Gelar Training of Trainers, Pesantren Nurul Jadid Terapkan Pengasuhan Ramah Santri

www.nuruljadid.net— Guna memperteguh komitmen sebagai lembaga pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak, Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar agenda strategis bertajuk “Qudwah Leadership Camp & Training of Trainers (TOT) Capacity Building Pengurus Ramah Santri”. Kegiatan ini berpusat di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Kamis (28/05) lalu.

Pelatihan ini dihadiri oleh jajaran penting lini pengasuhan dan pengawasan pesantren. Mulai dari pengurus Lembaga Konseling Pesantren (LKP), Koordinator Bimbingan Konseling (BK) dari berbagai satuan pendidikan, pengurus wilayah dan daerah, hingga jajaran bagian Keamanan dan Ketertiban (Kamtib).

Langkah progresif ini diinisiasi sebagai upaya preventif dan responsif dalam meminimalisasi potensi kekerasan terhadap santri. Melalui forum ini, Pesantren Nurul Jadid berkomitmen melahirkan figur pengurus yang tangkas, cerdas, cermat, serta profesional dalam melakukan pendampingan psikologis santri.

Dua pakar dihadirkan sebagai narasumber utama, yaitu Siti Hanifah Haris (Direktur Yayasan Bhakti Budhi Pertiwi sekaligus Women Peace and Security Specialist) dan Dr. Asriana Kibtiyah, S.Psi., M.Si. (Praktisi Psikolog dan Dosen Universitas Hasyim Asy’ari Jombang).

Dalam paparannya, Dr. Asriana Kibtiyah mengingatkan bahwa dunia pesantren hari ini dituntut untuk terus adaptif terhadap gerak zaman. Pola pengasuhan konvensional yang cenderung kaku dinilai sudah kehilangan relevansinya jika dihadapkan pada karakteristik Generasi Z dan Generasi Alpha.

“Pesantren sekarang harus adaptif dengan zaman. Pola pengasuhan santri dan anak di bawah 18 tahun perlu diperhatikan. Jangan terjebak pada pola pengasuhan lama, karena sudah tidak relevan di zaman sekarang,” tegas Asriana.

Ia memetakan empat hak dasar anak yang wajib dijamin di lingkungan pesantren:

  1. Hak hidup.

  2. Hak tumbuh kembang melalui pemantauan intensif.

  3. Hak perlindungan dari dampak konflik sosial maupun keluarga.

  4. Hak partisipasi yang memberikan ruang bagi anak untuk bersuara dan didengar.

Sementara itu, Siti Hanifah Haris membedah implementasi Undang-Undang Perlindungan Anak dalam konteks dunia siber dan pesantren. Ia menawarkan formula Disiplin Positif sebagai alternatif pengganti sistem punishment and reward (hukuman dan hadiah) konvensional.

Pendekatan disiplin positif ini menekankan tujuh pilar utama:

  • Fokus pada Motif: Mencari tahu alasan di balik pelanggaran perilaku, bukan sekadar melihat tindakannya.

  • Kesadaran Internal: Mengajarkan anak sadar dari dalam diri, bukan karena takut pada faktor eksternal.

  • Konsekuensi Logis: Memberikan konsekuensi yang selaras dengan kesalahan disertai dukungan moral.

  • Koneksi Sebelum Koreksi: Membangun kedekatan emosional sebelum memperbaiki perilaku anak.

  • Pahami, Bukan Menghakimi: Menyelami sudut pandang anak atas kekeliruan yang diperbuat.

  • Pengendalian Diri: Menitikberatkan kemampuan pengasuh dalam mengontrol emosi sendiri.

  • Lembut Sekaligus Tegas: Bersikap kokoh pada aturan tanpa menghilangkan kehangatan kasih sayang.

Dalam sambutannya, Kepala LKP Pondok Pesantren Nurul Jadid menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan respon nyata terhadap dinamika isu pesantren di tingkat nasional yang kerap viral di media sosial. Pesantren harus membekali pengurus dengan kompetensi regulasi emosi (social emotional learning) dan pemahaman empatik (emphatic understanding).

“Berbahagialah karena diberi kesempatan oleh Allah SWT mendampingi para pencari ilmu. Pengurus adalah ujung tombak pelayanan pesantren, maka pelayanan harus diperbaiki berdasarkan penerimaan (acceptance) dan totalitas integritas (keteladanan),” ungkap Kepala LKP.

Lebih lanjut, Kepala LKP menjelaskan bahwa para peserta TOT ini diproyeksikan menjadi trainer yang akan mendiseminasikan ilmu dan praktik disiplin positif kepada pengurus lain. Momentum ini juga menjadi ajang kaderisasi dan pembinaan agar para pengurus “selesai dengan dirinya sendiri” (finished business) sehingga lebih sadar dan matang dalam mengontrol emosi.

Pewarta    : Husni Khalilurrahman

Editor       : Ponirin Mika

Gema Takbir Santri Al-Hasyimiyah Semarakkan Malam Idul Adha di Pesantren Nurul Jadid

berita.nuruljadid.net – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti lingkungan Pesantren Nurul Jadid pada Rabu malam (27/05/2026). Dalam rangka menyambut dan menyemarakkan Hari Raya Idul Adha, Pesantren Nurul Jadid Wilayah Al-Hasyimiyah sukses menggelar ajang perlombaan Gema Takbir. Acara tahunan ini berlangsung meriah dengan diikuti oleh berbagai delegasi santri yang mewakili daerah-daerah di wilayah Al-Hasyimiyah.

Perhelatan dimulai tepat setelah pelaksanaan salat Isya berjamaah, diawali dengan pembukaan resmi oleh panitia lomba. Dalam sambutannya, ketua panitia menegaskan bahwa esensi dari lomba Gema Takbir ini tidak sekadar mengejar kemenangan, melainkan sebagai bentuk syiar Islam nyata sekaligus upaya bersama dalam menghidupkan malam penuh makna di lingkungan pesantren.

Sepanjang acara, para peserta unjuk gigi menampilkan kreativitas terbaik mereka. Lantunan takbir dan selawat bersahut-sahutan, menggema indah dipadukan dengan tabuhan ritmis dari alat musik bedug. Tak hanya dari segi olah suara, kemeriahan malam itu kian terasa berkat visual panggung yang apik, di mana tiap kelompok menampilkan dekorasi yang unik, menarik, dan penuh totalitas.

Meski dipadati oleh ratusan santri yang antusias menonton, perlombaan tetap berjalan dengan sangat tertib. Setiap delegasi tampak disiplin mengikuti arahan panitia serta berkomitmen menjaga kekompakan daerahnya masing-masing.

Rasa bangga dan bahagia pun terpancar dari para peserta, salah satunya Bilqis, santri utusan dari daerah Zahroil Batul. Ia menceritakan bagaimana ia dan kelompoknya telah melakukan persiapan matang sejak jauh-jauh hari, mulai dari latihan vokal hingga merancang dekorasi panggung.

“Ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Menyenangkan sekali bisa ikut memeriahkan malam Hari Raya Idul Adha bersama teman-teman seperjuangan di pesantren,” ungkap Bilqis dengan penuh semangat.

Di sisi lain, dewan juri menetapkan standar penilaian yang ketat. Kriteria pemenang tidak hanya dilihat dari aspek estetika seperti kekompakan, kreativitas, dan kerapian saja, melainkan juga poin esensial seperti ketertiban selama acara berlangsung, sikap sportif, serta rasa saling menghargai antar-peserta.

Setelah melalui persaingan yang sehat, seluruh rangkaian acara berjalan lancar hingga ditutup dengan pengumuman pemenang oleh dewan juri. Melalui momentum lomba Gema Takbir ini, pihak pesantren berharap kegiatan ini dapat mempererat tali ukhuwah islamiyah antar-santri, memupuk rasa kebersamaan yang kokoh, sekaligus menjadi wadah positif dalam melejitkan kreativitas santri dalam menyemarakkan syiar Islam.

Pewarta    : Khanza Naura

Editor      : Ponirin Mika

Berjubel Santri Nurul Jadid Rayakan Sambang Idul Adha, Lebih Tertib dengan Mekanisme Baru

berita.nuruljadid.net — Sekitar 800 lebih santri wilayah pusat Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, mengikuti sambang Idul Adha 1447 H di dua lokasi berbeda, Rabu (27/05/2026). Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sambang kali ini berlangsung lebih tertib berkat pengurangan titik kumpul dan kewajiban mengenakan gamis khas Nurul Jadid bagi seluruh santri.

Panitia membagi lokasi sambang menjadi dua berdasarkan wilayah. Santri wilayah Al-Hasyimiah (Daltim) menerima kunjungan di halaman Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ), sementara santri wilayah Az-Zainiyah (Dalbar) bertempat di halaman Madrasah Tsanawiyah Nurul Jadid (MTsNJ).

Ketua panitia sambang, Belgis Rahmadani, menyebut durasi sambang tahun ini lebih panjang dibanding hari-hari biasa guna memberi ruang lebih bagi santri dan keluarga untuk berinteraksi.

“Waktu untuk santri yang sambang Idul Adha lebih banyak daripada sambang di hari biasa, sambang Idul Adha dibuka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 3 sore,” jelas Belgis, kepada Tim Humas Infokom Putri.

Ia juga menyebut penggunaan gamis khas Nurul Jadid merupakan ketentuan baru yang diterapkan khusus pada sambang Idul Adha kali ini.

“Menggunakan gamis NJ itu baru sambang Idul Adha kali ini, tujuannya agar terlihat rapi dan menonjolkan bahwa itu santri,” ujarnya.

Antusiasme terlihat dari kedua pihak, baik santri maupun wali. Para santri sudah menanti kedatangan keluarga sejak pagi, sementara wali santri hadir membawa makanan dan kebutuhan pribadi meski terik matahari cukup menyengat. Momen pertemuan diisi dengan perbincangan hangat, makan bersama, dan saling berbagi cerita. Tak sedikit santri yang mengabadikan pertemuan itu melalui ponsel dan menghubungi anggota keluarga yang tidak dapat hadir.

“Saya sangat bahagia bisa bertemu putri saya di hari mulia ini,” ungkap salah seorang wali santri yang hadir.

Potret gembira wali santri dan santri ketika menghubungi keluarganya pada momen sambang Idul Adha 1447 H.

Suasana sambang tahun ini juga dinilai lebih kondusif dibanding sebelumnya. Pengurangan titik lokasi membuat panitia lebih mudah mengatur arus kedatangan, sehingga kepadatan dan kekurangan tempat yang pernah terjadi pada sambang tahun lalu dapat dihindari. Data kunjungan mencatat sekitar lebih dari kunjungan wali santri hadir dari dua wilayah pusat.

Sambang Idul Adha merupakan agenda rutin tahunan Pondok Pesantren Nurul Jadid yang memberi kesempatan santri bertemu keluarga di tengah libur hari raya. Berbeda dengan sambang reguler yang berlangsung lebih singkat, sambang Idul Adha selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu karena bertepatan dengan suasana perayaan keagamaan.

 

Pewarta: Feby Auril Nadiva & Mamluatun Naura Putri Sholehah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Pesantren Nurul Jadid Gelar Qudwah Leadership Camp dan TOT Capacity Building

www.nuruljadid.net– Dalam upaya berkelanjutan membangun lingkungan pendidikan yang agamis, aman, nyaman, humanis, dan berpihak pada tumbuh kembang santri, Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar agenda bertajuk Qudwah Leadership Camp & Training of Trainers (TOT) Capacity Building Pengurus Ramah Santri. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, bertempat di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Kamis–Jumat, 28–29 Mei 2026, dan akan dilanjutkan pada Ahad, 7 Juni 2026.

Mengusung tema “Membangun Kepemimpinan, Menguatkan Kepedulian, Mewujudkan Pesantren Ramah Santri”, pelatihan intensif ini menyasar seluruh jajaran pengurus internal Pondok Pesantren Nurul Jadid. Agenda ini dirancang khusus sebagai ruang penguatan kapasitas kepemimpinan dalam menumbuhkan budaya pesantren yang inklusif, anti-perundungan (anti-bullying), serta penuh empati dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai luhur keislaman.

Kepala LKP dan Ketua Satgas Anti-Perundungan menegaskan pentingnya sinergi dan peningkatan kapasitas pengurus dalam mengawal program Pesantren Ramah Santri ini. Langkah ini juga menjadi bagian dari komitmen pesantren dalam menjaga mutu tata kelola kelembagaan, sejalan dengan standardisasi ISO 21001:2018 yang diterapkan institusi.

Untuk memberikan bekal yang komprehensif, Pondok P esantren Nurul Jadid menghadirkan dua pakar yang kompeten di bidangnya sebagai narasumber, yaitu:

  1. Siti Hanifah Haris – Direktur Yayasan Bhakti Budhi Pertiwi sekaligus Women Peace and Security Specialist / Women Empowerment.
  2. Dr. Asriana Kibtiyah, S.Psi., M.Si. – Praktisi Psikolog, Akademisi, serta Dosen dari Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng, Jombang.

Satgas Anti-Perundungan dan Lembaga Konseling Pondok Pesantren Nurul Jadid, kegiatan Capacity Building ini diharapkan dapat melahirkan para pengurus yang tidak hanya cakap secara manajerial agar dapat menjadi pengurus yang ideal dalam menangani dan mendampingi santri. Selain itu sensitif dan responsif terhadap pemenuhan hak serta perlindungan psikologis santri selama menimba ilmu di pesantren.

 

Pewarta    ; Daniel

Editor        : Ponirin Mika

Ponpes Nurul Jadid Paiton Bentuk Satgas Anti-Perundungan

www.nuruljadid.net— Pondok Pesantren Nurul Jadid memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh santri. Langkah ini diwujudkan melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Anti-Perundungan sebagai upaya preventif mencegah segala bentuk kekerasan di lingkungan pesantren. Pesantren Nurul Jadid menolak keras adanya perundungan dimanapun terjadi lebih-lebih jika terjadi di lembaga pendidikan.

Pembentukan satgas ini bertujuan memberikan perlindungan menyeluruh kepada santri dari tindakan bullying, baik secara verbal, fisik, maupun psikologis. Selain sebagai pelindung, satgas ini diproyeksikan untuk membangun budaya saling menghormati, menjaga martabat sesama, dan memperkuat rasa kepedulian antarwarga pesantren.

Dalam sosialisasi materi edukasi kepada para santri, pihak Satgas menggarisbawahi bahwa perundungan sering kali dipicu oleh budaya senioritas berlebihan yang telanjur dianggap lumrah. Padahal, dampak psikologis bagi korban sangat serius, mulai dari rasa takut, krisis percaya diri, trauma mendalam, hingga menurunnya semangat belajar.

“Satgas Anti-Perundungan ini juga berfungsi sebagai wadah pengaduan dan pendampingan bagi santri yang mengalami tindakan kekerasan. Kami berkomitmen menyelesaikan setiap persoalan secara edukatif, humanis, dan selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam,” begitu tertulis dari ToR Satgas Anti Perundungan.

Selain fungsi penanganan, Satgas Anti-Perundungan memiliki agenda rutin untuk memberikan edukasi berkala mengenai bahaya bullying. Seluruh program kerja satgas ini mengacu pada prinsip perlindungan anak serta regulasi pemerintah terkait pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.

Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap dapat terus merawat suasana belajar yang ramah, kondusif, serta mendukung penuh pencetakan karakter santri yang berakhlakul karimah.

Pewarta    : Daniel

Editor       : Ponirin Mika

Tepis Isu Bullying, Kiai Mahfudz Faqih Minta Pendidik Pesantren Teladani Sifat Kasih Sayang Rasulullah

www.nuruljadid.net – Ketua Konseling Pesantren Nurul Jadid, KH. Mahfudz Faqih, menegaskan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling ideal untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan para tenaga pendidik di lingkungan lembaga dan sekolah di bawah naungan Pesantren Nurul Jadid.

Dalam pengarahan yang berlangsung pada Ahad (23/05/2026) tersebut, Kiai Mahfudz menyoroti pentingnya peran pesantren dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, sistem komprehensif yang diterapkan di pesantren mampu menyelaraskan antara ilmu akademik dan nilai-nilai moral secara berkesinambungan.

Kegiatan pengarahan ini sekaligus menjadi momen penting bagi pihak pesantren untuk merespons dinamika sosial yang sedang berkembang. Kiai Mahfudz secara khusus memberikan tanggapan terkait isu-isu negatif yang beredar di masyarakat mengenai dunia kepesantrenan belakangan ini.

Secara blak-blakan, beliau menanggapi adanya isu yang menyebutkan bahwa pesantren rentan menjadi tempat terjadinya tindakan perundungan atau bullying. Pihak pesantren memandang isu ini sebagai bahan evaluasi sekaligus momentum untuk mempertegas komitmen pola pengasuhan yang aman.

Untuk menangkal hal tersebut, Kiai Mahfudz menegaskan bahwa cara mendidik yang diterapkan oleh para pendidik harus berbasis pada ajaran agama. Beliau mengimbau agar seluruh guru dan pengasuh meneladani perilaku Rasulullah SAW dalam berinteraksi dengan para santri.

“Rasulullah dalam mendidik sahabatnya tidak dengan cara kekerasan. Tapi dengan kasih sayang,” tegas Kiai Mahfudz di hadapan para tenaga pendidik.

Beliau menambahkan bahwa pendekatan emosional yang persuasif dan penuh kasih sayang jauh lebih efektif dalam membentuk disiplin santri. Kekerasan fisik maupun verbal sama sekali tidak memiliki tempat dalam metode pendidikan Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Di sisi yang lain, Kiai Mahfudz juga menyoroti fenomena senioritas yang kerap memicu tindakan bullying di dalam dunia pendidikan. Menurutnya, potensi penyalahgunaan hubungan antara senior dan junior ini sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW sejak zaman dahulu melalui hadisnya.

Beliau kemudian mengutip sebuah hadis populer yang menjadi fondasi hubungan antargenerasi dalam Islam. “Hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda,” ungkapnya, mengingatkan kembali esensi saling menghargai yang harus tertanam di jiwa setiap santri.

Sebagai penutup, Kiai Mahfudz mengingatkan bahwa budaya senioritas tidak hanya terpaku pada tingkatan akademik atau usia semata. Fenomena tersebut juga sangat rentan terjadi pada orang-orang yang memiliki kuasa atau jabatan, sehingga pengawasan dan penanaman akhlak mulia harus terus diperketat di semua lini pesantren.

Pewarta    : Daniel

Editor       : Ponirin Mika

Perkemahan OSKAR SLTP Putri Nurul Jadid 2026 Resmi Ditutup

www.nuruljadid.net – Perkemahan Orientasi Santri dan Kursus Kader Pramuka (OSKAR) SLTP Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid tahun 2026 resmi ditutup melalui Apel Penutupan yang berlangsung khidmat di Lapangan Utama Bumi Perkemahan TNI AL Paiton, Probolinggo, pada Ahad (24/05/2026) pagi.

Acara penutupan ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan OSKAR yang telah berjalan selama sepuluh hari. Rangkaian tersebut meliputi satu pekan pembinaan intensif di lingkungan pesantren dan tiga hari puncak perkemahan di alam terbuka.

Bertindak sebagai Pembina Apel, Ibu Zakiyatus Sholihah, M.Pd., menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh panitia dan pihak terlibat yang telah menyukseskan acara. Dalam amanatnya, ia menekankan pentingnya bagi para peserta untuk mengintegrasikan nilai-nilai kepanduan dengan nilai-nilai kepesantrenan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus mampu mengamalkan nilai-nilai Dasa Dharma dengan tetap mengombinasikannya dengan Trilogi dan Panca Kesadaran Santri serta Tri Satya Pramuka. Semoga kita menjadi Pramuka yang santri dan santri yang berjiwa Pramuka,” ujar Ibu Zakiyatus Sholihah dalam sambutannya, Minggu (24/05/2026).

Selama sepuluh hari pelaksanaan, para santriwati telah dibekali dengan berbagai materi dan pengalaman terpadu. Kegiatan tersebut meliputi:1) Latihan keterampilan kepramukaan dan hasta karya.2) Perlombaan antarpasukan dan outbound. 3) Pentas seni, malam api unggun, hingga sesi perenungan spiritual

Apel penutupan berjalan dengan tertib dan diakhiri dengan pembacaan Hamdalah serta Surah Al-‘Asr secara bersama-sama. Melalui kegiatan OSKAR ini, SLTP Putri Nurul Jadid berharap dapat melahirkan generasi santri yang tidak hanya disiplin dan mandiri, tetapi juga memiliki integritas tinggi serta kepedulian sosial yang berlandaskan akhlakul karimah.

Pewarta: Maria Al Faradela

Editor   : Ponirin Mika

Kobaran Api Unggun Nyalakan Semangat Dasa Dharma Pramuka Santri Nurul Jadid

www.nuruljadid.net- Suasana malam di kawasan Perkemahan OSKAR SLTP Putri 2026 berubah khidmat saat digelarnya Apel Penyulutan Api Unggun pada Sabtu malam (23/05/2026). Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Api Unggun ini menjadi salah satu momen puncak yang memadukan semangat kepanduan dengan nilai-nilai kesantrian.

Acara dimulai pasca-pelaksanaan Pentas Seni II. Seluruh peserta bergerak tertib menuju lapangan upacara untuk mengikuti prosesi apel yang dipimpin oleh Ustazah Madinatul Munawwarah selaku Pembina Apel.

Dalam amanatnya, Ustazah Madinatul menekankan pentingnya memaknai filosofi api unggun sebagai simbol kobaran semangat, gotong royong, dan sumber cahaya di tengah kegelapan.

“Semoga kelak kita dapat menjadi pribadi yang menebarkan manfaat di tengah masyarakat dengan tetap berpegang teguh pada Dasa Dharma Pramuka, Trilogi, dan Panca Kesadaran Santri,” ujarnya.

Suasana semakin sakral saat lapangan sengaja digelapkan untuk parade pembacaan Dasa Dharma Pramuka. Memasuki acara inti, penyulutan susunan kayu berhasil mengobarkan api jingga ke langit malam, yang langsung disambut sorak kegembiraan para santriwati dan kemeriahan pesta kembang api.

Tidak hanya membawa pesan spiritual dan kepramukaan, momentum ini juga sarat akan nilai nasionalisme. Pembina Apel memimpin pembacaan Teks Proklamasi yang kemudian diikuti dengan menyanyikan lagu “Hari Merdeka” secara massal oleh seluruh peserta di tengah keheningan malam.

Rangkaian upacara resmi ini ditutup dengan doa bersama. Setelah apel selesai, para peserta langsung mengikuti sesi perenungan malam sebagai agenda refleksi diri dan penguatan karakter santri sebelum mengakhiri rangkaian kegiatan perkemahan.

Pewarta     : Maria Alfaradela

Editor        : Ponirin Mika

Satgas Anti-Bullying Gelar Sosialisasi Cegah Perundungan di Sekolah

www.nuruljadid.net- Maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan tengah menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk lembaga pesantren. Pasalnya, fenomena ini dinilai memberikan dampak destruktif yang nyata bagi korban, baik secara mental, fisik, maupun perkembangan sosial mereka.

Merespons kondisi tersebut, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo mengambil langkah konkret dengan membentuk program Lembaga Konseling Pesantren (LKP). Program ini diinisiasi sebagai upaya preventif dan edukatif demi menekan sekaligus mengantisipasi angka perundungan di kalangan santri.

Melalui program ini, pihak pesantren berkomitmen untuk membangun kesadaran bersama di lingkungan asrama dan sekolah. Mereka menegaskan bahwa tindakan bullying bukan sekadar gurauan, melainkan pemicu trauma mendalam yang dapat menurunkan motivasi belajar serta menghancurkan kepercayaan diri korban.

Selain meluncurkan LKP, Pondok Pesantren Nurul Jadid juga resmi membentuk Satuan Tugas (Satgas) Antiperundungan. Satgas khusus ini memegang mandat penting untuk menggencarkan sosialisasi, edukasi, dan tindakan pencegahan terkait segala bentuk kekerasan verbal maupun fisik.

Demi memaksimalkan dampaknya, Satgas LKP bergerak secara dinamis dengan menggelar kegiatan edukasi yang berpindah-pindah setiap harinya. Safari edukasi ini menyasar seluruh sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Nurul Jadid secara bergiliran.

Giat preventif ini tidak hanya melibatkan para santri, tetapi juga merangkul dewan guru sebagai garda terdepan pendidikan. Baik tenaga pendidik maupun peserta didik diberikan pemahaman mendalam mengenai bahaya laten perundungan serta pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghormati.

Ketua Satgas Anti Perundungan (SAP) sekaligus Ketua LKP, KH. Mahfudz, hadir langsung di lapangan untuk memimpin jalannya sosialisasi dan memberikan arahan. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan dengan keras bahwa kasus perundungan sama sekali tidak boleh dianggap sepele.

Menurut KH. Mahfudz, dampak buruk perundungan sangat berbahaya karena meninggalkan luka psikologis yang berkepanjangan bagi korban. Oleh karena itu, keberadaan LKP diproyeksikan sebagai ruang pendampingan sekaligus tempat penyembuhan bagi santri yang mengalami tekanan psikologis atau persoalan sosial.

Lebih lanjut, ia mengibaratkan LKP sebagai “puskesmas” di bidang konseling yang siap sedia membantu proses pemulihan mental dan emosional para santri. KH. Mahfudz juga mengajak para pendidik untuk selalu meniru metode pengajaran Rasulullah SAW yang penuh kasih sayang.

“Tidak pernah ditemukan dalam literatur klasik yang menerangkan bahwa Rasulullah mendidik para sahabat dengan kekerasan,” tegas KH. Mahfudz di hadapan para peserta.

Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap seluruh santri semakin sadar akan pentingnya menjaga sikap dan menghormati sesama. Ikhtiar ini dilakukan demi menjauhi segala bentuk perundungan guna menciptakan budaya pendidikan pesantren yang sehat, aman, dan humanis.

