Pos

Hari Velentine

Lembaga Bahstul Masail (LBM) PP. Nurul Jadid : Hukum Merayakan Hari Valentine

Tanggal 14 Februari merupakan hari dimana Valentine Day dirayakan, menurut satu versi sejarah terjadinya valentine Day adalah berawal pada dihukum matinya seorang martir Kristen yaitu St. Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M pada masa pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280 – 337 M) karena ia menolak kebijakan sang kaisar yang melarang terjadinya pertunangan dan pernikahan.

Semua iu terjadi ketika bangsa Romawi terlibat dalam banyak peperangan dimana Kaisar merasa kesulitan merekrut para pemuda untuk memperkuat Armada perangnya, hal itu disinyalir karena banyak pria enggan meninggalkan keluarganya atau kekasihnya. Dalam The Encylopedia Britania vol. 12 sub. Judul Christiany menjelaskan “Agar lebih dapat mendekatkan lagi terhadap ajaran Kristen pada tahun 495 M. Paus Gelasius I merubah upacara Romawi Kuno, menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine Day, untuk menghormati Saint Valentine yang mati”. Di Indonesia perayaan Valentine banyak dilakukan oleh kalangan muslim, mereka menganggap hari itu merupakan saat tepat untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.

PERTANYAAN :

  1. Bagaimana hukum merayakan Valentine Day ?
  2. Bolehkah menjual pernak-pernik (souvenir) Valentine Day ?

JAWABAN :

  1. Dalam hal ini terdapat pemilahan hukum sebagai berikut :
  • Kufur, bila ada tujuan menyerupai non muslim dan sampai kagum pada agama mereka.
  • Haram apabila hanya bertujuan menyerupai non muslim tanpa disertai kecondongan pada agama mereka.
  1. Haram karena termasuk ikut serta terjadinya kemaksiatan

REFERENSI  :

  1. Fataawa Ibn Hajar al-Haytamy IV/238
  2. Bughyah al-Mustarsyidiin I/528
  3. Is’aad ar-Rafiiq II/128

 

باب الردة

وسئل رحمه الله تعالى ورضي عنه هل يحل اللعب بالقسي الصغار التي لا تنفع ولا تقتل صيد إبل أعدت للعب الكفار وأكل الموز الكثير المطبوخ بالسكر وإلباس الصبيان الثياب الملونة بالصفرة تبعاً لاعتناء الكفرة بهذه في بعض أعيادهم وإعطاء الأثواب والمصروف لهم فيه إذا كان بينه وبينهم تعلق من كون أحدهما أجيراً للآخر من قبيل تعظيم النيروز ونحوه، فإن الكفرة صغيرهم وكبيرهم وضيعهم ورفيعهم حتى ملوكهم يعتنون بهذه القسي الصغار واللعب بها وبأكل الموز الكثير المطبوخ بالسكر اعتناء كثيراً وكذا بإلباس الصبيان الثياب المصفرة وإعطاء الأثواب والمصروف لمن يتعلق بهم وليس لهم في ذلك اليوم عبادة صنم ولا غيره وذلك إذا كان القمر في سعد الذابح في برج الأسد وجماعة من المسلمين إذا رأوا أفعالهم يفعلون مثلهم فهل يكفر أو يأثم المسلم إذا عمل مثل عملهم من غير اعتقاد تعظيم عيدهم ولا اقتداء بهم أو لا؟. فأجاب نفع الله تبارك وتعالى بعلومه المسلمين بقوله: لا كفر بفعل شيء من ذلك، فقد صرح أصحابنا بأنه لو شد الزنار على وسطه أو وضع على رأسه قلنسوة المجوس لم يكفر بمجرد ذلك اهـ، فعدم كفره بما في السؤال أولى وهو ظاهر بل فعل شيء مما ذكر فيه لا يحرم إذا قصد به التشبه بالكفار لا من حيث الكفر وإلا كان كفراً قطعاً، فالحاصل أنه إن فعل ذلك بقصد التشبه بهم في شعار الكفر كفر قطعاً أو في شعار العيد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر، ولكنه يأثم وإن لم يقصد التشبه بهم أصلاً ورأساً فلا شيء عليه، ثم رأيت بعض أئمتنا المتأخرين ذكر ما يوافق ما ذكرته فقال: ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون، وقد قال : «من تشبه بقوم فهو منهم» ، بل قال ابن الحاج : لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانياً شيئاً من مصلحة عيده لا لحماً ولا أدماً ولا ثوباً ولا يعارون شيئاً ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك. ومنها اهتمامهم في النيروز بأكل الهريسة واستعمال البخور في خميس العيدين سبع مرات زاعمين أنه يدفع الكسل والمرض وصبغ البيض أصفر وأحمر وبيعه والأدوية في السبت الذي يسمونه سبت النور وهو في الحقيقة سبت الظلام ويشترون فيه الشبث ويقولون أنه للبركة ويجمعون ورق الشجر ويلقونها ليلة السبت بماء يغتسلون به فيه لزوال السحر ويكتحلون فيه لزيادة نور أعينهم ويدهنون فيه بالكبريت والزيت ويجلسون عرايا في الشمس لدفع الجرب والحكة ويطبخون طعام اللبن ويأكلونه في الحمام إلى غير ذلك من البدع التي اخترعوها ويجب منعهم من التظاهر بأعيادهم اهـ.

فتاوى ابن حجر الهيثمي رقم الجزء: 4 رقم الصفحة: 238

*********************************

ي) : حاصل ما ذكره العلماء في التزيي بزي الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلاً إلى دينهم وقاصداً التشبه: مسألة

بهم في شعائر الكفر ، أو يمشي معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذلك فيهما ، وإما أن لا يقصد كذلك بل يقصد التشبه بهم في شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم ، وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء في الرداء في الصلاة.

**************************

(فصل ومن معاصي )كل (البدن) ألى أن قال ومنها (الإعانة على المعاصي)اي على معصية من معلصي الله بقول اوفعل او غيره ثم ان كان المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كذلك كما فى الزواجر

إسعاد الرفيق الجزء الثاني ص 128

Hari Velentine

Valentine Day Dalam Perspektif Pesantren

PADA setiap tanggal 14 Februari disebut “Valentine Day”, hari yang dimaknai spesial bagi para valentinestis di kalangan remaja, baik muda maupun mudi. Akan terjadi beberapa ungkapan melalui ucapan maupun perbuatan-perbuatan. Perbuatan yang seringkali melampaui batas kewajaran membuat perayaan valentine day’s bak pesta kemaksiatan.

Valentine day’s lahir diluar Islam, sebagai salah satu peringatan kepada seorang st. valentine yang meninggal akibat hukuman yang menimpanya. Keteguhan keyakinan dengan kesungguhan iman membuat ia berseberangan dengan pihak gereja, akibatnya terjadi penghukuman padanya. Sebenarnya kurang tepat apabila valentine day’s di jadikan sebagai hari pembuktin kasih sayang terlebih ungkapan asmara. Karena, tidak ada kejadiaan percintaan dua sejoli, dengan mempertahankan asmara antara keduanya. Berbeda dengan qais dan laila majnun.

Para pemuda-pemudi sudah terperprovokasi budaya ini, banyak diantara mereka yang menjadikan perayaan valentine sebagai pengejawantahan asmara yang membelitnya. Cium-ciuman, peluk-pelukan bahkan sampai rela berhubungan layaknya suami istri terjadi diluar pernikahan. Na’udzubillah!

Pada tahun silam, 14 Februari 2015, di Makassar, dalam razia wisma di hari Valentine atau hari kasih sayang, empat pasangan muda mudi yang bukan suami istri diamankan oleh polisi karena terdapat berduaan di kamar wisma.

Jika pada saat itu tidak diamankan oleh polisi bisa terjerumus perzinahan. Atau terjadi perbuatan haram tersebut sebelum polisi menggerebeknya. Beberapa lembaga pendidikan baik sekolah maupun madrasah seringkali lalai mengawasi anak didiknya agar tidak merayakan valentine. Kelalaian akan membuat pembentukan karakter sesuai dengan budaya agama tidak akan terealisasi.

Guru sebagai pendidik tidak hanya bertugas sebagai transfer pengetahuan, namun yang lebih penting mencetak manusia yang mempunyai kepribadian yang utuh sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya. Guru harus mengantisipasi berkait persoalan ini, upayakan pengawasan dan pengawalan jauh sebelum hari perayaan valentine segera dipersiapkan.

Seharusnya Diknas dan depag mengeluarkan surat edaran terhadap sekolah/madrasah yang menjadi tanggung jawabnya. Dan memberi sanksi bagi sekolah/madrasah yang melanggar. Ini, dimaksudkan agar membuat para pelajar tidak berani merayakan valentine, terlebih merayakan dengan cara berbau kemasiatan.

Saat inipun, sebagian santri yang menjadi masyarakat pesantren harus lebih diberi perhatian khusus, agar budaya valentinan tidan sampai menyisir pesantren. Pesantren sebagai institusi yang mampu mencetak masyarakatnya menjadi masyarakat yang berahlak, bertatakrama, diharapkan terus mengawal budaya yang menjadi karakteristik pesantren, agar tidak raib ditunggangi budaya kebarat-baratan yang merusak budaya pesantren dan kesantrian.

Mereka harus dibekali pengetahuan agama sebai-baiknya, tidak hanya melalui ceramah-ceramah melainkan melarang kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasulnya. Peran kiai sebagai pengendali tempat harus mampu mempertahankan identitas pesantren, meski perubahan zaman dan arus globalisasi semakin hari semakin menantang.

Tantangan zaman semakin besar, pesantren sebagai salah satu institusi yang paling diharapkan dalam menjaga karakter bangsa. Di tengah dekadensi moral anak bangsa, pesantren harus mampu melahirkan output sebagai kontribusi bagi bangsa yang telah mengalami kemorosotan-kemerosotan dalam segala dimensi. Mulailah dari hal yang paling mendasar, pengawasan kiai terhadap santri yang akan menghilangkan citra pesantren, moralitas, etika dengan upaya memberi pembekalan-pembekalan yang mengarah kepada kemaslahatan. Jangan biarkan santri hidup sesuai dengan polanya, agar budaya imitasi tidak meracuni pemikirannya. Jikalau ini terjadi pesantren (kiai) lalai memberi pengawasan, pesantren tak ubahnya seperti kos-kosan.

Pesantren yang terkenal sebagai religious power merupakan bagian penting dalam menjaga karakter dan keutuhan bangsa.

Oleh: Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid)

Khitobah Umum

Kegiatan Khitobah Umum, Kesuksesan Wilayah Dalam Merealisasikan Program Kerja

nuruljadid.net – Pola pembinaan santri dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satu caranya adalah dengan berinovasi dalam merancang kegiatan santri. Artinya, bagaimana program kerja wilayah bisa berjalan sesuai dengan harapaan dan target. Contohnya saja, di salah satu wilayah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid yakni Wilayah Az-Zainiyah yang dikenal dengan “Dalbar”.

Hari ini Senin, (13/02/2017) wilayah yang dinahkodai oleh Ustadzah Wahdatul Kholisoh, S.Pd.I berhasil merealisasikan sebuah program wilayah dalam bentuk kegiatan Khitobah Umum. Kegiatan yang bertempat di Musholla Az-Zainiyah disaksikan oleh santri Wilayah Az Zainiyah. Walau tak banyak Santri yang menyaksikan lomba ini acara yang di handle oleh pengurus pesantren bagian kegiatan belajar ini sukses digelar.

Pukul 20.55 WIB acara ini pun dimulai, peserta merupakan delegasi dari masing-masing daerah yang berada di Wilayah Az-Zainiyah. Peserta lomba ini membawa nama baik daerahnya masing masing, sehingga atmosfer panas terjadi di TKP.

Sebelum acara ini dimulai, panita pelaksana mengundi peserta untuk menentukan nomer urut peserta. Acara di buka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yang di lanjutkan dengan sambutan oleh Koordinator Pendidikan Wilayah Az-Zainiyah yaitu Ustadzah Fitria Ningsih.

Penampilan dari delegasi dari Daerah Robi’atul Adawiyah menjadi awal di mulainya lomba Khitobah tersebut, disusul dengan peserta selanjutnya yaitu dari Daerah Aminatuz Zuhriyah. Satu demi persatu peserta unjuk kebolehannya untuk mendapat nilai dari juri lomba tersebut. Akibat terealisasinya kegiatan ini, muncul beberapa potensi santri yang terpendam.

Tak hanya itu, untuk menambah heboh dan meriahnya acara lomba ini, panitia mengadakan Quis yang berisi seputar acara Khitobah Umum. “Pertanyaan Quis ini saya ambil dari acara Khitobah ini, bagi santri yang bisa menjawab panitia akan memberikan hadiah yang menarik,” ucap panitia di akhir acara. (Pik/DB)

Peserta Lomba Tartil Bulan Lomba 68

Menghayati Mars PP. Nurul Jadid Dengan Berparade Puisi

nuruljadid.net – Bulan lomba dalam rangka memperingati Haul Pendiri dan Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid yang ke 68 sudah berjalan 1 minggu lamanya, 2 lomba sudah selesai dilaksanakan dan juga sudah mengantongi pemenang dimasing masing lomba. Malam ini Senin (13/02), perlombaan yang dilombakan adalah Parade Puisi. Parade puisi adalah jenis musik yang memiliki irama teratur dengan dinyanyikan oleh satu kelompok yang berisikan beberapa orang dengan nada yang berbeda beda.

“Tujuan dilaksanakannya lomba ini adalah selain menyemarakkan Bulan Lomba dalam rangka memperingati Haul Pendiri dan Harlah ke 68, juga bertujuan membiasakan mereka (peserta) untuk menghayati lagu Mars Nurul Jadid dan asrama mereka masing masing” ujar Ust. Muhammad Ghufron, Panitia Bulan Lomba yang membawahi bidang keilmuan.

Perlombaan ini diikuti oleh 15 Wilayah Putera. Setiap wilayah mendelegasikan sebanyak satu regu yang berisikan maksimal 15 orang. Perlombaan ini tak memiliki durasi waktu, namun memiliki peraturan yang setiap regu wajib membawakan lagu Mars Pondok Pesantren Nurul Jadid dan mars wilayah masing masing dengan kriteria penilian, kekompakan 40%, Kerapian 30% dan Intonasi 30%.

“Alhamdulillah, lomba ini mendapatkan respon yang baik dari masing masing wilayah. Buktinya, hampir semua wilayah mendelegasikan dan mereka membawakannya dengan berbagai macam cara. Ada yang sedikit lupa dengan liriknya, ada juga yang tidak paham dengan iramanya dan masih banyak lainnya” cakap Ust. Ghufron kepada Kru Nuruljadid Website.

“Tapi ada juga yang membawakan dengan penuh penghayatan dengan performance yang memukau. Ini adalah harapan kami selaku panitia. Agar mereka dapat menghayati lagu Mars Nurul Jadid sehingga mereka tidak hanya hafal dengan liriknya saja, namun mereka bisa hafal sekaligus menghayati pesan dari Mars Nurul Jadid” tambah Koordinator Lomba di kategori Keilmuan ini dengan wajah yang sumringah.

Perkembangan Masjid Jami’ Nurul Jadid Bulan Februari 2017

Nuruljadid.net- Informasi Progres Pembangunan Masjid PP. Nurul Jadid sampai dengan bulan Februari. Pembangunan Masjid Jami Nurul Jadid yang sudah dilakoni sejak tahun 2015 lalu sudah terlihat progres persis seperti yang telah diharapkan walau masih belum selesai, dalam pembangunan masjid jami santri juga ikut andil dalam tahap-tahap pembangunan masjid seperti yang sudah terpampang jelas hasilnya.

kondisi tangga, mihrob, dan lantai I dan II sudah selesai dilakoni dengan masa pengecoran 3 Hari yang perkerjakan oleh santri, pengurus beserta kuli sehingga bisa dibilang progres yang cepat dalam proses pembangunan Masjid Jami Nurul Jadid.

masjid jami nurul jadid diperira akan terselesaikan dalam skala jangka waktu 3-5 tahun tahap pembangunan, dan alhamdulilah sudah untuk bagian lantai I dan II sudah bisa digunakan oleh seluruh santri dan tamu sebagai tempat ibadah dan kegiatan santri.

 

 

Bedah Buku darah wanita oleh ustad Ahmad Qusyairi Ismail

Bedah Buku Darah Wanita di Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilyah Az Zainiyah

nuruljadid.net – Kegiatan Bedah Buku “DARAH WANITA” kemarin (10/02) terlaksana dengan sukses, yang diselenggarakan oleh pengurus wilayah az-zainiyah bagian Furudul Ainiyah (FA) dengan penyaji Ahmad Qusyairi Ismail dari Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Kegiatan ini adalah salah satu kegiatan tahunan dalam satuan kerja pengurus furudul ainiyah yang diikuti oleh semua pengurus dan semua mahasiswi di wilayah az-zainiyah yang bertempat di aula Mts Nurul Jadid Puteri dengan membayar kontribusi acara sebesar Rp. 15.000,00 sebagai wadah media interaktif dalam menambah pemahaman ilmu furudul ainiyah, dengan judul “Darah Wanita”.

Mengapa peserta bedah buku hanya diikuti oleh pengurus dan mahasiswi saja, “karena pengurus dan mahasisiwi (calon pengurus) yang nantinya akan membantu dan membimbing secara langsung dalam menjawab permasalahan santri-santri yang mempunyai masalah tentang darah wanita” jelas Ustdzah Wahdatul selaku kepala wilayah di az-zainiyah.

Suasana Kegiatan bedah buku “Darah Wanita” sangat berantusias, semua pengurus dan mahasiswi berdialog aktif dengan Penyaji, tentang bagaimana pemacahan masalah-masalah darah wanita yang terjadi langsung oleh santri atau masayarakat sekitar serta memberikan pemahaman lebih luas dan jelas tentang darah wanita.

“Wanita sangat wajib mengetahui dan mengerti tentang furudul ainiyah, terutama darah wanita yang terdiri dari Haid, Istihadoh, Wiladah Dan Nifas. Wanita itu harus tau, kapan waktu haid, bagaimana cara menghitungnya, kapan boleh berhubungan dengan suami dll. Dengan ini hukum mempelajari darah wanita yaitu wajib” berikut penjelasan awal dari ustad Ahmad Qusyairi Ismail. (Mila/DB)

Peserta Lomba Tartil Bulan Lomba 68

Tartil Qur’an, Bakat Minat yang Kembali Mencuat di Kalangan Santri

nuruljadid.net – Al-Qur’an adalah sumber kemuliaan. Siapapun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, maka tidak ada yang akan dia dapatkan selain kemuliaan. Namun, siapa pun yang berpaling dari tuntutan Alquran, maka Allah akan memberikan kesempitan dalam hidupnya.

Oleh Karenanya, syarat paling mendasar dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah bagaimana kita mampu menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup sehari-hari. Hidup bersama Alquran adalah kenikmatan tiada tara. Banyak sekali ummat muslim yang berlomba lomba untuk membaca bahkan sampai menghafal serta memahami makna dari kitab ummat islam itu. Namun yang terpenting dalam membaca Al-Qur’an adalah membacanya dengan pelan dengan sesuai dengan tajwid yang sering kita dengan adalah “Tilawah”

Tilawah dalam ayat tersebut adalah berfungsinya lisan, akal, dan hati ketika melantunkan Alquran. Lisan berfungsi dengan baik ketika mampu mentartilkannya. Berfungsinya akal adalah dengan memahami isi ayat yang dilantunkan. Sedangkan berfungsinya hati adalah dengan merenungkan nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya.

“Tartil adalah membaca Al-Qur’an dengan mengikuti prosedur dan aturan serta sesuai dengan kaidah yang berlaku baik dalam segi makhraj (tempat keluar dan safat huruf) dan mengetahui tempat-tempat berhenti (waqaf) dengan tempo yang pelan serta meresapi maknanya” ujar Ust. Sa’ari selaku juri dalam loma tartil Qur’an.

“Skill suaranya sudah bagus namun masih ada beberapa kesalahan dalam bacaan seperti makhrojul huruf dan rata rata para peserta terlalu cepat dalam melantunkan ayat ayat Al Qur’an. Mungkin disebabkan karena mereka nervous atau kurang pengalaman” tambah Ust. Sa’ari yang pernah menyabet Juara 1 MSQ tingkat Jawa Timur di tahun 2014.

Dalam akhir perbincangan, Ust. Sa’ari juga memberikan beberapa harapan kepada pihak pesantren terutama di bagian bakat dan kesenian, agar mereka dapat kembali menghidupkan ekstrakulikuler pesantren terutama dalam Tartil Qur’an. Karena, malam ini para peserta telah membuktikan dirinya mampu untuk melantunkan ayat suci Al Qur’an dengan tilawah. Terakhir harapan beliau adalah bimbingan dan pembinaan khusus bagi mereka yang sudah memiliki potensi yang bagus.

“Kalau skill mereka sudah bagus, tinggal melakukan beberapa pendampingan secara intensif saja, agar mereka dapat berkembang. Dan peserta tartil ditahun ini sudah luar biasa, ada peningkatan yang signifikan dari tahun sebelumnya” respon Ust. Sa’ari tentang lomba tartil ini.

KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid

Kapolres Probolinggo Silaturrahmi Ke Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid

nuruljadid.net – Silaturrahmi merupakan hal yang harus dilakukan oleh Ummat Islam. Beberapa manfaat silaturrahim adalah dapat memanjangkan usia, menambah banyak dan berkah rejeki, memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama dan masih banyak lainnya.

Pada hari ini (07/02/2017) Pondok Pesantren Nurul Jadid kedatangan tanmu besar, yakni Kapolres Probolinggo, Arman Asmara Syarifuddin. Dengan didampingi beberapa staffnya, Kapolres Probolinggo langsung mendatangi kediaman Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini. Tujuan kedatangan beliau ke Pondok Pesantren Nurul Jadid adalah ingin bersilaturrahim kepada Pengasuh.

“Tujuan beliau (Kapolres) adalah hanya ingin bersilaturrahim kepada Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid” ucap salah satu staff Polres Poroblinggo.

Kedatangan Bapak Arman (sapaan akrab Bapak Kapolres) disambut dengan ramah oleh Pengasuh. Dengan penyambutan itulah Bapak Arman merasa nyaman mendatangi kediaman Pengasuh.

“Ketika saya masuk ke dhalem jenengan, saya merasa nyaman Pak Kiai, seperti layaknya rumah sendiri” ujar Pak Kapolres kepada Pengasuh dengan tertawa.

Bapak Arman yang resmi menjabat menjadi Kepala Polres Probolinggo sejak Jum’at (13/05/2016) menggantikan Bapak Irwam Setyawan berbincang santai dengan KH. Zuhri. Dalam percapakan beliau, Bapak Arman mengungkapkan maksud dan tujuan beliau ke Nurul Jadid.

“Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk menyambung silaturrahmi dan untuk mendapatkan sedikit masukan dari jenengan Pak Kiai” Ucap Pak Arman dengan kembali menunjukkan raut wajah yang gembira.

“Saya ingat dengan saran jenengan ketika saya kesini beberapa waktu yang lalu, Dalam menjalani kehidupan kita harus kuat dan sabar” tambah beliau sambil mengucapkan dawuh Kiai Zuhri.

Pertemuan dan percakapan yang berlangsung selama kurang lebih 90 menit lamanya berlangsung dengan suasana yang gembira. Pasalnya, Pengasuh dan Kapolres berkali kali terlihat tertawa dengan topik yang beliau bicarakan.

KH. Faiz

Sosialisasi dan Edukasi Uang NKRI Tahun Emisi 2016 Oleh Bank Indonesia di PP. Nurul Jadid

nuruljadid.net – Segalanya memang membutuhkan uang, untuk memenuhi beberapa kebutuhan manusia memang membutuhkan uang. Bahkan sering terdengar dibenak kita, kapanpun dan dimanapun kita berada bahwa “Tiada Yang Gratis di Dunia ini”. Memang untuk hidup kita membutuhkan uang sebagai pengganti atau sebagai alat untuk menukar sesuatu dengan barang, namun bukan berarti uang adalahnya segala – galanya dalam hidup ini. Banyak sekali definisi tentang uang, uang adalah sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang. Ada juga yang menyatakan uang adalah sebagai satuan nilai dan sebagai standar pembayaran yang tertunda – tidak menolong untuk menentukan “benda” yang termasuk dalam penawaran uang dan mana yang tidak termasuk, karena benda-benda tersebut berupa abstraksi yang dapat dihubungkan dengan banyak benda lain yang berbeda.

Dewasa ini, banyak sekali kasus kasus yang muncul akibat “uang”. Yang marak adalah pemalsuan uang. Telah banyak beredar disekitar tentang kasus tersebut sehingga kasus pemalsuan sudah bukan menjadi hal yang unik pada akhir akhir ini. Banyak cara untuk mendapatkan uang bahkan untuk mendapatknannya manusia yang memiliki sifat konsumtif terkadang tak menghiraukan halal dan tidaknya uang yang didapatkan. Mereka (manusia) akan melakukan apa saja demi “uang”.

Dari persamalahan diatas, maka tujuan Bank Indonesia (BI) mengunjungi Pondok Pesantren Nurul Jadid adalah untuk mensosialikan uang emisi 2016 dan memberikan sedikit seputar uang untuk diketahui bersama. Ibu Titin salah satu anggota BI yang berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Jadid memaparkan beberapa Informasi tentang uang, dimulai dari dasar hukum, desain uang, unsur pengamanan uang rupiah sampai pada proses pencetakan dan pendistribusian uang rupiah diberbagai daerah.

“BI mendistribusikan uang rupiah melalui banyak cara, dimulai dari pendistribusian melalui darat, udara dan laut. Oleh karenanya BI berkoordinasi dengan TNI untuk mendistribusikannya.” ujar Ibu Titin dalam mempresentasikan slide BI kepada peserta.

Kegiatan yang dihadiri oleh 170 orang peserta yang notabennya adalah siswa dan siswi kelas XII berlangsung sangat menyenangkan, pasalnya mereka (siswa dan siswi) mendapatkan sebuah hal yang baru yang tak pernah mereka ketahui sebelumnya. Salah satunya adalah ditampilkannya video yang menggambarkan proses bagaimana uang itu dibuat hingga sampai didistribusikan.

“Desain uang emisi 2016 menampilkan gambar yang  dapat mewakili seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke,  yaitu : Bagian  depan:  Gambar  Pahlawan  Nasional  yang  mewakili  seluruh wilayah Tanah Air. Bagian belakang (hanya uang kertas): Gambar tarian dan keindahan  alam Nusantara.” Ujar Ibu Titin selaku anggota BI yang bertugas menyampaikan uang emisi 2016. Senin (06/02).

Selain Ibu Titin, staff BI yang ikut serta berkunjung ke PP. Nurul Jadid adalah Bapak Nurkolis. Dia menjabat sebagai kasir di Bank Indonesia (BI). Dia mengatakan bahwa banyak kasus tentang pemalsuan uang NKRI, oleh karenanya beberapa tindakan telah dilakukan oleh BI terutama di uang baru tahun 2016.

“Penguatan unsur keamanan Uang Rupiah Tahun Emisi 2016 dalam rangka mencegah dan menanggulangi peredaran uang  Rupiah palsu di masyarakat, BI mengeluarkan uang Rupiah TE  2016 dengan memperkuat unsur pengaman: COLOR SHIFTING, RAINBOW FEATURE, LATENT IMAGE, ULTRA VIOLET FEATURE, BLIND CODE/TACTILE EFFECT, RECTOVERSO” Kata Nurkolis sambil mempraktikkan kepada peserta dimasing masing unsur pengamanan dengan menunjukkan pecahan uang rupiah yang baru.

Dalam akhir pertemuan, Ibu Titin dan Bapak Nurkolis melakukan sesi pertanyaan kepada peserta. Respon baik yang diberikan oleh peserta, banyaknya pertanyaan yang dilontarkan membuat bapak Nurkolis memberikan pujian kepada mereka.

“Alhamdulillah, sosialisasi berjalan dengan lancar dan mendapat respon baik dari peserta. Saya kagum dengan mereka, masih kelas XII sudah mampu memberikan pertanyaan sekelas mahasiswa. Pencapaian pendidikan yang bagus” puji beliau kepada peserta yang disampaikan kepada kru NJ Bullettin.

bulan lomba

Opening Ceremony Bulan Lomba ke 68 : Lautan Santri Membanjiri Lapangan Ayaman PP. Nurul Jadid

nuruljadid.net – Dalam menyambut hari lahir yang ke 68 dan Haul Masyaikh, Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali mengadakn pembukaan bulan lomba.

Kegiatan bulan lomba merupakan kegiatan rutin yang di adakan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid setiap satu tahun sekali. Dalam acara pembukaan yang bertempat di lapangan ayaman  tepat pada hari senin malam selasa, ( 06,02,17 ). Pada malam pembukaan, Hampir seluruh santri putra Pondok Pesantren Nurul Jadid ikut serta memeriyahkan dan merayakan malam pertama bulan lomba yang ke 68.

Pada malam pembukaan, yang di awali dengan merdunya lantunan ayat – ayat suci al-qur’an, yang di bacakan oleh salah satu santri putra asal pulau bali, kemudian di lanjut oleh sambutan ketua panitia bulan lomba yang ke 68, yang di sampaikan oleh uztad Horik Alamsyah, dalam sambutannya santri yang berasal dari Bondowoso, menyampaikan tujuan di adakannya bulan lomba, yang pertama sebagai sarana mengasah skill dan kreatifitas santri, kedua sebagai wahana menggembleng mental santri agar nantinya berada d tengah – tengah masyarakat menjadi orang yang siap dan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, dalam sambutannya ketua panitia sekaligus mengharap dengan di adakannya bulan lomba yang ke 68, akan lahir seorang santri yang siap tampil di depan fublik dan siap membawa perubahan di tengah – tengah masyarakat ke arah yang lebih baik.

Dalam malam pembukaan, KH. Makki Maimun Wafi, mewakili kepala pesantren, dalam sambutannya, menyampaikan beberapa harapan sekaligus mendoakan, semoga Haul dan Harlah yang ke 68, berjalan dengan lancar dan tidak hujan.

Dalam lomba yang ke 68, di bedakan menjadi tiga jenis lomba, yang terdiri dari, lomba yang bersifat keagamaan, keilmuan dan olahraga. Yang sama – sama di ikuti oleh semua santri putra pondok pesantren nurul jadid.

Pengajian Rutin Kitab Al Hikam di Musholla Riyadus Sholihin PP. Nurul Jadid dikaji langsung Oleh KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid

KH. Moh. Zuhri Zaini : Jangan Bergantung Kepada Selain Allah SWT

nuruljadid.net – Allah menciptakan kehidupan dunia sebagai mazro’atu al-akhirat ( ladang untuk akhirat ). Di utusnya Nabi Muhammad ke dunia dengan misi menyebarkan ajaran – ajaran islam rahmatan lil’alamin dalam tataran kehidupan dunia. Terutusnya sang pembawa risalah juga merupakan nikmat yang sangat besar yang patut kita syukuri, karna dengan risalah yang di bawahnya manusia tidak merasa bingung dalam mengarungi kehidupan dunia. Seiring dengan dinamika kehidupan yang terjadi di tengah – tengah masyarakat, juga berdampak terhadap berubahnya pola pikir dan tingkah laku masyarakat. Dengan kondisi masyarakat yang mengalami dinamika, dan ketergantungan hidup masyarakat  terhadap materi, tentunya sangat di perlupakn menempatkan ajaran – ajaran islam sebagai sebuah basis ke agamaan yang menjadi control dalam tataran masyarakat.

Pola hidup mewah juga berdampak terhadap berlomba lombanya masyarakat untuk mendapatkan materi, dan ketergantungan masyarakat terhadap materi sangat besar. Bahkan tidak jarang sebagian masyarakat yang menjadikan tujuan hidupnya hanya untuk mencari yang namanya materi dan kesenangan dunia.

Dalam kondisi sebagian  masyarakat, yang bergantung terhadap materi, pengasuh pondok pesantren , Nurul Jadid, karanganyar, paiton, probolinggo, mengingatkan ,” dalam usaha apapun, mencari ilmu, beribadah jangan mengandalakn kemampuan kita, andalkanlah allah,” dauh beliau dalam pengajian kitab Hikam karya Ibnu Athoillah, sabtu ( 04/02/2017 ).

Kiai Zuhri melanjutkan dauhnya ,” orang yang slalu bergantung kepada allah pasti orang tersebut akan slalu di bantu,”  ketika orang beribadah, berjuang, jangan mengandalkan didri sendiri andalkanlah allah.

Ketika manusia mengandalkan allah dalam setiap usahanya, tidak menjadikan materi sebagai tempat bergantungnya, maka allah  pasti memerikan pertolongan kepada orang tersebut.karna hanya kepada allah kita bergantung dan berharap dari apa yang kita inginkan.

pekan bahasa

HUT ke 28 : Mading 3D, Wadah Kreativitas Peserta Didik LPBA

nuruljadid.net- Pada umumnya kegiatan anak muda tidak pernah sepi dari kreativitas, misalnya olahraga, olah seni, keterampilan, permainan, dan tidak ketinggalan pula aktivitas ekspresi tulis. Lewat karya tulis akan tersalurkan dua macam manfaat yang bersifat timbal balik. Dari sisi penulis, majalah dinding adalah tempat untuk mencurahkan bermacam ide. Beragam gagasan, pikiran, daya cipta, bahkan fantasi yang mengiringi perkembangan jiwanya perlu penyaluran dan media untuk menuangkannya. Maka tepatlah apabila mading digunakan sebagai wadah curahan kreativitas kawula muda karena didukung oleh sifatnya yang mudah dilaksanakan dengan biaya yang murah.

Mading 3D yang berada dibawah organisasi BPMA (Badan Penerbitan Majalah Asing) merupkan sebuah cara untuk menuangkan kreativitas peserta didik LPBA. Sajian didalamnya dikombinasikan dengan hasil karya tulis peserta didik LPBA. Hal ini dilakukan adalah hanya bertujuan untuk membuat gerakan inovasi baru bagi peserta didik untuk menuangkan hasil karya tulis mereka agar lebih mudah untuk dilihat oleh peserta didik lainnya bahkan santri dari berbagai daerah/wilayah. Namun untuk penerbitan mading 3D kali ini hanya diperuntukkan untuk menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) LPBA ke 28 th.

“Mading 3D kami adakan dengan tujuan untuk memberikan penampilan baru bagi peserta didik LPBA yang mampu dalam bidang “tulis menulis” untuk dipublikasikan, selama ini kami hanya memberikan sebuah majalah halaman atau leaflet kepada seluruh kamar yang ada di LPBA yang diterbitkan secara bergilir dan terbit setiap 2 minggu sekali” ujar Anisatul Fajriyah selaku Ketua BPMA putri periode ini.

“Mading juga berfungsi sebagai wadah untuk menuangkan kreativitas peserta didik LPBA karena banyak potensi yang sebenernya mereka miliki, contohnya ada peserta didik LPBA yang mampu dalam bidang tulis menulis, dan juga ada yang hanya mampu dalam bidag kreatifitas. Oleh karenanya Mading 3D ini adalah kombinasi dari kedua hal tersebut yang harapannya dapat memberikan citra baru bagi mereka dan LPBA sehingga kreasi anak LPBA yang terpendam dalam dituangkan disini (Lomba Mading 3D)” tambah Anis (sapaan akrab Anisatul Fajriyah) yang berdomisili di Wilayah Az Zainiyah Nurul Jadid.

Dalam perlombaan kali ini, BPMA mengangkat sebuah tema tentang Aleppo dan Hebohnya Masyarakat dunia akibat ulah Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Isu isu terkini menjadi sasaran empuk bagi BPMA untuk menguji tingkat kepedulian mereka akan isu isu yang terjadi baik dari isu di dalam negeri ataupun internasional. Sehingga, dengan demikian, mereka akan mengungkapkan pendapat atau aspirasi mereka dalam sebuah tulisan dan gambar tentunya dengan menggunakan 2 bahasa asing (inggris / arab).

Juri merupakan penentu kemenangan dalam lomba ini dan tak boleh diganggu gugat keputusannya. Pada lomba kali ini, yang menjadi penilaian tertinggi adalah dalam segi penulisan atrikle dan tanggapan didalamnya. Sedangkan kreativitas menjadi penilaian nomer 2 setelah penulisan artikel. Pengembangan skill bahasa asing dalam bahasa tulisan menjadi priotitas dalam lomba ini dikarenakan tujuan awal adalah mengevaluasi kemampuan peserta didik dalam menulis bahasa asing yang mereka geluti.

“Siapapun pemenangnya, kami akan menerima dengan lapang dada. Disinilah persaingan kompetitif. Bagi mereka yang menang agar tidak berbesar hati dan untuk yang kalah untuk tidak berkecil hati. Karena semuanya didapatkan berdasarkan proses yang dilakukan” cakap Anis.

FKO NJ
KH. Abd. Hamid Wahid : FKO Sebagai Motor Penggerak Utama Dalam Pembentukan Karakter Siswa

nuruljadid.net- Ketegangan nampak di raut wajah peserta pelantikan Pengurus Forum Komunikasi OSIS (FKO) Nurul Jadid. Duduk diatas kursi empuk memang menyenangkan, namun tidak bagi mereka kali ini. Pasalnya mereka pada hari ini jumat (03/02) akan mendapatkan pengukuhan sebagai pengurus FKO periode 2017-2018. Amanah yang akan mereka pikul adalah amanah besar yang tidak semua santri Nurul Jadid bisa melakukannya. Dengan usia mereka yang masih belia, mereka sudah harus memperlajari dan mengukuti serta berproses menjadi sosok pemimpin yang bijaksana dan bisa memimpin dengan baik. Teori  teori kemepimpinan sudah tertanam diusia mereka. Disaat hari ini (03/02) santri lain sedang melakukan aktifitas sendiri, para pengurus FKO harus duduk manis diatas kursi pernikel untuk menantikan dikukuhkannya mereka sebagai pengurus FKO Nurul Jadid.

Seragam pesantren menghisai tubuh mereka. Dilengkapi dengan berkopyah nasional mereka harus rela untuk berikrar sebagai pengurus FKO baru. FKO yang kiprahnya sudah besar bagi perkembangan Nurul Jadid itu sudah ada sejak tahun 1980 an. Pada zaman itu, FKO adalah motor penggerak utama pembentukan karakter dan upaya untuk melahirkan kepemimpinan dari kalangan siswa. Berjaya dizamannya adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka (FKO tahun 1980-an). KH. Mursyid Romli (Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Paowan, Situbondo), Akik Zaman (DPRD), Amin Said Husni (Bupati Bondowoso sekarang) merupakan salah satu output yang masih eksis sampai saat ini.

“FKO ini punya catatatan sejarah emas di pesantren ini dan memberikan kontribusi besar di Nurul Jadid. Salah satu aspek kesadaran yang dikembangkan di PP. Nurul Jadid adalah kesadaran berorganisasi. Dengan kesadaran itu, maka pesantren mengajak santri untuk mengembangkan diirnya agar mereka bisa berorganisasi dengan baik” dawuh KH. Abd. Hamid Wahid, Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid saat ini.

“Organisasi itu adalah merumuskan cita cita bersama dan mewujudkan cita cita bersama itu menjadi perubahan yang ada secara kolektif di masyarakat. Untuk mencapai perubahan diharuskan memiliki kesadaran kolektif untuk berubah kemudian melakukan langkah untuk perubahan” tambah beliau ketika memberikan sambutan dalam pelantikan FKO pagi tadi (03/02).

Hidup bermanfaat adalah merupakan tujuan manusia. Cara untuk mendapatkannya adalah dengan cara membiasakan diri untuk berorganisasi. Dengan berorganisasi maka setiap individu atau orang akan mampu untuk berfikir secara kolektif. Oleh karenanya, organisasi sejak dini sangat perlu dilakukan agar mereka (pengurus FKO) dapat memikirkan sesuatu agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Berogranisasi sejak siswa adalah salah satu bentuk untuk berpraktek didalam merumuskan dan mewujudkan cita cita bersama” Dawuh KH. Abd. Hamid Wahid.

Beliau juga menambahkan, “Berproses, berkesempatan mengurus orang lain, bermasalah dan berurusan dengan kesulitan akan mengasah kita menjadi pribadi yang terus meningkat. Dengan begitu kita akan bisa bermanfaat kepada orang lain. Hidup bersama tidak memiliki sekolah. Hidup bersama dan bermanfaat diperoleh dengan kita menjalaninya”

Diakhir sambutan beliau, beliau memberikan sedikit motivasi kepada Pengurus FKO terpilih untuk tetap bekerja keras dan berlatih mengabdi kepada pesantren. Dan beliau juga mengajak para Pengurus FKO terpilih untuk napak tilas mengikuti jejak kejayaan FKO dimasa dahulu, kejayaan yang harus diulang pada periode kali ini. FKO diharapkan dapat menjadi motor penggerak  dalam pembentukan karakter dan melahrikan jiwa kepemimpinan dikalangan siswa.

Pelantikan Kepengurusan FKO Putra Nurul Jadid

Reformasi Kepengurusan Sebagai Angin Segar Untuk FKO Putra Nurul Jadid

nuruljadid.net- Reformasi kepengurusan dalam sebuah organisasi memang sangat penting untuk dilakukan karena itu merupakan sebuah penyegaran kembali dalam keorganisasian agar mereka (pengurus organisasi) bisa memberikan sebuah gerakan perubahan dan memunculkan inovasi baru sebagai bentuk pengembangan dan pemapanan masa depan sebuah organisasi. Penyegaran kembali dalam organisasi sangat berpengaruh kepada stabilitas sebuah organisasi dalam menjalankan tugasnya, baik tugas secara umum maupun tugas dalam keanggotaan.

Hari ini, jum’at (03/02) Forum Komunikasi OSIS (FKO) melakukan gerakan penyegaran dalam kepengurusan atau lebih dikenal dengan istilah “Reformasi” harapannya adalah terjadinya penyegaran pengurus sehingga semangat untuk mengabdi dalam organisasi tersebut semakin meningkat. Tak hanya itu, penyegaran kepengurusan juga dapat merancang masa depan organisasi tersebut untuk semakin berkembang. FKO yang sudah berjalan setahun lamanya melakukan pergantian pengurus sehingga pada periode berikutnya program kerja yang tak sempat dilaksanakan bisa terealisasi.

“Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing kami dalam menjalankan amanah pesantren, semoga FKO kedepannya dapat berkembang lebih baik menuju organisasi yang mampu mencetak generasi unggul” cakap Khoirul Anam, selaku Ketua FKO devisioner (2016 – 2017).

“Harapan saya kepada FKO terlantik adalah dapat menjalankan semua programnya dengan konsisten dan juga pendekatan antara ketua dan anggota agar lebih di intenkan lagi. Itu semua merupakan kelemahan kami selama 1 tahun yang lalu. Bagaimana agar semua itu tidak kembali terulang di periode ini” tambah Anam dalam sambutannya, Jum’at (03/02).

“Kami mohon bimbingan dan motivasi dari kakak pembina untuk menggiring kami untuk selalu konsisten dengan apa yang telah kami ikrarkan. Sehingga kami dapat menjalankan tugas dengan benar. Harapan saya adalah kami dapat melangkah lebih baik membuat perubahan yang dapat mengharumkan nama FKO dan Nurul Jadid” kata Muhammad Ayyubi yang lebih dikenal akrab dengan Yubi yang sekarang menjabat sebagai Ketua FKO Periode 2017 – 2018.

Proses pelantikan yang dihadiri oleh Bapak Sugio Ahmad (Biro Pendidikan), Bapak Rojabi Azhargany (Pembina FKO) dan KH. Abdul Hamid Wahid (Kepala Pesantren) berjalan dengan khidmat. Proses serah terima jabatan yang disaksikan oleh Biro Pendidikan dan Pembina FKO pun terlaksana dengan baik. Dilanjutkan dengan prosesi pengikraran yang dipimpin oleh Bapak Sugio Ahmad selaku perwakilan dari Biro Pendidikan.

“Pengalaman adalah guru terbaik, untuk mendapatkannya maka kita harus berani untuk melangkah sekalipun banyak hal yang akan menguji perjalanan kita, namun itulah sebuah perjuangan yang akan memberikan sebuah pengalaman dalam berorganisasi” ujar Bapak Sugio dalam sambuatan mewakili Biro Pendidikan (03/02).

Beliau juga menambahkan, evaluasi dari kepengurusan sebelumnya agar dapat diselesaikan oleh Kepengurusan yang baru sehingga FKO kedepan berangsur angsur membaik.

FKO NJ

Pelatihan Leadership, Pembuktian FKO Nurul Jadid untuk Masa Depan Nurul Jadid

nuruljadid.net – Menjadi seorang pemimpin yang benar benar mempimpin adalah sesuatu yang diidamkan oleh banyak orang terutama bagi generasi muda yang ingin menggeluti dunia pemimpin dan kepemimpinan. Namun hal ini membutuhkan proses dan perjalanan yang sangat panjang. Keinginan untuk menjadi sosok pemimpin yang benar benar mempimpin harus sudah ditanamkan sejak dini.

Pemimpin dan kepemimpinan merukapan dua hal yang berbeda definisi. Pemimpin adalah orang yang memimpin dua orang atau lebih dalam sebuah organisasi. Sedangkan Kepemimpinan adalah entitas yang mengarahkan kerja para anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan yang baik diyakini mampu mengikat, mengharmonisasi, serta mendorong potensi sumber daya organisasi agar dapat bersaing secara baik. Kepemimpinan juga memiliki sifat kolektif dalam arti segala perilaku yang diterapkan seorang pimpinan akan memiliki dampak luas bukan bagi dirinya sendiri melainkan seluruh anggota organisasi.

Hal ini dirasakan oleh Pengurus Forum Komunikasi Osis (FKO) Putra Pondok Pesantren Nurul Jadid. Hari ini (02/02/2017) mereka dilatih untuk menjadi pemimpin yang benar benar memahami tentang kepemimpinan. Perjalan awal mereka tempuh untuk mewujudkannya dalam bentuk berorganisasi intra sekolah. Mereka (FKO) harus menjalani beberapa pelatihan dan seminar tentang pemimpin dan kepemimpinan. Fasilitator merupakan kunci dari tertanamnya jiwa pemimpin dan kepemimpinan disetiap individu maupun organisasi. Oleh karenanya Tim NJ Trainers adalah fasilitator mereka untuk mewujudkan harapan mereka.

Pelatihan yang dirancang dengan semenarik mungkin telah dilakukan oleh Tim NJ Trainer. Kali ini mereka mendapatkan sebuah tugas untuk membina dan mendampingi pengurus FKO dengan permainan permainan yang telah mereka rancang sebelumnya. Menggagas permainan semenarik mungkin adalah tugas mereka. Agar dalam membawakan materi kepemimpinan peserta dapat menyerap dengan mudah.

“Tujuan dilaksanakannya pelatihan ini adalah mendobrak kebiasaan lama mereka, salah satu contohnya adalah dalam melaksanakan sebuah kegiatan, mereka harus mempersiapkannya dengan matang. Sehingga kegiatan itu dapat mengajari mereka bagaimana menjadi sosok pemimpin yang handal dalam memanage kegiatan dan berporses dalam kegiatan tersebut” ujar Ketua Tim NJ Trainer, Ady Azhari.

Pelatihan ini diikuti oleh anggota OSIS masing masing lembaga yang berada dibawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid. 10 orang dari masing masing lembaga hadir dalam pelatihan ini. Bermain bersama dengan didampingi oleh kakak kakak pembina. Pola permainan dilakukan dengan berbeda beda, ada yang dilakukan secara floor dengan artian seluruh peserta pelatihan dibimbing oleh kakak pembina, ada juga yang menggunakan pola berkelompok. 2 hal ini dilakukan agar kakak pembina (NJ Trainer) dapat mengetahui hasil mereka (Peserta) dengan cepat dan tepat.

Pelatihan ini juga diikuti oleh beberapa anggota FKO baru yang akan meneruskan perjuangan dari FKO diperiode sebelumnya. Hal itu (pelatihan) dapat menjadi bekal awal bagi mereka untuk melangkah kedepan membawa almamater Nurul Jadid menjadi cerah.

“Harapan saya kepada pengurus FKO yang baru adalah jangan berhenti dalam melangkah, berproseslah. Karena dengan berproses mereka akan belajar menjadi sosok pemimpin” cakap Anam selaku Ketua FKO periode 2016-2017.

“Komunikasi antara anggota dan ketua harus lebih diintenkan lagi, karena selama ini banyak sekali anggota yang masih enggan untuk berinteraksi dengan ketua, sehingga terjadilah miss communication didalamnya. Saya menginginkan di pengurusan tahun depan (2017-2018) FKO dapat berkembang pesat dengan tidak melakukan kesalahan kesalahan di periode sebelumnya” tambah Anam.

Dalam kesempatan ini, Anam juga menyampaikan beberapa harapan kepada tim NJ Trainer untuk berbenah diri dan melakukan pengembangan dalam melatih para anggota FKO. sehingga dapat memberikan pembelajaran dan pengalaman baru bagi FKO. Tak lupa pula agar kakak pembina agar lebih intent dalam mendampingi FKO. “Karena FKO akan melakukan beberapa perubahan positif demi Pondok Pesantren Nurul Jadid karena mereka adalah orang orang terpilih yang akan mengharumkan almamater Nurul Jadid sekalipun peran mereka tidak vital dalam pesantren, namun mereka memiliki harapan yang besar untuk menghasilkan generasi muda pesantren yang berjiwa kepemimpinan yang besar” ujar Anam, Ketua FKO yang sebentar lagi akan direformasi kepengurusannya.