Kiai Zuhri Zaini Ingatkan Krisis Otoritas Agama di Tengah Artificial Intelligence (AI)

www.nuruljadid.net– Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah memasuki ranah yang sangat sensitif, termasuk penyebaran informasi keagamaan. Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan peringatan mengenai potensi krisis otoritas agama yang diakibatkan oleh ketergantungan pada teknologi tanpa bimbingan guru.

Kiai Zuhri menyoroti bagaimana AI mampu menciptakan manipulasi yang sangat meyakinkan, seperti video tokoh dunia yang seolah-olah melakukan aktivitas keagamaan tertentu. Menurut beliau, kemudahan teknologi ini sering kali membuat orang merasa cukup belajar secara mandiri tanpa memverifikasi sumber atau sanad keilmuannya.

Beliau menekankan bahwa ilmu agama berbeda dengan ilmu umum. Jika ilmu umum bisa dicapai melalui kecerdasan intelektual dan riset mandiri, ilmu agama memerlukan ketersambungan guru hingga ke Rasulullah SAW.

“Ada orang yang memahami agama secara dangkal sehingga ia mencukupkan ingat kepada Allah dan itu tidak harus sholat. Ini banyak terjadi pada orang abangan dan orang kebatinan. Ini pemahaman yang salah terhadap teks-teks keagamaan. Makanya butuh berguru,” tegasnya.

Beliau juga menyayangkan adanya kecenderungan orang-orang yang hanya bermodalkan kecerdasan namun berani menentang para Imam Mujtahid. Sikap “terlalu percaya diri” inilah yang dianggap sebagai titik awal tersesatnya seseorang dalam memahami syariat.

Di tengah gempuran digital, Kiai Zuhri menegaskan bahwa pendidikan pesantren harus menjadi benteng terakhir yang menjaga otentisitas ajaran Islam. Beliau menyampaikan tiga poin strategis dalam pelayanan pendidikan pesantren:

  1. Pesantren tidak boleh menutup mata terhadap kebutuhan pendidikan yang terus berkembang.

  2. Di saat AI bisa memberikan informasi, hanya pesantren yang bisa memberikan pembinaan karakter dan akhlak.

  3. Para pembimbing santri dituntut memiliki kemampuan dasar bimbingan konseling (BK) untuk mendampingi santri menghadapi tantangan zaman.

Beliau berpesan bahwa setiap amal harus memiliki landasan yang kuat. “Paling sedikit kita dalam beramal yaitu pada tingkatan dhon (prasangka kuat berdasarkan dalil). Kita tidak boleh mengambil pendapat sembarangan hanya dengan mencari yang enak saja,” tuturnya.

Kiai Zuhri mengajak umat untuk tetap menjadikan ilmu umum sebagai penunjang kehidupan muamalah, namun tetap menempatkan ilmu agama di atas koridor sanad yang jelas agar tidak terjebak dalam ketersesatan di era kecerdasan buatan.

Pewarta    : Ponirin Mika

Puluhan Pendidik Ponpes Nurul Ulum Bondowoso “Ngaji” ke Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net – Sebanyak 67 guru dari Pondok Pesantren Nurul Ulum, Bondowoso, melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Ahad (10/05/26). Kedatangan rombongan besar ini bertujuan utama untuk menimba ilmu serta memohon tausyiah langsung dari Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini.

Dalam prosesi penyambutan, Kasubbag Humas dan Infokom Nurul Jadid, Ponirin Mika, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh rombongan jika terdapat kekurangan dalam pelayanan. Ia menekankan bahwa pihak pesantren senantiasa berupaya memberikan penyambutan dan suguhan terbaik bagi para tamu di tengah segala keterbatasan yang ada.

Ponirin juga menyampaikan pesan dari pimpinan sekretariat pesantren yang berhalangan hadir dalam pertemuan tersebut. Ketidakhadiran pimpinan sekretariat dikarenakan adanya agenda rapat internal pesantren yang jadwalnya berbenturan dengan waktu kunjungan rombongan dari Bondowoso tersebut.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Nurul Ulum, KH. Bakir Bahawi, menjelaskan bahwa kehadiran 67 tenaga pendidik ini bukan sekadar kunjungan biasa. Menurutnya, poin krusial dari perjalanan ini adalah untuk menyambung sanad keilmuan serta mendapatkan nasihat spiritual langsung dari pengasuh salah satu pesantren besar di Jawa Timur tersebut.

Kiai Bakir berharap kunjungan ini dapat membekali para guru dengan wawasan baru dalam mendidik para santri. Ia menekankan pentingnya bekal ilmu yang mumpuni agar para pengajar mampu membimbing murid-murid di Nurul Ulum menjadi pribadi yang sholih dan sholihah sesuai harapan orang tua dan agama.

