KH Hasan Abdul Wafie, Sang Penggubah Syair Shalawat Nadhliyah
Publishing : Ponirin Mika
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/103540/kh-hasan-abdul-wafie-sang-penggubah-syair-shalawat-nadhliyah
Publishing : Ponirin Mika
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/103540/kh-hasan-abdul-wafie-sang-penggubah-syair-shalawat-nadhliyah
nuruljadid.net- Semua yayasan punya kreatifitas sendiri, temasuk di Pesantren Nurul Jadid. oleh karenanya kami ingin ngaji di Pesantren ini. Di yayasan kami berbeda dengan yayasan di Pesantren Nurul Jadid, kalau yayasan kami tidak ada pesantrennya hanya lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Hal ini disampaikan Dr. Isa Madjid Ketua Rombongan Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif Kabupaten Sidoarjo, Jatim, Senin pagi (14/09) di Ruang Tamu Pesntren Nurul Jadid.
Dr. Isa melanjutkan, kami ingin belajar (ngaji) bagaimana agar lembaga yang ada di yayasan kami tidak terjadi konflik tapi berjalan beriringan.
Setelah Dr. Isa Madjid menyampaikan tujuan study banding kelembagaan, Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid menyambut dengan baik keinginan tersebut. Dalam pernyataannya Kiai Hamid mengatakan, kita lebih saling tukar informasi, kita saling belajar.
Lebih lanjut Rektor Universitas Nurul Jadid ini menyampaikan, basis Nurul Jadid adalah pesantren dan kerangka organisasinya juga pesantren.
selain dari itu, Kiai Hamid menjelaskan profil singkat Pondok Pesantren Nurul Jadid, struktur organisasi pesantren dan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) secara makro.
Turut hadir pada acara itu Kepala Pesantren KH. Abdul Hamid Wahid, Sekretaris Pesantren, Kepala BKOS KH. Makki Maimun Wafie, Ustadz H. Faizin Syamwil, Kepala Bidang Perencanaan, Kepegawaian dan Advokasi Ustadz H. Thohiruddin, Kepala Bidang Humas dan Protokoler Ustadz Ernawiyadi Munsy, Wakil Rektor I Universitas Nurul Jadid Ustadz H. Hambali, Wakil Biro Umum Ustadz Foni Yusanda, Kasubbag Humas dan Infokom Ponirin Mika, Kasubbag Protokoler Ustadz Bashori Alwi, Kasubbag Umum Ustadz Muslehuddin Jauhari, Staf Yayasan Ustadz Moh. Jasrin Ahya serta Dr. Isa Madjid bersama 7 orang anggotanya.
Pewarta : Ibnu Abdillah
Editor : Ponirin Mika
nuruljadid.net – KH. Nur Chotim Zaini merupakan Putra terakhir dari tujuh bersaudara dari pasangan KH. Zaini Mun’im dan Nyai Hj. Nafi’ah. Sejak kecil, Lora Nur Chotim dikenal sebagai orang yang tekun belajar.
Kiai Chotim tidak merasa sungkan untuk belajar bersama kawan-kawannya. Di antara kawan-kawannya itu, Lora Chotim sering menjadi rujukan kala ada pelajaran yang dirasa sulit. Hal ini terbawa sampai ke bangku kuliah.
Pengabdian di Pesantren
Selama mengabdi di Pondok Pesantren, KH. Nur Chotim Zaini dikenal sebagai sosok yang aktif. Sebagaimana yang diutarakan KH. Najiburrahman, Putra (Alm) KH. Wahid Zaini, jika diundang untuk menghadiri acara, baik sebagai pembicara atau lainnya, beliau selalu menyanggupi jika tidak berbenturan dengan kegiatan lain.
Oleh karenanya, KH. Nur Chotim Zaini tidak hanya mengajar kitab maupun di lembaga formal, tapi juga menduduki beberapa jabatan. Mulai Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Paiton, Dekan Fakultas Tarbiyah, Ketua Yayasan Bantuan Sosial (YBS) Az-zainiyah dan lainnya. Bahkan dalam waktu yang bersamaan Beliau menduduki dua jabatan strategis: Rektor Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid dan Ketua Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Nurul Jadid
Beberapa jabatan yang menuntut kerja keras tidak membuat beliau mengeluh. Tapi sebaliknya, selalu semangat menyelesaikan persoalan dan memajukan lembaga yang dipimpimnnya. Namun sayang, keaktifan KH. Nur Chotim Zaini dalam mengabdi dan membantu saudara-saudaranya mengembangkan Pesantren mulai menurun. Ini seiring dengan penyakit stroke yang menjangkit sejak tahun 2003.
Setelah KH. Abdul Haq Zaini wafat, KH. Nur Chotim Zaini ditunjuk sebagai ketua yayasan mendampingi kakak beliau, KH. Moh. Zuhri Zaini yang menjabat Pengasuh. Di bawah kepemimpinan beliau banyak perubahan yang telah dilakukan demi berkembangnya Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Salah satu hasil usaha beliau yang saat ini sudah bisa dinikmati, baik oleh santri, alumni dan masyarakat di antaranya adalah pendirian STT Nurul Jadid, YBS Az-Zainiyah, dan Lembaga Bantuan Hukum.
Sebagai ketua yayasan, untuk mengembangkan pondok pesantren, beliau begitu bersemangat meskipun kondisi kesehatannya kurang baik. Pada rapat-rapat pesantren, sangat jarang beliau absen, bahkan pada hari-hari sebelum wafat masih menyempatkan diri menghadir rapat pesantren.
Selain itu, beliau juga tidak segan-segan menegur para pengurus yang kinerjanya dinilai tidak maksimal. Tidak peduli apakah pengurus tersebut masih ada ikatan darah maupun sudah alumni.
Berjuang di Nahdlatul Ulama’
Pada Organisasi yang berdiri sejak tahun 1926 ini, KH. Nur Chotim Zaini menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang (MWC) Paiton selama dua Periode. Pada rentang waktu yang cukup lama ini, kehadiran dan kepemimpinan KH. Nur Chotim Zainidi MWC banyak membawa perubahan.
Hal tersebut disebabkan oleh sikap dan gaya kepemimpinannya yang egaliter dan demokratis. Sehingga, para pengurus tidak merasa sungkan berkoordinasi atau mengusulkan gagasan maupun program kerja. Dalam memimpin MWC selama dua Periode, KH. Nur Chotim Zaini juga banyak mendidik para pengurus secara praksis.
Seperti memberikan kesempatan kepada Pengurus lain untuk memimpin rapat. Walaupun hal yang demikian merupakan hak KH. Nur Chotim Zaini sebagai Ketua. Dengan demikian, tidak heran jika KH. Nur Chotim Zaini dipercaya memimpin MWC selama dua periode berturut-turut.
Kisah Terakhir KH. Nur Chotim Zaini
KH Nur Chotim Zaini dikenal sebagi sosok yang menjunjung tinggi profesionalisme. “Pada suatu saat al-marhum pernah marah kepada pengurus Nurja Muamalah karena memberikan pinjaman kepada nasabah tidak sesuai prosedur. Al-Marhum berkata meskipun yang meminjam adalah orang dalam pesantren, prosedur tetap harus dijalankan,” kata KH Najiburrahman.
Almarhum juga dikenal sabar dalam menjalani cobaan. Penyakit yang telah beliau terima sejak tahun 2003 mampu dijalani dengan ikhlas. “Al-Marhum begitu tabah dan sabar dalam menghadapi persoalan hidup termasuk ikhlas menerima penyakit yang telah di alami selama sepuluh tahun” kata KH Zainul Mun’im, Lc., adik kelas semasa MA di PP Nurul Jadid.
Tidak ada orang di dunia ini yang ingin menjadi beban hidup bagi orang lain. Begitu jua dengan al-marhum yang tidak ingin kehadirannya menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya. Sehingga pada 2003, beliau mengundurkan diri dari jabatan kepala Kemenag Probolinggo karena merasa dirinya sudah tidak sanggup menjalankan amanah dengan baik.
“Pada tahun 2003 Al-Marhum didera penyakit stroke. Padahal, pada saat itu beliau menjabat sebagai Kepala Kemenag Probolinggo. Penyakit yang diyakini sulit untuk sembuh sehingga al-marhum memutuskan untuk mengundurkan diri meskipun belum genap satu priode,” kenang adik kelas beliau.
Hal itu diyakini oleh Majidi, al-marhum merupakan tipe orang yang tidak ingin merepotkan orang lain. Al-Marhum tidak pernah meminta bantuan selama mampu untuk mengerjakan. Bahkan pada saat sakit, al-marhum melarang untuk mengabarkan kepada keluarga, alumni, dan santri karena tidak ingin merepotkan.
Hal yang menjadi alat untuk menutupi kesusahan al-marhum adalah dengan tersenyum kepada semua orang. Al-Marhum tersenyum meski dalam keadaan susah karena tidak ingin merepotkan orang lain. Selalu menampakkan wajah bisyaroh (berseri-seri, Red) setiap bertemu dengan orang.
Dalam niat memajukan pesantren, al-marhum menggagas untuk memberikan HR kepada pengurus pesantren agar pengurus profesional dan merasa memiliki tanggung jawab. Sehingga tidak ada lagi hal yang terabaikan. Selain itu, tak jarang beliau turun langsung dalam menyelesaikan masalah dengan mengadakan rapat. Tak jarang pula pengurus mengeluh karena seringnya rapat.
Perhatian almarhum terhadap pesantren begitu besar hal ini dapat dilihat dari semangatnya. Saat beliau sakit dan sebelum di bawa ke RS Waloyo Jati Kraksaan, al-marhum menyempatkan diri mengikuti rapat yayasan dan mengantarkan proposal untuk Lembaga Bantuan Hukum. Meskipun hal tersebut telah dilarang oleh sang istri.
Sebagai salah satu pengurus dan majelis keluarga pesantren Nurul Jadid, al-marhum turut memberi warna terhadap karakter Pesantren. Saat menjabat ketua yayasan, beliau menjadikan PP.Nurul Jadid tidak eksklusif. Pesantren yang terbuka dengan dunia luar. “Saat ini Pesantren harus terbuka terhadap orang luar Pesantren, baik itu Pengusaha ataupun politisi yang agamanya Islam atau tidak,” ujar almarhum seperti diceritakan Ra Najib.
Sebagai seorang yang terbuka, tidak salah beliau banyak memiliki kawan, baik pengusaha maupun politisi. Semasa hidup, al-marhum menghibahkan dirinya kepada pesantren dan masyarakat. Penghibahan tersebut dilakukan melalui aktif dalam beberapa organisasi. (*)
Pewarta : Muhammad Iqbal
Editor : Yatimul Ainun
tulisan ini diambil dari website //www.timesindonesia.co.id
Nuruljadid.net- Pada kamis (10/09), melalui website resminya, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) Bapak Waryono memastikan ijazah sarjana Ma’had Aly diakui negara. Statusnya ijazahnya disamakan sehingga bisa digunakan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Ijazah yang dikeluarkan penyelenggara Pendidikan Ma’had Aly diakui secara resmi,” tegas Bapak Waryono dalam Webinar dan Halaqoh Nasional yang digelar Asosiasi Ma’had Aly se-Indonesia (AMALI), Jakarta, Rabu (09/09).
Pada webinar yang mengangkat tema “Menyongsong Lulusan Ma’had Aly sebagai Kader Ulama yang Sarjana untuk Kesejahteraan, Kemakmuran, dan Keberkahan Bangsa” mempersilahkan pada sarjana Ma’had Aly yang ingin menempuh pendidikan pascasarjana diberbagai perguruan tinggi keislaman.
“Silahkan jika sarjana Ma’had Aly ingin menempuh sekolah pascasarjana di berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam,” lanjutnya.
Tak hanya itu, pada laman tersebut juga disebutkan Ketua Amali, Kyai Abdul Jalal menyampaikan bahwa hingga saat ini sudah ada 60 Ma’had Aly di berbagai pesantren di Indonesia. Ia berharap, Ma’had Aly fokus pada peningkatan mutu.
“Tujuan utama Ma’had Aly adalah kualitas bukan kuantitas atau formalitas,” ungkap Kyai Jalal.
Kontributor : Alfin Haidar Ali
Editor. : Ponirin Mika
nuruljadid.net- KH Abdul Haq Zaini merupakan kiai yang sangat pandai bergaul dengan orang lain. Beliau mudah akrab, dan tidak membeda-bedakan masyarakat berdasarkan golongan, kelas ekonomi dan lainnya dalam bermasyarakat.
Sikap itu terlihat sejak beliau kecil. Dalam pendidikan, beliau acapkali tidak masuk sekolah dan lebih senang bermain bersama kawan-kawannya. Meski demikian, nilai ujiannya senantiasa baik mulai hingga MA.
Kiai AbduL Haq juga dikenal sebagai anak yang memiliki budi pekerti yang baik, selalu memperhatikan materi yang diberikan guru dengan seksama, dan selalu hormat pada guru.
Saat kuliah di beberapa perguruan tinggi di Surabaya, Kiai Abdul Haq sering menyamar sebagai kernit atau sopir waktu kuliah, serta bekerja sembari menghafalkan Al-Quran sampai 30 juz. Itu beliau lakukan untuk menyelami seluk beluk masyarakat.
Sebagaimana dikutip dalam buku Riwayat Singkat Almarhumin Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Abd Haq adalah sosok pria yang sehat dan senang olah raga. Hampir setiap hari selepas subuh, beliau bersama istri tercinta menyempatkan diri berolahraga ringan.
Berjalan-jalan menghirup segarnya embun pagi di sekitar pesantren, sambil menyapa petani yang mencangkul sawah di pinggiran pesantren.
Alumnus Ummul Quro, Mekkah ini memiliki perhatian tinggi terhadap Akhlak, yang terinspirasi dari kakak kandung beliau, KH. Moh. Hasyim Zaini. Oleh karena itu, KH. Abdul Haq Zaini selalu mengatakan, setinggi apa pun kitab (ilmu) seseorang, ujungnya adalah tingkah laku.
Beliau merupakan sosok yang tegas dalam bertindak. Prinsip beliau, kalau sudah salah ya harus dilawan. Di samping itu, beliau juga moderat. Tidak pernah memaksa orang lain agar sesuai dengan keinginan beliau. Baik kepada putra-putrinya atau pun kepada santri dan masyarakat. Ia juga sederhana, tidak mementingkan gengsi atau gaya.
Kepala Biro Kepesantrenan
Pada tahun 1986, beliau terpilih menjadi Kepala Biro Kepesantrenan Nurul Jadid. Dalam kepemimpinannya, beliau lebih senang menempatkan diri sebagai mitra kerja dengan para pengurus pesantren.
Dengan sikap tersebut, roda organisasi berjalan dinamis. Pengurus jadi lebih leluasa berdiskusi dengan pemimpinnya, dan lebih bersemangat dalam bekerja.
Suasana akrab membuat beliau merasa senang. Pengurus bisa berterus terang saat menyampaikan sesuatu. Namun pada saat tertentu di mana beliau dituntut untuk menjadi salah seorang dari jajaran pengasuh, beliau pun menjadi sosok kiai yang sangat disegani para pengurus pesantren.
Sebagai Kepala Biro Kepesantrenan, beliau tak jemu-jemu melakukan kaderisasi. Misalkan, bila muncul persoalan, beliau tak langsung menanganinya. Biasanya persoalan itu diberikan terlebih dahulu kepada pengurus. Selain untuk menjalankan job discription masing-masing bagian, juga untuk melihat sejauh mana kemampuan pengurus dalam meredakan persoalan.
Kiai Abdul Haq juga tak jarang beliau terjun langsung di lapangan. Saat menerima laporan bahwa debit air yang mengaliri kamar mandi para santri menurun, misalnya. Kiai segera melakukan cek kebenaran laporan tersebut.
Setelah mengetahui bahwa laporan itu benar, beliau mengumpulkan para pengurus dan memberikan arahan tentang bagaimana menyelesaikannya.
Hal lain yang mengagumkan para pengurus, adalah cara beliau menghadapi santri nakal yang telah direkomendasikan para pengurus untuk dikembalikan pada orang tuanya.
Tak jarang beliau menolak rekomendasi itu, dan memilih untuk melakukan pembinaan secara langsung. Biasanya santri nakal itu beliau beri berbagai macam kegiatan seperti menjadi sopir atau hadam beliau.
Dengan kegiatan yang bisa dipantau langsung, Kiai Abdul Haq bisa melakukan komunikasi lebih dalam dengan santri nakal tersebut. Lewat pendekatan ini, perlahan-lahan tingkat kenakalan santri nakal itu mereda.
Pendekatan yang beliau lakukan kepada para santri nakal itu, selain diilhami pendidikan dari ayahanda beliau, juga berangkat dari pengalaman Kiai Abdul Haq saat berkenalan dan berteman dengan pelbagai golongan masyarakat saat kuliah di Surabaya.
Ketua Yayasan Nurul Jadid
Setelah KH Abd Wahid Zaini wafat pada tahun 2000, Kiai Abdul Haq dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selama kurang lebih delapan tahun, tak sedikit hasil usaha beliau yang saat ini sudah bisa dinikmati, baik oleh santri, alumni dan masyarakat.
Antara lain pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), penertiban keuangan pesantren, mekanisme pengangkatan guru dan dosen, pembangunan bank mu’amalat, pendirian Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ), dan lainnya.
Sebagai ketua Yayasan, beliau sangat bersemangat. Terakhir adalah pembelian tanah yayasan seluas 1,3 hektar sebelah timur pesantren dan 2,3 hektar sebelah selatan KUA yang menurut rencana akan dijadikan pusat pendidikan.
Dalam bidang kemasyarakatan, Kiai Abdul Haq tidak senang membeda-bedakan masyarakat karena golongan atau partai politik. Hal ini seperti tausyiah beliau yang disampaikan pada acara Istighosah, Jum’at 15 Mei 2009 di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Saat itu beliau sangat prihatin terhadap perilaku sebagian santri yang menganggap ‘liyan’ santri dari pesantren lain. Menurut beliau, tak patut santri Nurul Jadid menganggap beda santri dari pesantren lain.
Santri Nurul Jadid jangan mengkotak-kotakan masyarakat. Bersatulah dengan santri dari pesantren lainnya. Karena kitab yang diajarkan sama, Sulam Taufiq ya Sulam Taufiqnya sama. Pesan beliau di hadapan para jama’ah Istighosah yang diselenggarakan setiap Sabtu Wage.
Tahun 2002, Kiai Abdul Haq menjadi Ketua Dewan Syura Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa Probolinggo. Alasan beliau bersedia masuk dalam politik antara lain karena banyak kalangan yang meminta beliau untuk meneruskan tongkat estafet kakak kandungnya, KH. Abd Wahid Zaini yang terbukti memberikan pencerahan kepada masyarakat.
Beliau menjabat ketua Dewan Syura DPC PKB sebanyak dua kali. Pada tahap terakhir, sebenarnya beliau enggan. Tapi desakan dari kader partai tak jua mereda. Akhirnya beliau memberikan syarat, bila ada satu kader partai yang tidak sepakat beliau menjadi ketua dewan syura, beliau akan mengundurkan diri. Saat pemilihan digelar, ternyata Kiai Abdul Haq terpilih secara aklamasi. Karir terakhir politik Kiai Abdul Haq berada di Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama (PKNU).
Meski Kiai Abdul Haq terjun dalam dunia politik, beliau tak pernah sekali pun memaksa santri-santrinya untuk memilih salah satu partai politik. Beliau senantiasa membebaskan para santrinya menentukan pilihan mereka berdasarkan ukuran rasional dan hati nurani masing-masing.
Kiai Abdul Haq adalah kiai yang mudah bergaul dengan semua golongan. Baik warga kecil sampai pada pejabat.
Pribadinya cukup akomodatif dan selalu hadir kalau diundang siapa saja yang mengundangnya. Karena prinsip beliau adalah demi kepentingan umat. Hidup adalah untuk berjuang. Berbuat baik kepada sesama. Jangan pilah-pilih orang. Hal itu pesan beliau.
Belaiu mempunyai pengertian dalam fungsi dan perannya sebagai pendidik. Tidak jarang bahasa yang disampaikan terkait perkembangan, yang bakal terjadi di zaman yang akan datang. Beliau mempunyai toleransi dan kelenturan luar biasa. Artinya memang tidak pernah menekan harus ikut siapa dan wadah apa. Itu pendidikan yang cukup berharga dari beliau itu.
Sebagai tokoh pesantren, Kiai Abdul Haq cukup dekat dengan mantan Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Terlebih setelah Gus Dur tahu bahwa Kiai Abdul Haq merupakan adik kandung sahabat kentalnya, KH. Abdul Wahid Zaini.
Secara pemikiran, ada benang merah atau keselarasan antara Kiai Abdul Haq dengan Gus Dur. Salah satunya adalah usaha Kiai Abdul Haq menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwwah wathoniah, yang senantiasa tergambar dalam petuah-petuah beliau, baik kepada para santrinya maupun sikap beliau kepada orang lain.
Ketika hari wafatnya, ucapan ikut berbelasungkawa atas nama PBNU disampaikan oleh KH. Muchid Muzadi. KH. Muchid mengatakan bahwa saat ini banyak ulama besar yang dipanggil oleh Allah. Dan saya ucapakan banyak terima kasih kepada Kiai Abdul Haq, telah rela berjuang untuk agama dan umat. (*)
Pewarta : Muhammad Iqbal
Editor : Yatimul Ainun
Tulisan ini diambil dari website : www.timesindonesia.co.id
Dalam kancah nasional, KH Wahid Zaini memang dikenal sebagai pribadi yang memiliki intelektual tinggi dan pengalaman yang luas. Atas kapasitasnya sebagai intelektual pesantren dan NU, ia beberapa kali didorong untuk menempati jabatan tinggi.
Namun, dengan kearifannya beliau selalu menolak, karena beliau masih mempunyai tanggung jawab yang masih belum terselesaikan yakni mengurus dan memimpin Pesantren Nurul Jadid dan NU.
Hingga akhirnya, dengan sifat istiqomahnya, beliau mampu menempati posisi-posisi strategis dalam berabagai organisasi khususnya di NU.
Dalam majalah ALFIKR edisi ke 7 ditulis bahwa, Kiai Wahid Zaini adalah tokoh yang sangat low Profile, gigih dan tetap netral ini, hampir jarang dimiliki dalam sejarah NU yang kental dengan “Nuansa Politis” dan dunia retorisnya.
Kiai Wahid semangat profesional dengan mengacu kepada kekuatan sistem dan kekompakan Team Work, dengan keyakinan tinggi (Husnudzan) menciptakan pola kerja sistematis dan mendorong kader-kader potensial untuk segera tampil di permukaan.
Hal itu untuk berbuat nyata pada pengembangan kemasyarakatan. Demikian adalah karakter dan naluri Kiai Wahid dalam menjalankan amanah organisasi.
Tiba-tiba muncul kiai muda seperti Tolkhah Hasan dalam jaringan intelektual NU, Abdullah Sarnawi dan tokoh muda kreatif seperti Arifin Junaidi dan Rosi Munir untuk di perkenalkan di masyarakat NU dan pesantren, yang sebelumnya mereka tak pernah mengenal nama-nama kader potensial tersebut.
Anwar Hudijono wartawan Kompas dalam feature-nya, Sabtu 18 November 2000 silam, pernah menulis bahwa, ketika Gus Dur mendapat giliran jadi presiden RI keempat, KH Tolkhah Hasan juga mendapat giliran Mentri Agama, dan kader-kader kreatif tersebut ada pada poros barunya yang bergantung pada arus utama “stuktural” dan juga yang masih memilih di jalur kultural.
KH Wahid Zaini “bersembunyi” di balik semua itu, di jalan tengah, dengan ikhlas tetap di NU dan pesantren hingga akhir hayatnya. “Kiai moderat atau kiai jalan tengah seperti sikapnya yang lembut dan tutur katanya yang halus dan datar mengesankan seperti orang Solo Jateng, walaupun beliau keturunan Madura, inilah yang melekat pada diri Kiai Wahid Zaini.
Kiai Abd Wahid Zaini adalah salah satu putra dari KH Zaini Mun’im yang cukup dikenal dikancah Nasional bahkan Internasional. Wahid kecil lahir pada Jumat, 17 Juli tahun 1942.
Ia lahir di tenggah suasana pergejolakan bangsa menuju kemerdekaan, ayahnya KH Zaini Mun’in adalah seorang pejuang kemerdekaan. Kiai Wahid dididik langsung oleh ayahnya, khususnya dalam mengaji AL-Quran sebagai pendidikan awal.
Sejak usia dini, ia diajari memetakan persoalan, mana yang semestinya dilakukan dan mana yang tidak boleh di lakukan. Prilaku keseharianya pun dikantrol. Sebagai putra orang yang terpandang dalam masyarakat, ia tidak di perkenankan membut jarak dengan satri dan masyarakat.
Pendidikan awal tersebut yang kelak membekas pada diri Kiai Wahid. Sehingga tak heran jika beliau tumbuh menjadi tokoh dan ulama yang sangat mumpuni.
Tokoh dan Ulama Organisatoris
Selain sebagai ulama intelektual, Kiai Wahid juga dikenal sebagai ulama organisatoris. Karirnya di organisasi dimulai sejak beliau mondok di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.
Kala itu, beliau pernah menggagas berdirinya IKDU (Ikatan Keluarga Darul Ulum) dengan tujuan untuk mengakomodir santri dari berbagai daerah, yang selanjutnya diharapkan bisa memberikan sumbangan, baik pemikiran atau lainnya, demi kemajuan pesantren.
Dalam perkembangannya, IKDU berubah menjadi IKAPPDAR (Ikatan Keluaga Besar Pondok Pesantren Darul Ulum). Gagasan ini menunjukkan bahwa jiwa organisasi Kiai Wahid Zaini sudah tumbuh sejak beliau berada di Pesantren.
Bakatnya dalam berorganisasi terus berlanjut tatakala beliau menempuh jenjang pendidikan di Institut Agama Islan Negeri Sunan Ampel Surabaya (IAIN Sunan Ampel).
Tepatnya tahun 1962, Kiai Wahid Zaini melanjutkan proses studinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni di Fakultas Syariah Jurusan Akhwal As-Shakhsyiah IIAIN Sunan Ampel Surabaya.
Karena saking hausnya akan ilmu, dalam waktu yang bersamaan beliau menyempatkan diri kuliah di Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang.
Di IAIN Sunan Ampel, kualitas beliau dalam dunia organisasi mulai diasah. Kala itu, beliau tercatat sebagai salah satu perintis berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Di organisasi ini, beliau dipercaya menjabat sebagai Ketua Komisariat untuk lingkungan kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Daerah Surabaya Selatan. Selanjutnya, beliau juga dipercaya sebagai sekeretaris dan ketua satu untuk Wilayah Jawa Timur (sekarang Koordinator Cabang).
Selain aktif di PMII, pada awal tahun 1960-an, beliau juga menempa bakat keorganisasiannya di Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Wilayah Jawa Timur, dan pada tahun 1964 dan dipercaya sebagai Koordinator Departemen Mahasiswa dan perguruan tinggi wilayah Jawa Timur.
Selanjutnya, aktivitas Kiai Wahid Zaini bertambah padat. Karena saat itu, selain beliau menjadi Rektor Institut Agama Islam Nurul Jadid (IAINJ) di Paiton Probolinggo, beliau juga dipercaya menjadi anggota DPRD tingkat I Provinsi Jawa Timur melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Karena padatnya kesibukan beliau, maka kewajiban akademis (skripsi) beliau di IAIN Sunan Ampel sempat terbengkalai. Meski demikian, berkat dorongan dari sahabat karibnya, Prof Dr Syaichul Hadi Purnomo, SH, akhirnya beliau bisa menyelesaikan tugas akhir tersebut.
Selesai ujian dengan nilai summa cum laude (sempurna), beliau kemudian langsung di wisuda dan meraih gelar Doktorandus (S1) pada periode akademik 1990-1991. Setelah sebelumnya, pada tahun 1984 beliau berhasil memperoleh gelar Sarjana Hukum (S1) di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang.
Sedangkan kiprah Kiai Wahid di NU, diawali dengan ajakan kakak kandungnya, KH Muhammad Hasyim Zaini dan adik iparnya, KH Hasan Abdul Wafi, untuk ikut aktif mengikuti kegiatan di organisasi NU.
Mulanya, beliau mengawali aktivitas keorganisasian di Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Paiton. Selanjutnya, pada tahun 1971 Kiai Wahid dipercaya menjadi ketua tanfidziyah PC NU selama satu periode (1971-1975).
Sementara pada periode 1978-1980, 1980-1984 dan 1984-1988, beliau dipercaya sebagai Wakil Khatib Syuriyah di Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur. Kemudian pada periode 1988-1992 s/d 1992-1996 beliau dipercaya menempati posisi Wakil Rais Syuriyah PW NU Jawa Timur.
Sebelum masa jabatan beliau di PW NU berakhir, beliau dipercaya menjadi salah satu Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar (PB) NU periode 1994-1999, melalui Muktamar NU ke 29 di Cipasung Jawa Barat tahun 1994.
Pada tahun 1984, selain tercatat sebagai perintis berdirinya Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM), Kiai Wahid juga dipercaya sebagai Direkturnya untuk Wilayah Timur, yang meliputi seluruh daerah Jawa Timur hingga NTT.
Selama menjadi Direktur LAKPESDAM, acapkali beliau menyelenggarakan pelatihan peningkatan kualitas SDM terhadap para pengurus cabang NU se-Jawa Timur. Meski menjadi penyelenggara kegiatan pelatihan, Kiai Wahid tidak kemudian menjaga jarak dengan para peserta pelatihan. Tanpa harus merasa gengsi, beliau ikut aktif mendampingi atau lebur dengan mereka sampai tuntas.
Pada tahun 1990, demi kaderisasi, akhirnya Kiai Wahid mengakhiri masa jabatannya di LAKPESDAM dan berlabuh di Rabhitah Ma’ahidi al-Islamiyyah (RMI), kehadiran Kiai Wahid di lembaga otonom NU ini disambut baik oleh banyak kalangan.
Di lembaga ini, beliau dipercaya sebagai Ketua Umum selama dua periode. Ketika menggantikan posisi Kiai Najib. Setelah menang dalam pemilihan ketua RMI yang diselenggarakan pada muktamar NU ke-28 di Krapyak Yogyakarta (periode 1988-1993).
Mantan Sekretaris RMI periode 1988/1993, Suhaimi Syakur menuturkan bahwa kiai Wahid adalah tokoh dan sekaligus pengasuh pondok pesantren besar yang selalu muncul ide kreatif, sehingga menjadi harapan dan keinginan warga NU untuk aktif di RMI.
Program yang menjadi aktivitas kiai Wahid di RMI tentunya dari tingkat bawah, (lihat ALFIKR edis 11). Menurut M Nasikh Ridwan, di pengantar buku “Dunia pemikiran kaum santri”, bahwa aktivitas kiai Wahid di RMI dimulai dari tingkat cabang, wilayah hingga ke pusat”. Sampai diakhir kepengurusan.
Sosok Ulama Intelektual Pesantren dan NU
Kiai Wahid Zaini telah tercatat dalam momentum sejarah NU, adalah tokoh berkarisma tinggi, bewawasan luas dan berpikiran cemerlang yang pernah dimiliki oleh jagad NU dan pesantren.
Kharisma dan kecemerlangan pikirnnya, tidak lahir mendadak begitu saja di lingkungan NU dan di lingkup Nasional. Bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Kiai Wahid banyak melakukan terobosan-terobosan intelektual.
Sejak tahun 70-an, beliau melakukan aktivitas pengembangan pesantren dan masyarakat bersama Gur Dur, Dawam Raharjo, Aswab Mahasin Ison Basuni, Johan Effendi.
Aktifitas tersebut untuk pengembangan keterampilan santri dan mengentaskan kemiskinan melalui pesantren. Terobosan-terobosan pembaharuan pemahaman fiqhiyah kedalam konteks pengembangan wawasan kemasyarakatan di NU dan pesantren-pesantren, beliau melakukan dalam masa yang tidak pendek.
Diantaranya melalui traveling halaqoh di pesantren-pesantren NU, melibatkan simpul-simpul ulama dan santri-santri senior bersama perhimpunan pesantren dan pengembangan masyarakat (P3M) Jakarta.
Gerakan wacana kebangsaan Gus Dur di NU secara kultural dibarengi dengan kerja-kerja serius Kiai Wahid Zaini di RMI bersama Nasihin Hasan (saat itu masih menjabat direktur P3M ) dan kader muda potensial Masdar Farid Masudi yang juga di P3M. Keempat organisator tersebut, bahu-membahu melakukan organisir “mengusung” wacana pembaharuan di bumi NU.
Karena itu, Kiai Wahid Zaini dikenal sebagai ulama intelektual NU dan pesantren. Ketika Kiai Wahid Zaini menjadi pengasuh pesantren, pada saat itu pula beliau menjadi salah seoarang jajaran Ketua PWNU Jatim.
Bagi Kiai Wahid Zaini, NU dan pesantren adalah dua sisi atau dua mata pisau yang tidak boleh cerai-beraikan. Sering kali dalam ceramah-ceramahnya, beliau mengatakan “NU adalah pesantren besar, maka pesantren adalah NU kecil” adalah kata mutiara, yang menjadi pegangan dan ukuran semangat juangnya.
Bahkan, ketika Kiai Wahid Zaini aktif sebagai pengurus PW NU Jawa Timur mulai tahun 1978 sampai dengan tahun 1996, beliau banyak mengeluarkan beberapa gagasan-gagasan brilian demi kemajuan NU.
Pemikiran-pemikiran beliau tidak seluruhnya beliau kemukakan dalam rapat kepengurusan formal. Bahkan lebih sering beliau lontarkan dalam diskusi-diskusi kecil atau saat ngobrol santai dengan para pengurus lainnya. Dalam diskusi tersebut, biasanya beliau ditemani dengan patner beliau, KH. Imron Hamzah.
Sebagai buah dari kegigihan sepak terjangnya dan kecemerlangan ide-idenya di NU, dan setiap Halaqoh setiap alim ulama baik dalam acara NU dan pesantren, tokoh yang selalu tampil sederhana dan mempesona ini, tepatnya di pertemuan Ulama pesantren, Pondok Pesantren Watu Congol, Muntilan Jawa Tengah menggiring nama beliau untuk terpilih aklamasi sebagai ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pondok Pesntren NU se-Indonesia: Rabitahtul-Maahidil-Islamiyah (RMI).
Melalui jabatan sebagai orang nomor satu di jagat pesantren NU inilah, nama Wahid Zaini pelan-pelan menjelajahi akses jaringan manca negara. Hampir lengkap poros pemimpin cemerlang yang mengitari bumi NU, saat itu KH Abdurrahman Wahid yang sangat populer dengan NU (pesantren besarnya), KH Abd Wahid Zaini dengan RMI-nya.
Kepemimpinan Abdurrahman Wahid di NU, cukup membawa harum NU ke dunia internasional dan membawa bangsa pada pergulatan demokrasi. Lebih dari itu, dilengkapi kecemerlangan kiai muda dari timur yang memiliki wawasan luas dan pemikiran cemerlang dan sukses memimpin RMI sepanjang dua periode”. (baca; NU dan Relasi Kuasa DR. Martien Van Bruineessen, LkiS).
Selama menjadi Ketua RMI, banyak akses jaringan yang telah beliau bangun, banyak pula kolega dan mitra-kancah-nasional dan kancah internasionalnya, adalah kekayan khazanah tersendiri yang diwariskan bagi generasi berikutnya.
Ini karena sikap netral beliau yang cukup diterima oleh berbagai kalangan, tanpa sama sekali berubah visi dan komitmen kepesantrenan dan ke-NU-anya yang cukup kental, sebagai pandang beliau dalam menyikapi situasi kenegaraan yang juga sedang begulat dari waktu ke waktu.
Kiai Wahid Zaini adalah tokoh sekaligus Ulama sosok luar biasa dan mumpuni yang pernah dimiliki NU. Betapa pun dahsyat dan derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial yang tengah berlangsung, beliau gambaran sosok yang punya pendirian tegar dan tak pernah risau dengan segala gelombang perubahan itu.
Justru dengan derasnya perubahan tersebut, NU dan pesantren kian tertantang untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan ke dalam (introspeksi membenahi kelemahan untuk sebuah percepatan).
Bagi Kiai Wahid Zaini, perjuangan kultural adalah jauh lebih berat dari pada perjuangan struktural, fatwa ini sering kali ucapkan setiap memberikan materi (makalah) pada seminar-seminar dan Halaqoh-halaqoh pesantren.
Tentu hal tersebut bukan sekedar ungkapan teoritis beliau lebih dari itu mencerminkan krakter dan sikapnya untuk tinggal di lokal (di pesantren) paiton itu.
Harus diakui, pergulatan pemikiran Kiai Wahid Zaini di NU dan pesantren cukup memberikan ruang leluasa tersendiri bagi kalangan intelektual-intelektual muda NU yang sedang bergulat juga karena kaderisasi profesional di NU adalah semangat dan cita-citanya yang tak pernah pudar tak henti-hentinya semangat dan dorongannya terhadap anak-anak muda NU.
Baik yang aktif di level wacana kelompok-kelompok kajian di organisasi intra kampus maupun di ektra, seperti PMII dan IPNU/ IPPNU untuk segera melakukan percepatan (akselerasi) menjadi kader yang profesioal agar tidak ketinggalan gerbong.
Hal tersebut harus dipahami bahwa pemberdayaan terhadap generasi NU mutlak harus dilakukan untuk menjaga keberlansungan organisasi NU. Karena berbicara perkembangan di NU secara riil merupakan upaya peroses percepatan generasi itu sendiri.
Atas dasar tersebut, Kiai Wahid Zaini, secapek dan sesibuk apapun ketika ada urusan dengan NU dan terutama berurusan dengan anak-anak mudanya beliau selalu meluangkan waktu untuk menerima dan memberikan arahan dan bimbingan.
Begitulah sekelumit gambaran sosok Kiai Wahid Zaini. Sebenarnya tidaklah cukup hanya satu lembar hingga dua lembar kertas untuk menggambarkan sosok Kiai Wahid Zaini, tapi butuh kajian yang lebih komprehensif dalam mengingat begitu komplitnya sepak terjang dan pemikiran Kiai Wahid Zaini di NU, Pesantren dan masyarakat.
Akhirnya, kita semua para santrinya, semoga bisa meneladani keistiqomahan Kiai Wahid Zaini dalam berjuang, mengabdi pada umat, NU dan Pesantren.
Selanjutnya, semoga pada momentum Harlah PP. Nurul Jadid yang ke 68 ini kita para santri bisa mengambil ibroh dan hikmah dari keteladanan para masyaikh PP Nurul Jadid sehingga bisa hidup manfaat dan barokah di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam.(*)
*Penulis, Mushafi Miftah, Alumni PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo, saat ini aktif sebagai Dosen di IAI Nurul Jadid dan Peneliti Hukum dan Kebijakan Publik di BEDUG INSTITUTE
tulisan ini diambil di wibsite :www.timesindonesia.co.id
nuruljadid.net- Wali asuh dan wali kelas dalam memberikan informasi kepada publik harus satu pemahaman. Keduanya harus berjalan sinergi dalam memberikan informasi pesantren baik berkait kegiatan pesantren, sekolah, santri dan informasi pesantren lainnya. Hal ini disampaikan Ustadz H. Faizin Syamwil pada kegiatan pengarahan terhadap wali asuh dan wali kelas Se-Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Kamis pagi (10/09) di Aula I Pesantren Nurul Jadid.
Menurutnya, masih ada informasi berbeda yang disampaikan oleh wali asuh dan wali kelas kepada publik utamanya kepada wali santri. Kedepan kita berharap agar hal itu tidak terulang lagi karena akan berdampak kurang baik terhadap citra pesantren.
Masih kata Ustadz Faizin, seluruh wali asuh dan wali kelas harus menjadi wajah pesantren (sebagai humas) agar citra pesantren terpelihara dengan baik.
Senada dengan Ustadz Faizin, Kabag Humas dan Protokoler Pesantren Nurul Jadid Ustadz Ernawiyadi Munsyi mengatakan, salah satu fungsi dari wali asuh dan wali kelas membantu pesantren dalam memberikan informasi yang utuh dan satu pemahaman antar satu dengan yang lain.
Lebih lanjut Ustadz Ernawiyadi mengatakan, pesantren harus terus meningkatkan dalam memberikan pelayanan terutama berkait layanan informasi.
Pengarahan wali asuh dan wali kelas oleh KH. Najiburrahman Wahid Wakil Kepala Pesantren I diikuti 350 wali asuh dan wali kelas se- Nurul Jadid.
Pewarta : Ibnu Abdillah
Editor. : Ponirin Mika
nuruljadid.net- Santri baru yang mendaftar pada penerimaan santri baru tahap II harus membawa hasil rapid test dirumahnya masing-masing. Berbeda dengan penerimaan tahap I rapid test disediakan pesantren secara gratis. Hal ini diungkapkan Ketua Penerimaan Santri Baru 2020 Ustadz Surono Sahri.
Lebih lanjut Ustadz Surono menyampaikan, rapid test itu menjadi salah satu syarat bagi pendaftar menjadi santri di Pesantren Nurul Jadid. Dengan adanya hasil rapid test tersebut panitia mengetahui terhadap kesehatan calon santri baru terutama berkait covid-19. Ini merupakan bentuk ikhtiar pesantren.
Masih kata Ustadz Surono, hasil rapid test itu nanti diserahkan kepada Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk ditukar dengan kartu lain sebagai bukti bahwa calon santri telah menyerahkan kartu hasil rapid testnya.
Setelah selesai menyerahkan kartu hasil rapid test santri baru melanjutkan untuk melakukan verifikasi data, berfoto, sesudah itu santri baru melakukan ikrar menjadi santri. Selepas itu semua santri baru menuju karantina,” Imbuhnya.
Pada hari pertama pendaftaran santri baru tahap II, semua pendaftar telah mengikuti ketentuan yang telah diedarkan pesantren,” Lanjutnya.
Pewarta : Ibnu Abdillah
Editor : Ponirin Mika
nuruljadid.net- Penerimaan Santri Baru tahap II Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Rabu pagi (09/09 berjalan lancar. Semua bagian melaksanakan tugasnya sesuai dengan tupoksi yang telah diamanahkan. Hal ini disampaikan Ustadz Surono Sahri Ketua Panitia Penerimaan Santri 2020.
Masih kata Ustadz Surono, pada tahap I bertempat di Aula II Pesantren dan pada penerimaan santri baru tahap II ini, lokasi penerimaan bertempat di kantor mahram putera. Meskipun demikian kita tetap memberi pelayanan terbaik para santri baru yang mendaftar dengan tetap mengikuti prosedur penerimaan yang berlaku.
Yang paling kita kawal ketat adalah protokol kesehatan covid-19. Kita harapkan semua para pendaftar dan yang mendampinginya benar-benar mengikuti protokol kesehatan,” Imbuhnya.
Pada hari pertama penerimaan santri baru tahap II semua panitia telah bekerja sesuai dengan baik dan sesuai dengan satuan tugas di masing-masing bagian,” Katanya.
Kepala Bidang PU ini menambahkan, tentu adanya penerimaan santri baru tahap II ini tidak lepas dari pelayanan pesantren kepada masyarakat yang ingin belajar di Pesantren Nurul Jadid. Akan tetapi ada perbedaan dari penerimaan tahap I. Pada penerimaan santri baru tahap II santri baru yang mendaftar harus membawa hasil rapid test karena di pesantren sudah tidak melayani rapid test.
“Rapid test gratis di pesantren tidak disediakan lagi. Jadi semua santri yang mendaftar pada penerimaan santri baru tahap II harus membawa hasil rapid test dari rumahnya masing-masing,” Tegasnya.
Pewarta : Ibnu Abdillah
Editor : Ponirin Mika
nuruljadid.net- Selasa pagi (08/09) Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo melaksanakan rapat koordinasi bersama seluruh satker dilingkungan Nurul Jadid.
Pada rapat itu Direktur Klinik Az-zainiyah Nyai Hj Khodijatul Qodriyah mengajak seluruh warga pesantren melaksanakan protokol kesehatan covid-19 dengan baik.
Lebih lanjut Ning Iah (sapaan akrabnya) mengatakan, kesadaran kolektif akan bahayanya covid-19 sangat diperlukan.
Sementara Ketua Gugas Pencegahan Covid-19 Nurul Jadid Ustadz Kholid Fauzi menyampaikan beberapa strategi pencegahan covid-19 mulai dari protokol kesehatan santri dan protokol kesehatan wali santri.
“Kita harus tegas menerapkan protokol kesehatan covid-19 kepada siapapun baik kepada santri, wali santri dan warga pesantren lainnya,” Kata Ustadz Kholid.
Turut hadir pada rapat koordinasi tersebut Direktur Klinik Az-zainiyah, Sekretaris Pesantren, Kepala BKOSNJ, Seluruh kepala-kepala sekolah, perwakilan biro dan personel gugus tugas pencegahan covid-19.
Pewarta : Ibnu Abdillah
Editor. : Ponirin Mika
nuruljadid.net- Direktur Klinik Az-zainiyah sekaligus pembina Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo Nyai Hj Khodijatul Qodriyah mengajak seluruh warga pesantren agar benar-benar melaksanakan protokol kesehatan. Hal ini disampaikan pada rapat koordinasi tindak lanjut pencegahan covid-19, Selasa pagi (08/09) di Aula Mini Pesantren.
Menurutnya, harus ada langkah-langkah yang terus dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap pademi covid-19.
Masih kata Ning Iah, Ayo kita kedepan benar-benar mencegah terjadinya penyebaran Covid-19, kita harus punya tekad yang sama demi kemaslahatan.
Tentunya dalam pengawalan protokol kesehatan covid-19 kepada warga pesantren terutama pada santri semua satuan kerja di Pondok Pesantren harus ikut andil agar pengawalan lebih maksimal. Kita butuh menciptakan kesadaran kolektif.
Kita tidak hanya menetapkan protokol kesehatan bagi santri tapi bagi seluruh warga pesantren,” Imbuhnya.
Mau tidak mau kita harus mencegah adanya covid-19 ini secara bersama-sama. Pesantren kita telah mendapatkan predikat pesantren tangguh tentu kerja dalam pencegahan covid-19 harus lebih maksimal.
Pewarta : PM
nuruljadid.net – Minggu 06/09/20 Pondok Pesantren Nurul Jadid wilayah Al-Mawaddah melaksanakan ujian tes praktek wudhu’ dan sholat. Ujian praktek sholat dimulai pukul 15.00 WIB yang bertempat di dalam musholla Al-Mawaddah, sedangkan ujian praktek wudhu bertempat di kran kamar mandi. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan program I’dadiyah untuk pemetaan tingkatan kelas di program tersebut.
“ Mempelajari ilmu fiqh atau furudhul ‘ainiyah sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Santri harus bisa menjadi teladan dan acuan masyarakat dalam menjalankan kewajiban ‘ainiyah itu yang utama. Maka dari itu sangat penting belajar dan mengamalkan ilmu agama bagi setiap santri sebelum terjun ke masyarakat.” tutur Ustadzah Munisa Imamah selaku Koordinator Program I’dadiyah.
Kegiatan ujian praktek ini berjalan lancar. Santri baru pun antusias mengikuti kegiatan tersebut, terlihat saat mereka bersiap maju dengan semangat mengahafal bacaan-bacaan sholat dan wudhu’.

penguji menyimak bacaan dan doa setelah wudhu
Pasalnya, hasil dari ujian praktek ini akan menjadi salah satu acuan saat mereka (santri baru) akan dikelompokkan menjadi dua tingkatan. Ada tingkat Ula bagi santri yang masih belum tuntas di pembelajaran dasar I’dadiyah. Tingkat wustho untuk santri yang sudah tuntas dan akan diberikan materi dasar program unggulan Al-Mawaddah.
“ Takut dan grogi ikut ujian praktek ini. Secara saya belum pernah mondok sebelumnya dan masih minim ilmu agama. Tapi bersyukurnya dengan ini membuat saya lebih semangat belajar supaya lebih tau dan paham ilmu agama, terutama furudhul ‘ainiyah”. ungkap Gelis salah satu santri baru dengan ekspresi senang di wajahnya.
nuruljadid.net – Orientasi Santri Baru (OSABAR) tahun 2020 Pondok Pesantren Nurul Jadid dilaksanakan sejak Senin (31/08/2020) sampai dengan Sabtu (05/09/2020). Kegiatan yang bertujuan sebagai pengenalan awal kegaitan pesantren dan kepesantrenan tersebut diikuti oleh seluruh santri baru tahun 2020. Sabtu (05/09/20) malam, Penutupan Kegiatan OSABAR tahun 2020 dilaksanakan di Aula 1 Nurul Jadid.
Acara yang dibuka pada pukul 20.45 WIB tersebut dibawakan oleh Master of Ceremony (MC) dengan 4 bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Mandarin. Malam penutupan ini sekaligus menjadi malam penganugerahan peserta terbaik OSABAR 2020.
Melalui seleksi ketat, akhirnya panitia mengumumkan para bintang tersebut. Berikut adalah nama-nama peserta terbaik OSABAR tahun 2020; Ummi Zakiyah (Peserta Terbaik Wilayah Al-Hasyimiyah), Intan Putri Meilina (Peserta Terbaik Wilayah Dalsel), dan Ainul Islami (Peserta Terbaik Wilayah Az-Zainiyah). Ny. Hj. Ummi Haniah yang lebih akrab dikenal dengan Ning Hani memberi hadiah serta mahkota cantik untuk mereka (peserta terbaik OSABAR, red).
Selain Ning Hani, Ny. Hj. Hanunanaf Nafi’iyah juga turut memberikan sambutan pada kegiatan tersebut. “Ketulusan, kebenaran dan kesucian niat akan menjadi jalan kemudahan dalam menuntut ilmu,” dawuh Ny. Hj. Hanunah Nafi’iyah.
“Kesulitanlah yang membentuk seseorang menjadi pribadi yang bermental baja. Hambatanlah yang membuat seseorang percaya pada diri orang lain dan Tuhannya,” imbuh Ning Hanun (sapaan harian Ny. Hj. Hanunah Nafi’iyah).
Setelah sambutan, Ning Hanun juga memimpin pembacaan ikrar santri yang diikuti oleh seluruh peserta Osabar dengan penuh khidmat. Yang kemudian dilanjutkan dengan sesi renungan tentang orang tua dan panggung kreasi yang menampilkan penampilan dari beberapa peserta OSABAR serta kakak asuh. Penampilan yang ditampilkan antara lain sholawat, nasyid, pembacaan puisi, dan juga dance.

Pembacaan Ikrar Santri Baru
Pada penghujung acara, dinobatkan pula kelompok terbaik osabar, yang berhasil diraih oleh kelompok Sa’udah dari wilayah Az-Zainiyah yang disambut yel yel bersemangat dari para anggota kelompoknya.
nuruljadid.net – Saat acara Penutupan Kegiatan Orientasi Santri Baru (OSABAR) dan Panggung Kreasi tahun 2020 Sabtu (05/08/20) malam, ada hal mengejutkan dan mengharukan bagi peserta OSABAR 2020. Hal itu adalah sesi renungan tentang orang tua yang sontak membuat suasana menjadi haru dan dibanjiri air mata.
Dalam sesi tersebut Ustadzah Sulus selaku NJ Trainer memandu acara tersebut dengan menceritakan kisah perjuangan serta isi hati orang tua dalam memondokkan putra-putrinya selain itu diselipkan pula impan dan harapan mereka untuk sang buat hatinya.
Ditengah harunya suasana, Nafis salah satu peserta OSABAR 2020 dari wilayah Az-Zainiyah berdiri tepat di depan kamera. Tak disangka, sesaat kemudian layar panggung justru menunjukkan raut wajah ibunya dalam panggilan video yang telah disiapkan oleh panitia.

Suasana Haru saat Penutupan OSABAR tahun 2020
Saat panggilan video tersambung, Nafis mengungkapan kerinduannya kepada keluarga. “Adek nggak boleh nangis, harus semangat belajar, ngaji. Jangan sampai tidak sholat jama’ah. Suplemennya jangan lupa diminum, nanti kalau sudah boleh disambang, Ibu pasti kesana,” jawab sang Ibu. Sontak seisi ruangan pun semakin pecah dan air matapun tak dapat dibendung.
Panggilan video tersebut ditutup dengan impian dan do’a Ibu. Sang ibu mengungkapkan semoga putrinya menjadi anak sholihah serta berguna bagi agama dan bangsa. Tentu saja pesan dari Ibunda Nafis tersebut mewakili pesan dari para orang tua untuk anaknya yang sedang belajar di pesantren.
Kegiayan yang dikemas apik oleh Panitia OSABAR tersebut selain bertujuan untuk memotivasi santri baru untuk lebih semangat lagi dalam menuntut ilmu di Pesantren juga bertujuan untuk mengobati rasa rindu mereka (santri,red) kepada orang tua mereka masing-masing.
“Adanya sesi ini dalam penutupan osabar adalah untuk memotivasi para peserta osabar untuk semakin semangat menuntut ilmu di pesantren. Karena juga motivasi terbesar para santri salah satunya adalah orang tua. Ditambah saat ini mereka dalam keadaan tidak boleh dikunjungi oleh orang tua sesuai protocol Covid 19 di Nurul Jadid. Dapat dipastikan mereka (santri) menyimpan rindu yang dalam untuk keluarga,” ungkap Ustadzah Rafika, salah satu panitia Osabar 2020 dari wilayah Al-Mawaddah.