Gadis Ini Tinggalkan Papan Catur Demi Menjemput Barokah di Pesantren Nurul Jadid
Suara riuh rendah menggema di salah satu sudut lembaga Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ). Hari itu, Minggu (05/07/2026), rona antusiasme terpancar jelas dari wajah para wali santri dan calon santri yang memadati area Penerimaan Santri Baru (PSB). Di antara hiruk-pikuk tersebut, tampak sebuah keluarga kecil sedang duduk bersama, berbincang hangat mengenai babak baru masa depan putri tercinta mereka.
Gadis muda itu bernama Naura. Di saat banyak anak seusianya merasa berat atau bahkan terpaksa saat harus memasuki gerbang pesantren, Naura justru melangkah dengan keyakinan penuh. Ia mengaku bahwa keputusan besar untuk menuntut ilmu di balik dinding pesantren lahir murni dari keinginan dan lubuk hatinya sendiri, bukan karena paksaan siapapun.
Benih keinginan itu rupanya tidak tumbuh dalam semalam. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), orang tua Naura kerap memberikan pandangan dan cerita indah tentang nikmatnya menjalani kehidupan sebagai seorang santri. Cerita-cerita sederhana itulah yang perlahan memupuk kerinduan di hati Naura untuk bisa merasakan sendiri kehidupan di dalam pondok.”Bersyukur banget punya anak mau mondok, karena memang perempuan seharusnya di pondok,” ujar sang ibu dengan mata berkaca-kaca, mengenang momen ketika putrinya memantapkan hati.
Keputusan Naura untuk mondok sebenarnya bukanlah hal yang mudah bagi lingkungan sekolah lamanya. Pasalnya, Naura merupakan seorang siswi yang sangat berprestasi dalam bidang olahraga catur. Kemampuannya di atas papan catur sangat diandalkan untuk membawa harum nama sekolah, namun panggilan jiwa untuk mencari ilmu agama ternyata jauh lebih kuat. melihat semangat putrinya yang menggebu, orang tua Naura akhirnya merestui pilihan sang anak.
Bagi Naura, beradaptasi dengan lingkungan baru bukanlah sebuah momok yang menakutkan. Rekam jejak masa lalunya mencatat bahwa ia sudah terbiasa berpindah sekolah sebanyak empat kali dalam kurun waktu empat tahun .Pengalaman berpindah-pindah tempat itulah yang membentuk mental Naura menjadi pribadi yang tangguh dan mudah membaur.
Meski memiliki mental yang kuat, tahun pertama di pesantren tetap memberikan ujian berat bagi Naura. Rasa rindu rumah dan ketatnya disiplin pondok tak jarang membuatnya mengeluh kepada sang ibu. Namun, alih-alih menuruti keluhan manja sang anak, sang ibu memilih untuk menguatkan hati Naura dengan mengabaikan keluhan itu dan terus menyiramnya dengan motivasi serta semangat.
Keteguhan itu membuahkan hasil, dan kini Naura telah berhasil melewati tiga tahun pertamanya di pondok dengan baik. Alih-alih jenuh, ia justru memilih untuk melanjutkan estafet pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Nurul Jadid (MTSNJ). Wilayah Fathimatuzahro’ (FAZA) kini telah menjadi rumah kedua yang nyaman bagi langkah kakinya.
Alasan lain yang membuat Naura enggan pindah atau meneruskan sekolah di luar pondok adalah prestasi barunya. Ia telah resmi diterima disalah satu lembaga bahasa Inggris bergengsi yang berada di wilayah FAZA.”Nggak mau pindah karena sudah masuk di lembaga bahasa Inggris,” kenang Naura dengan senyum tipis mengingat komitmennya kala itu.
Baginya,kehidupan mondok sangatlah seru karena ia bisa merajut pertemanan dengan santri dari berbagai daerah. Sebuah pesan mendalam pun dititipkan oleh sang ibu sebagai jimat penyemangat dalam setiap langkah Naura ke depan. “Teruslah berusaha dan teruslah berjuang karena tidak ada usaha yang mengkhianati hasil,” ucapnya penuh harap.
Menutup perbincangan hangat di hari pendaftaran itu, sang ayah turut menyampaikan rasa bangga yang luar biasa atas pilihan hidup putrinya. “Saya bangga pada putri saya karena dia sangat bersemangat untuk mencari barokah Bu Nyai dan Kiai. Saya harap anak saya dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai santri yang baik dan patuh pada peraturan,”pungkasnya, melepas sang pion catur untuk memenangkan masa depannya diPesantren Nurul Jadid.
Pewarta: Isya Ramadhaniati dan Danisha Fahma Sania
Editor : Maria Al Faradela




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!