Dalam tausyiahnya, KH. Moh. Zuhri Zaini memberikan penekanan khusus mengenai etika dan metodologi dalam berkhidmat di dunia pendidikan. Beliau mengingatkan para guru agar benar-benar memahami materi yang diajarkan kepada santri, terutama jika menyangkut persoalan materi agama.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa kecerdasan, kreativitas, dan pengalaman saja tidaklah cukup dalam memahami ilmu agama. Beliau menyatakan bahwa dibutuhkan ketersambungan sanad atau mata rantai keilmuan yang sampai kepada Rasulullah SAW, sehingga penting bagi seorang pengajar untuk mencari guru yang memiliki otoritas keilmuan yang jelas.

Selain aspek teknis keilmuan, Kiai Zuhri juga menggarisbawahi pentingnya niat yang tulus dan ikhlas dalam mengajar. Namun, beliau memberikan catatan kritis bahwa keikhlasan saja tidak cukup jika penguasaan materi yang disampaikan ternyata keliru, karena hal tersebut dapat berdampak buruk pada pemahaman santri.

Selanjutnya, pengasuh kharismatik ini mengajak para guru untuk menguasai berbagai metode mengajar yang efektif. Beliau menyarankan agar para pendidik meneladani metode Rasulullah SAW saat mendidik para sahabat, yang senantiasa mengedepankan bimbingan secara berkelanjutan.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa cara Rasulullah mendidik sangatlah fleksibel namun intensif, di mana beliau selalu membimbing para sahabat di mana pun tempatnya berada. Hal ini diharapkan menjadi inspirasi bagi para guru Ponpes Nurul Ulum dalam menjalankan tugas mulia mereka sekembalinya ke Bondowoso.

 

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Keren; Santri Putri Gelar Bahtsul Masail Sughro

www.nuruljadid.net – Guna mengasah kemampuan orasi dan analisis kitab kuning, sejumlah santriwati dari berbagai lembaga di Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) mengikuti forum Bahtsul Masail Sughro yang digelar di Aula I PPNJ pada Jumat (08/05).

Kegiatan ini diikuti oleh delegasi dari berbagai lembaga kajian, di antaranya Ma’had Aly Nurul Jadid, MAN Program Keagamaan (MAN-PK), Madrasah Aliyah Nurul Jadid Peminatan Keagamaan (MANJ-PK), MD Taklimiyah Fatimatus Zahro, Takhossus Diny, hingga Takhossus Kitab.

Dalam sambutannya, Ning Viki Amalia Romzi menekankan bahwa forum Bahtsul Masail bukan sekadar ajang adu argumen hukum Islam, melainkan media efektif untuk melatih kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum (public speaking).

“Di sini, para adik-adik sekalian bisa melatih public speaking kalian melalui ibarah (kutipan kitab) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Saya yakin kalian datang ke sini dengan persiapan yang matang,” ujarnya.

Beliau juga mengingatkan para peserta mengenai pentingnya penguasaan ilmu dasar sebelum terjun dalam forum diskusi. Menurutnya, kemampuan menyampaikan isi kitab klasik kepada audiens sangat bergantung pada pemahaman dasar terhadap literatur tersebut.

“Sebelum kita melakukan sesuatu, kita harus memiliki ilmunya terlebih dahulu. Cara agar mudah menyampaikan ibarah yang ditemukan dalam kitab adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu dasarnya terlebih dahulu,” imbuhnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme tinggi dari para peserta. Sejak pagi, para santriwati—termasuk delegasi dari MANJ-PK—telah bersiap dengan tumpukan kitab klasik di tangan mereka untuk membedah berbagai persoalan kontemporer yang menjadi topik utama diskusi.

Acara dibuka secara resmi oleh Master of Ceremony (MC) dan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ning Viki, sebelum akhirnya dilanjutkan ke sesi inti pembahasan masalah (bahtsu al-masail).

Pewarta : Karisma Najwa Magdalena
Editor : Ponirin Mika

Memahami Agama Tak Cukup dengan Kecerdasan, Harus Bersanad ke Rasulullah

www.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya ketersambungan sanad (mata rantai) keilmuan dalam memahami agama Islam. Beliau menegaskan bahwa kecerdasan intelektual dan kreativitas saja tidak cukup untuk mendalami ilmu agama tanpa adanya bimbingan guru yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

Hal tersebut disampaikan Kiai Zuhri saat memberikan tausyiah di hadapan para guru Yayasan Pesantren Nurul Ulum, Bondowoso, pada Ahad (10/05/26).

Dalam tausyiahnya, Kiai Zuhri menyoroti fenomena kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang kini sering digunakan untuk menyebarkan informasi palsu. Ia mencontohkan beredarnya video rekayasa yang memperlihatkan tokoh dunia melakukan hal yang tidak sebenarnya.

“Sekarang ditemukan AI, orang bisa tertipu dengan video yang seakan-akan nyata bicara. Ada Presiden China membaca Al-Fatihah, padahal itu buatan. Jika kita tidak tahu sumbernya, kita akan mudah tertipu,” ujar Kiai Zuhri.

Beliau mengibaratkan verifikasi sumber informasi di era digital ini layaknya meneliti keshahihan hadits dalam Islam. Menurutnya, umat Islam beruntung memiliki sistem transmisi keilmuan yang jelas melalui kategori hadits mutawatir maupun ahad, yang menjaga kemurnian ajaran dari pemahaman yang dangkal atau menyimpang.

Kiai Zuhri juga mengkritik kelompok masyarakat yang terlalu percaya diri menafsirkan agama hanya bermodalkan logika tanpa merujuk pada para imam mujtahid. Dampaknya, muncul pemahaman keliru seperti kelompok yang merasa tidak perlu shalat hanya karena merasa sudah “ingat” kepada Allah.

“Ini pemahaman yang salah terhadap teks keagamaan. Itulah mengapa kita butuh berguru. Kita tidak boleh mengambil pendapat sembarangan hanya dengan mencari yang enak saja,” tegasnya.

Selain masalah sanad, Kiai Zuhri menyampaikan tiga poin utama bagi seorang pendidik yang berkhidmat di lembaga pendidikan:

  1. Niat dan Orientasi Akhirat: Beliau menekankan bahwa belajar ilmu umum adalah penunjang untuk bermuamalah, namun niatnya harus tetap benar dan berorientasi pada akhirat.

  2. Metodologi Pengajaran: Guru diharapkan mengikuti metode para pendahulu yang bersumber dari cara Nabi mengajar, meski tetap adaptif dengan metode cepat (seperti baca kitab) sesuai kebutuhan zaman.

  3. Pembinaan Karakter: Lembaga pendidikan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter. Kiai Zuhri meminta para wali asuh memiliki kemampuan dasar bimbingan konseling (BK) untuk membina santri secara personal.

“Kebutuhan pendidikan semakin berkembang dan pesantren harus bisa melayani itu tanpa menghilangkan jati dirinya sebagai tempat membina karakter,” pungkas beliau.

Pewarta    : Ponirin Mika

Mulai Makan dengan Bismillah agar Tidak Terputus Barokahnya; Berikut Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya menjaga adab dan etika dalam keseharian, khususnya saat makan. Hal ini beliau sampaikan saat membedah Kitab Riyadhus Sholihin pada bab tata krama makan. Sabtu (09/101/26).

Dalam penjelasannya, Kiai Zuhri membedakan antara aturan formal (hukum) dan aturan informal (adab). Menurutnya, pelanggaran adab—seperti menunjuk sesuatu dengan kaki atau tangan kiri—mungkin tidak dijatuhi sanksi pengadilan, namun pelakunya akan menerima sanksi sosial dari masyarakat.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa setiap perbuatan baik, termasuk makan, harus diawali dengan membaca Bismillah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur karena makanan merupakan rezeki dari Allah SWT sekaligus upaya menjemput keberkahan.

“Perbuatan-perbuatan baik termasuk makan harus dimulai dengan membaca bismillah. Jika tidak, maka akan terputus barokahnya,” tegas beliau.

Beliau juga mengingatkan bahwa mengingat Allah tidak hanya dilakukan saat salat, tetapi juga dalam aktivitas duniawi seperti makan. Jika seseorang lupa membaca doa di awal, maka sangat dianjurkan untuk membacanya di tengah-tengah saat teringat agar keberkahan tetap terjaga.

Mengutip hadis yang diriwayatkan dari Amr bin Abi Salamah, Kiai Zuhri merinci tiga poin utama adab makan sesuai arahan Rasulullah SAW:

  1. Menyebut nama Allah (Bismillah).

  2. Menggunakan tangan kanan.

  3. Mengambil makanan yang paling dekat dengan posisi duduk.

Selain itu, Kiai Zuhri menjelaskan sisi kesehatan dalam adab makan. Beliau mengimbau agar umat tidak makan terburu-buru (kesusu). Makanan sebaiknya dinikmati dan dikunyah hingga halus agar memberikan rasa nikmat dan mendukung kesehatan pencernaan.

Beliau juga memberikan pesan mengenai pola konsumsi yang ideal: jangan makan sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Menurutnya, makan dalam kondisi sudah kenyang justru akan menghilangkan nikmatnya makanan dan bisa berdampak kurang baik bagi tubuh.

Pewarta    : Ponirin Mika

Pesantren Gelar Pembekalan Intensif dan Kemah Besar bagi Santri Kelas Akhir

www.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid menunjukkan komitmen kuat dalam mencetak generasi berkarakter melalui program “Pembekalan Santri Kelas Akhir” bagi siswa kelas akhir tingkat SLTP. Kegiatan ini dirancang secara komprehensif dan dijadwalkan berlangsung mulai tanggal 13 hingga 30 Mei 2026. Program ini menjadi unggulan karena mengintegrasikan berbagai aspek pengembangan diri dalam satu rangkaian kegiatan. Beberapa keunggulan utama yang ditawarkan meliputi:

  1. Penguatan Karakter dan Kedisiplinan: Santri akan mendapatkan materi penguatan jiwa korsa melalui Pramuka, keterampilan kejuruan, kewirausahaan, hingga penguasaan sains dan teknologi.
  2. Pengalaman Luar Ruangan: Sebagai puncak acara, para santri akan mengikuti “Kemah Besar” yang mencakup simulasi survival instinct, penjelajahan alam, dan sesi refleksi diri.
  3. Apresiasi dan Sertifikasi: Setiap peserta akan diberikan E-Certificate dan piagam sebagai bukti resmi keikutsertaan dalam pembekalan ini.

Selain pengayaan materi, pesantren juga memberikan apresiasi berupa insentif finansial yang signifikan bagi santri yang memilih melanjutkan pendidikan di lingkungan pesantren. Piagam keikutsertaan tersebut dapat digunakan untuk memperoleh potongan uang pangkal sebesar Rp5.000.000 dan potongan daftar ulang sebesar Rp1.000.000 untuk tahun ajaran 2026.

Guna memastikan dukungan penuh dari wali murid, Pondok Pesantren Nurul Jadid melalui Biro Pendidikan melaksanakan layanan komunikasi berkait hal ini yang berakhir pada hari ini, Rabu, 6 Mei 2026. Melalui layanan ini, wali kelas memastikan setiap orang tua memahami manfaat strategis dari kegiatan pembekalan ini bagi masa depan putra-putri mereka.

Pihak pesantren menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tesebut diprioritaskan untuk kepentingan terbaik santri, guna membangun fondasi mental yang kuat sebelum mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Setelah rangkaian pembekalan selesai, para santri dijadwalkan akan menikmati masa libur selama satu bulan mulai 1 Juni hingga 1 Juli 2026.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Hakim Dilarang Terima Hadiah dari Masyarakat di Wilayah Kerjanya

www.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan penegasan terkait integritas penegak hukum dalam pengajian kitab kuning yang digelar pada Rabu sore (06/05/2026). Beliau menyatakan bahwa seorang hakim dilarang keras menerima pemberian atau hadiah dari masyarakat yang berada di dalam wilayah hukum atau wilayah kerjanya.

Menurut Kiai Zuhri, larangan ini bukan tanpa alasan. Pemberian tersebut berpotensi besar merusak objektivitas hakim dalam menjalankan tugasnya, terutama saat menghadapi perkara hukum yang melibatkan si pemberi hadiah.

“Menerima hadiah dari masyarakat yang itu menjadi wilayah kerjanya hakim tersebut akan mempengaruhi nantinya terhadap tugasnya ia sebagai hakim,” tegas Kiai Zuhri saat menjelaskan kitab fathul qorib yang membahas tentang fasal Fi adabi al-qodi.

Dalam pemaparannya, Kiai Zuhri menekankan bahwa independensi seorang hakim adalah kunci keadilan. Jika seorang hakim terbiasa menerima sesuatu dari warga di wilayah kerjanya, dikhawatirkan akan muncul rasa utang budi atau keterikatan mental yang mengganggu profesionalisme.

Penyampaian ini disampaikan sebagai pengingat bagi para pemegang kebijakan dan penegak hukum agar tetap tegak lurus pada kebenaran tanpa tergiur oleh pemberian yang dapat membelokkan rasa keadilan.

Pewarta   : Ponirin Mika

FAI UNUJA dan MES Gelar Roadshow Multifinance Syariah

www.nuruljadid.net – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nurul Jadid (UNUJA) berkolaborasi dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sukses menyelenggarakan Roadshow Multifinance Syariah Chapter Probolinggo. Kegiatan bertajuk “Bergerak, Bertumbuh, Berdaya bersama Multifinance Syariah” ini berlangsung di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Kamis (7/5/2026).

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Fokus utama kegiatan adalah memberikan edukasi mendalam mengenai instrumen pembiayaan syariah sebagai motor penggerak ekonomi lokal.

Dekan FAI UNUJA, Dr. Ahmad Fawaid, M.Th.I., dalam sambutannya menekankan bahwa acara ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum strategis untuk mempererat sinergi antara akademisi, praktisi keuangan, dan masyarakat.

“Kami berharap roadshow ini tidak berhenti pada seremoni saja, tetapi berlanjut pada program pemberdayaan dan pendampingan nyata, terutama bagi UMKM,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa FAI UNUJA berkomitmen penuh dalam pengembangan ekonomi syariah melalui program desa binaan dan penyediaan layanan pendampingan sertifikasi halal secara gratis bagi pelaku usaha.

Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, panitia menghadirkan panel narasumber kompeten dari: Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Adira Finance Syariah

Para pemapar mengupas tuntas dinamika industri multifinance syariah, rincian akad pembiayaan yang sesuai syariat, hingga teknis mengakses modal bagi pengembangan usaha.

Dengan kegiatan semacam ini, FAI UNUJA optimistis masyarakat akan lebih cerdas dalam memilih produk keuangan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkah secara prinsip keagamaan. Hal ini diharapkan mampu menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi masyarakat Probolinggo secara berkelanjutan.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Pramuka SMA Nurul Jadid Manfaatkan Program MBG untuk Perkuat Disiplin Siswa

www.nuruljadid.net– Gugus Depan Pramuka SMA Nurul Jadid mengintegrasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai sarana pembinaan kedisiplinan siswa. Kegiatan terpadu tersebut dilaksanakan di halaman sekolah pada Selasa (05/05/2026).

Dalam pelaksanaannya, seluruh anggota Pramuka diarahkan untuk menerapkan pola makan tertib dan teratur. Pendamping Pembina, Kakak Anang, memandu langsung jalannya kegiatan dengan menekankan nilai-nilai kerapian serta tanggung jawab sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Ketua Umum Harian Pramuka Nurul Jadid, Kakak Agus Fanani, menyatakan bahwa MBG merupakan metode efektif untuk membangun budaya disiplin kolektif di lingkungan pesantren.

“Ini bukan hanya soal makan, tetapi tentang membangun kesadaran bersama akan keteraturan. Pola seperti ini sangat memungkinkan untuk diterapkan di seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Pesantren Nurul Jadid ke depannya,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Gugus Lengkap Pramuka Nurul Jadid, Kakak Umar, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan tindak lanjut dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei lalu. Menurutnya, momentum tersebut menjadi titik awal untuk penguatan arah pembinaan anggota secara lebih teknis.

Selain makan bersama, rangkaian kegiatan juga diisi dengan: Pemberian materi Syarat Kecakapan Umum untuk penguatan kompetensi anggota., Peninjauan menyeluruh terhadap pelaksanaan program kerja Pramuka, Pemotretan keanggotaan untuk penguatan database organisasi yang difasilitasi oleh Biro Pengembangan tanpa dipungut biaya.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat peran Pramuka sebagai organisasi induk di Pesantren Nurul Jadid dalam mencetak generasi yang tangguh melalui perpaduan nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan spiritualitas.

Pewarta    : DPW

Edito         : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Meneladani Kebiasaan Nabi Muhammad SAW Adalah Sumber Barokah

www.nuruljadid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya umat Islam untuk senantiasa mengamalkan kesunnahan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, mengikuti kebiasaan Rasulullah bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan mendatangkan keberkahan barokah.

Dalam pengajian yang digelar pada Sabtu (02/05/26), Kiai Zuhri menjelaskan bahwa setiap tindakan yang dicontohkan oleh Nabi memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Beliau mengajak para santri dan masyarakat untuk tidak meremehkan amalan-amalan sunnah, meski terlihat sederhana dalam pandangan manusia.

Salah satu kebiasaan Nabi yang disorot oleh Kiai Zuhri adalah mengenai tata cara menuju tempat ibadah. Beliau memaparkan bahwa Rasulullah SAW memiliki kebiasaan unik saat berangkat dan pulang dari masjid, musala, atau tempat peribadatan lainnya, yakni dengan membedakan jalur yang dilewati.

“Kebiasaan Nabi dalam melaksanakan ibadah di masjid, musala, atau tempat ibadah lainnya adalah membedakan jalur antara saat masuk dan saat keluarnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, beliau mengungkapkan filosofi di balik perbedaan jalur tersebut. Menurutnya, setiap jengkal tanah yang dilewati manusia dalam rangka melaksanakan kebaikan akan mencatat rekam jejak pelakunya.

Tempat-tempat yang dilewati tersebut, lanjut Kiai Zuhri, kelak akan menjadi saksi yang berbicara di hadapan Allah SWT pada hari kiamat. Semakin banyak jalur yang dilewati untuk beribadah, maka semakin banyak pula saksi yang akan memberikan kesaksian atas amal kebaikan seseorang.

Selain masalah jalur perjalanan, Kiai Zuhri juga menjelaskan tentang pentingnya menjaga adab dalam beraktivitas. Salah satunya adalah kesunnahan mendahulukan anggota tubuh bagian kanan saat memulai aktivitas yang bersifat baik.

Beliau mencontohkan, mulai dari memakai baju, makan, hingga masuk ke dalam masjid, hendaknya dimulai dengan bagian kanan. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kemuliaan amal yang sedang dilakukan oleh seorang mukmin.

Sebaliknya, untuk aktivitas yang sifatnya kurang baik atau berkaitan dengan urusan kebersihan diri yang bersifat kotor, Nabi mengajarkan untuk mendahulukan bagian kiri. Contohnya adalah saat memasuki kamar mandi atau melepas pakaian.

Kiai Zuhri berharap agar konsistensi dalam menjalankan sunnah ini dapat membentuk karakter umat yang religius dan disiplin. Beliau menegaskan bahwa keberkahan hidup akan senantiasa mengalir bagi mereka yang berusaha menghidupkan kembali sunnah Nabi di tengah kemajuan zaman.

Pewarta  : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini Tekankan Pentingnya Kemandirian Ekonomi dalam Dakwah

www.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menegaskan bahwa misi utama pesantren adalah dakwah yang menyentuh seluruh aspek kehidupan, termasuk ritual, spiritual, sosial, hingga politik. Namun, secara khusus beliau menyoroti penguasaan ekonomi sebagai pilar penting yang tak boleh diabaikan oleh kaum santri.

Pesan tersebut disampaikan dalam Halaqah Alumni yang menjadi rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-77 dan Haul Masyayikh di Aula Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Sabtu (17/1/2026).

Kiai Zuhri menekankan bahwa kemandirian finansial adalah kunci agar gerakan dakwah tidak terhambat. Beliau mengutip semboyan, “Laisa indal fulus fahuwa manfus”, yang menggambarkan betapa sulitnya seseorang bergerak tanpa dukungan ekonomi yang mapan.

Sebagai teladan, beliau merujuk pada sosok Nabi Muhammad SAW yang merupakan pebisnis sukses sebelum dan selama menjalankan risalah dakwahnya. Hal serupa juga dipraktikkan oleh pendiri Pesantren Nurul Jadid, KH Zaini Mun’im.

“Kiai Zaini Mun’im adalah seorang pebisnis tembakau. Beliau membudidayakan tembakau hingga mampu membangun masjid pertama di pesantren ini dari hasil penjualannya. Beliau mengajarkan bahwa ekonomi adalah sarana ibadah dan perjuangan,” ungkap Kiai Zuhri.

Selain kemandirian ekonomi, Kiai Zuhri menceritakan bagaimana KH Zaini Mun’im melakukan dakwah kultural dengan bijaksana. Salah satu contoh nyata adalah mengubah tradisi sesajen menjadi tradisi tumpengan yang diisi dengan doa, Surat Yasin, dan Tahlil.

“Cara mengubah tradisi yang tidak sesuai syariat dilakukan dengan bijak, tidak dengan marah-marah apalagi memakai pentungan. Ini perlu kita tiru,” tegasnya.

Di sisi lain, beliau juga memaparkan progresivitas pesantren dalam bidang pendidikan. Nurul Jadid tercatat telah lama menggabungkan kurikulum kitab kuning dengan ilmu umum seperti matematika dan sosiologi, jauh sebelum integrasi kurikulum nasional diterapkan secara luas.

Kiai Zuhri berpesan agar perhelatan halaqah ini menghasilkan dampak konkret dan tidak berhenti pada seremonial belaka. Beliau berharap ada implementasi nyata dan pertemuan lanjutan untuk membahas masalah teknis di lapangan.

Beliau juga mengingatkan para alumni untuk terus membawa nilai kesantrian di mana pun mereka berkiprah. Dengan nada berseloroh namun penuh makna, beliau menekankan pentingnya menjaga identitas santri selamanya.

“Sebagai alumni tetaplah santri, bukan ‘alumni santri’. Kalau alumni pesantren boleh, tapi jangan sampai menjadi mantan santri. Lebih baik menjadi mantan preman seperti Sunan Kalijaga yang berproses menjadi wali, daripada menjadi mantan santri,” pungkasnya.

 

Pewarta     : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini Tegaskan Perang Hanyalah Bentuk Pertahanan Diri, Bukan Penyerangan

www.nuruljadid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, memberikan penegasan penting mengenai konsep jihad dan peperangan dalam Islam. Beliau menekankan bahwa perang bukanlah instrumen untuk melakukan agresi, melainkan sarana pertahanan diri ketika kedaulatan dan keselamatan terancam.

Hal tersebut disampaikan beliau saat mengisi pengajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Jami’ Nurul Jadid pada Rabu (29/04/26). Di hadapan para jamaah dan santri, Kiai Zuhri menjelaskan bahwa tidak semua peperangan dapat dibenarkan secara syariat maupun moral.

Menurut Kiai Zuhri, syarat utama diperbolehkannya berperang adalah adanya serangan dari pihak lawan. Islam tidak membenarkan umatnya memulai pertikaian terhadap pihak-pihak yang hidup damai.

“Tidak semua perang itu diperbolehkan. Perang hanya diperbolehkan ketika kita diserang,” tegas beliau.

Beliau merinci bahwa batasan ancaman yang mengharuskan seseorang atau sebuah bangsa untuk bangkit melawan adalah ketika hal-hal prinsipil mulai diganggu, di antaranya:

  • Membela agama
  • Keselamatan diri dari ancaman fisik.
  • Keamanan keluarga dan orang-orang tercinta.
  • Kedaulatan tanah air dari penjajahan atau invasi.

Lebih lanjut, tokoh ulama kharismatik ini mengingatkan bahwa memerangi orang yang tidak mengancam keselamatan adalah sebuah kekeliruan. Beliau meluruskan pandangan yang salah mengenai konsep menyerang pihak lain tanpa alasan yang jelas.

“Kalau kita memerangi orang yang tidak mengancam agama kita, diri kita, keluarga, maupun tanah air, maka itu (seharusnya) tidak boleh dilakukan. Berperang itu sifatnya defensif, bukan ofensif. Kita bergerak kalau diserang, bukan untuk menyerang,” pungkasnya.

Penyampaian ini bertujuan agar santri dan umat islam memiliki  pemahaman keagamaan yang moderat dan tetap menjaga perdamaian selama tidak ada pihak yang menzalimi atau mengancam keutuhan bangsa dan agama.

 

Pewarta   : Ponirin Mika

Kiai Zuhri; Ilmu Tanpa Manfaat Hanyalah Sebuah Kerugian

www.nuruljadid.net– Sebuah pesan tajam namun penuh kasih disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, K.H. Moh. Zuhri Zaini, dalam gelaran Dies Maulidiyah ke-VIII dan Wisuda Universitas Nurul Jadid (UNUJA), Minggu (2/11/2025). Di hadapan 1.172 wisudawan, Kiai Zuhri menegaskan bahwa gelar akademik tidak akan berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan kebermanfaatan bagi sesama.

Kiai Zuhri mengingatkan bahwa momen wisuda bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, ini adalah garis start bagi para sarjana untuk membuktikan kualitas diri di tengah masyarakat. Beliau mengapresiasi kerja keras sivitas akademika UNUJA yang terus berkembang pesat, namun beliau menitipkan pesan besar bagi para lulusannya.

“Ilmu itu tidak berhenti di ruang kelas. Ia bisa diperoleh di mana saja dan kapan saja. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu itu diamalkan untuk kemaslahatan umat,” tegas Beliau.

Dalam orasi ilmiahnya, Kiai Zuhri memperkenalkan konsep “Sarjana Sirojuna”. Istilah ini merujuk pada sosok intelektual yang mampu menjadi pelita (Siroj) atau cahaya yang menerangi kegelapan di lingkungannya.

Beliau memberikan peringatan agar para lulusan tidak menyalahgunakan ilmu mereka. Bahkan dengan tegas beliau menyampaikan agar sarjana memberi solusi, inspirasi, dan arah bagi masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, Kiai Zuhri sangat berharap tidak ada lulusan UNUJA yang justru membawa kerugian, menimbulkan keresahan, atau mencemari nama baik lingkungan dengan perilaku yang tidak berakhlak.

Kiai Zuhri juga menyentuh sisi mentalitas para lulusan. Beliau berpesan agar para sarjana tidak takut akan kegagalan dalam dunia kerja atau pengabdian nantinya. Menurutnya, kegagalan adalah guru terbaik jika disikapi dengan kebijaksanaan.

Beliau mendoakan agar 1.172 lulusan tahun ini menjadi insan yang berilmu sekaligus berakhlak. Ilmu yang dimiliki harus menjadi alat untuk membela agama, membangun bangsa, dan menyejahterakan keluarga.

“Mudah-mudahan para wisudawan menjadi sarjana yang menerangi sekitarnya, bukan yang membawa kerugian,” pungkas Kiai Zuhri, menutup prosesi wisuda dengan doa dan harapan besar bagi masa depan Indonesia.

Pewarta    : Ponirin Mika

Punya Hajat? KH. Moh Zuhri Zaini: Mintalah Petunjuk Allah Lewat Istikharah

www.nuruljadid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh Zuhri Zaini, menekankan pentingnya melibatkan Allah SWT dalam setiap urusan manusia. Hal ini disampaikan beliau saat mengisi pengajian kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Senin (27/04/26).

Dalam arahannya, Kiai Zuhri menasihati jamaah agar senantiasa melaksanakan shalat istikharah dua rakaat dan berdoa ketika memiliki hajat atau keinginan tertentu. Menurut beliau, kepintaran manusia dalam membedakan hal baik dan buruk tidaklah cukup tanpa ketetapan (takdir) dari Allah SWT.

“Meskipun manusia mengetahui mana yang baik dan buruk, tapi jika tidak ditakdirkan pada sesuatu yang baik, maka kebaikan itu tidak akan didapatkan. Allah-lah yang Maha Tahu segala kebaikan dan yang terbaik untuk kita,” tutur Kiai Zuhri.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri meluruskan anggapan umum bahwa petunjuk istikharah selalu datang melalui mimpi. Beliau menegaskan bahwa inti dari istikharah adalah jalur komunikasi langsung melalui ibadah dan doa yang tulus.

Menjelaskan bab istikharah dan musyawarah dalam kitab Riyadhus Sholihin, Kiai Zuhri menekankan bahwa permohonan petunjuk adalah benteng agar seseorang tidak salah langkah dalam mengambil keputusan, baik urusan kecil maupun besar.

Nasihat ini menjadi pengingat bagi para santri dan  kita untuk selalu mengedepankan aspek spiritualitas dan kerendahan hati di tengah upaya (ikhtiar) duniawi yang dilakukan. Beliau menutup pesan dengan ajakan agar setiap pilihan hidup selalu disandarkan pada harapan akan ridha Ilahi.

Pewarta   : Ponirin Mika

Adopsi Sistem Sentralisasi, Yayasan Nurul Rahmah Kotaanyar Berguru Tata Kelola ke Ponpes Nurul Jadid

www.nuruljadid.net- Guna memperkuat tata kelola organisasi dan kemandirian finansial di era modern, rombongan pengurus Yayasan Nurul Rahmah Sambirampak, Kotaanyar, melakukan kunjungan studi banding ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Senin (27/04/26).

Kunjungan ini difokuskan pada tiga pilar utama pengembangan lembaga, yakni pengelolaan pesantren, sistem pendidikan, dan manajemen keuangan.

Ketua Yayasan Nurul Rahmah, Gus Imam Bulqini, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pesantren Nurul Jadid menjadi rujukan utama karena keberhasilannya dalam menerapkan sistem sentralisasi. Menurutnya, langkah ini penting untuk memastikan yayasannya tetap relevan dan berkembang di tengah tantangan zaman.

“Kami ingin belajar langsung bagaimana mengelola yayasan secara profesional. Nurul Jadid sangat menginspirasi, terutama dalam keberhasilan mereka menjalankan sistem sentralisasi yang terintegrasi,” ujar Gus Imam.

Menyambut rombongan tersebut, Kepala Bagian I Sekretariat Pesantren Nurul Jadid, Ustaz Miftahul Huda, memaparkan perjalanan panjang transformasi di lembaga tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sistem sentralisasi di Nurul Jadid mulai diimplementasikan secara masif pada tahun 2017.

Meski sempat melewati berbagai dinamika, Ustaz Miftah menekankan bahwa kunci keberhasilan transisi tersebut terletak pada kesadaran berorganisasi para pengelola di tingkat lembaga pendidikan.

“Sentralisasi pada 2017 tentu memiliki tantangannya sendiri. Namun, dengan kesadaran kolektif para pengelola, apa yang menjadi visi pengasuh dan kepala pesantren dapat terwujud dengan baik,” jelasnya.

Selain membahas filosofi organisasi, pihak Nurul Jadid juga memaparkan secara rinci mengenai:

  • Struktur Organisasi: Pembagian wewenang yang jelas antar unit.
  • Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi): Standarisasi kinerja pengelola.
  • Manajemen Keuangan Satu Pintu: Efisiensi anggaran untuk pengembangan pesantren.

Ustaz Miftah menegaskan bahwa hingga saat ini Pesantren Nurul Jadid terus melakukan upaya perbaikan dan tidak pernah merasa puas dengan pencapaian yang ada. Sikap “terus belajar” inilah yang menjadi motor penggerak inovasi di pesantren tersebut.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika