Neng Din Ungkap Makna OSABAR kepada Santri Baru

berita.nuruljadid.net – Langit Paiton belum sepenuhnya gelap ketika aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi gelombang putih-putih kerudung. Suasana riuh khas pertemuan santri baru memecah keheningan malam, sebelum pelan-pelan meredup saat suara mikrofon mulai berbunyi. Di tengah-tengah antusiasme itu, Wakil Kepala 3 Pesantren, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah, atau yang akrab dipanggil Neng Din, dengan senyum hangat melangkah ke podium untuk menyambut kedatangan santri baru.

Malam itu, Senin (14/07/25), menjadi malam perdana bagi ratusan santri baru putri mengikuti rangkaian Orientasi Santri Baru (OSABAR), sebuah tradisi tahunan yang bukan sekadar seremoni penyambutan, tapi juga ruang perjumpaan awal antara nilai-nilai pesantren dan para santri baru.

“Selamat datang di Nurul Jadid, rumah kedua kalian. Tempat di mana kalian akan menimba ilmu, mengaji, dan membina akhlaqul karimah,” ucap Neng Din, suaranya jernih dan tenang, menyapu ratusan wajah muda yang menatap ke arahnya, sebagian mencatat dengan serius, sebagian lain mencuri-curi pandang ke teman sebelah, saling tersenyum kaku, mungkin karena gugup, mungkin karena belum akrab dengan suasana.

Neng Din tidak datang membawa pembukaan normatif semata. Beliau datang membawa cerita, membawa filosofi. Baginya, OSABAR bukan sekadar agenda perkenalan atau pembiasaan jadwal harian. Ia menyebutnya sebagai momen pembentukan awal jati diri para santri.

“Ini adalah titik awal kalian membentuk jati diri sebagai santri. Sebuah proses menjadi. Karena kita hidup bersama di pesantren, maka adaptasi dan toleransi menjadi kunci,” tuturnya, sambil sesekali memandang wajah-wajah baru santri.

Ia mengakui bahwa masa awal tinggal di pesantren tidak selalu mudah. Suasana baru, ritme yang disiplin, hingga rindu rumah yang tiba-tiba menyeruak adalah hal wajar, katanya. Tapi semua itu bagian dari proses.

“Biasanya rasa tidak nyaman itu hanya satu hingga dua minggu, maksimal sebulan. Kalau dinikmati, insyaAllah akan membuahkan hasil,” ujarnya, mengajak para santri untuk tak terburu-buru merasa gagal dalam adaptasi.

Tema OSABAR tahun ini cukup ambisius “Santri Bermoral, Cerdas Intelektual, Go Global.” Sebuah rangkaian visi yang menggabungkan karakter, kecerdasan, dan kesiapan menghadapi dunia global. Namun Neng Din tak ingin kata-kata besar itu berhenti di baliho OSABAR atau hanya jadi bahan yel-yel.

“Bermoral diletakkan di awal karena adab lebih tinggi dari ilmu. Tapi kecerdasan intelektual juga tak boleh diabaikan. Setelah keduanya dimiliki, tugas kita selanjutnya adalah menyiapkan diri menghadapi dunia global,” tegasnya.

Malam itu, aula II tak sekadar menjadi tempat pertemuan antar santri, tapi juga antar harapan dan nilai. OSABAR, bagi Neng Din, adalah ruang menanam, dan santri-santri baru itu, satu per satu, mulai membuka diri untuk bertumbuh.

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu
Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *