Santri Nurul Jadid Observasi Hilal Ramadan 1447 H di Pantai Randutatah

www.nuruljadid.net-berita – Dalam upaya menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus memperkuat akurasi penetapan kalender Hijriah, Bidang Lajnah Falakiyah Biro Kajian Keilmuan Khusus & Ta’lif Wan Nasyr (BKKK & TWN) Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) di Pantai Randutata, Paiton, pada Selasa (17/02/26).

Bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo dan Lajnah Falakiyah PCNU Kraksaan, kegiatan ini menjadi bagian dari agenda nasional untuk memberikan rekomendasi penetapan awal Ramadan 1447 H kepada pemerintah pusat.

Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB ini melibatkan 30 santri pilihan dari asrama MAPK dan Asrama Diniyah. Partisipasi aktif para santri ini bukan tanpa alasan. Wakil Kepala Bidang Lajnah Falakiyah, Ust. Zainuddin Sunarto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan instrumen penting dalam mencetak generasi penerus ahli falak.

“Kegiatan ini adalah bentuk nyata pembelajaran ilmu falak bagi santri, sekaligus langkah strategis dalam kaderisasi ahli falakiyah di masa depan,” ujar Ust. Zainuddin di sela-sela observasi.

Keseriusan agenda ini terlihat dari hadirnya sejumlah tokoh penting, di antaranya: Dr. Ahmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I (Kepala Kantor Wilayah Kemenag Prov. Jawa Timur), Bpk. Zainal Arifin (Ketua Pengadilan Agama Kraksaan), Kabag Kesra Pemkab Probolinggo dan Pengurus Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Probolinggo serta Lajnah Falakiyah PCNU Kraksaan

Pantai Randutata dipilih sebagai titik pantau resmi karena telah memenuhi kriteria teknis: memiliki pandangan ufuk yang luas tanpa penghalang, koordinat titik yang presisi, serta kondisi cuaca yang umumnya mendukung.

Secara matematis, perhitungan hisab menunjukkan bahwa posisi hilal berada di bawah ufuk dengan ketinggian −1

. Matahari terbenam pada pukul 17.50 WIB, mendahului terbenamnya bulan pada pukul 17.46 WIB. Meskipun secara teknis hilal tidak mungkin terlihat (imkanur rukyat tidak terpenuhi), prosesi ini tetap dilaksanakan dengan khidmat.

Observasi tetap dijalankan tak hanya sekadar mencari visualisasi bulan, melainkan sebagai bentuk perwujudan ibadah (imtitsalan li amri) berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW untuk melakukan verifikasi lapangan. Dokumentasi dari Pantai Randutata ini kemudian dilaporkan secara nasional sebagai basis data penentuan awal Ramadan yang akuntabel.

 

Pewarta  ; Hisnul Muhaimin

Editor     : Ponirin Mika

Pengajian Ramadan Perdana; Kiai Zuhri Ulas Kriteria Ulama Akhirat

Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar pengajian perdana di bulan suci Ramadan dengan fokus pembahasan mengenai klasifikasi dan kriteria ulama. Dalam materi yang disampaikan, ditekankan pentingnya meluruskan niat dalam menuntut ilmu agar tidak terjebak pada kepentingan duniawi semata.

Materi pengajian membagi sosok pemuka agama menjadi dua kelompok besar, yakni Ulamaul Akhirat (ulama akhirat) dan Ulamaud Dunya (ulama dunia). Salah satu poin krusial yang disoroti adalah fenomena “Ulama Lisan”, yaitu sebutan bagi mereka yang pandai berceramah dan berbicara namun tidak mampu mengamalkan ilmunya sendiri.

Lebih lanjut, catatan pengajian tersebut merincikan bahwa tanda utama seorang ulama akhirat adalah sifat khusyuk. Khusyuk dalam konteks ini diartikan sebagai sikap serius dalam menggunakan waktu atau umur untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekadar melakukan wirid secara terus-menerus. Selain itu, ulama akhirat ditandai dengan sifat tawadhu (rendah hati) serta memiliki rasa takut dan khawatir yang tinggi kepada Allah SWT.

“Orang yang belajar ilmu agama tidak boleh bertujuan hanya untuk kepentingan dunia, karena hidup di dunia hanya sebentar sedangkan di akhirat abadi,” demikian penggalan pesan dalam catatan tersebut. Jika kesenangan dunia dijadikan tujuan utama dan tidak tercapai, hal itu hanya akan mendatangkan kesedihan dan kekecewaan.

Selain aspek teologis, pengajian ini juga menyentuh dimensi sosial dan ekonomi. Jamaah diingatkan bahwa dalam setiap harta yang dimiliki, terdapat hak orang lain seperti istri, anak, dan kaum yang membutuhkan. Umat Islam pun diajak untuk selalu berbuat baik kepada sesama guna menciptakan keharmonisan dan tidak menunda-nunda perbuatan bermanfaat.

Kiai Zuhri menekan prinsip kemandirian spiritual agar manusia tidak pernah berharap kepada sesama, melainkan hanya menggantungkan harapan kepada Allah SWT. Pengajian ini diakhiri dengan pesan moral untuk menjadi pribadi yang berguna bagi sesama tanpa harus menonjolkan diri.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi

Editor: Ponirin Mika

Menjadi Sentra Ekonomi Baru, Torasera Nurja Berkah Nurul Jadid Perkuat Rantai Pasok Nasional

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton resmi mengoperasikan Toko Rakyat Serba Ada (Torasera) Nurja Berkah setelah diresmikan secara langsung oleh Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantoro, pada Minggu (15/02/2026). Langkah ini menandai era baru kemandirian ekonomi pesantren yang terintegrasi secara nasional, sekaligus menempatkan Nurul Jadid sebagai pelopor konsep Torasera pertama di Pulau Jawa.

Terletak strategis di kawasan Exit Tol Paiton, Torasera Nurja Berkah diproyeksikan menjadi Business Hub utama yang akan menyokong distribusi logistik bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di wilayah Probolinggo dan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, menekankan bahwa proyek ini lahir dari semangat transformasi sosial. Pesantren kini tidak hanya berfokus pada pilar pendidikan dan dakwah, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat desa.

“Torasera ini adalah wujud kolaborasi, sinergi, dan keberanian untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis nilai-nilai keislaman. Kami ingin pesantren hadir sebagai penggerak kesejahteraan, menjadi ruang bertemunya produsen dan konsumen lokal melalui distribusi yang sehat dan berkeadilan,” ujar KH. Abdul Hamid Wahid.

Pernyataan tersebut dipertegas oleh Gus Faiz Abdul Haq Zaini, yang menyatakan bahwa kehadiran Torasera adalah bukti bahwa pengabdian pesantren kini melintasi tembok asrama. “Ini adalah komitmen kami untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat luas, bukan hanya santri di dalam pesantren,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Probolinggo, Lora Fahmi Ahz (Gus Fahmi), memberikan apresiasi tinggi terhadap momentum ini. Beliau mengungkapkan bahwa Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu daerah paling progresif dalam mendukung program prioritas Presiden, terbukti dengan posisi top 10 nasional dalam kecepatan pendirian KDKMP.

“Hingga hari ini telah berdiri 168 koperasi desa di Probolinggo. Kehadiran Torasera Nurja Berkah menjadi kado istimewa yang akan memperkuat fungsi operasional koperasi-koperasi tersebut agar mampu membawa manfaat luas bagi kesejahteraan warga,” ungkap Gus Fahmi.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantoro, menyebutkan bahwa di seluruh Indonesia saat ini baru terdapat dua Torasera, yakni di Kubu Raya (Kalimantan Barat) dan di Nurul Jadid (Jawa Timur). Beliau berharap model yang dikembangkan di Nurul Jadid ini dapat segera direplikasi di daerah lain.

“Kedepan, Torasera ini akan menjadi etalase utama produk UMKM lokal. Fungsinya ganda, yaitu sebagai penyalur kebutuhan rakyat sekaligus penyerap hasil produksi masyarakat desa. Kami ingin ini menjadi ekosistem baru yang menguatkan ekonomi dari akar rumput,” tegas Menteri Ferry.

Acara ditutup dengan prosesi pemotongan pita oleh Menteri Koperasi didampingi jajaran keluarga pengasuh, setelah sebelumnya diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Moh. Zuhri Zaini. Dengan beroperasinya Torasera Nurja Berkah, diharapkan sinergi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat lokal dapat menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Cetak Kader Fuqoha, Ma’had Aly Nurul Jadid Gelar Wisuda ke-XI: Kiai Zuhri Tekankan Pentingnya Amaliah Ilmu

berita.nuruljadid.net – Ma’had Aly Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo kembali mengukuhkan para pejuang ilmu dalam prosesi Wisuda Mahasantri ke-XI. Acara khidmat ini dihadiri langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, serta segenap jajaran pengurus dan wali santri.

Dalam sambutannya, Kiai Zuhri Zaini menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengurus Ma’had Aly yang konsisten melahirkan lulusan setiap tahunnya. Beliau berharap lembaga ini terus mampu mencetak kader umat dan fuqoha (ahli fiqih) yang mumpuni.

Kepada para wisudawan dan wisudawati, Kiai Zuhri menegaskan bahwa kelulusan ini bukanlah titik akhir dari proses belajar. Beliau mengingatkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban seumur hidup yang harus terus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Apa yang dicapai sekarang baru awal. Tugas kita sebagai ahli ilmu bukan hanya memperbanyak wawasan, tetapi menerapkan ilmu tersebut di tengah masyarakat. Apa gunanya ilmu jika tidak diamalkan?” tegas Kiai Zuhri.

Beliau juga menambahkan bahwa ilmu agama memiliki kedudukan istimewa karena bersumber langsung dari Allah SWT melalui Rasulullah SAW. Oleh karena itu, selain penguasaan materi, diperlukan semangat dakwah yang tinggi untuk menyebarkan ilmu sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

Senada dengan pengasuh, K. Muhammad Alfayyadl (Gus Fayyadl) menjelaskan bahwa Ma’had Aly Nurul Jadid merupakan lembaga khusus tafaqquh fiddin yang fokus pada pendalaman ilmu fiqih. Untuk mendukung cita-cita melahirkan ulama, Ma’had Aly kini telah berinovasi dengan membuka program Marhalah Tsaniyah (setara S2).

“Tujuannya adalah memberikan kesempatan bagi mahasantri untuk memperdalam ilmu yang telah didapat dari Marhalah Ula (S1),” ungkap Gus Fayyadl. Ia menekankan bahwa esensi seorang ulama adalah mereka yang memiliki rasa takut (khosyah) kepada Allah SWT yang lahir dari kedalaman ilmunya.

Acara semakin berbobot dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dahlan. Dalam paparannya, beliau menyebutkan bahwa ilmu yang ideal adalah ilmu yang dikuasai, direfleksikan, dan diamalkan dengan landasan keikhlasan.

“Amal lahiriah itu ibarat raga yang tegak, namun tanpa keikhlasan, amal tersebut tidak memiliki ruh. Pengetahuan tidak boleh berhenti hanya sebagai teori, melainkan harus mewujud dalam tindakan nyata,” pesan Prof. Dahlan di hadapan para hadirin.

Prosesi wisuda ditutup dengan pesan menyentuh dari Kiai Zuhri agar para lulusan tidak pernah melupakan jasa para guru, mulai dari mereka yang mengajarkan dasar-dasar huruf hijaiyah hingga para dosen di jenjang tinggi, serta memuliakan peran orang tua yang telah mendampingi hingga titik ini.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Pesantren Tetapkan Pramuka Sebagai Inti Kurikulum Pesantren

www.nuruljadid.net.berita– Pondok Pesantren Nurul Jadid melakukan terobosan fundamental dalam sistem pendidikannya. Melalui gelaran Apel Akbar Gugus Depan (Gudep) Lengkap perdana yang dilaksanakan pada Selasa (10/02/2026), pesantren secara resmi menegaskan bahwa Pramuka bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan bagian dari inti kurikulum pendidikan santri.

Wakil Kepala Pesantren I, Dr. KH. Muhammad Imdad Rabbani, M.Th.I., menyampaikan bahwa reposisi ini didasari atas kebutuhan pembentukan santri yang utuh. Menurutnya, Islam tidak hanya menekankan pada pembinaan jiwa dan akal, tetapi juga kekuatan fisik.

“Pramuka adalah inti kurikulum pesantren. Selain kedisiplinan, Pramuka membina fisik santri. Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah,” tegas Kiai Imdad saat memberikan amanat di hadapan ratusan peserta.

Kegiatan bersejarah ini dilangsungkan serentak di dua titik utama: area Kantor Kepesantrenan untuk santri putra dan halaman Gedung Putih Dalem Timur untuk santri putri. Sebanyak 600 santri delegasi dari unit SMA, MA, SMP, dan MTs terlibat aktif dalam upacara ini, didampingi oleh puluhan pembina, termasuk unsur Resimen Mahasiswa (Menwa) Wirasantri UNUJA dan Saka Bahari TNI AL.

Sebagai bentuk keseriusan terhadap kebijakan baru ini, Kiai Imdad menginstruksikan seluruh jajaran pengurus pesantren dan sekolah untuk menjadi teladan bagi para santri.

“Kewajiban Pengurus: Ke depan, pengurus wajib mengikuti kegiatan kepramukaan dan mengenakan seragam Pramuka secara resmi Integrasi Nilai: Implementasi Dasa Dharma Pramuka akan diselaraskan dengan Trilogi Santri Nurul Jadid, khususnya pada prinsip ḥusnul adab ma‘allāh wa ma‘al khalq (beradab baik kepada Allah dan sesama makhluk),” lanjutnya.

Sekretaris Biro Kepesantrenan, Kak Alief, mengapresiasi soliditas antar satuan kerja yang membuat apel perdana ini berjalan khidmat. Senada dengan itu, Ketua Gudep Lengkap, Kak Umar, memproyeksikan bahwa di masa mendatang, kegiatan ini tidak lagi hanya melibatkan perwakilan, melainkan seluruh santri tanpa terkecuali.

“Ke depan, apel harus diikuti seluruh peserta. Di sanalah proses pembentukan karakter, kebersamaan, dan kegembiraan berlangsung,” ujar Kak Umar.

Acara ditutup dengan atraksi yel-yel antarlembaga yang membawa suasana semarak, menandai babak baru semangat kepanduan di bumi Nurul Jadid yang lebih tangguh dan berkarakter.

Pewarta   : DPW

Editor      : Ponirin Mika

Pastikan Kerja Sesuai SOP, Pesantren Nurul Jadid Audit Satuan Kerja Lewat ISO 21001:2018

​berita.www.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga kualitas tata kelola lembaga. Memasuki tahun kedua penerapan standar internasional, setiap satuan kerja di lingkungan pesantren menjalani audit intensif guna memastikan seluruh prosedur operasional telah berjalan sebagaimana mestinya.

​Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dipimpin oleh Anang Pribadi selaku auditor. Fokus utama audit kali ini adalah meninjau sejauh mana satuan kerja mampu menyelaraskan antara kebijakan tertulis dengan praktik nyata di lapangan, sesuai dengan kaidah manajemen mutu.

​Anang Pribadi menjelaskan bahwa audit ini merupakan instrumen untuk memvalidasi kedisiplinan administratif. Menurutnya, hal terpenting dalam sistem manajemen adalah memastikan personel telah mengerjakan apa yang ditulis serta mendokumentasikan apa yang dikerjakan.

​”Dengan menggunakan manajemen ISO ini, Pesantren Nurul Jadid telah membuktikan bahwa ia terus berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk santri dan masyarakat,” ungkap Anang di sela-sela proses pemeriksaan dokumen.

​Langkah Pesantren Nurul Jadid mengadopsi ISO 21001:2018 dinilai sebagai pilihan yang luar biasa. Standar ini menjadi kompas bagi lembaga pendidikan untuk tetap berada pada jalur profesionalisme yang diakui secara global namun tetap berbasis nilai pesantren.

