PWNU Jawa Timur Konsolidasi dan Ziarah Muassis di Pesantren Nurul Jadid
berita.nuruljadid.net – Menjelang momentum bersejarah peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) versi kalender Masehi pada 8 Februari 2026, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengintensifkan konsolidasi organisasi. Salah satu agenda utamanya adalah melakukan rangkaian ziarah ke makam para muassis (pendiri) dan muharrik (penggerak) NU di wilayah Probolinggo, termasuk ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, pada Minggu (25/1).
Rombongan PWNU Jatim yang dipimpin oleh Kiai Ahsanul Haq mengawali rangkaian kegiatan di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong sebelum bertolak ke Nurul Jadid untuk berziarah ke makam KH. Zaini Mun’im dan KH. Hasan Abdul Wafi. Kehadiran rombongan disambut hangat oleh keluarga besar pesantren dalam acara seremonial di Aula Mini Pesantren Nurul Jadid.
Dalam arahannya, Kiai Ahsanul Haq menyampaikan bahwa puncak peringatan Satu Abad NU akan dipusatkan di Stadion Gajayana, Malang, melalui agenda Mujahadah Kubro. Ia menekankan pentingnya kemandirian warga Nahdliyin dalam menyukseskan acara tersebut.
”Peringatan satu abad ini dilaksanakan secara benar-benar mandiri. Kami berharap melalui mujahadah nanti, NU tetap selamat dan Indonesia menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafur,” ujar Kiai Ahsanul Haq. Beliau juga mengimbau PCNU Probolinggo untuk memaksimalkan kehadiran warga NU pada hari puncak tersebut.
Mewakili Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, KH. Najiburrahman Wahid dalam sambutannya menegaskan loyalitas pesantren terhadap jam’iyyah NU. Ia mengisahkan kembali fragmen sejarah saat KH. Zaini Mun’im memantapkan hati berkhidmat di NU setelah bermimpi bersama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
”Para penerus perjuangan Kiai Zaini tetap teguh di jalur NU tanpa berpaling ke organisasi lain,” tegas Kiai Najib. Ia juga mengutip bait qosidah karya Kiai Zaini yang menekankan pentingnya perjuangan di NU untuk memperkuat posisi umat Islam.
“Dan berjuang di NU dan partai Islam, maka menjadi kuat umat Islam,” terangnya.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang koordinasi teknis, tetapi juga refleksi sejarah atas peran besar tokoh Probolinggo dalam dinamika NU, termasuk memori Muktamar NU di Situbondo. Suasana hangat menyelimuti pertemuan dengan semboyan “Selamat Datang di Bumi NU,” yang menegaskan posisi Probolinggo sebagai basis kultural dan struktural kaum sarungan yang tetap solid.
Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama di makam para tokoh, dengan harapan besar agar perhelatan di Stadion Gajayana mendatang menjadi wasilah keselamatan bagi umat, organisasi, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pewarta : Kadafi Ananda
Editor : Ponirin Mika















