kasih sayang dan rahmat-Nya. Dengan amal, seseorang berupaya untuk menjadi pribadi yang dicintai oleh Allah SWT.

“Orang itu supaya disayang Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya. Kalau seseorang menginginkan rahmat Allah tapi tidak mau beramal, itu omong kosong,” ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa cinta Allah tidak bisa diraih hanya dengan ucapan, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata yang selaras dengan syariat Islam. Dalam hal ini, amal menjadi bukti kesungguhan seorang hamba.

“Jangan berpikir bahwa amal itu tidak penting. Justru amal itulah jalan agar kita bisa dekat dengan rahmat Allah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri juga menekankan bahwa keikhlasan dalam beramal menjadi syarat diterimanya ibadah seorang muslim. Amal yang dilakukan karena ingin dipuji manusia, menurutnya, tidak akan bernilai di hadapan Allah.

Kiai Zuhri kembali mengingatkan bahwa keseimbangan antara keyakinan dan amal adalah kunci utama dalam meraih rida dan rahmat Allah SWT.

“Tauhid tanpa amal adalah omong kosong, amal tanpa tauhid juga sia-sia. Keduanya harus berjalan seiring,” pungkasnya.

Pewarta  : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Kewalian Tidak Diukur dari Kesaktian

nuruljadid.net.berita – KH. M. Zuhri Zaini menegaskan bahwa kewalian seseorang tidak dapat dinilai dari kesaktian yang dimilikinya. Hal ini disampaikan dalam pengajian kitab nashaihud diniyah beliau yang menyoroti pentingnya keimanan, ketakwaan, dan prosedur hukum dalam kehidupan beragama juga berkait dengan kewalian seseorang.

Dalam penjelasannya, Kiai Zuhri menyatakan bahwa kesaktian bukanlah indikator mutlak dari kedekatan seseorang dengan Allah. Menurutnya, kemampuan luar biasa juga bisa dimiliki oleh orang yang tidak baik.

“Tanda kewalian yang sejati adalah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT, bukan karena kesaktian atau kemampuan luar biasa,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa wali sejati adalah mereka yang selalu taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh terkecoh hanya karena melihat hal-hal yang bersifat supranatural.

“Kalau kita menasihati atau mengingatkan seseorang dengan ikhlas, termasuk kepada wali sekalipun, tidak menjadi masalah,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Zuhri mengisahkan tentang seorang wali yang memiliki kemampuan mukasyafah, yakni dapat melihat isi hati seseorang. Suatu hari, wali tersebut menangkap seorang pria yang diyakininya melakukan kejahatan berdasarkan kasyafnya.

Pria itu kemudian dibawa ke pengadilan. Hakim pun menerima laporan tersebut dan mulai memproses perkara sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Namun, saat hakim meminta bukti fisik atas tuduhan tersebut, tidak ditemukan satupun bukti atau saksi yang menguatkan pernyataan sang wali.

Karena tidak ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum, proses peradilan mengalami kebuntuan. Di tengah situasi itu, secara tiba-tiba sang hakim tenggelam ke dalam tanah di hadapan para hadirin.

Peristiwa tersebut mengejutkan semua orang yang hadir di ruang sidang. Dalam kondisi genting, sang hakim berdoa dengan khusyuk, “Ya Allah, tolonglah saya dalam menegakkan syariat-Mu.”

Doa tersebut pun dijawab. Hakim itu berhasil keluar dari dalam tanah. Meski begitu, peristiwa tersebut meninggalkan pelajaran penting terkait keadilan dan tata cara penegakan hukum.

Menurut Kiai Zuhri, kejadian itu menjadi pengingat bahwa dalam menegakkan syariat Islam, prosedur dan bukti tetap menjadi landasan utama.

“Meskipun yang bertindak adalah seorang wali, hukum tetap harus ditegakkan dengan cara yang benar,” tegasnya.

Kiai Zuhri mengimbau umat Islam agar tidak meninggalkan prinsip-prinsip hukum dan keadilan, sekalipun dalam konteks keagamaan.

Pewarta   : Ponirin Mika

Pesan Kiai Zuhri: Sedekah, Sabar, dan Mandiri Kunci Keberkahan Hidup

nuruljadid.net.berita – KH M Zuhri Zaini menyampaikan tiga hal penting yang harus dijaga oleh setiap Muslim dalam pengajian kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Jami’ Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Ahad (13/07/25).

Dalam penjelasannya, Kiai Zuhri menegaskan bahwa sedekah merupakan amalan yang tidak akan mengurangi harta seseorang secara hakiki. Meskipun secara kasat mata harta yang dikeluarkan berkurang, namun manfaat dan keberkahan yang diperoleh justru sangat banyak.

“Sedekah yang dikeluarkan dengan ikhlas tidak akan membuat seseorang menjadi miskin,” jelasnya.

Kiai Zuhri juga mengingatkan pentingnya keberkahan dalam harta. Ia mencontohkan orang yang memiliki banyak harta tetapi tidak bisa menikmatinya karena hartanya tidak diberkahi.

“Orang yang hartanya tidak barokah maka tidak ada gunanya,” tambahnya.

Selain itu, KH M Zuhri mengupas tentang sikap sabar dalam menghadapi kezaliman. Ia menjelaskan bahwa seorang hamba tidak akan dizalimi jika mampu bersabar dan tidak membalas perbuatan buruk orang lain.

“Bersabar adalah tidak membalas perbuatan tidak baik yang dilakukan orang lain kepadanya. Apabila tidak membalas kezaliman, Allah akan memberikan kemuliaan dan memuliakan hamba tersebut,” tuturnya.

Namun jika tidak mampu bersabar, Kiai Zuhri mengingatkan agar membalas kezaliman tidak melebihi batas, karena hal tersebut justru membuat pelaku menjadi zalim.

Selain itu, Kiai Zuhri juga mengingatkan bahwa meminta-minta tanpa alasan terpaksa merupakan sikap yang harus dihindari karena dapat membuka pintu kefakiran. Menurutnya, setiap Muslim wajib berusaha mandiri dengan bekerja keras dan tidak bergantung pada orang lain.

“Kita harus punya jiwa mandiri dan hanya bergantung kepada Allah SWT,” ujarnya.

Dalam kondisi darurat, Kiai Zuhri menegaskan bahwa meminta bantuan kepada orang lain diperbolehkan, namun hal ini harus menjadi pilihan terakhir setelah usaha maksimal dilakukan. Pengajian ini menjadi momentum bagi jamaah untuk merenungkan nilai-nilai keikhlasan dalam beramal, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan pentingnya kemandirian dalam kehidupan.

Pengajian yang dihadiri oleh seluruh santri di masjid ini menjadi pengingat penting tentang nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, dan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.

Pewarta  : Ponirin Mika

Empat Tipe Orang yang Dihadapkan dengan Ujian Hidup. Ini Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

nuruljadid.net.berita Dalam sebuah pengajian sore  di Masjid Jami’ Nurul Jadid, KH M. Zuhri Zaini membahas topik yang sangat relevan mengenai pentingnya ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapn ini mengacu pada hadits Riyadhus Sholihin, beliau menyampaikan bahwa kombinasi antara ilmu dan harta membentuk empat tipe orang yang dihadapkan pada ujian hidup yang berbeda. Kamis (17/07/25).

Menurut KH M. Zuhri Zaini, Allah memberikan harta dan ilmu dengan cara yang berbeda-beda kepada setiap umat-Nya. Ada orang yang diberi keduanya, ada yang hanya diberi salah satunya, dan ada pula yang tidak diberi keduanya. Pembagian ini, menurutnya, menentukan bagaimana seseorang akan menjalani hidupnya dan memilih perbuatan yang akan ia lakukan.

Empat Tipe Orang dalam Islam

  1. Orang yang diberi harta dan ilmu
    Tipe ini adalah contoh ideal dalam Islam, di mana seseorang memiliki kemampuan untuk menggunakan hartanya dengan bijak, berkat ilmu yang dimilikinya. Orang ini akan selalu memilih perbuatan yang baik, seperti menafkahi keluarga, berbagi dengan orang lain, dan berinfaq untuk kepentingan umum.
  2. Orang yang diberi ilmu, tetapi tidak diberi harta
    Meskipun tidak memiliki kekayaan materi, orang ini selalu berusaha untuk berbuat kebaikan sesuai dengan kapasitasnya. Ilmu agama yang dimilikinya memotivasi dia untuk membantu orang lain dan melakukan hal-hal yang bermanfaat meskipun terbatas oleh keadaan ekonomi.
  3. Orang yang diberi harta, tetapi tidak diberi ilmu
    Tanpa ilmu, harta bisa disalahgunakan. Orang ini cenderung menggunakan hartanya untuk kesenangan pribadi tanpa mempertimbangkan hak Allah atau kewajiban sosial, seperti bersedekah atau menolong orang lain. Harta yang dimilikinya justru dapat menjadi ujian bagi dirinya jika tidak digunakan dengan bijak.
  4. Orang yang tidak diberi harta dan tidak diberi ilmu
    Orang dalam kategori ini seringkali berangan-angan untuk melakukan perbuatan buruk jika suatu saat memiliki harta. Tanpa ilmu agama, mereka tidak memiliki panduan yang benar dalam hidup dan cenderung terjerumus dalam dosa.

Ilmu Sebagai Kunci untuk Kebaikan

KH M. Zuhri Zaini menekankan bahwa Allah tidak membutuhkan harta umat-Nya. Sebaliknya, Allah mengatur harta agar dapat digunakan untuk kepentingan orang lain, sebagai bentuk ujian bagi hamba-Nya. Orang yang diberi harta tanpa ilmu berisiko untuk salah dalam mengelolanya, sementara orang yang memiliki ilmu dapat menjadikan harta sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membantu sesama.

“Ilmu adalah harta yang paling berharga. Dengan ilmu, kita tahu cara menggunakan harta untuk kebaikan,” tegas KH M. Zuhri Zaini dalam pengajian yang berlangsung dengan penuh antusiasme dari para jamaah.

Penjelasan ini memberikan pesan yang dalam mengenai pentingnya bersyukur atas ilmu agama yang dimiliki, karena ilmu tersebut akan membimbing umat untuk selalu memilih jalan yang benar, meskipun dalam keadaan kaya atau miskin.

Pewarta     : Ponirin Mika

 

KH M. Zuhri Zaini: Syirik dan Durhaka kepada Orang Tua adalah Kedholiman Terbesar

nuruljadid.net.berita – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. M. Zuhri Zaini, menegaskan bahwa perbuatan syirik dan kedurhakaan kepada orang tua termasuk dalam kategori dosa besar yang paling berat dalam Islam. Hal ini disampaikannya dalam pengajian rutin kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Senin (28/07/2025) sore.

Dalam ceramahnya, Kiai Zuhri menjelaskan bahwa kedholiman adalah tindakan melanggar hak, baik hak diri sendiri maupun hak orang lain. Ia menyebutkan bahwa bentuk kedholiman bisa berupa mencuri, menyakiti orang lain, hingga merusak diri sendiri. “Dholim bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga bisa terjadi kepada diri sendiri,” ujarnya.

Secara khusus, beliau menyoroti kedurhakaan kepada orang tua sebagai bentuk kedholiman yang sangat dikecam. Ia mengingatkan bahwa menyakiti orang tua, baik melalui perkataan kasar, sikap acuh, maupun tindakan fisik, bisa menjadi sebab datangnya murka Allah SWT serta mengundang berbagai kesulitan dalam hidup.

“Banyak orang yang hidupnya tidak tenang, usahanya buntu, doanya tidak terkabul—semua itu bisa jadi karena ia menyakiti dan mendholimi orang tuanya,” tegasnya.

Kiai Zuhri juga menekankan bahwa Islam menempatkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua sejajar dengan kewajiban menyembah Allah. Dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis, perintah untuk menghormati orang tua selalu disebut setelah perintah untuk bertauhid.

Sebagai pengingat, beliau menyampaikan perumpamaan tentang pentingnya kasih sayang dan tanggung jawab, bahkan terhadap hewan. Ia mengisahkan seorang wanita yang masuk neraka karena mengurung seekor kucing tanpa diberi makan hingga mati. “Maka bagaimana nasib orang yang menyiksa dan mendholimi sesama manusia, apalagi orang tuanya sendiri?” ujarnya menggugah.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa syirik merupakan puncak dari segala bentuk kedholiman. “Dosa syirik adalah pelanggaran terbesar terhadap tauhid. Selama manusia tidak syirik, Allah masih membuka pintu ampunan untuk dosa-dosa lainnya,” jelasnya.

Dalam pesan ini, Kiai Zuhri mengajak senantiasa menjaga hubungan baik dengan orang tua, membersihkan hati dari kebencian, dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT sebagai bentuk ketaatan yang hakiki.

Pewarta     : Ahmad Zainul Khofi

Editor        : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Ungkap Sifat Pelit Lebih Berat dari Kikir

nuruljadid.net,berita- KH M Zuhri Zaini menegaskan pentingnya menjauhi sifat kikir dan pelit dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa pelit merupakan sifat yang lebih buruk dibandingkan kikir, karena dapat menjadi penghalang dalam kehidupan sosial maupun spiritual.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pengajian kitab Riyadhus Sholihin yang rutin digelar di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Nurul Jadid setiap sore, termasuk pada Ahad (27/07/25) lalu. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri sebagai bagian salah satu kegiatan kepesantrenan yang wajib diikuti oleh seluruh santri..

“Jangankan dimintai uang, dimintai senyum saja sulit,” ujar KH Zuhri di hadapan para santri. Ia menyoroti betapa beratnya sifat pelit dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana hal itu bisa merusak hubungan antar manusia.

Menurutnya, Islam mendorong umatnya untuk memiliki kepekaan sosial serta semangat berbagi, baik dalam bentuk materi maupun non-materi. “Kebahagiaan, perhatian, senyuman, bahkan doa pun bisa menjadi bentuk berbagi yang mendatangkan pahala,” jelasnya.

KH Zuhri mengingatkan bahwa larangan terhadap sifat kikir ditegaskan dalam ajaran agama, terlebih bagi mereka yang memiliki kelebihan harta. Ia menyampaikan bahwa orang yang kikir akan mudah menghadapi berbagai kesulitan dalam hidupnya.

“Orang yang kikir akan dimudahkan menuju kesulitan, hidupnya tidak akan lapang,” tegasnya. Hal ini, lanjut beliau, menjadi bentuk peringatan bahwa keberkahan hidup tidak hanya terletak pada jumlah harta, melainkan juga pada keikhlasan dalam berbagi.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa sifat kikir sering kali membuat seseorang merasa tidak membutuhkan Tuhan, lingkungan, dan sesama. “Barang siapa yang merasa cukup dan mendustakan balasan kebaikan, maka ia akan merugi di dunia dan akhirat,” katanya.

KH Zuhri juga menekankan bahwa manusia seharusnya mengelola harta, bukan diperbudak oleh harta. “Kalau kita menjaga harta terus-menerus, maka kita menjadi budaknya. Sedangkan ilmu, justru menjaga kita,” ungkapnya di hadapan para hadirin.

Ia mengajak seluruh santri dan umat Islam untuk membiasakan diri berbagi dan memiliki keyakinan bahwa setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT. Menurutnya, berbagi bukan hanya meringankan beban orang lain, tetapi juga menjadi jalan keberkahan hidup.

“Orang yang terbebas dari sifat pelit, maka dia adalah orang yang beruntung,” tutupnya.

Pesan ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh umat untuk hidup lebih peduli, dermawan, dan rendah hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Edoitor    : Ponirin Mika

 

Kiai Zuhri Tekankan Pentingnya Introspeksi Diri untuk Cegah Sifat Sombong

www.nuruljadid.net.berita– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH M Zuhri Zaini, memberikan mengungkapkan tentang pentingnya muhasabah atau introspeksi diri dalam pengajian kitab Riyadhus Shalihin yang digelar di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Selasa (22/07/2

Pengajian tersebut diikuti oleh ribuan santri dan mendengarkan nasihat langsung dari pengasuh pesantren. KH M Zuhri membuka menjelaskan dan mengingatkan betapa pentingnya mengenali dan mengakui kesalahan diri sendiri.

Menurutnya, orang yang tidak mampu melihat kesalahan dalam dirinya termasuk orang yang sombong.

“Orang yang sombong tidak pernah melihat kesalahan dirinya dan tidak mau disalahkan,” tegasnya.

Sifat sombong membuat seseorang sulit berkembang dan terus berada dalam kesalahan tanpa sadar. Padahal, pengakuan atas kesalahan adalah langkah awal menuju perbaikan diri.

KH Zuhri mengajak seluruh santri untuk selalu melakukan muhasabah, yakni introspeksi dan evaluasi diri secara rutin. Dengan cara ini, seseorang dapat membedakan mana yang benar dan salah dalam perilaku dan tindakannya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa terkadang seseorang merasa selalu benar dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Hal tersebut sangat berbahaya karena bisa menghalangi proses belajar dan perbaikan diri.

Pengajian kitab Riyadhus Shalihin di Masjid Jami’ Nurul Jadid wadah menanamkan nilai-nilai kejujuran terhadap diri sendiri dan meningkatkan kesadaran para santri.

Ribuan santri yang hadir tampak serius dan khusyuk mendengarkan penjelasan tersebut, mereka menunjukkan antusiasme dalam menimba ilmu agama serta memperbaiki akhlak.

Pengajian kitab riyadhus Sholihin ini diharapkan dapat membentuk karakter santri yang rendah hati, terbuka terhadap masukan dari orang lain dan selalu berusaha memperbaiki diri demi menjadi insan yang lebih baik.

Pewarta  : Ahmad Zainul Khofi

Editor     : Ponirin Mika