Santri Nurul Jadid Presentasi KTI Dihadapan Para Akademisi

nuruljadid.net- Sehari setelah tujuh hari wafatnya KH Moh Romzi al-Amiri Mannan, Rabu (14/10), Alfin Haidar Ali, santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Al-Amiri (J) Ma’had Aly pergi ke Yogyakarta untuk presentasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) dihadapan para akademisi.

Sesuai dengan jadwal yang ditentukan panitia, Saudara Alfin akan melakukan presentasi KTI-nya yang berjudul, “Peran Ma’had Aly Nurul Jadid Dalam Menangkal Gerakan Radikal di Indonesian” pada kamis (15/10) dihadapan para akademisi yang telah ditentukan, yakni Prof. Koeswinarmo, Dr. M. Murtadlo, MA dan Nunu A. Annahidi, MSI.

Kegiatan yang bertempat di Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama (Penda) Kementerian Agama (Kemenag) RI itu dimulai sejak bulan Maret 2020 lalu.

Setelah menjalani serangkaian acara dari pengiriman proposal, penetapan 20 santri ma’had aly se-Indonesia, hingga penelitian dan bimbingan, saudara Alfin dan bersama santri terpilih lainnya melakukan presentasi di 101 Tugu Hotel Yogyakarta.

Dalam formulir yang telah dibagikan pada para peserta, kegiatan ini diadakan untuk menciptakan penulis-penulis handal dikalangan santri Ma’had Aly.

Ust. Tarif ketua panitia pelaksana menyampaikan, dikarenakan pandemi yang belum berakhir ini, peserta dan orang yang terlibat dalam kegiatan ini sangat dibatasi dan semuanya wajib mematuhi protokol kesehatan.

“Mengingat Kondisi wabah Belum kondusif, pelaksanaan Seminar tetap mengikuti protokol kesehatan yaitu selalu memakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan. Ketentuan akomodasi satu kamar 2 orang, jumlah peserta dibatasi yaitu dari pusat (15) peserta kti (20) dan panitia lokal yogya (25)
” ungkapnya di GWA KTI tersebut.

Acara yang dimulai pada Rabu, 14 Oktober akan berakhir pada Jum’at 16 Oktober. Semua peserta check in dan check up di hotel pada pukul 13.00 Wib. Semua akomodasi dan biaya transportasi ditanggung oleh panitia. Dan semua peserta mendapat jaket kenang-kenangan sebagai peserta KTI dan uang saku hasil penelitian.

“Kalau saya senang banget. Apalagi hobi menulis saya terwadahi di Ma’had Aly. Apalagi bisa pergi ke Jogja dan semua biaya transportasi ditanggung panitia. Masih ada uang saku lagi. Saya harap, yang seperti ini bukan hanya saya saja. Temen-temen yang suka nulis di Nurul Jadid semoga juga dapat menjadi penulis profesional dan bersinar meskipun sejak masih nyantri.” ungkap alfin saat di wawancarai.

 

Pewarta : Alfin

Editor.    : Ponirin Mika

KH. Moh Zuhri Zaini, Kyai Dengan Ketawadhuannya Yang Tinggi

nuruljadid.net- Melihat foto ini, saya jadi teringat sebuah syair dari kitab ta’limul mutaalim, sebuah kitab panduan bagi penuntut ilmu agar mendapat ilmu barokah.

Dalam kitab tersebut sang muallif ( pengarang) menyitir sebuah syair/ nadhom ( prosa) ketika menjelaskan sikap yang harus di miliki seoerang santri. Berikut syairnya

العلم حرب [للفتى] المتعالى كالسيل حرب للمكان العالى

بجـد لا بجــد كــل مـجــد فهل جد بلا جد بمجدى

فكم من عبد يقوم مقام حر وكم حر يقوم مقام عبد

Ilmu itu musuh bagi penyombong diri- laksana air bah musuh dataran tinggi

Diraih keagungan dengan kesungguhan bukan semata dengan harta tumpukan
bisakah agung didapat? Dengan harta tanpa semangat?

Berapa banyak sahaya, menduduki tingkat merdeka – Berapa banyak orang merdeka, menduduki tingkat sahaya

Saudara! Lihatlah baik baik baik foto di bawah ini, betapa tawadhu’nya sang kiai tersebut. Tahukan kalian? Siapakah kiai itu? Benar, beliau adalah KHMoh Zuhri Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid.

PP. Nurul Jadid adalah salah satu pesantren besar yang ada di Jawa Timur. Jangan tanya berapa ratus santri dan alumninya, tanyalah berapa ribu santri dan alumninya. Jangan tanya seberapa lengap tingkat pendidikannya,karena mulai dari paud hingga Perguruan Tinggi, mulai dari keagaaman hingga saintis, semuanya tersedia.

Sekali lagi pandanglah foto di bawah ini! Apa kesan yang engkau dapat ? Tawadlu’ ( merendahkan diri), tidak gila hormat, inginnya hanya menghormati, siapa saja, kalangan apa saja.

Betapa meskipun beliau adalah ulama’ besar, mempunyai ribuan santri yang tersebar di seluruh nusantara bahkan hingga manca negara. Namu beliau masih terus membumi, meski darajatnya telah melangit.

Bagi kalian, yang ingin menambah kekakaguman kepaada beliau, datanglah sekali kali ke PP. Nurul Jadid, sowanlah ke dhalem beliau, mintalah nasehat nasehatnya. Kemudian perhatikanlah bagaimana caara beliau berpakaian, melayani tamu, memberi nasehat. Disitu kalain seakan akan menemukan sesosok “insanul kamil”( manusia sempurna). Pengejewantahan dari teladan Rasulullah SAW.

“Ilmu itu musuh bagi penyombong diri- laksana air bah musuh dataran tinggi”

Maka tak heran beliau mempunyai ilmu yang luas, Dan pandangan luas tentang seluk beluk kehidupan baik agama, sosial, budaya bahkan politik serta kata kata hikmah yang menusuk hati dan jiwa

“Diraih keagungan dengan kesungguhan bukan semata dengan harta tumpukan
bisakah agung didapat? Dengan harta tanpa semangat?”

Keaagungan yang beliau dapatkan tidaklah datang begitu saja, bukan juga berasal dari harta bendanya ( meskipun konon beliau sudah cukup kaya), semangat belajar dan terus belajar masih terua berlanjut hingga sekarang, buktinya? Dalam setiap pengajian yang diasuh sering kali beliau mengomentari fenomena kekinian baik teknologi, budaya, sosial maupun politik. Bukti lain, adalh tulisan tulisan beliau di majalah majalah pesantren yang selalu apde sesuai tema besar majalh itu.

“Berapa banyak sahaya, menduduki tingkat merdeka – Berapa banyak orang merdeka, menduduki tingkat sahaya”

Disinilah beliu tetap mempertahankan posisinya sebagian dzurriyah mulia, KH. Zaini Mun’im, dalam artian tetap dalan kemhlyaan dan keagungan, karena banyak orang yang mempunyai kedudukan tinggi, nasab tinggi dan poangkat tinggai tapi sebenarnya ia adalah budak sahaya, terutama budah hawa nafsu dan syahwat politik. Dan ini tidaklah terjadi kepada beliau.

 

 

Penulis    : Ahmad Qusyairi As Salimy

Publisher  : Ponirin Mika

 

Beri Teladan, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid juga Disemprot Cairan Disinfektan

nuruljadid.net- Pengasuh Pondok Pesantren Nurul JadidProbolinggoKH. Moh Zuhri Zaini, juga mengikuti prosedur tetap pencegahan Covid-19. Setiap datang dari perjalanan, Kia Zuhri ikut cuci tangan, mengukur suhu tubuh, dan menjalani penyemprotan dengan disinfektan di gerbang pesantren.

Foto saat Kiai Zuhri mencuci tangan di gerbang pesantren, menyebar di media sosial. Baik WhatsAp grup, maupun facebook.

“Pengasuh Pesantren Nurul Jadid KH. Zuhri Zaini memberi teladan dengan taat melaksanakan prosedur tetap pencegahan sebelum masuk komplek Pesantren Nurul Jadid,” kata KH. Abdul Hamid Wahid di akun facebooknya.

Saat memberikan tausiyah, Minggu (22/3/2019), kiai low profile ini mengharap prosedur kesehatan berkaitan dengan Covid 19, dilakukan semaksimal mungkin sesuai kemampuan.

“Tapi tidak perlu panik atau stres. Karena stres itu sudah penyakit tersendiri,” ujar kiai dengan ribuan santri ini.

Tak hanya mengajak, Kiai Zuhri juga telah mencontohkannya. “Saya setiap datang dari perjalanan, saya minta disemprot (dengan cairan disinfektan),” akunya dalam acara haul masyayikh Pondok Pesantren Nurul Jadid. (*)

 

Publisher     : Ponirin Mika

Tulisan ini diambil dari https://www.timesjatim.com/

Pesan KH Moh Zuhri Zaini Kepada Pengurus P4NJ

nuruljadid.net- Ada tiga kepengurusan yang ikut melaksanakan program di Ponpes Nurul Jadid. Dewan Pengasuh, Pengurus (Tandidz) dan P4NJ,” 

“Semua yang akan kita lakukan adalah khidmad untuk memberikan yang terbaik kepada umat. Kita bukan malaikat yang tidak punya kepentingan apapun,”

“Ada juga manusia yang tidak memberikan manfaat kepada sesama. Ada juga manusia yang seperti kalajengking, yang hanya menggigit. Dari itu, minimal kita bisa memberikan mafaat kepada orang lain,” 

“Memang bukan Malaikat. Tapi kita sebagai manusia mampu memberikan kepada manusia. Itu yang kita harapkan. Untuk ibadah kepada Allah dan berbuat baik dan manfaat untuk umat,” 

“Terima kepada pengurus yang sudah dilantik. Selamat dan terima kasih telah bersedia di tengah kesibukan yang luar biasa,” 

“Firasat saya, kepengurusan saat ini, akan memberikan yang terbaik kepada pesantren dan umat. Programnya cukup bagus. Jika punya kepedulian kepada pesantren yang telah mengambil manfaat, akan terus didoakan oleh pendiri dan dewan pengasuh,” 

“KH Zaini Mu’im berharap, santri yang sdh kembali ke masyarakat adalah milik umat. Walau secara psikologis, banyak yang tdk hanya mondok di Nurul Jadid. Tapi juga dari pondok lainnya,” 

“Jika kemandirian ekonomi umat terus dijalankan, kedepannya akan banyak generasi yang siap berjuang. Karena tanpa “fulus mamfus”. Kelak akan datang sebuah zaman, yang semuanya bersandar pada dhinar,”

“Yang harus diperkuat adalah kegiatan sosial dan kemandirian ekonomi. Karena ekonomi dibutuhkan oleh siapapun. Soal ekonomi bisa bekerjasama dengan siapapun. Tak harus melihat apa agamanya,” 


“Dalam urusan bisnis, soal haknya harus dikedepankan supaya bekerja secara profesional. Dari itu, kemadirian menjadi hal yang utama. Ekonomi itu selain sebagai penopang perjuangan, juga bisa menjadi alat komunikasi dengan berbagai pihak. Baik yang berbeda agama dan kelompok lainnya,”

“Jika kemandirian ekonomi itu yang mengembangkan santri, akan luar biasa. Sebenarnya santri sudah memulai. Tapi mungkin belum ada yang menekuni. Semoga dengan hadirnya pengurus P4NJ akan berhasil dalam hal kemandirian ekonomi,” 

“Kedepan, perlu membangun atau membuat jaringan antar teman (jaringan ekonomi), ada semacam pusat informasi segala hal. Nanti bisa menambah pengalaman dan jika sudah terbentuk jaringan, insyaallah akan baik kedepannya,” 

“Managemen dan jaringan yang baik, akan berjalan baik. Jika sudah ada modal, harus dikelola secara profesional. Jika usaha teman, kadang tidak profesional. Padahal bisnis punya prinsip sendiri. Berbeda dengan prinsip sosial,” 

“Jika sudah bisnis, sekalipun saudara sendiri, harus tetap dalam skala bisnis. Harus ada administrasinya yang harus profesional,” 

“Hal ini jelas tidak mudah. Karena orang yang sukses itu pasti akan mengalami kendala-kendala. Prosesnya yang harus dilihat, jangan melihat hasilnya atau suksesnya. Dalam ilmu Tasawuf juga demikian. Bukan suksesnya yang dilihat. Tapi prosesnya,” 

“Kepatuhan pada organiasi harus terus dilakukan. Karena hal itu sebuah bukti kepatuhan dan kedisiplinan. Atasan dan bawahan harus sama-sama patuh. Karena bukan memikirkan kepentingan sendiri,” 

Terima kasih atas kesediaannya dikukuhkan menjadi pengurus P4NJ Pusat. Mohon maaf apabila ada yang salah.(*)
Publisher       : Ponirin Mika
Tulisan ini diambil dari https://www.ruangaspirasi.net/

Pelanggar Protokol Kesehatan Disanksi Bersih-bersih Sampah di Area Pesantren

nuruljadid.net- Gugus tugas penanganan covid-19 Pondok Pesantren Nurul Jadd Paiton, Probolinggo memberikan sanksi tegas bagi santri yang melanggar protokol kesehatan mulai Selasa (21/09).

“Sanksi bagi mereka (santri) yang melanggar protokol Kesehatan disuruh bersih-bersih sampah diarea pesantren,” Kata Ustadz Ernawiyadi Munsy

Pemberian sanksi ini sesuai dengan suarat edaran dengan nomor : NJ-B/0368/A.III/09.2020 yang dikeluarkan Pesantren,” Imbuhnya.

Untuk mengawal himbauan pesantren, Gugas Pencegahan Covid-19 telah memberikan kewenangan kepada pengurus pesantren yang bertemu santri yang melanggar protokol Kesehatan agar memberi sanksi secara langsung.

Disamping itu, Gugus tugas membentuk tim sidak lapangan kepada beberapa tempat untuk melihat ketaatan warga pesantren dalam melaksanakan protokol Kesehatan.

“Pada rapat gugas disepakati tim sidak ke beberapa tempat. Tim itu terdiri dari perwakilan satuan kerja (satker). Dalam bertugas tim sidak akan memakai pakaian dinas sesuai satkernya masing-masing. Kata Ning Iah di GWA.

 

 

 

Pewarta      : Ibnu Abdillah

Editor          : Ponirin Mika

 

Gugas Covid-19 NJ Bekerja Tanpa Mengenal Lelah

nuruljadid.net- Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 terus melakukan ikhtiar agar terbebas dari covid-19 salah satunya disinfektan beberapa tempat di area Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Di indonesia wabah covid-19 sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.  Oleh karenanya kita harus tetap waspada dan hati-hati,” Ungkap Kaba Humas dan Protokoler Ustadz Ernawiyadi Munsyi melalui GWA.

Ustadz Bashori berkomentar, Kerja Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Pondok Pesantren Nurul Jadid sangat luar biasa. Siang dan malam mereka bekerja tanpa mengenal lelah terkait tugas yang diembannya.

 

“Gugus tugas covid-19 Nurul Jadid 24 jam bekerja secara extra. Mereka tanpa lelah memberikan yang terbaik pada pesantren,” Kata Ustadz Bashori melalui GWA.

Kita menginginkan agar seluruh warga pesantren taat aturan protokol kesehatan demi keselamatan dari covid-19,” Imbuh Ustadz Erna.

 

Pewarta.  : Ibnu Abdillah

Editor.      : Ponirin Mika

Hantu Covid-19 Bisa Dihilangkan Dengan Dzikir

nuruljadid.net- Virus korona atau Covid-19 terus mewabah di Indonesia. Hingga detik ini mengalami peningkatan berkait orang yang terkena covid-19.

Melihat perkembangan itu KH Moh Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo pada pengajian kitab Ibadatul Islam (al-Sholat), Selasa sore (22/09) menyinggung bahwa manusia saat ini telah dihantui oleh covid-19 sehingga tidak merasa tenang dan untuk menghilangkannya harus berdzikir kepada Allah karena dengan dzikir bisa mendatangkan ketenangan.

” Kalau kita banyak berdzikir kepada Allah, maka kita akan tenang meski dihantui virus korona atau covid-19,” Dawuh beliau.

banyak dokter yang terkena virus corona meskipun memakai alat pelindung diri (APD) dan alat ini dipakai ber-jam-jam dan mengalami tekanan mental sehingga imunnya menurun. Oleh karenanya menurut beliau tidak hanya kesehatan fisik yang dijaga tapi juga kesehatan mental.

“Dengan hati yang tenang, maka fisik kita akan bertambah imunnya,” Imbuh Kiai Zuhri.

Kiai Zuhri menambahkan, kekuatan rohani bisa menopang kekuatan jasmani. Jadi perlu kekuatan mental supaya mental kuat harus nyambung kepada Allah.

 

Pewarta     : Ibnu Abdillah

Editor       : Ponirin Mika

 

 

 

 

 

Tugas Seorang Guru Menurut Imam al-Ghazali

nuruljadid.net- Setiap malam selasa, KH Moh Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur mengajar kitab Mukhtasor Ihya’. Sebuah ringkasan dari kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali (21/09) di Aula Mini Pesantren.

Pembahasan pada malam itu berkait tugas-tugas pembimbing-pengajar. Imam ghazali menyebutnya, المرشد المعلم. Kiai Zuhri menjelaskannya bila kata مرشد itu cakupannya lebih luas, bukan sekadar menyampaikan informasi/mengajar seperti biasanya. Sedang kata المعلم orang yang mengajar seperti pada umumnya. Namun dikepalanya sudah berisi materi-materi yang ia persiapkan sebelum proses mengajar.

Di halaman 16 (cet. DKI), Imam Ghazali menerangkan bahwasanya tugas guru (المرشد المعلم) itu ada empat. Sebelum menginjak pembagian tugas itu, Imam Ghazali memberikan mukaddimah pada alinea pertama yang bagi saya cukup menarik. Beliau menulis demikian :
“Paling baiknya keadaan guru ialah (sebagaimana) sesuatu yang dikatakan berikut ini, adalah orang yang berilmu, mengamalkan ilmu dan mengajarkannya.

Oleh karena itu, orang tersebut disebut sebagai orang yang mulia di kerajaan langit.” hendaknya seorang guru itu tidak seperi jarum. Ia memakaikan baju pada selainnya sedang dirinya sendiri telanjang atau tidak seperti sumbu lampu, ia menerangi sekitarnya sedang dirinya sendiri terbakar.

Barangsiapa menyandang (mendapat pangkat) untuk mengajar, maka sungguh ia menyandang perkara yang besar. Oleh karen itu, bagi sang guru menjaga adab & tugas-tugas nya, yakni :
Pertama, Berbelas kasih pada santri/pelajar dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Hal ini didasarkan pada hadits nabi Muhammad Saw. :
انما انا لكم كالوالد لولده
(Hanya saja aku pada kalian itu seperti seorang ayah (orang tua) pada anaknya.
Disini Imam Ghazali menyebut guru sebagai orang tua hakiki, karena ayah adalah sebab / orang yang mengatarkan kita hidup di dunia fana ini. Sedang guru (معلم) adalah sebab /perantara untuk kehidupan yang kekal. maka hak guru didahulukan daripada haknya orang tua.

Kedua, yakni mengikuti Nabi Muhammad Saw. (الاقتداء به صلى الله عليه وسلم). Imam Ghazali tanpa basa-basi langsung memberikan penekanan, “maka janganlah kamu mencari upah dari mengajar.”
Allah berfirman dalam surat Al-Insan ayat 76 :
لا نريد منكم جزاء ولا شكورا
Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terimakasih.

Kendati seorang pengajar itu berjasa bagi para santri/murid, tapi para santri memiliki jasa pada dirinya. Karena merekalah menjadi sebab bagi para guru untuk mendekat pada Allah dengan cara menanam ilmu dan keimanan dalam hati para murid.
Ketiga, seorang guru jangan menyimpan nasehat untuk hari esok. Seperti guru melarang muridnya mencari kedudukan sebelum mereka layak mendapatkannya. Juga melarang mereka untuk menekuni ilmu batin sebelum mengokohkan ilmu yang nyata (zhahir).
Keempat, menasehati para murid dan melarang mereka dari akhlak buruk. Hal ini tidak boleh dilakukan dengan cara terang-terangan, akan tetapi dengan cara yang bijak. Sebab menasehati secara terang-terangan dapat membuka aib dan merusak kewibaan.
Hendaknya, bagi guru harus berperilaku lurus terlebih dahulu, lalu ia menuntun para murid nya untuk berperilaku lurus pula. Bila prinsip ini dilanggar maka nasehatnya tidak berguna.

Imam Ghazali mengungkapkannya dengan seperti ini :
لأن الاقتداء بالافعال اكد من الاقتداء بالاقوال
Karena, memberikan keteladanan dengn sikap itu lebih baik dari pada dengan menggunakan kalimat / bahasa lisan.
Hal ini senada dengan yang di dawuh kan beliau, kalau orang yang diatas pandai menyuruh – menyuruh, maka jangan heran apabila rakyatnya memberontak.
Sekian.

 

Pewarta   : Alfin Haidar Ali

Editor      : Ponirin Mika

Laziskaf Santuni 100 Yatim di Probolinggo

nuruljadid.net- Laziskaf Azzainiyah PP Nurul Jadid terus melakukan kegiatan sosial. Kali ini, lembaga zakat infaq dan sadaqah PP Nurul Jadid tersebut menyantuni 100 anak yatim piatu di Kecamatan Gending, Maron dan Banyuanyar.

Kegiatan tersebut dilaksanakan atas kerjasama dengan pembantu pengurus pondok pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Probolinggo. 100 anak yatim tersebut mendapatkan beras 10 kg, snack dan sejumlah uang.

Ketua Laziskaf Azzainiyah, Kiai Muhammad Alfayyadl menyatakan bahwa santunan tersebut merupakan bentuk kasih sayang dan kepedulian.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian. Biasanya dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Pada tahun ini kita laksanakan pada akhir bulan”, terang kiai Fayyadl panggilan akrabnya. Menurutnya santunan anak yatim-piatu mutlak diperlukan untuk mendapatkan ridlo dan rahmat dari Allah SWT. Dalam hadis dikatakan bahwa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi oleh Allah.

Inilah muatan moral dari kegiatan santunan anak yatim. “Laa yarham, laa yurham”, demikian Kiai Fayyadl menyitir sebuah hadis. Anjuran tersebut memang singkat namun mengandung makna yang mendalam.

Di tempat yang sama, Ketua P4NJ Probolinggo, Muhammad Sa’dun mengajak semua kalangan untuk meningkatkan kepedylian terhadap anak yatim-piatu. Menurutnya santunan terhadap anak yatim tidak hanya diperlukan saat bulan Muharram, kalau bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. “Kepedulian terhadap yatama harus terus digalakkan. Ini kegiatan yang sangat positif dan dianjurkan”, kata H. Sa’dun.

Kegiatan santunan dihadiri oleh ratusan orang yang terdiri dari pengurus Laziskaf Azzainiyah, P4NJ Probolinggo dan masyarakat sekitar. Santunan anak yatim dilakukan di rumah H Mushalli Jannah, Blado Wetan Banyuanyar. “Semoga berkah”, harap H. Musholly singkat.

 

Pewarta : P4NJ Gemar

Editor.    : Ponirin Mika

Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19 Harus Diberi Sanksi Tegas

nuruljadid.net- Kita harus tegas memberi sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan covid-19 kepada seluruh warga pesantren terutama santri. Hal itu disampaikan Direktur Klinik Az-zainiyah sekaligus penanggung jawab Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Nyai Hj.  Khodijatul Qodriyah saat memberikan pengarahan pada rapat koordinasi, Kamis siang (17/09) di ruang rapat Pesantren Nurul Jadid.

Lebih lanjut Ning Iah sapaan akrab beliau menyampaikan, beberapa hari kebelakang kita telah menerapkan protokol kesehatan covid-19 namun masih belum maksimal.

Sehingga saat ini butuh aturan yang tegas agar protokol kesehatan bisa diterapkan dengan maksimal. Keinginan ini melihat perkembangan covid-19 yang telah terjadi diluar pesantren. Dan perlu membuat aturan yang ketat dan sanksi yang tegas pula,” Imbuhnya.

Kita berharap semua unsur terlibat dalam pengawalan protokol kesehatan,” Tambahnya.

Senada dengan Ning Iah, salah satu dokter klinik az-Zainiyah dr. Ninah menegaskan, protokol kesehatan yang diterapkan Pesantren Nurul Jadid sudah bagus. Hanya saja perlu dimaksimalkan.

Jika ada santri yang sakit segera menghubungi gugus tugas atau langsung dibawa ke klinik az-Zainiyah. Jika langsung tanggap dan ditangani setiap santri yang sakit maka akan segera ditangani dan bisa cepat sembuh. Sebab usia remaja itu sangat cepat dalam proses penyembuhannya.

Pada rapat koordinasi itu dihadiri seluruh perwakilan satuan kerja yang ada dibawah naungan pesantren.

 

Pewarta : PM

 

Santri Antusias Membaca dan Menghafal Pesan Almarhumin

nuruljadid.net- Pesan almarhimun yang terpasang disepanjang tembok asrama i’dadiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur dibaca dan dihafalkan oleh santri. Mereka sangat antusias dan termotivasi untuk melaksanakan pesan itu, baik saat mereka masih berada di pondok dan setelah nanti menjadi alumni. Hal ini disampaikan Ustadz Mahfudz salah satu pembina i’dadiyah.

lebih lanjut Ustadz Mahfudz mengatakan, adanya quote pengasuh yang dipajang disepanjang tembok asrama i’dadiyah sangat bagus sekali. Dengan itu semuanya santri i’dadiyah akan membacanya setiap jam.

Jika santri i’dadiyah terus menerus membaca maka akan cepat hafal. setelah menghafal mereka akan terdorong untuk berbuat sesuai dengan isi pesan almarhumin,” Imbuhnya.

Salah santu santri i’dadiyah sangat bersyukur dengan adanya quote almarhumin yang terpasang lewat Tbanner.

” Alhamdulillah saya bisa tau pesan-pesan almarhumin (pendiri dan pengasuh) Pondok Pesantren Nurul Jadid. Sebagai santri saya harus melaksanakannya dengan penuh kesungguhan,” Ujar Maulana santri baru asal Medan.

Senada dengan Ustadz Mahfudz, Kepala Bidang Penataan Wilayah Ustadz Fathullatif mengatakan, adanya pemasangan Tbanner yang berisi quote almarhumin itu sangat bagus. Sebab lambat laun santri akan terdorong untuk berbuat sesuai keinginan almarhumin.

Sementara Kabag Humas dan Infokom Ponirin Mika menegaskan, pemasangan Tbanner yang berisi quote almarhumin terutama di asrama santri itu kita ingin santri dapat mengetahui dan juga memahami keinginan almarhumin melalui pesan-pesannya.

Banyak sekali pesan almarhumin kepada santri Pondok Pesantren Nurul Jadid yang harus diketahui dan diamalkannya. Salah satunya yang ada di Tbanner tersebut,” Tambahnya.

 

Pewarta   : Ibnu Abdillah

Editor     : Ponirin Mika

KH Moh Zuhri Zaini: Sabar Bukan Berarti Diam

nuruljadid.net- “Manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan hanya bergantung kepada Allah SWT. Namun, kelemahan manusia tak perlu ditampakkan kepada orang lain. Karena hal itu adalah kurang benar. Kelemahan manusia hanya digantungkan dan dipasrahkan kepada Allah.”

Pesan inilah yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, KH Moh Zuhri Zaini,  dalam pengajian rutin kitab Al Hikam, Senin (23/1/2017).

Terkait

Menurut Kiai Zuhri, begitu populer disapa, dengan menyadari kelemahan, posisi manusia yang tidak punya kekuasaan apa-apa di dunia, tidak serta merta berbuat sombong.

“Kalau kita pasrah dan bergantung hanya pada Allah, pasti Allah akan mendampingi dan melindungi kita. Tapi, jangan hanya cuma pasrah, kalau hanya pasrah begitu saja, itu malas namanya. Namun, harus disertai dengan mengikuti segala perintah Allah,” jelasnya di depan para santri yang mengikuti pengajian rutin di pondok yang diasuhnya.

Untuk menghamba pada Allah jelasnya, tidak cukup hanya menghadap secara dhahir. Akan tetapi juga batin. Dan doa sebetulnya mustajab.

“Siapa yang sadar sebagai hamba dan berdoa secara bersungguh-sungguh pasti doannya dikabulkan oleh Allah,” jelas kiai yang juga menjabat Pengurus Syuriah NU Jawa Timur ini.

 

Tulisan ini diambil dari https://www.timesindonesia.com/
KH. Moh. Zuhri Zaini; Dalam Keprihatinan ini Kita Perlu Memperkuat Sambungan Kita Pada Allah Swt

Ini Pesan KH Moh Zuhri Zaini untuk Generasi Milenial

Dalam bekerja atau bisnis, apalagi sudah ada ditengah-tengah masyarakat, para alumni Nurul Jadid harus memilik etos kerja yang baik dan profesional. Profesional itu katanya dalam bekerja itu harus didasari ilmu, tidak hanya ikut-ikutan.

“Dalam bekerja, beramal dan berjuang, harus didasarkan pada ilmu. Kemampuannya dimana dan seperti apa. Lalu dijalani dengan profesional dan etos kerja yang baik,” katanya.

Namun, jangan sampai lupa, apapun yang dilakukan manusia, tanpa pertolong Allah, tak akan pernah berhasil dan sukses serta baik. Oleh karena itu, sambungan kepada Allah, tak boleh putus. Baik doa dan ikhtiar.

“Jangan sampai lupa untuk terus menyambungkan diri kepada Allah SWT, sebagai sandaran dalam menata hidup dan kehidupan,” pesan Kiai Zuhri.

Diketahui, dalam acara Samba dan Temu Alumni Nurul Jadid itu, KH Zuhri Zaini juga mengukuhkan pengurus Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Malang Raya periode 2017-2022. Hadir juga dalam acara itu, Rektor Universitas Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid.

 

Pewarta        : Imadudin Muhammad

Editor           : Yatimul Ainun

Publisher     : Ponirin Mika

Tulisan ini diambil dari https://www.timesindonesia.com

Produk Nurul Jadid Go Public

nuruljadid.net- Produk Pondok Pesantren Nurul Jadid go public. eNJe mart telah melakukan pemasaran produk tidak hanya kepada santri, alumni tapi pemasaran produk dilakukan kepada masyarakat umum. Hal itu dinyatakan Ustadz Agus Fanani Kepala Bidang Usaha Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
Lebih lanjut Ustadz Agus menyampaikan, produk yang di produksi Pesantren Nurul Jadid harus go public. Bidang usaha telah membuat branding kotak nasi, kotak kue dan menerima pesanan lainnya dari masyarakat.
Saat ini juga pesantren telah memasarkan baju koko, songkok nasional, sarung semuanya branding Nurul Jadid. Setelah iklannya kami publish melalui akun resmi pesantren pemesan sudah mulai banyak yang menghubungi kita untuk melakukan pemesanan,” Imbuhnya.
Kita menerima pesanan melalui media online damn offline. Kalau online bisa memesan melalui nomer HP yang dicantumkan di iklan sedangkan yang mau melakukan pesanan lewat offline bisa mendatangi eNJe Mart 2 dibelakang POS I jalan menuju kampus Universitas Nurul Jadid ini untuk masyarakat luar (alumni, wali santri dan masyarakat) untuk santri kita sediakan di eNJe Mart 1 berada di dalam pesantren,” Tambahnya.
Pewarta    : Ibnu Abdillah
Editor       : Ponirin Mika

Nurul Jadid

nuruljadid.net- Novi lahir di lereng Gunung Argopuro, Situbondo. Ia anak tunggal dari petani tidak tamat SD di desa Sumber Malang itu. Sejak tamat SD Novi sudah ingin masuk Pondok Pesantren Nurul Jadid. Pondok ini memang sangat terkenal. Namun Novi dianggap masih terlalu kecil untuk pisah dari orang tua. Letak desa itu jauh di pedalaman. Perlu waktu naik motor 1,5 jam untuk sampai di Nurul Jadid –tidak jauh dari ‘kota PLTU’ Paiton. Pondok ini memiliki SD, ibtidaiah, SMP, sanawiah, SMA, aliah, pun perguruan tinggi. SMA-nya pun ada dua: yang unggulan dan yang biasa.

Yang SMA unggulan itu muridnya harus bisa tiga bahasa sekaligus: Arab, Inggris, Mandarin. Begitu tamat SMP Novi masuk SMA unggulan itu. Kalau siang sekolah bahasa. Kalau malam ngaji kitab-kitab agama dalam bahasa Arab. Novi angkatan keempat di SMA unggulan itu. Guru bahasa Mandarinnya asli dari Tiongkok. Atas bantuan pemerintah sana lewat Konsulat Tiongkok di Surabaya. Waktu kelas 2 SMA Novi ikut lomba pidato bahasa Mandarin di Surabaya. Peserta non-Tionghoanya hanya tiga: Novi, satu rekannya dari Nurul Jadid, dan satu lagi dari pondok pesantren di Lirboyo Kediri. Selebihnya anak-anak Tionghoa.

Novi juara pertama. Ia dikirim ke Jakarta. Untuk lomba tingkat nasional. Yang tiga besarnya akan dikirim ke Xiamen, kota terbesar di Provinsi Fujian. Di Jakarta, Novi juara favorit. Ia pun mendapat beasiswa kuliah di Xiamen. Jurusan bahasa Mandarin pula. “Juara pertamanya anak Tionghoa dari Pontianak. Sekarang jadi biksu Buddha,” ujar Novi.

Ia belum tahu kapan bisa kembali ke Guangzhou. Namun profesor pembimbingnya di sana membuat target bahwa tahun depan Novi sudah harus maju disertasi. Kelihatannya ia akan menulis desertasi tentang Tionghoa Islam di Asia Tenggara. Selama libur Covid-19 ini Novi pulang ke Situbondo. Ia memanfaatkan waktu untuk menanam sengon di tanah milik ayahnya. Ia juga mulai menanam porang seluas 3 hektare di lereng gunung itu. “Kalau bisa saya ingin jadi pengusaha,” katanya. “Dapat pacar di Xiamen? Atau di Guangzhou?” tanya saya.

“Pacar saya di dekat Situbondo. Alumnus Nurul Jadid dan Pondok Modern Gontor,” jawab Novi. Kemarin Novi ke Surabaya. Itu karena diminta Bu Risma, wali kota Surabaya untuk menjadi penerjemah tamu dari Tiongkok. Namun tamu itu ternyata batal datang. Saat kuliah, Novi memang pernah menjadi penerjemah Risma waktu berkunjung ke Xiamen. Waktu itu Pemkot Surabaya minta agar Pemda Xiamen menyediakan penerjemah. Ternyata Pemda Xiamen menunjuk Novi. Sejak itu setiap ada rombongan dari Surabaya Novi lah yang diminta menjadi penerjemah.

Di antara pondok pesantren yang punya minat jurusan Mandarin, Nurul Jadid jawaranya. Sekarang ini sudah lebih 200 alumni Nurul Jadid yang lulus universitas di berbagai kota di Tiongkok. Kebetulan guru Mandarin pertama yang diperbantukan ke Nurul Jadid berasal dari suku Hui. Dari kota Chongqing. Berarti ia Islam –semua suku Hui adalah Islam. Maka guru Mandarin itu tiap hari berkopiah dan bersarung. Setelah masa tugasnya habis ia diganti guru dari suku Han yang tentu saja komunis. “Tetapi ia sering kami ajak bercanda untuk juga memakai sarung. Mau juga,” ujar Novi.

Kini SMA unggulan tiga bahasa di Nurul Jadid itu sampai menolak-nolak murid baru. Saking favoritnya. Saya pun ingin bermalam lagi di pondok itu.

 

Penulis : Dahlan Iskan