Mahasiswi UNUJA Asah Skill Lewat Holiday Skill Camp

Mahasiswi UNUJA Asah Skill Lewat Holiday Skill Camp
Paiton, 28 Juli 2025 — Meski terik matahari menyengat, antusiasme ratusan mahasiswi Universitas Nurul Jadid (UNUJA) tak surut untuk mengikuti pembukaan kegiatan Holiday Skill Camp (HSC) yang digelar di Aula II PPNJ, Senin (28/7). Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Biro Pengembangan Puteri (Birpeng) dengan Universitas Nurul Jadid sebagai wadah pengembangan diri mahasiswi selama libur semester.
HSC yang berlangsung mulai 28 Juli hingga 23 Agustus 2025 ini menyajikan berbagai kegiatan edukatif dan inspiratif, di antaranya Workshop Komunikasi Efektif, Pelatihan Desain Grafis, Lomba Pidato dan Menulis Esai, Pelatihan Jurnal Ilmiah, Workshop Motivasi Diri, hingga Pengenalan Kesehatan Reproduksi Wanita. Seluruh rangkaian kegiatan diberikan secara gratis bagi seluruh mahasiswi.
Kepala Birpeng, Ny. Hj. Umi Hani’ah dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar mahasiswi dapat memanfaatkan masa liburan dengan kegiatan yang bermanfaat.
“Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi sebagai wadah mengembangkan wawasan selama libur UAS, dan semuanya gratis. Teman-teman tinggal menikmatinya. Kami telah menyiapkan banyak event, workshop, dan pelatihan pengembangan diri. Selamat menikmati kegiatan ini,” ungkap Ny. Hj. Umi Hani’ah saat membuka acara.
Acara dibuka dengan sesi ice breaking oleh Nurul Jadid Trainer sebagai host untuk menyemangati peserta sebelum memasuki sesi inti. Workshop perdana bertema Komunikasi Efektif disampaikan oleh dosen UNUJA, Ibu Zakiyah BZ.
Salah satu peserta, Siti Aisyah, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisariat PMII UNUJA, mengungkapkan apresiasinya terhadap program ini.
“Senang dengan adanya kegiatan ini, karena membuat libur UAS saya lebih bermanfaat. Saya bisa menambah wawasan dan skill tanpa harus membayar, cukup hadir dan menikmati semua kegiatan secara gratis,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya mahasiswi dalam sesi tanya jawab dan diskusi kelompok. Banyak dari mereka yang mencatat poin-poin penting selama pelatihan dan berharap dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan organisasi maupun akademik.
Selain pelatihan dan workshop, panitia juga menyiapkan berbagai perlombaan yang bertujuan untuk mengasah soft skill peserta, seperti lomba pidato, esai, dan desain poster. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang eksplorasi minat dan bakat yang selama ini belum sempat tergali secara maksimal di bangku perkuliahan.
Dengan konsep yang fun dan edukatif, HSC menjadi angin segar bagi mahasiswi UNUJA untuk menikmati masa liburan secara produktif. Kehadiran narasumber yang kompeten serta materi yang aplikatif menjadikan program ini sebagai langkah strategis dalam mencetak generasi perempuan yang unggul, kreatif, dan berdaya saing tinggi.

Pewarta: Maria Al Faradela
Edito : Ponirin Mika

Terkesima Program Mandarin, Yayasan Sabilillah Malang Studi Banding ke SMA Nurul Jadid

nuruljadid.net.berita Sepuluh pengurus Yayasan Sabilillah Malang melakukan kunjungan studi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Sabtu (2/8/2025). Kunjungan tersebut difokuskan untuk mempelajari strategi pengembangan bahasa Mandarin yang telah berhasil diterapkan di pesantren tersebut.

Koordinator rombongan, Prof. Ibrahim Bafadal, menyatakan kekagumannya terhadap pencapaian Nurul Jadid dalam membina santri hingga mahir berbahasa Mandarin dan diakui secara internasional.

“Banyak orang kagum terhadap Nurul Jadid karena berhasil mencetak alumni yang mahir berbahasa Mandarin dan diakui di tingkat internasional,” ujarnya.

Salah satu contoh keberhasilan tersebut, lanjutnya, adalah Novi Basuki—alumni Nurul Jadid yang menempuh pendidikan dari jenjang S1 hingga doktoral di Tiongkok.

Rombongan juga terkesan dengan kemampuan Pesantren Nurul Jadid menyelenggarakan ujian HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) level 4 secara mandiri. Ujian ini merupakan standar kemampuan bahasa Mandarin yang diakui secara global.

Kepala Bidang Kurikulum Biro Pendidikan Nurul Jadid, Sugiono, menjelaskan bahwa program bahasa Mandarin di pesantren tersebut telah dirintis sejak tahun 2004. Saat itu, pihak pesantren mempertimbangkan beberapa bahasa asing, seperti Jerman dan Jepang, sebelum akhirnya memilih Mandarin karena potensi globalnya yang besar.

“Salah satu guru pertama kami bahkan belajar Mandarin secara otodidak sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan belajar langsung di Tiongkok,” ujar Sugiono.

Hingga kini, banyak alumni Nurul Jadid melanjutkan pendidikan tinggi di berbagai universitas di Tiongkok, bahkan sebagian memperoleh beasiswa penuh dari pemerintah Tiongkok untuk studi di bidang sains hingga ilmu sosial.

Dalam kunjungan selama dua jam itu, pihak Yayasan Sabilillah berdiskusi langsung mengenai kurikulum, metode pengajaran, serta pengelolaan tenaga pengajar yang dinilai efektif dan bisa menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya.

Pewarta  : Ponirin Mika

Membangun Kesadaran Santri di Tengah Festival Lomba Al-Hasyimiyah

berita.nuruljadid.net – Riuh sorak-sorai dan tepuk tangan memenuhi halaman wilayah Al-Hasyimiyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Senin malam (28/07/25). Festival Lomba Al-Hasyimiyah (FLA) resmi dimulai. Tahun ini, FLA mengangkat tema “Kreatif, Suportif, dan Inovatif”, mencerminkan tekad untuk membangun budaya kompetisi yang sehat, kolaboratif, dan berdaya cipta di kalangan santri.

Alfiatin Wahidah, ketua panitia FLA 2025, menyampaikan harapannya agar perlombaan tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga ruang tumbuhnya nilai-nilai sportivitas dan kekompakan.

“Kami ingin mengingatkan peserta agar menjadikan lomba ini sebagai momen untuk bersaing secara sehat. Jangan saling menjatuhkan, tapi saling dukung dan tumbuh bersama,” ujar Alfiatin dalam sambutannya.

Festival yang digelar dalam rangka menyambut libur Maulid Nabi Muhammad SAW ini menjadi agenda tahunan yang ditunggu para santri. Namun, di balik semaraknya kompetisi, pesan moral juga disampaikan oleh pihak pengasuh pesantren.

Wakil Kepala Biro Kepesantrenan, Ny. Hj. Mamnuhatur Rohmah, meski tidak hadir secara langsung, menitipkan pesan melalui Pengurus Biro Kepesantrenan Siti Maknunah saat membuka acara. Pesan itu mengingatkan santri agar menjaga prioritas kewajiban di tengah gemuruh lomba.

“Beliau berharap kegiatan ini tidak mengganggu kewajiban utama para santri seperti pengajian pagi-sore, pembinaan Al-Qur’an, dan sekolah formal. Panitia dan pengurus diminta turut mengawal agar kegiatan FLA tetap berjalan seiring dengan kewajiban santri,” ujar Maknun.

Pesan ini menegaskan prinsip pendidikan ala pesantren di mana kegiatan lomba boleh dirayakan, asal tidak mengorbankan fondasi keilmuan dan disiplin kepesantrenan. Keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab menjadi nilai yang terus dijaga.

Festival Lomba Al-Hasyimiyah tahun ini membawa pesan bahwa di dalam kompetisi, kemenangan bukanlah segalanya, tetapi menjaga nilai adalah yang lebih utama.

Pewarta: Neila Zahirah

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Santri Dalbar Unjuk Talenta dan Kreativitas dalam Ajang Klip Az

berita.nuruljadid.net – Nyanyian nasyid menggema di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid, Senin malam (29/7/25), resmi membuka rangkaian kegiatan Kreasi Lomba Islami Wilayah Az-Zainiyah (Klip Az). Kegiatan ini adalah bukti pesantren tak hanya menjadi tempat santri mengaji, tetapi juga ruang mengasah bakat dan menumbuhkan keterampilan santri.

Ajang tahunan yang rutin digelar menjelang liburan Maulid ini menjadi panggung ekspresi bagi para santri dari lima belas daerah di bawah naungan wilayah Az-Zainiyah (Dalbar) Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tahun ini, sebanyak 18 cabang lomba dipertandingkan, mulai dari lomba pidato, kaligrafi, baca kitab kuning, hingga seni musik islami.

Dalam sambutannya, Wakil Kepala II Biro Kepesantrenan, Ny. Hj. Mamnuhatur Rohmah mengingatkan pentingnya menjadikan Klip Az bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan sarana pelatihan diri bagi santri: belajar tampil, mengelola potensi, dan menumbuhkan jiwa kompetitif dalam bingkai akhlak.

“Lomba ini bagus, tapi jangan sampai membuat kalian lalai dari kewajiban inti sebagai santri, salat berjamaah, mengaji, dan kegiatan kepesantrenan lainnya. Jangan membangun bangunan megah di atas fondasi yang rapuh,” ujarnya, menyisipkan perumpamaan tajam yang mengena di hati para peserta.

Kepala Wilayah Az-Zainiyah, Novita Dwi Yanti dalam sambutannya, menekankan bahwa Klip Az merupakan bagian dari sistem pembinaan yang integral di pesantren. Menurutnya, pesantren hari ini bukan hanya menanamkan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mengembangkan potensi santri agar mampu tampil di ruang publik dengan percaya diri dan tetap berakar pada nilai-nilai kepesantrenan.

“Kegiatan ini adalah bukti bahwa pesantren punya peran penting dalam mencetak generasi yang tak hanya saleh secara spiritual, tapi juga kompeten secara sosial dan keterampilan,” ujarnya.

Penampilan pembuka dari tim nasyid malam itu sekaligus menjadi simbol pembuka lomba. Nampak para peserta mempersiapkan timnya sebelum tampil di atas panggung dengan sorotan dari ribuan penonton.

“Kami latihan selama dua pekan, sambil tetap mengikuti ngaji kitab dan kegiatan wajib. Justru dari kegiatan seperti ini, kami belajar mengatur waktu dan berani tampil,” ujar salah satu peserta nasyid usai giliran timnya tampil.

Antusiasme juga terlihat di wajah-wajah santri yang menonton memadati aula. Bagi mereka, Klip Az bukan hanya tentang menang dan kalah. Lebih dari itu, ini adalah panggung untuk menyingkap dan mengasah bakat yang telah lama terpendam.

 

Pewarta: Afaf Merysca Firdaus

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Air Mata Santri Baru Tumpah di Malam Terakhir OSABAR

Berita.nuruljaid.net Senja telah lewat, berganti malam menyelimuti langit Paiton. Kala itu, lorong-lorong wilayah menuju Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi gerombolan santri baru yang berbaris rapi, bak semut menuju sarangnya. Mereka mengenakan kostum berwarna hitam-putih, di bahu kanannya menempel tas biru berisi catatan dan peralatan menulis.

Pukul delapan malam, Rabu (16/07/25), raut wajah santri yang tak sampai sepekan di pesantren itu terlihat gembira. Mereka nampak menggebu-gebu mengikuti sesi terakhir rangkaian pembukaan Orientasi Santri Baru (OSABAR), pemutaran film dalam sesi audiovisual.

Di lantai tiga aula utama, tempat kegiatan berlangsung, udara sejuk dari pendingin ruangan dan hiburan pemandu acara menyambut kedatangan lebih dari 800 santri. Lantai ruangan yang dilapisi karpet merah menjadi alas nyaman bagi peserta yang duduk.

Selagi menunggu film diputar, panitia memutar lagu tema OSABAR. Liriknya terpampang jelas di layar lebar, dan berhasil mengajak seluruh santri larut dalam nyanyian bersama.

Tepat pukul 20.41 WIB, layar menyala. Film Bila Ibu Esok Tiada, karya Rudi Soedjarwo, diputar. Beberapa menit pertama, suasana ruangan masih riuh. Film sempat di-pause agar para peserta dapat menyesuaikan diri dengan suasana yang diharapkan, hening dan khidmat. Kemudian lampu dimatikan, film kembali diputar, camilan dari panitia mulai dikunyah perlahan. Semua mata terpaku ke layar.

Cerita bergulir. Tentang seorang ibu yang penuh kasih dan pengorbanan tanpa pamrih. Sebuah film yang mengandung bawang. Jelang film berakhir, terdengar isakan tangis dari seorang santri baru.

“Dari awal lihat judul, teman-teman disebelahku sudah mau nangis,” ujar In’am Chandra Celena, santri baru asal Probolinggo dari wilayah Zaid bin Tsabit. Matanya sembab, tangannya sibuk mengusap pipi.

Ia mengaku teringat orang tuanya di rumah. “Langsung kepikiran ibu dan ayah. Lagi apa mereka sekarang ya? Semoga sehat selalu,” ucapnya lirih.

Tak hanya para santri. Beberapa panitia dan kakak asuh yang mendampingi juga ikut tersedu sedih. Film tersebut memang dikenal mampu menyentuh sisi emosional penonton, terutama mereka yang sedang jauh dari rumah.

Ketika film berakhir dan lampu dinyalakan kembali, beberapa wajah terlihat basah, mata sembab, dan suara hidung sesekali terdengar menyedot air mata yang masih mengalir. Tangis perlahan reda, mereka bersiap untuk meninggalkan ruangan.

Sebelum sesi foto selesai, satu per satu santri meninggalkan aula. Hanya panitia yang tersisa, sibuk membersihkan sampah-sampah kecil yang tertinggal, seperti kenangan yang tak benar-benar bisa disapu habis dari sebuah malam akhir pembukaan OSABAR yang penuh sentuhan.

 

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Santri Baru Mengenal Masyaikh Lewat Safari Ma’had

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menggelar tradisi Safari Ma’had dalam rangkaian kegiatan Orientasi Santri Baru (OSABAR), Rabu, 16 Juli 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting dalam masa orientasi, di mana santri diajak menyusuri lingkungan pesantren untuk mengenal letak gedung pesantren dan keluarga pengasuh.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah mengenalkan para santri kepada para masyaikh serta sejarah dan lingkungan sekitar pesantren,” ujar Nur Azizah, Panitia Divisi Acara OSABAR.

Perjalanan dimulai dari pusat pesantren dan dilanjutkan ke sejumlah titik historis dan struktural di wilayah Nurul Jadid, termasuk ke daerah satelit seperti Nasyiatul Hamidiyah dan MTsN yang terletak di tengah pemukiman warga Karanganyar. Santri berjalan dalam barisan teratur di bawah terik matahari menyusuri lorong-lorong pesantren.

Meski melelahkan, antusiasme tetap terlihat. Para santri baru tampak bersemangat saat sowan (bersalaman) dengan keluarga pengasuh yang mereka kunjungi satu per satu. “Kami sudah menghubungi keluarga pengasuh sejak 12 Juli lalu, dan mengingatkan kembali pada H-1. Tapi memang ada beberapa yang tidak bisa ditemui karena sedang bepergian,” tutur Nur Azizah.

Lebih dari sekadar tur keliling pesantren, Safari Ma’had dimaknai sebagai awal perjalanan spiritual dan sosial santri di lingkungan Nurul Jadid. Tradisi ini mengajarkan nilai adab, pentingnya silaturahmi, dan kesadaran akan posisi seorang santri dalam lingkungan pesantren.

Pewarta: Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Pesan Neng Iin untuk Santri Baru

berita.nuruljadid.net – Wakil Sekretaris Pondok Pesantren Nurul Jadid, Nyai Hj. Mutmainnah Waqid, menegaskan pentingnya niat sebagai pondasi utama dalam menuntut ilmu. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Orientasi Santri Baru (Osabar) yang digelar di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Rabu, 16 Juli 2025.

Dalam ceramah bertema Be New You, perempuan yang akrab disapa Neng Iin itu menekankan bahwa niat menuju akhirat harus menjadi orientasi utama setiap pencari ilmu. “Segala sesuatu berawal dari niat, dan niat itu letaknya di hati. Hati adalah tempat malaikat membisikkan kebaikan, maka jagalah hati agar tetap bersih,” ujarnya di hadapan ratusan santri baru.

Ia menambahkan, sebelum mendalami ilmu apapun, santri harus menguasai ilmu fardhu ‘ain sebagai dasar beragama. Menurutnya, ini merupakan bagian dari trilogi santri yang wajib ditanamkan sejak dini.

Namun, keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum juga menjadi sorotan. “Santri tidak hanya hidup di pesantren, tetapi juga akan berinteraksi dengan masyarakat. Ilmu umum seperti ekonomi, sosial, dan teknologi dibutuhkan untuk bermuamalah secara bijak,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Nyai Mutmainnah juga menyoroti pentingnya akhlak sebagai pelengkap ilmu. Menurutnya, sehebat apapun seseorang dalam bidang keilmuan, tidak akan bernilai jika tidak dibarengi dengan budi pekerti. “Akhlak adalah wajah sejati dari seorang santri,” katanya.

Ia pun menutup ceramah dengan pesan reflektif: santri ideal bukanlah yang meniru tren media sosial, melainkan yang mampu menemukan jati diri. “Jadilah versi terbaik dari diri kalian, bukan tiruan dari orang lain,” tutupnya.

Kegiatan Osabar tahun ini tidak hanya menjadi sarana pengenalan lingkungan pondok, tetapi juga titik awal penanaman nilai-nilai dasar kepesantrenan bagi santri baru.

Pewarta: Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Neng Din Ungkap Makna OSABAR kepada Santri Baru

berita.nuruljadid.net – Langit Paiton belum sepenuhnya gelap ketika aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi gelombang putih-putih kerudung. Suasana riuh khas pertemuan santri baru memecah keheningan malam, sebelum pelan-pelan meredup saat suara mikrofon mulai berbunyi. Di tengah-tengah antusiasme itu, Wakil Kepala 3 Pesantren, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah, atau yang akrab dipanggil Neng Din, dengan senyum hangat melangkah ke podium untuk menyambut kedatangan santri baru.

Malam itu, Senin (14/07/25), menjadi malam perdana bagi ratusan santri baru putri mengikuti rangkaian Orientasi Santri Baru (OSABAR), sebuah tradisi tahunan yang bukan sekadar seremoni penyambutan, tapi juga ruang perjumpaan awal antara nilai-nilai pesantren dan para santri baru.

“Selamat datang di Nurul Jadid, rumah kedua kalian. Tempat di mana kalian akan menimba ilmu, mengaji, dan membina akhlaqul karimah,” ucap Neng Din, suaranya jernih dan tenang, menyapu ratusan wajah muda yang menatap ke arahnya, sebagian mencatat dengan serius, sebagian lain mencuri-curi pandang ke teman sebelah, saling tersenyum kaku, mungkin karena gugup, mungkin karena belum akrab dengan suasana.

Neng Din tidak datang membawa pembukaan normatif semata. Beliau datang membawa cerita, membawa filosofi. Baginya, OSABAR bukan sekadar agenda perkenalan atau pembiasaan jadwal harian. Ia menyebutnya sebagai momen pembentukan awal jati diri para santri.

“Ini adalah titik awal kalian membentuk jati diri sebagai santri. Sebuah proses menjadi. Karena kita hidup bersama di pesantren, maka adaptasi dan toleransi menjadi kunci,” tuturnya, sambil sesekali memandang wajah-wajah baru santri.

Ia mengakui bahwa masa awal tinggal di pesantren tidak selalu mudah. Suasana baru, ritme yang disiplin, hingga rindu rumah yang tiba-tiba menyeruak adalah hal wajar, katanya. Tapi semua itu bagian dari proses.

“Biasanya rasa tidak nyaman itu hanya satu hingga dua minggu, maksimal sebulan. Kalau dinikmati, insyaAllah akan membuahkan hasil,” ujarnya, mengajak para santri untuk tak terburu-buru merasa gagal dalam adaptasi.

Tema OSABAR tahun ini cukup ambisius “Santri Bermoral, Cerdas Intelektual, Go Global.” Sebuah rangkaian visi yang menggabungkan karakter, kecerdasan, dan kesiapan menghadapi dunia global. Namun Neng Din tak ingin kata-kata besar itu berhenti di baliho OSABAR atau hanya jadi bahan yel-yel.

“Bermoral diletakkan di awal karena adab lebih tinggi dari ilmu. Tapi kecerdasan intelektual juga tak boleh diabaikan. Setelah keduanya dimiliki, tugas kita selanjutnya adalah menyiapkan diri menghadapi dunia global,” tegasnya.

Malam itu, aula II tak sekadar menjadi tempat pertemuan antar santri, tapi juga antar harapan dan nilai. OSABAR, bagi Neng Din, adalah ruang menanam, dan santri-santri baru itu, satu per satu, mulai membuka diri untuk bertumbuh.

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu
Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

Santri Baru Ikuti Senam Pagi, OSABAR Tekankan Kebiasaan Hidup Sehat di Pesantren

berita.nuruljadid.net – Suasana hangat dan angin sejuk di pagi hari diam-diam menerobos masuk ke pori-pori kulit santri baru kala memulai hari pertama Orientasi Santri Baru (OSABAR) dengan penuh semangat yang membara. Terdengar derap langkah kaki cepat ribuan santri dibarengi mulut yang tidak berhenti berkomat-kamit mengajak temannya agar lekas bersiap dalam mengikuti senam sehat, Senin (05/07/2025).

Dengan penuh kesabaran hati dalam membimbing dan menemani santri baru yang masih berada dalam tahap mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru, kala itu, panitia OSABAR mengarahkan para santri untuk berbaris rapi sembari ditemani kakak asuh. Adapun senam sehat tersebut dilaksanakan di wilayah masing-masing.

Namun berbeda dengan wilayah lainnya, panitia yang mendapat mandat mengurusi santri baru di wilayah Dalem Selatan, memilih untuk menyatukan Al-Mawaddah, Fatimatuz Zahro (Faza) dan Zaid Bin Tsabit dalam satu kenaungan wilayah yang sama, wilayah Faza.

Dalam momentum yang sangat langka tersebut, panitia menggunakan waktu sebaik mungkin dalam merangkul santri baru kedalam dekapan kekeluargaan. Butinya, tak hanya mengajak senam sehat, panitia juga memberi pemahaman para santri tentang pola hidup sehat agar fisik mereka terlatih kala berada di lingkungan yang kumuh dan sakit.

“Senam ini diadakan supaya santri yang awalnya tidak bergairah, menjadi antusias dalam melewati serangkaian kegiatan-kegiatan Osabar yang akan menantinya,” ujar salah satu panitia, Ustadzah Emilia Yusrina.

Kakak asuh yang mendampingi terus berupaya menggolarakan semangat santri baru. Selain tak henti-hentinya mereka berupaya untuk menautkan slogan “mondok untuk mengaji dan membina akhlakul karimah” agar membekas dan melekat di hati para santri, kakak asuh juga menyulut semangat santri dengan yel-yel.

“Kalau mereka masih tidak semangat melakukan senam, kakak asuh akan menyulut semangat mereka dengan yel-yel yang telah dihafal,” lanjut ketua panitia Osabar wilayah Faza itu.

Sayup-sayup matahari kian meninggi, hawa suam perlahan menyengat diri santri. Kendati demikian, mereka tetap mempertahankan nilai spiritual. Dengan melaksanakan shalat dhuha berjamaah seusai senam sehat digelar.

Pewarta: Zaituna Farah Kamila
Editor: Moh. Wildan Dhulfahmi

Sambut Kedatangan Santri Baru, Osabar 2025 Resmi Dimulai

berita.nuruljadid.net – Dari kejauhan terdengar suara hentakan kaki menaiki satu persatu anak tangga. Diketahui, suara derap langkah tersebut berasal dari santri baru putri dari seluruh penjuru wilayah Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk mengikuti Grand Opening Orientasi Santri Baru (Osabar), bertempat di aula II PPNJ, Senin (14/07/2025).

Osabar merupakan bentuk sarana menyambut kedatangan santri baru dengan penuh cinta, mendampingi santri baru dalam membentuk karakternya, serta guna membangun rasa aman dan kepercayaan antar sesama. Tak hanya itu, para santri baru juga diperkenalkan lingkup dunia pesantren, terlebih para masyayikh yang menjadi jembatan mereka dalam meraih keberkahan mencari ilmu serta membangun akhlak yang mulia.

Dengan balutan seragam hitam putih dan kerudung putih dengan tas biru yang melekat di bahu mereka, para santri baru tertib mengikuti arahan dari kakak asuh. Kala sampai, panitia dengan sigap mengarahkan santri baru menuju tempat duduk yang telah disediakan.

Samar-samar, sebagian besar santri baru tak mampu menyembunyikan rasa senangnya. Mata mereka menangkap layar besar yang memperlihatkan plamfet Osabar disertai animasi santri putri dengan mendekap Al-Qur’an di dada.

Sebelum Master of Ceremony (MC) memulai acara, terlebih dahulu santri disuguhkan beberapa penampilan. Salah satunya adalah penampilan Sanggar Alif yang berhasil menggoyahkan hati para santri. Penampilan tersebut menceritakan keadaan sosok santri yang meninggalkan halaman rumah untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren. cahaya lampu yang disorot menyinari panggung kala lampu aula dimatikan, sukses menambah kesan haru santri.

Seusai penampilan, MC pun membuka acara bergengsi itu. Tiga MC yang dibawakan menggunakan bahasa yang berbeda yakni bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Dalam pembukaan tersebut, Wakil Kepala Pesantren III, Ny. H Nur Diana Kholida menghimbau para santri untuk tidak sekedar mencari ilmu belaka, melainkan juga membina akhlak yang baik di dalam sambutannya. “Berilmu saja menjadi tidak penting kalua tidak ber akhlakul karimah,” ungkap beliau.

Lebih lanjut, beliau juga mengungkapkan makna dibalik tema Osabar yakni ‘Santri Bermoral, Cerdas Intelektual, Go Global’. “Nurul Jadid berupaya dalam setiap resolusinya untuk membangun anak bangsa sesuai dengan tema yang diangkat sekalipun tetap berproses di lingkup pesantren,” tuturnya.

Grand Opening pun diakhiri dengan do’a yang dibawakan oleh Ny. Muthmainnah Waqid. Tak berhenti disitu, sebelum bangkit meninggalkan lokasi, para panitia mencoba memantik semangat santri dengan mengeluarkan slogan dan yel-yel dari setiap wilayahnya. Dengan penuh antusias, santri mengeluarkan slogan dan yel-yelnya hingga berhasil membuat aula bergema akan suara lantang memenuhi ruangan.

salah satu santri baru berdomisili Daltim mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang mengikuti serangkaian kegiatan Osabar. “Senang, soalnya bisa menambah teman baru, walaupun sempat nangis melihat penampilan dari kakak-kakak,” ucap Keysa Taqiya Hanuna Muslim ketika diwawancarai. Keysa berharap dengan adanya Osabar, bisa membuat dirinya akrab dan mudah berbaur dengan teman-temannya.

Adapun Rentetan kegiatan Osabar akan berlanjut sampai tanggal 17 Juli 2025, diakhiri dengan kegiatan Perkenalan Lingkungan Sekolah. Closing direncanakan akan terlaksana pada tanggal 09 Oktober, seusai pembinaan Furudhul Ainiyah.

 

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor: Moh. Wildan Dhulfahmi

Wejangan KH. Zuhri Zaini untuk Pengurus dan Guru

berita.nuruljadid.net –  Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan pengarahan kepada para guru dan pengabdi di Madrasah Aliyah Nurul Jadid  (MANJ) di Aula MA Nurul Jadid pada Senin, 14 Juli 2025. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa pengabdian di dunia pendidikan harus dilandasi niat ibadah kepada Allah SWT.

Mengawali pesannya, Kiai Zuhri menyampaikan terima kasih atas kesiapan para guru dan pengurus dalam mengabdi di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Beliau mendoakan agar pengabdian tersebut senantiasa istiqamah dan membawa keberkahan.

“Masa depan umat sangat bergantung pada bagaimana kita menyiapkan generasi hari ini,” ujarnya. Beliau menekankan bahwa mendidik bukan hanya urusan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak mulia.

Menurut Kiai Zuhri, keikhlasan dalam mengabdi tidak boleh menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Keikhlasan justru harus menjadi pendorong untuk bekerja keras dengan penuh tanggung jawab. “Tanggung jawab guru sebagai pendidik berlaku tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat,” tuturnya.

Beliau juga menegaskan bahwa keberkahan dalam perjuangan tidak selalu berupa materi, tetapi bisa berupa ketenangan, kelapangan hidup, dan kemudahan dalam berbagai urusan. “Jika perjuangan diniatkan sebagai pengabdian kepada Allah, insyaallah urusan hidup akan dijamin oleh-Nya,” imbuhnya.

Dalam konteks kelembagaan, beliau mengingatkan pentingnya kerja kolektif di madrasah. “Pola kerja madrasah adalah kerja bersama, bukan kerja individu. Maka kebersamaan, sinergi, dan saling mendukung harus dijaga,” tegas beliau.

Selain itu, Kiai Zuhri mengingatkan pentingnya keteladanan guru. Menurutnya, guru tidak cukup hanya memberi nasihat, tetapi juga harus menunjukkan sikap dan perilaku yang baik di hadapan siswa. “Untuk bisa mengarahkan orang lain, seorang pendidik harus lebih dulu memiliki arah yang jelas,” ujarnya.

Tausiyah ini ditutup dengan pesan spiritual agar para guru dan pengurus senantiasa menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran dalam mendidik. “Segala usaha hanya akan berhasil jika mendapat pertolongan dari Allah SWT,” pungkasnya.

Acara pengarahan ini menjadi bagian penting dalam membangun semangat pengabdian dan profesionalisme para guru di awal tahun ajaran baru di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

 

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

LPA Kabupaten Probolinggo Sosialisasikan Perlindungan Anak di Pesantren Nurul Jadid

berita.nuruljadid.net – Dalam upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman dan ramah bagi anak, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Probolinggo menggelar Sosialisasi Perlindungan Anak di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Rabu (09/07/2025). Acara ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya sistem perlindungan anak di lembaga pendidikan berbasis pesantren.

Mengangkat tema “Membangun Budaya Pesantren yang Ramah Anak dan Bebas dari Kekerasan”, kegiatan ini melibatkan berbagai unsur pihak LPA, Polres Probolinggo, aktivis perlindungan anak dan 500 siswa SMP Nurul Jadid yaitu Sosialisasi ini dihelat di Aula Mini Nurul Jadid dan disambut dengan antusias oleh para peserta.

Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Aman untuk Anak

Sekretaris LPA Kabupaten Probolinggo dalam pemaparannya menyampaikan bahwa pesantren memiliki peran vital dalam pembentukan karakter generasi muda, namun tantangan perlindungan anak di lingkungan pesantren juga nyata dan memerlukan perhatian serius.

“Kekerasan terhadap anak, baik fisik, verbal, maupun psikologis, bisa terjadi di mana saja—termasuk di pesantren. Karena itu, lembaga pendidikan berbasis agama harus menjadi garda depan perlindungan anak, bukan hanya secara moral tapi juga sistemik,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari program jangka panjang LPA untuk mendorong terciptanya “Pesantren Ramah Anak” di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo.

Komitmen Nyata dari Pesantren Nurul Jadid

Pihak Pondok Pesantren Nurul Jadid yang diwakili Kepala Sub Bagian Humas dan Infokom menyatakan kesiapannya untuk menjadi mitra strategis LPA dalam menciptakan sistem perlindungan anak yang terintegrasi di lingkungan pondok.

Dalam sambutannya, salah satu pengurus menyebutkan bahwa perlindungan anak merupakan bagian dari nilai-nilai Islam yang luhur.

“Islam mengajarkan kasih sayang dan keadilan. Perlindungan terhadap anak bukan hanya tuntutan zaman, tapi amanah agama. Kami berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem pengasuhan dan pendidikan agar lebih manusiawi dan mendidik,” ungkapnya.

Sebagai bentuk komitmen konkret, pada kesempatan itu LPA memberikan sertifikat penghargaan kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai lembaga yang mendukung program perlindungan anak. Penyerahan sertifikat dilakukan secara simbolis di atas panggung, disambut dengan tepuk tangan para peserta dan ditandai dengan foto bersama.

Sesi Edukasi dan Pemahaman Praktis

Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga edukatif. Para peserta diberikan materi tentang hak-hak anak, bentuk-bentuk kekerasan yang kerap tidak disadari, serta prosedur pengaduan dan penanganan kasus kekerasan anak di lingkungan pesantren.

Salah satu peserta SMPNJ, mengaku bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru baginya.

“Terkadang kita tidak sadar bahwa cara mendidik yang keras bisa berdampak psikologis bagi anak. Sosialisasi ini memberi pencerahan agar kami lebih bijak dan empatik,” ujarnya.

Langkah Ke Depan: Integrasi Sistem Perlindungan Anak

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, Nurul Jadid bersama LPA merancang pembentukan Tim Perlindungan Anak Pesantren, sistem pelaporan berbasis kerahasiaan, serta pelatihan lanjutan bagi para pengasuh dan guru.

Selain itu, akan dilakukan penguatan kurikulum karakter dan adab dengan pendekatan yang ramah anak serta pelibatan aktif santri dalam membangun lingkungan saling menjaga dan menghormati hak sesama.

Penutup

Kegiatan sosialisasi yang berlangsung hangat dan partisipatif ini menandai lahirnya babak baru dalam sistem pendidikan pesantren—di mana nilai-nilai agama bertemu dengan prinsip-prinsip perlindungan anak modern, menjadikan pesantren tidak hanya sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang tumbuh yang aman dan bermartabat bagi setiap anak.

Dengan komitmen yang kuat dari berbagai pihak, Pondok Pesantren Nurul Jadid semakin menunjukkan jati dirinya sebagai pesantren masa depan—yang tidak hanya membentuk santri berilmu, tetapi juga terlindungi dan berkarakter.

 

Pewarta : Ahmad Zainul Khofi
Editor    : Ponirin Mika

Ke Nurul Jadid, Hayu Pergi dengan Cita dan Doa

berita.nuruljadid.net – Suasana hari terakhir Penerimaan Santri Baru (PSB) Satu Atap di Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi kesibukan para wali santri. Di tengah keramaian aula, Khoiriyah, seorang ibu asal Situbondo, tampak tenang mendampingi putrinya, Hayu Jacinta Sutanto, yang resmi menjadi santri program MIPA SMP Nurul Jadid. Rabu (09/07/25).

Yang istimewa, keinginan untuk mondok datang murni dari Hayu sendiri. “Itu keinginannya sejak kelas lima SD,” ujar Khoiriyah. “Saya hanya berdoa agar anak-anak saya menjadi pribadi yang berbakti. Sisanya, saya serahkan pada Allah.”

Khoiriyah mengaku bukan berasal dari lingkungan pesantren. Namun, ia sangat berharap anak-anaknya bisa merasakan pendidikan pesantren, tidak hanya untuk memperkuat ilmu agama, tetapi juga untuk membentuk karakter yang kuat dan peka secara batin.

Dalam mendidik anak, Khoiriyah mengedepankan pendekatan yang lembut dan penuh kasih. “Saya tidak pernah memukul anak. Salat malam dan doa itu penting, tapi anak-anak juga perlu didengar. Bukan ditakuti,” tuturnya.

Hayu sendiri tampak mantap dengan pilihannya. Ia ingin memperdalam ilmu dan meraih prestasi untuk membanggakan orang tua. “Saya yakin di sini saya bisa belajar banyak,” katanya, sembari membetulkan letak kacamatanya.

Bagi Khoiriyah, kepergian Hayu ke pesantren adalah buah dari ikhtiar panjangnya sebagai seorang ibu. Ia yakin Nurul Jadid menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan. “Saya ingin Hayu jadi contoh bagi saudara-saudaranya, dan mungkin bagi yang lain juga,” pungkasnya.

 

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Kartu e-Bekal, Solusi Uang Saku dan Identitas Santri

berita.nuruljadid.net – Pagi, sekitar pukul 08.09 WIB, saat matahari masih bersinar merah di Paiton, suasana Penerimaan Santri Baru (PSB) Satu Atap Pondok Pesantren Nurul Jadid tampak ramai, Selasa (08/07/25). Para calon wali santri berdiri mengantre sambil membawa map berisi dokumen pendaftaran. Di meja-meja posko, petugas sibuk memverifikasi data, mengambil foto, lalu mengetik cepat di layar laptop. Di tempat inilah mereka mengantre untuk membuat e-Bekal, kartu elektronik multifungsi bagi santri.

Sejak 2019, e-Bekal hadir sebagai solusi di tengah krisis pandemi. Saat itu, kunjungan wali santri dibatasi, dan pengiriman uang saku menjadi persoalan. “Waktu itu Gus Faiz mengusulkan aplikasi Simpanan Bekal Santri (SBS) dari Bandung,” tutur Haeroni, Teller 1, menjelaskan awal mula lahirnya e-Bekal.

Kini, empat tahun berselang, namanya berubah menjadi e-Bekal Santri, dengan fungsi yang semakin luas. Selain sebagai alat transfer uang, kartu ini juga berfungsi sebagai kartu identitas resmi santri, alat transaksi di koperasi, dan syarat perizinan kegiatan luar pesantren.

“Kalau anak kami pergi kuliah di kampus, tinggal tunjukkan e-Bekal. Sudah aman,” kata Ibu Aminah, wali santri asal Sidoarjo, sambil menunjukkan bukti top-up Rp200.000 dari gawainya.

E-Bekal tak hanya memudahkan orang tua, tapi juga mengubah gaya hidup santri. Kini, santri tidak bisa belanja sebebasnya. Wali santri dapat mengatur limit harian, memantau riwayat transaksi, serta meminimalkan risiko kehilangan uang.

“Ibaratnya, kalau kehilangan uang Rp100.000, dengan e-Bekal uang kita tetap aman. Hanya kartunya yang hilang, dan itu bisa diblokir serta diganti baru,” jelas Cinta Fahmi Nabila, siswi kelas 7 SMP Nurul Jadid.

Meski sempat menimbulkan kebingungan di awal peralihan, para santri kini mulai terbiasa menggunakan e-Bekal, terutama sebagai alat transaksi dan syarat perizinan keluar pesantren.

“Awalnya ribet, apalagi kami nggak pegang uang tunai,” ungkap Bintang Rachmatullah, santri putra. “Tapi sekarang enak, belanja di koperasi juga tinggal tap. Lebih aman.”

Petugas e-Bekal menghadapi tantangan logistik, khususnya saat PSB. Jumlah pemohon bisa mencapai ratusan per hari. Distribusi kartu, terutama bagi santri putri, memerlukan waktu lebih lama. “Kami atur penginputan pagi, cetak sore, malamnya sudah aktif,” ujar Haeroni. “Tapi distribusinya kami bagi dua hari, agar tertib.”

Pewarta: Nabilatul Hikmah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Inovasi Pembayaran PSB Berbasis Digital, Wali Santri Antusias

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, kembali menunjukkan terobosan dalam tata kelola administrasi modern. Pada proses Penerimaan Santri Baru (PSB) tahun ajaran 2025/2026, pesantren ini menerapkan sistem pembayaran berbasis digital melalui layanan perbankan dan virtual account. Rabu (09/07/25).

Seluruh proses pembayaran dipusatkan di ruang administrasi terpadu dengan dukungan langsung dari petugas bank dan panitia pesantren. Sistem ini memungkinkan wali santri melakukan transaksi secara cepat, aman, dan fleksibel tanpa harus mengantre panjang atau datang dari jauh.

“Hal itu dilakukan untuk memudahkan wali santri dalam melakukan pembayaran,” kata Tahiruddin, Sekretaris Pesantren Nurul Jadid. Ia menyebut, sistem ini telah terbukti efektif sejak diterapkannya sistem PSB satu atap.

Muslehuddin Jauhari, selaku Kepala Sub Bagian Umum dan PSB, menambahkan bahwa layanan ini dirancang untuk menciptakan kenyamanan dan efisiensi dalam setiap tahap pembayaran. “Kita ingin memberikan pelayanan yang prima, tidak hanya tertib, tapi juga transparan,” ujarnya.

Selain mempercepat alur administrasi, penggunaan virtual account juga meminimalisir potensi kesalahan pencatatan dan mempermudah pelacakan transaksi. Sistem ini dinilai sebagai wujud nyata komitmen Nurul Jadid dalam menghadirkan layanan berbasis teknologi yang terintegrasi dengan nilai-nilai kepesantrenan.

Sementara itu, Fatmawati Ningsih, selaku bagian adminstrasi putri menjelaskan bahwa pembayaran bisa melalui transfer bank atau secara tunai. Pihak pesantren menyediakan berbagai pilihan transfer bank seperti Bank Mandiri, Bank Jatim, BRI, BCA, BNI, dan lain-lain. Pilihan bank tersebut bertujuan untuk mempermudah wali santri.

“Sejauh ini mayoritas wali santri memilih metode pembayaran secara tunai. Namun, dengan pilihan transfer dari beberapa bank itu juga mampu mempermudah wali santri. Tak hanya itu, pesantren juga mengizinkan pembayaran dengan berbentuk cicilan. Jadi, wali santri bisa membayar setengah atau Down Payment (DP) dari total pembayaran,” terang beliau.

Fasilitas pembayaran berbasis digital ini dapat mempercepat proses pengurusan berkas administrasi pendaftaran. Hal tersebut mendapatkan apresiasi dari wali santri.

“Menurut kami fasilitas dan pelayanan yang di sediakan oleh pondok sudah memuaskan. Karena kami tidak perlu mengantre, mungkin hanya menunggu sekitar lima menit, Saya juga pendatang, lalu panitia langsung mengarahkan saya sehingga prosesnya berjalan lebih cepat dan tidak membuat saya kebingungan,” ungkap salah satu wali santri.

Dengan penerapan sistem ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid dinilai sukses menjadi contoh pesantren yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitasnya. Inovasi ini mendapat apresiasi positif dari para wali santri yang merasakan langsung kemudahan proses administrasi.

 

Pewarta: Isya Ramadhaniati
Editor: Ahmad Zainul Khofi