KH. Zainul Mu’in Husni: Menulis Kitab sebagai Ikhtiar Tabarruk kepada Ulama
www.nuruljadid.net– Semangat menjaga dan melanjutkan tradisi keilmuan pesantren mewarnai kegiatan Bedah dan Launching Kitab Anaqidul Juman Syarah Syuabul Iman karya KH. Zainul Mu’in Husni, M.Ag. yang digelar di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ahad (12/7/2026) atau bertepatan dengan 26 Muharram 1448 H.
Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. (HC) KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag. sebagai pembanding, sementara KH. Moh. Zuhri Zaini, B.A. dan KH. Zainul Mu’in Husni, M.Ag. menjadi penyaji dalam bedah kitab yang mengupas kandungan serta proses penyusunan kitab tersebut.
Dalam pemaparannya, KH. Zainul Mu’in Husni menjelaskan beberapa bagian penting dari Syuabul Iman beserta hasil telaah yang dilakukannya. Meski demikian, beliau menegaskan bahwa apa yang disampaikan bukanlah sebuah kesimpulan mutlak, melainkan ruang untuk terus dikaji dan didiskusikan bersama.
“Barangkali hal-hal seperti ini tidak perlu saya sebutkan semuanya. Tetapi hal-hal seperti ini penting untuk ditelisik dan dicermati. Mohon koreksi kepada KH. Afifuddin Muhajir,” dawuh beliau.
Pernyataan tersebut mencerminkan tradisi ilmiah yang telah lama hidup di lingkungan pesantren, yakni keterbukaan terhadap kritik dan koreksi sebagai bagian dari proses penyempurnaan ilmu. Bagi KH. Zainul Mu’in Husni, sebuah karya tidak berhenti pada proses penulisan, tetapi terus berkembang melalui dialog dan kajian bersama para ulama.
Kerendahan hati beliau juga tampak ketika menjelaskan alasan di balik penamaan kitab yang ditulisnya. Menurutnya, karya tersebut sesungguhnya belum pantas disebut sebagai sebuah syarah dalam pengertian yang utuh, melainkan lebih sebagai ikhtiar untuk memperoleh keberkahan dari para ulama terdahulu.
“Ini juga sebenarnya tidak pantas disebut syarah. Saya hanya ingin sekali tabarruk kepada muallif, dan semoga kita semua yang hadir diberi barokah oleh Allah Swt.,” tutur beliau.
Ungkapan tersebut mendapat perhatian para hadirin yang memenuhi Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid. Nilai tawaduk yang ditunjukkan KH. Zainul Mu’in Husni menjadi pesan bahwa tradisi menulis dalam dunia pesantren tidak semata-mata bertujuan menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah mewariskan khazanah keilmuan Islam.
Melalui kegiatan bedah dan peluncuran kitab ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali meneguhkan komitmennya dalam merawat tradisi literasi pesantren. Kehadiran para kiai, guru, akademisi, dan santri menjadi bukti bahwa budaya membaca, mengkaji, serta melahirkan karya ilmiah terus hidup sebagai bagian dari estafet perjuangan ulama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam.
Pewarta: Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika







Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!