Pos

Biro Pendidikan Mengadakan Pembukaan OSKAR Putra Tingkat SLTA

nuruljadid.net –  Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) telah dilakoni oleh lembaga formal tingkat SLTA beberapa hari yang lalu. Sumringah wajah nampak di wajah peserta didik kelas akhir, karena mereka akhirnya bisa menyelesaikan program pemerintah yang mewajibkan pendidikan 12 tahun.

Namun sekalipun mereka secara pendidikan formal sudah tidak memiliki aktifitas, bukan berarti mereka bebas aktifitas dari semuanya. Masih ada program pesantren yang harus mereka jalani sebelum mereka boyong (berhenti mondok). Orientasi Kelas Akhir (OSKAR) adalah kegiatan yang harus mereka lakoni sebagai peserta didik kelas akhir.

Malam ini (13/04) mereka semua dikumpulkan dalam satu tempat untuk mengikuti acara pembukaan OSKAR ini. Aula IAI Nurul Jadid digunakan untuk menampung mereka. Seluruh peserta didik kelas akhir tingkat SLTA berkumpul bareng. Kegiatan yang diakomodir oleh Biro Pendidikan yang bekerjasama dengan Pengurus FKO (Forum Komunikasi OSIS) berhasil mengadakan acara pembukaan OSKAR dengan sukses.

Pada acara ini, nampak Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, Wakil Kepala Pesantren, KH. Najiburrohman Wahid, Sekretaris Pesantren, Faizin Syamweil, Wakil Sekretaris Pesantren, Saili Aswi dan Kepala Biro Pendidikan, Bakir Muzanni menduduki permadani. Tak hanya beliau beliau saja yang hadir, beberapa pengurus pesantren juga ikut hadir dalam acara ini.

Sambutan Sambutan

Pada pelaksanaan acara ini, sambutan dari Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan fasilitas yang kurang memadai. Dan tak lupa pula, dalam sambutannya Saudara Refli selaku ketua panitia menyampaikan maksud dan tujuan diadakannya kegiatan OSKAR ini.

“Tujuan diadakannya OSKAR adalah sebagai bekal bagi kelas akhir untuk menghadapi kehidupan yang baru. Baik dalam bermasyarakat maupun dalam dunia kemahasiswaan” ujar ketua panitia.

Tak hanya ketua panitia saja yang memberikan sambutan, perwakilan dari peserta OSKAR juga memberikan sepatah kata. Dalam hal ini Lutfah mengajak semua anak anak kelas akhir untuk review perjalanan kehidupan sebagai santri Nurul Jadid.

”Dalam kesempatan kali ini, saya ingin mengajak teman teman kelas akhir untuk melihat kebelakang atau sejarah pertama kali kita berada di PP. Nurul Jadid. Dulu kita juga pernah duduk di tempat ini dan sekarang pun kita duduk di tempat yang sama namun dengan kondisi yang berbeda. Dulu kita masih bingung mau menyapa teman kanan kiri tapi sekarang kita sudah bisa menyapa teman kanan kiri kita. Ini merupakan perubahan kecil yang kita alami, kita dapat bersosial dengan baik. Dan masih banyak hal yang lain yang telah kita peroleh di Pondok tercinta ini” ujar Lutfah yang berdiri diatas mimbar.

KH. Najiburrahman Wahid selaku Wakil Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid juga ikut memberikan sambutan kepada siswa kelas akhir. Dalam sambutan beliau, beliau menyampaikan beberapa poin penting.

“Diadakannya kegiatan ini bukan tercipta dari inisiatif pesantren dan pesantren tidak bermaksud untuk mencegah atau melarang santri kelas akhir yang ingin boyong. Namun, kegiatan ini dilaksanakan akibat adanya masukan dari walisantri yang berkeinginan agar pesantren dapat mengkoordinir siswa kelas akhir yang kebanyakan mereka tidak memiliki aktifitas ketika kembali ke rumah masing masing (boyong). Keinginan walisantri adalah bagaimana siswa kelas akhir yang sudah melaksanakan UN masih mendapatkan perhatian khusus dari pesantren. Oleh karena itu, demi mewujudkan keinginan dari walisantri, maka dibentuklah kegiatan Orientasi Kelas Akhir (OSKAR) ini” dawuh beliau.

Tausiyah Pengasuh, KH. Moh. Zuhri Zaini

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini juga hadir dalam kegiatan ini. Beliau diminta untuk memberikan tausiyah kepada kelas akhir yang sebentar lagi akan melepas masa pendidikannya ditingkat siswa dan akan menghadapi jenjang pendidikan dan kehidupan yang lebih terjal.

Dalam kesempatan ini, beliau memberikan tausiyah kepada santri kelas akhir tingkat SLTA sebagai bekal untuk menghadapi dunia yang baru bahkan dunia yang berbeda dengan dunia di Pesantren. Dalam sambutan beliau, beliau mengingatkan sekaligus memberikan nasihat kepada santri kelas akhir untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan akhlakul karimah dan terus mencari ilmu serta mengamalkannya.

Bagi anak kelas akhir yang melanjutkan studi ke luar negeri beliau bernasihat untuk selalu menjaga iman karena pengaruh lingkungan berdampak besar terhadap keimanan. Jika diluar santri masih istiqomah, maka itu prestasi yang luar biasa.

Kegiatan ini diakhiri dengan doa yang dipimpin langsung oleh Pengasuh setelah beliau menyampaikan tausiyah beliau. (Q2/Red)

Persiapan menjelang Pelaksanaan Haul Pendiri dan Hari Lahir Pondok Pesantren Nurul Jadid ke 68th

nuruljadid.net –  Pelaksanaan Haul Pendiri dan Hari Lahir Pondok Pesantren Nurul Jadid akan digelar 9 hari lagi. Nampak para panitia sedang sibuk mempersiapkan acara besar pesantren. Semua lini bergerak berdasarkan JobDesc nya masing masing. Salah satunya adalah Bagian Keindahan dan Kebersihan (BKK), sejak seminggu yang lalu mereka sudah melaksanakan tugasnya. Dimulai dari pemotongan ranting pepohonan hingga membersihkan saluran air.

“sejak seminggu yang lalu kami telah melakukan beberapa pekerjaan. Minggu kemarin, kami telah membersihkan dan merapikan ranting pepohonan di jalur utama akses masuk pesantren (sepanjang jalan POS I sampai depan kantor Yayasan PP Nurul Jadid). Dan hari ini kami membersihkan di area depan pesantren serta disekitar dhalem pengasuh” ujar Raif selaku kepala BKK Pusat.

Pemotongan ranting di depan kantor pesantren pusat menjadi agenda BKK pada hari ini. Sejak tadi pagi, mereka sudah bergegas membersihkannya. Pemotongan ranting yang dianggap menganggu estetika telah mereka lakukan. Sebanyak 3 pohon ketapang di depan pesantren menjadi korban mereka hari ini (13/04).

Persiapan Menjelang Harlah

Tidak hanya bagian keindahan dan kebersihan saja yang bergerak. Beberapa bagian pun sudah melaksanakan tugasnya dengan maksimal. Pemasangan terop di beberapa titik telah dilakukan oleh bagian perlengkapan II yang berada dibawah komando Ust. Dimyati selaku ketua IV. Pemasangan terop yang telah selesai dilakukan adalah di dapur Harlah yang bertempat di Dhalem Barat (Dalbar).

Bagian akomodasi juga sedang melaksanakan tugasnya. Persiapan tempat pengiapan walisantri, P4NJ dan undangan VIP sudah menjadi agenda kerja mereka. Hari ini mereka melakukan pemasangan tenda untuk pos  keamanan  salah satunya bertempat di depan dhalem Pengasuh yang akan dijadikan sebagai akses masuk ke lokasi acara khusus untuk santri puteri.

Dibagian konsumsi, hari ini mereka sudah mulai beraktifitas. Barang barang yang sudah mereka beli akan difungsikan pada hari ini. Dapur harlah menjadi sasaran utama bagi panitia terutam bagi mereka yang berjulukan “beban berat , pekerja keras”. Pengadaan konsumsi bagi mereka yang sedang bekerja merupakan tugas utama mereka sebelum hari H kegiatan. Tak hanya itu, bagian konsumsi juga merupakan aktor penggerak suksesnya acara ini. Pasalnya mereka harus mempersiapkan hidangan yang istimewa bagi para tamu dan undangan.

Bagian pendanaan juga tak kalah saing. Penjemputan barang sudah dilakukan diberbagai dareah yang memiliki potensi sumber alam yang cukup. Salah satu contohnya di daerah Tiris yang dominan adalah sayur mayurnya. Juga termasuk di daerah Lumajang dan Situbondo yang siap menyumbangkan kelapa.

Dan masih banyak lini yang bergerak lainnya. Mereka nampak sangat antusias dan bekerja keras dalam mensukseskan acara ini. “kerja… kerja…. Kerja….” Slogan panitia menjelang pelaksanaan Haul Pendiri dan Hari Lahir Pondok Pesantren Nurul Jadid. (Q2/Red)

Aregaf FC, Sang Penakluk Tahta FC di Final LSNJ 2017

nuruljadid.net – Sore hari ini (11/04) nampak gerumunan santri memadati lapangan ayaman. Dengan sorak sorai mereka membuat atmosfer di lapangan menjadi semakin menggila. Teriakan dan yel yel terus disuarakan dengan lantang. Mereka membuat suasana yang hening menjadi pecah. Hari ini adalah sejarah dimana perlombaan sepak bola dalam rangka memperingati Haul Pendiri dan Hari Lahir Pondok Pesantren Nurul Jadid ke 68 di gelar.  Tim yang lolos dan akan bertanding memperebutkan “The Champion” adalah Tahta FC vs Aregaf FC.

“merinding dan deg degan rasanya. Ini perdana bagi Tahta FC bisa mencapai Final. Prestasi yang luar biasa dari PPIQ.” Ucap salah satu supporter PPIQ.

Dikatakan sejarah karena dalam perjalanannya (sepak bola) sangat sulit sekali untuk sampai di Laga Pamungkas yaitu Final. Oleh karena itu, antusias santri dalam rangka menyambut Final sangat besar. Mereka rela menunggu dan membiarkan aktifitas mereka hanya untuk menyaksikan laga ini.

Pertandingan yag krusial dan penuh dengan emosi digelar dengan tanda pluit dari wasit. Sorak soraipun terus mengembara di pertandingan ini. Teriakan yel yel untuk menyemangati pemain terus diucapkan terutama oleh supporter PPIQ yang pada pertandingan kali ini tim jagoan mereka berhasil masuk ke Partai Pamungkas ini. Tak kalah saing dengan supoter PPIQ, supporter Aregaf pun menyaut dari yel yel PPIQ. Nampak kedua supporter ini menginginkan kemenangan.

Alur Pertandingan

Kedua tim bermain dengan skuad tim utama dengan kostum kebanggaan mereka. Tahta FC dengan warna kostum biru langit dan Aregaf FC dengan kostum hitam. Mereka bermain dengan penuh semangat. Kobaran semangat dan terus berlari ditunjukkan para pemain. Permainan kerjasama tim dipertunjukkan oleh kedua tim. Namun pada pertandingan kali ini, Tahta FC lah yang mendominasi pertandingan. Bisa dikatakan 65 % ball possession dimiliki oleh Tahta FC.

Dengan formasi 3-3-3 Tahta FC menyusun serangan demi serangan. Namun pertahanan dari Aregaf FC sangat kuat, dinding pertahanan yang sulit ditembus menjadi PR bagi Qonk Qonk selaku pelatih dari Tahta FC. Meskipun melakukan permainan umpan satu dua, namun hal itu tidak menjadi permasalahan dari kubu Aregaf FC. Dengan mengandalkan 4 pemain belakang, gawang Aregaf dijamin aman.

Namun, suasana pecah, gemuruh penonton pecah ketika Gissel pemain bernomor punggung 17 dari tahta FC berhasil menyarangkan si kulit bundar kedalam gawang Aregaf FC. Gol ini dianggap gol terbaik sepanjang Liga. Gol cantik melesat ke pojok kiri gawang Aregaf FC dilesatkan saat tendangan bebas pada menit ke 15. Pelukan pemain diberikan kepada gissel sebagai ucapan selamat atas gol yang dilesatkannya. Kedudukan bertahan hingga pluit pertandingan babak pertama dibunyikan.

Kick off babak kedua dimulai 15 menit sejak pluit babak pertama dibunyikan. Pertandingan semakin panas, tahta FC masih memimpin dengan satu angka. Pada babak pertama Tahta FC yang mendominasi jalannya pertandingan namun tidak untuk babak kedua. Aregaf FC yang memiliki ambisi yang sangat tinggi  menunjukkan taringnya. Hal itu dibuktikan dengan tembakan jamrawi yang nyaris bersarang di gawang Tahta FC. Tahta FC memilih bertahan dibandingkan menyerang pada babak kedua. hal ini ditunjukkan dengan pertahanan berlapis yang distrategikan. Dengan mengandalkan dua jangkar berdiri kokoh dilini belakang, Wafiq dan Khotib.

Tapi sayang, dewi fortuna yang berpihak kepada Tahta FC berpaling kepada Aregaf FC dibabak kedua. bertubi tubi serangan yang dilancarkan membuat lapisan pertahanan tahta FC amburadul. Al hasil, jamrawi, striker kiri Aregaf FC berhasil merobek jala gawang Tahta FC. Kesedihan Nampak diwajah para pemain Tahta FC, namun semangat dari supporter tetap untuk mereka. Skor pun imbang, Tahta FC tak mau kalah, pergantian pemain mereka lakukan untuk menggobrak pertahanan Aregaf FC yang pada kedua bermain auto attack.

Beberapa menit sebelum pertandingan usai, pemain Aregaf FC bernomer punggung 7, rofiq berhasil menjadi pahlawan dalam pertandingan final ini. Dia berhasil membalikkan keadaan menjadi skor 2 – 1 untuk Aregaf FC. Sorak sorai pun kembali mencuat. Semangat berkobar. Naluri pemangsa semakin menjadi ditubuh Aregaf FC. Sejak gol kedua dilesatkan, Aregaf FC bermain full attack. Mereka hanya meninggalkan seorang bek saja di jantung pertahanan. Bermaksud untuk menambah gol, tendangan yang disertai dengan emosi dilesatkan, namun sayang bola melambung tinggi di mistar gawang Tahta FC.

Tak lama kemudian pluit panjang menandakan pertandingan final liga santri nurul jaded telah usai. Wasit Darsono mrniupkan pluit dengan keras. Para penonton bertepuk tangan. Suporter Aregaf FC memasuki lapangan untuk mengucapkan selamat kepada para pemain. Beda dengan tahta FC, mereka tersungkur sedih di lapangan. Wajah sedih nampak diwajah mereka. Saling bersalaman dilapangan mereka lakoni pertanda bahwa pertandingan ini adalah fair play. Akhirnya dewi fortuna benar benar berpaling ke Aregaf FC. Mereka berhasil bermain dengan hasil yang memuaskan.

Respon

Setelah pertandingan usai, banyak respon yang dilesatkan baik dari pemain maupun dari penonton.

“Aregaf FC kali ini menang secara keberuntungan. Boleh lah Aregaf FC menjadi juara tapi melihat pola permainan, Tahta FC lah juaranya” ujar penonton.

“Kalah menang sudah menjadi hokum dari pertandingan. Biarlah ini lah kemampuan kami, yang terpenting kami telah bermain dengan maksimal. Kami terima kekalahan ini dengan senang hati” ujar Dodik salah satu official tim Tahta FC.

Selamat kepada kedua kese belasan yang telah bermain indah dalam pertandingan kali ini. Kami harap ini bisa menjadi sebuah contoh kepada semuanya bahwa Liga Santri Nurul Jadid bisa mencapai titiknya yakni Final. (Q2/Red).

Nurul Jadid Ikut Menyemarakkan HARLAH NU ke 94 di Sidoarjo

nuruljadid.net –  Hari ini (09/04) dini hari, pengurus pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid nampak sibuk mempersiapkan dan mengkondisikan peserta rombongan ke Sidoarjo dalam rangka ikut menyemarakkan peringatan Harlah Nahdlatul Ulama’ (NU) ke 94. Nampak 2 bus polisi dan 2 mobil pribadi telah stand by di depan kantor pesantren pusat. Alat transportasi tersebut digunakan untuk mengangkut peserta rombongan. Tepat pada pukul 02.15 WIB rombongan dari Pondok Pesantren Nurul Jadid berangkat menuju tempat acara dengan pengawalan dari Polisi Resort (Polres) Probolinggo.

Suara dan lampu sirine mobil berdering mengawal rombongan dari Pondok Pesantren Nurul Jadid. Perjalanan dari Paiton menuju ke Stadion Delta Sidoarjo membutuhkan waktu 2 jam. Dan pada pukul 04.15 WIB rombongan Nurul Jadid tiba di Parkiran VIP. Sejenak melepas penat, rombongan melaksanakan shalat subuh disekitar lokasi acara.

Banner ucapan selamat harlah ke 94 NU terpajang disekitar lokasi stadion. Para jamaah pengajian akbar pun nampak mengenakan baju putih baik yang putera maupun puteri termasuk rombongan dari Nurul Jadid. Rombongan Nurul Jadid langsung memasuki acara karena dalam rundown acara, tepat pukul 05.30 WIB dilaksanakan shalawat bersama.

“Syukur alhamdulillah kita masih bisa hadir dan ikut menyemarakkan Harlah NU ke 94” ujar Jasri selaku ketua rombongan.

Acara dimulai pada pukul 05.30 WIB dengan diawali oleh pembacaan shalawat yang diiringi dengan hadrah yang berasal dari Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo. Pukul 06.30 WIB acara intipun dimulai. Kibaran bendera Nurul Jadid berkibar di tengah tengah jutaan jamaah istighosah. Bersanding dengan jamaah lainnya termasuk dari pondok sekitar, Zainul Hasan Genggong, Lirboyo, dan banyak lainnya.

Dalam acara ini, nampak KH. Abd. Hamid Wahid selaku Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid beserta istri beliau Ny. Hj. Khotijatul Qodriyah (Neng I’ah) berada di panggung VIP.

Acara ini berlangsung sejak pukul 05.30 – 10.30 WIB. Dan pada pukul 13.30 WIB rombongan Nurul Jadid tiba kembali di Pondok Pesantren Nurul Jadid. (Q2/Red)

Tim PSSNJ Melakoni Pertandingan Persahabatan dengan Jabung FC

nuruljadid.net – Sepak bola menjadi permainan yang hampir semua laki laki menyukainya. Kerjasama tim sangat diperlukan dalam permainan sepak bola ini untuk memperlihatkan permainan yang indah dan menghibur. Kemenangan adalah incaran dari semua tim.

Hari ini (07/04) Persatuan Sepak Bola Santri Nurul Jadid (PSSNJ) melakoni pertandingan persahabatan dengan Jabung FC. Tujuan dilaksananya pertandingan ini adalah hanya sebatas permainan untuk menjalin persahabatan sekaligus sebagai latihan pemanasan bagi tim PSSNJ untuk menghadapi Liga Santri Nasional 2017 yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi di Kota Probolinggo.

“Pertandingan ini hanya sebatas permainan saja, namun, kami jadikan ini sebagai pemanasan bagi PSSNJ tuk mempersiapkan diri melakoni pertandingan Liga Santri Nasional di Probolinggo nanti” ujar Darsono salah satu official Tim PSSNJ.

Pertandingan ini dilaksanakan dengan 2x pertandingan. Pertandingan pertama adalah TIM Junior PSSNJ atau TIM B PSSNJ dan tim yang kedua adalah TIM Senior PSSNJ atau TIM A PSSNJ. Pertandingan yang berlangsung pada sore hari ini disaksikan oleh masyarakat sekitar jabung terutama bagi anak anak kecil yang Gibol “Gila Bola”.

Tak hanya para pemain yang turun pada Liga Santri Nasional tahun kemarin di Banyuwangi, sosok yang menjadi sorotan publik pada pertandingan ini adalah pemain yang bernomor punggung 17 yang juga merupakan salah satu Gus di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Makki Maimun Wafi. Beliau yang salah satu hobinya adalah bermain sepak bola ikut mengambil posisi sebagai sayap kanan. Namun, beliau hanya bermain di Tim A PSSNJ.

“Ini merupakan sebuah dukungan besar dari salah satu Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk mengembangkan minat dan bakat santri yang hobinya bermain sepak bola. Kita harus mengapresiasinya dengan terus berusaha keras demi mencapai tujuan bersama” ujar salah satu Official Tim PSSNJ setelah pertandingan usai.

Permainan yang kasar dipertunjukkan oleh Jabung FC. Beberapa kali pemain PSSNJ terjatuh dan mengalami cidera. Sadar bahwa ini adalah pertandingan Fair Play. Setelah pertandingan selesai, kedua tim nampak tersenyum gembira dan saling memaafkan yang telah terjadi di Lapangan.

“Biasalah, namanya juga pertandingan dan levelnya masih belum berkelas. Sudah terbiasa mendapatkan perilaku ‘kasar’ seperti itu, untungnya anak anak sudah paham dengan karakter mereka dan lebih untungnya lagi ini adalah kali keempat kami bertanding dengan mereka” cakap Cak Darsono sambil tertawa.

Hasil pertandingan kali ini adalah

TIM B PSSNJ VS TIM B Jabung FC : 1 – 2

TIM A PSSNJ VS TIM A Jabung FC : 2 – 1

Dalam 4 kali pertemuan dan 8 kali pertandingan, Tim PSSNJ menorehkan hasil yang sangat memuaskan, pasalnya baru kali ini Tim PSSNJ harus mengakui kekuatan lawan. 7 kali menang dan 1 kali kalah history pertandingan Tim PSSNJ vs Jabung FC. (Q2/Red)

K. Imdad Robbani : Jadikanlah Al Qur’an Sebagai Pendamping yang Bisa Dijadikan Tuntunan Bagi Kita

nuruljadid.net – Pelantikan dan Lepas Pisah merupakan sebuah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Melepas dan melantik merupakan sebuah proses pembelajaran sekaligus pengkaderan dalam sebuah organisasi. Dimana didalamnya harus ada peremajaan atau pembaharuan dalam sebuah organisasi agar terdapat sebuah jenjang karir yang terstruktur. Dan itu merupakan sebuah hal yang lumrah dalam organisasi.

Pesantren yang salah satu fungsinya adalah pengkaderisasian terjadi di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Malam ini, Pengurus Mushalla Raudlatul Qur’an melakukan regenerasi yang bertujuan untuk memberikan nuansa baru dalam organisasinya. Proses Pelantikan dan Pelepasan pun menjadi rentetan agenda pada malam hari ini (06/04).

Kegiatan yang bertempat di Raudlatul Qur’an ini dihadiri oleh Wakil Kepala Biro Kepesantrenan, K. Imdad Robbani yang mewakili Kepala Biro Kepesantrenan, KH. Fahmi AHZ yang tidak bisa hadir pada acara ini. Dalam kesempatan ini beliau diminta untuk memberikan mauidatul hasanah bagi pengurus terlantik dan demisioner.

Pada awal mauidatul hasanah beliau, beliau menyampaikan bahwa orang yang belajar dan mengajar Al Qur’an itu adalah sebaik baiknya ummat Nabi Muhammad SAW. Beliau juga menyampaikan selamat kepada pengurus muta’allim yang telah diwisuda karena mereka telah melalui satu tahap yakni ta’allama dan akan menunjang tahap wa’allamah. Beliau juga berpesan kepada para muallim untuk tidak pernah jerah dalam belajar.

“Belajar adalah proses sepanjang hidup, jangan pernah berhenti mengejar dan jangan pernah sedikitpun merasa bahwa dengan wisuda ini saya sudah selesai belajar.” Dawuh beliau.

“Belajar Al Qur’an itu tiada batasnya. Karena Al Qur’an adalah firman Allah yang tiada batasnya. Bagi kalian yang telah diwisuda, ini adalah kulit terluar untuk membaca Al Qur’an. Jangan lupa, dibalik kulit tersebut masih ada sari pati yang isinya tentang kandungan firman Allah SWT yang masih harus dipelajari dan dipahami” tambah beliau.

Beliau menyampaikan bahwa tiada manusia yang mengerti dan paham tentang semua kandungan Al Qur’an. Belajar Al Qur’an adalah sesuatu sangat berharga. Oleh karenanya, tiada batas akhir untuk belajar Al Qur’an. Selain belajar memahami kandungan dari Al Qur’an, mengajarkan tentang cara membaca Al Qur’an dengan tartil adalah sebuah hal yang sangat mulia apalagi dengan tidak mengharapkan materi.

“Kita sudah satu tahap dalam belajar dan mengajar Al Qur’an. Pada zaman sekarang ini mengajar Al Qur’an merupakan sebuah sesuatu yang sangat amat berharga. Jika kita melihat di kota besar, maka orang yang mau mengajar dan belajar Al Qur’an masih membutuhkan materi. Berbeda dengan kondisi kita disini, tanpa materipun kita masih bisa mengajar dan belajar Al Qur’an. Oleh karena itu jangan berhenti menggali Al Qur’an. Kita harus tetap memiliki giroh untuk menggali Al Qur’an.” Dawuh beliau kepada semua hadirin pada acara pelantikan malam hari ini.

“Jadikanlah Al Qur’an sebagai pendamping yang bisa dijadikan tuntunan bagi kita untuk menjalani kehidupan, tapi jangan jadikan Al Qur’an sebagai pendamping sekunder. Jika kita memiliki cita cita yang tinggi, jadikanlah Al Qur’an sebagai pendamping kita. Jadikan Al Qur’an sebagai pijakan awal bagi kita untuk melangkah lebih lanjut.” Tambah beliau dalam tausiyahnya.

Secara global, ilmu terbagi dua bagian, ilmu fardu ‘ain dan kifayah. Contoh Ilmu fardu ‘ain (ilmu yang wajib diketahui oleh ummat islam) adalah sholat, puasa termasuk baca Al Qur’an. Apabila fardu ain sudah tuntas, maka kembangkan menjadi ilmu kifyah. Mendalami dan mngembangkan ilmu itu adalah ilmu fardu kifayah.

“Harapan kedepan adalah tidak lagi ada pandangan ideologis tentang pandangan ilmu (ilmu agama dan umum). Semua ilmu itu adalah ilmu Allah. Secara umum ilmu itu ada 2 yaitu ilmu fardu ‘ain dan kifayah. Ilmu fardu ‘ain adalah kewajiban seorang muslim dalam keseharian termasuk dalam membaca Al Qur’an. Mendalami dan mengembangkan ilmu itu adalah fardu kifayah. Jangan sampai semua itu terbalik. Jangan sampai kita pintar dalam hal sience tapi tidak sholat. Jangan sampai kita ahli fisika tapi tidak bisa membaca Al Qur’an” nasihat beliau kepada semuanya.

“Kalau ada orang yang tidak memiliki hubungan baik dengan Allah, dia akan cenderung lupa diri. Orang yang punya hubungan baik dengan allah maka dia akancenderung bisa mengontorol diri. Contohnya kita sering kali dipaksa untuk melakukan hal yang tidak kita inginkan oleh nafsu. Itu merupakan contoh dari kita tidak memiliki hubungan baik dengan Allah” Dawuh Beliau.

“Orang yang ingin curhat kepada Allah, maka dia akan Shalat. Orang yang rindu akan firman Allah, maka dia akan membaca Al Qur’an. Jika kita igin bermunajat kepada Allah maka sebaik baiknya bermunajat kepadaNya adalah ketika kita shalat. Karena dengan membaca Al Qur’an dalam shalat kita telah melakukan 2 hal tersebut (curhat dan rindu firman Allah). Janganlah puas hanya karena bisa membaca Al Qur’an saja, kita harus terus meningkatkannya”  Dawuh Beliau.

“Tanamkan pada diri kita masing masing, saya akan menjadi santri selamanya. Santri selamanya bermakna akan selalu mencari ilmu, akan selalu menjadi orang yang tidak pernah merasa sudah tahu yang akibatnya tidak belajar. Tapi saya akan menjadi orang yang selalu merasa tidak tahu sehingga saya akan terus belajar. Jadilah orang yang merasa tidak tahu sehingga ada rasa butuh dan ingin belajar” Dawuh Beliau.

Banyak hal yang tidak pernah kita sadari nilainya ketika kita di pondok. Oleh karena itu jangan meremehkan hal hal kecil ketika berada di Pondok karena sekecil apapun tugas kita pasti akan ada hikmahnya. Hikmah itu adalah sesuatu yang jalan bagi manfaatnya ilmu. Hal hal yang kecil itu merupakan sebuah proses pematangan diri kita sebagai manusia. santri, ummat islam dan ciptaanNya.

Semoga allah akan senantiasa menganugerahkan Al Qur’an kepada kita semuanya agar kita bisa mempelajari, memahami dan mengamalkannya. Kalimat tersebut menutup maudatul hasanah beliau. (Q2/Red)

KH. Najiburrohman Wahid : Jangan Merasa Terbebani Dengan Kegiatan Membaca Al Qur’an

nuruljadid.net – Pelaksanaan kegiatan besar Pondok Pesantren Nurul Jadid akan dilaksanakan 16 hari lagi. Peringatan Haul Pendiri dan Hari Lahir Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini merupakan salah satu dari kegiatan besar Pesantren yang dilaksanakan rutin tahunan. Dalam rangka mensukseskan acara tahunan ini, banyak cara yang dilakukan oleh pengurus pesantren. Contohnya adalah mengadakan Khotmil Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas.

Malam hari ini (06/04) Wakil Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Najiburrohman Wahid memberikan tausiyah kepada santri tentang kegiatan yang dilaksanakan oleh pengurus Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid yang bertempat di Masjid Jami’ Nurul Jadid.

Pada awal tausiyah beliau, beliau menyampaikan bahwa Khotmil Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas merupakan sebuah cara untuk bermunajat kepada Allah SWT agar Pondok Pesantren Nurul Jadid dan seluruh warganya (Dewan Pengasuh, Pengurus, Santri, Alumni dan Walisantri) senantiasa diberikan hidayah, pertolongan, kemudahan dalam menjalan tugas dan kesuksesan oleh Allah SWT. Selain itu tujuan dilaksanakannya kegiatan Khotmil Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas adalah dikhususkan untuk kesuksesan acara Haul Pendiri dan Harlah ke 68 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Kita boleh memohon kepada Allah agar hajat kita dikabulkan dengan perbuatan yang sholeh. Dan kegiatan ini adalah bentuk bermunajat kita kepadaNya dengan berharap Haul Pendiri dan Harlah berjalan dengan lancar dan barokah.” Dawuh Beliau.

Kegiatan Khotmil Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas sebanyak 6.800.000 kali merupakan sebuah tradisi Pesantren yang baik dan harus dipertahankan. Dalam tausiyah beliau, beliau berdawuh kepada santri untuk jangan terbebani dengan membaca Al Qur’an.

“Kita tidak selayaknya berberat hati untuk membaca Al Qur’an beserta fadilahnya. Karena dengan membacanya kita akan senantiasa bersemangat dan merasakan pertolongan Allah SWT.” Dawuh beliau selaku Wakil Kepala Pesantren.

“Hati manusia bisa berkarat, karat bisa hilang hingga bersih karena membaca Al Qur’an. Orang yang sibuk membaca Al Qur’an dan tidak sempat untuk berdoa kepada Allah SWT, maka Allah akan memberikan orang itu dengan pemberian yang terbaik tanpa harus diminta” Dawuh beliau dengan mengutip sebuah hadist.

Menghatamkan Al Qur’an merupakan salah satu ciri orang yang sholeh. Oleh karenanya beliau menganjurkan kepada santri untuk selalu menghatamkan Al Qur’an sekalipun sudah berkali kali hatam dalam membacanya. Banyak sekali contoh orang sholeh yang rajin dalam menghatamkan Al Qur’an. Ada yang menghatamkan dengan waktu bulanan, mingguan bahkan sampai harian. Seperti halnya dengan anjuran Nabi yang menganjurkan ummatnya untuk menghatamkan Al Qur’an.

“Jangan sampai santri yang mondok 3 tahun tidak pernah hatam membaca Al Qur’an. Karena satu huruf Al Qur’an bernilai 10 kebaikan (mengutip dari sebuah Hadits). Selain itu Al Qur’an juga sebagai obat dari penyakit dhohir dan batin.” Pesan beliau kepada santri.

Banyak sekali bukti tentang kemukjizatan Al Qur’an salah satu diantaranya adalah dalam pengobatan penyakit. Bahkan Al Qur’an telah digunakan oleh orang non muslim sebagai terapi untuk menyembuhkan orang sakit dengan cara mendengarkan Al Qur’an dengan penuh perhatian.

“Membaca Al Qur’an dengan mushaf dapat meringankan beban siksa orang tua dalam kubur (apabila orang tuanya non muslim). Al Qur’an dapat mengampuni dosa kedua orang tua dengan membaca Al Qur’an (apabila orang tuanya muslim). Terakhir, Al Qur’an dapat memberikan syafaat bagi mereka yang membacanya”. Dawuh Beliau dalam menjelaskan Fadilah membaca Al Qur’an dengan bersumber pada hadist.

“Semoga kita bersama dapat menjadi ahlul Qur’an. Setidaknya, kita dapat memahami Al Qur’an. Santri dianjurkan untuk menghatamkan Al Qur’an minimal sebulan sekali” Imbuh beliau.

Selain memberikan contoh fadilah dalam membaca Al Qur’an, beliau juga memberikan sebuah contoh dari fadilah membaca surat Al Ikhlas. Salah satu contohnya adalah jaminan masuk surga untuk mereka yang membacanya.

“Membaca 3x surat Al Ikhlas sama dengan sekali menghatamkan Al Qur’an. Tapi jangan sampai santri beranggapan bahwa hanya cukup dengan membaca Al Ikhlas sebanyak 3x maka sudah hatam membaca Al Qur’an. Santri harus tetap membaca keduanya” Dawuh Beliau.

“Kegiatan Khotmil Qur’an yang dilaksanakan pada malam ini merupakan sebuah pemanasan bagi kita bersama untuk mempersiapkan diri menghadapi Bulan Ramadhan” Dawuh Beliau sekaligus menjadi penutup dalan tausiyah beliau. (Zaky/Red).

