Dihadapan Pengurus Pesantren, Kiai Abdul Hamid Tekankan 5 Pilar Pesantren dan Geopolitik

www.nuruljadid.net – Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, menegaskan pentingnya penguatan internal pesantren guna menghadapi fase Great Transformation atau perubahan global yang penuh ketidakpastian. Hal ini disampaikannya dalam acara Halalbihalal Pegawai Nurul Jadid di Paiton, Probolinggo, 29 Maret 2026.

Kiai Hamid menyoroti bahwa konflik global saat ini berdampak langsung pada aspek ekonomi dan arus informasi di lingkungan pesantren. Ia mengimbau agar pesantren tidak pasif, melainkan harus bertindak strategis dan memperkuat fondasi organisasi.

“Pesantren harus tampil tegas dan mampu memperkuat fondasi dari dalam agar tetap relevan serta berdaya saing di tengah dinamika dunia,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kiai Hamid memaparkan lima fokus utama yang harus dijalankan: Rekonsiliasi Hati: Saling memaafkan untuk menjaga persatuan internal. Ruhul Khidmah: Memperkuat jiwa pengabdian sebagai benteng moral. Kualitas SDM: Penguasaan teknologi dan kemampuan berpikir kritis. Program Tepat Guna: Penyusunan agenda yang berdampak pada kemandirian pesantren. Efisiensi Anggaran: Pengelolaan dana yang produktif dan bertanggung jawab.

Selain pilar tersebut, Kiai Hamid menekankan pentingnya sikap Wasathiyah (moderat). Pesantren diharapkan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu global yang berkembang.

Beliau menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa kekuatan utama pesantren terletak pada nilai-nilai yang kokoh dan semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan zaman.

 

Pewarta    : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Pengabdian di Pesantren Adalah Ibadah, Utamakan Keikhlasan dan Ilmu

www.nuruljadid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. M. Zuhri Zaini, memberikan orasi spiritual dalam agenda tahunan Halalbihalal Pengasuh dan Pengurus di Aula 1, Minggu (29/3/2026). Di hadapan ribuan pengurus, beliau menegaskan bahwa setiap aktivitas di pesantren sejatinya adalah manifestasi ibadah yang harus dijalankan dengan ketulusan hati.

Acara yang berlangsung khidmat sejak pukul 13.00 WIB ini dihadiri oleh keluarga besar pengasuh dan seluruh jajaran pengurus. Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri mengajak hadirin merefleksikan kefanaan usia sebagai pendorong untuk meningkatkan kualitas amal saleh.

“Tahun kemarin kita masih bersama, namun tahun ini mungkin di antara kita ada yang hanya mendapat kiriman Al-Fatihah,” ujar beliau mengawali tausyiahnya.

Kiai Zuhri mengingatkan agar para pengabdi tidak terjebak pada orientasi materi semata, melainkan mengedepankan ridha Allah SWT. Menurut beliau, ketulusan dalam berkhidmat akan berbanding lurus dengan keberkahan hidup.

“Jika seseorang tekun beribadah dan mengabdi dengan ikhlas, maka Allah akan melapangkan kehidupannya. Urusan dunia akan mengikuti bagi mereka yang mengejar akhirat,” tutur beliau.

Namun, beliau memberikan catatan penting bahwa niat yang suci harus dibarengi dengan metodologi yang benar. Keselarasan antara niat dan cara kerja menjadi kunci agar pengabdian tidak menyimpang dari tuntunan agama.

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa prinsip kerja ikhlas, kerja keras, dan kerja tuntas harus dipayungi oleh Panca Kesadaran, yang meliputi:

  1. Kesadaran Beragama

  2. Kesadaran Berilmu

  3. Kesadaran Bermasyarakat

  4. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

  5. Kesadaran Berorganisasi

Dalam aspek manajerial, Kiai Zuhri menggarisbawahi pentingnya profesionalitas sesuai Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi). Beliau berpesan agar sinkronisasi antarbagian diperkuat melalui koordinasi rutin guna menghindari ketimpangan kerja.

Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa setiap aktivitas di pesantren adalah ruang belajar (iqra’) yang berkelanjutan. Beliau mencontohkan keteladanan para kiai terdahulu yang terus belajar hingga mampu memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.

“Kita sedang beribadah kepada Allah melalui khidmat kepada santri. Maka, bekerjalah dengan ilmu, karena amal tanpa ilmu berpotensi tidak diterima,” pungkasnya.

Pewarta    : Ponirin Mika

Ribuan Pengurus Pesantren Ikuti Halal Bihalal

www.nuruljadid.net – Pondok Pensantren Nuru; Jadid menggelar kegiatan halalbihal yang diikuti oleh pengasuh, dewan pengasuh bersama dengan ribuan pengurus. Acara tersebut berlangsung di Aula 1 Pesantren pada Ahad (29/03/2026). Pada kesempatan itu pula, kegiatn ini menjadi ajang reorientasi niat sekaligus penguatan strategi organisasi di tengah dinamika dunia.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. M. Zuhri Zaini, dalam tausiyahnya menekankan bahwa pengabdian di pesantren harus dipandang sebagai dimensi ibadah yang utuh. Beliau mengingatkan bahwa orientasi utama seorang pengabdi adalah mencari ridha Allah SWT, di mana profesionalisme kerja harus berjalan beriringan dengan ketulusan hati.

“Jika seseorang mengabdi dengan ikhlas, maka Allah akan melapangkan kehidupannya. Bekerja untuk akhirat, maka urusan dunia akan mengikuti,” tutur Kiai Zuhri di hadapan ribuan pengabdi yang hadir.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri menawarkan formula pengabdian yang komprehensif dengan memadukan prinsip kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas yang dibalut dalam Panca Kesadaran. Lima pilar kesadaran tersebut meliputi aspek beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta berorganisasi. Menurutnya, keselarasan ini akan melahirkan kerja sama tim yang solid dan profesional sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) masing-masing.

Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, memaparkan langkah strategis pesantren dalam merespons dampak konflik global yang mulai memengaruhi sektor ekonomi dan arus informasi. Kiai Hamid menegaskan bahwa pesantren tidak boleh bersikap pasif, melainkan harus memperkuat fondasi internal agar tetap relevan.

Untuk menjawab tantangan zaman, Kiai Hamid merumuskan Lima Pilar Penguatan Pesantren:

  1. Rekonsiliasi Hati: Menjaga persatuan internal melalui semangat saling memaafkan.
  2. Ruhul Khidmah: Memperkokoh jiwa pengabdian sebagai benteng moral organisasi.
  3. Peningkatan Kualitas SDM: Mendorong penguasaan teknologi dan kemampuan berpikir kritis.
  4. Program Tepat Guna: Menyusun agenda kerja yang berdampak nyata pada kemandirian pesantren.
  5. Efisiensi Anggaran: Mengelola produktivitas dengan prinsip tanggung jawab yang ketat.

Selain aspek manajerial, Kiai Hamid juga menyoroti pentingnya sikap Wasathiyah atau moderat. Pesantren diharapkan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu global yang berkembang secara liar.

Sesuai dengan rundown, kegiatan ini diakhiri dengan saling-memaaf-maafan antara pengurus ke pengasuh dan pengurus pada sesama pengurus.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

 

BSI Pacu UMKM Naik Kelas dan TORASERA Nurjah Berkah sebagai Business Hub

berita.www.nuruljadid.net – Akselerasi ekonomi kerakyatan di Jawa Timur mendapat momentum besar melalui kolaborasi strategis sektor perbankan syariah dan institusi pendidikan Islam. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat penyaluran pembiayaan UMKM nasional sebesar Rp52,58 triliun per Desember 2025, sementara di tingkat akar rumput, Pondok Pesantren Nurul Jadid memperkuat ekosistem tersebut dengan meluncurkan TORASERA (Toko Rakyat Serba Ada).

Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, menegaskan bahwa dukungan BSI melampaui aspek permodalan. Melalui skema syariah seperti murabahah dan musyarakah, BSI fokus pada pendampingan komprehensif agar pelaku usaha mikro mampu bersaing secara global.
“Kami mendorong UMKM untuk bankable melalui coaching clinic, sertifikasi halal, hingga strategi branding. Expo seperti UMKM Ramadan Fair 2026 di Jember, Probolinggo, dan Malang adalah strategi efektif mempertemukan 75 UMKM binaan kami dengan investor potensial,” jelas Erwan.

Dalam ajang tersebut, BSI juga menyerahkan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara simbolis kepada pelaku usaha Sektor 4P. Langkah ini diperkuat dengan kolaborasi bersama Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kementerian Keuangan untuk mengisi ceruk pembiayaan Ultra Mikro (UMi) yang terintegrasi.

Sejalan dengan semangat kemandirian ekonomi tersebut, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Faiz Abdul Haq Zaini, menegaskan TORASERA Berkah sebagai manifestasi pengabdian pesantren kepada masyarakat luas. Proyek ini tidak hanya berfungsi sebagai unit ritel, tetapi diproyeksikan menjadi pusat kendali bisnis (Business Hub).
“Kami ingin memastikan manfaat ekonomi pesantren tidak hanya berhenti di balik tembok asrama, melainkan dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai bentuk pelayanan ekonomi yang inklusif,” tegas Gus Faiz.

Beliau menambahkan bahwa TORASERA akan menjadi tulang punggung yang menyokong operasional Koperasi Merah Putih di Paiton, Probolinggo. Dengan transformasi menjadi Business Hub, unit ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kemandirian umat yang lebih kokoh dan berkelanjutan di wilayah Probolinggo dan sekitarnya.

Sinergi antara pembiayaan perbankan dan infrastruktur ekonomi berbasis komunitas seperti yang dilakukan Nurul Jadid dipandang sebagai kunci pertumbuhan ekonomi nasional. Direktur Kerjasama Pendanaan dan Pembiayaan PIP, Muhammad Yusuf, menekankan pentingnya ekosistem yang mencakup pendampingan dan fasilitas pasar.
Melalui integrasi antara akses modal dari BSI dan wadah pemberdayaan seperti TORASERA, diharapkan para pelaku usaha grassroot dapat naik kelas secara sistematis, meningkatkan kapasitas usaha, dan memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekosistem halal Indonesia di kancah internasional.

 

Pewarta   : Ponirin Mika

Sedekah Kepada Orang Jauh Saat Keluarga Dekat Membutuhkan Tak Dihitung Pahala

www.nuruljadid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, memberikan penekanan penting mengenai etika dan urutan prioritas dalam bersedekah. Beliau menegaskan bahwa kerabat dekat dan tetangga harus menjadi sasaran utama sebelum memberikan bantuan kepada orang lain yang jaraknya lebih jauh. Pernyataan ini disampaikan beliau saat mengaji kitab Nashoihud Diniyah. Ahad (03/03/26).

Menurut Kiai Zuhri, tindakan mengusir peminta-minta sebelum disapa merupakan indikasi kuat adanya sifat kikir dalam diri seseorang. Namun, dalam konteks menyalurkan harta, Islam telah mengatur urutan prioritas agar manfaatnya lebih terasa dan mempererat tali persaudaraan.

Kiai Zuhri menjelaskan bahwa jika dalam satu waktu keluarga, famili, dan tetangga sama-sama membutuhkan bantuan, maka keluarga wajib didahulukan.

“Sedekah yang diberikan kepada keluarga memiliki nilai ganda, yaitu nilai sedekah itu sendiri dan nilai silaturahim,” tegas beliau.

Keluarga diposisikan sebagai prioritas utama karena merekalah orang pertama yang akan memberikan pertolongan saat anggota keluarga lainnya mengalami kesulitan.

Hal yang paling krusial dalam pesan beliau adalah mengenai keabsahan “nilai” sedekah tersebut. Kiai Zuhri mengingatkan bahwa mengabaikan keluarga atau tetangga dekat yang sedang sangat membutuhkan, demi memberi kepada orang yang jauh, dapat membatalkan esensi pahala sedekah itu sendiri.

“Artinya, jika ada keluarga atau tetangga yang sangat membutuhkan tetapi seseorang lebih memilih memberi kepada orang jauh—dan orang dekat tersebut mengetahuinya—maka perbuatan itu tidak dihitung sebagai sedekah,” ungkapnya.

Beliau menngingatkan para santri dan masyarakat akar tidak terjebak pada formalitas memberi, namun melupakan hak-hak orang terdekat yang seharusnya menjadi tanggung jawab utama.

Pewarta   : Ponirin Mika

Kiai Hamid Wahid Ingatkan Pengurus: Pesantren Harus Jadi Benteng Krisis Karakter

www.nuruljadid.net – Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, menegaskan pentingnya inovasi dalam pengelolaan pesantren untuk menghadapi krisis nilai dan tantangan zaman yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya kepada para pengabdi dan pengelola pendidikan di lingkungan pesantren, Ahad (08/03/26).

Menurut Kiai Hamid, kondisi bangsa saat ini tengah menghadapi krisis nilai dan karakter yang serius. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, sisi kemanusiaan dan kecerdasan manusia kerap kali tersamarkan oleh arus perubahan yang begitu cepat.

“Langkah-langkah yang diambil dalam pengelolaan pesantren harus terus mengalami peningkatan kualitas. Jika tidak ada peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, maka sesungguhnya kondisi tersebut menunjukkan posisi yang merugi,” tegasnya.

Kiai Hamid menjelaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat dilihat secara instan. Proses pendidikan berhubungan langsung dengan manusia yang memiliki perasaan, karakter, serta potensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, setiap pengabdian di pesantren harus disertai dengan pembaruan niat untuk berkhidmat secara sungguh-sungguh.

Ia juga meluruskan persepsi mengenai keikhlasan. Menurutnya, ikhlas bukan berarti bekerja seadanya.

“Justru, keikhlasan menuntut seseorang untuk memberikan yang terbaik tanpa menjadikan materi sebagai ukuran utama dalam bekerja. Pengabdian di pesantren bukan semata-mata pekerjaan yang dihitung berdasarkan untung dan rugi secara materi, tetapi merupakan bentuk pelayanan yang memiliki nilai kemuliaan sekaligus tanggung jawab yang besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kiai Hamid menekankan bahwa peran pesantren sangatlah luas, mulai dari lembaga pengajaran, pengkaderan calon pemimpin masa depan, hingga pusat dakwah dan pelayanan masyarakat. Fungsi-fungsi strategis tersebut tidak dapat dijalankan secara individual, melainkan harus dilaksanakan secara kelembagaan dengan kesadaran berorganisasi yang kuat.

Ia berharap para guru dan pengelola yang telah lama mengabdi dapat memanfaatkan pengalaman dan keahlian mereka sebagai modal penting agar pesantren tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

Acara tersebut ditutup dengan ajakan bermunajat kepada Allah SWT agar berbagai peristiwa yang terjadi, baik di tingkat daerah, nasional, maupun global, senantiasa diberikan perbaikan dan kebaikan.

Pewarta  : Ponirin Mika

Pahala Langkah Kaki dan Menunggu Sholat

www.nuruljadid.net – Ibadah sholat berjamaah bukan sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan pundi-pundi pahala sejak langkah pertama dimulai. Hal inilah yang ditekankan oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, dalam pengajian khataman kitab Nashoihud Diniyah . Selasa (24/02/26).

Menurut Kiai Zuhri, setiap jengkal jarak yang ditempuh seorang hamba menuju rumah Allah merupakan investasi akhirat yang luar biasa. Beliau bahkan memaparkan sebuah pandangan menarik dari sebagian ulama: pilihlah jalur yang lebih jauh.

Jika seseorang memiliki dua pilihan jalan menuju masjid, Kiai Zuhri menyarankan untuk mengambil rute yang paling panjang. Logikanya sederhana namun mendalam: semakin banyak langkah kaki yang terayun, semakin berlipat ganda pahala yang dicatat oleh malaikat.

“Semakin jauh perjalanan seseorang ke masjid, maka semakin banyak pahala yang didapat,” tutur beliau.

Namun, beliau tetap memberikan catatan penting: semangat mencari pahala langkah kaki ini tidak boleh mengabaikan ketepatan waktu. Upayakan tetap hadir sebelum jamaah dimulai.

Tak hanya perjalanan menuju masjid, momen “menunggu” pun tak luput dari curahan rahmat. Kiai Zuhri menjelaskan bahwa seseorang yang duduk diam di dalam masjid sembari berzikir atau beristighfar menunggu waktu sholat, sejatinya sedang dianggap melaksanakan sholat di sisi Allah SWT.

Kiai Zuhri mengungkapkan beberapa poin utama keutamaan menunggu sholat antara lain:
• Pahala Setara Sholat: Menunggu waktu Jumat atau duduk di antara Maghrib dan Isya dengan berzikir/istighosah dihitung pahalanya sama seperti sedang menjalankan sholat.
• Doa Malaikat: Selama seseorang duduk menunggu waktu sholat, para malaikat tidak berhenti memanjatkan doa kebaikan untuknya.
• Penghapus Dosa: Sesuai sabda Nabi SAW, memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu sholat setelah sholat sebelumnya adalah amalan yang mampu menghapus dosa serta amalan-amalan tersebut sangat utama, Kiai Zuhri dengan bijak mengingatkan tentang skala prioritas. Beliau menegaskan bahwa memperbanyak langkah dan menunggu di masjid adalah ibadah sunnah.

“Jika hal ini berbenturan dengan sesuatu yang wajib, maka harus mendahulukan yang wajib,” tegasnya. Jika ada kewajiban lain di rumah atau urusan penting yang mendesak, pulang setelah sholat tetap diperbolehkan dan tidak mengurangi nilai ketakwaan seseorang.

Beliau juga memberikan peringatan reflektif mengenai kepemimpinan. Meski seseorang yang meninggalkan sholat mungkin bisa meraih kejayaan dan menjadi pemimpin di dunia, namun di akhirat kelak, kemuliaan tersebut tidak akan mereka dapatkan.

 

Pewarta   : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini Tegaskan Qiyamul Lail sebagai Kunci Kesehatan Jasmani dan Rohani

www.nuruljadid.net- KH Moh Zuhri Zaini membedah hakikat keimanan seorang mukmin yang tercermin dari kedekatannya dengan sang Pencipta di sepertiga malam. Beliau menekankan bahwa salah satu ciri utama orang beriman adalah mereka yang “lambungnya jauh dari tempat tidur,” merujuk pada kebiasaan menegakkan shalat malam atau qiyamul lail.

Dalam pengajian khataman kitab Nashoihud Diniyah di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Jum’at (27/02/26), Kiai Zuhri mengisahkan peristiwa di akhirat saat manusia mencari perlindungan. Di saat para Nabi lain berucap “nafsi-nafsi” (diriku sendiri), hanya Nabi Muhammad SAW yang bersujud memohon syafaat bagi umatnya hingga Allah SWT mengabulkan doa tersebut.

Sebagai bentuk cinta kepada Nabi, umat Islam dianjurkan menghidupkan malam.

“Paling utamanya shalat setelah shalat lima waktu adalah qiyamul lail. Ini bukan sekadar ibadah, tapi kebiasaan orang-orang sholeh terdahulu yang menjadi sarana pendekatan diri kepada Allah,” ujar Kiai Zuhri.

Beliau juga memaparkan manfaat multidimensi dari ibadah malam, di antaranya: pertama; menghapus perbuatan buruk yang telah lalu. Kedua; mencegah seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan. Ketiga; secara medis dan spiritual, qiyamul lail dipercaya mampu menghilangkan penyakit dari tubuh.

Menariknya, Kiai Zuhri mengingatkan agar tidak berlebihan melampaui kemampuan fisik. Beliau mengisahkan tiga sahabat yang ingin meniru ibadah Nabi secara ekstrem. Nabi Muhammad SAW kemudian menegur mereka dan berpesan agar beribadah sesuai kemampuan.
“Segala sesuatu yang dilakukan berlebihan tanpa mengukur kemampuan itu kurang baik. Nabi bisa melakukan ibadah yang panjang karena fisik dan ruhaninya sudah tertempa sejak kecil melalui berbagai ujian hidup,” jelasnya.

Sealin itu, Kiai Zuhri juga meluruskan stigma negatif terhadap Islam. Beliau menegaskan bahwa Islam adalah agama keselamatan dan perdamaian. Jika Nabi terlibat perang, hal itu semata-mata karena merespons serangan, bukan sebagai agresor.

Beliau mengkritik narasi sejarah yang terbalik, di mana pihak yang sebenarnya menjajah dan merampas kemerdekaan justru menuduh Islam sebagai agama kekerasan.

“Islam berdakwah tanpa kekerasan. Kini, dengan bantuan media sosial, wajah asli Islam yang damai mulai terlihat dan menarik banyak orang untuk memeluknya,” tambahnya.

Kiai Zuhri merangkum empat amalan utama bagi setiap muslim untuk meraih surga dengan penuh kedamaian, yaitu menyebarkan kedamaian dan saling menghormati, memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, menyambung silaturahmi, mendirikan shalat malam di saat manusia lain tertidur lelap.
Terkait durasi shalat malam, beliau mengutip pesan Nabi agar tetap shalat meski hanya sebentar, “sekalipun seperti waktu di antara dua perasan susu.” Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi lebih diutamakan agar perilaku seseorang tetap terjaga baik di hadapan Allah maupun manusia.

 

Pewarta  : Ponirin Mika

Menjadi Ibadurrahman dengan Jalur Istiqamah

www.nuruljadid.net- Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya konsistensi dalam ibadah sebagai kunci meraih derajat ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang terpilih). Pesan ini disampaikan dalam pengajian khataman kitab Nashaihud Diniyyah di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Paiton, Sabtu (28/02/2026).

Kiai Zuhri memaparkan tiga ciri utama sosok shalih yang disebut sebagai ‘Ibadurrahman. Pertama, memiliki sifat tawadhu atau rendah hati dalam keseharian. Kedua, mampu menjaga lisan dengan tidak membalas makian orang jahil. Ketiga, senantiasa menghidupkan malam dengan sujud dan shalat (Qiyamul Lail).

“Jika tidak mampu banyak, kerjakanlah sebisanya, meskipun hanya dua rakaat,” ujar Kiai Zuhri memotivasi jamaah agar tidak merasa berat untuk memulai shalat malam.

Beliau juga mendorong jamaah untuk menjaga interaksi dengan Al-Qur’an. Bagi penghafal Al-Qur’an, beliau menyarankan agar ayat-ayat tersebut dibaca secara berurutan saat shalat malam hingga khatam dalam satu bulan. Kiai Zuhri bahkan memberikan teguran keras bagi umat Islam yang mengabaikan kitab sucinya.

“Kalau seseorang seumur hidupnya tidak pernah mengkhatamkan Al-Qur’an, itu sungguh keterlaluan,” tegasnya.

Terkait metode beramal, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa prinsip istiqamah jauh lebih utama daripada kuantitas yang hanya dilakukan sesekali. Beliau juga memperluas makna wirid, yang menurutnya tidak terbatas pada zikir lisan, melainkan segala amal baik yang dilakukan secara rutin seperti puasa sunnah hingga menjaga kebersihan masjid.

Beliau memberikan catatan kritis mengenai definisi “orang jahil”. Menurut Kiai Zuhri, jahil bukan sekadar orang yang tidak berilmu, melainkan mereka yang memiliki ilmu namun perilakunya tetap buruk.

 

Pewarta    : Ponirin Mika

Zakat Adalah Benteng Harta dan Pembersih Jiwa

www.nuruljadid.net-Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya menunaikan zakat sebagai instrumen penyucian harta dan perlindungan diri bagi umat Muslim. Hal tersebut disampaikan beliau dalam acara khataman kitab Nashoihud Diniyah yang berlangsung di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Ahad (01/03/26).

Kiai Zuhri menjelaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban formal, melainkan sumber keberkahan yang mencakup aspek keagamaan maupun keduniaan. Beliau menegaskan bahwa orang yang gemar berzakat dan bersedekah tidak akan menjadi miskin, melainkan hartanya akan terus bertumbuh dalam keberkahan.

Mengutip hadis Nabi SAW, Kiai Zuhri menjelaskan bahwa menunaikan zakat dengan hati yang senang dapat menghilangkan sisi buruk atau “kotoran” dari harta yang dimiliki.
“Harta yang dizakati dengan penuh keikhlasan akan terlindung dalam penjagaan Allah. Sebaliknya, harta yang ditahan dan tidak dikeluarkan zakatnya akan kehilangan keberkahannya karena di dalamnya terdapat hak orang miskin yang belum tersampaikan,” tutur beliau.

Beliau juga mengingatkan fenomena perubahan perilaku manusia saat diuji dengan kekayaan. Banyak orang yang saat hidup pas-pasan dikenal rajin beribadah dan santun kepada tetangga, namun berubah menjadi lalai dan sombong setelah bergelimang harta. Zakat, menurut beliau, adalah obat agar hati tetap rendah hati dan selamat dari bahaya fitnah harta.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri memaparkan dampak buruk bagi mereka yang enggan berzakat, baik secara lahiriah maupun batiniah: Secara Lahir (Dhohir): Harta bisa habis seketika atau pemiliknya menjadi fakir yang selalu mengeluh dan memprotes takdir Allah. Secara Batin: Harta yang dimiliki tidak memberikan manfaat bagi agama maupun kehormatan pemiliknya. Kekayaan tersebut justru menjadi beban dan gagal menutupi aib pemiliknya.

Beliau memberikan ilustrasi tentang seorang wanita kaya raya di Hong Kong yang hidup sebatang kara dan sangat kikir. Setelah meninggal, seluruh hartanya menjadi milik negara tanpa meninggalkan manfaat spiritual bagi dirinya.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa sifat dermawan adalah magnet cinta dari sang Khalik dan sesama makhluk. Beliau mengibaratkan sedekah sebagai obat bagi orang yang sakit dan benteng bagi kekayaan.

“Orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sebaliknya, orang yang dermawan dekat dengan Allah, dicintai manusia, dan dekat dengan surga,” pungkasnya.

 

Pewarta  : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini; Kisah Lalat Penyelamat Imam Suyuti

www.nuruljadid.net – Sedekah sering kali diidentikkan dengan pemberian materi atau harta benda. Namun, dalam pengajian Kitab Nashoihud Diniyah di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selasa (04/03/26), KH Moh Zuhri Zaini menegaskan bahwa hakikat sedekah jauh lebih luas. Beliau mengingatkan bahwa tutur kata yang baik, sikap yang menyejukkan, hingga upaya memasukkan kegembiraan ke dalam hati sesama mukmin adalah bentuk sedekah yang bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

Kiai Zuhri menggambarkan situasi mencekam di Padang Mahsyar kelak, saat manusia dibangkitkan dari kubur dalam keadaan lapar, haus, dan letih. Di tengah keputusasaan tersebut, tidak ada yang dapat menolong selain amal perbuatan, khususnya sedekah.

“Sedekah itu dapat menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api,” ujar Kiai Zuhri mengutip sabda Rasulullah SAW.

Beliau menjelaskan adanya balasan yang nyata dari Allah SWT bagi mereka yang ikhlas: Siapa yang memberi pakaian kepada orang lain di dunia, Allah akan memberinya pakaian di akhirat. Siapa yang memberi makan karena Allah, ia akan diberi makan di akhirat. Siapa yang memberi minum dengan tulus, Allah akan dipuaskan dahaganya di hari penghakiman.

Kiai Zuhri juga menyoroti pentingnya meluruskan niat. Sedekah diperbolehkan jika tujuannya untuk menyenangkan orang lain, namun menjadi terlarang jika tujuannya adalah memuaskan diri sendiri melalui pujian atau riya. Beliau juga mengingatkan agar kebaikan tidak dilakukan secara “musiman” (terikat waktu tertentu), karena konsistensi adalah cermin dari keikhlasan.

Sebagai inspirasi, beliau mengisahkan keteladanan Kiai Abdul Lathif, ayah dari ulama legendaris KH. Moh. Kholil Bangkalan. Meski hidup dengan ekonomi pas-pasan, Kiai Abdul Lathif tak pernah putus bersedekah dengan niat agar putranya menjadi orang alim. Berkat keikhlasannya, beliau dikaruniai putra yang kemudian menjadi guru dari ulama-ulama besar di nusantara.

Kiai Zuhri mengimbau agar umat tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Beliau menceritakan kisah Imam Suyuti yang mendapatkan kemuliaan di alam kubur bukan semata karena banyaknya kitab yang ia tulis, melainkan karena pernah membiarkan seekor lalat hinggap dan minum di penanya saat sedang menulis.

Bahkan, tindakan sederhana seperti seorang dosen yang rutin memberi makan semut di belakang rumahnya pun dihitung sebagai sedekah yang setara dengan memberi makan manusia.
“Jangan menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi. Setiap perbuatan baik adalah sedekah, dan apa yang nampak remeh di mata manusia, bisa jadi sangat besar di hadapan Allah,” pungkasnya.

 

Pewarta  : Ponirin Mika

Ibadah Bukan Beban, Tapi Kebutuhan:  KH Moh Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net – KH Moh Zuhri Zaini menyampaikan mengenai hakikat penghambaan manusia kepada Sang Pencipta. Beliau menegaskan bahwa ibadah seharusnya tidak dipandang sebagai beban yang memberatkan, melainkan sebuah kebutuhan dasar bagi jiwa manusia, layaknya obat bagi orang yang sedang sakit.

Kiai Zuhri menjelaskan bahwa bagi mereka yang belum terbiasa, ibadah mungkin terasa berat dan “pahit”. Namun, hal itu ibarat orang sakit yang enggan meminum obat karena rasanya yang tidak enak, padahal di dalam obat tersebut terdapat kesembuhan.

“Ibadah kepada Allah itu merupakan kebutuhan kita. Bagi yang belum terbiasa, memang terasa berat karena belum merasakan manfaatnya. Padahal, manfaat ibadah sangatlah besar jika dilaksanakan dengan konsisten dan baik,” tutur beliau saat memabahas teks kitab nashoihud diniyah pada kegiatan khataman kitab di masjid jami’ Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Rabu (25/02/26).

Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya peran orang tua dalam melatih anak-anak mendirikan sholat sejak usia tujuh tahun. Meski belum bersifat wajib secara syariat, pembiasaan sejak dini adalah kunci agar ibadah menjadi gaya hidup yang ringan dilakukan saat dewasa nanti.

Menariknya, Kiai Zuhri juga menyoroti aspek fleksibilitas dalam Islam. Beliau menjelaskan bahwa agama ini tidak hadir untuk menyulitkan pemeluknya. Ada batasan-batasan tertentu (uzur) yang memperbolehkan seseorang mendapatkan keringanan, seperti: Kondisi Fisik: Sakit parah yang membuat seseorang sama sekali tidak bisa berjalan atau sangat sulit untuk bergerak. Etika Publik: Seseorang yang mengalami diare dilarang ke masjid agar tidak mengganggu jamaah lain atau menajiskan tempat suci. Kesehatan Mental: Puasa adalah alat kendali diri, namun jika dipaksakan saat sakit parah hingga mengancam nyawa, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Beliau mengingatkan bahwa semangat beribadah harus dibarengi dengan ilmu. “Semangat itu baik, tapi jangan sampai berlebihan hingga tidak memperhatikan hal-hal yang justru merusak sholat atau menimbulkan masalah baru,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri menyentil fenomena orang-orang yang terlalu mengejar kesenangan dunia hingga melupakan hak-hak Allah. Beliau menegaskan bahwa dunia adalah tempat untuk berikhtiar, bukan sekadar bersenang-senang.

“Jika ingin punya ilmu, ya belajar. Jika ingin harta, ya bekerja. Allah memang Maha Kuasa, tapi Dia mengatur alam ini dengan hukum sebab-akibat. Jangan hanya berdoa dan pasrah tanpa usaha,” tegas Kiai Zuhri.

Kiai Zuhri mengingatkan bahwa ketundukan kepada Allah adalah jalan satu-satunya menuju keselamatan. Barangsiapa yang meninggalkan perintah-Nya karena silau oleh kemilau dunia, sesungguhnya ia sedang merugikan dirinya sendiri di masa depan.

Pewarta : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini; Rahasia Pahala di Balik Langkah Kaki dan Menunggu Sholat

www.nuruljadid.net- Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menekankan pentingnya memaksimalkan amalan sunnah saat menuju dan menunggu waktu sholat berjamaah. Beliau menjelaskan bahwa setiap langkah kaki menuju masjid serta durasi waktu menunggu sholat merupakan investasi pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Dalam penjelasannya, Kiai Zuhri memaparkan bahwa langkah kaki menuju masjid memiliki keutamaan sebagai penghapus dosa. Beliau bahkan menyarankan umat Islam untuk memilih jalur yang lebih jauh jika terdapat dua pilihan rute menuju masjid.

“Semakin jauh perjalanan seseorang ke masjid, maka semakin banyak pahala yang didapat. Namun, tentu harus diupayakan agar tidak terlambat melaksanakan sholat jamaah,” ujar Kiai Zuhri saat mengaji kitab Nashoihud Diniyah di Masjid Jami’ Nurul Jadid. Selasa (24/02/26).

Selain perjalanan, aktivitas menunggu waktu sholat juga memiliki kedudukan mulia. Seseorang yang duduk di masjid sembari berzikir atau beristighfar—seperti saat menunggu waktu Jumat atau antara Maghrib dan Isya—dihitung pahalanya sama seperti orang yang sedang melaksanakan sholat. Selama masa tunggu tersebut, malaikat pun terus mendoakan kebaikan bagi orang tersebut.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri mengutip hadits Nabi Muhammad SAW mengenai tiga amalan yang dapat menghapus dosa dan meninggikan derajat, yaitu:
1. Menyempurnakan wudhu pada saat malas.
2. Memperbanyak langkah kaki menuju masjid.
3. Menunggu sholat setelah melaksanakan sholat sebelumnya.

Meski demikian, beliau memberikan catatan penting mengenai skala prioritas. Karena amalan-amalan tersebut bersifat sunnah, maka tidak boleh mengalahkan kewajiban lain yang mendesak.

“Jika hal ini berbenturan dengan sesuatu yang wajib, maka harus memilih yang wajib. Tidak masalah jika harus pulang ke rumah karena ada kewajiban lain yang harus dikerjakan,” tegasnya.

Kiai Zuhri mengingatkan bahwa keberhasilan di dunia tanpa diiringi ibadah sholat tidak akan bernilai di akhirat. Seseorang mungkin bisa menjadi pemimpin di dunia tanpa sholat, namun posisi mulia tersebut tidak akan mereka dapatkan di kehidupan setelah kematian.

 

Pewarta : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini Tekankan Pentingnya Menghadirkan Hati

www.nuruljadid.net– Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kiai Zuhri Zaini, memberikan pesan mendalam mengenai hakikat ibadah shalat. Beliau menegaskan bahwa shalat bukan sekadar penggugur kewajiban formal, melainkan sarana mi’raj (naiknya ruh) seorang mukmin untuk menghadap Allah SWT.

Kiai Zuhri menjelaskan perbedaan mendasar antara peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan shalat yang dilakukan umatnya. Jika Rasulullah diperjalankan secara fisik dan batin menuju Sidratul Muntaha, maka bagi umatnya, mi’raj dilakukan melalui batin. Uraian ini disampaikan saat mengisi pengajian kitab Nashoihud Diniyah (22/02/26).

“Kita bisa melakukan mi’raj kepada Allah, tapi dengan batin, bukan dengan badan atau fisik,” tutur beliau.

Meski perintah shalat bermula dari 50 waktu hingga menjadi 5 waktu, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa nilai pahalanya tetap setara dengan 50 waktu, asalkan dikerjakan dengan kualitas yang benar.
Dalam ceramahnya, beliau mengutip bahwa posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Sang Pencipta adalah saat sujud. Namun, ia memberikan catatan kritis: sujud tersebut harus disertai kekhusyukan dan ketundukan total.

“Bukan hanya sujud dengan menempelkan dahi ke bumi. Shalat yang dikerjakan tanpa menghadirkan hati atau asal-asalan tidak akan membawa kebaikan, justru bisa mendatangkan keburukan karena hilangnya adab kepada Allah,” tegas Kiai Zuhri.

Beliau mencontohkan, saat lisan mengucap Allahu Akbar, hati pun harus ikut merasakan kesucian dan keagungan Allah. Shalat yang kering dari rasa ghoflah (kelalaian) inilah yang mampu membawa perubahan positif dalam kehidupan seseorang.
Menanggapi keluhan banyak orang tentang sulitnya fokus, Kiai Zuhri berpesan agar tidak menunggu datangnya rasa khusyuk untuk mulai memperbaiki shalat. Kekhusyukan adalah sebuah proses yang harus dilatih secara konsisten.

“Hati ini sulit dikendalikan kecuali sudah terbiasa. Maka berusahalah dengan sungguh-sungguh, renungkan apa yang dibaca, dan jangan terburu-buru,” pesannya.

Beliau juga menekankan bahwa kualitas ibadah jauh lebih utama daripada sekadar mengejar angka. Hal ini berlaku tidak hanya dalam shalat, tetapi juga dalam membaca Al-Qur’an.

“Shalat itu tidak harus (mengejar) banyak, tapi laksanakan dengan baik. Begitu juga membaca Al-Qur’an, jangan terburu-buru. Meski hanya khatam satu bulan sekali, itu jauh lebih baik jika disertai dengan pemahaman isinya,” pungkas beliau.

 

Pewarta   : Kadapi Ananda

Editor      : Ponirin Mika

Khusyu’ itu Saat Raga Mematung dan Hati Menghadap Ilahi; Berikut Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net – Sholat bukan sekadar gerakan fisik yang menggugurkan kewajiban. Di balik ruku’ dan sujud, terdapat ruh bernama khusyuk yang menjadi penentu kesempurnaan ibadah. Dalam pengajian terbaru pada Ahad (22/02/26), Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, membedah urgensi ketenangan hati dalam shalat.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa khusyuknya anggota badan merupakan buah dari ketenangan hati. Tanpa hati yang hadir, mustahil raga bisa tenang. Beliau mengutip standar khusyuk dari para ulama: Jika seseorang masih menyadari siapa yang berada di samping kanan atau kirinya saat sholat, maka ia belum mencapai hakikat khusyuk. Orang yang benar-benar khusyuk tidak akan menyadari lingkungan sekitarnya karena seluruh kesadarannya terserap dalam dialog dengan Allah SWT.

“Meskipun kita belum mencapai tingkatan tersebut, setidaknya kita harus memiliki kesadaran penuh bahwa kita sedang menghadap Sang Pencipta,” pesan Kiai Zuhri.

Dalam penjelasannya, Kiai Zuhri membagikan beberapa fragmen kisah yang menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh khusyuk bagi seorang hamba. Kiai Zuhri menceritakan ada orang sholeh yang begitu diam dan tenang saat sholat, hingga burung-burung hinggap di atas kepalanya karena mengira ia adalah benda mati. Beliau melanjutkan, dikisahkan pula seorang hamba yang tetap bersujud meski masjid tempatnya sholat roboh. Padahal, hiruk-pikuk keruntuhan itu terdengar hingga ke pasar di dekat masjid, namun ia tetap tak bergeming. Selain itu, Kiai Zuhri bercerita tentang Ujian Juraij dan Panggilan Ibu: Beliau menceritakan kisah ahli ibadah terdahulu yang dilema antara sholat dan panggilan ibunya. Karena tidak menjawab panggilan sang ibu, ia terkena doa buruk hingga difitnah menghamili wanita. Kisah ini menjadi pengingat tentang pentingnya fiqih dalam menyeimbangkan ibadah dan bakti.

Kiai Zuhri memberikan perbandingan yang menyentuh tentang kualitas spiritual. Beliau menjelaskan fenomena “Jadzab”, di mana seseorang kehilangan kesadaran akan dunia (seperti seorang kiai yang mengajar tanpa ingat waktu) karena hatinya terpaku hanya pada Allah.

Namun, tingkat tertinggi adalah Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan kita yang mudah terdistraksi, Rasulullah tetap mampu berinteraksi dengan manusia tanpa sedikit pun memutus sambungan hatinya dengan Allah.

Kiai Zuhri mengutip jawaban ulama salaf saat ditanya apakah mereka memikirkan hal lain saat sholat:

“Apakah ada sesuatu yang lebih saya sukai selain sholat? Pada waktu saya menghadap Allah, saya melupakan segalanya.”

Bagi mereka, sholat bukan beban, melainkan tempat “pelarian” yang paling indah dari hiruk-pikuk dunia.

 

Pewarta : Kadafi Ananda

Editor    : Ahmad Zainul Khofi