PWNU Jawa Timur Konsolidasi dan Ziarah Muassis di Pesantren Nurul Jadid

berita.nuruljadid.net – Menjelang momentum bersejarah peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) versi kalender Masehi pada 8 Februari 2026, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengintensifkan konsolidasi organisasi. Salah satu agenda utamanya adalah melakukan rangkaian ziarah ke makam para muassis (pendiri) dan muharrik (penggerak) NU di wilayah Probolinggo, termasuk ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, pada Minggu (25/1).

​Rombongan PWNU Jatim yang dipimpin oleh Kiai Ahsanul Haq mengawali rangkaian kegiatan di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong sebelum bertolak ke Nurul Jadid untuk berziarah ke makam KH. Zaini Mun’im dan KH. Hasan Abdul Wafi. Kehadiran rombongan disambut hangat oleh keluarga besar pesantren dalam acara seremonial di Aula Mini Pesantren Nurul Jadid.

​Dalam arahannya, Kiai Ahsanul Haq menyampaikan bahwa puncak peringatan Satu Abad NU akan dipusatkan di Stadion Gajayana, Malang, melalui agenda Mujahadah Kubro. Ia menekankan pentingnya kemandirian warga Nahdliyin dalam menyukseskan acara tersebut.

​”Peringatan satu abad ini dilaksanakan secara benar-benar mandiri. Kami berharap melalui mujahadah nanti, NU tetap selamat dan Indonesia menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafur,” ujar Kiai Ahsanul Haq. Beliau juga mengimbau PCNU Probolinggo untuk memaksimalkan kehadiran warga NU pada hari puncak tersebut.

​Mewakili Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, KH. Najiburrahman Wahid dalam sambutannya menegaskan loyalitas pesantren terhadap jam’iyyah NU. Ia mengisahkan kembali fragmen sejarah saat KH. Zaini Mun’im memantapkan hati berkhidmat di NU setelah bermimpi bersama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

​”Para penerus perjuangan Kiai Zaini tetap teguh di jalur NU tanpa berpaling ke organisasi lain,” tegas Kiai Najib. Ia juga mengutip bait qosidah karya Kiai Zaini yang menekankan pentingnya perjuangan di NU untuk memperkuat posisi umat Islam.

“Dan berjuang di NU dan partai Islam, maka menjadi kuat umat Islam,” terangnya.

​Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang koordinasi teknis, tetapi juga refleksi sejarah atas peran besar tokoh Probolinggo dalam dinamika NU, termasuk memori Muktamar NU di Situbondo. Suasana hangat menyelimuti pertemuan dengan semboyan “Selamat Datang di Bumi NU,” yang menegaskan posisi Probolinggo sebagai basis kultural dan struktural kaum sarungan yang tetap solid.
​Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama di makam para tokoh, dengan harapan besar agar perhelatan di Stadion Gajayana mendatang menjadi wasilah keselamatan bagi umat, organisasi, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pewarta : Kadafi Ananda
Editor     : Ponirin Mika

Kunjungi Nurul Jadid, Dawuh Kiai Zuhri kepada PT Sidogiri Mitra Utama: Perkuat Sinergi Bisnis dan Dakwah

berita.nuruljadid.net — Sebanyak 150 pengurus PT Sidogiri Mitra Utama melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Kamis (22/1/2026). Kunjungan tahunan ini menjadi bagian dari tradisi sowan wali, sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan dalam menjalankan usaha ekonomi berbasis pesantren.

Perwakilan rombongan, Anis Sulaiman, mengatakan tradisi sowan menjadi fondasi batin bagi para pengurus dalam mengelola unit usaha. “Kami berharap memperoleh barokah para masyayikh agar setiap langkah usaha berada dalam rida Allah,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh. Zuhri Zaini, dalam tausyiahnya menekankan pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan bisnis pesantren. Beliau mengingatkan agar aktivitas sosial dan bisnis tidak dicampuradukkan.

“Kegagalan dalam bisnis seringkali disebabkan karena mencampuradukkan antara urusan bisnis dan sosial. Bisnis harus dikelola secara profesional, berbeda dengan sedekah yang bisa mendahulukan keluarga tidak mampu,” kata Kiai Zuhri.

Beliau memuji Pondok Pesantren Sidogiri yang dinilainya berhasil membangun kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai salaf. Menurutnya, unit usaha pesantren harus dikelola oleh sumber daya manusia yang kompeten, dengan manajemen yang fokus dan terukur, tanpa bergantung pada relasi kekeluargaan.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri juga menyoroti tantangan dakwah di era modern. Menurut beliau, dakwah tidak cukup dilakukan melalui mimbar semata, tetapi juga melalui penguatan ekonomi umat. “Dakwah ekonomi menjadi benteng agar masyarakat tidak terjerumus pada praktik ekonomi yang merugikan. Jika bisnis dijalankan dengan niat menolong umat karena Allah, pertolongan-Nya akan datang,” ujarnya.

Di akhir tausyiah, Kiai Zuhri mengingatkan para pengurus tentang pentingnya integritas, kepatuhan pada sistem, serta keterbukaan untuk belajar manajemen dari siapa pun demi meningkatkan kualitas usaha pesantren.

Kunjungan ini menegaskan sinergi antara Pondok Pesantren Sidogiri dan Nurul Jadid sebagai pesantren salaf yang tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga pilar penguatan ekonomi umat berbasis nilai dakwah.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Kolaborasi Klinik Azzainiyah dan Dinkes Probolinggo, Santriwati Nurul Jadid Dapat Edukasi Kesehatan Remaja

berita.nuruljadid.net — Klinik Azzainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo menggelar sarasehan kesehatan remaja, Selasa (20/01/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional sekaligus menyemarakkan Haul Masyayikh dan Hari Lahir ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Sarasehan yang berlangsung di Aula 1 pesantren itu diikuti sekitar 200 santriwati. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja putri terhadap pentingnya menjaga kesehatan fisik, gizi seimbang, serta kebugaran sebagai penunjang utama aktivitas belajar di lingkungan pesantren.

Kasubbag Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ponirin Mika, menegaskan bahwa kesehatan merupakan nikmat besar yang kerap luput disyukuri. “Tubuh yang sehat akan melahirkan semangat dan konsistensi dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, kondisi fisik yang kurang prima dapat menghambat aktivitas santri sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Sri Wahyu Utami, menilai edukasi kesehatan di lingkungan pesantren sangat penting, khususnya terkait perawatan diri dan kesehatan reproduksi remaja. Ia juga memotivasi para santriwati agar menjaga kesehatan sebagai bagian dari ikhtiar meraih masa depan yang lebih baik.

Sebagai pemateri utama, dr. Moh. Reza memaparkan bahwa masa remaja merupakan fase krusial peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, menurut dia, ada tiga aspek kesehatan yang perlu menjadi perhatian utama remaja putri: tumbuh kembang, kesehatan reproduksi, dan kesehatan mental.

Ia menyoroti persoalan gizi yang masih menjadi tantangan serius. “Di Indonesia, hampir 48,9 persen remaja putri mengalami anemia. Ini bukan angka kecil,” kata Reza. Anemia, lanjut dia, ditandai kadar hemoglobin di bawah batas normal 12 gram per desiliter darah dan dapat menyebabkan lemah, pusing, pucat, hingga penurunan konsentrasi belajar.

Reza menjelaskan bahwa kekurangan gizi pada remaja putri dapat berdampak jangka panjang, mulai dari postur tubuh yang kurang optimal, risiko obesitas, hingga gangguan kesehatan saat kehamilan dan persalinan kelak. “Kalau sejak remaja kadar hemoglobin dijaga di bawah 12, risikonya besar. Bahkan bila di bawah 8, bisa membutuhkan transfusi darah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pola makan seimbang. Pedoman lama “empat sehat lima sempurna” kini telah digantikan dengan konsep gizi seimbang. Dalam satu piring makan, separuhnya diisi sayur dan buah, sementara separuh lainnya terdiri dari karbohidrat dan lauk berprotein, terutama sumber zat besi seperti daging merah. “Minum manis boleh, tapi dibatasi. Perbanyak air putih. Hindari kebiasaan minum teh atau kopi berlebihan karena menghambat penyerapan zat besi,” kata Reza.

Selain asupan makanan, Reza menekankan pentingnya konsumsi tablet penambah darah bagi remaja putri, terutama saat menstruasi. “Ini bukan obat, tetapi suplemen untuk mengganti kekurangan zat besi dalam tubuh. Demi masa depan kalian dan generasi yang akan dilahirkan, biasakan dari sekarang,” tuturnya.

Ia juga menyinggung kecenderungan remaja memilih makanan berdasarkan suasana hati. “Saat stres, seseorang cenderung mencari makanan yang menyenangkan, bukan yang menyehatkan. Padahal, tidak semua yang enak itu sehat, dan tidak semua yang kurang enak itu buruk bagi tubuh,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap santriwati tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual dan spiritual, tetapi juga sehat, kuat, dan memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya gizi seimbang sejak dini.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

TNI AL Kunjungi Pramuka Nurul Jadid, Siap Dukung Pembinaan Saka Bahari

berita.nuruljadid.net – Kegiatan Pramuka di Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) kembali berlangsung semarak pada hari kedua pelaksanaannya, Selasa (20/1/2026). Meski baru saja selesai rangkaian Harlah dan Haul PPNJ, namun antusiasme santri tetap tinggi mengikuti kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Selasa pukul 07.00–09.00 WIB di seluruh satuan pendidikan di bawah Yayasan Nurul Jadid. Menariknya, kegiatan Pramuka kali ini dikunjungi oleh salah seorang personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).

Ketua Harian Pramuka Nurul Jadid, Kakak Agus Fanani, menyampaikan bahwa Pramuka menjadi induk organisasi pembinaan jiwa korsa santri sesuai kebijakan pesantren yang digagas melalui Mugus pada akhir 2025.

“Program ini melibatkan sekitar 100 pembina, serta Satuan Resimen Mahasiswa (Menwa) Wirasantri 891 UNUJA sebagai pelatih pasukan khusus, khususnya untuk materi Peraturan Baris Berbaris (PBB) dan tata upacara Hari Kemerdekaan, Hari Santri, dan kegiatan seremonial lainnya,” jelasnya.

Bagi Kakak Agus, kondisi ini dinilai positif karena biasanya pasca perayaan besar, suasana belajar mengajar belum sepenuhnya kondusif. Namun, melalui Pramuka, kegiatan KBM langsung berjalan tertib meski cuaca pagi itu mendung dan semilir angin dingin menyelimuti kawasan pesantren.

Sementara itu, yang tak kalah menjadi sorotan utama adalah kunjungan personel TNI AL, Kakak Anang Susanto pada kegiatan hari kedua ini. Kehadiran beliau yang berseragam Pramuka lengkap disambut langsung oleh Kakak Agus Fanani di Kantor Biro Pengembangan selaku leading sektor kegiatan Pramuka di lingkungan pesantren.

Sebelumnya, Kakak Anang meninjau langsung kegiatan Pramuka di sejumlah satuan pendidikan PPNJ didampingi Ketua Gugus Depan Pramuka Nurul Jadid, Kakak Umar Falas.

Dalam pertemuan tersebut, Kakak Anang dari Kodaeral V/Surabaya, Lantamal V Surabaya, khususnya Dinas Teritorial (Dister) wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo, menyampaikan bahwa pihak TNI AL akan terlibat aktif dalam pembinaan Satuan Karya (Saka) Bahari di PPNJ. Rencana ini akan dibahas lebih lanjut untuk merumuskan langkah-langkah konkret ke depan.

“Kami siap mendukung pembinaan Saka Bahari di Nurul Jadid. Teknis akan dibahas dalam pertemuan perencanaan berikutnya,” terangnya.

Menyoal Saka, ini merupakan wadah pembinaan keterampilan dan minat khusus bagi Pramuka Penegak dan Pandega. Di antaranya meliputi Saka Bahari (kelautan dan kemaritiman/TNI AL), Saka Bhayangkara (keamanan dan ketertiban/Polri), Saka Dirgantara (kedirgantaraan/TNI AU), Saka Wira Kartika (bela negara dan kewilayahan/TNI AD), Saka Bakti Husada (kesehatan/Kemenkes), Saka Kencana (kependudukan dan KB/BKKBN), Saka Taruna Bumi (pertanian, pangan, dan lingkungan), Saka Wanabakti (kehutanan), Saka Kalpataru (pelestarian lingkungan), Saka Pariwisata (kepariwisataan dan budaya), Saka Informatika (TIK), Saka Pustaka (literasi), Saka Adhyasta Pemilu (kepemiluan/KPU), Saka Energi (energi dan sumber daya mineral), serta Saka SAR (pencarian dan pertolongan/Basarnas).

Kolaborasi dengan TNI AL dalam pembinaan Saka Bahari menjadi tonggak penting di awal 2026 dan diharapkan ke depan Pramuka PPNJ dapat bersinergi pula dengan berbagai pihak terkait lainnya.

 

Pewarta: DPW
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Kiai Hamid Wahid Ungkap Makna di Balik Tema Harlah Ke-77 “dari Tradisi ke Transformasi”

berita.nuruljadid.net – Angka 77, selain menjadi usia pesantren, juga menjadi momentum rekam jejak bersama. Hal tersebut disampaikan oleh KH. Abd. Hamid Wahid, Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam pidato sambutannya pada pengajian umum dalam rangka memperingati Haul Masyayikh dan Hari Lahir ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ahad (18/01/2026).

Kiai Hamid menegaskan bahwa angka 77 menyimpan memori dan cita-cita transformatif bagi kemajuan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Angka ini juga menjadi langkah menuju perbaikan yang sistematis dan terukur sesuai dengan cita-cita para masyayikh,” ungkapnya di hadapan ribuan para alumni dan wali santri.

Lebih lanjut, Kiai Hamid juga menyampaikan makna tema Haul dan Harlah “dari Tradisi ke Transformasi”. Menurut beliau, tema ini mengusung spirit pesantren mewujudkan komitmen dan ke-istikamah-an menjaga nilai-nilai luhur sesuai yang telah diajarkan oleh nabi.

“Dalam transformasi, kita memegang teguh “المُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الأَصْلَحِ” yakni menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang bermanfaat, artinya tidak hanya menjaga warisan intelektual masa lalu, tapi juga melakukan perubahan diri,” ulas kiai yang juga merupakan Bupati Bondowoso tersebut.

Tak hanya itu, Kiai Hamid juga menerangkan fokus pesantren ke depan yang meliputi penguatan manajemen 4 pilar utama: manajemen pendidikan yang berkualitas, manajemen sumber daya manusia yang kompeten, manajemen pendanaan dan kemandirian yang kuat, dan manajemen sarana prasarana yang representatif.

Dalam mengawal tranformasi diri, lanjut beliau, pesantren tak hanya mengandalkan semangat semata melainkan juga memperkuat pondasi organisasi dengan menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) dari ISO 9001:2015. Dengan mengacu pada ISO 9001:2015, pesantren akan memastikan layanan pendidikan dan dakwah secara integratif, evaluatif, dan melalui perbaikan yang berkelanjutan.

“Kita ingin menunjukan keunggulan pesantren sebagai keunggulan yang holistik. Seimbang antara kekuatan moralitas dan intelektualitas,” terangnya.

Dalam penutup pidatonya, Kiai Hamid juga mengukuhkan bahwa pesantren akan senantiasa berupaya dalam menginternalisasikan Trilogi dan Panca Kesadaran Santri, tak lupa juga diselingi dengan sikap disiplin dan istikamah dalam menjalankan pengabdian sesuai SOP, terbuka pada inovasi dan evaluasi, serta menjadikan sertifikasi ISO 9001:2015 sebagai sarana kaderisasi.

“Kita tak hanya ingin mencetak yang ahli agama, tapi juga generasi pengelola peradaban yang mampu berkonstribusi pada umat, dunia, hingga akhirat,” pungkasnya.

Pewarta: Mohammad Wildan Dhulfahmi
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Dari Santri ke Wali Santri: Refleksi Ansori di Harlah ke-77 Nurul Jadid

berita.nuruljadid.net- Dalam rangkaian kegiatan Sambang Santri Putri pada peringatan Haul dan Hari Lahir (Harlah) ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ), salah satu wali santri sekaligus alumni, Bapak Ansori, S.Ag, membagikan refleksi dan kenangannya selama menempuh perjalanan panjang bersama pesantren.

Bapak Ansori, S.Ag merupakan alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid yang kini kembali hadir sebagai wali santri. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Diniyah dan Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo.

Dalam wawancara tersebut, Bapak Ansori mengenang masa mondoknya di Nurul Jadid sejak sekitar tahun 1992–1993 hingga 2001. Selama berada di pesantren, ia pernah mengajar di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) serta dipercaya menjadi Dewan Musyrif pertama di Asrama MAK. Kini, beliau berdomisili di Tunggak Cerme, Wonomerto, Probolinggo.

Ia juga mengungkapkan kenangan mendalam terhadap syair yang kerap dilantunkan oleh KH. Hasan Abdul Wafi, yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya:

لاتسألن بني آدم حاجة
وأسأل الله أبوابه لا تحجب
ترى بني آدم حين تسأل يغضب
والله يغضب عند ترك سؤله

Menurut penuturan Bapak Ansori, syair tersebut mengandung pesan spiritual yang kuat, yakni anjuran agar santri lebih banyak meminta kepada Allah SWT, Tuhan yang pintu rahmat-Nya selalu terbuka dan tidak pernah tertutup bagi hamba-Nya. Berbeda dengan manusia yang cenderung berubah marah ketika terus-menerus dimintai pertolongan, Allah justru murka ketika hamba-Nya enggan memohon dan bergantung kepada-Nya.

“Syair itu menjadi pengingat bagi santri agar tidak bergantung kepada manusia, tetapi menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah. Nilai ini sangat kuat dan terus relevan hingga sekarang,” tuturnya.

Terkait pelaksanaan Harlah, Bapak Ansori menyampaikan kesan positif terhadap konsistensi semangat santri dalam menjaga silaturahmi dari tahun ke tahun. Menurutnya, ikatan antara santri, pesantren, dan para guru tetap terjaga dengan baik, baik melalui pertemuan langsung maupun melalui media digital seperti live streaming.

Ia juga menilai bahwa Harlah ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid tahun ini berlangsung menarik. Kondisi para kiai yang masih sehat serta semangat santri yang tetap terjaga menjadi hal yang patut disyukuri. Menurutnya, pesantren terbukti mampu melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan, tercermin dari banyaknya dewan pengasuh pesantren yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai bupati dan wakil bupati.

Melalui kegiatan Sambang Santri Putri ini, momentum Harlah ke-77 diharapkan tidak hanya menjadi peringatan perjalanan panjang pesantren, tetapi juga ruang refleksi spiritual, penguatan silaturahmi, serta pengokohan nilai-nilai pesantren yang terus hidup dan relevan lintas generasi.

Pewarta : Naylah Zakiyatur Rohmah
Editor : Maria Al Faradela

Harlah ke-77 PP Nurul Jadid Hadirkan Bazar Batik Cantik Berkonsep Minim Plastik di Bazar Putri

berita.nuruljadid.net- Dalam rangka memperingati Haul dan Hari Lahir (Harlah) ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid, panitia Harlah menggelar Bazar Batik Cantik yang berlangsung di Bazar Putri sejak Jumat, 16 Januari hingga Minggu, 19 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda unggulan yang tidak hanya memeriahkan perayaan Harlah, tetapi juga mengusung edukasi kepedulian lingkungan di lingkungan pesantren.

Bazar Batik Cantik terbuka bagi seluruh pengunjung bazar putri, baik santri maupun non-santri. Bazar ini secara khusus mengusung konsep minim plastik sekali pakai sebagai bentuk komitmen Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam mendorong gaya hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari ketentuan bazar, setiap peserta diwajibkan membawa tas belanja sendiri. Pengunjung juga dibekali blanko stempel yang dapat diminta di Stan PULH sebagai stan pertama di pintu masuk bazar. Blanko tersebut menjadi media edukasi sekaligus kontrol pelaksanaan bazar ramah lingkungan.

Pengunjung yang membawa wadah makan atau minum sendiri dan melakukan pembelian jajanan menggunakan wadah tersebut berhak mendapatkan stempel setiap transaksi. Selain itu, pengunjung yang menyerahkan sampah recycle atau sampah yang dapat didaur ulang juga memperoleh stempel tambahan. Seluruh proses penukaran stempel dilakukan di Stan PULH dengan pendampingan petugas. Stempel yang terkumpul kemudian dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik yang telah disiapkan panitia.

Putriana selaku Koordinator Kebersihan dan Lingkungan Hidup (KLH) Wilayah Al Hasyimiyah menyampaikan bahwa pelaksanaan bazar dalam rangka Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid sejatinya telah berjalan selama tiga tahun berturut-turut. Namun, pada peringatan Harlah ke-77 ini, bazar tersebut secara resmi mengusung nama “Batik Cantik” sebagai identitas baru.

Menurutnya, penamaan Batik Cantik diusungkan sebagai bentuk syiar ekologis di lingkungan pesantren. Melalui kebijakan membawa tas belanja sendiri, penggunaan wadah pakai ulang, serta pengelolaan sampah recycle, bazar ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran santri untuk lebih menjaga lingkungan dan peduli terhadap kondisi sekitar.

“Bazar ini sebenarnya sudah berjalan sejak tiga tahun terakhir. Namun, nama Batik Cantik baru kami usung tahun ini sebagai upaya menguatkan pesan ekologi kepada santri, agar terbiasa menjaga lingkungan mulai dari aktivitas sederhana sehari-hari,” ujar Putriana.

Melalui pelaksanaan Bazar Batik Cantik, Harlah ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid tidak hanya menjadi momentum perayaan usia, tetapi juga menjadi langkah nyata pesantren dalam mengintegrasikan nilai tradisi, kemandirian, dan kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari santri putri.

Pewarta : Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri

Editor : Maria Al Faradela

Harapan Pengasuh, Alumni Jaga Visi-Misi Masyayikh

berita.nuruljadid.net- Pada Ahad (18/01/26), Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) menggelar peringatan Haul Masyayikh dan Haul Pesantren ke-77 di halaman pesantren. Momentum tahunan ini tidak hanya menjadi ajang kirim doa bagi para pendahulu, namun juga ditegaskan sebagai refleksi mendalam atas tanggung jawab melanjutkan visi pendidikan dan pengabdian masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, pengasuh PPNJ, KH Moh, Zuhri Zaini berkenan mengisi sambutannya.

​Dalam pengantarnya, KH. Moh. Zuhri Zaini mengingatkan bahwa terselenggaranya acara ini merupakan bentuk izin dan anugerah dari Allah SWT. Ia menekankan bahwa rasa syukur kepada Sang Pencipta tidaklah sempurna tanpa adanya rasa terima kasih dan penghormatan kepada mereka yang telah berjasa meletakkan batu pertama perjuangan di pesantren tersebut.

​”Mengenang dan mendoakan para pendahulu memang penting, namun yang tidak kalah krusial adalah menjaga, merawat, dan mengembangkan seluruh warisan yang telah ditinggalkan, baik dalam bentuk fisik maupun nilai-nilai non-fisik,” ungkapnya di hadapan para hadirin.

​Secara historis, perkembangan pesantren yang ada saat ini merupakan buah dari rintisan dan khidmah para Masyayikh terdahulu. Dedikasi tersebut mewujud dalam berbagai aspek, mulai dari sistem pendidikan, metode pengajaran, hingga karya-karya tulis yang menjadi rujukan keilmuan.

Sebagai pengabdi, dengan penuh tawadhu’ beliau memohon doa kepada seluruh lapisan masyarakat dan para pengabdi agar senantiasa diberikan kekuatan serta hidayah dalam mengemban amanah besar ini.

Kiai Zuhri menambahkan, Fokus utama ke depan adalah memastikan visi dan misi para pendiri tetap hidup dan relevan, baik di dalam lingkungan internal pesantren maupun dalam pengabdian di tengah masyarakat luas.

​Peringatan harlah ke-77 menjadi ajang silaturrahmi antar seluruh santri dan alumni dan sebagai pengingat untuk memosisikan diri sebagai pewaris yang aktif— tidak hanya menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga inovatif dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam demi kemaslahatan umat.

Pewarta : Moh. Wildan Dhulfahmi
Editor     : Ponirin Mika

Strategi Dakwah Kiai Zaini Mun’im: Ubah Tegal Jadi Sawah hingga Pelopori Tembakau

berita.nuruljadid.net– Sosok pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zaini Mun’im, dikenal tidak hanya sebagai ulama yang mumpuni dalam bidang agama, tetapi juga sebagai pelopor kemandirian ekonomi masyarakat. Melalui pendekatan yang humanis dan visioner, Kiai Zaini mengintegrasikan dakwah Islam dengan pemberdayaan sektor pertanian dan perdagangan.

Dalam sebuah sambutan halaqah baru-baru ini, terungkap kembali rekam jejak Kiai Zaini yang turun langsung ke lapangan untuk mengubah nasib ekonomi warga di sekitar pesantren. Salah satu terobosan besarnya adalah memperkenalkan budidaya tembakau di wilayah Tanjung.

“Dulu masyarakat tidak mau menanam tembakau karena tidak bisa dimakan. Namun, Kiai Zaini membawa pengalaman menanam tembakau dari Madura dan membuktikannya sebagai komoditas ekonomi yang kuat,” ungkap KH. Moh. Zuhri Zaini saat memberikan tausiah di halaqah alumni, sabtu (17/01/26).

Keberhasilan strategi ekonomi ini terbukti nyata. Masjid pertama di lingkungan pesantren bahkan dibangun murni dari hasil penjualan tembakau milik kiai. Hal ini menjadi alasan filosofis mengapa keluarga besar pesantren sangat menghargai komoditas tersebut sebagai pilar perjuangan.

Tak hanya tembakau, Kiai Zaini juga dikenal sebagai sosok yang “berdarah dingin” dalam bekerja. Beliau memimpin langsung kerja bakti membakar bata, menanam kelapa, hingga mengubah lahan tegalan yang semula gersang menjadi sawah yang produktif.

Selain pemberdayaan ekonomi, Kiai Zaini menggunakan strategi ekonomi untuk meluruskan tradisi masyarakat yang tidak sesuai dengan syariat. Salah satu contoh ikonik adalah saat beliau mengubah tradisi sesajen di sawah.

Alih-alih melarang dengan kekerasan atau “pentungan”, Kiai Zaini mengubah bentuk sesajen (bubur merah-putih untuk makhluk halus) menjadi tumpeng nasi yang lengkap dengan lauk-pauk. Beliau kemudian mengajak petani membaca Yasin dan tahlil bersama, lalu memakan hidangan tersebut bersama-sama.

“Jadi yang asalnya sesajen diubah menjadi tumpeng. Yang memakan bukan lagi ‘yang halus’ (jin), tapi ‘yang kasar’ (manusia). Ini adalah cara bijak merubah tradisi tanpa menimbulkan kemarahan,” tambahnya.

Melalui warisan sejarah ini, santri dan alumni diharapkan mampu meneladani etos kerja Kiai Zaini. Dakwah masa kini dituntut tidak hanya menyentuh aspek ritual-spiritual, tetapi juga masuk ke ruang sosial-ekonomi guna memperkuat posisi umat di mata dunia.

Pewarta : Kadafi Ananda
Editor     : Ponirin Mika

Bahas Ekonomi, Kyai Zuhri: Kuatkan Ekonomi untuk Perjuangan Dakwah

berita.nuruljadid.net- Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan pengarahan mendalam dalam acara Halaqah Alumni yang diselenggarakan di Aula 1 Pesantren pada Sabtu (17/01/26).

Dalam acara tersebut, Kiai Zuhri menekankan bahwa misi utama pesantren adalah dakwah dalam arti luas, mencakup aspek ritual-spiritual, sosial, ekonomi, hingga politik. Beliau menggaris bawahi pentingnya penguasaan ekonomi dengan mengutip semboyan: “Laisa‘ indal fulus fahuwa manfus” (orang yang tidak punya uang akan mampus/sulit bergerak).

Beliau mencontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai pebisnis sukses yang menggunakan hartanya untuk perjuangan dakwah. Hal serupa juga dilakukan oleh pendiri pesantren, KH. Zaini Mun’im.

“Kiai Zaini Mun’im adalah seorang pebisnis tembakau. Beliau membudidayakan tembakau hingga mampu membangun masjid pertama di pesantren ini dari hasil penjualannya. Beliau mengajarkan bahwa ekonomi adalah sarana ibadah dan perjuangan,” ungkap Kiai Zuhri.

Selain itu, KH. Moh. Zuhri Zaini mengungkapkan kekhawatirannya jika halaqah hanya bertujuan untuk meramaikan suasana Haul tanpa dampak konkret. Beliau menegaskan bahwa tanda keseriusan sebuah halaqah adalah lahirnya keputusan-keputusan atau rekomendasi penting yang realistis dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Saya harapkan ini betul-betul serius, tidak hanya seremonial. Jangan sampai hanya selesai di halaqah kemudian tinggal catatan saja dalam sejarah. Harus ada implementasi dan pertemuan lanjutan untuk membahas masalah teknis di lapangan,” tegas beliau.

Dalam arahannya, Kiai Zuhri mengulas sejarah pesantren yang akar budayanya telah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Beliau menjelaskan bahwa istilah “santri” dalam bahasa Madura sering disebut “kancah”, yang merupakan terjemahan dari kata “sahabat”. Hal ini mencerminkan hubungan yang sangat akrab dan tanpa jarak antara guru (Kiai) dan murid (santri), sebagaimana Nabi memperlakukan para sahabatnya.

Beliau juga mengingatkan para alumni untuk menjaga identitas kesantriannya. “Kita sebagai alumni tetaplah santri, bukan ‘alumni santri’. Kalau alumni pesantren boleh, tapi jangan sampai menjadi mantan santri. Lebih baik menjadi mantan preman seperti Sunan Kalijaga yang berproses menjadi wali, daripada menjadi mantan santri,” seloroh beliau yang disambut khidmat oleh peserta.

Transformasi Budaya dan Pendidikan

Selain ekonomi, Kiai Zuhri menceritakan bagaimana KH. Zaini Mun’im melakukan dakwah kultural yang bijak. Salah satunya adalah mengubah tradisi sesajen di sawah menjadi tumpengan yang disertai doa Yasin dan Tahlil.

“Cara mengubah tradisi yang tidak sesuai syariat dilakukan dengan bijak, tidak dengan marah-marah apalagi memakai pentungan. Ini perlu kita tiru,” lanjutnya.

Dalam hal pendidikan, Pesantren Nurul Jadid diakui telah menerapkan kurikulum yang lengkap sejak dini, menggabungkan ilmu agama (kitab kuning) dengan ilmu umum seperti matematika dan sosiologi, jauh sebelum kurikulum nasional diterapkan secara luas.

Menutup arahannya, Kiai Zuhri menyoroti unit usaha pesantren seperti BMT dan NJ Mart. Beliau secara terbuka mengajak para alumni untuk melakukan evaluasi dan studi banding ke lembaga yang telah sukses, seperti Pesantren Sidogiri dengan swalayan Basmalah-nya.

Beliau memberikan pesan kunci mengenai profesionalisme: “Ketika bersosial, kita harus seperti famili tanpa kalkulasi. Namun, jika berbisnis, kita harus bersikap profesional seperti orang asing, sekalipun terhadap keluarga sendiri,” pungkasnya.

Halaqah ini diharapkan menjadi titik awal bagi para alumni untuk terus berkiprah di berbagai sektor dengan tetap membawa nilai-nilai kesantrian dalam tugas keseharian mereka.

Pewarta : Kadafi Ananda
Editor     : Ponirin Mika

KH Abdul Hamid Wahid Dorong Alumni Bangun Jejaring Global dan Transformasi Sosial

berita.nuruljadid.net– Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menggelar Halaqoh Alumni lintas negara dalam rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-77 dan Haul Masyayikh. Acara ini dihadiri oleh perwakilan Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) dari seluruh Indonesia, serta perwakilan dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Dalam sambutannya, Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, menekankan pentingnya transformasi peran alumni dari sekadar ikatan primordial menjadi kekuatan jejaring fungsional yang berdampak luas bagi masyarakat global.

Kiai Hamid menyampaikan bahwa pesantren secara tradisional telah memiliki jejaring silaturahmi yang kuat. Namun, menghadapi tantangan pasar global dan dinamika ekonomi saat ini, alumni dituntut untuk mulai bekerja sebagai sebuah jaringan yang terintegrasi.

“Kita tidak cukup hanya membangun hubungan praktis berdasarkan kesamaan almamater. Kita harus menggunakan potensi yang ada di satuan-satuan daerah untuk menjadi sebuah jaringan besar yang tidak eksklusif, melainkan menjadi pijakan untuk masuk ke jejaring yang lebih luas,” ujar KH. Abdul Hamid Wahid.

Mengutip pesan pendiri pesantren, Kiai Hamid mengingatkan bahwa indikator keberhasilan seorang santri adalah saat mereka kembali ke masyarakat dan tetap memegang teguh prinsip perjuangan. Khidmat kepada masyarakat, menurut beliau, adalah wujud nyata khidmat kepada Allah SWT.

“Alumni harus mampu mengambil peran, baik dalam mengawal masyarakat maupun melakukan transformasi positif, mulai dari lingkup terkecil hingga ruang yang lebih luas sesuai posisi masing-masing,” tambahnya.

Satu poin penting yang ditekankan Kiai Hamid adalah pemisahan antara hubungan sosial (muasyarah) dan hubungan kerja (muamalah). Beliau memberikan resep agar kerja sama antar-alumni atau saudara tetap profesional dan tidak merusak hubungan personal.

“Bermuasyarahlah (bergaul) seperti orang dekat, tetapi bertamulah (bermuamalah) seperti orang asing,” pesan beliau mengutip kaidah fikih.

Hal ini mengandung makna bahwa dalam urusan profesional dan bisnis, harus ada kesepakatan yang tegas, transparan, dan akuntabel, sebagaimana teladan Rasulullah SAW sebagai Al-Amin yang sangat menjaga amanah dalam bermuamalah sebelum diangkat menjadi rasul.

Di akhir sambutannya, Kiai Hamid mendorong setiap P4NJ daerah untuk mewujudkan kebersamaan mereka dalam bentuk yang konkret, seperti yayasan atau lembaga usaha. Pihak pesantren pun menyatakan kesiapannya untuk hadir sebagai pembina dalam setiap inisiatif produktif tersebut.

“Ujung dari perjalanan kita di dunia adalah seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada sekitar. Saya berharap alumni tidak hanya diam memikirkan diri sendiri, tetapi menyumbang perubahan masyarakat menuju yang lebih baik,” pungkasnya.

Pewarta : Kadafi Ananda
Editor     : Ponirin Mika

Pesantren Nurul Jadid Perkuat Tradisi Literasi Kitab Kuning melalui Bahtsul Masa’il

berita.nuruljadid.net— Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menggelar forum Bahtsul Masa’il se-Jawa dan Madura sebagai rangkaian peringatan Haul dan Hari Lahir (Harlah) pesantren yang ke-77, bertempat di Aula I Pesantren. kegiatan yang berlangsung pada Kamis (15/1/2026) ini menjadi momentum penting dalam menghidupkan kembali tradisi intelektual santri.

​Forum diskusi hukum Islam ini diikuti oleh 35 delegasi pesantren yang terbagi ke dalam dua komisi. Komisi A terdiri dari 20 peserta, sementara Komisi B diikuti oleh 15 peserta. Mereka fokus membedah berbagai persoalan keagamaan kontemporer yang tengah berkembang di tengah masyarakat.

​Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan bahwa agenda ini bukan sekadar seremonial tahunan. Beliau menegaskan pentingnya tabarrukan (mencari berkah) melalui majelis ilmu sekaligus sebagai upaya pesantren dalam merespons problem kemasyarakatan.

​Kiai Zuhri secara terbuka memaparkan karakteristik Nurul Jadid yang sejak awal berdiri telah memadukan kurikulum agama dengan pelajaran umum. Langkah visioner ini, menurut beliau, telah dilakukan bahkan sebelum kurikulum nasional diintegrasikan ke dunia pesantren.

​”Sejak awal Pesantren Nurul Jadid sudah menerapkan pelajaran umum, sebelum kurikulum nasional masuk ke pesantren,” tutur beliau.

​Lebih lanjut, Kiai Zuhri menyoroti dinamika pendidikan pesantren saat ini. Adanya kebijakan penyetaraan ijazah (formalitas akademik) diakui membawa konsekuensi terhadap intensitas santri dalam mendalami kitab kuning secara mendalam. Beliau menyadari bahwa beban kurikulum ganda seringkali membuat penguasaan kitab turats menjadi tantangan tersendiri bagi santri di pesantren yang bukan murni “salaf”.

​Meski bersikap realistis terhadap kemampuan santri dalam membaca kitab klasik, Kiai Zuhri tetap menegaskan batas minimal yang tidak boleh ditinggalkan. ​”Setidaknya furudhul ainiyah (kewajiban dasar agama) harus dikuasai, sekalipun tidak mahir membaca kitab,” tegasnya.

​Penyelenggaraan Bahtsul Masa’il tahun ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para santri untuk kembali mencintai literasi kitab klasik. Setelah sempat vakum pada tahun sebelumnya, forum ini menjadi sinyal kebangkitan kajian turats di lingkungan Nurul Jadid.

​”Saya ingin para santri memiliki keinginan mempelajari, bahkan menguasai kitab kuning,” pungkas Kiai Zuhri menutup sambutannya.

Pewarta: Moh. Wildan Dhulfahmi
Editor    : Ponirin Mika

Intip Kesiapan Harlah: Sepekan Nurul Jadid Menuju Usia ke-77

berita.nuruljadid.net – Sepekan menjelang puncak peringatan Haul Masyayikh dan Hari Lahir (Harlah) ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid, sejumlah anggota Tim Ex-Officio melakukan persiapan yang lebih intensif pada setiap detail bagian, Ahad (11/01/26). Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh kebutuhan kegiatan dalam kondisi siap serta menjamin pelayanan yang baik bagi tamu pesantren.

Tak dinyana, seturut hasil observasi lapangan, lebih dari separuh progress kesiapan telah rampung. Namun, bagi Tim, ketuntasan tersebut belum masuk dalam kategori “sempurna”, banyak hal yang masih belum tuntas dalam timeline yang telah tersusun.

“Beberapa hal penting telah kami rampungkan, seperti distribusi undangan, pemasangan umbul-umbul di sepanjang jalan menuju pesantren, dapur pusat juga sudah berjalan, dan beberapa hal lainnya,” ungkap, Moh. Shohibul Islam, Ketua Pelaksana Harlah ke-77.

Di balik persiapan itu, tambah Shohib, kami juga dihadapkan pada dinamika internal yang lumrah terjadi dalam organisasi. Namun, sebagaimana tradisi pesantren yang dibangun di atas nilai kebersamaan, persoalan itu, menurutnya, justru menjadi pemantik solidaritas.

“Kami mendorong bagian-bagian lain untuk bergerak saling menutup kekurangan. Di lapangan, semangat gotong royong itu terlihat nyata,” terangnya.

Sementara itu, menurut hasil pengamatan tim pewarta, tarub-tarub raksasa (tenda roder, red) kini telah berdiri kokoh di bawah hamparan langit di sekitar halaman pesantren. Lembaran-lembaran kain pun terlihat mulai membentang menutupi kerangka tenda. Hal ini menandai sebuah isyarat bahwa acara puncak Harlah kian dekat.

Menariknya, seluruh tarub yang digunakan tahun ini merupakan aset milik pesantren. “Ini hasil dari Harlah tahun lalu, yang bertepatan dengan Harlah NU ke-101. Waktu itu kami membeli tarub-tarub ini dan menjadikannya inventaris pesantren,” tutur Misbahul Munir, Pengurus Sekretariat Pesantren.

Di tengah segala keterbatasan, Nurul Jadid berhasil menunjukkan kemandiriannya, bahwa sebuah pesantren besar tak hanya merawat tradisi, tetapi juga membangun infrastruktur dan asetnya sendiri untuk jangka panjang.

Di samping itu, Tim Pelaksana tetap optimistis. Dalam tujuh hari ke depan, mereka yakin ritme kerja akan semakin cepat, satu per satu kendala akan terurai, dan puncak Harlah ke-77 akan terwujud semaksimal mungkin.

 

Pewarta: Dinda Amira Fanani

Editor :Ahmad Zainul Khofi

Perkuat Kemandirian Ekonomi Keumatan, Pesantren Nurul Jadid Siapkan Ekosistem Pertanian Modern dan Retail

berita.nuruljadid.net – Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) terus mematangkan langkah menuju kemandirian ekonomi melalui Rapat Koordinasi Pelaksanaan Halaqah Alumni yang digelar pada Selasa (06/01/26). Pertemuan yang dihadiri jajaran pengasuh, pengurus P4NJ Pusat, serta daerah ini secara khusus membahas pemberdayaan ekonomi berbasis ketahanan pangan sebagai isu strategis tahun 2026.

Sekretaris Pesantren, Thohiruddin, menegaskan bahwa koordinasi ini merupakan tindak lanjut dari arahan Pengasuh agar pesantren memiliki ketahanan finansial yang kuat. “Tujuannya tetap pada penguatan ekonomi sesuai arahan Pengasuh dan Kepala Biro Pengembangan. Kita ingin tiap daerah mampu meningkatkan ekonomi yang berdampak bagi pesantren maupun P4NJ di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Ketua P4NJ Pusat, KH. Junaidi Mu’thi. Dalam arahannya, beliau menyoroti fenomena ketergantungan pasar terhadap pihak luar, termasuk dominasi produk impor. Mengutip pesan KH. Hasan Abdul Wafie, Kiai Junaidi mengingatkan agar umat tidak hanya menjadi penyedia lahan dan tenaga kerja bagi pihak asing.

“Hidup kita jangan sampai tergantung pada pihak lain. Seringkali kita yang menanam, tapi hasilnya justru dikendalikan pasar luar dengan harga murah. Bahkan pakaian pun kita beli dari luar. Inilah mengapa penguatan ekonomi pesantren menjadi krusial,” tegas Kiai Junaidi. Beliau juga mengajak alumni memperkuat spiritualitas melalui dzikir dan doa pendiri pesantren, KH. Zaini Mun’im, sebagai landasan pergerakan ekonomi.

Green House hingga Peternakan Mandiri
Menjabarkan kebijakan teknis, Sekretaris Biro Pengembangan, Agus Fanani, mengungkapkan bahwa Halaqah Alumni 2026 akan difokuskan pada tiga sektor utama: pertanian modern, peternakan, dan retail.

“Ada dua komoditas unggulan yang akan dimaksimalkan lewat sistem green house, yaitu melon dan cabai. Ini sejalan dengan program ketahanan pangan pemerintah. Kami sudah membentuk tim manajemen dan siap melakukan pendampingan teknis bagi alumni,” jelas Agus.

Secara spesifik, program ini mencakup tiga pilar kemitraan strategis:

Pembentukan kelompok pionir alumni untuk mengelola green house skala komersial dengan teknologi pengairan dan nutrisi yang efisien.

Peternakan Telur Mandiri: Fasilitasi modal dan peralatan bagi alumni untuk membangun peternakan skala rumah tangga, yang didukung dengan sistem koperasi untuk menekan biaya pakan.

Pembangunan unit toko percontohan dan platform pemasaran digital guna memastikan produk hasil petani dan peternak alumni terserap langsung oleh konsumen.

Melalui sinergi antara pesantren, alumni, dan P4NJ, program ini diharapkan tidak hanya membantu operasional lembaga, tetapi juga menciptakan kedaulatan ekonomi bagi umat serta menjaga keberlangsungan perjuangan pesantren di masa depan.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika