Pos

Arahan dan Harapan Kepala Pesantren Kepada PPIQ Kedepan

nuruljadid.net – Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid juga ikut menghadiri acara wisuda ke xviii dan penobatan bintang yang dilaksanakan oleh pusat pendidikan ilmu Al Qur’an (PPIQ) Putri yang dilaksanakan pada malam ini (13/05). Dalam kesempatan ini, beliau diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan, arahan dan harapan harapan kepada semuanya baik kepada wisudawati maupun walisantri. Sesuai dengan keinginan dari Ny. Hj. Nurdiana Kholidah (direktur PPIQ Putri) pada sambutan sebelumnya.

“Acara ini merupakan rutinitas yang berlangsung tiap tahun yang dilaksanakan oleh PPIQ namun demikian rutinitas ini mengandung arti dan makna bahwa PPIQ sebagai lembaga Al Qur’an masih tetap hidup bergeliat dan berkembang. Dan semoga dengan wisuda yang dilaksanakan pada malam ini perkembangan PPIQ menjadi lebih baik dan berkualiltas daripada tahun tahun sebelumnya yang ditandai dengan adanya wisuda ini” tutur beliau.

Dalam kesempatan yang telah diberikan, beliau memberikan arahan dan harapan harapan kepada PPIQ dan para wisudawati

“Pertama, kedepan kita harapkan PPIQ mampu menjadi pelita, bukan hanya hidup untuk dirinya tetapi mampu membawa dan mewarnai pesantren ini dengan ruh Al Qur’an dan semangat untuk membaca, mempelajari, mengkaji dan menghayati Al Qur’an dalam kehidupan sehari hari. Barangkali fungsi ini yang kita tunggu tunggu dan harapakan di pesantren. Bagaimana bukan hanya sekedar warga PPIQ saja yang merasakan sejuknya serta manisnya Al Qur’an tetapi seluruh warga Nurul Jadid juga dapat merasakannya. Bahkan lebih jauh ini juga bisa menjadi dorongan agar masyarakat terdekekat dan lebih jauh dan seterusnya juga tertular untuk merasakan manisnya Al Qur’an didalam hati sanubari mereka” dawuh beliau.

“Kedua, kepada PPIQ saya sampaikan harapan agar didalam proses pembenahan dalam pesantren ini kita dapat melaksanakan pembenahan yang ada sesuai dengan apa yang telah kita sepakati sehingga nantinya dari segi kualitas dan kuantitas orang orang yang terlibat didalam lembaga ini bisa berkembang dari segi kuantitas dan bisa lebih baik dari segi kualitas” tambah beliau.

Beberapa bulan terakhir, pesantren yang mengalami pembenahan telah memberikan banyak perubahan yang cukup signifikan di pesantren. Pola kegiatan yang penjadwalan dan standarisasinya telah tekonsep dengan matang  dan harapannya akan berjalan dengan baik sehingga waktu yang disediakan dapat menjadi waktu yang bermanfaat bagi lembaga dan warga PPIQ.

“Kita sudah menyepakai bahwa untuk kegiatan madin terintegrasi dengan sistem diniyah di pesantren. Yang mulai tahun ajaran baru nanti dilaksanakan dipagi hari dari pukul 07.30 – 09.00 WIB. Sebelum jam 09.00 – 15.30 WIB melaksanakan pendidikan formal. Harapan kita bahwa kajian kajian keagamaan didalamnya termasuk PPIQ yang ada nilai plus kajian Al Qur’an dan tafsir mendapat waktu dimana waktu itu masih segar. Dengan demikian, di waktu pagi kita bisa mendapatkan ilmu yang lebih baik karena kondisi kita masih segar. Kemudian di waktu malam itu dapat penuh dimanfaatkan untuk belajar menghafal dan lain laian yang dilakukan secara rpibadi oleh siswa sekalian” tutur beliau.

Memberikan ucapan selamat dan sukses kepada wisudawati dan lembaga tak lupa beliau sampaikan dalam sambutannya. Ucapan dua selamat yang disampaikan beliau menjadi point penting yang harus diingat dan dilaksanakan oleh wisudawati.

“Selanjutnya, ijinkan saya menyampaikan selamat kepada wisudawati baik tahsin dan tahfidz serta diniyah. Selamat  yang pertama karena kita sudah sampai pada satu jenjang dan satu tahap dari perjalan kita dalam memperdalam dan memplajari Al Quran. Selamat kedua karena kita sudah terpilih dan terpanggil. Dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi orang orang pilihan yang masuk jalur mulia dan surga. Insya Allah isyarat isyarat yang diberikan oleh hadist akan memotivasi kita untuk terus mendalami Al Qur’an. Hadist yang berisikan tentang posisi kemuliaan yang akan diberikan oleh orang yang mendalami Al Qur’an. Bahkan dalam sebuah hadist, orang yang mepelajari dan mendalami Al Qur’an akan disesjajarkan dengan risalah kerasulan. Hanya bedanya dengan rosul, kita  tidak menerima wahyu, atau misalnya akan bersama dan ditemani dg para malaikat” dawuh beliau.

“Ini adalah posisi mulia yang dijanjikan oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat nanti. Saya kira ini adalah sesuatu kondisi dan posisi yang patut untuk kita syukuri dan berterima kasih untuk keterpilihan ini. Rasa syukur itu perlu diwujudkan dalam langkah kita untuk selalu memelihara dan mengembangkan semangat kita agar kita selalu berada di jalur ini” tambah beliau melanjutkan sambutannya.

Jadi, sebetulnya tidak sia sia perjuangan kita. Saya mendengar informasi dari segi pengelolaan waktu, saudara saudari yang belajar Al Qur’an ini lebih berat daripada hanya mondok. Ada banyak waktu yang perlu ditata bahkan sampai malam juga menghafal dan mengkaji Al Qur’an. Saya kira pengorbanan dalam  penataan waktu kita, berjuang adalah sesuatu yang tidak sia sia bila dikaitkan dengan nilai dan jaminan yang akan kita peroleh. Karena itu marilah kita kuatkan tekad dan niat kita karena Allah kedepan untuk semakin menekuni dan semakin melanjutkan perjalanan kita didalam memperlajari, mengkaji, menghafal dan selanjutnya mengamalkan Al Qur’an didalam kehidupan kita dan menularkannya kepada orang lain, masyarakat, lingkungan dan kepada bangsa ini.

Semoga orang tua wali siswa juga ada dalam langkah yang sama. Mendorong dan memberikan dukungan agar putra/i nya menjadi orang yang beruntung dan mulia disisi Allah dan berpeluang menjadi orang orang terpilih didunia maupun diakhirat nanti. Semoga wisuda malam ini dapat menjadi tonggak batu loncatan untuk melangkah kelangkah langkah selanjutnya.

Wisuda itu bukanlah akhir dari perjalanan tetapi dia adalah pintu masuk untuk menuju kedalam dunia Al Qur’an yang lebih luas dan lebih indah.

Sekali lagi semoga apa yang kita laksanakan ini dapat membawa keberkahan untuk kita semua. Wisudawati keluarganya dan pesantren karena mendapat barokah dari Al Qur’an yang mulia dan bahkan nanti kita berharap kita bisa mendapat syafaat dari Al Qur’an yang mulia. (Q2/Red)

Sumber : Sambutan Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid pada acara Wisuda XVIII dan Penobatan bintang PPIQ Puteri.

Ny. Hj. Nurdiana Kholidah; Direktur PPIQ Putri Mengucapan Selamat dan Motivasi dari

nuruljadid.net – Malam hari ini (13/05) merupakan malam yang istimewa bagi para wisudawati Tahsinul Qiro’ah dan Tahfidzul Qur’an. Prosesi pengukuhan yang akan dilangsungkan, disaksikan oleh banyak pihak baik dari pihak pesantren maupun dari para walisantri yang putrinya akan diwisuda malam hari ini.

Ny. Hj. Nurdiana Kholidah selaku Direktur Pusat Pendidikan Ilmu Al Qur’an (PPIQ) Putri memberikan sepatah kata untuk para wisudawati. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa akan ada format dan bentuk baru yang akan diselenggarakan PPIQ pada tahun ajaran berikutnya. Dengan adanya program pesantren yang diselenggarakan dengan bentuk sinkronisasi sistem pendidikan yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Saya yakin muatan yang akan didapatkan nantinya tidak akan merubah sedikitpun konten yang akan kita terima yang sudah kita ajarkan didalam madrasatul qur’an” dawuh beliau.

Dalam sambutannya, beliau mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawati yang malam ini telah berhasil meyelesaikan pendidikannya di Madrasatul Qur’an dan PPIQ. Harapan harapan juga ikut serta dalam sambutan beliau.

“Harapan kami, ini bukanlah akhir segalanya tapi ini merupakan awal dari apa yang telah adik adik capai. Mudah mudahan minimal 20% bahkan sampai 100 % lulusan dari Tahsinul Qiro’ah bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi yaitu Tahfidzul Quran” ujar beliau.

“Harapan ini bukanlah omong kosong, tapi harapan ini adalah harapan kita semua mudah mudahan cita cita kita untuk menjadi Ahlullah dan Ahlul Quran ditopang dan diniatkan dengan sebaik baiknya dengan kesungguhan hati untuk melanjutkan ke level yang lebih tinggi dari Tahsinul Qiroah yang malam ini diwisuda hanya juz 30 saja. Mudah mudahan tahun depan bisa meningkat lagi mulai dari 5 juz, 20 juz, 25 juz bahakan sampai 30 juz. Harapan kami dari PPIQ adalah menghantarkan adik adik untuk menjadi Hamilul Quran bukan hanya sekedar Hafidzoh Quran” tambah beliau.

Kesempatan kali ini, beliau memberikan sebuah motivasi yang berdasarkan kenyataan yang ada melihat dari lulusan PPIQ yang sudah berkiprah besar di masyarakat. Salah satu contohnya adalah saudari Farida yang berasal dari Batam yang juga merupakan salah satu alumni PPIQ angkatan pertama yang telah berhasil menjadi lulusan yang sudah tak diragukan lagi kiprahnya bagi masyrakat.

Ananda Farida juga merupakan peserta didik PPIQ angkatan pertama yang murni diluluskan oleh PPIQ. Yang setelah dari PPIQ dia melanjutkan study nya di Institut Ilmu Al Quran di Jakarta mendapat ridho dari Allah dan diberi peluang untuk mengikuti lomba lomba yang levelnya mulai dari nasional bahkan sampai internasional.

“Sampai hari ini, alhamdulillah Ananda Farida masih dipercaya di Batam untuk terus mengelola dan menjadi pembimbing dibidang tahfidz di Provinsi Batam dan terus mengikuti even lomba baik di tingkat Nasional dan Internasional” tutur beliau.

“Itu merupakan kebanggaan bagi kami, mudah mudahan cerita tersebut dapat menjadi pemacu dan pemicu untuk adik adik yang diwisuda sekarang agar tetap semangat dalam melanjutkan hafalan sampai akhirnya bisa mencapai 30 juz. Sekalipun kalian sudah diwisuda 30 juz namun itu bukanlah akhir dari segalanya, itu merupakan awal dari segalanya untuk terus bersama sama Al Quran sampai kita di akhirat nanti. Mudah mudahan Al Quran menjadi teman kita di kubur kemudian di syurga” tambah beliau.

Pesan kepada walisantri juga beliau sampaikan dalam sambutannya. Kepada walisantri yang hari ini putri putri nya diwisuda agar selalu memberikan support atau motivasi terhadap apa apa yang sudah menjadi capaian hari ini. Bukan hanya sekedar menghafal tapi kemudian hilang begitu saja, Tapi minimal sekalipun tidak meneruskan ke jenjang tahfidz, apa yang sudah didapatkan (juz 30 dan munjiyat-nya) tetap terjaga sampai benar benar menjadi lidah kita menjadi lidah Al Quran yang kemanapun hanya Al Quran yang menjadi bacaan dan pembicaraan kita tutur beliau. (Q2/Red)

Sumber : Sambutan  Direktur PPIQ Puteri pada saat Wisuda ke XVIII dan Penobatan Bintang.

Wisuda ke XVIII Pusat Pendidikan Ilmu Al Qur’an (PPIQ) Pondok Pesantren Nurul Jadid.

nuruljadid.net – Halaman depan asrama Pusat Pendidikan Ilmu Al Qur’an (PPIQ) putri yang berlokasi di Wilayah Az Zainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi saksi pengukuhan wisudawati Tahsinul Qiro’ah, Tahfidzul Qur’an dan Madrasah Diniyah Al Qur’aniyah. Malam hari ini (13/05) sebanyak 63 Wisudawati dikukuhkan. 57 orang wisudawati dari Program Tahsinul Qiro’ah dan 6 orang wisudawati dari Tahfidzul Qur’an.

Acara ini diawali dengan pengumuman pemenang lomba yang dilaksanakan oleh organisasi santri intra lembaga, ITNASY. Dilanjutkan dengan demonstrasi Qiro’ah bil Ghina’ dan metode Nurul Bayan yang dipersembahkan oleh Wisudawati Tahsinul Qiro’ah serta penampilan dari 6 wisudawati Tahfidzul Qur’an yang membacakan beberapa ayat Al Qur’an dari Surat An Nisa’.

Momen ini merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh PPIQ dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan dalam mempelajari sekaligus mendalami Al Qur’an. Dan kegiatan ini juga bertujuan sebagai tasyakkuran atas keberhasilan lembaga dalam mendidik para peserta didik selama satu tahun ajaran. Harapan demi harapan bermunculan pada kegiatan ini. seperti yang diucapkan oleh Direktur PPIQ Putri, Ny. Hj. Nurdiana Kholidah.

“Mudah mudahan apa yang adik adik sekalian dapatkan selama ini menjadi awal dari sebuah perjalanan untuk kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Tahfidzul Qur’an. Dan pada tahun ajaran mendatang, PPIQ akan mengadakan wisuda dengan format yang berbeda dan bertempat di sebuah gedung. Harapannya adalah agar semakin khidmat dan dapat meningkatkan kecintaan kita kepada Al Qur’an” dawuh beliau.

Acara semakin khidmat ketika Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abd Hamid Wahid hadir dalam acara ini. Pada acara ini beliau menyempatkan diri untuk memberikan sambutan. Awal sambutan beliau, beliau menyampaikan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawati yang akan dikukuhkan malam hari ini. Tak lupa pula, beliau menyampaikan beberapa program pesantren kedepan. Misalnya, program integrasi Madrasah Diniyah ke lembaga formal yang akan dilaksanakan pada awal tahun ajaran 2017 – 2018.

“Pesantren yang pada hari ini terus berbenah memiliki beberapa program yang akan dilaksanakan pada tahun ajaran mendatang. Salah satunya adalah program integrasi Madrasah Diniyah ke lembaga formal dan dilaksanakan pada pukul 07.00 – 09.00 WIB dengan harapan tujuan utama pesantren dapat berjalan dengan maksimal.” Dawuh beliau.

“Alasan kenapa Madin dilaksanakan pada pagi hari adalah agar para santri mengawali kegiatannya dengan diniyah, sehingga dengan suasana yang masih fresh mereka (santri) dapat menyerap materi diniyah dengan maksimal sehingga hasilnya pun juga maksimal” tambah beliau.

Beberapa rentetan acara dilakukan setelah terlaksananya sambutan sambutan. Beberapa acara yang dilakukan adalah ujian terbuka para Wisudawati Tasinul Qiro’ah dan Tahfidzul Qur’an yang langsung dipimpin oleh Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid yang dalam hal ini diwakilkan kepada pengurus Badan Koordinasi Pondok Puteri (BKPP).

Pembacaan SK Wisuda dan prosesi pengukuhan pun dilaksanakan setelah prosesi ujian terbuka. Pengukuhan yang langsung dipimpin oleh Direktur PPIQ Putri, Ny. Hj. Nur Kholidah didampingi oleh Ketua BKPP, Ny. Hj. Hanunah Nafi’iyah berlangsung dengan khidmat. Setelah selesai, Ikrar wisudawati pun dilakukan agar amanah yang diembankan kepada mereka dapat dilaksanakan dengan baik. (Q2/Red)

Wisudawati Tahsinul Qiro’ah pada saat Ujian Terbuka. (Foto : Zaky/Red)

 

Wisudawati Tahfidzul Qur’an pada saat Ujian Terbuka. (Foto : Zaky/Red)

Lagi, Sejumlah 71 Peserta Didik Wilayah Al-Hasymiyah Kembali Diwisuda

 nuruljadid.net – Tak lama setelah wisuda yang dilaksanakan oleh Madin (Madrasah Diniyah) pada (10/15) kemarin. Wilayah Al-hasyimiyah putri kembali selengarakan acara serupa. Tidak jauh beda dengan wisuda Madin, kegiatan wisuda yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Quran pada (12/05) juga tak kalah semarak. Kali ini peserta didik yang diwisuda adalah beberapa santriwati mengkaji Al-quran. Terdiri dari peserta didik tahfid dan tahsin. Sejumlah 71 peserta didik yang diwisuda pada malam itu.

Nur Maulidatul Masruroh kordinator Lembaga Pendidikan Quran (LPQ) menerangkan bahwa peserta didiknya yang diwisuda pada malam itu adalah wisudawati yang telah memenuhi syarat. “Santri yang diwisuda itu adalah mereka yang telah menyelesikan target persyaratan. 26 wisudawati tahfidz dan 45 wisudawati tahsin,”  terangnya.

Acara yang bertajuk Ijazah Terbuka Tahfidzul Quran dan Wisudawati Tahsinul Qiroah tersebut juga diselai dengan proses demonstrasi oleh peserta, dipimpin oleh Ust. Ghufron sebagai pemandunya dalam bidang tahsinul qiroah dan Ustadzah Rodhiah Ulfa dalam bidang tahfidzul quran. Dalam sesi yang kedua ini terbagi menjadi tiga kategori. Pertama wisudawati dengan kategori 15 juz. Kedua wisudawati dengan kategori 10 juz dan ketiga wisudawati dengan kategori 5 juz.

“Wisudawati yang dari kategori 15 juz ada 6 orang. Kategori 10 juz itu ada 9 orang dan yang kategori 5 juz ada 11 orang,” tutur Ustadzah Maulida. Di usianya yang memasuki tahun ke tiga LPQ sebagai lembaga yang bergerak dalam menekuni bidang Al-quran berhasil menyelenggarakan wisuda yang ketiga kalinya.

Lembaga yang bertempat di wilayah Dalem Timur (Daltim) itu berdiri pada (11/08/2014) dan sudah mencetak tiga generasi. Selanjutya, salah satu bentuk guna mempertahankan eksistensi peserta didik akan kemampuan menghafalnya. Ny.HJ. Hamidah yang juga turut hadir pada kegiatan tersebut meminta kepada setiap wali santri yang hadir menyaksikan putrinya diwisuda untuk selalu memberikan dukungan.

Serta selalu menjaga makanan yang dikirimkan kepada putri-putrinya untuk diberikan makanan yang diperoleh dari rezeki yang halal. “Bapak ibu hendaknya kita nggak usah merasa minder atau berkecil hati melihat anak-anak kita menghafal Al-quran. Jangan takut anak kita tidak berprestasi gara-gara menghafalkan Al-quran. Insya allah Allah pasti akan memberi maunah pada anak-anak kita yang sedang menghafal Al-quran. Dan juga minta tolong pada bapak ibu sekalian berikanlah bekal yang akan kita kirimkan ke anak-anak kita makanan yang baik, yang diperoleh dari rezeki yang halal,” tutur beliau. (DL)

KH. Abd. Hamid Wahid : Santri Harus Mengamalkan 3 Point Penting

nuruljadid.net –  “Sebuah proses pelantikan kelulusan setelah menempuh masa belajar pada suatu instansi pendidikan”. Demikianlah banyak orang menyebutnya dengan wisuda. Ajang ini bolehlah bisa kita sebut sebagai momentum yang penting. Akan tetapi, hal ini bukan lantas menjadi sebuah tahap akhir dari tugas kita untuk terus selalu berjuang dan meneruskan belajar. Ini adalah sebuah pengingat bagi kita untuk terus menerus melakukan perjalanan dalam mencari ilmu.

Jangan pernah merasa bahwa dengan didapatkanya ijazah bahkan ijab sah sekalipun menjadi pertanda akan akhir dari proses pencarian ilmu. Termasuk komponen yang dimaksudkan di sini adalah santri. Santri adalah termasuk status yang tidak ada pensiun dan berhentinya. Sekali seseorang menjadi santri maka dalam seluruh lini kehidupanya mempunyai tugas kesantrian dan tugas belajar terus menerus tanpa ada batasnya.

Ada tiga poin penting sebenarnya yang ingin disampaikan dalam tulisan ini. Pertama adalah status dan posisi kita sebagai santri. santri adalah kader yang bertugas untuk berbuat dan mengabdikan diri kepada masyarakat. Dalam sebuah firman Allah Al-quran surat At-taubah ayat 122 yang artinya “tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid (KH. Abd. Hamid Wahid) pada saat memberikan Tausiyah Wisuda Madrasah Diniyah Al Hasyimiyah. Foto (Zaky/Red)

Ayat ini merupakan peringatan kepada Rasulullah ketika gentingnya dalam masa-masa perang untuk tidak menyertakan seluruh umatnya ikut berperang. “Mbok ya jangan ikut perang semua sisakan satu kelompok untuk mendalami ilmu agama,” begitu kira-kira. Tujuanya adalah agar kelompok yang tidak ikut berperang tadi mendalami agama dan disyiarkan kepada masyarakat luas. Sebab, bagaimana mungkin akan lestari bila semisal seluruh umat islam pada waktu itu turut serta berperang semua dan gugur di medan perang? Hal ini yang tentunya tidak diinginkan.

Ini merupakan salah satu bagian tanggung jawab yang harus disandang santri. santri tidak cukup hanya hidup untuk dirinya saja tanpa pernah peduli memperjuangkan syiar agama islam. Santri juga harus memberikan sumbangsih pada masyarakatnya.  KH. Zaini Abdul Munim pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid sangat memperdulikan keadaan umatnya. Salah satu dauhnya yang sering digaungkan bahwa “Santri yang hanya sekedar hidup untuk dirinya sendiri sekedar untuk ekonominya sendiri, sekedar untuk pendidikanya sendiri  maka dia sudah berbuat maksiat pada Allah,”.

Dauh beliau ini untuk memperkuat dan memperkokoh pada status kesantrian kita bahwa santri adalah kader yang harus menjadi tanaman tumbuh dan bermanfaat, tumbuh dan berkembang, berkembang dan berbuah yang buahnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Meski beliau KH. Zaini tidak mengharuskan santrinya untuk menjadi Kiyai atau Bu Nyai saja. Tapi dalam tempat dan kondisi apapun ia berbuat silahkan asal dengan tetap membawa nilai-nilai kesantrian. Nilai ini yang sebenarnya dalam sistem pendidikan kita Pondok Pesantren terkandung dalam tiga hal komponen penting yakni trilogi santri.

Sebagai santri Nurul Jadid tentunya harus hafal pada trilogi santri ini. Komponen pertama  isi dari kandungan dari trilogi santri tersebut adalah santri mempunyai perhatian untuk melaksanakan Fardlu Ain. Kedua santri mempunyai perhatian untuk meninggalkan dosa-dosa besar. Ketiga mempunyai adab yang baik kepada Allah dan makhluknya. Ketiga hal tersebut bukan berarti apa yang dicari santri dan bukan berarti ketika tiga hal tersebut tercapai tugas santri selesai. Akan tetapi, ini adalah modal dasar hal fardlu ain yang wajib bagi mukallaf, muslim dan mukmin untuk melakukanya. Kemudian posisi yang kedua menularkan adalah perbuatan fardlu kifayah.

Maksudnya adalah sisi yang menjadi tugas eksklusif dari sebagian orang dan menjadi gugur tugas kewajiban itu bagi sebagian masyarakat yang lain. Kerap kali tidak kita sadari bahwa apa yang kita lakukan di pondok sebetulnya upaya persiapan besar yang akan kita lakukan ketika pulang. Tentang persiapan ini Imam Syafii pernah mengingatkan pada kita semua bahwa hendaknya kita mengkaji ilmu dan pengalaman sebelum kita menduduki pekerjaan dan jabatan.

Poin yang kedua adalah ilmu yang kita cari dan gali harus beriorientasi pada manfaat dan amal. Ilmu tanpa amal seperti pohon yang tak berbuah. Buah dari ilmu adalah amal. Santri ilmunya harus amaliyah dan amaliyahnya harus ilmiyah. Kita seharusnya selektif dalam memilih ilmu yang sesuai denga masa depan kita. Disesuaikan pada porsi yang dibutuhkan masyarakatnya.

Orang yang mencari ilmu tidak mesti ilmunya manfaat. Ilmu yang manfaat urusan Allah, bagian dari rahmat dan hidayah Allah. Tanda dari orang yang ilmunya manfaat dapat menyelamatkan da mendekatkan dirinya kepada Allah. Semakin menggairahkan kita untuk melakukan tugas dan kewajiban kita sebagai hamba. Orang yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya berarti ia jauh dari Allah.

Poin ketiga adalah bahwa nilai-nilai dari seseorang itu sama dengan baju yang dikenakan. Baju yang kita kenakan menjadi bagian hidup dari penampilan. Baju yang digunakan untuk beramal itu adalah akhlak dan adab, etika dan etiket. Ini hal penting yang harus diperhatikan dan terus kita pelihara sehingga menjadi kebiasaan dan watak kita. Watak adalah asalnya pengetahuan yang dibiasakan. Kebiasaan terbentuk menjadi ciri khas da karakter. Watak ini dapat dibentuk ketika dalam masa pembentukan karakternya. Dan tak akan dapat dibentuk lagi selagi sudah sampai pada usia 40 tahun. Akhlak yang baik diperoleh dari kebiasaan. Bagi manusia baju yang dipakai untuk berhias dan memperindahkan kehidupan adalah akhlak dan adab. Berilmu tidak berakhlak sama saja ilmunya tiada. Sebab ukuran manfaat dari ilmu adalah bagusnya perangai dan etika. Selamat Ber-etika! Wallahu a’lam bisshowab. (DL)

Sumber : Tausiyah Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid (KH. Abd. Hamid Wahid) Pada Kegiatan Wisuda Purna Awwaliyah III Madrasah Diniyah Al Hasyimiyah.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mimi, Wisudawati Terbaik Asal Thailand

nuruljadid.net – Jauhnya jarak yang membentang Tak pernah sedikitpun membuatnya patah arang. Sebagai seorang anak rantau dia dapat membuktikan bahwa dia juga mempunyai kesempatan untuk menjadi juara. Nun Jauh di seberang sana sosok seorang ayah yang hebat bernama Abdulloh Pohchiseng selalu berharap yang terbaik bagi anaknya. Malam itu, sang putri kebangganya terpanggil menjadi yang terbaik memenuhi harapan dan cita-cita sang ayah.

Paras wajah ayunya terlihat berbinar. Semburat ekspresi bahagianya tak dapat dibendung. Sangat kentara wajah khas berketurunan etnis Thailand. Riasan make up-nya masih melekat rapi di atas wajahnya. Sederhana saja tak terlalu tampak norak dan menor. Tidak seperti biasanya ia berdandan dengan demikian. Guna mengikuti acara perhelatan wisuda Purna Madrasah Awwaliyah III, sengaja ia tampil dengan performa yang lebih. Acara wisuda yang ia ikuti pada Rabu malam kemarin (10/05) merupakan momen yang luar biasa dalam Hidupnya.

“Menimbang dan seterusnya memutuskan bahwa nama yang tercantum dibawah ini adalah wisudawati terbaik Madrasah Diniyah Awwaliyah III,” begitulah detik-detik mendebarkan ketika Surat Keputusan (SK) mulai dibacakan oleh Ustadzah Imroatul Husna ketika penentuan Wisudawati terbaik dalam acara wisuda yang dilaksanakan oleh Madrasah. Semua jerih payah belajar jelas terbayarkan punah melihat megah tropi berada di pangkuan tangan.

Namanya Fateehah Pohchiseng. Satu-satunya siswi dari Thailand yang mendapat penghargaan wisudawati terbaik dalam acara Wisuda Purna Awwaliyah III. Sangat tak menduga awalnya bila pada ujungnya ketika pembacaan Surat Keputusan (SK) oleh panitia namanya terpanggil menjadi wisudawati terbaik.“Saya sangat tidak menyangka bisa jadi seperti ini,” tuturnya dalam bahasa indonesia dengan logat Thailand yang khas.

Momen itu merupakan peristiwa yang tidak akan pernah bisa dilupakanya. Menjelang satu minggu lagi kepulanganya ke kampung halaman. Ia dinobatkan sebagai wisudawati terbaik. “Saya mondok di sini sejak kelas satu SMA. Sekarang udah kelas tiga, bentar lagi juga mau berhenti. Insya allah 17 mei ini saya udah pulang ke Thailand,” terangnya.

Tidak terasa sudah tiga tahun ia menetap dan menyandang status santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tepatnya, ia memulai semua kehidupan barunya sebagai santri di pondok sedari tiga tahun silam sejak ia dari kelas satu di SMA Nurul Jadid. Ketika ditanya perihal kesan pengalamanya selama ia menimba ilmu di pondok ia berterus terang sangat senang sekali bisa belajar di pondok.

“Enak belajar di sini seneng. Ustadzahnya baik-baik, gurunya baik-baik juga perhatian sama orang Thailand. Tapi, yang paling baik Ustadz. Ustadz Nasrul Mukmin namanya. Seneng Banget bisa diajar beliau, kebetulan beliau ngajar tauhid,” kelakarnya sembari sesekali tersungging senyum dari bibirya.

Kemudian ia berkisah ketika kedatanganya pertama kali menginjakan kaki di Pondok Pesantren Nurul Jadid. ada banyak kesullitan yang ia alami. Terlebih persoalan komunikasi dengan teman sebayanya. Sebab, tak sedikitpun bekal bahasa indonesia yang ia punya. “Saya hanya bisa cakap Malaysia dan Thailand aja. Dua bahasa itu saja yang saya ketahui,” imbuhnya.

 Untungnya ia tidak sendiri. Dari Thailand ia bersama dengan lima orang temanya. Sama-sama bersekolah di SMA Nurul Jadid. tidak hanya itu, perasaan tidak betah juga sesekali ia rasakan. Bersama kelima orang temanya mereka berusaha dengan gigih mencoba untuk bertahan dan belajar beradaptasi dengan lingkungan. Namun, persoalan itu ia coba untuk atasi dan sama sekali tak membuatnya berkecil hati. Satu tahun lamanya ia mencoba belajar berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.

“ Melalui beasiswa pertukaran pelajar dari Thailand. Kemudian saya bisa sampai ke sini. Nggak paham sekali dulu ketika awal kali mondok di sini. Awalnya memang sulit banget sih untuk berkomunikasi terbiasa akhirnya bisa juga,” kisah perempuan yang kerap disapa mimi tersebut.

Baginya hal ini bukan pengalaman pertama kali ia mondok. Sebelum kedatanganya ke Indonesia ia juga sempat nyalaf dulu ketika di Thailand. “Sempet nyalaf juga dulu ketika di Thailand. Tapi, beda sama di sana. Di sini banyak kiyainya banyak pondoknya juga jadi enak,” ucapnya.

Berpegang teguh pada satu prinsip yang ia jadikan sebagai motivasi hidupnya. Ia terus melangkah. Ia percaya bahwa semua pertanyaan pasti ada jawabnya, setiap persoalah pasti ada jalan keluarnya. Selama kita punya keberanian untuk bertanya. “Yang penting jangan malu untuk bertanya,” paparnya. (DL)

Fateehah Pohchiseng (memakai toga) bersama walinya yang berasal dari Negara Thailand. (Foto : Zaky)

Madrasah Diniyah Putri Adakan Wisuda Purna

nuruljadid.net – Lokasi area parkiran mobil di depan kediaman Ny. Hj. Masruroh yang biasa lengang kemarin tampak cukup ramai. Beberapa mobil terlihat berejejeran memenuhi halaman depan kediaman beliau. Mereka adalah wali santri yang datang untuk memenuhi undangan Wisuda Purna Awwaliyah III yang dilaksanakan Madrasah Diniyah (Madin) putri pada rabu malam kemarin (10/05).

Menyaksikan putri-putrinya mengenakan toga dan memegang ijazah menjadi seorang sarjana. Bertempat di depan Gedung Putih asrama I’dadiyah acara wisuda Purna itu diselenggarakan. Terdapat 200 peserta yang diwisuda pada acara wisuda Purna kemarin. Terdiri dari 183 peserta dari siswi Madrasah Diniyah dan 17 peserta dari siswi Unggulan bahasa yang masih berada di bawah naungan Diniyah.

Momen wisuda tersebut merupakan salah satu bentuk dari peningkatan mutu kualitas peserta didik. Sebagai tujuan yang diharapkan adalah lulusan-lulusan atau output dari Madrasah Diniyah mampu menjadi sosok santri yang ber-tafaqquh fiddin. Tidak hanya itu, seperti yang telah dipaparkan oleh Ny.Hj. Hamidah Wafie bahwa santri juga mampu menyiarkan pesan-pesan syariat Islam.

“Alhamdulillah Madin telah berhasil mengantarkan peserta didiknya sebagai lulusan dari Madin. Namun, tanggung jawab sebenarnya tidak begitu saja selesai di sini. Selanjutnya adalah tugas yang sebenarnya para santri yang diwisuda malam mampu menyiarkan kepada masyarakat untuk dapat merubah keadaan lingkungan yang masih awam dalam wawasan keagamaanya,” tutur beliau. (DL)

Ustadzah Khorioh (Kepala Madrasah Diniyah Al Hasyimiyah) bersama Ibunda Ny. Hj. Hamidah Wafie (Pemangku Wilayah Al Hasyimiyah) pada saat prosesi pengukuhan Wisudawati Madin Al Hasyimiyah. (Foto : Zaky/Red)

Peserta Prakerin ; Lepas Pisah 19 Peserta Prakerin dari SMK Bulugading Jember

nuruljadid.net – Tanggal 04 Maret 2017 dewan guru SMK Bulugading Jember mengantarkan 19 peserta didiknya untuk melakukan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di Pondok Pesantren Nurul Jadid selama 2 bulan lamanya. Hari ini (05/05) 2 bulan sudah mereka melakukan Prakerin di Pondok Pesantren Nurul Jadid dan hari ini pula mereka (peserta Prakerin) dijemput untuk kembali ke PP. Busatnul Ulum Jember tempat dimana mereka menimba ilmu.

Acara perpisahan dilakukan secara sederhana yang  bertempat di kantor sekretariat Nurul Jadid. Acara perpisahan ini dihadiri oleh beberapa dewan guru dari SMK Bulugading Jember dan ditemani oleh Wakil Sekretaris Pesantren, Bapak Ahmad Saili Aswi. Dalam pertemuan ini banyak hal yang disampaikan dari kedua belah pihak, baik dari Pihak SMK Bulugading maupun dari pihak Pondok Pesantren Nurul Jadid. Salah satunya adalah ucapan terimakasih dan ucapan mohon maaf atas segala kekurangan dan ketidaknyamanan dari masing masing pihak.

“Kami perwakilan dari Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid menyampaikan banyak terimakasih atas kerjasamanya dan kami juga memohon maaf apabila selama 2 bulan siswi SMK Bulugading disini mendapatkan hal yang tak begitu menyenangkan. Semoga jalinan kerjamasa diantara kita tetap berjalan dengan baik dan semakin membaik kedepannya” ujar Wakil Sekretaris Pesantren, Bapak Ahmad Saili.

Dipenghujung acara ini, pihak SMK Bulugading memberikan sedikit cinderamata kepada Pondok  Pesantren Nurul Jadid. (Q2/Red)

Pemberian Kenang kenangan dari SMK Bulugading Jember kepada Wakil Sekretaris Pesantren. (Foto : Abu Bakar)

Bulan Lomba; Uji Mental dan Skill Santri dengan Berpidato

nuruljadid.net – Dalam rangka mengetahui tingkat kemampuan santri, Pengurus Wilayah I’dadiyah mengadakan Pembukaan Bulan Lomba yang bertempat di depan asrama I’dadiyah. Adapun tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut adalah untuk menguji mental santri dan mengetahui kemampuan mereka setelah satu tahun lamanya menempuh jenjang studi di Wilayah ini. Wilayah I’dadiyah sendiri merupakan wilayah khusus santri baru yang fokuskan untuk memperlajari dan menguasai Furudhul ‘Ainiyah.

Peserta pada kegiatan bulan lomba ini adalah seluruh kamar yang ada di Wilayah I’dadiyah. Dan ada 10 jenis lomba yang dilombakan diantaranya adalah lomba hadrah, Qori’, MSQ, Pidato/Khitobah, Bilal Jum’at, Tahlil, Diba’, Cerdas Cermat,  Furudhul Ainiyah, Hafalan Munjiat dan kebersihan kamar.

Malam hari ini (04/05) Lomba Khitobah digelar. Setiap kamar wajib mendelegasikan 3 orang dengan membawakan pidato yang bertema bebas. Gemuruh dan sorak sorai santri Wilayah I’dadiyah memberikan aura yang menggelegar. Terkadang, terdengar suara suara yang membuat peserta lomba gagal fokus. Dan tak jarang pula, para peserta lomba yang sedang tampil mengalami nervous atau grogi.

Penampilan Saudara Bintang, Santri Asrama I’dadiyah di Lomba Pidato. Foto : Zaky/Red

“Mereka kebanyakan masih pertama kali mengkuti perlombaan jadi wajarlah jika mereka masih demam panggung dan ditambah lagi masih dalam proses pendewasaan. Kami memaklumi dengan kondisi tersebut” ujar syaiful salah satu Pengurus Wilayah I’dadiyah.

“Dan semoga dengan adanya lomba ini dapat memberikan mereka pengalaman baru sehinga kedepannya mereka bisa meningkatkan skill mereka menyesuaikan dengan potensi diri dimasing masing individu” tambahnya.

Kegiatan bulan lomba ini merupakan kegiatan terakhir yang dilaksanakan oleh pengurus wilayah I’dadiyah. Pasalnya, beberapa hari kedepan, mereka akan dilepas atau dipindahkan ke wilayah masing masing menyesuaikan dengan lembaga pendidikan formal yang mereka pilih. (Q2/Red)

KH. Moh. Zuhri Zaini : Hidup Sederhana, Kunci Kelapangan Hidup

nuruljadid.net – Hidup serba mewah menjadi dambaan dan keinginan sebagian orang, yang tujuannya hanya mencari kemewahan dunia serta menghabiskan kenikmatan hanya didunia tanpa menyisakan kenikmatan untuk akhirat. Pola kehidupan yang tujuannya hanya untuk meraih kemewahan serta kenikmatan  didunia, merupakan tipikal manusia modren yang butuh terhadap siraman – siraman hikmah untuk menghidupkan spiritualitas, agar tidak menjadi kering dengan kemewahan serta kenikmatan dunia.

Kehidupan manusia selalu dibayangi dengan yang namanya “Kebutuhan Hidup”, didalam persepsi sebagian orang sudah tertanam bagaimana cara agar kebutuhan hidup terpenuhi, bahkan ada sebagian orang yang dengan beraneka ragam cara yang dilakukan agar kebutuhan hidup bisa terpenuhi, sekalipun dengan cara yang melanggar aturan – aturan Syari’at Islam. Bahkan orang berpikir bukan hanya kebutuhan hidup yang terpenuhi, dengan sikap rakusnya terkadang manusia melebihi dari kebutuhan hidupnya, semisal ada sebagian orang yang kebutuhannya satu bulan tiga juta, dengan sikap rakus bahkan ada yang lebih dari tiga juta, bahkan dua kali lipatnya tiga juta.

Kondisi di era moderen saat ini, menuntut masyarakat untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada, yang identik dengan hidup serba mewah, modren dan instan. Dengan alasan tetap memilih dan mengoreksi apakah moderen tersebut sesuai dengan tradisi keislaman dan budaya lokal indonesia.

Dalam kondisi masyarakat yang saling berlomba – lomba untuk mendapatkan kemewahan, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini mengingatkan.

“Kalau hanya nafsu yang diumbar, maka hidup bermewah – mewahan tidak akan ada cukup. Hidup di dunia ini seharusnya tidak bermewah – mewahan, karna kita harus berpayah – payah beramal dan mencari bekal untuk akhirat” Dawuh Beliau.

Beliau melanjutkan penjelasannya dalam Pengajian Kitab Riyadhoh As-Sholihin di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

“Dengan meniru hidup Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat beliau yang hidup sederhana, hidup kita akan menjadi lapang”. Nasihat Beliau kepada santri.

Menjalani hidup sederhana amatlah sangat penting bagi manusia untuk meraih sukses yang hakiki, yaitu bukan hanya sukses didunia tetapi sukses di akhirat yang menjadi impian semua orang. (Zhen/Red)

“Kalau hanya nafsu yang diumbar, maka hidup bermewah – mewahan tidak akan ada cukup. Hidup di dunia ini seharusnya tidak bermewah – mewahan, karna kita harus berpayah – payah beramal dan mencari bekal untuk akhirat”

Wisudawati dan Penobatan Terbaik Pembinaan Muallimat Al Qur’an

nuruljadid.net – Senin Malam Selasa (01/05) di Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Az-Zainiyah telah melaksanakan prosesi Wisuda & Penobatan Terbaik Pembinaan Muallimat Al-Qur’an  dengan lancar. Kegiatan ini dilaksanakan setiap Tahun pada akhir Semester Genap, yang dimana pembinaan muallimat Al-Qur’an ini dikhususkan untuk semua mahasiswi di wilayah az-zainiyah yang dilaksanakan setiap minggu dua kali pada hari senin malam selasa dan kamis malam jum’at.

Pada prosesi wisuda muallimat Al-Qur’an ini, ada  sekitar 80 Orang wisudawati yang telah lulus tes seleksi tulis wisuda Pembinaan Muallimat Al-Qur’an oleh bagian Pengurus Muallimat. Diantara 80 orang wisudawati, yang terpilih hanya 2 Orang yang akan diuji ketuntasan materi oleh Pengurus Muallimat, Asatidzah, BKPP, dan Pengasuh yang nantinya akan terpilih menjadi wisudawati terbaik.

Setelah melalui proses uji, wisudawati yang terpilih menjadi wisudawati pembinaan muallimat Al-Qur’an terbaik ialah wisudawati  “Dini Hanifiyah” berasal dari Pulau Madura. Semua mahasiswi yang telah dinyatakan lulus pembinaan muallimat Al-Qur’an malam ini adalah salah satu calon pengurus yang nantinya akan membina anak-anak santri di daerah khususnya dalam pembinaan Al-Qur’an setelah semua mahasiswi ini akan tersebar di setiap daerah yang nantinya akan dijadikan pengurus atau wali asuh di setiap daerah di Wilayah Az-Zainiyah.

Harapan dari Kepala BKPP Ny. Hj. Hanunah Nafi’iyah, M.Pd “untuk semua wisudawati pembinaan muallimat al-qur’an jangan lupa untuk menyumbangkan ilmunya dan membina santri-santri wilayah az-zainiyah dalam hal pembinaan al-qur’an dengan ikhlas, pekerjaan ini tidak bisa kita balas tapi hanya ALLAH yang akan bisa membalas semuanya ”. (MF/Dalbar)

Brosur Pesantren

Informasi Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren Nurul Jadid Tahun 2017

INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU 2017

Pendaftaran Santri Baru Pondok Pesantren Nurul Jadid Tahun 2017 dibuka pada tanggal 01 Mei s/d 16 Juli 2017. Sedangkan Penerimaan Santri Baru Satu Atap (Daftar Pesantren dan Daftar Ulang Lembaga Formal) dilaksanakan pada tanggal 05 s/d 16 Juli 2017.

 

SEKILAS TENTANG WILAYAH PUTERI

  1. Wilayah Azzainiyah (Dalbar).
  2. Wilayah Alhzasyimiyah (Daltim).
  3. Wilayah Fatimatuzzahro’ (Dalsel).
  4. Wilayah Almawaddah.
  5. Wilayah Zaid bin Tsabit (K) Puteri.
  6. Wilayah Allathifiyah.
  7. Wilayah Annafi’iyah (Asrama Putri STIKes NJ).

Silahkan download browsur untuk wilayah-wilayah puteri, bisa menuju halaman download.

 

SMA NURUL JADID

  1. Tanggal Pengambilan Formulir : 24 April – 25 Mei 2017
  2. Biaya Pengambilan Formulir : Rp. 75.000,-
  3. Tanggal Daftar Ulang : 05 – 16 Juli 2017
  4. Tanggal Pelaksanaan Test Seleksi : 14 – 16 Juli 2017

 

SMK NURUL JADID

  1. Tanggal Pengambilan Formulir : 01 April – 16 Juli 2017
  2. Biaya Pengambilan Formulir : Rp. 50.000,-
  3. Tanggal Daftar Ulang : 05 – 16 Juli 2017
  4. Tanggal Pelaksanaan Test Seleksi : 12 Juli 2017

 

MA NURUL JADID

  1. Tanggal Pengambilan Formulir : 15 April – 16 Juli 2017
  2. Biaya Pengambilan Formulir : Rp. 80.000,-
  3. Tanggal Daftar Ulang : 14 – 16 Julli 2017
  4. Tanggal Pelaksanaan Test Seleksi : 13 Juli 2017

 

SMP NURUL JADID

  1. Tanggal Pengambilan Formulir : 20 April – 31 Mei 2017
  2. Biaya Pengambilan Formulir : Rp. 100.000,-
  3. Tanggal Daftar Ulang : 05 – 16 Juli 2017
  4. Tanggal Pelaksanaan Test Seleksi : 12 – 13 Juli 2017

 

MTS NURUL JADID

  1. Tanggal Pengambilan Formulir : 09 April – 14 Juli 2017
  2. Biaya Pengambilan Formulir : Rp. 75.000,-
  3. Tanggal Daftar Ulang : 05 – 16 Juli 2017
  4. Tanggal Pelaksanaan Test Seleksi : 15 – 16 Juli 2017

 

INFORMASI BROSUR

  1. Brosur Pesantren Dapat Anda Download disini
  2. Brosur SMA Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
  3. Brosur SMK Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
  4. Brosur MA Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
  5. Brosur SMP Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
  6. Brosur MTs Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.

 

INFORMASI ORIENTASI SANTRI BARU DAN SISWA BARU 2017

  1. Pelaksanaan Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2017 :
    • Pembukaan OSABAR : 16 Juli 2017 (Ba’da Isya’)
    • Pelaksanaan Kegiatan OSABAR : 17 – 19 Juli 2017
    • Penutupan OSABAR : 21 Juli 2017 (Ba’da Isya’)
  2. Pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) Lembaga Formal : 20 Juli 2017

 

INFORMASI LEBIH LANJUT HUBUNGI :

(0335) 774121

 

HARI AKTIF KEGIATAN PESANTREN DAN KBM LEMBAGA FORMAL PADA TANGGAL 21 JULI 2017

 

PENTING :

Informasi Penerimaan Santri Baru Tahun 2017 Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton sewaktu waktu akan mengalami Update Informasi. Untuk mengetahui perkembangannya dimohon untuk selalu mengunjungi www.nuruljadid.net.

Sekilas Tentang Wilayah Az Zainiyah

PROFIL SINGKAT WILAYAH AZ ZAINIYAH

PONDOK PESANTREN NURUL JADID

PAITON PROBOLINGGO

 

Pondok Pesantren Nurul Jadid terbagi menjadi tujuh wilayah. Satu wilayah pusat untuk santri putra,kemudian wilayah selatan yang meliputi al-Lathifiyah (santri putra dan putri fokus mengkaji ilmu fiqih), al-Mawaddah (santri putri),  Fathimatuzzahro’ (santri putri), gang K (santri putra dan putri), wilayah timur yang dikenal dengan wilayah Al-Hasyimiyah, dan wilayah barat atau utara yang dikenal dengan wilayah Az-Zainiyah untuk santri putri.

Wilayah Az-Zainiyah terletak di sebelah utara masjid jami’ Nurul Jadid dan menjadi batas utara pesantren. Wilayah Az-Zainiyah merupakan wilayah putri tertua diantara wilayah putri lain yang diasuh oleh beberapa pengasuh, diantaranya KH. Moh. Zuhri Zaini, BA. selaku pengasuh pondok pesantren Nurul Jadid, Ny. Hj. Bisyaroh Suhud, Ny. Hj. Zubaida Thoha, Ny. Hj. Nuri Firdausiyah, dan Ny. Hj. Sadidah Thoha. Di bawah naungan dan asuhan beliau, Pondok Pesantren Nurul Jadid wilayah Az-Zainiyah yang awalnya hanya ditempati oleh beberapa santri dan hanya dibangun beberapa asrama kecil akhirnya berkembang pesat dan terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

Dengan semakin bertambahnya kuantitas santri maka tempat, sarana dan pembinaan yang diberikanpun terus mengejardan senantiasa memaksimalkan system pembinaan agar kualitas santri kian meningkat. Melihat kualitas pembinaan dan prestasi santri yang tak pernah pupus maka terbentuklah wilayah Az-Zainiyah yang semakin luas dan melebar seperti yang kita lihat saat ini.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan berkat komitmen pesantren dalam menjalankan visi tafaqquh fid diin, maka keberadaan pondok pesantren Nurul Jadid wilayah Az-Zainiyah dari tahun ke tahun semakin berkembang, sehingga antara jumlah santri dan sarana-prasarana menjadi kurang seimbang. Oleh karenanya, perlu adanya kepedulian semua pihak agar pendidikan dan pengembangan potensi anak bangsa dapat diarahkan menuju terbentuknya insan kamil.

 

POLA PEMBINAAN SANTRI

Pembinaan yang diterapkan oleh kepengurusan wilayah Az-Zainiyah terhadap santri Nurul Jadid ialah dengan memberikan wali asuh kepada santri berdasarkan daerah yang ditempati. Setiap daerah ada struktural kepengurusan yang mengurusi segala rutinitas santri selama di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Dari pengurus yang ada di daerah kemudian dikelompokkan sesuai dengan jumlah kamar di daerah yang ditempati sehingga setiap kamar memiliki ibu kamar yang bertanggung jawab terhadap aktifitas dan keadaan santri/anak asuhnya.

Dengan berpedoman kepada visi misi PP. Nurul Jadid, maka perlu diadakannya kegiatan yang bisa mengantarkan santri kepada tujuan diadakannya Pesantren ini. Beberapa kegiatan yang wajib diikuti oleh santri wilayah Az-Zainiyah meliputi pembinaan al-Qur’an, kajian Furudlul ‘Ainiyah, kajian kitab, dan pembinaan akhlaq. Dalam pembinaan al-Qur’an, wilayah Az-Zainiyah menerapkan sistem belajar yang sistematis, sekiranya sesuai dan bisa diikuti oleh santri dalam usaha peningkatan kefashihan membaca dan pemahaman al-Qur’an. Santri di setiap kamar akan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk diasuh oleh ibu asuh masing-masing yang dilaksanakan setiap ba’da jama’ah subuh. Kelancaran membaca al-Qur’an santri juga dibantu dengan metode talqin yang dilakukan setiap hari ba’da jama’ah sholat maghrib. Untuk pendalaman kajian kitab kuning, santri diwajibkan ikut pengajian kitab yang diasuh oleh pengasuh PP. Nurul Jadid dengan menggunakan metodewathon (memberi arti pada kitab kuning melalui dikte) di setiap pagi dan sore hari. Contoh lain dari proses belajar yang diberikan kepada santri adalah mereka mendapat tambahan wawasan dari beberapa kegiatan yang telah terealisasi dalam program kerja umum dan khusus wilayah Az-Zainiyah, seperti khitobah umum  yang dilaksanakan setiap bulan, kemudian Klip-Az yang dilakukan setiap satu tahun satu kali dengan bermacam-macam lomba yang diikuti oleh semua daerah di wilayah Az-Zainiyah, dan lain-lain. Selain itu juga dilakukan suatu pendekatan komunikasi melalui lisan maupun teladan tindakan dalam rangka pembinaan akhlaqul karimah bagi santri Az-Zainiyah Nurul Jadid.

 

 Profil Wilayah Az Zainiyah dalam bentuk pdf silahkan  Sekilas Tentang Wilayah Azzainiyah (dalbar) (4163 downloads )

 

 

Sekilas Tentang Wilayah Al-Hasyimiyah

PROFIL SINGKAT WILAYAH AL-HASYIMIYAH

PONDOK PESANTREN NURUL JADID

PAITON PROBOLINGGO

Pondok Pesantren Nurul Jadid terbagi menjadi delapan wilayah. Satu wilayah pusat untuk santri putra dan tujuh wilayah khusus santri putri yang terdiri dari wilayah barat atau utara yang dikenal dengan wilayah Az-Zainiyah, wilayah timur dikenal dengan wilayah Al-Hasyimiyah dan wilayah selatan yang dikenal dengan wilayah Fatimatuz Zahro, Al-Mawaddah, Zaid bin Tsabit atau biasa dikenal dengan Gang K, dan Al-Lathifiyah serta wilayah utara khusus STIKES atau biasa disebut dengan An-Nafi’iyah .

Pondok Pesantren Nurul Jadid wilayah Al-Hasyimiyah terletak di bagian paling timur dari batas pesantren. Wilayah ini diasuh oleh Ibunda Nyai HJ. Masruroh Hasyim_ Istri dari putera pertama  pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid sakaligus pengasuh kedua, KH. Hasyim Zaini. Di bawah naungan dan asuhan beliaulah Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Al-Hasyimiyah yang awalnya hanya didomisili oleh beberapa santri dan hanya dibangun beberapa asrama kecil, berkembang pesat dan terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan jumlah santri pada saat ini  kurang lebih 1.595 santri.

KEGIATAN KEPESANTRENAN

Dalam Penanaman keimanan dan ketakwaan serta pengembangan keilmuan dan wawasan santri. Pondok Pesantren Nurul Jadid wilayah Al-Hasyimiyah senantiasa mengadakan kegiatan-kegiatan yang menunjang terhadap proses pengembangan santri.

Adapun kegiatan kepesantrenan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Jadid wilayah Al-Hasyimiyah ini meliputi dua kegiatan pokok, yaitu kegiatan yang mengarah pada pendidikan santri dan kegiatan yang mengarah pada pembinaan santri.

Pendidikan Santri

Wilayah al-Hasyimiyah sebagai bagian dari Pondok Pesantren Nurul Jadid yang menggunakan sistem pendidikan terpadu, antara pendidikan salaf dan pendidikan modern, menampung santri yang sedang menempuh studi di berbagai lembaga formal yang ada di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Untuk mengoptimalkan potensi serta menfasilitasi berkembangnya bakat dan minat santri, maka wilayah al-Hasyimiyah mendirikan beberapa lembaga non formal sebagai berikut:

  1. Lembaga I’dadiyah, lembaga ini adalah lembaga awal khusus bagi santri baru untuk memperdalam Furudh al-Ainiyah dan penanaman karakter. Lembaga ini merupakan lembaga dasar yang wajib ditempuh selama satu tahun oleh semua santri baru yang belum menguasai Furudh al-Ainiyah.
  2. Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA), lembaga ini berbasis kebahasaan yang terfokus pada pengembangan keterampilan berbahasa Arab dan Inggris.
  3. Lembaga Kajian Keislaman Al- Hasyimiyah (LSK), lembaga ini focus pada pengembangan ilmu keagamaan dan kajian kitab.
  4. Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) al-Hasyimiyah, lembaga ini fokus pada kegiatan Tahfidz (Hafalan) dan Tahsin al-Qiro’ah dan Madrasatul Qur’an (MQ).
  5. Madrasah Diniyah Al-Hasyimiyah, lembaga ini focus pada pendalaman ilmu keagamaan seperti ilmu tauhid, akhlaq, fiqh, ilmu alat, hadist dan lain sebagainya.

Pembinaan Santri

  1. Pembinaan Keagamaan : Pembinaan ini dilakukan oleh divisi ubudiyah yang meliputi shalat berjamaah, kegiatan keagamaan (pembacaan tahlil, istighatsah, burdah, barzanji dll), divisi Pembinaan Al-Qur’an, divisi kegiatan belajar meiputi pembinaan Furudl Al-‘ainiyah dan pengajian kitab yang dilaksanakan pada pagi dan sore hari
  2. Pembinaan Keilmuan dan Skill : Pembinaan ini dilaksanakan oleh divisi diklat dan keterampilan dengan memetakan santri sesuai bakat dan minatnya meliputi; kaligrafi, jurnalistik, tata boga, menjahit, seni qiro’ah, dll.
  3. Pembinaan Akhlak dan Mental : Pembinaan ini dilaksanakan oleh Bimbingan dan Konseling (BK) dengan membagi santri menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 13 santri dalam masing-masing kelompok dengan satu pengurus yang di sebut dengan wali asuh. Wali asuh tersebut kemudian berperan sebagai ibu dalam hal pembinaan, khususnya pembinaan akhlak dan mental.

 

 

Profil Wilayah Al-Hasyimiyah dalam bentuk pdf silahkan  Sekilas Tentang Wilayah Alhasyimiyah (daltim) (3819 downloads )

 

 

Sekilas Tentang Wilayah Fatimatuz Zahro’

PROFIL SINGKAT WILAYAH FATIMATUZ ZAHRO’

PONDOK PESANTREN NURUL JADID

PAITON PROBOLINGGO

Pondok Pesantren Nurul Jadid terbagi menjadi empat Wilayah. Satu Wilayah pusat untuk santri putra dan tiga Wilayah untuk santri putri, yang terdiri dari Wilayah barat atau utara yang dikenal dengan Wilayah Az-Zainiyah, Wilayah timur yang dikenal dengan Wilayah Al-Hasyimiyah dan Wilayah selatan yang dikenal dengan Wilayah Fathimatuzzahro’. Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Fathimatuzzahro’ terletak di bagian paling selatan dari batas pesantren. Wilayah ini diasuh oleh Ibu Nyai Hj. Aisyah Zaini, putri ketiga pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Zaini Mun’im. Di bawah naungan dan asuhan beliau, Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Fathimatuzzahro’ yang awalnya hanya ditempati oleh beberapa santri dan hanya dibangun beberapa asrama kecil, berkembang pesat dan terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

Pada tahun 2000, setelah pengasuh KH. Hasan Abdul Wafie, suami dari Ibu Nyai Hj. Aisyah Zaini wafat, beliau tetap gigih berjuang dan mendidik santri-santri yang sejak semula telah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Fathimatuzzahro’. Kepedulian, kegigihan dan perjuangan beliau ini dibuktikan dengan perubahan dan penambahan lokal asrama santri serta berbagai fasilitas yang menunjang terhadap keberlangsungan proses belajar mengajar santri.

Kondisi santri di Wilayah Fathimatuzzahro’ yang awalnya hanya ditempati oleh beberapa santri saja, kini mengalami perkembangan dan terus berkembang di setiap tahunnya. Selain karena tata ruang dan asrama santri yang didesain seindah mungkin, juga karena adanya taman-taman bunga disekitar halaman asrama di Wilayah Fathimatuzzahro’ ini, yang membuat para santri merasa nyaman dan betah berada di Pondok Pesantren Nurul Jadid ini. Penempatan bangunan-bangunan yang didesain semenarik mungkin serta perhatian pengasuh pada keindahan dan kebersihan lingkungan pesantren menjadikan proses belajar santri menjadi nyaman. Selain dikenal dengan pendidikan dan pembinaannya yang intensif, Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Fathimatuzzahro’ juga dikenal dengan keindahan dan kebersihan lingkungannya.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan berkat komitmen pesantren dalam menjalankan visi tafaqquh fid diin, maka keberadaan pondok pesantren Nurul Jadid Wilayah Fathimatuzzahro’ dari tahun ke tahun semakin diminati oleh masyarakat, sehingga antara jumlah santri dan sarana-prasarana menjadi tidak seimbang. Oleh karenanya, perlu adanya kepedulian semua pihak agar pendidikan dan pengembangan potensi anak bangsa dapat diarahkan menuju terbentuknya insan kamil.

PENDIDIKAN DAN DAKWAH YANG DISELENGGARAKAN

  • Madrasah Dinyah Fathimatuzzahro’
  • Kajian Kitab-Kitab Kuning
  • Kelompok Studi Khusus Fathimatuzzaahro’(KSK FAZA)
  • Al-Fathimiyah (Lembaga Bahasa Arab)
  • Faza English Club (Lembaga Bahasa Inggris)

 

Profil Wilayah Fatimatuz Zahro’ dalam bentuk pdf silahkan  Sekilas Tentang Wilayah Fatimatuzzahro' (dalsel) (2198 downloads )