Panca Kesadaran Santri

Panca Kesadaran Santri

Apakah Anda memiliki anak dan atau murid yang sulit diatur? Apakah Anda pernah menjumpai kelompok masyarakat yang enggan untuk diajak maju? Sebenarnya, mereka yang memang sulit diatur sebenarnya bukan tidak mau dididik, mereka yang nakal bukan enggan menjadi baik, tapi kerap kali orang tua, para guru, kiai dan pemimpin lupa bahwa anak-anak mereka adalah putera zaman, anak sang waktu dan kehidupan.

Nah, jika para santri adalah calon pengayom dan pendidik umat, idealnya mereka harus mempersiapkan dan menempa diri untuk menjadi orang tua bagi segala jenis kemungkinan masyarakat yang kelak akan mereka hadapi.

Mestinya setiap orang menjadi penghebat, penyemangat, pendamai, penyuluh, pecinta dan bahkan pelita bagi dirinya sendiri. Apa sebab? Kegelapan tidak pernah ada, kecuali bagi mereka yang enggan dan malas menggapai cahaya. Kebencian itu tak pernah ada, benci adalah nama lain bagi cinta yang diciderai dan disakiti. Begitu pula najis, ia tidak pernah ada. Najis dan kotor ada karena manusia enggan menjaga kesucian dan kebersihan. Akan tetapi, karena kesadaran adalah barang langka, harus selalu ada yang melestarikannya. Hal ini bukan semata ilmu, tapi juga mendialogkan ilmu dengan kehidupan.

Dalam ilmu, kesalahan nyaris selalu mendahului kebenaran, itulah mengapa kesimpulan para ilmuwan acapkali 99 kali adalah keliru, barulah yang ke-100 benar. Namun demikian, dalam keseharian, Anda tidak harus berpengetahuan dulu baru bertindak. Teramat banyak tindakan kita lebih digerakkan oleh intuisi dan keyakinan dari pada pengetahuan. Bahkan, tak jarang, tindakan manusia berdasarkan imajinasi sosiologisnya.

Ilmu pengetahuan pun juga telah mengalami reduksi dan penyempitan ruang, terutama saintek, terutama lagi pasca revolusi newtonian dan freudian. Ilmu sebatas fisika dan perilaku manusia adalah ketaksadaran belaka. Padahal, intuisi adalah ilmu, ilham dan wahyu juga ilmu, bahkan para santri sangat percaya dengan adanya ilmu Ladunni, yakni ilmu yang langsung dari Allah, tanpa melalui proses pembelajaran konvensional.

Begitu pula dengan perilaku dan tindakan manusia, para penganut Sigmund Freud meyakini bahwa tindakan manusia digerakkan oleh ketaksadaran atau pikiran bawah sadar. Ketaksadaran yang dimaksud adalah “program otomatis” di mana manusia berbuat dan bertindak berdasarkan isi program tersebut. Pandangan ini jelas bertentangan dengan dunia Timur dan khususnya Islam. Bahkan, filsuf dan sufi agung, Al-Ghazali sangat memberikan kedudukan yang istimewa untuk akal.

Nah, jika tidak semua ilmu akan mengantarkan manusia pada kesadaran, lantas, kesadaran macam apakah yang menjadi pusaka para santri di Pesantren? Adalah KH. Zaini Mun’im (w.1976), pendiri PP Nurul Jadid Paiton-Probolinggo yang mencetuskan Panca Kesadaran Santri dan otomatis para Santri wajib menjalankannya sebagai pusaka dan pedoman hidup.

Lima kesadaran itu adalah: (1) Kesadaran beragama, (2) Kesadaran berilmu, (3) Kesadaran berorganisasi, (4) Kesadaran bermasyarakat, (5) Kesadaran berbangsa dan bernegara.

Kesadaran beragama. Hal ini jelas tidak cukup bagi para santri untuk sekadar tahu dan alim soal agama, tetapi juga menyadari dan lalu menyadarkan orang lain perihal visi-misi agama, muatan agama, ajaran cinta-kasih dan moralitas dalam agama, bukan malah memperjual-belikan agama demi kepentingan perut dan jabatan semata-mata. Di tangan para santri, agama sangat dipertaruhkan, ia bisa menjadi payung horizontal dan penyambung tali silaturrahmi untuk saling menyadarkan dan mengingatkan.

Kesadaran berilmu. Adalah kesadaran akan pentingnya menguasai ilmu, segala ilmu, tanpa terkecuali saintek dan ilmu digital, karena kemajuan hanya mungkin diraih dengan pengetahuan, bahkan tiap kronik perubahan zaman dan masa, meneropong masa depan sampai angkasa, hanya mungkin dijangkau oleh ilmu, menggagas pembangunan bangsa dan Negara, lagi-lagi dengan ilmu. Kesadaran berilmu juga bermakna kesadaran untuk mendayagunakan pengetahuan demi kemanusiaan dan kemaslahatan, bukan untuk kehancuran dan pemusnahan, sebab pengkhianatan dan perselingkuhan seorang ilmuwan jauh lebih berbahaya dari pada 1.000 kesalahan 1.000 orang awan sebanyak 1.000 kali.

Kesadaran berorganisasi. Tanpa yang satu ini, kebaikan dan kebenaran pun akan semrawut dan gampang dikalahkan oleh keculasan dan kepalsuan. Oleh karena itu, berorganisasi harus ditanamkan sejak dini. Dan, Pesantren telah mengajarkan prinsip dan kesadaran ini bahkan sejak di dalam kamar, lalu asrama, forum ngaji, sekolah, madrasah, perkuliahan, bahkan berdasarkan daerah asal-usul santri. Hal ini jelas untuk mendidik santri agar memahami banyak karakter manusia melalui organisasi, belajar menyampaikan pendapat, menerima saran dan kritik orang lain, belajar perilaku organisasi serta etika dalam berorganisasi.

Kesadaran bermasyarakat. Ya, tiap individu adalah bagian dari masyarakat. Tidak ada satu manusia pun yang independen dan terbebas dari orang lain. Maha filsuf Aristoteles menyatakan bahwa manusia adalah zoon politikon, yakni makhluk sosial, bukan makhluk individual. Dan, Pesantren adalah gambaran dan simulasi bagi kehidupan masayarakat luas dengan berbagai persoalannya. Sementara itu, masyarakat adalah tempat di mana santri akan mengamalkan ilmu dan baktinya. Dinamika masyarakat sangat kompleks, bahkan multikompleks, sehingga kesadaran bermasyarakat berarti kesadaran untuk manjadi bagian dari mereka, mendidik dan mencerdaskan mereka. Oleh karena betapa tinggi apresiasi dan penghargaan masyarakat kepada kaum santri, sehingga setiap orang tua hampir pasti menjodohkan anak-anak mereka dengan santri. Dengan kata lain, di bursa perjodohan, rating para santri terus menanjak dan laris-manis.

Yang terakhir, kesadaran berbangsa dan bernegara. Sebuah kesadaran yang kini telah mengalami pergeseran makna dan perumitan bentuk. Inilah rahasia mengapa para santri tidak menjadi kelompok Islam radikal dan terlibat jaringan teroris. Sejak mula, mereka memang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan NKRI. Nasionalisme dan patriotisme ini memuncak dalam momentum resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 sehingga pertempuran 10 November Indonesia meraih kemenangan atas tentara Sekutu. Sekali lagi, mengapa kaum santri sanggup melakukan bela pati dan menjadi martir (syahid) demi bangsa dan negaranya kini terjawab sudah. Nah, pasca kemerdekaan kaum sarungan kini akan sangat ditunggu peranannya oleh masayarakat, umat, bangsa dan Negara. Apakah panca kesadaran itu masih berdenyut di jantung kita, mengalir dalam darah kita? Adakah ia sebatas kenyataan atau sejatinya tantangan bagi kaum santri untuk membangun peradaban sarung di negeri ini?

Salam ta’dzim

___________

Penulis:  Ach Dhofir Zuhry.

Penulis adalah alumni PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo, penulis buku best seller PERADABAN SARUNG (Veni, Vidi, Santri)

aku akan berpayung pelukanmu

Aku Akan Berpayung Pelukanmu

Gemerincing suara hati dalam khayalku

berteriak ingin mengelus pipimu yang halus

jiwaku meronta-ronta gemetar di pinggir sungai kemesraan

 

Ibu

kau yang memiliki bibir delima

telah kau campakkan hatiku di samudra jiwamu

hingga hatiku tersesat di pinggir jantungmu

 

aku lari mengejar kelopak matamu yang rindang

ku ingin berteduh berpayung pelukanmu

biar rasa ini menikmati bunga-bunga yang melilit tubuhmu itu

 

pagi ini bersama secangkir kopi

ku merindukan saat kau menatapku

 

Ibu kau puisiku tanpa judul

 

Penulis : PUJANGGA PESISIR

Rindu Belaianmu

Rindu Belaianmu

Ibu, Kini aku tumbuh dari janinmu

Janin yang suci dari proses benih-benihmu

kau adalah wanita yang dititipkan tuhan untuk menjaga anak-anakmu.

Ibu, kau adalah muara hidupku

Tapak sinarmu dalam keseharianku

Kini mulai kurindu belaian kasihmu

Maaf kan aku ibu yang tak sempat mencium kakimu

Kaki yang dipenuhi surga

wanita yang dipenuhi karomah .

Kini aku memohon maaf yang tiada tara

Keabadianku terlahir dari jerih payamu

Tanpa permohon maafmu tak bisa kuberjalan tegak sampai saat ini.

Maafkan dosa-dosaku dosa yang tak sempat ku ucapkan.

Kini aku hanya bisa memohon pada tuhan

“robbiu firli walidayya warham huma kama robbaya ni sogiro.

Ibu hanya Doa yang aku persembahkan

Dan usaha yang kuat untuk membahagiakanmu

Ibu salam santun dari anakmu yang merindukan belaianmu.

Penulis : Yahya (Pengurus LPBA PP. Nurul Jadid)

malaikat tak bersayap

Ibu

Kau lah malaikat tak bersayap sebagai penerima titipan malaikat kecil dari tuhan

Kau lah pejuang sejati tanpa balas jasa, tak berharap balas budi

Kau lah cahaya yang menerangi di petang dan senja

Kau lah bunga melati suci, indah semerbak yang tak lekang oleh waktu

Cinta yang tulus tak kan pernah pupus apalagi terhapus

Kasih yang abadi tak kan pernah  tertandingi dan tak terbagi

Belaian sayang kau curahkan tak peduli betapa letih, perih, dan pedihnya hanya untuk membuat anakmu sama dengan orang lain

Kini anakmu sudah dewasa,

Kini Anakmu sudah bahagia,

Kini Anakmu sudah menemukan tambatan hatinya,

Dan kini giliran anakmu untuk membalas segalanya

Izinkan untuk membasuh kakimu walaupun tak sebanding saat aku kecil dulu kau basuh dari ujung rambut sampai ujung kakiku

Izinkan untuk memelukmu walau tak sebanding dengan kehangatan pelukanmu saat kita kehujanan

Izinkan untuk mencium keningmu walau tak sebanding dengan jumlah ciumanmu saat-saat aku masih dalam ayunanmu

Ibu aku merinduimu selalu walau kita jauh dipandangan namun dekat dalam pikiran dan perasaan

Ibuku yang tangguh, tabah dan shalehah

Hanya doa lah yang daku panjatkan

Ya Allah ampunilah dosaku dan kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana menyangiku di waktu kecil.

Selamat Hari Ibu

 

20181222_foto-penulis-hindun

Foto Penulis, Hindun, Alumni UNUJA 2016

 

mother’s day commemoration in building a good impression for children

Mother’s Day Commemoration in Building a Good Impression for Children

As an affection of incredible woman who is commonly called as mother toward the children is certainly started off when they are pregnant of their child.This is what mother expects the child to own great future in adult.Therefore,how big their affection is,they guide the child every time.But ironically,nowadays ,mostly childrens donot obey on the mother such childers who do not respect the mother caused by being influenced of a lot of online games there are really famous in the world.So, it becomes a question that on how to build a good impression for childrens by mothe’s day commemoration.

Basically,mother’s day is a day of mother’s affection commemoration.Where,it is commonly commemorated on 22nd December in every years.As prophet Muhammad ever once stated that “the great parent whose great affection in guiding child is mother’’.So,that statement which obligates us tobe obey our mother.

Broadly speaking,the affection of mother is the biggest than another parent because, mother is really strenuous in delivering their child.Also the first teacher who guides us is mother.such mother guide us on how to talk and others.In commemoratim mother’s day is not eworthy for all childerns.In order that becomes good impression for childerns.because of such the problem in the background above is numerous childrens do not have obedience toward the mother caused by influenced by a lot of online game in the world.Therefore,we as childerns and luckily there is great woman whom we belong that is mother.We must really love her.As what as the song of Roma irama “if you are obedienct of your king,you are better tobe obedient of your mother.If you love with your dear,you are better to love your mother because as commanmend of ALLAH”the blessing of ALLAH is at parents,and the heaven is in the foot of mother”caused by those we should realize together that mother is the most important part of humans being.

Unfortunately,exasperation complicates the world to actualize that mother is the most important human of human being,those are:

1.globalization westernizes the child to own western lifestyle that is individuality life,they will leave their parent when they have been adult

2.many young parents those are caused by free sex do not really care on the child

How to fix those?perhaps, by following these manners below we can fix it:

1.Indonesian as eastern people should always respect to the parent and selective in facing western culture

2.Shouldly,Indonesia young people leave bad environtment and selective in looking for friend

Last of all we as the young countrymen must respect on our parent especially mother who had born us to live with the current of this universe.

Penulis : Ainur Rosyid (Peserta Didik LIPS SMP Nurul Jadid)

Lembut mu

Lembut mu

Lembut mu…..

Kehidupan ini serasa tak terasa

Kehidupan ini kulalui dengan ria tawa

Yang menggema seakan terdengar oleh sorotan mata

Ku tak tau

Bagaimana dirimu selama kau

Membobotku kemana pun kau pergi

Rasa letih seakan tak pernah hadir

Di hari-harimu

Lembut mu…

Perjuangan mu begitu besar

Nyawaku bergantung pada mu

Sedih yang di iringi oleh tawa

Ketika dirimu memandang seseorang yang kecil

Dengan matanya yang sedang melihat indahnya dunia

Itulah diriku

Lembut mu…

Senyum yang selalu terukir di wajahmu

Sentuhanmu begitu lembut

Serasa seperti ada kenyamanan

Tapi diriku tak mengerti atas kenyamanan yang kau berikan

Kasih sayang yang kau hadirkan untuk ku

Lagi-lagi memberikan kenyamanan

Hanya satu kata jikalau diriku di sisi mu

Kenyamanan…

Akan tetapi ku tak mengerti apa itu kenyamanan

Lambat lalu hari-hariku

Ku alami dengan kesenangan

Seakan tiada hari tanpamu

Lembut mu…

Waktu yang terus berputar

Mengingatkan ku atas perlakuanmu yang membuatku

Melayang hingga langit ketujuh

Menyadarkanku atas semua itu

Tetapi bagaimana caraku membalas semuamu

Jiwa ini tak bisa menghadirkan hal yang sama

Entah bagaimana diriku terapung dalam kebingungan

Hanya hampa yang kau rasakan ketika di sisi ku detik ini

Tetapi mungkin satu kalimatku yang akan membuatmu teringat

Dalam satu ikatan hati”AKU CINTA IBU KARNA ALLAH”

 

Penulis : Ahmad Firdaus Perdana (Peserta Didik LIPS, SMP Nurul Jadid)

Ibu Maafkan Anakmu

Ibu

Ibu

Maafkan anakmu

Yang tak tau diri dan balas budi

Mikirin hidup hanya kepuasan pribadi

Sempat terlintas kau ku jadikan pembantu tuk naikkan karir

Sempat terbesit kau ku jadikan pesuruh tuk menghemat anggaran

Naif… itu kalkulasi matematikaku karena terlalu banyak berhitung

Itu perhitunganku karena terlalu sering pakai logika

Tenyata, itu hanya sesat pikirku

Aku baru sadar,

Sejarah tak pernah catat orang sukses dengan kesampingkan ibu

Tak ada orang damai dengan nomorduakan ibu

Ibu, kau rawat aku dengan belas kasih tanpa pamrih

Kau besarkan aku dengan cinta kasih tanpa kalkulasi

Maafkan anakku yang tak tau diri

Kaulah  yang pertama dan utama

Mutiara tiada tara

Kau raja hidupku

Namamu abadi dalam sanubariku

Selamat Hari Ibu

Pojok WPS, Rama Yakin, 22 Des 2018

Menilik Sejarah Hari Ibu

Menilik Sejarah Hari Ibu

Hari ibu kini senantiasa diperingati dengan berbagai cara, berbagai kreatifitas, mulai dari kata-kata romantis penuh cinta buat sang ibu, sampai acara-acara yang diperuntukkan untuk kaum ibu-ibu. Tapi mirisnya, kebanyakan dari perayaan itu tidak ada yang berhubungan dengan tema-tema yang disampaikan pada Kongres Perempuan dulu, yaitu sebuah kongres yang menjadi titik awal lahirnya hari ibu.

Di sebuah Pendopo Dhalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Joyodipoero, sabtu malam, 22 Desember 1928, ratusan orang berkumpul. Acara resepsi dimulai sejak pukul 19.00 WIB, dimulai dengan nyanyian penghormatan dari anak-anak untuk para tamu.

Para tamu juga disuguhi drama tanpa suara tentang cerita Dewi Sinta membakar diri, Srikandi, dan Perikatan Istri Indonesia. Dari pukul 21.00 WIB hingga 23.00 WIB, para tamu saling berkenalan. Tiap utusan diberi kesempatan untuk mengurai problem perkumpulannya. Begitu yang dicatat Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang (2007).

Kongres ini dihadiri juga wakil-wakil dari perkumpulannya Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah, dan Jong Islamieten Bond. Tokoh-tokoh populer yang datang antara lain Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Soekiman Wirjosandjojo (Sarekat Islam), A.D. Haani (Walfadjri).

Rangkajo Chairoel Sjamsoe Datoek Toemenggoeng alias Nyonya Toemenggoeng, istri dari Patih Datoek Toemenggoeng yang jadi bawahan Charles Olke van der Plas, hadir juga dalam acara itu. Setelah acara itu usai, perempuan Minang ini menulis laporan berjudul “Verslag van het Congres Perempoean Indonesia gehouden te Jogjakarta van 22 tot 25 Desember 1928”. Sekitar 600 perempuan dari berbagai latar pendidikan dan usia hadir dalam kongres Perempuan Indonesia Pertama ini.

Esok harinya, acara dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Setelah acara dibuka dengan pertunjukan menyanyi dari anak-anak, Siti Soekaptinah menyampai asas kongres tersebut. Ternyata, pada pertemuan hari kedua kongres ini juga ada bahasan perkawinan anak yang disampaikan oleh Moega Roemah.

Perwakilan Poetri Boedi Sedjati (PBS) dari Surabaya menyampaikan pidatonya tentang derajat dan harga diri perempuan Jawa. Lalu disusul Siti Moendji’ah dengan “Derajat Perempuan”. Nyi Hajar Dewantara—tentu saja istri dari Ki Hadjar Dewantara—membicarakan soal adab perempuan. Ada juga pembicara yang menyampaikan topik soal perkawinan dan perceraian.

Selain pidato soal perkawinan anak, ada pidato berjudul “Iboe” yang dibacakan Djami dari Darmo Laksmi. Di awal pidatonya, ia menceritakan pengalaman masa kecilnya yang dipandang rendah karena ia anak perempuan.

Jika seorang anak hendak dilahirkan, Djami berkata, “bapak dan ibunya meminta kepada Tuhan, laki-lakilah hendaknya anaknya.”

Di masa kolonial, anak laki-laki menjadi prioritas dalam mengakses pendidikan. Tempat perempuan, dalam pikiran banyak orang Indonesa, akhirnya tak jauh dari kasur, sumur, dan dapur. Pandangan usang itu mengakar kuat dan pendidikan bagi perempuan tak dianggap penting. Perempuan tak perlu pintar, bukankah akhirnya ia akan ke dapur juga?

Tapi Djami berpendapat lain. Meski menekankan pentingnya pendidikan perempuan dalam kerangka perannya sebagai ibu, pandangan Djami sudah maju untuk ukuran zaman itu.

“Tak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya,” katanya.

Jika perempuan sudah bodoh, pendidikan terhadap anak yang dikandung dan dibesarkannya sebetulnya terancam. Djami melanjutkan: “selama anak ada terkandung oleh ibunya, itulah waktu yang seberat-beratnya, karena itulah pendidikan Ibu yang mula-mula sekali kepada anaknya.”

Itulah kenapa pembangunan sekolah-sekolah untuk memajukan perempuan seperti yang dilakukan Rohana Koedoes, Kartini juga Dewi Sartika begitu penting perannya. Ibu yang pandai akan punya modal besar untuk menjadikan anaknya pandai. Anak-anak yang pandai di masa depan akan membuat kehidupan sebuah masyarakat akan lebih baik. Pergerakan Nasional Indonesia, tentu perlu anak-anak pandai dari ibu-ibu yang pandai juga.

Dalam Kongres yang berlangsung hingga 25 Desember 1928 ini, Siti Soendari yang belakangan menjadi istri dari Muhammad Yamin juga hadir. Siti yang seorang guru juga memberikan pidatonya. Dia memakai bahasa Indonesia, meski Nyonya Toemenggoeng berpendapat bahasa Indonesianya tidak pas dan agak berlebihan.

Ketika itu bahasa Indonesia, yang sebetulnya bahasa Melayu pasar, baru saja disepakati sebagai bahasa persatuan Indonesia dua bulan sebelumnya pada 28 Oktober 1928.

Dalam pertemuan tersebut, organisasi-organisasi perempuan berfusi menjadi Perserikatan Perempuan Indonesia. Setahun kemudian, pada 1929, mereka berganti nama menjadi Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia.

Menurut Slamet Muljana, dalam Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008), dua tahun setelah kongres, perempuan-perempuan itu menyatakan bahwa gerakan perempuan adalah bagian dari pergerakan nasional. Bagi mereka, perempuan wajib ikut serta memperjuangkan martabat nusa dan bangsa.

Seperti kongres Pemuda II, Kongres Perempuan ini juga menekankan pentingnya persatuan. Mereka tak ingin dipecah belah dengan apapun, termasuk oleh masalah agama. Nyonya Toemenggoeng mencatat: Roekoen Wanidijo mengusulkan masalah agama sebisa mungkin mereka hindari untuk dibicarakan agar tidak terjadi perpecahan. Bahkan, tokoh yang menjadi anggota organisasi keagamaan tidak dapat dipilih menjadi ketua.

Menurut Slamet Muljana, penyelenggara kongres ini berasal dari bermacam etnis dan agama di Indonesia. Organisasi-organisasi yang terlibat dalam penyelenggaraan itu antara lain: Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyah, Wanita Mulyo, perempuan-perempuan Sarekat Islam, perempuan-perempuan Jong Java, Jong Islamten Bond, dan Wanita Taman Siswa.

Gedung tempat acara itu diselenggarakan akan dipergunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Acara ini, menurut Susan Blackburn, membuat kesal kaum feminis Eropa di Indonesia, sebab acara ini hanya diperuntukkan bagi perempuan-perempuan atau ibu-ibu pribumi Indonesia. Kala itu, banyak perkumpulan Eropa juga membatasi diri hanya untuk orang Eropa.

Setelah kemerdekaan, kongres ini dianggap penting. Sukarno mengenang semangat perempuan juga ibu-ibu dalam pergerakan nasional demi perbaikan kehidupan perempuan era kolonial itu.

Maka, pada 22 Desember 1959, dalam peringatan kongres ke-25, melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1959, Presiden Soekarno menetapkan setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai: Hari Ibu.

Penulis : Muhammad Lutfi (Pengurus Asrama Diniyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Iboe

Iboe

           Ia peluk tubuh dingin itu sangat erat. Sembari menangis, Anna Marie Jarvis masih belum bisa menerima kepergian ibunya. Sampai pipinya basah, air matanya berurai disertai isak yang dalam. Anna tak percaya ibunya benar-benar telah tiada.

            Namun apalah daya, Anna bukan Nabi Isa, utusan Tuhan yang dikaruniai mukjizat bisa mehidupkan orang mati. Ia hanya manusia biasa yang mencintai ibunya. Cinta yang tak pernah ia bagi dengan lelaki manapun, kecuali Ayah dan Tuhannya.

            Sebelum ibunya meninggal, Anna teringat pada suatu hari, di taman kawasan Philadelphia, ia mengajak ibunya yang sakit jantung itu menghirup udara segar pagi musim semi. Dengan suara lirih dan napas sengal, ibunya berpesan pada Anna, “kelak ketika aku tiada, aku berharap manusia menghargai pelayanan tanpa batas yang diberikan ibu mereka. Dan Negara memperingati hari ibu sebagai sebuah memorial, karena seorang ibu berhak atas itu.”

            Pesan itu terekam jelas. Anna kembali menatap wajah ibunya yang layu, sekujur tubuhnya yang kaku. Ia pegang erat-erat tangan ibunya lalu kemudian berjanji di dalam hati, “harapanmu harus dibayar tuntas.” Ann Reeves Jarvis (baca: Ibu Anna Marie Jarvis) meninggal pada 9 Mei 1905.

            Tiga tahun setelah kematian ibunya, tahun 1908, Anna mengadakan peringatan untuk menghormati ibunya dan semua kaum ibu di Gereja Episcopal Methodist Andrews, Grafton, West Virginia. Sebelum seluruh negara bagian di Amerika Serikat menjadikan Hari Ibu sebagai hari libur pada tahun 1911. Lalu diresmikan oleh Woodrow Wilson dengan menandatangi Deklarasi Hari Ibu sebagai hari libur nasional yang jatuh pada hari minggu kedua bulan Mei.

            Hari Ibu yang digagas Anna Marie Jarvis semakin populer. Meski di sebagian besar dunia, Hari Ibu dirayakan dengan cara, hari, dan tanggal yang berbeda. Ia merasa sedikit lega, cita-cita ibunya telah tertunaikan.

Tapi sore itu, ditengah senja tertutup salju, Anna merasa ganjal. Hari Ibu yang masyhur itu ia anggap gagal karena dijadikan ‘tambang mas’ sebagian korporat. Baginya Hari Ibu telah kehilangan makna akibat dilindas mesin konsumerisme buatan tangan kaum kapitalis.

Anna tak ingin Hari Ibu sekejadar jadi tren, yang dilakukan tapi tak membekas. Karena menurutnya kasih sayang seorang ibu tak sebanding dengan pembelian dan pemeberian bunga, permen, dan kartu ucapan. Ia mengutuk keras formalitas itu, meski tak seluruhnya menyalahkan. Ia ingin lebih, Hari Ibu harus sakral.

Bersama asosiasi the Mother Day Internasional Association, Anna berusaha mengembalikan makna asli Hari Ibu. Hari yang sepatutnya dijadikan momentum untuk menghargai jasa seorang ibu bagi keluarganya; anak dan suaminya ataupun lingkungan sosialnya. Ia mengajak kita tenggelam dalam lautan kasih sayang ibu yang tanpa parih dan tak lekang. Dengan sadar sepenuhnya, bukan sebutuhnya.

Dalam buku Memorirializing Motherhood: Anna Jarvis and the Defense of Her Mother’s Day, sejarawan Katharine Antilini dari West Virginia Wesleyan College menyitir perkataan Anna soal kasih sayang ibu yang ia lambangkan seperti White Dianthus Caryophyllus:

“Warna putihnya adalah untuk melambangkan kebenaran, kemurnian dan kasih sayang yang luas dari cinta ibu; aroma, ingatannya, dan do’anya. Anyelir tidak menjatuhkan kelopkanya, tetapi memeluk mereka sampai ke jantung ketika mati, dan demikian juga, ibu-ibu memeluk anak-anak mereka ke hati mereka, cinta ibu mereka tidak pernah mati. Ketika saya memilih bunga ini, saya teringat tempat tidur ibu saya yang berwarna merah muda.”

            Usaha ulet Anna untuk mereformasi Hari Ibu terus berlanjut sampai tahun 1940an. Pada tahun 1948 ia meninggal di usia 84 tahun di Philadelphia’s Marshall Square Sanitarium. Ia tak meninggalakan apa-apa. Ia tak pernah jadi seorang ibu bagi anaknya, kecuali memantaskan diri jadi anak untuk ibunya. Anna Marie Jarvis bukan seorang ibu, ia lebih dari itu, yaitu Ibu dari Hari Ibu (The Mother of Mother’s Day).

            Kurang lebih dua dekade sebelum Anna Marie Javis meninggal, di belahan dunia lainnya; Nusantara hidup seorang Djami. Perempuan keturunan Pribumi totok yang nyaris tak ada dalam catatan sejarah, selain sebagai salah satu aktifis organisasi Darmo Laksmi.

Djami bingung, kenapa takdir lahir sebagai perempuan dianggap inferior. Padahal ia tak pernah minta dilahirkan sebagai perempuan. Namun ia yakin sepenuh iman, Tuhan menciptakan perempuan tak untuk direndahkan. Baginya, lelaki atau siapapun yang mencela kodrat perempuan, sama juga menistakan kuasa Tuhan.

Ingatan itu masih terasa segar. Pada masa Djami kecil, perempuan bukan hanya direndahkan oleh Kolonial Belanda dengan membatasi partisipasi perempuan dalam domain publik. Namun masyarakat Pribumi pun demikian, stigma perempuan begitu mengakar. Djami paham betul, ia tak bisa merubah sejarah masa lalu. Namun ibarat kapal, sejarah bisa berganti arah haluan. Djami punya harapan, percaya masa depan.

Maka dalam Deklarasi Perempuan Indonesia di Yogyakarta tahun 1928, Djami berpidato dengan judul “Iboe”. Dalam pidatonya ia melampiaskan sesuatu yang tertahan; menuntut keadilan gender. Meminta kesamaan hak termasuk dalam ranah pendidikan. Agar definisi perempuan tidak sebatas urusan sumur, kasur, dan dapur.

Akses pendidikan bagi perempuan menurut Djami sangat penting. Sebab perempuan adalah calon ibu, yaitu madrasah pertama bagi anaknya. “Tak ada seorangpun akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya kalau bukan karena ibu atau istrinya yang tinggi juga pengetahuan dan budinya,” kata Djami dalam pidatonya di depan peserta Kongres..

Membaca kembali pidato Djami adalah mengikuti alur cerita yang alot, penuh sarkastik, dan lugas. Campur aduk antara kepedihan atas ke-peremupuan-nya dan optimisme yang memuncak. Waktu itu bicara status perempuan dan ibu masih tabu. Namun ia menyusun teks itu dengan semangat perubahan paradigma berpikir dan rasionalitas pemikiran yang memadai.

Kesedihan saya membacanya lagi pidato Djami bukan karena atas segala kisah pilu seorang Djami. Tapi karena pidato Djami adalah puncak dari gunung es di permukaan air laut. Ada yang lebih makro dari Djami, yakni pengebirian perempuan secara sosial tanpa mengingat jasa-jasa mereka (baca: perempuan), lebih-lebih seorang ibu.

Dalam penutup pidatonya sekali lagi ia tegaskan bagaiaman seorang perempuan harus mendapat kelas sosial dan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Karena bagaimanapun kata Djami, dalam buku Lady Emilly Lutyans yang ia kutip: Ibu akan mengajarkan anaknya sejak dalam kandungan. Pidato Djami usai.

Sedasawarsa kemudian, pada Kongres Perempuan Indonesia III. Peserta Kongres menyepakati tangal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Mereka turut andil pula dalam memperjuangkan kemerdekaan dan perbaikan keadaan perempuan Indonesia. Misalnya perbaikan gizi ibu dan anak balita, menghentikan pernikahan dini, apalagi perdagangan perempuan dan anak.

Indonesia pun telah merdeka. Mereka terus mengambil peran dalam pembangunan negara. Maka pada tanggal 22 Desember 1953, dalam peringatan Kongres Perempuan Indonesia yang ke-25, Presiden Soekarno mentapkan setiap tanggal 22 Desember diperingati Hari Ibu, melalui Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1953.

Mungkin dua kisah di atas sedikit cukup menggambarkan sejarah lahir Hari Ibu. Tinggal bagaimana kita, khusunya saya pribadi, dapat menangkap pesan tersirat dari peringatan ini. Tentu bukan sekedar membuat ucapan “Selamat Hari Ibu” yang mewarnai media sosial, melainkan rasa terima kasih yang sangat mendalam atas jasa dan kasih sayang tanpa pamrih mereka.

Dalam Islam, setidaknya ada dua pendapat yang berbeda ketika memandang perayaan Hari Ibu. Diskursus kajian hukum ini memang sudah dibahas oleh sejumlah pakar. Antara lain ulama Al-Ahzar Mesir, sedikitnya ada empat ulama yang mengatakan Hari Ibu haram di lakukan oleh umat Islam. Sebut saja misalkan Syekh Mutawalli as-Sya’rawi dan Syehk Ali Mahfudh serta sejumlah cendekiawan seperti Musthafa al-Adawi dan Abdul Hamid Kisyk.

Mereka beranggapan bahwa dalam syariat Islam tradisi demikian tak pernah ada. Lebih pada itu dalam pandangan mereka, mengapa perayaan ini tidak dibolehkan karena taklid buta terhadap tradisi Barat. Barat menciptakan peringatan ini sebagai bentuk hipokrit. Perayaan demikian merupakan instrumen menebus abai yang sudah mereka lakukan akibat terlalu materialistik. Kendati demikian, para ulama tersebut tak memvonis kafir bagi Muslim yang melakukan perayaan dimaksud.

Di sisi lain, Syehk Yusuf al-Qaradhawi menilai peringatan Hari Ibu bukan termasuk perkara yang haram karena syariat tidak melarang. Meski ia sendiri tak terlalu tertarik untuk melakukan perayaan tersebut. Asal menurutnya jangan sampai disamakan dengan menggunakan istilah I’d (hari raya) yang korelasinya sangat dekat dengan agama.

Beliau menambahkan, jangan sampai perayaan ini malah menyinggung perasaan anak yatim piatu. Jika beliau harus memilih antara merayakan Hari Ibu dengan memperhatikan nasib dan kondisi anak yatim piatu, beliau cenderung pada pilihan yang kedua. Meski beliau mengakui dengan perayaan ini dapat membahagiaka ibu, namun dalam Islam kewajiban membahagiakan ibu tak dibatasi waktu, sesuai prinsip Surat Luqman Ayat 14.

Terlepas dari itu semua, sudahkah kita berbuat baik pada orang tua, terutama ibu kita? Atau malah terjebak pada tren dan formalitas belaka? Anda sekalian lebih tau menjawabnya.

Sepekan yang lalu, pada tanggal 13 Desember lalu, salah satu media massa mengabarkan pembunuhan. Kabar mirisnya adalah orang tua yang dibunuh anak kandungnya. Sebelum ibunya dibunuh, anak bengal itu menyeret ibunya yang kemudian berakhir dibacok dengan golok. Perempuan setengah baya itu meregang nyawa. Anak itu jadi durhaka.

Saya tidak mengatakan anak jaman now lupa suatu tempat yang kata Zawawi Imron dalam puisi Ibunya ‘gua pertapaan yang kasih sayangnya seluas samudera’. Biarlah sabda Nabi Muhammad membuktikan bahwa salah satu tanda akhir zaman ialah ketika ibu melahirkan majikannya.

Selamat Hari Ibu…

Penulis : Rahmat Hidayat (santri aktif di Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Ibu, Sang Altruis Abadi

Ibu, Sang Altruis Abadi

“Sebagai seorang wanita, saya memasuki rumah politik dengan dimensi tambahan – Seorang Ibu”. Benazir Bhutto

Ibu (Maha Karya Allah Azza Wa jalla) yang altruis biasanya bersikap untuk tidak mementingkan kepentingan dirinya pribadi. Tindakan-tindakan yang ia lakukan bisa berpusat pada alasan ingin selalu memajukan keluarga, dan ia sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa pun untuk dirinya sendiri sehingga tidak terjebak pada “pengabdi amatiran”. Telah sekian lama perilaku “Altruis” menjadi perbincangan hangat berbagai kalangan baik yang beragama maupun tak beragama bahkan yang memiliki prinsip tak bertuhan, oleh karena inilah sebuah tauladan sikap yang mulia. Perlu dicamkan, altruis bukanlah sebuah sikap yang mengorbankan diri sendiri ibarat lilin rela terbakar demi menerangi sekelilingnya namun rela berkorban, peduli, dan ikhlas. Sikap altruis mementingkan kesejahteraan keluarga dan kebersamaan.

Bukanlah Ibu altruis jika mengasumsikan dirinya sebagai obyek pasif dan tak berdaya bahkan terjerumus pada sikap inferior terhadap dirinya sendiri, manipulatif, dan tidak melakukan sebuah kebaikan dengan motivasi tersembunyi yang hanya bersumber kepada kepentingan pribadi. Altruis merupakan sikap positif yang juga berkaitan erat dengan integritas, kejujuran, dan rendah hati. Tanpa disadari ada peran Ilahiyyat dibalik sikap altruistik.

Ibu dalam bahasa arab disebut dengan ummun, ia terambil dari kata amma yaummu “sesuatu yang banyak dituju”. Bukankah seorang anak jika membutuhkan dan meminta sesuatu tanpa disadari dia akan menghampiri ibunya ?. ketergantungan seorang anak begitu besar pada ibu, sebab seorang anak pernah menjadi “alaqoh” segumpal darah yang kemudian berlanjut pada fase-fase berikutnya hingga tiba sembilan bulan. Oleh karenanya begitu besar keterikatan seorang anak pada ibunya.

Dalam Islam telah dijelaskan terang benderang betapa ibu memiliki dimensi menciptakan atau khaliqiyat atau mampu menciptakan yang didasari oleh cinta dan kasih sayang yang dominan pada seorang ibu ini menjadi potensi besar untuk mendidik generasi, oleh karena itu awal dan permulaan  pendidikan dalam sebuah masyarakat dimulai dari pernikahan dan keluarga bahkan jauh sebelum melangkahkan kaki menuju lorong penikahan, dengan demikian ibu memiliki tanggung jawab sentral (subjek) dalam keluarga bahkan masyarakat yaitu pertama, mendidik dirinya sendiri, kedua, mendidik anak-anaknya, dan ketiga jika perlu mendidik suaminya. Betapa besar peran ibu dalam mendidik sehingga Rasulullah tidak sedang menggombal saat beliau bersabda “Syurga berada di bawah telapak kaki ibu”. Tak diragukan lagi bahwa generasi-generasi brilian dalam semua dimensi kehidupan lahir dari ibu yang sukses mendidik penuh cinta dan kasih sayang, inilah salah satu rahasia mengapa Rasulullah bersabda demikian, Menakjubkan.

Betapapun kelamnya keadaan keluarga, lingkungan sekitar, dan semrawutnya tatanan kehidupan masyarakat dunia dari masalah nasional, regional, dan internasional yang harus diselesaikan dengan bijaksana. Seorang ibu masih saja mampu menciptakan atmosfer surgawi bagi suami dan anak-anaknya hingga anak cucunya bahwa dunia masih anggun semampai sampai saat ini. Penulis tidak berlebihan mengasumsikan bahwa alam raya ini juga memiliki ketergantungan pada seorang ibu, ibu lebih istimewa dari pada surga dan seisinya. Tak dapat dibayangkan porak-porandanya alam raya bila ibu alpa akan peran luar biasanya.

Terlepas dari kelompok misoginis-sentimental, keberlangsungan konflik struktural-kultural dalam kehidupan sistem sosial antara Patriarkhi dan Matriarkhi, Feminin dan Maskulin genting untuk dibahas ulang di hari nan mulia – hari Ibu, sehingga tidak sebatas menjadi perayaan simbolis dan fiktif, nyatanya seorang ibu di abad milenial berada di persimpangan jalan kebebasan dan pengekangan, ketaatan dan kenikmatan. Konflik dominasi tak ada ujungnya selama kedua sistem sosial enggan mengekang hasrat merepresi lawan jenis, baik Ptriarkhi maupun Matriakhi dapat dengan mudah diterapkan seadil-adilnya di suatu wilayah selagi rasa mengayomi dan rela untuk tidak membangkang ataupun bertindak sewenang-wenang demi tercapainya cita-cita memuliakan Sang Ibu. Seperti fenomena Matriarkhisme di tanah Minangkabau atau fenomena Patriarkhisme ekstrim di Pulau dewata.

Persaingan saling mendominasi memaksakan para ibu-ibu turut andil demi menunjukkan status sosial. Alih-alih memuntut kebebasan dan HAK,  ibu-ibu yang memiliki kesibukan di dunia kerja dan disibukkan oleh situasi yang memperalat di segala bidang justru jauh lebih tersiksa kendatipun mereka seringkali nyaman dan tenteram mendapatkan perlakuan tidak berprikemanusiaan dari masalah  pelecehan, hak cuti hamil dan melahirkan hingga nekat melakukan tindakan aborsi demi mematuhi peraturan kerja di perusahaan manapun. Moral ibu-ibu kini telah terpeleset dalam jurang “komodifikasi kaum hawa”. Cobalah para boss pemimpin perusahaan sesekali membasuh akal hingga jernih sebelum mengenakannya sebagai kacamata pandang, barangkali cara memandangi kaum ibu-ibu telah begitu teruk.

Di hari ibu, ada beberapa hal yang perlu dihayati kembali bahwa ibu atau istri merupakan pasangan hidup dengan kemampuan multitasking bahkan polymath dan jika tidak berlebihan mereka lebih hebat dari revolusi 4.0, istimewa, bukan ?. jadi sudahkah papa layak dan pantas mengampanyekan poligami, hak madu, hak pelakor, serta jajan-jajan yang papa simpan dibalik kantong celana. Papa seringkali khilaf tak tahu membedakan rasa nyaman dan rasa kagum dan papa terjebak pada permainan meninggalkan yang nyaman demi ia yang dikagumi. Papa egois tidak sayang mama pasti berdalih “Surga di bawah telapak kaki Ibu, Tuhan di bawah telapak sabda Papa”. Bisa jadi kejantanan, kekuatan, dan penyematan gelar imam pada-mu sebatas ilusi. jangan mudah ngiler, ingat ibu, Papa. Dampingi ibu menjadi altruis sejati. Hubungan kalian saling mempengaruhi, saling melindungi, dan menghormati serta setara dalam kebersamaan yang sempurna. Langit itu maskulin dan bumi adalah wanita; apapun yang dimasukkan ke dalamnya menghasilkan buah”. Pesan Rumi.

Emak-emak rempong, kini ada gelagat yang mendiskreditkan para ibu, memojokkannya menjadi manusia menyebalkan, menyusahkan, dan membuat anak pusing kepala karna ulah emak-emak rempong berdaster. Saat di jalan tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, ceriwis, shopaholic, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, emak-emak gemar mengadakan pengajian atau muslimatan di kampung-kampung bahkan nekat menaiki kendaraan/mobil tak beratap sembari mengadakan arisan dan saling adu fashion agar tak kalah gengsi walaupun dengan berhutang tanpa sepengetahuan suami. Sebaliknya, jika acara rutinan sekaliber muslimatan yang super-religius yang dihadiri mereka dengan hijabnya menyentuh mata kaki ditelisik secara sosioantropologis maka akan ditemukan titik optimistis dengan syarat acara muslimatan juga diiringi dengan penggalangan dana (fundraising) dengan tujuan terciptanya rasa empati dan berbelas kasihan kepada para anak jalanan baik yatim maupun diyatimkan, ibu-ibu yang berada di luar komunitasnya seperti, ibu-ibu janda single-parent, ibu-ibu buruh, ibu-ibu pelakor, dan bahkan ibu-ibu di pinggiran pelayan hidung belang.

 Memberdayakan, memberi modal dari hasil penggalangan dana di kegiatan muslimatan, dan keterampilan kepada mereka tentu lebih bermakna dari pada sebatas arisan, pamer fashion, dan make up. Setidaknya, acara muslimatan dapat membangkitkan semangat ibu-ibu di luat lingkaran muslimatan membangun ekonomi mandiri serta bermartabat. Tidak mengapa hidup kere/ngere (ngebangun ekonomi diri sendiri) gaya hidup tidak umum dan biasa-biasa saja justru lebih istimewa, Asal urusan finansial tidak menggantungkan pada suami orang atau menormalkan larangan Tuhan.  Sehingga, cita-cita menjadi ibu altruis abadi bukan sekedar cita-cita utopia dan mimpi siang bolong.

Terakhir, para ustadzah calon ibu (mahasiswi/non-mahasiswi) pengurus pesantren dimanapun berada. Dewasa ini, khalayak di luar sana berada pada titik nadir kedahagaan hendak meneguk bimbingan dari kalangan ustadzah yang sedang menempa diri, mengolah hati, dan dididik langsung (face to face) oleh kalangan Ning dan Bu Nyai keluarga para Kiai. Membentengi emak-emak muslimatan dari radiasi paham sektarian, komoditas empuk para politisi, adu domba media dakwah Ustadzah google, ustadzah Youtube, Ustadzah instagram, dan mendidik generasi muda. Sudah sepatutnya para Ustadzah berada di garda depan menegakkan, membela, melawan atau merayu seperti rayuan Syahrazad pada Sang raja mahajana Syahrazar mejadi kemayu dan urung membunuh dalam hikayat seribu satu malam.

Adakalanya, Ustadzah pengurus pesantren perlu lebih memfokuskan diri untuk mewaqafkan masa mudanya, kecantikannya, bersenang-senangnya, dan hasrat hidup glamournya demi ilmu dan mengayomi anak didik. Jangan sampai enggan membaca dan membeli buku namun merunduk dibawah melangitnya bandrol pakaian branded sekelas tuneeca terbaru, tas kosmopolitan, sepatu high heels, dan sebagainya.

 Bagai dua perempuan bersaudara dalam sejarah berdirinya Universitas pertama di dunia Al Qurawiyyin – pada masa dinasti Idrisiyah – oleh Fatimah Al Fihri, wanita bergelimang harta warisan dari mendiang ayahnya lebih tertarik mendedikasikan dirinya dengan cara gemilang mendirikan Unversitas beserta rekan adiknya Maryam Al Fihri. Beliau, fatimah dan maryam patut dijadikan tauladan di era milenial bersama perempuan hebat lainnya seperti Sya’wanah guru para Ulama’ di masanya, Benazir Bhutto, Cut Nyak Dien, dan Rahmah El Yunusiyah pejuang yang terlahir dari keluarga bersistem sosial Matriarkhat. Begitu banyak wanita muslim “Altruis” patut dijadikan suri tauladan bagi para Ustadzah kekinian dari Negri Andalusia hingga Negri Andalas.

Kalau boleh memberi saran. Menulislah. Jika tidak, menikahlah bagaimanapun keadaannya dan siapapun suami anda kelak. Anda akan segera menjadi seorang salik dan altruis abadi dadakan. Mohon, selamatkan hari ibu 22 Desember 2018, Ustadzah !

Ibu altruis, nyata ada di sekeliling kita, di rumah kita masing-masing.

Penulis : Salman Al-farisi (Pengurus aktif LPBA Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Maskulinitas (keheroikan) Sosok Ibu

Maskulinitas (Keheroikan) Sosok Ibu

Bertepatan tanggal 22 Desember, adalah tanggal diperingatinya hari ibu di Indonesia, Hari dimana Pahlawan yang jejaknya tak direkam sejarah, perjuangannya tak diabadikan buku-buku sekolah, dan namanya tak disejajarkan dengan deretan para pahlawan-pahlawan negara, ya beliaulah ibu kita tercinta, beliau adalah simbol nyata dari pengejawantahan cinta yang sebenarnya, beliau membuktikannya, bahwa cinta sejati tak lekang oleh masa itu benar adanya, teruntuk anak tercinta, asahnya seikhlas hujan, asihnya seluas lautan, asuhnya tak bisa di nominalkan, bahkan nyawanya sekalipun rela digadaikan demi kebahagian anak tersayang, tidak berlebihan kiranya kalimat diatas kami narasikan untuk menggambarkan kisah kasih sayangnya yang setara luas jagat raya.

Menjadi sebuah paradigma yang kurang pas ditengah peradaban kita hari ini, ada simplifikasi makna antara maskulin dan feminim, dimana kesalahfahaman pemaknaan istilah maskulin yang disamakan dengan makna lelaki dan juga istilah feminim yang diartikan sebagai perempuan, sebelum memahami dua variabel kata maskulin dan feminim tersebut kita harus terlebih dahulu bisa membedakan pengertian antara arti gender dan arti kelamin, karena secara terminologi keduanya sudah sangat jauh berbeda, secara sederhana kelamin adalah pembagiaan antara jantan (lelaki) dan betina (perempuan) yang ditentukan secara biologis oleh Allah dan tidak dapat diubah keberadaanya, berbeda dengan gender, gender sendiri merupakan tipologi karakter yang melekat pada lelaki dan perempuan serta di konstruk secara sosial maupun kultural, misalnya: ada gender maskulin (tegas, kuat dll) yang selalu identik dengan laki-laki dan ada yang feminim (lembut, halus, melayani dll) selalu identik dengan tipologi karakter perempuan.

Berlandaskan pengertian maskulin dan feminim diatas, kurang pas kiranya ketika kata feminim disamakan dan digelarkan kepada perempuan saja juga kata maskulin yang esensi terminologinya hanya dipersempit untuk lelaki saja, bukankah beratnya perjuangan seorang ibu untuk anaknya juga masuk dalam kategori tipologi karakter maskulin?. Serta apakah tidak masuk kategori feminim?, sifat mengayominya seorang bapak terhadap keluarga dan anak, serta tak jarang bapak yang tipologi karakternya penyabar. Kita sebagai manusia entah lelaki atau perempuan harus punya dua kualitas tipologi karakter sekaligus (maskulin dan feminim) agar hidup kita indah dan berirama, bayangkan saja jika semua manusia di dunia memiliki sifat feminim semua, pasti dunia akan sepi, sebaliknya jika semua manusia punya sifat maskulin semua, pasti dunia akan rusak dan hancur.

 

Sejarah Hari Ibu

Hampir semua Negara di belahan dunia mempunyai hari spesial untuk menghormati perjuangan mulia seorang ibu, hanya saja tiap Negara berbeda dalam hal tanggal pelaksanaannya, karena beberapa faktor historis yang melatar belakanginya. di negara-negara Eropa misalnya, hari ibu dilaksanakan pada bulan Maret. Di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Thailand, Hong Kong, peringatan hari ibu jatuh pada pertengahan bulan Mei.

Sedangkan di Indonesia sendiri, Hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional, sejarah Hari Ibu di Indonesia dilatar belakangi dari pertemuan para pejuang wanita, dengan mengadakan Kongres Perempuan yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. Pada tanggal 22 Desember 1928 organisasi-organisasi perempuan (didirikan tahun 1912 yang diprakarsai oleh para pahlawan wanita abad-19 seperti Cut Nyak Dien, Cut  Mutiah, R.A Kartini, dkk), membentuk Kongres Perempuan yang dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Kongres ini bisa dikatakan merupakan dampak dari peristiwa Sumpah Pemuda kepada kalangan wanita, Ada semacam semangat dan tanggung jawab untuk menyamakan derap dan tekad agar dapat memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara.  Presiden Soekarno kemudian menetapkannya melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga sekarang.

 

Keheorikan Perjuangannya

Tugas domestik ibu adalah sebagai istri dari suaminya dan juga sebagai ibu untuk anak-anaknya, jika kita mau sedikit mengingat, begitu sangat militan perjuangan, pengorbanan seorang ibu untuk buah hatinya, sedari mengandung, beliau menanggung berat beban bayi selama sembilan bulan diperutnya, susah dan tersiksa mau beraktivitas karena terganggu oleh perut buncitnya, belum lagi menahan sakitnya proses melahirkan yang sangat luar biasa bahkan bisa nyawa seorang ibu jadi taruhannya, saat sang bayi sudah lahir beliau dengan sabar mengurus, menyusui dari pagi, siang dan malam, mengasuh dan membesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Beliau orang yang pertama kali mengajarkan kita berbicara, menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, dari rahimnya lahir penerus bangsa, dari didikannya ditentukan nasib bangsa dan negara.

Selain melaksanakan tugas domestiknya, tak jarang seorang ibu merangkap peran ganda dengan bekerja layaknya seorang ayah, karena berbagai faktor yang memaksanya, mayoritas realita ibu yang hidup di desa dengan kondisi ekonomi keluarga lemah dan berbagai faktor yang melatar  belakanginya, dengan penuh sukacita dan terpaksa, tak jarang seorang ibu yang bekerja menjadi petani, menjadi buruh bahkan tidak sedikit yang menjadi kuli, membantu suami untuk mencukupi nafkah anak-anaknya, sungguh heroik perjuangannya, hanya demi kebahagian dan kecerahan nasib anak-anaknya dimasa depan, beliau berani mengorbankan apa saja sekalipun nyawanya.

Jauh sebelum dunia menetapkan betapa pentingya menghargai jasa-jasanya, Rasulullah SAW telah meletakkan dasar teologis bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits riwayat Anas bin Malik RA : الجنة تحت اقدام الامهات   yang artinya : “surga dibawah telapak kaki ibu”, Hadits tersebut menegaskan bahwa seorang ibu memiliki kedudukan yang mulia hingga seolah-olah surga yang begitu indah nan agung saja tidak lebih tinggi daripada seorang ibu, karena diibaratkan berada dibawah telapak kakinya. Kita semua tahu bahwa telapak kaki adalah bagian paling bawah atau rendah dari organ tubuh manusia. Namun maksud dari hadits ini adalah bahwa tidak mungkin seorang anak bisa masuk surga tanpa ketundukan dan kepatuhan kepada ibunya. Sebagaimana Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Abu Hurairah RA :

مَنْ أحَقُّ الناس بِحُسْن صَحابتي ؟ قال : أمُّك، قال : ثم مَنْ ؟ قال : أمُّك، قال : ثم مَنْ ؟ قال : أمُّك، قال : ثم مَنْ ؟ قال : أبُوك

“Suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah SAW. Orang itu  bertanya kepada Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu bertanya lagi, siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu  bertanya lagi,  siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu  bertanya lagi. Nabi kemudian menjawab, kemudian ayahmu.”

Bahkan dari saking harus dihormatinya seorang ibu, jika di ranking ibu menempati ranking satu sampai tiga (berdasarkan hadits diatas) dalam kategori manusia yang paling berhak dihormati, baru setelah itu bapak menempati harapan satu. tidakkah cukup untuk meyakinkan diri kita seorang uwais Al-Qarni, Syekh Abdul Qadir Al-jaelani dan ulama lainnya, yang diangkat derajatnya karena hormat dan takdzimnya kepada ibunya, Sudah selayaknya kita sebagai anak tidak perlu berpikir dua kali dan terlalu banyak teori untuk menghormatinya, melihat keheroikan perjuangannya yang tak bisa di angka, semua murni berlandaskan relasi cinta, serta ikhlas hanya demi anak-anaknya.

 

Penulis : Hamdan Mufidi (Pengurus Asrama Diniyah PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Kontribusi Besar Seorang Ibu bagi Kemajuan Bangsa

Kontribusi Besar Seorang Ibu bagi Kemajuan Bangsa

73 tahun telah berlalu sejak Founding Father kita, bapak Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Selama itu pulalah bangsa kita telah berusaha membangun peradabannya secara mandiri tanpa harus dicekal oleh bangsa asing yang sempat hinggap menjadi benalu di tubuh bangsa kita yang tercinta ini.

Akan tetapi, dalam kurun waktu yang lebih dari setengah abad ini, negara kita masih tetap berstatus sebagai negara berkembang. Bahkan, negara kita masih jauh tertinggal oleh Malaysia, negara yang baru merdeka sekian tahun setelah negara kita merdeka, dan itupun berkat bantuan dari negara kita.

Lalu apa yang salah dengan bangsa kita sehingga tak mampu bersaing di kancah global dengan negara-negara lain ? padahal, negeri kita memiliki julukan “tanah surga” karena kekayaan alamnya yang melimpah ruah tak terkira jumlahnya. Sebut saja gunung emas yang berada di Papua dan Nusa Tenggara Barat (NTB), gas bumi yang terdapat di beberapa tempat tertentu seperi kawah Ijen, dan tanah yang begitu subur sehingga mampu membuat batang pohon tumbuh cukup dengan menancapkannya di tanah.

Hal ini seakan menunjukkan betapa mirisnya keadaan bangsa kita hingga tak mampu memaksimalkan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada. Oleh karena itu, merupakan sebuah keniscayaan bagi kita untuk mencetak generasi emas yang mampu memanfaatkan kekayaan alam yang ada dengan signifikan sehingga mampu membawa bangsa kita bersaing dengan bangsa-bangsa lain di kancah internasional.

Terdapat beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap suksesnya pembentukan kader bangsa yang brilian ini. Diantaranya lingkungan, pergaulan, dan terutama orang tua. Tak dapat dipungkiri bahwa orang tua memiliki kontribusi besar dalam membentuk insan kamil yang nantinya akan meneruskan tongkat estafet perjuangan bangsa kita kedepannya.

Jika ditelisik lebih dalam lagi, dapat ditemukan bahwa ibu memiliki peranan yang lebih besar ketimbang ayah. Karena ibu merupakan orang pertama yang mampu berinteraksi dangan seorang anak ketika baru lahir. Bahkan, kondisi seorang ibu sangat berpengaruh terhadap kondisi seorang anak, terutama ketika dalam masa kehamilan hingga si anak berhenti menyusu kepada si ibu.

Diantara peranan yang mampu disumbangkan seorang ibu dalam mencetak penerus bangsa kita yang cemerlang adalah :

  1. Menanamkan akhlak mulia. Akhlak atau tatakrama yang baik sangatlah penting untuk diajarkan sejak dini. Karena ilmu meski tak terhingga banyaknya jika tak diiringi dengan dengan akhlak yang baik bisa mengantarkan empunya kedalam perbuatan-perbuatan yang tak layak dilakukan, apalagi oleh orang dengan tingkat intelektualitas yang tinggi.

Hal ini sesuai dengan perkataan seorang ulama ternama Islam Abu Hamid Al-Ghazali yang bunyinya “حركات الناس بحسب عقيدتهم” dengan arti “gerak-gerik seseorang sesuai dengan apa yang diyakini olehnya”.

Oleh karena itu, seorang ibu yang memiliki kasih sayang begitu besar terhadap seorang anak seyogyanya menanamkan tatakrama yang baik dalam diri anaknya sejak masa balita, agar anak tersebut dapat tumbuh menjadi manusia yang baik dalam berinteraksi dengan sesamanya.

Karena seorang anak pada umumnya akan menirukan apapun yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri dan tumbuh sesuai dengan apa-apa yang telah menjadi asupannya sehari-hari. Hal itu secara tidak langsung masuk kedalam alam bawah sadarnya dan menjadi keyakinan yang ia pegang teguh dalam hidupnya.

Terbukti ada seorang anak keturunan raja pada masa dahulu yang terbiasa menyaksikan proses eksekusi mati di kerajaannya sejak kecil tumbuh menjadi pribadi yang sangat suka membunuh, dan bahkan jika tak menemukan orang yang bersalah untuk dibunuh dia akan membunuh warganya secara acak.

Selain itu, jika akhlak suatu bangsa telah rusak, maka bisa dipastikan bahwa tak lama lagi bangsa tersebut akan binasa. Karena, meski bangsa tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang tak diragukan lagi keilmuannya akan tetapi akhlak mereka buruk, maka tak menutup kemungkinan mereka akan menggerogoti bangsa mereka sendiri.  Baik dengan mengorupsi keuangan negara, mengedarkan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) kemana-mana, maupun mengorbankan orang banyak demi merealisasikan keinginan pribadi.

Kita tentunya tak ingin bangsa kita hancur disebabkan oleh masyarakatnya sendiri, seperti halnya yang telah menimpa bangsa Yunani yang dulunya merupakan bangsa yang adidaya akan ilmu pengetahuan dengan filsafatnya.

  1. Menanamkan mindset Salah seorang ilmuwan besar Amerika, Carol S. Dweck P.hD mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul “Mindset : The New Psychology of Success” bahwa pola pikir (mindset) setiap orang terbagi menjadi dua, yaitu :
  2. Mindset tumbuh (growth mindset). Orang dengan pola pikir seperti ini cenderung pantang menyerah dan menghargai usaha serta tak bergantung terhadap hasil tes. Orang seperti ini pada umumnya akan merasa tertantang ketika tak dapat menyelesaikan suatu hal dengan baik. Dan ia akan terus berusaha serta meningkatkan usahanya untuk dapat menaklukkan sesuatu yang tak dapat ia taklukkan dan meneruskannya hingga ke tingkat yang lebih tinggi.

Dan pada umumnya orang seperti inilah yang pada akhirnya mampu meraih kesuksesan yang cemerlang dalam hidupnya meski ia memulai usahanya dengan hasil yang begitu buruk.

  1. Mindset tetap (fixed mindset). Orang dengan pola pikir seperti ini biasanya bergantung terhadap hasil tes dan potensi bawaan sejak lahir. Ketika ia menjalani sebuah tes dalam bidang tertentu dan mendapatkan hasil yang buruk, ia akan menganggap bahwa dirinya memang tak berbakat dalam bidang tersebut dan menganggap orang yang mendapat hasil baik merupakan orang yang memang berbakat sejak lahir sehingga tak perlu usaha untuk mendapatkan hasil yang baik.

Orang seperti ini pada umumnya ketika sukses dalam suatu bidang akan berusaha mempertahankannya dan tak memberi peluang kepada orang lain untuk merebutnya. Bahkan walaupun dia harus berbuat curang untuk mewujudkan hal tersebut.

Dalam hal ini, merupakan sebuah keniscayaan bagi seorang ibu untuk menanamkan mindset tumbuh dalam diri anaknya sejak kecil dengan cara memberikannya tantangan-tantangan kecil kepadanya. Ketika si anak gagal, maka si ibu terus memberinya semangat agar terus berusaha untuk menaklukkan tantangan tersebut. Dan hal ini dilakukan terus menerus dengan menaikkan tingkat kesulitan tiap kali sebuah tantangan berhasil ditaklukkan.

  1. Memberikan pendidikan yang berkualitas. Merupakan sebuah keniscayaan bahwa salah satu faktor yang urgen dalam membangun negara yang maju adalah tingginya kualitas pendidikan negara tersebut. Ketika penduduk suatu negara memiliki intelektualitas yang tinggi, maka negara tersebut akan menemukan berbagai inovasi-inovasi baru yang mampu membuat negara tersebut bersaing dengan negara-negara lain di dunia.

Untuk mewujudkan masyarakat yang intelek, peran orang tua sangatlah berpengaruh, karena seorang anak dapat mengenyam pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi bila dibiayai oleh kedua orang tuanya.

Dan dalam memilih suatu instansi pendidikan, orang tua tak bisa sembarangan memilih. Karena harus disesuaikan dengan disiplin ilmu yang disenangi dan diminati oleh sang anak. Karena jika tidak, maka anak tersebut akan menjalani hari-harinya dengan keterpaksaan. Dengan demikian pembelajaran yang dikenyam oleh sang anak-pun tak akan berjalan kondusif.

Selain itu, instansi yang dipilih seyogyanya juga merupakan instansi yang memiliki kualitas tinggi dalam mendidik peserta didiknya serta kurikulum yang sudah teruji. Karena dengan demikian, seorang anak dapat tumbuh menjadi seorang yang melek pengetahuan dan menjadi ahli dalam bidang tertentu yang dia kehendaki.

Ketika hal ini sudah tercapai, maka tak menutup kemungkinan seorang anak akan menjadi ilmuwan ternama yang dapat menemukan berbagai penemuan terbaru yang kreatif serta inovatif.

 Ketiga hal inilah, yang menurut hemat penulis dapat dilakukan oleh para ibu di seantero negara Indonesia agar dapat memberikan sumbangsih yang besar demi kemajuan negara kita kedepannya.

Dan ketika ketiga hal tersebut telah mampu dilakukan oleh mayoritas ibu di negara kita yang tercinta ini, dalam beberapa tahun kedepan negara kita pastinya dapat mengejar ketertinggalan dan pada akhirnya mampu bersaing dengan negara-negara lain di kancah internasional. wassalam

Penulis : Ali Hasan Sholeh (Santri Aktif MAPK Nurul Jadid)

For you mom

For you mom

For all the merits exposed

For lovely affection devoted

For every life meaning acquainted

And for each tear fallen down

Mom, I’m sorry

I don’t posses a powerfull body to reply all your merits

My heart is too weak to affect you as deep as you do

My mind is very simple-minded even just to utter beautiful words for

Your smile, even just to raise your pride on everybody’s eyes, even

Just to reach the dream you exprct me to br, even just to do and

Behave like what you always remind me about

I’m just kinda hell for u

Mortifying you in often

Hurting your heart as always

I just bring nothing but cries

I disappoint you even for today

In this day to commemorate

I could not say anything but I love you so

Penulis :  Amirul Wahid (Peserta Didik Aktif LPBA, Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Pilpres dan Fenomena Post Truth

Pilpres dan Fenomena Post Truth

Di tengah maraknya berita-berita hoax, diperparah lagi dengan makin leluasanya setiap pengguna media sosial (Medsos) mengupload, mengolah, menggoreng, mempublikasikan informasi seenaknya sendiri seolah-seolah makin membuat kabur mana kebenaran dan mana kebohongan. Kebenaran dan kebohongan seperti menjadi satu, membaur saling menerima sekaligus menegasi, menolak sebagian sekaligus menerima bagian yang lain. Bahkan yang lebih ekstrim, sebuah kebohongan dibalik seolah sebuah kebenaran, dan diterima sebagai kebenaran, sementara kebenaran tenggelam dianggap sebuah kebohongan. Setiap orang memiliki kuasa untuk mengatur kebenarannya sendiri sehingga apa yang diinformasikan di tengah-tengah publik diyakini sebuah kebenaran. Persoalannya kemudian bagaimana kebenaran dan kebohongan bekerja di tengah-tengah publik sehingga ia menguasai setiap orang. Konsumen informasi medsos seakan tidak perlu lagi menelusuri dan mengidentifikasi lebih jauh kebenaran atau kebohongan yang sesungguhnya?.

Era Pasca Kebenaran

Menurut teori korespondensi, kebenaran dipahami sebagai sesuatu yang sesuai dan berkorespondensi dengan kenyataan (reality). Sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan dianggap sebuah kebohongan. Artinya kebenaran merupakan sebuah realita, ia bukan anggapan, opini, isu dan bukan pula wacana. Ia adalah kenyataan sejarah, bukan impian dan bukan pula masa depan. Ia memiliki landasan empirik, sebuah perjalanan masa lalu yang berangkat dari fakta-fakta emperis. Oleh karenanya kebenaran dapat diukur, diuji, diverifikasi karena sifatnya objekif. Sebaliknya jika sesuatunya tidak memiliki landasan empirik, hanya berupa informasi-informasi liar yang tidak mempunyai sejarah, maka ia dapat dipahami sebagai kebohongan. Keduanya, kebenaran dan kebohongan, belakangan saling menguat dan mengklaim dirinya sebagai kebenaran.

Ajang pilkada, pilgub, pilpres dan pil-pil yang lain menemukan momentumnya untuk bertarung di tengah semrawutnya kebenaran dan kebohongan. Masing-masing Pasangan Calon (Paslon) mendapatkan angin segar untuk membuat kebenarannya masing-masing. Antara satu dengan yang lain saling mengklaim sebagai yang benar. Serang-menyerang, mencemooh, membuli, bahkan mengakfirkan antar Paslon menjadi sebuah pemandangan dan suguhan sehari-sehari. Masyarakat pun semakin bingung mana sebenarnya informasi yang benar dan yang bohong tentang masing-masing Paslon. Di tengah sulitnya membedakan keduaya (kebenaran dan kebohongan), pada akhirnya “kebenaran semu” dalam menjadi sebuah proyek. Artinya setiap paslon berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan masyarakat meyakini apa yang diinformasikan dan apa yang dilakukan adalah sebuah kebenaran. Akhirnya citra positif di depan publik menjadi proyek utama untuk mempengaruhi dan menyakinkan publik bahwa ia sebagai yang benar, yang lain adalah salah. Sekalipun kerja-kerja pencitraan juga merupakan kebohongan yang dibungkus seolah sebagai kebenaran.

Dalam momentum seperti ini fakta senyatanya tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding dengan emosi dan keyakinan personal, itulah yang disebut fenomena post truth. Sebuah era pergeseran sosial spesifik yang melibatkan media arus utama dan para pembuat opini. Fakta-fakta bersaing sedemikian rupa dengan hoax dan kebohongan untuk dipercaya publik. Media mainstream yang dulu dianggap salah satu sumber kebenaran harus bersaing dengan media sosial yang semakin mengaburkan antara kebenaran dan kebohongan, kejujuran dan penipuan, fiksi dan non fiksi.

Oleh karenanya, yang diperebutkan oleh Paslon adalah hati masyarakat dengan pendekatan yang bersifat primordial-emosional dari pada pendekatan yang rasional. Sehingga menjadi wajar kemudian jika penggunaan isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) sebagai instrumen politik yang paling ampuh untuk menjual serta meningkatkan elektabilitas Paslon tertentu. Sebab isu tersebut sangat dekat dengan emosi setiap orang dan sangat sensistif karena bersentuhan langsung dengan personal seseorang. Sehingga isu SARA tetap menjadi alat politik yang paling seksi yang dapat memancing hati calon pemilih. Lihat saja misalnya sejak terjadinya Pilpres 2014 hingga sekarang isu yang paling seksi dan trend adalah isu yang berkaitan dengan SARA.

Maka dari itu, penggunaan media sosial dirasa memiliki  efektif untuk menggerakkan, mengarahkan seseorang pada pilihan Paslon tertentu. Makanya tidak heran jika Medsos menjadi makhluk baru yang paling berkuasa belakangan. Kebebasan menyampaikan opini, informasi dan berita dan sebagainya satu sisi bernilai positif untuk mengawal kekuasaan dan proses demokrasi, tapi pada sisi lain sangat merusak dan mengganggu stabilitas kekuasaan. Berangkat dari hal itu, Jurgen Habermas, Filsuf Jerman, pernah mengatakan bahwa konektifitas media sosial (Medsos) akan mengganggu stabilitas penguasa otoriter, tapi juga akan mengikis kepercayaan publik pada demokrasi. Medsos bisa berperan membuka ruang demokrasi dan pluralisme secara global serta menghubungkan orang-orang agar suara mereka didengar. Sebaliknya medsos juga bisa menjadi ancaman bagi tegaknya demokrasi dan pluralisme.

Di Rusia misalnya, Presiden Putin memanfaatkan medsos sebagai kampanye terselubung kepada negeri tetangganya seperti Ukhraina, Perancis dan Jerman. Bahkan kemenangan Donal Trump disinyalir karena kampanye hitam lewat medsos. Termasuk kemenangan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte yang disinyalir membuat keyboard army untuk menyebarluaskan narasi palsu dan lain sebagainya. Pada posisi ini, orang tidak lagi melihat kebenaran dengan mengonfirmasi fakta, tapi lebih dipengaruhi opini yang berkembang. Pada akhirnya siapa yang mampu memerankan dan mengendalikan opini publik ia akan menjadi penguasa bahkan menentukan kebenaran. kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta-fakta, melainkan ditentukan oleh siapa media sosial digerakkan dan dikuasai. Ujungnya masyarakat akan tersegmentasi pada kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan kecendrungan dan kedekatan emosionalnya. Kedekatan emosional biasanya ditentukan oleh hal-hal primordial seperti paham keagamaan atau agama, golongan, daerah, ras dan suku bangsa. Dengan demikian ancaman berikutnya adalah pluralsime. Yakni, perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam masyarakat tidak lagi dipelihara dan dijaga sebagai kekayaan dengan membangun toleransi dan kesalingpengertian tapi dibikin ektrim agar saling memisah dan berhadap-hadapan hanya untuk merebut suara masyarakat. Atara satu golongan dibenturkan dengan golongan yang lain, dengan memperuncing perbedaan dari pada mencari persamaan.

Pada level ini, informasi yang diolah dan dikemas sedemikan rupa lambat laun mengikis kesadaran dan daya kritis masyarakat. Opini publik yang menguasai masyarakat apakah berupa kebenaran atau sebaliknya kebohongan, penipuan maupun fiktif dengan tanpa sadar diterima dan dipercaya sebagai kebenaran. Hilangnya kesadaran dan daya kritis inilah sebagai penanda keberhasilan medsos yang menyebarkan berita propaganda dalam mengontrol pikiran bahkan kesadaran seseorang. Inilah era post truth, sebuah fase pasca kebenaran.

Penulis: Ainul Yakin, Dosen UNUJA, Pegiat di Community of Critical Sosial Research (Commics) Probolinggo.

Terorsime dan Bahaya Laten Korupsi

Terorsime dan Bahaya Laten Korupsi

Ada yang luput dari perhatian kita tentang munculnya terorisme. Selama ini kita teralalu fokus pada kejahatan terorisme dengan pendekatan logika hukum yang sifatnya represif. Hingga seolah-seolah perlu hukuman dan penanggulangan terorisme ektraketat. Dengan bangunan logika tersebut terorismedi bayangkan akan musnah. Sementara pada sisi lain tidakan korupsi makin merajalela dan menjadi-jadi bahkan pola tindakan koruptor pun semakin canggih. Jika kita konsisten dengan asumsi dan logika yang dibangun sejak awal, bahwa munculnya terorisme adalah akibat terjadinya ketimpangan dan kesenjangan sosial di masyarakat.  Singkatnya terorisme lahir akibat dari ketikdakadilan social. Sebenarnya yang tidak kalah bahayanya adalah tidakan korupsi. Korupsi yang hanya menguntungkan pihak tertentu setidaknya  telah  berkontribusi besar adanya ketimpangan di masyarakat.

Sebagaimana kita disadari bersama bahawa korupsi merupakan  tindakan yang sudah membudaya dan mendarah daging di negeri ini. Bahkan di semua lapisan dan instasi pemerintah pernah tersandung yang namanya kejahatan korupsi. Kejahatan tersebut seolah menjadi lingakran setan yang sangat sulit dicari pangkal dan ujungnya. Antara satu bagian berjalin kelindan dengan bagian yang lain. Hingga mencari akarnya pun perkara yang tidak mudah. Hingga yang terjadi bukan menyembuhkan penyakit korupsi tapi meraba-meraba mencoba mencari obat yang ampuh untuk mengobati penyakit tersebut. Akhirnya yang terjadi bukan memulihkan tapi asal tebang.

Bahaya Korupsi

Sepintas, seolah-seolah bahaya korupsi tidak sejahat terorisme. Hanya karena korban kejatan tersebut tidak bersentuhan langsung dengan fisik atau nyawa seseorang. Beda halnya dengan teroris yang korbannya langsung besentuhan dengan fisik dan  nyawa. Secara manefes hal tersebut bisa dibenarkan.  Namun secara laten koruspsi lebih berbahaya dan labih menyikasa  sebab korbannya dibunuh secara pelan-pelan, semacam pembuhuna secara mutilasi. Korban korupsi dibunuh organ-orannya sedikit demi sedikit dan satu persatu, tidak dibunuh sekaligus. Beda dengan korban terorisme yang langsung menghilangkan nyawa sesorang.

Sebut saja misalnya, korupsi di bindang anggaran pendidikan, yang mestinya anggaran tersebut jatahnya untuk masyarakat miskin, tapi karena dikorupsi maka anggaran tersebut tidak sampai kepada yang berhak. Hingga yang terjadi adalah hilangnya akses masyarakat terhadap pendidikan. Maka jangan heran, jika banyak orang yang tidak mampu secara ekonomi akhirnya  putus sekolah, tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tidak dapat mengenyam pendidikan yang layak seperti yang dinikmati oleh orang yang berada. Akibat  putus sekolah, tentu saja tidak punya wawasan dan keterampilan, sehingga menjadi pengangguran di masyarakat.  Jika pengangguran makin banyak maka kemiskinan menjadi meningkat. Walhasil, akibatnya banyak kemiskinan, maka kejahatan sosial dan tindakan kriminal pun meningkat misalnya tindakan terorisme, perampukan dan kejahatan sosial yang lain.

Mereka yang terpinggirkan di masyarakat sejatinya bukan cita-citanya menjadi orang yang terbelakang, menjadi orang jahat dan seterusnya. Tapi harus dipahami bahwa fenomena tersebut tidak lepas dari adanya desakan situasi dan kondisi yang menyelimutinya baik secara ekonomi, sosial maupun budaya. Sebuah analogi lain, tindakan korupsi di pembangunan infrastrukur jalan desa  akan melahirkan  transportasi perjalan desa yang sulit, biaya mahal, akses ke luar tertutup dan setersunya.  Infrastrukutur desa yang rendah, fasilitas yang tidak memadai, akhirnya melahirkan biaya akomodasi yang mahal dan  tinggi. Sehingga ujung-ujungnya yang jadi korban tetap masyarakat miskin. Semestinya masyarakat menikamati  fasilitas desa, pendidikan, infras yang layak tapi justru yang terjadi adalah sebaliknya. Akhirnya mencari jalan pintas “alternative” untuk bertahan hidup salah satunya dengan cara melawan norma dan nilai-nilai yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Lebih jauh,  internalisasi nilai-nilai kebangsaan lewat pendidikan pun akhirnya terhambat bahkan terancam gagal. Akibat tertutupnya akses masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang unggul, mereka berpeluang untuk diisi dengan ideologi baru yang mungkin saja berbahaya bagi keutuhan bangsa oleh pihak yang berkepentingan. Celah dan ruang akibat adanya kesenjangan sosial di masyarakat lambat laun akan menjadi bom waktu yang berbahaya bagi keutuhan bangsa. Itu bahaya laten dan jangka panjang maraknya tindakan korupsi. Demikian juga misalnya korupsi yang terjadi di bidang pembangunan infrastrukur, politik, keuangan dan lain-lain. Akan menimbulkan biaya hidup yang makin mahal, maka mereka yang jadi korban  lebih memilih bertahan dengan jalan pintas dan jalan alternative dari pada harus terbebani biaya hidup yang tidak terjangkau.

Selain itu,  hasil korupsi yang hanya dimonopoli dan dinikmati segelintir orang, sementara yang lain adalah korban. Setiap kali ada tindak pidana korupsi setiap kali itu pula bibit terorisme muncul. Dan, semakin tinggi angka korupsi dalam sebuah Negara maka semakin tinggi pula angka teror yang terjadi di masyarakat, apa pun bentuknya. Artinnya, kejahatan terorisme tidak bisa hanya dilihat sebagai kejahatan otonom-independen. Ia memiliki keterkaitan dengan kejatahan yang lain, utamanya tindakan korupsi yang sudah mendarah daging dan menbudaya yang dilakukan secara terus menerus oleh oktom elit politik tanpa menghiraukan kepentingan rakyat banyak.  Walhasil, kejahatan tindak pidana korupi secara laten telah menyumbang lahirnya teroris dan terorisme gaya baru.

Lalu, Siapa yang paling bertanggungjawab mengatasi kejahatan tersebut, dan menanggung dosa terorisme. Secara kelembagaan tentu pemerintah, pemegang kebijakan, dan mereka yang mendapatkan amanah menjalankan roda pemerintahan dalam sebuah Negara. Secara teologis, dalam ajaran Islam disebukan dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Pemimpin rakyat adalah pemerintah. Pemimpinan keluarga adalah orang tua, pemimpin siswa adalah guru, peminpin desa adalah kepala desa, pemimpin pesantren adalah pengasuh / kiyai    dan seterusnya. Aritnya dalam konteks terjadinya terorisme dalam sebuah Negara yang paling bertanggungajwab sekaligus menangung dosanya adalah Negara dalam hal ini dalam pemerintah. Jadi, dapat dihami bahwa munculnya kejahatan terorisme adalah kegagalan pemerintah dalam menjalankan kewenangannya menciptakan kemakmuran dan keadilan hukum dalam masyarakat.

Sejatinya terorisme sama saja dengan kejahatan yang lain, seperti separatsime, perampokan, penjamretan, pencabulan, pencurian dan pemerkosaan. Namun dinggap lebih parah karena  korbannya bukan hanya satu dua orang tapi banyak orang yang diiringi dengan ancaman yang terorganisir. Namun kejahatan yang tidak kalah parah dan bahayanya adalah  tindakan korupsi. Ia adalah kejahatan terselubung, rapi dan sistematis. Kejahatan korupsi sama halnya dengan menabung kerusuhan sosial. Ia membunuh warga dengan cara pelan-pelan, sedikit demi sedikit dengan cara memutilasi. Ia telah membunuh kreatifitas warga, mematikan akses masa depan dan kehidupannya. Akhirnya, akibat  kejahatan yang berlangsung cukup lama tersebut menimbulkan akumulasi  kekecewaan massal yang berkelanjutan. Kekecewaan yang mengkristal dalam tubuh masyarakat  akibat ketidakadilan hukum maka akan menimbulkan kejahatan sosial seprti perampukan, pencurian dan lain-lain.  Sebenarnya kebodohan,  keterbelakangan, kemiskinan dan terorisme adalah buah dari pohon yang namanya korupsi. Itulah bahaya laten  exsta ordinary crime yang bernama korupsi.

Penulis: Ainul Yakin, Dosen Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo, E-mail: [email protected]