Semarak Hari Santri Nasional Sebagai Upaya Santri Ber-NKRI

Telah diputuskan bahwasanya Hari Santri Nasional jatuh pada tanggal 22 Oktober. Lantas, Ada apa dengan Santri? Adakah Yang Istimewa? Setiap peristiwa pasti mempunyai sejarah tersendiri. Dan setiap sejarah pasti memiliki nilai filosofis yang harus diketahui. Bung Karno pernah berkata bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, Jas Merah!!!”.  Marilah kita review kembali peran para ulama dan santri untuk mempejuangkan kemerdekaan Indonesia.

Hari Santri Nasional pada tanggal 22 oktober telah ditetapkan oleh Presiden Jokowi yang sebelumnya hanya sebuah wacana belaka yaitu tanggal 1 Muharram. Menanggapi hal itu, Ketua pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdhlatul Ulama (RMI NU) KH Abdul Ghoffar Rozien menyerukan agar Jokowi menepati janjinya tersebut. Mengutip Dalam buletin NU Online Beliau mengatakan “Ribuan Pesantren dan jutaan santri sudah menunggu keputusan Presiden terkait Hari Santri Nasional. Kebijakan itu menguatkan marwah Negara”.

Di tetapkannya Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober lebih condong sebagai upaya untuk menghargai historis perjuangan para pahlawan kemerdekaan yang notabene nya adalah kaum santri dan para ulama dalam melawan para penjajah untuk memperjuangkan NKRI, namun dibalik itu juga pada tanggal 22 Oktober bertepatan dengan adanya fatwa “Resolusi Jihad” yang di usung oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.

Mengenai resolusi Jihad yang di usungkan oleh KH Hasyim Asy’ari tersebut terdapat nilai-nilai yang dapat dikontekstualisasikan pada zaman modern saat ini, khususnya dikalangan santri yang katanya kaum sarungan yang identic dengan kekolotan, gaptek, dan kumuh. Padahal realitanya tidaklah seperti itu, hanyalah oknum-oknum yang menafikan eksistensi dari santri dan pondok pesantren saja yang berasumsi demikian. Karena asumsi tanpa dasar itulah, banyak masyarakat awam enggan melirik pesantren dan lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah umum.

Kembali lagi berbicara mengenai resolusi Jihad bahwa itu adalah bentuk perhatian yang sangat besar dari ulama untuk menjaga keutuhan NKRI, bahkan ada yang mengatakan saat ini bahwa “NKRI harga mati!!!”. Namun sekarang Indonesia tidak butuh dengan kata-kata, Indonesia sekarang ini butuh peran yang produktif sehingga dapat menjawab tantangan globalisasi. Dan peran santrilah yang mampu menjawab tantangan globalisasi tersebut.

Diantaranya dapat kita terapkan nilai-nilai perjuangan ulama dan makna adanya fatwa resolusi jihad. Salah satunya dengan membentuk karakter santri yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu karena itu juga termasuk sebuah perjuangan. Dengan memiliki ghirah (semangat) yang bagus dalam menuntut ilmu kesempatan untuk membangun Indonesia maju sangatlah terbuka. Kemudian, dengan membangun rasa empati dan simpati dalam keseharian santri dengan sesama teman jikalau itu dibudayakan maka hal tersebut merupakan bukti bahwa santri memilik jiwa dan raga yang selalu siap untuk membela negara karena sesuai dengan Negara kita yang notabenenya adalah multikultural dan plural. Namun, inti dari semuanya adalah aplikasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bagaimana cara kita sebagai santri dan sekaligus muda-mudi Indonesia untuk selalu bergerak, bergerak dan bergerak demi kemajuan bangsa Indonesia. Kita buktikan bahwa santri merupakan generasi emas abad modern.

Oleh: Andy Rosyidin
(Alumni MA PK Nurul Jadid Angkatan 21. Dan sekarang adalah Mahasiswa aktif semester 3 ilmu al-Quran dan Tafsir di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

 

 

“Kami Bangga Jadi Santri!!!”

 

Santri, Resolusi Jihad, dan Nasionalisme

Ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada hari Kamis, 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta mendapat respon positif dari masyarakat luas, terlebih bagi masyarakat kaum santri. Penetapan Hari Santri yang diresmikan presiden Joko Widodo merupakan bentuk penghargaan terhadap para kiai dan santri yang telah rela menyumbangkan segenap jiwa dan raganya untuk merebut kemerdekaan dari tanggan penjajah.

Perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa memang tidak terlepas dari peran Kiai dan Santri. Pembentukan tentara Hisbullah dan Sabilillah, serta keterlibatan KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan adanya fatwa Resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asy’ari yang menetapkan farduh ain untuk mempertahankan kemerdekaan merupakan wujud dari peran aktif mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di era globalisasi, tantangan dan persoalan yang dihadapi kaum Santri semakin kompleks. Terutama menyangkut soal Nasionalisme. Muncuknya gerakan Transnasional yang dapat membahayakan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kian hari kian bertambah banyak. Untuk itu, peran Santri sangat dibutuhkan dalam menjaga dan melestarikan Indonesia sebagai Negara kesatuan.

Nasionalisme Santri

Berbicara soal Nasionalisme Santri. Bukti Nasionalisme Santri, menurut penulis, dapat dilihat dari beberapa fakta sejarah seperti; peristiwa Resolusi Jihad yang di fatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari, keterlibatan KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), terciptanya Syair Syubbanul Wathon karya KH. Wahab Chasbullah, dan lain sebagainya.

Terjadinya peristiwa Resolusi Jihad merupakan salah satu bukti Nasionalisme Santri yang paling tampak dan paling besar pengaruhnya. Dilihat dari persepektif sejarah, Resolusi Jihad yang di fatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari kepada seluruh umat islam di Indonesia untuk ikut serta dalam memerangi penjajah. Fatwa dalam membela Tanah Air yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari memberi dapak yang sangat luar biasa terhadap pembentukan Nasionalisme kaum santri.

Menurut Masdar Hilmy, seruan Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari di masa-masa perang revolusi, misalnya, bias dilihat sebagai tonggak penancapan konsep nasionalisme non-primordial versi kiai atau pesantren, di mana serua panggilan jihad dikumandangkan guna mengusir penjajah dari bumi Indonesia yang multikultural, bukan untuk membela satu golongan atau kelompok agama tertentu.

Disisi lain Syair Syubbanul Wathon karya KH. Wahab Chasbullah juga bias dilihat sebagai tonggak dalam membentuk Nasionalisme kaum santri. Sebagaimana bunyi Syair Syubbanul Wathon (Cinta Tanah Air):

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon
(Puasaka Hati Wahai Tanah Airku)
Hubbul Wathon minal Iman
(Cintaku dalam Imanku)
Wala Takun minal Hirman
(Jangan Halangkan Nasibmu)
Inhadlu Alal Wathon
(Bangkitlah Hai Bangsaku)
Indonesia Biladi
(Indonesia Negriku)
Anta ‘Unwanul Fakhoma
(Engkau Panji Martabatku)
Kullu May Ya’tika Yauma
(Siapa Datang Mengancammu)
Thomihay Yalqo Himama
(Kan Binasa di bawah Durimu)

Menurut KH. Maimoen Zubair atau yang akrab di panggil Mbah Maimoen, mengatakan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras dan belajar di sekolah “Syubbanul Wathon” menjadi lagu wajib dinyanyikan murid-murid sebelum masuk kelas. Dari sini kita bias melihat betapa kuatnya rasa Nasionalisme kaum Santri serta dalam pembentukan Nasionalisme seorang Santri yang dilakukan oleh para Kiai atau lembaga pesantren.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh George McTurnan Khain (1918-2000, Cornell University, USA), di dalam hasil penelitiannya, yang di tulis dalam “Nastionalisme and Revolution in Indonesia” (Connel University, Southeast Asia Program, 1952), Gorge McTurnan Khain menyimpulkan bahwa “Nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam Nusantara”: pesantren!
Dari penjelasan diatas, penulis dapat menyimpulkan, bahwa, Nasionalisme seorang Santri sudah tidak perlu diragukan lagi. Kalau toh ada santri yang mengancam keutuhan NKRI, mungkin itu bukan santri yang sebenarnya. Sejarah telah mengungkapkan bahwa sanya keterlibatan seorang santri dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari tanggan penjajah, keterlibatan dalam BPUPKI, Serta adanya peran aktif dalam melestarikan NKRI.

 

Peran Santri dalam Melestarikan NKRI

Akhir-akhir ini, ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kian hari kian membahayakan. Menguatnya gerakan-gerakan yang mengancam terhadap keutuhan NKRI, seperti yang disebutkan oleh Abd A’la sebagai kelompok fundamentalisme keagamaan yang saktarian dan fundamentalisme globalisasi eksternal. Sedangkan Masdar Hilmy, memakai istilah gerakan Transnasionalisme.

Adanya sebagian masyarakat Muslim di negeri ini yang hendak meng-Islam-kan konsep nasionalisme dengan cara menggantinya menjadi Dawlah/Khilafah Islamiyah atau Negara Islam Indonesia (NII). Di mata kelompok ini, konsep nasionalisme merupakan bentuk kekufuran berfikir, –lebih-lebih yang “sekuler” –karena megingkari bentuk Negara Islam yang mereka yakini sudah bersifat “given” sebagaimana dimandatkan oleh al-Qur’an dan Hadist. Ironisnya, kelompok penganjur konsep Khilafah atau NII bias eksis mengkampanyekan konsepnya dengan memanfaatkan ruang-ruang demokrasi yang dibuka lebar oleh rezim nasionalisme “sekuler”.

Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita harus sudah mulai mengkonstruk konsep “musuh bersama” (common enemy) yang bersifat perennial dan universal, bukan “musuh” dalam pengertian klasik. Hal ini tidak lain untuk mejaga keutuhan dan keragaman bangsa menuju kejayaan Indonesia. Tanpa itu semua, bangsa ini akan terninabobokkan oleh konsep nasionalisme klasik yang keberadaannya sudah tidak mampu mengakomodir tantangan zaman.

Dalam pengimplementasiannya, nasionalisme tidak cukup hanya diukur dengan sekedar hafal redaksi sumpah pemuda, lagu Indonesia Raya, dan lain sebagainya. Tapi lebih dari itu, pembumian konsep nasionalisme harus menyentuh kebutuhan dan tantangan kekinian bangsa Indonesia.

Dengan berbagai macam ancaman dan tantangan terhadap bangsa Indonesia, maka, peran santri sangat dibutuhkan. Santai sebagai orang yang mempunyai kecerdasan intelaktual, speritual, dan nasionalisme yang tinggi diharapkan mampu untuk mengatasi ancaman dan tantangan yang sedang melanda bumi pertiwi. Santri juga dirahapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para kiai dan santri terdahulu.

Mudah-mudahan pada Hari Santri Nasional ini menjadi momentum bagi kita semua untuk dapat meningkatkan rasa nasionalisme, mengingat ancaman dan tantangan bagi bangsa Indonesia kedepan akan semakin kompleks. Maka dari itu, penulis berharap mudah-mudahan lewat tulisan ini rasa nasionalisme kita akan semakin kokoh. Amin!

 

Oleh: Muhammad Zainal Abidin S (Pengabdi di KAMANURJA)

 

DAFTAR RUJUKAN
Abd A’la, Jahiliyah Kontemporer dan Hegemoni Nalar Kekerasan Yogyakarta: LKSI, 2014
Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai Kontruksi Sosial Berbasis Agama Yogyakarta: LKSI, 2011
Hans Khon, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya Jakarta: Erlangga, 1984
Masdar Hilmy, Islam, Politik, dan Demokrasi Surabaya: Imtiyaz, 2014
NU Online, 18/10/1016
Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Jakarta: LP3ES, 2011

 

 

Kami, Santri Nurul Jadid, Berjuang Untuk NKRI (Refleksi Menyambut Hari Santri Nasional)

Tidak ada yang perlu diragukan dalam perjuangan kaum sarungan, berkait ke-ikut-sertaannya memperjuangkan kemerdekaan Nusantara. Semangat pantang menyerah, terbukti mampu meluluhlantakkan semangat agresi kolonealisme di Bumi Pertiwi. Pemikiran santri tidak terbatas pada keingin tahuan baca kitab kuning dan penguasaan terhadap Al-furudhul –Ainiyah. Melainkan terpatri sikap juang dalam membela Tanah Air dan jajahan para penjajah bangsa.  Ada pernyataan cukup fenomenal dalam memmbangkitkan semangat kaum sarungan, adalah Alm. Kiai Zaini Mun’im Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid pertama dalam pernyataannya bahwa “ Orang yang hidup di Indonesia, kemudian tidak melakukan perjuanga, dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan masalah ekonominya saja dan pendidikannya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan perjuangan rakyat banyak.  Satu diantara beberapa kiai pejuang bangsa yang pernah ada di negeri ini, Kiai Zaini, mampu menanamkan semangat patriot pada seluruh santri dan kawan seperjuangannya. Bahwa, perjuangan untuk kemaslahatan orang banyak merupakan keniscayaan yang harus menjadi prioritas perjuangannya. Orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri adalah mereka yang tidak layak untuk menempati bangsa ini. Karena, bangsa ini merdeka berkat perjuangan para pejuang yang rela mengorbankan jiwa-raga demi tercapainya kesejahteraan anak bangsa sendiri. Sangat disayangkan jika para pahlawan-pahlawan pesantren seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Zaini Mun’im dan beberapa kiai pejuang lainnya, hanya bagaikan cerita-cerita pelengkap dalam sejarah. Seyoyanya harus mampu menjadi  nafas perjuangan santri sesudahnya dalam mempertahankan bangsa dari kemerdekaan.

