Santri Nurul Jadid Terima Ijazah Sanad Langsung dari Dzurriyah Pengarang Sullam Taufiq

www.nuruljadid.net.berita –Habib Murtadha bin Abu Bakar bin Thahir, ulama asal Yaman sekaligus dzurriyah (keturunan) dari pengarang Kitab Sullam Taufiq, berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Dalam rangkaian safari dakwahnya tersebut, beliau menyampaikan pesan penting kepada para santri dalam kegiatan Dauroh Ilmiah dan Ijazah Kubro Kitab Sullam Taufiq yang berlangsung di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Jumat (03/10/2025).

Sebelum kegiatan ilmiah dimulai, Habib Murtadha terlebih dahulu bertugas sebagai imam sekaligus khatib Shalat Jumat di Masjid Jami’ Nurul Jadid. Kegiatan Dauroh Ilmiah ini sendiri menggunakan metode sorogan, di mana para santri terpilih membaca Kitab Sullam Taufiq secara bergantian di hadapan Habib Murtadha. Dalam kesempatan tersebut, beliau didampingi oleh Gus Fayyadl serta seorang penerjemah.

Dalam tausiyahnya, Habib Murtadha menyampaikan apresiasi atas kefasihan para santri dalam membaca kitab meskipun masih terdapat beberapa kesalahan kecil. Ia juga menekankan keistimewaan Kitab Sullam Taufiq dibandingkan dengan kitab fikih lainnya karena memuat pembahasan tentang akidah, yang memiliki peran penting dalam memperkuat keimanan kepada Allah Swt.

“Yang berbeda dari kitab ini dengan kitab fikih lainnya adalah adanya pembahasan mengenai akidah yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas keimanan kita,” ujarnya melalui penerjemah.

Lebih lanjut, Habib Murtadha menjelaskan bahwa siapa pun yang mempelajari Kitab Sullam Taufiq akan memperoleh doa dari pengarangnya, sebagaimana termaktub dalam kalimat pembuka dan penutup kitab tersebut.

Menutup tausiyahnya, beliau berpesan agar para santri tidak mencampuradukkan matan atau teks asli kitab dengan pemikiran pribadi saat menerjemahkannya. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di kalangan pembaca.

“Santri harus bisa membedakan antara isi matan dengan buah pikirannya sendiri agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi pembaca,” pesannya.

Acara kemudian ditutup dengan pembacaan shalawat qasidah dan pemberian ijazah kubro oleh Habib Murtadha. Usai kegiatan, beliau melanjutkan rangkaian agenda berikutnya dengan menghadiri Istighasah Akbar di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Pewarta     : Wahyu

Editor        : Ponirin Mika

Di Ospektren 2025, Ny. Muthmainnah Terangkan Etika Akademik dan Cara Santri Berkawan dengan AI

berita.nuruljadid.net – Topik kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang belakangan ramai diperbincangkan turut menjadi sorotan dalam sesi pematerian Orientasi Pengenalan Kampus dan Pesantren (OSPEKTREN) Universitas Nurul Jadid, Sabtu (20/09/25). Di hadapan para mahasiswi baru yang memadati Aula II Pesantren, Ny. Hj. Muthmainnah Waqid, Wakil Sekretaris Pesantren sekaligus narasumber, membincangkan soal etika akademik dan bagaimana mahasiswi bersikap bijak terhadap AI.

Sejak awal, Ny. Muthmainnah menekankan pentingnya mahasiswi memahami dan menerapkan etika akademik sebagai fondasi sikap, pedoman tindak-tanduk akademik, dan ukuran integritas seorang santri.

“Hal pertama yang akan dilihat dari seseorang adalah akhlak, terutama dari seorang santri. Bukan perkara kepintaran dan prestasinya,” terangnya.

Ny. Muthmainnah memulai sesi dengan analogi sederhana. Beliau mengumpamakan mahasiswi sebagai tamu, sedangkan beliau adalah tuan rumahnya. “Kalau bertamu, yang sopan itu langsung masuk atau tunggu dipersilakan?” tanyanya. Pertanyaan itu segera dijawab serempak oleh para mahasiswi.

Hal yang menyita banyak perhatian adalah penegasan beliau tentang betapa pentingnya menjaga kejujuran dalam akademik. Menurutnya, banyak kebiasaan mahasiswi yang mengandalkan AI untuk menyelesaikan tugas akademik tanpa memahami konteks keilmuan.

“Di zaman sekarang yang fasilitasnya terpenuhi, malah banyak mahasiswi yang membiarkan otaknya kosong dengan bertanya pada AI,” jelasnya.

Bagi Ny. Muthmainnah, kemajuan teknologi bukan menjadi alasan untuk meninggalkan proses berpikir. Beliau tidak menolak AI, tapi memperingatkan bahayanya jika dijadikan alat pelarian dari tanggungjawab akademik.

Dalam forum yang berlangsung sekitar satu jam itu, Ny. Muthmainnah juga menyinggung soal kedisiplinan di pesantren. Beliau tak menampik bahwa hidup di bawah aturan bisa terasa menekan. Tapi, katanya, keterpaksaan kadang perlu untuk membentuk karakter.

“Hidup perlu aturan. Kalau tidak terima, maka meninggal saja,” ujarnya setengah bercanda, setengah serius.

Beliau menggarisbawahi bahwa kode etik mahasiswi bukan sekedar alat kontrol. Tujuannya jelas: memandu perilaku, menjaga nama baik almamater, membentuk pribadi berintegritas, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

“Semua ada aturannya. Guru ada kode etiknya. Pengurus ada kode etiknya. Bahkan wilayah pun diatur,” katanya.

Dalam sistem yang berbasis komunitas seperti pesantren, katanya, aturan menjadi tulang punggung yang mencegah kekacauan. Tanpa itu, pesantren akan kehilangan wajahnya sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung nilai.

OSPEKTREN kali ini juga melibatkan seluruh mahasiswi baik reguler maupun mahasiswi penerima beasiswa program Kartu Indonesia Pintar (KIP). Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilaksanakan secara terpisah. Kegiatan ini akan berlangsung hingga Senin, 22 September 2025.

 

Pewatra: Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri & Nabilatul Hikmah

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Kiai Zuhri Zaini: Ilmu Tanpa Akhlak Tidak Akan Disukai Orang

www.nuruljadid.net.berita– Kebaikan seseorang tidak hanya diukur dari ilmu yang dimilikinya, melainkan juga dari akhlak dan budi pekertinya. Hal itu disampaikan oleh Kiai Zuhri dalam pengajian kitab yang di gelar saban sore di Masjid Jami’ Pondok Pesantrten Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Rabu (17/09/25).

Menurutnya, meskipun seseorang berilmu tinggi, tetapi tidak memiliki akhlak yang baik, maka orang tersebut tidak akan disenangi masyarakat. “Ilmu itu harus dibarengi dengan akhlak. Kalau tidak, akan hilang nilainya,” tegasnya.

Kiai Zuhri juga menegaskan bahwa iman yang tidak diikuti dengan akhlak mulia adalah iman yang belum sempurna. “Iman dan akhlak itu ibarat dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang makna dosa. Menurutnya, dosa adalah segala perbuatan buruk yang dilarang oleh Allah. “Dosa itu bukan hanya sekadar pelanggaran, tetapi juga sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam hati,” ujarnya.

Ia menambahkan, dosa juga membuat hati seseorang tidak tenang. Orang yang berbuat dosa akan merasa gelisah, sekalipun perbuatannya tidak diketahui orang lain.

“Coba saja lihat orang yang melakukan perbuatan buruk, hatinya pasti tidak pernah senang,” kata Kiai Zuhri di hadapan jamaah.

Ia mencontohkan perilaku koruptif yang dilakukan sebagian orang. Menurutnya, meskipun koruptor memiliki banyak harta, tetapi hatinya tidak akan pernah merasa damai.

“Korupsi itu tidak hanya merugikan negara, tapi juga merusak ketenangan batin pelakunya,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Zuhri juga mengisahkan sebuah dialog sahabat dengan Nabi Muhammad SAW tentang makna kebaikan. Sahabat itu bertanya bagaimana cara membedakan antara sesuatu yang baik dan buruk.

Nabi Muhammad menjawab, “Mintalah fatwa kepada hatimu.” Jawaban tersebut, menurut Kiai Zuhri, menegaskan pentingnya peran hati dalam menentukan pilihan moral.

Ia menjelaskan, jika hati merasa tenang ketika melakukan suatu perbuatan, maka perbuatan itu adalah kebaikan. Sebaliknya, jika hati gelisah dan tidak nyaman, maka perbuatan tersebut termasuk keburukan.

“Ukuran hati ini berlaku terutama pada perkara yang belum jelas hukumnya dalam agama,” tambahnya.

Kiai Zuhri menekankan, hati nurani adalah cermin yang paling jujur untuk menilai perbuatan manusia. Karenanya, setiap orang perlu menjaga kebeningan hatinya agar tidak tertutup oleh dosa.

Ia mengingatkan jamaah untuk selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Sebab, setiap perbuatan, baik atau buruk, akan membawa dampak langsung kepada jiwa pelakunya.

“Kalau kita ingin hidup bahagia, maka perbanyaklah kebaikan, jaga akhlak, dan jauhi dosa. Itu kunci ketenangan,” pungkas Kiai Zuhri.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

KH. Moh. Zuhri Zaini: Maulid Nabi Momentum Tingkatkan Mahabbah dan Keteladanan Rasulullah

berita.nuruljadid.net – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kembali digelar khidmat di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Kamis (18/9/2025). Ribuan santri, alumni, serta masyarakat sekitar memadati lokasi acara dengan penuh antusias. Lantunan sholawat dan doa menggema, menandakan suasana religius sekaligus menghadirkan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam suasana penuh kekhidmatan tersebut, KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, menyampaikan sambutan yang menekankan makna Maulid Nabi sebagai momentum memperkuat cinta (mahabbah) sekaligus keteladanan kepada Rasulullah. Beliau berharap peringatan ini tidak hanya menjadi rutinitas, melainkan benar-benar membawa dampak dalam kehidupan umat.

“Dengan maulid ini, semoga semua hajat kita, umat, bangsa, dan negara dikabulkan oleh Allah SWT,” ujar Kiai Zuhri dalam sambutannya.

Menurutnya, majelis dzikir, sholawat, tawasul, doa, dan silaturahim dalam rangka Maulid Nabi merupakan bentuk penghormatan, syukur, serta ungkapan kegembiraan atas kelahiran manusia agung yang penuh jasa bagi umat, yaitu Nabi Muhammad SAW. Ia menegaskan, peringatan Maulid bukan sekadar ritual, melainkan juga harus diiringi dengan usaha mengikuti perintah Nabi.

“Antara Al-Qur’an, agama, dan Nabi Muhammad SAW tidak bisa dipisahkan, karena beliau yang menyampaikannya dengan penuh rintangan. Maka tidak cukup hanya memperingati, tapi juga meneladani ajarannya,” jelasnya.

Kiai Zuhri berharap peringatan ini semakin menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW dan kelak dapat mengantarkan umat untuk berkumpul bersama beliau di surga. Ia juga berpesan agar pengajian dalam peringatan Maulid dapat menjadi sarana pendidikan bagi jamaah, sehingga sepulangnya mereka mampu meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dan merasakan manfaatnya di dunia maupun di akhirat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Mengurus Hati

penasantri.nuruljadid.net – Dalam pengajian Syarh al-Hikam, kami mengikuti bacaan Kiai untuk memahami pengertian kata, kalimat, dan meraih makna. Di halaman 30, kitab anggitan Muhammad bin Ibrahim ini mengulas soal hati. Inilah pusat yang menjadi penerang hidup manusia. Jika rusak, maka seluruh tubuh dan amal perbuatannya pun turut gelap. Uraian di bawah ini adalah pemahaman saya terhadap gagasan yang diterakan dalam kitab.

Kerusakan akibat kegelapan di sini disebabkan oleh banyak sifat-sifat tercela, yang setidaknya ada banyak perilaku yang menjadikan hati manusia keras, seperti sombong (ٱلْكِبْرُ), bangga diri (ٱلْعُجْبُ), dan pamer (ٱلرِّيَاءُ). Sifat terakhir ini ke belakangan sering muncul di media sosial dan televisi melalui pelbagai acara. Flexing, kata populer asal Inggris, sering didengar terkait kegemaran pesohor memamerkan hobi, rumah, dan mobil. Istilah yang lebih khusus untuk sifat ini dalam kitab tersebut adalah ٱلْمُبَاهَاةُ, pameran kemegahan.

Tentu, di era teknologi informasi, warga terpapar pada banyak godaan, baik material maupun hiburan melalui pelbaga sumber, seperti gawai dan televisi. Kini, ketenangan manusia tampak terlihat dari kegemarannya berselancar di lini masa untuk bertukar kabar dan menonton konten di TikTok, Youtube, dan Snack Video. Mereka memelototi layar selama berjam-jam tanpa tahu apa yang seharusnya dinikmati. Kegemaran ini bisa menyebabkan sifat buruk lain, yakni ٱلْغَفْلَةُ عَنِ ٱللَّهِ, lalai dari Allah. Betapa banyak orang memilih tetap memelototi telepon pintar kala azan berkumandang. Padahal ini adalah panggilan Tuhan.

Selanjutnya, pemenuhan kewajiban itu tidak menjadi satu-satunya tindakan yang dilakukan sebagai cara merawat hati, justru keimanan itu ditunjukkan dengan peduli pada orang lain. Meremehkan orang fakir (ٱسْتِحْقَارُ ٱلْفُقَرَاءِ) termasuk budi pekerti yang buruk. Tak pelak, nabi berdoa agar hidup dalam keadaan miskin, wafat dalam keadaan miskin dan berkumpul di hari kiamat bersama orang miskin.

Sementara, terkait dengan keadaan diri, sifat yang perlu dielakkan adalah cepat marah atau temperamental (ٱلْحِدَّةُ). Ini bertentangan dengan konsep emotional quotient (EQ), yang menekankan kecerdasan emosional. Untuk itu, di tengah tantangan kehidupan yang semakin kompleks, manajemen marah (anger management) mendesak untuk diajarkan pada generasi milenial, malah alpha. Anak-anak kini mudah meluapkah amarah hanya karena koneksi gawainya lambat atau tidak bisa mengakses internet.

Keadaan ini juga terkait dengan sifat lain, tergesa-gesa (ٱلْعُجْلَةُ), yang menyebakan generasi baru enggan melalui jalan panjang untuk meraih tujuan. Pelayanan serba instan, baik jasa maupun produk, turut menyumbang pada keinginan manusia untuk segera memenuhi hasrat dalam waktu yang relatif epat, yang justru menjadikan hati ini keras (ٱلْقَسْوَةُ). Tentu, keadaan ini juga menimpa generasi tua yang juga tergelincir pada pemenuhan tujuan serba kilat.

Dari sekian sifat buruk itu, individu menghalangi dirinya untuk sampai ke maqam ‘ubudiyyah hingga ia membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela di atas. Alangkah absurd, kala ia melakukan ibadah salat, puasa, dan naik haji, tetapi masih menyimpan keburukan dalam batinnya. Betapa sia-sia!

Oleh: Ahmad Sahidah (Dosen Pascasarjana Universitas Nurul Jadid)
Editor: Ponirin Mika

Saat Santri Putri Merayakan Negeri

Ajang tahunan ini tidak hanya menumbuhkan semangat pramuka dan nasionalisme, tetapi juga mengasah kreativitas, kemandirian, dan jiwa kewirausahaan santri.

berita.nuruljadid.net – Suasana semarak dan antusiasme tinggi mewarnai peringatan Hari Pramuka ke-64 dan HUT ke-80 Kemerdekaan RI di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Jumat (15/08/25). Ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan memenuhi halaman Al-Masruriyah, wilayah Al-Hasyimiyah, untuk mengikuti dan menyaksikan rangkaian kegiatan yang digelar oleh Forum Komunikasi OSIS (FKO), mulai dari lomba semaphore, cipta-baca puisi, hingga Bazar Kemerdekaan.

Sejak pagi, santri tampak memadati lokasi kegiatan. Meski terik matahari menyengat pori-pori kulit, semangat mereka tak luntur. Teriakan yel-yel dan tepuk tangan membahana saat satu per satu perwakilan sekolah menampilkan atraksi semaphore mereka. Lomba ini diikuti oleh seluruh lembaga tingkat SLTP dan SLTA di bawah naungan Nurul Jadid.

Penampilan peserta tak hanya menunjukkan kekompakan gerakan dan ketepatan kode, tetapi juga kreativitas kostum dan koreografi yang memikat. “Keren banget penampilannya, diluar prediksi. Nggak kalah sama anak luaran. Meskipun kalian di lingkungan pesantren, kekreatifitasannya sangat tinggi. Kostum yang digunakan sangat bagus, nggak kelihatan kalau itu buatan tangan,” ungkap Sulastri, salah satu juri perlombaan.

Tak hanya lomba semaphore, FKO juga menggelar lomba cipta dan baca puisi yang tak kalah menyedot perhatian, serta Bazar Kemerdekaan yang menjadi agenda tahunan mereka. Sekitar pukul 09.00 WIB, bazar resmi dibuka di area Al-Hasyimiyah oleh para tokoh pesantren, termasuk Ny. Nurul Fajriyah, dengan diikuti oleh seluruh pengurus lembaga.

Sebelum dibuka untuk umum, stan bazar terlebih dahulu dinilai oleh dewan juri. “Penilaian meliputi kebersihan, kreativitas stan, produk yang dijual, serta presentasi keseluruhan. Stan terbaik akan mendapat penghargaan,” ujar Fairuz, pembina FKO.

Bazar yang dipadati pengunjung ini menawarkan beragam produk mulai dari makanan ringan, minuman segar, hingga kerajinan tangan santri. Banyak santri yang antusias memborong jajanan favorit mereka atau sekadar mencicipi hidangan unik hasil kreasi teman-teman mereka.

Menurut Fairuz, bazar bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana pembelajaran penting bagi santri. “Kegiatan ini dirancang untuk membangun kebersamaan antar sekolah, menumbuhkan kemandirian, dan mengenalkan dasar-dasar kewirausahaan. Santri belajar mengelola modal, menghitung laba, serta berinteraksi langsung dengan pembeli,” jelasnya.

Sebelum pelaksanaan, panitia juga mendapatkan arahan dari Bidang Konservasi Lingkungan Hidup (BKLH) agar tidak menggunakan styrofoam dalam penyajian makanan, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Ketua panitia, Regita Dwi Cahyani, turut mengapresiasi kerja keras semua pihak. “Meski ada beberapa kendala teknis, alhamdulillah acara berjalan sukses dan disambut meriah. Pengunjung pun sangat ramai,” ujarnya.

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu & Zaituna Farah Kamila
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Santri Nurul Jadid Ditekankan Jadi Patriot Bangsa dalam Upacara HUT RI ke-80

berita.nuruljadid.net — Ribuan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid berbaris rapi di halaman Universitas Nurul Jadid, Ahad pagi, 17 Agustus 2025. Di bawah langit Probolinggo yang cerah, mereka mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara tersebut sekaligus menjadi ruang penguatan nilai-nilai kebangsaan dan religiusitas bagi para santri.

KH Najiburrahman Wahid, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyampaikan pidato bernas penuh semangat nasionalisme dan reflektif. Di hadapan jajaran pimpinan pondok, dosen, serta ribuan santri, beliau membuka sambutan dengan rasa syukur atas karunia kemerdekaan yang, menurutnya, bukan semata hasil kekuatan fisik, melainkan juga anugerah Tuhan.

“Alhamdulillah, atas kudrat dan iradah Allah SWT, kita kembali hadir untuk melaksanakan syiar kemerdekaan. Bangsa Indonesia saat itu belum siap secara persenjataan dan materi, tapi karena rahmat Allah, kita bisa merdeka,” ujarnya, menggetarkan barisan peserta upacara.

Kiai Najib menekankan pentingnya menjaga ingatan kolektif atas perjuangan para syuhada dan pahlawan nasional. Ia mengajak seluruh santri untuk tidak sekadar menikmati kemerdekaan, tetapi turut mengisinya dengan doa, kerja keras, dan kontribusi nyata.

“Mari jangan lupa untuk terus mendoakan mereka agar mendapat rahmat Allah. Tanpa perjuangan mereka, kita tidak akan merasakan nikmat kemerdekaan hari ini,” serunya.

Di tengah pesan moral yang beliau sampaikan, Kiai Najib menyoroti peran penting santri sebagai agen perubahan. Menurutnya, visi kebangsaan yang ditanamkan KH Zaini Mun’im, pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, harus menjadi napas dalam kehidupan santri hari ini. Nilai itu terangkum dalam Panca Kesadaran Santri: kesadaran beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta berorganisasi.

“Santri tidak cukup hanya mengaji dan memikirkan diri sendiri. Ia harus memperjuangkan dakwah Islam, memikirkan rakyat Indonesia, dan menegakkan keadilan sosial,” tegasnya.

Beliau juga menegaskan bahwa nilai-nilai dasar negara seperti Pancasila dan UUD 1945 tidaklah bertentangan dengan prinsip keislaman, selama dijalankan dengan benar dan bertanggung jawab.

“Tidak ada yang salah dengan Pancasila dan UUD 45. Bila diterapkan dengan benar, keduanya adalah jalan menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafur,” katanya, mengutip istilah Qurani tentang negeri yang baik dan diridhai Tuhan.

Dalam bagian akhir sambutannya, Kiai Najib melontarkan kritik terhadap mentalitas malas yang, menurutnya, bisa menjadi penghambat kemajuan bangsa. Beliau menggunakan istilah “mental budak” untuk menyindir sikap pasif yang hanya mau bergerak ketika ditekan atau terdesak.

“Apakah kita mau jadi bangsa yang hanya bekerja kalau dicambuk, kalau kepepet? Kita harus jadi pekerja keras, bersyukur atas nikmat keamanan dan kedamaian yang tidak dimiliki oleh saudara-saudara kita di Palestina dan Ukraina,” ujarnya dengan nada tegas.

Beliau menutup pidatonya dengan seruan agar para santri menjadi patriot sejati yang tetap teguh memegang nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam bingkai cinta tanah air. Dalam pandangannya, santri adalah elemen strategis dalam pembangunan bangsa dan penjaga moralitas masyarakat.

“Jadilah santri pelopor, santri patriot, yang istikamah dalam ajaran Islam dan aktif membangun bangsa Indonesia. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua,” tutupnya, disambut takbir dan tepuk tangan para peserta upacara.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Paskibra Nurul Jadid 2025 Dikukuhkan, Siap Jalankan Tugas Sakral 17 Agustus

berita.nuruljadid.net – Sebanyak 144 santri putra dan putri Pondok Pesantren Nurul Jadid resmi dikukuhkan sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tahun 2025. Pengukuhan berlangsung khidmat di Aula I Pesantren pada Sabtu, 16 Agustus 2025, dipimpin langsung oleh Sersan Mayor (Serma) Babun Sugianto dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Prosesi dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, diikuti laporan pemimpin upacara, dan pembacaan ikrar Putra Indonesia yang dipandu oleh Serma Babun selaku Inspektur Upacara.

“Dengan memohon rida Allah Yang Maha Kuasa, dengan ini saya mengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera Tahun 2025 yang akan bertugas di Lapangan Pesantren pada tanggal 17 Agustus. Semoga Allah memberikan rahmat dan kemudahan dalam menjalankan tugas,” ucap Serma Babun dalam pernyataan pengukuhannya.

Dalam amanatnya, Serma Babun menekankan pentingnya tanggung jawab Paskibra dalam upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menyebut momen pengibaran bendera adalah puncak dari seluruh rangkaian upacara dan harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.

“Ini adalah tugas kehormatan. Laksanakan dengan tanggung jawab, jaga kekhidmatan, dan junjung tinggi semangat kemerdekaan,” tegasnya di hadapan para peserta.

Potret Wakabid. Kelembagaan dan Peserta Didik Biro Pendidikan, Lina Surtianah, tengah menyematkan selempang Paskibra ke salah seorang anggota.

Sebagai simbol pengukuhan, Serma Babun menyematkan evolet kepada anggota Paskibra dari kelompok putra. Sementara untuk kelompok putri, penyematan dilakukan oleh Wakil Kepala Bidang Kelembagaan dan Peserta Didik, Lina Surtianah.

Usai prosesi, para anggota Paskibra menerima ucapan selamat dari pengurus Biro Pendidikan dan para tamu yang hadir. Mereka tampak penuh semangat, siap menjalankan tugas pada upacara 17 Agustus di lapangan pesantren.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi

Editor: Ponirin Mika

 

Upacara Pramuka: Dari Halaman Madrasah, Santri MI Nurul Mun’im Belajar Cinta Tanah Air

berita.nuruljadid.net – Pagi itu, Kamis (14/08/25), halaman MI Nurul Mun’im Pondok Pesantren Nurul Jadid berubah menjadi lautan cokelat. Seragam Pramuka lengkap membalut tubuh para siswa, dewan asatidz, dan asatidzah yang berdiri rapi di bawah teduhnya langit musim kemarau. Tepat pukul delapan, upacara peringatan Hari Pramuka ke-64 dimulai, mengusung tema “Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa”.

Bertindak sebagai pembina upacara, Syarqowi melangkah mantap ke podium. Dalam amanatnya, ia mengajak peserta merenungkan makna tiap atribut yang mereka kenakan. “Merah putih yang terkalung di leher bukan sekadar tanda pengenal. Ia berada dekat dengan hati, melambangkan cinta yang tulus kepada bangsa dan negara,” ujarnya lantang. Kalimat itu diikuti penjelasan tentang Panca Kesadaran Santri, khususnya al-wa’yu al-hukūmī wa asy-sya’bī, kesadaran berbangsa dan bernegara.

Sebelum amanat utama, Syarqowi menyerahkan piagam penghargaan kepada anggota Pramuka teraktif semester genap tahun ajaran 2024–2025. Syaratnya ketat: kehadiran 100 persen. Tepuk tangan membahana, menjadi penghormatan bagi dedikasi yang nyaris tanpa absen.

Dari awal hingga akhir, upacara berjalan tertib. Para guru memberi teladan, berdiri di barisan dengan atribut lengkap, wajah teduh, dan senyum yang sesekali muncul di sela instruksi. Semangat kebersamaan terasa kental, seolah mengikat seluruh peserta dalam satu ikatan mencintai tanah air.

Bagi MI Nurul Mun’im, peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah ruang untuk menanamkan karakter kebangsaan, menumbuhkan jiwa kolaborasi, dan membentuk generasi yang tangguh, generasi yang siap berdiri tegak di barisan terdepan menjaga Indonesia.

Reporter: Rinayah Risky Rora
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Di Upacara Pramuka, Santri Nurul Jadid Siap Jadi Pramuka Garuda 2045

berita.nuruljadid.net – Suara langkah kaki berderap di lapangan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kamis pagi (14/08/25). Di bawah langit yang mulai cerah, barisan Pramuka berdiri tegak membentuk formasi rapi. Bendera Merah Putih berkibar, sementara sorak yel-yel membahana. Menariknya, ada yang berbeda pada upacara Peringatan Hari Pramuka ke-64 kali ini.

“Upacara ini bukan formalitas,” ujar Mujiburrahman, Kepala Bidang Kelembagaan dan Peserta Didik Biro Pendidikan Nurul Jadid. “Di baliknya ada nilai yang diusung, yaitu merefleksikan sejarah Pramuka saat berjuang meraih Kemerdekaan RI. Yel-yel yang didengungkan tadi bukan sekadar teriakan, melainkan penanaman spirit kedisiplinan dan jiwa korsa pada diri santri.”

Sejarah memang menjadi nadi dalam setiap gerakan. Pada 1961, Gerakan Pramuka resmi disahkan pemerintah sebagai wadah pembinaan generasi muda. Semangat itu pula yang dihidupkan kembali oleh Pramuka Nurul Jadid.

“Dua tahun lalu kita mulai Pramuka Nurul Jadid dari nol,” kenang Pembina Pramuka Nurul Jadid, Umar Falas. “Sekarang sistem sudah terbangun. Tinggal kita jalankan dan sempurnakan. Dalam beberapa tahun ke depan, Nurul Jadid akan menjadi satu gugus depan lengkap.”

Visi tersebut bukan main-main. Program sinergi ke depan, tutur Mujiburrahman, mencakup latihan gabungan, perkemahan bersama di akhir program furudhul ainiyah santri. Semua diarahkan pada satu tujuan: melahirkan kader Pramuka Garuda (tingkatan tertinggi dalam kepramukaan).

“Yang berumur siaga, penggalang, penegak, akan kita dorong, kawal, dan tata menjadi Garuda,” tegas Pembina Upacara, Farhan. “Seorang Pramuka Garuda adalah kader emas bangsa. Kalianlah yang akan menjadi generasi emas di tahun 2045 nanti.”

Target ini merupakan bagian dari cita-cita besar. Menjadi Pramuka Garuda bukan sekadar pengakuan prestasi, melainkan membutuhkan kesiapan diri yang matang, keterampilan, karakter, dan jiwa patriot. “Kita ingin santri Nurul Jadid tidak hanya piawai mengaji, tetapi juga tangguh sebagai kader bangsa,” tambah Farhan dalam amanatnya.

Di akhir upacara, barisan Pramuka kembali meneriakkan yel-yel secara bergilir. Kedisiplinan dan kekompakan yang lahir bersama gerakan yel-yel itu menjadi bukti perkembangan Pramuka Nurul Jadid yang terus menghidupkan nilai sejarah, membudayakan disiplin, dan siap menyongsong masa depan sebagai Pramuka Garuda—kader untuk Indonesia Emas 2045.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Peringati Hari Lahir ke-64, Pramuka Nurul Jadid Tekankan Ketahanan Bangsa

berita.nuruljadid.net – Hangat sinar mentari pada Kamis (14/08) pagi membangkitkan semangat para santri Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) yang mengikuti upacara peringatan Hari Lahir Pramuka ke-64 di Lapangan Ayaman. Dari kejauhan, terlihat segerombolan santri putri berbaris rapi menuju lokasi upacara bak semut menuju sarangnya.

Upacara tersebut dihadiri seluruh siswi kelas VII dan X dari satuan lembaga di bawah naungan PPNJ, baik yang berada di dalam maupun luar lingkungan pesantren, seperti Madrasah Tsanawiyah Az-Zainiyah I dan III.

Sambil menunggu upacara dimulai, beberapa santri duduk di bawah pohon rindang hingga di area parkir untuk menghindari debu. Upacara dimulai setelah semua lembaga berkumpul, dipandu langsung oleh protokol.

Meski berada di bawah terik sinar matahari, upacara berlangsung khidmat dan semangat para santri tidak surut. Ustazah Fairus, anggota Biro Pendidikan (Birpend) yang menjadi pembawa sambutan, menegaskan bahwa Pramuka bukan sekadar organisasi, tetapi salah satu pilar ketahanan bangsa.

“Pramuka itu bukan hanya simbol untuk seragam formalitas lembaga. Namun, pramuka merupakan salah satu aksi melanjutkan perjuangan oleh para pendahulu,” ujarnya, disambut senyum kagum beberapa santri.

Ia menambahkan, Pramuka yang menjadi ekstrakurikuler wajib di setiap lembaga adalah upaya pesantren dalam menanamkan Panca Kesadaran santri dan Trilogi Santri. “Tidak hanya sekadar yel-yel tepuk tangan. Dengan adanya pramuka ini diharapkan santri memiliki jiwa semangat juang, kebersamaan, dan saling menghargai antar sesama (korsa),” ungkap guru Madrasah Ibtidaiyah Nurul Mun’im (MINM) itu.

Usai upacara, santri diarahkan mencari tempat teduh sebelum mengikuti penampilan setiap satuan lembaga dalam Latihan Gabungan (Latgab) untuk mempersatukan seluruh lembaga pendidikan.

Kegiatan ditutup dengan para santri meninggalkan Lapangan Ayaman sambil melambaikan tangan kepada para pembina yang mendampingi mereka sejak pagi hingga menjelang siang.

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor: Ponirin Mika

LBKNJ Gelar Bahtsul Masail Sughra, Teguhkan Tradisi Keilmuan di Lingkungan Putri Nurul Jadid

Nuruljadid.net – Lajnah Bahtsul Kutub Putri Nurul Jadid (LBKNJ) menggelar Forum Bahtsul Masail Sughra pada Jumat (08/08/2025) di lingkungan Putri Nurul Jadid. Kegiatan ini menghadirkan seluruh perwakilan dari setiap lembaga kitab putri, dengan tujuan mengasah kemampuan diskusi ilmiah sekaligus melestarikan tradisi keilmuan pesantren.

Acara dimulai dengan seremoni pembukaan yang dihadiri seluruh peserta dan Pengurus Biro Kepesantren Putri. Rangkaian pembukaan meliputi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan Mars, serta sambutan dari Ketua LBKNJ dan Biro Kepesantren Putri.

Ketua LBKNJ, Safiatul Khoirot, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar forum ini dimanfaatkan untuk belajar dan mendiskusikan permasalahan dengan semangat mencari kebenaran.

“Kita berdiskusi dengan baik bukan untuk mencari kemenangan, tetapi untuk menemukan kebenaran,” ujarnya.

Sementara itu, Ny. Hj. Viki Amalia Romzi mengingatkan peserta untuk istiqamah dalam belajar serta selalu membawa kamus sebagai wujud ketawaduan terhadap ilmu. Beliau juga mengapresiasi kegiatan ini karena Bahtsul Masail merupakan forum kajian Ilmiah warisan ulama yang harus terus  dilestarikan dilingkungan Pesantren.

Doa dipimpin oleh Ustaz Zainul Arifin Adam, kemudian forum resmi dibuka oleh moderator, Ustaz Wildan Dzulfikar. Kegiatan terbagi menjadi dua jalsah: sesi pertama berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB dan sesi kedua pukul 13.00–15.30 WIB.

Hadir dalam kegiatan ini Ustaz Zarkasyi selaku Mushohhih dan Ustaz Zainul Arifin Adam sebagai Perumus. Forum berjalan khidmat dan dinamis, mencerminkan semangat santriwati dalam mengkaji permasalahan dengan landasan kitab kuning dan tradisi ilmiah pesantren.

Pewarta : Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri

Editor : Maria Al Faradela

 

Sampaikan Pesan Lewat Visual, HSC Hadirkan Pelatihan Desain Grafis 3 Hari

Nuruljadid.net – Setelah resmi dibuka pada Senin (28/07), kegiatan Holiday Skill Camp (HSC) yang diselenggarakan Biro Pengembangan mulai merealisasikan salah satu rangkaian acaranya, yakni Pelatihan Desain Grafis, pada Selasa (29/07).

Pelatihan ini dibimbing langsung oleh Ustadz Ishom, S.Kom., editor Enje Picture, dan akan berlangsung selama tiga hari pada 29, 30 Juli, serta 12 Agustus. Sebanyak 10 peserta hadir dari wilayah Al-Hasyimiyah dan Az-Zainiyah, masing-masing mengutus lima mahasiswi dari Angkatan 22 dan Angkatan 23.

Dalam pelatihan, materi disampaikan secara runtut melalui PowerPoint sehingga peserta mudah memahami. Salah satu pembahasan utama adalah prinsip dasar dan elemen desain grafis agar informasi dan ide dapat tersampaikan efektif melalui visual.

“Agar informasi dapat tersampaikan dengan baik, kita perlu memahami prinsip dasarnya. Desain grafis juga tidak akan menarik tanpa elemen seperti space (jarak), size (ukuran), color (warna), shape (bentuk), line (garis), texture, dan value,” ujar Ustadz Ishom.

Pemateri juga memberikan contoh desain yang menarik, menekankan bahwa desain grafis seharusnya mampu memvisualisasikan pesan dengan jelas.

“Hanya dengan melihat desain, orang sudah paham pesan yang ingin disampaikan,” tambahnya.

Meski beberapa peserta belum memiliki aplikasi editing, Ustadz Ishom berharap mereka dapat menghasilkan visual yang baik. Sebagai tugas akhir pertemuan pertama, peserta diminta menginstal CorelDRAW untuk memudahkan praktik pada sesi berikutnya.

Pewarta : Neila Zahirah

Editor : Maria Al Faradela

Studi Kitab Fathul Qarib Perkuat Tradisi Keilmuan Pesantren

Studi Kitab Fathul Qarib Perkuat Tradisi Keilmuan Pesantren

Selasa, 29 Juli 2025, Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menjadi pusat perhatian dalam rangkaian kegiatan Iftitah Al Dirasah MANJPK dengan digelarnya Studi Kitab Fathul Qarib. Acara ini menghadirkan langsung KH. M. Syakur Dewa, yang akrab disapa Gus Dewa, pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Probolinggo.

Dipandu oleh moderator Ustaz Ainul Yaqin Mannan, Gus Dewa memberikan pemaparan mendalam tentang Kitab Fathul Qarib, termasuk penjelasan konteks dan relevansinya di era modern. Momen penting acara ini adalah pemberian ijazah sanad Kitab Fathul Qarib, menegaskan kesinambungan tradisi keilmuan klasik pesantren.

Acara semakin hidup dengan kehadiran KH. Imdad Rabbani sebagai keynote speaker. Suasana penuh kehangatan dan canda tawa mewarnai saat Gus Dewa dan Gus Imdad mengenang pengalaman mereka mondok di Pesantren Lirboyo, mengingatkan bahwa pesantren tidak hanya disiplin, tapi juga penuh kebersamaan dan humor khas santri.

Studi kitab ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang memberi kesempatan bagi para santri berdialog langsung dengan narasumber. Kegiatan diakhiri dengan pemberian cinderamata sebagai bentuk apresiasi.

Seluruh siswa dan siswi MANJPK, dewan musyrifin–musyrifah, tenaga pengajar, serta perwakilan lembaga kitab di Nurul Jadid hadir menyaksikan momen berharga ini. Lebih dari sekadar kegiatan akademik, studi kitab ini memperkuat tradisi keilmuan pesantren dalam membentuk generasi berakhlak, berilmu, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Ustaz Moh Abdillah, Koordinator MANJPK, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya madrasah untuk terus menghidupkan tradisi pengajaran kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren. “Kami ingin menanamkan tidak hanya pengetahuan, tetapi juga kecintaan dan penghormatan terhadap warisan keilmuan klasik yang telah teruji,” ujarnya.

Sementara itu, Gus Dewa menekankan pentingnya pemahaman konteks kitab kuning agar tidak hanya dibaca secara tekstual, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman. “Kitab Fathul Qarib adalah kunci untuk memahami tata bahasa Arab dan fiqh yang mendasar. Dengan memahami kitab ini, santri mampu mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Acara ini juga menjadi momen penguatan jaringan antar pesantren. Beberapa perwakilan lembaga kitab yang hadir menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini terus diadakan secara berkala untuk menjaga kesinambungan ilmu dan tradisi keilmuan di lingkungan pesantren, sekaligus mempersiapkan kader ulama masa depan yang berkualitas.

Pewarta : Maria Al Faradela

Editor : Ponirin Mika

Iftitah Al Dirasah MANJPK: Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan Pendidikan Pesantren

Senin malam (28/7/2025), aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid diselimuti suasana khidmat dan penuh semangat. Madrasah Aliyah Nurul Jadid Peminatan Keagamaan (MANJPK) menggelar Iftitah Al Dirasah, sebuah agenda yang bukan sekadar seremoni pembukaan tahun ajaran baru, tetapi juga momentum refleksi arah pendidikan keagamaan pesantren.

Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan Master of Ceremony dwibahasa (Indonesia–Arab) yang mengalirkan nuansa akademik sekaligus spiritual. Ustaz Reval Mhaulana Aminullah membuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, mengundang hening dan kekhusyukan seluruh hadirin. Suasana kemudian berubah penuh semangat saat hadirin menyanyikan Mars Nurul Jadid dan Mars MANJPK, lagu yang menjadi simbol kebanggaan dan identitas madrasah.

Wildan Dzulfikar, selaku ketua panitia, mengawali sambutan dengan ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung terlaksananya acara ini. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ustaz Moh Abdillah, koordinator MANJPK, yang mengungkapkan langkah kurikulum baru:
“Selama tiga tahun kita menekuni dan mengkaji Kifayah Al-Akhyar. Namun mulai tahun ajaran baru ini, kita akan kembali ke kitab Fathul Al-Qarib sebagai bentuk penyegaran metode belajar,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Kepala madrasah, Ustaz Misbahul Munir, memberikan apresiasi atas komitmen seluruh pihak dalam menjaga mutu pendidikan. Hadir pula salah satu pendiri MANJPK, Ustaz Ahmad Barzan, yang membawa nostalgia sejarah pendirian madrasah. Beliau menegaskan empat pilar utama yang menjadi fokus MANJPK: tafaqquh fi al-din, pemahaman mendalam terhadap kitab kuning, serta penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Puncak malam itu adalah tausiyah KH. Maltuf Siraj yang menekankan pentingnya quality control dalam pendidikan:
“Ubah yang kurang bagus menjadi lebih efektif. Kita harus tirakat dalam mencari ilmu. Ingat, jendela ilmu adalah membaca. Imam Walik pernah berkata: Al-‘ilmu yuzaru wala yazuru, yu’ta wala yu’ti—ilmu itu didatangi, bukan mendatangi,” dawuh beliau yang disambut takzim para hadirin.

Acara kemudian ditutup dengan penuh kekeluargaan oleh Ustaz Mohammad Nashiruddin, guru senior yang dikenal bijak dan inspiratif. Seluruh siswa, siswi, dewan musyrifin–musyrifah, tenaga pengajar, biro pendidikan, serta koordinator madrasah hadir menyaksikan momen yang sarat makna ini.

Lebih dari sekadar acara pembukaan, Iftitah Al Dirasah malam itu menjadi pengingat bahwa pendidikan pesantren bukan hanya soal akademik, tetapi juga membentuk karakter, melatih disiplin, dan menanamkan nilai-nilai spiritual. Dari kitab kuning hingga quality control, dari bahasa Arab hingga bahasa Inggris, MANJPK terus berupaya menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.

Pewarta: Maria Al Faradela

Editor : Ponirin Mika