Memahami Agama Tak Cukup dengan Kecerdasan, Harus Bersanad ke Rasulullah
www.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya ketersambungan sanad (mata rantai) keilmuan dalam memahami agama Islam. Beliau menegaskan bahwa kecerdasan intelektual dan kreativitas saja tidak cukup untuk mendalami ilmu agama tanpa adanya bimbingan guru yang tersambung hingga Rasulullah SAW.
Hal tersebut disampaikan Kiai Zuhri saat memberikan tausyiah di hadapan para guru Yayasan Pesantren Nurul Ulum, Bondowoso, pada Ahad (10/05/26).
Dalam tausyiahnya, Kiai Zuhri menyoroti fenomena kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang kini sering digunakan untuk menyebarkan informasi palsu. Ia mencontohkan beredarnya video rekayasa yang memperlihatkan tokoh dunia melakukan hal yang tidak sebenarnya.
“Sekarang ditemukan AI, orang bisa tertipu dengan video yang seakan-akan nyata bicara. Ada Presiden China membaca Al-Fatihah, padahal itu buatan. Jika kita tidak tahu sumbernya, kita akan mudah tertipu,” ujar Kiai Zuhri.
Beliau mengibaratkan verifikasi sumber informasi di era digital ini layaknya meneliti keshahihan hadits dalam Islam. Menurutnya, umat Islam beruntung memiliki sistem transmisi keilmuan yang jelas melalui kategori hadits mutawatir maupun ahad, yang menjaga kemurnian ajaran dari pemahaman yang dangkal atau menyimpang.
Kiai Zuhri juga mengkritik kelompok masyarakat yang terlalu percaya diri menafsirkan agama hanya bermodalkan logika tanpa merujuk pada para imam mujtahid. Dampaknya, muncul pemahaman keliru seperti kelompok yang merasa tidak perlu shalat hanya karena merasa sudah “ingat” kepada Allah.
“Ini pemahaman yang salah terhadap teks keagamaan. Itulah mengapa kita butuh berguru. Kita tidak boleh mengambil pendapat sembarangan hanya dengan mencari yang enak saja,” tegasnya.
Selain masalah sanad, Kiai Zuhri menyampaikan tiga poin utama bagi seorang pendidik yang berkhidmat di lembaga pendidikan:
-
Niat dan Orientasi Akhirat: Beliau menekankan bahwa belajar ilmu umum adalah penunjang untuk bermuamalah, namun niatnya harus tetap benar dan berorientasi pada akhirat.
-
Metodologi Pengajaran: Guru diharapkan mengikuti metode para pendahulu yang bersumber dari cara Nabi mengajar, meski tetap adaptif dengan metode cepat (seperti baca kitab) sesuai kebutuhan zaman.
-
Pembinaan Karakter: Lembaga pendidikan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter. Kiai Zuhri meminta para wali asuh memiliki kemampuan dasar bimbingan konseling (BK) untuk membina santri secara personal.
“Kebutuhan pendidikan semakin berkembang dan pesantren harus bisa melayani itu tanpa menghilangkan jati dirinya sebagai tempat membina karakter,” pungkas beliau.
Pewarta : Ponirin Mika




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!