Membaca Ala Gus Dur

Membaca Ala Gus Dur

Satu hal yang patut dicontoh dari Gus Dur bagi pembaca adalah keistiqomahan dalam membaca dan menumbuhkan rasa cinta pada ilmu pengetahuan. Jangan biarkan pikiran berpuasa, beri ia makan dengan membaca dan beri ia minum dengan berdialektika.

Gus Dur, sapaan KH. Abdur Rahman Wahid adalah Presiden ke 4 Republik Indonesia.  Cucu dari Pendiri Nahdlatul Ulama’ ini (KH. Hasyim As’ari ) dan putra dari Kiai Wahid Hasyim mempunyai kegemaran dalam membaca buku. Saat ia masih belia hingga mau wafatpun ia masih membaca dengan mendengarkan Audiobook. Ketika kuliah di Universitas Al Azhar salah satu tempat kebiasaannya adalah perpustakaan. Ia terbiasa membaca di perpustakaan Universitas Amerika, Universitas Kairo, atau di perpustakaan Perancis. Gus Dur terbiasa membaca di mana saja, dan apa saja tanpa memilih tempat. Di rumah maupun di tempat menunggu bus ia membaca. Tak ada buku, potongan koranpun ia baca.  Bacaannya luas, tak sekedar kajian keagamaan, filsafat, sastra, puisi dan lain sebagainya. Ia membaca semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, Pushkin, Karl Marx dan Lenin.  Ia senang berdiskusi dengan mahasiswa dan kaum cendikiawan di kedai-kedai kopi Kota Kairo. Kedai-kedai kopi baginya merupakan sekolah untuk mengasah dan mempertajam intelektualnya (Baca:The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid).

Tidak sampai disitu, Selain menjadi pembaca yang aktif, Gus Dur juga merupakan penulis yang sangat produktif. Semenjak mahasiswa ia menulis esai untuk beragam majalah maupun surat kabar. Karya-karyanya tersebar luas dan dapat dinikmati berbagai kalangan mahasiswa, pemuda dan lain-lain.

Budaya baca yang tinggi telah memberikan efek positif yang sangat besar dalam diri Gus Dur, akan tetapi sangat disayangkan bahwa kebiasaan membaca yang sangat tinggi kurang diimbangi dengan sikap membaca yang baik dan benar. Gus Dur biasa membaca dimana saja, bahkan sejak kecil terbiasa membaca dengan cahaya hanya dari teplok (lampu tempel). Dengan cahaya yang kurang sempurna, hal tersebut membuat efek buruk pada pandangan beliau. Pada usia muda ia sudah berkaca mata minus 15. Keadaan ini diperparah ketika stroke merampas penglihatan Gus Dur. Tetapi dasar Gus Dur, keadaan itu seakan tidak memusnahkan obor semangat untuk tetap membaca dan menambah ilmu.

Menelisik dari kisah diatas, tentu pembaca harus banyak belajar dari Gus Dur. Keteguhannya mencintai bangsa ini, membela mereka yang terpinggirkan tentu tak dapat diragukan lagi. Aspek yang sering dilupakan adalah bagaimana kemampuan Gus Dur dalam membaca dan mengkaji beragam perspektif keilmuan. Membaca berbagai buku yang tentu saja akan membuka kekayaan perspektif dalam memandang persoalan.  Keluwesan berpikirnya didukung oleh tradisi dan budaya kuatnya membaca buku. Ketika mahasiswa ia tak pernah memikirkan berapa uang yang yang ia miliki. Ia selalu memiliki uang yang cukup. Apalagi ia sudah menjadi salah satu kolumnis yang karyanya tersebar di berbagi media.

Tulisan sederhana ini mencoba secara singkat untuk membicarakan minimnya pembaca dan pecinta buku khususnya dikalangan pemuda. Hal ini bisa berkaca pada Negara perancis untuk bisa bangkit dan membudayakan membaca. Pada masa pemerintahan  Raja Louis XV, kondisi sosial politik  Perancis telah memanas akibat kerajaan yang semena-mena. Pada akhirnya terjadi revolusi Perancis yang mampu mengubah sejarah Perancis, bahkan Eropa. Salah satu yang menjadi pemicu revolusi Perancis adalah pemikiran sastrawan bernama Voltaire. Semenjak masyarakat dan kaum pemuda melek membaca, tulisan-tulisan Voltaire ramai diperbincangkan hingga akhirnya memicu gerakan revolusi Perancis pada tahun 1789. Akibatnya, Voltaire dihukum mati oleh pihak pemerintah pada tahun 1778 (Baca:Novel candide).

Negara perancis bisa dijadikan contoh untuk kalangan pemuda masa kini. Bangkit dari keterpurukan melalui peningkatan minat baca. Membudayakan membaca sebagai kebutuhan. Jika kebiasan ini terus digalakkan menjadi kebudayaan bahkan kebutuhan. Bukan tidak mungkin bangsa menjadi negara maju dengan sumber daya manusia yang berkualitas.

Tulisan ini perlu renungkan dan telaah bersama. Apalagi diera milenial ini cenderung  pemuda malas untuk membaca. Sehingga mudah untuk menuduh dan menghakimi mereka yang berbeda ideologi, keyakinan keagamaan, madzhab, kelas sosial, bahkan beda jamaah pengajian. Malas membaca akut menjaringi beragam kalangan masyarakat. lebih gemar membaca status, cuitan, broadcast di media sosial, dibanding membaca Al-Quran, kitab-kita karya ulama, maupun buku-buku karya penulis-penulis besar. Kita gemar menulis pesan-pesan penuh kebencian dibanding menuliskan kisah-kisah inspiratif penuh makna. Juga menyebarkan pesan-pesan penuh hasutan tanpa berpikir dan menakar serta mencari tahu kebenaraan akan pesan tersebut. malas mendiskusikan dan mendialogkan buku-buku tebal karena dianggap tak praktis dan membuang waktu.

Oleh karena itu, gus dur harus dijadikan contoh pada kehidupan maupun sosial kita dalam mencari ilmu dan kecintaanya pada buku. Warisan yang Gus Dur tinggalkan tidak hanya buku secara fisik, akan tetapi bukti nyata akan kecintaan dan keistiqomahan dalam mencintai buku dan ilmu. Pun warisan yang ditinggalkan Gus Dur. Tidak hanya untuk keluarganya, akan tetapi untuk anak-anak bangsa dan negara, bahwa kita harus cinta ilmu serta tak kenal lelah terus menambah wawasan dengan membaca dan membaca. Gus Dur telah mewariskan teladan yang nyata, dengan segala keterbatasannya. Dengan sakit jasmaninya tidak lantas meruntuhkan rohaninya dalam mengasah kemampuan intelektualnya dengan membaca dan membaca.

 

Penulis : Faruq Al-Mahbuby (Pengurus Asrama Diniyah, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × three =