Bukan Keputusan Instan, Ini Alasan Orang Tua Rela Mondokkan Anaknya di Nurul Jadid
www.nuruljadid.net-Pelaksanaan Penerimaan Santri Baru (PSB) yang berlangsung pada Rabu (10/07/26) menjadi momentum penting bagi para orang tua untuk mengantarkan putra-putrinya menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ). Momen ini bukan sekadar seremoni pendaftaran, melainkan juga bentuk kepercayaan yang diberikan keluarga kepada lembaga pendidikan yang telah lama dikenal menjaga nilai-nilai kesantrian.
Konsistensi PPNJ dalam mempertahankan identitas kesantrian di tengah gempuran arus modernisasi menjadi salah satu alasan utama yang mendorong orang tua untuk melepas anak-anak mereka mondok di pesantren ini. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan meski zaman terus berubah, sehingga banyak keluarga merasa yakin menitipkan pendidikan putra-putrinya di lingkungan pesantren.
Tidak hanya menjadi daya tarik bagi orang tua, keteguhan PPNJ dalam menjaga amanah kepesantrenan selama bertahun-tahun juga turut memikat hati para calon santri baru. Banyak di antara mereka yang justru merasa antusias dan bersemangat untuk menimba ilmu di lingkungan yang kental dengan tradisi keislaman namun tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.
Salah satu wali santri, Taufiq, menjadi salah satu orang tua yang dengan mantap memberikan kesempatan kepada putrinya, Anaisa Afnan, untuk melanjutkan pendidikan tingkat Tsanawiyah di MTs Nurul Jadid (MTsNJ). Keputusan tersebut tidak lepas dari keinginan sang anak sendiri yang telah lama tertarik untuk mondok di pesantren tersebut.
“Memang pengen di sini, di MTs Nurul Jadid (MTsNJ). Soalnya denger cerita anaknya Ustazah saya di MI yang mondok di sini, katanya seru mondok di Nurul Jadid, jadi pengen di sini deh,” ujar Anaisa. Ungkapan sederhana ini menggambarkan bagaimana cerita positif dari sesama santri turut membentuk minat generasi baru untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.
Di sisi lain, kepercayaan terhadap PPNJ tidak hanya datang dari orang tua yang baru pertama kali mendaftarkan anaknya. Ada pula wali santri yang telah lebih dari satu kali mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada pesantren ini, bahkan hingga generasi ketiga dalam satu keluarga.
“Ini anak yang ke-3, kakaknya juga di sini. Alasan kami meletakkan mereka di sini karena amanah di sini terjaga. Sistem pengajarannya terbukti mencetak santri yang berkualitas. Meski begitu, tetap mengikuti era yang semakin modern,” ungkap salah satu wali santri. Pernyataan ini menegaskan bahwa kepercayaan keluarga terhadap PPNJ dibangun dari pengalaman nyata, bukan sekadar reputasi semata.
Bagi para wali santri yang merupakan alumni PPNJ, keputusan untuk kembali memondokkan anak-anak mereka juga didasari oleh keinginan untuk tetap menyambungkan tali silaturahmi antara guru dan murid. Ikatan emosional dan spiritual yang terjalin sejak mereka menjadi santri turut menjadi alasan kuat untuk mewariskan pengalaman serupa kepada generasi berikutnya.
Kerelaan orang tua untuk melepas anak-anaknya mondok bukanlah keputusan yang diambil secara instan. Di baliknya terdapat proses panjang berupa keyakinan, pengalaman, serta harapan besar agar anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan tetap memegang teguh identitas kesantrian meski hidup di era yang serba modern.
Melalui pelaksanaan PSB ini, PPNJ kembali membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Kepercayaan yang terus mengalir dari generasi ke generasi menjadi bukti nyata bahwa menjaga identitas kesantrian bukanlah penghalang kemajuan, melainkan fondasi kuat untuk mencetak santri yang berkualitas di masa depan.
Pewarta: Janeeta Firyal Achlia
Editor : Maria Al Faradela