680 kali Khotmil Al Qur’an dan 6.800.000 kali Pembacaan Surat Al Ikhlas Dalam Rangka Menyambut Haul Pendiri & Harlah PPNJ ke 68 Tahun.

nuruljadid.net – Beberapa persiapan telah dilakukan menjelang Peringatan Haul Pendiri dan Harlah Ke 68 Pondok Pesantren Nurul Jadid. Panitia yang selama ini telah bekerja keras untuk mensukseskan acara tahunan ini mendapatkan dukungan yang penuh dari pengurus pesantren. Terbukti dengan terlaksananya kegiatan Pembukaan Khotmil Al Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas yang dilaksanakan oleh Pengurus Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Acara Pembukaan Khotmil Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas ini merupakan bentuk antusias dari warga Nurul Jadid diluar kepanitiaan harlah ke 68 untuk mensukseskan dan menyemarakkan Acara Haul Pendiri dan Hari Lahir Pondok Pesantren Nurul Jadid ke 68 Tahun. Acara Khotmil Al Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas yang dilaksanakan malam hari ini (06/04) bertempat di masjid jami’ Nurul Jadid yang diikuti oleh semua santri Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Pada Kegiatan ini, KH. Najiburrohman Wahid selaku Wakil Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid membuka sekaligus memberikan tausiyah kepada santri. Dalam kesempatan ini, Beliau juga menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini.

“Khotmil Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas merupakan sebuah cara untuk bermunajat kepada Allah SWT agar Pondok Pesantren Nurul Jadid dan seluruh warganya (Dewan Pengasuh, Pengurus, Santri, Alumni dan Walisantri) senantiasa diberikan hidayah, pertolongan, kemudahan dalam menjalan tugas dan kesuksesan oleh Allah SWT. Selain itu tujuan dilaksanakannya kegiatan Khotmil Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas adalah dikhususkan untuk kesuksesan acara Haul Pendiri dan Harlah ke 68 Pondok Pesantren Nurul Jadid” Dawuh Beliau.

Beliau juga memberikan sedikit motivasi kepada santri Nurul Jadid tentang membiasakan diri untuk membaca Al Qur’an.

“Kita tidak selayaknya berberat hati untuk membaca Al Qur’an beserta fadilahnya. Karena dengan membacanya kita akan senantiasa bersemangat dan merasakan pertolongan Allah SWT.” Dawuh beliau selaku Wakil Kepala Pesantren.” Dawuh Beliau

“Hati manusia bisa berkarat, karat bisa hilang hingga bersih karena membaca Al Qur’an. Orang yang sibuk membaca Al Qur’an dan tidak sempat untuk berdoa kepada Allah SWT, maka Allah akan memberikan orang itu dengan pemberian yang terbaik tanpa harus diminta” Dawuh beliau dengan mengutip sebuah hadist.

Setelah beliau memberikan tausiyah kepada Santri Nurul Jadid, salah satu pengurus Biro Kepesantrenan, Ust. Moh. Badruddin Amin memberikan sedikit penjelasan sekaligus pembagian jumlah Khotmil Al Qur’an dan Pembacaan Surat Al Ikhlas di masing masing wilayah (putera dan puteri). Dalam kegiatan ini target yang telah ditentukan oleh Pengurus Pesantren untuk santri Nurul Jadid adalah Khotmil Al Qur’an sebanyak 680 kali dan Pembacaan Surat Al Ikhlas sebanyak 6.800.000 kali. Dengan klasifikasi sebagai berikut :

  1. Wilayah Putera : Khotmil Al Qur’an sebanyak 450 kali dan Pembacaan Surat Al Ikhlas sebanyak 1.700.000 kali
  2. Wilayah Puteri : Khotmil Al Qur’an sebanyak 230 kali dan Pembacaan Surat Al Ikhlas terbagi masing masing wilayah :
    1. Wilayah Az Zainiyah : 1.700.00 Kali
    2. Wilayah Al Hasyimiyah : 1.700.000 Kali
    3. Wilayah Fatimatuz Zahro : 340.000 Kali
    4. Wilayah Al Mawaddah : 340.000 Kali
    5. Wilayah Zaid bin Tsabit (K) : 340.000 Kali
    6. Wilayah Al Lathifiyah : 340.000 Kali
    7. Wilayah An Nafi’iyah : 340.000 Kali

Teknis pelaksanaan kegiatan ini dipasrahkan kepada masing masing wilayah dan waktu pelaksanaannya dimulai pada tanggal 06 s/d 20 April 2017. (Q2/Red)

Ucapan Terima Kasih Bapak Kapolres Probolinggo Kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid

nuruljadid.net – untuk yang kesekian kalinya Bapak Kapolres Probolinggo memijakkan kaki di Pondok Pesantren Nurul Jadid dengan tujuan bersilaturrahmi kepada segenap pengurus dan dewan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid. Namun, pada hari ini (03/04) nuansa silaturrahim sedikit berbeda. Kunjungan pada hari ini dikemas dengan adanya acara ceremonial. Sebelum Bapak Arman (Kapolres Probolinggo) hadir di Pondok Pesantren Nurul Jadid, nampak ajudannya telah mendatangi Ponpes terlebih dahulu untuk mempersiapkan acara ceremonial ini.

Acara ceremonial bertujuan sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid yang telah membantu Polres Probolinggo dalam menjalankan tugasnya sebagai tokoh abdi masyarakat dan negara yang bertugas memberikan suasana yang aman kepada masyarakat. Acara ini bertempat di Gedung Pascasarjana IAI Nurul Jadid dengan disambut langsung oleh Pengasuh, Dewan Pengasuh dan Pengurus Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tak hanya itu, silaturrahmi ini juga dihadiri oleh Rektor IAI Nurul Jadid (KH. Abd. Hamid Wahid), Ketua STT Nurul Jadid (KH. Najiburrahman Wahid) dan beberapa dosen STT Nurul Jadid.

Acara ceremonial ini dilaksanakan pada pukul 15.30 WIB bersamaan dengan dikomandoi oleh Master of Ceremony (MC). Dalam acara ceremonial ini, sambutan dari Pondok Pesantren Nurul Jadid disampaikan oleh Kepala Pesantren sekaligus Rektor IAI Nurul Jadid (KH. Abd Hamid Wahid). Dalam sambutan beliau, beliau menyampaikan terimakasih kepada Bapak Kapolres beserta jajaran kepolisian yang telah hadir pada acara kali ini.

“Semoga silaturrahim yang kita laksanakan pada sore ini menjadikan jalinan kerjasama yang lebih kuat lagi antara Polres Probolinggo dengan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Semoga silaturrahim kali ini dapat mempererat jalinan kerjasama yang selama ini terjadi dan kedepannya diharapkan akan semakin banyak hal untuk disinergikan terutama dalam kaitan amanah dan ketertiban masyarakat” Dawuh Beliau.

“Ini hanyalah sekedar ceremonial saja, diluar kegiatan ini sebenarnya sudah terjalin komunikasi dan kerjasama yang kuat antara Pondok Pesantren Nurul Jadid dengan Polisi Resort Probolinggo. Harapan kami adalah jajaran Polisi Resort Probolinggo agar dapat melakukan pembinaan kepada kami untuk mendorong terciptanya KAMTIBNAS. Semoga pertemuan kali ini dapat membawa berkah manfaat kepada bangsa dan negara khususnya dalam mendorong pembangunan melalui kemanan dan ketertiban masarakat.” dawuh beliau menutup sambutan dari perwakilan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Setelah sambutan dari Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid, Bapak AKP Arman Tasmara Syarifuddin menyampaikan sambutannya yang berisikan tentang antusiasnya masyarakat Probolinggo terhadap aplikasi Bromo Perkasa yang dibuat oleh Santri Nurul Jadid sekaligus Mahasiswa STT Nurul Jadid yang telah di launchingkan kurang lebih 2 bulan lamanya.

“Terimakasih kami ucapkan kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid yang telah mensuport aplikasi bromo perkasa yang sangat berguna bagi masyarakat banyak. Masyarakat sangat antusias dalam menyambut kehadiran aplikasi tersebut. Bukan hanya di kota probolinggo saja namun juga masyarakat indonseia, bahkan sampai diluar negeri, mereka sangat penasaran dengan aplikasi ini. Setelah kami sampaikan aplikasi ini di tingkat Jawa Timur, alhamdulillah aplikasi ini menjadi aplikasi yang terbaik. Dan rencananya akan kami menyampaikan aplikasi ini ke tingkat Nasional” ucap Bapak Arman selaku Kapolres Probolinggo.

“Aplikasi ini sangat berguna bagi masyarakat khususnya di Kabupaten Probolinggo. Setelah aplikasi ini di launchingkan, kami mendapat 1.000 pengaduan dari masyarakat. Sehingga mereka merasa lebih nyaman dan terayomi oleh kami. Sekali lagi kami ucapkan banyak terimakasih kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid yang telah membantu tugaas tugas kami. Dan harapan kami kedepannya akan terjalin kerjasama yang lebih baik lagi dalam berbagai aspek.” Cakap Bapak Kapolres menutup sambutan dari Jajaran Polisi Resort.

Setelah menyampaikan beberapa sambutan, acara inti pada perjumpaan kali ini adalah penandatanganan dari 2 perguruan Tinggi di Pondok Pesantren Nurul Jadid yakni IAI Nurul Jadid dan STT Nurul Jadid. Sekaligus pemberian cindera mata secara simbolis baik dari Pondok Pesantren Nurul Jadid maupun dari Pihak Kepolisian Probolinggo. Acara silaturrahim hari ini diakhiri dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini. (Q2/Red).

renungan

Renungan

Membaca bukan hanya suatu kebutuhan bagi setiap orang. Melainkan, membaca adalah suatu kewajiban bagi setiap orang terutama di kalangan santri. Kegiatan membaca ini tidak hanya di anjurkan dikalangan santri saja, akan tetapi kewajiban untuk membaca ini dianjurkan bagi seluruh umat islam sebagaimana ayat yang pertama kali diturunkan dalam kitab suci al-Qur’an yang berbunyi IQRO’ yang berarti “bacalah”.  Allah SWT memerintahkan kepada seluruh makhluknya untuk membaca, yang mana “membaca” ini memiliki artian luas dalam kehidupan kita. Kata membaca ini tidak hanya diartikan sebagai membaca kitab atau buku bacaan saja, akan tetapi dalam kata IQRO’ kita di perintahkan untuk membaca segala bentuk macam tulisan yang ada di muka bumi ini dengan menyebut nama tuhan-Mu. Dan kegiatan membaca ini diperbolehkan bagi kita semua selama kita semua tahu batasan yang kita baca. Dengan cara kita mengetahui buku bacaan yang kita baca selama buku bacaan itu sesuai dengan ajaran agama.

Buku bacaan yang dapat kita baca dapat berupa buku-buku islami seperti buku sejarah islam, buku fiqih. Buku bacaan yang di baca santri pun berbeda-beda karena perbedaan tingkat usia mereka, seperti buku yang di baca oleh anak SD berbeda dengan buku bacaan yang di baca oleh anak SMP dan begitu pula buku bacaan yang di baca oleh anak SMA berbeda dengan buku bacaan yang di baca oleh seorang Mahasiswa. Namun, dari adanya semua perbedaan itu, yang paling penting adalah kita semua tahu batasan buku yang kita baca. Secara khusus pada tahap pra kuliah (tahap belajar) di dalam masa tersebut janganlah kita menyibukkan diri dengan hal yang tak berguna seperti melakukan pemikiran-pemikiran dalam berfilsafat, masalah yang berat, dan juga masalah politik yang berada di sekitar kita, karena untuk memikirkan semua itu ada waktunya tersendiri bagi kita. Maka dari itu, untuk saat ini apa yang sedang kita pelajari di sekolah itulah yang perlu kita tekuni mulai saat ini. Tidak perlu kita mempelajari dan membaca buku-buku tambahan yang lain, yang belum saatnya kita baca. Jika pelajaran yang kita pelajari saat ini kita dalami, maka hasilnya pun akan memuaskan. Dan lagi jika kita bandingkan dengan orang-orang dahulu, mereka tetap dapat meraih impian yang mereka inginkan dengan semangat belajar yang mereka miliki meskipun fasilitas pada saat itu kurang mendukung, berbeda halnya dengan saat ini yang kita rasakan. Maka dari itu, kita semua wajib mencontoh akan semangat yang dimiliki oleh santri-santri yang telah lama mendahului kita. Dan lagi fasilitas yang kita milki saat ini harus bisa menjadi penunjang kesuksesan kita dalam belajar.

Melihat dari fenomena kurangnya minat baca santri saat ini, semua itu berawal dari kesadaran diri kita masing-masing. Coba kita perhatikan yang di maksud dengan santri itu adalah  apa dan bagaimana? santri itu adalah seorang pencari ilmu dan dalam mencari ilmu setiap santri membutuhkan yang namanya membaca. Dan lagi kegiatan membaca di kalangan santri ini seharusnya bisa dijadikan hobi. Karena membaca itu juga termasuk dalam kriteria pembuktian identitas santri, apabila ada seorang santri yang enggan membaca berarti bisa dikatakan dia itu bukanlah seorang santri. Apalagi bagi seorang guru, kegiatan membaca haruslah menjadi salah satu dari aktivitas rutin dalam kegiatan sehari-hari, karena guru inilah yang menjadi pedoman bagi santri-santrinya.

Sedangkan di era globalisasi yang sedang carut marut ini, banyak santri yang lebih memilih membeli komik, majalah dewasa dan lain sebagainya. Padahal buku bacaan seperti komik, majalah dewasa, dan lain sebagainya itu sangatlah tidak cocok di kalangan santri. Karena semua itu sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kita semua. Jika kita mengaca pada diri kita saat ini sangatlah pantas bagi kita untuk menyayangi diri kita sendiri, karena pada usia remaja saat ini sangatlah kritis, yang di maksud dengan kritis ini adalah jika seorang remaja seperti kita ini sudah terjerumus kepada hal negatif maka cara untuk memperbaikinya luar biasa sulit. Karena butuh perjuangan mati-matian bagi kita untuk dapat membuatnya kembali pulih seperti sedia kala, maka dari itu, bagi remaja yang belum terjerumus ke dalam hal negatif tersebut sebaiknya berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya.

Cara untuk mengatasi hal tersebut ialah dengan cara sering-seringlah kita mengunjungi perpustakaan, mengikuti kegiatan pengajian, dan memperbanyak kelompok untuk  diskusi bersama teman-teman yang lainnya. Kegiatan diskusi ini dapat berupa kumpul mandiri mendiskusikan mengenai pelajaran yang dapat membuat ketertarikan teman-teman kalian untuk ikut serta dalam membahas masalah tersebut. Hal yang di diskusikan dapat berupa pelajaran yang kita pelajari di sekolah tidak harus berupa masalah-masalah politik dan lain sebagainya. Karena dengan begitu otak kita tidak terpacu untuk memikirkan hal-hal berat seperti masalah politik dan lain sebagianya.

Mengutamakan kegiatan membaca sejak dini dapat menjadi salah satu dari banyak cara untuk menghindarkan kita dari terjerumusnya pada hal negatif. Kita sebagai seorang santri haruslah memaksimalkan kegiatan membaca, entah itu membaca kitab kuning ataupun buku, tentunya dari salah satu media tersebut haruslah menjadi kebutuhan pokok santri. Dan tidak hanya salah satu dari dua media tersebut (kitab kuning dan buku) yang dapat kita pilih, keduanya pun juga dapat kita jadikan kebutuhan, itu semua tergantung dari apa yang lebih kita butuhkan. Dalam hal memprioritaskan antara kitab kuning dan buku itu semua tergantung dari banyaknya hal contohnya seperti, jika sejak awal kita telah mendalami kitab kuning, maka tidak ada salahnya jika kita juga ikut turut belajar akan pelajaran umum seperti halnya pelajaran fisika, begitu pula sebaliknya. Karena saat ini semua pelajaran wajib untuk kita ketahui walupun hanya sebagian kecil saja seperti halnya saat ini kita tengah belajar bahasa arab maka tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan pelajaran bahasa inggris karena sekarang semuanya bersifat Opsional yang mana  semua itu bukanlah lagi suatu pilihan bagi kita semua, antara  memperdalam pelajaran bahasa arab ataupun pelajaran bahasa inggris. Karena kedua mata pelajaran tersebut sangatlah penting di kehidupan kita saat ini. Karena itulah patutlah bagi kita sebagai remaja penerus bangsa untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang tersedia bagi kita untuk bermain-main melainkan, kita semua harus dapat menggunakan waktu tersebut dengan semaksimal mungkin untuk belajar dengan tekun.

Santri itu adalah seorang pencari ilmu dan dalam mencari ilmu setiap santri membutuhkan yang namanya membaca.

Penulis : K. Imdad Robbani (Wakil Kepala Biro Kepesantrenan, Wakil Direktur LPBA dan Wakil Kepala Madrasah Diniyah Nurul Jadid)

Sumber : Majalah Iqro’ Edisi April 2017arti

PPDB MANJ

Penerimaan Peserta Didik Baru MANJ 2017-2018

Informasi Penerimaan Peserta Didik Baru Madrasah Aliyah Nurul Jadid Tahun Pelajaran 2017-2018

Debat Bulan Lomba 68

Adu IQ di Lomba Final Debat Bulan Lomba Harlah 68

nuruljadid.net – Harlah Pondok Pesantren akan digelar kurang lebih satu bulan lagi. 28 Lomba akan segera selesai. Hari ini (23/03) Panitia Bulan Lomba 68 menggelar pertandingan adu IQ dengan mengandalkan fakta dan data. Perlombaan kali ini adalah Debat yang diikuti oleh perwakilan dari 15 wilayah putera. Masing masing wilayah wajib mendelegasikan satu kelompok.

“Tujuan diadakannya lomba debat ini adalah untuk mengasah dan mengetahui kemampuan santri terhadap kejadian atau isu isu yang berkembang saat ini, baik itu isu internasional maupun nasional” ucap Ust. Horik Alamsyah selaku Ketua Bulan Lomba 68.

Pada malam hari ini (23/03) adalah lomba final debat yang tersisa 3 kelompok dengan masing masing dari Wilayah Unggulan, Wilayah Diniyah dan Wilayah Zaid bin Tsabit (K). Debat kali ini berbeda dengan debat debat sebelumnya. Jika sebelumnya mereka (masing masing peserta) diberikan tema beberapa hari sebelum pertandingan dimulai, untuk malam ini tema diberikan ketika mereka (peserta final debat) sudah berada diatas panggung dan diberikan case building (waktu sesaat) untuk mempersiapkan data.

“Debat kali ini tema tergantung juri dan diberikan ketika peserta debat sudah berada diatas panggung. Hal ini bertujuan untuk melatih pikiran mereka sejauh mana mereka mampu berfikir selain itu jug abermaksud untuk menguji kesiapan mereka dalam mengikuti loma debat kali ini. Karena lomba pada malam hari ini adalah Final, maka semuanya haris berbeda dengan sebelumnya. Harus lebih extreme lagi” cakap Ust. Salman Al Farisi selaku salah satu juri debat final malam ini.

Adapun tema yang diberikan juri pada lomba final debat kali ini adalah sebagai berikut :

  1. Pancasila sudah tidak sakti lagi
  2. Feminisme telah runtuh
  3. Sosial media penyebab rusaknya sosial generasi muda
  4. Koruptor hukum mati

Debat yang dimulai pada pukul 20.30  WIB pada awalnya ini berjalan dengan alot sehingga beberapa argument mereka dapat dimentahkan dan terkadang masih jauh dari tema yang telah ditentukan. Namun setelah pertandingan awal selesai, juri memberikan arahan bagaimana mereka seharusnya memberikan argument dan membawa argument mereka. Sehingga pada pertandingan kedua mereka lebih baik lagi dalam ber-argument.

Tema tentang “Koruptor Hukum Mati” adalah tema terakhir pada lomba debat kali ini yang akan memperebutkan juara 1. Kali ini terdapat 2 kandidat yang akan adu argument. Delegasi dari Wilayah Unggulan berhadapan dengan delegasi Wilayah Diniyah. Diakhir pertandingan ini, Unggulan yang berada pada posisi Pro sedangkan Dinyah berada pada posisi Kontra.

“Mereka sudah bermain dengan bagus, namun kesalahan mereka adalah mereka terlalu terbawa emosi dengan pernyataan dari pihak lawan, sehingga pada waktu mereka menyampaikan argument, mereka hanya menentang atas apa yang menjadi pernyataan lawan dengan tanpa adanya penguatan fakta dan data dari masing masing pihak baik pro maupun kontra.” Ujara Zaky selaku juri ke 2 pada lomba final debat,

Akibat itu, juri memberikan 1 pertanyaan pada masing masing delegasi untuk memperkuat data mereka sesuai dengan posisi mereka dalam perdebatan. Dan akhirnya dengan beberapa pertimbangan, juri memutuskan Unggulan lah yang berhak mendapatkan Juara 1 lomba debat kali ini. Dengan alasan Delegasi Unggulan dapat menjawab pertanyaan dewan juri dengan bagus. (Q2/Red)

Lomba Pidato : Dakwah Santri Di Pondok Pesantren

nuruljadid.net – Bulan Lomba dalam rangka memperingati Haul Pendiri dan Harlah ke 68 Pondok Pesantren Nurul Jadid sudah mencapai puncak, pasalnya sudah banyak lomba yang terlaksana. Dan hari ini (20/03) lomba yang diselenggarakan oleh panitia adalah Lomba Pidato Campuran (Bahasa Indonesia dan Madura).

Peserta lomba yang merupakan delegasi dari masing masing wilayah dan banom memberikan penampilan yang terbaik. Selain untuk menyemarakkan  peingatan Haul Pendiri dan Harlah ke 68, mereka juga membawa nama wilayah di pundak mereka. Mereka yang tampil adalah santri yang dianggap mampu untuk membanggakan wilayahnya masing masing.

“Semua peserta lomba memiliki penampilan yang menarik, intonasi dan improvisasi kata sudah banyak mereka kuasai. Sangat bingung untuk menentukan siapa pemenang lomba kali ini” ujar salah satu juri pada lomba tersebut.

Dengan berpenampilan sesuai dengan tema yang mereka sampaikan, mereka (peserta) memberikan sebuah candaan dengan menggunakan bahasa Madura yang bertujuan untuk menghibur dan menyapa penonton. Banyak cara yang mereka lakukan, ada yang menggunakan pantun, ada pula yang menyanyikan lagu dan ada juga yang mengutip dari perkataan tokoh tokoh besar nasional maupun internasional.

“Lomba ini merupakan salah satu cara santri untuk mengemukakan pendapat mereka tentang apa yang terjadi pada dunia pada saat ini dengan berpandangan pada islam. Sehingga mereka berpendapat tidak hanya dengan berdasarkan fakta dan realita, mereka berpendapat dengan mengutip beberapa ayat Al Qur’an dan hadist serta isi kajian kitab. Ini sebuah prestasi yang gemilang dan harus dikembangkan” ujar Ust. Khorik selaku ketua Bulan Lomba 68.

Persaingan ketat yang mereka rasakan memberikan dampak yang positif bagi santri lainnya. Pasalnya dalam perlombaan kali ini ada dua klasifikasi yakni tingkat SLTA dan SLTP. Dalam pelaksanannya, tak jarang peserta SLTP mengalahkan peserta dari SLTA. Contohnya saudara Arif dari Asrama Sunan Gunug Jati (A). Dengan mengenakan gamis putih dan sorban hijau yang melingkar dikepalanya mengalahkan peserta dari tingkat SLTA. Improvisasi dan intonasi disampaikan dengan menggelegar dan semangat walaupun dengan mengenakan bahasa Madura dia masih bisa mampu membuat suasana menjadi penuh tawa. Tak hanya itu, penyampaian referensi juga dapat dikatakan sudah setara dengan peserta tingkat SLTA.

Namun, peserta tingkat SLTA pun tak mau kalah, dengan menjaga image, mereka juga menyampaikan cara berpidato dengan benar dan dapat menarik perhatian penonton. Persaingan antar level juga terjadi pada lomba kali ini. Namun hak preogatif dimiliki oleh dewan juri. Pada loma kali ini dari 15 peserta akan diambil 3 pemenang dimasing masing tingkatan. Juara 1, 2 dan 3 tingkat SLTA dan SLTP. Semoga dengan adanya perlombaan ini dan lomba yang lain kualitas dan kuantitas santri Nurul Jadid dapat berkembang dengan up to date sehingga mereka bisa melihat kondisi islam dan duni pada zaman kali ini. (Q2/Red)

Politik

Agama Dan Hegemoni Politik Kebenaran

Manusia sebagai mahluk Allah  yang mempunyai keistimewaan berupa akal, selalu mengalami perkembangan dalam menghadapi dinamika kehidupan. Keistimawan itu adalah dimana manusia diciptakan oleh Allah sebagai hamba yang harus taat dan patuh terhadap takdir dan ketentuntuanNya. Untuk itu, menuju hamba yang bijaksana, seyogyanya harus terdorong dari sikap keagamaannya. prilaku keagamaan yang baik akan menciptakan sikap yang bernilai. Disamping itu pula, manusia diberi beban tanggung jawab untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dimana, manusia harus bertanggung jawab terhadap kenyamanan, ketentraman dan keselamatan ciptaan Allah di muka bumi. Keyakinan terhadap status manusia  ini yang akan diterpancarkan bagi manusia yang beragama. Tanpa keyakinan terhadap agama, tidak akan termanifestasikan keyakinan dalam prilaku kesehariannya. Karena, kepercayaan terhadap agama akan melahirkan prilaku penghambaan. Dengan bergama pula, seseorang akan melakukan dinamisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang terarah.

Seringkali orang mengartikan bahwa agama itu semata-mata hanyalah satu sistem peribadatan antara mahluk dan Tuhan Yang Maha Esa saja. Defenisi ini sangatlah sempit dan memberi batas bagi keberadaan agama untuk ikut andil dalam menganalisis terhadap persoalan sosial, ekonomi dan politik. Dalam sejarahya, agama hadir berperan sebagai alat dalam mengoreksi politik yang menyimpang dari tujuan mulianya, mensejahterakan rakyat dan politik membangkitkan kesadaran manusia beragama agar tidak terbuai dalam otokritik menggunakan ajaran agama dengan membabi buta.

Meski agama sangat dibutuhkan dalam kancah perpolitikan bangsa, dengan harapan agar tidak menciderai demokrasi, juga perlu menjaga agar agama tidak terkooptasi dan disubordinasi. Karena jika agama terkooptasi oleh politik negara, maka agama akan menjadi alat kekuasaan penguasa akhirnya agama menjadi candu. Nilai kritis agama menjadi sirna ditengah kondisi perpolitikan bangsa yang semakin liar. Keserakahan tokoh agama juga para pemeluk agama dalam mengartikuasikan agama, sehingga agama kehingan identitas sebagai institusi mengawal kebearan dan keadilan. Agamapun akan menjadi bisu disaat ketimpangan sosial, ketidak adilan manusia di depan hukum meraja rela.

Agama sebagai institusi dalam masyarakat harus lantang menyuarakan segala ketimpangan-ketimpangan, agar hakikat sejati perpolitikan dalam politik tetap terjaga. Hubungan agama dan politik bagai sisi mata uang yang tak terpisahkan. Politik tanpa agama akan melakukan penyimpangan-penyimpangan, sebaliknya agama tanpa politik akan berjalan ditempat dan akan lambat dalam menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan. Ditengah negara demokrasi saat ini, seyogyanya agama., politi dan demokrasi harus berjalan beriringan agar tercipta neara yang damai dan berkeadilan.

Agama dan Politik Kebenaran

Kebenaran dalam koneks politik sesuatu yang absurd. Artinya kebenaran dalam politik itu sangat musykil untuk di ukur objektifitasnya. Hal ini terjadi karena nalar politik yang memproduksi cenderung bersifat relativistik. Dalam politik mencari kebenaran bukanlah yang penting dan sama sekali bukan tujuan. Yang perlu dalam politik adalah bagaimana menguasai kebenaran, tentu akan mempermudah para politisi memenangkan kepentingan politiknya.

Agama sebagai suatu nilai kebenaran dan kemanusiaan, harus ditempatkan dalam sistem negara yang mengutamakan harmoni. Tanpa adanya ruang agama dalam sistem negara maka akan menghasilkan negara sekuler dan tercipta kesenjangan antara sesama. Proses dalam berdemokrasi, bukanlah kebebasan tanpa nilai, Bagaimanapun agama harus dijadikan panutan tertinggi dalam berpolitik dan berdemokrasi. Meski, tanpa menghalangi kebebesan bereksperesi, yang sesuai dengan norma agama yang menjadi ideologi bangsa.

Dalam sebagian sejarah, bahwa politik terlahir dari pemikiran agama agar tercipta kehidupan yang harmoni dan tentram dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini harus tercipta bahwa segala aktifitas manusia dalam kehidupannya tidak terkecuali politik hatus terdorong dari ajaran agama agar terwujud keadilan, keharmonisan dan kesejahteraan menyeluruh. Jika politik terutus dari agama, akan menghasilkan keserakahan dan ketidak adilan dalam menciptakan masyarakat.

Agama Sebagai Ayam Potong

Istilah agama sebagai “ayam potong” tepat segali digunakan untuk membaca fenomena agama saat ini. Agama dipotong-potong sebagai hidangan bagi pemangku kepentingan, tak ayal sebagian pesantren seringkali menjadi objek wisata bagi politisi pada saat menjelang pemilu.

Disamping itu juga, prilaku keagamaan saat ini sulit sekali untuk di pisahkan dengan kepentingan politik, menjadi kurang elok jika gerakan keagamaan tertunggangi oleh politisi demi mensukseskan kepentingan poitiknya.

Fatwa yang bernuansa agama sangatlah gampang dijadikan sebagai penguat kekuasaannya. Dulu, pada era Presiden Gusdur, istilah bughat pernah dikeluarkan untuk melawan para musuh politiknya. MUI pernah mengeluarkan fatwa haram bagi para golput dalam pemilu, dan akhir-akhirnya gerakan-gerakan bela agama, bela islam bahkan bela politik tertentu, seringkali memasukkan dalih agama.

Terkadang agama menjadi alat komoditi dalam melakukan penyimpangan-penyimpangan. Demokrasi yang disalah artikan akan melahirkan permusuhan dan ketidak stabilan dalam berbangsa dan benegara. Bisa dilihat di negara kita akhir-akhir ini, menjadi tidak karuan pada saat agama dipisahkan dari negara juga agama tidak menjadi ukuran dalam berdemokrasi. Kebebasan terkadang menjadi defenisi tunggal kata demokrasi, sehingga banyak orang melakukan prilaku yang jauh dari nilai pancasila seringkali dilakukan.

Ditengah keberagamaan masyarakat arab yang tak terarah, rasulullah berhasil membuat umat tidak terpecah belah, dengan sikap dan gagasan keummatannya Rasulullah mampu menghadirkan suasana sejuk damai di tengah perbedaan. Menghadapi kaum jahiliyah yang buta pengetahuan agama, rasulullah tidak menjadikan dirinya seagai tokoh antagonis yang bertindak tanpa memperhatikan kondisi sosial kemasyarakatan. Justru dengan gerakan rasulullah ini, Islam mampu menjadi agama penyejuk, pembeda menuju kesejahteran bagi alam semesta. Sprit rasulullah dalam melaksanakan politiknya tidak keluar dari nilai-nilai agama yang menjadi ajarannya. Wallahu’alam

Penulis : Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid dan Anggota Comics (Community of Critical Social Research) Probolinggo)

Santri Nurul Jadid Berfoto Bersama Kapolres Probolinggo

Santri Nurul Jadid Ikut Menyemarakkan Kegiatan Olahraga Sehat oleh Polres Probolinggo

nuruljadid.net – Pada tanggal 08 Februari 2017 lalu, bapak kapolres Probolinggo, Bapak Arman Asmara Syarifuddin berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam rangka menjalin silaturrahim dengan Pengasuh dan jajaran pengasuh. Hari ini, lagi dan lagi Bapak Arman Asmara Syarifuddin menjalin silaturrahim dengan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Jika beberapa waktu yang lalu bertempat di Pondok Pesantren Nurul Jadid namun kali ini berbeda, melainkan bertempat di Lapangan PJB Paiton.

Undangan yang diperuntukkan untuk 40 santri Pondok Pesantren Nurul Jadid ini bertujuan untuk bersilaturrahim dengan beberapa elemen masyarakat dan pemerintah diantaranya adalah Anggota TNI dan POLRI, dewan guru se Paiton, Pondok Pesantren di sekitar wilayah Paiton dan organisasi masyarakat yang lainnya. Acara yang diawali dengan jalan jalan sehat ini dimulai pada pukul 06.00 WIB. Yang dilanjutkan dengan senam sehat dan pengundian doorprize. Acara yang diselenggarakan oleh Polres Probolinggo yang bekerjasama dengan PJB, YTL, JM PLTU Paiton dan Polsek Paiton ini dimeriahkan dengan banyaknya undangan yang hadir termasuk santri Pondok Pesantren Nurul Jadid didalamnya.

“Kegiatan ini terselenggara dengan adanya dukungan bersama. Kegiatan ini juga bisa menyehatkan kita bersama dengan olahraga yang dapat memupuk kesehatan sehingga dengan badan sehat aktifitas kita tidak terganggu” ujar Bapak Kapolres Probolinggo dalam sambutannya.

“Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan utuk memupuk kekompakan dalam bersinergi dalam segi sosial dan jajaran pemerintahan, masyarakat dan Pondok Pesantren” tambah Kapolres Probolinggo tersebut.

Kegiatan yang bertema “Bersama Kita memperkuat Persatuan Kesatuan dan Kebinekeaan Guna Mewujudkan Situasi Kamtibnas Yang Aman dan Intensif” berakhir pada pukul 09.00 WIB dengan acara terkahir adalah pembagian hadiah doorprize. Dan alhamdulillah santri Pondok Pesantren Nurul Jadid mendapatkan 7 hadiah dari hadiah yang disediakan, diantara hadiah yang didapat adalah Seterika, Jam dinding dan kipas angin.

“Alhamdulillah walaupun hanya 7 hadiah yang berhasil didapatkan kita masih senang dan bersyukur. Sebab selain mendapat hadiah kita juga dapat mengikuti senam bersama masyarakat dan polisi. Dan yang terpenting kita mendapatkan hadiahnya dengan gratis.” Ucap salah satu santri Nurul Jadid dengan menggunakan bahasa madura yang disertai dengan canda tawa.

Harapan demi harapan dilontarkan oleh beberapa peserta kegiatan ini. Salah satunya adalah dengan adanya kegiatan in idiharapkan silaturrahmi semakin erat dan dapat memupuk tali persaudaraan terutama dengan masyarakat dan Pondok Pesantren. (Q2/Red)