Pos

Semangat Menuntut Ilmu Kalahkan Rasa Rindu Rumah

Di sudut Asrama I’dadiyah Wilayah Al-Hasyimiyah, riuh rendah suara langkah kaki dan tawa santri baru saling bersahutan. Hari kelima Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Nurul Jadid hari itu terasa begitu hidup. Di antara ratusan wajah baru yang tampak cemas sekaligus penasaran, ada tiga pasang mata yang memancarkan keteguhan berbeda. Mereka adalah Unis, Ani, dan Wiza. Tiga dara yang datang dari tempat di mana daratan berbatasan langsung dengan hamparan laut lepas: Pulau Kangean, Sumenep.

Bagi remaja seusia mereka, meninggalkan rumah bukanlah perkara mudah. Menuju Paiton, Probolinggo berarti mereka harus rela melipat jarak ratusan mil, menerjang ombak laut Jawa selama belasan jam, lalu menyambung perjalanan darat yang melelahkan. Di belakang, mereka meninggalkan dekapan hangat ibu, petuah ayah, dan kenyamanan kamar sendiri. Semuanya demi sebuah frasa: menuntut ilmu.

Anehnya, tak ada gurat kesedihan atau sisa air mata di pipi mereka. Saat banyak santri baru terjebak dalam jerat homesick atau rasa rindu rumah yang hebat, ketiganya justru tampak tersenyum lepas. “Begitu sampai di wilayah ini kami langsung betah. Salah satunya karena gedungnya bagus dan nyaman, jadi rasanya seperti lupa rumah,” tutur Unis dengan binar mata yang jujur.

Kalimat sederhana itu keluar begitu saja, meruntuhkan asumsi bahwa anak-anak yang jauh dari rumah akan selalu dirundung pilu. Keinginan untuk mondok yang lahir dari lubuk hati sendiri—tanpa paksaan orang tua—menjadi tameng paling ampuh bagi mereka untuk menghalau rasa sepi. Jauh-jauh menyeberangi lautan, isi kepala mereka sudah bulat: mereka hanya ingin belajar, menempa diri, dan mengaji.

Kehangatan yang mereka temukan di asrama juga menjadi penawar rindu yang mujarab. Rasa asing sebagai “anak pulau” di tanah perantauan seketika mencair berkat sambutan hangat dari para pengurus dan wali asuh. Di sini, di tempat yang baru ini, mereka tidak merasa asing; mereka merasa pulang ke rumah yang lain.

Hari-hari pertama yang biasanya diwarnai tangis rindu, justru mereka isi dengan lantunan ayat-ayat suci. Program pembinaan Al-Qur’an intensif bersama wali asuh menjadi rutinitas pagi dan petang yang paling mereka tunggu. “Setiap hari kami belajar Al-Qur’an bersama wali asuh. Kegiatannya menyenangkan dan membuat kami semakin semangat,” cerita Unis lagi, diamini oleh anggukan hangat dari Ani dan Wiza.

Meski nantinya mereka bertiga akan menempuh jalur sekolah atau lembaga yang berbeda di bawah naungan Nurul Jadid, ikatan sebagai sesama anak perantau dari ujung Madura telah menyatukan hati mereka. Langkah awal telah dimulai, dan rangkaian kegiatan pesantren yang panjang sudah menanti di depan mata.

Unis, Ani, dan Wiza telah membuktikan bahwa rindu sedalam lautan pun bisa dijinakkan oleh kapal bernama tekad. Kelak, saat mereka kembali ke Pulau Kangean, mereka bukan lagi anak-anak kecil yang melepas pelukan ibunya di pelabuhan, melainkan perempuan-perempuan tangguh yang membawa pulang cahaya ilmu.

Pewarta: Naylah Zakiyatur Rohmah

Editor   : Maria Al Faradela

Santri Mulai Kenali Adat Istiadat Lewat Kegiatan Keagamaan

www.nuruljadid.net – Memasuki masa Penerimaan Santri Baru (PSB), sejumlah santri baru mulai berdatangan dan menapakkan kaki di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Saat ini, para santri baru—khususnya di wilayah Al-Hasyimiyah sedang menjalani fase awal yang krusial, yaitu proses adaptasi dan latihan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta adat istiadat pesantren yang baru bagi mereka.

Untuk mendukung kelancaran proses transisi ini, pihak pesantren menempatkan mereka di Asrama I’dadiyah. Asrama khusus ini dirancang sebagai wadah pelatihan bagi santri baru agar bisa mengenali kultur dan tata tertib pondok secara bertahap. Selama masa orientasi, mereka mendapatkan pendampingan intensif dari para pengurus asrama setempat.

Meski agenda asrama secara keseluruhan belum sepenuhnya aktif, para santri baru sudah mulai didekatkan dengan ritme kehidupan pesantren melalui kegiatan keagamaan harian. Salah satunya adalah program Pembinaan Al-Qur’an (PQ) yang dilaksanakan secara rutin setiap selesai salat Subuh dan Magrib. Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi santri untuk membiasakan diri dengan disiplin spiritual di pesantren.

Tantangan adaptasi santri akan berlanjut setelah masa PSB dan Orientasi Santri Baru (OSABAR) usai. Dalam kurun waktu tiga bulan ke depan, para santri akan dihadapkan pada jadwal yang lebih padat dengan adanya kegiatan tambahan. Mereka akan mengikuti program Furudhul Ainiyah (FA) serta pelatihan metode Yanbu’a. Kedua program ini memiliki target kompetensi khusus yang wajib dipenuhi oleh setiap santri sebagai syarat kelulusan dari Asrama I’dadiyah.

Terkait jumlah santri, hingga hari keempat pelaksanaan PSB, wilayah Al-Hasyimiyah diperkirakan telah menampung lebih dari 150 santri baru.”Perkiraan jumlah santri saat ini kurang lebih ada 150 anak. Jumlah santri untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah Nurul Jadid (MTSNJ) saat ini memang masih sedikit, karena hari ini baru memasuki jadwal sekaligus hari terakhir pendaftaran untuk tingkat MTs,” ujar salah satu pengurus Asrama I’dadiyah.

Mengingat gelombang kedatangan santri yang masih dinamis, pihak pengurus saat ini belum melakukan pemetaan kamar secara permanen. Namun, sebagai bagian dari strategi pengelolaan lingkungan asrama yang kondusif untuk adaptasi, pengurus telah merencanakan pembagian kamar berdasarkan lembaga pendidikan masing-masing santri setelah masa PSB resmi ditutup.

Pewarta: Zahro Fakhr An-nisa’

Editor   : Maria Al Faradela

Santri Al-Mawaddah Dilatih Pecahkan Masalah Lewat PKD Pengurus Wilayah

berita.nuruljadid.net – Wilayah Al-Mawaddah Pondok Pesantren Nurul Jadid menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Pengurus Wilayah pada Jumat, 15 Mei 2026, di Aula Al-Mawaddah. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan mahasiswi wilayah sebagai sarana pembentukan karakter sekaligus wujud berkhidmah kepada pesantren.

Konsultan II Wilayah Al-Mawaddah, Ning Raudlatul Aniq, S.Psi., menjadi pemateri dalam sesi tersebut. Beliau membawakan materi problem solving sebagai panduan bagi para santri dalam menghadapi persoalan secara sistematis dan menemukan solusi yang tepat sasaran.

“Suatu hal tidak akan menjadi masalah, bila kita tidak beranggapan itu masalah,” ujar Ning Aniq di hadapan peserta.

Dalam paparannya, Ning Aniq menjelaskan bahwa problem solving memiliki tahapan yang terstruktur agar penyelesaian masalah dapat dilakukan secara efektif. Keempat tahapan yang disampaikan meliputi: identifikasi masalah, analisis masalah, brainstorming solusi, serta evaluasi dan pemilihan solusi.

Sebagai latihan praktis, peserta diminta membentuk kelompok dua hingga tiga orang. Satu peserta berperan sebagai pencerita yang memaparkan permasalahannya, sementara yang lain berperan sebagai pendengar aktif sekaligus membantu mencari solusi menggunakan kerangka yang telah diajarkan. Sesi ini dirancang sebagai simulasi sebelum para santri menghadapi tantangan nyata di lingkup yang lebih luas.

“Yang berat bukan menjalaninya, tapi memikirkan hal-hal yang belum dijalani,” pungkas Ning Aniq.

Melalui PKD ini, pengurus dan mahasiswi Al-Mawaddah diharapkan mampu mengubah cara pandang terhadap masalah, yaitu bukan sebagai penghambat potensi, melainkan sebagai sarana untuk bertumbuh dan berkembang dalam peran mereka di pesantren.

 

Pewarta: Rusmia Rahmatul Maulidah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Kolaborasi Klinik Azzainiyah dan Dinkes Probolinggo, Santriwati Nurul Jadid Dapat Edukasi Kesehatan Remaja

berita.nuruljadid.net — Klinik Azzainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo menggelar sarasehan kesehatan remaja, Selasa (20/01/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional sekaligus menyemarakkan Haul Masyayikh dan Hari Lahir ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Sarasehan yang berlangsung di Aula 1 pesantren itu diikuti sekitar 200 santriwati. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja putri terhadap pentingnya menjaga kesehatan fisik, gizi seimbang, serta kebugaran sebagai penunjang utama aktivitas belajar di lingkungan pesantren.

Kasubbag Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ponirin Mika, menegaskan bahwa kesehatan merupakan nikmat besar yang kerap luput disyukuri. “Tubuh yang sehat akan melahirkan semangat dan konsistensi dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, kondisi fisik yang kurang prima dapat menghambat aktivitas santri sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Sri Wahyu Utami, menilai edukasi kesehatan di lingkungan pesantren sangat penting, khususnya terkait perawatan diri dan kesehatan reproduksi remaja. Ia juga memotivasi para santriwati agar menjaga kesehatan sebagai bagian dari ikhtiar meraih masa depan yang lebih baik.

Sebagai pemateri utama, dr. Moh. Reza memaparkan bahwa masa remaja merupakan fase krusial peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, menurut dia, ada tiga aspek kesehatan yang perlu menjadi perhatian utama remaja putri: tumbuh kembang, kesehatan reproduksi, dan kesehatan mental.

