Kiai Zuhri Zaini Ingatkan Krisis Otoritas Agama di Tengah Artificial Intelligence (AI)
www.nuruljadid.net– Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah memasuki ranah yang sangat sensitif, termasuk penyebaran informasi keagamaan. Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan peringatan mengenai potensi krisis otoritas agama yang diakibatkan oleh ketergantungan pada teknologi tanpa bimbingan guru.
Kiai Zuhri menyoroti bagaimana AI mampu menciptakan manipulasi yang sangat meyakinkan, seperti video tokoh dunia yang seolah-olah melakukan aktivitas keagamaan tertentu. Menurut beliau, kemudahan teknologi ini sering kali membuat orang merasa cukup belajar secara mandiri tanpa memverifikasi sumber atau sanad keilmuannya.
Beliau menekankan bahwa ilmu agama berbeda dengan ilmu umum. Jika ilmu umum bisa dicapai melalui kecerdasan intelektual dan riset mandiri, ilmu agama memerlukan ketersambungan guru hingga ke Rasulullah SAW.
“Ada orang yang memahami agama secara dangkal sehingga ia mencukupkan ingat kepada Allah dan itu tidak harus sholat. Ini banyak terjadi pada orang abangan dan orang kebatinan. Ini pemahaman yang salah terhadap teks-teks keagamaan. Makanya butuh berguru,” tegasnya.
Beliau juga menyayangkan adanya kecenderungan orang-orang yang hanya bermodalkan kecerdasan namun berani menentang para Imam Mujtahid. Sikap “terlalu percaya diri” inilah yang dianggap sebagai titik awal tersesatnya seseorang dalam memahami syariat.
Di tengah gempuran digital, Kiai Zuhri menegaskan bahwa pendidikan pesantren harus menjadi benteng terakhir yang menjaga otentisitas ajaran Islam. Beliau menyampaikan tiga poin strategis dalam pelayanan pendidikan pesantren:
-
Pesantren tidak boleh menutup mata terhadap kebutuhan pendidikan yang terus berkembang.
-
Di saat AI bisa memberikan informasi, hanya pesantren yang bisa memberikan pembinaan karakter dan akhlak.
-
Para pembimbing santri dituntut memiliki kemampuan dasar bimbingan konseling (BK) untuk mendampingi santri menghadapi tantangan zaman.
Beliau berpesan bahwa setiap amal harus memiliki landasan yang kuat. “Paling sedikit kita dalam beramal yaitu pada tingkatan dhon (prasangka kuat berdasarkan dalil). Kita tidak boleh mengambil pendapat sembarangan hanya dengan mencari yang enak saja,” tuturnya.
Kiai Zuhri mengajak umat untuk tetap menjadikan ilmu umum sebagai penunjang kehidupan muamalah, namun tetap menempatkan ilmu agama di atas koridor sanad yang jelas agar tidak terjebak dalam ketersesatan di era kecerdasan buatan.
Pewarta : Ponirin Mika












