Pos

Santri Putri Nurul Jadid, Gelar Upacara Menyambut HUT RI Ke – 74

nuruljadid.net- Sabtu, 17 Agustus 2019 Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar upacara rutinitas tahunan untuk menyambut HUT RI ke-74 yang digelar langsung di lapangan raya ayaman Nurul Jadid. Acara kali ini diikuti oleh seluruh santriwati pondok pesantren Nurul Jadid dari masing-masing wilayah tanpa terkecuali. Acara dimulai tepat pukul 09.00 WIB yang dipandu langsung oleh Master of Ceremony; Zahiya Adibah dan Ana Maratu Khonitatillah sebagai Komandan Upacara.

Ada beberapa hal yang diharapkan pada pelaksanaan upacara, Pertama, memperingati jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa indonesia.

Kedua, sebagai agenda rutinitas pesantren untuk melatih potensi masing-masing pribadi santri.
Pelaksanaan upacara kali ini berbeda nuansanya dengan acara tahun sebelumnya yakni Inspektur yang hadir langsung dari tim Polwan dan Kepolisian Kapolres Probolinggo sebagai tamu istimewa.

Salah satu anggota menyampaikan sebagai berikut: “ditengah-tengah menyengatnya terik matahari ini, saya sangat kagum dengan acara kali ini, antusias peserta kali ini benar-benar luar biasa,” jelasnya ketika diwawancarai oleh sebagian tim Reporter.

Selepas pembacaan biodata petugas upacara, tim paskibraka langsung memasuki lapangan raya Nurul jadid sebagai pertanda bendera merah putih siap dikibarkan yang diiringi dengan menyanyikan lagu Indonesia raya oleh tim paduan suara pondok pesantren Nurul Jadid . Korelasi paskibraka pasukan 17 dengan pasukan 45 sangat sinkron sekali, sehingga tak segan-segan dari berbagai penjuru tepuk tangan dilambaikan, setelah pengibaran. Selanjutnya, Paskibraka menunjukkan adegan yakni pembentukan nama oleh tim paskibraka sendiri dengan bertuliskan NKRI, suasana semakin riuh dengan pertunjukan yang sangat memecah suasana dan fokus hadirin.

Ilustrasi Proklamasi bangsa Indonesia masa Orde lama terus tergambarkan di tengah-tengah gencarnya acara, dari pembacaan proklamasi Indonesia, pengibaran bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta dan menyanyikan lagu wajib Nasional. Di sisi lain, peserta sangatlah ikut andil dengan saksama ketika acara hendak dan telah dimulai dengan ikut menghayati setiap adegan yang berlangsung. Bumi Nurul Jadid seakan mengalami masa Reformasi ke-74 setelah satu tahun yang lalu.
Tak ketinggalan pada pelaksanaan upacara kali ini, Tim PMR bentukan Klinik Az-Zainiyah dan rekan Medis Nurul Jadid siap siaga untuk memberikan pelayanan yang baik.

Upacara penurunan akan dilaksanakan pada jam 15.00 WIB yang bertempat tetap di lapangan raya ayaman Nurul Jadid. Kali ini tim paskibraka tetap pada posisinya seperti semula dengan barisan yang tetap rapi, pimpinan diambil alih oleh komandan upacara saudari Ana Maratu Khonitatillah. Master of Ceremony kembali membacakan biodata para petugas upacara yang bertugas sore kali ini, Inspektur yang bertugas kali inipun juga berbeda dengan prosesi pagi hari yakni saudara Babun Sugianto yang memiliki kesibukan sehari-harinya sebagai anggota koramil kabupaten Probolinggo.

Setelah penurunan selesai, tim paskibrakapun beranjak melaju meninggalkan lapangan raya sehingga dengan turunnya bendera merah putih maka berakhirlah acara HUT ke-74 kali ini. Namun, masih ada satu antraksi lagi yang akan dibawakan langsung oleh ALIF;crew sastra lembaga bahasa Unggulan SMA Nurul Jadid. Antraksi kali ini benar-benar mendapatkan apresiasi karena beberapa adegan yang sangat bagus dinikmatinya. Peserta tengah antusias memahami arti makna setiap adegan yang dimainkan.

Kisah perjuangan rakyat Indonesia menghadapi bangsa feodalisme ataupun imperialsm yang menjajah bangsa Indonesia secara anarkis. Mereka tengah memperagakan para penjajah belanda yang menindas bangsa indonesia, tidak hanya satu dua orang saja namun beratus bahkan beribu-ribu orang mereka tindas di tanah bangsa Indonesia sendiri.
Ada satu adegan yang sangat menarik, ketika salah satu anak alif menokohkan watak penjajah dengan menendang bahkan tak segan-segan diinjak oleh mereka, seluruh peserta secara spontan berteriak sebagai pertanda tidak tega, bahkan ada sebagian dari mereka yang menangis karena terharu akan adegan tersebut.

Adegan terakhir, setelah para penjajah berhasil dibunuh oleh tangan rakyat Indonesia sendiri, proklamasi dikumandangkan, lagu kemerdekaan dilantunkan dan bendara yang semula merah putih birupun disobek menjadi merah putih pertanda indonesia telah merdeka. Tangis terdengar dimana-mana sebagai tanda haru terhadap perjuangan bangsa Indonesia.
Acara memperingati HUT RI ke 74 sukses dan mendapatkan apresiasi dari seluruh hadirin yang hadir.

Pewarta : Lidhatul Umamah dan Robiatul Adawiyah

Editor : Ponirin Mika

 

Bagimu Agamamu, Bagiku Kau Saudaraku

“Ketuhanan macam apa yang tengah diajarkan para pemerintah ini! Aku memang sejak awal risau pada kata “Ketuhanan yang Maha Esa”, Ulo Kamba memekikkan kalimat dengan tegap ditengah perkumpulan golongan yang memiliki pandangan serupa dengannya. Sudah sejak lama ia beserta komplotannya hidup terpisah dari orang kampung dengan hitungan beberapa mil saja.

Mereka adalah sebagian kecil orang yang menolak ketika mengisi kolom agama. Anjuran negara saat pendataan kartu identitas dengan berani mereka tolak mentah. Meski kartu identitas sebagai keabsahan seseorang akan dianggap menjadi bagian dari negara, yang katanya penuh dengan toleransi (tapi tiap tahun politik isu agama paling mudah dipermainkan kesana kemari), tetapi mereka memiliki alasan tersendiri atas penolakan tersebut. Ulo Kamba, akrabnya disapa Bang Ulo merupakan seorang terdidik alumnus Fakultas Agama Islam disalah satu Kampus Swasta, dia menjadi motorik utama gerakan tersebut.

Petugas dinas kependudukan yang bersikukuh menyodorkan pertanyaan untuk mengisi kolom agama sudah kesekian kali mereka tolak, jawaban akhirnya pasti “Kami akan mengisi kalau abang Ulo Kamba sudah memberi instruksi” Ulo Kamba sebagai biangkeladi pemikiran, golong itu memiliki prinsip agar pemerintah menghapus kolom agama pada kartu identitas.

****

 “Ini semua jelas, demi menutaskan peta kekuasaan politik, agar lebih mudah memetakan kekuatan. Hahahha. Kalian mengapa iya iya saja ketika diperbudak korporat! Sejauh ini kalian belum sadar jika keyakinan yang diagungkan itu tak lebih dari keju bagi para tikus berdasi. Segalanya lebih nikmat tatkala terjadi kultus mengkultuskan tentang siapa yang paling beragama, siapa yang paling bertuhan, siapa yang paling benar”, Ucap baru Sawo menegaskan pada seorang petugas dinas kependudukan yang memaksanya beserta beberapa orang lain untuk mengisi kolom agama pada kartu identitas pribadi. Tak tanggung, bahkan petugas itu mengancam mereka tidak akan diakui sebagai bagian dari negaranya.

Pada siang menjelang surup petugas dinas kependudukan kembali bersikukuh pada Ulo Kamba agar bersedia mengisi kolom agama. Rino si petugas mendatangi Baro Sawo lantaran dia merupakan penggagas gerekan anti kolom agama, Rino berharap jika Ulo Kamba telah tunduk, warga lain juga turut tunduk.

“Lalu hendak kami tulis apa agamamu bang? Islam kah?, Kristen kan, Hindukah?, Budha? KongHu Cu? Atau Katolik?” ungkap Rino sembari mensilangkan kakinya meyakinkan Ulo Kamba.

“Hanya sebatas itu? Itu saja yang disediakan dinas kependudukan?”

“Lalu bang?”

“Beritahu pada ketuamu yang memahakan diri itu. Untuk disebut Islam aku bimbang memahami apa yang mereka sebut sebagai sahadat, salat, zakat, puasa, haji. Tapi aku sakit hati saat umat kristiani juga beberapa gereja katolik terancam keamannannya, aku tidak mau menciderai saudaraku yang beragama budha, aku juga sayang pada kawan kawan ku yang hindu, dan aku tak rela bila ada yang membuat onar pada agama yang dibawa Kong Fu Tze (Kong Hu Chu)”,

“Jadi Abang tidak bertuhan?” pertanyaan Rino membuat Ulo Kamba semakin geram untuk memperlua penjelasannya.

“Aku bukan tidak bertuhan, sebab tuhan ku menjelma semesta, terkadang menjadi satu kesatuan denganku! Nampaknya maha ketuamu perlu diberi pembelajaran soal Kapitayan, Banten Girang, Suluk dan beberapa kepercayaan lain yang hadir sebelum adanya agama yang ujug ujug menuhankan yang Satu!” Soal landasan golongan, Ulo Kamba memang sejak lama menggagas, tak heran jika para petugas gonta ganti mendatanginya dengan harapan mendapat kepastian kolom agama.

“Hmm Abang, soal omongan warga dari kampung sebelah yang men cap abang beserta beberapa warga yang tinggal disekitar rumah abang sebagai aliran sesat karena masih mempertahankan bau wangi wangian kemenyan, acap menyeruwat keris, hingga menuhakan pohon beringin, apa itu tidak dipertimbangkan?” Ucap pegawai dinas kependudukan kepada Bang Ulo Kamba. Dengan tatapan sinis, Ulo Kamba yang telah berumur lebih setengah abad kurang dua tahun memberikan klarifikasi. Suaranya yang khas, dengan intonasi cukup membuat orang getar getir, dan postur jangkungnya, cukup membuat Rino sedikit merunduk.

“Hah, kau tak usahlah mengurus urusi soal kepercayaan itu pula. A-gama. Berasal dari bahasa Sansekerta, yang dipahami sebagai A = Tidak, Gama = Kacau. Percuma beragamatapi saling baku hantam, sentil sedikit soal isu agama para ormas (organisasi masyarakat)ramai bergandengan. Memangnya mereka siapa? Memangnya mereka pemilik agama? Sejauhpemahaman saya selama ini Tuhan tidak pernah meminta dirinya untuk dibela!”

“Lalu apa yang abang kehendaki?”

“Bagimu agamamu, bagi ku mereka saudaraku. Sejak detik ini aku kembali menegaskan bahwa kami tetap bersikukuh kolom agama dihilangkan dari identitas diri! Sadari lah bahwa urusan beragama, erat kaitannya dengan Tuhan. Urusan tuhan dan manusianya merupakan urusan esensial yang tidak berhak diumbar umbar banyak orang.”

“Aku memang penganut dinamisme, aku bahkan masih percaya pada animisme. Tapi kau tak tahu bukan demi apa, dan untuk apa aku melakukan hal itu?”

Perjamauan menjelang surup itu terpenggal oleh matahari yang mulai kelindungan untuksegera menuntaskan sinarnya.

“Maaf bang, sebentar lagi gelap. Saya masih tidak bisa menuliskan agama abang, barangkaliesok atau lusa, dari dinas kependudukan akan kembali menemui abang!”

“Baiklah barangkali nanti aku sempat berfikir terkait usulanmu, meski jawaban akhirnya sudahbarang kau tahu, coba fikirkan juga pemikiranku”

“Sampai kapan pun, kau tetap akan menemui jawaban yang sama.”

“Kalau kau tidak sekekar itu sudah kugulingkan kau Ulo Kamba”, Rino membatin sembari meninggalkan gubuk Ulo Kamba, sementara surup mulai redup Ulo Kambasegera memandikan kerisnya bertepatan malam itu Jumat Kliwon.

****

Dua hari berselang, sejak perjamuan diambang “surup”. Kali ini Rino tengah bersama seorangkawan dekatnya kembali ke gubuk Ulo Kamba yang letaknya cukup jauh dari pemukimanwarga. Kawan Rino seorang ustad kondang yang namanya tersohor dimana mana lantaran gayaberpidatonya berapi api sehingga mampu menarik sanjungan banyak penonton.”Assalamualaikum” Ucap keduanya serempak

“Masuk saja”

“Astaghfirullah kenapa tidak menjawab salam Kami” ucap Gus Asin dengan legowo.

“Menjawab salam memang wajib bagi Agamamu bukan? Fardlu Ain katanya. Tapi kita lihat dulu siapa yang tengah memberi salam, dan kepada siapa dia memberi salam. Salam berarti mendoakan, Assalamualaikum hanya bahasa arab saja, kebanyakan seseorang memberi salam bukan niat mendoakan saudaranya, hanya dijadikan sapaan saja, jadi jika niatmu itu bukan doa, aku tidak wajib menjawabnya” Penuturan Ulo Kamba membuat kedua terdiam, lantaran memang benar Assalamualaikum tidak lebih dari serapah tanpa ada niatan untuk saling mendoakan sesama manusia.

“Apa lagi kau datang kesini?” sembari menyalakan kretek yang dipilinnya sendiri Ulo Kamba menatap sinis kedunya.

 “Bagaimana soal kolom agama dalam kartu identitas diri abang” ucap ustad Kondang hasilinstruksi dari Rino.

“Ya tetap saya menolak segala macam legitimasi dengan kendaraan agama, camkan!”

“Tapi ini hanya sekedar kolom agama bang, apa susahnya” ketus Rino

“Susah sekali, karena Tuhanku tidak sebatas tulisan “Islam” di KTP saja, lebih dari itu kewajiban yang masyarakat anggap sebagai animisme dinamisme aku kerjakan untuk meruwat alam. Bumi sudah tua kawan, berdoa menghadap pohon, sembari memegang keris, lalu menyeruap bau kemenyan bukan mengharap segala sesuatu darinya sebab segala sesuatu tetap saya nisbatkan kepada Allah, Tuhan saya yang Esa, yang saya ragukan bahwa kamu mengEsakan Nya.” dengan nada yakin, Ulo Kamba kembali menolak ajakan petugas dinas kependudukan.

“Tetapi ini sudah kewajiban seluruh warga negara bang, untuk mengisi kolom agama”

“Sekarang aku tanya, kau paham tujuan kolom agama itu apa”

“Tidak bang” keduanya serempak menjawab.

“Dinas begok, Ustad bodoh!” suara Ulo Kamba terdengar merendah, meski bahasa yang dipakainya sarkas.

“Sampeyan hati hati bang bicaranya” ucap ustad Kondang sembari menaikkan tempo pembicaraan.

“Memang begitu adanya. Kolom agama itu huru hara saja, bertujuan untuk mengkotak kotakan saudara kita. Sehingga jangan heran jika isu agama dengan mudah dimainkan hanya demi kepentingan elektoral, kepentingan golongan, hingga kepentingan politik. Bayangkan saja kolom agama itu hapus, kelinduran semua oknum penjaring agama agama”.

“Abang inikan alumni Fakultas Agama, bukankah sudah jelas dalam Al-Qur’an surah Al-Kafirun lakumdinukum waliyyadin” ungkap ustad membelagak kekuatan spiritualitasnya.

“Hahahah. Kamu melegitimasi ayat al-Qur’an, apakah kamu tidak miris melihat umat islam dengan fanatismenya seolah agama mereka yang paling benar, sama sepertimu, yang acap kali ikut campur itu, iya agama”, Ulo Kamba kembali memperkuat pendapatnya soal penghapusan kolom agama pada identitas kependudukan. Si ustad kondang yang tadinya membelagak, tertunduk lesu diamini Rino yang mulai tidak berkutik dengan penjalasan akhir Ulo Kamba.

“Sudahlah mau apa pun kalian berdua, tetap tidak bisa memaksa saya dan beberapa orangdi desa ini, karena satu hal yang haru kalian tau puncak dari agama adalah toleransi, dankemanusiaan. Sebab kita tidak bisa membenarkan seolah agama kita yang paling benar, dankita yang akan masuk surga. Bagimu agamamu bagi ku mereka saudaraku.”

Waalahua’lam bis showab

penulis : Muhammad Afnani Alifian, mahasiswa Aktif  Universitas Islam Malang (Unisma), jurusan Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia

(Alumni Siswa Madrasah Aliyah Nurul Jadid, Anggkatan 2018)

 

 

 

 

PPIQ Nurul Jadid Adakan Studium General

nuruljadid.net- Kamis, 15 Agustus 2019 Lembaga Pusat pendidikan Ilmu Al-Quran Melaksanakan kegiatan rutinitas tahunan yakni Stadium General. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai langkah awal dari kegiatan pembelajaran dan pengenalan setelah penerimaan peserta didik baru di lembaga Pusat Pendidikan Ilmu Al-Quran.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 19:30 WIB, dilaksanakan di Pesantren yang bertempat di Lembaga Madrasah Aliyah Nurul Jadid dengan melibatkan seluruh peserta didik PPIQ baik putra ataupun putri.

Harapan dari ustad Dimas Eko Cahyono selaku ketua panitia, agar kegiatan ini bisa memicu semangat peserta didik PPIQ untuk semakin bersemangat dalam mengkaji, mengaji dan memelihara isi kandungan daripada Al-Quran.
Dalam kegiatan ini, pesan yang dapat diambil dari Kiai Hefny Mahfudz sebagai dewan Pembina PPIQ adalah bagaimana kita sebagai santri, khususnya sebagai para pecinta dan penjaga Al-Quran mampu memaksimalkan potensi yang ada dalam diri kita masing-masing. Serta istiqomah meminta tambahan ilmu karena dengan ilmu dapat menjaga kita.

 

Pewarta : DMS

Editor : Ponirin Mika

 

2 Santri Nurul Jadid, Juara Duta Siswa Berprestasi Nasional

nuruljadid.net – Wahyu Ilahi santri Pondok Pesantren Nurul Jadid berhasil menyabet Juara 1 Pemilihan Duta Siswa-Mahasiswa Berprestasi Nasional (PDSMBN) 2019 tingkat SLTP sederajat yang digelar di Gedung Kesenian Balai Pemuda Surabaya (10/08/19) setelah melalui proses seleksi panjang dan melelahkan.

Santri yang mondok di pesisir pedesaan Karanganyar Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, itu mewakili sekolahnya, SMP Nurul Jadid, di ajang bergengsi Nasional bersaing dengan siswa terbaik bangsa dari berbagai provinsi di Indonesia.

Tidak hanya Wahyu, dalam ajang ini dua Trophy diraih sekaligus oleh santri Nurul Jadid atas nama Zeidan Izza Faris dari MTs. Nurul Jadid yang menempati posisi Juara 3.

Sementara itu Bapak Mujiburrohman Kabid. Pengembangan dan Pengelolaan Biro Pendidikan Nurul Jadid menjelaskan setidaknya tahun ini Pondok Pesantren Nurul Jadid mengutus 15 santri untuk mengikuti seleksi PDSMBN 2019 baik dari tingkat SLTA maupun SLTP yang sebelumnya terpilih sebagai Santri Berprestasi Nurul Jadid 2019. Termasuk berbagai persiapan dilakukan untuk mengikuti ajang tersebut. Seleksi dilakukan berdasarkan prestasi akademis dan non-akademis serta kegiatan soft skills seperti keorganisasian, kesukarelawanan dan sejenisnya.

“Alhamdulillah, dari 15 santri 8 anak lolos ke Grand Final, 2 dari MA Nurul Jadid, 1 SMA Nurul Jadid, 2 SMP Nurul Jadid, 1 MTs Nurul Jadid dan 2 MTs. N 1 Probolingggo,” jelasnya kepada nuruljadid.net

Santri Nurul Jadid, Wahyu Ilahi dan Zeidan Izza Faris dinyatakan terpilih menjadi Duta dan Juara pada Pemilihan Duta Siswa-Mahasiswa Berprestasi Nasional 2019 oleh Lembaga Pusat Pengembangan Platinum Skills Indonesia setelah lolos menjadi Grand Finalist menyisihkan 977 pendaftar SMP dari total 3.986 sedangkan tingkat SD: 987, SMA: 1.022 dan tingkat Mahasiswa sebanyak 1.000 pendaftar. Pada seleksi administratif tersaring TOP 100 sebagai Quarter-Finalist dari masing-masing kategori, pada fase ini peserta diberikan Video Challenge untuk unjuk kemampuan Public Speaking dan Ideas Introduction berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang kemudian mengerucut menjadi 30 besar atau Semi-Finalist untuk menjalani sesi Phone Interview menuju Grand Final.

Pelaksanaan Grand Final dihelat pada tanggal 9 – 10 Agustus 2019 di dua tempat berbeda, hari pertama di Core Hotel Bonnet dengan 4 sesi meliputi Talent Show, National Speech, Social Project dan Personality Interview yang dijuri langsung oleh CEO The Platinum Skills, Edin Muhammad; Mister Indonesia 2018, Okka Pratama; Brand Ambassador The Platinum Skills 2018, Isaac Agung Budiman; CEO Dave Entertainment, Davina Maharani Pietrek dan Business Development Manager, Steve. Hari kedua merupakan hari puncak yang digelar di Gedung Kesenian Balai Pemuda Surabaya. Sebelum penobatan, pembawa acara mengumumkan Special Award untuk kategori Best in Talent, Best in Bhinneka Tugal Ika Night, Best in Social Affairs, Best in National Speech dan Best in Interview. Dari lima kategori tersebut, delegasi Nurul Jadid atas nama Wahyu Ilahi berhasil menggondol dua kategori yaitu Best in Social Affairs dan Best in Interview.

Wahyu nama panggilan akrabnya, mengaku sangat gembira dan tidak percaya bisa menyabet dua Special Awards sekaligus menjadi Duta Utama Siswa Berprestasi Nasional 2019 tingkat SMP. “Awalnya saya enggak nyangka. Karena banyak Grand Finalist yang sangat bagus dan luar biasa, yang saya lakukan hanya fokus dan berusaha melakukan yang terbaik sesuai arahan guru Pembina. Alhamdulillah, berkat barokah pesantren, para kyai, guru, orang tua dan teman-teman saya bisa meraih semua ini,” terang santri asal Kalimantan Selatan ini.

“Saya bangga bisa membawa nama baik almamater tercinta Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Kabupaten Probolinggo ke ajang Nasional bahwa Santri bisa bersaing dan berprestasi,” imbuhnya di akhir wawancara

Pewarta : Mujiburrahman

Editor : Ponirin Mika

 

Wilayah Dalbar, Mengisi libur Kampus Dengan Beragam Pengembangan Diri dan Soft Skill

nuruljadid net- Wilayah Az-Zainiyah atau dikenal dengan sebutan Wilayah Dalbar, memberikan bekal pengetahuan dengan materi beragam kepada seluruh Mahasiswi di moment libur kuliah.

Wakil Sekretaris Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Nyai Muthmainnah Waqid, S. Th.I, menyampaikan, Libur panjang perkuliahan dijadikan sebagai wahana untuk menambah wawasan, baik yang sifatnya untuk pengembangan diri seperti pengetahuan seputar kesehatan wanita, kerumahtanggaan, dan soft skill memasak sebagai calon ibu ataupun yang sifatnya terkait tugasnya di pesantren dan bekal nanti ketika adik-adik kembali ke masyarakat.

Disamping itu, Pemangku Wilayah Dalbar, menginginkan agar mahasiswi tidak menjadikan libur UAS sebagai alasan pulang sebab pondok tidak libur otomatis tugas dan tanggung jawab adik2 mahasiswi yg mayoritas adalah pengurus di daerah atau wilayah juga wali asuh dan muallim AlQur’an bagi santri tetap menjalankan tugasnya di saat libur kuliah. Karena itulah panitia kegiatan ini membuat sistem dan prosedur perizinan khusus bagi mahasiswi yang tidak bisa full mengikuti kegiatan, misalnya saat ada kondisi darurat, sedang bertugas di KKN, atau bagi yang sdh mempunyai jam mengajar di lembaga formal dengan izin khusus.

Mereka juga akan diberi reward apabila mengikuti kegiatan tersebut dengan baik, sebab kegiatan ini ada pointnya.

Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 22 Juli 2019 bertempat di Mushalla Azzaniyah kecuali utk kegiatan outbond rencananya akan dilaksanakan di depan halaman daerah PPIQ dan akan displit menjadi dua sampai 3 kali outbond melihat jumlah peserta mahasiswi yang cukup banyak, yakni sekitar 300 orang.

Kegiatan ini akan diparipurnai dengan kegiatan Soft Skill sekaligus Lomba memasak dan akan resmi ditutup pada malam tanggal 5 September 2019. Setelah itu adik-adik mahasiswi akan kembali disibukkan dengan perkuliahan di semester berikutnya.

Saban harinya Kegiatan dimulai pukul 8 WIB pagi sampai selesai sesuai jadwal yang sudah disepakati dengan para pemateri.

“Alhamdulillah, pematerinya ada yang sudah level nasional dan juga ada yang level regional, tepatnya dari luar kota baik dari tenaga medis (bidan dan dokter) dengan bidang keahlian masing-masing,”
Imbuh Ning Iin.

 

Pewarta : PM

 

Santri Wilayah K Putri, Isi Waktu Libur Kuliah Dengan Khataman Alquran

nuruljadid.net- Libur panjang mahasiswi Universitas Nurul Jadid berlangsung sejak tanggal 7 Juli dan akan berakhir pada tanggal 15 september nanti.
Hal ini membuat mahasiswi di wilayah Zaid bin Tsabit k putri banyak waktu untuk menghatamkan Alquran untuk mengisi waktu senggangnya.

Pengurus wilayah Zaid bin Tsabit K putri mengkoordinir kegiatan tersebut dengan hal ini. Yakni, dengan mengadakan kegiatan “Mengaji Al-Qur’an dengan berkelompok” . Kegiatan ini hanya dikhususkan bagi mahasiswi dalam masa libur kuliah. Kegiatan mengaji berkelompok ini dihandle oleh pengurus wilayah Zaid bin Tsabit K putri, devisi Al-Qur’an dan Furudul Ainiyah (Divisi QFA).

Kegiatan dimulai dari pukul 08.30 hingga pukul 09.30. Mereka tak hanya mengaji biasa bersama dengan kelompoknya saja, namun mereka juga mengaji sorogan kepada ibunda pemangku wilayah Zaid bin Tsabit k putri, Ny. Hj. Nur Khotimah Wafie secara bergiliran sesuai kelompok mereka masing-masing.

Alhamdulillah, Adanya kegiatan mengaji berkelompok seperti ini, bisa menambah kemampuan baca alquran dan bisa mengisi waktu libur kuliah dengan membaca kitab suci alquran, dan untuk mengisi kebosanan dan kejenuhan di waktu libur kuliah yang cukup panjang ini” Tutur salah satu mahasiswi.

 

Pewarta : Susi

Editor : Ponirin Mika

Pramuka Nurul Jadid, Sambut Hari Pramuka Ke 58

nuruljadid.net- Hari Pramuka (Praja Muda Karana) ke-58 tahun diperingati pada hari ini, Rabu (14/8/2019) oleh Pramuka Se- Indonesia. Begitupun Pramuka Nurul Jadid tidak menyia-nyiakan moment bersejarah ini dengan ikut serta memperingati melalui upacara yang diselenggarakan di halaman Kampus Universitas Nurul Jadid (UNUJA).

Melalui pesan singkat melalui WA, Pembina Pramuka Nurul Jadid Bapak Farhan, S. Sos menyampaikan, Tahun ini Pramuka Nurul Jadid perdana memperingati hari Pramuka. Insya Allah akan kami jadikan sebagai agenda wajib setiap tahunnya.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menciptakan patriotik sejati, nasionalis yang mempunyai jiwa disiplin, tangkas dan tanggap dalam segala hal. Lebih-lebih membela tanah air,” Ucap Bapak Farhan.

 

Pewarta : PM

Gus Imdad Rabbani : Sabar Itu Amal Hati

nuruljadid.net- Ketika ingin mendapatkan sesuatu yang terasa sulit kita melaksanakan dengan penuh kesabaran dan berjuang dengan keras. Jika sesuatu itu sudah didapatkan, maka kita akan mengalami kebahagiaan yang tanpa batas.

Pesan inilah yang disampaikan Kepala Biro Kepesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, Gus Imdad Rabbani, saat jadi badal KH. Moh. Zuhri Zaini dalam pengajian rutin kitab Minhajul Abidin, Rabu (14/08/2019).

Menurut Gus Amak, begitu populer disapa, Dunia tempat ujian, kadang enak dan kadang tidak enak. Yang dibutuhkan adalah kesabaran.

“Sabar adalah amal hati yang balasannya tidak bisa dihitung. Mengapa puasa itu pahalanya dirahasikan, karena puasa adalah bentuk kesabaran,” Ucap beliau

 

Pewarta : PM

Wilayah Zaid Bin Tsabit Adakan Sosialisasi Aturan Lembaga Takhassus

nuruljadid.net-  Selasa malam (13/08/19) Wilayah Zaid bin Tsabit (K) putri, mengadakan sosialisasi peraturan berkait lembaga takhassus. Sosialisasi ini  dilaksanakan setelah pengurus mengadakan penggodokan aturan dengan pertemuan rapat selama 6 hari berturut-turut.


Pengurus Wilayah K selalu berupaya terus melakukan perbaikan-perbaikan pada semua kegiatan, lebih- lebih terkait aturan karena harus disesuaikan dengan jam kegiatan formal agar saling mendukung satu sama lain.

Adanya sosialisasi ini agar semua peserta bisa mengetahui terhadap aturan dilembaga takhassus yang ada di Wilayah Zaid bin Tsabit. Ada beberapa lembaga takhassus diny di Wilayah ini, diantaranya : Takhassus Diny Bahrul Ulum, Takhassus Kitab Alwafiyah dan Takhassus Tahfidzul Qur’an.

Pewarta : Susi
Editor : Ponirin Mika

156 Paskibraka Nurul Jadid, Dilatih Disiplin Dan Profesional

nuruljadid.net- Dalam rangka memperingati HUT ke-74 RI, seluruh calon Paskibraka Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo melakukan latihan dilapangan Pesantren yang berada di depan Universitas Nurul Jadid, tempat mereka akan melaksanakan tugas sebagai pengibar bendera pusaka.

Sebanyak 78 putra dan 78 putri yang dipersiapkan untuk menjadi petugas paskibraka dengan diberi pelatihan selama 15 hari oleh 4 orang TNI.

Salah satu pelatih paskibraka Serka Babun Sugianto yang sehar-hari bertugas sebagai Babinsa Desa Karanganyar, Paiton, mengatakan, dengan adanya latihan paskibra ini diharapakan mempunyai sikap mental dan disiplin yang handal dan profesional, lebih lebih dalam melaksanakan tugas sebagai pengibar bendera merah putih.

Koordinator Lapangan Ustadz Mujiburrahman menyambut baik atas rekomendasi Pesantren memberi porsi latihan yang sangat cukuo kepada petugas paskibra.

“Alhamdulillah, kami bersyukur Pesantren memberi waktu yang cukup kepada petugas paskibra untuk melakukan latihan, Insya Allah petugas pengibar bendera sudah sangat siap bertugas nanti pada tanggal 17 agustus untuk memperingati kemerdekaan RI yang ke 74,” Ucap Ustadz Mujib.

 

Pewarta : PM

Jam’iyah Sholawat Nariyah NJ, Rihlah Tabarrukan Ke Asta Wali

nuruljadid.net- Jami’iyah Thoriqoh Naqsabandiyah Nurul Jadid rihlah tabarrukan ke beberapa kiai dan ke beberapa asta masyayikh.

Sejumlah 22 orang kunjungan ke dalem KH. Fadlurrahman Zaini dilanjutkan ke asta Kiai Abdul Majid, Bajul mati dan astah KH. KH. Syamsul Arifin, KH. As’ad Syamsul Arifin, Sukerejo dipimpin oleh pembina Jam’iyah Sholawat Nariyah KH. Moh. Romzi Al-Amiri Mannan.

Ustadz Zainul Hasan Rawi menyampaikan bahwa tujuan rihlah ini sebagai ajang silaturrahmi kepada para masyayikh dan beberapa astah. Ini dilakukan sebagai ikatan bathin (Rabithul Misyah) agar menambah ketaatan bathin kepada Allah.

Jam’iyah Sholawat Nariyah mampu melaksanakan pembacaan shalawat nariyah setiap malam rabu,” Imbuh Ustadz Zainul Hasan.

Masih menurut Ustadz Zahara (Panggilan akrab Ustadz Zainul Hasan) Insya Allah kegiatan rihlah menjadi kegiatan rutin yang akan dilaksanakan. Dengan sowan kepada para masyayikh dan asta para wali Allah, berharap ngalap berkah dan tabarrukan.

 

Pewarta : PM

Dapat Kurban Dari Singapore, Santri Sambut Dengan Riang Gembira

nuruljadid.net – Pasca pelaksanaan shalat idul adha (11/08/2019) di Masjid Jami’ Nurul Jadid, pagi menjelang siang hari tepat pukul 10.00 WIB, Ust. Johan beserta rombongannya tiba di Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk menyaksikan langsung penyembelihan hewan kurban sebanyak 30 ekor yang disumbangkannya kepada PP. Nurul Jadid.

Sebelum penyembelihan berlangsung, Ust. Johan dan rombongan yang berasal dari Bukit Batok Singapore ini disambut hangat oleh KH. Abdul Hamid Wahid (Kepala Pesantren), KH. Najiburrohman Wahid (Wakil Kepala Pesantren), Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah (Direktur Klinik Az Zainiyah) serta beberapa pengurus pesantren lainnya.


Mengawali acara, KH. Najiburrohman Wahid dalam sambutannya mewakili Kepala Pesantren mengatakan “mewakili keluarga besar PP. Nurul Jadid kami mengucapkan terimakasih atas sumbangan kurbannya serta kepercayaan yang diberikan kepada PP. Nurul Jadid untuk melaksanakan kurban”.
Kiai Najib (sapaan akrab Wakil Kepala Pesantren) mengimbuhkan semoga segala bentuk sumbangsi dari Ust. Johan tercatat amal baik oleh Allah SWT.
Selain Kiai Najib, Ust. Nasir (salah satu keluarga Ust. Johan) turut memberikan sepatah kata atas pelaksanaan kurban ini.

“Alhamdulillah, inilah pemberian Allah kepada kita untuk berbagi kepada PP. Nurul Jadid. Saya mewakili keluarga besar Ust. Johan juga ingin mengucapkan banyak terimakasih atas penyambutan dari PP. Nurul Jadid yang membuat kita terharu walaupun sumbangan yang kita berikan tidak seberapa tetapi penyambutannya terlalu besar bagi kami” ungkap Ust. Nasir.
Pasca sambutan, penyembelihan 30 ekor kambing di Depan Gedung Putih Wilayah Al Hasyimiyah disaksikan oleh ratusan santri putri menyambut moment ini dengan riang gembira.

 

Pewarta : Zaky Ghufron

Editor : Ponirin Mika

ITNASY PPIQ, Meriahkan Idul Adha Dengan Lomba Takbir

nuruljadid.net-Kemeriahan tampak begitu menggelegar dilangit Pusat Pendidikan Ilmu Al-Quran (PPIQ) dalam rangka menyambut hari raya Idul Adha. Beberapa lomba digelar oleh organisasi Ittihadun Nasyi’in (ITNASY) sejak hari Jum’at (9/8) dan sampai puncaknya pada malam takbir Idul Adha.

Semua lomba terbungkus dalam satu wadah acara, yakni “Gebyar Idul Adha”. Dengan kurun waktu tiga hari tersebut, lima macam lomba berhasil dilaksanakan rekan-rekan ITNASY.
Pertama lomba Tartil, estafet paku, bilal idul adha, MHQ, dan yang terakhir lomba takbir Idul Adha. Pembukaan lomba dimulai pada hari Jumat pagi, kemudian dilanjutkan dengan lomba. Lomba kedua menyusul ba’dah asar sambil mengisi kekosongan waktu sekaligus ngabuburit.

Hari kedua diisi dengan lomba bilal Idul Adha dan MHQ. Sedangkan lomba takbir ditempatkan pada malam puncak acara, yakni tepat pada malam takbiran. Semua rangkaian acara berjalan dengan lancar dan meriah di halaman PPIQ (Tahsin).
Peserta lomba diambil dari tiap delegasi kamar masing-masing. Walaupun jangka waktu yang diberikan panitia dengan waktu pelaksanaan lomba sangat minim, namun antusias mereka sangat bergemuruh.

“Inikan juga sebagai bentuk timbal balik kecintaan teman-teman dalam memeriahkan Idul Adha, jadi harus totalitas,” tutur salah satu panitia.
Ustaz Dimas Eko Cahyono selaku Pembina ITNASY mengharapkan, “Semoga kegiatan ini menjadi titk awal yang berkelanjutan dalam berproses mencari potensi teman-teman peserta didik dan menjadi bekal yang berharga ketika pulang di masyarakat.”

 

Pewarta : Bakron

Editor : Ponirin Mika

Laziskaf, Syiar Pelaksaanan Penyembelihan Kurban Kepada Ribuan Santri

nuruljadid.net- Sebanyak 2 ekor sapi dan 11 ekor kambing disembelih oleh Laziskaf Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, selepas pelaksanaan salat idul adha, Ahad pagi (11/08/19) pukul 09. 00 WIB. Satu ekor sapi disembelih dihadapan ribuan santri dan satu ekor sapi, sebelas ekor kambing disembelih dibelakang Kantor Laziskaf. Hewan kurban tersebut didapatkan dari sumbangan alumni dan simpatisan.

Ustadz Sholihin Pengurus Laziskaf mengatakan bahwa, sebanyak 2 ekor sapi dan 11 ekor kambing yang disembelih oleh laziskaf, Ini semua didapatkan dari sumbangan alumni dan simpatisan. Satu ekor sapi proses penyembeliahannya dilaksanakan di depan Kantor Pusat Pondok Pesantren agar dapat disaksikan oleh santri. Tujuannya, disamping sebagai syiar, juga agar santri mengetahui bagaimana tata cara menyembelih kurban sesuai dengan syariat Islam, lebih-lebih santri agar punya keinginan dan kepekaan untuk berbagi dengan berkurban hewan setelah mereka pulang ke masyarakat nantinya.

Penyembelihan hewan kurban dihadiri Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini sekaligus memimpin do’a sebelum prosesi penyembelihan hewan kurban. Beliau didampingi kepala BKOSNJ KH. Makki Maimun Wafie, Ustadz Qomarudin Pengurus Laziskaf, Beberapa Pengurus Pesantren dan ribuan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid.

H. Syamsul Arifin bertugas sebagai tukang jagal kurban, berhasil dikonfirmasi oleh bagian Infokom Nurul Jadid, beliau mengatakan seperti ini,: ” Saya melihat langsung, bagaimana antusiasnya santri, menyaksikan penyembelihan kurban tersebut. Insya Allah mereka dapat pelajaran berharga dari kegiatan ini”.

Daging kurban akan diberikan kepada santri dan masyarakat sekitar,” Tutur Ustadz Sholihin.

 

Pewarta : PM

Gebyar Bahasa Se- Jatim, Ajang Silaturrahmi Antar Pesantren dan Sekolah

nuruljadid.net- Salah satu agenda Universitas Nurul Jadid yang dilaksanakan satu tahun sekali adalah “Gebyar Bahasa”.Namun ada yang spesial tahun ini, pasalnya gebyar bahasa biasanya hanya terdiri dari perlombaan bahasa arab saja, untuk tahun ini perdana dilaksanakannya gebyar bahasa menggunakan ajang perlombaan 2 bahasa, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, dan dimulai pada hari rabu tanggal 07 Agustus 2019 berjalan lancar, dan akan berakhir pada hari Jum’at tanggal 09 Agustus 2019. Kegiatan ini ditempatkan di AULA Pesantreb (MANJ).

”Jadikan perlombaan ini sebagai ajang silaturrahmi dan ajang untuk mengukur kemampuan kita,bukan sekedar ajang untuk meraih kemenangan saja.” Ujar Ka.Prodi PBA – PBI UNUJA Bapak Muallim Wijaya, dalam sambutannya.

Penutupan sekaligus pengumuman pemenang lomba, menjadi hari yang dinanti oleh setiap peserta lomba. Dari sekian Pesantren dan sekolah negeri di Jawa Timur mengekuti acara ini dengan  mendelegasikan peserta didiknya. Adapun jimlah pemenang yang diambil dari setiap lomba, hanya 3 orang saja baik putra maupun putri. Dan 1 pemenang untuk juara umum. Diantata pemenang merupakan delegasi dari LPBA Nurul Jadid, PP. Sidogiri, PP. Al-Masduqiyah, PP. An-Nuqqoyyah dan SMAN 1 Situbondo. Untuk juara umum sendiri jatuh kepada PP. An-Nuqoyyah, karena banyaknya delegasi peserta didik An-Nuqoyyah yang jadi pemenang pada lomba Gebyar Bahasa 2019 ini.

Pewarta : Faizatul Fitriyah dan Siti Nisa’ul Mukhtaroh

Editor  : Ponirin Mika