​Dalam pelaksanaannya, Anang menegaskan bahwa proses audit tidak bertujuan untuk mencari titik lemah personel. Sebaliknya, ini adalah upaya pembinaan bagi siapapun yang diberi amanah oleh pesantren apabila dalam bekerja belum termanajemen dengan sempurna.
​Pandangan tersebut diperkuat oleh Ustadz Ahmad Sahidah yang menyatakan bahwa kehadiran auditor merupakan bagian dari proses perbaikan berkelanjutan. Ia berharap seluruh unit kerja tidak merasa terintimidasi oleh proses verifikasi administrasi ini.

​”Audit tidak untuk menyalahkan atau menghakimi. Tapi untuk memastikan kita bekerja lebih sempurna sesuai dengan aturan, pedoman, dan SOP,” tegas Ustadz Ahmad Sahidah saat memberikan pengarahan kepada para pengelola unit.
​Selama dua hari penuh, auditor mendatangi setiap kantor satuan kerja untuk melakukan pengecekan berkas administrasi.

Pemeriksaan dilakukan secara mendetail terhadap dokumen-dokumen yang menjadi acuan kerja harian para staf dan pengurus pesantren.

Pesantren Nurul Jadid optimis dapat mempertahankan standar pelayanan yang tinggi. Konsistensi dalam menerapkan manajemen mutu diharapkan mampu membawa pesantren menjadi role model bagi lembaga pendidikan Islam lainnya di Indonesia.

 

Pewarta     : Ahmad Zainul Khofi

Editor        : Ponirin Mika

Audit Lanjutan ISO 21001:2018 Demi Maksimalnya Pelayanan Publik

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton kembali menunjukkan langkah nyata dalam menjaga kualitas kelembagaan. Melalui tim ISO, pesantren rujukan ini menggelar audit lanjutan guna memastikan sistem manajemen organisasi pendidikan (ISO 21001:2018) berjalan secara optimal dan berdampak langsung pada kualitas layanan.

Ketua tim ISO, Ustaz Ahmad Sahidah, dalam arahannya menyampaikan bahwa audit ini merupakan instrumen evaluasi untuk menakar sejauh mana kinerja manajemen telah berjalan. Ia menekankan bahwa proses ini jauh dari kesan mengadili, melainkan sebuah upaya kolektif untuk melakukan perbaikan.

“Audit hari ini tujuannya untuk memastikan kinerja kita, apakah sudah baik atau belum. Ini bukan tempat untuk menghakimi, melainkan ruang untuk mengoreksi agar manajemen kerja kita ke depan semakin baik dan profesional,” jelasnya di hadapan para pengurus satuan kerja.

Senada dengan hal tersebut, Bapak Anang Pribadi selaku Lead Auditor ISO 21001:2018, mengungkapkan bahwa standarisasi internasional ini sejatinya diciptakan untuk mempermudah, bukan mempersulit. Menurutnya, indikator utama kesuksesan sebuah sistem adalah munculnya rasa nyaman bagi para pegawai dalam menjalankan tugasnya.

“Manual dan prosedur itu bukanlah harga mati yang tidak bisa diubah. Jika pengurus menemukan metode yang lebih efektif dan lebih baik, silakan diterapkan. Kami di sini bukan sebagai tukang koreksi, melainkan mitra kerja dengan harapan yang sudah baik menjadi jauh lebih baik lagi,” tegasnya.

Lebih lanjut, pihak pesantren menegaskan komitmennya bahwa penerapan ISO 21001:2018 bukan sekadar strategi pencitraan atau branding. Target utamanya adalah bagaimana sistem manajemen tersebut mampu memberikan manfaat konkret bagi santri dan masyarakat luas sebagai penerima layanan pendidikan.

Dengan adanya manajemen yang tertata, diharapkan seluruh unit kerja di Pondok Pesantren Nurul Jadid mampu memberikan pelayanan maksimal, transparan, dan akuntabel, sejalan dengan visi pesantren dalam merespons tantangan zaman.

Pewarta: Kadafi
Editor: Ponirin Mika

Pesantren Terbitkan Edaran Libur Ramadan dan Idulfitri 1447 H

www.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, resmi menerbitkan Surat Edaran tentang pelaksanaan libur Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor: NJ-B/0054/A.IX/02.2026 yang ditandatangani pada 13 Sya’ban 1447 H atau 1 Februari 2026 M.

Dalam surat edaran itu dijelaskan bahwa jadwal libur dan pemulangan santri disesuaikan dengan kalender kegiatan pesantren tahun 2026. Santri putri mulai libur sejak 16 Ramadan 1447 H atau 6 Maret 2026 hingga 10 Syawal 1447 H atau 30 Maret 2026 .

Sementara santri putra mulai libur sejak 17 Ramadan 1447 H atau 7 Maret 2026 hingga 11 Syawal 1447 H atau 31 Maret 2026.
Pihak pesantren menegaskan bahwa pemulangan santri wajib mengikuti rombongan resmi yang dikoordinasikan oleh Pesantren bekerja sama dengan P4NJ daerah. Wali santri diwajibkan menjemput santri di titik penurunan (drop spot) yang telah ditentukan dengan menunjukkan fotokopi Kartu Keluarga (KK).

Adapun jadwal kembali ke pesantren ditetapkan pada 10 Syawal 1447 H atau 30 Maret 2026 untuk santri putri dan 11 Syawal 1447 H atau 31 Maret 2026 untuk santri putra. Kedatangan santri ke pesantren juga diwajibkan mengikuti rombongan yang dikoordinasikan oleh P4NJ daerah. Bagi daerah yang belum memiliki pengurus P4NJ, santri diperkenankan diantar langsung oleh wali santri.
Selain itu, pesantren mengimbau kepada wali santri agar melunasi Biaya Pendidikan Santri (BPS) triwulan I (Januari–Maret) serta tanggungan biaya konsumsi santri selama bulan Maret 2026 sebelum pemulangan. Selama masa libur, wali santri juga diminta untuk tetap mengawasi aktivitas ibadah dan pergaulan putra-putrinya.

Dalam edaran tersebut juga disampaikan bahwa layanan sambang santri dan jasa penitipan barang (jastib) akan ditutup mulai 28 Sya’ban 1447 H atau 16 Februari 2026 dan dibuka kembali pada 15 Syawal 1447 H atau 4 April 2026.
Surat edaran ini ditandatangani oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, BA., dan Kepala Pesantren, KH. Abd. Hamid Wahid, M.Ag., sebagai pedoman resmi bagi santri dan wali santri dalam pelaksanaan libur Ramadan dan Idulfitri tahun ini.

Untuk mengunduh surat edaran resmi silahkan kunjungi tautan berikut: https://www.nuruljadid.net/download/surat-edaran

 

(Humas Infokom)

Pramuka Nurul Jadid Perkuat Ketangguhan Mitigasi Bencana

berita.www.nuruljadid.net – Gerakan Pramuka Gugus Depan Lengkap Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) melakukan langkah progresif dalam penguatan kapasitas organisasi melalui program mitigasi bencana.

Langkah ini merupakan bentuk implementasi nyata dari Nota Kesepahaman (MoU) antara Yayasan Nurul Jadid dengan PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (PT POMI).

Dalam pertemuan strategis yang berlangsung di Kantor Manager CSR dan HRD PT POMI pada Kamis (29/01/2026), delegasi Pramuka Nurul Jadid disambut langsung oleh Bapak Rahman Hidayat beserta jajaran manajemen.

Pertemuan tersebut mematangkan rancangan program yang mencakup pembinaan khusus bagi 50 personel pilihan, yang terdiri dari 25 anggota putra dan 25 anggota putri.

Sebagai bentuk komitmen, PT POMI akan memfasilitasi program ini dengan tenaga pelatih profesional serta penyediaan sarana prasarana sesuai standar penanganan bencana.

Selain peningkatan skill teknis, program ini membuka peluang bagi anggota Pramuka untuk memperoleh sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Prinsip ‘Sedia Bakti Bina Diri’ bukan sekadar semboyan, melainkan fondasi praktis bagi mitigasi di tingkat akar rumput. Dengan sertifikat K3, anggota kami memiliki kompetensi yang diakui untuk berkontribusi di dunia usaha dan dunia industri (DUDI),” ujar Kak Agus Fanani.

Sementara itu, Kak Didik menekankan pentingnya kesiapan mental dalam menghadapi letak geografis Indonesia yang rawan bencana. Melalui “Mitigasi Bencana”, para anggota golongan Penegak dan Pandega akan dibekali keterampilan komprehensif, meliputi:

1. Manajemen Posko dan Distribusi Logistik.
2. Simulasi Evakuasi dan Pertolongan Pertama.
3. Dukungan Psikososial bagi penyintas.
4. Restorasi lingkungan dan edukasi pra-bencana.

Penguatan ini tidak hanya bertujuan mencetak relawan, tetapi juga mendorong peran Pramuka sebagai agen perubahan dalam mewujudkan Gugus Depan Aman Bencana dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di lingkungan pesantren.

Dengan integrasi antara ketangguhan fisik, mental, dan kepedulian ekologis, Pramuka Nurul Jadid diproyeksikan menjadi garda terdepan dalam menjaga keselamatan kolektif di lingkungan pesantren maupun masyarakat luas.

Pewarta: DPW
Editor : Ponirin Mika

Di Pesantren Nurul Jadid, Gus Ahmad Kafabihi Tegaskan Kaderisasi Sebagai Pilar Kekuatan NU

berita.www.nuruljadid.net – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Jawa Timur ​Gus Ahmad Kafabihi menegaskan bahwa keberlangsungan Nahdlatul Ulama (NU) sangat bergantung pada efektivitas proses kaderisasinya. Ia menyebut kaderisasi bukan sekadar menjalankan aturan administratif organisasi, melainkan pilar utama kekuatan dan investasi jangka panjang bagi masa depan jam’iyyah.

​Pesan tersebut disampaikan Gus Ahmad dalam acara upgrading kaderisasi Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS RA) GP Ansor Jawa Timur yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Sabtu (31/01).

​Dalam sambutannya, Gus Ahmad mengajak para peserta untuk meneladani Rasulullah SAW saat melakukan kaderisasi awal di rumah Arqom bin Abil Arqom. Langkah tersebut terbukti mampu membangun kelompok yang kokoh dan tahan banting.

​”Kaderisasi adalah kolaborasi antara kebutuhan mendasar organisasi dan kewajiban tanggung jawab kita sebagai pengurus. Jika kaderisasi berhenti, maka gerakan kita pun tidak akan bisa berlanjut,” tegas beliau di hadapan puluhan kader MDS RA.

​Gus Ahmad juga memaparkan konsep mendalam mengenai “Anak Sababiyah”. Dalam pandangannya, mendidik kader sama halnya dengan menanam investasi untuk akhirat. Kader yang berhasil dibina dengan baik akan menjadi layaknya anak saleh yang doanya terus mengalir kepada gurunya.

​”Kader merupakan bentuk investasi akhirat yang dapat memberikan syafaat, sebagaimana prinsip waladun sholihun yad’ulah (anak saleh yang mendoakan orang tuanya),” imbuhnya.

​Selain memotivasi, Gus Ahmad memberikan catatan kritis mengenai pentingnya evaluasi berkala dalam organisasi. Beliau merujuk pada ketegasan Rasulullah SAW saat menegur sahabat Usamah bin Zaid sebagai dasar perlunya pengawasan terhadap arah perjuangan kader.

​Ia menyoroti tantangan nyata saat ini, seperti fenomena melemahnya nilai-nilai ke-NU-an di kalangan pekerja migran di luar negeri, termasuk di Jepang. Menurutnya, hal itu menjadi bukti betapa krusialnya ikatan organisasi yang kuat dan proses evaluasi yang terukur.

Mengakhiri arahannya, Gus Ahmad berpesan agar seluruh kader MDS RA GP Ansor menikmati setiap proses belajar di organisasi agar kelak menjadi kader yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Pewarta           : Kadafi Ananda

Editor              : Ponirin Mika

KH. Moh. Zuhri Zaini: Ukhuwah adalah Bekal Utama Menjaga Stabilitas Sosial di Era Digital

berita.www.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya merawat persaudaraan (ukhuwah) sebagai fondasi utama dalam menjaga keharmonisan bangsa. Hal tersebut disampaikan beliau saat memberikan tausyiah dalam acara Upgrading Kaderisasi Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDS RA) GP Ansor Jawa Timur yang bertempat di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Sabtu (31/01/2026).

​Dalam penyampaiannya, Kiai Zuhri menggarisbawahi tiga pilar ukhuwah yang menjadi konsep sentral dalam Islam: ukhuwah sesama warga nahdliyin/muslimin, ukhuwah wathaniyah (kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah (kemanusiaan). Menurut beliau, perbedaan latar belakang individu maupun kelompok tidak boleh menjadi penghalang untuk menjalin persaudaraan.

​”Islam tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang. Semua adalah saudara kita. Kita berharap persaudaraan ini tidak hanya di dunia, tetapi berlanjut hingga ke hadirat Allah bersama para nabi dan para masyayikh,” ujar Kiai Zuhri di hadapan para kader Ansor.

​Lebih lanjut, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa menjaga hubungan antarmanusia (hablum minan nas) adalah modal krusial untuk mencegah konflik. Beliau menyoroti fenomena “musibah sosial” yang marak terjadi di media sosial, di mana empati seringkali terkikis oleh sikap menghakimi.

​Beliau mencontohkan peristiwa robohnya Pondok Al-Azimi sebagai refleksi. Di saat banyak pihak berduka, masih ada sebagian masyarakat yang justru melontarkan kritik dan menyalahkan tanpa memahami duduk perkara yang sebenarnya. Beliau menegaskan bahwa hanya dengan ukhuwah dan kebersamaan, cita-cita besar organisasi dan bangsa dapat terwujud.


​Menutup tausyiahnya, Kiai Zuhri memberikan pesan mengenai cara menyelesaikan masalah. Beliau mengimbau agar setiap persoalan diselesaikan dengan cara yang bijak tanpa menimbulkan masalah baru yang lebih besar.
​Beliau mengutip kisah Rasulullah SAW saat menghadapi seorang badui (A’raby) yang kencing di dalam masjid. Alih-alih membentak, Nabi melarang sahabat untuk bertindak keras dan justru memberikan edukasi dengan santun.

​”Mari menyelesaikan masalah dengan cara yang bijak. Merawat ukhuwah itu dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, istri, dan anak-anak,” pungkas beliau.

​Acara upgrading ini pun menjadi momentum syukur bagi keluarga besar GP Ansor Jawa Timur atas kesempatan menimba ilmu di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid guna memperkuat kualitas kaderisasi di masa depan.

 

Pewarta           : Kadafi Ananda

Editor              : Ponirin Mika

MDS Rijalul Ansor Jatim Gelar Upgrading Kader di Ponpes Nurul Jadid

berita.www.nuruljadid.net – Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor (RA) Jawa Timur sukses menyelenggarakan kegiatan Upgrading Kaderisasi untuk Zona Pasuruan-Probolinggo. Agenda yang diikuti oleh puluhan kader visioner ini dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Kegiatan ini dirancang khusus untuk memperkuat kualitas kepemimpinan serta manajemen organisasi di tubuh Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa’ Sa’dy (H. Munir), menegaskan bahwa peningkatan kapasitas ini merupakan langkah krusial bagi para kader.

“Kami bersyukur agenda ini terlaksana. Peningkatan kapasitas ini sangat penting agar kader Rijalul Ansor siap diterjunkan dalam berbagai medan pengabdian kepada umat, terutama dalam menguasai medan dakwah secara luas,” ungkapnya.

Pentingnya keberlanjutan organisasi juga ditekankan oleh Lora Khoiron Rosyid. Ia menyebutkan bahwa fokus utama upgrading kali ini adalah mutu kepengurusan dan keterampilan manajerial. Menurutnya, eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) dan Ansor sangat bergantung pada efektivitas kaderisasi.

“Organisasi tidak akan bubar karena konflik, tapi akan bubar jika kaderisasinya mandek. Selama kaderisasi berjalan, NU dan Ansor akan terus bertahan,” tegasnya.
Di sisi lain,Gus H. Ahmad Kafabihi memberikan perspektif historis dengan mengacu pada pola pembinaan Rasulullah SAW di rumah Arqam bin Abil Arqam. Ia mengingatkan bahwa kaderisasi adalah perpaduan antara kebutuhan organisasi dan kewajiban aturan.

“Kita tidak ingin meninggalkan generasi yang lemah. Khidmat dalam kaderisasi ini harus dilakukan secara total demi mencetak kader terbaik bagi NU, bangsa, dan agama,” pungkasnya.

Gus Ahmad menegaskan MDS Rijalul Ansor diharapkan dapat melahirkan barisan pemimpin yang solid dan mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat, sekaligus menjaga marwah dakwah ala Ahlussunnah wal Jama’ah.

 

Pewarta           : Kadafi Ananda

Editor              : Ponirin Mika

Perkuat Literasi Al-Qur’an, Pakar Al-Azhar Kairo Bedah Sejarah Qira’at di PP Nurul Jadid

berita.www.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menghadirkan nuansa ilmiah internasional dalam Daurah Al-Qur’an bersama ulama terkemuka asal Mesir, Syekh Dr. Muhammad Dasuqi Amin Kahilah, Jumat (30/01/2026). Dalam forum tersebut, pakar dari Universitas Al-Azhar Kairo ini membedah secara mendalam sejarah dan urgensi ilmu Qira’at sebagai penjaga orisinalitas wahyu.

Syekh Dasuqi menjelaskan bahwa keberagaman bacaan Al-Qur’an (Qira’at) merupakan bentuk kemudahan (taysir) yang diberikan Allah bagi umat Islam. Ia menganalogikan keragaman dialek di Jazirah Arab kala itu dengan kemajemukan bahasa di Indonesia.

“Al-Qur’an tidak hanya turun dengan dialek Quraisy, melainkan dengan bahasa Arab yang luas. Sebagaimana Indonesia yang memiliki beragam dialek suku namun disatukan satu bahasa, Al-Qur’an pun mengakomodasi berbagai lahjah Arab agar mudah dipelajari,” ujar Syekh Dasuqi di hadapan ratusan santri dan pengurus di Aula I PP Nurul Jadid.

Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “Unzilal Qur’an ‘ala sab’ati ahruf” (Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh ragam bacaan), Syekh Dasuqi menekankan bahwa perbedaan qira’at bukanlah pertentangan, melainkan kekayaan makna. Beliau mencontohkan variasi bacaan seperti majraha dan majreha sebagai bukti fleksibilitas yang tetap terjaga akurasinya.

Lebih lanjut, ia membandingkan Al-Qur’an dengan kitab-kitab terdahulu. Berbeda dengan Taurat yang diturunkan dalam bentuk tulisan pada papan, Al-Qur’an turun dan dijaga melalui hafalan (shudur). Inilah yang disebut sebagai I’jazul Qur’an (kemukjizatan Al-Qur’an), di mana kemurniannya tetap utuh tanpa penambahan atau pengurangan meski telah melewati berbagai upaya pengingkaran sejak zaman Musailimah al-Kadzdzab hingga era modern.

Dalam tinjauan sejarah, Syekh Dasuqi mengisahkan kebijakan Khalifah Utsman bin Affan yang melakukan kodifikasi Al-Qur’an ke dalam enam hingga tujuh mushaf untuk dikirim ke berbagai wilayah seperti Makkah, Kufah, Yaman, hingga Syam.

“Sayyidina Utsman tidak hanya mengirim mushaf, tetapi juga mengutus guru-guru ahli. Tujuannya agar umat tidak membaca Al-Qur’an sesuai kemauan sendiri, melainkan berdasarkan sanad yang bersumber langsung dari Rasulullah SAW,” tegasnya.

Terkait kehadiran ulama Al-Azhar di Indonesia, Syekh Dasuqi menyebut hal ini sebagai langkah strategis negara untuk membendung pemikiran ekstrem dan sesat. Menurutnya, Indonesia membutuhkan sumber keilmuan yang otoritatif dan moderat (wasathiyah) yang selama ini dijaga oleh institusi seperti Al-Azhar.

Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap para santri dapat memperkuat literasi Al-Qur’an mereka, tidak hanya dari sisi kelancaran membaca, tetapi juga pemahaman sejarah dan metodologi keilmuan yang menyertainya.

 

Pewarta           : Naylah Zakiyatur Rohmah

Editor              : Ponirin Mika

 

 

 

Pesantren Perkuat Saka Bahari dan Matangkan Pelatihan Kaderisasi Pengurus

berita.www.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) menggelar koordinasi strategis bersama TNI AL Paiton untuk mengembangkan Satuan Karya (Saka) Bahari sekaligus merancang pelatihan kaderisasi pengurus pesantren pada Selasa (20/1/2026). Sinergi ini bertujuan memperkuat karakter santri melalui kedisiplinan dan nilai-nilai kepanduan.

​Rangkaian kegiatan diawali pada pagi hari pukul 07.00 WIB dengan pelatihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) bagi siswa yang dipandu langsung oleh Kakak Anang Susanto dari TNI AL. Latihan rutin mingguan ini merupakan bagian dari upaya pencapaian kecakapan umum Pramuka bagi seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Yayasan Nurul Jadid.


​Pada siang harinya, agenda berlanjut dengan koordinasi antara Biro Kepesantrenan dan Biro Pengembangan PPNJ bersama Komandan Pos TNI AL Paiton, Kapten Laut (P) Abson Nizam, S.Sos bersama tiga anggotanya. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut diskusi sebelumnya mengenai pembinaan Saka Bahari sebagai sarana penguatan karakter bahari dan kedisiplinan santri.
​Kapten Laut (P) Abson Nizam menyatakan dukungan penuhnya terhadap penyiapan calon kader pengurus di lingkungan pesantren.

“Kami mendukung pelatihan pengurus ini, baik dalam penguatan Saka Bahari maupun penyiapan kader yang tangguh,” ujarnya.

​Program kaderisasi pengurus pesantren kali ini dirancang melalui sinkronisasi yang berbasis pada kebutuhan dan target spesifik pascapelatihan.

​Menurut Kakak Agus Fanani, perwakilan pihak pesantren, pengurus yang telah menyelesaikan pelatihan kaderisasi ini nantinya akan diusulkan mengikuti Kaderisasi Dasar Manajerial (KDM) sebagai syarat menjadi pelatih Pramuka resmi.

​Sekretaris Biro Kepesantrenan, Kakak Muhammad Alief Hidayatullah, menekankan bahwa kaderisasi ini mencakup seluruh lini pengurus, mulai dari bagian keamanan hingga pengurus kamar. Ia berharap para pengurus tidak hanya disiplin, tetapi juga memiliki kepekaan dalam menangani santri.

​”Kompetensi yang diharapkan adalah ketanggapan menangani santri secara tepat sesuai prinsip keasuhan yang santun dengan tetap mengedepankan adab,” pungkasnya.

 

Pewarta           : DPW

Editor              : Ponirin Mika

 

Bukan Sekedar Kembali, Pengabdian Alumni UI Berbagi Strategi Dunia Kampus

berita.nuruljadid.net -Dalam rangka memberikan edukasi seputar dunia perkuliahan sekaligus menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi antara siswa dan alumni, Program Unggulan IPA (UI) Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ) menggelar agenda tahunan berupa Pengabdian Alumni (PA). Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai Selasa (20/01/2026) hingga Sabtu (24/01/2026), bertempat di kelas Program UI.

Pelaksanaan Pengabdian Alumni tahun ini dilakukan dengan keterbatasan sumber daya manusia. Banyak panitia yang berhalangan hadir karena bertepatan dengan ujian kampus serta kegiatan lain yang tidak dapat ditinggalkan. Kendati demikian, acara tetap berjalan dengan sukses meskipun selama pelaksanaannya terdapat berbagai dinamika dan tantangan.

Pembukaan acara dilaksanakan di dua tempat yang berbeda. Kepanitiaan putra memilih Aula 2 Pondok Pesantren Nurul Jadid, sedangkan kepanitiaan putri memilih Aula Mini MANJ. Dana kegiatan tahunan ini sepenuhnya diperoleh dari sumbangan para alumni UI. Seusai pembukaan, panitia langsung menggelar kegiatan talk show yang menghadirkan alumni-alumni sukses untuk memberikan motivasi dan wawasan kepada seluruh siswa UI.

Kegiatan PA dilanjutkan pada siang dan malam hari dengan materi yang berbeda. Materi untuk siswa kelas 3 lebih difokuskan pada persiapan memasuki dunia perkuliahan, seperti pembelajaran literasi numerasi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), pendalaman pemilihan jurusan, serta bimbingan pembuatan makalah, jurnal, dan laporan praktikum.

Sementara itu, materi untuk siswa kelas 1 dan 2 lebih mengarah pada pembentukan dan penempaan karakter diri, seperti public speaking, perencanaan masa depan (future plan), serta pengenalan dan pemahaman karakter diri (knowing your own character).

Ketua panitia, Mohammad Wildan Dhulfahmi, menyampaikan bahwa persiapan kegiatan ini memerlukan waktu yang cukup panjang.
“Kami memulainya sejak bulan Juli. Tidak hanya menyusun konsep acara, tetapi juga mempersiapkan proposal dan surat rekomendasi kegiatan. Sempat menemui beberapa kendala, namun alhamdulillah kegiatan ini telah disetujui oleh pihak pesantren,” ujarnya.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Panitia, Kamelia Anaimah Maksum, mengungkapkan bahwa kepanitiaan hanya menghadapi sedikit kendala selama pelaksanaan.
“Acara yang kami garap ini hampir tidak menemui rintangan berarti. Hanya saja kami perlu usaha lebih karena keterbatasan akomodasi kendaraan,” katanya.

Pada penutupan PA, diselenggarakan beberapa agenda penting. Selain penganugerahan kepada siswa kelas 3 dengan nilai try out UTBK tertinggi, UI juga memberikan sertifikat kepada siswa dengan peringkat teratas dalam Ujian Evaluasi Semester Asrama (ESA). Setelah itu, Kepala Wilayah Putra Pusat, Achmad Fais Ghozali, membacakan surat keputusan pemindahan jabatan Kepala Asrama UI yang turut dihadiri oleh Kepala Program UI.

Salah satu siswa kelas akhir, Fadel Rafid Alawy, mengaku sangat bersyukur dengan adanya kegiatan PA ini. Menurutnya, ia memperoleh banyak pengetahuan seputar dunia perkuliahan melalui diskusi bersama para alumni.
“Saya sangat senang karena bisa mendapatkan tambahan informasi dari mereka,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan PA, diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi para siswa, khususnya kelas akhir, dalam mematangkan rencana mereka setelah lulus. Selain itu, siswa kelas 1 dan 2 juga diharapkan dapat mempersiapkan diri sejak dini untuk perjalanan pendidikan dan karir mereka setelah menyelesaikan pendidikan di MANJ.

 

Pewarta : Kadafi Ananda & Bunga Adelia Gadisian
Editor     : Ahmad Zainul Khofi