Di Balik Sejarah Tembakau Paiton, Ada Peran KH Zaini Mun’im

www.nuruljadid.net- Di balik proses panjang Tembakau Paiton menuju pengakuan sebagai Indikasi Geografis (IG), tersimpan kisah yang tak banyak diketahui publik. Bukan hanya soal kualitas daun tembakau atau luasnya hamparan lahan pertanian, tetapi juga tentang seorang ulama yang diyakini menjadi pelopor lahirnya budidaya tembakau di wilayah Paiton, almarhum KH Zaini Mun’im.

Kisah itu mengemuka saat Tim Ahli Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI melakukan pemeriksaan substantif di Sekretariat Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tembakau Paiton, Desa Randumerak, Kecamatan Paiton, Senin (6/7/2026). Di sela pemaparan mengenai karakteristik Tembakau Paiton, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Arif Kurniadi menceritakan sejarah yang menjadi awal berkembangnya komoditas tersebut.

Menurut Arif, jauh sebelum tembakau dikenal sebagai komoditas unggulan Kabupaten Probolinggo, hamparan sawah di Paiton hanya dimanfaatkan untuk menanam padi. Ketika musim kemarau tiba, lahan-lahan itu tidak lagi produktif. Aktivitas pertanian berhenti, dan banyak petani kehilangan sumber penghasilan.

Dalam kondisi itulah, KH Zaini Mun’im, pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid di Kecamatan Paiton, memperkenalkan budidaya tembakau kepada masyarakat pada awal abad ke-20. Tanaman itu dipilih agar lahan tetap menghasilkan pada musim kemarau sekaligus menjadi sumber ekonomi baru bagi warga. Sejak saat itu, budidaya tembakau terus berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Jadi pencetus awalnya adalah KH Zaini Mun’im. Dulu itu setelah panen padi, lahan sawah tidak lagi produktif ketika musim kemarau. Beliau kemudian memperkenalkan tembakau agar masyarakat tetap bisa bertani,” ujarnya.

Dari langkah sederhana itu, budidaya tembakau perlahan berkembang. Tanaman yang semula menjadi alternatif saat sawah mengering, kini justru menjadi identitas pertanian Paiton dan dikenal luas oleh industri hasil tembakau nasional.

Arif mengatakan, meski sejumlah wilayah lain di Kabupaten Probolinggo juga menghasilkan tembakau berkualitas, seperti Krejengan, Kotaanyar, maupun Pakuniran, nama Paiton telah lebih dahulu melekat sebagai representasi tembakau khas daerah tersebut.

“Memang selain Paiton juga ada yang bagus, seperti Krejengan, Kotaanyar, Pakuniran. Tapi ketika keluar, yang terkenalnya Paiton,” katanya.

Keistimewaan Tembakau Paiton, lanjut Arif, bukan hanya karena sejarahnya, tetapi juga karakter produknya. Berdasarkan penilaian ahli tembakau dari Kudus, komoditas ini memiliki karakter ganda yang jarang dimiliki daerah lain.

“Istilahnya bisa menjadi ‘nasi’ dan juga bisa menjadi ‘lauk’. Bisa berdiri sebagai tembakau utama, tetapi juga sangat baik digunakan sebagai campuran,” jelasnya.

Sejarah itu pula yang kemudian menjadi salah satu nilai yang memperkuat pengajuan Indikasi Geografis. Sebab, dalam penetapan IG, yang dinilai bukan hanya kualitas produk, melainkan juga keterkaitan antara komoditas dengan wilayah asal, tradisi, pengetahuan masyarakat, hingga sejarah yang membentuk reputasinya.

Wakil Bupati Probolinggo Lora Fahmi menilai tembakau telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Paiton selama puluhan tahun. Karena itu, komoditas tersebut bukan sekadar hasil pertanian, tetapi juga warisan yang harus dijaga.

“Bagi masyarakat kita, tembakau bukan sekadar tanaman. Ini adalah warisan budaya dari orang tua dan leluhur yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Bagi masyarakat Paiton hari ini, tembakau bukan lagi sekadar tanaman yang tumbuh setiap musim kemarau. Di balik setiap hamparan daun yang dipanen, tersimpan cerita tentang ikhtiar menjaga lahan tetap produktif, menghidupkan ekonomi warga, sekaligus mewariskan tradisi yang kini sedang diperjuangkan memperoleh pengakuan negara melalui sertifikat Indikasi Geografis.

 

Sumber     : https://thedna.co.id/di-balik-sejarah-tembakau-paiton-ada-peran-kh-zaini-munim/#

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *