20181028_sumpah pemuda

Hari Sumpah Pemuda | Pendidikan Berkarakter Pemuda Masa Kini Khalifah Masa Depan

Hari sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober menjadi momentum untuk kembali membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan yang terasa semakin luntur di hati rakyat Indonesia khususnya pemuda. Perbedaan yang diperinci telah membuat rasa persatuan dan kesatuan yang dulu pernah membuat bangsa Indonesia merdeka, saat ini seolah berbalik menjadi sarana pemecah persatuan bangsa. Tidak sedikit kasus yang menyebabkan nyawa pemuda melayang hanya karena secuil perbedaan pendapat dan dukungan. Rusuh karena berbeda tim sepak bola, berbeda sekolah, berbeda organisasi, berbeda pilihan pemimpin, berbeda agama dan perbedaan-perbedaan lain yang seharusnya membuat kita semakin dewasa terhadap keberagaman, justru menjadi bibit permusuhan. Bukankah dari dulu perbedaan itu telah ada dan kita tidak pernah terusik dengan perbedaan tersebut, kenapa sekarang hal tersebut seolah menjadi halangan utama dalam bersatu?

Jawaban sederhana dari pertanyaan itu adalah karena semakin lunturnya rasa saling menghormati, menghargai, kerja sama, cinta tanah air, dan berbagai hal yang berkaitan dengan persatuan. Untungnya, pemerintah telah menyadari betul penyebab masalah tersebut dan telah mengambil langkah konkret penanganan yaitu penanaman dan penguatan pendidikan karakter sejak dini, khususnya pada pendidikan formal.

Penguatan Pendidikan Berkarakter

Pendidikan menjadi sarana strategis dalam implementasi pendidikan karakter bangsa mengingat telah memiliki struktur, sistem dan perangkat yang tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai dari pusat hingga daerah. Melalui dunia pendidikan maka pembentukan karakter bangsa dapat dilakukan secara masif dan sistematis khususnya melalui program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Program PPK diharapkan dapat menumbuhkan semangat peserta didik dalam belajar karena sekolah akan mengkondisikan diri sebagai rumah yang ramah bagi peserta didik sebagai tempat tumbuh dan berkembang. Tujuan program PPK adalah menanamkan nilai-nilai pembentukan karakter bangsa secara masif dan efektif melalui implementasi nilai-nilai utama gerakan nasional revolusi mental (religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas) yang menjadi fokus pembelajaran, pembiasaan, dan pembudayaan, sehingga pendidikan karakter bangsa benar-benar dapat memperbaiki perilaku, cara berpikir dan bertindak seluruh bangsa Indonesia.

Sekolah sebagai wadah proses peserta didik harus memiliki program untuk dapat melaksanakan kegiatan yang ber-orientasi kepada ketercapaian nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)  yang harus ditanamkan kepada peserta didik, baik itu dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun pembiasaan budaya sekolah. Guru sebagai ujung tombak pembelajaran di kelas juga harus mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berorientasi kepada PPK khususnya pada lima nilai utama yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, dan integritas.

Lima Nilai Karakter Utama

Menurut Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kemendikbud (2017: 8 – 9) menyebutkan bahwa dimensi nilai religius meliputi tiga relasi sekaligus yaitu hubungan antara individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan), ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Subnilai religius antara lain: damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan dan melindungi yang kecil dan tersisih.

Nilai karakter Nasionalis merupakan cara Berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Adapun subnilai nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri menjaga kekayaan bangsa sendiri, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku dan agama. Contoh konkrit, sekolah dapat menerapkannya dengan membiasakan siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza setiap pagi sebelum memulai pembelajaran, hal ini sangat baik untuk membangkitkan rasa cinta tanah air terhadap diri siswa.

Nilai Karakter Mandiri merupakan Sikap dan Perilaku yang tidak bergantung dengan orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu, untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Sedangkan subnilai mandiri antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh dan tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Nilai karakter Gotong-royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu-membahu dalam menyelesaikan persoalan secara bersama-sama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. Adapun subnilai gotong-royong antara lain saling menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas putusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan dan sikap kerelawanan.

Nilai karakter Integritas merupakan nilai yang melandasi perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral).

Karakter Integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, mellaui konsistensi tindakan dan perbuatan yang berdasarkan kebenaran. Subnilai integritas antara lain kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan dan menghargai martabat individu (terutama kepada penyandang disabilitas)

Kelima nilai utama karakter tersebut bukanlah nilai yang dapat berdiri sendiri, melainkan nilai yang berinteraksi satu dengan yang lain dan berkembang secara dinamis membentuk keutuhan pribadi. Oleh karena itu, guru dalam membelajarkan siswa harus mau dan mampu memberikan prioritas pada penanaman kelima karakter tersebut.

Presiden ke-1 RI, Ir Soekarno pernah berkata, “Beri aku 10 pemuda niscaya  akan ku guncang dunia”. Hal tersebut jelas mengisyaratakan bagaimana kedahsyatan atas kemampuan yang dimiliki pemuda jika dibina dengan benar. Untuk itu, sekolah sebagai tempat utama penanaman dan penguatan karakter, harus rela sedikit bekerja lebih keras demi tumbuhnya pemuda tangguh dan berkarakter untuk Indonesia yang semakin Super.

Penulis : Muhammad Nuris

Editor : Ponirin Mika

Hari Asyura’, Satu Hari Seperti Satu tahun

Balik sebuah nama.

Bulan Muharram merupakan salah satu dari bulan yang dimuliakan (Al-syuharu al-hurum) oleh Allah SWT. Dengan kemuliaanya itu tentunya didalamnya terdapat banyak fadilah-fadilah dan keutamaan yang tidak ada di dalam bulan lainya. Selain doa awal dan akhir tahun, puasa, bersedekah dan sholat sunnah, di dalamnya ada keistimewaan yang lebih dari semua itu, yaitu adanya Yaumul asyura’ atau hari ke 10 di bulan Muharram.

Di dalam bulam Muharram sendiri ada istilah Yaumul asyri (hari sepuluh) da nada istilah yaumul ‘asyir (hari kesepuluh). Dua kalimat tersebut walaupun mirip dan terbentuk dari akar kata yang sama tetapi memiliki maksud dan pengertian yang berbeda. Yaumul asyri artinya hari kesepuluh atau hari saat itu tanggal 10 Muharram yang biasanya disebut hari Asyura’. Sedangkan asyura’ sendiri berasal dari kata asyrun yang artinya sepuluh. Ada pendapat lain mengapa dinamakan asyura’ karena pada hari itu Allah SWT telah memulyakan sepuluh nabinya dengan sepuluh keistimewaan.

  1. Allah telah menerimanya taubatnya Nabi Adam as.
  2. Allah telah mengangkat Nabi Idris as. ke tempat yang mulia.
  3. Allah telah menyelamat Nabi Nuh as. dan kaumnya dari banjir bandang.
  4. Allah telah menyelamatkan Nabi Ibrahim atas api yang membara dari pembakaran Raja Namrudz, kemudian diangkat menjadi Khalilullah (kekasih allah).
  5. Allah telah menerimanya taubatnya Nabi Dawud as.
  6. Allah telah menyelamatkan Nabi Musa as. dan umatnya dari kejaran Raja Fira’un. Pada hari itu juga Fir’aun ditelenggelamkan Allah ke dalam laut merah.
  7. Allah telah menyelmatkan Nabi Yunus as. dan mengeluarkanya dari perut ikan.
  8. Allah telah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman as.
  9. Allah telah mengangkat Nabi Isa ke langit.
  10. Allah memberikan jaminan pengampunan pada Nabi Muhammad Saw baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi.

Selain yang disebutkan diatas ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nama asyura’ disematkan karena menjadi urutan ke-10 dari 10 keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad Saw. Sepuluh keistimewaan itu antara lain:

  1. Bulan Rajab.
  2. Bulan Sya’ban.
  3. Bulan Ramadhan.
  4. Malam lailatul qodar.
  5. Hari Raya Idul Fitri.
  6. Ayyamul asyr atau hari sepuluh.
  7. Hari arofah.
  8. Hari Raya Idul Adha.
  9. Hari Jum’at .
  10. Yaumul asyura’.

Tradisi di Yaumul Asyura’ (Puasa Asyura’)

Dalam kitab irsyadul ibad syekh zainuddin al-Malibari menuliskan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Syaikhan (Bukhari dan Muslim). Dari Ibnu Abbas ra berkata pada saat Rasulullah datang ke Madinah beliau menemui orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa pada hari asyura’, Rasulullah berkata “hari apa ini ..?” Orang Yahudi menjawab ini hari yang baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Kita lebih benar dan lebih utama dari Musa dari kalian. Maka Musa puasa pada hari itu, dan memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk puasa.”

Dalam hadits lain berbunyi:

“Aisyah ra. berkata Dahulu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al Bukhari No 1897)

Melihat beberapa keistimewaan dari puasa asyura’ di atas, sudah sepatutnya kita sebagai orang muslim yang beriman bisa melakukan apa yang sudah dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw , walapun secara hukum puasa tersebut termasuk kategori puasa sunnah. Bagaimana dengan puasa tasu’a? Tidak hanya puasa pada hari kesepuluh saja, alangkah baiknya jika diikuti dengan puasa pada hari sebelumya (tasu’a) hari kesembilan atau sesudahnya dihari kesebelas.

Ibnu abbas berkata “Berpuasalah pada hari asyura’ dan berbedalah dengan orang yahudi. Berpuasalah sehari sebelum asyura’ dan sehari sesudahnya.” (HR Ahmad).

Penulis : Muhammad Nuris.

20180827_artikel-islam-nusantara

Islam Nusantara Sebagai Payung Bangsa

Agama Islam hadir ditengah-tengah masyarakat sebagai agama untuk memberi kedamaian, kesejahteraan dan perlindungan hidup bagi seluruh manusia. Sebagian besar ajaran-ajarannya membahas tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kehidupan baik berkait kehidupan di dunia dan juga kehiduapan akhirat. Dibawa tangan Rasululllah Islam datang untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, bahwa segala tindak tanduk yang merugikan terhadap diri sendiri dan orang lain merupakan prilaku yang tidak terpuji. Dan islam dengan tegas tidak membenarkannya. Terlebih tindakan-tindakan yang menyimpang dari ajaran prnsip-prinsip agama dan keberagamaan. Diakui atau tidak, setelah wafatnya Rasulullah ajaran islam mulai banyak ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan politik, sehingga disana sini ada perpecahan. Politik akan lebih mementingkan aku bukan kita dan mementingkan kami bukan kita, sedangkan ajaran islam lebih banyak berbicara tentang kita dari pada semua itu. Pembahasan ajaran islam tentang kita biasanya menyangkut persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan tidak berbicara tentang persoalan-persoalan hubungan individu dengan Tuhannya, karena persoalan individu dengan Tuhannya merupakan kewajiban personal. Mengapa islam lebih banyak menyinggung persoalan kita, karena islam bukan agama individualistik yang terpaku pada pembahasan holistik. Islam adalah agama sosial, ajaran-ajarannya adalah refresentasi dari gejala-gejala sosial.

Rasulullah sangat memahami akan hal ini, sehingga dalam perjalanan kehidupan rasul selalu mededikasikan dirinya sebagai pelayan ummat dan bangsa untuk kemaslahatan ammah dan menghindarkan diri dalam mengambil kesempatan untuk kemaslahatan diri, keluarga dan bahkan kelompoknya. Tauladan yang dilakukan Rasulullah seyogyanya menjadi cermin bagi masyarakat, terutama masyarakat muslim dalam berfikir dan beramal. Dalam pribadi Rasulullah berisi ajaran islam kaffah dan terwujud secara komprehensif. Maka dengan memahami ajaran islam secarah utuh yang dipraktikkan oleh rasulullah ini, akan membawa kepada islam yang mernafas nilai-nilai universal bukan partikular atau sektoral.

Mengapa Harus Islam Nusantara

Islam Nusantara seringkali dipahami sebagai islam yang keluar dari ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah. Pandangan seperti ini mengira bahwa Islam Nusantara, ajaran baru yang dibuat oleh ulama nusantara, dan dipandang telah menciderai ajaran-ajaran isalam sebagai  wahyu Tuhan. Dan bahkan ada yang mengklaim bahwa yang membuat istilah Islam Nusantara adalah orang yang akan mengkaburkan antara ajaran yang dibawa olen Nabi Muhammad dengan ajaran yang dibawa oleh ulama nusantara. Padahal Islam Nusantara itu ya Islam NU, Islam Ahlusunnah wal Jmaahan-Nahdhiyah. Isinya lama dalam botol baru. Tidak ada yang berubah basis teologinya asy’ari dan almaturidi, basis fiqhnya syafi’i, maliki, hanafi dan hambali dan basis tasawufnya junaid albagdhadi dan imam al-ghazali. Sederhananya adalah islam Nusantara adalah ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah yang di amalkan dalam wadah Nusantara, sebagimana sudah dijalankan oleh NU selama ini. Islam itu agama, yang memiliki nilai-nilai universal tidak terikat ruang dan waktu. Sementara manusia bersifat temporal-partikular, terikat dengan situasi dan kondisi. Dan manusia merupakan mahluk yang berbudaya. Setelah agama yang ajarannya bersifat universal masuk kedalam diri manusia maka ekspresinya beragam sesuai dengan budaya setempat. Islam yang diamalkan oleh bangsa-bangsa lain, baik bangsa yang ada di Timur Tengah dan di Barat, tentu mempunyai karakterstik yang berbeda. Perbedannya ditingkat cabang (furu’) bukan pokok (ushul). Yang pokok bersifat universal dan tidak akan berubah selama-lamanya.

Islam Nusantara bukanlah hal baru (bid’ah) Islam Nusantara adalah pandangan politik yang ber-sintesis Islam dan Kebangsaan. NKRI harga final tidak ada khilafah sebagai sistem politik kebangsaan. NKRI cerminan dari keutuhan ajaran islam yang sebenarnya dan itu harus di jaga oleh anak bangsa yang peduli terhadap keislaman dan kebangsaan. Tidak ada lagi upaya membentuk Negara Islam, walaupun itu bersifat opurtunis. Gerakan Islam Nusantara itu bukan hanya dalam pandangan agama, tetapi juga dalam persoalan sosial-ekonomi (asiyasah wal iqtishadiyah) sehingga fikroh siyasah NU dalam menjaga keutuhan NKRI dari segala ancaman-ancaman ajaran transnasinal adalah Islam Nusantara. Kita tidak menyalahkan islam arab itu keliru, itu benar karena budayanya akan tetapi menjadi kurang tepat apabila meng-arabi-sasi Islam Indonesia. Sebab, kultur Indonesia dan Arab sangat berbeda dan Islam menghargai budaya yang berbeda dimanapun.

Islam Nusantara : Milik Kita bukan Kami

Islam Nusantara adalah nama baru bukan soal isi baru, isinya sudah berpuluh-puluh tahun dipakai sejak puluhan tahun. Bahwa, kontroversi Islam Nusantara terletak pada muatan isi, berarti Islam Nusantara dipakai oleh sebagian orang yang mempunyai kepentingan pragmatis. Islam Nusantara cara menyelamatkan bangsa dari segala sektor, baik berkait sektor agama, politik, sosial dan budaya. Islam Nusantara milik kita bukan kami, kita yang dimaksud adalah masyarakat nusantara tanpa melihat ras, suku dan agama. Karena mision dari Islam Nusantara adalah meneguhkan Islam Nusantara sebagai payung bangsa. Wallahu’alam

 

Oleh : Ponirin Mika, Pengurus Sekretariat PP. Nurul Jadid dan Anggota Community Of Critical Social Research (Commics) Paiton Probolinggo

Santri dan Kaidah Na’at Man’ut Dalam Nahwu

Tepat pada malam senin kemarin (22/06/2018), Pondok Pesantren Nurul Jadid mengadakan agenda yang dilaksanakan tiap tahun dalam rangka menyambut kedatangan Santri baru atau yang biasa kita kenal dengan OSABAR (Orientasi Santri Baru), pada acara tersebut dihadiri oleh beberapa dewan pengasuh dan jajaran pengurus pondok pesantren Nurul Jadid.

Acara tersebut berjalan sangat khidmat dan tertib mulai dari penampilan keempat MC nya yang  memadukan 4 bahasa yang menjadi keunggulan pondok pesantren Nurul Jadid yaitu Arab, Inggris, Mandarin dan juga Indonesia. Begitulah Nurul Jadid dari tahun ke tahun selalu berbenah dan selalu memunculkan inovasi-inovasi baru sehingga menambah daya tarik para calon Santri yang ingin mondok.

Ada beberapa inti dari acara OSABAR tersebut salah satunya sebagaimana yang disampaikan oleh KH Najiburrahman Wahid yang merupakan perwakilan dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadidi, Beliau berdawuh bahwa “adanya OSABAR sebagai wujud dari upaya pondok pesantren Nurul jadid yang ingin memberikan karakter selayaknya orang tua kepada anaknya sesuai dengan tuntunan Trilogi Santri, panca kesadaran Santri, yang intinya adalah mengaji dan membina akhlakul karimah.”

Menjadi Santri tentunya menjadi pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penyandang gelar tersebut, setiap Santri tentu memiliki kesan dan pesan selama ia mondok, lebih-lebih bagi Santri baru tentunya akan merasa asing bahkan tidak nyaman pada kesan pertamanya di pesantren. Ada yang masih belum kerasan karena biasanya hidup dengan orang tuanya kini sendiri dan harus mampu hidup mandiri, disatu sisi ada yang merasa senang karena memiliki teman baru yang datang dari berbagai daerah.

Mondok adalah suatu tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur kita, para kyai, walisongo dan para ulama. Dimana mereka menuntut ilmu dengan pergi ke berbagai daerah yang jauh, bahkan ada yang sampai berjalan kaki. Hal itu tiada lain karena sebatas ghirah untuk tafaqquh fi ddin (memperdalam ilmu agama). Bagaimana dengan kita?

Di salah satu ungkapan Rais Am syuriah NU KH Ma’ruf Amin  beliau mengungkapkan bahwa “Santri adalah orang-orang yang ikut kiai, apakah dia belajar di pesantren atau tidak, tapi ikut kegiatan kiai, manut pada kiai, itu dianggap sebagai Santri walaupun dia tidak bisa baca kitab, tapi dia mengikuti perjuangan para Santri”. Dengan kata lain bahwa seorang Santri adalah penerus perjuangan para Kyai, Masyaikh, dan Guru serta orang-orang yang berjasa dalam mendakwahkan agama Islam.

Dalam salah satu bait alfiyah dikatakan yang namanya na’at adalah pengikut yang menyempurnakan lafaz sebelumnya.

فالنَّعْتُ تَابعٌ مُتِمٌّ مَا سَبَقْ  ¤ بِوَسْمِهِ أوْ وَسْمِ مَا بِهِ اعْتَلَقْ

Artinya: Adapun Na’at adalah Tabi’ penyempurna lafazh sebelumnya dengan sebab menyifatinya (Na’at Haqiqi) atau menyifati lafazh hubungannya (Na’at Sababi). 

Begitupun seorang Santri Ia adalah orang-orang yang ikut sebagai penerus yang menyempurnakan perjuangan para leluhur  dalam mendakwahkan ajaran Islam. Tidak habis sampai disitu seorang Santri harusnya memiliki sifat dan kesamaan dengan para Kyai baik dari aqidah, akhlak, dan pengetahuannya dalam hal ini Kyai adalah man’utnya (yang harus diikuti).

Bagaimana dakwah yang selayaknya untuk diterapkan dan dipraktikkan oleh seorang Santri, dalam salah satu artikel yang dikuip dari website NU Online Ketua umum PBNU Kiai Said Aqil Siradj mengatakan bahwa dakwah yang bagus adalah dakwah yang seperti diajarkan oleh walisongo dengan jalan akulturasi budaya.

“Santri itu jelas, adalah orang-orang yang menindaklanjuti dakwah dengan budaya seperti yang dilakukan Wali Songo. Dakwah seperti itu yang jelas ampuh dan efektif,” tegas Kiai Said Aqil Siradj.  Dakwah dengan cara seperti itu terbukti di dalam sejarah berhasil mengislamkan Nusantara tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. Bahkan raja-raja Nusantara itu menjadi Islam.

“Kita saksikan sekarang, dakwah yang manfaat, dakwah yang lestari, masuk sampai dalam hati, adalah dakwah yang dilakukan secara budaya, bukan dengan teror dan menakut-nakuti. Islam diajarkan dengan menakut-nakuti tidak akan masuk ke dalam hati. Imannya hanya pengakuan bibir belaka sehingga menjadikan potensi munafik, tapi kalau berdakwah dengan budaya, iman masuk ke dalam hati, sehingga akan menjadi mukmin kholis (ikhlas),” pungkasnya.

Begitulah peran Santri yang harus selalu tertanam dalam dirinya (pemilik gelar tersebut), agar gelar bukan hanya sebatas gelar yang sifatnya temporal dan mengedepankan formalitas saja, melainkan gelar yang harusnya berada pada tempat dan koridor yang sesuai, yaitu harus mampu menjadi calon pemimpin, penerus, dan penyempurna para leluhur kita dan tentunya dalam tujuan untuk dakwah ajaran Islam yang digariskan dari al-Quran maupun Hadis Nabi Muhammad SAW.

Terakhir penulis mengucapkan ahlan wasahlan, welcome, dan selamat datang bagi para santri baru dan sudah menjadi bagian keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid, semoga mendapatkan ilmu yang barakah fi ad-din, wa ad-dunya, wa al-akhirah,  dan tentunya bermanfaat bagi diri sendiri lebih-lebih bagi orang lain.

Aku Bangga Menjadi Santri!!!

Oleh: Andy Rosyidin
Penulis adalah alumni MAPK Nurul Jadid yang masih menempuh pendidikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir

 

Wali Tanpa Nama, Tanpa Gelar

Suatu hari, aku bertemu dengan orang gila. ia berbecira tidak  jelas seperti sedang bicara dengan seseorang, dia berbicara dengan lantang. Andaikan mereka tahu bahwa ada wali ‘tanpa nama tanpa gelar’ yang memiliki kemampuan seperti Wali Quthb niscaya mereka akan datang berbondong-bondong mencium tangannya.

Mengais Do’a akan semua masalah dan hajat. Jika Wali tanpa nama tanpa gelar itu telah wafat niscaya mereka akan berlama-lama di makbarohnya, berdzikir, berdo’a dan bermuhasabah diri meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka selama ini. Andaikan mereka tahu jika mereka sami’na wa atho’na kepada wali tanpa nama tanpa gelar niscaya Allah SWT akan angkat derajatnya. Namun sayang sekali, karena wali tersebut tanpa nama dan tanpa gelar kewalian, ia seringkali dilupakan dan diabaikan.

Aku yang dengar suaranya kaget dan bergumam “hahhh? Memang ada ya, wali tanpa nama tanpa gelar yang kemampuannya seperti Wali Quthb? Siapakah wali tersebut? Dengan sedikit rasa takut aku dekati orang tersebut.

Maaf mbah, tadi saya dengar mbah sedang berbicara panjang lebar dan berbicara tentang wali tanpa nama tanpa gelar, siapakah sebenarnya wali tersebut mbah? Mengapa sedemikian hebatnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut hingga kemampuan dan derajatnya hampir menyamai Wali Quthb? Tanyaku kepadanya.

Orang gila tersebut menoleh kearahku dengan mata sedikit melotot lalu berkata, kamu siapa? kamu mendengar perkataanku? Apa pentingnya buatmu tau tentang wali tanpa nama? Jawabnya dengan nada sedikit membentak.

Mendengar suaranya yang bernada tinggi, membuat aku sedikit takut dan gemetar. Maaf mbah, bukan maksud saya menyinggung mbah, nama saya Rizky Firdaus saya seorang muhibbun pecinta para wali-wali Allah. Aku ingin mengetahui siapa wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah sebut tadi. Ungkapku dengan sopan dan santun.

Orang gila itu tertawa terbahak-bahak, “ hahahaha dasar bocah dungu, namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, tentu saja aku tidak tahu nama wali itu dan apa gelar kewaliannya. Kamu ini hanya tampangnya saja kelihatan pintar”. Sindirnya dengan nada mengejek.

JLEEB, terasa menusuk sekali perkataannya dia menyebut aku anak dungu, wajahku merah padam menahan sedikit emosi. Sepertinya aku salah sangka, kukira orang gila tersebut orang yang bisa diajak bicara. Tapi nyatanya dia sebut aku bocah dungu. Lagian siapa yang tahu gelar wali tersebut. Sedangkan wali tersebut tanpa gelar? Sudahlah, sebaiknya kutinggalkan saja dia, akupun mulai membalikkan badan dan membuang muka dengan wajah masam hendak meninggalkan orang gila tersebut.

“Hey Rizky Firdaus” mau kemana?, kamu ini, sudah datang tidak mengucapkan salam, malah pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Baru diejek begitu saja sudah bermuka masam, apakah gurumu tidak mengajarkanmu untuk mengucapkan salam saat datang dan pergi? apakah orang tuamu tidak mengajarkanmu untuk bisa bersabar menahan celaan dan hinaan?”

Langkahku terhenti, astaghfirullah betul sekali, aku tadi lupa mengucapkan salam sebelum memulai obrolan dan aku juga pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Kemudian aku kembali menghampirinya kembali, “Assalammu’ alaikum wr.wb. mbah, mohon maaf mbah atas kelancangan saya karena datang dan pergi tanpa mengucapkan salam, sekali lagi saya mohon maaf” (sambil mencoba meraih tangannya untuk menyalami dan mencium tangannya)”, orang gila itu menepis tanganku seraya berkata “wiss sudah, cukup bilang minta maaf dan tak perlu cium tangan segala”.

Aku hanya ingin tau siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah katakan mbah tadi? Orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata, Sebenarnya wali tersebut begitu dekat denganmu. Aku mulai kebingungan, apaaa?? Aku mengenal wali tersebut? Ia dekat denganku? Lantas  siapa dia?

Orang gila tersebut menjawab, wali tanpa nama dan tanpa gelar itu adalah orangtuamu sendiri. Nah sekarang aku tanya kamu memangnya aku kenal siapa nama orangtuamu dan gelar orangtuamu? yah mana ku tau. aku jadi tambah bingung lalu semakin bertanya-tanya, Orangtuaku? maksud mbah orangtuaku adalah wali tanpa nama dan tanpa gelar? mengapa bisa begitu mbah?. Tanyaku dengan heran.

Oang gila itu mulai menatap mataku dengan tajam, lalu bangkit dari duduknya lalu menjawab, Apakah kau tidak tahu tentang Uwaisy al Qorni? Salah satu sahabat yang tidak pernah bertemu nabi secara fisik? apa yang menyebabkan dia memiliki derajat yang begitu agung hingga namanya terkenal di langit walau dibumi tak ada seorangpun mengenalnya? kau tahu??!!

Sahabat Uwaisy al Qorni berkata bahwa ibunya pernah berkata dan mendo’akannya seperti ini. Anakku Uwaisy, aku tahu hatimu begitu sangat mencintai dan menginginkan bertemu Nabi Muhammad SAW. Namun kini kau datang padaku dengan wajah dirundung sedih karena tak berhasil menemuinya dan kau memilih segera pulang karena memikirkan dan mengkhawatirkan aku ibumu ini nak, dan aku ridho padamu. “Ya Allah kau maha tahu, saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah ridho pada anakku, maka terimalah ridho ku ya Allah  dan ridhoilah anakku Uwaisy“.

Dan apa kau tidak tahu bahwa Shultonul Auliya’ Syeikh Abdul Qodir A–Jailani? Dimasa kecilnya ketika dirampok. Ia berkata jujur tentang kantung emas yang ia bawa, perampok itu heran mengapa ia malah jujur mengatakan kantung emas yang dibawanya padahal setiap orang yang mereka rampok selalu berbohong tentang bawaannya dan berusaha menyembunyikannya dari  dari mereka. lalu kau tahu apa kata Syeikh Abdul Qodir Jailani katakan?

Ketika aku hendak bepergian menuntut ilmu, ibuku berpesan “Wahai anakku. Bila engkau bertemu dengan siapapun maka jujurlah jangan berbohong, sungguh ibu lebih ridho bila engkau jujur sekalipun engkau harus kehilangan harta dan perbekalanmu daripada kau harus kehilangan kejujuranmu.

Lihatlah ibumu, berapa lama dia mengandung dirimu dalam rahimnya? apakah kau sanggup menahan perih dan pedih seperti dirinya. Hanya karena menginginkan kau lahir di dunia, ia  rela bertaruh nyawa agar kau terlahir sehat dan selamat?? apakah kau pernah memikirkan hal ini ?? Itu kuasa Allah SWT yang dianugerahkan kepada ibumu

Sontak diriku terdiam seribu bahasa. Rasanya hati ini ingin menangis sejadi-jadinya. Lalu orang gila itu melanjutkan, kau bangga dan takjub dengan karomah para wali yang kau ketahui tapi, pernakah kau bangga dan takjub dengan karomah ibumu yang telah Allah SWT anugerahkan kepadanya? Dan pernakah kau bangga dan takjub dengan karomah ibumu yang sebagai madrasah pertama dalam hidupmu? Bahkan ia rela meluangkan waktu tidurnya karena kau selalu menangis dan rewel sebagaimana para Auliya’ yang tidurnya sedikit karena memikirkan ummat Nabi Muhammad SAW yang banyak berkeluh kesah.

Apakah kau tak tahu kalau itu adalah bukti karomah ibumu? Tidakkah kau pernah mendengar sabda nabi kita? “Ridho orangtua adalah ridho nya Allah SWT, dan murka mereka adalah murkanya Allah”. Para auliya’, mereka menjadi Wali Quthb dikarenakan ridho dari orangtua mereka, tidakkah kau sadar bahwa do’a dan harapan kedua orangtuamu hampir setara dengan Wali Quthb?”

Astaghfirullooh, mendengar penjelasan orang gila tersebut, tubuhku seakan disambar petir, batinku seakan hancur dan seketika itu aku ingin bertiak sekuat-kuatnya. Orang gila itu berdiri lalu berkata sambil menunjuk kearahku. Lihat dirimu, kelak kau akan jadi seorang bapak, apakah kau tahu karomah bapakmu selama ini? lihat tangannya, lihat punggungnya lihat kulitnya, setiap hari ia membanting tulang agar kau tetap bisa makan, tetap bisa tertawa, tetap tersenyum, ia bekerja siang dan malam hanya untuk mengabulkan segala macam pinta dan rengekmu.

Ketika dirimu kecil sering melakukan kesalahan, dialah orang pertama yang membelamu, ketika kau dalam bahaya dia rela menghadapi bahaya itu untuk menyelamatkanmu. Dia tanggung semua bebanmu dan ibumu dipundaknya. Tidakkah kau sadari bahwa bapakmu itu seorang mujahid fli sablllllah? yang setiap hari dia berjuang menafkahi kehidupanmu bertahun-tahun lamanya, dia bapakmu merupakan sang mujahid kebanggaanmu.

Ya Robb, aku seperti hancur lebur mendengar perkataan orang gila tersebut. Ternyata selama ini  aku yang gila bukan dia, aku melupakan siapa sesungguhnya orangtuaku sendiri, aku melupakan semua yang mereka berikan padaku. Bahkan, aku sering takjub akan pesona dan karomah wali tapi aku tak pernah sadar dengan orangtuaku sendiri yang merupakan wali tanpa nama dan tanpa gelar kewalian.

Sesaat kemudian orang gila itu berlalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun aku mengikuti dia dari belakang ingin tahu kemana dia pergi ternyata dia mendatangi 2 gundukan tanah. Dia duduk disana, seperti orang yang berdialog dan berbicara, namun karena dia menggunakan bahasa daerah yang tidak kumengerti aku tidak tahu apa yang dia ucapkan.

Sesaat kemudian dia tertawa kebahak-bahak sambil senyam senyum dihadapan 2 gundukan tanah yang ternyata itu tanah kuburan, tapi aku tidak tau kuburan siapa itu namun aku berhusnudzon mungkin itu kuburan seorang wali besar, karena dari celoteh orang gila itu sepertinya dia tahu betul tentang wali jadi aku pikir itu kuburan seorang wali.

