Pos

Air Mata Santri Baru Tumpah di Malam Terakhir OSABAR

Berita.nuruljaid.net Senja telah lewat, berganti malam menyelimuti langit Paiton. Kala itu, lorong-lorong wilayah menuju Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi gerombolan santri baru yang berbaris rapi, bak semut menuju sarangnya. Mereka mengenakan kostum berwarna hitam-putih, di bahu kanannya menempel tas biru berisi catatan dan peralatan menulis.

Pukul delapan malam, Rabu (16/07/25), raut wajah santri yang tak sampai sepekan di pesantren itu terlihat gembira. Mereka nampak menggebu-gebu mengikuti sesi terakhir rangkaian pembukaan Orientasi Santri Baru (OSABAR), pemutaran film dalam sesi audiovisual.

Di lantai tiga aula utama, tempat kegiatan berlangsung, udara sejuk dari pendingin ruangan dan hiburan pemandu acara menyambut kedatangan lebih dari 800 santri. Lantai ruangan yang dilapisi karpet merah menjadi alas nyaman bagi peserta yang duduk.

Selagi menunggu film diputar, panitia memutar lagu tema OSABAR. Liriknya terpampang jelas di layar lebar, dan berhasil mengajak seluruh santri larut dalam nyanyian bersama.

Tepat pukul 20.41 WIB, layar menyala. Film Bila Ibu Esok Tiada, karya Rudi Soedjarwo, diputar. Beberapa menit pertama, suasana ruangan masih riuh. Film sempat di-pause agar para peserta dapat menyesuaikan diri dengan suasana yang diharapkan, hening dan khidmat. Kemudian lampu dimatikan, film kembali diputar, camilan dari panitia mulai dikunyah perlahan. Semua mata terpaku ke layar.

Cerita bergulir. Tentang seorang ibu yang penuh kasih dan pengorbanan tanpa pamrih. Sebuah film yang mengandung bawang. Jelang film berakhir, terdengar isakan tangis dari seorang santri baru.

“Dari awal lihat judul, teman-teman disebelahku sudah mau nangis,” ujar In’am Chandra Celena, santri baru asal Probolinggo dari wilayah Zaid bin Tsabit. Matanya sembab, tangannya sibuk mengusap pipi.

Ia mengaku teringat orang tuanya di rumah. “Langsung kepikiran ibu dan ayah. Lagi apa mereka sekarang ya? Semoga sehat selalu,” ucapnya lirih.

Tak hanya para santri. Beberapa panitia dan kakak asuh yang mendampingi juga ikut tersedu sedih. Film tersebut memang dikenal mampu menyentuh sisi emosional penonton, terutama mereka yang sedang jauh dari rumah.

Ketika film berakhir dan lampu dinyalakan kembali, beberapa wajah terlihat basah, mata sembab, dan suara hidung sesekali terdengar menyedot air mata yang masih mengalir. Tangis perlahan reda, mereka bersiap untuk meninggalkan ruangan.

Sebelum sesi foto selesai, satu per satu santri meninggalkan aula. Hanya panitia yang tersisa, sibuk membersihkan sampah-sampah kecil yang tertinggal, seperti kenangan yang tak benar-benar bisa disapu habis dari sebuah malam akhir pembukaan OSABAR yang penuh sentuhan.

 

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Pesan Neng Iin untuk Santri Baru

berita.nuruljadid.net – Wakil Sekretaris Pondok Pesantren Nurul Jadid, Nyai Hj. Mutmainnah Waqid, menegaskan pentingnya niat sebagai pondasi utama dalam menuntut ilmu. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Orientasi Santri Baru (Osabar) yang digelar di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Rabu, 16 Juli 2025.

Dalam ceramah bertema Be New You, perempuan yang akrab disapa Neng Iin itu menekankan bahwa niat menuju akhirat harus menjadi orientasi utama setiap pencari ilmu. “Segala sesuatu berawal dari niat, dan niat itu letaknya di hati. Hati adalah tempat malaikat membisikkan kebaikan, maka jagalah hati agar tetap bersih,” ujarnya di hadapan ratusan santri baru.

Ia menambahkan, sebelum mendalami ilmu apapun, santri harus menguasai ilmu fardhu ‘ain sebagai dasar beragama. Menurutnya, ini merupakan bagian dari trilogi santri yang wajib ditanamkan sejak dini.

Namun, keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum juga menjadi sorotan. “Santri tidak hanya hidup di pesantren, tetapi juga akan berinteraksi dengan masyarakat. Ilmu umum seperti ekonomi, sosial, dan teknologi dibutuhkan untuk bermuamalah secara bijak,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Nyai Mutmainnah juga menyoroti pentingnya akhlak sebagai pelengkap ilmu. Menurutnya, sehebat apapun seseorang dalam bidang keilmuan, tidak akan bernilai jika tidak dibarengi dengan budi pekerti. “Akhlak adalah wajah sejati dari seorang santri,” katanya.

Ia pun menutup ceramah dengan pesan reflektif: santri ideal bukanlah yang meniru tren media sosial, melainkan yang mampu menemukan jati diri. “Jadilah versi terbaik dari diri kalian, bukan tiruan dari orang lain,” tutupnya.

Kegiatan Osabar tahun ini tidak hanya menjadi sarana pengenalan lingkungan pondok, tetapi juga titik awal penanaman nilai-nilai dasar kepesantrenan bagi santri baru.

Pewarta: Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Neng Din Ungkap Makna OSABAR kepada Santri Baru

berita.nuruljadid.net – Langit Paiton belum sepenuhnya gelap ketika aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi gelombang putih-putih kerudung. Suasana riuh khas pertemuan santri baru memecah keheningan malam, sebelum pelan-pelan meredup saat suara mikrofon mulai berbunyi. Di tengah-tengah antusiasme itu, Wakil Kepala 3 Pesantren, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah, atau yang akrab dipanggil Neng Din, dengan senyum hangat melangkah ke podium untuk menyambut kedatangan santri baru.

Malam itu, Senin (14/07/25), menjadi malam perdana bagi ratusan santri baru putri mengikuti rangkaian Orientasi Santri Baru (OSABAR), sebuah tradisi tahunan yang bukan sekadar seremoni penyambutan, tapi juga ruang perjumpaan awal antara nilai-nilai pesantren dan para santri baru.

“Selamat datang di Nurul Jadid, rumah kedua kalian. Tempat di mana kalian akan menimba ilmu, mengaji, dan membina akhlaqul karimah,” ucap Neng Din, suaranya jernih dan tenang, menyapu ratusan wajah muda yang menatap ke arahnya, sebagian mencatat dengan serius, sebagian lain mencuri-curi pandang ke teman sebelah, saling tersenyum kaku, mungkin karena gugup, mungkin karena belum akrab dengan suasana.

Neng Din tidak datang membawa pembukaan normatif semata. Beliau datang membawa cerita, membawa filosofi. Baginya, OSABAR bukan sekadar agenda perkenalan atau pembiasaan jadwal harian. Ia menyebutnya sebagai momen pembentukan awal jati diri para santri.

“Ini adalah titik awal kalian membentuk jati diri sebagai santri. Sebuah proses menjadi. Karena kita hidup bersama di pesantren, maka adaptasi dan toleransi menjadi kunci,” tuturnya, sambil sesekali memandang wajah-wajah baru santri.

Ia mengakui bahwa masa awal tinggal di pesantren tidak selalu mudah. Suasana baru, ritme yang disiplin, hingga rindu rumah yang tiba-tiba menyeruak adalah hal wajar, katanya. Tapi semua itu bagian dari proses.

“Biasanya rasa tidak nyaman itu hanya satu hingga dua minggu, maksimal sebulan. Kalau dinikmati, insyaAllah akan membuahkan hasil,” ujarnya, mengajak para santri untuk tak terburu-buru merasa gagal dalam adaptasi.

Tema OSABAR tahun ini cukup ambisius “Santri Bermoral, Cerdas Intelektual, Go Global.” Sebuah rangkaian visi yang menggabungkan karakter, kecerdasan, dan kesiapan menghadapi dunia global. Namun Neng Din tak ingin kata-kata besar itu berhenti di baliho OSABAR atau hanya jadi bahan yel-yel.

“Bermoral diletakkan di awal karena adab lebih tinggi dari ilmu. Tapi kecerdasan intelektual juga tak boleh diabaikan. Setelah keduanya dimiliki, tugas kita selanjutnya adalah menyiapkan diri menghadapi dunia global,” tegasnya.

Malam itu, aula II tak sekadar menjadi tempat pertemuan antar santri, tapi juga antar harapan dan nilai. OSABAR, bagi Neng Din, adalah ruang menanam, dan santri-santri baru itu, satu per satu, mulai membuka diri untuk bertumbuh.

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu
Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

Santri Baru Ikuti Senam Pagi, OSABAR Tekankan Kebiasaan Hidup Sehat di Pesantren

berita.nuruljadid.net – Suasana hangat dan angin sejuk di pagi hari diam-diam menerobos masuk ke pori-pori kulit santri baru kala memulai hari pertama Orientasi Santri Baru (OSABAR) dengan penuh semangat yang membara. Terdengar derap langkah kaki cepat ribuan santri dibarengi mulut yang tidak berhenti berkomat-kamit mengajak temannya agar lekas bersiap dalam mengikuti senam sehat, Senin (05/07/2025).

Dengan penuh kesabaran hati dalam membimbing dan menemani santri baru yang masih berada dalam tahap mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru, kala itu, panitia OSABAR mengarahkan para santri untuk berbaris rapi sembari ditemani kakak asuh. Adapun senam sehat tersebut dilaksanakan di wilayah masing-masing.

Namun berbeda dengan wilayah lainnya, panitia yang mendapat mandat mengurusi santri baru di wilayah Dalem Selatan, memilih untuk menyatukan Al-Mawaddah, Fatimatuz Zahro (Faza) dan Zaid Bin Tsabit dalam satu kenaungan wilayah yang sama, wilayah Faza.

Dalam momentum yang sangat langka tersebut, panitia menggunakan waktu sebaik mungkin dalam merangkul santri baru kedalam dekapan kekeluargaan. Butinya, tak hanya mengajak senam sehat, panitia juga memberi pemahaman para santri tentang pola hidup sehat agar fisik mereka terlatih kala berada di lingkungan yang kumuh dan sakit.

“Senam ini diadakan supaya santri yang awalnya tidak bergairah, menjadi antusias dalam melewati serangkaian kegiatan-kegiatan Osabar yang akan menantinya,” ujar salah satu panitia, Ustadzah Emilia Yusrina.

Kakak asuh yang mendampingi terus berupaya menggolarakan semangat santri baru. Selain tak henti-hentinya mereka berupaya untuk menautkan slogan “mondok untuk mengaji dan membina akhlakul karimah” agar membekas dan melekat di hati para santri, kakak asuh juga menyulut semangat santri dengan yel-yel.

“Kalau mereka masih tidak semangat melakukan senam, kakak asuh akan menyulut semangat mereka dengan yel-yel yang telah dihafal,” lanjut ketua panitia Osabar wilayah Faza itu.

Sayup-sayup matahari kian meninggi, hawa suam perlahan menyengat diri santri. Kendati demikian, mereka tetap mempertahankan nilai spiritual. Dengan melaksanakan shalat dhuha berjamaah seusai senam sehat digelar.

Pewarta: Zaituna Farah Kamila
Editor: Moh. Wildan Dhulfahmi

Sambut Kedatangan Santri Baru, Osabar 2025 Resmi Dimulai

berita.nuruljadid.net – Dari kejauhan terdengar suara hentakan kaki menaiki satu persatu anak tangga. Diketahui, suara derap langkah tersebut berasal dari santri baru putri dari seluruh penjuru wilayah Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk mengikuti Grand Opening Orientasi Santri Baru (Osabar), bertempat di aula II PPNJ, Senin (14/07/2025).

Osabar merupakan bentuk sarana menyambut kedatangan santri baru dengan penuh cinta, mendampingi santri baru dalam membentuk karakternya, serta guna membangun rasa aman dan kepercayaan antar sesama. Tak hanya itu, para santri baru juga diperkenalkan lingkup dunia pesantren, terlebih para masyayikh yang menjadi jembatan mereka dalam meraih keberkahan mencari ilmu serta membangun akhlak yang mulia.

Dengan balutan seragam hitam putih dan kerudung putih dengan tas biru yang melekat di bahu mereka, para santri baru tertib mengikuti arahan dari kakak asuh. Kala sampai, panitia dengan sigap mengarahkan santri baru menuju tempat duduk yang telah disediakan.

Samar-samar, sebagian besar santri baru tak mampu menyembunyikan rasa senangnya. Mata mereka menangkap layar besar yang memperlihatkan plamfet Osabar disertai animasi santri putri dengan mendekap Al-Qur’an di dada.

Sebelum Master of Ceremony (MC) memulai acara, terlebih dahulu santri disuguhkan beberapa penampilan. Salah satunya adalah penampilan Sanggar Alif yang berhasil menggoyahkan hati para santri. Penampilan tersebut menceritakan keadaan sosok santri yang meninggalkan halaman rumah untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren. cahaya lampu yang disorot menyinari panggung kala lampu aula dimatikan, sukses menambah kesan haru santri.

Seusai penampilan, MC pun membuka acara bergengsi itu. Tiga MC yang dibawakan menggunakan bahasa yang berbeda yakni bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Dalam pembukaan tersebut, Wakil Kepala Pesantren III, Ny. H Nur Diana Kholida menghimbau para santri untuk tidak sekedar mencari ilmu belaka, melainkan juga membina akhlak yang baik di dalam sambutannya. “Berilmu saja menjadi tidak penting kalua tidak ber akhlakul karimah,” ungkap beliau.

Lebih lanjut, beliau juga mengungkapkan makna dibalik tema Osabar yakni ‘Santri Bermoral, Cerdas Intelektual, Go Global’. “Nurul Jadid berupaya dalam setiap resolusinya untuk membangun anak bangsa sesuai dengan tema yang diangkat sekalipun tetap berproses di lingkup pesantren,” tuturnya.

Grand Opening pun diakhiri dengan do’a yang dibawakan oleh Ny. Muthmainnah Waqid. Tak berhenti disitu, sebelum bangkit meninggalkan lokasi, para panitia mencoba memantik semangat santri dengan mengeluarkan slogan dan yel-yel dari setiap wilayahnya. Dengan penuh antusias, santri mengeluarkan slogan dan yel-yelnya hingga berhasil membuat aula bergema akan suara lantang memenuhi ruangan.

salah satu santri baru berdomisili Daltim mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang mengikuti serangkaian kegiatan Osabar. “Senang, soalnya bisa menambah teman baru, walaupun sempat nangis melihat penampilan dari kakak-kakak,” ucap Keysa Taqiya Hanuna Muslim ketika diwawancarai. Keysa berharap dengan adanya Osabar, bisa membuat dirinya akrab dan mudah berbaur dengan teman-temannya.

Adapun Rentetan kegiatan Osabar akan berlanjut sampai tanggal 17 Juli 2025, diakhiri dengan kegiatan Perkenalan Lingkungan Sekolah. Closing direncanakan akan terlaksana pada tanggal 09 Oktober, seusai pembinaan Furudhul Ainiyah.

 

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor: Moh. Wildan Dhulfahmi

Ke Nurul Jadid, Hayu Pergi dengan Cita dan Doa

berita.nuruljadid.net – Suasana hari terakhir Penerimaan Santri Baru (PSB) Satu Atap di Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi kesibukan para wali santri. Di tengah keramaian aula, Khoiriyah, seorang ibu asal Situbondo, tampak tenang mendampingi putrinya, Hayu Jacinta Sutanto, yang resmi menjadi santri program MIPA SMP Nurul Jadid. Rabu (09/07/25).

Yang istimewa, keinginan untuk mondok datang murni dari Hayu sendiri. “Itu keinginannya sejak kelas lima SD,” ujar Khoiriyah. “Saya hanya berdoa agar anak-anak saya menjadi pribadi yang berbakti. Sisanya, saya serahkan pada Allah.”

Khoiriyah mengaku bukan berasal dari lingkungan pesantren. Namun, ia sangat berharap anak-anaknya bisa merasakan pendidikan pesantren, tidak hanya untuk memperkuat ilmu agama, tetapi juga untuk membentuk karakter yang kuat dan peka secara batin.

Dalam mendidik anak, Khoiriyah mengedepankan pendekatan yang lembut dan penuh kasih. “Saya tidak pernah memukul anak. Salat malam dan doa itu penting, tapi anak-anak juga perlu didengar. Bukan ditakuti,” tuturnya.

Hayu sendiri tampak mantap dengan pilihannya. Ia ingin memperdalam ilmu dan meraih prestasi untuk membanggakan orang tua. “Saya yakin di sini saya bisa belajar banyak,” katanya, sembari membetulkan letak kacamatanya.

Bagi Khoiriyah, kepergian Hayu ke pesantren adalah buah dari ikhtiar panjangnya sebagai seorang ibu. Ia yakin Nurul Jadid menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan. “Saya ingin Hayu jadi contoh bagi saudara-saudaranya, dan mungkin bagi yang lain juga,” pungkasnya.

 

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Inovasi Pembayaran PSB Berbasis Digital, Wali Santri Antusias

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, kembali menunjukkan terobosan dalam tata kelola administrasi modern. Pada proses Penerimaan Santri Baru (PSB) tahun ajaran 2025/2026, pesantren ini menerapkan sistem pembayaran berbasis digital melalui layanan perbankan dan virtual account. Rabu (09/07/25).

Seluruh proses pembayaran dipusatkan di ruang administrasi terpadu dengan dukungan langsung dari petugas bank dan panitia pesantren. Sistem ini memungkinkan wali santri melakukan transaksi secara cepat, aman, dan fleksibel tanpa harus mengantre panjang atau datang dari jauh.

“Hal itu dilakukan untuk memudahkan wali santri dalam melakukan pembayaran,” kata Tahiruddin, Sekretaris Pesantren Nurul Jadid. Ia menyebut, sistem ini telah terbukti efektif sejak diterapkannya sistem PSB satu atap.

Muslehuddin Jauhari, selaku Kepala Sub Bagian Umum dan PSB, menambahkan bahwa layanan ini dirancang untuk menciptakan kenyamanan dan efisiensi dalam setiap tahap pembayaran. “Kita ingin memberikan pelayanan yang prima, tidak hanya tertib, tapi juga transparan,” ujarnya.

Selain mempercepat alur administrasi, penggunaan virtual account juga meminimalisir potensi kesalahan pencatatan dan mempermudah pelacakan transaksi. Sistem ini dinilai sebagai wujud nyata komitmen Nurul Jadid dalam menghadirkan layanan berbasis teknologi yang terintegrasi dengan nilai-nilai kepesantrenan.

Sementara itu, Fatmawati Ningsih, selaku bagian adminstrasi putri menjelaskan bahwa pembayaran bisa melalui transfer bank atau secara tunai. Pihak pesantren menyediakan berbagai pilihan transfer bank seperti Bank Mandiri, Bank Jatim, BRI, BCA, BNI, dan lain-lain. Pilihan bank tersebut bertujuan untuk mempermudah wali santri.

“Sejauh ini mayoritas wali santri memilih metode pembayaran secara tunai. Namun, dengan pilihan transfer dari beberapa bank itu juga mampu mempermudah wali santri. Tak hanya itu, pesantren juga mengizinkan pembayaran dengan berbentuk cicilan. Jadi, wali santri bisa membayar setengah atau Down Payment (DP) dari total pembayaran,” terang beliau.

Fasilitas pembayaran berbasis digital ini dapat mempercepat proses pengurusan berkas administrasi pendaftaran. Hal tersebut mendapatkan apresiasi dari wali santri.

“Menurut kami fasilitas dan pelayanan yang di sediakan oleh pondok sudah memuaskan. Karena kami tidak perlu mengantre, mungkin hanya menunggu sekitar lima menit, Saya juga pendatang, lalu panitia langsung mengarahkan saya sehingga prosesnya berjalan lebih cepat dan tidak membuat saya kebingungan,” ungkap salah satu wali santri.

Dengan penerapan sistem ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid dinilai sukses menjadi contoh pesantren yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitasnya. Inovasi ini mendapat apresiasi positif dari para wali santri yang merasakan langsung kemudahan proses administrasi.

 

Pewarta: Isya Ramadhaniati
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Biro Kepesantrenan Gelar Tes Kompetensi Baca Tulis Alquran Santri Baru

berita.nuruljadid.net – Biro Kepesantrenan bersama Pusat Pendidikan Ilmu Alquran (PPIQ) Nurul Jadid melaksanakan tes klasifikasi kompetensi Baca Tulis Alquran bagi santri baru pada Jumat (19/07/24) di masing-masing wilayah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah santri agar memiliki kompetensi mumpuni dalam baca tulis Alquran.

Pasalnya, santri sebagai penerus estafet perjuangan Islam di lingkup masyarakat, bangsa, dan negara harus seminimalnya dapat menjaga dan membaca Alquran, maka kurang sempurna status kesantriannya bila tidak mampu membaca Alquran.

Bertolak dari latar belakang tersebut, sebagaimana Wakabid. BKWA dan Pembinaan Santri Madinatul Munawwarah menerangkan bahwa tradisi baca tulis Alquran harus terus lestari, maka pembinaan Alquran perlu ditanamkan sedari dini di lingkungan pesantren.

“Hal yang paling dasar, ini juga termasuk dalam program Furdhul ‘Ainiyah 3 Bulan, yakni bimbingan baca tulis Alquran yang tingkatannya akan terus kontinyu hingga waktu mendatang beriring meningkatnya kualitas santri,” imbuhnya.

Dalam ujian ini, lanjut Madina, hasilnya akan memetakkan santri berdasarkan tingkatan kelompok pembinaan Alquran. Menurutnya, pengelompokan ini berdasarkan dengan kompetensi santri tentang baca tulis Alquran.

“Dengan adanya tes ini, diharapkan pembinaan santri terklasifikasi dengan baik sesuai kemampuan dan kompetensi santri dalam membaca Alquran agar pembinaan Alquran berjalan secara optimal,” ungkapnya.

Menyoal tes, salah satu penguji Dewi Sya’baniyah Rahamtillah menyampaikan bahwa tes ini dibagi menjadi beberapa tahapan, yakni dimulai dengan menulis Surah Al-Fatihah, kemudian membaca Alquran bin nadzor.

“Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui sejauh apa kompetensi santri dalam baca tulis Alquran. Dalam tes membaca, penilaian kami memuat: makhorij, sifatul huruf, kelancaran, penekanan bacaan ghunnah serta ahkamul mad,” pungkasnya.

 

Pewarta: Naura Fikroh Sadidah

Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

Meski PSB Satu Atap Usai, Pendaftar yang Terlambat Tidak Boleh Ditolak. Ini Pesan Pengasuh!

berita.nuruljadid.net – Meski Penerimaan Santri Baru (PSB) satu atap hari ini, Senin (08/07) memasuki hari terakhir, namun penerimaan santri baru bagi Pondok Pesantren Nurul tidak ada istilah ‘usai’. Hal ini didasarkan kepada dawuh pengasuh yang menganalogikan orang ingin mondok itu seperti orang yang hendak masuk Islam (Muallaf, red,), artinya tidak boleh ditolak. Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Tim Ex-Officio Roudhatul Jannah saat diwawancarai oleh Tim Nurul Jadid Media, Senin (08/07).

“Kami berpegang pada dawuh Kyai Zuhri, beliau pernah berpesan untuk jangan pernah menolak santri yang hendak mendaftar, karena mereka adalah orang-orang yang ingin belajar ilmu agama,” papar Roudhatul Jannah.

Menurutnya, PSB satu atap hanya sebuah istilah untuk mempermudah wali santri yang hendak mendaftarkan atau memondokkan putra-putrinya di Nurul Jadid.

“PSB satu atap sebenarnya disediakan untuk mempermudah wali santri mendaftarkan putra-putrinya, karena semua keperluan-keperluan disentralkan semua di sini. Mulai dari logistik, E-bekal, hingga pengasramaan,” imbuhnya.

Dengan demikian, tetap ada kesempatan bagi para wali santri yang hendak mendaftarkan putra-putrinya di luar waktu layanan PSB satu atap, yaitu dengan mengurus pendaftaran di kantor sekretariat pesantren. Dengan catatan, wali santri perlu mengurus keperluan lain seperti E-bekal, pembayaran dan semacamnya di lokasi kantor yang terpisah.

Tercatat hingga hari terakhir PSB, total seluruh santri yang telah terverifikasi berjumlah sekira 1.517 santri. Pencapaian ini sesuai dengan prediksi pihak pesantren terhadap jumlah santri yang akan mendaftar pada PSB tahun 2024 ini. Jumlah tersebut tidak jauh dari tahun-tahun sebelumnya, yakni kisaran 1.500 hingga 2.000 santri.

“Walau uang pangkal naik sebab kebutuhan fasilitas pesantren untuk para santri, namun Alhamdulillah total santri pendaftar mencapai target yang telah kami perkirakan sebelumnya,” pungkas ustazah yang juga bertugas di bagian sekretariat putri itu.

 

Pewarta: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Uang Pangkal PSB 2024, Komitmen Pesantren Fokus pada Peningkatan dan Pengembangan Kualitas Santri

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) melakukan pembenahan dan upgrading dalam berbagai aspek kepesantrenan. Pada tahun-tahun sebelumnya Nurul Jadid berhasil dalam melaksanakan pembenahan sistem dan peningkatkan kuantitas, kini pesantren yang didirikan KH. Zaini Mun’im tersebut akan fokus pada optimalisasi peningkatan kualitas.

Tidak semata fokus pada kualitas para tenaga pengajar, pihak pesantren sekarang semakin gencar melakukan upaya-upaya dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas santri maupun pengurus dari berbagai disiplin. Hal tersebut dibuktikan dengan diadakannya berbagai pendidikan dan pelatihan, seminar, upgrading skill berupa in house training dan in the job training bagi santri, wali asuh, maupun tenaga pengajar lain. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Pesantren Ny. Hj. Muthmainnah Waqid saat diwawancarai oleh Tim Nurul Jadid Media, Sabtu (06/07/24).

“Semua yang sedang kita upayakan di sini merupakan bentuk pengabdian kepada pesantren sekaligus mengharap barokah dari masyayikh-masyayikh terdahulu,” terang menantu alm. KH. Abdul Wahid Zaini ini.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut tentu tidak mudah, salah satu itikad yang baik itu berekses pada diadakannya pemabyaran uang pangkal sebagai bagian dari biaya pendaftaran santri baru berjumlah lima juta rupiah dengan total jumlah keseluruhan biaya PSB yang tahun ini, Sabtu, (06/07) sekitar Rp. 10.410.000.

Angka tersebut, tentu bukanlah nominal yang kecil. Meski demikian, pihak pesantren memberi keringanan, wali santri diperkenankan mencicil pembayaran uang pangkal hingga waktu tenggang satu tahun. Pengajuan surat keringanan tagihan uang pangkal ini tidak melalui persetujuan staf melainkan harus melalui salah seorang dari delapan petugas layanan khusus yang ditetapkan oleh pesantren.

“Ada 8 orang yang diberi Surat Keterangan (SK) oleh Kepala Pesantren untuk melayani wali santri yang ingin mengajukan keringanan tagihan uang pangkal supaya bisa dicicil selama satu tahun,” jelas Nyai Hj. Mutmainnah Waqid yang juga termasuk dalam keanggotaan petugas layanan khusus.

Nyai Hj. Mutmainnah Waqid atau yang lebih dikenal dengan Ning Iin berharap penuh agar PSB tahun ini berjalan dengan lancar.

“Saya berharap PSB tahun ini bisa berjalan lancar, seluruh petugasnya diberi kesehatan selalu serta bisa melaksanakan tugasnya masing-masing dengan prima dan maksimal hingga akhir,” tandas beliau.

 

Pewarta: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Wali Santri Wajib Simak, Yuk Intip Persediaan Logistik PSB!

berita.nuruljadid.net – Tahun ini, dengan memegang teguh prinsip ‘fokus pada kualitas daripada kuantitas’ terdapat banyak hal yang berbeda pada Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Nurul Jadid tahun 2024 yang diadakan di Aula 2 Pesantren, sejak Rabu (03/07/2024), salah satunya adalah penyediaan barang logistik yang harus di terima santri baru.

Terdapat 15 barang yang akan didapatkan oleh santri baru putri, yakni Gamis Abaya, 3 setel seragam sekolah, Jasket, Hasduk dan Kolom, Sepatu Nurul Jadid, Kaos kaki sebanyak 2 pcs, Album Rapot, A’malul Yaum, Buku Selayang Pandang, Buku Panduan Wali Santri, Panduan Santri dan 5 buah buku tulis khas Nurul Jadid. Begitupula yang didapat oleh Santri Putra, bedanya hanya pada seragam sekolah dan pesantren.

Diketahui dari Wasilatus Sholihah, salah satu penanggung jawab bagian logistik mengatakan, terdapat banyak perubahan daripada tahun-tahun sebelumnya, yakni perbedaan seragam, dan keselarasan sepatu untuk seluruh santri yang mendaftar.

“Banyak yang berbeda dari tahun sebelumnya, yang paling mencolok ialah santri baru dapat sepatu khas NJ juga terdapat penggantian seragam pesantren yang biasanya warna putih diganti dengan gamis abaya warna hijau, yang nanti akan digunakan kalau ada kegiatan pesantren dan pulangan,” ungkap guru SMANJ tersebut.

Untuk santri lama yang belum mendapatkan Gamis Abaya, maka menggunakan seragam putih-putih seperti biasa.

“Sementara ini kalau ada kegiatan pesantren pakai seragam putih-putih dulu, mungkin kedepannya disuruh akan di fasilitasi oleh pesantren, saya kurang tau tapi pasti, namun pada akhirnya pasti akan berseragam sama dengan serentak,” tutup beliau.

 

Pewarta : Shelma Nasywa Ramadhani Munir
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Pesan Haru Wali Santri saat Memondokkan Buah Hati di Nurul Jadid

berita.nuruljadid.net – Memasuki tahun ajaran baru 2024/2025 Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) kembali menggelar Penerimaan Santri Baru (PSB) yang dilaksanakan selama delapan hari (3-8 Juli 2024) berlokasi di Aula II Pesantren. Hari ke-lima PSB, para keluarga berhiliran memadati lokasi pendaftaran, Ahad (7/7/2024).

Memasukkan buah hati ke pondok pesantren tentunya membutuhkan pertimbangan yang matang dan tekat yang kuat untuk melepas kepergian anak yang masih usia dini. Sebagaimana yang disampaikan oleh salah satu Wali Santri, Ahmad Yuri.

“Yang paling dominan tentu rasa bahagia dan haru. Keinginan untuk menyekolahkan anak di pondok pesantren akhirnya terkabul dan yang paling penting, anaknya juga mau,” ujar salah satu keluarga asal Bondowoso.

Pesantren tidak lagi menjadi alternatif terakhir, imbuh Yuri, tetapi menjadi proritas utama bagi banyak orang tua.

“Semuanya demi kebaikan anak, namanya juga lagi nyari ilmu, harus Ikhlas. Yang paling penting fokus cari ilmu dan barokah kiyai, rezeki apa kata nanti,” ucap beliau.

Beliau juga menambahkan tidak banyak orang tua yang mau memasukkan anaknya ke pondok pesantren, karena melepas kepergian anak yang masih kecil dan tentu membutuhkan tekat yang kuat.

“Semua ini demi masa depan yang lebih baik, kami rela dan ikhlas berpisah dengan anak kami,” pungkas beliau.

Banyak dari para keluarga yang harus merelakan para buah hatinya yang akan mencari ilmu di pondok pesantren, diantaranya juga seperti Muhammad Khoirul, salah satu keluarga yang berasal dari patrang, Jember.

“Harus Ikhlas, dalam mencari ilmu, namanya juga demi kebaikan anak, sebab bila dimasukkan ke pondok itu lebih aman dan terjaga,” ujar beliau.

 

Pewarta:  Bunga Adelia Gadisian

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Biro Pendidikan dan Madrasah Diniyah Gelar Rapat Pleno Program Furudhul ‘Ainiyah 3 Bulan Usai Uji Ketuntasan Santri Baru

nuruljadid.net – Selaku penanggung jawab pelaksana program Furudhul ‘Ainiyah (FA) 3 bulan, Biro Pendidikan dan Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar rapat pleno di Aula I Pesantren, Ahad (24/09/23). Rapat ini digelar usai uji ketuntasan FA santri baru dilaksanakan.

Pantauan Tim Nurul Jadid Media di lokasi, hadir Kepala Bidang Kurikulum H. Foni Yusanda mewakili Kepala Biro Pendidikan K. Imdad Rabbani dan Kepala Madrasah Diniyah Ahmad Saili, memimpin dan mendahului sidang pleno dengan mengarahkan alur rapat pada beberapa konteks pembahasan. Sebagai peserta, turut hadir jajaran Kepala Sekolah/Madrasah, Wakil Kepala Sekolah, para guru dan wali asuh asrama santri baru.

Kepala Bidang Kurikulum H. Foni Yusanda menjelaskan, rapat membahas tentang tiga prioritas, di antaranya sebagai forum evaluasi tentang keterlaksanaan program FA yang selesai sebelum ketentuan waktu normal, yaitu kurang dari tiga bulan. Kemudian, crosscheck atau pengecekan dan penyesuaian ulang terkait hasil peserta program FA yang lulus maupun tidak lulus untuk difinalisasi bersama.

“Selanjutnya, perlu ada pembahasan khusus bersama stakeholder soal pola pelaksanaan FA lanjutan bagi santri baru yang notabene berstatus alumni atau sebelumnya pernah mondok di Nurul Jadid,” imbuhnya.

Foni mengungkapkan, salah satu hasil diadakannya rapat evaluasi rutinan adalah penilaian ketuntasan peserta yang saat ini lebih komprehensif daripada sebelumnya.

“Tahun pertama FA, penilaian ditentukan dari ujian akhir. Namun pada tahun ini, ditinjau dari dua ketuntasan. Pertama, ketuntasan asesmen (teori dan praktik) di sekolah dan setoran serta penilaian kognitif/afektif harian di asrama. Yang kedua dan sebagai penunjang, adalah keaktifan/presensi kehadiran santri,” jelasnya.

Kepala Madrasah Diniyah Ahmad Saili tengah memimpin sesi diskusi rapat pleno

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Madrasah Diniyah Ahmad Saili memimpin sesi diskusi rapat pleno dengan para guru dan wali asuh. Saili memimpin forum dengan membahas satu demi satu pokok bahasan, ia memulai dengan menampilkan data ketuntasan dan ketidaktuntasan FA santri dengan tujuan untuk menyamakan keputusan antara guru dan wali asuh.

“Pada akhirnya, ini akan menjadi keputusan bersama. Hasil finalnya akan kami kirim sore nanti dan diumumkan kepada kalangan santri serentak usai libur maulid,” pungkasnya.

 

Reporter: Ahmad Zainul Khofi

(Humas Infokom)

Penat Bermain Game, Anak Berusia 6 Tahun Ini Memilih Mondok di Nurul Jadid

nuruljadid.net – Mengenyam pendidikan di pesantren sudah menjadi pilihan beberapa orang tua dan siswa. Tak sedikit orang tua menyekolahkan anaknya di pondok pesantren. Seperti yang dialami oleh Muhammad Fariduddin Attar Jalili, santri baru Pondok Pesantren Nurul Jadid berusia 6 tahun asal Jember ini.

Umumnya, anak-anak seusia Atar mayoritas memilih untuk bersekolah di dekat rumahnya, karena masih membutuhkan perhatian berupa kasih sayang intens dari orang tua dan waktu anak yang biasanya lebih banyak digunakan untuk bermain. Berbeda dengan Atar, dirinya mengaku telah bosan bermain game dan memutuskan untuk mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

“Mondok kemauan saya sendiri dari PAUD, biar bisa bahasa arab dan mencari ilmu. Gara-gara HP itu juga saya langsung mondok,” ungkapnya saat diwawancarai oleh Tim Nurul Jadid Media, Senin (10/07/23).

Kesal, lanjut Atar, sering kalah bermain game Free Fire, kemudian anak itu menghapus game tersebut dan meminta ijin kepada orang tua untuk mondok.

“Kebetulan waktu itu ayah menawarkan mau ikut kerja ke Banten atau mondok, ya tak pilih mondok,” imbuhnya.

Disamping penat bermain game, Atar mengaku ingin sekali belajar Bahasa Arab, dirinya merasa berbahagia setelah belajar berlangsung selama satu bulan di pesantren, karena sudah bisa menulis bahasa Arab.

“Di rumah tidak ada kegiatan, di sini enak banyak kegiatan, subuh bangun shalat, nulis Arab, ngaji dan banyak teman,” katanya.

Meski tinggal jauh dari orang tua dan baru mondok selama satu bulan di pesantren, Atar sudah merasa kerasan dan nyaman belajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Di sini ustad-ustadnya enak, saya sudah kerasan. Cuma nangis satu kali waktu itu,” pungkasnya.

Humas Infokom

Santri Baru Mengenal Nurul Jadid Dzohir Batin di Hari Kedua OSABAR

nuruljadid.net – Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2023 Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo telah berlangsung selama dua hari. Di hari kedua pelaksanaan, santri baru berkenalan dengan Nurul Jadid baik secara dzohir maupun batin, Ahad (25/06).

Kegiatan hari kedua dimulai dengan Safari Ma’had dan Sowan Pengasuh setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah di Masjid Jami’ Nurul Jadid. Pagi itu, santri datang berbondong-bondong dan berbaris rapi di halaman MA Nurul Jadid.

Panitia bagian acara putra Ikhwan Abdillah menyampaikan alur kegiatan tersebut. Tujuan pertama adalah sowan kepada pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini. Satu persatu santri mengantri untuk melakukan sowan di dhalem (rumah, red.) beliau.

“Setelah itu, santri keliling Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk mengenal lingkungan pesantren didampingi kakak asuh di masing-masing barisan kelompok. Rute pertama menuju ke dhalem KH. Fachri Nur Chotim Zaini melewati Universitas Nurul Jadid, dilanjut ke sekolah/madrasah Nurul Jadid, Wilayah Satelit, dan kembali ke halaman pesantren,” imbuhnya.

(Santri baru mengikuti kegiatan safari ma’had didampingi oleh kakak asuh)

Lebih lanjut Ikhwan menyampaikan, dalam waktu yang bersamaan, kakak asuh juga memberikan penjelasan berkait setiap gedung satuan pendidikan, asrama santri, maqbaroh, dan dhalem masyayikh yang dikunjungi.

Di samping itu, santri baru putri juga melakukan kegiatan Safari Ma’had dan Sowan Pengasuh, berbeda dengan santri putra.

“Bedanya, santri putri tidak hanya mengunjungi dhalem dan lingkungan pesantren, melainkan mereka sekaligus sowan kepada para ibu nyai/neng,” ungkap Luaili Zahratunnisa bagian acara putri di OSABAR.

Salah satu peserta OSABAR, bernama Dana mengungkapkan dengan bahagia bahwa dirinya merasa puas berkenalan dengan lingkungan pesantren.

“Tidak hanya berkeliling dan mengenal lingkungan pesantren, kami juga melakukan sowan ke pengasuh,” ungkap santri asal Bondowoso itu.

 

(Humas Infokom)