Saya Bangga Menjadi Muridnya

nuruljadid.net- Beliau contoh sempurna tentang ikhtiar, doa dan tawakkal. Ya, beliau adalah KH. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul jadid itu. Kiai yang terkenal sebagai sosok yang sederhana, telaten, penyabar dan alim. Mungkin semua orang yang pernah berinteraksi dengan beliau akan terpana dengan akhlaqnya. Semua kategori baik, hampir melekat semuanya pada beliau. Beliau khusu’, beliau wira’i, beliau tawadlu, beliau khumul, beliau tak kemrungsung dan yang paling keren, beliau mengikuti perkembangan zaman. Untuk yang satu ini, kehebatan beliau diapresiasi khusus oleh Prof. Mahfud MD. Menurutnya, hanya KH. Zuhri Zaini dan KH. Afifuddin Muhajir (PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo) yang memiliki kemampuan setara, alim dalam ilmu-ilmu agama, namun juga lihai memahami dan menjelaskan perkembangan zaman dalam bahasa tulis yang indah dan konprehensif.

Segala pujian pada beliau tentu tak akan ngefek sama sekali, beliau tak akan terbang karena dipuji, dan tak akan tumbang karena dicaci. Hanya Allah yang menjadi tujuan dan konsentrasinya. Karena itu, jikapun beliau membaca tulisan ini, pasti tak akan membekas.

Namun saya penting menulis, bukan karena saya santrinya, bukan, bukan karena itu saja, yang terpenting adalah ibrah dari sosok beliau. Lebih-lebih di saat pandemi Covid 19 sedang brutal memapar siapa saja.

Saya tahu persis bagaimana protokol kesehatan benar-benar dipraktekkan di PP. Nurul Jadid sejak virus ini menyerang. Protokol pencegahan dan penanganan virus Corona benar-benar dipraktekkan. Tamu yang berkunjung, pengurus yang keluar masuk ke pesantren harus melalui proses pemeriksaan kesehatan dan sterilisasi virus san bakteri super ketat.

Apakah itu cukup? Tidak. Beliau tetap memakai masker dan selalu ditemani handsanitizer setiap morok (ngajar). Foto-foto dibawah menunjukkan keseriusan dan pembelajaran langsung oleh beliau. Beliau tak hanya menyarankan para santri untuk selalu mempraktekkan protokol hidup sehat, tapi lebih dari pada itu, beliau memberi contoh. Contoh ikhtiar dan tawakkal yang sempurna.

Dalam satu sesi pengajian, nampak beliau agak terganggu dengan masker yang beliau kenakan. Kemungkinan ukurannya yang terlalu kecil, hingga mengganggu nafas beliau. “Bek tapeggeh”, ujar beliau. Tapi beliau sama sekali  tak berusaha mencopot dan menanggalkan masker yang dipergunakan dan terus morok hingga selesai. Sekitar 1,5 jam beliau bertahan dengan masker yang kekecilan tadi.

Sekali lagi, saya bangga menjadi santri beliau. Semoga beliau senantiasa sehat dan diberi umur panjang sehingga terus menginspirasi kami, santri-santrinya. amin

 

 

*)Penulis: M saeful bahar.

*) Tulisan Opini ini diambil dari timesindonesia.co.id

*) Publisher : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 + 12 =