Begitu mengharukan, sehingga membuatku turut menangis. Aku tak tahu apa yang diucapkannya dalam logat daerah, sambil tangannya mengelus elus kuburan itu, tangisan kian jadi menjadi. Aku sedih bercampur bingung karena tak mengerti dengan bahasa yang diucapkannya. Namun akhirnya aku mengerti mengapa dia menangis dikuburan yang kusangkakan seorang wali, ditengah isak tangisnya aku mendengar dia mengucapkan kalimat “mbok”, lalu pada kuburan yang sebelahnya dia berkata “mbah”, aku jadi ingin menangis sejadi-jadinya ternyata itu kuburan orangtuanya, ternyata itu kuburan seorang wali tanpa nama tanpa gelar.

Kini aku baru faham mengapa orang-orang mulai menganggap gila, sebab dia sering tertawa, menangis meraung, dan bercakap cakap sendiri di kuburan seandainya aku jadi dia mungkin aku akan sama dengannya menjadi gila karena ditinggal pergi oleh kedua orang tunya yang paling ia sayangi.

Aku membalikkan badanku bergegas ingin pulang kerumah untuk menemui kedua orangtuaku yang masih hidup. Dan merasa beruntung masih memiliki wali tanpa nama tanpa gelar yang masih hidup. Sepanjang jalan aku berdoa, “robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaanii shoghiroo..

Muhassabah diri dari : RIZKY FIRDAUS, SJ

Valentine Day, Semoga Kita Tidak Salah Meletakkan ‘Cinta’

Mafhum sebagaimana yang kita ketahui bahwa besok, tanggal 14 Februari 2018 Masehi. kebanyakan anak-anak muda seluruh dunia akan merayakan Hari Kasih Sayang atau yang lebih tenar distilahkan dengan Valentine Day.  Momentum yang sangat di gandrungi oleh para remaja tersebut, nyatanya berawal dari kisah seorang pemuda yang penuh dengan ‘kepedihan’ dan ‘penderitaan’ yang amat sangat memilukan

Namanya Valentine Day ada untuk menghormati Saint Valentine, santo pelindung pecinta yang diyakini, dibunuh pada Februari 14 AD 270. Selama waktu itu, Kaisar Romawi Claudius II membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Roma, Claudius II mengalami kesulitan mendapatkan orang-orang terbaik untuk bergabung dengan militer, Karena percaya pria yang sudah menikah tidak bisa menjadi prajurit yang baik.

Namun, Saint Valentine diam-diam menikahi pasangannya hingga ia tertangkap dan tetap menolak untuk meninggalkan kepercayaan Kristennya, divonis dipukuli sampai mati dengan klub dan akhirnya kepalanya dipotong.

Kisah cinta kasih yang mengalami ‘kepedihan’ dan ‘penderitaan’  yang berujung kematian hampir kita temui dalam setiap kisah mashur. Pertama sebut saja, pasangan kekasih yang legendaris Laila Majnun  kisah yang menceritakan seorang pemuda tampan, gagah dan penuh wibawa yang terkenal di kawasan kabilah bani amir, jazirah Arab,yang bernama Qais. Ia mencintai seorang wanita dari kabilah lain yang tak kalah terkenalnya, yang bernama Laila. Mereka menjalani kisah yang memilukan karena tak di restui oleh orang tuanya, dan pada akhirnya pun berujung pada kepastian hidup yakni kematian

Yang kedua, kisah yang berasal dari daratan Italia Romeo dan Juliet, kisah sepasang kekasih yang penuh dengan lika liku Asmara yang mengharu biru, permusuhan antar kedua orangtu dan pertentangan hubungan asmara yang terjalin. Sampai sang malaikatul maut datang menjemput kedua sejoli, rela mati demi sang kekasih, darinya romansa cinta sejati terdengar, karena hanya maut yang sanggup memisahkan.

Dalam kebanyakan pandangan kita, kisah tiga Romansa di atas (Saint Valentino, Lala Mjnun dan Romeo Juliet) tersebut sudah menjadi barometer bahwa kisah cinta mereka adalah kisah cinta suci yang abadi. Nyatanya tidak demikian, Sebab Rasa cinta merupakan bagian dari pekerjaan hati, dan perasaan tersebut adalah anugerah yang hakikatnya datang dari sang maha luhur Allah Swt, dalam permasalahan cinta, terutama rasa cinta yang timbul antara peria dan wanita, syariat memberikan solusi berupa pernikahan sebagai penyalurnya.

Oleh karenanya perlu kiranya kita cerdas membaca kisah dan mengaplikasikannya, karena ada sabda nabi Seseorang akan di kumpulkan bersama orang yang ia cintai” Dengan meminjam klasifikasi Syahid dalam termenologi Islam, bolehlah kalau kita bagi Cinta itu ke dalam tiga  kategori:

Pertama : syahid/ cinta  fidunya ialah, cinta yang lebih menuruti hawa nafsunya, clubing, perzinaan cinta macam ini lebih kepada kenikmatan duniawi

Kedua : Syahid / Cinta Fil Akhirat ialah Cinta yang di jaga kesuciannya di dunia ini,sampai ia mati. Sebagai mana hadist nabi “Barang siapa jatuh cinta Lantas iya menahannya, hingga ia mati, maka dia mati syahid

Ketiga : syahid / Cinta fidunya wal akhirat ialah, cinta Yang murni dalam hal ini adalah cinta sang manusia Agung, Nabi Muhammad SAW Bin Abdullah Bin Abdullah Muttalib , hal ini di tunjukkan dalam pelbagai kisah tentang kecintaan beliau kepada Ummatnya salah satunya: saat detik detik kewafatan beliau Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang Lemah di antaramu) . Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)”

Dalam momentum kasih sayang 14 Februari 2018 Masehi, semoga kita tidak salah meletakkan cinta.

Penulis: Qowi Alaska

Penulis adalah Anggota KKPS Angkatan 2011. Kini tinggal di Bali.

Pelantikan Pengurus Pesantren Masa Bakti 2018 - 2022

Sang Pengabdi

Bersama ribuan para mahluk suci,

Sabdamu kau untai dalam bait bait,

Merangkai kata sejuta makna,

Menghujam kalbu.

Malam bersejarah di rumah Tuhan,

kau baca janji setia,  dengan khidmat,

Para bibir bibir bergetar,  mengikuti sepatah dua patah,

Bagai Tuhan mengikrarkan pada adam sebagai khalifah bumi.

Kini,  janji itu Ter-amanahkan,

Dalam pundak mereka,  para  khalifah bumi ma’had Nurul Jadid.

Raihlah shirad Tuhan,

Meski gelombang ombak memutar kehidupan,

Bismillah, Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula, Wani’nal nashir. La haula walakuwwata illa billah.

Oleh : Ponirin Mika Sang Pujangga Pesisir, Kepala Sub Bagian Protokuler Nurul Jadid (Panji Pelopor NJ)

Mengenang Kembali Jasa Pahlawan

Malam itu saya berada di warung kopi yang biasa saya kunjungi. Dengan segala harap ingin menikmati kopi yang menggugah, saya pun berangkat ngopi. Tidak lama berselang, saya pun memesan kopi favorit saya. “kok ya dingin sekarang ya mas? Ah pas sekali saya ke sini” ujar saya sengaja membuka percakapan dengan pelayan warung itu. “Iya mas, seperti biasa pasti sepi jam-jam segini”. Seperti biasa pada jam 10 malam ke atas warung itu sepi pembeli. “ah ngopinya damai ya, apa lagi tugas-tugas kuliah pada rampung hehehe” saya mencoba menghiburnya yang tampak kelelahan. “Wah, bakalan damai nih mala mini. Untungnya kita bisa menikmati kopi dengan suasana damai mas”, “kenapa emang mas? Kan emang damai di sini”, “Aku sempet mikir mas, gimana orang jaman dulu waktu perang, kan gak sempet ngopi. Untunglah sekarang gak ada perang mas” ujarnya ke padaku. Percakapannya sedikit menggelitik pikiranku, seandainya kita hidup di zaman perjuangan para pendahulu, maka sulitlah kita untuk menikmati kopi hangat. Jangankan menikmati, menikmati aroma kopi yang baru diseduh pun sepertinya jarang, kalaupun bisa mungkin curi-curi di sela pengintaian para penjajah. Kurang lebih begitulah suasana yang tidak jauh berbeda jika kita gambarkan. Pertanyaannya ialah bisakah kita mempertahankan perjuangan pendahulu kita? Apa yang patut dilanjutkan perjuangan pendahulu? Saya yakin kita pasti paham apa yang harus dilakukan untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita. Di sini, di tempat kita masing-masing, mari seduh kopi atau pun sejenisnya, mari mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan pendahulu dan sekarang agar terpupuk kembali semangat juang yang mungkin sempat kendor.

Kembali pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya, Sutomo, lebih dikenal dengan Bung Tomo, membangkitkan semangat para penduduk Surabaya untuk melawan tentara inggris dan NICA-Belanda. Bisa kita dibayangkan bagaimana suasana kota pahlawan pada saat itu, terlebih lagi dengan tewasnya Bigadir Jendar Mallaby sebagi pemimpin pasukan inggris tewas ditangan salah satu pemuda Surabaya. Singkat cerita, dengan semangat yang berapi-api kota Surabaya pun dapat diambil alih kembali. Pahlawan memiliki perannya masing-masing sesuai dengan tuntutan zaman. Sama halnya dengan para guru kita terdahulu dan sekarang yang tak jemu-jemu untuk mengarahkan, mendidik serta mengingatkan kita untuk salalu berada di jalan yang benar. Mendidik dan membimbing bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dilakukan. Mengurus ribuan santri dengan watak yang berbeda, mengurus keluarga dan beliau sendiri merupakan hal yang sangat sulit dilakukan tanpa kesabaran yang amat tinggi. Bagaimana tidak, mengisi pengajian setiap harinya, menghadiri undangan lalu masih dengan urusan-urusan kompleks lain yang harus diselesaikan sudah menjadi tanggung jawab yang besar. Dengan ilmu yang telah diberikan, kita terbebas dari kebodohan dan terbekali nilai-nilai keislaman yang telah diajarkan. Profil orang-orang besar alumni PP. Nurul Jadid adalah salah satu keberhasilan beliau dalam mendidik kita sebagi santrinya. Kontribusinya tidak sebatas hanya di kalangan santri, tetapi juga terhadap masyarakat luas. Semenjak kedatangan Kh. Zaini Mun’im, peradaban masyarakat tanjung dan sekitarnya membuahkan hasil yang signifikan. Begitu banyak jasa para guru kita yang patut diapresiasi, diingat dan yang terpenting ialah dilanjutkan. Tongkat estafet haruslah berlanjut dan tidak semenah-menah terputus. Sebagai santri beliau, semangat juang yang telah dicontohkan haruslah dilestarikan. Mari merenungkan kembali apa yang telah beliau beian terhadap kita dan hal yang terpenting ialah bermanfaat ditengah masyarakat.

 

Oleh : Iqbal Al – fardi (Alumni LPBA PP. Nurul Jadid)

Cerpen : 我和英雄

“对于你这个为了一个充满意义”自由“的尖叫而牺牲了身体灵魂的国家战斗机。我们感谢你,因为你的汗水,因为你的血滴,为你所有的无私的牺牲,我们可以呼吸新鲜空气的自由。现在,我们的肩膀,国家的接班人肩上沉重的负担。我们能承受吗?我不知道

有一天,大都会中学的学生在学校跟着每周的仪式。

阿布拉:早上好,现在是典礼吧?

巴斯蒂安:呃,好像是这样,但是,如果埃芒是这个仪式,纪念巴东?

阿布拉:嗯,我们如果我们对教师阿贾克泰米尔语? 带着极大的好奇和表情,阿布拉的精神立刻传到了他的校园里的一位老师身上。

 阿布拉:早上好! (问候微笑)

老师:是啊,儿子,怎么了,有没有帮助尼萨母亲?

阿布拉:呃,像这样,现在阿曼的仪式是什么顺序?

老师:你不知道,现在是11月10日的英雄节(布阿斯点点头,阿布拉的眼睛睁大了)。

阿布拉:对不起,阿布拉忘了现在是一个非常重要的青年旗帜仪式 之后,阿布拉告诉所有学校的朋友们,在这次举行的国旗仪式中,因为每一次举行仪式,他们都随随便便地走着,而没有活下去。没有人会预料到这个仪式是戏剧性的。从一个声音嘶哑的行头领导开始,以调节混乱的混乱行列。升旗官员不得不尽最大努力撤回国旗,因为绳索超重,滑轮生锈。当祈祷的读者念念灵魂古兰经的圣经时,

结束突然爆炸的仪式参与者的呼喊 九点半左右,仪式结束了。一个半小时,他们站在阳光下,确实是热的,但没有人为了纪念那些愿意牺牲的英雄而昏过去了。瓦罗擦了擦脸上的汗滴。这次仪式充满了障碍 但是不是等待他的更重的障碍?荷兰人和日本人不再是敌人,不是英国人,也不是葡萄牙人,而是他们自己的国家。懒惰,傲慢,自卑,绝望,现在必须打。

典礼仪式结束后,学校院子里响起了回家的钟声。到家,阿布拉沉默片刻,做白日梦!然后询问并告诉他今天对祖父的感受。

 阿布拉:我记得他和祖父的记忆。有一次,我小的时候,爷爷把她带到他曾祖母的坟墓里。祖父曾经说过,他的曾祖父是一名资深的战士。阿布拉对英勇的英雄故事印象深刻,

问道:“爷爷,现在没有殖民者去打,怎么成为英雄?” 他的祖父笑了一下,用智慧的语言写下答案。

爷爷:“阿布拉”,(他的祖父轻轻说出他的小名字)“每个人都是英雄。父母是他们的儿女的英雄。为他的学生英雄的主人。英雄医生为他的病人…“。 如果阿布拉?“(阿布拉用一张好奇的脸打断了祖父的解释

他的祖父又笑了起来:“你是你自己的英雄。履行自己的职责,争取自己的权利,全心全意爱护这个国家。就是这样,够了“ 不知不觉中,阿布拉笑着对祖父的话说。他如何看待皱纹的面貌,如何重新听取国家英雄式的英雄故事,从Kapitan Pattimura抵抗的开始到独立后保卫国家的故事。 之后,他拿起一把差不多3米高的竹子,把祖父的红白旗子搭配在他家门前, 他盯着整齐地安在屋前的红白沙卡。国旗飘扬在蓝天和灿烂的阳光下。 慢慢地,他把右手举到眉毛上,向遗产旗帜致敬。他不在乎他身边的神奇人物或社会的面貌,因为他爱这个国家。

Terjemahan Bahasa Indonesia :

AKU DAN PAHLAWAN

Untukmu wahai pejuang bangsa, yang telah korbankan jiwa raga demi pekikan sebuah kata penuh makna ‘merdeka’. Kami ucapkan terima kasih, karena cucuran keringatmu, karena tetesan darahmu, karena segenap pengorbananmu yang tanpa pamrih, kami dapat menghirup segarnya udara kebebasan. Kini, beban berat di pundak kami, para penerus bangsa. Dapatkah kami memikulnya? Entahlah.

Suatu hari siswa-siswi di sekolah menengah pertama di tengah kota metropolitan  mengikuti kegiatan upacara mingguan di sekolah mereka.

Abra : Selamat Pagi, sekarang upacara ya ?

Bastian : Emmm sepertinya iya deh, tapi kalau emang iya, upacara kali ini memperingati pa dong ?

Abra : emmm gimana kita kalau kita tamyak ke guru-guru aja ?

Dengan sangat penasaran dan ekspresi semangat Abra langsung mendatangi salah satu guru di halaman sekolahnya.

Abra : buk, selamat pagi ! (Menyapa dengan penuh senyuman)

Bu Guru : Iya nak, ada apa, apakah ada yang nisa ibu bantu ?

Abra : Emmmm  begini bu, sekarang kan upacara emang dalam rangka apa bu ?

Bu Guru :  Masak Kamu nggk tahu, oalahhhh sekarang itu adalah hari pahlawan tanggal 10 november (Bu Asti mengangguk, sementara mata Abra langsung terbelalak.)

Abra :  maaf ya buk, Abra lupa bahwa sekarang adalah upacara bendera yang sangat penting bagi kalangan pemuda

Setelah itu abra memberitahu semua temen-temen sekolah untuk bersemangat dalam mengikuti upacara bendera kali ini, karna setiap uapacara bendera, mereka mengikutinya dengan biasa saja tanpa menghayatinya. Tak ada yang menyangka, upacara kali ini akan berlangsung dramatis. Diawali dengan salah satu pemimpin barisan yang suaranya sampai serak demi mengatur barisan yang kacau balau tak karuan. Dilanjutkan petugas pengibar bendera yang harus mengerahkan setiap tenaga demi menarik bendera karena talinya super berat dan katrolnya berkarat. Diakhiri tangisan peserta upacara yang meledak tiba-tiba saat pembaca do’a melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an penggugah jiwa

Sekitar pukul setengah sembilan, upacara usai. Satu setengah jam lamanya mereka berdiri diguyur sinar mentari, panas memang, tapi tak ada seorang pun yang pingsan demi mengenang jasa pahlawan yang telah rela berkorban. Varo mengusap tetes-tetes keringat yang membasahi wajahnya. Upacara kali ini benar-benar penuh rintangan

Tapi, bukankah rintangan yang lebih berat sedang menantinya? Bukan lagi Belanda dan Jepang yang jadi musuh, bukan pula Inggris dan Portugis, melainkan diri mereka, bangsa mereka sendiri. Rasa malas, kesombongan, rendah diri, rasa putus asa itulah yang kini harus diperangi.

Setelah uapacara selesai, dan bell tanda pulang sekolah pun terdengar seluruh halaman sekolah. Sampainya dirumah, Abra Diam sekejap dan  melamun !!  lalu bertanya dan menceritakan apa yang telah ia rasakan hari ini pada kakeknya.

Abra : Aku jadi teringat kenangannya dengan  kakek. Dulu, saat aku masih kecil, kakek mengajaknya ke makam  buyutnya. Kakek pernah bilang  buyutnya adalah veteran pejuang. Abra yang begitu terkagum-kagum dengan kisah-kisah heroik kepahlawanan lantas bertanya, “Kakek, sekarang kan sudah tidak ada penjajah yang harus dilawan, bagaimana caranya menjadi pahlawan?”

Kakeknya tersenyum sekilas, sebelum menyusun jawaban dalam kata-kata bijak.

Kakek : “Abra”, (kakeknya berujar lembut memanggil nama kecilnya) “Setiap orang itu pahlawan. Orang tua adalah pahlawan bagi putra-putri mereka. Guru pahlawan bagi murid-muridnya. Dokter pahlawan bagi pasiennya…”.

Kalau Abra?”, (Abra menyela penjelasan kakeknya dengan wajah penasaran

Kakeknya tersenyum lagi, “Kamu pahlawan bagi dirimu sendiri. Laksanakan kewajibanmu, perjuangkan hakmu, cintai negeri ini dengan sepenuh hati. Itu saja, sudah cukup”

Tak sadar, Abra tersenyum mengingat petuah-petuah kakeknya. Betapa ia rindu menatap wajah keriput itu, betapa ia ingin kembali mendengar kisah-kisah heroik pahlawan bangsa, dari mulai perlawanan Kapitan Pattimura hingga kisah mempertahankan negara setelah merdeka.

Setelah itu dia pun mengambil bambu yang tingginya hampir 3 meter dan memasangkan bendera merah putih milik kakeknya, dan mentancapkan di depan halam rumahnya,

Ditatapnya sang saka merah putih yang terpasang rapi depan rumah. Bendera itu berkibar-kibar ditiup angin, tampak begitu gagah dilatari langit biru dan matahari yang bersinar cerah.

Perlahan, ia angkat tangan kanannya ke depan alis, menghormat pada sang bendera pusaka. Ia tak peduli pada tatapan heran orang-orang ataupun masyrakat di sekitarnya karena ia cinta negeri ini.

 

Oleh : Abdul Haris (Siswa Kelas XII Unggulan Bahasa SMA Nurul Jadid)

nasi tabheg belum matang

TABHEG: Cara Santri Eratkan Silaturahmi

TABHEG atau nasi Tabheg merupakan sajian makanan khas Jawa Timur, khususnya di daerah Tapal Kuda, berupa nasi yang dimasak dalam gulungan daun pisang. Tidak ada literatur yang menyebutkan asal-muasal pertama kali munculnya cara pembuatan nasi Tabheg itu, juga dari mana istilah itu muncul, namun ada kemungkinan istilah Tabheg berasal dari akar yang sama dengan Tabak dalam bahasa Indonesia yang berarti talam (tetampan) besar tempat menghidangkan makanan, sebab nasi Tabheg disajikan di atas alas daun pisang yang sangat lebar sehingga bisa dimakan bersama-sama.

Nasi Tabheg populer di kalangan pesantren Jawa Timur sebagai makanan khas santri yang biasanya dibawa oleh orang tuanya saat mengirim anaknya di pesantren. Dengan cara pembuatan dan pengemasan yang baik, nasi tabheg bisa tahan sampai dua hari.

Dengan banyaknya bisnis catering dan cara penyajian makanan yang semakin modern, saat ini nasi Tabheg memang sudah banyak digantikan dengan nasi kotak. Namun tetap saja di kalangan santri nasi, Tabheg menjadi makanan khas favorit yang punya daya tarik tersendiri. Itu disebabkan karena para santri biasa menikmati nasi Tabheg sebagai sarana mengikat persahabatan dan kebersamaan. Satu gulung nasi Tabheg bisa mencapai panjang 2 meter dan dapat dinikmati oleh 10-15 orang. (mbu)

Penasaran bagaimana resep membuat Nasi Tabheg? Silahkan juga dibaca tulisan menarik tentang resep membuat nasi Tabheg.

nasi tabheg hari santri nasional 2017 di Nurul Jadid

Tabheg Bukti Santri Membela Kaum Pinggiran

Tabheg dan santri tidak bisa dipisahkan, berbicara santri tentu akan ada cerita Tabheg di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Penyebutan Tabheg itu digunakan pada nasi yang dibungkus memakai daun pisang dan diikat memakai tali. Sepintas asumsi saya memaknai filosofi daun, adalah simbol bendera NU, meski di ikat memakai tali, sebagai bukti satu ikatan ideologi pancasila, ikatan selajutnya adalah berpegang teguh untuk menjaga NKRI.

Sebuah kebahagiaan yang tak terhingga, apabila santri dikirim oleh orang tuanya, karena dipastikan ada thabek yang dibawa. Santri yang setiap hari makan nasi dan lauk pauk seadanya, akan makan menu nasi Tabheg bersama dengan santri lainnya.

Tabheg adalah simbol kesederhanaan, kebersamaan dan kemandirian. Mentradisikan kesederhanaan, kebersamaan dan kemandirian adalah sebuah ajaran nilai yang selalu di gaungkan oleh Pondok Pesantren. Kesederhanaan, kebersamaan dan kemandirian upaya mewujudkan mental sejati seorang santri, dalam memaknai prilaku keagamaan yang baik.

Karena seorang santri tidak hanya belajar nahwu, shorrof, tafsir dan kitab kuning yang lain. Namun, ia belajar bagaimana menjadi manusia paripurna dalam segala sektor. Pengetahuan yang dimiliki tanpa diwujudkan dalam sikap dan mentality yang baik, maka tidak akan berarti.

Makan Tabheg bersama santri 10 ribu di Nurul Jadid, sebagai langkah memberikan gambaran, bahwa kemenangan tidak akan di dapatkan kecuali dengan kebersamaan.  Kita ingat kemenangan anak bangsa dari penjajah karena semangat kebersamaan terpatri didalam dadanya. Kini, bangsa kita tercerai oleh kepentingan kelompok, kepentinhan yang tanpa memberikan kontribusi nyata pada bangsa. Resolusi jihad mampu membakar semangat para pejuang negeri, hingga tak ada satu langkah pun, mundur dari memperjuangkan kemerdekaan. Karena kebersamaan menjadi kekuatan yang luar biasa

Tabheg, reaktualisasi kebersamaan, kesederhanaan serta kemandirian

Santri akan teruji kesetiakawanannya, apabila makan Tabheg bersama temannya, tidak hanya sendirian. Mengapa demikian? Keseruan akan tercipta meskipun terkadang satu Tabheg tidak cukup untuk beberapa santri, kekenyangan perut bukan orientasi dari makan Tabheg bersama.  Sifat bakhil sangat tidak disukai oleh agama, lebih lebih jika ada sesuatu yang bisa untuk berbagi dengan yang lain. Biasanya, santri yang pelit akan sedikit mempunyai teman bahkan bisa juga selalu di permainkan oleh temannya sendiri dengan barang barangnya sering hilang. Santri harus jauh dari kekikiran, sebab dia adalah pencari ilmu dan ilmu akan mudah di dapat apabila cahaya Allah diberikan padanya.

Sangat tidak elok sikap kikir ini dipelihara, karena identitas santri akan terganggu dengan hal tersebut

Tabheg sekarang mulai luntur, sejalan dengan arus globalisasi, padahal wali santri apabila mengirim santri dengan Tabheg adalah bukti keberpihakan pada rakyat kecil.  Di beberapa pasar baik pasar tanjung, pasar paiton juga pasar lainnya, penjual daun mulai tidak laku. Kapitalisme sudah merongrong keakar akar rusaha rakyat kecil. Pengusaha plastik sudah menguasai ekonomi dan penjual daun sering tertindas. Santri harus cermat pada setiap langkah para penjajah ekonomi rakyat kecil. Karena keberadaan santri akan tampak jika keberpihakannya pada pada rakyat benar benar kuat. Dulu, kiai abdul wahid zaini, membela petani tembakau dan rela mempertarukan segalanya demi kesejahteraan rakyat.

 

Oleh : Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantrenan, Anggota Social Community of Research)

nasi tabheg

Apa Nasi Tabheg? Bagaimana Resep Nasi Tabheg?

Setelah Santri Nurul Jadid memecahkan rekor muri makan Tabheg terbanyak, tidak sedikit warganet bertanya; apa nasi Tabheg? Bagaimana resep nasi Tabheg? Istilah Tabheg berasal dari bahasa Madura. Penulisan istilah ini bermacam-macam, ada yang menulis dengan Tabak, Tabek, Tabeg, Tabhek atau Tabegh. Bagi sebagian masyarakat Jawa Timur, istilah Tabheg ada yang menyebutnya dengan Nasi Gulung.

Santri pada umumnya adalah pelajar yang merantau dan bermukim di sebuah pesantren. Sedangkan kendaraan jaman dahulu tidaklah secanggih jaman saat ini. Perjalanan ke sebuah pesantren bisa memakan waktu lebih dari satu hari bahkan berhari-hari. Begitu pun orang tua santri tidak jarang pula mengunjungi putra-putrinya ke pondok, baik hanya sekedar mengetahui keberadaan putra-putrinya atau pun mengirim kebutuhan hidup. Perjalanan dari rumah tempat tinggal asal hingga ke sebuah pesantren yang memakan waktu cukup panjang ini, hampir selalu membawa bekal perjalanan dan oleh-oleh untuk para santri di pondok pesantren. Bekal perjalanan ini atau oleh-oleh untuk para santri, umumnya di Jawa Timur dinamai dengan Tabheg.

Perjalanan yang memakan waktu lama, bagaimana bekal atau oleh-oleh yang dibawa tidaklah cepat basi. Nasi Tabheg dibuat agar Nasi bisa bertahan berhari-hari dan tidak cepat basi. Ketahanan nasi Tabheg bisa bertahan hingga 3 hari. Sajian nasi Tabheg seringkali ditunggu-tunggu oleh para santri. Bagaimana tidak, para santri yang giat mencari ilmu siang dan malam, hampir tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan kebutuhan hidup (isi perut). Kebutuhan hidup para santri sering bersandar pada kiriman. Ketika orang tua salah seorang santri yang membawa Tabheg akan menjadi incaran bagi para santri lain dan semua mata tertuju pada nasi Tabheg.

Apa itu nasi Tabheg? Bagaimana bentuk nasi Tabheg? Bentuk khas nasi tabheg, yaitu nasi yang dibungkus dari daun pisang dan bentuk bungkusannya digulung. Kira-kira seperti pada gambar berikut.

nasi tabheg hari santri nasional 2017 di Nurul Jadid

nasi tabheg hari santri nasional 2017 di Nurul Jadid

Bagaimana cara membuat nasi Tabheg? Disini redaksi akan memberikan resep untuk membuat nasi Tabheg.

 

Bahan Membuat Nasi Tabheg

  1. Bahan utama yang digunakan adalah beras. Gunakan beras yang berkualitas bagus, bersih dan pulen supaya hasilnya lebih legit dan lezat.
  2. Jeruk nipis. Jeruk nipis 1 buah untuk beras 1 kg.
  3. Daun pisang.
  4. Tali Rafia.
  5. Bahan pelengkap untuk lauk sajian

 

Cara Membuat Nasi Tabheg

nasi tabheg belum matang

nasi tabheg belum matang

Cara membuat nasi Tabheg ini sebenarnya sangat sederhana. Langkah pertama hampir mirip sebagaimana menanak nasi dengan cara dikukus.

  1. Cuci beras hingga bersih hingga hilang bau dan kotoran yang menempel.
  2. Siapkan panci dan masukkan beras yang bersih kemudian berilah air hingga mencapai setengah ruas jari telunjuk tangan.
  3. Panaskan panci yg berisi beras dan air hingga mendidih.
  4. Pada saat nasi mendidih, berilah jeruk nipis kemudian diaduk hingga merata. Jeruk nipis inilah salah satu yang membuat nasi bisa bertahan lama.
  5. Aduk-aduklah nasi secara berkala agar tidak terjadi kerak dibagian bawah panci.
  6. Angkat nasi yang setengah matang ini dari panci.
  7. Pindahkan nasi yang setengah matang ke dalam panci kukus.
  8. Kukus nasi hingga benar-benar matang.

Langkah kedua, setelah nasi matang selanjutnya mempersiapkan untuk menjadikan Nasi Tabheg.

nasi tabheg sedang dikukus

nasi tabheg sedang dikukus

  1. Siapkan tali rafia dan lembar daun pisang untuk membungkus nasi.
  2. Tuangkan nasi di atas lembaran daun pisang yang sudah disiapkan.
  3. Nasi dalam lembaran daun pisang dibungkus dengan cara bungkusan menggulung.
  4. Ikat bungkus gulungan dengan tali rafia.
  5. Siapkan panci kukus. Pindahkan nasi yang dibungkus daun pisang menggulung ini ke dalam panci kukus.
  6. Kukus nasi yang sudah dibungkus gulungan daun pisang kurang lebih selama -+20 menit.
  7. Kukus hingga matang, terlihat daun pisang tampak berwarna layu.
  8. Selesai dikukus, angkat dan siap disajikan.

Nasi yang dibungkus daun pisang dimana bentuk bungkusannya berbentuk bungkus gulungan, inilah yang disebut dengan Nasi Tabheg.

nasi tabheg siap saji

nasi tabheg siap saji

 

 

Bahan Pelengkap Nasi Tabegh

  • Tempe kering
  • Tempe bacem
  • Daging rendang
  • Daging masak kecap
  • Telur dadar goreng yang di iris tipis tipis
  • Telur rebus dipotong potong
  • Telur masak bali
  • Kerupuk udang
  • Perkedel kentang
  • Sambal

 

Semoga tulisan sekelumit tentang Nasi Tabheg ini bisa memberikan gambaran jelas tentang nasi Tabheg, terutama bagi warganet yang berada di luar Jawa Timur. (aw)

 

Hari Santri ; Interkoneksi Pesantren dan Kemerdekaan Indonesia

Tumbangnya rezim orde baru pada tahun 1998 menjadi titik musnahnya polarisasi sosial kaum santri dan abangan. Islamisasi pada masa sebelumnya, polarisasi sosial dan politis yang kini muncul bukan lagi antara abangan dan santri, sebab sudah tidak ada lagi tentangan yang serius terhadap Islamisasi lebih dalam.

Namun, sepertinya santri kemudian akan menjadi kelompok yang dicurigai akan merusak bangsa karena terlalu banyak kasus gembong teroris yang berkedok pesantren dan Islam.

Sebagai Negeri yang berhaluan demokrasi dan kemajemukan, Indonesia tentu sama sekali tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menjadi negeri khilafah yang diangkat oleh HTI and so on. Karena pesantren Ahlu sunnah wal jama’ah Indonesia tetap akan sesuai dengan model penerapan para pendahulu dalam konteks akidah dan tradisi. (Dhofier, 1982)

Pesantren dalam makna istilah dimaknai beragam, tentang sebuah tempat yang menjadi poros spiritual. (Faruq, 2015)

Terlepas dari beragamnya makna pesantren, Sejak awal berdirinya, kehadiran Pesantren di tengah-tengah masyarakat nusantara ini hanya diproyeksikan sebagai sebuah sarana dakwah dan pendidikan Islam. Dengan tujuan supaya para santri mengetahui dan memahami apa saja yang telah diturunkan Allah pada Muhammad Rasulullah Saw. Dengan demikian, para santri diharapkan mempunyai kesadaran yang tinggi dalam memaksimalkan dua tugas utamanya sebagai manusia. Pertama, sebagai ‘abdu Allah (penyembah Allah). Kedua sebagai khalifatu fi al-ardl (wakil Allah di bumi, sebagai pengelola semesta).

Sebagai hamba, mereka diharapkan menjadi pribadi mukmin sejati yang ‘hanya’ menyembah, mengabdi dan menuju kepada Allah saja. Bukan mengabdi pada hawa nafsu, keinginan individu dan ambisi yang akan menjatuhkan derajat dirinya sebagai manusia menjadi pribadi binatang yang rakus.

Sebagai wakil Allah di bumi ini, mereka diharapkan mampu berpartipasi aktif mengelola dan memberdayakan keluarga, masyarakat, lingkungan dan Negara bahkan semesta. Tentunya hal ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan dan keadilan. Bukan malah menjual, membohongi dan mengorbankan masyarakatnya.

Baik sebagai hamba atau sebagai wakil Allah di bumi, manusia sudah selayaknya melakukan yang tebaik untuk masyarakat sekitarnya. Indonesia sebagai negeri yang demokrasi sudah bukan hal aneh jika negara kita menginginkan kemerdekaan bagi setiap individu yang berada di bawah naungannya.

Dalam Al-Quran surat An- Nisa’ ayat 49 dijelaskan, manusia sebagai seorang hamba harus mengabdi kepada Allah, patuh kepada Rasulullah dan ulul amri, dimana ulul amri disini diartikan sebagai penguasa atau pemimpin. Di Indonesia, sebagai negeri yang menganut sistem pemerintahan yang berasaskan demokrasi, patuh kepada UUD sebagai kepanjangan tangan dari Presiden adalah sebuah kewajiban.

Pemerintahan dan sistem yang telah ada di depan mata kita, tidak serta merta hadir untuk kita begitu saja melainkan dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Dalam sekian buku sejarah kemerdekaan Indonesia, dikatakan bahwa Indonesia dijajah selama dua abad sebelum akhirnya merdeka.

Dalam kisah perjuangan memerdekakan diri, Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pasukan santri yang dikawal oleh beberapa kyai yang menjadi pelopor kemerdekaan. Seperti petikan pidato KH. Hasyim Asy’ari “Barang siapa memihak kepada kaum penjajah dan condong kepada mereka, maka berarti memecah kebulatan umat dan mengacaukan barisannya. Maka barang siapa yang memecah pendirian umat yang sudah bulat, pancunglah leher mereka dengan pedang siapapun orangnnya.” (Ricklefs, 2013)

14 oktober 1944, setelah adanya usulan sepuluh orang ulama kepada Heiko Shikikan  untuk dibentuk barisan sukarela dari kelompok Islam, terbentuklah laskar Hizbullah “tentara Allah” dengan format sebagai korps cadangan untuk kesatuan Pembela Tanah Air (PETA). Lalu terbentuknya laskar Hizbullah dipublikasikan dalam majalah suara muslimin Indonesia. Para kyai yang tercatat sebagai perwira PETA mendapatkan tugas untuk melatih dasar-dasar latihan dan kemampuan militer terhadap para anggota Hizbullah, setelah sebelumnya jepang melalui beberapa pejabat di Jawa Hookokai meminta K.H. Wahid Hasyim untuk membantu dalam pengerahan tenaga muda pesantren untuk masuk Heiho. (Ricklefs, 2013)

Januari 1945 kepengurusan Hizbullah pusat tebentuk berdasarkan hasil rapat pleno masyumi ketika membicarakan kedudukan Hizbullah dihadapan peta.

Dalam perjalanannya, Hizbullah melakukan dua kali resolusi jihad. Yang pertama, resolusi jihad sebagai seruan membela NKRI. Menelurkan fatwa yang berisi tiga poin penting dalam perjuangan, yang kemudian dikukuhkan dalam sebuah rapat para kiai pada tanggal 21-22 oktober 1945.

Resolusi jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 oktober 1945  menjadi pegangan spiritual bagi sebagian besar pemuda dan pejuang di Surabaya dalam mengobarkan semngat perlawanan. Selain itu resolusi jihad ini juga mempunyai dua misi penting, yakni sebagai bahan untuk mempengaruhi pemerintah dan agar  segera menentukan sikap melawan kekuatan-kekuatan asing yang terindikasi hendak menggagalkan kemerdekaan. Kedua, jika himbauan yang ditujukan kepada pemerintah itu tidak terwujud maka resolusi akan bisa dijadikan pegangan moral bagi Hizbullah dalam menentukan sikap melawan kekuatan asing

Resolusi jihad yang kedua adalah sebagai bentuk menjaga semangat juang. Para kyai NU tetap semangat menyampaikan pesan-pesan dan dorongan mooral guna membakar semangat juang yang ditujukan kepada badan-badan perjuangan pembela Islam ditengah keprihatinan dan muncunlnya rasa ketidak puasan terhadap orientasi perjuangan yang telah berubah. (Ricklefs, 2013)

Pada tanggal 26-29 Maret 1946, diselenggarakan muktamar NU yang ke 16 di Purwokerto, Jawa Tengah. Dan kembali menelurkan sebuah resolusi yang ditujukan kepada upaya perjuangan dan pembelaan terhadap kemerdekaan bangsa. Muktamar yang diselenggarakan sebab rasa ketidakpuasan para pasukan Hizbullah dan pergeseran orientasi perjuangan serta keprihatinan atas timbulnya perpecahan-perpecahan sesama anak bangsa. Ungkapan pidato yang disampaikan K.H. Hasyim asy’ari juga menyiratkan sikap keprihatinan beliau. Selain itu, beliau juga mengingatkan tentang cara dan pola baru yang digunakan oleh kaum penjajah dalam upaya menggagalkan kemerdekaan Indonesia, serta mulai munculnya kegamangan dikalangan pemimpin Indonesia untuk menempuh perjuangan melalui perjuangan fisik.

Dengan mewakili Hizbullah Kyai Wahid Hasyim menjadi negarawan yang sangat berpengaruh dalam perumusan undang-undang dan perumusan pancasila yang sebelumnya tercatat sebagai piagam jakarta dengan merumuskan sila pertama “ ketuhanan yang maha esa” sebagai ganti dari kalimat “ketuhanan dengan kewajiban syari’at Islam bagi para pemeluknya”. Karena kalimat “ketuhanan yang maha esa” dinilai lebih memenuhi kepentingan semua pihak dan sesuai dengan konsep tasamuh dalam Islam. (Suismanto, 2004)

Dalam perjuangan yang mayoritas perjuangan dengan pertempuran, tentu tidak bisa terlepaskan begitu saja dari senjata yang digunakan para anggota Hizbullah. Senjata yang paling ampuh kala itu hanya sebatas bambu runcing. Tentu jika dipikirkan dengan menggunakan nalar tanpa menggunakan mistisme tidak akan sesuai dengan kenyataan yang ada. Mana mungkin para pejuang yang hanya bersenjatakan bambu runcing dapat mengalahkan tentara dengan senjata lengkap bahkan bersenjatakan meriam.

Terkait dengan dunia mistifikasi. Ada banyak metode mistis yang dilakukan oleh para kyai sebelum berangkat ke medan pertempuran, mulai dari penyepuhan bambu runcing sebelum digunakan ke medan pertempuran, bambu runcingnya diberkahi, dijaza’ do’a mengsma’i nasi  manis, mengasma’i air wani hingga meminta doa dan wejangan kepada para kyai tentunya dengan kyai yang berbeda sesuai dengan ilmu yang beliau miliki. (Wahid, 2001)

Simbol perjuangan yang disertai adanya mistifikasi perjuangan telah menggerakkan pasukan dengan gagah berani maju ke medan pertempuran. Dalam hampir semua perjuangan senjata, para ulama, santri dan senjata bambu runcing hadir dan menjadi pengawal perjuangan.

Tak sampai disitu, setelah Indonesia merdeka, para kyai menciptakan beberapa karya yang tak lain untuk tetap merawat kemerdekaan dengan ilmu. Baik dengan karya berupa kitab atau buku, KH. Hasyim Asy’ari dengan kitab Adab Al Alim wa Al Muta’allim, Syaikh Mahfuzh al-Tarmasi Tremas (w. 1920 M, menulis Ghaniyyah at-Thalabah fi Syarhit-Thayyibah fil-Qira’at as-Sab’ah), lalu KH Arwani Amin al-Qudsi Kudus (w. 1994, yaitu kitab yang sedang dibicarakan ini, Faidhul-Barakat), dan ulama kontemporer KH Prof. DR. Ahsin Sakho Muhammad Cirebon (Manba’ul-Barakat fi Sab’il-Qira’at).

Selain karya berupa kitab-kitab tersebut di atas, Kiai Zaini Mun’im, pendiri dan pengasuh pertama PP. Nurul Jadid juga menciptakan sebuah pijakan, dimana segala kegiatan, proses pedidikan dan program pesantren di masa depan harus berorentasi pada Panca Kesadaran Santri. Sebuah pemikiran lepas yang mempunyai arti mendalam bagi kemaslahatan umat, bangsa dan negara. Konsep tentang lima kesadaran (Panca Kesadaran) yakni : 1) Kesadaran Beragama, 2) Kesadaran Berilmu, 3) Kesadaran Bermasyarakat, 4) Kesadaran Berbangsa dan Bernegara, 5) Kesadaran Berorganisasi.

Selain lima kesadaran itu, Kiai Zaini Mun’im memberi kriteria (Trilogi Santri) khususnya bagi para santri Nurul Jadid, yang layak pula jadi pegangan bagi para santri pada umumnya, yaitu: 1) Memperhatikan perbuatan-perbuatan fardlu ain, 2) Memperhatikan untuk meninggalkan dosa-dosa besar, 3) Berbudi luhur kepada Allah dan kepada sesama makhluk. (Ridwan, 1996)

Dari berbagai bukti sejarah keterlibatan elemen pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan dan perjuangan mengisi kemerdekaan dengan berbagai macam karya mampu menjadi garis penghubung atau jalur koneksi antara pesantren dan kemerdekaan Indonesia. Bahwa di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang elemen pesantren tidak mungkin menyuarakan pengkhianatan atas kemerdekaan yang telah diraih, akan tetapi elemen pesantren akan terus menyuarakan bagaimana mengisi kemerdekaan ala santri dengan penuh cinta dan tanggung jawab.

Hari Santri Nasional (HSN) yang selalu diperingati pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya, sudah selayaknya mampu menjadi alarm pengingat untuk para tenaga edukasi, parlemen, politikus, tokoh agama, dan ulama’ nusantara, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa terlepaskan dari antusias dan pasrtisipasi kaum sarungan. Jadi, tidak mungkin ada istilah Negara Khalifah yang keluar dari elemen pesantren. Karena pesantren adalah bagian dari kemerdekaan dan demokrasi Indonesia. Pesantren hari ini juga berupaya untuk tetap ikut andil dalam mengisi kemerdekaan, hal tersebut terlihat dari banyaknya elemen pesantren yang ikut terlibat dalam politik, sosial dan budaya tidak lagi hanya diam di pondok dan mengkaji kitab kuning.

Upaya tersebut diharapkan pada akhirnya, output yang dihasilkan adalah santri yang mengisi kemerdekan dengan semangat juang tinggi dan menjadi pribadi kuat yang mampu mencegah diri dan lingkungannya dari beragam hal tidak baik yang dapat merugikan diri, lingkungan dan negar. Sebab waktu yang dihabiskan santri di pesantren tentu lebih banyak.

Santri yang pulang ke rumah setelah beberapa tahun mondok di pesantren akan selalu mengingat dan mengatakan bahwa kami tidak hanya diajari kitab klasik tapi juga diajari mengisi dan merawat penuh cinta kemerdekaan negeri. Di pesantren, kami tidak hanya di ajari berdo’a tapi juga diajari melakukan yang terbaik untuk negeri. Di pesantren kami tidak hanya diajari taat pada kyai tapi juga pada peraturan negeri. Pesantren kami adalah Indonesia. Kami adalah merah putih yang menyatu saling menjahit asa meerekatkan keberagaman karena pesantren, Islam dan Indonesia salah satu.

Syafiqiyah Adhimiy

(Mahasiswa Pasca Sarjana IAI Nurul Jadid sekaligus Khadimah di PP. Nurul Jadid)

tabheg

Makan Tabhek : Memper-erat Sosial dan Memper-irit Uang Saku

Bulan Oktober merupakan bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh kaum sarungan (santri) sejak Pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari santri Nasional yang ditetapkan pada tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo melalui keputusan Presiden nomor 22 Tahun 2015.

Hari Santri Nasional merupakan peringatan untuk mengenang kembali jasa para Kiai-kiai dan kaum sarungan (santri) didalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dari cengkraman para penjajah kala itu. Kesepakatan tanggal 22 sebagai Hari Santri Nasional berkenaan dengan Resolusi Jihad Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 sebagai sebuah keputusan yang dihasilkan dari rapat besar konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober 1945 di Surabaya, Jawa Timur.

Di Pesantrenku Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolingo merayakannya dengan beberapa serangkaian acara diantaranya adalah Seminar, Lomba, Stand Bazar, Upacara, dan tak kalah menariknya lagi adalah makan bersama atau di pesantrenku lebih dikenal dengan istilah Tabhek.

Makan Tabhek tersebut akan dilaksanakan dipenghujung acara yaitu 22 Oktober besok. Makan “Tabhek” tersebut akan diikuti oleh 10.000 Santri yang siap akan melahap Nasi Gulung (Nasi yang dibungkus daun pisang) secara bersama-sama. Dan ini merupakan pemecah rekor Muri.

Istilah Tabhek sudah tidak asing lagi di telinga ribuan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, hampir tiap hari santri pasti melaksanakan yang namanya makan bersama Tabhek. Apalagi setiap ada wali santri yang menjenguk anaknya pasti membawa nasi dan pada saat itulah pasukan santri siap untuk menghabiskan kiriman tersebut seketika itu juga dengan cara “Tabhek”. Karena momentum seperti itulah yang diharapkan santri didalam merajut kebersamaan, pahit dan manis selalu dijalankan secara bersama.

Dalam keseharian santri, makan Tabhek ada beberapa keuntungan yang menarik disamping untuk memper-erat rasa solidaritas sosial juga memper-irit uang saku yang dikirim oleh orang tua. Kadang santri hanya sumbangan Rp 2000 Rupiah itu bisa kenyang salah satunya dengan makan Tabhek itu tadi. Karena didalam makan Tabhek itu sendiri ukuran kenyang tidak dapat di ukur dari berapa banyak uang yang kita miliki, dan berapa banyak Nasi dihidangkan, akan tetapi kebersamaanlah yang bisa merasakan kenyang itu sendiri.

Selain itu ada hikmah yang menarik didalam pelaksaan makan Tabhek itu sendiri. Pelaksaan makan Tabhek tidak sembarangan dimulai apabila peserta atau teman kita kurang lengkap. Kenapa demikian? karena kecepatan makan Tabhek bagaikan kecepatan kereta yang berjalan diatas Rel. Maklum saja kenapa makan Tabhek tersebut harus menunggu berkumpulnya santri agar semuanya kebagian dan merasakan kekompakan.

Makan secara Tabhek tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki oleh pesantren sebagai pembentuk rasa solidaritas sosial ditengah-tengah masyarakat kita yang sudah bersifat individualistik (mementingkan diri sendiri) akibat pengaruh budaya luar.

Untuk itu kita semua bisa mengambil pelajaran dari adanya makan Tabhek 10.000 santri yang diadakan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini dalam rangka semarak Hari Santri Nasional di puncak acara 22 Oktober 2017.

Dengan adanya kegiatan tersebut bukan hanya sekedar makan yang kemudian kenyang lalu buang air besar. Namun harapan penulis agar supaya kekerabatan antara umat beragama berbangsa dan bernegara semakin solid tidak pecah belah demi Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sudah dibangun kokoh oleh para Ulama’ yang notabene lahir dari pesantren. Waallahua’lam

ACH. YANI (Nuruljadid.net)

Para Pencinta Tabheg

Kalau di salah satu saluran televisi setiap menjelang bulan Ramadhan menayangkan sinetron religi berjudul PPT singkatan dari Para Pencari Tuhan. Tapi kalau di Nurul Jadid setiap bulannya akan ada aksi santri di setiap gang bernama PPT singkatan dari Para Pecinta Tabheg. What is tabheg? Penulis mebaginya menjadi dua penjelasan. Tabheg dalam arti idealis dan dalam arti pragmatis.

Pertama, tabheg dalam arti idealis. Definisi ini terbilang ketat. Para pecinta tabheg yang masuk kategori ini tergolong esktrem, radikal, terstruktur, sistematis dan masif. Mereka yang ada di golongan ini mengatakan bahwa tabheg itu adalah nasi kiriman dan wali santri untuk putra atau putrinya yang dibungkus dan dikukus menggunakan daun pisang dan dimakan bersama-sama oleh penghuni kamar atau tetangga kamar si santri.

Hingga lunturan daun pisang yang agak bewarna hijau kekuningan menempel disetiap area pingggiran nasi. Dan setiap bungkusnya diikat dengan tali rafia. Agak mirip dengan lontong tapi bukan lontong. Kalau lontong berasnya manunggaling atau menyatu dengan beras lainnya. Tapi kalau nasi tabheg tidak menyatu seperti lontong. Nasi tabheg versi ini awet hingga dua hari. Bahkan ada yang mengatakan satu minggu. Untuk lauk tak jadi soal. Apapun lauknya akan terasa nikmat.

Bagaimana cara masaknya? Silahkan tanya kepada pakar tabheg. Dua mantan kepala Gang E Kang Jajan dan Ach Uday, alumni kamar E13 Irza Jauharul Maknun, Yudi Zulkarnain, Miftah Al Kindy, serta Bapak Talaen Tabheg Muhsin Alatas. Mereka semua masuk golongan para pecinta Tabheg idealis.

Kedua, tabheg dalam arti pragmatis. Para pecinta tabheg dalam golongan ini terbilang lentur, fleksibel, dan toleran. Lebih mengutamakan subtansi daripada bungkus. Apapun bungkusnya, meski dengan kertas minyak merk kucing sekalipun, kalau itu nasi kiriman wali santri untuk putra atau putrinya masuk kategori tabheg. Apapun lauknya walau hanya mie goreng dan telur dadar sungguh kenikmatan tiada tara.

Dalam golongan ini, lebih mengutamakan fungsi daripada melekatkan syarat ketat dan melekat pada tabheg. Lalu apa fungsinya?

Fungsi tabheg mengurangi pengeluaraan jatah bulanan. Biasanya sehari beli makan dua kali. Kalau ada nasi tabheg, bisa beli hanya satu kali. Kalau sekali makan menghabiskan 10 ribu rupiah, bayangkan kalau tersedia nasi tabheg hingga 30 hari, bisa menghemat uang 300 ribu rupiah. Bukankah tabheg pangkal kaya?

Dengan tabheg Indonesia bisa menumbuhkan indeks prestasi manusia. Bayangkan uang 300 ribu rupiah dibelanjakan untuk beli buku dan kitab setiap bulannya, penulis yakin Indonesia akan dahsyat dalam mengatasi bonus demografi.

Mungkin banyak santri berpikir kehidupan pesantren teramat tidak menyenangkan. Khususnya bagi santri baru. Semula bebas bisa main gadget, nonton televisi, dan segalanya serba ada saat tinggal di rumah.

Tapi semua rasa tidak menyenangkan itu tak berlaku bagi santri yang golongan para pencinta tabheg sejati. Bukan maksud ingin menciptakan aliran baru yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan dengan memunculkan tabhegisme atau non tabhegisme.

Tapi bagi penulis, hampir semua santri Nurul Jadid adalah para pecinta tabheg. Jadi kalau ada santri NJ yang tidak suka tabheg atau bahkan membecinya berarti nyantrinya belum kaffah serta status santrinya masih dipertanyakan.

Jangan-jangan niat mondoknya bukan untuk mencari ilmu dan membina ahlakuk karimah. Dari tabheg kita diajarkan prinsip egaliter, gotong royong, dan toleran. Dalam satu bungkus kita gotong royong menghabiskan bersama-sama. Meski yang makan ada yang tidak cuci tangan kita tetap toleran terhadap mereka, tidak menghina bahkan tidak membully di sosial media.
Bayangkan besok di Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017, Ponpes Nurul Jadid akan mengadakan apel akbar dan tasyakuran untuk memecahkan rekor muri makan tabheg 10 ribu santri, bukankah ini merupakan pelajaran berharga dari santri untuk negeri dalam prinsip egaliter, gotong royong dan toleran?

Rizam Syafiq
Mantan Kepala Sekolah Kelompok Kajian Pojok Surau PP Nurul Jadid dan Pimred gpansorsurabaya.or.id