Ia menyoroti persoalan gizi yang masih menjadi tantangan serius. “Di Indonesia, hampir 48,9 persen remaja putri mengalami anemia. Ini bukan angka kecil,” kata Reza. Anemia, lanjut dia, ditandai kadar hemoglobin di bawah batas normal 12 gram per desiliter darah dan dapat menyebabkan lemah, pusing, pucat, hingga penurunan konsentrasi belajar.

Reza menjelaskan bahwa kekurangan gizi pada remaja putri dapat berdampak jangka panjang, mulai dari postur tubuh yang kurang optimal, risiko obesitas, hingga gangguan kesehatan saat kehamilan dan persalinan kelak. “Kalau sejak remaja kadar hemoglobin dijaga di bawah 12, risikonya besar. Bahkan bila di bawah 8, bisa membutuhkan transfusi darah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pola makan seimbang. Pedoman lama “empat sehat lima sempurna” kini telah digantikan dengan konsep gizi seimbang. Dalam satu piring makan, separuhnya diisi sayur dan buah, sementara separuh lainnya terdiri dari karbohidrat dan lauk berprotein, terutama sumber zat besi seperti daging merah. “Minum manis boleh, tapi dibatasi. Perbanyak air putih. Hindari kebiasaan minum teh atau kopi berlebihan karena menghambat penyerapan zat besi,” kata Reza.

Selain asupan makanan, Reza menekankan pentingnya konsumsi tablet penambah darah bagi remaja putri, terutama saat menstruasi. “Ini bukan obat, tetapi suplemen untuk mengganti kekurangan zat besi dalam tubuh. Demi masa depan kalian dan generasi yang akan dilahirkan, biasakan dari sekarang,” tuturnya.

Ia juga menyinggung kecenderungan remaja memilih makanan berdasarkan suasana hati. “Saat stres, seseorang cenderung mencari makanan yang menyenangkan, bukan yang menyehatkan. Padahal, tidak semua yang enak itu sehat, dan tidak semua yang kurang enak itu buruk bagi tubuh,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap santriwati tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual dan spiritual, tetapi juga sehat, kuat, dan memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya gizi seimbang sejak dini.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Saat Santri Putri Merayakan Negeri

Ajang tahunan ini tidak hanya menumbuhkan semangat pramuka dan nasionalisme, tetapi juga mengasah kreativitas, kemandirian, dan jiwa kewirausahaan santri.

berita.nuruljadid.net – Suasana semarak dan antusiasme tinggi mewarnai peringatan Hari Pramuka ke-64 dan HUT ke-80 Kemerdekaan RI di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Jumat (15/08/25). Ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan memenuhi halaman Al-Masruriyah, wilayah Al-Hasyimiyah, untuk mengikuti dan menyaksikan rangkaian kegiatan yang digelar oleh Forum Komunikasi OSIS (FKO), mulai dari lomba semaphore, cipta-baca puisi, hingga Bazar Kemerdekaan.

Sejak pagi, santri tampak memadati lokasi kegiatan. Meski terik matahari menyengat pori-pori kulit, semangat mereka tak luntur. Teriakan yel-yel dan tepuk tangan membahana saat satu per satu perwakilan sekolah menampilkan atraksi semaphore mereka. Lomba ini diikuti oleh seluruh lembaga tingkat SLTP dan SLTA di bawah naungan Nurul Jadid.

Penampilan peserta tak hanya menunjukkan kekompakan gerakan dan ketepatan kode, tetapi juga kreativitas kostum dan koreografi yang memikat. “Keren banget penampilannya, diluar prediksi. Nggak kalah sama anak luaran. Meskipun kalian di lingkungan pesantren, kekreatifitasannya sangat tinggi. Kostum yang digunakan sangat bagus, nggak kelihatan kalau itu buatan tangan,” ungkap Sulastri, salah satu juri perlombaan.

Tak hanya lomba semaphore, FKO juga menggelar lomba cipta dan baca puisi yang tak kalah menyedot perhatian, serta Bazar Kemerdekaan yang menjadi agenda tahunan mereka. Sekitar pukul 09.00 WIB, bazar resmi dibuka di area Al-Hasyimiyah oleh para tokoh pesantren, termasuk Ny. Nurul Fajriyah, dengan diikuti oleh seluruh pengurus lembaga.

Sebelum dibuka untuk umum, stan bazar terlebih dahulu dinilai oleh dewan juri. “Penilaian meliputi kebersihan, kreativitas stan, produk yang dijual, serta presentasi keseluruhan. Stan terbaik akan mendapat penghargaan,” ujar Fairuz, pembina FKO.

Bazar yang dipadati pengunjung ini menawarkan beragam produk mulai dari makanan ringan, minuman segar, hingga kerajinan tangan santri. Banyak santri yang antusias memborong jajanan favorit mereka atau sekadar mencicipi hidangan unik hasil kreasi teman-teman mereka.

Menurut Fairuz, bazar bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana pembelajaran penting bagi santri. “Kegiatan ini dirancang untuk membangun kebersamaan antar sekolah, menumbuhkan kemandirian, dan mengenalkan dasar-dasar kewirausahaan. Santri belajar mengelola modal, menghitung laba, serta berinteraksi langsung dengan pembeli,” jelasnya.

Sebelum pelaksanaan, panitia juga mendapatkan arahan dari Bidang Konservasi Lingkungan Hidup (BKLH) agar tidak menggunakan styrofoam dalam penyajian makanan, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Ketua panitia, Regita Dwi Cahyani, turut mengapresiasi kerja keras semua pihak. “Meski ada beberapa kendala teknis, alhamdulillah acara berjalan sukses dan disambut meriah. Pengunjung pun sangat ramai,” ujarnya.

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu & Zaituna Farah Kamila
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Peringati Hari Lahir ke-64, Pramuka Nurul Jadid Tekankan Ketahanan Bangsa

berita.nuruljadid.net – Hangat sinar mentari pada Kamis (14/08) pagi membangkitkan semangat para santri Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) yang mengikuti upacara peringatan Hari Lahir Pramuka ke-64 di Lapangan Ayaman. Dari kejauhan, terlihat segerombolan santri putri berbaris rapi menuju lokasi upacara bak semut menuju sarangnya.

Upacara tersebut dihadiri seluruh siswi kelas VII dan X dari satuan lembaga di bawah naungan PPNJ, baik yang berada di dalam maupun luar lingkungan pesantren, seperti Madrasah Tsanawiyah Az-Zainiyah I dan III.

Sambil menunggu upacara dimulai, beberapa santri duduk di bawah pohon rindang hingga di area parkir untuk menghindari debu. Upacara dimulai setelah semua lembaga berkumpul, dipandu langsung oleh protokol.

Meski berada di bawah terik sinar matahari, upacara berlangsung khidmat dan semangat para santri tidak surut. Ustazah Fairus, anggota Biro Pendidikan (Birpend) yang menjadi pembawa sambutan, menegaskan bahwa Pramuka bukan sekadar organisasi, tetapi salah satu pilar ketahanan bangsa.

“Pramuka itu bukan hanya simbol untuk seragam formalitas lembaga. Namun, pramuka merupakan salah satu aksi melanjutkan perjuangan oleh para pendahulu,” ujarnya, disambut senyum kagum beberapa santri.

Ia menambahkan, Pramuka yang menjadi ekstrakurikuler wajib di setiap lembaga adalah upaya pesantren dalam menanamkan Panca Kesadaran santri dan Trilogi Santri. “Tidak hanya sekadar yel-yel tepuk tangan. Dengan adanya pramuka ini diharapkan santri memiliki jiwa semangat juang, kebersamaan, dan saling menghargai antar sesama (korsa),” ungkap guru Madrasah Ibtidaiyah Nurul Mun’im (MINM) itu.

Usai upacara, santri diarahkan mencari tempat teduh sebelum mengikuti penampilan setiap satuan lembaga dalam Latihan Gabungan (Latgab) untuk mempersatukan seluruh lembaga pendidikan.

Kegiatan ditutup dengan para santri meninggalkan Lapangan Ayaman sambil melambaikan tangan kepada para pembina yang mendampingi mereka sejak pagi hingga menjelang siang.

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor: Ponirin Mika

Membangun Kesadaran Santri di Tengah Festival Lomba Al-Hasyimiyah

berita.nuruljadid.net – Riuh sorak-sorai dan tepuk tangan memenuhi halaman wilayah Al-Hasyimiyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Senin malam (28/07/25). Festival Lomba Al-Hasyimiyah (FLA) resmi dimulai. Tahun ini, FLA mengangkat tema “Kreatif, Suportif, dan Inovatif”, mencerminkan tekad untuk membangun budaya kompetisi yang sehat, kolaboratif, dan berdaya cipta di kalangan santri.

Alfiatin Wahidah, ketua panitia FLA 2025, menyampaikan harapannya agar perlombaan tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga ruang tumbuhnya nilai-nilai sportivitas dan kekompakan.

“Kami ingin mengingatkan peserta agar menjadikan lomba ini sebagai momen untuk bersaing secara sehat. Jangan saling menjatuhkan, tapi saling dukung dan tumbuh bersama,” ujar Alfiatin dalam sambutannya.

Festival yang digelar dalam rangka menyambut libur Maulid Nabi Muhammad SAW ini menjadi agenda tahunan yang ditunggu para santri. Namun, di balik semaraknya kompetisi, pesan moral juga disampaikan oleh pihak pengasuh pesantren.

Wakil Kepala Biro Kepesantrenan, Ny. Hj. Mamnuhatur Rohmah, meski tidak hadir secara langsung, menitipkan pesan melalui Pengurus Biro Kepesantrenan Siti Maknunah saat membuka acara. Pesan itu mengingatkan santri agar menjaga prioritas kewajiban di tengah gemuruh lomba.

“Beliau berharap kegiatan ini tidak mengganggu kewajiban utama para santri seperti pengajian pagi-sore, pembinaan Al-Qur’an, dan sekolah formal. Panitia dan pengurus diminta turut mengawal agar kegiatan FLA tetap berjalan seiring dengan kewajiban santri,” ujar Maknun.

Pesan ini menegaskan prinsip pendidikan ala pesantren di mana kegiatan lomba boleh dirayakan, asal tidak mengorbankan fondasi keilmuan dan disiplin kepesantrenan. Keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab menjadi nilai yang terus dijaga.

Festival Lomba Al-Hasyimiyah tahun ini membawa pesan bahwa di dalam kompetisi, kemenangan bukanlah segalanya, tetapi menjaga nilai adalah yang lebih utama.

Pewarta: Neila Zahirah

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Santri Dalbar Unjuk Talenta dan Kreativitas dalam Ajang Klip Az

berita.nuruljadid.net – Nyanyian nasyid menggema di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid, Senin malam (29/7/25), resmi membuka rangkaian kegiatan Kreasi Lomba Islami Wilayah Az-Zainiyah (Klip Az). Kegiatan ini adalah bukti pesantren tak hanya menjadi tempat santri mengaji, tetapi juga ruang mengasah bakat dan menumbuhkan keterampilan santri.

Ajang tahunan yang rutin digelar menjelang liburan Maulid ini menjadi panggung ekspresi bagi para santri dari lima belas daerah di bawah naungan wilayah Az-Zainiyah (Dalbar) Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tahun ini, sebanyak 18 cabang lomba dipertandingkan, mulai dari lomba pidato, kaligrafi, baca kitab kuning, hingga seni musik islami.

Dalam sambutannya, Wakil Kepala II Biro Kepesantrenan, Ny. Hj. Mamnuhatur Rohmah mengingatkan pentingnya menjadikan Klip Az bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan sarana pelatihan diri bagi santri: belajar tampil, mengelola potensi, dan menumbuhkan jiwa kompetitif dalam bingkai akhlak.

“Lomba ini bagus, tapi jangan sampai membuat kalian lalai dari kewajiban inti sebagai santri, salat berjamaah, mengaji, dan kegiatan kepesantrenan lainnya. Jangan membangun bangunan megah di atas fondasi yang rapuh,” ujarnya, menyisipkan perumpamaan tajam yang mengena di hati para peserta.

Kepala Wilayah Az-Zainiyah, Novita Dwi Yanti dalam sambutannya, menekankan bahwa Klip Az merupakan bagian dari sistem pembinaan yang integral di pesantren. Menurutnya, pesantren hari ini bukan hanya menanamkan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mengembangkan potensi santri agar mampu tampil di ruang publik dengan percaya diri dan tetap berakar pada nilai-nilai kepesantrenan.

“Kegiatan ini adalah bukti bahwa pesantren punya peran penting dalam mencetak generasi yang tak hanya saleh secara spiritual, tapi juga kompeten secara sosial dan keterampilan,” ujarnya.

Penampilan pembuka dari tim nasyid malam itu sekaligus menjadi simbol pembuka lomba. Nampak para peserta mempersiapkan timnya sebelum tampil di atas panggung dengan sorotan dari ribuan penonton.

“Kami latihan selama dua pekan, sambil tetap mengikuti ngaji kitab dan kegiatan wajib. Justru dari kegiatan seperti ini, kami belajar mengatur waktu dan berani tampil,” ujar salah satu peserta nasyid usai giliran timnya tampil.

Antusiasme juga terlihat di wajah-wajah santri yang menonton memadati aula. Bagi mereka, Klip Az bukan hanya tentang menang dan kalah. Lebih dari itu, ini adalah panggung untuk menyingkap dan mengasah bakat yang telah lama terpendam.

 

Pewarta: Afaf Merysca Firdaus

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Ketika Muharram Jadi Ruang Ekspresi Santri Putri Dalbar

berita.nuruljadid.net – Di bawah lampu-lampu taman yang temaram, selepas Isya, halaman wilayah Az-Zainiyah (Dalbar) Pondok Pesantren Nurul Jadid berangsur dipadati ribuan santri putri. Mereka datang membawa buku catatan kecil dan sebatang pulpen untuk mengikuti acara inti Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram yang bertajuk “Bersatu dalam Iman, Bergerak Bersama dalam Kebaikan”, Kamis (26/06/25).

Di panggung sederhana yang dihias ornamen kuning-putih, sekelompok santri melantunkan salawat bergantian sembari menunggu kehadiran peserta komplit. Di sisi depan panggung, deretan hantaran warna-warni terpajang rapi, hasil kreativitas para santri dari berbagai daerah dalam wilayah Az-Zainiyah.

“Ini momen kami. Bukan hanya duduk mendengarkan, tapi kami yang menyiapkan, memimpin, dan mengekspresikan diri,” kata Dewi Putri Maharani, santri kelas akhir yang tahun ini didapuk menjadi ketua panitia.

Selama dua pekan sebelum acara, Dewi dan tim kepanitiaan berjibaku merancang konsep peringatan Muharram. Dari tema, susunan acara, hingga komunikasi antardaerah. Semuanya ditangani oleh kepanitiaan yang keseluruhan adalah santri putri.

Malam itu, di balik panggung, santri seperti Qorirotul Bisyaroh, bercerita dengan sangat semangat kepada tim jurnalis nuruljadid.net, seperti ekspresi anak kecil yang menemukan hal baru pertamakali dalam hidupnya. Qori ikut dalam tim lomba hantaran untuk Daerah Halimatus Sa’diyah, yang malam itu diumumkan sebagai juara satu. Bukan kemenangan yang paling ia ingat.

“Saya baru sadar, ternyata bikin hantaran itu bukan cuma soal estetika. Tapi proses kami diskusi, saling menghargai ide, belajar mendengarkan,” ujarnya. Kelompoknya membuat hantaran dari rangkaian buah, bunga, dan miniatur lentera.

Puncak acara malam itu ditandai dengan tausiyah dari Ummi Mahmudah, seorang guru senior yang dikenal dengan wejangan-wejangannya yang mengena. Dalam ceramahnya, beliau tidak bicara panjang soal sejarah hijrah, tapi lebih menyoroti maknanya dalam kehidupan santri hari ini.

“Kita bukan hanya memperingati perpindahan Nabi dari Mekkah ke Madinah,” ucapnya lirih, “tetapi berpindah dari kelalaian menuju kesadaran. Dari stagnan menuju kemajuan iman.”

Di antara ribuan santri yang menyimak tausiyah, tampak Nabila Kamalia Putri, santri baru berusia 13 tahun, duduk dengan mata berkaca. Ini tahun pertamanya merayakan Muharram jauh dari keluarga. Tapi ia merasa tenang. “Ternyata persaudaraan (ukhuwah) itu bisa tumbuh cepat, asal kita saling terbuka,” katanya.

Meski kegiatan ini hanya berlangsung beberapa jam, dampaknya terasa lebih lama. Setiap santri tidak hanya menjadi peserta, tapi juga diberi kesempatan untuk berekspresi dalam lomba membuat hantaran.

Bagi Dewi Putri Maharani, ini adalah momen ekspresi. “Pesantren sering dilihat sebagai ruang tafakur dan sunyi,” ujarnya, “padahal kami di sini berekspresi untuk belajar kepemimpinan, kerja tim, dan menyampaikan ide.”

Dan ketika Muharram berjalan, para santri tahu bahwa hijrah bukan sekedar momen tahunan. Ia adalah panggilan untuk bertumbuh tiap detiknya. Dalam doa, dalam aksi, dan dalam kreativitas yang terus mereka asah.

Pewarta: Isfahany Marsha Surya
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Santri Memaknai 1 Muharram

berita.nuruljadid.net – Ribuan santri Wilayah Al-Hasyimiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid memadati Aula I Pesantren, Senin malam (07/07/25), dalam peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H. Mereka berkumpul dalam suasana reflektif, menyimak kajian bertajuk “Hijrahkan Luka, Bangunkan Asa: Muharram Menjadi Titik Cahaya”.

Panitia kegiatan dari Angkatan 22 Al-Hasyimiyah mengangkat tema ini sebagai respon atas kegelisahan batin santri menghadapi zaman yang sarat goncangan. Mereka menghadirkan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Paiton, Zainul Arifin Adam, sebagai pemateri kegiatan.

Dalam penyampaian materinya, Zain mengulas peristiwa hijrah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi sebagai titik awal penanggalan Hijriyah. Ia menekankan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga spiritual dan sosial.

“Hijrah Rasulullah terjadi karena tekanan dan pemboikotan kaum Quraisy,” katanya. “Kalau kalian disakiti orang, pindah saja! Tapi kalau kalian punya tugas dan tanggung jawab, jangan asal pergi.”

Ia juga membedakan makna “Hijrah” dan “Hijriah”. “Hijrah adalah tindakan berpindah, sedangkan Hijriah adalah sistem penanggalan umat Islam,” jelasnya.

Sesi tanya jawab di akhir acara menyoroti persoalan batin, seperti penyakit hati. Salah satu santri bertanya bagaimana cara mengatasinya. Zain kemudian menegaskan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an.

“Obat hati yang paling mujarab adalah membaca Al-Qur’an, terutama beserta maknanya,” kata dia. “Karena saat kita membaca Al-Qur’an, itu artinya Allah sedang berfirman kepada kita. Sedangkan dalam salat, kita yang berbicara kepada-Nya.”

Beliau juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan tiga aspek manusia: otak, hati, dan perut. “Otak harus diisi ilmu, hati dengan dzikir, dan perut secukupnya saja,” ujarnya. “Terlalu banyak makan bisa jadi pemicu penyakit hati.”

Acara ini merupakan agenda Wilayah Al-Hasyimiyah yang menekankan pentingnya nilai-nilai spiritualitas dalam membangun kesadaran dan ketahanan diri santri di tengah tantangan zaman.

Pewarta: Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri

Editor: Ahmad Zainul Khofi

PPIQ Putri Gelar Sholat Hifdzil Quran sebagai Ikhtiar Menjaga Hafalan Santri

berita.nuruljadid.net – Santri Pusat Pendidikan Ilmu Qur’an (PPIQ) wilayah Al-Hasyimiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid melaksanakan Sholat Hifdzil Qur’an pada Jumat (20/6) dini hari pukul 01.00 WIB. Kegiatan ibadah tersebut bertempat di teras An-Annuriyah dan menjadi agenda rutin bulanan yang telah terjadwal dengan baik.

Sholat Hifdzil Qur’an merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk memperkuat hafalan Al-Qur’an para santri. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan ketenangan batin serta menguatkan daya ingat dalam proses menghafal ayat-ayat suci.

“Sholat Hifdzil Qur’an memiliki banyak manfaat. Di antaranya adalah membantu memperkuat ingatan, serta mengurangi kecemasan dan tekanan psikologis yang kerap dialami para penghafal Al-Qur’an,” terang Shofi Aqidatul Izzah, Kepala Bagian Tahfidzul Qur’an PPIQ.

Meskipun pelaksanaannya tidak harus pada malam hari, namun para santri PPIQ memilih waktu malam, khususnya malam Jumat, sebagai momentum terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Malam Jumat dipilih karena diyakini sebagai malam yang penuh keberkahan dan ketenangan,” tambahnya.

Sholat Hifdzil Qur’an dilaksanakan sebanyak empat rakaat dengan dua salam. Pada rakaat pertama, setelah membaca surah Al-Fatihah, dilanjutkan dengan Surah As-Sajadah. Rakaat kedua membaca Surah Yasin. Rakaat ketiga Surah Ad-Dukhon, dan rakaat keempat Surah Al-Mulk.

Pemilihan surah-surah tersebut bukan tanpa alasan. Masing-masing memiliki nilai spiritual dan keutamaan tersendiri.

“Surah As-Sajadah mengandung nilai ketundukan dan makna sujud yang dalam. Surah Yasin dikenal sebagai jantung Al-Qur’an. Adapun Surah Ad-Dukhon dan Al-Mulk memuat peringatan akan kematian dan hari akhir, sehingga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga hafalan sebagai bekal hidup,” jelas Shofi lebih lanjut.

Imam dalam pelaksanaan sholat ini telah ditentukan beberapa hari sebelumnya, untuk memastikan kesiapan dalam membaca surah panjang secara tepat. Selain itu, satu orang santri ditunjuk sebagai penyimak untuk mengantisipasi adanya kesalahan dalam bacaan.

Sholat Hifdzil Qur’an bukan hanya menjadi rutinitas ibadah, tetapi juga bagian dari pendekatan psikologis dan spiritual dalam proses pendidikan tahfidz. Kegiatan ini mencerminkan upaya berkelanjutan dalam menumbuhkan kecintaan santri terhadap Al-Qur’an secara utuh—baik secara hafalan maupun penghayatan makna.

 

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Gali Potensi Mahasiswi, Tamhidiyah Putri Nurul Jadid Rutin Gelar Forum Bulanan

berita.nuruljadid.net – Lembaga Tamhidiyah Mahasiswi Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menggelar kegiatan rutin bulanan yang bertujuan mengembangkan pola pikir dan potensi diri para mahasiswi. Acara ini berlangsung pada Kamis (19/6), bertempat di depan Asrama Patriot Panji Pelopor Putri, dan dihadiri oleh seluruh mahasiswi anggota Tamhidiyah.

Forum bulanan ini dilaksanakan secara berkala dengan tema dan penyaji yang selalu berganti, guna menjaga antusiasme peserta serta menyesuaikan dengan isu-isu yang relevan.

“Tempat dan waktu pelaksanaan forum menyesuaikan kondisi, dan kami selalu mengusung tema yang berbeda setiap bulannya agar tidak monoton,” jelas Dewi Wuryan, selaku moderator.

Penentuan tema ditetapkan oleh Koordinator Tamhidiyah, Azizah. Untuk forum kali ini, tema yang diangkat adalah “Menggugah Semangat dan Menemukan Potensi Mahasiswi”, dengan harapan dapat mendorong peserta untuk lebih mengenali diri dan termotivasi dalam menjalani peran sebagai santri dan mahasiswa.

Mengisi forum tersebut, hadir Neng Muthmainnah Waqid—akrab disapa Neng Iin—yang juga menjabat sebagai Sekretaris Putri Nurul Jadid. Dalam penyampaiannya, beliau mempresentasikan materi berjudul “Happiness Journey: Seni Menjalani Hidup dengan Seimbang”, yang disajikan melalui tayangan PowerPoint.

Dalam penjelasannya, Neng Iin menekankan pentingnya membangun keseimbangan dalam hidup, serta mengelola energi positif dalam menghadapi tantangan.

“Memang seperti itu pengaturannya. Ketika ingin melakukan kebaikan, terasa berat karena banyak godaan. Sebaliknya, keburukan terasa ringan karena setan justru mempermudah jalannya,” ungkapnya.

Forum ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga sarana penguatan karakter dan aktualisasi diri bagi para mahasiswi. Selain itu, kehadiran penyaji juga mendorong relevansi isu yang perlu disorot oleh pesantren.

 

Pewarta: Nabilatul Hikmah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Biro Pengembangan Putri Gelar Pelatihan Kader Dakwah

berita.nuruljadid.net – Biro Pengembangan Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid sukses menyelenggarakan Pelatihan Kader Dakwah pada Kamis, 29 Mei 2025. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari setiap Pengurus Daerah di wilayah Az-Zainiyah dan Al-Hasyimiyah, dan berlangsung di Aula Mahrom, wilayah Al-Hasyimiyah.

Acara dibuka dengan penuh khidmat oleh Nur Azizah selaku pembawa acara. Para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Pondok Pesantren Nurul Jadid dengan semangat tinggi sebagai wujud rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap pesantren.

Sambutan pertama disampaikan oleh Nyai Hj. Umi Hani’ah, yang memberikan motivasi kepada para peserta untuk menyerap ilmu sebaik mungkin. “Mari mengambil ilmu yang bermanfaat dari beliau. Semoga teman-teman bisa mengamalkan ilmu yang diserap dengan baik,” tuturnya.

