Pesantren Nurul Jadid Luncurkan dan Sosialisasikan Gudep Lengkap Pramuka

www.nuruljadid.net.berita- Pondok Pesantren Nurul Jadid secara resmi meluncurkan sekaligus menyosialisasikan Gudep Lengkap Pramuka sebagai bagian dari penguatan pembinaan karakter santri. Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan serentak di seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Pesantren Nurul Jadid pada Selasa, 6 Januari 2026, mulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.

Peluncuran Gudep Lengkap Pramuka NJ menjadi tonggak penting dalam revitalisasi kegiatan kepramukaan di lingkungan pesantren. Melalui sosialisasi ini, seluruh santri dan civitas lembaga diperkenalkan pada sistem, mekanisme, serta nilai-nilai utama yang akan diusung dalam pelaksanaan Pramuka NJ ke depan. Hal itu disampaikan oleh Didik P Agung Wijaksono Kabid Pengembangan Masyarakat (BPM) Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Pramuka merupakan harapan dari Kepala Pesantren KH. Abdul Hamid Wahid agar terus diaktifkan guna membentuk kedisiplinan dan jiwa korsa santri.

“Kepala pesantren berharap agar kegiatan pramuka terus digalakkan agar terbentuk jiwa korsa dan kedisiplinan santri,” kata Agus Fanani Sekretaris Biro Pengembangan.

Pramuka Nurul Jadid dijadwalkan mulai berjalan secara efektif pada Selasa, 13 Januari 2026, dan ditetapkan sebagai kegiatan wajib pesantren di masing-masing lembaga. Program ini dirancang sebagai wahana pembinaan karakter santri yang menekankan nilai budi pekerti, kedisiplinan, kemandirian, loyalitas atau jiwa korsa, serta keteladanan. Selain itu, Pramuka NJ juga diposisikan sebagai bagian dari strategi pesantren dalam membangun budaya anti-bullying yang aman dan beradab.

“Sebenarnya kegiatan pramuka di pesantren Nurul Jadid sudah ada. Dan tahun ini lebih kita maksimalkan kegiatannya,” ujar Umar Falas Ketua Pramuka Nurul Jadid.

Selain itu Didik mengungkapkan pembentukan Gudep Lengkap Pramuka Nurul Jadid merupakan hasil dari proses panjang dan terstruktur. Gagasan awal berangkat dari arahan Kepala Pesantren tentang pentingnya penguatan jiwa korsa dan solidaritas santri. Gagasan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui pembentukan tim formatur lintas satuan kerja, hingga akhirnya memperoleh legalitas resmi dari Kwartir Cabang serta ditetapkannya Surat Keputusan (SK) pengurus pada akhir tahun 2025.

“Dalam implementasinya, kegiatan Pramuka akan dilaksanakan setiap Selasa pagi dengan ketentuan penggunaan seragam Pramuka lengkap. Sistem presensi dilakukan berbasis Kartu Identitas Santri (KIS) dan kartu pembina, serta didukung oleh pengawalan asrama dan pendampingan dari masing-masing lembaga pendidikan. Sebagai bagian dari penguatan konsolidasi, pesantren juga akan menggelar apel besar Pramuka setiap dua bulan sekali,” tegasnya.

Ia juga menekankan melalui Gudep Lengkap Pramuka NJ, Pesantren Nurul Jadid berharap Pramuka dapat berfungsi sebagai organisasi induk pembinaan karakter santri yang terintegrasi dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan satuan karya. Kehadiran Pramuka diharapkan mampu memperkokoh kultur disiplin, kebersamaan, serta rasa tanggung jawab kolektif di lingkungan pesantren.

“Hari ini pada 13 Januari 2026 semua siswa di masing-masing sekolah menerima sosialisasi dari masing-masing koordinator pramuka,” ungkap didik.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Pewarta    : Ponirin Mika

 

Kepala Pesantren Nurul Jadid Kukuhkan Struktur Baru Gugusdepan Lengkap 2026-2027

www.nuruljadid.net.berita – Pondok Pesantren Nurul Jadid secara resmi memperkuat pilar pembinaan karakter santri melalui penerbitan Surat Keputusan (SK) Nomor 300 Tahun 2025 tentang Struktur Pengurus Gugusdepan Lengkap KH. Zaini Mun’im – Ny. Hj. Nafi’ah Zayyadi. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk komitmen pesantren dalam mengintegrasikan nilai-nilai kepanduan dengan tradisi pesantren untuk masa khidmat 2026-2027.

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abd. Hamid Wahid, M.Ag., menetapkan keputusan tersebut di Paiton pada Senin (29/12/2025).

Dalam pertimbangannya, beliau menegaskan bahwa gerakan pramuka di lingkungan Nurul Jadid bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler, melainkan instrumen vital untuk menumbuhkan jiwa korsa, kemandirian, dan etos kerja tinggi di kalangan santri.

“Kegiatan kepramukaan ini diarahkan untuk membangun kedisiplinan dan membentuk pribadi santri yang taat aturan, namun tetap berakar pada budi pekerti luhur sesuai ajaran Islam dan budaya bangsa,” sebagaimana tertuang dalam naskah keputusan tersebut.

Dalam struktur baru ini, jajaran Majelis Pembimbing Gugusdepan (Mabigus) diisi oleh para pengasuh dan tokoh sentral pesantren. KH. Abd. Hamid Wahid, M.Ag. bertindak langsung sebagai Ketua Mabigus, didampingi oleh Dr. KH. Moh. Imdad Robbani, M.Pd. (Wakil Ketua 1), KH. Faiz AHZ, M.Fil.I. (Wakil Ketua 2), dan Ny. Hj. Nur Diana Khalidah, M.Pd. (Wakil Ketua 3).

Selain itu, jajaran anggota Mabigus diperkuat oleh kehadiran Dr. KH. Najiburrohman, M.Ag., M.Pd. dan Ny. Mutmainnah Waqid, S.Th.I., yang akan memberikan arahan strategis bagi pengembangan kepramukaan di pangkalan pesantren.

Keputusan ini juga mengatur mengenai aspek administratif dan pembiayaan yang secara resmi dibebankan pada Rencana Anggaran Pendapatan Belanja (RAPB) Pondok Pesantren di bawah koordinasi Satuan Kerja Biro Pengembangan.

Langkah formalisasi ini merupakan tindak lanjut dari Musyawarah pra-Gugusdepan yang telah dilaksanakan pada November lalu, sekaligus menyesuaikan dengan kode registrasi terbaru dari Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Probolinggo. Dengan pengukuhan pengurus baru ini, Pramuka Nurul Jadid diharapkan menjadi pionir gerakan kepanduan berbasis pesantren yang unggul di tingkat regional maupun nasional.

Pewarta    : Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

Pimpin Apel Pagi, Wakil Kepala Pesantren Gus Imdad Robbani Tekankan Disiplin Organisasi Pengurus Pesantren

berita.nuruljadid.net – Jajaran pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid melaksanakan apel pagi rutin di halaman utama pesantren pada Sabtu (03/01/2026). Kegiatan ini menjadi sarana penguatan visi dan komitmen pengurus dalam menjalankan roda organisasi pesantren.

Wakil Kepala Pesantren, Gus Imdad Robbani, yang bertindak sebagai pembina apel, menegaskan bahwa apel pagi tidak sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter disiplin para pengabdi.

“Disiplin bukan hanya urusan personal atau diri kita sendiri, tetapi harus berdampak luas kepada pendisiplinan orang lain. Sebagai pengabdi di pondok dalam mengasuh santri, niatkanlah setiap langkah untuk I’laai Kalimatillah,” ujar Gus Imdad dalam amanatnya.

Ia juga mengingatkan agar nilai-nilai dasar pesantren, seperti Pancasila, Panca Kesadaran, dan Trilogi Santri, tidak berhenti pada tataran verbal. Menurutnya, seluruh nilai tersebut harus dihayati dan diwujudkan dalam praktik keseharian.

“Semua itu tidak hanya sekadar dibaca, tapi harus benar-benar dijiwai dan dilaksanakan. Inti dari semua itu adalah kesadaran beragama, karena kesadaran lainnya harus dijiwai oleh nilai agama tersebut,” tambahnya.

Gus Imdad menutup amanatnya dengan menegaskan bahwa kesadaran kolektif hanya dapat terbangun apabila setiap pengurus mampu menjaga disiplin dalam sistem organisasi.

Dalam apel tersebut, pembacaan teks Pancasila dipimpin Abdul Manaf Firdaus, sementara Panca Kesadaran dan Trilogi Santri dibacakan Saddam Husein. Apel berlangsung khidmat dan diikuti seluruh pengurus secara tertib.

Sementara itu, H. Thohirudin menyampaikan bahwa apel pagi rutin digelar sebagai upaya menumbuhkan kedisiplinan dan semangat pengabdian pengurus. “Apel dilaksanakan setiap bulan untuk memperkuat kedisiplinan dan ruhul khidmat,” ujarnya.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Jaga Standar Mutu Internasional, PP Nurul Jadid Gelar Bimtek Surveilans ISO 21001:2018

www.nuruljadid.net.berita – Pondok Pesantren Nurul Jadid terus memperkuat sistem manajemen pendidikannya dengan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengisian Surveilans-2 ISO 21001:2018. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (21/12/2025) di Aula Mini Pesantren ini merupakan langkah strategis lembaga dalam mempertahankan sertifikasi mutu internasional.

​Pertemuan tersebut menghadirkan seluruh jajaran strategis, mulai dari Ketua Tim ISO, Tim Auditor Internal, hingga perwakilan Auditi dari berbagai satuan kerja. Agenda utama difokuskan pada sinkronisasi dokumen dan kesiapan teknis sebelum menghadapi audit surveilans tahap kedua.

​Sekretaris Pesantren Nurul Jadid, H. Tahirudin, MM.Pd., dalam surat undangannya menyatakan bahwa pertemuan ini sangat penting untuk memastikan setiap unit kerja memahami prosedur pengisian instrumen surveilans secara akurat.
​Sebanyak sembilan satuan kerja (Satker) menjadi fokus dalam pemantauan kali ini, meliputi:

​1. Sekretariat

2. Badan Pengawas

3. ​Badan Perencanaan

4. ​Biro Kepesantrenan

5. ​Biro Pendidikan

6. ​Biro PULH

7. Biro Pengembangan

8. Mahkamah

9. ​Klinik Azzainiyah.

​Dalam pelaksanaannya, tim auditor internal yang dipimpin oleh H. Moh. Mahfudz Faqih dan Miftahul Huda bertugas mengawal jalannya audit di masing-masing lini. Keterlibatan aktif dari para koordinator auditi di setiap biro menunjukkan komitmen kolektif pesantren dalam menjaga transparansi dan efisiensi manajemen.

​Dengan penerapan ISO 21001:2018 secara konsisten, Pondok Pesantren Nurul Jadid berupaya memberikan jaminan layanan pendidikan yang berkualitas bagi santri dan masyarakat, sekaligus memperkokoh posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang modern dan terakreditasi secara global.

 

Pewarta   : Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Taat Pemimpin Sah adalah Perintah Agama, Selama dalam Kebenaran

www.nuruljadid.net. – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya kepatuhan masyarakat terhadap pemimpin yang sah sebagai bagian dari perintah agama. Pesan menyejukkan ini disampaikan beliau saat mengisi pengajian kitab kuning di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Selasa sore (17/12/25).

Dalam pemaparannya, Kiai Zuhri menjelaskan bahwa legitimasi seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari sosok pribadinya, melainkan dari status hukum dan kesepakatan bersama yang menyertainya. Beliau mengutip sebuah hadis yang memerintahkan umat untuk mendengarkan dan menaati penguasa yang telah diangkat secara sah.

“Dengarkan perintah penguasa dan taatilah. Siapapun yang diangkat sebagai pemimpin melalui mekanisme yang berlaku—baik itu musyawarah, pemilu, maupun penunjukan—selama diakui sebagai pemerintah yang sah, maka kita wajib patuh,” tegas Kiai Zuhri.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri memberikan pandangannya mengenai sosok pemimpin. Beliau menyebutkan bahwa latar belakang sosial seseorang tidak menggugurkan kewajiban rakyat untuk taat. Bahkan, jika seorang pemimpin berasal dari kalangan yang dianggap rendah atau “remeh” oleh masyarakat, perintahnya tetap harus dihormati selama ia memegang tampuk kekuasaan yang legal.

Namun, ketaatan tersebut bukanlah tanpa syarat. Kiai Zuhri memberikan catatan kritis mengenai batasan kepatuhan:

  • Wajib Taat: Selama perintah pemerintah sejalan dengan kebenaran dan kemaslahatan.
  • Hak Menolak: Jika pemerintah memberikan instruksi yang bertentangan dengan syariat atau nilai kebenaran, maka rakyat tidak boleh mengikutinya.

“Kita sebagai rakyat harus patuh mendengar dan menaati perintah pemerintah jika itu benar. Namun, kalau salah, jangan diikuti,” pungkas beliau.

Kiai Zuhri menyampiakan pesan ini disampaikan sebagai pengingat bagi para santri dan masyarakat luas akan pentingnya menjaga ketaatan pada pemimpin, tanpa meninggalkan prinsip kebenaran agama.

 

Pewarta : Ponirin Mika

Demi Perbaikan Mutu, Pengurus Ponpes Ibnu Khaldun Besuki Studi Tiru ke Nurul Jadid

www.nuruljadid.com-berita – Sebanyak 65 pengurus dan guru Yayasan Pondok Pesantren Ibnu Khaldun al-Hasyimi, Besuki, Situbondo, melaksanakan kunjungan silaturahim dan studi tiru ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Selasa (16/12/2025).

Kunjungan yang dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Ibnu Khaldun, Jamil Hasan, ini bertujuan utama untuk mempelajari dan meniru konsep serta langkah-langkah manajemen pendidikan yang diterapkan di Ponpes Nurul Jadid.

Jamil Hasan, yang juga merupakan alumni Nurul Jadid, mengungkapkan tiga poin utama tujuan kunjungan tersebut:

  • Studi Tiru Manajemen: Meniru konsep manajemen pendidikan yang diterapkan di Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.
  • Pengakuan Santri: Berharap santri Ibnu Khaldun al-Hasyimi Besuki Situbondo diakui juga sebagai santri Pesantren Nurul Jadid, menunjukkan kuatnya ikatan kekeluargaan antar-pesantren.
  • Reputasi Pesantren: Mengingat Pesantren Nurul Jadid telah tersohor dalam menerapkan tata kelola manajemen yang bagus.

“Kunjungan kami untuk belajar di pesantren Nurul Jadid merupakan sebuah kehormatan. Kami berharap hasil dari kunjungan ini bisa diterapkan dengan baik di Yayasan yang kami kelola,” ujar Jamil Hasan.

Ia secara spesifik berharap dialog mengenai manajemen pendidikan Nurul Jadid dapat ditiru dengan baik.

Mewakili Pesantren Nurul Jadid, Sugiono, S.S., dalam sambutannya menegaskan bahwa kedua pesantren ini memiliki ikatan emosional yang sangat erat.

“Bahkan yang memberi nama Yayasan Ibnu Khaldun itu adalah Masyayikh Pesantren Nurul Jadid,” ungkap Sugiono, menekankan hubungan historis yang mendalam.

Sugiono juga menyambut baik kunjungan studi belajar ini, menegaskan bahwa kesempatan ini adalah momen untuk saling take and give atau saling belajar serta mengambil tata kelola yang baik.

Acara kunjungan diawali dengan pemaparan detail mengenai struktur Pondok Pesantren Nurul Jadid beserta tugas, pokok, dan fungsinya oleh Kepala Bagian I Sekretariat, Miftahul Huda, sebelum dilanjutkan dengan diskusi mendalam terkait tata kelola manajemen pendidikan pesantren.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Puisi Santri untuk Merawat Alam

berita.nuruljadid.net – Kamis (04/12/25), suasana Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid terasa tidak seperti biasanya. Badan Ekskutif Mahasiswi Universitas Nurul Jadid (UNUJA) memuat ruang itu tidak semata dipenuhi oleh keramaian santri, tetapi juga sebuah peristiwa yang jarang mampir ke ruang-ruang pesantren: bedah buku puisi. Buku yang dibincangkan adalah Satu Bumi Dirusak Bersama, karya terbaru seorang sastrawan, kiai sekaligus musisi, K. M. Faizi.

Di hadapan para santri, hadir dua pemantik: K. M. Faizi dan Abu Khaer Dosen Pascasarjana Universitas Nurul Jadid (UNUJA) yang dikenal sebagai pengamat sastra dan ekologi. Beliau melahirkan diskursus yang memantik decak kagum para peserta.

“Belajar puisi membuat seseorang memegang dua jenis ilmu: ilmu pelanggaran logika dan logika pelanggaran,” ujar Abu membuka pematerian. Kalimat itu sempat membuat beberapa santri saling pandang, entah antara bingung dan penasaran. Puisi, katanya, memang kerap “melanggar” aturan bahasa dan nalar sehari-hari. Tetapi justru di celah pelanggaran itulah lahir logika baru: lebih puitis, lebih reflektif, dan pada akhirnya lebih manusiawi.

Yang membuatnya takjub, lanjutnya, adalah keberanian Kiai Faizi mencantumkan dalil-dalil Al-Qur’an secara langsung dalam bait-bait puisinya, bukan sekadar simbol atau isyarat yang samar. Pendekatan itu membuat puisi Kiai Faizi tidak hanya berdiri di wilayah rasa, melainkan juga bertumpu pada dasar yang kokoh.

Dosen lulusan terbaik UIN Syarif Hidayatullah itu menyebut cara ini sebagai “ekologi tauhidi”, ekologi yang tidak berhenti pada relasi manusia dengan alam, tetapi ditopang oleh kesadaran ketuhanan. Merawat bumi, menurutnya, bukan lagi hanya tindakan moral atau ekologis, melainkan bentuk ketaatan spiritual.

“Ketika ekologi disandingkan dengan dalil Al-Qur’an, yang muncul adalah keseimbangan. Kita berbicara tentang alam, tetapi tidak kehilangan arah spiritual yang menuntun,” katanya.

Di sisi lain, K. M. Faizi menyambut hangat forum ini. Dengan seloroh khasnya, ia mengaku jarang sekali ada yang rela menyisihkan waktu untuk membedah buku puisi. “Karena puisi sering dianggap bacaan yang tidak mengenyangkan,” katanya, disambut tawa para santri.

Namun justru karena itulah, menurut Kiai Faizi, puisi penting kembali dirawat. Ia menjadi ruang kecil yang mengingatkan manusia tentang hal-hal yang terlanjur dianggap sepele, termasuk perihal bumi yang rusak oleh manusia sendiri. “Puisi memang tidak mengenyangkan, tetapi ia bisa menyadarkan,” ujar kiai asal Pulau Garam itu.

Bedah buku ini akhirnya menjadi ruang perjumpaan yang hangat dimana santri, akademisi dan pecinta literasi sama-sama merenungi ihwal apa yang telah terjadi pada bumi belakangan ini. Di tengah bencana ekologis yang menimpa, para santri belajar bahwa sastra bisa melahrikan kesadaran ekologis. Bahwa merawat bumi tidak hanya soal kampanye lingkungan, tetapi juga soal merawat iman.

Pewarta: Farhah Robbaniyah Izza Dzikri
Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

Santri Kelas Akhir Ikuti Workshop Beasiswa Luar Negeri

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar “Workshop Beasiswa Luar Negeri” bertempat di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) pada Selasa (2/12). Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini diikuti para santri yang memiliki minat melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Workshop ini menghadirkan Mirza Idham Saifuddin sebagai pemateri utama. Mirza merupakan lulusan S1 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan melanjutkan studi S2 di Inggris (UK). Berbekal pengalaman akademik internasional, ia menyampaikan materi mengenai strategi memilih beasiswa luar negeri yang tepat dan cara menemukan program beasiswa fully funded.

“ Di Indonesia kebanyakan siswa menerima beasiswa parsial yang artinya beasiswa tersebut hanya dibayar SPP kuliahnya dan untuk kehidupan di sana, mereka bayar sendiri seperti tiket pesawat dan lainnya. Akan tetapi beasiswa fully ended ialah beasiswa yang keseluruhannya dibayar oleh Negara tersebut,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Mirza menjelaskan langkah-langkah persiapan, mulai dari penyusunan dokumen, pencarian universitas tujuan, melakukan interview, hingga teknik membuat esai yang kuat untuk meningkatkan peluang lolos seleksi beasiswa.

Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Banyak di antara mereka yang memanfaatkan sesi tanya jawab untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai peluang studi di berbagai negara.

Dengan adanya workshop ini, diharapkan para santri semakin termotivasi serta memiliki pengetahuan yang lebih matang dalam mempersiapkan diri meraih beasiswa internasional.

 

Pewarta: Nabilatul Hikmah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Ponpes Nurul Jadid Bersama Kemenkumhan Jatim Gelar Pendampingan Pengajuan Permohonan Kekayaan Intelektual

www.nuruljadid.com.berita— Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur membuka kegiatan Pendampingan Pengajuan Permohonan Kekayaan Intelektual (KI) pada Senin (9/12/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Santri Berinovasi, Kekayaan Intelektual Melindungi” dan bertujuan memperkuat perlindungan hukum terhadap karya santri dan lembaga pesantren.

Sekretaris Pesantren Nurul Jadid, H. Thahirudin, menyampaikan bahwa pendampingan KI merupakan upaya penyelamatan karya agar tidak diakui oleh pihak lain.
“SDM Pondok pesantren banyak melahirkan karya. Untuk menyelamatkan karya itu perlu dibuat hak cipta agar tidak diakui oleh orang lain,” ujarnya.

Pendiri Pesantren Nurul Jadid, KH. Zaini Mun’im banyak melahirkan karya tulis. Insya Allah 2 karya beliau yang akan dihak ciptakan, yaitu Nadham Safinah dan Kitab Syu’abul Iman

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Pahlevi Witantra, dalam laporan pelaksanaannya menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah nyata memastikan potensi karya, inovasi dan keilmuan di lingkungan pesantren mendapatkan perlindungan hukum secara eksklusif. Ia juga menguraikan tujuan kegiatan, antara lain meningkatkan kesadaran terkait pentingnya KI, memberikan pendampingan teknis proses pengajuan Hak Cipta dan Merek, serta melindungi karya dari plagiasi dan pembajakan.

Sebagai informasi, setelah rangkaian acara pembukaan, dilaksanakan pendampingan permohonan Hak Cipta terhadap karya pesantren berupa Syair Nadham Safinah dan Kitab Syu’abul Iman buah karya alm. KH. Zaini Mu’im Pendiri dan Pengasuh Pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Kegiatan yang dilaksanakan di komplek Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Kanwil Kemenkumham Jatim dan didanai dari Anggaran Tahun 2025.

Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kemenkumham Jawa Timur, R. Fadjar Widjanarko, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kerja sama dan menegaskan bahwa pesantren merupakan ruang lahirnya kreativitas dan inovasi ekonomi masyarakat.
“Potensi karya di pesantren sangat besar, mulai dari karya tulis, video dakwah, hingga produk ekonomi kreatif. Semua ini harus terlindungi agar tidak mudah ditiru atau diklaim pihak lain,” katanya.

Fadjar juga menyebut Pondok Pesantren Nurul Jadid telah memiliki tiga merek resmi terdaftar, yakni Nurja (air mineral), Pustaka Nurja (jasa penerbitan), dan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selain itu, Universitas Nurul Jadid saat ini masih dalam proses pendaftaran Merek.

Ia berharap kegiatan pendampingan dapat mempermudah proses pencatatan Hak Cipta dan pendaftaran Merek oleh santri dan unit usaha pesantren.
“Amankan, lindungi, dan majukan karya Anda mulai hari ini,” tegasnya.

Kegiatan kemudian secara resmi dibuka dengan pembacaan Bismillahirrahmanirrahim oleh Kepala Divisi Pelayanan Hukum di hadapan jajaran pimpinan pesantren, tenaga pendidik, dan ratusan santri peserta kegiatan.

 

Pewarta  : A. Zainul Khofi

Editor     : Ponirin Mika

 

Santri Adalah Kelas Kader Islam, Berikut Ulasan Kiai Zuhri Zaini

berita.nuruljadid.net – Pada kegiatan Capacity Building Pengurus dalam Ruhul Jihad yang digelar Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Rabu (3/12/25), Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini menekankan pentingnya tafaqquh fiddin sebagai misi inti pesantren. Beliau memberikan penekanan khusus pada urgensi prioritas kewajiban keagamaan tingkat dasar (al-Furudul ‘Ainiyah (FA)), penguatan kaderisasi santri, dan pengembangan kemampuan baca kitab sebagai bekal dakwah di tengah masyarakat.

Kiai Zuhri mengawali tausiyah dengan menegaskan bahwa pesantren memiliki mandat khusus sebagai pusat pendalaman ilmu agama. “Di antara umat Islam harus ada yang khusus tafaqquh fiddin, dan itu tempatnya di pesantren,” ujarnya. Para pengurus, lanjut beliau, merupakan pelayan dari tugas besar tersebut, dibantu perangkat penunjang seperti ilmu pengetahuan dan teknologi.

Meski berbagai keterampilan hidup dan kejuruan diajarkan di pesantren, Kiai Zuhri menegaskan bahwa tujuan utamanya harus tetap untuk kepentingan dakwah dan pengabdian. Namun demikian, beliau menekankan bahwa fondasi terpenting tetaplah ilmu agama. “Yang utama adalah bekal agama. Ini yang harus kita niatkan dalam berkhidmah.”

Salah satu pesan sentral tausiyah ini adalah pentingnya mengutamakan FA, ilmu dasar agama yang wajib dipahami dan diamalkan oleh setiap individu Muslim. Menurut Kiai Zuhri, inti dari belajar agama bukan semata mengetahui, tetapi mengamalkan.

“Yang terpenting dari belajar agama adalah pengamalan agama. Bagaimana santri bisa menjadikan agama sebagai pedoman hidup,” tegasnya. Jika FA belum tuntas, maka program lain yang bersifat tambahan sebaiknya dikurangi intensitasnya.

Beliau juga menyinggung efektivitas hari-hari FA yang diterapkan di pesantren. Kiai Zuhri mendorong agar seluruh pengurus memastikan FA benar-benar dipahami dan dipraktikkan oleh santri, baik melalui kitab maupun pendekatan yang lebih sederhana, sebagaimana yang digunakan pesantren salaf.

Mengutip ayat “falau lâ nafara ming kulli firqatim min-hum thâ’ifatul liyatafaqqahû fid-dîn”, Kiai Zuhri menyebut santri sebagai kelas kader, bukan kelas umum umat Islam. Karena itu, kemampuan mereka harus melampaui masyarakat biasa. “Memondokkan anak itu sejatinya mengkader. Maka FA saja tidak cukup bagi seorang kader,” ujarnya.

Untuk itu, beliau mendorong agar santri diperkenalkan dengan kitab berbahasa Arab serta mendapatkan bimbingan dasar bahasa Arab. Bila memungkinkan, diberikan pula pelatihan baca kitab dengan metode yang mudah dipahami. “Santri kader harus punya kelebihan. Minimal mampu membaca kitab agar tidak keliru saat membaca ayat atau khutbah di masyarakat.”

Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri memberikan perhatian khusus pada program tahfiz. Beliau mengingatkan bahwa hafalan Alquran memiliki tanggung jawab berat, berbeda dengan hafalan kitab lainnya. “Kalau hafal Alfiyah lalu lupa, hanya kehilangan ilmu. Tapi kalau hafal Alquran lalu lupa, itu dosa.”

Karena itu, beliau meminta agar program tahfiz dilakukan dengan seleksi ketat, memastikan santri siap istiqamah menjaga hafalannya. Beliau juga mengingatkan agar program tahfiz tidak sampai menggeser atau mengabaikan FA. “Hafal Alquran itu baik, tetapi bisa saja seseorang hafal tanpa memahami dan mengamalkan isinya. Maka FA tetap harus diprioritaskan, termasuk bagi santri tahfiz.”

Di akhir tausiyah, Kiai Zuhri menegaskan bahwa para pembina dan guru harus memiliki kemampuan di atas mereka yang dibimbing. Hal ini penting agar proses pendidikan berjalan efektif dan berkualitas. “Kita jangan hanya memberikan apa adanya. Kita harus terus meningkatkan kemampuan.”

Sebagai upaya lanjutan, Kiai Zuhri membuka kemungkinan penyelenggaraan sorogan kitab bagi pengurus atau santri yang berminat, dengan menyediakan waktu khusus.

Tausiyah ini mempertegas arah besar pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid: mencetak kader umat yang kuat dalam ilmu agama, matang dalam praktik, dan mampu membaca literatur Islam secara langsung. Dengan memprioritaskan FA, memperkuat kapasitas bahasa Arab, serta memperketat program tahfiz, diharapkan seluruh santri memiliki landasan keilmuan yang kokoh sebagai kader yang siap berkhidmah di masyarakat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Capacity Building Pengurus, Kiai Zuhri Zaini Utamakan Keikhlasan dalam Pengabdian

berita.nuruljadid.net – Ada dua tema besar yang menjadi fondasi pengabdian di pesantren: peningkatan ruhul jihad (semangat berjuang atau mengabdi) dan peningkatan kapasitas diri. Dua hal ini sangat penting untuk suksesnya dan bermaknanya pengabdian.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, dalam tausiyahnya pada acara Capacity Building dalam Ruhul Jihad pada Rabu, 3 Desember 2025 di Aula I Pesantren. Kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi dan semangat pengabdian pengurus ini dihadiri oleh seluruh pengurus di tingkat satuan kerja hingga satuan pendidikan.

Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa pengabdian di pesantren bukan sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi merupakan upaya meneruskan perjuangan panjang dakwah para masyayikh hingga Nabi Muhammad SAW. Pesantren, menurut beliau, adalah lembaga yang menjalankan misi dakwah dan pendidikan sebagaimana yang dicontohkan Nabi.

“Tujuan dakwah adalah mengadakan perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dan dari yang baik menjadi lebih baik,” dawuhnya. Pesantren, lanjut beliau, lahir untuk melanjutkan misi kenabian dalam dakwah dan pendidikan, untuk membentuk manusia muslim yang salih, muslih, dan bermanfaat.

Selain dakwah dan pendidikan, menurut Kiai Zuhri, tugas pengurus pesantren juga adalah pelayanan kepada santri dan masyarakat. Tetapi dengan tujuan utamanya yaitu membekali santri dengan agama, tafaqquh fiddin.

“Ini bukan berarti menafikkan ilmu-ilmu yang lain, sebab agama tidak bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan dari sektor lain: ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya. Jadi tidak bisa berdiri sendiri, tetap memerlukan ilmu yang lain (IPTEK),” terang beliau.

Beliau mencontohkan bagaimana banyaknya mualaf hari ini tidak lepas dari interaksi mereka dengan media modern.

“Tanpa bertemu langsung, mereka bisa membaca teks-teks Islam dari media. Itu juga bagian dari dakwah,” imbuh beliau. Semua sektor, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki peran penting sebagai penopang dakwah dan pendidikan Islam.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa visi pesantren bukan semata menghasilkan individu yang kuat dalam ritual keagamaan, tetapi juga yang mampu berperan di tengah masyarakat. Beliau menguraikan panca kesadaran santri sebagai fondasi kaderisasi pesantren: beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa–bernegara, serta berorganisasi.

Menurut beliau, kesadaran beragama dan berilmu adalah fondasi utama yang berkaitan dengan Tuhan dan modal dalam beramal dan berkhidmah, sementara dua kesadaran berikutnya adalah ibadah sosial. “Tidak cukup tekun shalat dan dzikir, tetapi harus pula memberi manfaat bagi sesama,” terang beliau.

Kesadaran berorganisasi, lanjut beliau, merupakan bagian integral ajaran Islam. “La islama illa bi jamaah. Islam tidak sempurna bila dijalankan sendiri-sendiri. Kebersamaan adalah syarat keberhasilan perjuangan,” jelasnya.

Pengasuh menekankan bahwa pengabdian harus dijalankan dengan empat prinsip: kerja ikhlas, kerja keras, kerja baik (itqan), dan kerja sama. Keikhlasan menurut beliau bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Beliau juga mengingatkan bahwa tugas utama pengurus dan guru di pesantren adalah mengurus manusia, bukan barang, sehingga tanggung jawab moral dan spiritualnya jauh lebih besar. “Tugas untuk mengurus manusia agar menjadi baik adalah tugas yang sungguh mulia tapi berat. Di sinilah perlu kesungguhan kita di dalam memberikan pelayanan atau berkhidmah. Jika kita berkhidmah dengan ikhlas, pasti ada barokahnya. Barokah bukan hanya materi, tetapi bisa berupa kesehatan, ketenangan, dan kelapangan hidup.”

Kiai Zuhri menguraikan bahwa keberkahan adalah bertambahnya kebaikan, bukan semata-mata bertambahnya materi. Beliau mencontohkan kisah Kiai Abdul Madjid dari Mlandingan yang mampu memberi makan seribu santri setiap hari meski tidak memiliki sawah atau toko. “Itulah barokah, jangan dihitung dengan kalkulator,” ujarnya.

Menurut beliau, selama bekerja dengan niat lillah, Allah akan memfasilitasi dan memudahkan jalan pengabdian. “Kita bekerja karena Allah, atas pertolongan Allah, untuk mencari rida Allah. Lillah billah wailallah, wafillah.”

Maka, dawuh beliau, khidmah kita di pesantren ini adalah untuk mencari bekal masa depan, yaitu ketika kita menghadap pada Allah SWT.

“Tanggungjawab kita bukan hanya pada lembaga, tetapi juga kepada Allah SWT. Kita mengajar, jadi pengurus, dan jadi apa saja (bidang kepengurusan apapun, red.), adalah ibadah kepada Allah dalam bentuk sosial. Melaksanakan perintah itulah yang menjadikan ibadah. Mengajar, termasuk mengabdi, dalam lembaga pendidikan itu adalah perintah Allah,” terangnya.

Kiai Zuhri melanjutkan tausiyahnya dengan mengisahkan keteguhan Nabi Muhammad SAW dalam dakwah, termasuk peristiwa hijrah yang menunjukkan bagaimana pertolongan Allah hadir dalam setiap perjuangan.

“Kita harus bekerja keras dan baik, tetapi jangan mengandalkan kemampuan diri. Andalkan Allah,” pesannya.

Kegiatan Capacity Building ini diharapkan mampu memperkuat integritas, militansi, dan profesionalitas seluruh pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menjalankan amanah dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada santri maupun masyarakat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Di Seminar Internasional, Wabup Probolinggo Dorong Pesantren Peka Terhadap Isu Geopolitik

berita.nuruljadid.netDi tengah gempuran perubahan sosial dan tantangan global, pesantren kembali ditegaskan sebagai pilar penting yang bukan hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga dituntut menjadi motor transformasi bangsa. Hal ini mengemuka dalam Seminar Internasional bertema “Universal Islamic Values for a Peaceful and Inclusive Pesantren toward Global Civilization” yang digelar Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Senin (01/12/25).

Dalam forum itu, Wakil Bupati Probolinggo, KH. Fahmi AHZ, memberi sorotan tajam mengenai peran strategis pesantren yang kini memasuki era baru di mana pesantren bukan hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga membentuk santri yang mampu menjadi teladan.

Lora Fahmi, sapaan kerabnya, membuka pandangannya dengan menyebut pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang rekam jejaknya tercatat sebagai salah satu penopang kemerdekaan Indonesia.

“Pondok pesantren telah memberikan kontribusi besar. Sejak saat masa perjuangan, setelah kemerdekaan, hingga kini negara mengakui kiprah itu dengan menetapkan Hari Santri setiap 22 Oktober,” ujarnya.

Namun, beliau tak memungkiri bahwa beberapa tahun terakhir, di era digital, pesantren sering mendapat sorotan publik. Berbagai isu, yang dianggap sebagian orang tidak relevan, membuat pesantren mendapatkan atensi yang intens dari masyarakat.

“Karena itu kita tidak boleh tinggal diam. Pesantren harus merespons, harus bergerak,” tegasnya.

Lora Fahmi menekankan, pesantren harus memperkuat kapasitas kader bangsa yang dilahirkannya. Ilmu agama tetap menjadi fondasi, tetapi zaman menuntut santri untuk lebih dari itu.

“Santri ke depan bukan hanya harus mampu membaca literasi kitab kuning. Mereka juga harus beradaptasi dengan arus informasi yang luar biasa deras hari ini. Santri harus mengenal, tahu, bahkan menguasai literasi digital,” tandasnya.

Dengan demikian, menurutnya, dakwah pesantren tidak akan tertinggal. Justru sebaliknya, menjadi kekuatan baru dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas.

Dalam sambutannya, Lora Fahmi menceritakan pertemuannya dengan sejumlah pimpinan nasional saat kunjungannya ke Jakarta. Salah satu isu yang muncul adalah persoalan geopolitik global, khususnya ketahanan pangan.

“Berbagai negara menghadapi masalah ketahanan pangan akibat global warming. Petani kita semakin sulit memprediksi musim tanam dan panen. Risiko gagal panen meningkat,” katanya.

Indonesia, ujarnya, beruntung memiliki prioritas swasembada pangan yang didorong oleh Presiden. Namun, visi besar ini tidak akan terwujud tanpa gerakan ekonomi dari akar rumput.

“Presiden ingin meningkatkan perekonomian dari tingkat bawah. Dukungan negara diarahkan ke sana. Meski tentu ini tidak sejumlah menyenangkan pihak-pihak yang bermain di level atas,” ucapnya.

Ia memaparkan data produksi gabah dan jumlah penggilingan kecil yang jumlahnya lebih dari sekian unit di Indonesia. Namun demikian, total produksi nasional masih menunjukkan defisit.

Dari persoalan itu, Lora Fahmi menekankan bahwa pesantren memiliki peluang untuk memainkan peran ekonomi yang lebih signifikan. Ia menyebut pesantren sebagai “simpul masyarakat” yang memiliki jaringan luas, SDM besar, dan legitimasi sosial yang kuat.

“Pesantren bisa ikut dalam agenda ketahanan pangan, UMKM, pemberdayaan pertanian, sampai penguatan ekonomi mikro. Pesantren punya modal sosial yang tidak dimiliki lembaga lain,” ucapnya.

Menurutnya, jika pesantren terlibat aktif dalam transformasi ekonomi, maka dampaknya akan langsung menyentuh masyarakat kecil yang selama ini menjadi basis utama pesantren.

Melalui forum internasional ini, Wabup Probolinggo itu mengajak seluruh pengurus dan pemangku kepentingan pesantren untuk juga peka pada isu geopolotik. Pesantren harus berani bertransformasi tanpa kehilangan ruh tradisinya.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Nurul Jadid Gelar Seminar Internasional, Rumuskan Nilai Islam Universal untuk Pesantren Ramah dan Inklusif

berita.nuruljadid.net – Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar Seminar Internasional bertema “Universal Islamic Values for a Peaceful and Inclusive Pesantren toward Global Civilization” pada Senin (01/12/25). Acara yang digelar di Aula I Pesantren ini mendatangkan tokoh nasional hingga akademisi internasional untuk merumuskan nilai Islam universal sebagai respon atas masalah perundungan yang mendesak dunia pendidikan.

Dalam sambutan pembuka, Kiai Ahmad Madarik, Kepala Biro Kepesantrenan, menegaskan bahwa tema seminar ini menarik untuk merespons maraknya kasus perundungan yang akhir-akhir ini mencuat di lembaga pendidikan, termasuk pesantren.

“Dunia pendidikan sedang menghadapi peristiwa yang kurang mengenakkan. Kita sering mendengar laporan bullying, entah di sekolah, di pesantren, bahkan kepada pengajar,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya kerja sama antara pemerintah dan penyelenggara pendidikan agar lingkungan pesantren benar-benar bebas dari praktik perundungan. Menurutnya, meski perundungan dahulu dianggap lazim, baik secara verbal maupun fisik, arus informasi yang semakin deras membuat dampaknya semakin kompleks bagi warga pesantren.

“Pesantren Anti Perundungan adalah harapan kami. Pesantren harus lebih ramah anak dan ramah santri,” tambahnya.

Nurul Jadid, kata Kiai Madarik, telah menyusun aturan khusus anti-perundungan sebagai upaya menghadirkan jaminan rasa aman bagi santri. Namun ia mengakui, kasus serupa masih terjadi, dipicu minimnya pengetahuan dan kesadaran santri.

Sementara itu, dari akademisi internasional, salah satunya hadir Rowan Gould, Co-Founder dan Co-Director Mosaic Connections Australia. Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai Islam, terutama konsep ukhuwah, bagi masyarakat global yang kini saling terhubung dalam dunia digital.

“Nilai-nilai Islam memberi kontribusi besar bagi peradaban, khususnya yang terbentuk di Asia Tenggara dan Indonesia. Ini sangat diperlukan bagi kemaslahatan global,” ucapnya.

Rowan menilai, kolaborasi Australia–Indonesia melalui program Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) selama ini menjadi jembatan yang efektif dalam merawat harmoni. Ia menyambut baik terselenggaranya seminar internasional ini sebagai ruang memperkuat dialog dua negara.

Dalam kesemaptan yang sama, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menyoroti aspek historis pesantren sebagai lembaga yang berakar kuat dalam perjuangan bangsa.

“Kalau tidak ada pesantren, maka tidak ada negara. Dulu, para kiai dan tokoh tarekat telah melakukan banyak perlawanan dan kesiapan pasukan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” kata Bahtiar mengutip sejarawan Agus Sunyoto.

