Pos

Ibu, Sang Altruis Abadi

Ibu, Sang Altruis Abadi

“Sebagai seorang wanita, saya memasuki rumah politik dengan dimensi tambahan – Seorang Ibu”. Benazir Bhutto

Ibu (Maha Karya Allah Azza Wa jalla) yang altruis biasanya bersikap untuk tidak mementingkan kepentingan dirinya pribadi. Tindakan-tindakan yang ia lakukan bisa berpusat pada alasan ingin selalu memajukan keluarga, dan ia sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa pun untuk dirinya sendiri sehingga tidak terjebak pada “pengabdi amatiran”. Telah sekian lama perilaku “Altruis” menjadi perbincangan hangat berbagai kalangan baik yang beragama maupun tak beragama bahkan yang memiliki prinsip tak bertuhan, oleh karena inilah sebuah tauladan sikap yang mulia. Perlu dicamkan, altruis bukanlah sebuah sikap yang mengorbankan diri sendiri ibarat lilin rela terbakar demi menerangi sekelilingnya namun rela berkorban, peduli, dan ikhlas. Sikap altruis mementingkan kesejahteraan keluarga dan kebersamaan.

Bukanlah Ibu altruis jika mengasumsikan dirinya sebagai obyek pasif dan tak berdaya bahkan terjerumus pada sikap inferior terhadap dirinya sendiri, manipulatif, dan tidak melakukan sebuah kebaikan dengan motivasi tersembunyi yang hanya bersumber kepada kepentingan pribadi. Altruis merupakan sikap positif yang juga berkaitan erat dengan integritas, kejujuran, dan rendah hati. Tanpa disadari ada peran Ilahiyyat dibalik sikap altruistik.

Ibu dalam bahasa arab disebut dengan ummun, ia terambil dari kata amma yaummu “sesuatu yang banyak dituju”. Bukankah seorang anak jika membutuhkan dan meminta sesuatu tanpa disadari dia akan menghampiri ibunya ?. ketergantungan seorang anak begitu besar pada ibu, sebab seorang anak pernah menjadi “alaqoh” segumpal darah yang kemudian berlanjut pada fase-fase berikutnya hingga tiba sembilan bulan. Oleh karenanya begitu besar keterikatan seorang anak pada ibunya.

Dalam Islam telah dijelaskan terang benderang betapa ibu memiliki dimensi menciptakan atau khaliqiyat atau mampu menciptakan yang didasari oleh cinta dan kasih sayang yang dominan pada seorang ibu ini menjadi potensi besar untuk mendidik generasi, oleh karena itu awal dan permulaan  pendidikan dalam sebuah masyarakat dimulai dari pernikahan dan keluarga bahkan jauh sebelum melangkahkan kaki menuju lorong penikahan, dengan demikian ibu memiliki tanggung jawab sentral (subjek) dalam keluarga bahkan masyarakat yaitu pertama, mendidik dirinya sendiri, kedua, mendidik anak-anaknya, dan ketiga jika perlu mendidik suaminya. Betapa besar peran ibu dalam mendidik sehingga Rasulullah tidak sedang menggombal saat beliau bersabda “Syurga berada di bawah telapak kaki ibu”. Tak diragukan lagi bahwa generasi-generasi brilian dalam semua dimensi kehidupan lahir dari ibu yang sukses mendidik penuh cinta dan kasih sayang, inilah salah satu rahasia mengapa Rasulullah bersabda demikian, Menakjubkan.

Betapapun kelamnya keadaan keluarga, lingkungan sekitar, dan semrawutnya tatanan kehidupan masyarakat dunia dari masalah nasional, regional, dan internasional yang harus diselesaikan dengan bijaksana. Seorang ibu masih saja mampu menciptakan atmosfer surgawi bagi suami dan anak-anaknya hingga anak cucunya bahwa dunia masih anggun semampai sampai saat ini. Penulis tidak berlebihan mengasumsikan bahwa alam raya ini juga memiliki ketergantungan pada seorang ibu, ibu lebih istimewa dari pada surga dan seisinya. Tak dapat dibayangkan porak-porandanya alam raya bila ibu alpa akan peran luar biasanya.

Terlepas dari kelompok misoginis-sentimental, keberlangsungan konflik struktural-kultural dalam kehidupan sistem sosial antara Patriarkhi dan Matriarkhi, Feminin dan Maskulin genting untuk dibahas ulang di hari nan mulia – hari Ibu, sehingga tidak sebatas menjadi perayaan simbolis dan fiktif, nyatanya seorang ibu di abad milenial berada di persimpangan jalan kebebasan dan pengekangan, ketaatan dan kenikmatan. Konflik dominasi tak ada ujungnya selama kedua sistem sosial enggan mengekang hasrat merepresi lawan jenis, baik Ptriarkhi maupun Matriakhi dapat dengan mudah diterapkan seadil-adilnya di suatu wilayah selagi rasa mengayomi dan rela untuk tidak membangkang ataupun bertindak sewenang-wenang demi tercapainya cita-cita memuliakan Sang Ibu. Seperti fenomena Matriarkhisme di tanah Minangkabau atau fenomena Patriarkhisme ekstrim di Pulau dewata.

Persaingan saling mendominasi memaksakan para ibu-ibu turut andil demi menunjukkan status sosial. Alih-alih memuntut kebebasan dan HAK,  ibu-ibu yang memiliki kesibukan di dunia kerja dan disibukkan oleh situasi yang memperalat di segala bidang justru jauh lebih tersiksa kendatipun mereka seringkali nyaman dan tenteram mendapatkan perlakuan tidak berprikemanusiaan dari masalah  pelecehan, hak cuti hamil dan melahirkan hingga nekat melakukan tindakan aborsi demi mematuhi peraturan kerja di perusahaan manapun. Moral ibu-ibu kini telah terpeleset dalam jurang “komodifikasi kaum hawa”. Cobalah para boss pemimpin perusahaan sesekali membasuh akal hingga jernih sebelum mengenakannya sebagai kacamata pandang, barangkali cara memandangi kaum ibu-ibu telah begitu teruk.

Di hari ibu, ada beberapa hal yang perlu dihayati kembali bahwa ibu atau istri merupakan pasangan hidup dengan kemampuan multitasking bahkan polymath dan jika tidak berlebihan mereka lebih hebat dari revolusi 4.0, istimewa, bukan ?. jadi sudahkah papa layak dan pantas mengampanyekan poligami, hak madu, hak pelakor, serta jajan-jajan yang papa simpan dibalik kantong celana. Papa seringkali khilaf tak tahu membedakan rasa nyaman dan rasa kagum dan papa terjebak pada permainan meninggalkan yang nyaman demi ia yang dikagumi. Papa egois tidak sayang mama pasti berdalih “Surga di bawah telapak kaki Ibu, Tuhan di bawah telapak sabda Papa”. Bisa jadi kejantanan, kekuatan, dan penyematan gelar imam pada-mu sebatas ilusi. jangan mudah ngiler, ingat ibu, Papa. Dampingi ibu menjadi altruis sejati. Hubungan kalian saling mempengaruhi, saling melindungi, dan menghormati serta setara dalam kebersamaan yang sempurna. Langit itu maskulin dan bumi adalah wanita; apapun yang dimasukkan ke dalamnya menghasilkan buah”. Pesan Rumi.

Emak-emak rempong, kini ada gelagat yang mendiskreditkan para ibu, memojokkannya menjadi manusia menyebalkan, menyusahkan, dan membuat anak pusing kepala karna ulah emak-emak rempong berdaster. Saat di jalan tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, ceriwis, shopaholic, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, emak-emak gemar mengadakan pengajian atau muslimatan di kampung-kampung bahkan nekat menaiki kendaraan/mobil tak beratap sembari mengadakan arisan dan saling adu fashion agar tak kalah gengsi walaupun dengan berhutang tanpa sepengetahuan suami. Sebaliknya, jika acara rutinan sekaliber muslimatan yang super-religius yang dihadiri mereka dengan hijabnya menyentuh mata kaki ditelisik secara sosioantropologis maka akan ditemukan titik optimistis dengan syarat acara muslimatan juga diiringi dengan penggalangan dana (fundraising) dengan tujuan terciptanya rasa empati dan berbelas kasihan kepada para anak jalanan baik yatim maupun diyatimkan, ibu-ibu yang berada di luar komunitasnya seperti, ibu-ibu janda single-parent, ibu-ibu buruh, ibu-ibu pelakor, dan bahkan ibu-ibu di pinggiran pelayan hidung belang.

 Memberdayakan, memberi modal dari hasil penggalangan dana di kegiatan muslimatan, dan keterampilan kepada mereka tentu lebih bermakna dari pada sebatas arisan, pamer fashion, dan make up. Setidaknya, acara muslimatan dapat membangkitkan semangat ibu-ibu di luat lingkaran muslimatan membangun ekonomi mandiri serta bermartabat. Tidak mengapa hidup kere/ngere (ngebangun ekonomi diri sendiri) gaya hidup tidak umum dan biasa-biasa saja justru lebih istimewa, Asal urusan finansial tidak menggantungkan pada suami orang atau menormalkan larangan Tuhan.  Sehingga, cita-cita menjadi ibu altruis abadi bukan sekedar cita-cita utopia dan mimpi siang bolong.

Terakhir, para ustadzah calon ibu (mahasiswi/non-mahasiswi) pengurus pesantren dimanapun berada. Dewasa ini, khalayak di luar sana berada pada titik nadir kedahagaan hendak meneguk bimbingan dari kalangan ustadzah yang sedang menempa diri, mengolah hati, dan dididik langsung (face to face) oleh kalangan Ning dan Bu Nyai keluarga para Kiai. Membentengi emak-emak muslimatan dari radiasi paham sektarian, komoditas empuk para politisi, adu domba media dakwah Ustadzah google, ustadzah Youtube, Ustadzah instagram, dan mendidik generasi muda. Sudah sepatutnya para Ustadzah berada di garda depan menegakkan, membela, melawan atau merayu seperti rayuan Syahrazad pada Sang raja mahajana Syahrazar mejadi kemayu dan urung membunuh dalam hikayat seribu satu malam.

Adakalanya, Ustadzah pengurus pesantren perlu lebih memfokuskan diri untuk mewaqafkan masa mudanya, kecantikannya, bersenang-senangnya, dan hasrat hidup glamournya demi ilmu dan mengayomi anak didik. Jangan sampai enggan membaca dan membeli buku namun merunduk dibawah melangitnya bandrol pakaian branded sekelas tuneeca terbaru, tas kosmopolitan, sepatu high heels, dan sebagainya.

 Bagai dua perempuan bersaudara dalam sejarah berdirinya Universitas pertama di dunia Al Qurawiyyin – pada masa dinasti Idrisiyah – oleh Fatimah Al Fihri, wanita bergelimang harta warisan dari mendiang ayahnya lebih tertarik mendedikasikan dirinya dengan cara gemilang mendirikan Unversitas beserta rekan adiknya Maryam Al Fihri. Beliau, fatimah dan maryam patut dijadikan tauladan di era milenial bersama perempuan hebat lainnya seperti Sya’wanah guru para Ulama’ di masanya, Benazir Bhutto, Cut Nyak Dien, dan Rahmah El Yunusiyah pejuang yang terlahir dari keluarga bersistem sosial Matriarkhat. Begitu banyak wanita muslim “Altruis” patut dijadikan suri tauladan bagi para Ustadzah kekinian dari Negri Andalusia hingga Negri Andalas.

Kalau boleh memberi saran. Menulislah. Jika tidak, menikahlah bagaimanapun keadaannya dan siapapun suami anda kelak. Anda akan segera menjadi seorang salik dan altruis abadi dadakan. Mohon, selamatkan hari ibu 22 Desember 2018, Ustadzah !

Ibu altruis, nyata ada di sekeliling kita, di rumah kita masing-masing.

Penulis : Salman Al-farisi (Pengurus aktif LPBA Pondok Pesantren Nurul Jadid)

For you mom

For you mom

For all the merits exposed

For lovely affection devoted

For every life meaning acquainted

And for each tear fallen down

Mom, I’m sorry

I don’t posses a powerfull body to reply all your merits

My heart is too weak to affect you as deep as you do

My mind is very simple-minded even just to utter beautiful words for

Your smile, even just to raise your pride on everybody’s eyes, even

Just to reach the dream you exprct me to br, even just to do and

Behave like what you always remind me about

I’m just kinda hell for u

Mortifying you in often

Hurting your heart as always

I just bring nothing but cries

I disappoint you even for today

In this day to commemorate

I could not say anything but I love you so

Penulis :  Amirul Wahid (Peserta Didik Aktif LPBA, Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Nyai Hj. Khodijatul Qodriyah : Kerja Sama Kita Lakukan, Untuk Tingkatkan Kualitas Klinik Az-Zainiyah

Nyai Hj. Khodijatul Qodriyah : Kerja Sama Kita Lakukan, Untuk Tingkatkan Kualitas Klinik Az-Zainiyah

nuruljadid.net – “Klinik Az-Zainiyah mempunyai cita – cita melayani dengan sepenuh hati dan mampu melayani apa yang menjadi kebutuhan kesehatan yang ada di Pondok Pesantren Nurul Jadid,” dawuh Nyai HJ. Khodijatul Qodriyah, selaku Direktur Klinik Az-zainiyah.

Hal itu disampaikan pada acara seminar nasional yang bertema “Deteksi Dini Kelainan Tulang Pada Anak” di Auditorium mini Universitas Nurul Jadid, Senin (18/12/2018).

Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk melakukan penandatanganan kerjasama dengan pihak Laboratorium Sejahtera Kraksaan, PT. Putra Restu Abadi dan Rumah Sakit Rizani Paiton.

“Pertama, Klinik Az-zainiyah bekerja – sama dengan Rumah Sakit Rizani untuk pengadaan ambulans dan urusan perjenazahan. Kedua, PT. Putra Restu Abadi untuk pemusnahan limbah medis atau limbah beracun dan yang terakhir ialah dengan Laboratorium Sejahtera, Kraksaan,”Jelas beliau.

Beliau menambahkan, dua penyaji seminar ini dari rumah sakit Orthopedi & Traumatologi, Surabaya dan Lulusan terbaik keperawatan Fakultas Kesehatan UNUJA pada tahun 2019 akan di rekrut sebagai perawat di Rumah Sakit Orthopedi & Traumatologi Surabaya.

Lanjut beliau, menyampaikan bahwa dalam sebulan klinik Az-Zainiyah melayani sebanyak 1200 pasien. “Tapi, alhamdulillah saya mengamati dari bulan januari sampai september tahun 2018 data statistik yang masuk mulai menurun untuk tingkat penyakit Pondok yaitu penyakit Hepatitis dan Rabies,”ujar beliau.

Diakhir sambutannya, beliau berharap dengan adanya seminar ini agar bisa membuka wawasan kesehatan bagi para peserta. “Semoga acara seminar ini adalah bentuk lain dari memprioritaskan bentuk ibadah kita kepada Allah Swt, baik dari segi kualitas maupun kuantitas kita sehingga kita menjadi hamba yang lebih beriman dan bertaqwa,”harapnya.

Penulis : Ahmad

Editor : Jawahir

Siswa Smk Full Day School Bustanul Ulum Prakerin Di MA Nurul Jadid

Siswa Smk Full Day School Bustanul Ulum Prakerin Di MA Nurul Jadid

nuruljadid.net – Pasca acara seremonial yang berlangsung di Aula Universitas Nurul Jadid dengan segenap pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid, yang bertujuan sebagai pengantar dari Kegiatan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN). SMK Full Day Bustanul Ulum Bulugading, Jember. berkunjung ke MA Nurul Jadid yang menjadi salah satu tempat peserta didiknya PRAKERIN.

Sambutan hangat mereka dapatkan tatkala tiba di MA Nurul Jadid dan hal yang pertama mereka apresiasikan kepada MA Nurul Jadid ialah kekompakan para OSIM MANJ. “dengan kedatangan kami ini  di MA Nurul Jadid terdorong akan penyambutan dari OSIM MANJ,” Ujar Salah satu dari guru SMK Full Day School dalam sambutan. Jum’at(14/12/2018).

Sesudah sambutan, terdapat sesi pemberian cindera mata antara pihak SMK Full Day School dan MA Nurul Jadid dan dilanjutkan dengan pemaparan tentang OSIM MANJ, seperti Visi dan Misi, menayangkan beberapa video seputar kegiatan – kegiatan yang ada di MANJ dan program kerja tiap devisi yang ada di OSIM MANJ oleh Nur Hasanah Yusuf, Ketua OSIM dan Maghfiroh Romadhona, Wakil Osim MANJ.

Tak hanya itu, lembaga pers siswa milik MANJ, KHARISMA. Turut unjuk gigi dalam acara tersebut. Seperti menjelaskan beberapa hal tentang tentang KHARISMA dab menampilkan beberapa video produksi K TV (KHARISMA TV, red). “ini adalah salah satu video dari K TV, jangan lupa di like, Subscribe dan Comment di MA Nurul jadid channel”seru Pimpinan redaksi KHARISMA, Layyinatus Z.

Dipenghujung acara, OSIM MANJ mengajak siswi SMK Full Day School untuk berkeliling lingkungan MANJ, mengunjungi kantor OSIM dan KHARISMA sekaligus Foto bersama.

Penulis : Faizatul Fitriyah, Panji Pelopor Wil. Al Hasyimiyah

“Membaca Mengenal Dunia, Menulis Untuk Dikenal dunia ”

Membaca Mengenal Dunia, Menulis Untuk Dikenal dunia

nuruljadid.net- Sebagai motivasi dan peningkatan semangat generasi muda, khususnya para santri, Biro Pendidikan PP. Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, mengadakan kegiatan Bedah Buku dan seminar Nasional. Kegiatan yang bertema “Membaca Mengenal Dunia, Menulis Untuk dikenal Dunia” akan ber tersebut diselenggarakan di Aula Universitas Nurul Jadid, selasa (11/12/2018).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh penulis buku berjudul Ubah Lelah Jadi Lilah, Dwi Suwiknyo. Hadir pula Kepala Biro Pendidikan Dr. H. Moh. Mahfudz Faqih, M. Si,  jajaran dewan guru, dan Santri PP. Nurul Jadid.

Sebelum menyampaikan materi bedah buku, terlebih dahulu Dwi Suwiknyo memberi motivasi dari pengalaman beliau penulisan buku yang diberi judul ubah lelah jadi lilah. Sebelum itu ia juga telah menerbitkan buku pertamanya dengan judul How to Manage My Money pada tahun 2006.

Suwiknyo menuturkan perkembangan zaman yang ditandai dengan pesatnya pertumbuhan teknologi, sikap generasi muda bangsa harus senantiasa terukur. Karena bagi Suwiknyo, teknologi hanyalah pelengkap.

 “Jangan pernah takut sama teknologi karena dia (Teknologi) itu hanyalah pelengkap, jangan pernah memusuhi teknologi. Jadi jangan takut,” Imbuh Penyaji.

Semua orang bisa menjadi penulis walau bukan dari bidangnya. Hanya dengan modal semangat dan berani berkarya.

“Kreativitas menjadi rutinitas yang menghasilkan karya, ilmu yang bermanfaat bagi orang lain akan menjadikan penambahan Gaiden kreativas,” Kata Dwi Suwiknyo.

Penulis : Nuris

Editor : Febri Delfitri F

Biro Pendidikan PP. Nurul Jadid Selenggarakan Seminar Nasional

Biro Pendidikan Selenggarakan Seminar Nasional

nuruljadid.net – Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid menyelenggarakan  seminar nasional dengan tema “Membaca Mengenal Dunia, Menulis Dikenal Dunia”. Acara tersebut dilaksanakan di Auditorium Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Selasa (11/12/2018).

Selain seminar, acara dimaksud juga diramaikan dengan bedah buku “Ubah Lelah Jadi Lillah” dan Teacher Awards 2018 Nurul Jadid dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (22/12) 2018.

Pangelaran ini dihadiri langsung oleh Dwi Suwiknyo sebagai narasumber sekaligus penyaji bedah buku. Turut hadir pula KH. Moh. Mahfudz Faqih, M.Si serta segenap dewan guru dan peserta didik yang berada di bawah naungan Yayasan Nurul Jadid.

Menurut Ketua Panitia, Ridwan, menjelaskan tujuan acara ini adalah untuk mengetahui aspirasi guru-guru di PP. Nurul Jadid. “Penting mengetahui aspirasi guru di lingkungan Nurul jadid sehingga dapat memberi inspirasi baru kepada siswa di satuan pendidikan masing-masing,” ungkapnya dalam sambutan.

selain itu, kepala biro pendidikan juga menyampaikan  tujuan kegiatan seminar dengan tema “candu Literasi adalah tema yang tepat karena cantu itu berarti ketergantungan” dilanjut dengan  harapan kepala  “guru di PP. Nurul Jadid ini khususnya dan santri pada umumnya memiliki ketergantungan dalam bidang menulis dan membaca, karena benar dasar tema “Membaca mengenal dunia dan menulis dikenal dunia.”dauh Beliau

“jika ingin bermanfaat dan menyampaikan pesan ke khalayak luas, menulislah” tambah kepala biro pendidikan

Setelah seremonial selesai, acara dilanjutkan dengan pemilihan guru berprestasi. Gelaran diadakan untuk memberikan reward atas inovasi pemebelajaran yang telah dilakukan di Lembaga Pendidikan PP. Nurul Jadid.

Selepas itu, seminar dan bedah buku dimulai. Dwi Suwiknyo memberikan motivasi dan tips dalam bidang penulisan sampai proses penerbitan. “Semua orang yang ingin menggapai impiannya, maka tidak akan pernah berhenti dalam prosesnya,” ujarnya pada pada peserta seminar dan bedah buku.

Sebelum kegiatan tersebut ditutup, dilanjutkan dengan sesi atanya jawab. Lalu ditutup dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh bapak Surono waka kurikulum SMP Nurul Jadid.

Penulis : Sony Hakim

Editor : Rahmat Hidayat

Kh. Moh. Zuhri zaini: Barokah itu Diukur Dari Kebermanfaatan

KH. Moh. Zuhri Zaini: Barokah itu Diukur Dari Ilmu yang bermanfaat | Kunjungan MTs Nusantara

nuruljadid.net – KH. Moh. Zuhri Zaini memberi tausyiah pada tamu kunjungan dari MTs Nusantara di Musala Riyadush Sholihin, Selasa pagi (11/12/2018).

Berangkat dari pertanyaan salah satu tamu kunjungan tentang cara mendapatkan ilmu yang barokah. Beliau dalam tausiahnya  menyinggung soal ukuran barokah. Menurut beliau ilmu yang barokah adalah ilmu yang bermanfaat.

“Artinya ilmu yang banyak belum tentu barokah. Sedangakan ilmu yang sedikit bisa saja barokah jika membawa manfaat bagi orang lain, lebih-lebih masyarakat banyak,” jelas beliau pada seluruh peserta yang hadir.

Beliau melanjutkan dengan ibarat yang lain misalnya harta dan umur. Ukuran harta barokah bukan dilihat dari seberapa banyak kita dapat mengumpulkan harta, melainkan diukur dari harta yang mampu membawa pada kebaikan.

Begitu juga umur. Umur pendek yang manfaat lebih berarti dari pada umur panjang tapi membawa kejelekan.

Lalu bagaimana cara mendapatkan ilmu yang barokah? Beliau menjawab yaitu dengan meniatkan diri dalam mencari ilmu karena Allah. “Tujuannya adalah mendapatkan ridho dan hidayah dari Allah,” tutur beliau.

“Ilmu itu adalah cahaya. Jadi orang yang berilmu adalah orang yang hidup dalam keadaan terang. Sehingga ia tau mebedakan antara yang baik dan buruk,” dawuh beliau.

Seusai tausyiah pengasuh dan tanya jawab dilanjutkan dengan penyerahan cendramata dari pondok pesantren nurul jadid kepada MTs Nusantara dan ditutup dengan pembacaan do’a oleh pengasuh pondok pesantren nurul jadid

Penulis : Ahmad

Editor : Rahmat Hidayat

Kesan Kunjungan SMA Darut Taqwa di PP. Nurul jadid

Kesan Kunjungan SMA Darut Taqwa di PP. Nurul jadid

nuruljadid.net – Kunjungan SMA Darut Taqwa di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Selasa (11/12/2018) menyisakan kesan yang mendalam. Seperti yang diakui oleh Pembina Bahasa Mandarin SMA Darut Taqwa, Dudi Hendarto pada wartawan nuruljadid.net sebelum meninggalkan lokasi studi banding.

Ia menuturkan bahwa peserta didiknya mendapat motivasi dan  semangat baru untuk lebih mendalami bahasa mandarin. “Peserta didik kami sangat ingin seperti peserta didik SMA Nurul Jadid. Mereka digembleng di sekolah dan asrama dengan proses yang sangat bagus dan menyenangkan,” katanya.

“Ada semacam perlombaan antar siswa dalam menunjukkan kemapuan mandarinnya. Sehingga proses belajarnya tidak kaku dan menyenangkan,” ungkapnya lebih jauh.

Ia berharap agar peserta didiknya dapat meniru peserta didik SMA Nurul Jadid. Karena seperti yang sudah diketahui, peserta didik SMA Nurul Jadid adalah santri namun mampu menyabet prestasi dalam pelombaan bahasa mandarin tingkat internasional.

“Santri Nurul Jadid adalah contoh bahwa santri juga mampu bersaing dalam pelajaran selain rumpun ilmu agama. Ini berkat semangat mereka yang juga harus dimiliki peserta didik kami,” harapnya.

Berbeda dengan Dimas Adi Putra, salah satu peserta didik SMA Darut Taqwa. Ia mengakui mendapat banyak ilmu dan wawasan baru ketika visitasi di Nurul Jadid. Salah satunya adalah tentang cara memahami bahasa mandarin dengan benar.

“Barusan kami ke Asrama Unggulan Bahasa SMA Nurul Jadid.  Di sana seru, kami langsung praktik dialog bahasa manadarin dengan mereka. Dan mereka sangat mendukung kami untuk lebih semangat lagi,” katanya sembari tersenyum.

Penulis : Ahmad

Editor : Rahmat Hidayat

SMA Darut Taqwa Dalami Metode Belajar Bahasa Mandarin di PP. Nurul jadid

SMA Darut Taqwa Dalami Metode Belajar Bahasa Mandarin di PP. Nurul jadid

nuruljadid.net – SMA Darut Taqwa Purwosari  Pasuruan mengunjungi Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo pada hari Selasa (11/12/2018) dalam rangka studi banding tentang metode belajar bahasa mandarin yang diterapkan oleh SMA Nurul Jadid.

Studi banding ini disambut hangat oleh Kepala Sekolah SMA Nuru Jadid, KH. Hefny Rozaq, Hj. Mutmainnah Waqit selaku Wakil Sekretaris PP. Nurul Jadid, dan segenap Pengurus PP. Nurul Jadid bagian Humas dan Keprotokuleran.

Sedangkan tamu kunjungan dipimpin langsung oleh Kepala SMA Darut Taqwa, M. Mas’ud dan Kepala Pesantren Ngalah, Muhammad Abdul Gafur yang anggotanya terdiri dari 10 Staf Guru, 4 siswa dan  24 Siswi . Menurut Mas’ud tujuan studi banding ini adalah untuk mengetahui secara langsung pembinaan bahasa mandarin di SMA Nurul Jadid.

 “Kami ingin mengatahui strategi SMA Nurul Jadid dalam menjaga keberlangsungan pembinaan bahasa mandarin baik di ruang kelas maupun di asrama. Selain itu bagaimana cara menggali minat-bakat peserta didik terhadap bahasa mandari,” terang Mas’ud dalam sambutannya.

Lebih jauh, Muhammad Abdul Gafur mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab tentang tips dan trik guru SMA Nurul Jadid dalam mengajar bahasa mandarin kepada para peserta didiknya sehingga bisa menyabet juara di tingkat Nasional dan Internasioanal.

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Syamsul hadi, Guru Bahasa Mandarin sekaligus Penanggung jawab Jurusan Bahasa mandarin di SMA Nurul Jadid. Ia menjelaskan bahwa selain belajar bahasa mandarin dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sekolah, SMA Nurul Jadid juga mewajibkan siswa untuk mengikuti tutorial semua bahasa, termasuk bahasa mandarin untuk Jurusan Bahasa.

“SMA Nurul Jadid juga mengadakan tutorial ujian HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) yang ujian tersebut sebagai standardisasi Republik Rakyat Tiongkok dalam kemahiran berbahasa mandarin. Pada waktu-waktu tertentu, kami mewajibkan kepada para peserta didik untuk berbahasa mandarin pada setiap  di lingkungan sekolah maupun di asrama, seperti kegiatan Speech Presentation, Story Telling dan lain sebagainya”. Imbuhnya.

Selesai acara tersebut siswa-siswi SMA Darut Taqwa diajak ke kelas program Bahasa Mandarin dan ke Wilayah Putri Al-hasyimiyah bagi siswi dan wilayah P Asrama unggulan bagi siswa untuk mengetahui secara mendalam pembinaan bahasa mandarin yang diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Penulis : Ahmad

Editor : Rahmad Hidayat

Mts Nusantara Kota Probolinggo Bersivitasi ke pp. Nurul jadid

Mts Nusantara Kota Probolinggo Visitasi ke PP. Nurul jadid

nuruljadid.net – Akhir-akhir ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid banyak didatangi tamu kunjungan dari berbagai wilayah, khusus wilayah Jawa Timur. Terbaru, Selasa pagi (11/12/2018), PP. Nurul Jadid disivitasi oleh MTs Nusantara Kota Probolinggo.

Menurut Muhammad Kolil, Kepala Sekolah MTs Nusantara, kunjungan ini bertujuan untuk sowan kepada Pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh Zuhri Zaini, sekaligus memohon tausyiah dari beliau.

Selain itu, ia melanjutkan, tujuannya adalah ziarah ke maqbaroh Almarhumin Nurul jadid. “Kami ingin belajar akan hikmah ziarah ke makam ulama dan aqidah Aswaja,” sampainya dalam sambutan.

Acara yang bertempat di Musala Riyadush Sholihin ini diikuti oleh seluruh rombongan kunjungan yang terdiri dari 16 staf guru dan karyawan dan 162 terbagi 62 peserta didik Putri, 100 peserta didik Putra murid MTs Nusantara.

sebelum peserta kunjungan beranjak dari musala, di akhir dengan sesi tanya jawab dari peserta didik MTs Nusantara Probolinggo sekaligus penyerahan cenderamata dan ditutup dengan pembacaan do’a yang dalam hal ini dipandu langsung oleh dewan pengasuh PP. Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini.

Faizin Syamweil menyampaikan “Kami dari PP. Nurul Jadid, Meminta maaf jika ada kekurangan dalam hal pelayanan, maupun penyambutan kurang baik dari sisi konsumsi, karena kami sudah berusaha semaksimal mungkin, jadi jika sampai diujung kegiatan ini ada yang kurang kami mohon maaf.” ungkap Faizin

Dari pihak Pondok Pesantren, acara ini dihadiri langsung oleh KH. Moh. Zuhri Zaini,  Faizin Syamweil selaku Sekretaris PP. Nurul Jadid beserta Pengurus Pesantren bagian Humas dan Keprotokuleran.

Penulis : Badrus

Editor : Rahmad Hidayat

Yayasan Syifaul Qulub Bertaaruf ke PP. Nurul jadid

Yayasan Syifaul Qulub Bertaaruf ke PP. Nurul jadid

nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid kedatangan tamu dari Yayasan Syifaul Qulub Sidoarjo pada pukul 13.00 WIB, Ahad (09/12/2018). Pertemuan tersebut berlangsung di Aula Mini Universitas Nurul Jadid.

Dalam kunjungan ini, KH. Lukman Anshori, Ketua Yayasan Syiafaul Qulub menjelaskan maksud kedatangannya beserta rombongan adalah untuk menjalin silaturahmi.

beliau meneruskan, dalam lawatan ini salah satu intinya adalah ingin mengenal lebih dalam tentang Nurul Jadid. “Kami ingin bertaaruf, selain itu kami ingin mendengar nasihat Pengasuh (PP. Nurul Jadid, red) secara langsung tentang kiat  kesuksesan dunia akhirat dan kunci mendapat anugerah Allah SWT,” sampainya dalam sambutan.

“Semoga yang menjadi hajat kami bisa lancar, istiqomah, manfaat dan barokah ila yaumil qiyamah,” harapnya.

Maksud kunjungan tersebut disambut baik oleh kelurga besar Nurul Jadid dan Pengurus Pesantren yang dalam hal ini diwakili oleh KH. Hefniy Rozaq.

Lebih jauh beliau menjelaskan tentang pondok pesantren baik dari sejarah, perkembangan, lembaga pendidikan,  manajemen organisasi dan lain sebagainya.

Acara ini juga dihadiri oleh Sekretaris PP. Nurul Jadid, Faizin Syamweil dan segenap Pengurus PP Nurul Jadid bagian Humas dan Protokuler. Setelah sesi tanya jawab, seluruh rombongan sholat berjamaah di Masjid Jami’ Nurul Jadid sekaligus dilanjutkan dengan ziarah di maqbaroh almarhumin Pendiri PP. Nurul Jadid.

Penulis : Sony Hakim

Editor : Rahmad Hidayat

KH. Moh. Zuhri Zaini: Nabi Muhammad Idola yang Sempurna

KH. Moh. Zuhri Zaini: Nabi Muhammad Idola yang Sempurna

nuruljadid.net – Kamis malam (06/12/2018), Pondok Pesantren Nurul Jadid mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertempat di halaman Kantor Pusat Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Acara yang diikuti seluruh santri putra dan putri ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh pondok pesantren setiap tahun sebagai media silaturahim sekaligus kaderisasi dalam berorganisasi.

KH. Moh. Zuhri Zaini, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid mengingatkan, meski kegiatan peringatan Maulid Nabi dilakukan secara rutin, kita sebagai umat Nabi Muhammad jangan sampai terjebak pada formalitas belaka, melainkan kita bisa mengambil hikmah dan bersyukur atas kelahiran Nabi dengan membaca sholawat padanya secara khusuk dan khidmat.

“Marilah kita jadikan kegiatan rutin ini untuk mensyukuri nikmat Allah SWT dan mensyiarkan kembali kelahiran beliau yang merupakan suatu syairollah,” tutur beliau dalam sambutannya.

Selain dengan harapan bertambahnya ketaqwaan kita kepada Allah, kegiatan ini sejatinya dimaksudkan untuk lebih mengenal Nabi Muhammad. Karena dengan mengenallah kita bisa lebih mencintai beliau sebagai pengikutnya.

Lebih pada itu, beliau menyampaikan bahwa Nabi Muhammad merupakan panutan yang paling sempurna untuk disebut idola yang bisa dijadikan teladan dalam mengarungi hidup. “Sebab sekarang yang diidola banyak, tapi yang dapat dijadikan teladan itu yang kurang,” tambah beliau.

“Melalui kegiatan ini kita hadirkan beliau meski tidak secara fisik dengan bersholawat. Mengingat kita ada di akhir zaman, maka kehadiran beliau sangat diperlukan ditambah banyaknya bencana yang terjadi,” kata beliau pada seluruh jama’ah yang hadir.

Penulis : Soni Hakim

Editor : Mahrus Syamweil

PPIQ adakan Pelatihan Metode Tartila dan Lailatul Qiro’ah Bil Ghina

nuruljadid.net – Pusat Pendidikan Ilmu Al-Qur’an (PPIQ) Pondok Pesantren Nurul Jadid, mengadakan pelatihan membaca Al-Qur’an dengan metode Tartila dan Lailatul Qiro`ah Bilghina, sebagai bekal santri ketika pulang ke masyarakat. Acara bertempat di Aula Universitas Nurul Jadid, Kamis (08/11/2018).

Pelatihan ini merupakan kegiatan perdana yang dilakukan oleh PPIQ, dengan harapan santri bisa membaca Al-Qur`an dengan baik dan benar dan menjadi bekal ketika pulang ke masyarakat.

Selain itu, tujuan diadakan pelatihan ini sebagai ajang silaturrahmi antar alumni, pengurus dan santri dibawah asuhan PPIQ. “Acara ini bermaksud untuk menjalin tali silaturrahim antar alumni, pengurus serta alumni PPIQ ” ujar Abdurrahman selaku ketua panitia.

Dalam pelatihan Tartila dan Lailatul Qiroah Bilghina dihadiri oleh ratusan santri PPIQ putra dan putri, alumni PPIQ dan sabagian pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid.

KH. Hefni Mahfudz selaku pembina PPIQ sekaligus memberikan tausyiah  sebagai penutup dalam kegiatan pelatihan Tartila dan Lailatul Qoriah Bilghina. dalam penyampaiannya beliau bahwa “Peran penghafal Al-Qur`an tidak hanya menghafal. Namun, seorang penghafal harus punya niat bagaimana mampu mengamalkan serta menyebarkan isi kandungan dari Al-Qur`an.” Dawuh beliau.

Beliau berharap  agar para santri kompak dalam merealisasikan unsu-unsur yang ada di PPIQ . “Unsur-unsur yang ada di PPIQ harus kompak, agar mimpi itu dapat tercapai”, harap Pembina PPIQ kepada para santri peserta didik di lembaga PPIQ.

Lembaga PPIQ ini sudah dibangun sejak zamannya KH. Zaini Mun`in, yang awalnya bernama LPKH (Lembaga Pembinaan Kader Huffadz) diganti LPTQ (Lembaga Pembinaan Tahfidzul Qur`an) dan sekarang bernama PPIQ (Pusat Pendidikan Ilmu Al-qur`an). (Mochammad Syauqi_SJ)

Pembiasaan Al-Qur’an Realisasi Santri Baru Menjelang Liburan Maulid Nabi

Pembiasaan Al-Qur’an, Bekal Santri Baru Menjelang Liburan Maulid Nabi

nuruljadid.net – Wilayah Sunan Ampel (B), Pondok Pesantren Nurul Jadid yang merupakan asrama bagi santri baru membiasakan para peserta didiknya untuk membaca al-qur’an dari jam 06.00 – 07.00 WIB.

Kegiatan ngaji Al-Qur’an tersebut dikelompokkan sesuai dengan kamarnya masing – masing dan yang menjadi mualim ialah wali asuhnya. ustadz Syaiful, Sekretaris wilayah B mengatakan bahwa  santri baru yang masuk ke wilayah B mereka di tes terlebih dahulu untuk menentukan kelompoknya.

“di asrama kami dalam pengajian al-qur’an ada empat kelompok, I’dadiyah, Awaliyyah, Wustho dan Auliyah,”ungkapnya. Kamis(08/11/2018).

Ust Syaiful mengimbuhkan bahwa di wilayah B itu, merupakan wilayah khusus bagi santri baru yang masih belum memahami dengan baik ilmu – ilmu furudlul ainiyah. “dan pola pembinaannya diwilayah  ini antara lain kepada Al-Quran, Aqidah, Akhlak, fiqih, tajwid, Pego dll,”terangnya.

ia turut menerangkan bahwa para santri baru tersebut tidak diperkenankan ngaji kitab selain yang yang sudah ditentukan tersebut, “santri baru itu harus lancar dulu ngaji Al-Qur’annya serta paham dulu ilmu pegon,” terangnya mengutip dawuh dari Kepala Biro Kepesantrenan, K. Imdad Rabbani.

Selain itu, ia turut mengharap kepada seluruh peserta didiknya di wilayah B, ilmu – ilmu yang telah di dapat moga-moga bisa bermanfaat dan bisa diamalkan nanti ketika kembali ke masyarakat atau setidaknya ketika  mereka libur di rumah.

Penulis : Ahmad

Editor : Arofik Yusuf

KH. Abd. Hamid Wahid; Alumni PPNJ terus Berjejaring dalam Ekonomi, Sosial dan Pendidikan

nuruljadid.net – MALANG- KH. Abdul Hamid Wahid, selaku Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid menghadiri acara temu alumni lintas generasi dan Sambut Mahasiswa Baru (SAMBA) di gedung Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA), yang dilaksanakan pada Sabtu (03/11/2018).

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh keluarga besar Ikatan Mahasiswa Alumni Nurul Jadid (IMAN) Malang, dalam rangka menyambut Mahasiswa Baru (MABA) dengan tema “Mengukuhkan Solidaritas Satu Almamater dan Merawat Amaliah Kesantrian”.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjalin silaturrahmi antara keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Alumni.

Dalam sambutannya, KH. Abdul Hamid Wahid berpesan agar “pertemuan lintas generasi ini ada kesinambungan baik dari yang muda, dan yang sepuh bagaimana berkesenambungan di dalam berjuang dan ikhtiyar untuk saling mengingatkan di dalam menjaga Ruhul Jihad bersama,” dawuhnya.

Lanjut, Kepala Pesantren berpesan agar alumni terus menjaga ikatan baik dengan masyarakat di segala bidang. “diharapkan kepada alumni untuk berjejaring dengan masyarakat di dalam menjaga ekonomi, sosial dan dunia pendidikan,” Dawuh Beliau.

Selain itu, beliau berharap kepada alumni untuk menerapkan 5 Panca Kesadaran santri yakni, Kesadaran berorganisasi, Kesadaran beragama, Kesadaran berbangsa dan bernegara, Kesadaran berilmu, dan kesadaran bermasyarakat. Sehingga tetap terjalin silaturahmi antara Alumni dengan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

(Yahya/kontributor Malang)