Pewarta    : M. Daniel Handika

Editor       : Ponirin Mika

Mahasiswi UNUJA Lolos Pendanaan Nasional P2MW 2026

www.nuruljadid.net– Tim mahasiswi Universitas Nurul Jadid (UNUJA) yang berbasis di Pondok Pesantren Nurul Jadid sukses menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Melalui inovasi alat sekolah berbasis budaya, mereka berhasil meloloskan proposal usaha dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Tim yang digawangi oleh Sirin Rani Fatimah, Nadiya Maulina Salsabila, Zamzami Magfiroh, dan Wardatus Shofia ini mengusung ide bisnis kreatif bertajuk “Wastra Kids: Optimalisasi Manufaktur Alat Sekolah Berbasis Wastra Nusantara dengan Integrasi Teknologi SMART QR sebagai Media Literasi Budaya Interaktif.”

Produk “Wastra Kids” hadir sebagai solusi edukatif yang memadukan perlengkapan sekolah anak-anak dengan motif kain tradisional (wastra) Nusantara. Uniknya, produk ini dilengkapi dengan fitur kode SMART QR. Saat kode tersebut dipindai, pengguna akan langsung mendapatkan akses informasi interaktif mengenai sejarah, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung di dalam motif wastra tersebut.

“Inovasi ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga membawa misi memperkuat literasi budaya Nusantara sejak dini kepada generasi muda dengan cara yang modern,” ungkap tim mahasiswi UNUJA dalam keterangannya.

Keberhasilan ini dicapai setelah melalui proses seleksi nasional yang sangat ketat, bersaing dengan ribuan proposal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tahapan seleksi dimulai dari sosialisasi, pengajuan proposal, penyaringan internal kampus, hingga penilaian akhir di tingkat kementerian.

Pihak kampus menyatakan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari bimbingan intensif yang diberikan oleh Pusat Bisnis dan Inkubator Bisnis Universitas Nurul Jadid. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, mahasiswa terus didorong untuk melahirkan ide bisnis yang kompetitif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa status sebagai santri dan mahasiswa pesantren bukan hambatan untuk menguasai teknologi digital. Sebaliknya, mereka mampu bersaing di panggung nasional dengan menghadirkan inovasi relevan yang turut menjaga serta melestarikan identitas budaya bangsa.

Pewarta   : Maria Al-Faradela

Editor      : Ponirin Mika

Tingkatkan Kedisiplinan dan Jiwa Korsa, Ratusan Siswa Nurul Jadid Ikuti Diklat PBB dan Kepanduan

www.nuruljadid.net – Ratusan siswa di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Peraturan Baris-Berbaris (PBB) serta kepanduan. Kegiatan yang dipusatkan di area lapangan pesantren ini bertujuan untuk membentuk karakter, meningkatkan kedisiplinan, serta memupuk jiwa korsa antar-sesama santri. Sabtu (23/05/26).

Dalam pelaksanaan diklat tersebut, para peserta yang mengenakan seragam putih dan celana gelap, lengkap dengan peci hitam serta dasi merah-putih khas kepanduan, tampak antusias mengikuti setiap instruksi dari para pelatih. Selain menerima materi fisik dan formasi baris-berbaris, para siswa juga dibekali materi mental spiritual khas pesantren.

Panitia pelaksana menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang dirancang untuk menyelaraskan antara kedisiplinan formal dengan nilai-nilai kepesantrenan. Melalui latihan PBB, para siswa diharapkan tidak hanya tangkas secara fisik, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan kepatuhan terhadap pimpinan.

Di sela-sela latihan yang cukup menguras energi, para peserta diberikan waktu istirahat untuk konsolidasi dan menikmati konsumsi bersama di atas rumput lapangan. Momen rehat ini dimanfaatkan para siswa untuk saling berinteraksi, mempererat tali persaudaraan, dan mengevaluasi gerakan baris-berbaris yang telah dipelajari.

Pihak pesantren berharap, usai mengikuti diklat ini, para siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai kedisiplinan dan kekompakan tersebut dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan asrama maupun saat menempuh pendidikan formal di madrasah.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Paku Botol hingga ‘Kursi DPR’ Pecahkan Tawa Ratusan Santri SLTP Nurul Jadid di Tepi Pantai

www.nuruljadid.net – Gelak tawa dan teriakan histeris ratusan santriwati memecah kesunyian tepi pantai pada Sabtu (23/05/2026) sore. Setelah seharian penuh diperas tenaganya dalam kompetisi kepramukaan yang ketat, ratusan peserta Perkemahan OSKAR SLTP Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid langsung “dicuci” penatnya lewat aksi outbound yang seru dan menantang.

Berlatar deburan ombak dan angin laut, kegiatan ini dirancang khusus oleh panitia bukan sekadar untuk melepas lelah, melainkan menguji sejauh mana kemahiran komunikasi, konsentrasi, dan kerja sama tim para santriwati di luar ruang kelas.

Ketegangan santriwati langsung mencair saat memasuki permainan pertama: memasukkan paku ke dalam botol. Aturannya sederhana namun memicu frustrasi yang jenaka. Dengan paku yang tergantung di belakang pinggang, peserta harus bergerak mundur dan mengandalkan komando verbal dari rekan satu timnya untuk membidik mulut botol tanpa tangan.

“Sedikit ke kanan… turun lagi… ayo dikit lagi, bisa!” teriak salah satu peserta memberikan instruksi dengan tegang.

Alih-alih stres karena gagal, setiap paku yang meleset justru memicu ledakan tawa dari para penonton di pinggir lapangan.

Kemeriahan semakin memuncak saat permainan modifikasi musik bernama “Berebut Kursi DPR” dimulai. Begitu musik pengiring dihentikan mendadak oleh panitia, ratusan peserta langsung saling sikut dan berebut menduduki kursi yang jumlahnya terbatas. Meski kompetisi berlangsung sengit dan memicu kehebohan, sportivitas tetap terjaga tinggi hingga menyisakan pemenang utama.

Sebagai pemungkas, menjelang matahari terbenam, adrenalin peserta kembali dipacu lewat simulasi estafet air di bibir pantai. Menggunakan wadah bocor dan peralatan seadanya, setiap regu dipaksa memutar otak dan menyelaraskan gerakan: sebagian bertugas menciduk air laut, sebagian menyumbat kebocoran, dan sisanya berlari estafet mengisi bak utama.

Eesensi utama dari outbound OSKAR 2026 sukses disampaikan. Keberhasilan sebuah kelompok terbukti tidak lagi bertumpu pada ego atau kehebatan individu, melainkan pada distribusi peran, komunikasi yang bersih, serta rasa saling percaya antar-anggota tim.

Pewarta     : Maria Al Faradela

Editor        : Ponirin Mika

UNUJA Jadi Tuan Rumah Rakernas IMMAPSI Pusat, Soroti Tiga Langkah Revitalisasi Pendidikan di Era Digital

www.nuruljadid.net– Lanskap pendidikan Indonesia di era digital menuntut transformasi yang tidak sekadar kosmetik. Menjawab tantangan tersebut, Seminar Pendidikan Nasional dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Mahasiswa Manajemen Pendidikan Seluruh Indonesia (IMMAPSI) Pusat 2026 sukses menyita perhatian publik.

Mengusung tema besar “Revitalisasi Pendidikan di Era Digital untuk Membangun Generasi Adaptif dan Berintegritas melalui Penguatan Semangat Kaderisasi,” forum strategis ini digelar di Auditorium 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Sabtu (23/05/2026). Acara ini berhasil mempertemukan ide-ide segar dari para tokoh pendidikan, akademisi, hingga pemangku kebijakan.

Hadir sebagai pembicara utama, Rektor Universitas Achmad Siddiq (UAI) Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM., melontarkan gagasan pemantik yang memukau peserta. Ia menegaskan bahwa revitalisasi pendidikan tidak boleh terjebak menjadi jargon usang di atas kertas. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan lompatan besar melalui tiga tahapan struktural.

“Untuk mencapai revitalisasi pendidikan, terdapat tiga tahap yang harus dilakukan, yaitu rekonstruksi dalam aspek pemikiran, reformulasi dalam kurikulum, dan reaktualisasi nilai-nilai yang menjadi ruh pendidikan itu sendiri,” urai Prof. Hepni secara lugas di hadapan ratusan peserta.

Menurutnya, perubahan harus dimulai dari cara pandang (mindset), yang kemudian diturunkan ke dalam kurikulum yang adaptif, dan dihidupkan kembali melalui nilai-nilai karakter di lingkungan institusi pendidikan.

Di sisi lain, semangat pembaruan juga ditiupkan oleh internal organisasi. Ketua Umum Terpilih IMMAPSI Pusat, Moh. Rofik, dalam pidatonya membawa angin segar bagi budaya organisasi. Ia menyatakan komitmennya untuk membangun kepengurusan yang inklusif, progresif, dan tidak antikritik.

“Kami siap dievaluasi dan dikritik sebagai pengurus. Kritik dan masukan adalah energi untuk terus berbenah dan memastikan IMMAPSI tetap menjadi wadah kaderisasi yang relevan dengan tantangan zaman,” tegas Rofik, memicu riuh tepuk tangan peserta.

Diselenggaraan di lingkungan pesantren, seminar ini menjadi momentum krusial bagi para mahasiswa dan kader santri. Forum ini berhasil menyadarkan peserta bahwa menguasai teknologi digital adalah keharusan, namun menjaga integritas dan moralitas adalah kepastian.

Antusiasme tinggi terlihat sepanjang acara, di mana peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia aktif merumuskan langkah konkret demi menjawab tantangan pendidikan nasional. Melalui penguatan instrumen kaderisasi, IMMAPSI optimistis mampu mencetak generasi masa depan yang tidak hanya cerdas digital, tetapi juga kokoh secara karakter.

Pewarta : Maria Al Faradela

Editor   : Ponirin Mika

Mahasiswa UNUJA Siap Dobrak Tantangan Pendidikan Era Digital

www.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali mengukuhkan posisinya sebagai kiblat pengembangan intelektual santri di kancah nasional. Melalui sinergi erat bersama Universitas Nurul Jadid (UNUJA), pesantren legendaris ini sukses menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IMMAPSI Pusat 2026 yang digelar megah di Auditorium 1, Sabtu (23/05/2026).

Tak sekadar merumuskan program kerja organisasi, agenda akbar berskala nasional ini langsung menggebrak dengan Seminar Pendidikan Nasional bertajuk “Revitalisasi Pendidikan di Era Digital untuk Membangun Generasi Adaptif dan Berintegritas melalui Penguatan Semangat Kaderisasi.”

Acara ini dihadiri oleh jajaran tokoh penting, mulai dari Pengasuh Ponpes Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini, Bupati Probolinggo Dr. H. Mohammad Haris, M.Kes., Wakil Bupati H. Fahmi Abdul Haq Zaini, S.Ag., S.Kom., hingga Rektor UNUJA Dr. KH. Najiburrahman, M.A., M.Pd.

Dalam sesi seminar, Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UINKHAS) Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM., memaparkan strategi krusial untuk menghadapi disrupsi teknologi. Ia menegaskan ada tiga tahapan utama yang wajib dilakukan dunia pendidikan saat ini dengan mengubah pola pikir agar selaras dengan kemajuan zaman, menyusun ulang materi pembelajaran yang adaptif dengan teknologi, menghidupkan kembali esensi moral dan integritas di ruang digital.

“Ketiga aspek ini adalah fondasi utama agar sistem pendidikan kita tidak hanya bertahan, tapi mampu menjawab tantangan era digital secara nyata,” tegas Prof. Hepni.

Di sisi lain, Ketua Umum Terpilih IMMAPSI Pusat, Moh. Rofik, membawa angin segar perubahan dalam kepemimpinannya. Ia menyatakan berkomitmen penuh untuk membawa organisasi mahasiswa pesantren ini ke arah yang lebih terbuka, progresif, dan dinamis.

“Kami siap dievaluasi dan dikritik sebagai pengurus. Kritik dan evaluasi merupakan vitamin penting untuk memperkuat organisasi, sekaligus memastikan IMMAPSI tetap relevan dalam menjawab kebutuhan kader dan perkembangan zaman,” ujar Rofik lantang dalam sambutannya.

Kepercayaan menjadi tuan rumah Rakernas 2026 ini menjadi bukti nyata rekognisi nasional terhadap Ponpes Nurul Jadid dan UNUJA. Kampus berbasis pesantren ini terbukti konsisten menjadi motor penggerak kaderisasi mahasiswa yang moderat, berintegritas, dan melek teknologi.

Melalui forum tertinggi ini, IMMAPSI Pusat ditargetkan mampu melahirkan rekomendasi serta program strategis yang siap mencetak generasi santri masa depan—generasi yang tidak gagap teknologi, tetap memegang teguh nilai keislaman, dan siap berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Pewarta: Maria Al Faradela

Editor    : Ponirin Mika

Seru! Ratusan Pramuka Putri Nurul Jadid Adu Tangkas dan Rakit Bunga Estetik di Tepi Pantai Paiton

www.nuuljadi.net– Sebanyak 228 pramuka putri yang tergabung dalam Perkemahan OSKAR Putri 2026 sukses mengguncang Lapangan Utama TNI AL Paiton pada hari kedua pelaksanaan kemah, Sabtu (23/05/2026). Di bawah terik matahari dan hembusan angin pantai, para peserta berkompetisi dalam serangkaian lomba yang menguji ketangkasan fisik sekaligus kreativitas tanpa batas.

Sejak pagi hari usai apel, suasana lapangan langsung riuh oleh sorak semangat dari 19 kelompok yang bertanding. Pada sesi pertama, fokus peserta diuji lewat Lomba Pasukan Baris-Berbaris (PBB) Tongkat, ketelitian dalam membaca Sandi Morse, hingga kecepatan Lomba Semaphore.

Tim Giat Gudep Pramuka Putri Nurul Jadid, Isnani Wahyuniati (Kak Yuni), menjelaskan bahwa seluruh perlombaan ini dirancang sebagai wadah evaluasi nyata.

“Adik-adik peserta ini telah mengikuti rangkaian kegiatan Pramuka selama seminggu sebelum perkemahan dimulai. Materi yang telah mereka pelajari kami aplikasikan dalam bentuk perlombaan agar kemampuan mereka dapat terasah sekaligus dievaluasi,” ujar Kak Yuni.

Memasuki siang hari, setelah jeda istirahat dan salat Zuhur berjamaah, tensi kompetisi bergeser dari ketangkasan fisik menjadi adu kreativitas melalui Lomba Hasta Karya Pramuka.

Berbeda dengan lokasi lomba pagi, area perlombaan kali ini bergeser ke bawah rindangnya pepohonan yang menghadap langsung ke pantai. Di lokasi yang sejuk ini, setiap kelompok yang beranggotakan 12 orang ditantang untuk menyulap bahan-bahan bekas menjadi kerajinan bernilai estetika.

Dengan memanfaatkan limbah harian seperti: Botol plastik, Kardus bekas, Kantong plastik (kresek)

Para peserta berhasil merakit berbagai bentuk bunga hias yang unik dan sekreatif mungkin. Menurut Kak Yuni, tantangan ini merupakan bentuk aksi nyata dan implementasi dari materi keterampilan lingkungan yang sebelumnya telah diajarkan di pangkalan Nurul Jadid.

Melalui rentetan kegiatan di hari kedua ini, Perkemahan OSKAR Putri 2026 tidak hanya menjadi ajang perebutan juara, tetapi juga berhasil menjadi ruang belajar yang interaktif. Di sini, para santriwati ditempa untuk mengasah jiwa kepemimpinan, ketelitian, kerja sama tim, hingga kepedulian terhadap lingkungan sebelum mereka melanjutkan agenda berikutnya, yaitu kegiatan outbound.

Pewarta   : Maria Al Faradela

Editor      : Ponirin Mika