Semangat Menuntut Ilmu Kalahkan Rasa Rindu Rumah

Di sudut Asrama I’dadiyah Wilayah Al-Hasyimiyah, riuh rendah suara langkah kaki dan tawa santri baru saling bersahutan. Hari kelima Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Nurul Jadid hari itu terasa begitu hidup. Di antara ratusan wajah baru yang tampak cemas sekaligus penasaran, ada tiga pasang mata yang memancarkan keteguhan berbeda. Mereka adalah Unis, Ani, dan Wiza. Tiga dara yang datang dari tempat di mana daratan berbatasan langsung dengan hamparan laut lepas: Pulau Kangean, Sumenep.

Bagi remaja seusia mereka, meninggalkan rumah bukanlah perkara mudah. Menuju Paiton, Probolinggo berarti mereka harus rela melipat jarak ratusan mil, menerjang ombak laut Jawa selama belasan jam, lalu menyambung perjalanan darat yang melelahkan. Di belakang, mereka meninggalkan dekapan hangat ibu, petuah ayah, dan kenyamanan kamar sendiri. Semuanya demi sebuah frasa: menuntut ilmu.

Anehnya, tak ada gurat kesedihan atau sisa air mata di pipi mereka. Saat banyak santri baru terjebak dalam jerat homesick atau rasa rindu rumah yang hebat, ketiganya justru tampak tersenyum lepas. “Begitu sampai di wilayah ini kami langsung betah. Salah satunya karena gedungnya bagus dan nyaman, jadi rasanya seperti lupa rumah,” tutur Unis dengan binar mata yang jujur.

Kalimat sederhana itu keluar begitu saja, meruntuhkan asumsi bahwa anak-anak yang jauh dari rumah akan selalu dirundung pilu. Keinginan untuk mondok yang lahir dari lubuk hati sendiri—tanpa paksaan orang tua—menjadi tameng paling ampuh bagi mereka untuk menghalau rasa sepi. Jauh-jauh menyeberangi lautan, isi kepala mereka sudah bulat: mereka hanya ingin belajar, menempa diri, dan mengaji.

Kehangatan yang mereka temukan di asrama juga menjadi penawar rindu yang mujarab. Rasa asing sebagai “anak pulau” di tanah perantauan seketika mencair berkat sambutan hangat dari para pengurus dan wali asuh. Di sini, di tempat yang baru ini, mereka tidak merasa asing; mereka merasa pulang ke rumah yang lain.

Hari-hari pertama yang biasanya diwarnai tangis rindu, justru mereka isi dengan lantunan ayat-ayat suci. Program pembinaan Al-Qur’an intensif bersama wali asuh menjadi rutinitas pagi dan petang yang paling mereka tunggu. “Setiap hari kami belajar Al-Qur’an bersama wali asuh. Kegiatannya menyenangkan dan membuat kami semakin semangat,” cerita Unis lagi, diamini oleh anggukan hangat dari Ani dan Wiza.

Meski nantinya mereka bertiga akan menempuh jalur sekolah atau lembaga yang berbeda di bawah naungan Nurul Jadid, ikatan sebagai sesama anak perantau dari ujung Madura telah menyatukan hati mereka. Langkah awal telah dimulai, dan rangkaian kegiatan pesantren yang panjang sudah menanti di depan mata.

Unis, Ani, dan Wiza telah membuktikan bahwa rindu sedalam lautan pun bisa dijinakkan oleh kapal bernama tekad. Kelak, saat mereka kembali ke Pulau Kangean, mereka bukan lagi anak-anak kecil yang melepas pelukan ibunya di pelabuhan, melainkan perempuan-perempuan tangguh yang membawa pulang cahaya ilmu.

Pewarta: Naylah Zakiyatur Rohmah

Editor   : Maria Al Faradela

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *