Kolaborasi Klinik Azzainiyah dan Dinkes Probolinggo, Santriwati Nurul Jadid Dapat Edukasi Kesehatan Remaja
berita.nuruljadid.net — Klinik Azzainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo menggelar sarasehan kesehatan remaja, Selasa (20/01/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional sekaligus menyemarakkan Haul Masyayikh dan Hari Lahir ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Sarasehan yang berlangsung di Aula 1 pesantren itu diikuti sekitar 200 santriwati. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja putri terhadap pentingnya menjaga kesehatan fisik, gizi seimbang, serta kebugaran sebagai penunjang utama aktivitas belajar di lingkungan pesantren.
Kasubbag Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ponirin Mika, menegaskan bahwa kesehatan merupakan nikmat besar yang kerap luput disyukuri. “Tubuh yang sehat akan melahirkan semangat dan konsistensi dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, kondisi fisik yang kurang prima dapat menghambat aktivitas santri sehari-hari,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Sri Wahyu Utami, menilai edukasi kesehatan di lingkungan pesantren sangat penting, khususnya terkait perawatan diri dan kesehatan reproduksi remaja. Ia juga memotivasi para santriwati agar menjaga kesehatan sebagai bagian dari ikhtiar meraih masa depan yang lebih baik.
Sebagai pemateri utama, dr. Moh. Reza memaparkan bahwa masa remaja merupakan fase krusial peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, menurut dia, ada tiga aspek kesehatan yang perlu menjadi perhatian utama remaja putri: tumbuh kembang, kesehatan reproduksi, dan kesehatan mental.
Ia menyoroti persoalan gizi yang masih menjadi tantangan serius. “Di Indonesia, hampir 48,9 persen remaja putri mengalami anemia. Ini bukan angka kecil,” kata Reza. Anemia, lanjut dia, ditandai kadar hemoglobin di bawah batas normal 12 gram per desiliter darah dan dapat menyebabkan lemah, pusing, pucat, hingga penurunan konsentrasi belajar.
Reza menjelaskan bahwa kekurangan gizi pada remaja putri dapat berdampak jangka panjang, mulai dari postur tubuh yang kurang optimal, risiko obesitas, hingga gangguan kesehatan saat kehamilan dan persalinan kelak. “Kalau sejak remaja kadar hemoglobin dijaga di bawah 12, risikonya besar. Bahkan bila di bawah 8, bisa membutuhkan transfusi darah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pola makan seimbang. Pedoman lama “empat sehat lima sempurna” kini telah digantikan dengan konsep gizi seimbang. Dalam satu piring makan, separuhnya diisi sayur dan buah, sementara separuh lainnya terdiri dari karbohidrat dan lauk berprotein, terutama sumber zat besi seperti daging merah. “Minum manis boleh, tapi dibatasi. Perbanyak air putih. Hindari kebiasaan minum teh atau kopi berlebihan karena menghambat penyerapan zat besi,” kata Reza.
Selain asupan makanan, Reza menekankan pentingnya konsumsi tablet penambah darah bagi remaja putri, terutama saat menstruasi. “Ini bukan obat, tetapi suplemen untuk mengganti kekurangan zat besi dalam tubuh. Demi masa depan kalian dan generasi yang akan dilahirkan, biasakan dari sekarang,” tuturnya.
Ia juga menyinggung kecenderungan remaja memilih makanan berdasarkan suasana hati. “Saat stres, seseorang cenderung mencari makanan yang menyenangkan, bukan yang menyehatkan. Padahal, tidak semua yang enak itu sehat, dan tidak semua yang kurang enak itu buruk bagi tubuh,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap santriwati tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual dan spiritual, tetapi juga sehat, kuat, dan memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya gizi seimbang sejak dini.
Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika












Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!