Santri Nurul Jadid Untuk NKRI

Semua santri, mempunyai komitmen dalam menjalankan amanah agama dan Negara. Melalui, sikap juangnya, meski terkadang memakai jalan yang berbeda-beda. Santri terlahir dari tempat dimana didalamnya terlatih untuk terus peka terhadap persoalan agama dan banga. Ideologinya senafas dengan ideologi NKRI. Maka, tidak salah jika bangsanya di usik mereka akan melakukan perlawanan sesuai dengan kapasitasnya. Lebih lebih saat ideologi Negara terancam oleh ideologi transnasional yang akan merusak karakter dan budaya bangsa. Banyak ancaman-ancaman yang sedang meng-ideologi-sasi rakyat, untuk melawan bahkan keluar dari ideologi Negara yang telah menjadi kesepakatan founding father. Dan, ini merupakan ancaman serius, akan akan membawa terhadap ketidak utuhan bangsa.  Ke-ingin-an (mereka) untuk merubah azas Negara, tidak perlu dipandang remeh, ini persoalan serius yang harus menjadi perhatian semua elemen. Kita tidak menginginkan Negara berada dalam perseteruan berkepanjangan, lebih-lebih terusik oleh anak bangsa sendiri.

Momentum Hari Santri Nasional, memang bukan satu-satunya alat untuk mempertahankan ideologi bangsa. Akan tetapi ini merupakan kesempatan untuk mensiarkan agar bangsa tetap berada pada jalan yang mana disana bangsa dilahirkan. Binnheka Tunggal Ika, tidak hanya semboyan belaka, namun ia merupakan filosofi negara untuk menjaga keutuhannya. Suku, ras, warna kulit, bahasa yang berbeda-beda, termaktub didalamnya, hingga mampu termanisfestasi menjadi Negara yang majemuk. Dengan, semangat persaudaraan-persatuan yang tiada duanya.

Perjuangan Belum Selesai

Santri Nurul Jadid, menjadikan hari bersejarah ini (HSN) sebagai moment untuk mengingat perjuangan berdarah-darah para pejuang. Tidak hanya, membalas budi para syuhada, akan tetapi untuk menanamkan spirit perjuangan, agar kita tidak menjadi bangsa yang lemah, hedonis dan terbawa arus untuk merusak azas bangsa. Patut, memperingati HSN sebagai wujud syukur akan kemenangan kaum sarungan. Dan, salurkan dalam nafas kita sebagai penerusnya agar kita tidak menjadi bangsa yang tak tau diri, hanya sebagai penikmat hasil perjuangan pejuang terdahulu.

Perkembangan IPTEK semakin tak terbantahkan, tuntutan penyesuaian sebuah keharusan. Disitulah, memerlukan spirit juang untuk bisa menjadi cultur broker. Tidak antipati, juga tidak larut hingga akhirnya mempertaruhkan nasib bangsa. Kapitalisme semakin meraja rela, para koorporat seakan tak terbendung melakukan aksinya, hingga nasib rakyat harus tetap terkawal agar bisa hidup nyaman di rumahnya sendiri. Indonesia rumah kita, tidak perlu kita gadaikan kepada para investor. Bagaimana nasib petani garam di Madura, mereka menangis kehilangan penghasilan layak. Tepat sekali KH. Abd. A’la menyuarakan nasib petani garam di depan Presiden RI Ir. H. Joko Widodo, saat menghadiri acara Hari Perdamaian Dunia. Saat (mereka) bukan santri tidak berani menyuarakan nasib para petani, santri harus mampu menjadi mediator, agar keinginan para rakyat kecil tersampaikan.

 

Oleh: Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantenan PP. Nurul Jadid sekaligus Sekretaris Kegiatan Hari Santri Nasional PP. Nuru Jadid)

kh zaini mun'im

Dakwah dalam Pandangan KH. Zaini Mun’im

“Hidup saya akan diwakafkan untuk penyiaran dan ketinggian Agama Islam”
— KH. Zaini Mun’im

Sebelum melangkah jauh tentang pembahasan Dakwah Dalam Pandangan KH. Zaini Mun’im, alangkah baiknya jika penulis mengulas biografi singkat KH. Zaini Mun’im. KH. Zaini Mun’im lahir di Galis Madura pada tahun 1906 dari pasangan KH. Abdul Mun’im dan Nyai Hamidah. Kiai Abdul Mun’im merupakan pengasuh Pondok Pesantren Panggung Galis Pamekasan Madura. Sebuah Pesantren yang dirintis oleh Kiai Madarik, kakek dari Kiai Zaini Mun’im. Jika di telusuri nasabnya, Kiai Zaini Mun’im masih keturunan Bangsawan. Dari jalur ayahnya Kiai Abdul Mun’im masih keturunan Raja-raja Sumenep yang menjulur ke belakang sampai Sunan Kudus. Sedangkan dari jalur Ibunya Nyai Hamidah masih keturunan Raja-raja Pamekasan.

Dari latar belakang pendidikan, Kiai Zaini Mun’im dikenal sebagai sosok yang selalu haus akan ilmu. Terbukti beliau menjadi santri kelana. Sejaka kecil beliau didik oleh Ibunya, terutama dalam pelajaran membaca Al-Qur’an. Selain itu beliau juga belajar Al-Qur’an kepada Ayahnya Kiai Abdul Mun’im dan kepada Sepupunya Kiai Shanhaji. Ketika umur 11 tahun Kiai Zaini Mun’im masuk sekolah Volk School (Sekolah Rakyat) sekolah Belanda yang ada pada zaman penjajah selama empat tahun.

Pada tahun 1921, Kiai Zaini Mun’im mulai nyantri, pesantren pertama yang beliau masuki adalah pesantren Kademangan asuhan KH. Muhammad Kholil Bangkalan dan menantunya KH. Muntaha. Di pesantren ini Kiai Zaini Mun’im memperdalam Ilmu Al-Qur’an dan Al-Fiyah selama satu tahun. Setelah itu pada tahun 1922, Kiai Zaini Mun’im melanjutkan nyantri di pesantren Banyuanyar Pamekasan Madura asuhan KH. Abdul Hamid dan putranya KH. Abdul Madjid. Dari kedua Kiai tersebut Kiai Zaini Mun’im menerima dan memperdalam Ilmu Agama seperti; Tafsir, Usul Fiqih, Fiqih, tadjwid, Bahasa Arab, dan Tasawuf.

Tepat pada tahun 1925, Kiai Zaini Mun’im merantau ke tanah Jawa untuk menimba ilmu di Pesantren Sidogiri. Yang pada waktu itu di asuh oleh KH. Nawawi. Selama di Sidogiri Kiai Zaini Mun’in memperdalam ilmu Agamanya. Tapi tak lama kemudian Kiai Zaini Mun’im harus pulang ke tanah kelahirannya (Madura) untuk meneruskan estafed perjuangannya ayahanda Kiai Abdul Mun’im yang baru wafat pada saat itu.

Sebagai sosok yang selalu haus akan ilmu, Kiai Zaini Mun’im kembali merantau ke tanah Jawa untuk memperdalam ilmunya di Pesantren Tebuireng Jombang. Di Pesantren Tebuireng yang pada waktu itu di asuh oleh hadratussyeh KH. Hasyim As’ary beserta putranya KH. Wahid Hasyim dan menantunya KH. Maksum bin Ali. Dari ketiga Kiai tersebut Kiai Zaini Mun’im memperdalam ilmunya, baik Ilmu Agama maupun Ilmu Pengetahuan.

Selama tiga tahun Kiai Zaini Mun’im Nyantri di Pesantren Tebuireng, lalu kemudian tepat pada tahun 1928, Kiai Zaini Mun’im berserta Nyai Hamidah (Ibunya), Kiai Zawawi Mun’im (Adiknya) dan Neneknya berangkat ke tanah suci (Mekkah). Di tanah suci Kiai Zaini Mun’im berserta keluarganya menetap di Sifirlain. Di smaping ibadah haji , Kiai Zaini Mun’im juga melanjutkan studinya di Mekkah. Di tanah Suci inilah Kiai Zaini Mun’im mendapatkan pelajaran tingkat tinggi dari para gurunya, antara lain: 1. K.H M Baqir dari Yogyakarta (Indonesia), 2. Syaikh Umar Hamdani Al-Maghrabi, 3. Syekh Alwi Al-Maliki ( Mufti Maliki di Mekkah), 4. Syekh Sa’id Al-Yamani (Mufti Syari’i di Mekkah) , 5. Syekh Umar Bayunid (Mufti Syafi’i di Mekkah), 6. Syekh yahya, 7. Syekh Syarif Muhammad bin Ghulam Singkiti Kiai Zaini Mun’im mendapat izajah Thariqat Sadzaliyah. Dan Kiai Zaini Mun’im sepulang dari mekkah beliau masih sempat menetap di Madina selama enam bulan dan sering mengikuti pengajian di Masjid Nabawi dari beberapa Ulama, salah satunya Syekh Ibrahim Barry.

Kiai Zaini Mun’im merupakan sosok ulama yang cinta akan ilmu, tidak heran kalau beliau mempunyai karya gemilang seperti Pondok Pesantren Nurul Jadid yang sangat terkenal di seluruh pelosok Nusantara. Disamping mengasuh Pondok Pesantren, Kiai Zaini Mun’im juga di kenal sebagai Ulama yang produktif dan telah mengabdi diri dalam menegakkan kejayaan Umat Islam. Pada awal Kiai Zaini Mun’im hadir di desa Tanjung/Karanganyar Paiton Probolinggo, beliau terus berdakwa dalam menyebarkan agama Islam. Kiai Zaini Mun’im memilih NU sebagai wadah dalam meneruskan Perjuagannya, beliau sangat tekun dan gigih dalam berjuang melalui Organisasi Kemasyrakatan ini. Secara struktural Kiai Zaini Mun’im pernah menjadi Rais Syuriah NU di Kraksaan Probolinggo dan Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur mendampingi KH Mahrus Ali Lirboyo Kediri Jawa Timur.

Dakwah

Sebagai sosok ulama yang gigih dalam menegakkan kejayaan Islam, Kiai Zaini Mun’im telah mewariskan beberapa karya gemilang yang dapat kita jumpai hingga hari ini. Salah satu warisannya ialah tentang dakwah. Untuk melihat lebih jauh bagaimana dakwah dalam pandangan KH Zaini Mun’im, penulis akan mengulasnya dibawah ini;

Pertama, apa itu dakwah? Dakwah, menurut Kiai Zaini Mun’im, adalah menyeru atau mengajak kepada kebaikan dengan cara-cara yang santun. Adapun faktor-faktor yang harus di perhatikan dalam berdakwah, menurut Kiai Zaini Mun’im, yang pertama ialah dimulai dari lapangan operasi/objek dakwah yaitu manusia. Diantara makhluk Tuhan, manusia makhluk satu-satunya yang lebih sempurna. Karena manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani serta dilengkapi dengan akal fikiran, panca indera, perasaan dan nafsu. Berbeda dengan hewan yang hanya di berikan kekuatan fisik dan nafsu tanpa mempunyai akal fikiran. Kelengkapan unsur-unsur manusia tersebut yang mengakibatkan manusia mempunyai kesiapan dalam menuju kesempurnaan atau jatuh pada ke lembah kerendahan, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At-Tiin, 4-6. “Demi Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. Dengan demikian manusia menghadapi dua alternative bisa terjerumus kedalam lembah kerendahan atau meningkat ke derajat kebahagian yang tiada putus-putusnya. Untuk itu manusia tidak cukup hanya dengan mengandalkan akal, tapi harus ada bimbingan berupa hidayah dari Allah SWT, yang disampaikan melalui rasul-rasulnya yaitu iman dan syari’at yang di terapkan sebagai amal yang saleh.

Sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat As-saba’, ayat 28, “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

Kedua, Materi Dakwah secara umum, menurut Kiai Zaini Mun’im, terbagi menjadi dua bagian; 1. Perbaikan yang masyru’ dan 2. Perbaikin yang ma’ruf.

Perbaikan yang masyru’, diantaranya: a) Bidang Akidah, dalam bidang ini kita harus meyakini bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan meyakini pula, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusannya. Serta meyakini Rukun Iman yang telah di tentukan. b) Bidang Ibadah, dalam bidang ibadah ini kita harus menjalankan apa yang telah di perintahkan Allah SWT, seperti; sholat, zakat, puasa, haji dan lain-lain. Dan dalam ibadah ini harus diikuti bentuk materi serta factor-faktor yang menjadi persyaratan yang di tetapkan dalam ajaran Rasulullah SAW. c) Bidang Tata-tertib Kemasyarakatan, dalam bidang tata-tertib kemasyarakatan, islam mempunyai garis-garis peraturan yang jelas dalam menuju kehidupan masyarakat yang harmonis, baik dalam bidang ekonomi, pergaulan , adab, dan pembinaan rumah tangga. Oleh karena itu dalam bidang tata-tertib kemasyarakatan ini Islam sangat melarang segala bentuk yang membawa kepada akses kekerasan dan kekacauan. Baik itu ketika bergaul, berkerja, dan lain-lain.

Perbaikan yang ma’ruf, dalam hali ini yaitu perbaikan yang dikenal dalam Agama Islam dengan perkataan Al- Ma’ruf, artinya tiap-tiap perkara yang dianggap baik oleh masyarakat dan tidak menyalahi ajaran Agama Islam.

Ketiga, Metode Dakwah, dalam hal ini, menurut Kiai Zaini Mun’im, yang selalu menarik perhatian umat Islam pada tiap-tiap masa dan tempat. Sekarang masalahnya adalah: Bagaimana metode atau cara yang baik dalam menyampaikan dakwah? Menurut Kiai Zaini Mun’im, sebenarnya garis-garis dakwah sejak lahirnya Islam hingga akhir zaman adalah satu, yaitu seperti yang telah digariskan dalam firman Allah SWT: “serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl, 125)

Dalam ayat diatas sudah disebutkan rentetan cara-cara dakwah, yaitu: Dengan hikmah kebijaksanaan, peringatan-peringatan yang baik dan berdialog dengan cara yang baik pula. Dan yang tidak kalah pentingnya juga adalah seorang juru dakwah harus mengetahui sasaran yang dituju serta media yang dipakai. Adapun sasaran yang dituju adalah masyarakat tentu juru dakwah harus mengetahui wataknya, kepercayaannya, kegemarannya, kelemahan-kelemahnya serta Bahasanya. Adapaun media yang di pakai adalah media yang tepat dan menarik minat masyarakat sehingga dapat mengesankan.

Keempat, Tujuan dakwah, bahwa tujuan dari dakwah, menurut Kiai Zaini Mun’im ialah mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT: “Allah mengajak (manusia) kepada Negara sentosa/Darussalam” (QS. Yunus: 25).

Sebagai penutup, semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan kita, terlebih bagi seorang juru dakwah.

 

Oleh: Muhammad Zainal Abidin S (Alumni Santri Nurul Jadid dan Guru MTs Al-Ustmani Beddian Bondowoso)

 

 

hari santri nasional

Hari Santri, Hari Kemenangan NKRI

Hari Santri, merupakan upaya untuk mewujudkan semangat membara pada seluruh anak bangsa. Dimana tepat pada tanggal 22 Oktober hari bersejarah, para kaum sarungan ikut andil melawan para penjajah yang sekian lama menduduki bangsa. Dengan semangat yang tinggi kaum sarungan berkeinginan untuk mempertahankan nasib bangsa dari cengkraman kapitalisme. Dalam beberapa literatur sejarah, beberapa tokoh santri rela mengorbankan harta maupun nyawa demi membela tanah air, presiden Joko Widodo, mengatakan mengingat peran historis para santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti K.H. Hasyim As’yari dari Nahdlatul Ulama, K.H. Ahmmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al-Irsyad dan Mas Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta mengingat pula 17 nama-nama perwira Pembela Tanah Air (Peta) yang berasal dari kalangan santri, pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Tidak bisa dipungkiri, jaringan ulama-santri telah berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan, menegakkan kedaulatan, keadilan bangsa pada masa revolusi, serta mengawal negeri pada masa awal kemerdekan. Peran para kiai dalam mengawal perjuangan tidak bisa dilupakan dalam narasi sejarah bangsa Indonesia. Kontribusi tak bisa dihilangkan dalam putaran sejarah, mereka terbukti kokoh dalam menguatkan pondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Para santri membentengi Indonesia dari pelbagai ancaman selama beradab-abad, dari serbuan kolonial, agresi militer hingga ancaman terhadap ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa,” kata Munawir Aziz, penulis buku ‘Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional’ dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Sabtu (7/5/2016).

Barisan pejuang kiai-santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah (dikomando Kiai Zainul Arifin), Laskar Sabilillah (dikomando Kiai Masykur) dan Laskar Mujahidin pimpinan Kiai Wahab Chasbullah, merupakan jaringan militer dari pesantren yang dibentuk sebagai tulang punggung perjuangan kemerdekaan. Mereka bergabung bersama barisan militer dari pemuda dan tentara, sebagai penopang perjuangan kemerdekaan. Kontribusi para kiai dalam menggerakkan pemuda santri dan warga dalam mengawal kemerdekaan terjadi dengan koneksi yang berlangsung lama, dalam hubungan guru-murid antar pesantren di Nusantara.

Resolusi Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi pemantik semangat dan menginspirasi pejuang santri dan warga untuk terjun ke medan laga melawan penjajah. Pertempuran berlangsung di berbagai daerah secara serempak, demi mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan NKRI. Palagan Ambarawa di Jawa Tengah dan pertempuran di Surabaya, Jawa Timur pada November 1945 merupakan cermin kekuatan pemuda santri dan warga yang digerakkan oleh semangat jihad mempertahankan tanah air. Pertempuran heroik 10 November 1945 diabadikan sebagai ‘Hari Pahlawan’ oleh pemerintah Indonesia, untuk mengenang jasa-jasa pahlawan yang berjuang dengan nyawa, darah dan air mata.

“Sayangnya para pejuang militer dari kalangan santri tidak banyak ditulis dalam catatan sejarah. Dengan sumbangsih terhadap perjuangan kemerdekaan, sudah semestinya kiai-kiai pesantren mendapatkan perhatian utama sebagai pahlawan bangsa,” ujar Munawir yang pernah melakukan riset akademis di beberapa universitas di Jerman, Belanda, dan Prancis pada 2011 dan 2013.
Untuk itu, perayaan Hari Santri tidak hanya dipahami sebagai bentuk kenang dari perjuangan kaum santri dalam memberikan pengorbanannya terhadap bangsa, akan tetapi ini merupakan jalan agar setiap anak bangsa mampu meneladaninya. Paling tidak ada tiga hal yang harus didapat dalam semat patriot kaum sarungan. Pertama: Mengingat bahwa keutuhan dalam mempertahankan bangsa, terlahir dari masyarakat Pesantren. Kedua: Santri dengan caranya masing-masing bergabung bersama elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan, seperti yang diutaran Presiden Jko Widodo. Hal ini mengisyaratkan bahwa perjuangan kaum santri dalam memerdekakan bangsa adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. ketiga: Pesantren tidak hanya mengajari hubungan mahluk pada khaliqnya, lebih dari itu, kecintaan terhadap tanah air merupakan kewajiban yang harus terpatri dalam jiwa raganya. Dengan pelaksanaan Hari Santri Nasional (HSN), anak bangsa mampu menumbuhkan semangat menyatukan dalam keberagaman, semangat menjadi satu nafas untuk Indonesia. Ditengah terpaan arus globalisasi dan tantangan dunia modern budaya melekat nilai-nilai untuk saling menghargai, saling menjaga toleransi, dan saling menguatkan tali persaudaraan antaranak bangsa terkadang menjadi ancaman cukup serius, sehingga Bhinneka Tunggal Ika akan menjadi taruhan. Sangat menggetarkan saat kalimat ini terungkap dari kaum santri “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“. Ini menandakan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari kehidupannya. Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Dari Santri Untuk NKRI

Ponirin Mika
Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Muharram Bulan Muhasabah

“Momentum peringatan tahun baru Islam ini merupakan momentum untuk bermuhasabah”

(KH. Zuhri Zaini)

 

Muharram merupakan salah satu dari bulan-bulan yang dimuliakan (asyhur-alhurum). Yaitu meliputi Muharram, Dzulhijjah, Dzulqo’dah dan Rajab.  Dinamakan bulan yang dimuliakan, karena dipermulaan Islam kaum muslimin tidak diperboehkan melakukan pertempuran dalam bulan-bulan tersebut. Allah menjelaskan melalui firmannya dalam alqur’an :

سْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ. قُلْ قتِاَلٌ فِيْهِ كَبِير ُُ

Mereka bertanya kepada engkau tentang bulan haram, bagaimana berperang pada bulan itu? Katakanlah : berperang dibulan itu adalah besar (dosonya) (QS. Al-Baqorah : 217)

Walaupun ada beberapa penjelasan mengenai larangan berperang dibulan “asyhurul Hurum” pertama:  apabila ada pihak yang berbuat dhalim dan akan mengancam nyawa dan agama maka pada bulan tersebut diperbolehkan melakukan perlawanan (perang) sebagaimana dijelaskan  Ibnu Mu’thi Rahimahullah :

“Berdasarkan ijma’ ulama, boleh melakukan peperangan pada bulan-bulan dengan tujuan membela diri dari serangan penganiaya”(Al-Furu; 47/10 dan Zaadul Ma’aad:3/301) . kedua : sejumlah ulama yang lain berpendapat bahwa hukum haramnya berprang dibulan-bulan tersebut tetap ada dan tidak dihapus, berdasarkan firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiar-syiar Allah, dan janganlah melanggar kehormatan bulan-bulan haram” (QS. Al-Maidah:2).

Bulan Muharram juga disebut dengan    (bulan Allah), ini dapat diartikan bahwa bulan muharram memiliki keutamaan khusus, karenan disandarkan pada lafadz Allah. Para ulama’ menyatakan bahwa penyandaran sesuatu pada lafadz jalalah memiliki makna pemuliaan, seperti Baitullah, Rasulullah, Habibullah, Kholilullah dan lainnya.

Hikmah Tahun Baru Islam

Seperti yang di dawuh-kan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid bahwa, tahun baru islam adalah momentum untuk bermuhasabah terhadap prilaku, sikap maupun tutur kata selama satu tahun. Karena dengan bermuhasabah (evauasi diri) akan mampu mengawali hidup dengan lebih baik. Jika tidak mampu mengambil hikmah pada momentum perayaan tahun baru hijriyah ini, maka kita termasuk orang yang merugi. Sangat disayangkan apabila perayaan tahun baru hijriyah hanya dijadikan rutinitas tahunan yang bersifat seremonial, tanpa menggali makna hijrahnya Nabi untuk diwujudkan dalam kehidupan selanjutnya. Dengan muhasabah ini pula, prilaku yang kurang baik akan terekam untuk tidak dilakukan lagi dan prilaku baik semakin ditingkatkan. ada kalimat yang masyhur : barang siapa prilakunya hari ini lebih jelek dari perilaku yang kemarin maka ia termasuk orang yang celaka, barang siapa yang prilakunya sama seperti perilaku yang kemarin maka ia termasuk orang yang rugi, tapi barang siapa yang perilakunya lebih baik dari hari yang kemarin maka ia termasuk orang yang beruntung”. Evaluasi diri akan membantu seseorang mengetahui terhadap amaliyahnya, dan ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang mengakui dirinya sebagai hamba yang lemah dan tidak pernah alpa dari kesalahan-kesalahan.

Sementara bagi orang yang memelihara kesombongan, tidak akan melakukan muhasabah, karena ia merasa benar dan baik. Inilah pengaruh dari kesombongan,membuat hati buta dan tidak akan mengetahui terhadap kebenaran dan kebaikan. Disamping itu, ada tiga renungan didalam bulamn muharram :

  1. Bersyukur atas nikmat Allah

Umur adalah nikmat Allah yang begitu berharga, nafar yang keluar dari setiap orang adalah mutiara dan siapapun yang menyia-nyiakan maka dia termasuk orang yang akan menyesal, karena umur dan nafas tidak akan kembali. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa umur dan nafas sebagi nikmat besar yang harus disyukuri, oleh karenanya patut menggunakan umur dan nafar untuk memperbaiki kesalahan, menambah amal saleh sebagi ekal menghadap Allah.

  1. Muhasabah

Pergantian tahun baru bukan sekedar pergantian kelender  di rumah, namun merupakan peringatan, terhadap aktifias tahun sebelumnya, apakah sudah mellaksanakan kewajiban dengan baik atau tidak, juga apa yang akan dilakukan dalam kehidupan selanjutnya.

  1. Mengenang hijrah Rasulullah

Perisiwa hijrahnya Rasulullah SAW seyogyanya dijadikan sebagai pelajaran berharga dalam kehidupan sehar-hari. Betapapun beratnya menegakkan agama Allah, tetapi seorang muslim tidak layak berpangku tangan menyerah pada keadaan, namun semuanya bisa dijadikan sebagia motivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan maslahah

 

Oleh : Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid Paiton Prbolinggo)

“Metani” Wajah dan Makna Peran Perempuan

Satu makhluk Tuhan ini memang selalu unik, seksi dan menggairahkan untuk diperbincangkan. Tak habis-habisnya kata dimuntahkan dan tulisan ditorehkan untuk mengungkap misteri dari makhluk Tuhan yang paling seksi ini. Mulai dari berbentuk buku serius dan njlimet milik para pemikir yang tulisannya sulit diparkir sampai tulisan santai yang terus berantai di tembok sekolah, gudang beras, tembok terminal, tiang listrik, atau di pasir pantai. Rasa-rasanya saya sendiri kehabisan kata-kata untuk metani perempuan dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, bahkan sampai ke perok tetetnya, dimana perempuan masih terus mengeluarkan aura-aura misteri yang tak kunjung mati.

Selagi saya masih terkagum-kagum dan terseok-seok memahami sosok yang aduhai ini, paling tidak ini adalah curahan hati dan imajinasi penulis tentang perempuan. Mari kita mulai dengan metani sisi perwajahan perempuan. Oh iya…..bagi yang tidak faham metani; ini adalah ungkapan yang berasal dari bahasa jawa dari kata petan. Sederhananya adalah kegiatan yang dilakukan oleh—biasanya—ibu-ibu untuk mencari kutu di rambut. Kalau tidak salah bahasa maduranya alek-selek. Sekarang kembali lagi ke masalah metani sisi perwajahan perempuan hasil dari imajinasi saya selama njagongi dan “mengintip” perempuan . Pertama, sebagian besar asumsi akan membenarkan walaupun terkadang tidak jujur atau bersembunyi dibalik motif “melihat perempuan dengan tidak sebelah mata”, bahwa ketika perempuan tampil ke ranah publik sebagian besar yang dipandang adalah relasinya dengan penampilan. Apalagi kalau sudah menyentuh dunia entertain, pasti ukuran awalnya adalah perwajahan atau penampilan. Hanya untuk kepentingan tertentu saja menggunakan ukuran sebaliknya. Inilah yang biasa gamblang disebut dengan mitos kecantikan.

Begitupun pada ranah publik yang lain, banyak pengalaman-pengalaman pekerja perempuan yang mengalami diskriminasi hanya karena persoalan kecantikan. Dengan menggunakan standarisasi yang disebut PBQ (A Professional Beauty Qualification) atau Kualifikasi Kecantikan Professional, perusahaan-perusahaan membuat seolah-olah tidak terjadi diskriminasi terhadap perempuan, dengan alasan bahwa PBQ merupakan syarat untuk melakukan kerja yang mereka inginkan. Oleh standar tersebut kaum perempuan dipaksa untuk selalu memikirkan kecantikan mereka. Di luar standar tersebut, maka perempuan tidak dikategorikan cantik. Dari beberapa kasus pemutusan hubungan kerja yang dialami oleh kaum perempuan, sebagian besar disebabkan oleh tidak terpenuhinya syarat-syarat kecantikan yang telah ditentukan oleh perusahaan. Bahkan pula, hal yang paling gampang-gampang sulit; persoalan pasangan. Disinilah kejujuran kaum adam dipertanyakan; tentang kesepakatan terselubung mereka untuk memilih tampilan. Well, saat itulah perempuan menjadi tersihir untuk tampil selalu cantik. Anda boleh sepakat atau tidak, percaya atau tidak saya kira begitulah kenyataannya.

Kedua, Secara otomatis pula, ketika perempuan mengejar untuk menjadi yang tercantik, saat itulah dia akan menjadi orang yang menderita, karena hidupnya dibayang-bayangi hantu keriput, jerawat, kegemukan, kulit hitam dan mitos-mitos lain tentang ciri-ciri perempuan yang mudah dipandang sebelah mata. Dengan begitu, masuklah kemudian kepentingan pasar global—yang memang sengaja diciptakan agar memiliki konsumen yang fanatis—terhadap image perempuan yang bisa menarik segala keberuntungan dengan membuat kriteria cantik menurut mereka, melalui iklan-iklan dan bualan-bualan di televisi maupaun di pasar-pasar.

Obsesi untuk selalu ingin cantik mendorong kaum perempuan merelakan tubuhnya terbaring di atas meja-meja operasi plastik dan bedah komestik serta membiarkan para dokter berkreasi atas tubuh mereka. Dengan malakukan operasi plastik mereka berusaha memenuhi tuntutan standar kecantikan yang berlaku di masyarakat. Serangan kecantikan yang bertubi-tubi terhadap kaum perempuan telah membiarkan terjadinya kekerasan hak asasi terhadap tubuh perempuan. Mengutip tulisan Naomi Wolf, “Setelah melampaui mitos kecantikan, perempuan tetap akan disalahkan karena penampilan mereka. Perempuan akan disalahkan oleh siapa saja yang merasa perlu untuk menyalahkan mereka. Perempuan “cantik” tidak menang di atas mitos kecantikan.” Wal hasil asumsi ketiga, perempuan dijadikan sasaran dari eksploitasi produksi pasar kapitalis dengan terus menciptakan produk dan mempromosikan tentang perempuan idaman yang memiliki daya tarik. Kalau sudah demikian, ketika kaum adam disuguhi tentang citra perempuan yang dapat mendongkrak gengsinya, dengan kriteria yang telah dibuat sedemikian apik oleh kepentingan pasar, munculah asumsi yang keempat, perempuan akan selalu dipandang sebagai objek seksualitas; bukan kapasitas, hanya untuk memuaskan nafsu birahi; bukan iner beauty yang memancar dari keanggunan akal dan mental, jiwa dan kesopanan. Yang dimaksud dengan objek adalah pengeksploitasian tubuh secara berlebih, bukan untuk menjadi fokus utama, tetapi hanya sebagai pelengkap, produk sekunder saja. Ironisnya lagi, jika kita lihat media massa; termasuk obrolan di restoran, cafe bahkan warteg, menjadikan wanita sebagai pribadi sekunder, sebagai objek dari media itu. Hal ini jelas berimplikasi pada semakin menguatnya stigma yang melekat pada kesucian wanita. Superioritas pria semakin ditekankan, dan mempersuasi publik secara latent melalui media tersebut. Sekarang kembali kepada perempuan sendiri; mau terus menderita dihantui dengan menjadi cantik sebagaimana kategori dalam objek seksualitas, atau bangkit dan menjadi orang yang merdeka dengan menentukan cantiknya sendiri. Hmm…. Gampang-gampang sulit kayaknya ya…. Tapi saya yakin pembaca tulisan ini adalah perempuan kuat yang tampil dengan keanggunan fikir dan kemapanan akhlaknya. semoga!

Masih belum selesai….. monggo kita metani makna peran perempuan. Kekasih-kekasihku sebangsa dan setanah air; para kaum hawa, mengutip sedikit dari hadits nabi yang sudah tidak asing bunyinya لنساء عماد البلاد ان صلحت صلح البلاد وان فسدت فسد البلادا (perempuan adalah tiang negara apabila perempuan baik maka negara akan menjadi baik, jika perempuan jelek (akhlaqnya) maka negara akan menjadi jelek). Dengan demikian betapa mulya dan luar biasanya kedudukan perempuan sehingga bisa menjadi barometer bagi baik buruknya sebuah negara. Isi negara terdiri dari kumpulan masyarakat dengan satuan terkecil adalah keluarga. Lebih sederhananya, keluarga adalah ujung tombak negara dalam menciptakan kondisi yang adil, makmur, aman dan sentosa. Setiap keluarga menjadi tonggak negara dengan peran yang sangat penting dalam rangka menanamkan nilai-nilai luhur kebangsaan. Lalu, setiap keluarga tentunya memiliki anggota keluarga dimana peran ibu menjadi sangat penting dalam rangka menanamkan nilai-nilai luhur tersebut. Maka, tidaklah berlebihan bunyi hadits diatas dengan mengatakan perempuan sebagai tiang Negara, karena masa depan generasi bangsa ada dalam genggamannya dan bagaimana seorang perempuan yang menyandang gelar “ibu” mengarahkan masa depan anak-anaknya. Sehingga menjadi hal yang wajar dan keharusan jika pendampingan yang ekstra kepada generasi bangsa dilakukan dengan intens. Sentuhan perempuan yang bergelar ibu tak bisa tergantikan dengan seribu tangan baby sister dengan alasan kesibukan apapun, apalagi hanya alasan mengejar karir dan tambahan pundi-pundi kekayaan keluarga. Sekarang pilihannya karir yang dikorbankan atau anak dan keluarga yang terlantar?!. Lebih memilih sukses sendiri atau menahan diri dengan mempersiapkan sepuluh (jika mau punya anak sepuluh hehehe) kader-kader bangsa yang dibimbing oleh perempuan sejati?!. Maka kembalilah wahai perempuan ke pangkuan nilai-nilai islami. Sebuah syiir melantun….الأم مدرسة إذا أعددتها أعدت جيلا طيب الأعراق  (Ibu adalah madrasah jika kamu menyiapkannya, maka dia menyiapkan generasi berkarakter baik) وإذا النساء نشأن فى أمية رضع الرجال جهالة وخمولا  (Apabila para ibu tumbuh dalam ketidaktahuan, maka anak-anak akan menyusu kebodohan dan keterbelakangan). Syiir yang terakhir ini mengingatkan pada setiap perempuan: siapkanlah ilmumu. Bagi perempuan yang belum bergelar “ibu”, carilah ilmu sehebat mungkin. Isilah kantong-kantong fikiranmu dan akhlakmu dengan pengalaman yang seluas-luasnya. Lalu satu hal yang harus engkau janjikan: “semua itu adalah untuk anak-anakku!”

Sekarang pilihan ada ditanganmu wahai perempuan. Apakah engkau akan membiarkan anak-anakmu tidak mengenalmu atau sebaliknya bangga dengan memilikimu. Sehingga dalam setiap soal yang diajukan kepada anak-anakmu; siapakah pahlawan yang paling berjasa? dengan sigap, tegas dan lantang mereka menjawab: ibuku!

Rojabi Azharghany

(santri dan khodim Pesantren Nurul Jadid)
Dimuat pada majalah ALHASYIMY edisi kedua 2017.

Etika Pergaulan Laki-Laki dan Perempuan dalam Islam (Sebuah Ringkasan)

Islam memberikan perhatian yang besar terkait etika (akhlak) pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Berikut saya coba merangkum topik dimaksud dari buku Nilai Wanita karya KH Moenawwar Chalil (1977):

  1. Pandang-Memandang

Firman Allah yang artinya:

“Katakanlah olehmu (Muhammad), kepada orang-orang lelaki yang beriman: hendaklah mereka itu memejamkan setengah daripada pandangan mata mereka…” (QS An-Nur Ayat 30)

“Dan katakanlah olehmu (Muhammad), kepada orang-orang perempuan yang beriman: hendaklah mereka itu memejamkan setengah dari pandangan mata mereka…” (QS An-Nur Ayat 30)

Berhubungan dengan hal ini, dalam banyak hadis disebutkan:

  • Sahabat Jarir RA berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw dari hal melihat wanita yang tidak disengaja. Beliau bersabda, “Palingkan mukamu!”.” [Hadis Riwayat Imam Muslim, Ahmad, dsb]
  • Sahabat Buraidah RA berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Hai Ali, jangan kamu ikutkan satu pandangan dengan satu pandangan yang kedua, karena sesungguhnya bagi kamu pandangan yang pertama dan tidak bagi kamu pandangan yang kedua.” [HR Imam Ahmad, Abu Dawud, dsb]
  • …Rasulullah Saw bersabda, “…aku melihat seorang pemuda dan pemudi pandang-memandang, maka aku tidak menjamin keamanan kedua-duanya dari godaan setan.” [HR Bukhari, Muslim, dsb]
  • Dalam sebuah hadis Qudsy, Rasulullah Saw bersabda, “Pandangan itu semacam anak panah yang berbisa dari anak-anak panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya lantaran takut kepada-Ku (Allah), maka Aku akan menggantinya dengan manisnya iman di hatinya.” [HR Tabrani]
  • Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seorang lelaki Muslim yang melihat kepada kecantikan seorang perempuan-sekali pandangan-kemudian ia memejamkan pandangan matanya, melainkan Allah pasti mengganti padanya satu ibadah yang ia akan dapati rasa manisnya di dalam hatinya.” [HR Imam Ahmad dan Tabrani]
  1. Bertatap Muka atau Berjumpa (Ketemuan)

Kalau pandang memandang antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrimnya saja sudah dilarang, apalagi ketemuan. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka janganlah ia bertemu sendirian-di satu tempat-dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.” [HR Ahmad]

Nabi juga bersabda: “Janganlah seorang wanita pergi melainkan dengan disertai mahram: dan janganlah seorang lelaki masuk ke tempat wanita, melainkan jika dia dengan seorang mahram.” [HR Bukhari, Muslim, Ahmad]

  1. Bercakap-cakap (Berbicara)

Kalau memandang dan bertemu muka antara lelaki dan perempuan saja tidak boleh, demikian juga dengan berbicara atau bercakap-cakap di antara keduanya. Sahabat Amir RA bercerita, “Rasulullah Saw melarang orang-orang perempuan diajak bercakap-cakap, kecuali dengan izin suami-suami mereka.” [HR Tabrani]

Larangan ini bagi wanita yang sudah bersuami, kalau masih belum bersuami harus dengan izin atau di dampingi walinya atau mahramnya. Ajaran Islam ini tentu bukan hendak mempersulit urusan, melainkan dalam angka menjaga peristiwa yang tidak diinginkan bagi kedua belah pihak, terutama bagi wanita agar tidak ada fitnah yang bukan-bukan.

  1. Berjabat Tangan (Salaman)

Tentang berjabatan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya, di antara hadis yang menjelaskannya sebagai berikut:

“Sesungguhnya aku tidak pernah bejabatan tangan dengan orang-orang perempuan.” [HR Imam Malik,Tumudzi, dll]

Aisyah RA bercerita, “Rasulullah Saw tidak pernah sekali-kali menyentuh (berjabatan) dengan tangan seorang wanita yang bukan haknya.” [HR Bukhari, Muslim, dst]

Larangan yang demikian tersebut tidak lain bertujuan untuk menjaga kesopanan dan kesucian (kemuliaan) seorang Muslim.

  1. Bersentuh Badan

Kalau bersalaman saja sudah dilarang, apalagi sentuh menyentuh, peluk memeluk, dan seterusnya.

Nabi bersabda:

“Sungguh jika sekiranya kepala seseorang di antara kalian ditikam dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh orang wanita yang tidak halal baginya.” [HR Imam Baihaqi dan Tabrani]

“Sungguh sekiranya seorang lelaki menyentuh dengan seekor babi yang berlumuran darah atau lumpur yang amat busuk baunya, itu lebih baik daripada menyentuhkan bahunya pada bahu seorang perempuan yang tidak halal baginya.” [HR Tabrani]

Dua hadis ini menunjukkan tercelanya orang lelaki yang menyentuh badan atau tubuh perempuan yang tidak halal baginya. Kalau “menyentuh” saja sudah dilarang, apalagi perbuatan yang melampauinya.

Karena itu, Nabi bersabda, “Mata zinanya adalah memandang. Telinga zinanya adalah mendengarkan. Lidah (mulut) zinanya adalah berbicara. Tangan zinanya adalah menyerang atau menyentuh. Kaki zinanya adalah berjalan. Adapun hati (zinanya) adalah berhasrat dan berangan-angan. Dan (zinanya) kemaluan adalah membenarkan atau mendustakan itu semua.” [HR Muslim]

Jadi,  zina kemaluan merupakan puncak atau benteng terakhir  dari “kesucian” seseorang yang akan membenarkan atau menolak perbuatan yang dilarang tersebut.

Seorang penyair kebanggaan Islam, Ahmad Syauqi Bek, merangkum jalan-jalan setan tersebut dalam sebuah syair: Sekali pandang, sekali senyuman, kemudian kirim salam, lalu berbincang-bincang, kemudian janjian, lalu pertemuan.

Selain hal-hal penting di atas, masih banyak etika yang diajarkan Islam terkait hubungan laki-laki dan perempuan, seperti larangan berdesak-desakan atau campur baur (misalnya, ketika berjalan perempuan hendaknya menepi di pinggir jalan alias tidak melewati jalan lelaki, tidak keluar rumah/keluyuran, ada jalan khusus/pintu khusus bagi perempuan, adanya hijab atau satir, dsb), pengaturan dalam shaf shalat (perempuan di berada di shaf paling belakang, laki-laki di depan), dan adanya pemisahan tempat bagi laki-laki dan perempuan yang sedang belajar, larangan bagi perempuan memakai mewangian (farfum) di tempat umum,  dan sebagainya.

Demikianlah, agama kita telah mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan sangat baik dan aman. Islam masih membolehkan jika interaksi keduanya dilakukan dalam tiga hal, yakni khitbah atau tunangan (hanya melihat wajah dan tangan, tidak lebih), mu’amalah (seperti bisnis jual beli, mengajar, politik), dan berobat. Hal dilakukan semata untuk kebaikan dan masa depan kedua belah pihak mengingat keduanya memiliki tanggungjawab yang besar di Bumi.

Semoga ringkasan ini bermanfaat bagi semuanya dan penulis senantiasa mendapatkan ampunan dan pintu maaf-Nya.

*Mantan Ubudiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Salah satu karyanya yang telah diterbitkan: Jejak Spiritual Nyai Pesantren: Obsesi dan Keteladanan Nyai Mukarromah dari Cangkring (Pustaka Ilmu, 2016).

 

Perempuan Pesantren Mengawal Kemajuan Bangsa

Peranan yang sangat strategis yang diamanatkan kepada perempuan diharapkan menjadi cikal bakal kemajuan suatu bangsa. Peran perempuan sebagai seorang ibu tak terlepas kiprahnya dalam menentukan masa depan dan kualitas anak-anaknya. Perempuan dilahirkan untuk menjadi sosok seorang “ibu” dari anak yang dilahirkan maupun yang tidak langsung dilahirkannya disebabkan anak-anak dibesarkan dan dididik oleh seorang ibu. Oleh sebab itu, Seorang ibu yang pintar, berpengetahuan, berkualitas diharapkan dapat mendidik anak-anaknya dengan cara yang berkualitas pula.

Sebagai seorang ibu, perempuan harus mempersiapkan diri untuk menjadi ibu dan warga masyarakat yang berguna. Seorang ibu seyogyanya adalah figure yang pandai, pintar, dikarenakan sekolah  pertama dan utama bagi anak-anaknya adalah ibu. Oleh sebab itu, menjadi teladan atau model/contoh yang baik merupakan syarat yang mutlak dan harus dipenuhi . Islam Mengajarkan berbagai konsep pembinaan seorang ibu kepada anak-anaknya, diantaranya Pertama, Anak itu  dilahirkan  dalam  keadaan  fitrah  (suci),  ibu  dan bapaknyalah yang akan membawa anak tersebut menjadi Nasrani, Yahudi maupun Majusi. (Hadist Rasulullah), Kedua, Ibu adalah madrasah (sekolah) bagi anak-anaknya, Ketiga,  Perempuan adalah tiang negara, bila perempuan baik maka baik pula negaranya. Tapi bila perempuannya rusak maka rusak pula negaranya.

Berdasarkan pemahaman tersebut, menunjukkan bahwa perempuan meupakan penentu kemajuan bangsa yang diutus sebagai pengarah untuk dalam mendidik serta mengarahkan anak-anak mereka kearah yang lebih baik.             Seorang ibu memiliki peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anaknya sejak dini, sebab ibu adalah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman, dan sosok yang pertama didengar dan dipercaya ucapannya. Karenanya ibu adalah sekolah yang pertama bagi anakanaknya. Peran yang sangat menentukan kualitas generasi mendatang, dan pantas kalau perempuan (ibu) diibaratkan sebagai tiang negara.

Kiprah perempuan dalam masa sekarang ini adalah dengan meningkatkan peran domestik dan peran publik. Mengapa peran perempuan perlu ditingkatkan? Perempuan menghadapi tantangan serius sehubungan dengan meningkatnya aksi kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan tersebut bisa berupa kekerasan domestik (rumah tangga) dan kekerasan di wilayah publik. Kekerasan dalam rumah tangga dialami oleh perempuan seperti kasus perceraian, penganiayaan, eksploitasi, hingga pada taraf kerja ganda serta pemerkosaan. Sedangkan kekerasan perempuan di publik, diantaranya, terjadinya tenaga kerja illegal, perdagangan anak dan perempuan yang berkedok pencarian tenaga kerja wanita. Kekerasan-kekerasan ini kian hari kian marak dan memprihatinkan seiring kemiskinan dan kebodohan di satu sisi. Akibatnya, banyak korban perempuan miskin mengalami tindak kekerasan.

Strategi Pemberdayaan Perempuan Pesantren

Membangun kesadaran tentang dunia perempuan diharapkan mampu dikembangkan di kalangan pesantren sehingga nantinya kita bersama-sama bisa berperan aktif dalam penanganan kekerasan terhadap perempuan. Kenapa pesantren? Karena pesantren adalah institusi yang paling dekat dengan kelompok masyarakat yang selama ini mengalami dampak-dampak negatif kekerasan tersebut. Pesantren diharapkan mampu memberikan perlakuan yang terbaik bagi anak-anak dan perempuan. Dan pesantren diharapkan mampu menggerakkan perempuan merebut peran publik baik di wilayah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sehingga unsur perempuan banyak dilibatkan dalam setiap pergerakan bangsa ini. Dan, perempuan mendapat kesempatan sama memperoleh akses ekonomi, sosial dan politik. Keterlibatan perempuan di ranah publik ini akan mempercepat pendidikan perempuan.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang paling tua telah menerapkan proses kadernisasi, khususnya bagi para santriwati yang masih berdomisili di Pesantren. Bentuk pengkaderan tersebut diharapkan menjadi proses pembekalan kepada santri wati untuk belajar berorganisasi, baik berorganisasi pada lingkungan yang local maupun yang lebih luas. Salah satu pondok pesantren yang juga sangat memperhatikan proses kadernisasi sebagai bentuk implementasi dari panca kesadaran ke-5 yaitu Kesadaran berorganisasi adalah Pondok Pesantren Nurul Jadid Wil. Al-Hasyimiyah.

Pondok Pesantren Nurul Jadid Wil. Al-Hasyimiyah adalah salah satu bagian kecil di bawah yayasan pondok pesantren Nurul Jadid. Pondok pesantren Nurul Jadid merupakan salah satu wilayah putri yang diasuh langsung oleh Ibunda. Ny. Hj. Masruroh Hasyim. Wilayah yang terlaetak di bagian timur pondok pesantren Nurul Jadid Ini adalah wilayah yang dihuni oleh kurang lebih 1500 santri baik tigkat siswi maupun mahasiswi. Dengan banyaknya santri yang berdomisi di wilayah tersebut diperlukan management yang tepat dalam rangka mengefektifkan proses pembinaan dan pengawalan dalam melaksanakan kegiatan pesantren. Oleh sebab itu, santri dibagi rata sesaui dengan lembaga formal yang dijalaninya. Serta masing-masing daerah telah dikoornir oleh pengurus daerah yang membantu serta mengawal pelaksanaan kegiatan di daerah tersebut. Tidak hanya itu, dalam rangka mengidentifikasi masing-masing karaktertik anak yang serta mempermudah pengawasan dalam mengikuti kegiatas dibentuklah wali Asuh yang diambil dari pengurus daerah  dan masing-masing wali asuh membina max 15 Orang santri.

Sistem pembinaan dan pengawalan oleh wali asuh yang ikut andil dalam melakukan pembinaan kepada setiap santri merupakan proses pembelajaran bagi segenap pengurus sebagai seorang ibu yang nantinya akan diamanahkan seorang anak yang akan dididik menjadi tunas bangsa. Tidak hanya sekedar menangani proses pengawalan dalam mengikuti kegiatan pesantren, demikian pula hal terkencil juga ditangani oleh wali asuh, semisal pemberian belanja harian dan pencatatan sirkulasi keuangan santri sehingga semua santri dapat mengatur keuangannya sejak dini. Jika pengurus telah mampu menjadi wali asuh yang baik serta mampu melakukan  pembinaan secara maximal kepada anaknya masing-masing. Maka, pengurus tersebut akan berkiprah pada level yang lebih tinggi sebagai pengurus Wilayah, namun tidak mengabaikan tugas kewaliasuhannya. Sebagai seorang pengurus wilayah, pengurus memiliki peran ganda yang harus mereka jalankan dan efektifkan bersama tanpa ada salah satu yang ditiggalkan.

Sistem pola pembinaan dan kadernisasi inilah yang mengajarkan dan memberikan pemahaman kepada pengurus untuk selalu belajar menjadi seorang ibu yang baik dan menemani setiap tahapan perkembangan anak-anaknya sebagai tugas utamanya yang harus diemban di ranah domestik. Dan, apabila dia tidak khawatir terhadap tugas utamanya sebagai seorang ibu, dunia pesantren mengajarkannya untuk terus berkiprah di luar rumah selagi tidak melanggar rambu-rambu yang telah digariskan oleh Syari`at selagi mengandung maslahah.

Berdasarkan hal tersebut, pesantren benar –benar memberikan ruang kepada perempuan untuk meningkatan kapasitas diri baik dirumah sebagai seorang ibu, demikian pula untuk mengawal kemajuan ummat di ranah publik. Hal tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap marginalisasi terhadap perempuan yang banyak beranggapan bahwa perempuan merupakan makhluk nomer dua yang tak berhak menjadi pemenang. Padahal, Laki laki dan perempuan dapat meraih prestasi, berpeluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara laki laki dan perempuan, hal tersebut di tegaskan secara khusus dalam (QS.an-nahl; 16:97)

“barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami balasan kepada mereka pahala yang labih baik dari apa yang mereka kerjakan”

Ayat ini mengisyaratkan bahwa konsep gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individu, baik dalam bidang spiritual, maupun dalam urusan karir professional, tidak mesti dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin saja. akan tetapi laki laki dan perampuan itu dapat meraih prestasi optimal.

Sungguh Islam merupakan agama yang sangat memudahkan umatnya untuk menjalankan aturannya, sesuai dengan fitrah manusia yang tidak menghendaki kesulitan dalam hidupnya. Selain diperbolehkannya perempuan beraktifitas dalam ruang public. Menjadi seorang perempuan yang sangat peduli dan bertanggung jawab untuk keluarga adalah wanita yang luar biasa. Sedangkan perempuan yang selain bertanggung jawab kepada keluarganya dan memberikan manfaat lebih kepada orang lain adalah perempuan sempurna. Jadilah perempuan yang sempurna yang dapat melahirkan tunas bangsa dari keluarga sendiri dan membangun peradaban bangsa sebagai wujud keinginan selalu mendatangkan maslahat. (Siti Badriyah) 

Nurul Jadid sebagai Agent of Change (Upaya Meningkatkan Ekonomi Masyarakat)

           Akhir-akhir ini, banyak orang memahami Pesantren adalah wadah yang mengurusi persoalan keagamaan, mengurusi soal ukhrowiyah yang tidak diimbangi dengan duniawiyah mereka menilai bahwa pesantren tidak hadir untuk memperjuangkan nasib masyarakat dari ketimpangan ekonomi dan keterpurukan. sehingga Pesantren dipahami sebagai kaum fatalis, karena memproduksi kehidupan zuhud yang meengabaikan kehidupan dunia. Adalah Kiai Abdul Hamid Wahid, selaku Kepala Pesantren Nurul Jadid, menginginkan agar Pesantren mampu mensejahterakan masyarakat. ia memandang bahwa pesantren tidak hanya institusi yang berkutat pada kegiatan yang berhubungan dengan Allah (vertikal), namun, pesantren harus mampu menjadi jembatan kemakmuran sosial masyarakat (horizontal).

            Pada saat saya mendengarkan keinginan Kepala Pesantren Nurul Jadid, di kediamannya, ia menginginkan bahwa Pesantren harus bergerak ikut memikirkan ekonomi kerakyatan, baik pada masyarakat sekitar pesantren maupun pada Alumni Pesantren Nurul Jadid. Keberadaan pesantren di tengah-tengah masyarakat mempunyai makna sangat strategis, apalagi jika pesantren ini memiliki lembaga pendidikan umum (baca: formal). Lembaga pesantren yang berakar pada masyarakat, merupakan kekuatan tersendiri dalam membangkitkan semangat dan gairah masyarakat untuk meraih kemajuan menuju ke arah kehidupan yang makin sejahtera. Apalagi dalam menghadapi era globalisasi yang berdampak kepada berbagai perubahan terutama di bidang ekonomi maupun sosial-budaya, dan perlu juga memperhatikan gerakan pesantren dalam mengapresiasikan arus globalisasi dan modernisasi yang berlangsung demikian kuatnya saat ini (Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat)

            Arus globalisasi dan modernisasi merupakan proses transformasi yang tak mungkin bisa dihindari, maka semua kelompok masyarakat termasuk masyarakat pesantren harus siap menghadapinya, mempersiapkan terhadap kebutuhan-kebutuhan pada zaman ini, menjadi keniscayaan. Karena pesantren memiliki ciri khas yang kuat pada jiwa masyarakatnya, akibat doktri kemasyarakatan yang menjadi salah satu pembelajaran di Pesantren-Pesantren dan masyarakat tidak bisa dipisahkan. pesantren mesti membutuhkan masyarakat dan begitu juga masyarakat membutuhkan pesantren. Ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap pesantren tidak bisa di hindarkan, terutama masyarakat sejkitar pesantren.  Oleh karena itu pesantren membutuhkan gerakan pembaharuan yang progresif terhadap segala bidang, terutama dalam menghadapi permasalahan sosial-kemasyarakatan. Dan pesantren mestinya memberikan diversifikasi (penganekaragaman) keilmuan unggulan khusus atau keahlian praktis tertentu. Artinya, pesantren perlu membuat satu keunggulan tertentu keahlian praktis lainnya misalnya keahlian ilmu umum dan keahlian praktis lainnya. Pesantren memiliki basis sosial yang jelas, keberadaannya menyatu dengan masyarakat. Pada umumnya, pesantren hidup dari, oleh, dan untuk masyarakat. (Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat)

            Hal ini menuntut adanya peran dan fungsi pondok pesantren yang sejalan dengan situasi dan kondisi masyarakat, bangsa, dan negara yang terus berkembang. Dan sebagian yang lain sebagai suatu komunitas, pesantren dapat berperan menjadi penggerak bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mengingat pesantren merupakan kekuatan sosial yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, akumulasi tata nilai dan kehidupan spiritual di pesantren pada dasarnya adalah lembaga tafaqquh fiddin (pendalaman dan penguasaan ilmu agama) yakni dengan melestarikan ajaran agama Islam serta mengikutkannya pada konteks sosial-budaya.

Untuk mentransformasikan pesantren berperan dalam pemberdayaan masyarakat, maka perlunya langkah-langkah khusus yang dilakukan oleh lembaga tertentu dalam memproduksi santri-santri sebagai “Agent of Change” yang peka terhadap arus modernisasi dan masalah sosial-budaya.

Menciptakan SDM demi meningkatkant Perekonomian Masyarakat

            Tantangan terbesar dalam menghadapi globalisasi dan modernisasi adalah pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) dan ekonomi. Dalam kehidupan telah terjadi transformasi di semua segi terutama sosial dan budaya yang sangat cepat dan mendasar pada semua aspek kehidupan manusia. Berbagai perubahan tersebut menuntut sikap mental yang kuat, efisiensi, produktivitas hidup dan peran serta masyarakat.  SDM yang berkualitas dan tangguh mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dan mengatasi ekses-eksesnya. Perkembangan SDM akan dengan sendirinya terjadi sebagai hasil dari interaksi antara pertumbuhan ekonomi, perubahan sosial budaya termasuk kedalaman pengamalan ajaran dan nilai-nilai agama serta perkembangan modernisasi dan teknologi tentunya. Dalam hal ini pembangunan ekonomi tidak secara otomatis berpengaruh peningkatan kualitas SDM. Namun perkembangan SDM yang berkualitas dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.  Dua hal tersebut (SDM dan pertumbuhan ekonomi) harus diarahkan pada pembentukan kepribadian, etika dan spritual. Sehingga ada perimbangan antara keduniawian dan keagamaan. Dengan perkataan lain pesantren harus dapat turut mewujudkan manusia yang IMTAQ (beriman dan bertaqwa), yang berilmu dan beramal dan juga manusia modern peka terhadap realitas sosial kekinian. Dan itu sesuai dengan kaidah ”al muhafadotu ’ala qodimish sholih wal akhdu bi jadidil ashlah” (memelihara perkara lama yang baik dan mengambil perkara baru yang lebih baik).

            Peningkatan SDM merupakan tuntutan yang wajib dilakukan oleh umat manusia. Di dalam Islam pun sudah ada dalilnya yang berbunyi: ”mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Hal ini menunjukkan sampai kapanpun dalam mengikuti perkembangan zaman globalisasi dan modernisasi harus diikuti pula kesadaran ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya, agar kemampuan untuk bersaing dapat dilaksanakan oleh pesantren. Dan penguasaan ilmu pengetahuan itu merupakan pencerminan dari kehidupan budaya modern dan sekaligus amanat keagamaan, maka tradisi pesantren yang menanamkan etos keilmuan kepada para santri harus dihidupkan kembali, dan tentunya dengan membuka diri kepada ilmu pengetahuan, teknologi, dan pola kehidupan modern.

Kemudian masalah perekonomian menjadi langkah penting bagi pesantren dalam mengorganisir masyarakat. Mengingat dalam arus ’pasar bebas’, masyarakat dituntut untuk berkompetisi hidup dalam melanjutkan kehidupannya. Era globalisasi telah meruntuhkan kekuatan ekonomi masyarakat kecil karena dominasi monopoli pelaku pasar yang sudah menguasai hampir di seluruh pelosok desa. Maka pemberdayaan masyarakat melalui kesejahteraan dan kemandirian ekonomi perlu digerakkan. Pesantren diharapkan mampu menjadi ”pioner perubahan” itu yang kemudian membentuk sebuah gerakan yang praksis di masyarakat. Dalam pengembangan ekonomi juga diperlukan keahlian-keahlian khusus untuk diterapkan meliputi: manusia yang berjiwa sosial, intrepreneurship, bangunan jaringan (baik untuk perdagangan/wirausaha, permodalan dan pemasaran). Masyarakat, khususnya bagi pesantren harus bisa melepaskan diri dari belenggu ”pasar modernisasi” dan lingkaran ekonomi sudah tidak merakyat lagi bagi rakyat kecil.

Dan ada beberapa langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan yakni: keilmuan, jiwa kewirausahaan dan etos kerja/kemandirian.

Keilmuan, dalam hal ini keilmuan agama dan pengetahuan umum seperti yang telah disampaikan tadi. Ajaran agama merupakan pemupukan nilai-nilai spiritual untuk tetap teguh dalam menjalankan agama di kala moderinisasi sudah merasuk pada wilayah jati diri manusia. Sedangkan pengetahuan-pengetahuan keilmuan umum dalam perkembangan zaman terus meningkat dan setiap manusia harus bisa mengikutinya. Dan SDM inilah yang menjadi kunci dari peradaban manusia itu sendiri. Maka diharuskan hidup secara serasi dalam kemodernan dengan tetap setia kepada ajaran agama.

Jiwa Kewirausahaan, etos kewirausahaan dijadikan bagi penumbuhan dan motivasi dalam melakukan kegiatan ekonomi. Gerakan-gerakannya adalah membangun wirausaha bangsa kita sendiri, terutama dari kalangan pesantren dan masyarakatnya. Serta dapat menumbuhkan pengusaha-pengusaha yang tangguh yang mampu bersaing baik di pasar internasional apalagi di pasar lokal itu sendiri.

Pesantren diharapkan dapat melahirkan wirausahawan yang dapat mengisi lapisan-lapisan usaha kecil dan menengah yang handal dan mandiri. Sebenarnya yang diperlukan hanyalah menghidupkan kembali tradisi yang kuat di masa lampau dengan penyesuaian pada kondisi masa kini dan pada tantangan masa depan.

Etos Kerja dan kemandirian, kenyataannya, dalam masyarakat kita etos kerja ini belum sepenuhnya membudaya. Artinya, budaya kerja sebagian masyarakat kita tidak sesuai untuk kehidupan modern. Pesantren, dimulai dengan lingkungannya sendiri, harus menggugah masyarakat untuk membangun budaya kerja yang sesuai dan menjadi tuntutan kehidupan modern. Sedangkan waktu adalah faktor yang paling menentukan dan merupakan sumber daya yang paling berharga. Budaya modern menuntut seseorang untuk hidup mandiri, apalagi suasana persaingan yang sangat keras dalam zaman modern ini memaksa setiap orang untuk memiliki kompetensi tertentu agar bisa bersaing dan dan bermartabat di tengah-tengah masyarakat. Hanya pribadi-pribadi yang punya watak kemandirian saja bisa hidup dalam masyarakat yang makin sarat dengan persaingan.

Dengan demikian, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghadapi segala tantangan, mampu mengambil keputusan sendiri, mempunyai kemandirian, memiliki budaya kerja keras dan daya tahan yang kuat, serta mampu menentukan apa yang terbaik bagi dirinya.

Masyarakat saat ini tidak hanya saja membutuhkan sebuah fatwa atau dalil-dalil yang menyegarkan, tapi juga membutuhkan solusi konkrit dan praksis atas segala permasalahan yang ada. Era keterbukaan dan persaingan bebas sudah dengan cepatnya masuk ke dalam lapisan masyarakat. Kalau tidak menyiapkan diri untuk ”memberdayakan” masyarakat maka akan ikut tergerus dan lenyap oleh zaman itu sendiri. Hanya dengan komitmen dan pengorganisiran masyarakatlah yang sanggup membentengi diri dari itu semua, dan pesantren juga sebagai salah satu harapan masyarakat untuk ikut andil di dalamnya..[1]

[1] Memodifikasi dari Makalah dan buku Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat, serta mengambil dari beberapa tulisan artikel dari Media.

– Tulisan ini, menggambarkan bahwa Pesantren dan Masyarakat merupakn simbiosis mutualisme, antara satu sama olain saling membutuhkan.

Oleh : Ponirin Mika

Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Tehnik Melawan “HOAX”

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, seringkali beberapa orang mendapatkan informasi palsu berkait segala apapun berkait dirinya, keluarga dan sanak famili. Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, tidak hanya bisa mendatangkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia,  ternyata di sisi lain menimbulkan tindak kejahatan yang meresahkan masyarakat. Berita bohong terkadang dilakukan karena iseng, ingin menipu dan bahkan ingin membuat hati orang lain tidak tenang.

Hoax adalah informasi bohong, yang bisa tersebar melalui media apa saja. Hoax tidak hanya berpotensi memberitakan para selebriti, namun, hoax bisa dilakukan oleh siapapun dan kepada siapapaun. Dalam agama Islam Hoax adalah perilaku yang tidak terpuji dan berhukum haram. Karena, hoax adalah fitnah nyata, sedangkan fitnah adalah lebih kejam dari pembunuhan. Dengan maraknya media dan semakin canggihnya teknologi, maka hoax bukan mustahil tidak terjadi. Untuk itu,  ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk melawan hoax

  1. Periksa judul berita/informasi yang provokatif

Judul berita yang menarik dan menghebohkan adalah berita kontroversial itu sangat memancing untuk di share. Apalagi, berkait dengan hal yang berkaitan dengan keluarga dan lainnya.

  1. Telilti sumbernya dan cek situs media yang menginformasikan

Salah satu cara yang paling mudah untuk menelusuri apakah berita tersebut fakta atau palsu. Dengan mengecek situs web, no telpon dan alat informasi lainnya yang menjadi sumber berita, ini dapat mengidentifikasi mana yang fakta dan mana yang hoax.

  1. Berita ‘HOAX’ tidak mengutip opini dari Ahli

Biasanya, narasumber yang dikutip oleh sebuah media akan terlihat jelas dan disebutkan asal-usulnya. Jika menemukan artikel atau informasi yang kontroversial, cek terlebih dahulu apakah artikel/informasi tersebut sekedar memuat sebuah opini dari seseorang/kalangan atau merupakan sebuah laporan berita yang faktual dengan pendapat ahli. Sebisa mungkin jangan sampai langsung ditelan mentah.

  1. Tanyakan langsung kepada yang berwenang

Andai kata, informasi itu mengatasnamakan institusi, maka seharusnya berkoordinasi dan berkomonikasi kepada pihak yang berwenang, klarifikasi penting ditingkatkan. Agar hoax bisa dilawan.

Oleh : Ponirin Mika

Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Begal dan Kekeringan Spritualitas

Dalam realitas kehidupan sehari-hari kita sering kali diperhadapkan pada situasi-situasi dimana persoalan baik dan buruk menjadi demikian pelik. Realitas hidup yang tak selalu mudah memaksa kita untuk bergulat dengan pilihan-pilihan moral yang tidak dengan serta merta semudah memilah antara hitam dan putih.

Kehidupan sekarang semakin kompleks, perubahan yang sangat cepat, persaingan tidak bisa dihindari  pertukaran nilai yang tak bisa dibendung. Kemajuan filsafat, sains, teknologi, telah menghasilkan kebudayan yang semakin maju, proses itu disebut globalisasi kebudayaan. Namun kebudayaan yang semakin maju mengglobal ternyata sangat berdampak terhadap aspek moral.

Manusia saat ini kebanyakan menjadikan kehidupan dunia adalah kehidupan yang abadi, sehingga melakukan apa saja seakan tanpa terikat dengan aturan agama. Untuk itu , Otak kita hanya diisikan oleh realita, bahkan untuk sekedar berharap saja rupanya membutuhkan sebuah keberanian daqn taat akan aturan-atauran ilahi, yang memang dibuat untuk menjaga kemaslahatan hmba.

Salah satu perbuatan yang sangat mengerikan saat ini adalah begal. Begal adalah suatu perbuatan jahat berupa perampasan barang atau harta yang dipakai atau dikenakannya, ini seperti kasus kejahatan berupa penjambretan, penjarahan, serta perampasan. Bahkan, begal itu adalah sebuah segerombolan atau biasanya terdiri dari beberapa orang (lebih dari satu) yang melakukan tindak kejahatan berupa perampasan harta benda serta penjarahan perhiasan yang dikenakan oleh korban.

Dalam setiap agama apapun tindakan kejahatan suatu perbuatan tercela. Perbuatan ini adalah prilaku dimana tuhan tidak akan membiarkan tindakan semacam ini dan pasti ada tindakan tegas berupa siksa.

 

Akal tak Lagi Berfungsi

Ada kerusakan akal pada pelaku begal ini, nilai logik berkaitan dengan berpikir, memahami, dan mengingat akan tindakan yang dilakukannya tidak lagi berfungsi. Seharusnya akal mampu menjadi sopir aktifitas kesehariannya. Agar mampu menghasilkan pikiran, pemahaman, pengertian, peringatan (ingat)  adalah menjadi buahnya. Nilai ini menjadi dasar untuk berbuat, bertindak. Allah dalam alquran banyak berfirman agar kita berfikir dengan sebutan lubb atau aqal dalam memahami alam ini diantaranya.

 “dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran : 7).

Dalam ajaran islam akal memiliki kedudukan yang tinggi dan sering dimanfaatkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perkembangan ajaran-ajaran islam. Sebab kita meyakini juga bahwa hampir semua kaum muslimin berupaya dan berusaha mengambil manfaat akal dalam pengajaran agama dan penjelasan keyakinan agama secara argumentatif.

Pelaku kejahatan tidak mampu menggunakan akalnya dengan baik, hal ini bisa jadi karena lemahnya pendidikan. Pendidikan merupakan proses untuk memberikan penyadaran dan pengetahuan. Jika transpormasi pengetahuan menjadi ilmu dalam dirinya, maka akan sulit untuk melakukan tindakan tidakan yang salah.

Kejahatan dan Kekeringan Spritualitas

Baik dan buruk adalah sebuah pilihan dalam hidup, tuhan memberikan dua bentuk (jahat dan baik) sebagai ujian bagi hambanya untuk mengetahui kualitas keimanannya. Bagi hamba yang tergerak untuk selalu menjadi yang terbaik dalam kesehariannya (sabiqun bil khoirot) adalah mereka yang sangat beruntung karena hati dan pikirannya mendapatkan cahaya ilahi. Begitu juga sebaliknya, bagi hamba tuhan yang melakukan kejahatan, ia kurang berupaya menggunakan potensi akalnya, sehingga ia kalah dengan ajakan-ajakan nafsu. Kekeringan spritualitas merupakan problem utama dalam diri seseorang yang selalu melakukan tindakan tindakan yang kurang baik.

Kekeringan spiritualitas itu bahkan bisa menjadi bencana yang mengancam masyarakat kita bila tidak segera disadari dan diatasi. Bagaimana hal itu bisa dicegah dan diatasi? Kita perlu melihat secara jernih ke dalam lubuk hati dan cara berada kita selama ini. Sejatinya dalam diri kita sudah tertanam nilai-nilai keilahian dari Sang Pencipta, yakni kasih sayang, suka damai, adil, ketakwaan, kejujuran, persaudaraan dan saling menghargai. Itulah nilai-nilai ilahi yang mengangkat kita sebagai manusia bermartabat dan beraklak moral tinggi.

Agama-agama yang dianut masyarakat kita juga telah mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai tersebut. Persoalannya, apakah nilai-nilai tersebut benar-benar sudah tertanam dan mewujud dalam cara hidup (pikiran, perasaan dan tindakan) kita? Pertanyaan lebih lanjut, apakah cara beragama kita sungguh sudah otentik, atau hanya sekedar formalitas? Spiritualitas (yang berasal dari kata dasar “spirit”: ruah, roh) adalah sebuah pengalaman akan kehadiran Roh (Yang Ilahi) yang menjadi daya dan menggerakan seluruh diri kita. Spiritualitas menjadi sebuah gaya hidup yang digerakkan Roh Allah. Maka seluruh cara mengada kita akan dijiwai oleh nilai-nilai atau keutamaan keilahian yang ditanamkan Allah di dalam diri kita.

Seseorang yang memiliki spiritualitas mendalam, gaya hidupnya pasti digerakkan dan dijiwai oleh nilai-nilai tersebut. Dia peka dan mudah tergerak untuk mewujudkan nilai-nilai kasih, damai, kejujuran, keadilan dan kepedulian dalam seluruh hidupnya. Kedalaman spiritualitas seseorang akan dapat dilihat bukan sekedar dalam ritual, simbol-simbol dan praktek formal keagamaan yang dilakukan, namun sungguh nyata dalam seluruh kehidupan sehari-hari.

Wallahu’alam

 

Penulis : Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid dan Anggota Comics (Community of Critical Social Research) Probolinggo)

Kiai Zaini dan Kemakmuran Petani Tembakau

Tepat pada tanggal 23 April 2017 ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid akan melaksanakan Haul Pendiri dan Harlah untuk mengingat perjalanan perjuangan para pendahulunya (manakib). Para masyakhih yang telah mendahului menghadap ke hadirat Allah. Telah banyak meninggalkan jasa dalam mewarniai dinamika keummatan dan kebangsaan. Di dalam tradisi pesantren, memperingati sejarah perjuangan para pendahulu terutama pendiri pesantren sebuah keniscayaan. Hal ini diharapkan mampu menghadirkan pengetahuan terhadap sepak terjangnya supaya bisa menjadi ibrah bagi masyarakat pesantren dalam menjalani hdup daam sehari-hari.

Para pendiri pesantren dengan kealiman dan keistikamaannya dalam menjalankan agama mampu menjadi pioner dalam menjaga tradisi salafus sholih. Tradisi yang berlandaskan alqur’an dan hadits, tidak terkecuali Kiai Zaini Mun’im.  Dia adalah seorang ulama yang berasal dari pulau garam madura, keturunan dari orang yang mempunyai kharisma di daerahnya. Dalam sejarahnya ia tidak ingin mendirinkan pesantren, datang ke bumi jawa menghindari keberingasan belanda. Karena belanda, menganggap kiai zaini adalah salah satu bantu sandungan untuk memuluskan keinginannya dalam merebut bumi pertiwi. Intimidasi para penjajah terhadapnya tidak menyurutkan semangat juang dalam menjaga harkat dan martabat bangsa. Meski ia menyadari bahwa ancaman-ancaman demi ancaman itu, akan membahayakan terhadap keselamatan diri dan keluarganya. Namun, totalitas perjuangannya mampu melenyapkan ketakutan-ketakutan.

DesaTanjung, Pilihan Dakwahnya

Setelah mendapatkan restu dari KH. Syamsul Arifin ayahanda KH. As’ad Syamsu Arifin Sokorejo Situbondo agar desa tanjung menjadi tempat pilihan dakwahnya. Maka, KH. Zaini Mun’im memutuskan untuk menetap di desa ini bersama keluarganya. Namun sebelumnya KH. Zaini mengajukan beberapa tempat ke KH. Syamsul Arifin dengan membawa contoh masing-masing tanah. Selain tanah karanganyar, adalah tanah GenggongTimur, dusun kramat, Kraksaan Timur, desa Curahsawo Probolinggo, dan dusun Sumber Kerang. Namun, tanah yang di pilih adalah tanah desa tanjung, akhirnya KH. Syamsul Arifin memerintahkan agar Kiai Zaini menetap di desa itu.

Ini sesuai dengan isyarat yang di alami oleh Kiai Zaini pada saat ia mengambil tanah di desa tanjung, tiba-tiba menemukan sarang lebah dan dipahami jika mendirikan pesantren di tempat ini akan banyak santrinya. Sedangkan isyarat yang lain datang dari KH. Hasan Sepuh Genggong, saat Kiai Hasan sepuh mendatang sebuah pengajian dan melewati desa ini (tanjung) ia berkata pada kusir dokarnya “ di masa mendatang, jika ada kiai atau ulama yang mau mendirikan pondok di desa ini, kelak pondo tersebut akan menjadi pondok besar, dan santrinya akan melebihi santri saya.”

Pada mulanya di desa sangat memprihatinkan, banyaknya binatang buas, sepinya masyarakat yang bercocok tanam, dangkalnya masyarakat memahami agama, untuk yang terakhir ini terlihat jelas dengan praktik keagamaan yang dilakukan masyarakatnya, misanya, dengan keberadaan pohon besar yang tidak boleh di tebang dan di yakini sebagai pembawa berkah keselamatan. Ritual-ritual keagamaan masyarakat di desa ini sangat menyimpang dari ajaran agama islam yang sebenarnya.  Ditandai dengan pemberian sesajen, utamanya keika melaksanakan hajatan dipersembahkan kepada roh kudus yang di tengarahi olehnya berada di pohon tersebut. Begitu pula, dalam kehidupan sosial ekonominya di desa ini sangat terbelakang. Pada saat kiai zaini berada di dusun tanjung (karanganyar) lambat laun, desa ini mulai tertata mulai dari aspek agama, sosial, budaya dan pendidikannya. Kedatangan Kiai Zaini, cukup menyinari gelap gembita pengetahuan masyarakat tanjung. Dari itu, banyak orang yang menyambut dengan rasa suka dan senang, ini tidak lepas dari sikap dan sifatnya Kiai Zaini yang sangat toleran, tasamuh, taadul dan tawazun terhadap orang lain. Dan, rasa empati dalam memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat, sehingga kehidupan sehari-harinya selalu berkait dengan kemaslahatan ammah.

Dinamisasi Kehidupan Masyarakat

Lambat laun, masyarakat di desa ini menjadi masyarakat tamaddun. Masyarakat yang mampu mempraktikkan ajaran agama dengan baik dan benar, menciptakan tatanan sosial yang tinggi serta menghasilkan ekonomi yang mapan. Perjuangan demi perjuangan menjadi nafas Kiai Zaini, sesuia dengan kalimat yang pernah di ungkapkannya.” Orang yang hidup di Indonesia ini, jika tidak berjuang (perjuangan yang baik) maka ia telah berbuat maksiat”.

Maka tidak terlalu berlebihan jika kita mengatakan bahwa Kiai Zaini adalah salah satu kiai yang berhasil dalam menciptakan generasi muslim yang memahami islam secara komprehensif kepada masyarakat. Dan ini juga menjadi pendorong ia untuk mendirikan pesantren yang akan meahirkan para pejuang agama di mana saja berada. Sesuai dengan ungkapan yang pernah disampaikannya “saya mendirikan pesantren ini tidak hanya ingin mencetak kiai, melainkan juga ingin mencetak generasi muslim yang memahami agama secara kaffah dan siap mengisi ruang-ruang perjuangan.

Trilogi dan panca kesadaran santri sebagai modal dasar dalam mencetak santrinya. Trilogi yang dimaksud adalah 1. Memperhatikan furudhul ainiyah 2. Mawas diri terhadap dosa besar 3. Berbudi luhur terhadap Allah dan mahluknya. Tiga hal ini ebagi upaya kiai zaini untuk memberikan emahan islam secara utuh dan sempurna. Karena, di dalam trilogi tersebut ajaran-ajaran islam menyelinap. Lain dari itu, panca kesadaran santri di maksudkan agar santri tidak hanya mampu mengetahui pengetahui ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, namun harapannya santri mampu menerapkan ajaran islam universal disetiap ruang kehidupan yang ada.

Kebangkitan Ekonomi Masyarakat

Ia tidak hanya trampil dalam meaksanakan dakwah ajaran agama yang bersifat normatif, tapi,  juga mampu melaksanakan dakwah non normatif. Karena ia sadar bahwa tidak cukup hanya mengajarkan ajaran ritual keagamaan saja, namun lebih menekankan juga terhada dakwah ekonomi masyarakat. Kemskinan akan menyebabkan kekafiran, bukan hanya semboyan yang tertulis rapi dalam hadits, justru ini merupakan persoalan yang mendasar dalam kehidupan.

Dengan kelihaiannya, ekonomi masyarakat menjadi baik, dengan upaya-upaya yang dilakukannya. Maklum juga, lincahnya Kiai Zaini dalam meningkatkan ekonomi masyarakat tidak lepas dari bimbingan ayahandanya baik secara langsung maupun tidak langsung. KH. Abdul Mu’im ayanda Kiai Zaini adalah pebisnis handal.  Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Kiai Zaini memperkenalkan tanaman baru, yakni tembakau yang bibitnya di bawa dari madura, seiring perkembangan waktu, ternyata tanaman ini cocok dengan keadaan tanah di desa ini, akhirnya tanaman tembakau menjadi penghasilan pokok masyarakat tanjung bahkan penikmat tembakau di rasakan oleh masyarakat seantero indonesia. Kemamuran masyarakat tanjung tidak lepas dari salah satu usahanya, dalam membangkitkan ekonomi. Sehingga, pada akhirnya desa tanjung menjadi desa berkembang,  baik berkait persoalan agama, pendikan, sosiak dan ekonominya.

Jazakullah Khairon Katsira

*) Refleksi Haul dan Harlah PPNJ ke 68

 

Penulis : Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid dan Anggota Comics (Community of Critical Social Research) Probolinggo)

renungan

Renungan

Membaca bukan hanya suatu kebutuhan bagi setiap orang. Melainkan, membaca adalah suatu kewajiban bagi setiap orang terutama di kalangan santri. Kegiatan membaca ini tidak hanya di anjurkan dikalangan santri saja, akan tetapi kewajiban untuk membaca ini dianjurkan bagi seluruh umat islam sebagaimana ayat yang pertama kali diturunkan dalam kitab suci al-Qur’an yang berbunyi IQRO’ yang berarti “bacalah”.  Allah SWT memerintahkan kepada seluruh makhluknya untuk membaca, yang mana “membaca” ini memiliki artian luas dalam kehidupan kita. Kata membaca ini tidak hanya diartikan sebagai membaca kitab atau buku bacaan saja, akan tetapi dalam kata IQRO’ kita di perintahkan untuk membaca segala bentuk macam tulisan yang ada di muka bumi ini dengan menyebut nama tuhan-Mu. Dan kegiatan membaca ini diperbolehkan bagi kita semua selama kita semua tahu batasan yang kita baca. Dengan cara kita mengetahui buku bacaan yang kita baca selama buku bacaan itu sesuai dengan ajaran agama.

Buku bacaan yang dapat kita baca dapat berupa buku-buku islami seperti buku sejarah islam, buku fiqih. Buku bacaan yang di baca santri pun berbeda-beda karena perbedaan tingkat usia mereka, seperti buku yang di baca oleh anak SD berbeda dengan buku bacaan yang di baca oleh anak SMP dan begitu pula buku bacaan yang di baca oleh anak SMA berbeda dengan buku bacaan yang di baca oleh seorang Mahasiswa. Namun, dari adanya semua perbedaan itu, yang paling penting adalah kita semua tahu batasan buku yang kita baca. Secara khusus pada tahap pra kuliah (tahap belajar) di dalam masa tersebut janganlah kita menyibukkan diri dengan hal yang tak berguna seperti melakukan pemikiran-pemikiran dalam berfilsafat, masalah yang berat, dan juga masalah politik yang berada di sekitar kita, karena untuk memikirkan semua itu ada waktunya tersendiri bagi kita. Maka dari itu, untuk saat ini apa yang sedang kita pelajari di sekolah itulah yang perlu kita tekuni mulai saat ini. Tidak perlu kita mempelajari dan membaca buku-buku tambahan yang lain, yang belum saatnya kita baca. Jika pelajaran yang kita pelajari saat ini kita dalami, maka hasilnya pun akan memuaskan. Dan lagi jika kita bandingkan dengan orang-orang dahulu, mereka tetap dapat meraih impian yang mereka inginkan dengan semangat belajar yang mereka miliki meskipun fasilitas pada saat itu kurang mendukung, berbeda halnya dengan saat ini yang kita rasakan. Maka dari itu, kita semua wajib mencontoh akan semangat yang dimiliki oleh santri-santri yang telah lama mendahului kita. Dan lagi fasilitas yang kita milki saat ini harus bisa menjadi penunjang kesuksesan kita dalam belajar.

Melihat dari fenomena kurangnya minat baca santri saat ini, semua itu berawal dari kesadaran diri kita masing-masing. Coba kita perhatikan yang di maksud dengan santri itu adalah  apa dan bagaimana? santri itu adalah seorang pencari ilmu dan dalam mencari ilmu setiap santri membutuhkan yang namanya membaca. Dan lagi kegiatan membaca di kalangan santri ini seharusnya bisa dijadikan hobi. Karena membaca itu juga termasuk dalam kriteria pembuktian identitas santri, apabila ada seorang santri yang enggan membaca berarti bisa dikatakan dia itu bukanlah seorang santri. Apalagi bagi seorang guru, kegiatan membaca haruslah menjadi salah satu dari aktivitas rutin dalam kegiatan sehari-hari, karena guru inilah yang menjadi pedoman bagi santri-santrinya.

Sedangkan di era globalisasi yang sedang carut marut ini, banyak santri yang lebih memilih membeli komik, majalah dewasa dan lain sebagainya. Padahal buku bacaan seperti komik, majalah dewasa, dan lain sebagainya itu sangatlah tidak cocok di kalangan santri. Karena semua itu sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kita semua. Jika kita mengaca pada diri kita saat ini sangatlah pantas bagi kita untuk menyayangi diri kita sendiri, karena pada usia remaja saat ini sangatlah kritis, yang di maksud dengan kritis ini adalah jika seorang remaja seperti kita ini sudah terjerumus kepada hal negatif maka cara untuk memperbaikinya luar biasa sulit. Karena butuh perjuangan mati-matian bagi kita untuk dapat membuatnya kembali pulih seperti sedia kala, maka dari itu, bagi remaja yang belum terjerumus ke dalam hal negatif tersebut sebaiknya berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya.

Cara untuk mengatasi hal tersebut ialah dengan cara sering-seringlah kita mengunjungi perpustakaan, mengikuti kegiatan pengajian, dan memperbanyak kelompok untuk  diskusi bersama teman-teman yang lainnya. Kegiatan diskusi ini dapat berupa kumpul mandiri mendiskusikan mengenai pelajaran yang dapat membuat ketertarikan teman-teman kalian untuk ikut serta dalam membahas masalah tersebut. Hal yang di diskusikan dapat berupa pelajaran yang kita pelajari di sekolah tidak harus berupa masalah-masalah politik dan lain sebagainya. Karena dengan begitu otak kita tidak terpacu untuk memikirkan hal-hal berat seperti masalah politik dan lain sebagianya.

Mengutamakan kegiatan membaca sejak dini dapat menjadi salah satu dari banyak cara untuk menghindarkan kita dari terjerumusnya pada hal negatif. Kita sebagai seorang santri haruslah memaksimalkan kegiatan membaca, entah itu membaca kitab kuning ataupun buku, tentunya dari salah satu media tersebut haruslah menjadi kebutuhan pokok santri. Dan tidak hanya salah satu dari dua media tersebut (kitab kuning dan buku) yang dapat kita pilih, keduanya pun juga dapat kita jadikan kebutuhan, itu semua tergantung dari apa yang lebih kita butuhkan. Dalam hal memprioritaskan antara kitab kuning dan buku itu semua tergantung dari banyaknya hal contohnya seperti, jika sejak awal kita telah mendalami kitab kuning, maka tidak ada salahnya jika kita juga ikut turut belajar akan pelajaran umum seperti halnya pelajaran fisika, begitu pula sebaliknya. Karena saat ini semua pelajaran wajib untuk kita ketahui walupun hanya sebagian kecil saja seperti halnya saat ini kita tengah belajar bahasa arab maka tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan pelajaran bahasa inggris karena sekarang semuanya bersifat Opsional yang mana  semua itu bukanlah lagi suatu pilihan bagi kita semua, antara  memperdalam pelajaran bahasa arab ataupun pelajaran bahasa inggris. Karena kedua mata pelajaran tersebut sangatlah penting di kehidupan kita saat ini. Karena itulah patutlah bagi kita sebagai remaja penerus bangsa untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang tersedia bagi kita untuk bermain-main melainkan, kita semua harus dapat menggunakan waktu tersebut dengan semaksimal mungkin untuk belajar dengan tekun.

Santri itu adalah seorang pencari ilmu dan dalam mencari ilmu setiap santri membutuhkan yang namanya membaca.

Penulis : K. Imdad Robbani (Wakil Kepala Biro Kepesantrenan, Wakil Direktur LPBA dan Wakil Kepala Madrasah Diniyah Nurul Jadid)

Sumber : Majalah Iqro’ Edisi April 2017arti

Politik

Agama Dan Hegemoni Politik Kebenaran

Manusia sebagai mahluk Allah  yang mempunyai keistimewaan berupa akal, selalu mengalami perkembangan dalam menghadapi dinamika kehidupan. Keistimawan itu adalah dimana manusia diciptakan oleh Allah sebagai hamba yang harus taat dan patuh terhadap takdir dan ketentuntuanNya. Untuk itu, menuju hamba yang bijaksana, seyogyanya harus terdorong dari sikap keagamaannya. prilaku keagamaan yang baik akan menciptakan sikap yang bernilai. Disamping itu pula, manusia diberi beban tanggung jawab untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dimana, manusia harus bertanggung jawab terhadap kenyamanan, ketentraman dan keselamatan ciptaan Allah di muka bumi. Keyakinan terhadap status manusia  ini yang akan diterpancarkan bagi manusia yang beragama. Tanpa keyakinan terhadap agama, tidak akan termanifestasikan keyakinan dalam prilaku kesehariannya. Karena, kepercayaan terhadap agama akan melahirkan prilaku penghambaan. Dengan bergama pula, seseorang akan melakukan dinamisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang terarah.

Seringkali orang mengartikan bahwa agama itu semata-mata hanyalah satu sistem peribadatan antara mahluk dan Tuhan Yang Maha Esa saja. Defenisi ini sangatlah sempit dan memberi batas bagi keberadaan agama untuk ikut andil dalam menganalisis terhadap persoalan sosial, ekonomi dan politik. Dalam sejarahya, agama hadir berperan sebagai alat dalam mengoreksi politik yang menyimpang dari tujuan mulianya, mensejahterakan rakyat dan politik membangkitkan kesadaran manusia beragama agar tidak terbuai dalam otokritik menggunakan ajaran agama dengan membabi buta.

Meski agama sangat dibutuhkan dalam kancah perpolitikan bangsa, dengan harapan agar tidak menciderai demokrasi, juga perlu menjaga agar agama tidak terkooptasi dan disubordinasi. Karena jika agama terkooptasi oleh politik negara, maka agama akan menjadi alat kekuasaan penguasa akhirnya agama menjadi candu. Nilai kritis agama menjadi sirna ditengah kondisi perpolitikan bangsa yang semakin liar. Keserakahan tokoh agama juga para pemeluk agama dalam mengartikuasikan agama, sehingga agama kehingan identitas sebagai institusi mengawal kebearan dan keadilan. Agamapun akan menjadi bisu disaat ketimpangan sosial, ketidak adilan manusia di depan hukum meraja rela.

Agama sebagai institusi dalam masyarakat harus lantang menyuarakan segala ketimpangan-ketimpangan, agar hakikat sejati perpolitikan dalam politik tetap terjaga. Hubungan agama dan politik bagai sisi mata uang yang tak terpisahkan. Politik tanpa agama akan melakukan penyimpangan-penyimpangan, sebaliknya agama tanpa politik akan berjalan ditempat dan akan lambat dalam menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan. Ditengah negara demokrasi saat ini, seyogyanya agama., politi dan demokrasi harus berjalan beriringan agar tercipta neara yang damai dan berkeadilan.

Agama dan Politik Kebenaran

Kebenaran dalam koneks politik sesuatu yang absurd. Artinya kebenaran dalam politik itu sangat musykil untuk di ukur objektifitasnya. Hal ini terjadi karena nalar politik yang memproduksi cenderung bersifat relativistik. Dalam politik mencari kebenaran bukanlah yang penting dan sama sekali bukan tujuan. Yang perlu dalam politik adalah bagaimana menguasai kebenaran, tentu akan mempermudah para politisi memenangkan kepentingan politiknya.

Agama sebagai suatu nilai kebenaran dan kemanusiaan, harus ditempatkan dalam sistem negara yang mengutamakan harmoni. Tanpa adanya ruang agama dalam sistem negara maka akan menghasilkan negara sekuler dan tercipta kesenjangan antara sesama. Proses dalam berdemokrasi, bukanlah kebebasan tanpa nilai, Bagaimanapun agama harus dijadikan panutan tertinggi dalam berpolitik dan berdemokrasi. Meski, tanpa menghalangi kebebesan bereksperesi, yang sesuai dengan norma agama yang menjadi ideologi bangsa.

Dalam sebagian sejarah, bahwa politik terlahir dari pemikiran agama agar tercipta kehidupan yang harmoni dan tentram dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini harus tercipta bahwa segala aktifitas manusia dalam kehidupannya tidak terkecuali politik hatus terdorong dari ajaran agama agar terwujud keadilan, keharmonisan dan kesejahteraan menyeluruh. Jika politik terutus dari agama, akan menghasilkan keserakahan dan ketidak adilan dalam menciptakan masyarakat.

Agama Sebagai Ayam Potong

Istilah agama sebagai “ayam potong” tepat segali digunakan untuk membaca fenomena agama saat ini. Agama dipotong-potong sebagai hidangan bagi pemangku kepentingan, tak ayal sebagian pesantren seringkali menjadi objek wisata bagi politisi pada saat menjelang pemilu.

Disamping itu juga, prilaku keagamaan saat ini sulit sekali untuk di pisahkan dengan kepentingan politik, menjadi kurang elok jika gerakan keagamaan tertunggangi oleh politisi demi mensukseskan kepentingan poitiknya.

Fatwa yang bernuansa agama sangatlah gampang dijadikan sebagai penguat kekuasaannya. Dulu, pada era Presiden Gusdur, istilah bughat pernah dikeluarkan untuk melawan para musuh politiknya. MUI pernah mengeluarkan fatwa haram bagi para golput dalam pemilu, dan akhir-akhirnya gerakan-gerakan bela agama, bela islam bahkan bela politik tertentu, seringkali memasukkan dalih agama.

Terkadang agama menjadi alat komoditi dalam melakukan penyimpangan-penyimpangan. Demokrasi yang disalah artikan akan melahirkan permusuhan dan ketidak stabilan dalam berbangsa dan benegara. Bisa dilihat di negara kita akhir-akhir ini, menjadi tidak karuan pada saat agama dipisahkan dari negara juga agama tidak menjadi ukuran dalam berdemokrasi. Kebebasan terkadang menjadi defenisi tunggal kata demokrasi, sehingga banyak orang melakukan prilaku yang jauh dari nilai pancasila seringkali dilakukan.

Ditengah keberagamaan masyarakat arab yang tak terarah, rasulullah berhasil membuat umat tidak terpecah belah, dengan sikap dan gagasan keummatannya Rasulullah mampu menghadirkan suasana sejuk damai di tengah perbedaan. Menghadapi kaum jahiliyah yang buta pengetahuan agama, rasulullah tidak menjadikan dirinya seagai tokoh antagonis yang bertindak tanpa memperhatikan kondisi sosial kemasyarakatan. Justru dengan gerakan rasulullah ini, Islam mampu menjadi agama penyejuk, pembeda menuju kesejahteran bagi alam semesta. Sprit rasulullah dalam melaksanakan politiknya tidak keluar dari nilai-nilai agama yang menjadi ajarannya. Wallahu’alam

Penulis : Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid dan Anggota Comics (Community of Critical Social Research) Probolinggo)