Potret Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar, tengah memberikan sambutan pembuka (opening remarks) di awal acara Seminar Internasional.

Namun, Bahtiar menilai peran pesantren dalam pembangunan nasional saat ini masih belum ditopang struktur birokrasi yang memadai. Ia menyinggung kebutuhan mendesak hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren agar dikelola oleh orang-orang yang benar-benar memahami kultur pesantren.

“Selama ini fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan pesantren tidak tertangani secara struktural. Yang berjalan hanya fungsi pendidikan, itu pun sebatas bantuan pesantren yang masih sangat terbatas,” terangnya.

Pada beberapa halaqah yang digelar Kemenag, pihaknya telah mengumpulkan aspirasi tentang apa saja yang perlu masuk dalam agenda kerja Dirjen Pesantren. Bagi Bahtiar, masukan dari kalangan pesantren sangat penting agar regulasi yang lahir benar-benar mencerminkan kebutuhan riil lembaga.

Bahtiar juga menyinggung masalah perundungan yang semakin banyak dilaporkan setiap hari. Menurutnya, pendekatan menyelesaikan persoalan ini harus dimulai dari individu yang sadar.

“Pendekatan untuk melahirkan kesadaran individu itu, efektifnya harus ditopang oleh program, seperti SOP, sistem, pengawasan, dan semacamnya,” imbuhnya.

Ia menegaskan, pendidikan karakter dan empati harus diperkuat, dibarengi kampanye internal, sistem pengawasan yang anti-kekerasan, serta pendekatan restoratif.

“Bahkan mikro-ekspresi kita saja bisa dimaknai kekerasan. Karena itu konstruksi besar untuk meniadakan kekerasan di pesantren sangat diperlukan,” tegasnya.

Seminar internasional ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan global, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali pesantren sebagai ruang aman, inklusif, dan berperan aktif dalam menciptakan peradaban dunia yang damai.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini Ajak P4NJ Nusantara Hidupkan Istighosah dan Pentingnya Silaturami di Tengah Maraknya Musibah

berita.nuruljadid.net  – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menyerahkan Panduan Istighosah kepada para pengurus P4NJ Pusat dan Daerah dalam acara yang digelar pada Sabtu, 22 November 2025, di Aula Mini Pesantren. Panduan tersebut disusun sebagai respons atas meningkatnya berbagai musibah dan kegelisahan sosial yang dirasakan umat Islam belakangan ini.

Dalam sambutannya, Ketua P4NJ Pusat, KH. Junaidi Mu’thi, menyampaikan bahwa penyusunan buku panduan itu merupakan amanah langsung dari pengasuh pesantren.

“Beberapa minggu lalu kami ditugasi untuk memperbanyak permohonan istighosah kepada Allah. Saat ini umat Islam banyak cobaan, banyak bencana. Jika kita diam saja, seolah tidak peduli pada lingkungan sosial,” ujarnya.

Menurut Kiai Junaidi, panduan tersebut memuat empat pokok utama: Hizb Nashr, Qasidah Tawassul, Istighosah, dan Do’a Istighosah. Susunan itu, katanya, selaras dengan ajaran yang pernah diwariskan KH. Zaini Mun’im. Beliau berharap panduan yang diserahkan itu dapat diteruskan oleh para ketua P4NJ Daerah kepada jamaah di wilayah masing-masing, agar praktik istighosah tetap sesuai tuntunan Pengasuh.

Sementara itu, KH. Moh. Zuhri Zaini dalam tausiyahnya menegaskan bahwa maraknya musibah—baik fisik maupun sosial—memerlukan respons yang bijak dan kembali menguatkan tradisi sosial-spiritual. Beliau menyinggung berbagai kejadian yang belakangan viral, termasuk insiden bangunan roboh yang menimpa santri serta serangan terhadap sejumlah kiai.

“Sekarang ini kita ditonton mata dunia lewat media sosial. Karena itu kehati-hatian sangat penting. Ada bencana fisik dan sosial yang sedang menimpa. Jika kita hanya sibuk dengan hal itu (masalah, red.), maka tugas pokok kita (mencari solusi, red.) tidak terlaksana,” kata Kiai Zuhri.

Menurutnya, di balik berbagai kegaduhan tersebut, terdapat kemungkinan “skenario”, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, apa pun penyebabnya, umat Islam harus menyikapinya dengan cara yang lurus. Beliau juga mengingatkan agar istighosah tidak dibelokkan menjadi kegiatan seremonial atau bernuansa politik.

“Istighosah itu bukan tawakkal kepada sesama makhluk, tetapi kepada Allah. Dulu para masyayikh kalau ada masalah nasional yang menyangkut umat, beliau-beliau istighosah dengan sungguh-sungguh,” dawuhnya.

Kiai Zuhri menjelaskan bahwa panduan yang disusun mencakup tawassul, Hizb Nasr, qasidah karya KH. Zaini Mun’im tahun 1970-an, serta doa-doa penutup istighosah. Menurut beliau, doa-doa tersebut bukan hanya berkaitan dengan urusan akhirat, tetapi juga mencakup persoalan dunia seperti bangunan, pendidikan santri, hingga kejayaan agama dan umat Islam.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menekankan pentingnya memperkuat silaturahmi dan kebersamaan, dimulai dari hal kecil dalam skup keluarga, antaranggota P4NJ, hingga bermasyarakat. Konsolidasi sosial, dawuhnya, hanya akan terbangun bila disertai sikap saling menghargai dan saling memahami. “Kalau ingin kebersamaan berbuah keharmonisan, pertama kita harus saling menghargai. Yang kedua, saling pengertian,” tuturnya.

Menutup tausiyah, Pengasuh menekankan bahwa tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang baik pula. “Kalau ingin memperbaiki keadaan tapi dengan cara yang tidak benar, malah tambah rusak. Maka kita harus menyikapi keadaan dengan bijak dan pertimbangan yang matang,” tutup beliau.

Acara berakhir dengan penyerahan resmi Panduan Istighosah kepada ketua-ketua P4NJ Daerah sebagai pedoman pelaksanaan ritual doa bersama di tingkat daerah.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika