KH. Abdurrahman Wafi (tengah) saat menyampaikan sambutan dalam acara Peringatan Satu Dekade Haul Gusdur

KH. Abdurrahman Wafi: Berbicara Tentang GusDur tentu Berbicara Tentang Pesantren

nuruljadid.net – “Berbicara sosok gusdur adalah berbicara tentang ayahanda beliau Alm. KH. Wahid Hasjim. Berbicara sosok Gusdur tentu berbicara tentang kakek beliau alm. KH. Hasim Asy’ari. berbicara tentang santri KH. Hasyim dan guru kita Bersama Alm. KH. Zaini Mun’im. Berbicara tentang gusdur juga berbicara tentang alm. KH. Hasyim zaini. Berbicara tentang gusdur tentu berbicara tentang KH. Wahid Zaini, berbicara tentang gusdur tentu berbicara tentang pesantren, berbicara tentang gusdur tentu berbicara tentang santri. Karena tipologi dan identitas gusdur sama sekali tidak berbeda, tentang tipologi santri,”.

Hal itu disampaikan oleh KH. Abdurrahman Wafi, saat mengisi sambutan dalam acara Peringatan Satu Dekade Haul Gusdur yang digelar oleh Gusdurian Nurul Jadid. Jum’at (10/01/2020).

Gus. Abdur (sapaan akrab KH. Abdurrahman Wafi) menerangkan, banyak media memberitakan kalau gusdur tidak mempunyai dompet. “Saya ingat tahun 1984, indonesia mulai ribut munculnya sosok gusdur, bagi orang diluar pesantren. Sosok yang aneh orang kok bisa hidup tanpa uang, dipesantren itu biasa. Santri kalau tidak punya uang, nasi sama cabe itu enak makannya,” terang beliau yang turut menjabat sebagai Kepala Madrasah Ibtida’iyah Nurul Mun’im.

KH. Abdurrahman Wafi: Berbicara Tentang Gusdur tentu Berbicara Tentang Pesantren

KH. Abdurrahman Wafi: Berbicara Tentang Gusdur tentu Berbicara Tentang Pesantren

“Bahkan dalam sebuah cerita, Ketika gusdur menjabat sebagai ketua umum PBNU, pernah hadir di PP. lirboyo sebagai pembicara, yang ditunggu oleh panitia itu mobil sedan, kijang, Atau mobil yang bagus – bagus. Namun apa yang terjadi, Pada saat gusdur datang hadir ke PP. lirboyo dengan menaiki angkutan umum. Sosok yang sederhana sekali,” ungkap beliau.

Gus Abdur melanjutkan, Sama seperti kiai kita, KH. Abdul Wahid Zaini, Pengasuh ke 3 PP. Nurul Jadid. walaupun dikala menjadi pengasuh dan Ketua Tanfidziah PBNU. Ketika pergi ke Surabaya atau Jakarta, beliau sering menaiki bis umum ketika sampai diperempatan tanjung naik becak ke dhalem beliau.

 “Kalau orang mengenal gusdur, sebenarnya beliau tidak mau untuk diadakan haul, kalau bukan karena alasan kemanfaatan yang dapat beliau berikan dalam haul itu. Haul itu tidak membesarkan ataupun mengecilkan kemulian gusdur. Tapi khidmat yang kita dapatkan dalam haul gusdur adalah bukan bagaimana gusdur tapi bagaimana tentang kita menjaga warisan – warisan yang telah beliau berikan,” imbuh beliau.

Diakhir sambutan beliau menyampaikan 3 hal penting tentang gusdur, yakni Warisan Kemanusiaa, Warisan Pengetahuan, “Dan yang terakhir itu walaupun fisik beliau ketika senja kurang fit namun kecintaan beliau kepada olahraga tetap membara hal itu terbukti ketika dulu beliau sering menjadi analis sepak bola,” pungkas beliau.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + 1 =