Pelatihan ini menghadirkan Nyai Hj. Siti Khodijah Nur Salim sebagai pemateri utama. Beliau juga merupakan ibunda dari Nyai Hj. Umi Hani’ah. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi pesantren yang tetap menjaga nilai-nilai kebangsaan. “Saya sangat mengapresiasi pesantren ini karena masih tetap menyanyikan lagu Indonesia Raya di awal kegiatan,” ujarnya.

Dalam sesi materi bertema “Strategi Berdakwah dengan Baik”, Nyai Hj. Siti Khodijah menguraikan tiga pilar utama dalam dakwah berdasarkan Surah An-Nahl ayat 125, yaitu hikmah (kebijaksanaan), mau’idhah hasanah (nasihat yang baik), dan mujadalah (berdebat dengan cara yang baik).

Beliau juga menekankan pentingnya kedisiplinan waktu sebagai bagian dari karakter seorang pendakwah. “Sebagai pendakwah itu harus belajar disiplin waktu,” pesannya, yang disambut antusias oleh para peserta.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat dan keterampilan berdakwah para santri putri Pondok Pesantren Nurul Jadid, khususnya di wilayah Az-Zainiyah dan Al-Hasyimiyah, dapat semakin tumbuh dan berkembang, sejalan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang dijunjung tinggi.

Pewarta : Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini Ungkap Pentingnya Memiliki Sanad Keilmuan yang Jelas

berita.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan bahwa menuntut ilmu agama tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual tetapi harus disertai dengan bimbingan seorang guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Pernyataan tersebut beliau sampaikan dalam sambutan acara wisuda Amtsilati ke-XVI dan Imrithi ke-VIII, yang digelar oleh Wilayah Zaid bin Tsabit Putri di Aula I Pesantren, Senin (26/05/25).

“Belajar agama tidak sama seperti belajar ilmu pengetahuan umum. Sebab belajar agama tanpa guru bisa menyebabkan ketidakjelasan sanad. Sedangkan pelajaran umum bisa dilakukan secara otodidak dengan mengandalakan kecerdasan,” ujar Kiai Zuhri di hadapan para santri dan wali santri.

Kiai Zuhri juga menyinggung urgensi pembelajaran bahasa Arab sebagai prasyarat untuk memahami teks-teks keislaman klasik. Menurut beliau, bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, tapi juga kunci untuk memahami Al-Qur’an dan khazanah klasik Islam.

“Hukumnya fardhu kifayah. Jika tak ada yang paham bahasa Arab, siapa yang akan menjaga dan mengajarkan ilmu agama yang menggunakan bahasa Arab?” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, beliau turut merekomendasikan penggunaan metode pembelajaran bahasa Arab dan membaca kitab klasik yang efektif seperti Amtsilati, Al-Miftah, dan Nubdatul Bayan.

“Dengan metode-metode tersebut, pembelajaran baahasa Arab atau cara membaca kitab klasik bisa dipercepat,” terang beliau.

Acara wisuda yang dihadiri ratusan santri dan wali santri ini berlangsung khidmat. Kiai Zuhri menutup sambutannya dengan ajakan reflektif, agar santri tidak hanya tekun belajar, tetapi juga terus menjaga adab dan sanad dalam setiap laku keilmuan.

 

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Intip Kreativitas Santri Nurul Jadid Sambut Maulid Nabi

berita.nuruljadid.net – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 H di Pondok Pesantren Nurul Jadid dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. Selain pembacaan maulid diba’, simtuddurror, dan tausiah ulama, pesantren juga menyelenggarakan berbagai lomba untuk menambah semarak acara tersebut.

Salah satu lomba yang paling menarik perhatian adalah lomba parsel yang digelar di Wilayah Al-Hasyimiyah pada Senin malam (30/09). Berlokasi di depan daerah Al-Masruriyah, seluruh daerah di Wilayah Al-Hasyimiyah diwajibkan untuk berpartisipasi dalam perlombaan ini.

Penilaian lomba didasarkan pada tiga kriteria utama: kreativitas, kerapian, dan keindahan. Menariknya, parsel yang dirangkai oleh para santriwati tidak hanya dipamerkan, tetapi juga untuk diserahkan kepada keluarga pengasuh pesantren.

“Awalnya, kami mengusulkan lomba parsel dengan buah-buahan karena Maulid Nabi identik dengan buah. Namun, kami khawatir buah-buahan tersebut tidak segar saat diserahkan. Akhirnya, kami memutuskan untuk membuat lomba parsel snack,” ungkap Aulia Meca, Ketua Himpunan Abdi Santri Al Hasyimiyah selaku koordinator penyelenggara kegiatan.

Potret beberapa produk hasil karya santri dalam lomba parsel peringatan PHBI Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 H.

Setiap tim peserta terdiri dari empat orang, dengan waktu satu jam yang diberikan oleh panitia untuk merangkai parsel. Para peserta terlihat fokus dan bekerja sama untuk menyelesaikan parsel tepat waktu.

“Waktu satu jam cukup, karena kami diperbolehkan mempersiapkan item-itemnya terlebih dahulu. Di lokasi, kami hanya tinggal merangkai dan menghias parselnya,” ujar Fatimah Az-Zahra, perwakilan dari daerah Riyadlul Jinan yang berhasil meraih juara pertama.

 

Pewarta: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi