Belajar Kepemimpinan dari Teladan Terbaik

Belajar Kepemimpinan dari Teladan Terbaik

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik…”(QS. Al-Ahzab:21)

Dalam bukunya yang berjudul Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager , Dr. M. Syafii Antonio menjelaskan; Salah satu krisis terbesar yang melanda dunia saat ini adalah krisis keteladanan. Akibat yang ditimbulkan oleh krisis ini jauh lebih dahsyat dari krisis energi, kesehatan, pangan, transportasi dan air. Menurutnya krisis itu disebabkan oleh, absennya pemimpin yang visioner, kompeten dan memiliki integritas yang tinggi sehingga mengakibatkan biaya pelayanan kesehatan semakin sulit terjangkau, manajemmen transportasi semakin amburadul, Pendidikan semakin kehilangan Nurani welas asih yang berorientasi kepada akhlak mulia, sungai dan air tanah semakin tercemar dan sampah menumpuk dimana mana.

Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa, bangsa dan umat ini membutuhkan suri tauladan yang layak untuk di tiru dan sanggup untuk membawa setiap insan Indonesia lebih maju dan bermartabat. Indonesia membutuhkan teladan hampir dalam semua spektrum kehidupan, Lantas siapa kemudian sosok yang layak di jadikan suri tauladan dalam menghadapi krisis besar yang menimpa bangsa ini?

 Berbicara sosok tauladan sejati Dalam Islam, Sebagaimana yang telah dijelaskan  di  dalam  Al-Quran, “Sesungguhnya  telah  ada  pada  (diri) Rasulullah  itu uswatun  hasanah (suri tauladan  yang  baik)  bagimu  (yaitu)  bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan

(kedatangan) hari  kiamat dan  dia banyak  menyebut  Allah.”  (QS.  Al-Ahzaab:  21). Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan  sosok  teladan yang baik (uswatun khasanah) bagi setiap penganutnya.

Kehidupan  Rasulullah  saw memberikan  kepada  kita  contoh-contoh mulia,  baik  sebagai  pemuda  Islam  yang lurus perilakunya dan terpercaya di antara kaum  dan  juga  kerabatnya,  ataupun sebagai  da’i  kepada Allah  dengan hikmah dan nasehat yang baik, yang mengerahkan segala  kemampuan untuk  menyampaikan risalahnya.  Juga  sebagai  kepala  negara yang  mengatur  segala  urusan  dengan cerdas  dan  bijaksana,  sebagai  suami teladan dan seorang ayah yang penuh kasih sayang,  sebagai  panglima  perang  yang mahir, sebagai negarawan yang pandai dan jujur,  dan  sebagai  Muslim  secara keseluruhan  (kaffah)  yang  dapat melakukan  secara  imbang  antara kewajiban  beribadah  kepada  Allah  dan bergaul  dengan  keluarga  dan  sahabatnya dengan baik

Keteladanan yang  diberikan  oleh  Nabi Muhammad  saw  memiliki  makna  yang sangat  luas.  Bukan  hanya  keteladanan dalam  hal  ibadah  ritual  keagamaan  saja, melainkan  keteladanan  dalam  seluruh sektor  kehidupan.,  termasuk  di  dalamnya keteladanan dalam hal kepemimpinan  dan manajemen

Dalam hal kepemimpinan, Misalnya; Empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of leadership) yang dikembangkan oleh Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yakni sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (emporwering), dan panutan (modeling). semua fungsi ini ditemukan pada diri nabi Muhammad SAW.

Fungsi perintis, mengungkapkan bagaimana upaya sang pemimpin memahami  dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder-nya, misi dan nilai-nilai yang dianutnya, serta yang berkaitan dengan visi dan strateginya, yaitu ke mana institusi dan lembaganya akan dibawa dan bagaimana caranya agar sampai ke sana.

Fungsi ini ditemukan dalam diri nabi Muhammad SAW karena beliau melakukan berbagai langkah  dalam mengajak umat manusia ke jalan yang benar. Nabi Muhammad SAW telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilanilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikulturalisme, rule of law , dan sebagainnya. Sistem sosial yang diakui terlalu modern dibanding zamannya itu dirintis oleh nabi Muhammad SAW dan kemudian dikembangkan oleh para khalifah sesudahnya.

Fungsi penyelaras, bagaimana pemimpin menyelaraskan keseluruhan sistem dalam organisasi agar mampu bekerja dan saling sinergis.

Nabi Muhammad SAW mampu menyelaraskan berbagai strategi untuk mencapai tujuannya dalam menyiarkan agama islam dan membangun tatanan sosial yang baik dan modern. Sebagai contoh dalam perjanjian hudaibiyah yang pada akhirnya menguntungkan kaum muslimin, nabi muhammad juga dapat menjalin hubungan diplomasi dengan suku-suku sekitar Madinah.

Fungsi pemberdayaan, upaya pemimpin untuk menumbuhkan lingkungan agar setiap orang dalam organisasi mampu melakukan yang terbaik dan selalu mempunyai komitmen yang kuat.

Sejarah membuktikan bahwa beliau mampu mensinergikan  berbagai potensi yang dimiliki pengikutnnya untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh; bagaimana mempersaudarakan sahabat anshar dan sahabat muhajirin.

Fungsi panutan, bagaimana pemimpin dapat menjadi panutan bagi karyawan, bagaimana bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya. Sejauh mana dia melakukan apa yang dikatakannya.

Nabi Muhammad merupakan seseorang yang melaksanakan apa yang beliau katakan (walk the talk). Sebagai contoh: dalam hal dermawan beliau orang yang paling dermawan, pribadi yang bagus, beliau memikul batu, membawa linggis ketika menggali parit (khandak).

Oleh karena itu kita, sebagai umatnya sudah sepantasnya menempatkan dan memposisikan beliau sebagai sosok tauladan yang ideal dalam berbagai spektrum kehidupan. Sebagaimana yang telah di sampaikan weinngan maxim mantan panglima pasukan Prancis  yang pernah juga menjabat duta besar di Syria dan Lebanon dalam sambutannya pada acara maulid nabi di Beirut pada pada tahun 1925, ia menyampaikan; “meskipun umat islam memperingati maulid nabi Muhammad, namun hal itu sangat kecil artinya. Karena dia telah memberi kepada mereka sebuah agama yang lebih tinggi dari seluruh agama yang ada. Dia perwujudan pribadi besar, seorang moralis besar dan dalam syariatnya ia adalah imam para nabi. Maka kepada orang berkeadilan jika diserukan untuk memperingati semua tokoh sejarah, maka di antara mereka yang berada di urutan teratas adalah nabi Muhammad sang penglima tertinggi itu, untuk mewujudkan syariat Allah di muka bumi dan untuk memusatkannya ke dalam dada semua orang”

Rujukan;

Dr. M. Syafii Antonio. (2015). Muhammad SAW The Super Leader Super manager. Jakarta:Tazkia Publishing

Dr. Al-Buty. (2009). THE GREAT EPISODES OF MUHAMMAD SAW. Menghayati Islam dari Fragmen Kehidupan Rasulullah Saw. Jagakarsa :Noura Books.

Khalil Yasin. (1989). Muhammad di Mata cendikiawan barat. Jakarta:Gema Insani Press

Penulis : Imron Sadewo (Pengurus Asrama Diniyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 3 =