Pembawa Acara Pembukaan Osabar PP Nurul Jadid Tampak Gunakan 4 Bahasa Sekaligus

nuruljadid.net- Senin, 31/08/20, PP Nurul Jadid adakan kegiatan orientasi santri baru di aula 2 PP Nurul Jadid (MANJ). Kegiatan itu di laksanakan, Senin malam pukul 21.00 WIB.

Terlepas dari itu semua, 4 pembawa acara yang merupakan santri Nurul Jadid sendiri, tampak menggunakan 4 bahasa sekaligus. “Kalau Mandarin itu dari unggulan, kemudian bahasa Arab dari asrama Diniyah, bahasa Indonesia dari unggulan dan kalau bahasa Inggris dari unggulan juga” terang Ady Azhari selaku ketua panitia.

Menurut Ady Azhari, penggunaan 4 bahasa tersebut memang ada kesengajaan dengan tujuan memberi motivasi terhadap santri yang baru “bahwa di Nurul Jadid ini bukan hanya ada bahasa Indonesia dan bahasa arab tetapi memiliki bahasa yang luas” jelasnya.

Ady Azhari berharap bahwa santri baru bisa percaya diri untuk bisa menggunakan bahasa yang belum mereka ketahui.

 

Pewarta : Romli

Editor : Ponirin Mika

Ribuan Santri Baru Antusias Mengikuti Pembukaan OSABAR

nuruljadid,net- Pembukaan orientasi santri baru resmi di buka, Senin malam (31/08). Ribuan santri baru antusias mengikuti pembukaan osabar yang bakal digelar lima hari tersebut di Aula I Pesantren untuk santri baru puteri dan Aula II Pesantren untuk santri putera.

Acara dihadiri langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini, Kepala BKOS Nurul Jadid KH. Makki Maimun Wafie, Sekretaris Pesantren Ustadz H. Faizin Syamwil, Kasubbag Humas dan Infokom Ponirin Mika, Kasuubag Kepegawaian Ustadz Miftahul Huda, Kasubbag Advokasi dan Hukum Ustadz Ainul Yakin dan beberapa pengurus pesantren lainnya.

Ketua Panitia Osabar Ustadz Ady Azhari menyampaikan, orientasi santri baru ini sarana awal pengenal santri baru terhadap pesantren dan kegiatan kepesantrenan. Karena mayoritas santri baru tidak mengenal dunia pesantren. oleh karenanya sangat perlu diberi pengenalan terlebih dahulu melalui kegiatan osabar ini.

Masih kata Ustadz Ady sapaan akrabnya, sebanyak kurang lebih 2000 santri baru yang ikut kegiatan osabar tahun ini. Tentu ini bukanlah angka yang sedikit. Untuk itu kami (panitia) akan bekerja extra agar misi osabar bisa tercapai dengan baik. apalagi pada masa pandemi covid 19 saat sekarang. Kita semua baik itu santri baru dan panitia harus mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan Gugas Covid 19 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Ustadz Ady menambahkan, alhamdulillah santri baru baik putera maupun puteri penuh antusias mengikuti kegiatan orientasi santri baru.

Besar harapan kegiatan ini berjalan dengan baik sesuai dengan keinginan pesantren dan kita semua,”Imbuhnya.

 

Pewarta : PM

Quotes Almarhumin Padati Tempat OSABAR 2020

nuruljadid.net- Orientasi Santri Baru 2020 atau dikenal dengan OSABAR akan dibuka senin malam (31/08) yang akan bertempat di Aula I Pesantren untuk santri baru puteri dan Aula II Pesantren untuk santri baru putera.

Kendati demikian, panitia osabar sejak hari ahad kemarin mulai sibuk mempersiapkan kebutuhan pelaksanaan osabar. Mulai dari kebutuhan sarana prasarana dan materi yang akan diberikan pada santri baru selama osabar.

Salah satu persiapan yang dilakukan panitia memasang quotes almarhumin dilokasi kegiatan osabar baik di dalam ruangan maupun diluar ruangan.

Pemasangan quotes almarhumin melalui xbanner ini merupakan salah satu cara panitia memberikan motivasi kepada santri baru dalam mencari ilmu dan sikap seorang santri.

Ustadz Alief Hidayatullah salah satu panitia osabar menyampaikan, pemasangan quotes almarhumin ini untuk memberikan motivasi bagi santri baru yang sedang mencari ilmu.

Masih kata Ustadz Alief, karena quotes atau dawuh almarhumin yang di pasang berisi pesan-pesan tentang jati diri seorang santri dan bagaimana santri beraktifitas di pesantren.

 

Pewarta : PM

 

Belajar Nasionalisme Konkret dari Kiai Zaini Mun’im

nuruljadid.net-Jika kita ingin tau bagaiamana sebenarnya nasionalisme dan sikap kebangsaan itu? Seyogyanya belajarlah kepada Kiai Zaini Mun’im (Pendiri Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid Paiton). Karena beliau adalah sosok Ulama Nasionalis sejati.

Nasionalisme, bagi Kiai yang lahir pada tahun 1906 ini, tidak hanya sekedar retorika tapi kontribusi nyata terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap nasionalisme dan Kebangsaan Kiai Zaini Mu’im dhahiran wa bathinan. Hal ini tergambar dalam landasan filosofis santri PP. Nurul Jadid yang dikenal dengan al-wa’iyat al-khamsah (pancakesadaran) santri.

Panca Kesadaran atau al-wa’iyat al-khamsah, dimaksud adalah gagasan bernas Kiai Zaini tentang beberapa kesadaran yang harus dimiliki oleh seorang santri yaitu; kasadaran beragama (al-wa’yu al-dini), kesadaran berilmu (al-wa’yu al-‘ilmi), kesadaran berbangsa dan bernegara (al-wa’yu al-hukumi wa al-syu’bi),  kesadaran bermasyarakat (al-wa’yu al-ijtima’i), dan  kesadaran berorganisasi (al-wa’yu al-nidhami).

Dalam pancakesadaran santri ini, secara tidak langsung Kiai Zaini Mun’im menegaskan komitmennya terhadap kebangsaan dan kenegaraan. Sehingga Kiai yang lahir di Desa Galis Pamekasan Madura ini berkeinginan agar santrinya tidak hanya menjadi orang berilmu, beragama, tapi juga punya komitmen kebangsaan, kenegaraan dan peduli terhadap masyarakat.

Komitmen Menjaga Indonesia

Kesadaran berbangsa dan bernegara dimaksud tentu saja, secara filosofis dapat dimaknai bahwa kita hidup di Indonesia tidak hanya berdiri sendiri, tapi berkaitan dengan pihak-pihak lain (bangsa), sehingga haruslah menghargai, menghormati dan saling membantu (peduli sosial) tanpa harus melihat latar belakang agama, suku, RAS dan lain sebagainya.

Kemudian, dalam konteks bernegara, bahwa kita sebagai sebuah bangsa yang berada di Indonesia, terikat dengan tata aturan yang berlaku. Sehingga setiap persoalan kebangsaan harus diselesaikan sesuai aturan yang berlaku.

Sikap kebangsaan dan nasionalisme Kiai Zaini Mun’im kemudian juga dipertegas melalui maqalah beliau yang berbunyi “Orang yang Hidup di Indonesia, kemudian tidak melalukan perjuangan dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan pendidikan dan ekonominya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan perjuangan orang banyak (rakyat)” (Masyhur Amin, Nasikh Ridwan; 1996).

Jika direnungi, makna tersirat dari maqalah di atas, tentu saja memiliki pesan yang sangat mendalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kiai Zaini secara tersirat berpesan agar orang yang hidup di Indonesia tidak hanya sekedar hidup dan bertempat tinggal, tapi harus memiliki peran sosial dan ikut serta memikirkan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Misalnya mendidik masyarakat jika memiliki ilmu, dan membantu masyarakat yang tidak mampu jika memiliki kemampuan ekonomi.

Nasionalisme Konkret

Dengan begitu, nasionalisme tidak cukup hanya dengan slogan dan retorika; “NKRI harga mati”, “saya nasionalis”, “saya Pancasilais” dan lain-lain. Akan tetapi bagi Kiai Zaini Mun’im, nasionalisme itu harus konkret yakni harus dibuktikan dengan cara ikut serta memikirkan dan membantu proses pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Misalnya dengan cara mengadvokasi masyarakat melalui jalur pendidikan, sosial, ekonomi dan keagamaan.

Kemudian dalam pengertian lain, semangat nasionalisme haruslah senafas dengan sikap kebersamaan, gotong royong dan saling membantu serta peduli pada satu sama lain. Itu sebabnya, masing-masing warga negara tidak boleh hanya memikirkan kepentingannya masing-masing, akan tetapi harus memikirkan kepentingan orang banyak, yakni rakyat dan bangsa Indonesia secara umum.

Komitmen nasionalisme dan kebangsaan di atas, tidak bisa dilepaskan dari sosok Kiai Zaini Mun’im yang merupakan sosok ulama pejuang baik dalam melawan penjajahan dan memberdayakan umat. Bahkan, jauh sebelum Kiai Zaini Mun’im hijrah ke Desa Karanganyar Paiton, beliau telah banyak terlibat dalam proses perjuangan melawan dan mengusir penjajahan Belanda di Bumi Madura tepatnya Pamekasan.

Kiai Zaini dalam Pergulatan Penjajahan Indonesia

Dalam buku biografi beliau yang ditulis  Masyhur Amin, Nasikh Ridwan dijelaskan, sejak muda Kiai Zaini Mun’im sudah aktif dalam medan perjuangan. Beliau banyak memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, bangsa dan negara. Beliau terlibat aktif dalam perjuangan membela hak-hak masyarakat, membela keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan, pada masa penjajahan Jepang, beliau dipercaya sebagai pimpinan Barisan Pembela Tanah Air (PETA).

Kemudian, pada masa perang kemerdekaan, Kiai Zaini Mun’im bahkan dipercaya sebagai pimpinan Sabilillah ketika melakukan Serangan Umum 16 Agustus 1947 terhadap bala tentara Belanda yang menguasai Kota Pamekasan. Beliau termasuk tokoh pejuang yang menjadi target operasi Belanda, yang dikejar-kejar karena kegigihan beliau dan sikap pantang menyerah dalam melawan kekuatan penjajah.

Sedangkan di bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan, Kiai Zaini banyak memberdayakan masyarakat melalui media Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), baik ketika beliau masih berada di pulau Madura maupun setelah hijrah ke tanah Jawa. Melalui NU, beliau melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, membela hak-hak masyarakat dan membangun kehidupan masyarakat semakin tercerahkan.

Bahkan tatakala Kiai Zaini Mun’im telah mendirikan pesantren, kepeduliannya terhadap masyarakat tidak pernah surut. Di tengah-tengah kesibukanny dalam mengasuh pesantren, beliau masih memberikan waktu yang cukup untuk menangani secara langsung permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat, baik dalam bidang keagamaan, maupun sosial ekonomi, terutama yang menyangkut nasib petani.

Dengan demikian Kiai Zaini Mun’im merupakah tokoh pesantren yang nasionalis dan punya komitmen kebangsaan yang kuat. Beliau tidak hanya bicara soal nasionalisme dan kebangsaan, tapi aktivitas hidupnya adalah nasioanlisme dan kebangsaan itu sendiri.

Semangat nasionalisme dan kebangsaan yang demikian itulah yang perlu ditransformasikan pada generasi bangsa, ditengah krisis kebangsaan dan rasa nasionalisme yang menimpa elite dan generasi bangsa dewasa ini. Dan akhirnya, semoga kita para santrinya bisa meneladani kecintaannya pada bangsa dan negara. Wallahu A’lam.

 

*Mushafi Miftah, Santri PP. Nurul Jadid yang saat ini mengabdikan diri sebagai Dosen Tetap Universitas Nurul Jadid dan Tercatat Sebagai Kandidat Doktor di Universitas Jember

Tulisan ini diambil di website.www.harakatuna.com

Tiga Kisah Keteladanan KH. Moh. Hasyim Zaini

nuruljadid.net- KH. Moh. Hasyim Zaini pengasuh ke II Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Beliau dikenal sebagai sosok sederhana, penyabar dan memiliki sifat kasih sayang yang tinggi. selain itu Kiai Hasyim diketahui memiliki keteladanan diantara keteladanannya:

Suatu ketika, kiai Hasyim ingin pergi ke Kraksaan untuk suatu keperluan. Beliau lalu memanggil salah seorang santri untuk menemani beliau mengemudikan sepeda onthel. Maklum pada waktu itu sepeda motor masih jarang.

Setelah beberapa saat, ternyata santri yang beliau panggil tersebut nampaknya kurang terbiasa mengemudikan sepeda onthel. Melihat kejadian ini, beliau tidak memanggil santri lainnya untuk menggantikan santri yang tidak terampil mengemudikan sepeda onthel tersebut.

Namun oleh beliau santri tersebut disuruh membonceng di belakang untuk menggantikan posisi beliau yang semula. Subhanallah, dari Pondok Nurul Jadid Paiton hingga ke Kraksaan pulang pergi beliaulah yang mengemudikannya.

Inilah teladan dari seorang yang dikenal rendah hati dan amat menjaga perasaan orang lain bahkan kepada santrinya.

Dokar dan Seekor Burung Yang Sedang Makan
Pernah suatu ketika, seorang santri yang duduk di Madrasah Aliyah mau berangkat ke sekolah yang terletak di daerah Tanjung. Si santri tersebut lalu berjalan kaki melewati sawah dan kebetulan berpapasan dengan Kiai Hasyim yang sedang mengendarai dokar. Akhirnya beliau memanggil si santri ‘ayo bareng saya’.

Setelah si santri tersebut bersama beliau di atas dokar tak lama kemudian, tiba-tiba beliau berhenti. Si santri penasaran apa yang membuat kiai menghentikan dokarnya. “Ada apa ya, kok kiai berhenti?,” tanya santri dalam hati.

Kemudian beliau berkata pada si santri “Nanda bentar dulu ya, masih ada burung yang sedang makan, ini kan mengganggu, jadi tunggu saja.”

Inilah sifat penyayang luar biasa yang dimiliki oleh orang arif. Jangankan kepada manusia, kepada sesama makhluk beliau tidak ingin mengganggu dan mengusiknya. 

Menukar Uang Sobek
Suatu ketika Kiai Hasyim bersama seorang santri menumpangi bus dari terminal Pamekasan menuju Paiton, Probolinggo. Sesampainya di terminal Pasuruan, beliau lalu membeli salak. Namun, ketika sudah sampai di daerah Probolinggo, Kiai Hasyim tiba-tiba menyuruh santrinya tersebut kembali lagi ke terminal Pasuruan untuk menemui si penjual salak agar menukar uang yang sobek tadi dengan uang lain yang tidak sobek. Namanya santri, maka akan tetep sami’na wa atha’na. Dawuh beliau kepada santrinya;

“Nanda kembali lagi ya ke Pasuruan, ke terminal. Uang yang saya belikan salak itu uangnya sobek, tolong kembalikan ya, diganti, takut ndak laku uangnya,” ucap Kiai Hasyim.

Ketika santri tersebut sampai di terminal Pasuruan, penjual salak tersebut sudah tidak ada bahkan di terminal tersebut sudah sepi.

Mungkin bagi kita kesalahan kecil seperti tidak akan membuat kita sampai perlu jauh-jauh kembali untuk menukarnya kembali. Namun bagi orang-orang yang arif, hal tersebut terasa besar karena tingginya perasaan dan kasih sayang mereka.

KH. Moh. Hasyim Zaini (w.1984) ialah putra pertama dari KH Zaini Abdul Mun’im (w.1976) dan merupakan pengasuh kedua PP. Nurul Jadid Paiton, Probolinggo (1976-1984). Beliau juga Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.

 

Sumber: FB MATAN Universitas Nurul Jadid

Laksanakan Sunah Muharram, Santri Nurul Jadid Baca Surat al-Ikhlas 1000 kali

nuruljadid.net – Dalam rangka melaksanakan sunah nabi di bulan Muharram, santri Pondok Pesantren Nurul Jadid membaca surat al-ikhlas sebanyak seribu kali, Sabtu pagi (29/08) di Masjid Jami’ Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Kegiatan ini diikuti ribuan santri dari segala tingkatan yang pelaksanaanya dimulai sejak pukul 07. 15 WIB hingga selesai yang dikoordinir bagian ubudiyah Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Menurut Alfan Hidayat salah satu pengurus ubudiyah, kegiatan ini merupakan kegiatan rutinan setiap tahun di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Semua santri dan pengurus diwajibkan mengikutinya dan berkumpul di masjid dengan menggunakan pakaian berwanrna putih.

“Kegiatan pembacaan shalawat seribu dan istighosah ini diwajibkan bagi santri dan pengurus. Mereka diwajibkan mengikutinya sampai selesai dengan menggunakan pakaian berwarna putih. Pembacaan shalawat salah satu kesunahan pada tanggal 10 di bulan muharram” Ungkapnya saat diwawancarai.

Tampak memimpin isighosah K. Imdad Rabbani Kepala Biro Kepesantrenan dilanjutkan dengan pemberian tausyiah berkait sejarah puasa tasu’a, puasa asyura hingga peristiwa karbala

Di sisi lain, sebanyak dua puluh ubudiah mengawal jalannya kegiatan ini sejak awal sampai kegiatan ini berakhir. Mereka berjaga-jaga agar kegiatan berjalan lancar dan khidmat.

“kami disini berjaga-jaga ya, supaya kegiatan berjalan dengan lancar dan santri turut membaca surat al-ikhlas dengan khidmat.” Ujar Alfan Hidayat

Pewarta : Alfin Haidar Ali
Editor : Ponirin Mika

Santri Nurul Jadid Menulis Buku Bersama Ahmad Rifa’i Rif’an Seorang Penulis Terkenal

nuruljadid.net- Menulis merupakan salah satu cara mengekspresikan pikiran dan berbagi pengalaman. Salah satu santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo berasal dari Kabupaten Jember Alfian Haidar Ali membuktikannya mengekspresikan pikiran dan membuktikan pengalamannya melalui menulis buku berjudul Hope For A Better Day. Alfian tidak sendirian menulis buku tersebut ia berduet bersama penulis berkenamaan yaitu Mas Ahmad Rifa’i Rif’an.

Rasa gembira terpancar diraut wajah alfin saat menceritakan kesuksesannya menulis buku. Ia menyampaikan menjadi penulis merupakan impiannya sejak kecil bahkan hobi menulis diasahnya saat duduk dibangku Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ).

Saya sangat senang menulis baik menulis cerita, opini, essai. Waktu saya masih sekolah Madrasah Aliyah Nurul Jadid saya sering menulis opini di koran sekolah yang diterbitkan oleh teman-teman Kharisma,” Kata Alfian.

Alfin melanjutkan, sampai saat ini saya sering menulis artikel, opini terkadang saya kirim ke website pesantren.

Dalam menulis buku Hope A Better Day ada motivasi yang sangat tinggi karena bersanding dengan seorang penulis terkenal Mas Ahmad Rifa’i Rif’an,” Imbuhnya.


Awalnya saya seperti bermimpi saat menerima telpon dari penerbit bahwa saya akan disandingkan dengan mas rifa’i. Seorang penulis seperti saya ini merasa minder karena sangat tidak pantas sekali, beliau mas rifa’i sarat pengalaman bukunyapun sangat banyak bahkan buku-bukunya best seller,” Terang Alfin.

Santri Ma’had Aly ini berharap pengalaman yang diperolehnya ini menjadi motivasi untuk selalu melahirkan karya dalam bidang tulis menulis.

“Ya yang jelas saya pribadi sangat bahagia dan bangga sekali mempunyai kesempatan menulis bersama Mas Rifa’i. tentu saya berharap ada santri Pesantren Nurul Jadid lagi yang melahirkan karya tulis,” Ucap Alfin.

Pewarta : PM

Panji Pelopor Bagikan Masker Bagi Santri Baru

nuruljadid.net- Panji Pelopor Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo membagikan masker bagi santri baru yang tidak menggunakan masker saat santri baru menuju musalla riyadhus sholihin, rabu menjelang maghrib (26/08).

Pembagian masker ini dilakukan sebagai bentuk mengawal protokol kesehatan covid-19 yang ditetapkan Gugas Pencegahan Covid-19 Pesantren.

Ahmad salah seorang panji pelopor menyampaikan, pembagian masker ini dilakukan agar semua santri baru mematuhi protokol kesehatan covid-19. Masker hanya diberikan  kepada santri baru yang maskernya hilang atau tidak mempunya masker.

Masih kata ahmad, beberapa panji pelopor menjaga di pintu gerbang Madrasah Aliyah Nurul Jadid untuk mengingatkan agar santri menggunakan masker dan membagikan masker bagi santri yang tidak memilikinya.

Kita berharap santri baru mengikuti kegiatan pesantren dengan standar protokol kesehatan covid-19,” Imbuhnya.

 

Pewarta : PM

Nurul Jadid Pesantren Asyik dan Menyenangkan, Ini Kata Maulana Santri Asal Medan

nuruljadid.net- Awalnya saya tidak mau mondok di pesantren. Sebab yang saya dengar pesantren itu lembaga pendidikan kuno yang tidak maju. Pernyataan ini disampaikan A. Maulana santri asal medan, Selasa pagi (25/08) usai membaca ikrar santri di tempat pendaftaran santri baru di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Maulana menambahkan, banyak teman-teman saya yang menghalangi saya untuk tidak mondok di pesantren. Tapi saya tetap tidak memperhatikannya. Kata bapak saya mondok itu asyik dan menyenangkan karena banyak teman dan bisa hidup mandiri.

Sebenarnya saya tidak tau Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini. Karena ada keluarga bapak yang mondok di Nurul Jadid akhirnya saya memilih untuk mondok di tempat ini,” Lanjut Maulana.

Setiba di Pesantren Nurul Jadid ini saya sangat kagum dengan etika penyambutan tamu dan cara pengurus memberikan pelayanan terhadap tamu-tamu Pesantren,” Imbuhnya.

Tambah mengasyikkan lagi saat saya memasuki kamar untuk santri baru. Di kamar ini saya dipertemukan dengan sesama santri baru yang berasal dari berbagai daerah.  Mereka menyambut saya dengan ramah dan sangat baik sekali,” Katanya.

Menurutnya, suasana seperti ini tidak saya dapatkan diluar pesantren. Saya berdo’a pada Allah semoga saya kerasan di pesantren ini supaya bisa menimba ilmu agama agar bisa mewujudkan impian bapak dan ibu saya yaitu menjadi anak shaleh yang berbakti pada agama, nusa dan bangsa.

 

Pewarta : PM

Petugas Layani Hand Sanitizer Wali Santri

nuruljadid.net- Calon santri dan wali santri baru wajib melaksanakan protokol kesehatan covid-19 saat memasuki area Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Kesehatan covid-19 ini merupakan bagian dari protokol yang harus ditaati oleh setiap tamu pesantren termasuk wali santri baru.

Ketua Gugas Pencegahan covid-19 Ustadz Kholid Ahmad Fauzi mengatakan, protokol kesehatan covid-19 ini harus benar-benar diperhatikan oleh siapapun. Kami (Gugas Covid-19 PPNJ) terus berupaya agar setiap petugas pelaksana kesehatan covid-19 tidak lalai memantau pelaksanaannya dilapangan.

Masih kata Ustadz Kholid, sampai benar-benar pandemi Covid-19 ini benar-benar berakhir kami tidak akan lengah untuk terus melakukan Pelaksanaan protokol kesehatan covid-19.

Sementara Ketua Penerimaan Santri Baru Ustadz Surono Sahri menyampaikan, penerapan protokol kesehatan covid-19 ini bagian dari ikhtiar pesantren agar tercegah dari covid-19.

Sementara tampak petugas melayani tamu pesantren dan memberi hand sanitizer, Selasa pagi (25/08) di depan portal pintu gerbang utama masuk pesantren.

 

Pewarta : PM

Sekretaris Pesantren, Menjadi Kakak Asuh Santri Baru Butuh Kesabaran

nuruljadid.net- Sekretaris Pesantren Nurul Jadid Ustadz H. Faizin Syamwil memberikan pengarahan pada kakak asuh santri baru di kegiatan Training of Trainer, Senin pagi (24/08)  di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.

Di depan 150 kakak asuh Ustadz H. Faizin menyampaikan, kakak asuh sebagai ujung tombak pesantren dalam memberikan pelayanan prima dalam kegiatan orientasi santri baru (Osabar).

Ketua Senat Universitas Nurul Jadid ini menambahkan, oleh karenanya,menjadi seorang  kakak asuh memerlukan kesabaran dan kedewasaan mengahadapi santri baru.

Seperti biasa, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengadakan kegiatan orientasi pada santri baru sebagai langkah pengenalan awal berkait tradisi dan kegiatan kepesantrenan yang harus diketahuinya.

Pasalnya, santri baru yang mendaftar ke Pesantren Nurul Jadid tidak semua mengenali secara detail tradisi dan kegiatan di pesantren. Orientasi santri baru merupakan pintu awal untuk mengetahuinya.

Oleh karenanya untuk memudahkan kegiatan pengenalan ini pesantren membentuk kepanitiaan khusus agar lebih maksimal dalam proses pelaksanaannya.

Training of Trainer sebuah ikhtiar yang dilakukan agar kakak asuh yang akan diterjunkan mampu melaksanakan tugas secara profesional tentu sesuai dengan nilai-nilai budaya pesantren.

 

Pewarta : PM

 

Santri Baru Membaca Ikrar di Depan Panitia Penerimaan Santri Baru

nuruljadid.net- Pengalaman saya waktu menuntun pembacaan ikrar bagi santri baru sangat menyenangkan dan terkadang pula merasa heran. Mengapa tidak, banyak calon santri baru yang masih belum mampu membaca teks arab dengan baik sehingga butuh dipandu bacaannya hingga selesai. Hal disampaikan Ustadz Ahmad Sholeh Panitia Penerimaan Santri Baru Bagian Ikrar.

Masih kata Ustadz Ahmad Sholeh, namun mayoritas calon santri baru bisa membaca meskipun pembacaan makhorijul hurufnya butuh diperbaiki.

Menurutnya, pembacaan ikrar bagi santri baru merupakan hal yang sangat menegangkan karena didalam ikrar itu pula ada sumpah janji ketaatan mengikuti peraturan yang ditetapkan pesantren.

Terkadang wali santri yang mendampingi calon santri baru ikut tegang saat mendengar ikrar dibacakan. Itu terlihat jelas diraut wajahnya,” Imbuh Ustadz Ahmad Sholeh sambil tertawa.

Pembacaan ikrar salah satu syarat  penting menjadi santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Meskipun secara administrasi calon santri baru telah selesai mengurus tapi belum membaca ikrar belum bisa disebut santri. Sebab peraturan pesantren sah berlaku bagi setiap yang mendaftar menjadi santri setelah ikrar dibacakan dan disitu pula bisa dikatakan absah menjadi santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

 

Pewarta : PM

 

 

Kemenag RI Monev Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19 di Pesantren Nurul Jadid

nuruljadid.net- Kepala Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo H. A. Sruji Bakhtiar memberikan hantaran berkait kegiatan monev penerapan protokol kesehatan covid-19 yang dilaksanakan  Kemenag RI di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Kunjungan Kemenag RI ini diterima diruang tamu pesantren, Ahad pagi (23/08).

Kepala Kemenag H. Sruji Bakhtiar menyampaikan, sesuai dengan dawuh KH. Moh. Zuhri Zaini penerapan protokol kesehatan covid-19 merupakan ikhtiar yang harus dilakukan Pesantren Nurul Jadid.

Masih menurutnya, contoh ini pernah dipraktekkan sayyidina Umar bin Khattab RA saat ada wabah (penyakit) kala itu.

Sementara Bapak M. Sidik Sisdiyanto Kasubbag TU Direktorat GTK Madrasah  perwakilan Kemenag RI memberikan apresiasi terkait penerapan protokol kesehatan covid-19 baik melalui pemasangan banner dan penerapan langsung oleh seluruh santri.

“Saya melihat banner berkait protokol kesehatan covid-19 telah terpajang disepanjang jalan di Pesantren Nurul Jadid,” Ucapnya.

Bapak Sidik memberikan pujian keistikamaan KH. Moh. Zuhri Zaini menaati protokol kesehatan covid-19 seperti memakai masker. Hal itu diketahuinya saat Kiai Zuhri memberikan pengajian kitab sore di Masjid Jami’ Nurul Jadid.

Pengurus pesantren yang hadir pada kegiatan seremonial kegiatan monev Kabag Pepha Ustadz H. Thohiruddin, Kabag Humpro Ustadz Ernawiyadi,. Kasubbag Humas dan Infokom Ponirin Mika, Kasubbag Umum Ustadz Muslehuddin Jauhari, Kasubbag Protokoler Ustadz Bashori Alwi dan Ketua Gugas Nurul Jadid Ustadz Abdul Kholid Fauzi.

Sementara tamu kunjungan dari kemenag RI Bapak Sidik Siswanto Kasubbag TU Direktorat GTK Madrasah Bapak M. Sidik Siswato, Bapak H. Sruji Bakhtiar Kepala Kemenag Probolinggo.

Acara diakhiri dengan bincang santai berkait pandemi Covid-19 saat ini.

 

Pewarta : PM

Panji Pelopor Arahkan Calon Wali Santri Laksanakan Protokol Kesehatan Covid-19

nuruljadid.net- Panji Pelopor Pondok Pesantren Nurul Jadid mengarahkan calon wali santri yang akan mendaftarkan putera-puterinya  agar mengikuti protokol kesehatan covid-19 yang ditetapkan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, Ahad (23/08).

Tidak semua tamu yang berkunjung ke pesantren untuk mendaftarkan putera-puterinya mengetahui adanya penerapan protokol kesehatan covid-19 di pesantren ini. Seperti cuci tangan, memakai masker, jaga jarak. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan guide. Kami telah menunjuk panji palopor menjadi petugas yang mengarahkan. Hal ini disampaikan Kasubbag Protokoler  Ustadz Bashori Alwi.

Menurutnya, pelayanan ektra harus  diberikan kepada calon  wali santri supaya penerapan protokol kesehatan covid-19 bisa maksimal.

Masih kata Ustadz Bashori, kita telah melakukan koordinasi secara intens dengan bagian penerimaan santri baru, bidang keamanan dan seluruh unsur yang terlibat.

Panji pelopor telah kami training berkait etika komunikasi dan etika penyambutan tamu,” Imbuhnya.

 

Pewarta: PM

Panji Pelopor Melakukan Ritual Sebelum Bertugas

nuruljadid.net- Panji Pelopor Pondok Pesantren Nurul Jadid melaksanakan ritual do’a sebelum bertugas, sabtu pagi (22/08) di halaman Madrasah Aliyah Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Pembina Panji Pelopor Ustadz Dimas Eko Cahyono menyampaikan, sebelum bertugas panji pelopor melaksanakan do’a.

Organisasi dibawah komando Humas dan Protokoler ini memang selalu terlibat dalam kepanitiaan apapun. Sebab fungsi dari panji pelopor sebagai event organizer disetiap kegiatan.

Menurut Kasubbag Protokoler Ustadz Bashori Alwi, panji pelopor merupakan organisasi penting dalam melaksanakan tugas kepanitiaan dilapangkan berkait dengan hal yang sifatnya tehnis.

Ustadz Bashori menambahkan, panji pelopor merupakan santri pilihan karena punya kesempatan mengabdi di pesantren.

Dan kita menganjurkan kepadanya (panji pelopor) agar membaca do’a sebelum bertugas,” Imbuhnya.

 

Pewarta : PM