Santri, Tanggung Jawab Ilmiah, Sosial dan Moral

Santri, Tanggung Jawab Ilmiah, Sosial dan Moral

Santri, merupakan identitas yang sangat sakral. Sebab, santri seringkali diyakini dan dipersepsikan sebagai komunitas masyarakat yang memiliki konsen pada ilmu-ilmu agama di pondok pesantren. Dalam pengertian yang lebih subtansial, santri dimaknai sebagai sosok yang memiliki ketaatan pada ajaran dan nilai-nilai agama. Tak jarang pula, santri diyakini sebagai kelompok yang memiliki kemampuan literatur-literatur klasik yang memadai. Sehingga dengan kemampuan ini, santri seringkali disebut sebagai naibul ulama”(pengganti Ulama).

Namun belakangan, santri tidak hanya identik dengan literatur-literatur klasik, tapi sudah banyak santri yang terbuka terhadap ilmu-ilmu modern. Karena sudah banyak santri yang melanjutkan pendidikannya pada jenjang Perguruan Tinggi. Sehingga muncul istilah mahasiswa yang santri dan santri yang mahasiswa. Keduanya memiliki makna yang berbeda pula. Secara sederhana, mahasiswa yang santri dapat dimaknai sebagai sekelompok mahasiswa yang memiliki prilaku dan pola pikir seperti santri dan tidak meninggalkan nilai-nilai kesantrian yang telah ditekuni selama bertahun-tahun di pesantren. Sedangkan mahasiswa yang santri dapat dipahami sebagai santri yang memiliki corak berfikir ala mahasiswa dan setidaknya tetap istiqomah melaksanakan furudlul ainiyah.

Meskipun begitu, keduanya memiliki oreintasi yang sama yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, baik bidang agama, sosial, budaya dan teknologi. Sehingga dengan dasar ini, maka santri dan mahasiswa bisa diharapkan menjadi pioner di masa yang akan datang bangsa ini. Karena mahasiswa dan santri tidak hanya diyakini sebagai komunitas yang memiliki basis keilmuan yang jelas tapi juga memiliki pijakan moral dan tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial disini bisa dimaknai secara universal, yakni adanya kepekaan terhadap realitas sosial yang sedang berkembang untuk kemudian diperbaiki dan diberdayakan melalui ilmu yang telah dipelajari di pesantren dan di kampus.

Problem Santri

Entitas santri yang dipaparkan di atas, saat ini nyaris tidak terlihat. Santri yang identik dengan aktivitas-aktivitas ilmiah saat ini mulai tergerus oleh perubahan zaman yang semakin memanjakan masyarakat. Santri kini “enggan sekali membaca, mutholaah dan diskusi (musyawarah)”. Mereka tak lagi terlihat menenteng kitab dan buku. Justru mereka lebih sering terlihat adalah notebook dan android yang menempel ketat di genggaman mereka. Ironisnya, notebook dan android yang dibawa bukan justru dijadikan sarana untuk mengembangkan potensi dirinya, melainkan digunakan untuk facebook, twitteran, instagram, youtube dan lain-lain. Mereka seperti sudah terjerumus masuk ke dalam jurang modernisasi secara vulgar. Kecanggihan teknologi telah menyandera eksistensi santri, sehingga membuat mereka terasing dari dunia nyatanya, dunia kampus dan ilmiah.

Akibat dari itu semua, santri tidak lagi memiliki kepekaan terhadap problem-problem sosial yang tengah terjadi di sekelilingnya. Kini, dunia mereka telah menjadi “dunia lain”, jauh dari dunia yang senyatanya sebagai masyarakat santri. Mirisnya, di tengah kesemerawutan kondisi bangsa dewasa ini, tak ada kekhawatiran ataupun kegelisahan yang membuat mereka mau, secara sadar, untuk mengubah keadaan tersebut. Kitab dan buku, dalam pandangan mereka, dianggap suatu yang sakral, yang tak lagi bisa disentuh oleh sembarang orang. Dalam pikiran mereka telah tertanam kuat paradigma hidup yang mengutamakan sikap instan dan serba praktis. Semakin hari semakin kuat saja paradigma itu, membuat santri tak benar-benar mampu melepasnya. Bak akar tumbuhan, semakin dalam ia mencakar bumi, semakin kuat pula akar itu dan tak mudah mencabutnya.

Budaya diskusi dan kajian-kajian seputar isue-isue aktual tentang agama dan problem sosial,  keindonesiaan, kebangsaan atau kenegaraan yang dulu seringkali menghiasi aktivitas santri di waktu-waktu lowong sudah mulai hilang. Di waktu-waktu kosong seperti tidak ada pengajian dan atau waktu istirahat, sangat jarang—untuk mengatakan tidak ada—santri yang berkumpul berdiskusi dan membahas permasalahan bangsa. Mereka lebih sering terlihat cengar-cengir sendiri membalas komentar dari salah satu temannya di facebook. Begitu juga budaya literasi dan mutholaah yang selama ini menjadi karakter santri kian terkikis akibat hegemoni teknologi. Mereka lebih suka mengoperasikan gadjet daripada membuka lembaran-lembaran buku dan kitab yang selama ini menjadi ciri khas santri. Sehingga kita juga mulai kesulitan menemukan bibit unggul dalam komunitas santri.

Tanggung Jawab Ilmiah, Sosial dan Moral

Melihat beberapa fakta di atas, sudah saatnya ada formulasi baru dalam mengembangkan potensi santri, seperti menghidupkan kembali budaya literasi dan diskusi yang mulai tergerus oleh kecanggihan teknologi. Sebab, sebagai komunitas yang diyakini memiliki kapasitas keilmuan agama yang lebih, mereka memiliki banyak tanggung jawab. Adapun tanggung jawab yang pertama adalah keilmuan. Aspek keilmuan merupakan identitas yang tidak bisa ditawar oleh santri. Sebagai komunitas yang belajar belajar di Pesantren, sudah pasti santri berkewajiban untuk mengembangkan basis keilmuannya. Melalui metodologi yang dipelajari, mahasiswa seharusnya sudah cukup cakap dalam berbagai ilmu pengetahuan. Karena itulah maka basis keilmuan harus tetap tersemat dalam diri santri, sehingga sebutan sebagai komunitas intelektual bisa dipertanggung jawabkan dalam ruang-ruang sosial.

Sedangkan apek yang kedua, adalah tanggung jawab sosial. Sebagai komunitas yang memiliki kapasitas keilmuan yang memadai, tentu saja santri dituntut untuk menjadi aktor-aktor perubahan di masyarakat. Eksistensinya harus mengispirasi masyarakat dan memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap problem sosial. Karena, salah satu aktualisasi dari nilai-nilai keilmuan adalah pengamalan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu santri dituntut dapat mengaktualisasikan ilmunya dengan cara melakukan pengabdian masyarakat, pendidikan dan advokasi (suluh agama). Kemudian, aspek tanggung jawab selanjutnya adalah moralitas. Moralitas merupakan kristalisasi dari semua komponen ilmu yang kita miliki. Ilmu tidak akan memiliki nilai di tengah-tengah masyarakat jika tidak seiring dengan moralitas. Karena itu, menjaga moral juga bagian dari tanggu jawab para pemilik ilmu pengetahuan, lebih-lebih jika seseorang berstatus sebagai santri, sehingga sudah cukup piawai dalam mengintegrasikan nilai-nilai santri.

Ala kulli hal, dalam rangka mewujudkan kualitas santri multi talenta sudah pasti membutuhkan instrumen-instrumen yang dapat menunjangnya. Dalam konteks ini, perlu adanya kesadaran komprehensif dari santri atas tantangan zaman yang semakin mengglobal. Dengan banyak belajar (ngaji), mutholaah, dan musyawarah santri dapat meningkatkan kualitas pengetahuan ilmiahnya. Dengan belajar dan membaca yang tekun, santri dapat meningkatkan daya nalar kritis mereka, sehingga tidak mudah terjerumus pada dinamika informasi yang semakin hari semakin semraut. Pihak Pesantren bisa memberikan isntrumen strategis agar budaya literasi dan diskusi terus hidup menjadi atmosfer Pesantren. Wallahu A’lam.

Santri, Tanggung Jawab Ilmiah, Sosial dan Moral

Mushafi Miftah
Santri dan Dosen Universitas Nurul Jadid. Saat ini Aktif sebagai Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri Jember

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 + two =