Di Balik Ikrar Santri, Tersimpan Doa dan Harapan Wali Santri

www.nuruljadid.net—Rangkaian Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) tidak sekadar menjadi proses administrasi, tetapi juga menjadi momentum lahirnya ikatan batin antara santri dengan pesantren. Salah satu prosesi yang sarat makna ialah pembacaan ikrar santri, yang menjadi pondasi awal perjalanan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid. Prosesi tersebut berlangsung di Aula II PPNJ, Rabu (1/7/2026).

Setelah menyelesaikan proses verifikasi administrasi, setiap santri baru dipandu untuk mengucapkan ikrar di hadapan wali santri dan petugas. Pendampingan ini dilakukan agar setiap kalimat yang diucapkan tidak hanya menjadi rangkaian kata, tetapi juga dipahami sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab selama menempuh pendidikan di pesantren.

Salah seorang petugas verifikasi, Afrida Nur Laili, menjelaskan bahwa pembacaan ikrar memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar seremoni.

“Pembacaan ikrar ini diucapkan oleh lisan, yang kemudian diharapkan lebih mengena ke dalam hati. Karena esensi dari ikrar adalah sumpah. Artinya, kita juga sedang berjanji kepada diri sendiri untuk menjalankan amanah sebagai santri,” ungkapnya.

Suasana haru turut menyelimuti prosesi tersebut. Di balik lantunan ikrar yang dibacakan para santri, tampak rasa syukur terpancar dari para wali yang menyaksikan putra-putrinya resmi memulai kehidupan sebagai santri Nurul Jadid.

Salah satunya dirasakan oleh Marti Dwi Vilanti, wali santri yang tak mampu menahan air mata ketika putrinya mengucapkan ikrar.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa memondokkan anak saya di sini. Semoga menjadi berkah, mendapatkan teman-teman yang baik, dan betah menuntut ilmu di pesantren,” tuturnya haru.

Bagi Afrida, prosesi tersebut juga menjadi pengingat bahwa keputusan para santri untuk mondok merupakan pilihan yang patut diapresiasi. Di tengah derasnya arus digital dan berbagai distraksi yang dihadapi generasi muda saat ini, mereka memilih menempuh jalan pendidikan pesantren sebagai bekal masa depan.

“Saya merasa mereka adalah anak-anak yang hebat. Ketika banyak teman seusianya menghabiskan waktu bersama gawai, mereka justru memilih mondok demi masa depan yang lebih baik. Itu adalah pilihan yang patut diapresiasi,” pungkasnya.

Melalui ikrar yang terucap, para santri tidak hanya mengawali status baru sebagai santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, tetapi juga menanamkan komitmen untuk menjaga akhlak, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, serta mengamalkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan sehari-hari.

Pewarta: Nilna Zahrah Afifah
Editor   : Maria Al Faradela

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *