Pesan Rasulullah di Balik Kemuliaan Ibadah Haji dan Umrah

www.nuruljadid.net– Suasana santri penuh dengan khidmat menyelimuti pengajian kitab Riyadhus Shalihin yang diasuh oleh KH. Moh. Zuhri Zaini pada sore hari ini. Dalam penjelasanya, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid tersebut mengupas tentang keutamaan ibadah haji dan umrah serta kedudukan istimewa para tamu Allah (dhuyufurrahman).

Kiai Zuhri mengisahkan sebuah peristiwa penting yang melibatkan Sayyidina Umar bin Khattab ra. Saat itu, Umar meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan ibadah umrah. Rasulullah pun memberikan izin seraya menitipkan sebuah pesan yang sangat menyentuh hati:

“Jangan lupakan kami dalam doamu, wahai saudaraku.”

Mendengar ucapan tersebut, Sayyidina Umar merasa sangat bangga dan bahagia. Beliau mengungkapkan bahwa permintaan doa dari lisan mulia Nabi Muhammad SAW jauh lebih berharga baginya daripada dunia beserta isinya. Dalam riwayat lain, Nabi juga bersabda, “Berilah bagian bagi kami dalam doamu, wahai saudaraku.”

Menurut Kiai Zuhri, kisah ini memberikan pelajaran mendalam bahwa haji dan umrah adalah momen istimewa di mana seseorang secara khusus “dipanggil” dan menghadap Sang Pencipta. Karena kedudukan istimewa inilah, doa-doa yang dipanjatkan oleh mereka yang berhaji dan umrah memiliki kekuatan luar biasa.

Doa orang yang berhaji dan umrah itu mustajab,” tegas Kiai Zuhri. Beliau menjelaskan bahwa pahala yang disediakan bagi mereka sangatlah besar, sehingga wajar jika Rasulullah sekalipun—sebagai bentuk ketawaduan dan pengajaran bagi umatnya—meminta didoakan oleh orang yang berangkat ke tanah suci.

Kiai Zuhri memberikan arahan kepada santri tentang cara yang benar dalam melepas atau berziarah kepada orang yang hendak berangkat ke Baitullah. Beliau menganjurkan agar kita meneladani Rasulullah dengan menitipkan pesan doa dan memberikan ucapan selamat.

Adapun ucapan yang dianjurkan untuk disampaikan kepada mereka yang berangkat adalah:

“Semoga Allah menjaga agamamu, amanahmu, dan akhir dari amal perbuatanmu.”

Kiai Zuhri mengingatkan bahwa keberangkatan haji dan umrah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang membawa keberkahan bagi diri sendiri maupun orang-orang yang menitipkan doa kepadanya.

 

Pewarta   : Ponirin Mika

 

Dari Paiton ke Pinggiran Jogja: Ketika Santri Berhadapan dengan Pemikiran Barat

penasantri.nuruljadid.net – Tahun pertama hidup di Jogja. Setahun sebelumnya di Paiton, saya masih ingat betul momen itu. Di siang terik di pesantren, dalam perjalanan menuju tempat “momen” itu meng-ada, kami sering berlari-lari kecil dengan tangan menggendong tas kamera dan buku catatan kecil melintasi lorong-lorong pesantren—konon, kedua alat itu adalah alat tempur kami untuk memburu “momen”. Tepat di hadapan event besar pesantren, kami yang masih duduk di kursi Aliyah kala itu, menatap euforia acara dengan rasa takjub, sekaligus ngeri. Bagaimana tidak? Kami harus merekam semua momen itu untuk diunggah ke laman nuruljadid.net. Saat itu, pikiran kami hanya bercakap-pasrah: “Yang penting fotonya bagus, kutipan narasumber pas, dan beritanya cepat naik”. Masa itu lepas. Ya, meski cukup berat berpisah, saya masih senang berkesempatan mengabdi bersama teman-teman ke pesantren. Seru!

Masa-masa sebagai Mahasiswa. Tahun pertama hidup di Jogja, ingatan-ingatan soal “berburu momen” itu sering berseliweran. Apa boleh buat, saya selalu menganggapnya sebagai “obat kangen” sekaligus kompas kehidupan yang paling nyata. Di Kota Pelajar ini, saya bertemu dengan dunia yang jauh berbeda. Ruang kelas yang awalnya penuh suara-suara setoran hafalan dan sorogan kitab santri, tetapi saat ini berubah, ruang itu telah dipenuhi oleh diskus-diskusi berbobot mahasiswa soal sosiologi, filsafat, sampai teori-teori kritis yang terkadang bikin kepala saya berdenyut sampai petang. Di momen itulah, saya merasa seperti sedang melakukan pulang kampung epistemologis. Ternyata, pilar karakter (core values) yang dulu saya dan santri-santri lainnya pelajari di pesantren—Trilogi Santri dan Panca Kesadaran Santri—bukan sekadar motto atau jargon, tapi lebih dari itu, nilai-nilai tersebut adalah alat paling sakti untuk bertahan hidup di tengah hiruk-pikuk dunia kampus yang serba cepat dan skeptis seperti sekarang ini.

“Reuni” Konsep di Meja Kuliah

Di kampus, dosen sering bicara soal integrasi-interkoneksi. Sebuah konsep yang mengajak kita untuk tidak menjadi manusia berkacamata kuda—istilah yang dipakai bagi seseorang berpandangan sempit: sekularis, misalnya. Awalnya saya mikir, “Wah, istilahnya keren dan akademis sekali ya?” Tapi setelah saya renungkan pelan-pelan, sambil menatap buku Islamic Studies di Perguruan Tinggi yang saya baca di pojok perpustakaan, saya malah tersenyum sendiri, ternyata konsep itu adalah “teman lama” yang saya temui kembali dalam seragam berbeda.

Di pesantren, kami memiliki pedoman hidup santri: Trilogi dan Panca Kesadaran Santri, salah satu silanya adalah Memperhatikan Kewajiban Fardlu ‘Ain. Dulu, saya sekadar memaknainya secara sederhana, sebatas kewajiban salat dan puasa. Tapi sejak di bangku kuliah, pemahaman saya atas makna itu semakin meluas. Saya mulai menyadari bahwa belajar sungguh-sungguh untuk memahami fenomena sosial, membedah ketidakadilan melalui teori, atau menjaga lingkungan juga merupakan cara kita menjalankan perintah-Nya—fardlu ‘ain—dengan “mengaji” Ayat-Ayat-Nya yang bertebaran di alam semesta. Allah itu Maha Luas, dan ilmu-Nya tidak hanya tersimpan di dalam baris-baris kitab kuning, tapi juga di laboratorium, di tumpukan jurnal, hingga di sela-sela fenomena kemasyarakatan.

Saya jadi teringat salah satu dawuh KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pesantren di tempat saya belajar dulu: “Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang hanya dikaji tanpa diamalkan”. Dawuh Kiai Zuhri ini adalah “jangkar”, saat teori baraat yang tampak canggih dan modern itu mulai menyilaukan pandangan saya. Di saat itu, kutipan inilah yang seolah menarik saya kembali ke rel hidup. Melalui kutipan itu, beliau mengingatkan saya bahwa kepintaran tidak ada harganya apabila hanya berakhir jadi tumpukan ijazah, alias tanpa pernah menyentuh kebutuhan masyarakat. Di sinilah interkoneksi itu terjadi secara alami: ilmu kampus membuat logika semakin tajam, tapi spirit pesantren membuat hati tetap tenang dan punya tujuan.

Panca Kesadaran: Etika di Tengah Arus Kritis

Jogja adalah kota yang sangat cair bagi pemikiran. Di sini, semua hal bisa dibedah, dikritik, bahkan didebatkan sekantuk-kantuknya. Tetapi, di Tengah kondisi itu, ada sedikit rasa khawatir yang berseliweran: Apakah saya akan kehilangan identitas santri di tengah arus pemikiran yang begitu deras ini?  Tidak. Bagi saya, Panca Kesadaran Santri bekerja seperti filter otomatis yang menangkal pemikiran-pemikiran sekuler yang mencoba menyelinap masuk ke alam pikir saya.

Dunia kampus acapkali menggoda kita untuk menjadi kritis hanya demi terlihat cerdas atau progresif, sampai-sampai terkadang kita lupa terhadap adab. Tetapi, sampai saat ini, ada satu ajaran yang saya terima ketika mondok dan tetap saya pegang teguh hingga saat ini, bahwa menjadi kritis itu harus bertanggung jawab. Artinya, kita boleh berargumen dengan dosen sehebat apa pun, atau berdebat dengan kawan setajam apa pun, namun takzim dan kesantunan adalah identitas yang tidak boleh tanggal, apa pun almamaternya.

Apa yang saya peroleh di pesantren soal tingkatan ilmu dan adab sangatlah berbekal manfaat ketika saya di sini. Selama saya melakukan liputan di pesantren, saya belajar bagaimana mendekati narasumber dengan sopan, mendengarkan mereka dengan penuh perhatian sebelum menulis catatan laporannya. Kesabaran, kesadaran, dan kehati-hatian itu adalah adab. Hingga saat ini, ketika saya harus menulis esai atau berdiskusi di forum mahasiswa, saya belajar untuk tidak merasa paling benar. Saya menyadari bahwa nilai-nilai pesantren bukan barang antik yang cukup diendapkan dalam lemari pikiran, tetapi mereka adalah perangkat hidup yang sangat adaptif dan harus kita terapkan dalam keseharian.

Menjadi Santri yang Terus Bertumbuh

Setahun berjalan bergelut dengan dinamika pendidikan di Jogja. Perjalanan itu membawa saya pada satu titik kesimpulan, bahwa seyogyanya pohon pengetahuan pesantren itu dapat dirawat dengan tanpa menutup diri dari dunia luar, seperti pemikiran-pemikiran barat. Apa yang harus dilakukan santri ketika di luar adalah berani berdialog dengan segala macam bentuk perubahan zaman pun yang menyimpang tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Bagi saya, integrasi-interkoneksi bukan lagi tulisan keren di brosur kampus atau spanduk seminar. Konsep itu adalah manifestasi seorang santri modern. Barangkali, dulu saya adalah siswi Aliyah yang sibuk memegang kamera demi konten berita pesantren. Sekarang, saya adalah mahasiswi yang membawa “lensa” pesantren itu untuk memotret dan memahami realitas dunia yang lebih luas.

Menulis opini ini rasanya seperti pulang ke Nurul Jadid, sejenak. Menghirup kembali udara pesantren melalui tulisan, meskipun kaki tetap tidak beranjak dari tanah Jogja. Pada akhirnya, di mana pun raga kita berpijak, baik di bawah terik matahari Paiton, pun di sudut perpustakaan Jogja, tujuan kita tetaplah satu: teguh pada prinsip bahwa ilmu yang kita cari hari ini adalah ilmu yang menuntun kita kembali kepada-Nya, lewat pengabdian kepada sesama.

Penulis: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

 

Santri Nurul Jadid Hadiri Upacara TMMD ke-128 Tahun 2026

berita.nuruljadid.net — Puluhan santri dari Pondok Pesantren Nurul Jadid turut ambil bagian dalam kegiatan Upacara TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Tahun Anggaran 2026 yang digelar dengan penuh khidmat. Kegiatan ini mengusung tema “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa”, sebagai wujud sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan berbasis desa.

Upacara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Probolinggo, Gus dr. Haris, yang bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program TMMD sebagai langkah nyata kolaborasi lintas sektor dalam membangun negeri dari tingkat desa. Ia juga menegaskan pentingnya peran TNI dalam mengawal suksesnya program pembangunan yang menyentuh langsung masyarakat.

Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid yang berjumlah sekitar 30 orang hadir sebagai bentuk dukungan moral sekaligus pembelajaran langsung tentang nilai-nilai kebangsaan dan pengabdian. Rombongan santri tersebut dipimpin oleh Ketua FKO Nurul Jadid, Zaki Finailir Raja, yang menyampaikan rasa bangganya dapat terlibat dalam momen penting tersebut.

> “Kami merasa bangga bisa hadir dan menyaksikan langsung proses yang monumental dalam pembangunan negeri melalui program TMMD. Ini menjadi pengalaman berharga bagi santri untuk memahami pentingnya kolaborasi dalam membangun Indonesia dari desa,” ungkapnya.

Peserta upacara terdiri dari berbagai unsur, di antaranya TNI, POLRI, BPBD, Dinas Perhubungan, serta santri dan pelajar se-Kabupaten Probolinggo. Kegiatan berlangsung dengan tertib dan lancar, dimulai pukul 08.55 hingga 10.00 WIB (22042026).

Dalam rangkaian acara tersebut juga dilaksanakan penyerahan berbagai bantuan sosial, termasuk peralatan kerja, santunan kepada kaum dhuafa, serta penyerahan truk Koperasi Merah Putih sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi UMKM desa. Bantuan ini diserahkan langsung oleh Bupati Probolinggo yang didampingi oleh Dandim 0820 Probolinggo, Letkol Inf. Ribut Yudo Apriyantono.

Turut hadir dan memberikan dukungan dalam kegiatan ini, Danramil Paiton, Kapten Chb Adi Suwarso, yang mendampingi rombongan santri selama mengikuti rangkaian acara.

Dari pihak Pondok Pesantren Nurul Jadid, kehadiran santri didampingi oleh Bidang Kelembagaan dan Peserta Didik Biro Pendidikan, Mujiburrohman dan Muhibbul Ikrom.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga sarana edukasi kebangsaan bagi para santri untuk menumbuhkan semangat gotong royong, nasionalisme, serta kepedulian terhadap pembangunan masyarakat desa.

 

Pewarta : Mujiburahman
Editor: Ponirin Mika

Kiai Zuhri Jelaskan Kunci Keselamatan dan Kebahagiaan

www.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, KH Moh Zuhri Zaini mengatakan bahwa jika seseorang ingin keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat maka harus melakukan dua hal yakni menuntut ilmu disertai akhlakul karimah.

“Dengan ilmu kita bisa mengetahui tata cara hidup sehingga bisa membedakan yang benar dan yang buruk,” katanya.

Lebih lanjut Kiai Zuhri mengungkapkan, agar ilmu berguna bagi masyarakat maka harus berbekal akhlak yang baik. Sebab ilmu mempengaruhi kepada kepribadian dan karakter yang dilakukan sehari-hari.

“Jika ada orang alim dan berilmu namun karakternya jelek maka ilmunya akan dibuat main main. Contohnya para koruptor, mereka berpendidikan tinggi dan mengetahui korupsi itu hal yang buruk, namun tidak disertai akhlakul karimah, akhirnya korupsi,” ungkapnya.

Menurutnya jika orang memiliki kepribadian yang baik maka hidupnya akan bahagia dan selamat bahkan disenangi oleh masyarakat. Oleh karena itu ilmu tidak akan mengantarkan kepada kesuksesan apabila tidak disertai dengan akhlak yang baik.

“Kunci kesuksesan dan kebahagiaan dunia dan akhirat adalah mempunyai ilmu dan akhlak yang baik,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan bahwa Rasulullah diutus oleh Allah SWT di dunia tujuan utamanya adalah untuk membenahi akhlak. Sebab jika akhlaknya baik maka akan bisa membahagiakan orang lain.

“Ilmu, keterampilan dan teknologi harus berada di tangan orang yang berakhlak sebab jika jatuh kepada orang yang buruk maka akan menjadi alat kejahatan bagi para koruptor dan pembobol bank. Oleh karena itu dalam mencari ilmu kita harus membina akhlak yang baik karena itu adalah kunci kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Di Hari Bumi, Santri Nurul Jadid Perkuat Ekologi Berbasis Nilai Pesantren

berita.nuruljadid.net — Ratusan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menggelar aksi lingkungan bertajuk “Santri Beraksi Bumi Lestari” dalam rangka memperingati Hari Bumi, Selasa (21/04/2026). Kegiatan yang melibatkan Santri Kalpataru, Gugus Depan Lengkap Saka Kalpataru Pramuka dan Tim Ekspedisi Raden Fatah ini menitikberatkan pada aksi bersih-bersih, pemilahan sampah, serta edukasi lingkungan di seluruh area pesantren.

Menyoal acara, kegiatan diawali dengan apel pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan bakti lingkungan berupa pengumpulan dan pemilahan sampah berdasarkan kategori organik dan anorganik di seluruh kawasan Pesantren Nurul Jadid.

Muhammad Ilzamul Khoir, pembina apel sekaligus penggagas kegiatan, menyatakan bahwa gerakan ini merupakan bentuk internalisasi nilai-nilai ekologis dalam kehidupan santri sehari-hari. Hal ini juga termuat pada trilogi santri nomor 3, yaitu berbuat baik kepada Allah dan sesama makhluk seperti memelihara kelestarian lingkungan.

“Menjaga bumi bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi juga manifestasi spiritualitas yang hidup. Alam adalah ayat kauniyah yang harus dibaca, dipahami, dan dijaga,” ujarnya.

Selain aksi kebersihan, kegiatan ini juga menghadirkan sesi sosialisasi berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai pendekatan ilmiah dalam pengelolaan limbah berkelanjutan. Kampanye pengurangan plastik sekali pakai turut menjadi bagian dari agenda, mengingat plastik merupakan salah satu kontributor utama pencemaran lingkungan secara global.

Alfantino Zuhri dari Tim Ekspedisi Raden Fatah, sebuah komunitas yang berfokus pada lingkungan kawasan gunung dan hutan, turut memberikan materi terkait konservasi biodiversitas dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

“Ekosistem adalah sistem yang saling terintegrasi. Kerusakan di satu titik berdampak pada titik yang lain, termasuk pada kehidupan manusia itu sendiri,” kata Cak Cebong, panggilan kerabnya.

Kegiatan ini menunjang peran santri sebagai agen perubahan sosial di bidang lingkungan. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan nilai-nilai teologis Islam, konsep khalifah fil ardh atau tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi, dengan prinsip-prinsip ilmiah pengelolaan lingkungan.

Kolaborasi antara Santri Kalpataru, Saka Kalpataru Pramuka dan Ekspedisi Raden Fatah dalam kegiatan ini juga mencerminkan pola kemitraan lintas komunitas dalam mendorong gerakan lingkungan berbasis lokal.

Ilzam menegaskan bahwa kegiatan semacam ini tidak akan berhenti pada momen peringatan Hari Bumi semata, melainkan menjadi bagian dari pembentukan karakter dan habitus ekologis santri secara berkelanjutan.

“Kami ingin ini menjadi budaya, bukan cuma acara. Kesadaran menjaga lingkungan harus menjadi bagian dari identitas santri Nurul Jadid,” tegasnya.

 

Pewarta: Muhammad Ilzamul Khoir
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Ranting NU Sumokali Sidoarjo Ngaji di PPNJ

www.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid menerima kunjungan dari jajaran Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Sumokali, Candi, Sidoarjo pada Minggu (19/4). Rombongan ini  terdiri dari gabungan kader Fatayat dan Muslimat NU juga tengah hadir dalam rangka memperkuat jalinan silaturahmi sekaligus melaksanakan agenda “Ngaji Bareng” di lingkungan pesantren.

Kehadiran tamu dari Sidoarjo ini disambut oleh perwakilan pengurus pesantren dianranya; Wakil Sekretaris Pesantren dan Pengurus Satuan Kerja Lainnya.

Dalam sambutannya Wakil Sekretaris Pondok Pesantren Nurul Jadid Nyai HJ. Muthmainnah Waqid menyampaikan apresiasi  atas dipilihnya pesantren ini sebagai tujuan studi banding dan ngaji bareng.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rombongan dari Sumokali Sidoarjo. Kehadiran ibu-ibu sekalian merupakan kehormatan bagi kami,” ujar perwakilan pesantren saat memberikan sambutan penerimaan.

Ia menambahkan, meski sedianya para jamaah berharap dapat menimba ilmu langsung dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, namun karena adanya agenda yang bersamaan (kres), pertemuan tersebut belum dapat terlaksana. Kendati demikian, antusiasme para peserta tidak surut.

Agenda kunjungan berlangsung khidmat dengan sesi berbagi pengalaman (sharing session) bersama Pengurus Fatayat Ranting Karanganyar. Pertemuan ini menjadi ajang pertukaran ide terkait pengelolaan organisasi dan penguatan peran perempuan dalam bingkai NU.

Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah ziarah ke makam para pendiri (astah) PPNJ. Di sana, para tamu memanjatkan doa bersama, merefleksikan kembali perjuangan para muassis (pendiri) dalam menyebarkan syiar Islam.

Sebelum meninggalkan kompleks pesantren, rombongan berkesempatan melakukan sowan ke kediaman Ibu Nyai Bisyaroh. Suasana haru dan khidmat menyelimuti pertemuan tersebut saat beliau memberikan wejangan serta doa restu kepada para tamu agar senantiasa diberikan kekuatan dalam berkhidmah di organisasi.

“Semoga semangat para ibu Fatayat dan Muslimat ini menjadi inspirasi untuk terus menerus melanjutkan perjuangan para tokoh pendiri NU, terlepas dari usia yang tidak lagi muda,” ungkap ning Iin.

Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama sebagai simbol eratnya persaudaraan antara masyarakat Sidoarjo dan keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Klinik Azzayniyah Gelar Pengabdian Masyarakat Terpadu di Karanganyar

www.nuruljadid.net– Klinik Azzayniyah Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo berkolaborasi dengan Komunitas Jenggala dan Pemerintah Desa Karanganyar menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat Terpadu di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan sekaligus kesadaran lingkungan masyarakat setempat. Acara yang dihadiri langsung oleh Ibu Wakil Bupati Probolinggo selaku pimpinan Komunitas Jenggala ini mendapat sambutan hangat dari warga. Fokus utama kegiatan mencakup pelayanan kesehatan gratis, edukasi pengelolaan sampah, hingga penguatan kader kesehatan melalui pelantikan Santri Husada.

Dalam kegiatan tersebut, tenaga medis dari Klinik Azzayniyah memberikan layanan pemeriksaan tekanan darah, konsultasi kesehatan, serta edukasi medis secara cuma-cuma. Antusiasme warga terlihat tinggi sejak pagi hari guna mendapatkan akses kesehatan langsung dari para ahli.

Selain aspek medis, masyarakat juga mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga. Edukasi ini ditekankan sebagai langkah preventif, mengingat kebersihan lingkungan memiliki korelasi langsung terhadap kesehatan keluarga dan masyarakat secara luas.

Salah satu agenda penting dalam rangkaian acara ini adalah pelantikan Santri Husada Klinik Azzayniyah. Para santri yang telah dibekali pengetahuan dasar kesehatan ini diproyeksikan menjadi kader kesehatan yang mampu menyampaikan pesan-pesan pola hidup sehat secara berkelanjutan di tengah masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran tokoh penting, di antaranya; Direktur Klinik Azzayniyah, Ketua Komunitas Jenggala (Ibu Wakil Bupati Probolinggo, Kepala Puskesmas Paiton, Kepala Desa Karanganyar

“Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ungkap salah satu pihak penyelenggara dalam sambutannya.

Pengabdian terpadu ini, diharapkan kerjasama antara lembaga kesehatan, komunitas sosial, dan pemerintah desa dapat terus dipererat demi mewujudkan masyarakat Kabupaten Probolinggo yang lebih sehat dan peduli terhadap lingkungan.

Pewarta   : Sri Astutik

Editor      : Ponirin Mika

Ke Ponpes Nurul Jadid Paiton, Menag paparkan peran historis pesantren

www.nuruljadid.net – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar melakukan kunjungan kerja dan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Jumat.
Dalam sambutannya Menag Nasaruddin Umar menyoroti peran historis pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia sejak abad ke-13 dan ia mengibaratkan sebagai penerus semangat Baitul Hikmah di Baghdad.

“Tugas kita di pondok pesantren adalah mengembalikan Baitul Hikmah yang ada di Baghdad. Semangat Ponpes Nurul Jadid adalah membangkitkan kembali kejayaan ilmu pengetahuan seperti era keemasan Islam, dimana ulama tidak hanya menguasai agama tetapi juga sains,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Menag juga menyebut pesantren bukan sekadar lembaga dakwah, melainkan juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat dan penggerak ekonomi.

Pada kesempatan itu Menag Nasaruddin Umar juga memuji kiprah santri yang telah tersebar luas dan mendorong agar pesantren dapat menjadi eksportir ulama yang membawa ajaran Islam yang moderat.

“Islam adalah agama dan ideologi terbuka, mengajarkan Islam adalah mengajarkan cinta, bukan kebencian. Jangan mengajarkan Islam dengan membenci orang yang berbeda agama,” ucap Menag Nasaruddin Umar.

Ia berpesan agar para santri dan ulama tetap menjaga nilai-nilai kelembutan, tawadhu, istikamah, muru’ah, dan ikhlas, yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat ini.

Menag Nasaruddin Umar juga mengingatkan agar para ulama tidak mengejar popularitas duniawi, melainkan fokus pada pengabdian. “Tidak perlu populer di bumi, tapi jadilah ‘artis’ di langit,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut Menag Nasaruddin Umar disambut langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Moh Zuhri Zaini.

Ponpes Nurul Jadid Paiton memberikan dukungan kepada Menag mengenai pembentukan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pesantren di Kementerian Agama (Kemenag) demi peningkatan perhatian pemerintah terhadap lembaga pendidikan Islam.

 

Sumber: Antaranews

Menteri Agama Berharap Pesantren Nurul Jadid Jadi Inspirasi Peradaban

www.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, mendapat apresiasi tinggi dari Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar. Dalam kunjungan silaturahimnya, Jumat (17/04/2026), Menag memuji kiprah pesantren ini sebagai mercusuar pendidikan yang tidak hanya berfokus pada dakwah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

Menag secara khusus menyoroti nama “Nurul Jadid” yang ia maknai sebagai cahaya baru dan energi positif bagi bangsa. Baginya, pesantren ini bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah ekosistem yang berhasil menyeimbangkan antara tradisi keilmuan yang mendalam dengan pengembangan kreativitas masyarakat.

“Pesantren Nurul Jadid memiliki spirit yang luar biasa dalam membangkitkan kembali kejayaan ilmu pengetahuan layaknya Baitul Hikmah di Baghdad masa lampau. Di sini, lahirlah ulama-ulama besar yang tidak hanya mumpuni dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan sains dan pengetahuan umum yang luas seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Haytham, Al-Farobi, Al-kindi,” tegas KH Nasaruddin Umar di hadapan pengasuh dan peserta yang hadir.

Lebih lanjut, Menag mengagumi keteladanan yang terpancar dari lingkungan pesantren. Ia menilai bahwa Nurul Jadid sukses menanamkan nilai-nilai kelembutan, tawadhu, muru’ah, dan keikhlasan—karakter yang menurutnya sangat krusial untuk dicontoh oleh masyarakat luas di tengah tantangan zaman saat ini.

“Pesantren Nurul Jadid telah menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang terbuka dan mengajarkan cinta kasih. Semangat perjuangan dan dakwah yang lahir dari sini bukan sekadar slogan, melainkan dedikasi untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa Indonesia,” tambahnya.

Menag juga memuji konsistensi para kiai dan pendidik di Nurul Jadid yang tetap istikamah menjaga tradisi pesantren tanpa tergoda popularitas duniawi. Menurutnya, dedikasi tanpa pamrih para ulama di Nurul Jadid adalah aset besar bangsa yang patut dijadikan teladan.

Dalam pertemuan tersebut, KH Moh. Zuhri Zaini menyampaikan apresiasi dan harapannya atas kehadiran Menteri Agama. Beliau juga menegaskan dukungannya terhadap pembentukan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pesantren demi peningkatan perhatian pemerintah terhadap lembaga pendidikan Islam.

 

Pewarta    : Ponirin Mika

 

Menteri Agama Prof Dr. KH. Nasharuddin Umar; Pesantren Nurul Jadid Salah Satu Pesantren Terbaik di Indonesia

www.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menjadi titik fokus penguatan sinergi antara pemerintah dan dunia pesantren. Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., melakukan kunjungan silaturahmi dan halal bihalal ke pesantren yang terletak di Paiton, Kabupaten Probolinggo ini. Kunjungan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat peran strategis pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat yang adaptif terhadap zaman.

Kehadiran Menteri Agama disambut langsung oleh pengasuh dan masyayikh PP Nurul Jadid, di antaranya KH. Moh. Zuhri Zaini. Turut hadir mendampingi Menag antara lain Staf Khusus dan Staf Ahli Menteri Agama, Wakil Bupati Probolinggo KH Fahmi AHZ, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Dr. Ahmad Muzakki, Rektor Universitas Nurul Jadid, serta jajaran pejabat Kemenag lainnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dilakukan pemutaran profil pondok pesantren serta dan video singkat peluncuran program Kampung Keren Pesantren dan Kampung Mandiri Pesantren. Inisiatif ini diproyeksikan mampu memperkuat kemandirian pesantren melalui pengembangan sektor pendidikan, ekonomi, dan pelayanan sosial berbasis komunitas.

Dalam arahannya, Menag menegaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki ketahanan luar biasa. Beliau mengajak pesantren untuk terus menghidupkan tradisi keilmuan yang integratif.

“Pesantren adalah pilar pendidikan Islam. Dengan adanya Direktorat Jenderal Pesantren, diharapkan akan lahir energi baru yang mampu memperkuat transformasi dan meningkatkan kualitas pesantren secara berkelanjutan,” tegas Prof. Nasaruddin.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai Islam yang menyejukkan. “Semarak beragama harus diiringi dengan kualitas. Islam harus hadir sebagai rahmat dan cinta, bukan sekadar simbol,” ungkapnya.

Selain itu, menag menegaskan Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Kita harus mengawal Pondok Pesantren menjadi kekuatan dan modal sosial bangsa untuk menuntun Indonesia meraih masa depan yang lebih baik dan kompetitif dengan negara-negara lainnya.

“Pondok Pesantren Nurul Jadid salah satu Pondok Pesantren terbaik di Indonesia sangat diharapkan menjadi penjaga umat masa depan,” pungkasnya

Pengasuh PP Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menyampaikan rasa syukur mendalam atas kunjungan ini. Beliau menekankan bahwa sejak awal berdiri, Nurul Jadid memadukan semangat keislaman dengan nasionalisme.

“Merupakan kehormatan bagi keluarga besar Nurul Jadid atas kehadiran Menteri Agama. Semoga membawa keberkahan dan memperkuat komitmen kami dalam pelayanan umat,” ujar Kiai Zuhri. Beliau juga memaparkan bahwa pesantren terus berinovasi dalam penguatan ekonomi guna mendukung kebutuhan santri dan masyarakat sekitar.

Sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah, Menteri Agama menyerahkan bantuan pendidikan kepada PP Nurul Jadid untuk penguatan kelembagaan dan peningkatan mutu pendidikan. Kunjungan ini diharapkan semakin memperkokoh sinergi dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang unggul, inklusif, dan berdaya saing global.

Pewarta   : Ponirin Mika

KH Moh. Zuhri Zaini: Halal Bihalal Adalah Momentum Tuntaskan Haqqul Adami

www.nuruljadid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia (hablum minannas) sebagai pelengkap kesalehan ritual. Hal ini disampaikan beliau dalam acara Khotmil Qur’an dan Halal Bihalal yang digelar di Masjid Nurul Jadid Al-Qomari, Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo Dr. Samsur, Asisten III Pemkot Probolinggo, jajaran pengurus MWCNU Wonoasih, tokoh masyarakat, serta ratusan santri dan alumni.

Dalam mauidhah hasanah-nya, Kyai Zuhri menegaskan bahwa ibadah Ramadhan yang bertujuan memperkuat hubungan dengan Allah (hablum minallah) harus disempurnakan dengan budaya saling memaafkan. Menurut beliau, dosa kepada sesama manusia atau haqqul adami memiliki konsekuensi yang berat.

“Dosa yang berkaitan dengan sesama manusia tidak akan terampuni tanpa adanya penyelesaian secara langsung dengan pihak yang bersangkutan,” tegas Kyai Zuhri.

Beliau juga mengingatkan jamaah agar menjauhi perbuatan dzalim, seperti; Mengambil hak orang lain secara tidak sah. Merusak nama baik sesama. Perbuatan ghibah (membicarakan keburukan orang lain).

Lebih lanjut, Kyai Zuhri mengutip hadis Nabi Muhammad SAW mengenai golongan orang yang “muflis” atau bangkrut di akhirat. Yakni mereka yang datang membawa pahala shalat dan puasa yang melimpah, namun pahala tersebut habis diambil untuk membayar tuntutan orang-orang yang pernah didzaliminya di dunia.

Selain pesan moral, Kyai Zuhri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kebersamaan sebagai fondasi kehidupan yang harmonis. Beliau memandang bahwa stabilitas sosial hanya bisa dicapai jika ulama, pemerintah (umara), dan masyarakat berjalan beriringan.

“Kebersamaan antara ulama, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan stabilitas sosial serta meminimalisir potensi konflik,” ujarnya di hadapan para undangan, termasuk Habib Qushay dan para Gus muda dari PP Nurul Jadid.

Wali Kota Probolinggo, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten III, memberikan apresiasi tinggi terhadap peran organisasi kemasyarakatan dan pesantren dalam mendukung program strategis pemerintah, termasuk program penataan kota “Probolinggo Kota Bersolek”. Pemerintah mencatat bahwa kontribusi spiritual dan sosial dari kalangan pesantren turut mendongkrak indeks pembangunan masyarakat di wilayah tersebut.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memperkuat komitmen para alumni yang tergabung dalam P4NJ (Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid).

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

 

Cari Inspirasi Dakwah, LTM Sukodono Sidoarjo Bidik Ponpes Nurul Jadid Jadi Role Model Pengelolaan Masjid

www.nuruljadid.net – Lembaga Takmir Masjid (LTM) tingkat kecamatan Sukodono, Sidoarjo melakukan kunjungan silaturahmi sekaligus studi manajemen ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Ahad (12/04/2026). Rombongan yang terdiri dari puluhan pengurus takmir ini bertujuan menimba ilmu tata kelola kemasjidan berbasis nilai-nilai kepesantrenan.

Ketua Rombongan, Ustaz Ibrahim, menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan agenda rutin tahunan setiap bulan Syawal yang dilakukan dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Namun, bagi LTM Sukodono, ini adalah kali pertama mereka menginjakkan kaki di pesantren yang didirikan oleh KH. Zaini Mun’im tersebut.

“Kami datang untuk menimba pengetahuan agar para pengurus LTM dapat menjaga dan mengelola masjid supaya menjadi tempat untuk melestarikan ajaran Ahlusunnah wal-Jamaah an-Nahdliyah,” ujar Ustaz Ibrahim dalam sambutannya.

Ia juga menambahkan bahwa kunjungan ini sekaligus menjadi ajang mengenal profil pesantren lebih dalam bagi para pengurus yang berencana menyekolahkan putra-putri mereka di Nurul Jadid.

Kehadiran rombongan disambut hangat oleh jajaran pimpinan pesantren di Aula 1 Pesantren. Mewakili pengasuh, Gus Moh. Imdad Robbani memaparkan sejarah berdirinya pesantren. Beliau menjelaskan bahwa KH. Zaini Mun’im sejatinya tidak memiliki niat awal mendirikan pesantren saat tiba di Jawa.

“Kiai Zaini sebenarnya lari dari Madura ke Jawa karena kejaran Belanda. Beliau kemudian bersembunyi di kediaman Kiai Syamsul Arifin (Ayahanda Kiai As’ad Syamsul Arifin) yang merupakan famili beliau,” ungkap Gus Imdad.

Atas petunjuk Kiai Syamsul Arifin, Kiai Zaini akhirnya menetap di wilayah Karanganyar, Paiton, yang saat itu masih berupa hutan belantara. Dalam merintis pesantren pada tahun 1948, Kiai Zaini dibantu oleh santri setianya, Kiai Sufyan Miftahul Arifin, yang kemudian hari menjadi ulama besar di Situbondo.

Selain mendengarkan sejarah, para pengurus takmir juga berdiskusi mengenai pengelolaan lembaga yang modern namun tetap tradisionalis. Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran strategis Pesantren Nurul Jadid, di antaranya: Gus Moh. Imdad Robbani (Wakil Kepala Pesantren),Ustaz H. Thohiruddin (Sekretaris Pesantren), Ustaz Nurul Iman (Kasubbag Protokoler), Ustaz Mujiburrahman (Kabid Kelembagaan dan Peserta Didik), Ustaz Alief Hidayatullah (Sekretaris Biro Kepesantrenan)

Pondok Pesantren Nurul Jadid sendiri dikenal sebagai salah satu pesantren terbesar di Jawa Timur yang mengintegrasikan sistem pendidikan umum dan agama. Saat ini, pesantren tersebut mengelola berbagai satuan pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi (Universitas Nurul Jadid), menjadikannya rujukan bagi lembaga keagamaan seperti LTM dalam mempelajari manajemen tata kelola organisasi yang mandiri dan berkelanjutan.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Santri Diminta Bijak Gunakan Medsos

www.nuruljadid.net – Wakil Kepala Pesantren I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Moh. Imdad Rabbani, M.Th.I, mengingatkan para santri agar tidak larut dalam tren media sosial yang tidak membawa manfaat, terutama selama masa liburan Ramadan 1447 Hijriah.

Pesan tersebut disampaikan Gus Imdad, sapaan akrabnya, dalam pengarahan kepada para santri menjelang kepulangan mereka ke rumah masing-masing. Arahan itu disampaikan mewakili Pengasuh Pesantren, KH Moh. Zuhri Zaini, dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi pesantren pada Rabu (4/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Gus Imdad menekankan bahwa Ramadan merupakan momentum berharga yang seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal ibadah dan kegiatan positif.

“Kalau diibaratkan seperti game, Ramadan itu babak bonus. Jadi setiap yang kita lakukan di bulan Ramadan ini nilainya berbeda dengan di luar Ramadan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa waktu santri saat berada di rumah cenderung lebih longgar dibandingkan ketika di pesantren. Karena itu, para santri diminta tidak menghabiskan waktu hanya untuk tidur.

“Memang benar tidurnya orang berpuasa itu ibadah. Tapi jangan tidur terus ketika pulang ke rumah. Manfaatkan sisa Ramadan ini dengan maksimal,” katanya.

Selain itu, Gus Imdad juga mengingatkan pentingnya menjaga adab dan nilai-nilai yang telah dipelajari di pesantren, termasuk dalam pergaulan sehari-hari.

“Hal-hal yang tidak boleh dilakukan di pesantren, seperti bertemu dengan yang bukan mahram, tetap harus dijaga ketika di rumah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti penggunaan telepon genggam oleh santri selama berada di rumah. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kesempatan untuk melatih kontrol diri, mengingat di pesantren penggunaan gawai dibatasi oleh aturan ketat.

“Ketika di rumah dan sudah diberi fasilitas HP oleh orang tua, di situlah waktu terbaik untuk melatih diri agar memiliki kontrol diri yang lebih baik,” ujarnya.

Meski demikian, ia tidak melarang penggunaan media sosial selama dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti mengakses konten edukatif maupun kajian keagamaan.

Gus Imdad menegaskan bahwa di luar lingkungan pesantren, pengawasan utama berasal dari kesadaran pribadi masing-masing santri.

“Di pesantren ada aturan dan pengawasan. Tapi ketika di rumah, yang menjaga adalah kesadaran diri kita sendiri,” katanya.

Beliau mengajak para santri lebih selektif dalam mengonsumsi konten digital dan tidak sekadar mengikuti tren yang sedang viral tanpa manfaat.

Pewarta  : Ponirin Mika

Awali Perdana Kerja, Gus Imdad Tekankan Tajdidun Niat dan Disiplin dalam Mengabdi

www.nuruljadid.net – Mengawali geliat aktivitas pendidikan pasca-libur panjang, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menggelar apel perdana yang diikuti oleh pengurus pesantren yang terdiri dari satuan-satuan kerja, dosen, guru, serta karyawan pada Rabu (01/04/2026).

Pada acara apel tersebut, bertindak sebagai pembawa acara Miftahul Huda, pimpinan peleton Mujiburrahman, petugas pembaca Trilogi dan Panca Kesadaran Santri Nurul Iman, serta petugas doa Adiyatno Hidayat.

Pada kesempatan tersebut, Gus Moh. Imdad Robbani (Gus Ama’) sebagai pembina apel menekankan pentingnya tajdidun niat (pembaruan niat) dan kedisiplinan total bagi seluruh elemen pesantren. Di hadapan jajaran pengurus, dosen, guru, serta karyawan, Gus Imdad menegaskan bahwa pengabdian di pesantren harus didasari pada nilai ibadah, bukan sekadar rutinitas profesional.

“Pastikan kembalinya kita ke pesantren murni untuk berkhidmat dan ibadah. Buang sisa-sisa euforia liburan dan fokus penuh pada tanggung jawab. Pekerjaan kita harus berorientasi jangka panjang sebagai bekal di akhirat nanti,” tegas beliau dalam amanatnya.

Gus Imdad juga meminta agar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) segera berjalan efektif sejak jam pertama. Beliau memberikan peringatan keras agar tidak ada kelas yang kosong atau guru yang terjebak dalam obrolan liburan berkepanjangan di lingkungan pendidikan.

Poin-poin utama amanah yang disampaikan beliau meliputi: Uswah Hasanah: Seluruh staf dan pendidik wajib menjadi teladan dalam ketepatan waktu hadir di masjid, kelas, dan kantor. Akselerasi Program: Setiap divisi diminta segera berkoordinasi untuk mengejar target program kerja yang tertunda. Kedisiplinan Santri: Pengurus diminta bersikap tegas namun tetap edukatif dalam memulihkan ritme disiplin santri setelah masa libur.

Selain itu, Gus Imdad memerintahkan adanya audit kebersihan di asrama dan ruang kelas demi menjamin kenyamanan proses belajar.

“Hal yang terkadang tidak kita perhatikan adalah soal kebersihan. Saya berharap agar kebersihan lingkungan pesantren, sekolah perlu diperhatikan,” tegasnya.

Pewarta  : Ponirin Mika

Ketua GKJW Kraksaan Puji Pesantren Nurul Jadid; Pesantren yang Terbuka bagi Urusan Kebangsaan

www.nuruljadid.net – Dalam semangat mempererat tali persaudaraan antarumat beragama, keluarga besar Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Kraksaan melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Senin (30/3). Kunjungan ini dimaksudkan untuk merayakan kebahagiaan Idul Fitri 1447 H bersama keluarga besar pengasuh pesantren nurul jadid yang diwakili oleh Gus Imdad Robbani Wakil Kepala Pesantren dan Kepala Biro Pengembangan Masyarakat Gus Fahmi Abdul Haq Zaini.

Ketua GKJW Kraksaan, Pdt. Josephine Christiana Sutrisno, menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap Pesantren Nurul Jadid yang selama ini dikenal memiliki wawasan kebangsaan yang luas dan sikap terbuka terhadap seluruh lapisan masyarakat.

“Kami melihat Pesantren Nurul Jadid sebagai institusi yang hidup di tengah masyarakat serta aktif memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami merasa sangat dihargai sebagai saudara melalui jalinan silaturahmi yang telah terbangun baik selama ini,” ujar Pdt. Josephine.

Rombongan yang hadir tidak hanya berasal dari internal GKJW Kraksaan, tetapi juga melibatkan perwakilan lintas gereja dan organisasi kristiani lainnya, di antaranya: Pdt. Josephine Christiana Sutrisno (Ketua GKJW Kraksaan) beserta suami., Bpk. Achmad Hidayanto (Sekretaris GKJW Kraksaan), Bpk. Denny Lasut (Utusan GKJW MD Malang III Timur), Bpk. Dwi Kasongko (Komisi Antar Umat Beragama GKJW Kraksaan), Ibu Chres Martalinda (Komisi Peranan Wanita) dan Ibu Sri Winarni (Pengawas Perbendaharaan), Bpk. Pujianto beserta dua utusan dari GKJW Probolinggo, Bpk. Gunawan (Ketua Dewan Paroki Gereja Katolik Kraksaan).

Kunjungan ini berfokus pada penguatan kerukunan (silaturahmi) yang sudah lama menjadi fondasi hubungan antara komunitas Kristen-Katolik di wilayah Kraksaan dengan pihak pesantren. Kehadiran rombongan disambut hangat oleh jajaran pengurus Pesantren Nurul Jadid dalam suasana kekeluargaan yang erat.

GKJW Kraksaan berharap pesan perdamaian dan kolaborasi dalam membangun bangsa dapat terus terpelihara, menjadikan perbedaan sebagai kekayaan yang memperkuat persatuan, khususnya di wilayah Probolinggo dan sekitarnya.

Pewarta    : Ponirin Mika