Bersama Kita Melawan Corona

Mawas Diri, Mari Peduli

Indonesia tengah digemparkan oleh wabah virus yang akhir-akhir ini juga tengah menggemparkan kurang dari 157 negara. Covid – 19 (Corona Virus Deases 2019) atau yang akrab kita dengar dengan sebutan Corona, pertama kali muncul di wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Penularan dan penyebarannya yang sangat cepat tak dapat kita nafikan, bahwa berkontak langsung dengan si penderita, melalui perantara udara bahkan gesekan, virus itu akan langsung menggerogoti siapa saja tanpa pandang buluh. Virus tersebut tak hanya menjangkit dan mewabah di kota metropolitan saja, namun juga hingga ke pelosok – pelosok desa, bahkan Pondok Pesantren yang damai juga geger dibuatnya. Berbagai penangan telah digencarkan oleh pemerintah untuk segera meminimalisir jumlah kasus yang semakin hari semakin parah. Kepanikan sangat tergambar pada berita online maupun offline. Seluruh surat kabar berisikan segala perihal mengenai virus corona. Corona tersebut telah menjadi buah bibir masyarakat dari setiap elemen tanpa terkecuali, santri pun tak mau kalah update dan panik. Berbagai upaya juga digalakkan dari pihak pesantren, tidak hanya sekolah – sekolah diluar yang kini dilibur panjangkan. Pesantren juga memberhentikan sementara seluruh KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di lingkup pesantren.

Namun, disisi lain santri juga dicekoki berbagai doktrin dan pengarahan seputar pencegahan virus corona. Juga, jika kita menilik dari notabene santri yang merupakan kader estafet penerus perjuangan ulama dan ulama adalah tonggaknya bumi ini. Jadi, nilai spiritualitas dan religius sudah tidak usah diragukan lagi. Nilai tersebut telah melekat bahkan mendarah daging di jiwa seorang santri. Contoh konkretnya, seperti Pondok Pesantren Nurul Jadid, disana santri diijazahkan beberapa amalan, tapi amalan yang ditulis langsung, salah satunya oleh KH. Fadlurrahman Zaini, tepatnya di masjid jami’. Ikhtiar santri terus digembor – gemborkan secara dhohir maupun batin. Olahraga yakni senam pagi telah menjadi rutinitas setiap pagi, pembacaan amalan pun telah terjadwal secara istiqomah seusai shalat berjama’ah fardhu.

Dalam konteks ini, peran santri sangatlah urgen untuk turutanail dalam pencegahan kasus virus Covid – 19 mawas diri merupakan cara paling ampuh untuk pencegahan. Karena semua bermula dari diri kita, apalagi kita seorang santri yang pastinya rasa mawas diri telah termaktub pada setiap santri khususnya santri Nurul Jadid. Sebagaian besar dari ODP (Orang dalam pemantauan) dan PDP (Pemantauan dan penanganan) 80% sembuh dikarenakan daya tahan tubuhnya yang memang kuat atau kebal untuk melawan virus – virus. Di indonesia sendiri telah banyak sekali daerah yang berstatus zona merah, khususnya DKI Jakarta. Kepanikan pasti melanda pada setiap elemen masyarakat, namun kepanikan tersebut juga memiliki porsi tersendiri. Janganlah kita terlalu panik, tapi juga jangan meremehkan intinya adalah selalu mawas diri.

Seperti yang didawuhkan oleh KH. Najiburrahman Wahid pada pengajian kitab santri di pagi hari, bahwa virus corona adalah sebuah wabah yang dalam pengertian tersendiri mengenai arti wabah ialah azab, namun beliau menuturkan bahwa wabah merupakan rahmat bagi orang mukmin. Kita sebagai kaum islam, harus percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan garis takdir Allah SWT, sikap tawakal haruslah tetap terpatri dalam diri kita kaum santri dan mukmin.

Kepanikan yang melanda warga indonesia khususnya santri juga tidak luput dari kemulekan sosial media yang menyuguhkan berbagai literatur dan wacana yang terkadang dilebih – lebihkan. Negara kita memanglah merupakan negara yang sangat gampang untuk menjadi sasaran empuk berita hoax dan semacamnya. Kaum santri harus bangkit dan turut maju kedepan garis merah, santri juga harus pandai – pandai memfilterasi segala berita hoax dan meluruskan benang yang kusut. Indonesia juga harus bangkit dari segala keterpurukan akibat merebaknya kasus virus corona. Bersama santri, indonesia kembali bersinar dari keredupannya. Jangan mau diperbudak dengan berbagai linimasa yang kurang mengasah dan potensial. Sekali lagi, sikap mawas diri sangatlah urgen dari berbagai macam kasus manapun dan apapun semua bermula dan berakhir dari kita. Mawas dirilah pada setiap peristiwa, mawas diri juga harus di barengi dengan sikap kritis dan logis. Karena perubahan bermula dari hal kecil yakni diri kita. Dengan bermawas diri berarti kita peduli seluruh insan di bumi ini.

Untuk kesekian kalinya, kaum santri harus bangkit sekalipun mengaji kitab dan berdzikir di pagi hari. Wallahu a’lam.

Penulis : Nur Husna Roziqin, santri PP. Nurul Jadid pemenang juara I lomba Opini dalam Pekan Santri yang dihelat oleh FKO Nurul Jadid pada tanggal  29 Maret 2020.

Editor : Ponirin

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 3 =