Pos

Galeri Foto: Outbound Santri – Mentari 2019 Wilayah Al Mawaddah

Kiai-Najjiburrahman-Wahid;-Pesantren-Lembaga-mencetak-insan-berakhlak-mulia

Kiai Najiburrahman Wahid; Pesantren Lembaga Mencetak Insan Berakhlak Mulia

nuruljadid.net – KH Najiburrahman Wahid, turut hadir dalam penutupan Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2019, beliau mengajak dan memandu seluruh santri baru putra-putri membaca Ikrar secara bersama, selesai pembacaan ikrar secara serentak, beliau memberikan tausyiah kepada seluruh santri baru. Acara yang dilaksanaskan pada, Kamis malam, (18/07/2019).

Sebagai wakil Kepala Pesantren kiai Najiburrahman Wahid menyampaikan, dengan pembacaan ikrar sudah menjadi santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, karena mondok di pesantren itu, pada hakikatnya adik-adik santri baru ini adalah titipan, amanah dari orang tua yang dititipkan kepada pengasuh dengan baik-baik, di mintak kan restu dan doanya.

Selama beberapa hari trakhir adik-adik santri baru sudah mendapat materi tentang Nurul jadid seperti pepatah yang mengatakan “Tidak kenal maka tidak sayang”, dan semoga adik-adik setelah mengenal kemudian sayang kepada Pesantren Nurul jadid dan semakin kerasan di pesantren Nurul jadid.

“Pesantren Nurul Jadid hakikatnya adalah lembaga yang ingin membentuk adik-adik (santri) sekalian menjadi insan yang siap mengarungi masa depan lebih baik, pesantren adalah ajang pelatihan untuk membiasakan berbuat kebaikan-kebaikan, dan, di pondok kita akan di biasakan dengan melakukan amal-amal kebaikan, seperti Sholat berjamaah, hadiran (magrib, isya, subuh), pengajian kitab, sopan santun, agar nanti ketika sudah terbiasa dan pulang ke masyarakat akan membiasakan berperilaku baik, kalo kita sudah terbiasa mematuhi peraturan-peraturan di pesantren, insyallah nantinya akan menjadi hamba-hamba Allah yang sholeh-sholeha, sesuai dengan misi besar pondok pesantren nurul jadid “Mondok Untuk Mengaji dan Membina Akhlakul Karimah”  dan setiap santri yang datang ke pesantren Nurul jadid di arahkan untuk mengaji (mengkaji dan mempelajari ) ilmu-ilmu Islam dan mengamalkannya, dengan cara kita mengamalkan kita akan mempunyai Akhlakul karimah,” Dawuh Beliau

“Belajar saja tidak cukup tapi berusaha mengamalkan ilmu yang sudah kita dapat di Nurul Jadid, berusaha belajar mengkaji Ilmu Agama Islam dan berusaha mengamalkan, Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.” Imbuhnya

Penulis : NS

Editor : PM

1800 Lilin Santri, Hiasi Penutupan OSABAR 2019

nuruljadid.net – Kemeriahan ini sehubungan adanya1800 lilin terpancar terang pada Penutupan Osabar yang bertempat di lapangan Ayaman Nurul Jadid, Kamis malam (18/07/2019).

Koordinator Osabar Ustadz Alief menyampaikan bahwa kegiatan orientasi santri baru, terbagi menjadi 3 tahap pelaksanaan, salah satunya, kegiatan Pra Osabar bertujuan untuk memberikan pembekalan awal tentang pemahaman Fudlul Ainiyah kepada sahabat-sahabat santri baru. Adapun metode pematerian disampaikan menjadi beberapa kelompok dengan materi dasar : Al-qur’an, Tulis Pego, Furudlul Ainiyah dan didampingi oleh pemateri dari para ustadz dan ustadzah asrama I’dadiyah yang dilaksanakan di masjid & musholla di wilayah, yang dilaksanakan pada tanggal 10 Juni s/d 12 Juli 2019.

Pelaksanaan Osabar yang mana tahapan ini santri baru dikenalkan dengan doktrin kepesantrenan dan memberikan pengenalan awal terhadap PP. Nurul Jadid dengan berbagai pematerian meliputi, Selayang Pandang PP. Nurul Jadid, Nilai-nilai dasar dan tradisi kepesantrenan, Pengenalan Lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat oleh KLH Nurul Jadid, selama kurun waktu 4 hari sejak tanggal 15 s/d 18 Juli 2019, dengan jumlah keseluruhan 1800 santri  baru  meliputi jumlah santri putra 700 dan 1100 santri putri.

Pasca Osabar ada pula kegiatan tindak lanjut (Follow Up) dari kegiatan ini  yaitu Pasca OSABAR yang dilaksanakan selama maksimal 1 tahun oleh Pengurus Biro Kepesantrenan dalam hal ini Asrama I’dadiyah bekerja sama dengan Madrasah Diniyah.

“Harapan kami kepada semua pihak bisa bekerjasama demi suksesnya pelaksanaan follow up dari hasil kegiatan ini dengan baik. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan semangat pengabdian dan ilmu yang barokah dan bermanfaat.” Tutur ustadz alief

Kegiatan OSABAR resmi ditutup dengan pembacaan ikrar santri yang di pandu langsung oleh wakil kepala pesantren KH. Najjiburrahman Wahid, dan doa yang di bacakan oleh KH. Makki Maimun Wafi, selesai pembacaan doa dilanjutkan dengan Penyalaan 1800 lilin, yang menjadikan OSABAR tahun ini lebih meriah dari tahun sebelumnya.

Pewarta : Nuris

Editor : PM

Galeri Foto: Penutupan Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2019

Galeri Foto: Materi Lingkungan Hidup dan PHBS – OSABAR 2019

20190717_menanam-akhlak-santri-baru-sowan-ke-kiai

Menanam Akhlak, Santri Baru Sowan ke Kiai

nuruljadid.net – Kegiatan sowan kepada Dewan Pengasuh PP. Nurul Jadid merupakan rentetan kegiatan dari Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2019. Hari ini, Rabu (17/07/2019) sebanyak 1.800 santri baru melakukan sowan. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga 10.00 WIB ini bertujuan untuk mengenalkan kepada santri baru tentang keluarga besar PP. Nurul Jadid.

“Kegiatan sowan itu tujuannya adalah selain pertama mengenalkan kepada keluarga PP. Nurul Jadid kita juga mengajarkan bahwa di pesantren ada tradisi sowan” ungkap Ustad Alief Hidayatullah (Ketua OSABAR 2019).

Suasana santri baru saat sowan kepada KH. Moh. Zuhri Zaini (Pengasuh PP. Nurul Jadid)

Suasana santri baru saat sowan kepada KH. Moh. Zuhri Zaini (Pengasuh PP. Nurul Jadid)

Ketua OSABAR 2019 mengatakan bahwa sowan juga merupakan tradisi yang diajarkan oleh pesantren. Selain itu, kegiatan sowan ini mengajarkan santri baru untuk menghormati dan memuliakan guru dan memiliki sambungan (sanat) langsung kepada Rosulullah SAW.

“Dimana sowan ini adalah mencium tangan para guru untuk mengambil barokah. Karena diri kita percaya sampai saat ini bahwa para guru-guru kita itu memiliki guru dan beliau pasti sowan kepada guru-gurunya sampai keatas kepada Rosulullah SAW” ujar Ustad Alief (sapaan akrab Ketua OSABAR 2019).

Kegiatan tersebut juga mendapat respon dari santri baru seperti yang dikatakan oleh Ahmad Baron Arif, santri baru asal Bondowoso yang meneteskan air mata ketika mencium tangan KH. Zuhri Zaini (Pengasuh PP. Nurul Jadid).

“Ketika sowan kepada Kiai Zuhri saya menangis, entah menangis karena apa saya nggak tau tiba-tiba air mata ini menetes dengan sendirinya. Tapi yang jelas saya sangat bahagia dan bersyukur bisa menjadi santri beliau dan sowan kepada beliau” ujar Baron (sapaan akrab Ahmad Baron Arif) dengan mata berkaca-kaca.

Suasana santri baru saat sowan kepada KH. Najiburrohman Wahid (Wakil Kepala Pesantren)

Suasana santri baru saat sowan kepada KH. Najiburrohman Wahid (Wakil Kepala Pesantren)

Senada dengan Fahri Saktiawan Maulana, santri baru asal Tenggarang Bondowoso. Fahri nama panggilannya mengaku deg-degan ketika sowan kepada Kiai Zuhri (sapaan akrab Pengasuh PP. Nurul Jadid).

“saya merasa deg-degan ketika sowan ke Pengasuh. Karena beliau sosok Kiai dan Guru saya. Mangkanya saya merasa deg-degan.” Ungkap santri asal Bondowoso tersebut.

Tak hanya sowan kepada Kiai Zuhri saja, santri baru juga diajak untuk sowan kepada KH. Najiburrohman Wahid (Wakil Kepala Pesantren) dan KH. Makki Maimun Wafi (Kepala Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOOSSNJ)).

Suasana santri baru saat sowan kepada KH. Makki Maimun Wafi (Kepala Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOSSNJ))

Suasana santri baru saat sowan kepada KH. Makki Maimun Wafi (Kepala Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOSSNJ))

Penulis: Baihaki

Editor: Ponirin

Santri Baru Menangis Ketika Sowan ke Pengasuh, KH. Moh. Zuhri Zaini

Santri Baru Menangis Ketika Sowan ke Pengasuh, KH. Moh. Zuhri Zaini

nuruljadid.net – Di hari ketiga Rabu (17/07/2019) pelaksanaan Orientasi Santri baru (OSABAR) 2019, seluruh santri baru diajak untuk mengenal lebih dekat kepada dewan pengasuh PP. Nurul Jadid dengan cara sowan. Ada yang menarik dari kegiatan ini, seorang santri baru yang berasal dari Kota Bondowoso menangis ketika sowan kepada KH. Zuhri Zaini (Pengasuh PP. Nurul Jadid).

Ahmad Baron Arif namanya, berdasarkan pengakuannya, ia menangis ketika sowan kepada Kiai Zuhri (sapaan akrab Pengasuh PP. Nurul Jadid).

“Ketika sowan kepada Kiai Zuhri saya menangis, entah menangis karena apa saya nggak tau tiba-tiba air mata ini menetes dengan sendirinya. Tapi yang jelas saya sangat bahagia dan bersyukur bisa menjadi santri beliau dan sowan kepada beliau” ujar Baron (sapaan akrab Ahmad Baron Arif) dengan mata berkaca-kaca.

Santri kelahiran 29 Juni 2006 ini juga mengaku bahwa ketika sowan ia sempat berdo’a agar dirinya mampu menjadi seorang santri yang bermanfaat.

“Ketika sowan kepada beliau (Pengasuh PP. Nurul Jadid) saya sempat menyeletuk dalam hati agar ilmu saya barokah dan bisa menjadi santri beliau yang bermanfaat bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa kelak. Terlebih bisa membahagiakan orang tua” ungkap Baron.

Sembari mata yang berkaca-kaca Baron bedo’a agar Kiai Zuhri selalu diberikan kesehatan untuk membina santri-santrinya.

“Saya juga berdoa agar beliau (Kiai Zuhri) selalu diberikan kesehatan dan kekuatan dalam mendidik santri-santrinya untuk menjadi santri yang memiliki ilmu barokah dan berguna bagi banyak orang ketika di masyarakat” pungkas santri yang bercita-cita menjadi tentara ini.

Penulis: Baihaki

Editor: Ponirin

 

20190716_bersih-bersih-lingkungan-ciptakan-kemandirian-santri

Bersih-Bersih Lingkungan Ciptakan Kemandirian Santri

nuruljadid.net – Sebagaimana yang diyakini tiap pribadi muslim, sehat dan kebersihan jasmani adalah satu syarat bagi iman yang sempurna. Menjadi wajar jika para santri menjaga kebersihan lingkungannya, Jasmaninya layaknya menjaga kebersihan hatinya.

Beragam cara mereka lakukan demi terwujudnya lingkungan bersih dan nyaman. Ini menjadi salah satu kegiatan santri baru putra di kegiatan Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2019.

Senin, (15/07/2019) Malam, seluruh santri baru putra melakukan bersih-bersih pesantren. Adapun area yang mereka bersihkan meliputi; kamar mandi dan WC putra serta lingkungan pesantren putra.

Selain itu, kegiatan tersebut terealiasai dengan berkoordinasi Bersama Bidang Konservasi Lingkungan Hidup (BKLH) Nurul Jadid. Dalam pelaksanaannya, santri baru didampingi oleh Panitia OSABAR 2019 serta diawasi oleh pengurus BKLH Nurul Jadid.

Ustad Alief Hidayatullah, Ketua OSABAR 2019 mengatakan bahwa terealisasinya kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan budaya dan tradisi pesantren. Memberikan pemahaman kepada santri baru bahwa terdapat kebiasaan kerja bakti dengan membersihkan kamar mandi dan bersih-bersih lingkungan pesantren dengan menyapu keliling pesantren serta membersihkan tempat ibadah sepert musholla dan masjid.

Suasana pada saat santri baru membersihkan kamar mandi

Suasana santri baru pada saat membersihkan kamar mandi

“Selain itu kegiatan tersebut juga bentuk pengajaran kemandirian kepada santri baru” tambah Ustad Alief (sapaan akrab Ketua OSABAR 2019).

Kegiatan tersebut yang dimulai sejak pukul 20.00 WIB – 21.30 WIB mendapatkan respon yang sangat positif dari santri baru seperti yang dinyatakan oleh Muhammad Rifki Dani Hariyanto asal Ngajuk.

“Saya gembira bisa melakukannya ditambah lagi bersama-sama santri baru lainnya. Disini saya dilatih kemandirian dan selalu menjaga kebersihan untuk hidup sehat. Karena kebersihan sebagian dari iman” ujar Dani (sapaan akrabnya)

Tak hanya Dani, Bagas Nurrijal Nugroho juga menuturkan bahwa dengan kegiatan tersebut bisa menjaga kebersihan pesantren Bersama santri baru lainnya.

“senang sekali bisa bersih-bersih pesantren. Bisa menjaga keindahan dan kebersihan lingkungan pesantren bersama santri baru lainnya” pungkas Bagas (sapaan akrabnya)

Penulis: Baihaki

Editor: Ponirin

Pemutaran Film KS No 07 Membuat Santri Baru Baper

Pemutaran Film KS No 07 Membuat Santri Baru Baper

nuruljadid.net – Nonton film motivasi atau lebih dikenal dengan istilah NoBar (nonton bareng) merupakan rentetan agenda di pelaksanaan OSABAR 2019, Senin (15/07/19) malam di Musholla Wilayah Az Zainiyah. Kegiatan kali ini, santri baru disajikan dengan film motivasi dengan judul “Keajaiban di Sel No. 07”.

Namun sebelum pelaksanaan nobar tersebut dilaksanakan, walaupun dianggap hal biasa segenap panitia melakukan Ice Breaking, suatu aktivitas yang dilakukan untuk melatih konsentrasi, memberikan rasa nyaman serta mengurangi kejenuhan para santri. Selain itu ice breaking juga bertujuan memberikan semangat lebih kepada para peserta OSABAR.

“pelbagai permainan diberikan supaya mereka mengikuti kegiatan dengan optimal, aktif dan efektif” tutur Ustadzah Sri Rahayu, salah satu panitia Osabar 2019.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut diikuti sebanyak 330 santri baru putri yang terbagi dalam 27 kelompok. Sembari menunggu pemutaran film, nampak wajah sumringah terpancar diraut wajah mereka (santri baru, red) terkadang terpancar tawa lepas dan senda gurau membuat suasana semakin seru.

Ketika film yang berdurasi 2 jam 7 menit itu diputar, mampak santri sangat khusyu’ menyimaknya tak jarang ketika adegan sedih mereka (santri baru, red) terbawa suasana sebaliknya pun begitu, ketika adegan film lucu para santri tertawa lepas. Hal tersebut membuat kegiatan ini lebih harmonis.

Tak hanya untuk refreshing, kegitan nobar ini mampu memberikan hikmah kepada mereka (santri baru, red) salah satunya adalah mendorong semangat belajar santri.

“Banyak pelajaran yang dapat diambil dari film ini seperti bagaimana perjuangan, pengorbanan dan keikhlasan mampu menyatukan cinta seseorang sehingga harapannya para santri di pesantren ini bisa bertahan dalam proses menggapai cinta-Nya” ujar Yunita Irani, Panitia sekaligus kakak asuh OSABAR dengan linangan air mata.

Penulis: Kholis

Editor: Ponirin

Workshop Integrasi Kurikulum Pesantren Dan Kurikulum Nasional (K13) di SMP Nurul Jadid

nuruljadid.net- Mengawali tahun pelajaran 2019/2020, SMP Nurul Jadid (SMPNJ) mengadakan Workshop “Bedah Kurikulum, Buku I dan Buku 2” (dalam Kerangka Integrasi Kurikulum Pesantren dan K-13) yang dilaksanakan dari tanggal 15 sd 16 Juli 2019. Bertempat di Aula Mini Universitas Nurul Jadid (UNUJA) dan Aula Metting SMP Nurul Jadid. Di Aula Mini UNUJA dari pagi sampai siang (08.00-12.00) dan di Aula Metting SMP Nurul Jadid dari siang sampai sore (13.00-16.00 WIB)

Workshop ini dihadiri oleh seluruh Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SMPNJ dan stakeholder terkait. Stakeholder dari unsur Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo diwakili oleh Pengawas Pendidikan Menengah, sekaligus sebagai pemateri workshop. Unsur Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) diwakili oleh Sekretaris Pesantren dan Wakil Kepala Biro Pendidikan. Selain itu juga melibatkan unsur perguruan Tinggi, perwakilan Wali murid dan Komite Sekolah.

Adanya Workshop ini, untuk meningkatkan kompetensi PTK SMPNJ. Khususnya dalam tataran implementasi K13 yang terus menerus mengalami penyempurnaan. Penyempurnaan itu ditandai dengan munculnya regulasi baru berkait dengan implementasi K13 yang hampir tiap tahun muncul. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengintegrasikan keunggulan lokal nilai-nilai kepesantrenan. SMPNJ adalah sekolah boarding school. Seluruh siswa SMPNJ sekaligus sebagai santri yang bertempat tinggal (diasramakan) di PPNJ.
SMP Nurul Jadid melaksanakan K13 sejak tahun pelajaran 2014 dan telah meluluskan tiga periode lulusan. Lulusan SMP Nurul Jadid secara komparatif memiliki pembeda dalam bidang keagamaan dan kebahasaan. Bidang keagamaan yaitu kompetensi keagamaaam (tafaqquh fiddin) yang wajib dimiliki, dikuasai dan diamalkan oleh setiap pribadi muslim. Sedangkan kebahasaan adalah kemampuan berbahasa Inggris dan Arab.

Aspirasi dan harapan masyarakat dalam bidang keagamaan sejalan pula dengan tujuan dan fungsi Pesantren. Fungsi pesantren diantaranya sebagai tempat pendidikan dan pengajaran, kaderisasi dan pengabdian kepada masyarakat. Dari sisi inilah tafaqquh fiddin menemukan relevansinya. Kegiatan Workshop dengan tema “Integrasi Kurikulum Pesantren dan Kurikulum Nasional (K-13)” sangat penting dilaksanakan.

Sambutan Kepala SMP Nurul Jadid, Bapak Didik PW, S.Sos., M.Pd menyampaikan tentang “tantangan pendidikan”. Tantangan pendidikan setidaknya harus bisa menjawab (1) globalisasi, (2) kepentingan nasional dan (3) kearifan lokal. Bagaimana kurikulum yang dikembangkan bisa menjawab ketiga tantangan tersebut? Perlu membedah dokumen kurikulum (KTSP) di SMPNJ dan menyusun kembali yang sesuai dengan harapan stakeholder dan tantangan zaman.
Kegiatan Workshop ini, menurut Bapak Sugiono, S.S., M.Ed., Wakil Kepala Biro Pendidikan, mewakili Biro pendidikan, pada sambutan Beliau merujuk teori “Connectivist Curriculum Desain” yaitu menghubungkan nilai-nilai yang relevan di level konteks pendidikan. Kurikulum Nasional (K13) menjadi penting didialogkan secara terus-menerus dengan Kurikulum Pesantren. Sehingga nilai-nilai karakter kepesantrenan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam implementasi pendidikan dan pembelajarannya. Ke depan pada tahun pelajaran (2019/2020), Biro pendidikan akan melakukan supervisi dan monitoring, selain perangkat pembelajaran juga melakukan survei ke dalam kelas-kelas pembelajaran.

Sementera itu sekretaris Pesantren, Bapak H. Faizin Syamweil, M.Pd mengupas tentang perubahan Kurikulum Nasional. Seringnya perubahan kurikulum Nasional (k13, KTPS, KBK dll), dalam tanda petik, seolah lembaga pendidikan itu “terjajah” (tersandera) untuk menyesuaikan dengan perubahan kurikulum itu sendiri.

Bagaimana PPNJ tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan Kurikulum Nasional? Perlu mengembangkan Kurikulum Mandiri, kurikulum khas PPNJ. Kurikulum khas PPNJ apabila dikembangkan dengan sungguh-sungguh –bukan tidak mungkin– dapat menjadi pembeda. Jika konsisten SMPNJ melahirkan output yang sukses, pada akhirnya Kurikulum PPNJ menjadi rujukan keberhasilan pendidikan.
Unsur dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo diwakili oleh Bapak Edy Santoso, M.Pd (Pengawas Bina SMP Kabupaten Probolinggo), menyajikan materi dan bekal yang lengkap berkaitan dengan Bedah Buku I, Buku II, Regulasi, strategi dan implemetasi K13, pengembangan RPP dan Penilaian berbasis HOTs (Hight order thingking skill). Juga tantangan pendidikan Abad 21 dan revolusi industri 4.0.
Harapan ke depannya SMPNJ dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, kolaboratif dan komunikatif (4K), Pembelajaran yang sarat dengan strategi literasi, menguatkan budi pekerti dan prestasi, menumbuhkembangkan karakter baik, melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi dan menumbuhkembangkan kecerdasan metakognisi siswa.
Kegiatan selanjutnya melakukan reveiw Buku I dan Buku II yang dipandu oleh Tim Pengembang Kurikulum SMPNJ. Bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai kepesantrenan dalam kurikukum SMPNJ? Setidaknya dapat dilihat dari dokumen KTSP (Buku I) dan Buku II (RPP dan perangkat pembelajaran lainnya) serta proses-proses yang terjadi dalam kelas pembelajaran. Tentu saja, yang tidak boleh ditinggalkan adalah dampak yang dirasakan oleh pengguna pendidikan.
Rubrik-rubrik indikator keberhasilan kegiatan workshop merujuk pada Lembar Kerja (LK) yang sudah disiapkan oleh Pengawas Bina SMP Kabupaten Probolinggo.
Sampai tulisan ini dibuat (pada pukul 14.35) kegiatan workshop masih berlangsung. Dipandu oleh Tim Pengembang Kurikulum SMPNJ, Bapak Surono, S.Ag., M.Pd dan Surinta Harko Miyangga, S.Si., S.Pd membedah KTSP: Visi Misi, Tujuan Sekolah, Identifikasi SI-SKL dan Penilaian”.
Semoga Integrasi Kurikulum Pesantren dan Kurikulum Nasional (K13) sukses sesuai dengan harapan bersama.
Adapun materi workshop meliputi “analisis konteks, pengembangan dan implementasi K-13, bedah KTSP: Visi Misi, Tujuan Sekolah, Identifikasi SI-SKL dan Penilaian”. Workshop, ” Tegas Pak didik.

Pewarta : DPW
Editor : PM

 

20190715_kenalkan-pesantren-nurul-jadid-melalui-selayang-pandang

Kenalkan Pesantren Nurul Jadid Melalui Selayang Pandang

nuruljadid.net – 1.800 santri baru Pondok Pesantren Nurul Jadid menjalani masa pengenalan Pesantren dan Kepesantrenan melalui kegiatan OSABAR. Mereka (santri baru, red) dikenalkan secara umum tentang Pesantren Nurul Jadid melalui materi Selayang Pandang. Kegiatan yang dilaksanakan Senin, (15/07/2019) dilingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid mengharapkan santri baru mengetahui dan mengenal pesantrennya.

“kegiatan OSABAR merupakan gerbang awal pengenalan pesantren dan kepesantrenan untuk santri baru. Salah satu bentuk pengenalan yang kami lakukan adalah dengan menyajikan Selayang Pandang PP. Nurul Jadid. Sehingga santri baru mampu mengenal para almarhumin dan dewan pengasuh PP. Nurul Jadid” ujar Ustad Alief Hidayatullah, Ketua OSABAR 2019.

Ustad Alief (sapaan akrab ketua OSABAR 2019) membeberkan materi yang disajikan pada kegiatan kali ini meliputi; Sejarah Pesantren, dan Mengenal Almarhumin serta Dewan Pengasuh.

Dalam pelaksanaannya, santri baru yang telah dipetakan berdasarkan kelompoknya masing-masing mendapatkan materi dari penyaji yang telah ditentukan panitia. Salah satu contohnya adalah santri baru yang berada di Audiotrium SMP Nurul Jadid. Ustad Mifathul Huda selaku penyaji menyampaikan beberapa hal yang berisikan informasi awal tentang Pesantren Nurul Jadid seperti; Dewan Pengasuh, Struktural Pesantren dan Ideologi Pesantren (Trilogi dan Panca Kesadaran Santri).

Keseruan santri putra saat pematerian

Keseruan santri putra saat pematerian

“Sesuai dengan kisi-kisi materi yang diberikan oleh panitia, saya menyampaikan secara singkat dan jelas tentang sejarah serta kiprah perjuangan para almarhumin PP. Nurul Jadid. Selain itu saya juga menjelaskan tentang Trilogi dan Panca Kesandaran santri” ujar Ustad Miftahul Huda.

Pasca pematerian, hasilnya para santri baru telah mampu mengenal para Almarhumin dan Dewan Pengasuh PP. Nurul Jadid dalam waktu 60 menit.

“Alhamdulillah tadi setelah saya menyampaikan materi Selayang Pandang, saya memberikan quiz kepada santri baru dan syukurnya lagi mereka mampu mengenal Almarhumin dan Dewan Pengasuh walaupun tidak semuanya mereka mampu menjawab. Tapi paling tidak kegiatan ini telah memberikan pengetahuan kepada mereka (santri baru, red) tentang kiprah yang telah dilakukan oleh Almarhumin dalam waktu yang singkat” jelas Ustad Miftah (sapaan akrab penyaji).

Selain itu untuk mengulas ulang materi yang telah diterima dan mengetahui kemampuan santri baru, panitia pelaksana mencoba bertanya kepada santri baru seputar materi yang telah disampaikan penyaji diluar pematerian.

Keseruan santri putri saat pematerian

Keseruan santri putri saat pematerian

Berdasarkan pengakuannya, Fathul Irfan Ridho (salah satu panitia OSABAR) mengatakan bahwa dari beberapa santri baru yang ia tanyakan, mereka (santri baru, red) telah mampu menjawabnya dengan benar.

“saya secara iseng-iseng bertanya kepada santri baru tentang Trilogi, Panca Kesadaran Santri, para almarhumin dan dewan pengasuh Nurul Jadid. Dan ternyata mereka mampu menjawabnya walaupun tidak semua pertanyaan yang saja ajukan benar dijawab” pengakuan Irfan (sapaan akrab Fathul Irfan Ridho).

Penulis: Baihaki

Editor: Ponirin

20190715_osabar-2019-menciptakan-semangat-untuk-terus-berjuang

OSABAR 2019, Menciptakan Semangat Untuk Terus Berjuang

nuruljadid.net – Pasca pelaksanaan Opening Ceremony Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2019 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ahad (14/07/2019) Malam, kegiatan perdana untuk santri baru dilaksanakan keesokan harinya, Senin (15/07/2019).

Dibekali dengan materi motivasi, santri baru diharapkan bisa menjadi penyemangat bagi mereka (santri baru, red) untuk mengaji dan belajar di Pondok Pesantren khususnya Pesantren Nurul Jadid.

“Dan mereka yang belum kerasan menjadi kerasan, sehingga mereka bisa melupakan suasana di rumah dan yang sudah kerasan menjadi lebih bersemangat lagi dalam menempuh proses belajar di pesantren” ujar Ustad Alief Hidayatullah, Ketua OSABAR 2019.

Ustad Alief (sapaan akrab Ketua OSABAR 2019) juga, ia menyampaikan bahwa latar belakang diadakannya materi motivasi mondok yaitu, pertama banyak diantara para santri baru belum mengenal dunia pesantren bahkan masih beranggapan bahwa pesantren/pondok merupakan tempat yang sangat ketat dan orang yang hidup di dalamnya pasti dikekang dengan banyak aturan. kedua, para santri yang datang ke pondok pesantren adalah mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan yang hedon, penuh dengan hiburan lebih lebih dengan adanya virus gadget (game online, medsos, dll) yang sudah sangat mewabah dimana-mana dan tidak menutup kemungkinan diantara mereka sudah terjangkit virus tersebut.

Suasana santri baru putri saat mengikuti pematerian OSABAR 2019

Suasana santri baru putri saat mengikuti pematerian OSABAR 2019

Disamping itu, Ustad Alief mengatakan, “tujuan dari kegiatan tersebut adalah pertama,mengenalkan dunia pesantren kepada santri baru dan tempat ini adalah tempat yang tepat bagi mereka. Karena di pesantren kita diajarkan ilmu agama yang merupakan kewajiban seorang muslim mempelajari nya, ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Tak hanya itu di pesantren juga kita dilatih untuk mandiri, membangun rasa kebersamaan, toleransi antar sesama. Kedua, mengajarkan kepada santri baru bagaimana kiat sukses belajar di Pesantren”.

Ustad Ahmad Saili Aswi, salah satu pemateri dalam materi tersebut mengatakan bahwa mondok itu butuh perjuangan, salah satunya dengan meninggalkan orang yang kita sayang tentu demi masa depan kita yang cerah.

Selain itu, Bapak Saili (sapaan akrab Ustad Saili Aswi) memaparkan secara singkat dan jelas tentang mondok itu indah yang bertujuan untuk memperkenalkan keindahan mondok di Pesantren khususnya di Pesantren Nurul Jadid.

Suasana santri baru putra saat mengikuti pematerian OSABAR 2019

Suasana santri baru putra saat mengikuti pematerian OSABAR 2019

“Mondok itu indah. Di Pesantren kita bisa mendapatkan indahnya kebersamaan, kemandirian, melatih diri, bersabar, hidup berakhlakul karimah, bercengkarama dengan teman, menjadi anak yang sholeh sholehah dan kesederhanaan” ujar Bapak Saili (15/07/2019) di Auditorium MA Nurul Jadid.

Tak hanya sekedar menyampaikan motivasi, Bapak Saili juga memberikan tips untuk mendapatkan ilmu yang manfaat dan barokah diantaranya; niat yang baik, sedikit dosa/bersih hatinya, bekal dan makanan yang halal, bersungguh-sungguh, riyadatul nafsi terakhir do’a dari rumah dan diri sendiri.

Penulis: Baihaki

Editor: Ponirin

Galeri Foto: Materi Selayang pandang OSABAR 2019